Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY.N DENGAN DIAGNOSA MEDIS PNEUMONIA


DIRUANG GARDENIA RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKARAYA

Di Susun Oleh :
Mahasiswa Tingkat III A/Semester VI
Sri Ayuni
NIM. 2019.C.11a.1027

YAYASAN EKA HARAP PALANGKARAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2022
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini disusun oleh :


Nama : Sri Ayuni
NIM : 2019.C.11a.1027
Program Studi : S1 Keperawatan
Judul : Laporan pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Ny.N
dengan diagnose medis Pneumonia di Ruang Gardenia RSUD
dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.

Telah melakukan asuhan keperawatan sebagai persyaratan untuk


mneyelesaikan Praktik Pra Klinik Keperawatan III Program Studi S-1
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.

Laporan Keperawatan ini telah disetujui oleh:


Pembimbing Akademik, Pembimbing Lahan,

Rimba Aprianti, S. Kep., Ners Erika Sihombing, S.Kep.,Ners

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Studi Kasus
Pneumonia ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penyusunan Laporan Pendahuluan ini bertujuan untuk memenuhi tugas
Praktik Praklinik Keperawatan III (PPK III) pada Program Studi S-1
Keperawatan.
Penulis menyadari bahwa pelaksanaan dan penyusunan Laporan
Pendahuluan ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu perkenankan penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes, selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Ibu Meilitha Carolina, Ners, M.Kep, Selaku Ketua Prodi S1 Keperawatan
STIKes Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Ika Paskaria S.Kep., Ners , Selaku Koordinator PPK III
4. Ibu Rimba Aprianti, S.Kep.,Ners ,Selaku Pembimbing Akademik yang telah
banyak memberi arahan, masukan dan bimbingan dalam penyelesaian Studi
Kasus ini.
5. Ibu Erika Sihombing, S.Kep., Ners selaku pembimbing lahan di RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangkaraya yang telah memberikan uji ditempat.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan pendahuluan ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun, untuk perbaikan dimasa yang akan mendatang. Akhir kata penulis
mengucapkan sekian dan terima kasih.
Palangka Raya, 14 Maret 2022

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.........................................................................................6
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................6
1.3. Tujuan Penulisan......................................................................................7
1.3.1. Tujuan Umum............................................................................................7
1.3.2. Tujuan Khusus.........................................................................................7
1.4. Manfaat.....................................................................................................7
1.4.1. Untuk Mahasiswa……………………………………………………….8
1.4.2. Untuk Klien Dan Keluarga.......................................................................8
1.4.3. Untuk Institusi (Pendidikan Dan Rumah Sakit).......................................8
1.4.4. Untuk Iptek...............................................................................................9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Penyakit.................................................................................................10
2.1.1 Definisi......................................................................................................10
2.1.2 Anatomi Fisiologi....................................................................................12
2.1.3 Etiologi.....................................................................................................13
2.1.4 Klasifikasi................................................................................................13
2.1.5 Patofisiologi (Pathway)...........................................................................14
2.1.6 Manifestasi Klinis (Tanda Dan Gejala)...................................................16
2.1.7 Komplikasi...............................................................................................16
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang...........................................................................16
2.1.9 Penatalaksanaan Medis............................................................................17
2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan...........................................................22
2.2.1 Pengkajian Keperawatan.........................................................................22
2.2.2 Diagnosa Keperawatan............................................................................23
2.2.3 Intervensi Kepeawatan.............................................................................23
2.2.4 Implementasi Keperawatan.....................................................................32
2.2.5 Evaluasi Keperawatan.............................................................................32
iv
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian................................................................................................33
3.2 Diagnosa..................................................................................................38
3.3 Intervensi.................................................................................................47
3.4 Implementasi............................................................................................50
3.5 Evaluasi....................................................................................................50
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan………………………………………………………………53
4.2 Saran……………………………………………………………………...53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

v
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan bawah akut
dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen
infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi benda
asing, berupa radang paru-paru yang disertai eksudasi dan konsulidasi (Nurarif,
2015). Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli)
dan mempunyai gejala batuk, sesak nafas, bunyi nafas ronki, dan infiltrat pada
foto rontgen. Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan
terjadinya proses infeksi akut disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan
pengendalian penyakit ISPA semua bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun
bronkopneumonia), disebut “Pneumonia” saja (Christian, 2016).
Berdasarkan data WHO tahun 2015, pneumonia merupakan masalah
kesehatan di dunia karena angka kematian- nya sangat tinggi, tidak saja di
Indonesia dan negara-negara berkembang tetapi juga di Negara maju seperti
Amerika, Kanada dan Negara- Negara Eropa lainya. Di Amerika pneumonia
merupakan penyebab kematian nomor satu setelah kardiovaskuler dan TBC.
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2019, diketahui ada lebih dari 400 ribu
kasus pneumonia diIndonesia, demikian menurut Save the
Children Indonesia ketika memperingati Hari Pneumonia. Berdasarkan Profil
Kesehatan Kalteng tahun 2012 terdapat 3,55% kasus pneumonia pada bayi dan
anak.
Pneumonia seringkali ditandai dengan gejala batuk dan atau kesulitan
bernapas seperti napas cepat, dan tarikan dinding dada. Pada umumnya
pneumonia dikategorikan dalam penyakit menular yang ditularkan melalui udara,
dengan sumber penularan adalah penderira pneumonia yang menyebarkan kuman
dalam bentuk droplet saat batuk atau bersin. Untuk selanjutnya kuman penyebab
pneumonia masuk ke saluran pernapasan melalui proses inhalasi (udara yang
dihirup), atau dengan cara penularan langsung yaitu percikkan droplet yang
dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara langsung terhirup oleh
orang disekitar penderita. Banyak kasus yang berpengaruh terhadap meningkatnya

6
kejadian pneumonia pada balita, baik dari aspek individu anak, orang tua (ibu),
maupun lingkungan. Kondisi fisik rumah yang tidak sehat dapat meningkatkan
resiko terjadinya berbagai penyakit yang salah satunya pneumonia. Rumah yang
padat penghuni, pencemaran udara dalam ruangan akibat penggunaan bahan bakar
pada (kayu bakar/arang), dan perilaku merokok dari orang tua merupakan faktor
lingkungan yang dapat meningkatkan kerentanan balita terhadap pneumonia
(Anwar, 2014).
Dari masalah yang diatas maka pemecahan masalah yang dapat dilakukan
perawat untuk penyakit pneumonia adalah perawat menjadi educator, membantu
orangtua untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit pneumonia pada
anaknya, dengan cara memberikan penjelasan tentang gejala pada penyakit
pneumonia, serta tindakan-tindakan yang diberikan dan menghindari faktor resiko
dari penyakit pneumonia agar tidak 3 mengalami pneumonia berulang, sehingga
terjadi perubahan prilaku dari orangtua klien setelah dilakukan pemberian
pendidikan kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada Ny.N Dengan Diagnosa Medis
Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan dan memberikan Asuhan Keperawatan
pada Ny.N Dengan Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangkaraya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar Penyakit
1.3.2.2 Mahasiswa mampu menjelaskan Manajemen Asuhan Keperawatan Pada
pasien dengan diagnosa medis Pneumonia
1.3.2.3 Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan pada Ny.N
Dengan Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangkaraya

7
1.3.2.4 Mahasiswa mampu menentukan dan menyusun intervensi keperawatan
Ny.N Dengan Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangkaraya.
1.3.2.5 Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi keperawatan Ny.N
Dengan Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangkaraya.
1.3.2.6 Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan pada Ny.N Dengan
Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangkaraya.
1.3.2.7 Mahasiswa mampu menyusun dokumentasi keperawatan pada Ny.N
Dengan Diagnosa Medis Pneumonia Diruang Gardenia RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangkaraya.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan dengan menerapkan proses keperawatan dan memanfaatkan ilmu
pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi S1
Keperawatan Stikes Eka Harap Palangka Raya.
1.4.2 Bagi Klien dan Keluarga
Klien dan keluarga mengerti cara perawatan pada penyakit dengan dianosa
medis Pneumonia secara benar dan bisa melakukan keperawatan di rumah dengan
mandiri.
1.4.3 Bagi Institusi
1.4.3.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan tentang Pneumonia dan Asuhan Keperawatannya.
1.4.3.2 Bagi Institusi Rumah Sakit
Memberikan gambaran pelaksanaan Asuhan Keperawatan dan
Meningkatkan mutu pelayanan perawatan di Rumah Sakit kepada pasien dengan
diagnosa medis Pneumonia melalui Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan
secara komprehensif.

8
1.4.4 Bagi IPTEK
Sebagai sumber ilmu pengetahuan teknologi, apa saja alat-alat yang dapat
membantu serta menunjang pelayanan perawatan yang berguna bagi status
kesembuhan klien.

9
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Penyakit Pneumonia
2.1.1 Definisi
Pneumonia ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang mengensi jaringan paru
(alveoli). (DEPKES. 2016)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
(Zuh Dahlan. 2016)
Pneumonia adalah inflamasi paru yang ditandai dengan konsulidasi karena
eksudat yang mengisi alveoli dan bronkiolus (Terry & Sharon, 2013).
Pneumonia adalah keadaan akut pada paru yang disebabkan oleh karena
infeksi atau iritasi bahan kimia sehingga alveoli terisi oleh eksudat peradangan
(Mutaqin, 2017).
Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (Ngastiyah, 2015).
Pneumonia adalah peradangan pada paru yang tidak saja mengenai jaringan
paru tapi dapat juga mengenai bronkioli (Nugroho, 2017).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulakan bahwa pneumonia
merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada Alveoli/Kantung udara
disalah satu atau kedua paru-paru yang dapat berisi cairan.

2.1.2 Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan


Sistem pernapasan termasuk hidung , rongga hidung dan sinus , faring ,
laring (kotak suara),trakea (tenggorokan ) , dan saluran-saluran yang lebih kecil
yang mengarah ke pertukaran gas di permukaan paru-paru . Saluran pernapasan
terdiri dari saluran udara yang membawa udara dari dan ke permukaan tersebut .
Saluran pernapasan dapat dibagi menjadi bagian konduksi dan bagian
pernapasan . Bagian konduksi terdapat dari jalan masuk udara dihidung ke rongga

10
hidung ke bronkiolus terkecil dari paru-paru . Bagian pernapasan termasuk
saluran bronkiolus pernapasan dan kantung udara halus , atau alveoli ( al - VE ) ,
di mana terjadi pertukaran gas . Sistem pernapasan termasuk saluran pernapasan
dan jaringan terkait , organ , dan struktur pendukung . Saluran-saluran kecil ini
menyesuaikan kondisi udara dengan menyaring , pemanasan , dan melembabkan
itu , sehingga melindungi bagian konduksi yang peka dan melindungi pertukaran
sistem pernapasan bawah dari partikel-partikel , patogen , dan lingkungan ekstrem
.( Martini et al 2015).

Respirasi adalah suatu peristiwa ketika tubuh kekurangan oksigen (O2) dan
O2 yang berada di luar tubuh dihirup (inspirasi) melalui organ pernapasan. Pada
keadaan tertentu tubuh kelebihan karbon diksida (CO2), maka tubuh berusaha
untuk mengeluarkan kelebihan tersebut dengan menghembuskan napas (ekspirasi)
sehingga terjadi suatu keseimbangan antara O2 dan CO2 di dalam tubuh. Sistem
respirasi berperan untuk menukar udara ke permukaan dalam paru. Udara masuk
dan menetap dalam sistem pernapasan dan masuk dalam pernapasan oto. Trakea
dapat melakukan penyaringan, penghangatan, dan melembapakan udara yang
masuk, melindungi permukaan organ yang lembut. Hantaran tekanan
menghasilkan udara ke paru melalui saluran pernapasan atas. Tekanan ini berguna
untuk menyaring,mengatur udara, dan mengubah permukaan saluran napas
bawah. (Syaifuddin,2015)
Proses pernapasan berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu :
1) Ventilasi paru, yang berarti pertukaran udara antara atmosfer dan alveolus paru
2) Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah

11
3) Pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh ke
dan dari sel jaringan tubuh. Udara bergerak masuk dan keluar paru karena
adanya selisih tekanan yang terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja
mekanik otot-otot. Diantaranya itu perubahan tekanan intrapulmonar, tekanan
intrapleural, dan perubahan volume paru.
Keluar masuknya udara pernapasan terjadi melalui 2 proses mekanik, yaitu :
1) Inspirasi : proses aktif dengan kontraksi otot-otot inspirasi untuk menaikkan
volume intratoraks, paru-paru ditarik dengan posisi yang lebih mengembang,
tekanan dalam saluran pernapasan menjadi negatif dan udara mengalir ke
dalam paru-paru.
2) Ekspirasi : proses pasif dimana elastisitas paru (elastic recoil) menarik dada
kembali ke posisi ekspirasi, tekanan recoil paru-paru dan dinding dada
seimbang, tekanan dalam saluran pernapasan menjadi sedikit positif sehingga
udara mengalir keluar dari paru-paru, dalam hal ini otot-otot pernapasan
berperan ( Sherwood,2016)
Fungsi dari sistem pernapasan adalah:
1) Menyediakan area yang memadai untuk pertukaran gas antara udara dan
sirkulasi darah
2) Transport udara dari dan ke pertukaran permukaan di paru-paru;
3) Melindungi permukaan pernafasan dari dehidrasi, perubahan suhu, dan
variasi lingkungan lain
4) Mempertahankan sistem pernapasan, dan jaringan lain dari invasi oleh
pathogen mikroorganisme;
5) Memproduksi suara yang terlibat dalam berbicara, bernyanyi, atau
komunikasi nonverbal;
6) Membantu dalam regulasi volume darah, tekanan darah, dan control pH
cairan tubuh (Martini et al 2016).

2.1.3 Etiologi
Menurut Nugroho.T (2017), pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi seperti:
2.1.3.1 Bakteri: stapilococus, sterptococcus, aeruginosa.

12
2.1.3.2 Virus: virus influenza, dll
2.1.3.3 Micoplasma pneumonia
2.1.3.4 Jamur: candida albicans
2.1.3.5 Benda asing Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah
daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat Malnutrisi Energi Protein
(MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi, dan
pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna (Ngastiyah, 2017).

2.1.4 Klasifikasi
Menurut Nurarif (2015), klasifikasi pneumonia terbagi berdasarkan anatomi
dan etiologis dan berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui
usia :
2.1.4.1 Pembagian anatomis
1) Pneumonia lobularis, melibat seluruh atau suatu bagian besar dari satu
atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena maka dikenal sebagai
pneumonial bilateral atau ganda.
2) Pneumonia lobularis (Bronkopneumonia) terjadi pada ujung akhir
bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk
bercak konsulidasi dalam lobus yang berada didekatnya, disebut juga
pneumonia lobularis.
3) Pneumonia Interstitial (Bronkiolitis) proses inflamasi yang terjadi di
dalam dinding alveolar (interstinium) dan jaringan peribronkial serta
interlobular.
2.1.4.2 Pembagian etiologis
1) Bacteria: Diploccocus pneumonia, pneumococcus, streptokokus
hemolytikus, streptococcus aureus, Hemophilus infuinzae, Bacilus
Friedlander, Mycobacterium tuberculosis.
2) Virus: Respiratory Syncytial Virus, Virus Infuinza, Adenovirus.
3) Jamur: Hitoplasma Capsulatum, Cryptococus Neuroformans,
Blastornyces Dermatitides
4) Aspirasi: Makanan, Kerosene (bensin, minyak tanah), cairan
amnion,benda asing

13
5) Pneumonia Hipostatik
6) Sindrom Loeffler

2.1.5 Patofisiologi
Pneumonia merupakan inflamasi paru yang ditandai dengan konsulidasi
karena eksudat yang mengisi elveoli dan brokiolus. Saat saluran nafas bagian
bawah terinfeksi, respon inflamasi normal terjadi, disertai dengan jalan obstruksi
nafas (Terry & Sharon, 2013). Sebagian besar pneumoni didapat melalui aspirasi
partikel inefektif seperti menghirup bibit penyakit di udara. Ada beberapa
mekanisme yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel
infeksius difiltrasi dihidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan
epitel bersilia disaluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paruparu ,
partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan
mekanisme imun sistemik dan humoral. Infeksi pulmonal bisa terjadi karena
terganggunya salah satu mekanisme pertahanan dan organisme dapat mencapai
traktus respiratorius terbawah melalui aspirasi maupun rute hematologi. Ketika
patogen mencapai akhir bronkiolus maka terjadi penumpahan dari cairan edema
ke alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar. Kemudian makrofag bergerak
mematikan sel dan bakterial debris. Sisten limpatik mampu mencapai bakteri
sampai darah atau pleura viseral. Jaringan paru menjadi terkonsolidasi. Kapasitas
vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi terkonsolidasi, area
yang tidak terventilasi menjadi fisiologis right-to-left shunt dengan ventilasi
perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia. Kerja jantung menjadi
meningkat karena penurunan saturasi oksigen dan hiperkapnia (Nugroho.T, 2017).

14
ETIOLOGI
Menurut Nugroho.T (2017), pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:
a. Bakteri: stapilococus, sterptococcus, aeruginosa.
b. Virus: virus influenza, dll
c. Micoplasma pneumonia B3
d. Jamur: candida albicans
e. Benda asing
Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat
Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi, dan pengobatan dengan
antibiotik yang tidak sempurna (Ngastiyah, 2017)

PNEUMONIA

B1 B2 B3 B4 B5 B6
Breathing Blood Brain Bladder Bowel Bone

Hambatan
upaya nafas
Peningkatan Proses Inflamasi Suplai O2 keotak O2 menurun Proses Inflamasi Suplay O2 tidak
sekresi kelenjar menurun ke ginjal adekuat
Kelemahan otot
pernafasan Menstimulasi sel host Mual muntah,
Peningkatan inflamasi (seperti Gangguan nafsu makan Penurunan
Glomerulus filtrat
produksi mikrofag, neutrofil) metabolisme menurun kebutuhan O2,
pate menurun
nutrisi
Penyempitan
saluran paru
Akumulasi sekret Edema otak Kurangnya asupan
Demam
pada saluran Oliguria makanan Lemah, pusing,
pernafasan meningkat Sesak nafas frekuensi nadi dan
MK: Hipertermia MK: Perfusi Ferifer pernapasan
Tidak efektif MK: Gangguan MK: Defisit meningkat
MK: Bersihan Jalan
MK: Pola Nafas Pola Frekuensi Nutrisi
Tidak Efektif Perkemihan
Napas Tidak Efektif
MK: Intoleransi
Aktivtas

15
2.1.6 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pneumonia komunitas secara umumnya sama dengan pneumonia tipe
lainnya, yaitu manifestasi kliinis yang sering muncul adalah demam dengan takikardia,
memiliki riwayat demam mengigil dan berkeringat. Adapun gejala batuk dapat non-
produktif dan produktif., sedangkan secret yang keluar dapat berupa mucus,purulent atau
darah bercampur dengan sputum, dan gejala yang lain mungkin adalah lemas, sakit kepala.
Adapun dari pemeriksaan fisik yang kemungkinan akan didapatkan adalah peningkatan
frekuensi pernapasan dan penggunaan otot bantu napas tambahan. Pada palpasi, mungkin
akan ditemukan peningkatan dan penurunan fremitus,sedangkan pada perkusi, akan,
didapatkan perubahan dari tumpul menjadi rata, pada daerah yang mengalami konsolidasi dan
efusi pleura.

2.1.7 Komplikasi
Pneumonia umumnya bisa diterapi dengan baik tanpa menimbulkan komplikasi. Akan
tetapi, beberapa pasien mungkin mengalami beberapa komplikasi seperti baktermia (sepsis),
abses paru, efusi pleura, dan kesulitan bernapas. Pneumonia juga dapat menyebabkan
akumulasi cairan pada rongga pleura atau bisa disebut dengan efusi pleura. Efusi pleura pada
pneumonia umumnya bersifat eksudatif. Efusi eksudatif yang mengandung mikroorganisme
dalam jumlah banyak beserta dengan nanah disebut empiema. Jika sudah terjadi empyema
maka cairan perlu di drainage menggunakan chest tube atau dengan pembedahan.

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang


2.1.8.1 Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi
(bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
2.1.8.2 Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung
pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
2.1.8.3 Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi
transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
2.1.8.4 JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
2.1.8.5 Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
16
2.1.8.6 LED : meningkat
2.1.8.7 Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
2.1.8.8Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
2.1.8.9 Bilirubin : mungkin meningkat
2.1.8.10 Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan
keterlibatan sitoplasmik (CMV).

2.1.9 Penatalaksanaan
2.1.9.1 Manajemen Umum Humidifikasi:
1) humidifier atau nebulizer jika sekret yang kental dan berlebihan.
2) Oksigenasi: jika pasien memiliki PaO2
3) Fisioterapi: berperan dalam mempercepat resolusi pneumonenia pasti; pasien harus
didorong setidaknya untuk batuk dan bernafas dalam untuk memaksimalkan
kemampuan ventilator.
4) Hidrasi: Pemantauan asupan dan keluaran; cairan tambahan untuk mempertahankan
hidrasi dan mencairkan sekresi.
2.1.9.2 Operasi Thoracentesis dengan tabung penyisipan dada: mungkin diperlukan jika
masalah sekunder seperti empiema terjadi.
2.1.9.3 Terapi Obat Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena
hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya: Penicillin G
untuk infeksi pneumonia staphylococcus, amantadine, rimantadine untuk infeksi
pneumonia virus. Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin untuk infeksi pneumonia.

2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
2.2.1.1 Anamnesis
Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesis pada pasien. Data-data yang
dikumpulkan atau di kaji meliputi :
2.2.1.1.1 Identitas Pasien
Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah,
agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan terakhir, nomor registrasi, pekerjaan
pasien, dan nama penanggung jawab.
2.2.1.1.2 Riwayat Kesehatan
17
1. Keluhan Utama
Pengkajian adalah keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan pneumonia
untuk meminta pertolongan kesehatan sesak napas, batuk, dan peningkatan suhu
tubuh/demam (Wahid & Suprapto, 2013).
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Data yang perlu dikaji pada pasien dengan bersihan jalan napas tidak efektif (PPNI, 2016)
adalah batuk tidak efektif pasien, ketidak mampu batuk pasien, sputum berlebih yang
dihasilkan pasien, adanya mengi, whezzing dan/atau ronkhi kering, dyspnea, sulit bicara,
ortopnea, gelisah atau tidaknya pasien, ada atau tidaknya sianosis, kaji bunyi napas, frekuensi
napas berubah, dan pola napas berubah.
3. Riwayat Kesehatan Lalu
Penyakit apa saja yang pernah diderita.
4. Riwayat Kesehatan Gizi
Status gizi penderita Pneumonia dapat bervariasi. Semua pasien dengan status gizi baik
maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat beberapa faktor predisposisinya. Pasien yang
menderita Pneumonia sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsumakan menurun.
Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi,
maka akan dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
5. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi didaerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih.
2.2.1.2 Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Pemeriksaan fisik harus selalu dimulai dengan penilaian keadaan umum yang
mencakup, kesan keadaan sakit, termasuk fasies & posisi pasien, kesadaran, kesan status
gizi
a) Compos mentis : kesadaran baik
b) Apatis : perhatian kurang
c) Samnolen : kesadaran mengantuk
d) Stupor : kantuk yang dalam pasien dibangunkan dengan
rangsangan nyeri yang kuat
e) Soparokomatus : keadaan tidak ada respon verbal
f) Tidak ada respon sama sekali
b. Tanda-Tanda Vital
a) Tekanan darah : pasien normal memiliki riwayat tekanan
18
darah dengan tekanan systole > 120 dan diastole > 80 mmHg
b) Nadi : pasien normal memiliki 60-100 x/menit
c) Pernapasan : pasien normal berkisar 16-20 x/menit
d) Suhu tubuh : pada pasien normal berkisar 36,1-37 0C
c. Pemeriksaan Head To Toe
a) Pemeriksaan Kepala
1) Kepala : Pada umumnya bentuk kepala pada pasien normal simetris
2) Rambut : Pada umumnya tidak ada kelainan pada rambut pasien
3) Wajah : Biasanya pada wajah pasien normal nampak simetris
d) Pemeriksaan Integumen
1) Kulit : Biasanya pada klien yang kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika
kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek.
2) Kuku : Biasanya pada pasien Pneumonia ini capilarry refill timenya <3 detik bila
ditangani secara cepat dan baik
e) Pemeriksaan Dada
Pada inspeksi biasanya didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak
nafas, penggunaan otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan. Pada
auskultasi biasanya terdengar bunyi nafas tambahan seperti ronchi pada klien dengan
peningkatan produksi sekret.
f) Pemeriksaan Abdomen
Pada klien Pneumonia apakah didapatkan distensi pada abdomen, terdapat penurunan
peristaltik usus, dan kadang-kadang perut klien terasa kembung yang di akibatkan
tekanan pada abdomen karena peradangan.
g) Pemeriksaan Genitalia
Biasanya klien Pneumonia kebersihan pada genitalianya cukup kurang karena
terbatasnya aktivitas. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik
steril.
j) Pemeriksaan Fisik B1-B6
1) Pernafasan (B1: Breathing)
Bentuk hidung, ada atau tidaknya sekret, PCH (Pernafasan Cuping Hidung),
kesimetrisan dada dan pernafasan, suara nafas dan frekwensi nafas. Pengaturan
pergerakan pernafasan akan mengakibatkan adanya retraksi dada akibat
kehilangan koordinasi otot. Ekspansi dada menjadi terbatas karena posisi
berbaring akibatnya ventilas paru menurun sehingga dapat menimbulkan
19
atelektasis. Akumulasi sekret pada saluran pernafasan mengakibatkan terjadinya
penurunan efisiensi siliaris yang dapat menyebabkan pembersihan jalan nafas
yang tidak efektif. Kelemahan pada otot pernafasan akan menimbulkan
mekanisme batuk tidak efektif.
2) Kardiovaskuler (B2:Blood)
Warna konjungtiva, terjadi peningkatan denyut nadi karena pengaruh metabolik,
endokrin dan mekanisme keadaaan yang menghasilkan adrenergik serta selain
itu peningkatan denyut jantung dapat diakibatkan pada klien. Rasa pusing saat
bangun bahkan dapat terjadi pingsan, terdapat kelemahan otot. Ada tidaknya
peningkatan JVP (Jugular Vena Pressure), bunyi jantung serta pengukuran
tekanan darah. Pada daerah perifer ada tidaknya oedema dan warna pucat atau
sianosis.
3) Persyarafan (B3: Brain)
Mengkaji fungsi serebral, fungsi syaraf cranial, fungsi sensorik dan motorik
sertsa fungsi refleks.
4) Perkemihan (B4: Bladder)
Ada tidaknya pembengkakan dan nyeri daerah pinggang, palpasi vesika
urinaria untuk mengetahui penuh atau tidaknya, kaji alat genitourinaria bagian
luar ada tidaknya benjolan, lancar tidaknya pada saat klien miksi serta warna
urine. Pada klien sesak biasanya untuk sementara waktu jangan dulu turun dari
tempat tidur, dimana hal ini dapat mengakibatkan klien harus BAK ditempat
tidur memaskai pispot sehingga hal ini menambah terjadinya susah BAK
karena klien tidak terbiasa dengan hal tersebut.
5) Pencernaan (B5: Bowel)
Pasien biasanya mual dan muntah dan menyebabkan pasien tidak nafsu makan.
Kadang disertai penurunan berat badan, distensi abdomen, asites, feses warna
pucat, anoreksia, regurgitasi berulang.
6) Tulang, otot dan integument (B6: Bone)
Derajat Range Of Motion pergerakan sendi dari kepala sampai anggota gerak
bawah, ketidaknyamanan atau nyeri ketika bergerak, toleransi klien waktu
bergerak dan observasi adanya luka, tonus otot dan kekuatan otot. Ada tidaknya
penurunan kekuatan, masa otot dan atropi pada otot. Selain itu dapat juga
ditemukan kontraktur dan kekakuan pada persendian. Keadaan kulit, rambut
dan kuku. Pemeriksaan kulit meliputi tekstur, kelembaban, turgor, warna dan
20
fungsi perabaan. Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, sesak
yang membuat mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan
istirahat. Penggunaan otot bantu nafas yang lama pasien terlihat keletihan,
sering didapatkan intoleransi aktivitas dan gangguan pemenuhan ADL (Activity
Day Living).
2.2.1.2 Pengkajian Primer
a. Airway
Kaji kepatenan jalan nafas, apakah terdapat sekret dijalan nafas (sumbatan jalan
nafas) atau ada bunyi nafas tambahan.
b. Breathing
Kaji distress pernafasan : pernafasan cuping hidung, menggunakan otot-otot asesoris
pernafasan, pernafasan cuping hidung, kesulitan bernafas : lapar udara, diaphoresis, dan
sianosis, pernafasan cepat dan dangkal.
c. Circulation
Kaji heart rate, tekanan darah, kekuatan nadi, capillary refill, akral, suhu tubuh, warna
kulit, kelembaban kulit, perdarahan eksternal jika ada.
d. Dissability
Berisi pengkajian kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS), ukuran dan reaksi
pupil, pada kondisi yang berat dapat terjadi asidosis metabolic sehingga menyebabkan
penurunan kesadaran.
e. Exposure
Berisi pengkajian terhadap suhu serta adanya injury atau kelainan lain, kondisi
lingkungan yang ada disekitar pasien
2.2.2.2 Pengkajian Sekunder
K : Keluhan
O : Obat yang dikonsumsi terakhir
M : Makanan yang terakhir dimakan
P : Penyakit penyerta
A : Alergi
K : Kejadian
Lakukan pemeriksaan fisik dengan BTLS (Bentuk, Tumor, Luka, Sakit)

21
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut SDKI, kemungkinan masalah
yang muncul adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sputum berlebihan (D.0001 Hal.18)
2. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas (D.0005 Hal 26)
3. Hipertermia b.d kulit terasa hangat (D.0130 Hal 284)
4. Perfusi perifer tidak efektif b.d peningkatan tekanan darah ( D.0009 Hal 37)
5. Defisit nutrisi b.d nafsu makan menurun (D.0019 Hal.56)
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan (D.0056 Hal 128)

22
2.2.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi
1. Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Napas (SIKI I.01011 Hal. 186)
tidak efektif keperawatan selama 1 × 4 Jam Observasi :
diharapkan Bersihan jalan napas 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
klien kembali membaik. Kondisi 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, whezzing,
klien membaik dengan kriteria ronkhi kering)
hasil : 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
(SLKI L.01001 Hal 18) 4. Monitor adanya produksi sputum
1. Batuk efektif meingkat (5) 5. Monitor adanya sumbatan jalan nafas
2. Produksi sputum menurun (5) 6. Auskultasi bunyi nafas
3. Wheezing (pada neonatus) 7. Monitor saturasi oksigen
menurun (5) 8. Monitor nilai AGD
4. Dispnea menurun (5) 9. Monitor nilai x-ray toraks
5. Ortopnea menurun (5) Terapeutik :
6. Dispnea menurun (5) 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift
7. Sulit bicara menurun (5) (jaw-thrust jika curiga trauma servikal)
8. Sianosis menurun (5) 2. Posisikan semi-Fowler atau Fowler
9. Ortopnea menurun (5) 3. Berikan minum hangat
10. Gelisah menurun (5) 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
11. Frekuensi napas membaik (5) 5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
12. Pola napas membaik (5) 6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal

23
7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep Mcgill
8. Berikan oksigen, jika perlu
9. Lakukan pengisapan lendir lebih dari 15 detik
10. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Edukasi :
1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
2. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


2 Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Napas (SIKI I.01011 Hal. 186)
keperawatan selama 1 × 4 Jam Observasi :
diharapkan pola nafas klien 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
kembali membaik. Kondisi klien 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi, whezzing,
membaik dengan kriteria hasil : ronkhi kering)
(SLKI L.01004 Hal 95) 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
1. Ventilasi meningkat (5) 4. Monitor adanya produksi sputum
2. Tekanan ekspirasi meningkat 5. Monitor adanya sumbatan jalan nafas
(5) 6. Auskultasi bunyi nafas

24
3. Tekanan inspirasi meningkat 7. Monitor saturasi oksigen
(5) 8. Monitor nilai AGD
4. Dispnea menurun (5) 9. Monitor nilai x-ray toraks
5. Penggunaan otot bantu napas Terapeutik :
menurun (5) 1. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift
6. Pemanjangan fasee ekspirasi (jaw-thrust jika curiga trauma servikal)
menurun (5) 2. Posisikan semi-Fowler atau Fowler
7. Frekuensi napas membaik (5) 3. Berikan minum hangat
8. Kedalaman napas membaik (5) 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
5. Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
6. Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
7. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep Mcgill
8. Berikan oksigen, jika perlu
9. Lakukan pengisapan lendir lebih dari 15 detik
10. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Edukasi :
1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi
2. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu

25
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi
3. Hipertermia Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipertermia (SIKI I.15506 Hal. 181)
keperawatan selama 1 × 4 Jam Observasi :
diharapkan Bersihan jalan napas 1. Identifikasi penyebab hipertermia (mis. Dehidrasi, terpapar
klien kembali membaik. Kondisi lingkungan panas, penggunaan inkubator)
klien membaik dengan kriteria 2. Monitor suhu tubuh
hasil : 3. Monitor kadar elektrolit
(SLKI L.01001 Hal 18) 4. Monitor haluaran urine
1. Batuk efektif meningkat (5) 5. Monitor komplikasi akibat hipertermia
2. Produksi sputum menurun (5) Terapeutik :
3. Wheezing (pada neonatus) 1. Sediakan lingkungan yang dingin
menurun (5) 2. Longgarkan atau lepaskan pakaian
4. Dispnea menurun (5) 3. Basahi dan kipasi permukaan tubuh
5. Ortopnea menurun (5) 4. Berikan cairan oral
6. Dispnea menurun (5) 5. Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami
7. Sulit bicara menurun (5) hyperhidrosis (keringat berlebih)
8. Sianosis menurun (5) 6. Lakukan pendinginan eksternal (mis. Selimut hipotermia, atau
9. Ortopnea menurun (5) kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, dada, aksila)
10. Gelisah menurun (5) 7. Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
11. Frekuensi napas membaik (5) 8. Berikan oksigen, jika perlu
12. Pola napas membaik (5) Edukasi :

26
1. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian cairan dan elekrolit intravena, jika perlu

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


4. Perfusi perifer tidak Tujuan : Perawatan Sirkulasi (I.02079)
efektif Setelah dilakukan tindakan Observasi
keperawatan selama 1 × 4 Jam 1. Periksa sirkulasi perifer (mis. Nadi perifer, edema, pengisian
diharapkan perfusi perifer klien kalpiler, warna, suhu, angkle brachial index)
kembali membaik. Kondisi klien 2. Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis. Diabetes,
membaik dengan kriteria hasil : perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
1. Pengisian kapiler 3. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
membaik Terapeutik
2. Akral membaik 1. Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
3. Tugor kulit membaik keterbatasan perfusi
4. Tekanan darah sistolik 2. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada
membaik keterbatasan perfusi
5. Tekanan darah diastolik 3. Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang
membaik cidera

27
6. Tekanan arteri rata-rata 4. Lakukan pencegahan infeksi
membaik 5. Lakukan perawatan kaki dan kuku
7. Indeks ankle-brachial 6. Lakukan hidrasi
membaik Edukasi
1. Anjurkan berhenti merokok
2. Anjurkan berolahraga rutin
3. Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit terbakar
4. Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu
5. Anjurkan minum obat pengontrol tekakan darah secara teratur
6. Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta
7. Ajurkan melahkukan perawatan kulit yang tepat(mis.
Melembabkan kulit kering pada kaki)
8. Anjurkan program rehabilitasi vaskuler
9. Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi( mis. Rendah
lemak jenuh, minyak ikan, omega3)
10. Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan( mis.
Rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa)

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


28
5. Defisit nutrisi Tujuan : Menajemen Nutrisi (l.03119)
Setelah dilakukan tindakan Observasi
keperawatan selama 1 × 4 Jam 1. Identifikasi status nutrisi
diharapkan defisit nutisi klien 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
kembali membaik. Kondisi klien 3. Identifikasi makanan yang disukai
membaik dengan 29riteria hasil : 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
1. Porsi makan yang 5. Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
dihabiskan meningkat 6. Monitor asupan makanan
2. Frekuensi makanan 7. Monitor berat badan
membaik 8. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
3. Nafsu makan membaik Terapeutik
1. Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
2. Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
4. Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
5. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
6. Berikan suplemen makanan, jika perlu
7. Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi

29
1. Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda
nyeri, antiemetik), jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi


6. Intoleransi aktivitas Tujuan : Manajemen energi (I.05178. Hal 176)
Setelah dilakukan tindakan Observasi
keperawatan 1 x 4 jam diharapkan 1. Monitor kelelahan fisik dan emosional
toleransi aktivitas meningka 2. Monitor pola dan jam tidur
Kriteria hasil : 3. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
1. Saturasi oksigen meningkat Terapeutik
(5) 1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
2. Kemudahan dalam 2. Lakukan latihan rentang gerak pasif atau aktif
melakukan aktivitas sehari- 3. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
hari (5) Edukasi
3. Kekuatan tubuh bagian atas 1. Anjurkan tirah baring
dan bawah meningkat (5)
30
4. Keluhan lelah menurun (5) 2. Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
5. Dispnea saat aktivitas Kolaborasi
menurun (5) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
6. Aritmia saat aktivitas
menurun (5)
7. Sianosis menurun(5)
8. Tekanan darah membaik (5)
9. Frekuensi nafas membaik (5)

31
2.2.2 Implementasi
Implementasi keperawatan adalah tahap keempat yang merupakan tahap pelaksanaan dari
berbagai tindakan keperawatan yang telah direncanakan. Dalam tahap implementasi
keperawatan, petugas kesehatan harus sudah memahami mengenai tindakan yang akan dilakukan
terhadap pasien. Suatu koordinasi dan kerja sama sangatlah penting untuk dijaga dalam tahap
implementasi keperawatan sehingga ketika terjadi hal yang tidak terduga, maka petugas
kesehatan akan berkoordinasi dengan petugas kesehatan yang lainnya untuk saling bekerjasama
dalam pemecahan masalah. Tahap implementasi keperawatan dilakukan untuk melaksanakan
tindakan yang telah direncanakan guna membantu mengatasi masalah yang dialami pasien
(Prabowo, 2018).

2.2.3 Evaluasi
Tahap evaluasi keperawatan ini dapat menilai sejauh mana keberhasilan yang dicapai dan
seberapa besar kegagalan yang terjadi. Dari hasil evaluasi, tenaga kesehatan dapat menilai
pencapaian dari tujuan serta dari hasil evaluasi ini, tenaga kesehatan akan menjadikan hasil
evaluasi ini sebagai bahan koreksi dan catatan untuk perbaikan tindakan yang harus dilakukan
(Prabowo, 2018).
Evaluasi keperawatan disusun dengan menggunakan SOAP yang operasional, seperti :
a. S (Subjektif) adalah ungkapan perasaan maupun keluhan yang disampaikan pasien
b. O (Objektif) adalah pengamatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui sikap ibu
ketika dan setelah dilakukan tindakan keperawatan
c. A (Assesment) adalah analisa tenaga kesehatan setelah mengetahui respon subjektif dan
objektif yang dibandingkan dengan tujuan dan kriteria hasil yang ada pada rencana
keperawatan
d. P (Planning) adalah perencanaan untuk tindakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan setelah melakukan analisa atau assesmen

32
YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
Jalan Beliang No.110 Palangka Raya Telp/Fax. (0536) 3227707
E-Mail: stikesekaharap110@yahoo.com

FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Nama Mahasiswa : Sri Ayuni


NIM : 2019.C.11A.1027
Ruang Praktek : Gardenia
Tanggal Praktek : 14 – 15 Maret 2022
Tanggal & Jam Pengkajian : 15 Maret 2022

I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS PASIEN
Pada pengkajian hari Senin, 15 Maret 2022 pukul 09.15 WIB, Nama Klien Ny.N berusia
68 tahun, jenis kelamin perempuan, suku Dayak/Indonesia, beragama Kristen, pekerjaan
pensiun, pendidikan SLTA/Sederajat, status perkawinan menikah, alamat Jl.Madang,
tanggal masuk Rumah Sakit dr. Doris Sylvanus Palangka Raya pada tanggal 09 Maret
2022 dengan diagnosa medis Pneumonia.

B. RIWAYAT KESEHATAN /PERAWATAN


1. Keluhan Utama :
Klien mengatakan sesak nafas
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Klien mengatakan kurang lebih 10 hari sebelum dibawa kerumah sakit klien
mengalami sesak nafas disertai batuk pilek. Pada tanggal 09 Maret 2022 pukul 14.30
WIB klien dibawa ke IGD RSUD dr.Doris Sylvanus karena sesak, klien
mendapatkan pemeriksaan fisik dan penanganan secara intensif yaitu terpasang infus
NaCl 0,9 % 4 tpm, O2 NK 4 lpm. TTV= TD: 140/100 mmHg, N=107x/menit, RR =
26 x/menit, S = 38oC , SPO2 : 93%. Kemudian klien dilakukan swab antigen dan
didapati hasil negatif, setelah itu klien juga dilakukan Swab RT-PCR dan didapati

33
pula hasil negatif, setelah itu Ny. N dipindahkan ke ruang Wijaya Kusuma 3 (WK 3)
untuk dilakukan perawatan secara intensif. Kemudian pada tanggal 10 Maret 2022
Ny.N dipindahkan ke ruang Gardenia dengan diagnosa medis Pneumonia.
3. Riwayat Penyakit Sebelumnya (riwayat penyakit dan riwayat operasi)
Pasien mengatakan memiliki riwayat DM tipe 2 akan tetapi pasien tidak pernah
dioperasi sebelumnya.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan dianggota keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit

GENOGRAM KELUARGA :

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Garis hubungan tinggal bersama


: Garis keluarga

: Pasien

34
C. PEMERIKASAAN FISIK
1. Keadaan Umum :
Klien tampak berbaring lemah ditempat tidur, kesadaran compos mentis, pasien
tampak sesak, batuk berdahak, terpasang O2 NK 4 liter/menit, terpasang inf. NaCl
0,9 % 4 tpm, ditangan sebelah kanan, pasien tampak gelisah, pasien tampak kurang
rapi.
2. Status Mental :
Tingkat kesadaran klien compos menthis, ekspresi wajah terlihat gelisah, bentuk
badan simetris , cara berbaring bebas, berbicara baik dan jelas , suasana hati sedih,
penampilan cukup rapi, fungsi kognitif orientasi waktu klien dapat membedakan
pagi,siang,malam, orientasi orang klien mengetahui keluarga dan petugas kesehatan,
orientasi tempat klien mengetahui bahwa dirinya di Rumah Sakit
3. Tanda-tanda Vital :
Pada saat pengkajian suhu badan klien 38 0C axilla, nadi 107 x/menit, pernapasan 26
x/menit, tekanan darah 140/100 mmHg, saturasi oksigen 93%

4. PERNAPASAN (BREATHING)
Bentuk dada simetris, kebiasaan merokok tidak ada, nyeri dada ada, batuk ada, dahak
berwarna kuning, terasa sesak nafas saat ingin melakukan aktivitas, tipe pernafasan
dada dan perut, irama pernafasan tidak teratur, suara nafas vesikuler, suara nafas
tambahan ronchi, wheezing.
Masalah Keperawatan :
Bersihan jalan nafas tidak efektif dan Pola nafas tidak efektif

5. CARDIOVASCULER (BLEEDING)
Tidak ada nyeri, pusing saat duduk, Capillary refil < 2 detik, tidak ada oedema, Ictus
Cordis tidak terlihat, vena jugularis meningkat,suara jantung normal
Keluhan lainnya : tidak ada
Masalah Keperawatan : Tidak ada

35
6. PERSYARAFAN (BRAIN)
Penilaian kesadaran pada Ny.N di dapatkan nilai GCS, E : 4 (spontan membuka
mata), V : 5 (berbicara dengan baik dan jelas), M : 6 (mengikuti perintah pemeriksa
dengan baik), Total nilai GCS 15, Kesadaran Compos Menthis, Pupil isokor, Refleks
cahaya kanan (positif) dan kiri (positif).
Uji Syaraf Kranial
Nervus Kranial I (Olfaktorius) ; klien dapat mencium aroma minyak kayu putih,
Nervus Kranial II (Optikus) : klien dapat melihat dengan baik,
Nervus Karnial III ( Okulomotorus) : klien dapat menggerakkan kongjungtiva dan
feklek pupil,
Nervus Kranial IV (Troklearis) : klien dapat menggerakkan bola mata ke atas dan ke
bawah,
Nervus Kranial V (Trigeminus) : klien dapat menggerakkan rahaang ke semua arah,
Nervus Kranial VI (Abdosen) : klien dapat menggerakkan mata ke semua sisi,
Nervus Kranial VII (Fasialis) : klien dapat merasakan dan membedakan rasa asam,
manis dan pahit,
Nervus Kranial VIII (Vestibuloakustikus) : klien dapat mendengarkan orang
berbicara,
Nervus IX (Glosafaringus) : klien dapat menelan,
Nervus Kranial X (Vagus) : klien dapat berbicara dengan baik,
Nervus Kranial XI (Aksesorius) : klien dapat menggerakkan kepalanya, Nervus
Kranial XII (Hipoglosus) : klien dapat menjulurkan lidahnya.
Uji koordinasi ekstrimitas atas jari ke jari positif, jari ke hidung positif, ekstrimitas
bawah tumit ke jempol kaki positif. Uji kestabilan tubuh positif, Bisep kanan dan kiri
skala + 2 Trisep, kanan dan kiri skala +2. Brakidioradialis kanan dan kiri skala +2,
refleks babinski kanan dan kiri skala +2
Keluhan lainnya : Tidak ada
Masalah Keperawatan : Tidak ada

36
7. ELIMINASI URI (BLADDER) :
Produksi urine 1.300 ml 2-3 x/hr, Warna kuning, Bau khas amoniak
Keluhan Lainnya : Tidak ada
Masalah Keperawatan :Tidak ada

8. ELIMINASI ALVI (BOWEL) :


Bibir tampak lembab, gigi lengkap, tidak ada karies ataupun peradangan, gusi tidak
ada pembengkakan, tidak ada lesi dan peradangan,lidah tidak ada lesi dan
peradangan, mukossa kering, tonsil tidak peradangan, BAB 1x sehari warna kuning
padat, bising usus 17 x/menit, tidak teraba massa atau benjolan.
Keluhan lainnya : Tidak ada
Masalah Keperawatan :Tidak ada

9. TULANG - OTOT – INTEGUMEN (BONE) :


Kemampuan pergerakan sendi bebas , kekuatan pada lokasi kaki kanan, ukuran otot
simetris, Deformitas tulang, Lokasi tidak ada perlukaan dan peradangan, Lokasi tidak
ada patah tulang, Tulang belakang normal kekuatan otot ekstrimitas atas 5/5
kekuatan otot ekstrimitas bawah 5/5.
Keluhan lainnya : Tidak ada
Masalah keperawatan : Tidak ada

10. KULIT-KULIT RAMBUT


Suhu kulit hangat, warna kulit normal, turgor baik, tekstur halus, rambut halus dan
distribusi rambut baik/merata, bentuk kuku simteris.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

11. SISTEM PENGINDERAAN :


Gerakan bola mata bergerak normal, visus mata kanan (COD) + mata kiri (VOS) +
selera normal/putih, kongjutiva merah muda, fungsi pendengaran baik, kronea
bening, hidung/penciuman beentuk simetris.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

37
12. LEHER DAN KELENJAR LIMFE
Masa tidak, jaringan perut tidak, kelenjar limfe teraba, kelenjar tiroid tidak teraba,
dan metabolisme leher bebas.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

13. SISTEM REPRODUKSI


Tidak dilakukan pengkajian

D. POLA FUNGSI KESEHATAN


1. Persepsi Terhadap Kesehatan dan Penyakit :
Pasien menganggap kesehatan penting, karena dengan tubuh sehat pasien dapat
beraktifitas dengan bebas, pasien mengatakan penyakit adalah suatu yang tidak
mengenakan karena membuat tubuh dan fisik pasien tidak nyaman.
2. Nutrisida Metabolisme
TB : 155 cm
BB sekarang : 50 Kg
BB sebelum sakit : 55 Kg
Keterangan : IMT : BB : 50 kg
TB x TB 155 x 155 cm (diubah ke meter)
= 40
1,5 x 1,5 m
= 50
2,25 m
= 22,2 (Normal)

38
Tabel Status Gizi Berdasarkan IMT Pada Manusia
Status Gizi Kategori IMT
Kurus sekali Kekurangan BB tingkat < 17,0
berat
Kurus Kekurangan BB tingkat 17,0 – 18,4
kurang
Normal Normal 18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan BB tinngkat 25,1 – 27,0
ringan
Obesitas Kelebihan BB tingkat berat >27, 0

Diet : Biasa

Pola Makan Sehari-hari Sesudah Sakit Sebelum Sakit


Frekuensi/hari 2 x / hari 3 x / hari
Porsi ½ porsi 1 porsi
Nafsu makan Berkurang Normal
Jenis Makanan Nasi, sayur, lauk, buah Nasi, lauk, sayur
Jenis Minuman Air mineral Air mineral
Jumlah minuman/cc/24 8 gelas/hari 8 gelas/hari
jam
Kebiasaan makan Pagi, siang, malam Pagi, siang, malam
Masalah Keperawatan : Tidak ada

3. Pola istirahat dan tidur


Sebelum sakit : 7 – 8 jam (malam), 1 – 2 jam (siang)
Sesudah sakit : 2 – 3 jam (malam), 1 jam (siang)
Masalah Keperawatan : Tidak ada

39
4. Kognitif :
Klien mengetahui penyakit yang diderita sekarang
Masalah Keperawatan : Tidak ada

5. Konsep diri (Gambaran diri, ideal diri, identitas diri, harga diri, peran ) :
Gambar diri : pasien menyukai dan menerima bentuk tubuhnya
Ideal diri : pasien ingin cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya
Identitas diri : pasien menyadari bahwa dia seorang pasien
Harga diri : pasien tidak merasa malu dengan keadanya sekarang
Peran diri : pasien adalah seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya
Masalah Keperawatan : Tidak ada

6. Aktivitas Sehari-hari
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit pasien selalu beraktivitas secara
mandiri
Setelah sakit : pasien berbaring ditempat tidur dan aktivitas seperti duduk dan ke
kamar mandi dibantu oleh keluarga.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

7. Koping – Toleransi terhadap Stress


Pasien mengatakan apabila ada masalah dan keluhan pasien akan bercerita pada
keluarga untuk mengurangi beban pikiran dan mendapat solusi.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

8. Nilai-Pola Keyakinan
Pasien mengatakan tidak ada tindakan medis yang bertantangan dengan keyakinan
yang dianut.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

40
E. SOSIAL - SPIRITUAL
1. Kemampuan berkomunikasi
Pasien mampu berkomunikasi dengan baik
2. Bahasa sehari-hari
Dalam kesehariannya pasien menggunakan bahasa dayak dan bahasa Indonesia
3. Hubungan dengan keluarga :
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga baik dan terjalin erat serta harmonis
4. Hubungan dengan teman/petugas kesehatan/orang lain :
Pasien berhubunganbaik dengan teman/petugas kesehatan/orang lain
5. Orang berarti/terdekat :
Pasien sangat dekat dengan suami dan anak-anaknya
6. Kebiasaan menggunakan waktu luang :
Pasien mengatakan menggunakan waktu luang untuk beristirahat
7. Kegiatan beribadah :
Untuk kegiatan beribadah pasien hanya bisa melaksanakannya di tempat tidur

F. DATA PENUNJANG (RADIOLOGIS, LABORATO RIUM, PENUNJANG


LAINNYA)
Hasil pemeriksaan, 09 Maret 2022

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


HBs Ag Negatif Negatif mmol/l
(Antigen)
Natrium (Na) 116 135 – 148 mmol/l
Kalium (K) 3,9 3,5 – 5,3 mmol/l
Calcium (Ca) 1,07 0,98 – 1,2 mg/l
D DIMER 0,51 < 0,5 mg/l
Ureum 43 21 – 53 mg/dl
Kreatinin 0,73 0,17 – 1,5 mg/dl

41
Jenis Hasil Nilai normal
pemeriksaan
WBC 14.41 + (10^3/uL) 4.50 – 11.00

HGB 12.6 * (g/dL) 10.5 – 18.0

HCT 34.2 – (%) 37.0 – 48.0

PLT 221 (10^3/Ul) 150 - 400

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Nama Dosis Cara Indikasi
Inj. NaCl 0,9 % 1500 IV Untuk mengembalikan
ml/24 jam keseimbangan elektrolit pada
dehidrasi
Inj. Moxifloxacin 1 x 400 IV Obat antibiotik untuk mengatasi
penyakit akibat infeksi bakteri,
seperti pneumonia, infeksi kulit,
sinusitis, infeksi perut, atau
radang panggul.
Cetirizine 0-0-1 Oral Obat untuk meredakan gejala atau
keluhan akibat reaksi alergi
seperti gatal pada kulit,
tenggorokan, hidung bersin-
bersin, atau biduran.
Salbutamol 3x1 Oral Obat untuk mengatasi sesak nafas
akibat penyempitan saluran udara
di paru-paru (bronkospasme)

42
Palangka Raya, 15 Maret 2022
Mahasiswa

Sri Ayuni

43
ANALISIS DATA
DATA SUBYEKTIF DAN KEMUNGKINAN
MASALAH
DATA OBYEKTIF PENYEBAB
Hambatan upaya nafas Pola nafas tidak efektif
DS :
Pasien mengatakan sesak nafas
Kelemahan otot
DO :
- Pasien terlihat sesak
Penyempitan saluran paru
- Terpasang oksigen
nasal kanul 4 lpm
- Pasien tampak gelisah
Sesak nafas
- Irama nafas tidak
teratur
TTV
TD : 140/100 mmHg
N : 107 x/menit
RR : 26 x/menit
S : 38oC
SpO2 : 93%

Peningkatan sekresi kelenjar Bersihan jalan nafas tidak


efektif
DS :
Pasien mengatakan batuk
Peningkatan produksi
berdahak

DO :
- Pasien tampak sesak Akumulasi sekret pada
saluran pernafasan
nafas
meningkat
- Batuk, dahak berwarna
kuning

44
- Pasien tampak lemah
TTV
TD : 140/100 mmHg
N : 107 x/menit
RR : 26 x/menit
S : 38oC
SpO2 : 93%

45
PRIORITAS MASALAH
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d penumpukan sekret ditandai dengan pasien
mengatakan batuk berdahak Nampak berwarna kuning, pasien tampak sesak nafas, pasien
tampak lemah, hasil pemeriksaan TTV = TD : 140/100 mmHg, N : 107 x/menit, RR : 26
x/menit, S : 38oC , SpO2 : 93%
2. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas ditandai dengan pasien mengatakan
sesak nafas, pasien terlihat sesak, terpasang oksigen nasal kanul 4 lpm, pasien tampak
gelisah, irama nafas tidak teratur, hasil pemeriksaan TTV = TD : 140/100 mmHg, N :
107 x/menit, RR : 26 x/menit, S : 38oC, SpO2 : 93%

46
RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien : Ny. N

Ruang Rawat : Gardenia

Diagnosa Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Keperawatan
Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan tindakan Manajemen Jalan Napas (SIKI I.01011 1. Penurunan bunyi nafas indikasi
tidak efektif b.d keperawatan selama 1 × 4 Hal. 186) atelektasis, ronkhi indikasi
sputum berlebihan Jam diharapkan Bersihan Observasi : akumulasi
jalan napas klien kembali 1. Monitor bunyi napas tambahan secret/ketidakmampuan
membaik. Kondisi klien (mis. gurgling, mengi, membersihkan jalan nafas
membaik dengan kriteria whezzing, ronkhi kering) sehingga otot aksesori
hasil : 2. Monitor sputum (jumlah, warna, digunakan dan kerja pernafasan
(SLKI L.01001 Hal 18) aroma) meningkat
1. Batuk efektif 3. Monitor adanya produksi 2. Mengetahui produksi sputum
meningkat (5) sputum 3. Mencegah terjadinya gagal nafas
2. Produksi sputum Terapeutik : 4. Memudahkan pemeliharaan jalan
menurun (5) 4. Posisikan semi-Fowler atau nafas, dan mempermudah udara
3. Dispnea menurun Fowler masuk
(5) 5. Berikan minum hangat 5. Membantu dalam
4. Gelisah menurun (5) Edukasi : menegencerkan sputum
5. Frekuensi napas 6. Ajarkan teknik batuk efektif 6. Membantu mempermudahkan

47
membaik (5) Kolaborasi : pasien mengeluarkan dahak
Kolaborasi pemberian ekspektoran,
mukolitik, jika perlu

Diagnosa Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


Keperawatan
Pola nafas tidak Setelah dilakukan Manajemen Jalan Napas (SIKI I.01011 1. Kecepatan biasanya
efektif b.d hambatan tindakan keperawatan Hal. 186) mencapai kedalam
upaya nafas selama 1 × 4 Jam Observasi : pernafasan bervariasi
diharapkan pola nafas 1. Monitor pola napas (frekuensi, tergantung derajat gagal
klien kembali membaik. kedalaman, usaha napas) nafas.
Kondisi klien membaik 2. Monitor bunyi napas tambahan 2. Mengetahui frekuensi
dengan kriteria hasil : (mis. gurgling, mengi, pernafasan
(SLKI L.01004 Hal 95) whezzing, ronkhi kering) 3. Mencegah terjadinya
1. Dispnea menurun (5) 3. Auskultasi bunyi nafas sumbatan jalan nafas
2. Penggunaan otot 4. Monitor saturasi oksigen 4. Mengetahui apakah ada nafas
bantu napas menurun Terapeutik : tambahan pada pasien
(5) 5. Posisikan semi-Fowler atau 5. Mengetahui adanya bunyi
3. Frekuensi napas Fowler nafas tambahan
membaik (5) 6. Berikan oksigen 6. Oksigen membantu
4. Kedalaman napas Edukasi : mempermudah oksigenasi
membaik (5) 3. Anjurkan asupan cairan 2000 pasien

48
ml/hari, jika tidak kontraindikasi 7. Meningkatkan pengetahuan
Kolaborasi : pasien dan keluarga
Kolaborasi pemberian bronkodilator, 8. Memaksimalkan bernafas dan
jika perlu menurunkan kerja nafas

49
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Tanda tangan
Hari/Tanggal
Implementasi Evaluasi (SOAP) dan
Jam
Nama Perawat
Selasa, 15 Maret 2022 1. Memonitor bunyi napas S:
Pasien mengatakan masih batuk disertai
08.00-11.00 WIB tambahan (mis. gurgling, mengi,
dahak
whezzing, ronkhi kering)
O:
2. Memonitor sputum (jumlah,
1. RR : 26 x/menit
warna, aroma)
2. Pola nafas pasien cepat dan
3. Memonitor adanya produksi
Sri Ayuni
dangkal (takipnea)
sputum
3. Sputum pasien tampak berwarna
4. Memposisikan semi-Fowler atau
putih kental
Fowler
4. Kepatenan nafas pasien
5. Memerikan minum hangat
dipertahanakan
6. Mengajarkan teknik batuk efektif
5. Pasien tampak berbaring semi
7. Kolaborasi pemberian
fowler
ekspektoran, mukolitik, jika
6. Pasien telah diberikan air hangat
perlu
untuk membantu mengencerkan
sputum
7. Pasien tampak bisa melakukan
batuk efektif

50
8. Berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian ekspektoran,
mukolitik

A:
Masalah belum teratasi

P:
Lanjutkan intervensi
1. Monitor pola nafas (frekuensi,
kedalaman dan usaha nafas)
2. Monitor sputum
3. Mempertahankan kepatenan jalan
nafas

Tanda tangan
Hari/Tanggal
Implementasi Evaluasi (SOAP) dan
Jam
Nama Perawat
Selasa, 15 Maret 2022 1. Memonitor pola napas (frekuensi, S:
08.00 – 11.00 WIB kedalaman, usaha napas) Pasien mengatakan sesak nafas
2. Memonitor bunyi napas tambahan
O:
(mis. gurgling, mengi, whezzing,
1. RR : 26 x/menit Sri Ayuni
ronkhi kering)
2. Irama nafas pasien belum
51
3. mengauskultasi bunyi nafas teratur
4. Memonitor saturasi oksigen 3. Pola nafas pasien cepat dan
5. Memposisikan semi-Fowler atau dangkal (takipnea)
Fowler 4. Terdapat suara nafas tambahan
6. Memberikan oksigen ronchi
7. Menganjurkan asupan cairan 2000 5. SpO2 : 98%
ml/hari, jika tidak kontraindikasi
A:
8. Kolaborasi pemberian
Masalah belum teratasi
bronkodilator, jika perlu

P:
1. Monitor frekuensi, irama,
kedalamanan dan upaya nafas
2. Monitor pola nafas

52
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pneumonia merupakan penyakit karena adanya inflamasi maupun pembengkakan
di sebabkan bakteri, virus, jamur yang mengakibatkan infeksi pada saluran
pernapasan dan jaringan paru (Agustyana dkk, 2019). Pneumonia merupakan radang
paru yang disebabkan oleh bakteri dengan gejala panas tinggi disertai batuk berdahak,
napas cepat (frekuensi nafas > 50 kali/ menit), sesak, dan gejala lainnya (sakit kepala,
gelisah, dan nafsu makan berkurang) (Riskesdas, 2013). Secara umum pneumonia
adalah pembunuh tunggal terbesar anak – anak di bawah 5 tahun serta penyebab
infeksi utama kematian anak (Niluh GY & Efenddy C, 2011). Pneumonia adalah
suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing (Ngastiyah, 2015). Pneumonia adalah peradangan pada
baru yang tidak saja mengenai jaringan paru tapi dapat juga mengenai jaringan paru
tapi dapat juga mengenai bronkioli (Nugroho, 2011).
Menurut Amin dan Hardhi (2015), penyebaran infeksi terjadi melalui droplet dan
sering disebabkan oleh streptoccuspneumonia, melalui selang infus oleh
staphylococcus aureus sedangkan pada pemakaian ventilator oleh peruginosa dan
enterobacter, dan masa kini terjadi karena perubahan keadaan pasien seperti
kekebalan tubuh dan penyakit kronis, polusi lingkungan dan penggunaan antibiotik
yang tidak tepat. Setelah masuk keparu-paru organisme bermultiplikasi dan jika telah
berhasil mengalahkan mekanisme pertahan paru, terjadi pneumonia.

4.2 Saran
Penulis mengharapkan agar materi laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca
agar dapat menambah wawasan tentang keilmuan keperawatan penyakit Pneumonia
dengan kebutuhan dasar Oksigenasi, dan semoga keilmuan keperawatan terus dapat
berkembang dalam bidang ilmu pengetahuan.

53
DAFTAR PUSTAKA

Anwar A. 2014. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8 No 8.


Bulechek,dkk. 2013. Nursing Intervention Classification Edisi 6.Elsevier , 2019. Buku
register rawat inap ruang kenanga dan mawar, RSUD Prof. Dr. W.Z Johanes Kupang
Christian T. 2016 . Gambaran Karakteristik Pneumonia Pada Anak Vol 4 No 2. Jurnale-
Clinic Herdman T. 2015. NANDA Internasional. Diagnosis Keperawatan Definisi &
Klasifikasi. Jakarta: EGC Moorhead S, dkk. 2013.
Nursing Outcome Classification Edisi 5.Elsevier Ngastiyah. 2015. Perawatan Anak Sakit ed
2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Nugroho T. 2016. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit Dalam cetakan 1.
Yogyakarta : Penerbit Nuha Medika
Nurarif A.H & Kusuma H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan Nanda Nic-Noc ed 1. Jogjakarta : Penerbit Mediaction
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan,
Salemba Medika, Jakarta.
Riskesdas, 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan.
Diunduh dari http://www.docstoc.com/docs/19707850/Laporan-Hasil-Riset
KesehatanDasar-(RISKESDAS)-Nasional-2018
Teery & Sharon. 2013. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik ed 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran (EGC).
PPNI. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. (SDKI). 2016. Jakarta
PPNI. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. (SIKI).2016. Jakarta
PPNI. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. (SLKI). 2016.Jakarta

54
LAMPIRAN

55
SATUAN ACARA PENYULUHAN

1.1 Topik
Penyakit Pneumonia
1.2 Sasaran
1.2.1 Program
Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit Pneumonia
1.2.2 Penyuluhan
Pentingnya mengetahui Penyakit Pneumonia
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang Penyakit Pneumonia kepada klien dan kleuarga
diharapkan klien dan keluarga dapat memahami tentang Penyakit Pneumonia.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan klien dan keluarga dapat :
1. Mengetahui pengertian Penyakit Pneumonia.
2. Mengetahui penyebab Penyakit Pneumonia.
3. Mengetahui tanda dan gejala Penyakit Pneumonia.
4. Mengetahui cara pencegahan Penyakit Pneumonia.
1.4 Materi
Adapun garis besar materi dalam penyuluhan tentang cairan dan elektrolitadalah :
1. Pengertian Penyakit Pneumonia.
2. Penyebab Penyakit Pneumonia.
3. Tanda dan gejala Penyakit Pneumonia.
4. Pencegahan Penyakit Pneumonia.
1.5 Metode
Adapun metode yang digunakan dalam penyuluhan tentang cairan dan elektrolit bagi
klien dan keluarga meliputi :

56
1. Ceramah
Ceramah adalah pesan yang bertujuan memberikan nasehat dan petunjuk-petunjuk
sementara ada audiens yang bertindak sebagai pendengar.
2. Tanya jawab
Metode tanya jawab adalah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan
pertanyaan-pertanyaan lalu memberikan jawaban ataupun sebaliknya.

1.6 Media
Adapun media yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan ini meliputi :
1. Leaflet
Leaflet merupakan bentuk publikasi singkat dalam bentuk selebaran yang berisi
informasi mengenai suatu hal atau peristiwa.

1.7 Waktu Pelaksanaan


Hari/Tanggal : 16 Maret 2022
Pukul : 10.00 - 10.30 WIB
Alokasi Waktu : 30 menit

No Kegiatan Waktu Metode

1 Pembukaan :

1. Membuka kegiatan dengan 5 menit 1. Menjawab salam


mengucapkan salam 2. Mendengarkan dan memperhatikan
2. Menjelaskan tujuan dari Pendidikan
kesehatan
3. Menyebutkan materi yang akan
diberikan
4. Kontrak waktu penyampaian materi

2 Pelaksanaan :

57
Menjelaskan tentang :

1. Pengertian Penyakit Pneumonia. 15 Menit 1. Mendengar, memperhatikan.


2. Penyebab Penyakit Pneumonia.
3. Tanda dan gejala Penyakit
Pneumonia.
4. Pencegahan Penyakit Pneumonia.

3 Evaluasi :

Menanyakan pada keluarga tentang 8 Menit Tanya Jawab


materi yang telah diberikan, dan
meminta kembali keluarga untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.

4 Terminasi :
Mendengarkan
1. Mengucapkan terimakasih atas 2 menit 1. Menjawab salam
perhatian keluarga
2. Mengucapkan salam penutup

1.8 Tugas Pengorganisasian


1.8.1 Moderator : Sri Ayuni
Moderator adalah orang yang bertindak sebagai penengah atau pemimpin sidang
(rapat, diskusi) yang menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian
masalah.
Tugas :
a. Membuka acara Pendidikan kesehatan
b. Menjelaskan tujuan dan topik yang akan disampaikan
c. Menjelaskan kontrak dan waktu presentasi
d. Mengatur jalannya diskusi

1.8.2 Penyaji : Sri Ayuni

58
Penyaji adalah menyajikan materi diskusi kepada peserta dan memberitahukan kepada
moderator agar moderator dapat memberi arahan selanjutnya kepada peserta-peserta
diskusinya.
Tugas :
a. Menyampaikan materi Pendidikan kesehatan
b. Mengevaluasi materi yang telah disampaikan
c. Mengucapkan salam penutup
1.8.3 Fasilitator : Sri Ayuni
Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang, memahami tujuan
bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan
tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi.
Tugas :
a. Memotivasi keluarga untuk berperan aktif selama jalannya kegaiatan
b. Memfasilitasi pelaksananan kegiatan dari awal sampai dengan akhir
c. Membuat dan mengedarkan absen peserta
d. Membagikan konsumsi
1.8.4 Simulator : Sri Ayuni
Simulator adalah seseorang yang bertugas untuk menyimulasikan suatu gerakan
kepada audience.
Tugas :
a. Memperagakan macam-macam gerakan pada saat Pendidikan kesehatan
1.8.5 Dokumentator : Sri Ayuni
Dokumentator adalah orang yang mendokumentasikan suatu kegiatan yang berkaitan
dengan foto, pengumpulan data, dan menyimpan kumpulan dokumen pada saat
kegiatan berlangsung agar dapat disimpan sebagai arsip.
Tugas :
a. Melakukan dokumentasi dalam kegiatan pendidikan kesehatan.

1.8.6 Notulen : Sri Ayuni

59
Notulen adalah sebutan tentang perjalanan suatu kegiatan penyuluhan, seminar,
diskusi, atau sidang yang dimulai dari awal sampai akhir acara. Ditulis oleh seorang
Notulis yang mencatat seperti mencatat hal-hal penting. Dan mencatat segala
pertanyaan dari peserta kegiatan.
Tugas :
a. Mencatat poin-poin penting pada saat penyuluhan berlangsung.
b. Mencatat pertanyaan-pertanyaan dari audience dalam kegiatan.

1.9 Denah Pelaksanaan


Denah Pelaksanaan

Kerangan :

: Penyaji : Pasien

: Fasilitator : Moderator

: Simolator : Dokumentator

:Keluarga Pasien

60
MATERI PENYULUHAN

A. Pengertian Penyakit Pneumonia.


Pneumonia ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi
seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang mengensi jaringan paru (alveoli).
(DEPKES. 2006)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. (Zuh Dahlan. 2006).
Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi
seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (Ngastiyah, 2015).
Pneumonia adalah peradangan pada paru yang tidak saja mengenai jaringan paru tapi
dapat juga mengenai bronkioli (Nugroho, 2011).
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan peradangan pada Alveoli/Kantung
udara disalah satu atau kedua paru-paru yang dapat berisi cairan.
B. Penyebab Penyakit Pneumonia.
a. Bakteri
Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau gram-negatif
seperti : Steptococcus pneumonia (pneumokokus), Streptococcus piogenes,
Staphylococcus aureus, Klebsiela pneumoniae, Legionella, hemophilus influenzae.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Influenzae virus, Parainfluenzae virus, Respiratory, Syncytial adenovirus, chicken-pox
(cacar air), Rhinovirus, Sitomegalovirus, Virus herves simpleks, Virus sinial
pernapasan, hantavirus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan
udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah
serta kompos.

61
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti
pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2010)

C. Tanda dan gejala Penyakit Pneumonia


Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama
beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai
40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat
berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri
perut, kurang nafsu makan,dansakit kepala.
Tanda dan Gejala berupa:Batuk nonproduktif, Ingus (nasal discharge),Suara napas
lemah, Retraksi intercosta, Penggunaan otot bantu nafas, Demam, Ronchii, Cyanosis,
Leukositosis, Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar, Batuk, Sakit kepala, Kekakuan
dan nyeri otot, Sesak nafas, Menggigil, Berkeringat, Lelah.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
a. Kulit yang lembab
b. Mual dan muntah
c. Kekakuan sendi. Marilynn (2011).
D. Pencegahan dan perawatan Penyakit Pneumonia
Pneumonia memang mengerikan, namun penyakit ini dapat dilakukan pencegahan
dengan langkah sederhana yaitu dengan cara :
a. Ventilasi rumah yang baik
b. Cuci tangan pakai sabun
c. Minum air bersih dan matang serta sanitasi yang baik
d. Gizi yang cukup dan seimbang

62

55
63