Anda di halaman 1dari 125

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

PADA MASYARAKAT RT 003/ RW 001 KELURAHAN PETUK KETIMPUN


KOTA PALANGKA RAYA TAHUN AJARAN 2021/2022

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Kebidanan Komunitas (PKL)


Pada Prodi DIII-Kebidanan STIKes Eka Harap Palangka Raya

Oleh:
AYU LESTARI ( 2019.A.10.0793 )
AYU WULANDARI ( 2019.A.10.0794 )
RINI ANGGRAINI ( 2019.A.10.0831 )
YUYENSI ( 2019.A.10.082)

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
TAHUN 2022
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS
PADA MASYARAKAT RT 003/ RW 001 KELURAHAN PETUK KETIMPUN
KOTA PALANGKA RAYA TAHUN AJARAN 2021/2022

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Kebidanan Komunitas (PKL)


Pada Prodi DIII-Kebidanan STIKes Eka Harap Palangka Raya

Oleh:
AYU LESTARI ( 2019.A.10.0793 )
AYU WULANDARI ( 2019.A.10.0794 )
RINI ANGGRAINI ( 2019.A.10.0831 )
YUYENSI ( 2019.A.10.082)

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
TAHUN 2022
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KELUARGA KEBIDANAN KOMUNITAS


PADA MASYARAKAT RT 003/ RW 001 KELURAHAN PETUK KETIMPUN KOTA
PALANGKA RAYA
Tanggal ........................... - ......................... 2022

Oleh:
AYU LESTARI ( 2019.A.10.0793 )
AYU WULANDARI ( 2019.A.10.0794 )
RINI ANGGRAINI ( 2019.A.10.0831 )
YUYENSI ( 2019.A.10.082)

Dengan ini disahkan sebagai Laporan Kegiatan


Praktik Kebidanan Komunitas

Pembimbing Institusi Pembimbing Lahan

(.......................................)
(....................................)

Mengetahui,
Ketua Prodi DIII Kebidanan

(.................................................)

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadiran Allah SWT karena atas berkat rahmat dan
hidayanyasehingga kami dapat menyelesaikan laporan askeb komunitas ini tepat pada
waktunya yang telah di tentukan. Laporan ini diajukan guna memenuhi Praktik Kerja
Lapangan (PKL).

Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan
laporan ini baik itu secara lansung maupun tidak lansung. Penulis menyadari isi laporan
ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segikalimat, isi maupun dalam
penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun, sangat kami harapkan
demi kesempurnaan laporan ini dan laporan-laporan selanjutnya.

Palankga Raya, Maret 2022

Penulis

DAFTAR ISI

ii
Halaman
HALAMAN SAMPUL.....................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................. 2
1.3 Manfaat................................................................................................. 2
1.4 Sistematika penulisan........................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................
2.1 Konsep Dasar Kebidanan Komunitas......................................................... 4
2.1.1 Pendahuluan .................................................................................... 4
2.1.2 Definisi kebidanan Komunitas......................................................... 4
2.1.3 Tujuan Kebidanan Komunitas ......................................................... 6
2.1.4 Sasaran Kebidanan Komunitas......................................................... 7
2.1.5 Strategi Kebidanan Komunitas......................................................... 9
2.1.6 Falsafah Kebidanan Komunitas ...................................................... 11
2.2 Proses Asuhan Kebidanan Komunitas........................................................
2.2.1 Definisi Proses Kebidanan Komunitas............................................. 17
2.2.2 Tujuan dan Fungsi Proses Kebidanan Komunitas........................... 17
2.2.3 Langkah-langkah Proses Kebidanan Komunitas............................. 17
2.3 Materi Asma............................................................................................... 19
2.4 Materi Kolestrol.......................................................................................... 31
2.5 Materi Gastritis........................................................................................... 39
2.6 Materi PHBS............................................................................................... 43
2.7 Materi Asam Urat....................................................................................... 46
2.8 Materi Hipertensi........................................................................................ 53
2.9 Materi Imunisasi......................................................................................... 55
2.10 Materi Kb ................................................................................................. 71
2.11 Materi Diabetes Melitus............................................................................ 77
BAB III PENYAJIAN DATA PENDUDUK................................................ 79

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Para ahli mendefinisikan komunitas atau masyarakat dari sudut pandang yang
berbeda. WHO mendefinisikan komunitas sebagai kelompok social yang ditentukan
oleh batas – batas wilayah, nilai – nilai keyakinan dan minat yang sama, serta adanya
saling mengenal dan berinteraksi Antara anggota masyarakat yang satu dengan yang
lainnya. Kebidanan komunitas merupakan konsep dasar bidan dalam melayani
keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah bidan yang
melayani keluarga dan masyarakat di luar rumah sakit. Di dalam konsep tersebut
tercakup berbagai unsur. Unsur – unsur tersebut adalah bidan sebagai pelaksana
pelayanan, pelayanan kebidanan, dan komunitas sebagai sarana pelayanan, ilmu dan
teknologi kebidanan, serta factor yang mempengaruhi seperti lingkungan, masing-
masing usnur memiliki karekteristik.
Pendekatan baru mengenai kualitas pelayanan menuntut pergeseran titik tekan
pelayanan kesehatan terutama kebidanan dari yang berorientasi target peencapaian
menjadi berorientasi penjagaan mutu pelayanan. Pendekatan semacam ini
mengharuskan pihak pengelola program untuk mengoordinasi semua kegiatan yang
berbasis klinik seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, swasta atau yanh berbasis pada
masyarakat seperti posyanddu, polindes, bidan di desa, petugas penyalur kontrasepsi
(CBD), dan lainnya.
Praktik bidan adalah suatu perwujudan dari kewenangan bidan dalam melakukan
tugasnya melayani pasien. Pratik bidan adalah salah satu kegiatan kebidanan
komunitas, kegiatan praktik kerja dikelola oleh bidan sendiri sesuai dengan
kewenangannya. Dala kegiatan praktik ini, bidan dapat dibantu oleh tenaga kesehatan
atau tenaga lainnya yang kuallifikasi pendidikannay lebih rendah.
Bidan yang bekerja di desa mempunyai wilayah kerja atau wilayah pelayanan.
Masyarakat yang berada di dekat tempat aktivitas bidan merupakan sasaran utama
pelayanan kebidanan komunitas mendorong bidan bekerja aktif, tidak menunggu
pasien dating ketempat kerjanya. Bidan harus aktif memberi pelayanan terhadap ibu
dan anak balita baik di dalam maupun di luar unit kerjanya. Untuk itu bidan harus
mengetahui perkembangan kesehatan masyarakat dari waktu ke waktu. Pemantauan
kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya harus dilakukan oleh bidan komunitas.

1
Konsep kebidanan terdiri dari beberapa kompenen yang membentuk suatu konsep
kebidanan komunitas . unsur- unsur yang tercakup dalam keidanan komunitas adalah
bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan pengetahuan, serta
teknologi.Ciri kebidanan komunitas adalah menggunakan populasi sebagai unit
analisis. Populasi dapat kelompok sasaran (jumlah perempuan, jumlah kepala
keluarga, jumlah laki-laki, jumlah neonates, jumlah balita) dalam area yang dapat
ditentukan sendiri oleh bidan. Analisis situasi merupakan proses sistematis untuk
melihat fakta, data atau kondisi yang ada dalam suatu lingkup wilayah.

1.2 Tujuan
Laporan asuhan kebidana komunitas dibuat guna untuk memenuhi tugas yang
diberiakn kepada mahasiswa kebidana selama menjalani Praktik Kerja Lapangan di
Wilayah Petuk Ketimpun.
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk menjadikan masyarakat yang sadar akan pentingnya kesehatan dan mampu
menerapakan perilaku kesehatan didalam lingkungan keluarga maupun
masyarakat.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimilikinya untuk
menolong diri mereka sendiri dalam meningkatkan mutu hidup mereka.
2. Mengembangkan kemampuan masyarakat untuk mengelola kesehatan diri
sendiri.
3. Menjadikan masyarakat sehat yang mandiri
1.3 Manfaat

2
1.3.1 Bagi Mahasiswa
Dengan adanya pengkajian dikomunitas masyarakat diharapkan dapat memberi
informasi bagi praktis kesehatan masyarakat dalam menentukan langkah
selanjutnya untuk pencegahan dan hasil ini dapat diteruskan oleh mahasiswa
lainnya.
1.3.2 Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat untuk lebih memperhatikan perilaku sehari-harinya agar
dapat menciptakan lingkungan komunitas masyarakat yang berkwalitas.
1.3.3 Bagi Institusi Pendidikan
Mencapai program dalam pelayanan kesehatan komunitas masyarakat. Dari data
yang ditemukan dilapangan, penulisan masyarakat kepada pihak instansi
puskesmas dan dinas kesehatan agar lebih mengintensifkan penyuluhan-
penyuluahan untuk memberikan informasi kepada masyarakat, sehingga
masyarakat mendapat informasi tentang pencegahan, penanggulangan,
pengolahan bahan makanan yang benar dan perilaku kesehatan dalam kriteria
rumah sehat

1.4 Sistematika Penulisan


BAB 1 Pendahuluan yaitu terdiri dari latar belakang, tujuan, manfaat dan
sistematika penulisan
BAB 2 Tinjuan Pustaka terdiri dari Konsep dasar Keperawatan/Kebidanan
Komunitas danProses Asuhan Keperawatan/Kebidanan Komunitas
BAB 3 Asuhan Kebidanan Komunitas terdiri dari Pengkajian,Perencanaan,
Pelaksanaan, dan Evaluasi

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR KEBIDANAN KOMUNITAS


2.1.1. Pendahuluan
Di Indonesia perkembangan kebidanan tidak begitu pesat, hal ini dapat dilihat
dari sejak dimulainya pelayanan kebidanan pada tahun 1853 sampai saat ini
perkembangan pelayanan belum dapat mencapai tingkat yang professional.
Pelayanan kebidanan yang diberikan lebih banyak ditujukan pada kesehatan ibu dan
anak, baik kesehatan fisik maupun psikologisnya. Ibu dan anak ini berada didalam
suatu keluarga yang ada didalam suatu masyarakat. Bidan sebagai pelaksana utama
yang memberikan pelayanan kebidanan, diharapkan mampu memberikan pelayanan
yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.
Bidan juga tinggal didalam suatu masyarakat dikomunitas tertentu oleh karena
itu dalam memberikan pelayanan tidak hanya memandang ibu dan anak sebagai
individu tetapi juga mempertimbangkan factor lingkungan dimana ibu tinggal.
Lingkungan ini dapat berupa social, politik, dan keadaan ekonomi. Disini terlihat
jelas bahwa kebidanan komunitas sangat diperlukan, agar bidan dapat mengenal
kehidupan social dari ibu dan anak yang dapat mempengaruhi status kesehatannya.
2.1.2. Definisi kebidanan komunitas
Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan professional yang ditujukan
kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dengan upaya
mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan, menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai
mitra dalam perencanan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kebidanan.
Kebidanan komunitas memberi perhatian terhadap pengaruh factor lingkungan
meliputi fisik, biologis, psikologis, social, kultural, dan spiritual terhadap kesehatan
masyarakat dan memberi prioritas pada strategi pencegahan, peningkatan dan
pemeliharaan kesehatan.
Kebidanan komunitas didasarkan pada asumsi berikut:
1. System pelayanan kesehatan bersifat kompleks.
2. Pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier merupakan komponen
system pelayanan kesehatan.
4
3. Kebidanan merupakan subsistem pelayanan kesehatan, hasil pendidikan dan
penelitian yang melandasi praktik.
4. Focus utama adalah pelayanan kesehatan primer sehingga kebidanan
komunitas perlu dikembangkan di tatanan pelayanan kesehatan utama.
Kebidanan komunitas perlu dikembangkan di tatanan pelayanan kesehatan dasar yang
melibatkan komunitas secara aktif dans sesuai keyakinan komunitas. Beberapa
keyakinan yang mendasari praktik kebidanan komunintas adalah sebagai berikut.
1. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat dijangkau, dan dapat diterima
semua orang.
2. Penyusunan kebijakan seharusnya melibatkan penerima pelayanan, dalam hal
ini komunitas.
3. Bidan sebagai pemberi pelayanan dan klien sebagai penerima pelayanan perlu
menjalin kerja sama yang baik.
4. Lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan komunitas, baik yang mendukung
maupun mengahambat sehingga hal ini perlu diantisipasi.
5. Pencegahan penyakit dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan.
6. Kesehatan merupakan tanggung jawab setiap orang.
Tujuan umum kebidanan komunitas adalah meningkatkan kemampuan masyarakat
agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Tujuan khusus kebidanan
komunitas sebagai berkut.
1. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dalam pemahaman tentang pengertian sehat dan sakit.
2. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
dalam mengatasi masalah kesehatan.
3. Menciptakan dukungan bagi individu yang terkait.
4. Mengendalikan lingkungan fisik dan social untuk menuju keadaan sehat yang
optimal.
5. Mengembangkan ilmu dan melaksanakan kebidanan kesehatan masyarakat.
Kebidanan komunitas merupakan bentuk pelayanan/asuhan langsung yang berfokus
pada kebutuhan dasar komunitas, yang berkaitan dengan kebiasaan atau pola perilaku
masyarakat yang tidak sehat, ketidakmampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan
lingkungan internal dan eksternal. Intervensi kebidanan yang dilakukan mencakup
pendidikan kesehatan, mendemonstrasikan keterampilan dasar yang dapat dilakukan
oleh komunitas, melalui intervensi kebidanan yang memerlukan keahlian bidan
5
(konseling pasangan yang akan menikah, melakukan kerja sama lintas-program dan
lintas-sektoral) untuk mengatasi masalah komunitas serta melakukan rujukan
kebidanan dan non kebidanan jika perlu.
Intervensi kebidanan tersebut difokuskan pada tiga level pencegahan yaitu sebagai
berikut.
1. Prenvensi primer. Prevensi primer adalah pencegahan dalam arti yang
sebenarnya, ketika teridentifikasi factor risiko di masyarakat. Pencegahan
primer mencakup peningktan kesehatan pada umumnya dan perlindungan
khusus terhadap penyakit, health promotion, health education, specific
protection dan environmental protection. Contoh kegiatan di bidang prevensi
primer, seperti imunisasi, penyuluhan tentang gizi, dan penyuluhan untuk
mencegah keracunan.
2. Prevensi sekunder. Pencegahan sekunder menekankan pada diagnosis dini dan
intervensi yang tepat untuk menghambat proses patologis sehingga
memperpendek waktu sait dan tingkat keparahan/keseriusan penyakit, contoh:
mengkaji keterbelakangan tumbuh kembang seorang anak/belita atau
memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala
termasuk pemeriksaan gigi dan mata secara berkala.
3. Prevensi sekunder. Pencegahan tersier dilakukan pada kasus kecacatan atau
ketidakmampuan atau tidak dapat diperbaiki. Rehabilitasi sebagai tujuan
pencegahan primer lebih dari upaya menghambat proses penyakitnya sendiri,
yaitu mengembalikan individu pada tingkat berfungsi yang optimal dari
ketidakmampuannya. Contoh: bidan mengajarkan kepada keluarga untuk
melakukan perawatan anak dengan kolostomi di rumah atau membantu
keluarga yang mempunyai anak dengan kelumpuhan anggota gerak untuk
latihan secara teratur di rumah.
2.1.3. Tujuan kebidanan komunitas
Pemberian asuhann kebidanan di komunitas harus terarah atau mempunyai
tujuanyang jelas, adapun tujuan pemberian asuhan kebidanan dikomunitas sebagai
berikut.
1. Tujuan Umum
Asuhan kebidanan di komunitas harus mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat khususnya kesehatan perempuan di wilayah kerja bidan.
2. Tujuan Khusus
6
a. Meningkatkan pelayanan kebidanan komunitas sesuai dengan tanggung
jawab bidan.
b. Meningkatkan mutu pelayanan ibu hamil, pertolongan persalnan, perawatan
nifas dam perinatal secara terpadu.
c. Menurunkan jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan risiko kehamilan,
persalinan, nifas dan perinatal.
d. Mendukung program-program pemerintah lainnya untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu dan anak.
e. Membangun jejaring kerja dengan fasilitas rujukan dan tokoh masyarakat
setempat atau terkait.
3. Prinsip pelayanan atau asuhan kebidanan komunitas.
a. Kebidanan komunitas sifatnya multidisiplin meliputi ilmu kesehatan
masyarkat, social, psikolgi, ilmu kebidanan, dan ilmu lainnya yang
mendukung peran bidan di komunitas.
b. Berpedoman pada etika profesi kebidanan yang menjunjung harkat dan
martabat kemanusiaan klien.
c. Ciri kebidanan komunitas adalah menggunakan populasi sebagai unit
analisis. Populasi bias berupa kelompok sasaran (jumlah perempuan,
jumlah Kepala keluarga, jumlah laki-laki, jumlah nonatus, jumlah
perempuan usia subur dalam1 RT atau 1 kelurahan kawasan
perumahan/perkantoran.
d. Ukuran keberhasilan bukan hanya mencakup sebagai target sasaran
pelayanan, namun perubahan pola pikir dan terjalinnya kemitraan seperti:
PKK, kelompok ibu-ibu pengajian dan kader kesehatan.
e. System pelaporan kebidanan komunitas, berbeda dengan kebidanan di
klinik. System pelaporan kebidanan komunitas berhubungan dengan
wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya.

2.1.4. Sasaran kebidanan komunitas


Terdapat setidaknya 5 sasaran kebidanan komunitas, berikut di antaranya:
1. Ibu
Pranikah, prakonsepsi, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa
interval, dan menopause

7
2. Anak
Melakukan upaya guna meningkatkan kesehatan pada janin yang ada di dalam
kandungan maupun pada bayi, balita, anak prasekolah, dan anak usia sekolah.
3. Keluarga
Meberikan pelayanan asuhan kebidanan pada ibu berupa kontrasepsi,
pemeliharaan ibu pasca persalinan, dan pemeliharaan pada anak berupa
perbaikan gizi serta imunisasi.
4. Kelompok Penduduk
Sasaran kebidanan komunitas juga menyasar kepada kelompok yang berada di
daerah kumuh, terisolir, maupun daerah sulit untuk dijangkau.
5. Masyarakat
Menyasar ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat terkecil
hingga ke masyarakat umum seperti remaja, dewasa, wanita hamil, maupun
kelompok ibu.
2.1.4.1. Pendekatan Edukatif Dalam Peran Serta Masyarakat
Pelayanan kebidanan komunitas dikembangkan berawal dari pola hidup
masyarakat yang tidak lepas dari faktor lingkungan, adat istiadat, ekonomi, sosial
budaya, dll. Sebagian masyarakat sehingga perlu melibatkan masyarakat secara
aktif. Keberadaan kader kesehatan dari masyarakat sangat penting untuk
meningkatkan rasa percaya diri masyarakat terhadap kemampuan yang mereka
miliki.
1. Definisi
a. Secara Umum
Rangakaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis, terencana
dan terarah dengan partisipasi aktif individu, kelompok, masyarakat secara
keseluruhan untuk memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat
dengan mempertimbangkan  factor sosial, ekonomi dan budaya setempat
b. Secara Khusus
Merupakan model dari pelaksanaan organisasi dalam memecahkan
masalah yang dihadapi masyarakat dengan pendekatan pokok yaitu
pemecahan masalah dan proses pemecahan masalah tersebut.
2. Tujuan Pendekatan Edukatif

8
a. Memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang merupakan
masalah kebidanan komunitas
b. Kembangkan kemampuan masyarakat, hal ini berbeda dengan memecahkan
masalah yang dihadapi atas dasar swadaya sebatas kemampuan
2.1.4.2. Pelayanan Yang Berorientasi Pada Kebutuhan Masyarakat
Proses dimana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan dan tentukan
prioritas dari kebutuhan tersebut serta mengembangkan keyakinan masyarakat
untuk berusaha memenuhi kebutuhan sesuai skala prioritas berdasarkan atas
sumber-sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun berasal dari luar secara
gotong royong. Terdiri dari 3 aspek penting meliputi proses, masyarakat dan
memfungsikan masyarakat.
Terdiri Dari 3 Jenis Pendekatan :
1. Specifict Content Approach
Yaitu pendekatan perorangan atau kelompok yang merasakan masalah
melalaui proposal program kepada instansi yang berwenang.
Contoh: pengasapan pada kasus DBD
2. General Content Objective Approach
Yaitu pendekatan dengan mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang
kesehatan dalam wadah tertentu.
Contoh: posyandu meliputi KIA, imunisasi, gizi, KIE dsb.
3. Proses Objective Approach
Yaitu pendekatan yang lebih menekankan pada proses yang dilaksanakan
masyarakat sebagai pengambil prakarsa kemudian dikembangkan sendiri
sesuai kemampuan.
Contoh: Kader

2.1.5. Strategi kebidanan komunitas


2.1.5.1 Strategi Dasar Pendekatan Edukatif
a. Mengembangkan Provider
Perlu adanya kesamaan persepsi dan sikap mental positif terhadap
pendekatan yang ditempuh serta sepakat untuk mensukseskan.
Langkah-langkah pengembangan provider :
1) Pendekatan terhadap pemuka atau pejabat masyarakat Bertujuan
untuk mendapat dukungan, sehingga dapat menentukan kebijakan
9
nasional atau regional. Bentuknya pertemuan perorangan, dalam
kelompok kecil, pernyataan beberapa pejabat yang berpengaruh.
2) Pendekatan terhadap pelaksana dari sector di berbagai tingkat
administrasi sampai dengan tingkat desa tujuan yang akan dicapai
adalah adanya kesepahaman, memberi dukungan dan merumuskan
kebijakan serta pola secara makro. Berbentuk lokakarya, seminar,
raker, musyawarah.
3) Pengumpulan data oleh sector kecamatan/desa, Merupakan
pengenalan situasi dan masalah menurut pandangan petugas/provider.
Macam data yang dikumpulkan meliputi data umum, data khusus, dan
data perilaku.
b. Pengembangan Masyarakat
Pengembangan masyarakat adalah menghimpun tenaga masyarakat untuk
mampu dan mau mengatasi masalahnya sendiri secara swadaya sebatas
kemampuan. Dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk
menentukan masalah, merencanakan alternatif, melaksanakan dan menilai
usaha pemecahan masalah yang dilaksanakan. Langkah-langkahnya
meliputi pendekatan tingkat desa, survey mawas diri, perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian serta pemantapan dan pembinaan.
2.1.5.2 Menggunakan atau memanfaatkan fasilitas dan potensi yang ada di masyarakat
Masalah kesehatan pada umumnya disebabkan rendahnya status sosial-ekonomi
yang diakibatkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan memelihara diri sendiri
(self care) sehingga apabila berlangsung terus akan berdampak pada status
kesehatan keluarga dan masyarakat juga produktifitasnya.
1. Definisi
a. Usaha membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat,
membantu menumbuhkan kemmapuan orang, berkomunikasi dan
menguasai lingkungan fisiknya.
b. Pengembangan manusia yang tujuannya adalah mengembangkan potensi
dan kemampuan manusia mengontrol lingkungannya.
2. Langkah-Langkah
a. Ciptakan kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan
b. Tingkatkan mutu potensi yang ada
10
c. Usahakan kelangsungan kegiatan yang sudah ada
d. Tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan

3. Prinsip-Prinsip Dalam Pengembangan Masyarakat


a. Program ditentukan dalam mengembangkan masyarakat
b. Program disesuaikan dengan kemampuan masyarakat
c. Dalam pelaksanaan kegiatan harus ada bimbingan, pengarahan, dan
dorongan agar dari satu kegiatan dapat dihasilkan kegiatan lainnya.
d. Petugas harus bersedia mendampingi dengan mengambil fungsi sebagai
katalisator untuk mempercepat proses.
4. Bentuk-Bentuk Program Masyarakat
a. Program intensif yaitu pengembangan masyarakat melalui koordinasi
dengan dinas terkait/kerjasama lintas sektoral
b. Program adaptif yaitu pengembangan masyarakat hanya ditugaskan pada
salah satu instansi/departemen yang bersangkutan saja secara khusus
untuk melaksanakan kegiatan tersebut/kerjasama lintas program.
c. Program proyek yaitu pengembangan masyarakat dalam bentuk usaha-
usaha terbatas di wilayah tertentu dan program disesuaikan dengan
kebutuhan wilayah tersebut

2.1.6. Falsafah Kebidanan Komunitas


2.1.6.1. Konsep Kebidanan Komunitas
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan,
yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga yang berkualitas.
Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai
dengan kewenangan yang diberikannya dengan maksud untuk meningkatkan
kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga berkualitas, bahagia
dan sejahtera.
1. Pengertian/ Definisi
Konsep merupakan kerangka ide yang mengandung suatu pengertian
tertentu. Kebidanan  berasal dari kata “bidan“. Menurut kesepakatan
antara ICM; IFGO dan WHO tahun 1993, mengatakan
bahwa bidan (midwife) adalah “seorang yang telah mengikuti pendidikan
kebidanan yang diakui oleh Pemerintah setempat, telah menyelesaikan
11
pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat izin melakukan
praktek kebidanan” (Syahlan, 1996 : 11).
Bidan di Indonesia (IBI) adalah “ seorang wanita yang mendapat
pendidikan kebidanan formal dan lulus serta terdaftar di badan resmi
pemerintah dan mendapat izin serta kewenangan melakukan kegiatan
praktek mandiri” (50 Tahun IBI). Bidan lahir sebagai wanita terpercaya
dalam mendampingi dan menolong ibu-ibu melahirkan, tugas yang
diembankan sangat mulia dan juga selalu setia mendampingi dan
menolong ibu dalam melahirkan sampai sang ibu dapat merawat bayinya
dengan baik. Bidan diakui sebagai profesional yang bertanggungjawab
yang bekerja sebagai mitra prempuan dalam memberikan dukungan yang
diperlukan, asuhan dan nasihat selama kehamilan, periode persalinan dan
post partum, melakukan pertolongan persalinan di bawahtanggung
jwabnya sendiri dan memberikan asuhan pada bayi baru lahir dan bayi.
Kebidanan (Midwifery)  mencakup pengetahuan yang dimiliki dan
kegiatan pelayanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. (Syahlan, 1996 :
12). Komunitas berasal dari bahasa Latin yaitu “Communitas” yang berarti
kesamaan, dan juga “communis” yang berarti sama, publik ataupun
banyak. Dapat diterjemahkan sebagai kelompok orang yang berada di
suatu lokasi/ daerah/ area tertentu (Meilani, Niken dkk, 2009 : 1). Menurut
Saunders (1991) komunitas adalah tempat atau kumpulan orang atau
sistem sosial.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan definisi
Kebidanan Komunitas sebagai segala aktifitas yang dilakukan
oleh bidan untuk menyelamatkan pasiennya dari gangguan kesehatan.
Pengertian kebidanan komunitas yang lain menyebutkan upaya yang
dilakukan Bidan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan Ibu dan
Anak balita di dalam keluarga dan masyarakat.
Kebidanan komunitas adalah pelayanan kebidanan profesional yang
ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko
tinggi, dengan upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra
dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan kebidanan
12
(Spradly, 1985; Logan dan Dawkin, 1987 dalam Syafrudin dan Hamidah,
2009 : 1)
Pelaksanaan pelayanan kebidanan komunitas didasarkan pada empat
konsep utama dalam pelayanan kebidanan yaitu : manusia, masyarakat/
lingkungan, kesehatan dan pelayanan kebidanan yang mengacu pada
konsep paradigma kebidanan dan paradigma sehat sehingga diharapkan
tercapainya taraf  kesejahteraan hidup masyarakat (Meilani, Niken dkk,
2009 : 8).
2. Riwayat Kebidanan Komunitas di Indonesia
Pelayanan kebidanan komunitas dikembangkan di Indonesia
dimana bidan sebagai ujung tombak pemberi pelayanan
kebidanan komunitas. Bidan yang bekerja melayani keluarga dan
masyarakat di wilayah tertentu disebut bidan komunitas (community
midwife) (Syahlan, 1996 : 12). Di Indonesia istilah “bidan komunitas”
tidak lazim digunakan sebagai panggilan bagi bidan yang bekerja di luar
Rumah Sakit. Secara umum di Indonesia seorang bidan yang bekerja di
masyarakat termasuk bidan desa dikenal sebagai bidan komunitas.
Sampai saat ini belum ada pendidikan khusus untuk menghasilkan
tenaga bidan yang bekerja di komuniti. Pendidikan yang ada sekarang ini
diarahkan untuk menghasilkan bidan yang mampu bekerja di desa.
Pendidikan tersebut adalah program pendidikan bidan A (PPB A), B (PPB
B), C (PPB C) dan Diploma III Kebidanan. PPB-A,lama pendidikan 1
tahun, siswa berasal dari lulusan SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). PPB-
B,lama pendidikan 1 tahun, siswa berasal dari lulusan Akademi Perawat.
PPB-C, lama pendidikan 3 tahun, siswa berasal dari lulusan SMP (Sekolah
Menengah Pertama). Diploma III Kebidanan : lama pendidikan 3 tahun,
berasal dari lulusan SMU, SPK maupun PPB-A  mulai tahun 1996.
Kurikulum pendidikan bidan tersebut diatas disiapkan sedemikian rupa
sehingga bidan yang dihasilkan mampu memberikan pelayanan kepada ibu
dan anak balita di masyarakat terutama di desa. Disamping itu Departemen
Kesehatan melatih para bidan yang telah dan akan bekerja untuk
memperkenalkan kondisi dan masalah kesehatan serta penanggulangannya
di desa terutama berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak balita. Mereka
juga mendapat kesempatan dalam berbagai kegiatan untuk
13
mengembangkan kemampuan, seperti pertemuan ilmiah baik dilakukan
oleh pemerintah maupun oleh organisasi profesi seperti IBI. Bidan yang
bekerja di desa, puskesmas, puskesmas pembantu; dilihat dari tugasnya
berfungsi sebagai bidan komunitas. (Syahlan, 1996 : 13)
3. Bekerja di Komunitas
Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan di luar rumah sakit dan
merupakan bagian atau kelanjutan dari pelayanan kebidanan yang di
berikan rumah sakit. Misalnya : ibu yang melahirkan di rumah sakit dan
setelah 3 hari kembali ke rumah. Pelayanan di rumah
oleh bidan merupakan kegiatan kebidanan komunitas.
Pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas, kunjungan rumah dan
melayani kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga merupakan
kegiatan kebidanan komunitas.
Sebagai bidan yang bekerja di komunitas maka bidan harus memahami
perannya di komunitas, yaitu :
a. Sebagai Pendidik
Dalam hal ini bidan berperan sebagai pendidik di masyarakat. Sebagai
pendidik, bidan berupaya merubah perilaku komunitas di wilayah
kerjanya sesuai dengan kaidah kesehatan. Tindakan yang dapat
dilakukan oleh bidan di komunitas dalam berperan sebagai pendidik
masyarakat antara lain dengan memberikan penyuluhan di bidang
kesehatan khususnya kesehatan ibu, anak dan keluarga. Penyuluhan
tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti ceramah,
bimbingan, diskusi, demonstrasi dan sebagainya yang mana cara
tersebut merupakan penyuluhan secara langsung. Sedangkan
penyuluhan yang tidak langsung misalnya dengan poster, leaf let,
spanduk dan sebagainya.
b. Sebagai Pelaksana (Provider)
Sesuai dengan tugas pokok bidan adalah memberikan pelayanan
kebidanan kepada komunitas. Disini bidan bertindak sebagai
pelaksana pelayanan kebidanan. Sebagai pelaksana, bidan harus
menguasai pengetahuan dan teknologi kebidanan serta melakukan
kegiatan sebagai berikut :
1) Bimbingan terhadap kelompok remaja masa pra perkawinan.
14
2) Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, menyusui
dan masa interval dalam keluarga.
3) Pertolongan persalinan di rumah.
4) Tindakan pertolongan pertama pada kasus kebidanan dengan
resiko tinggi di keluarga.
5) Pengobatan keluarga sesuai kewenangan.
6) Pemeliharaan kesehatan kelompok wanita dengan gangguan
reproduksi.
7) Pemeliharaan kesehatan anak balita.
c. Sebagai Pengelola
Sesuai dengan kewenangannya bidan dapat melaksanakan kegiatan
praktek mandiri. Bidan dapat mengelola sendiri pelayanan yang
dilakukannya. Peran bidan di sini adalah sebagai pengelola kegiatan
kebidanan di unit puskesmas, polindes, posyandu dan praktek bidan.
Sebagai pengelola bidan memimpin dan mendayagunakan bidan lain
atau tenaga kesehatan yang pendidikannya lebih rendah.
Contoh : praktek mandiri/ BPS
d. Sebagai Peneliti
Bidan perlu mengkaji perkembangan kesehatan pasien yang
dilayaninya, perkembangan keluarga dan masyarakat. Secara
sederhana bidan dapat memberikan kesimpulan atau hipotersis dan
hasil analisanya. Sehingga bila peran ini dilakukan oleh bidan, maka
ia dapat mengetahui secara cepat tentang permasalahan komuniti yang
dilayaninya dan dapat pula dengan segera melaksanakan tindakan.
e. Sebagai Pemberdaya
Bidan perlu melibatkan individu, keluarga dan masyarakat dalam
memecahkan permasalahan yang terjadi.  Bidan perlu menggerakkan
individu, keluarga dan masyarakat untuk ikut berperan serta dalam
upaya pemeliharaan kesehatan diri sendiri, keluarga maupun
masyarakat.
f. Sebagai Pembela klien (advokat)
Peran bidan sebagai penasehat didefinisikan sebagai kegiatan
memberi informasi dan sokongan kepada seseorang sehingga mampu
membuat keputusan yang terbaik dan memungkinkan bagi dirinya.
15
g. Sebagai Kolaborator
Kolaborasi dengan disiplin ilmu lain baik lintas program maupun
sektoral.
h. Sebagai Perencana
Melakukan bentuk perencanaan pelayanan kebidanan individu dan
keluarga serta berpartisipasi dalam perencanaan program di
masyarakat luas untuk suatu kebutuhan tertentu yang ada kaitannya
dengan kesehatan. (Syafrudin dan Hamidah, 2009 : 8)
Dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat bidan sewaktu –
waktu bekerja dalam tim, misalnya kegiatan Puskesmas Keliling,
dimana salah satu anggotanya adalah bidan.
4. Jaringan Kerja
Beberapa jaringan kerja bidan di komunitas yaitu Puskesmas/ Puskesmas
Pembantu, Polindes, Posyandu, BPS,  Rumah pasien, Dasa Wisma, PKK.
(Syahlan, 1996 : 235)
Di puskesmas bidan sebagai anggota tim bidan diharapkan dapat
mengenali kegiatan yang akan dilakukan, mengenali dan menguasai fungsi
dan tugas masing – masing,    selalu berkomunikasi dengan pimpinan dan
anggota lainnya, memberi dan menerima saran serta turut bertanggung
jawab atas keseluruhan kegiatan tim dan hasilnya.
Di Polindes, Posyandu, BPS dan rumah pasien, bidan merupakan
pimpinan tim/ leader di mana bidan diharapkan mampu berperan sebagai
pengelola sekaligus pelaksana kegiatan kebidanan di komunitas
Dalam jaringan kerja bidan di komunitas diperlukan kerjasama lintas
program dan lintas sektor. Kerjasama lintas program merupakan bentuk
kerjasama yang dilaksanakan di dalam satu instansi terkait, misalnya :
imunisasi, pemberian tablet FE, Vitamin A, PMT dan sebagainya.
Sedangkan kerjasama lintas sektor merupakan kerjasama yang melibatkan
institusi/ departemen lain, misalnya : Bulan Imunisasi Anak Sekolah
(BIAS), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan sebagainya.

16
2.2 PROSES ASUHAN KEBIDANA KOMUNITAS
2.2.1 Definisi kebidanan komunitas
Proses kebidanan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang
bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam
rangka memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta
masyarakat melalui langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi keperawatan (Wahyudi, 2010)
Asuhan kebidanan komunitas dilakukan dengan pendekatan proses kebidanan.
Penerapan dari proses kebidanan bervariasi pada setiap situasi, tetapi prosesnya
memiliki kesamaan. Elemennya menggunakan metode pendekatan proses
kebidanan. Proses kebidanan adalah suatu kerangka operasional dalam pelaksanaan
asuhan kebidanan yang berupa rangkaian kegiatan secara sistematis sehingga
masyarakat mampu secara mandiri dalam menghadapi masalah kesehatannya.
Rencana dalam tindakan kebidanan ditulis dalam suatu bentuk yang bervariasi untuk
mempromasikan kebidanan.
2.2.2 Tujuan Dan fungsi proses kebdianan komunitas
Tahap implementasi yang dilakukan dengan adanya rencana tindakan yang
disusun dan ditujukan pada rencana strategi untuk membantu komunitas mencapai
tujuan yang diharapkan. Kemudian rencana dari tindakan yang spesifik dilaksanakan
untuk mengubah
atau mengatur ulang faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan komunitas.
Tujuan dari implementasi adalah membantu komunitas dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yang mencakup peningkalan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping. Perencanan tindakan keperawatan
akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika komunitas mempunyai keinginan untuk
berpartisipasi dalan implementasi tindakan keperawatan.

2.2.3 Langkah-langkah proses kebidanan komunitas


langkah-langkah dalam perencanaan yang perlu diperhatikan adalah sebagai
berikut:
1. Menentukan Prioritas
17
Melalui pengkajian, bidan akan mampu mengidentifkasi respons komunitas
yang aktual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. Dalam
menentukan perencanaan perlu disusun suatu sistem untuk imenentukan
diagnosis yang akan diarmbil indakan perlama kali. Dalam menentukan suatu
keputusanyang akan diambil untuk mengetahui tindakan yang akan kita
lakukan yang lebih akurat.
2. Menentukan Kriteria Hasil
Penentuan kriteria hasil harus ditujukan unluk komunitas. Kriteria hasil harus
menunjukkan tindakan apa yang akan dilakukan komunitas serta kapan dan
sejauh mana tindakan akan bisa dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang
spesifik serta pencapaian dalam penentuan hasil yang akan di dapat.
3. Menentukan Rencana Tindakan
Rencana tindakan adalah desain spesifik tentang komunitas dalam pencapaian
hasil yang akan didapatkan untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan
telah sesuai dengan keperawatan komunitas. Serta dengan adanya rencana
tindakan ini dapat membatasi beberapa faktor-foktor pendukung yang telah
mencapai suatu rencana aktivitas.
4. Dokumentasi
Rencana dalam tindakan kebidanan ditulis dalam suatu bentuk yang bervariasi
untuk mempromasikan kebidanan yang meliputi ibu hamil, keluarga, dan
komunitas. Perencanaan asuhan kebidanan pada klien ( komnunitas) dan
menyertakan tiga prinsip, yaitu : pemberdayaan (empowerment), negosiasi
(negotiatian), dan kerja sama lintas sektar (networking).

18
2.3 MATERI ASMA
2.3.1 Pengertian Asma
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas yang
mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila terangsang oleh
factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran udara terhambat
karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya proses radang
(Almazini, 2012).
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan,
penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa saja dan dapat
timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia
di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011).
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak
sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsivitas
saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak
napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan atau dini hari. Episodik
tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang luas, bervariasi dan
seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Boushey, 2005;
Bousquet, 2008).
Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya “terengah-engah” dan berarti
serangan nafas pendek (Price, 1995 cit Purnomo 2008). Nelson (1996) dalam
Purnomo (2008) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing
(mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodik
dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman, adanya
faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan
maupun dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada
pasien/keluarga, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan.
Batasan asma yang lengkap yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Asthma
(GINA) (2006) didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas
19
dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada
orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi berulang, sesak nafas, rasa dada
tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya
berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, yang
sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan,
inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai
rangsangan.
Asma adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh keadaan saluran nafas yang
sangat peka terhadap berbagai rangsangan, baik dari dalam maupun luar tubuh.
Akibat dari kepekaan yang berlebihan ini terjadilah penyempitan saluran nafas
secara menyeluruh (Abidin, 2002).
2.3.2 Klasifikasi Asma
1. Berdasarkan kegawatan asma, maka asma dapat dibagi menjadi
a. Asma bronkhiale
Asthma Bronkiale merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
respon yang berlebihan dari trakea dan bronkus terhadap bebagai macam
rangsangan, yang mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang tersebar
luas diseluruh paru dan derajatnya dapat berubah secara sepontan atau setelah
mendapat pengobatan.
b. Status asmatikus
Yakni suatu asma yang refraktor terhadap obat-obatan yang konvensional
(Smeltzer, 2001). status asmatikus merupakan keadaan emergensi dan tidak
langsung memberikan respon terhadap dosis umum bronkodilator (Depkes
RI, 2007).
Status Asmatikus yang dialami penderita asma dapat berupa pernapasan
wheezing, ronchi ketika bernapas (adanya suara bising ketika bernapas),
kemudian bisa berlanjut menjadi pernapasan labored (perpanjangan
ekshalasi), pembesaran vena leher, hipoksemia, respirasi alkalosis, respirasi
sianosis, dyspnea dan kemudian berakhir dengan tachypnea. Namun makin
besarnya obstruksi di bronkus maka suara wheezing dapat hilang dan
biasanya menjadi pertanda bahaya gagal pernapasan (Brunner & Suddarth,
2001).
c. Asthmatic Emergency
Yakni asma yang dapat menyebabkan kematian.
20
2. Klasifikasi asma yaitu (Hartantyo, 1997, cit Purnomo 2008)
a. Asma ekstrinsik
Asma ekstrinsik adalah bentuk asma paling umum yang disebabkan karena
reaksi alergi penderita terhadap allergen dan tidak membawa pengaruh apa-
apa terhadap orang yang sehat.

b. Asma intrinsic
Asma intrinsik adalah asma yang tidak responsif terhadap pemicu yang
berasal dari allergen. Asma ini disebabkan oleh stres, infeksi dan kodisi
lingkungan yang buruk seperti klembaban, suhu, polusi udara dan aktivitas
olahraga yang berlebihan.
3. Menurut Global Initiative for Asthma (GINA) (2006) penggolongan asma
berdasarkan beratnya penyakit dibagi 4 (empat) yaitu:
a. Asma Intermiten (asma jarang)
1) gejala kurang dari seminggu
2) serangan singkat
3) gejala pada malam hari < 2 kali dalam sebulan
4) FEV 1 atau PEV > 80%
5) PEF atau FEV 1 variabilitas 20% – 30%
b. Asma mild persistent (asma persisten ringan)
a. gejala lebih dari sekali seminggu
b. serangan mengganggu aktivitas dan tidur
c. gejala pada malam hari > 2 kali sebulan
d. FEV 1 atau PEV > 80%
e. PEF atau FEV 1 variabilitas < 20% – 30%
c. Asma moderate persistent (asma persisten sedang)
1) gejala setiap hari
2) serangan mengganggu aktivitas dan tidurgejala pada malam hari > 1
dalam seminggu
3) FEV 1 tau PEV 60% – 80%
4) PEF atau FEV 1 variabilitas > 30%
d. Asma severe persistent (asma persisten berat)
1) gejala setiap hari
2) serangan terus menerus
21
3) gejala pada malam hari setiap hari
4) terjadi pembatasan aktivitas fisik
5) FEV 1 atau PEF = 60%
6) PEF atau FEV variabilitas > 30%

4. Selain berdasarkan gejala klinis di atas, asma dapat diklasifikasikan berdasarkan


derajat serangan asma yaitu: (GINA, 2006)
a. Serangan asma ringan dengan aktivitas masih dapat berjalan, bicara satu
kalimat, bisa berbaring, tidak ada sianosis dan mengi kadang hanya pada
akhir ekspirasi,
b. Serangan asma sedang dengan pengurangan aktivitas, bicara memenggal
kalimat, lebih suka duduk, tidak ada sianosis, mengi nyaring sepanjang
ekspirasi dan kadang -kadang terdengar pada saat inspirasi,
c. Serangan asma berat dengan aktivitas hanya istirahat dengan posisi duduk
bertopang lengan, bicara kata demi kata, mulai ada sianosis dan mengi
sangat nyaring terdengar tanpa stetoskop,
d. Serangan asma dengan ancaman henti nafas, tampak kebingunan, sudah
tidak terdengar mengi dan timbul bradikardi.
Perlu dibedakan derajat klinis asma harian dan derajat serangan asma. Seorang
penderita asma persisten (asma berat) dapat mengalami serangan asma ringan.
Sedangkan asma ringan dapat mengalami serangan asma berat, bahkan serangan
asma berat yang mengancam terjadi henti nafas yang dapat menyebabkan
kematian
2.3.3 Etiologi Asma
Sampai saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum diketahui. Suatu hal yang yang
menonjol pada penderita Asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non imunologi.
1. Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma
adalah: (Smeltzer & Bare, 2002).
a. Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen
atau alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu
binatang.

22
b. Faktor intrinsic (non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen,
seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan
polutan lingkungan dapat mencetuskan serangan.
c. Asma gabungan : bentuk asma yang paling umum. Asma ini
mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik

2. Menurut The Lung Association of Canada, ada dua faktor yang menjadi
pencetus asma :
a. Pemicu Asma (Trigger)
Pemicu asma mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran
pernapasan (bronkokonstriksi). Pemicu tidak menyebabkan peradangan.
Trigger dianggap menyebabkan gangguan pernapasan akut, yang belum
berarti asma, tetapi bisa menjurus menjadi asma jenis intrinsik.
Gejala-gejala dan bronkokonstriksi yang diakibatkan oleh pemicu
cenderung timbul seketika, berlangsung dalam waktu pendek dan relatif
mudah diatasi dalam waktu singkat. Namun, saluran pernapasan akan
bereaksi lebih cepat terhadap pemicu, apabila sudah ada, atau sudah
terjadi peradangan. Umumnya pemicu yang mengakibatkan
bronkokonstriksi adalah perubahan cuaca, suhu udara, polusi udara,
asap rokok, infeksi saluran pernapasan, gangguan emosi, dan olahraga
yang berlebihan.
b. Penyebab Asma (Inducer)
Penyebab asma dapat menyebabkan peradangan (inflamasi) dan
sekaligus hiperresponsivitas (respon yang berlebihan) dari saluran
pernapasan. Inducer dianggap sebagai penyebab asma yang
sesungguhnya atau asma jenis ekstrinsik. Penyebab asma dapat
menimbulkan gejala-gejala yang umumnya berlangsung lebih lama
(kronis), dan lebih sulit diatasi. Umumnya penyebab asma adalah
alergen, yang tampil dalam bentuk ingestan (alergen yang masuk ke
tubuh melalui mulut), inhalan (alergen yang dihirup masuk tubuh
melalui hidung atau mulut), dan alergen yang didapat melalui kontak
dengan kulit ( VitaHealth, 2006).

23
3. Sedangkan Lewis et al. (2000) tidak membagi pencetus asma secara spesifik.
Menurut mereka, secara umum pemicu asma adalah:
a. Faktor predisposisi
1) Genetik
Faktor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita
dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga
menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar
dengan faktor pencetus. Selain itu hipersensitivitas saluran
pernapasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan seperti debu,
bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut yaitu makanan (seperti
buah-buahan dan anggur yang mengandung sodium
metabisulfide) dan obat-obatan (seperti aspirin, epinefrin, ACE-
inhibitor, kromolin).
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. Contoh :
perhiasan, logam dan jam tangan
Pada beberapa orang yang menderita asma respon terhadap Ig E
jelas merupakan alergen utama yang berasal dari debu, serbuk
tanaman atau bulu binatang. Alergen ini menstimulasi reseptor Ig E
pada sel mast sehingga pemaparan terhadap faktor pencetus alergen
ini dapat mengakibatkan degranulasi sel mast. Degranulasi sel mast
seperti histamin dan protease sehingga berakibat respon alergen
berupa asma.
2) Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Serangan
asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
beraktifitas. Asma dapat diinduksi oleh adanya kegiatan fisik atau
24
latihan yang disebut sebagai Exercise Induced Asthma (EIA) yang
biasanya terjadi beberapa saat setelah latihan.misalnya: jogging,
aerobik, berjalan cepat, ataupun naik tangga dan dikarakteristikkan
oleh adanya bronkospasme, nafas pendek, batuk dan wheezing.
Penderita asma seharusnya melakukan pemanasan selama 2-3 menit
sebelum latihan.
3) Infeksi bakteri pada saluran napas
Infeksi bakteri pada saluran napas kecuali sinusitis mengakibatkan
eksaserbasi pada asma. Infeksi ini menyebabkan perubahan
inflamasi pada sistem trakeo bronkial dan mengubah mekanisme
mukosilia. Oleh karena itu terjadi peningkatan hiperresponsif pada
sistem bronkial.
4) Stres
Stres / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Penderita diberikan motivasi untuk mengatasi masalah pribadinya,
karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
5) Gangguan pada sinus
Hampir 30% kasus asma disebabkan oleh gangguan pada sinus,
misalnya rhinitis alergik dan polip pada hidung. Kedua gangguan
ini menyebabkan inflamasi membran mukus.
6) Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan
faktor pemicu terjadinya serangan Asma. Kadangkadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.

2.3.4 Manifestasi Klinis


Gambaran klasik penderita asma berupa sesak nafas, batuk-batuk dan mengi
(whezzing) telah dikenal oleh umum dan tidak sulit untuk diketahui. Batuk-batuk
kronis dapat merupakan satu-satunya gejala asma dan demikian pula rasa sesak dan
berat didada.
Tetapi untuk melihat tanda dan gejala asma sendiri dapat digolongkan menjadi :
25
1. Asma tingkat I
Yaitu penderita asma yang secara klinis normal tanpa tanda dan gejala asma
atau keluhan khusus baik dalam pemeriksaan fisik maupun fungsi paru. Asma
akan muncul bila penderita terpapar faktor pencetus atau saat dilakukan tes
provokasi bronchial di laboratorium.

2. Asma tingkat II
Yaitu penderita asma yang secara klinis maupun pemeriksaan fisik tidak ada
kelainan, tetapi dengan tes fungsi paru nampak adanya obstruksi saluran
pernafasan. Biasanya terjadi setelah sembuh dari serangan asma.
3. Asma tingkat III
Yaitu penderita asma yang tidak memiliki keluhan tetapi pada pemeriksaan
fisik dan tes fungsi paru memiliki tanda-tanda obstruksi. Biasanya penderita
merasa tidak sakit tetapi bila pengobatan dihentikan asma akan kambuh.
4. Asma tingkat IV
Yaitu penderita asma yang sering kita jumpai di klinik atau rumah sakit yaitu
dengan keluhan sesak nafas, batuk atau nafas berbunyi.
Pada serangan asma ini dapat dilihat yang berat dengan gejala-gejala yang
makin banyak antara lain :
a. Kontraksi otot-otot bantu pernafasan, terutama sternokliedo
mastoideus
b. Sianosis
c. Silent Chest
d. Gangguan kesadaran
e. Tampak lelah
f. Hiperinflasi thoraks dan takhikardi
5. Asma tingkat V
Yaitu status asmatikus yang merupakan suatu keadaan darurat medis beberapa
serangan asma yang berat bersifat refrakter sementara terhadap pengobatan
yang lazim dipakai. Karena pada dasarnya asma bersifat reversible maka
dalam kondisi apapun diusahakan untuk mengembalikan nafas ke kondisi
normal
26
2.3.5 Patofisiologi Asma
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma
tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi
mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal
dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang
terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan
bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut
mmeningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan
menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin,
zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor
kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.
Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal
pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen
bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan
saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma , diameter bronkiolus lebih
berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan
dalam paru selama ekspirasi paksa 3 menekan bagian luar bronkiolus. Karena
bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari
tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada
penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi
sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu
fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma
akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan
barrel chest.

2.3.6 Komplikasi Asma


a. Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
b. Chronic persisten bronchitis
c. Bronchitis
d. Pneumonia
27
e. Emphysema
Meskipun serangan asma jarang ada yang fatal, kadang terjadireaksi kontinu yang
lebih berat, yang disebut “status asmatikus”, kondisi ini mengancam hidup
(Smeltzer & Bare, 2002).

2.3.7 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan sputum
Pada pemeriksaan sputum ditemukan :
1. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal
eosinofil.
2. Terdapatnya Spiral Curschman, yakni spiral yang merupakan silinder sel-
sel cabang-cabang bronkus
3. Terdapatnya Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus
4. Terdapatnya neutrofil eosinophil
b. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan eosinofil meninggi, sedangkan
leukosit dapat meninggi atau normal, walaupun terdapat komplikasi asma
1. Gas analisa darah
Terdapat hasil aliran darah yang variabel, akan tetapi bila terdapat
peninggian PaCO2 maupun penurunan pH menunjukkan prognosis yang
buruk
2. Kadang –kadang pada darah terdapat SGOT dan LDH yang meninggi
3. Hiponatremi 15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
4. Pada pemeriksaan faktor alergi terdapat IgE yang meninggi pada waktu
seranggan, dan menurun pada waktu penderita bebas dari serangan.
5. Pemeriksaan tes kulit untuk mencari faktor alergi dengan berbagai
alergennya dapat menimbulkan reaksi yang positif pada tipe asma atopik.
c. Foto rontgen
Pada umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma normal. Pada serangan
asma, gambaran ini menunjukkan hiperinflasi paru berupa rradiolusen yang
bertambah, dan pelebaran rongga interkostal serta diagfragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, kelainan yang terjadi adalah:
1. Bila disertai dengan bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah

28
2. Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan gambaran
yang bertambah.
3. Bila terdapat komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrat
pada paru.
d. Pemeriksaan faal paru
1. Bila FEV1 lebih kecil dari 40%, 2/3 penderita menujukkan penurunan
tekanan sistolenya dan bila lebih rendah dari 20%, seluruh pasien
menunjukkan penurunan tekanan sistolik.
2. Terjadi penambahan volume paru yang meliputi RV hampi terjadi pada
seluruh asma, FRC selalu menurun, sedangan penurunan TRC sering
terjadi pada asma yang berat.
e. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi selama terjadi serangan asma dapat dibagi atas
tiga bagian dan disesuaikan dengan gambaran emfisema paru, yakni :
1. Perubahan aksis jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke kanan
dan rotasi searah jarum jam
2. Terdapatnya tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat RBBB
3. Tanda-tanda hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES, dan VES
atau terjadinya relatif ST depresi.

2.3.8 Penatalaksanaan Medis


Pengobatan asthma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non farmakologik
dan pengobatan farmakologik.
a. Pengobatan non farmakologik
1. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang
penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor
pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim
kesehatan.
2. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada
pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi
faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.
3. Fisioterapi
29
Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini
dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
b. Pengobatan farmakologik
1. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak
antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat
ini adalah metaproterenol (Alupent, metrapel).
2. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini diberikan
bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada
orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali sehari.
3. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik, harus
diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol ( beclometason
dipropinate ) dengan disis 800 empat kali semprot tiap hari. Karena
pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping maka yang
mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
4. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak .
Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
5. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntunganya dapat diberikan secara oral.
6. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan bersifat
bronkodilator.
c. Pengobatan selama serangan status asthmatikus
1. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
2. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
3. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit
dilanjutka drip Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan dosis 20
mg/kg bb/24 jam.
4. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
5. Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
30
6. Antibiotik spektrum luas

2.4 MATERI KOLESTROL


2.4.1 Definisi Kolestrol
Kolesterol merupakan zat berlemak yang diproduksi oleh hati.  Kolesterol dapat
ditemukan diseluruh tubuh dan berperan penting  terhadap terhadap fungsi tubuh
sehari-hari (Simple Guide kolesterol,2007).
Selain itu, kolesterol merupakan bahan semacam lilin dan seperti lemak yang
sesungguhnya diperlukan untuk kesehatan kita. Kolesterol merupakan komponen
esensial dari setiap sel dan diperlukan oleh tubuh untuk melakukan banyak fungsi
dasar. Kolesterol membantu hati menghasilkan empedu, yang diperlukan untuk
mencerna lemak, dan merupakan bahan pembentuk yang darinya tubuh membuat
kalenjar adrenal dan hormon seks. Kolesterol juga membentuk jubah pelindung
disekitar dinding sel dan selubung mielin saraf, serta bekerja sebagai pelumas pada
dinding arteri, membantu kelancaran aliran darah.
Kolesterol dalam jumlah seimbang sangat penting bagi tubuh. Terlalu sedikit
kolesterol tidaklah sehat, sama dengan terlalu banyak. Kadar kolesterol di bawah 135
bisa merupakan tanda adanya stres kalenjer adrenal, kerusakan hati yang berat (akibat
bahan kimia, obat, atau hepatitis), serta gangguan autoimun atau “penyerangan diri
sendiri” seperti alergi, lupus, dan artritis rematoid. Kadar kolesterol yang menurun
juga telah dihubungkan dengan kanker dan gangguan fungsi kekebalan tubuh secara
umum yang tampak melalui kelelahan.
Jika jumlah lebih banyak dari yang bisa diproses dan digunakan oleh tubuh,
kolesterol bisa disimpan dalam dinding pembuluh darah, dimana kemudian menjadi

31
berbahaya bagi tubuh. Kenaikan kadar kolesterol, yaitu angkannya lebih dari 200,
merupakan faktor risiko tunggal yang paling penting pada penyakit jantung koroner.
Hubungan antara kadar kolesterol dan penyakit jantung sangat rumit, karena
kenyataannya bahwa tubuh menghasilkan dua bentuk utama dari kolesterol. Kolesterol
dibawa melalui aliran darah dalam dua komponen protein : lipoprotein berdensitas
rendah (Low Density Lipoprotein/HDL) dan lipoprotein berdensitas tinggi (High
Density Lipoprotein/HDL). LDL dianggap kolesterol yang “jahat”, atau merusak,
karena membawa kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh dan pembuluh darah dimana
kolesterol itu kemudian tinggal di dalam sel-sel yang melapisi dinding arteri.
Sedangkan HDL dianggap “baik”, atau melindungi, karena membaawa kolesterol dari
dinding arteri ke hati, di mana kolesterol dipecah untuk dibuang dari tubuh.

2.4.2 Sistem Pengangkutan Kolesterol


Kolesterol tidak dapat bergerak sendiri didalam tubuh karena tidak larut dalam
air. Oleh karena itu, kolesterol diangkut sebagai bagian dari struktur yang bernama
lipoprotein. Bayangkan lipoprotein seperti kereta yang mengangkut kolesterol ke
seluruh tubuh kita.
        Kolesterol itu sendiri tidak berubah. Pengangkutan kolesterol, yaitu ‘ kereta’
atau lipoprotein, yang menentukan apa yang terjadi dengan kolesterol yang bawanya.
Kolesterol LDL mengagkut kolesterol dari hati, tempatnya diproduksi ke jaringan
tubuh yang memerlukan. LDL merupakan transporter kolesterol terbanyak di dalam
darah. Sedangkan kolesterol HDL mengangkut kelebihan kolesterol dari jaringan dan
membawanya kembali ke hati untuk diproses kembali atau dibuang dari tubuh.
        Trigliserida termasuk ‘si jahat’ yang juga perlu diwaspadai. Seperti
kolesterol LDL, kadar trigliserida yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan
risiko penyakit jantung dan penyakit vaskuler lainnya. Orang dengan kadar trigliserida
tinggi (saat ini batasannya di atas 1,7 mmol/L), seringkali memiliki kadar kolesterol
tinggi, kolesterol LDL tinggi, dan kolesterol HDL rendah. Hal tersebut seperti tiga
serangkai walaupun kadar trigliserida yang tinggi membawa risiko sendiri, namun
risiko itu semakin bertambah bila disertai kadar kolesterol HDL rendah, keadaan yang
sering terjadi pada penyandang diabetes atu prediabetes. Penigkatan kadar trigliserida
juga membuat kolesterol LDL semakin merusak dan bersifat toksis pada dinding arteri
(semakin menjadi jahat) dan mengurangi efek menguntungkan kolesterol HDL yang
baik.
32
        Kadar trigliserida dalam darah seringkali dikelompokkan bersama kadar
kolesterol. Trigliserida merupakan lemak yang terdapat pada daging, produk susu, dan
minyak goreng, serta merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Trigliserida juga
ditemukan dalam simpanan lemak tubuh dan berasal dari pecahan lemak di hati.
Seperti kolesterol, trigliserida merupakan lemak yang bersirkulasi dalam darah.
Kolesterol LDL, HDL, dan trigliserida disebut ‘lipid darah.
2.4.3 Fatofisiologi
Riset selama dekade menjunjukkan bahwa kolesterol hanya bersembunyi dalam sel-sel
yang melapisi arteri, tidak selalu berubah menjadi plak yang menyumbat arteri. Kini
diduga proses oksidasi yang membuat komponen LDL dari kolesterol menjadi begitu
berbahaya. Oksidasi terjadi bila sistem antioksidan dalam  tubuh tidak dapat
menetralkan molekul-molekul tak stabil yang berubah secara negatif dan bernama
radikal bebas. Radikal bebas terjadi secara alamiah dalam tubuh atau bisa diawali oleh
paparan terhadap polutan lingkunganseperti asap rokok, bahan kimia, obat bebas dan
obat resep dokter, logam berat, dan stres.
Tanpa perlindungan antioksidan yang cukup, kolesterol HDL bergabung dengan
oksigen dan membentuk oksi-kolesterol. Substansi ini bekerja di dalam dinding arteri
radikal bebas yang sangat reaktif, di mana substansi ini mengiritasi dinding arteri,
yang memulai proses peradangan, dan akhirnya turut menyebabkan pembentukan plak.
Jika tidak diatasi, plak ini akhirnya akan sama sekali menutup arteri yang terkena atau
pecah dan hancur, menyebabkan angina, dan mungkin, serangan jantung stroke.
Karena kolesterol merupakan campuran antara kolesterolbaik (HDL) dan jahat (LDL),
pemeriksaan kadar kolesterol dikelompokkan menjadi kolesterol total (jumlah LDL
dan HDL yang beredar dalam darah), dan trigliserida. Semakin tinggi jumlah
kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida, semakin tinggi risiko penyakit
jantung. Sebaliknya, semakin tinggi kadar kolesterol HDL, semakin rendah risiko
masalah jantung.
2.4.4 Etiologi
Kadar kolesterol darah bisa dipengaruhi oleh apa yang kita makan. Jika
kolesterol yang ada lebih banyak dibanding mekanisme alami tubuh untuk
menghadapinya, kolesterol bisa menempel dinding dalam pembuluh darah,
membuatnya jadi lebih sempit. Karena digunakan oleh hati untuk menghasilkan
kolesterol, konsumsi lemak jenuh dalam jumlah berlebihan bisa meningkatkan kadar
kolesterol darah secara signifikan. Daging merah berlemak dan produk susu
33
merupakan sumber utama kolesterol dan lemak jenuh dari makanan. Selain itu, lemak
jenuh yang telah digunakan atau telah digoreng, diasap, diawetkan, atau disimpan, juga
tepung telur dan moldly cheese (sering ditemukan pada makanan siap saji),
mengandung jumlah oksi-kolesterol yang tinggi dan meningkatkan kadar kolesterol
darah.
Makanan dan keadaan berikut paling berperan dalam menyebabkan kadar kolesterol
yang tinggi :
a. Kekurangan asam amino akibat asupan protein berkualitas rendah
b. Kekurangan antioksidan ( vitamin C dan E, selenium, dan seng) akibat
rendahnya asupan buah dan sayuran
c. Kekurangan biotin dan karnitin (bahan yang berhubungan dengan vitamin  B)
akibat pengolahan serelia utuh
d. Kekurangan asam lemak esensial akibat asuhan lemak berkualitas rendah
e. Asupan alkohol yang berlebihan
f. Asupan lemak terhidrogenasi atau lemak olahan secara berlebihan (lemak babi,
lemak untuk kue kering atau shortening, minyak biji kipas, minyak kelapa
sawit, margarin, dan lain-lain) yang ditemukan pada banyak makanan olahan
g. Asupan zat tepung yang berlebihan (jagung, kentang putih, dan lain-lain)
h. Asupan gula secara berlebihan yan ditemukan pada banyak makanan olahan
i. Kekurangan serat akibat kurangnya asupan buah dan sayuran
j. Alergi makanan
k. Kekurangan hormon (testosteron, DHEA, estrogen, hormon pertumbuhan, dan
lain-lain)
l. Disfungsi hati
m. Meningkatkan kerusakan jaringan akibat infeksi, radiasi, kerusakan fungsi hati,
atau aktivitas oksidatif.

2.4.5 Faktor Resiko


Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa kadar kolesterol menjadi tinggi dan dapat
juga dikendalikan, namun ada juga yang tidak dapat dikendalikan. Dibawah ini
beberapa faktor yang menyebabkan kadar kolesterol dalam darah menjadi tinggi :
a. Usia Dan Jenis Kelamin
Peningkatan kadar kolesterol dalam batas tertentu merupakan hal alami yang
terjadi dalam proses penuaan. Dengan kata lain, semakin tua kita, semakin banyak

34
waktu yang kita miliki untuk merusak tubuh. Kadar kolesterol meningkat tinggi
seiring usia pada pria dan wanita. Pada pria kadar kolesterol tingggi terlihat pada
usia usia antara 45 sampai 54 tahun. Sedangkan pada wanita, kadar kolesterol
tertinggi pada usia antara 55 sampai 64 tahun. Kecenderungan ini menunjukkan
penyakit jantung yang berbeda antara pria dan wanita, dengan kejadianpenyakit
jantung koroner pada wanita biasanya lebih lambat 10 tahun dibandingkan pria.
b. Pola Makan
Orang yang paling berisiko memiliki kadar kolesterol tinggi adalah mereka yang
menerapkan pola makan yang mengandung kadar lemak jenuhyang tinggi.
Lemak  jenuh (ditemukan pada daging, mentega, keju, dan krim) meningkatkan
kadar kolesterol LDL dalam darah. Namun, pola  makan yang sehat dapat
menurunkan kadar kolesterol sekirat 5-10%, bahkan lebih. Mengurangi asupan
lemak jenuh (menggantinya dengan lemak tak jenuh tunggal dan lemak tak jenuh
ganda) dan makan lebih banyak buah, sayur, salad, sterol tumbuhan dan kedelai
juga dapat membantu. Cara memasak seperti memanggang yang lebih sehat
daripada menggoreng juga dapat dilakukan.
c. Berat Badan
Berat badan berlebih tidak hanya mengganggu penampilan tapi lebih banyak efek
buruk kesehatannya. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan trigliserida dan
menurunkan HDL (kolesterol baik).
d. Kurang Bergerak
Tubuh manusia didesain untuk selalu bergerak sehingga sangat dianjurkan untuk
banyak bergerak. Kurang bergerak dapat meningkatkan LDL (kolesterol jahat)
dan menurunkan HDL (kolesterol baik).
e. Penyakit Tertentu
Bisa saja kita sudah berusaha menjauhi makanan berlemak tetapi kolesterol masih
tinggi. Kemungkinan itu kita Memiliki penyakit tertentu seperti diabetes atau
hipotiroidisme sehingga dapat menyebabkan kolesterol kita menjadi tinggi.
f. Merokok
Merokok dapat menurunkan kolesterol baik, sehingga yang beredar di tubuh
hanya kolesterol jahat. Kolesterol jahat ini jika  tidak dikendalikan bisa berakibat
fatal.Itulah beberapa Penyebab Kolesterol Tinggi (detikhealth) yang bisa saja
terjadi pada setiap orang dan perlu diketahui pula dikatakan memiliki kadar

35
kolesterol normal jika ukurannya 160-200 mg sedangkan masuk kondisi
berbahaya jika sudah di atas 240 mg sehingga menyebabkan stroke.
g. Riwayat Penyakit Keluarga
Hiperkolesterolemia familial (HF) adalah istilah untuk sindrom kolesterol tinggi
yang bersifat diturunkan dari generasi ke generasi. Singkatnya, kadar kolesterol
yang tinggi tersebut ditentukan oleh gen yang cacat dan tidak ada yang dapat
dilakukan untuk menghindarinya. Penyandang HF memiliki kadar kolesterol yang
sangat tinggi (biasanya 8-12 mmol/L, seringkali lebih dan jarang sekali di bawah
nilai tersebut. Penyandang HF lebih berisiko terkena aterosklerosis dan penyakit
kardiovaskular. HF dimulai sejak lahir dan menetap seumur hidup.
2.4.6 Komplikasi
Jika kadar kolesterol di dalam darah melebihi dari nilai normal, maka risiko terjadinya
penyakit jantung koroner dan stroke akan lebih besar. Kelebihan kolesterol dapat
menyebabkan mengendapnya kolesterol pada dinding pembuluh darah yang
menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang dikenal sebagai
aterosklerosis (proses pembentukan plak pada pembuluh darah).
Jika penyempitan dan pengerasan ini cukup berat, sehingga menyebabkan suplai darah
ke otot jantung tidak memadai, maka timbul sakit atau nyeri dada yang disebut sebagai
angina. Dan bila berlanjut akan menyebabkan matinya jaringan otot jantung yang
disebut infark miokard. Jika infark miokard meluas, maka akan timbullah gagal
jantung.
Selain kolesterol LDL, faktor risiko lain yang memperbesar terjadinya penyakit
jantung adalah kebiasaan merokok, nilai HDL rendah (< 40 mg/dl), memiliki penyakit
tekanan darah tinggi atau hipertensi (140/90 atau sedang dalam pengobatan). Selain itu
penyakit jantung berisiko lebih tinggi pada usia  45 tahun (pria) dan  65 tahun
(wanita), dan yang diketahui memiliki riwayat keluarga  menderita penyakit jantung.
Adapun gejala penyakit jantung adalah :
a. Rasa tertekan (ditimpa beban, sakit, terjepit, diperas, terbakar ) di dada yang
dapat menjalar ke lengan kiri, leher, dan punggung
b. Tercekik atau sesak berlangsung lebih dari 20 menit.
c. Keringat dingin, lemah, berdebar dan bisa sampai pingsan
Gejala akan berkurang dengan istirahat dan bertambah berat dengan aktivitas. Jika
sumbatan ini menyerang pembuluh darah otak maka akan terjadi stroke. Gejala
serangan stroke tergantung dari derajat serangan, mulai dari yang ringan sampai berat.
36
a. Gejala stroke ringan : bicara tiba-tiba menjadi tidak tepat
b. Gejala stroke berat :
1. kelumpuhan anggota gerak tubuh
2. wajah menjadi tidak simetris
3. jika terjadi pendarahan otak dapat menyebabkan kematian gejala-gejala
stroke memerlukan tindakan yang cepat agar tidak jatuh pada derajat yang
lebih berat.
2.4.7 Penatalaksanaan Hiperkolesterol
Makanlah makanan tinggi serat, gunakan minyak MUFA (mono-unsaturated fatty
acid)dan PUFA (poly-unsaturated fatty acid), suplementasi minyak ikan, vitamin
antioksidan dan pertahankan berat badan ideal.
Apabila pengaturan gaya hidup tidak mampu menurunkan kadar kolesterol dalam
darah, maka kita harus mengkonsumsi obat. Obat yang dapat digunakan yaitu:

a. Golongan Fenofibrate dan Ciprofibrate.


Fibrate menurunkan produksi LDl dan meningkatkan kadar HDL. LDL
ditumpuk di arteri sehingga meningkatkan resiko penyakit jantung, sedangkan
HDL memproteksi arteri atas penumpukkan itu.
b. Golongan resin à Kolestirmin (Chlolestyramine)
Obat antihiperlidemik ini bekerja dengan cara mengikat asam empedu di usus
dan meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah.
c. Golongan Penghambat HMGCoa Simvastatin, Rosavastatin,    Fluvastatin,
Atorvastatin.
Menghambat pembentukan kolesterol dengan cara menghambat kerja enzim
yang ada di jaringan hati yang memproduksi mevalonate, suatu molekul kecil
yang digunakan untuk mensintesa kolesterol dan derivat mevalonate. Selain itu
meningkatkan pembuangan LDL dari aliran darah.
d. Golongan Asam nikotinat
Dengan dosis besar asam nikotinat diindikasikan untuk meningkatkan HDL atau
kolesterol baik dalam darah
e. Golongan Ezetimibe
Menurunkan total kolesterol dan LDL selain itu juga meningkatkan HDL
dengan cara  mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
37
2.4.8 Pencegahan
Kolesterol dikatakan sebagai pemicu berbagai gangguan kesehatan, seperti hipertensi,
gangguan jantung, hingga stroke. Sebenarnya kolesterol adalah unsur yang dibutuhkan
oleh tubuh, kadar yang berlebihan dalam tubuhlah yang menyebabkan berbagai
penyakit.Berikut langkah-langkah yang diketahui dapat mengendalikan kadar
kolesterol dalam darah :
a. Mengetahui kadar kolesterol
Periksakan kadar kolesterol Anda secara reguler. Umumnya dokter menyarankan
agar kadar kolesterol total seseorang berada di bawah 200 mg/dL, dengan kadar
LDL (kolesterol jahat) di bawah 130, dan HDL (kolesterol baik) berada di atas
40. Jika hasil tes Anda tidak konsisten berada dalam rentang angka tersebut,
dokter cenderung menyarankan untuk melakukan tes ulang, jika hasilnya tetap
maka Anda akan segera menjalani terapi pengendalian kolesterol.

b. Menjaga keseimbangan berat badan


Jika bobot tubuh Anda berlebih, menguranginya adalah salah satu cara untuk
mengendalikan kadar kolesterol darah. Penelitian telah menunjukkan bahwa
berat badan yang berlebih mengganggu proses metabolisme tubuh
menghancurkan lemak. Sehingga sekalipun Anda hanya mengonsumsi sedikit
lemak, tidak terlihat penurunan kadar kolesterol yang berarti. Mengurangi
2,5 - 4,5 kg dapat memperbaiki kadar kolesterol. Namun tak perlu melakukan
diet ketat. Upayakan saja penurunan berat sebanyak 0,3 - 0,5 kg dalam seminggu.
c. Aktvitas fisik rutin
Salah satu cara mengendalikan kadar kolesterol adalah berolahraga secara rutin.
Jalan kaki atau jenis olahraga ringan lain yang dilakukan secara rutin, akan
membantu meningkatkan kadar HDL. Pastikan saja bahwa Anda berolahraga 30
menit setiap hari, 5 hari dalam seminggu.
d. Berkenalan dengan lemak baik
Jika telah terdiagnosa bahwa kadar kolesterol Anda tergolong tinggi, dokter
biasanya memberi saran agar Anda menurunkan konsumsi lemak. Hati-hati,
jangan menghentikan konsumsi lemak, melainkan menguranginya. Sebaiknya
Anda mengonsumsi jenis makanan yang mengandung lemak tak jenuh tunggal,
seperti selai kacang, avokad, minyak Zaitundan kanola, serta kacang-kacangan.

38
Penelitian telah membuktikan bahwa jenis lemak ini membantu menurunkan
kadar LDL dan trigliserida dalam darah, dan meningkatkan HDL.
e. Mengonsumsi multivitamin
Sekalipun telah mengonsumsi makanan sehat, tetap ada kemungkinan tubuh kita
kekurangan unsur nutrisi tertentu. Untuk mengatasi kondisi ini, para ahli
kesehatan menyarankan untuk mengonsumsi multivitamin/makanan suplemen
untuk mencukupi kebutuhan dasar nutrisi dan menurunkan risiko penyakit
jantung.

2.5 MATERI GASTRITIS


2.5.1 Pengertian
Suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus atau lokal
dengan karakteristik anoreksia, rasa penuh, tidak enak pada epigastrium, mual dan
muntah. (Suratun SKM, 2018)
Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung, sering akibat diet yang
sembarangan. Biasanya individu ini makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau
makan-makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab
penyakit. ( Smelzer 2019)
Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronik,
difus atau lokal (Soepaman, 2018). Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung
(Arif Mansjoer, 2019).Gastritis adalah radang mukosa lambung (Sjamsuhidajat, R,
2018).Gastritis merupakn peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronis,
difusi atau local. (patofisologi : 378 )
Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung, seiring terjadi akibat diid sembrono,
makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu berbumbu
atau yang mengandung mikroorgnisme penyebab penyakit, disamping itu penyebab
lain meliputi alcohol, aspirasi, refluks empedu, terapi radiasi ( KMB & vol 2 :2018 )

39
2.5.2 Etiologi
Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai
berikut :
a. Gastritis Akut
Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang
dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung). Bahan kimia
misal : lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis.
b. Gastritis Kronik
Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui. Gastritis ini
merupakan kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol,
dan merokok.

2.5.3 Patofisiologi
a. Gastritis Akut
Gastritis akut dapat disebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan
dan alkohol, makanan yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang
mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (Nervus vagus)
yang akan meningkatkan produksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya
HCl yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan
anoreksia.
Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel
kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak
ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus
bervariasi diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster
terdapat sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus) dan pembuluh
darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat.
Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh
karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat
40
penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel
mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel mukosa
akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat
mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses
regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah perdarahan
b. Gastritis Kronis
Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang
sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah
respon radang kronis pada gaster yaitu: destruksi kelenjar dan metaplasia.
Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu
dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih
kuat. Karena sel desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada
saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel
penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya
menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa
pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah
lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan
(Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine, 2019: 162).

2.5.4 Klasifikasi
Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Gastritis akut
Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritis
akut erosif. Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang
akut dengan kerusakan-kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang
terjadi tidak lebih dalam daripada mukosa muskularis.
b. Gastritis kronis
Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung
yang menahun (Soeparman, 2019, hal: 101). Gastritis kronis adalah suatu
peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang berkepanjangan yang
disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri
helicobacter pylori (Brunner dan Suddart, 2020, hal: 188).
2.5.5 Manifestasi Klinis
a. Gastritis akut
41
Rasa nyeri pada epigastrium yang mungkin ditambah mual. Nyeri dapat timbul
kembali bila perut kosong. Saat nyeri penderita berkeringat, gelisah, sakit perut
dan mungkin disertai peningkatan suhu tubuh, tachicardi, sianosis, persaan
seperti terbakar pada epigastrium, kejng-kejng dan lemah.
b. Gastritis kronis
Tanda dan gejala hanpir sam dengan gastrritis akut, hanya disertai dengan
penurunan berat badan, nyeri dada, enemia nyeri, seperti ulkus peptikum dan
dapat terjdi aklohidrasi, kadar gastrium serum tinggi.
2.5.6 Pemeriksaan Diagnostik
a. Endoskopi : akan tampak erosi multi yang sebagian biasanya berdarah dan
letaknyatersebar.
b. Pemeriksaan Hispatologi : akan tampak kerusakan mukosa karena erosi tidak
pernahmelewati mukosa muskularis.
c. Biopsi mukosa lambung
d. Analisa cairan lambung : untuk mengetahui tingkat sekresi HCL, sekresi HCL
menurun pada kliendengan gastritis kronik.
e. Pemeriksaan barium
f. Radiologi abdomen
g. Kadar Hb, Ht, Pepsinogen darah
h. Feces bila melena
i. EGD (Esofagogastriduodenoskopi) = tes diagnostik kunci untukperdarahan GI
atas, dilakukan untuk melihat sisi perdarahan / derajat ulkus jaringan / cedera.
j. Minum barium dengan foto rontgen = dilakukan untuk membedakan diganosa
penyebab / sisi lesi..
k. Angiografi = vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat
disimpulkan atau tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan
kemungkinan isi perdarahan.
l. Amilase serum = meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga
gastritis (Doengoes, 2019, hal: 456)
2.5.7 Tindakan Penanganan
a. Gastritis Akut
Pemberian obat-obatan H2 blocking (Antagonis reseptor H2). Inhibitor pompa
proton, ankikolinergik dan antasid (Obat-obatan alkus lambung yang lain).
Fungsi obat tersebut untuk mengatur sekresi asam lambung.
42
b. Gastritis Kronik
Pemberian obat-obatan atau pengobatan empiris berupa antasid, antagonis H2
atau inhibitor pompa proton.

2.5.8 Komplikasi
a. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna
bagian atas (SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock
hemoragik, terjadi ulkus, kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.
b. Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin
B 12, akibat kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa,
penyerapan besi terganggu dan penyempitan daerah antrum pylorus.

2.6 KONSEP DASAR PERILKAU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


2.6.1 Pengertian PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup
keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan yang senantiasa
memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.(Anik, M. 2013)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua prilaku kesehatan yang
dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong
dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di
masyarakat.
PHBS itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang gizi: makan
beraneka ragam makanan, minum tablet tambah darah, mengkonsumsi garam
beryodium, memberi bayi dan balita kapsul vitamin A. Tentang kesehatan
lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan.
Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua prilaku kesehatan.
(Arikunto, S. 2010)

43
2.6.2 Tujuan PHBS
Tujuan perilaku hidup bersih dan sehat itu adalah untuk meningkatkan pengetahuan,
kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga agar berdaya dalam berprilaku hidup
bersih dan sehat. (Dewi, 2007).

2.6.3 10 Indikator PHBS


a. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan.
Persalinan yang mendapat pertolongan dari pihak tenaga kesehatan baik itu
dokter, bidan ataupun paramedis memiliki standar dalam penggunaan peralatan
yang bersih, steril dan juga aman. Langkah tersebut dapat mencegah infeksi dan
bahaya lain yang beresiko bagi keselamatan ibu dan bayi yang dilahirkan.
b. Pemberian ASI eksklusif
Kesadaran mengenai pentingnya ASI bagi anak di usia 0 hingga 6 bulan
menjadi bagian penting dari indikator keberhasilan praktek perilaku hidup
bersih dan sehat pada tingkat rumah tangga.
c. Menimbang bayi dan balita secara berkala
Praktek tersebut dapat memudahkan pemantauan pertumbuhan bayi.
Penimbangan dapat dilakukan di Posyandu sejak bayi berusia 1 bulan hingga 5
tahun. Posyandu dapat menjadi tempat memantau pertumbuhan anak dan
menyediakan kelengkapan imunisasi. Penimbangan secara teratur juga dapat
memudahkan deteksi dini kasus gizi buruk.
d. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
Praktek ini merupakan langkah yang berkaitan dengan kebersihan diri sekaligus
langkah pencegahan penularan berbagai jenis penyakit berkat tangan yang
bersih dan bebas dari kuman.
e. Menggunakan air bersih
f. Air bersih merupakan kebutuhan dasar untuk menjalani hidup sehat.
1) Menggunakan jamban sehat
2) Jamban merupakan infrastruktur sanitasi penting yang berkaitan dengan
unit pembuangan kotoran dan air untuk keperluan pembersihan.
g. Memberantas jentik nyamuk
1) Nyamuk merupakan vektor berbagai jenis penyakit dan memutus siklus
hidup makhluk tersebut menjadi bagian penting dalam pencegahan
berbagai penyakit.
44
h. Konsumsi buah dan sayur
1) Buah dan sayur dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral serta
serat yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh optimal dan sehat.
i. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
1) Aktivitas fisik dapat berupa kegiatan olahraga ataupun aktivitas bekerja
yang melibatkan gerakan dan keluarnya tenaga.
j. Tidak merokok di dalam rumah
1) Perokok aktif dapat menjadi sumber berbagai penyakit dan masalah
kesehatan bagi perokok pasif. Berhenti merokok atau setidaknya tidak
merokok di dalam rumah dapat menghindarkan keluarga dari berbagai
masalah kesehatan. (Diva, F, 2013).

2.6.4 Manfaat Rumah Tangga Ber-PHBS


a. Bagi Rumah Tangga
1) Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.
2) Rumah tangga yang sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja anggota
keluarga.
3) Anak tumbuh sehat dan cerdas.
4) Anggota keluarga giat bekerja.
5) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi
keluarga, pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarg.
b. Bagi masyarakat
1) Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.
2) Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan.
3) Masyarakat memamfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
4) Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti Posyandu, tabungan ibu bersalin, arisan jamban,
ambulans desa dan lain-lain.(Lina, H,P. 2016)

45
2.7 KONSEP DASAR ASAM URAT
2.7.1 Pengertian Asam Urat
Asam urat adalah produk akhir dari metabolisme purin. Asam urat sebenarnya
berperan sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah. Namun
bila kadarnya berlebih, asam urat akan berperan sebagai prooksidan yang akan
mengakibatkan terjadinya pengkristalan dan dapat menimbulkan gout (McCrudden
Franci H. 2010). Sekitar 60 % radikal bebas di dalam serum dibersihkan oleh asam
urat
Kadar darah asam urat normal pada laki - laki yaitu 3.2 - 7 mg/dl sedangkan pada
perempuan yaitu 2 - 6 mg/dl (E. Spicher, Jack Smith W. 2010). Penyakit asam urat
(Gout atau Hiperurisemia) adalah suatu penyakit akibat penimbunan kristal
monosodium urat di dalam tubuh sehingga menyebabkan nyeri sendi (Gout
Arthritis), benjolan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh dan batu pada saluran
kemih.

46
2.7.2 Etiologi Asam Urat
Penyakit asam urat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Penyakit hiperurisemia primer.
Penyebabnya diduga berkaitan dengan faktor genetik, enzim maupun
hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat
mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau berkurangnya
pengeluaran asam urat dari tubuh.

b. Penyebab penyakit hiperurisemia sekunder :


Beberapa hal yang dapat meningkatkan produksi asam urat:
1) Konsumsi makanan yang berkadar purin tinggi. Purin adalah salah satu
senyawa basa organic yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel)
dan termasuk dalam kelompok asam amino, yang merupakan unsur
pembentuk protein. Misalnya: daging, jeroan, kepiting, kerang, kacang
tanah, bayam, buncis, kembang kol.
2) Minuman dengan tinggi fruktosa.
3) Penyakit pada darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia, anemia
hemolitik).
4) Mengkonsumsi alkohol, obat-obat kanker, vitamin B12, dan obat obatan
lain seperti diuretika, dosis rendah asam salisilat, asetosal dosis rendah,
fenilbutazon dan pirazinamid dapat meningkatkan ekskresi cairan tubuh,
namun menurunkan eksresi asam urat pada tubulus ginjal sehingga
terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah (Lieberman Michael,
2009).
5) Obesitas (kegemukan).
6) Intoksikasi (keracunan timbal).
7) Kadar keton (hasil buangan lemak) yang meninggi yang ditemukan pada
penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik.
8) Pada pemakaian hormonal untuk terapi seperti hormon adrenok
ortikotropik dan kortikosteroid (Ronco Claudio, Franscesco Rodeghiero,
2010).

2.7.3 Jenis Hiperurisemia


Menurut Lanny tahun 2012, hiperurisemia terdiri dari:

47
a. Hiperurisemia Asimtomatik
Hiperurisemia ini terjadi tanpa gejala klinis gout meskipun kadar asam urat
tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan hiperurisemia tahap awal. Sekitar 20 –
40 % penderita mengalami sekali atau beberapa kali serangan kolik renal
sebelum mengalami serangan artritis. Serangan akut gout dan batu ginjal
muncul setelah 20 tahun seseorang mengalami hiperurisemia asimtomatis.

b. Hiperurisemia Simtomatis
Hiperurisemia ini ditandai dengan adanya gout pada jaringan sendi, ginjal,
jantung, mata hingga organ lain.

2.7.4 Patofisiologi Hiperurisemia


Peningkatan kadar asam urat yang melebihi batas normal (pria < 7 mg dan wanita <
6 mg) dalam serum menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat sehingga
kristal asam urat mengendap dalam sendi, akhirnya terjadi respons inflamasi dan
diteruskan dengan terjadinya serangan gout. Serangan yang berulang-ulang,
penumpukan kristal monosodium urat (thopi) akan mengendap dibagian sendi sendi
yang dingin seperti ibu jari kaki, pangkat jari kaki, pergelangan kakai, lutut, tangan,
siku, bahu telinga dan lain – lain (Nyoman, K. 2009. ). Akibat penumpukan asam
urat yang terjadi secara sekunder dapat menimbulkan nefrolitiasis urat (batu ginjal)
dengan disertai penyakit ginjal kronis.

2.7.5 Manifestasi Klinis


a. Nyeri hebat pada malam hari (Wijaya Kusuma, 2010).
b. Sendi yang tererang tampak bengkak, merah, mengkilat dan teraba panas, dan
sulit digerakkan (Wijaya Kusuma, 2010)
c. Disertai pembentukan kristal natrium urat yang dinamakan thopi.
d. Terjadi deformitas (kerusakan) sendi secara kronis.
e. Berdasarkan diagnosis dari American Rheumatism Association (ARA),
seseorang dikatakan menderita asam urat jika memenuhi beberapa kriteria
berikut :
1) Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam cairan sendi.
2) Terdapat kristal MSO (monosodium urat) di dalam thopi, ditentukan
berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar

48
terpolarisasi.
3) Didapatkan 6 dari 12 kriteria di bawah ini :
 Terjadi serangan arthritis akut lebih dari satu kali.
 Terjadi peradangan secara maksimal pada hari pertama gejala atau
serangan datang.
 Merupakan arthritis monoartikuler (hanya terjadi di satu sisi persendian).
 Sendi yang terserang berwarna kemerahan.
 Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit /
membengkak.
 Serangan nyeri unilateral (di salah satu sisi) pada sendi
metatarsophalangeal.
 Serangan nyeri unilateral pada sendi tarsal (jari kaki).
 Terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah (lebih dari 7,5 mg/dL).
 Pada gambaran radiologis tampak pembengkakan sendi secara asimetris
(satu sisi tubuh saja).
 Pada gambaran radiologis tampak kista subkortikal tanpa erosi.
 Hasil kultur cairan sendi menunjukkan nilai negative.
2.7.6 Komplikasi Hiperurisemia
Menurut Vitahealth tahun 2011 dalam Kertia tahun 2009, komplikasi yang dapat
terjadi akibat peningkatan asam urat dalam darah adalah:

a. Kencing batu
Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah akan mengendap di ginjal dan
saluran perkencingan, berupa kristal dan batu.
b. Merusak ginjal
Kadar asam urat yang tinggi akan mengendap di ginjal sehingga merusak
ginjal.
c. Penyakit jantung
Asam urat menyerang endotel lapisan bagian paling dalam pembuluh darah
besar. Jika endotel mengalami disfungsi atau rusak, akan menyebabkan
penyakit jantung koroner.
d. Stroke
Aliran darah tidak lancar akibat penumpukan asam urat di pembuluh darah
49
yang meningkatkan resiko penyakit stroke.
e. Merusak saraf
Jika penumpukan asam urat terjadi didekat saraf maka bisa mengganggu
fungsi saraf.
f. Peradangan tulang
Jika asam urat menumpuk di persendian, lama-lama akan membentuk tofus
yang menyebabkan artrhitis gout akut, sakit rematik atau peradangan sendi
bahkan bisa sampai terjadi kepincangan.
2.7.7 Pengobatan Penyakit Asam Urat
Menurut Herliana tahun 2013, beberapa pengobatan penderita hiperurisemia adalah:
a. Terapi Medis
1) Obat anti inflamasi nonsteroid, Obat Anti Inflamasi Non-Steroid
(OAINS), yang berfungsi untuk mengatasi nyeri sendi akibat proses
peradangan.
2) Obat kortikosteroid, yang berfungsi sebagai obat anti radang dan menekan
reaksi imun. Biasanya obat diberikan dalam bentuk tablet atau suntikan
dibagian sendi yang sakit.
3) Obat imunosupresif berfungsi untuk menekan reaksi imun. Obat ini jarang
digunakan karena efek sampingnya cukup berat yaitu dapat menimbulkan
penyakit kanker dan bersifat racun bagi ginjal dan hati.
4) Suplemen antioksidan yang diperoleh dari asupan vitamin dan mineral
yang berkhasiat untuk mengobati asam urat. Asupan vitamin dan mineral
dapat diperoleh dengan mengkonsumsi buah atau sayaran segar yang
berwarna hijau atau orange, seperti wortel.
5) Obat pengubah perjalanan penyakit artritis reumatoid. Obat ini harus
diberikan setelah seseorang didiagnosa terkena penyakit asam urat.
b. Menjaga Konsumsi makanan
Mengurangi makanan tinggi purin perlu karena purin merupakan senyawa yang
akan dirombak menjadi asam urat dalam tubuh
c. Pengobatan Tradisional
Pengobatan tradisional untuk asam urat dapat berupa akar-akaran ataupun
tanaman. Adapun tanaman obat tradisional yang dapat digunakan dalam
pengobatan asam urat antara lain (Wijayakusuma, 2011)
1) Sidaguri (Sida rhombifolia L)
50
Bagian yang digunakan adalah seluruh bagian tumbuhan dengan kondisi
segar atau dikeringkan. Selain untuk mengobati asam urat dan rematik,
sidaguri juga bermanfaat untuk mengobati flu, demam, malaria, radang
amandel, radang usus, disentri, sakit perut, sakit kuning, kencing batu,
bisul, radang kulit bernanah, dan eksim.
Kandungan Kimiawi Sidaguri:
Alkaloid, kalsium oksalat, tanin, saponin, fenol, asam amino, minyak
terbang, dan zat philegmatic. Kandungan tiap bagian tumbuhannya:
 Pada batangnya mengandung tanin dan kalsium oksalat.
 Pada akarnya pun terdapat kaloid, steroid dan efedrine.
Alternatif Pemakaian Sidaguri:
 Pemakaian luar, tumbuhan Sidaguri digunakan segar dan dihaluskan
untuk selanjutnya diborehkan pada sendi yang sakit.
 Pemakaian dalam, tumbuhan Sidaguri direbus baik dalam keadaan
segar atau kering dan dicampur dengan bahan lainnya. Gunakan 60
gram tumbuhan Sidaguri direbus dengan 600 cc air hingga tersisa
300 cc, kemudian disaring lalu airnya diminum.
2) Daun Salam (Syzygium plyanthum)
Daun salam dapat digunakan untuk pengobatan kolesterol tinggi, kencing
manis, tekanan darah tinggi, sakit maag, asam urat, rematik, dan diare.
Kandungan Kimia Daun Salam:
Minyak asiri (sitral, eugenol), tanin dan flavonoid.
Peranan Daun Salam
Daun salam berkhasiat sebagai peluru kencing (diuretik) dan penghilang
rasa nyeri (analgetik).
 Sebagai diuretic, salam mampu memperbanyak produksi urine
sehingga dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah.
 Sebagai analgetik, salam mampu menghilangkan rasa sakit ketika
berjalan.
Cara Pemakaian Daun Salam
Cuci 7 lembar daun salam segar sampai bersih. Tambahkan 2 gelas air
putih, lalu rebus sampai mendidih hingga tersisa 1 gelas. Diminum pada
pagi dan sore.

51
3) Sambiloto (Andrographis peniculata)
Sambiloto memiliki rasa pahit. Seluruh bagian tanaman yang telah kering
dapat dimanfaatkan sebagai bahan ramuan obat. Tanaman ini berkhasiat
sebagai antiradang, penghilang nyeri atau analgetik dan penawar racun.
Kandungan Kimian Tanaman sambiloto:
Deoksiandrografolid, andrografolid yang merupakan zat pahit, 14 -
deoksi-11, 12 - didehidroandrografolid, neoandrografolid dan
homoandrografolid, flavonoid, alkane, keton, aldehid dan beberapa
mineral seperti kalium, natrium dan kalsium, asam kersik dan damar.
4) Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb)
Umbi temulawak berupa rimpang. Rimpang inilah yang dapat
dimanfaatkan sebagai obat, baik rimpang segar maupun kering. Tanaman
ini memiliki rasa sedikit pahit. Tanaman ini berkhasiat sebagai antiradang,
antisembelit, tonikum dan diuretic. Rimpang tamanan ini mengandung
pati, kurkuminoid dan minyak asiri seperti felandren dan turmerol.
Menurut Junaidi tahun 2011 hal - hal yang perlu diperhatikan pada
penderita hiperurisemia adalah:
 Istirahat. Jika terjadi serangan akut, maka sendi harus diistirahatkan.
 Olah raga teratur (senam). Olahraga yang tepat (peregangan dan
penguatan) akan membantu mempertahankan kesehatan tulang rawan
meningkatkan daya gerak sendi dan kekuatan otot disekitarnya
sehingga otot menyerap bantuan dengan lebih banyak.
 Obat anti inflamasi. Obat anti inflamasi / peradangan dan obat yang
digunakan untuk menurunkan kadar asam urat didalam darah
misalnya allopurinol, bekerja menghambat pembentukan asam urat di
dalam tubuh.
 Berat badan ideal. Bagi mereka yang kegemukan, dianjurkan untuk
menurunkan berat badannya kenormal atau bahkan 10-15% dibawah
normal.
 Diet rendah purin. Diet rendah purin bertujuan agar seseorang tidak
terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi mengandung
purin.
 Hindari alcohol. Seseorang yang menderita hiperurisemia, harus

52
menghindari alkohol. Karena alkohol dapat meningkatkan asam laktat
plasma, asam laktat plasma yang dihasilkan ini akan menghambat
pengeluaran asam urat.

2.8 MATERI HIPERTENSI


2.8.1 Pengertian
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang melebihi dari
batas normal. Batas normal tekanan darah yaitu : batas atas  140 mmHg dan batas
bawah  90 mmHg.
2.8.2 Penyebab
a. Faktor Keturunan.
b. Faktor Usia.
c. Faktor Makanan.
d. Faktor Emosi atau Ketegangan.
2.8.3 Tanda dan Gejala
53
a. Sakit kepala / pusing.
b. Susah tidur.
c. Rasa berat pada tengkuk.
d. Cepat marah.
e. Jantung berdebar-debar.
f. Mata berkunang-kunang.
g. Sesak nafas saat beraktivitas.
h. Telinga berdengung.
i. Cepat merasa lelah.
2.8.4 Komplikasi
a. Gagal Jantung.
b. Stroke.
c. Gagal Ginjal.
d. Gangguan penglihatan.
e. Gangguan gerak dan keseimbangan.
2.8.5 Perawatan dan Cara Mengatasi Hipertensi
a. Menurunkan berat badan bagi yang gemuk.
b. Diet rendah garam dan lemak.
c. Merubah gaya hidup yang tidak sehat.
d. Kontrol tekanan darah yang teratur.
e. Kurangi stress dan emosional.
f. Pemberian obat-obatan anti hipertensi.

2.8.6 Modifikasi Lingkungan


a. Pada saat makan tidak menempatkan garam di atas meja makan.
b. Tidak mengkonsumsi makanan yang asin.
c. Jenis makanan yang harus dihindari seperti : kecap asin, ikan asin, telur asin,
sardines, biskuit, coklat, daging sapi, daging kambing, kacang tanah, dan
mentega.
d. Jenis makanan yang diperbolehkan seperti : beras, kentang, tempe, tahu,
wortel, apel, semangka, pisang, pepaya, tomat.
e. Membuat obat tradisional dari buah Mentimun dan daun sop.
Buah Mentimun :

54
Caranya : Ambil satu atau dua buah mentimun yang sudah dibersihkan
kemudian diparut, setelah itu saring dan ambil airnya, lalu siap untuk diminum.
2.8.7 Menggunakan Fasilitas Kesehatan
a. Tempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan : Puskesmas, Rumah Sakit,
Puskesmas Pembantu, dan Dokter Praktek.
b. Manfaat fasilitas kesehatan : memeriksakan kesehatan seperti tekanan darah
secara teratur, mendapatkan perawatan dan pengobatan tentang hipertensi.

2.9 MATERI IMUNISASI


2.9.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan
(Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42 Tahun 2019).
Imun adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan
pencegahan penyakit dalam rangka serangan kuman tertentu. Jadi imunisasi adalah
suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin
kedalam tubuh. (Depkes RI, 2018).
55
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan
(imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit. (Yupi S, 2020).
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa, tidak
terjadi penyakit. (Ranuh dkk, 2018).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan
pada bayi dan anak dengan memasukkan antigen yang berupa virus atau bakteri ke
dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit
tertentu. Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang di pakai untuk
merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin Polio.
Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan agar tubuh kebal terhadap
penyakit tertentu, kekebalan tubuh juga dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi, potensi
antigen yang disuntikan, waktu antara pemberian imunisasi, mengingat efektif dan
tidaknya imunisasi tersebut akan tergantung dari faktor yang mempengaruhinya
sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri anak.
2.9.2 Jenis-Jenis Imunisasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42 Tahun 2013, berdasarkan sifat
penyelenggaraannya, imunisasi dikelompokkan menjadi imunisasi wajib dan
imunisasi pilihan.
a. Imunisasi wajib
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk
seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang
bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit menular tertentu. Imunisasi
wajib diberikan sesuai jadwal sebagaimana ditetapkan dalam pedoman
penyelenggaraan imunisasi. Imunisasi wajib terdiri atas:
1) Imunisasi rutin
Imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara terus
menerus sesuai jadwal. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan imunisasi
lanjutan. Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia 1 (satu) tahun.
Jenis imunisasi dasar yaitu:
a) Bacillus Calmette Guerin (BCG)

56
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau
yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG,
pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada
selaput otak, TBC milier (pada seluruh lapangan paru), atau TBC tulang.
Imunisasi BCG berfungsi untuk mencegah penularan Tuberkulosis (TBC)
tuberkulosis disebabkan oleh sekelompok bakteria bernama Mycobacterium
tuberculosis complex. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang
mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Menurut Nufareni
(2003), Imunisasi BCG tidak mencegah infeksi TB tetapi mengurangi risiko
TB berat seperti meningitis TB atau TB miliar. Frekuensi pemberian
imunisasi BCG adalah 1 kali dan waktu pemberian imunisasi BCG pada
umur 0 – 11 bulan, akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2
– 3 bulan, kemudian cara pemberian imunisasi BCG melalui intradermal.
Efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat
terjadi limfadenitis regional dan reaksi panas. Untuk pemberian kekebalan
aktif terhadap tuberculosis.Cara pemberian dan dosis imunisasi BCG :
a) Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu.
Melarutkan dengan menggunakan alat-alat suntik steril dan
menggunakan cairan pelarut (NacL 0,9 %) sebanyak 4 cc
b) Dosis pemberian 0,05 ml sebanyak 1 kali
c) Disuntikkan secara intracutan di daerah lengan kanan atas pada insersio
musculus deltoideus
d) Vaksin harus digunakan sebelum lewat 3 jam dan Vaksin akan rusak bila
terkena sinar matahari langsung. Botol kemasan, biasanya terbuat dari
bahan yang berwarna gelap untuk menghindari cahaya karena cahaya
atau panas dapat merusak vaksin BCG sedangkan  pembekuan tidak
merusak vaksin BCG. Vaksin BCG di buat dalam vial, di mana
kemasannya ada 1 cc dan 2 cc.
e) Kontra indikasi : Uji Tuberculin > 5 mm, Sedang menderita HIV, Gizi
buruk, Demam tinggi, Infeksi kulit luas, dan Pernah menderita TBC
f) Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi umum seperti demam. Setelah
1-2 minggu penyuntikan biasanya akan timbul indurasi dan kemerahan
57
di tempat suntikan yang akan berubah menjadi pustula dan akan pecah
menjadi luka dan hal ini tidak perlu pengobatan dan akan sembuh
spontan dalam 8-12 minggu dengan jaringan parut. Kadang-kadang
terjadi pembesaran kelenjar limfe di ketiak atau pada leher yang terasa
padat dan tidak sakit serta tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal
dan tidak memerlukan pengobatan dan akan hilang dengan sendirinya.
b) Diphtheria Pertusis Tetanus (DPT)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit diphteri, pertusis dan tetanus. Imunisasi DPT ini merupakan
vaksin yang mengandung racun kuman diphteri yang telah dihilangkan sifat
racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(Toxoid). Frekuensi pemberian imunisasi DPT adalah 3 kali dengan
maksud pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap
pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ – organ tubuh
membuat zat anti, kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup. Waktu
pemberian imunisasi DPT antara umur 2 – 11 bulan dengan interval 4
minggu. Cara pemberian imunisasi DPT melalui intramuscular. Cara
pemberian imunisasi DPT adalah melalui injeksi intramuskular. Cara
memberiakn vaksin ini, sebagai berikut:
1) Letakkan bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan seluruh
kaki telanjang
2) Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi
3) Pegang paha dengan ibu jari dan jari telunjuk
4) Masukkan jarum dengan sudut 90 derajat
5) Tekan seluruh jarum langsung ke bawah melalui kulit sehingga masuk
ke dalam otot. Untuk mengurangi rasa sakit, suntikkan secara pelan-
pelan.
Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat, efek ringan
seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan, demam
sedangkan efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih 4 jam,
kesadaran menurun, terjadi kejang, enchefalopati, dan syok.
c) Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi
58
pemberian imunisasi hepatitis 3 kali. Waktu pemberian imunisasi hepatitis
B pada umur 0 – 11 bulan. Cara pemberian imunisasi hepatitis ini adalah
intramuscular. Cara Pemberian dan Dosis imunisasi hepatitis B :
1) Sebelum digunakan vaksin dikocok terlebih dahulu agar suspense
menjadi homogeny
2) Vaksin disuntikan dengan dosis 0,5 ml secara IM sebaiknya pada
anterolateral paha.
3) Pemberian imunisasi Hepatitis B sebanyak 3 x
4) Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari dan selanjutnya dengan
interval waktu minimal 4 minggu.
5) Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin dan penderita infeksi berat
disertai kejang, masih diizinkan untuk pasien batuk/pilek.
6) Efek Samping
 Reaksi local seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakkan
disekitar  tempat bekas penyuntikan.
 Reaksi sistemik seperti demam ringan, lesu dan perasaan tidak enak
pada saluran cerna
 Reaksi yang terjadi akan hilang dengan sendirinya setelah 2 hari.
d) Polio
Merupakan imunisasi yang bertujuan mencegah penyakit poliomyelitis.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Terdapat 2 macam
vaksin polio:
1) Inactivated Polio Vaccine (IPV = Vaksin Salk), mengandung virus polio
yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
2) Oral Polio Vaccine (OPV = Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup
yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Frekuensi pemberian imunisasi Polio adalah 4 kali. Waktu pemberian
imunisasi Polio antara umur 0 – 11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara
pemberian imunisasi Polio melalui oral. Cara pemberian dan dosis
imunisasi polio :

59
a) Diberikan secara oral sebanyak 2 tetes di bawah lidah langsung dari
botol tanpa menyentuh mulut bayi. Diberikan 4 x dengan interval waktu
minimal 4 minggu
b) Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang
baru.
c) Kontraindikasi
(1) Pada individu yang menderita imunedeficiency tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian Polio pada anak yang
sedang sakit. Namun, jika ada keraguan misalnya sedang menderita
diare atau muntah, demam tinggi >38,5˚C, maka dosis ulangan dapat
di berikan setelah sembuh.
(2) Pasien yang mendapat imunosupresan
d) Efek samping
Pada umumnya tidak ada efek samping. Tetapi ada hal yang perlu
diperhatikan setelah imunisasi polio yaitu setelah anak mendapatkan
imunisasi polio maka pada tinja si anak akan terdapat virus polio selama
6 minggu sejak pemberian imunisasi. Karena itu, untuk mereka yang
berhubungan dengan bayi yang baru saja diimunisasi polio supaya
menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok
bayi.
e) Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular. Penyakit
infeksi ini disebabkan oleh virus morbilli yang menular melalui droplet.
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada
bagian telinga, dahi dan menjalar kewajah dan anggota badan. Selain itu,
timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan
(konjungtivitis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah
menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan
apabila sembuh , kulit akan tampak seperti bersisik. Imunisasi campak
diberikan pada anak usia 9 bulan sebanyak satu kali dengan rasional
kekebalan dari ibu terhadap penyakit campak berangsur akan hilang sampai
usia 9 bulan. Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Waktu
pemberian imunisasi campak pada umur 9 – 11 bulan. Cara pemberian
60
imunisasi campak melalui subkutan kemudian efek sampingnya adalah
dapat terjadi ruam pada tempat suntikan dan panas.
b. Imunisasi lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat
kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi lanjutan
diberikan pada :
1) anak usia bawah tiga tahun (Batita)
Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia bawah tiga tahun
(Batita) terdiri atas Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB)
atau Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B
(DPT-HB-Hib) dan Campak.
2) anak usia sekolah dasar
Imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar diberikan pada Bulan
Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan
pada anak usia sekolah dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri
atas Diphtheria Tetanus (DT), Campak, dan Tetanus diphteria (Td).
3) wanita usia subur
Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita usia subur berupa
Tetanus Toxoid (TT).
c. Imunisasi tambahan
Imunisasi tambahan diberikan pada kelompok umur tertentu yang paling berisiko
terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu.
Pemberian imunisasi tambahan tidak menghapuskan kewajiban pemberian
imunisasi rutin.
d. Imunisasi khusus
Imunisasi khusus merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan untuk
melindungi masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu. Situasi
tertentu antara lain persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan
perjalanan menuju negara endemis penyakit tertentu dan kondisi kejadian luar
biasa. Jenis imunisasi khusus antara lain terdiri atas imunisasi Meningitis
Meningokokus, imunisasi demam kuning, dan imunisasi Anti Rabies (VAR).
e. Imunisasi pilihan
Imunisasi pilihan merupakan imunisasi yang dapat diberikan kepada seseorang
sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi yang bersangkutan dari
61
penyakit menular tertentu. Jenis imunisasi pilihan dapat berupa imunisasi
Haemophillus influenza tipe b (Hib), Pneumokokus, Rotavirus, Influenza, Varisela,
Measles Mumps Rubella, Demam Tifoid, Hepatitis A, Human Papilloma Virus
(HPV), dan Japanese Encephalitis.
1) Imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Vaksin MMR bertujuan untuk mencegah Measles (campak),
Mumps (gondongan) dan Rubella merupakan vaksin kering yang
mengandung virus hidup, harus disimpan pada suhu 2–8 0C atau lebih
dingin dan terlindung dari cahaya. Vaksin harus digunakan dalam waktu 1
(satu) jam setelah dicampur dengan pelarutnya, tetap sejuk dan terhindar
dari cahaya, karena setelah dicampur vaksin sangat tidak stabil dan cepat
kehilangan potensinya pada temperatur kamar. Vaksin MMR harus
diberikan sekalipun ada riwayat infeksi campak, gondongan dan rubella
atau sudah mendapatkan imunisasi campak; anak dengan penyakit kronis
seperti kistik fibrosis, kelainan jantung bawaan, kelainan ginjal bawaan,
gagal tumbuh, sindrom Down; anak berusia ≥ 1 tahun day care yang
centre, berada family day di care dan playgroups; dan anak yang tinggal di
lembaga cacat mental.

Kontra Indikasi:
a) Anak dengan penyakit keganasan yang tidak diobati atau dengan
gangguan imunitas, yang mendapat pengobatan dengan imunosupresif
atau terapi sinar atau mendapat steroid dosis tinggi (ekuivalen dengan 2
mg/kgBB/hari prednisolon)
b) Anak dengan alergi berat (pembengkakan pada mulut atau
tenggorokan, sulit bernapas, hipotensi dan syok) terhadap gelatin atau
neomisin
c) Pemberian MMR harus ditunda pada anak dengan demam akut, sampai
penyakit ini sembuh
d) Anak yang mendapat vaksin hidup yang lain (termasuk BCG dan
vaksin virus hidup) dalam waktu 4 minggu. Pada keadaan ini imunisasi
MMR ditunda lebih kurang 1 bulan setelah imunisasi yang terakhir.
Individu dengan tuberkulin positif akan menjadi negatif setelah
pemberian vaksin

62
e) Wanita hamil tidak dianjurkan mendapat imunisasi MMR (karena
komponen rubela) dan dianjurkan untuk tidak hamil selama 3 bulan
setelah mendapat suntikan MMR.
f) Vaksin MMR tidak boleh diberikan dalam waktu 3 bulan setelah
pemberian imunoglobulin atau transfusi darah yang mengandung
imunoglobulin (whole blood, plasma). Dengan alasan yang sama
imunoglobulin tidak boleh diberikan dalam waktu 2 minggu setelah
vaksinasi.
g) Defisiensi imun bawaan dan didapat (termasuk infeksi HIV).
Sebenarnya HIV bukan kontra indikasi, tetapi pada kasus tertentu,
dianjurkan untuk meminta petunjuk pada dokter spesialis anak
(konsultan).
Dosis: Dosis tunggal 0,5 ml suntikan secara intra muskular atau subkutan
dalam.
Jadwal:
 Diberikan pada usia 12–18 bulan.
 Pada populasi dengan insidens penyakit campak dini yang tinggi,
imunisasi MMR dapat diberikan pada usia 9 (sembilan) bulan
.
2) Imunisasi Thypus Abdominalis

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya


penyakit thypus abdominalis, dalam persediaannya, khususnya di
Indonesia terdapat 3 jenis vaksin thypus abdominalis diantaranya kuman
yang dimatikan, kuman yang dilemahkan (vivotif, berna), dan antigen
kapsular Vi Polysaccharide (Typhimvi, Pasteur meriux). Pada vaksin
kuman yang dimatikan, dapat diberikan untuk bayi 6 – 12 bulan adalah
0,1 mL, 1 – 2 tahun 0,2 mL, dan 2 – 12 tahun adalah 0,5 mL, pada
imunisasi awal dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 4
minggu kemudian penguat setelah 1 tahun kemudian. Pada vaksin
kuman yang dilemahkan dapat diberikan dalam bentuk capsul enteric
coated sebelum makan pada hari 1, 2, 5, pada anak diatas usia 6 tahun
dan pada antigen kapsular diberikan pada usia diatas 2 tahun dan dapat
diulang tiap 3 tahun.

63
3) Imunisasi Varicella
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit varicella (cacar air). Vaksin varicella merupakan virus hidup
varicella zoster strain OK yang dilemahkan. Vaksin diberikan mulai
umur masuk sekolah (5 tahun) Pada anak ≥ 13 tahun vaksin di anjurkan
dua kali selang 4 minggu. Pada keadaan terjadi kontak dengan kasus
varisela, untuk pencegahan vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam
setelah penularan (dengan persyaratan: kontak dipisah/tidak
berhubungan).
Kontra Indikasi:
a) Demam tinggi
b) Hitung limfosit kurang dari 1200/µl atau adanya bukti defisiensi
imun selular seperti selama pengobatan induksi penyakit
keganasan atau fase radioterapi
c) Pasien yang mendapat pengobatan dosis tinggi kortikosteroid (2
mg/kgBB per hari atau lebih)
d) Alergi neomisin
Dosis dan Jadwal: Dosis 0,5 ml suntikan secara subkutan, dosis
tunggal
4) Imunisasi Hepatitis A
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
hepatitis A.
Rekomendasi:
a) Populasi risiko tinggi tertular Virus Hepatitis A (VHA).
b) Anak usia ≥ 2 tahun,didaerahterutamaendemis.Padaanakusia>2
tahun antibodi maternal sudah menghilang. Di lain pihak, kehidupan
sosialnya semakin luas dan semakin tinggi pula paparan terhadap
makanan dan minuman yang tercemar.
c) Pasien Penyakit Hati Kronis, berisiko tinggi hepatitis fulminan bila
tertular VHA.
d) Kelompok lain: pengunjung ke daerah endemis; penyaji makanan;
anak usia 2–3 tahun di Tempat Penitipan Anak (TPA); staf TPA;
staf dan penghuni institusi untuk cacat mental; pria homoseksual
dengan pasangan ganda; pasien koagulopati; pekerja dengan primata
64
bukan manusia; staf bangsal neonatologi.

Kontra Indikasi:
Vaksin VHA tidak boleh diberikan kepada individu yang mengalami
reaksi berat sesudah penyuntikan dosis pertama
Dosis dan Jadwal:
a) Dosis vaksin bervariasi tergantung produk dan usia resipien
b) Vaksin diberikan 2 kali, suntikan kedua atau booster bervariasi
antara 6 sampai 18 bulan setelah dosis pertama, tergantung produk
c) Vaksin diberikan pada usia ≥ 2 tahun
5) Vaksin Tifoid
Vaksin tifoid oral dibuat dari kuman Salmonella typhi galur non
patogen yang telah dilemahkan, menimbulkan respon imun sekretorik
IgA, mempunyai reaksi samping yang lebih rendah dibandingkan
vaksin parenteral. Kemasan dalam bentuk kapsul. Penyimpanan pada
suhu 2 – 80C. Vaksin tifoid oral diberikan untuk anak usia ≥ 6 tah
Kontra Indikasi:
a) Vaksin Tifoid Oral
 Vaksin tidak boleh diberikan bersamaan dengan antibiotik,
sulfonamid atau antimalaria yang aktif terhadap Salmonella.
 Pemberian vaksin polio oral sebaiknya ditunda dua minggu
setelah pemberian terakhir dari vaksin tifoid oral (karena vaksin
ini juga menimbulkan respon yang kuat dari interferon mukosa)
b) Vaksin tifoid polisakarida parenteral
 Alergi terhadap bahan-bahan dalam vaksin.
 Pada saat demam, penyakit akut maupun penyakit kronik
progresif.
Dosis dan Jadwal:
1) Vaksin tifoid oral
a) Satu kapsul vaksin dimakan tiap hari, satu jam sebelum makan
dengan minuman yang tidak lebih dari 370C, pada hari ke 1, 3
dan 5.
b) Kapsul ke 4 diberikan pada hari ke 7 terutama bagi turis.

65
c) Kapsul harus ditelan utuh dan tidak boleh dibuka karena kuman
dapat mati oleh asam lambung.
d) Imunisasi ulangan diberikan tiap 5 tahun. Namun pada individu
yang terus terekspose dengan infeksi Salmonella sebaiknya
diberikan 3–4 kapsul tiap beberapa tahun.
e) Daya proteksi vaksin ini hanya 50%-80%, walaupun telah
mendapatkan imunisasi tetap dianjurkan untuk memilih
makanan dan minuman yang higienis.
2) Vaksin tifoid polisakarida parenteral
a) Dosis 0,5 ml suntikan secara intra muskular atau subkutan pada
daerah deltoid atau paha
b) Imunisasi ulangan tiap 3 tahun
c) Daya proteksi vaksin ini hanya 50%-80%, walaupun telah
mendapatkan imunisasi tetap dianjurkan untuk memilih
makanan dan minuman yang higienis
6) Imunisasi HiB (Haemophilus influenza tipe B)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit influenza tipe B. Vaksin Hib adalah vaksin polisakarida
konyugasi dalam bentuk liquid, yang dapat diberikan tersendiri atau
dikombinasikan dengan vaksin DPaT (tetravalent) atau DpaT/HB
(pentavalent) atau DpaT/HB/IPV (heksavalent).
Kontra Indikasi: Vaksin tidak boleh diberikan sebelum bayi
berumur 2 bulan karena bayi tersebut belum dapat membentuk antibodi
Dosis dan Jadwal:
1) Vaksin Hib diberikan sejak umur 2 bulan, diberikan sebanyak 3
kali dengan jarak waktu 2 bulan.
2) Dosis ulangan umumnya diberikan 1 tahun setelah suntikan
terakhir.
Imunisasi sebagai salah satu cara untuk menjadikan kebal pada bayi dan
anak dari berbagai penyakit, diharapkan bayi atau anak tetap tumbuh dalam
keadaan sehat. Pada dasarnya dalam tubuh sudah memiliki pertahanan secara
sendiri agar berbagai kuman yang masuk dapat dicegah, pertahan tubuh tersebut
meliputi pertahanan nonspesifik dan pertahanan spesifik, proses mekanisme
pertahanan dalam tubuh pertama kali adalah pertahanan nonspesifik seperti
66
complemen dan makrofag dimana complemen dan makrofag ini yang pertama
kali akan memberikan peran ketika ada kuman yang masuk ke dalam tubuh.
Setelah itu maka kuman harus melawan pertahanan tubuh yang kedua yaitu
pertahanan tubuh spesifik terdiri dari system humoral dan seluler. System
pertahanan tersebut hanya bereaksi terhadap kuman yang mirip dengan
bentuknya. System pertahanan humoral akan menghasilkan zat yang disebut
imonuglobulin (IgA, IgM, IgG, IgE, IgD) dan system pertahanan seluler terdiri
dari limfosit B dan limfosit T, dalam pertahanan spesifik selanjutnya akan
menghasilkan satu sel yang disebut sel memori, sel ini akan berguna atau sangat
cepat dalam bereaksi apabila sudah pernah masuk ke dalam tubuh, kondisi ini
yang digunakan dalam prinsip imunisasi. Berdasarkan proses tersebut diatas
maka imunisasi dibagi menjadi dua yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
1. Imunisasi aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi
suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imonologi
spesifik yang menghasilkan respons seluler dan humoral serta sel memori,
sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat
merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan
dalam setiap vaksinnya antara lain :
a. Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat
atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa
poli sakarida, toksoid atau virus dilemahkan atau bakteri dimatikan.
b. Pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur
jaringan.
c. Preservatif, stabilizer, dan antibiotika yang berguna untuk
menhindari tubuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi
antigen.
d. Adjuvant yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk
meningkatkan imonogenitas antigen.
2. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara
pemberian zat imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu
proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan yang
didapat bayi dari ibu melalui plasenta) atau binatang (bisa ular) yang
67
digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang
terinfeksi.
2.9.3 Cara Pemberiaan Imunisasi
Berikut ini adalah cara pemberiaan dan waktu yang tepat untuk pemberian imunisasi.
Cara Pemberiaan Imunisasi Dasar. (Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 42 Tahun
2013)

Jenis Dosis Cara Pemberian Tempat


Vaksin
Hepatitis B 0,5 ml Intra Muskuler Paha
BCG 0,05 ml Intra Kutan Lengan kanan atas
Polio 2 tetes Oral Mulut
DPT-HB-Hib 0,5 ml Intra Muskuler Paha untuk bayi
Lengan Kanan
untuk batita
Campak 0,5 ml Sub Kutan Lengan kiri atas
DT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas
Td 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas
TT 0,5 ml Intra Muskuler Lengan kiri atas

Jarak minimal antar dua pemberian imunisasi yang sama adalah 4 (empat) minggu.
Tidak ada batas maksimal antar dua pemberian imunisasi.

2.9.4 Waktu Pemberiaan Imunisasi


Waktu Yang Tepat Untuk Pemberiaan Imunisasi Dasar (Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 42 Tahun 2013)

Umur Jenis
0 bulan Hepatitis B0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4
9 bulan Campak

68
Jadwal imunisasi lanjutan pada anak bawah tiga tahun

Umur Jenis Imunisasi


18 bulan DPT-HB-Hib
24 bulan Campak

Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar

Waktu
Sasaran Imunisasi
Pelaksanaan
Kelas 1 SD Campak Agustus
DT November
Kelas 2 SD Td November
Kelas 3 SD Td November

2.9.5 Rantai Dingin (Cold Chain)


Merupakan cara menjaga agar vaksin dapat digunakan dalam keadaan baik, atau
tidak rusak sehingga mempunyai kemampuan atau efek kekebalan pada
penerimanya, akan tetapi apabila vaksin diluar temperature yang dianjurkan maka
akan mengurangi potensi kekebalannya.

Dibawah ini potensi vaksin dalam temperature :

Vaksin 2 – 8oC 35 – 37o C

DT 3 – 7 tahun 6 minggu

Pertusis 18 – 24 bulan Dibawah 50% dalam 1 minggu

BCG
1 tahun
- Kristal Dibawah 20% dalam 3 – 14 hari
Dipakai dalam 1 kali
- Cair Dipakai dalam 1 kali kerja
kerja

69
Campak
2 tahun
- Kristal 1 minggu
Dipakai dalam 1 kali
- Cair Dipakai dalam 1 kali kerja
kerja

Polio 6 – 12 bulan 1 – 3 hari

2.9.6 Pemberian Imunisasi


Apapun imunisasi yang diberikan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan
perawat, yaitu sebagai berikut :

a. Orang tua anak harus ditanyakan aspek berikut.


1) Status kesehatan anak saat ini, apakah dalam kondisi sehat atau sakit,
2) Pengalaman/reaksi terhadap imunisasi yang pernah didapat sebelumnya,
3) Penyakit yang dialami di masa lalu dan sekarang.

b. Orang tua harus mengerti tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terlebih dahulu sebelum menerima
imunisasi (informed consent). Pengertian mencakup jenis imunisasi, alasan
diimunisasi, manfaat imunisasi, dan efek sampingnya.
c. Catatan imunisasi yang lalu (apabila sudah pernah mendapat imunisasi
sebelumnya), pentingnya menjaga kesehatan melalui tindakan imunisasi.
d. Pendidikan kesehatan untuk orang tua. Pemberian imunisasi pada anak harus
didasari pada adanya pemahaman yang baik dari orang tua tentang imunisasi
sebagai upaya pencegahan penyakit. Perawat harus memberikan pendidikan
kesehatan ini sebelum imunisasi diberikan pada anak. Gali pemahaman orang
tua tentang imunisasi anak. Gunakan pertanyaan terbuka untuk mendapatkan
informasi seluas luasnya tentang pemahaman orang tua berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan anak melalui pencegahan penyakit dengan imunisasi
supaya dapat memberikan pemahaman yang tepat. Pada akhirnya diharapkan
adanya kesadaran orang tua untuk memelihara kesehatan anak sebagai upaya
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
e. Kontraindikasi pemberiaan imunisasi. Ada beberapa kondisi yang menjadi
pertimbangan untuk tidak memberikan imunisasi pada anak, yaitu:

70
1) Flu berat atau panas tinggi dengan penyebab yang serius
2) Perubahan pada system imun yang tidak dapat memberi vaksin virus
hidup.
3) Sedang dalam pemberian obat-obat yang menekan system imun, seperti
sitostatika, transfuse darah, dan imonoglobulin
4) Riwayat alergi terhadap alergi terhadap pemberian vaksin sebelumnya
seperti pertusis.

71
2.10 MATERI KB
2.10.1 Definisi KB
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan jarak
kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, pemerintah mencanangkan program
atau cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2019).
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau
pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuiahi ke dinding rahim (Mulyani,
2018).
Kontrasepsi pascapersalinan adalah inisiasi pemakaian metode kontrasepsi dalam
waktu 6 minggu pertama pascapersalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang
btidak diinginkan, khususnya pada 1-2 tahun pertama pascapersalinan (Mulyani, 2018)
2.10.2 Tujuan Program KB
Tujuan dilaksanakan program KB yaitu untuk membentuk keluarga kecil sesuai
dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran
anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dansejahtera yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya (Sulistyawati, 2019).
2.10.3 Jenis Kontrasepsi1
1. Mal
Metode Amenorrhea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian air susu ibu (ASI).Syarat MAL sebagai kontrasepsi adalah menyusui
secara penuh (full breast feeding), belum haid, umur bayi kurang dari 6 bulan.
Harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya.Bekerja dengan
penundaan ovulasi.
2. Kontrasepsi metode sederhana
a. Metode pantang berkala atau yang lebih dikenal dengan sistem kalender
merupakan salah satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat
dikerjakan sendiri oleh pasangan suami-istri dengan tidak melakukan
senggama pada masa subur.
b. Metode kontrasepsi suhu basal berdasarkan kenaikan suhu tubuh setelah
ovulasi sampai sehari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk mengetahui
bahwa suhu tubuh benar-benar naik, maka harus selalu diukur dengan
termometer yang sama dan pada tempat yang sama setiap pagi setelah
bangun tidur sebelum mengerjakan pekerjaan apapun dan dicatat pada tabel.
c. Metode lendir serviks atau Metode Ovulasi Billings (MOB) adalah suatu
72
cara/metode yang aman dan ilmiah untuk mengetahui kapan masa subur
wanita. Cara ini dapat dipakai baik untuk menjadi hamil maupun
menghindari atau menunda kehamilan.
d. Coitus Interuptus juga dikenal dengan metode senggama terputus. Teknik ini
dapat mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria,
seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetes pun
sperma masuk ke dalam rahim wanita.
e. Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat dari karet/lateks,
berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup
rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperm
3. Kontrasepsi Oral
a. Mekanisme kerja pil merupakan kombinasi kerja estrogen dan progestin,
saat ini tersedia 3 variasi pil kombinasi :
1) Monofasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
megandung hormon aktif estrogen atau progestin dalam dosis yang
sama dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
2) Bifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet menganduk
hormon aktif estrogen atau progestin dalam dua dosis yang berbeda
dan 7 tablet tanpa hormon aktif.
3) Trifasik adalah pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon estrogen atau progestin dalam tiga dosis yang berbeda dan
mengandung 7 tablet tanpa hormon aktif.
b. Keuntungan Pemakaian Pil KB
1) Bila meminum pil KB sesuaiaturan maka krmungkinan akan berhasil
100%
2) Dapat dipakai dalam beberapa macam masalah, misalnya ketegangan
menjelang menstruasi, perdarahan menstruasi yang tidak teratur, nyeri
saat
menstruasi,pengobatan penyakit endometritis, dapat meningkatkan
libido
c. Kerugian Pemakaian PIL KB
1) Harus diminum secara teratur
2) Dalam waktu yang panjang dapat menekan fungsi ovarium
3) Penyulit ringan diantaranya berat badan bertambah, rambut rontok,
73
timbul jerawat, mual sampai muntah
4. Kontrasepsi Suntik
Metode suntikan KB telah menjadi gerakan keluarga berencana nasional serta
peminatnya semain bertambah. Tingginya peminat suntikan KB karena aman,
sederhana, efektif, tida menimbulkan gangguan dan dapat digunakan pasca
persalinan. Ada tersedia 2 jenis alat kontrasepsi suntik yang mengandung
progestin yaitu Depo Mendroxyprogesteron Acetat (DMPA), mengandung 150
mg DMPA yang diberikan setiap bulan. Dan Depo Neuretisteron Enantat (Depo
Noriterat), mengandung 200 mg noretindron, yang diberikan setiap 3 bulan sekali
dengan cara disuntikkan secara intramuscular pada sepertiga SIAS.
Keuntungan menggunakan suntik KB
a. Pemberiannya sederhana setiap 8-12 minggu
b. Tingkat efektivitasnya tinggi
c. Hubungan seksual bebas, tidak ditentukan oleh pantangan kalender,jika
menggunakan KB suntik
5. Alat Kontrasepsi dalam Rahim
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan kontrasepsi yang
dimasukkan melalui serviks dan dipasang di dalam uterus. AKDR mencegah
kehamilan dengan merusak kemampuan hidup sperma dan ovum karena adanya
perubahan pada tuba dan cairan uterus
2.10.3.1.1 Implan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) Alat
Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) adalah alat kontrasepsi berupa batang
silastik yang dipasang dibawah kulit.
2.10.3.1.2 MOW Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi
Pria (MOP) MOW (Medis Operatif Wanita)/ Tubektomi merupakan
tindakan penutupan terhadap kedua saluran telur kanan dan kiri yang
menyebabkan sel telur tidak dapat melewati saluran telur, dengan
demikian sel telur tidak dapat bertemu dengan sperma laki laki sehingga
tidak terjadi kehamilan, oleh karena itu gairah seks wania tidak akan turun
(BKKBN, 2012).
Syarat dilakukan MOW Menurut Saiffudin (2019) yaitu sebagai berikut:
a. Syarat Sukarela meliputi pengetahuan pasangan tentang cara cara
kontrasepsi lain, resiko dan keuntungan kontrasepsi mantap serta
pengetahuan tentang sifat permanen pada kontrasepsi ini.
74
b. Syarat Bahagia dilihat dari ikatan perkawinan yang syah dan
harmonis, umur istri sekurang kurangnya 25 tahun dengan sekurang
kurangnya 2 orang anak hidup dan anak terkecil lebih dari 2 tahun.
c. Syarat Medik, setiap calon peserta kontrasepsi mantap wanita harus
dapat memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak ditemukan
hambatan atau kontraindikasi untuk menjalani kontrasepsi mantap.
Pemeriksaan seorang dokter diperlukan untuk dapat memutuskan
apakah seseorang dapat menjalankan kontrasepsi mantap. Ibu yang
tidak boleh menggunakan metode kontrasepsi mantap antara lain
ibu yang mengalamai peradangan dalam rongga panggul, obesitas
berlebihan dan ibu yang sedang hamil atau dicurigai sdang
hamil .Tindakan pembedahan teknik yang digunakan dalam
pelayanan tubektomi antara lain Minilaparotomi dan Laparoskopi.
Waktu Pelaksanaan MOW antara lain Masa Interval (selama waktu
selama siklus menstrusi), Pasca persalinan (post partum), Pasca
keguguran Indikasi MOW antara lain yaitu Indikasi medis umum
atau adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih
berat bila wanita ini hamil lagi, Gangguan fisik misalnya
tuberculosis `pulmonum, penyakit jantung, dan sebagainya,
Gangguan psikis yang dialami yaitu seperti skizofrenia (psikosis),
sering menderita psikosa nifas, dan lain lain, Indikasi medik obstetri
yaitu toksemia gravidarum yang berulang, seksio sesarea yang
berulang, histerektomi obstetri, dan sebagainya, Indikasi medis
ginekologi adalah pada waktu melakukan operasi ginekologik dapat
pula dipertimbangkan untuk sekaligus melakukan sterilisasi,
Indikasi sosial ekonomi berdasarkan beban sosial ekonomi yang
sekarang ini terasa bertambah lama bertambah berat. Kontraindikasi
MOW antara lain adalah Kontra indikasi mutlak seperti adanya
Peradangan dalam rongga panggul, Peradangan liang senggama aku
(vaginitis, servisitis akut), Kavum dauglas tidak bebas, ada
perlekatan. Kontraindikasi relative misalnya Obesitas berlebihan,
adanya bekas laparotomy.
Keuntungan MOW adalah Perlindungan terhadap terjadinya
kehamilan sangat tinggi, tidak mengganggu kehidupan suami istri,
75
tidak mempengaruhi kehidupan suami istri, tidak mempengaruhi
ASI, Lebih aman (keluhan lebih sedikit), praktis (hanya
memerlukan satu kali tindakan), lebih efektif (tingkat kegagalan
sangat kecil), lebih ekonomis.
Kerugian MOW yaitu antara lain:
a. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode kontrasepsi
ini tidak dapat dipulihkan kembali
b. Klien dapat menyesal dikemudian hari
c. Resiko komplikasi kecil meningkat apabila digunakan
anestesi umum
d. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan
e. Dilakukan oleh dokter yang terlatih dibutuhkan dokter
spesalis ginekologi atau dokter spesalis bedah untuk proses
laparoskopi
f. Tidak melindungi diri dari IMS.
2.10.3.1.3 MOP ( Medis Operatif Pria ) / vasektomi MOP adalah alat
kontrasepsi jenis sterilisasi melalui pembedahan dengan cara memotong
saluran sperma yang menghubungkan testikel (buah zakar) dengan
kantung sperma sehingga tidak ada lagi kandungan sperma di dalam
ejakulasi air mani pria.
Vasektomi dilakukan dengan cara pemotongan Vas Deferens sehingga
saluran transportasi sperma terhambat dan proses penyatuan dengan ovum
tidak bekerja. Seorang pria yang sudah divasektomi, volume air maninya
sekitar 0,15 cc yang tertahan tidak ikut keluar bersama ejakulasi karena
scrotum yang mengalirkannya sudah dibuat buntu. Sperma yang sudah
dibentuk tidak akan dikeluarkan oleh tubuh, tetapi diserap & dihancurkan
oleh tubuh.
Syarat MOP antara lain adalah sukarela, bahagia, bila hanya mempunyai 2
orang anak, maka anak yang terkecil paling sedikit umur sekitar 2 tahun ,
umur isteri paling muda sekitar 25 tahun, Kesehatan tidak ditemukan
adanya hambatan atau kontraindikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena
itu setiap calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh
dokter, sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak.
76
Selain itu juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling
(bimbingan tatap muka) dan menandatangani formulir persetujuan
tindakan medik (Informed Consent).
Cara Pemasangan MOP yaitu kulit skrotum di daerah operasi dibersihkan.
Kemudian dilakukan anastesia local dengan larutan xilokain. Anastesia
dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian atas dan pada
jaringan di sekitar vas deferens. Vas dicari dan stelah ditentukan
lokasinya, dipegang sedekat mungkin di bawah kulit skrotum. Setelah itu,
dilakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5 – 1 cm di dekat
tempat vas deferens. Setelah vas kelihatan, dijepit dan dikeluarkan dari
sayatan ( harus diyakinkan bahwa vas yang dikeluarkan itu ), vas dipotong
sepanjang 1 – 2 cm dan kedua ujungnya diikat. Setelah kulit dijahit,
tindakan diulangi pada sebelah yang lain.
Teknik Melakukan MOP dengan cara operatif dan indikasi MOP adalah
bahwa pasangan suami-istri tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak
suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.
Kontraindikasi MOP antara lain adalah adanya Infeksi kulit lokal,
misalnya Scabies, Infeksi traktus genetalia, kelainan skrotum , adnya
riwayat penyakit sistemik, riwayat perkawinan. Keuntungan MOP yaitu
efektif, aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas,
sederhana., cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit, biaya rendah.
Kerugian MOP adalah diperlukan suatu tindakan operatif, kadang-kadang
menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi, kontrasepsi
mantap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua
spermatozoa, yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat
oklusi vas deferens dikeluarkan, problem psikologis yang berhubungan
dengan perilaku seksual mungkin bertambah parah setelah tindakan
operatif yang menyangkut sistem reproduksi.

77
2.11 MATERI DM
2.11.1 Pengertian
DM merupakan penyakit metabolik yang terjadi oleh interaksi berbagai
faktor: genetik, imunologik, lingkungan dan gaya hidup. Diabetes mellitus adalah
suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya
peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin progresif dilatar
belakangi oleh resistensi insulin. Pernyataan ini selaras dengan IDF (2017) yang
menyatakan bahwa diabetes mellitus merupakan kondisi kronis yang terjadi saat
meningkatnya kadar glukosa dalam darah karena tubuh tidak mampu memproduksi
banyak hormon insulin atau kurangnya efektifitas fungsi insulin. Menurut
American Diabetes Association (ADA) diabetes sangatlah kompleks dan penyakit
kronik yang perlu perawatan medis secara berlanjut dengan strategi pengontrolan
indeks glikemik berdasarkan multifaktor resiko.
2.11.2 Gejala diabetes militus
Gejala yang muncul pada penderita diabetes mellitus diantaranya :
a. Poliuri (banyak kencing)
b. Polidipsi (banyak minum)
c. Polifagi (banyak makan)
d. Penurunan Berat Badan
2.11.3 Klasifikasi Diabetes Melitus
a. Diabetes Melitus Tipe 1
b. Diabetes Melitus Tipe 2
c. Diabetes Melitus Tipe Lain
d. Diabetes Melitus Gestasional
2.11.4 Faktor Resiko Diabetes Melitus
a. Usia
b. Berat Badan
c. Riwayat Keluarga
d. Gaya Hidup
e. Riwayat Diabetes pada kehamilan (Gestational)

78
2.11.5 Penatalaksanaan Terapi Nutrisi Medis (TNM)
a. Diet DM
1) Karbohidrat
2) Lemak
3) Lemak
4) Protein
5) Natrium
6) Serat
7) Pemanis alternatif
b. Diet 3J (Jumlah, Jenis dan Jadwal)
1) Tepat Jumlah Kebutuhan Kalori
2) Tepat jenis
3) Tepat jadwal
c. Latihan jasmani
d. Edukasi
e. Farmakologi

79
BAB 3
PENYAJIAN DATA PENDUDUK
(REKAPAN)

A. Letak Geografis Wilayah


Keluruhan Petuk Ketimpun RT 03 RW 01 Kecematan Jekan Raya, Kota Palangka
Raya.
Batas Timur :
Batas Batal :
Batas Utara :
Batas Selatan :

B. Tempat Layanan Umum Penduduk


Mesjid batas ... 1 buah.
Pustu batas ... 1 buah.
SDN 1 Petuk Ketimpun ... 1 buah.
Kantor Kelurahan batas ... 1 buah.
SMPN 16 batas ... 1 buat.
SMAN 9 Palangka Raya batas ... 1 buah..

C. Karakteristik Umum Penduduk di Kelurahan Petuk katimpunWilayah Kerja Puskesmas


Jekan Raya Tahun 2022.
1. Jumlah KK yang diwawancarai : 93 KK
1. PENYAJIAN DATA KEPALA KELUARGA
1.1 Tabel Distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di
RT 03 RW 01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun
2022.
No Umur Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 15-19 - - - -

2 20-24 1 - 1 1,1

3 25-29 8 - 8 8,6

4 30-34 14 - 14 15,0

5 35-39 10 - 10 10,8

6 40-44 18 - 18 19,4

7 45-49 11 - 11 11,8

8 50-54 5 2 7 7,5

9 55-59 4 6 10 10,8

10 ≥ 60 12 2 14 15,0

Jumlah 83 10 93 100%

80
Berdasarkan tabel di atas table menunjukan distribusi kepala keluarga berdasarkan kelompok
umur dan jenis kelamin yang paling banyak pada umur 40-44 tahun (19,4%) dan yang paling
sedikit pada umur 20-24 tahun 1 orang (1,1%).
Catatan :
Jumlah KK yang berstatus Duda = ... Janda = .....

1.2 Tabel Distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di
RT ..03. RW ..01. Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun
2022
No Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 Tidak Tamat SD/MI - 1 1 1,1

2 Tamat SD/MI 19 5 24 25,8

3 Tidak Tamat SMP/MTS - - - -

4 Tamat SMP/MTS 12 - 12 12,9

5 Tidak Tamat SMA 1 - 1 1,1

6 Tamat SMA 38 1 39 41,9

7 Tidak tamat PT - - - -

8 Tamat PT 13 3 16 17,2

Jumlah 83 10 93 100%

Berdasarkan tabel di atas Berdasarkan tabel distribusi diatas menunjukan distribusi kepala
keluarga berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis kelamin yang paling banyak adalah laki laki
sebanyak 38 orang (41,9%) dan yang paling sedikit adalah.perempuan ... berjumlah 1 orang
(1,1%).

Catatan :
Yang tidak sekolah Laki-laki = .... Perempuan = ....

1.3 Tabel Distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Agama yang dianut dan Jenis Kelamin
di RT 03 RW 01 Kelurahan Petuk Katimpun Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya Tahun
2022
No Agama Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 Islam 61 6 67 72,0

2 Kristen 21 4 25 26,9

3 Katolik 1 - 1 1,1

4 Hindu - - - -

5 Budha - - - -

81
Jumlah 83 10 93 100%

Berdasarkan tabel di atasmenunjukan table distribusi kepala keluarga berdasarkan kelompok


agama yang dianut dan jenis kelamin yang paling banyak adalah agama islam sebanyak 67
(72,0%) dan yang paling sedikit agama katolik sebanyak 1 (1,1%).

1.4 Tabel distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin di RT 03
RW 01 Kelurahan... Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya Tahun 2022
No Jenis Pekerjaan Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 PNS 5 2 7 7,5

2 POLRI/TNI 1 - 1 1,1

3 Karyawan 12 - 12 12,9

4 Petani 1 - 1 1,1

5 Peternak 1 - 1 1,1

6 Pedagang 24 3 27 29,0

7 Nelayan 1 1 2 2,2

8 Buruh 2 - 2 2,1

9 Pembantu RT - 1 1 1,1

10 Penata rambut - - - -

11 Lain-lain 36 3 39 41,9

Jumlah 83 10 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan table distribusi kepala keluarga berdasarkan jenis
pekerjaan dan jenis kelamin paling banyak yaitu laki-laki (lain-lain) sebanyak 36 orang (42,9%)
dan yang paling sedikit polri/tni,petani,nelayan,pembantu RT sejumlah 4 orang (1,1%).

a. Tabel distribusi Kepala Keluarga Berdasarkan Suku Bangsa dan Jenis Kelamin di RT 03
RW 01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022

No Suku Bangsa Jenis Kelamin Jumlah Persentase


(%)
Laki-laki Perempuan

1 Banjar 3 - 3. 3,2

2 Dayak 75 10 85 91,4

3 Jawa .4 - 4 4,3

4 Ambon - - - -

5 Lain-lain 1 - 1 1,1

82
Jumlah 83 10 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan table distribusi kepala keluarga berdasarkan suku bangsa
dan jenis kelamin yang paling banyak suku banjar sebanyak 85. orang (91,4%) dan paling sedikit
suku 1. sebanyak 1. orang (1,1%).

2. PENYAJIAN DATA PENDUDUK


2.1 Tabel Distribusi Penduduk Berdasarkan Tahapan Perkembangan Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin di RT 03 RW 01 Kelurahan. Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022.
No Umur Jenis Kelamin Persentase
Jumlah
Laki-laki Perempuan (%)

1 < 12 bln 1 3 4 1,1

2 12-59 bln 17 10 27 7,6

3 5-12 Th .26 28 54 15,2

4 13-19 Th 28 19 47 13,2

5 20 – 35 Th 59 48 107 30

6 36 – 45 Th 29 24 53 14,9

7 46 – 59 Th 21 20 41 11,5

8 ≥ 60 Th 12 11 23 6,5

Jumlah Penduduk 193 163 356 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi penduduk berdasarkan tahapan perkembangan


kelompok umur dan jenis kelamin laki-laki dan perempuan umur 20-35 tahun sebanyak 107
orang (30%) dan paling sedikit <12 bln sebanyak .4 orang (1,1 %) di.

Tabel Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di RT 03 RW


01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
No Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 Tidak Tamat SD/MI 5 4 9 2,5

2 Masih SD/MI 10 15 25 7,0

3 Tamat SD/MI 31 17 48 13,5

4 Tidak Tamat SMP/MTS - - - -

5 Masih SMP/MTS 13 8 21 5,9

6 Tamat SMP/MTS 39 12 51 14,3

7 Tidak Tamat SMA - - - -

8 Masih SMA 19 13 32 9

9 Tamat SMA 50 46 96 27,0

83
10 Tidak tamat PT - - - -

11 Masih PT - - - -

12 Tamat PT 17 10 27 7,6

13 Lain-lain (Belum 32 15 47 13,2


Sekolah)

Jumlah Penduduk 216 140 356 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan dan
jenis kelamin paling banyak laki laki & perempuan (Tamat SMA) sebanyak 50 -46 orang
( 27,0%) dan yang paling sedikit sebannyak laki-laki & perempuan ( Tamat/SD ) orang 5-4 ( 2,5
%).

Catatan :
Yang tidak sekolah Laki-laki = 32 orang Perempuan = 15 orang

2.2 Tabel Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan dan Jenis Kelamin di RT 03 RW 01
Kelurahan Petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
No Jenis Pekerjaan Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 PNS 5 2 7 .7,5

2 POLRI/TNI 1 - 1 1,1

3 Karyawan 12 - 12 12,9

4 Petani 1 - 1 1,1

5 Peternak 1 - 1 1,1

6 Pedagang 24 3 27 29,0

7 Nelayan 1 1 2 2,2

8 Buruh 2 - 2 2,1

9 Pembantu RT - 1 1 .1,1

10 Penata rambut - - - -

11 Lain-lain.. 36 3 39 41,9

Jumlah 83 10 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi penduduk berdasarkan pekerjaan dan jenis
kelamin yaitu laki – laki & perempuan(lain -lain) orang 36-3 (41,9 %) dan yang paling sedikit
laki laki & perempuan ( polri/TNI, Petani,pertenak, nelayan & pembantu ART ) sebanyak 5
orang (1,1%).

84
2.3 Tabel Distribusi Penduduk Berdasarkan Golongan Darah dan Jenis Kelamin di RT 03 RW 01
Kelurahan Petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
No Golongan Darah Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 A 6 7 13 3,7

2 B 7 3 10 2,8

3 AB 1 - 1 0,3

4 O 11 6 17 4,7

5 Tidak diketahui 166 149 315 88,5

Jumlah 191 165 356 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi penduduk berdasarkan golongan darah dan
jenis kelamin yang paling banyak golongan darah laki-laki dan perempuan(lain-lain) sebanyak
191-165 orang (88,5%) dan yang paling sedikit Laki-laki (AB) sebanyak 1 orang (0,3%).

2.4 Tabel Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama dan Jenis Kelamin di RT 3 RW 1 Kelurahan
Petuk katimpuan Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya Tahun 2022
No Agama Jenis Kelamin Jumlah Persentase
(%)
Laki-laki Perempuan

1 Islam 130 126 256 71,9

2 Katolik 2 4 6 1,7

3 Kristen 50 44 94 26,4

4 Hindu - - - -

5 Budha - - - -

Jumlah 182 174 356 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi penduduk berdasarkan agama dan jenis
kelamin yang paling banyak beragama Laki-laki dan perempuan (Islam) sebanyak 130-126
orang (71,9%) dan yang paling sedikit beragama katolik sebanyak laki-laki dan permpuan
sebanyak 2-4 orang (1,7%).

85
3. PENYAJIAN DATA UMUM KELUARGA
3.1 Tabel Distribusi Keluarga Berdasarkan Tipe Keluarga, Perkawinan Bapak dan Ibu Sekarang
Serta Lama Usia Perkawinan Sekarang di RT 3 RW 1 Kelurahan Petuk Katimpun Wilayah
Kerja PuskesmasJekan raya Tahun 2022
No Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

1 Tipe Keluarga
a. Keluarga Inti 84 90,3
b. Keluarga Besar 9 9,7

2 Perkawinan Bapak Sekarang


a. Ke-1 90 96,8
b. Ke-2 3 3,2
c. Ke-≥3 - -

3 Lama Usia Perkawinan Sekarang


a. ≤ 1 Tahun - -
b. > 1-3 Tahun 1 1,1
c. ≥ 3 Tahun 92 98,1

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi keluarga berdasarkan tipe keluarga,


perkawianan bapak dan ibu sekarang serta lama usia perkawinan yaitu keluarga inti sebanyak
84 KK (90,3%) dan yang paling sedikit, keluarga Besar sebanyak 9 orang (9,7%), perkawinan
bapak sekarang ke-1 sebanyak 90 orang, paling sedikit ke-2 sebanyak 3 orang (3%) dan lama
usia perkawinan sekarang paling banyak ≥ 3 tahun sebanyak 92 KK (98,1%) dan paling sedikit
>1-3 sebanyak 1 orang (1,1%).

3.2 Tabel Distribusi Keluarga Berdasarkan Usia Kawin Pertama Ibu, Jumlah Anak Kandung
dan Anak yang Lahir Mati di RT 3 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja
Puskesmas Jekan Raya Tahun 2022.
No Karakteristik Jumlah Persentase (%)

1 Usia Kawin Pertama Ibu


a. < 20 Tahun 4 4,3
b. 20 - 35 Tahun 88 94,6
c. > 35 Tahun 1 1,1

2 Jumlah anak kandung pada perkawinan


sekarang 18 19,4

86
a. ≤ 2 Orang 62 66,6
b. > 2 Orang 13 14
c. Tidak ada
3 Anak yang Lahir Mati
a. Ada - -
b. Tidak ada 93 100
- -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi keluarga berdasaran usia perkawinan


pertama ibu dan jumlah anak kandung paling banyak yaitu Usia Kawin Pertama ibu ( 20- 35
Tahun) sebanyak 88 orang (94,6%) paling sedikit > 35 tahun sebanyak 1 orang 91,1%) jumlah
anak kandung pada perkawinan sekarang paling banyak > 2 Orang 62 orang (66,6%) dan yang
paling sedikit (Tidak ada) sebanyak 13 orang (14%) .

3.3 Tabel Distribusi Keluarga Berdasarkan Pengambil Keputusan, di RT 3 RW 1 Kelurahanpetuk


katimpun Wilayah Kerja Puskesmasjekan raya Tahun 2022
No Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

1 Yang Berpengaruh Dalam Pengambilan


Keputusan 3 3,2
a. Bapak saja 15 16,1
b. Ibu saja 75 80,7
c. Bapak/Ibu - -
d. Lain-lain..
Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukan distribusi keluarga berdasakan pengambilan keputusan


paling banyak adalah (bapak/ibu)sebanyak 75 orang (80,7%) dan paling sedikit (Bapak
saja)sebanyak 3 orang (3,2%).

3.4 Tabel Distribusi Keluarga Berdasarkan Penghasilan Terhadap Kebutuhan, Kepemilikan Sarana
Komunikasi dan Transportasi di RT 3 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja
Puskesmas Jekan Raya Tahun 2022
No Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

1 Penghasilan Terhadap Kebutuhan Sehari-Hari


a. Memenuhi 93 100
b. Tidak memenuhi
2 Kepemilikan Sarana Komunikasi
a. Ya (Handphone/Telepon) 93 100
b. Tidak - -

3 Kepemilikan Sarana Transportasi


a. Ya (Motor) 93 100
b. Tidak ada - -

Jumlah KK 93 100%

87
Berdasarkan tabel di atas menunjukan keluarga berdasarkan penghasilan terhadap kebutuhan
yaitu penghasilan terhadap keutuhan sehari-hari yang memenuhi berjumlah 93 KK (100%).
Kepemilikan sarana komunikasi bejumlah 93 KK (100%). Kepemilikan sarana transportasi
sebanyak 93 KK (100%).

3.5 Tabel Distribusi Keluarga Berdasarkan Pemasukan dan Pengeluaran Perbulan di RT 3 RW 1


Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya Tahun 2022
No Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

1 Penghasilan rata-rata perbulan


a. Rp. 450.000/ bulan - -
b. Rp. 451.000-Rp. 900.000/ bulan 2 3,2
c. > Rp. 900.000 atau lain-lain........... 91 97,8

2 Pengeluaran rata-rata perbulan


a. Rp. 150.000/ bulan
b. Rp. 150.000- R. 300.000 2 2,2
c. Rp. 300.000- Rp. 500.000 - -
d. > Rp. 500.000/ bulan atau lain................... 91 97,8

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel diatas menunjukan distribusi keluarga berdasarkan pemasukan dan pengeluaran
perbulan yaitu paling banyak (> Rp. 900.000 atau lain-lain...........) berjumlah 91 KK (97,8%).
Pengeluaran rata- rata yaitu paling banyak (> Rp. 500.000/ bulan atau lain berjumlah 91 KK
(97,8%)

4. PENYAJIAN DATA KESEHATAN LINGKUNGAN


4.1 PERUMAHAN
4.1.1 Tabel distribusi Jenis Atap, Dinding, Lantai dan Rumah Tangga di RT 3 RW 1 Kelurahan
petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022

Karakteristik Jumlah Persentase


(%)

Jenis Atap Rumah


1. Genting 23 24,7
2. Seng 70 75,3
3. Sirap - -
4. Lain-lain - -

Jenis Dinding Rumah


1. Tembok 39 41,9
2. Kayu 54 58,1
3. Bambu - -
4. Lain-lain - -

Jenis Lantai Rumah


1. Ubin/semen

88
2. Kayu 46 49,5
3. Tanah 47 50,5
4. Lain-lain - -
- -

Jenis Rumah
1. Permanen 45 48,4
2. Semi Permanen 1 1,1
3. Kayu 47 50,5

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi jenis atap rumah yang paling banyak (seng) berjumlah 70
KK (75,3%), jenis dinding rumah yang paling banyak adalah (kayu) berjumlah 54 KK (58,1%),
jenis lantai rumah yang paling banyak adalah (kayu) berjumlah 47 KK (50,5%), dan jenis
rumah yang palig banyak adalah (kayu) berjumlah 47 KK (50,5%)

5.1.2 Tabel distribusi Pencahayaan di Siang Hari, Alat Peneranggan di Malam Hari di RT 3 RW 1
Kelurahan petuk Katiimpun Wilayah Kerja Puskesmas Jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Pencahayaan di Siang Hari


1. Terang 93 100
2. Agak Gelap - -
3. Gelap - -

Pencahayaan di Malam Hari


1. Listrik 93 100
2. Petromak - -
3. Lampu tempel - -
4. Lain-lain - -

Ventilasi Rumah
1. Ada 93 100
2. Tidak ada - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi pencahayaan di siang hari paling banyak (terang) berjumlah
93 KK (100%), pencahayaan dimalam hari paling banyak menggunakan (Listrik) berjumlah 93
KK (100%), dan ventilasi rumah yang paling banyak (ada) berjumlah 93 KK (100 %) .

4.1.3 Tabel distribusi Keberadaan Halaman/Pekarangan Rumah dan Pemanfaatan


Halaman/Pekarangan Rumah di RT 3 RW 1 Kelurahan Petuk Ktimpun Wilayah Kerja
Puskesmas Jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

89
Keberadaan Halaman / Pekarangan Rumah
1. Ya 93 100
2. Tidak - -

Pemanfaatan Halaman / Pekarangan Rumah


1. Ya 77 82,8
2. Tidak 16 17,2

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas keberadaan halaman yang paling banyak menjawab (Ya) berjumlah
93 KK (100%), dan pemanfaatan halaman yang paling banyak (Ya) berjumlah 93 KK (100%).

5.2SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH


5.2.1 Tabel distribusi Sumber Air Utama, Cara Pengolahan Air Minum Keluarga, Penampungan
Air Sementara dan Kondisi Tempat Penampungan Air Keluarga di RT 3 RW 1 Kelurahan
Petuk Katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Sumber Air Untuk Masak/Minum


1. PDAM/Ledeng - -
2. Air Tanah (sumur gali, sumur pompa ) 93 100
3. Air Mineral - -
4. Air Sungai - -

Pengolahan Air Minum


1. Dimasak 80 86,0
2. Kadang dimasak 8 8,6
3. Tidak dimasak 5 5,4
4. Lain-lain - -

Tempat Penampungan Air Sementara


1. Bak/ Tower 93 100
2. Ember - -
3. Gentong - -
4. Lain-lain - -

Kondisi Tempat Penampungan Air


1. Tertutup 93 100
2. Terbuka - -
3. Lain-lain - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi sumber air untuk masak/ minum yang paling
banyak( Air Tanah (sumur gali, sumur pompa ) berjumlah 93 KK (100%), pengolahan air
minum yang paling banyak menjawab (Dimasak) berjumlah 80 KK (86,0%)tempat
penampungan air semnatara paling banyak menjawab (bak/tower) berjumlah 93 KK (100%),
dan kondisi tempat penampungan air paling banyak menjawab (tertutup) berjumlah 93 KK
(100%).

90
5.2.2 Tabel distribusi Kondisi Air, Sumber Air Mandi/ Mencuci, Dan Jarak Jamban Dengan Sumur
Keluarga di RT ... RW ... Kelurahan... Wilayah Kerja Puskesmas.............................. Tahun
2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kondisi Air
1. Berwarna - -
2. Berbau - -
3. Berasa - -
4. Tidak berwarna - -
5. Tidak berbau 93 100
6. Tidak berasa - -

Sumber Air Mandi / Mencuci Keluarga


1. Pdam/ Ledeng - -
2. Air Tanah (Sumur Gali, Sumur Pompa) 93 100
3. Air Sungai - -

Jarak Jamban dengan Septik Tank dengan


Sumber Air
1. ≤ 10 meter 93 100
2. > 10 meter - -

Jentik pada penampungan air atau genangan


air - -
1. Ada 93 100
2. Tidak ada
Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi kondisi air yang paling banyak menjawab tidak berwarna
tidak berbau dan tidak berasa berjumlah 93 KK (100%), sumber air mandi/ mencuci keluarga yang
paling banyak menjawab Air Tanah (Sumur Gali, Sumur Pompa berjumlah 93 KK (100%), jarak
jamban dengan septik tenk dengan sumber air yang paling banyak menjawab < 10 meter 93 KK
( 100 %) dan jentik pada penampungan air atau genangan air yang paling banyak TIDAK ADA
berjumlah 93 KK (100 %).

1.3 SISTEM PEMBUANGAN SAMPAH, AIR LIMBAH DAN KOTORAN


1.3.1 Tabel distribusi Cara Pembuangan Sampah, Keberadaan, Kondisi Dan Jarak
Penampungan Sampah Serta Cara Pembuangan Air di RT 3 RW 1 Kelurahan petuk
katimpun Wilayah Kerja Puskesmas Jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Cara Pembuangan Sampah


1. Dikumpulkan dan diangkut petugas 93 100
kebersihan - -
2. Ditimbun - -
3. Dibuat kompos - -
4. Dibakar - -
5. Dibuang keselokan/ sungai - -
6. Dibuang sembarangan

91
7. Lain-lain
Keberadaan Penampungan Sampah Sementara
1. Ada 83 89,2
2. Tidak ada 10 10,8

Kondisi Tempat Penampungan Sampah


Sementara
1. Terbuka 83 89,2
2. Tertutup 10 10,8

Jarak Tempat Penampungan Sampah


Sementara Dengan Rumah
1. < 5 meter - -
2. ≥ 5 meter 93 100

Cara Pembuangan Air Limbah / Dapur / Mandi


1. Saluran tertutup 93 100
2. Saluran terbuka - -
3. Tanpa saluran - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi cara pembuangan sampah yang paling banyak di kumpul
dan diangkut petugas kebersihan berjumlah 93 KK (100%), keberadaan penampungan sampah
semntara yang paling banyak menjawab ADA berjumlah 83 KK (100%), Kondisi Tempat
Penampungan Sampah Sementara yang paling banyak menjawab Terbuka berjumlah 83 KK
(89,2 %), Jarak Tempat Penampungan Sampah Sementara Dengan Rumah yang paling
banyak menjawab ≥ 5 meter berjumlah 93 KK (100%), dan Cara Pembuangan Air Limbah /
Dapur / Mandi yang paling banyak menjawab Saluran tertutup berjumlah 93 KK (100 %).

5.3.2 Tabel distribusi Kepemilikan Jamban di Rumah, Jenis Jamban dan Tempat Aktivitas BAB
Keluarga di RT 3 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya
Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kepemilikan jamban dirumah


1. Ada 93 100
2. Tidak ada - -

Jenis Jamban Yang Dimiliki


1. Leher angsa 93 100
2. Plengsengan - -
3. Cemplung - -

Tempat Aktivitas BAB Anggota Keluarga


1. Jamban umum - -
2. Jamban umum disungai - -
3. Lain-lain (Pribadi) 93 100

Kondisi Jamban Dari Keluarga Memiliki


Jamban 93 100
1. Bersih

92
2. Kotor - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas kepemilikan jamban di rumah yang paling banyak berjumlah 93 KK
(100%), jenis jamban yang dimiliki paling banyak Leher angsa berjumlah 93 KK (100 %), Tempat
Aktivitas BAB Anggota Keluarga Lain-lain (Pribadi) berjumlah 93 KK ( 100 %) dan Kondisi
Jamban Dari Keluarga Memiliki Jamban yang paling banyak Bersih berjumlah 93 KK (100 %).

1.4 PENGELOLAAN HEWAN TERNAK


1.4.1 Tabel distribusi Kepemilikan Hewan Ternak di Rumah, Letak Kandang dan Kondisi
Kandang di RT 3 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas Jekan raya
Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kepemilikan Hewan Ternak di Rumah


1. Ya 58 62,4
2. Tidak ada 35 27,6

Letak Kandang
1. Dalam rumah - -
2. Luar rumah 93 100

Kondisi Kandang
1. Terawat 93 100
2. Tidak Terawat - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Kepemilikan Hewan Ternak ada di Rumah berjumlah 35 KK
(100 %). Letak Kandang Luar rumah berjumlah 93 KK ( 100 %), dan Kondisi KandangTerawat
berjumlah 93 KK (100%).

6. PENYAJIAN DATA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT


6.1 Tabel distribusi Kebiasaan Merokok, Mencuci Tangan, Mandi dan Menyikat Gigi Keluarga di
RT 03 RW 1 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kebiasaan Merokok
1. Ada 42 11,7
2. Tidak ada 314 88,3

93
Kebiasaan Mencuci Tangan Sebelum Makan
1. Ya 356 100
2. Tidak ada - -

Mencuci Tangan Dengan Sabun


1. Ya 356 100
2. Tidak ada - -

Kebiasaan Mandi
1. < 2 Kali - -
2. ≥ 2 Kali 356 100

Kebiasaan Menyikat Gigi


1. < 2 Kali - -
2. ≥ 2 Kali 356 100

Jumlah Penduduk 356 100%

Berdasarkan tabel di atas Kebiasaan Merokok yang paling banyak menjawab Tidak Ada berjumlah
314 penduduk (88,3%), kebiasaan Mencuci Tangan Sebelum Makan yang paling banyak
menjawab Ya berjumlah 356 KK (100 %), Mencuci Tangan Dengan Sabun yang paling banyak
menjawab Ya berjumlah 356 KK (100 %), Kebiasaan Mandi yang paling banyak menjawab ≥ 2
Kali berjumlah 356 KK (100 %), dan Kebiasaan Menyikat Gigi yang paling banyak menjawab ≥ 2
Kali berjumlah 356 KK (100 %).
\

6.2 Tabel distribusi Kebiasaan Sarapan Pagi, Berolah Raga, Jenis Kegiatan Olah Raga dan
Kebiasaan Mengunjungi Tempat Rekreasi Keluarga di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk
katimpun Wilayah Kerja Puskesmas.............................. Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kebiasaan Sarapan Pagi


1. Ya 200 56,2
2. Kadang-kadang 156 43,8
3. Tidak ada - -

Kebiasaan Berolah Raga


1. Ya 150 42,1
2. Tidak ada 206 57,9

Jenis Kegiatan Olah Raga yang dilakukan


Keluarga .
1. Volly Ball 65 18,3
2. Sepak Bola 80 22,5
3. Senam 31 8,7
4. Badminton 30 8,4
5. Lari Pagi - -
6. Lain-lain 150 42,1

Kebiasaan Mengunjungi Tempat Rekreasi


1. Ya - -
2. Tidak ada

94
- -

Cara pengolahan sayur sebelum di masak


a. Dipotong baru di cuci 60 16,9
b. Dicuci baru di potong 33 9,3

Cara keluarga menyajikan makanan


a. Tertutup 93
b. Terbuka - -

Kebiasaan keluarga menggantung pakaian?


a. Ada 93 100
b. Tidak ada - -

Jumlah Penduduk 356 100%

Berdasarkan tabel di atas Kebiasaan Sarapan Pagi yang paling banyak ya berjumlah 200 KK 93
( 56,2%), Kebiasaan Berolah Raga yang paling banyak tidak ada berjumlah 206 KK 93 (57,9%),
Jenis Kegiatan Olah Raga yang dilakukan Keluargayang paling banyak lain – lain berjumlah 150
KK 93 (42,1 %), Kebiasaan Mengunjungi Tempat Rekreasi yang paling banyak tidak ada
berjumlah - KK 93 (- %), Cara pengolahan sayur sebelum di masak yang paling banyak di
potong baru di cuci berjumlah 60 KK (16,9 %), Cara keluarga menyajikan makanan yang paling
banyak tertutup berjumlah 93 KK (100 %), dan Kebiasaan keluarga menggantung pakaian yang
paling banyak ada berjumlah 93 KK (100 %).

7. EPIDEMIOLOGI
7.1 Tabel distribusi Penyakit Yang Pernah Diderita Keluarga Dalam Tiga Bulan Terakhir,
Anggota Keluarga yang Meninggal, Jenis Kelamin Keluarga yang Meninggal, Tindakan yang
dilakukan jika ada keluarg sakit, Tempat Pelayanan Kesehatan yang diKunjungi jika
Keluarga Sakit, Sumber Pendanaan di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah
Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Penyakit diderita dalam tiga bulan terakhir


1. Hipertensi 4 4,3
2. Kolestrol 4 4,3
3. Maag 6 6,5
4. Asam urat 2 2,2
5. Jantung 1 1,1
6. Diabetes melintus 2 2,2

Anggota Keluarga yang Meninggal


1. Ada - -
2. Tidak ada - -

Jenis Kelamin Keluarga yang Meninggal


1. Laki-laki - -
2. Perempuan - -

Tindakan yang dilakukan jika ada keluarga


yang sakit

95
1. Berobat dengan mendatangi tempat 60 64,5
pelayanan kesehatan
2. Mengobati sendiri dengan membeli obat di 20 21,5
apotik / toko obat
3. Membiarkan sembuh sendiri 13 14,0

Tempat Pelayanan Kesehatan Yang Sering


Dikunjungi Jika Ada Keluarga Yang Sakit
1. Rumah Sakit 10 10,7
2. Puskesmas 68 73,1
3. Posyandu - -
4. Pustu 15 16,2
5. Lain-lain - -

Sumber Pendanaan Kesehatan Keluarga .


1. ASKES/ASTEK - -
2. Dana sehat 73 78,5
3. Jamkesmas - -
4. Umum 20 21,5
5. Lain-lain - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Penyakit diderita dalam tiga bulan terakhir
hipertensi,kolestrol,mag, asam urat, jantung & diabetes melintus berjumlah 19 orang (20,6 %),
Anggota Keluarga yang Meninggal yang paling banyak tidak ada berjumlah 0 KK ( 0%), Jenis
Kelamin Keluarga yang Meninggal yang paling banyak tidak ada berjumlah 0 orang (0%),
Tindakan yang dilakukan jika ada keluarga yang sakit yang paling banyak berobat dengan
mendatangi tempat pelayanan kesehatan berjumlah 60 KK (64,5 %), Tempat Pelayanan
Kesehatan Yang Sering Dikunjungi Jika Ada Keluarga Yang Sakit yang paling banyak
puskesmas berjumlah 68 KK (73,1%), dan Sumber Pendanaan Kesehatan Keluarga yang
paling banyak dana sehat berjumlah 73 KK (78,5 %).

8. GIZI KELUARGA
8.1 Tabel distribusi Lansia Berdasarkan Jenis Makanan Pokok, Kebiasaan Makan, Kualitas
Makan, Pola Minum, dan Banyaknya Jenis Lauk Pauk yang dikonsumsi Keluarga di RT 03
RW 01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Jenis Makanan Pokok


1. Beras 93 100
2. Umbi-umbian - -
3. Lain-lain - -

Kebiasaan Makan
1. < 3 Kali 5 5,4
2. 3 Kali 48 51,6
3. ≥ 3 Kali 40 43,0

96
Kualitas Makan Keluarga
1. Baik 93 100
2. Kurang - -

Pola Minum Keluarga


1. Cukup 93 100
2. Kurang - -

Banyaknya Jenis Lauk Pauk


1. Satu Macam - -
2. Dua Macam - -
3. Tiga Macam 93 100

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Jenis Makanan Pokok yang paling banyak beras/nasi
berjumlah 93 KK ( 100%), Kebiasaan Makan yang paling banyak 3 kali berjumlah 48 KK
(51,6 %), Kualitas Makan Keluarga yang paling banyak baik berjumlah 93 KK (100 %), pola
minum keluarga yang paling banyak cukup berjumlah 93 KK (100 %). Dan banyaknya jenis
lauk pauk yang paling banyak menjawab satu macam berjumlah 3 macam 93 KK (100 %).

8.2 Tabel distribusi Kebiasaan Makan Buah-buahan, Penggunaan Garam Yodium dan Ada
Tidaknya Pantangan Makan Keluarga di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk ketimpun Wilayah
Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Kebiasaan Makan Buah-buahan dalam Sehari


1. Hampir tiap hari/ sering 93 100
2. Kadang-kadang - -
3. Tidak pernah - -

Penggunaan Garam Yodium


1. Ya 93 100
2. Tidak - -

Pantang Makan
1. Ada 19 20,4
2. Tidak ada 74 79,6

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Kebiasaan Makan Buah-buahan dalam Sehari yang paling
banyak hampir setiap hari berjumlah 93 KK (100%), Penggunaan Garam Yodium yang
paling banyak ya berjulah 93 KK (100 %), pantangan makanan yang paling banya tidak ada
berjumlah 74 KK (100 %).

9. KEGIATAN DI MASYARAKAT
9.1 Tabel Disribusi Kegiatan Keluarga di Masyarakat dan Kegiatan Keagamaan di RT 03 RW 01
Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

97
Kegiatan Keluarga di Masyarakat
1. PKK 45 12,6
2. Arisan 35 9,8
3. Pengajian/Kebaktian 196 55,1
4. Lain-lain 80 22,5

Mengikuti Kegiatan Keagamaan


1. Aktif 228 64,0
2. Tidak aktif 128 36,0

100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Kegiatan Keluarga di Masyarakat yang paling banyak
mengikuti kegiatan pengajian/kebaktian berjumlah 196 penduduk ( 55,1 %), dan mengikuti
kegiatan keagamaan yang paling banyak aktif berjumlah 228 penduduk (64,0 %).

9.2 Tabel distribusi Sumber Penyuluhan Kesehatan Selain dari Petugas Kesehatan, dan Tempat
Penyuluhan Kesehatan di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk katimpun Wilayah Kerja
Puskesmas jekan raya Tahun 2022

Karakteristik Jumlah Persentase


(%)

Sumber Penyuluhan Kesehatan Selain Petugas


Kesehatan
1. Koran/ Majalah 18 19,4
2. Radio/TV/Film 37 39,8
3. Kader 38 40,8
4. Tokoh Masyarakat - -
5. Lain-lain - -

Tempat Penyuluhan Kesehatan


1. Rumah
2. Tempat Umum 2 2,2
3. Kantor Desa/lurah 91 97,8
4. Posyandu - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Sumber Penyuluhan Kesehatan Selain Petugas


Kesehatan yang paling banyak kader KK38 (40,8 %) , dan Tempat Penyuluhan Kesehatan
yang paling banyak kantor desa/lurah KK 91 (97,8 %)

9.3 Tabel distribusi Pemahaman Keluarga Terhadap Penyuluhan Keshatan dan Pandangan
Keluarga Terhadap Penyuluhan Kesehatan di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk katimpun
Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Sumber Penyuluhan Kesehatan Selain Petugas


Kesehatan

98
1. Koran/ Majalah .
2. Radio/TV/Film 18 19,3
3. Kader 37 39,8
4. Tokoh Masyarakat 38 40,9
5. Lain-lain - -
- -

Tempat Penyuluhan Kesehatan


1. Rumah 2 2,2
2. Tempat Umum - -
3. Kantor Desa/lurah 91 97,8
4. Posyandu - -

Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas distribusi Sumber Penyuluhan Kesehatan Selain Petugas


Kesehatan yang paling banyak menjawab 75 berjumlah 93 KK (100%) , dan Tempat
Penyuluhan Kesehatan yang paling banyak menjawab di 91 berjumlah 93 KK (100%).

9.4 Tabel distribusi Pemahaman Keluarga Terhadap Penyuluhan Kesehatan dan Pandangan
Keluarga Terhdap Penyuluhan Kesehatan di RT 03 RW 01 Kelurahan petuk ketimpun
Wilayah Kerja Puskesmas jekan raya Tahun 2022
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)

Pemahaman Keluarga Terhadap Penyuluhan


Kesehatan
1. Mudah dipahami 93 100%
2. Cukup dipahami
3. Sulit dipahami

Pandangan Keluarga Terhadap Pelayanan


Kesehatan yang Pernah Diberikan 93 100%
1. Sebagai Tempat meminta bantuan dalam
memecahkan masalah-masalah kesehatan
keluarga
2. Sebagai institusi yang bertanggung jawab atas - -
kesehatan keluarga dan masyarakat
3. Sebagai patner dalam upaya menyehatkan - -
keluarga
- -
4. Lain-lain
Jumlah KK 93 100%

Berdasarkan tabel di atas Pemahaman Keluarga Terhadap Penyuluhan Kesehatan yang


paling banyak menjawab 93 berjumlah 93 KK (100%), dan Pandangan Keluarga Terhadap
Pelayanan Kesehatan yang Pernah Diberikan yang paling banyak menjawab 93 berjumlah
93 KK (100%)

99
PENYAJIAN DATA KESEHATAN IBU DAN ANAK
10.1 PUS
10.1 Tabel Distribusi Umur Wanita Usia Subur (WUS) Berdasarkan PUS Dan Akseptor
KB di RT 03
No Karakteristik Umur Jumlah Persentase
(tahun)
(%)

1 Wanita Usia Subur (WUS)


Ya 80 80 100

Tidak - - -

2 Pasangan Usia Subur (PUS)


Ya 122

Tidak 15

3 PUS termasuk Akseptor KB


Ya 122

Tidak 30

4 Yang Ikut KB
Bapak 1

Ibu 121

5 Alasan tidak ber KB


Ragu-ragu 1

Tidak dijinkan 2

Ingin punya anak 16

Lain-lain -

122

Berdasarkan tabel di atasmenunjukan Distribusi Umur Wanita Usia Subur (WUS)


berjumlah 80 orang ,yang termasuk pasangan usia subur (PUS) 122 orang dan yang tidak
berjumlah orang, PUS termasuk akseptor KB berjumlah 61 orang dan yang tidak
berjumlah 15 orang yang ikut KB Ibu berjumlah 61 orang, alasan tidak ber KB yang
terbanyak adalah termasuk dalam lain-lain berjumlah 19 orang dan yang paling sedikit
tidak diijinkan berjumlah 3 orang.
100
10.2Tabel Distribusi Akseptor KB Berdasarkan Jenis Alat KB, lama penggunaan
dan keluhandi RT 03
No Jenis Alat KB Akseptor KB Juml Persent
ah ase
Pria Wanita
(%)
1 Alat KB Pria
a. Kondom 1 1 1,0
b. MOP
c. Lain-lain
2 Alat KB Wanita
a. IUD - - -
b. PIL 1 1 1,0
c. Suntik 60 60 100
d. Susuk - - -
e. MOW - - -
f. Tradisional - - -
g. Lain-lain - - -
3 Lama penggunaan KB
pria
a. Lama penggunaan - - -
kondom
b. Lama - - -
penggunaanMOP
c. Lain........ - - -
4 Lama penggunaan KB
wanita
a. Lama penggunaan - - -
IUD
b. Lama penggunaan - - -
PIL
c. Lama penggunaan - - -
suntik
d. Lama penggunaan - - -
susuk
e. Lama penggunaan - - -
MOW - - -
f. Lama penggunaan
tradisional - - -
g. Lain..... - - -
Keluhan penggunaan
KB
- - -
a. Ya

101
b. Tidak Tidak - -
Keluhanya Tidak - -
ada
Jumlah Akseptor 122 100%
Berdasarkan tabel di atas alat KB wanita yang terbanyak adalah ………….

10.2 IBU HAMIL


10.2.1 Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Kelompok Umur, Tinggi
Badan, Status Gizi dan LILA (Lingkar Lengan Atas) di Kelurahan petuk katimpun
Tahun 2022
No Karakteristik Jumlah Persentase
(%)
1 Kelompok Umur
(Tahun)
a. < 20 Tahun - -
b. 20-24 Tahun 2 66,7
c. 25-29 Tahun - -
d. 30-34 Tahun 1 33,3
e. ≥ 35 Tahun - -
2 Tinggi Badan (Cm)
a. < 145, 0 - -
b. ≥ 145, 0 3 100
3 Status Gizi - -
a. Lebih - -
b. Cukup 3 100
c. Kurang - -
4 LILA (Cm) - -
a. ≤ 23,5 - -
b. >23,5 3 100
Jumlah KK 93
Berdasarkan tabel di atas Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Kelompok
Umur 20-24 Tahun sebanyak 2 orang, Tinggi Badan ≥ 145, 0 sebanyak 3 orang , Status
Gizi cukup sebanyak 3 orang dan LILA (Lingkar Lengan Atas) >23,5 sebanyak 3 orang.

10.2.2 Tabel Distribusi Ibu Hamil Berdasarkan Kelompok Umur dan Urutan Kehamilan
di Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Urutan Kehamilan Jumlah Persentas

102
e
(%)
Trimester Trimester Trimester
I II III
1 Kelompok
Umur (Tahun)
a. < 20 - - - - -
b. 20-24 1 1 - 2 66,7
c. 25-29 - - - - -
d. 30-34 - - 1 1 33,3
e. ≥ 35 - - - - -

Jumlah Bumil 1 1 1 3
100
Berdasarkan tabel di atas

10.2.3 Tabel Distribusi Ibu Hamil Berdasarkan Kelompok Umur dan Urutan Kehamilan
Di Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Urutan Kehamilan Jumlah Persentas
e
Hamil Hamil Hamil
(%)
anak ke- anak ke 2 anak ke ≥4
1 atau 3
1 Kelompok
Umur
(Tahun)
a. < 20 - - - - -
b. 20-24 1 1 - 2 100
c. 25-29 - - - - -
d. 30-34 - 1 - 1 100
e. ≥ 35 - - - - -

Jumlah 1 2 - 3 100
Bumil
Berdasarkan tabel di atas

10.2.4Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Kepemilikan Buku KIA,


Membaca Buku KIA, Frekwensi Pemeriksaan Kehamilan, Tempat dan Tenaga yang
Melakukan Pemeriksaan Kehamilan di Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur Kehamilan Jumlah Persentas

103
TM I TM II TM III e
(%)
1 Kepemilikan Buku
KIA
a. Ya 1 1 1 3
b. Tidak - - - - 3,2
-
2 Membaca Buku
KIA
a. Pernah - - 1 1
b. Tidak Pernah 1 1 - 2 1,0
2,1
3 Frekwensi
Pemeriksaan
Kehamilan
a. < 4 Kali - 1 1 2
b. ≥ 4 Kali - - - -
2,1
-
4 Tempat
Pemeriksaan
Kehamilan
a. Rumah Sakit - - - -
b. Praktek Swasta - 1 - 1
- - 1 1 -
c. Puskesmas
d. Polindes - - - - 1,0
e. Pustu - - - -
f. Posyandu - - - - 1,0
g. Lain-lain 1 - - 1 -
-
-
1,0
5 Tenaga Yang
Memeriksakan
Kehamilan
a. Dokter 1 - - 1
b. Bidan - 1 1 2
- - - - 1,0
c. Perawat
d. Dukun bayi - - - - 2,1
e. Lain-lain - - - -
-

104
-
-

Jumlah Bumil 1 1 1 3 100


Berdasarkan tabel di atas

10.2.5Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Pemberian Tablet Fe, Tempat
dan Tenaga yang Memberikan Tablet Fe serta Manfaat Tablet Fe di Kelurahan petuk
katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur Kehamilan Jumlah Persentase
(%)
TM I TM II TM
III
1 Mendapatkan Tablet
Fe
a. Pernah - 1 1 2 2,1
b. Tidak Pernah 1 - - 1 1,0
2 Tempat mendapat
tablet fe
a. Rumah Sakit - - - - -
b. Praktek Swasta - 1 - 1 1,0
c. Puskesmas - - 1 1 1,0
d. Polindes - - - - -
e. Pustu - - - - -
f. Posyandu - - - - -
g. Lain-lain - - - - -

3 Tenaga Yang
Memberikan Tablet
Fe
a. Dokter - - - -
b. Bidan 1 1 - 2,1
c. Perawat - - 2 -
d. Dukun bayi - - - -
e. Lain-lain - - - -

5 Manfaat Tablet Fe
a. Ya 1 1 2 2,1
b. Tidak

105
- - - -
Jumlah Bumil 3
Berdasarkan tabel di atas

10.2.6Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Mendapatkan Imunisasi TT,


Tempat dan Tenaga yang Mendapat Imunisasi TT di Kelurahan petuk katimpun
Tahun 2022
No Karakteristik Umur Kehamilan Jumlah Persentas
e
TM I TM II TM
(%)
III
1 Mendapatkan Imunisasi
TT
a. Pernah 1 1 2 2,1
b. Tidak Pernah - - - -

2 Berapa kali
a. 1 kali 1 - 1 1,0
b. 2 kali - 1 1 1,0
c. > 2 kali - - - -

3 Tempat mendapat
Imunisasi TT
a. Rumah Sakit - - - -
b. Praktek Swasta 1 - 1 1,0
c. Puskesmas - 1 1 1,0
d. Polindes - - - -
e. Pustu - - - -
f. Posyandu - - - -
g. Lain-lain - - - -

4 Tenaga Yang
Memberikan Imunisasi
TT
a. Dokter - - - -
b. Bidan 1 1 2 2,1

106
c. Perawat - - - -
d. Lain-lain - - - -
Jumlah Bumil 3
Berdasarkan tabel di atas

10.2.7Tabel Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Keluhan Kehamilan, Jenis


Keluhan, Pantangan Makan dan Rencana Penolong Persalinan di Kelurahan petuk
katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur Kehamilan Jumlah Persent
ase
TM I TM II TM
(%)
III
1 Keluhan Kehamilan
a. Ada 1 1 3 100
b. Tidak ada 1

2 Jenis Keluhan Ibu Mual Mudah


(Jika ada keluhan muntah lelah - - -
dalam kehamilan)

3 Pantangan Makanan
a. Ada
b. Tidak ada - - - - -

4 Rencana Melahirkan
a. Dokter
b. Bidan 1 1 1 3 3,2
c. Perawat
d. Dukun bayi
Jumlah Bumil
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Kehamilan Ibu Berdasarkan Keluhan
Kehamilan TM I sebanyak 1 orang,TM II sebanyak 1,TM III sebanyak 1 , Jenis
Keluhan TM I Mual Muntah dan TM II Mudah Lelah, Pantangan Makan (tidak ada)
dan Rencana Penolong Persalinan (Bidan) sebanyak 3 orang.

10.3 IBU NIFAS


10.3.1 Tabel Distribusi Umur Ibu Nifas Berdasarkan Tempat Persalinan dan Tenaga
Penolong Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur (Tahun) Jlh Persent
ase
< 20- 25- 30- ≥ 35
(%)
20 24 29 34

107
1 Tempat
Persalinan
a. Rumah - - - - - - -
Sakit
b. Praktek - - - - - - -
Swasta
c. Puskesmas - - - - - - -
d. Polindes - - - - - - -
e. Pustu - - - - - - -
f. Rumah - - - - - - -
2 Tenaga
Penolong
Persalinan
a. Dokter - - - - - - -
b. Bidan - - - - - - -
c. Perawat - - - - - - -
d. Dukun bayi - - - - - - -
Jumlah Bufas 100%

Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Ibu Nifas Berdasarkan Tempat Persalinan dan
Tenaga Penolong Persalinan (Tidak Ada).

10.3.2Tabel Distribusi Umur Ibu Nifas Berdasarkan Ada Tidaknya Kesulitan


Persalinan, Kelahiran Bayi Cukup Bulan, Pemberian Kapsul Vitamin A,
Manfaat Kapsul Vitamin A, Penimbangan danPengukuran Berat Badan Bayi
di petuk katimpun Kelurahan jekan raya Tahun 2022
No Karakteristik Umur (Tahun) Jlh Persent
ase
< 20- 25- 30- ≥
(%)
20 24 29 34 35
1 Kesulitan
Persalinan - - - - - - -
a. Ada
b. Tidak ada
2 Kesulitannya - - - - - - -

3 Kelahiran bayi
a. Cukup Bulan - - - - - - -
b. Prematur
4 Pemberian
Kapsul Vitamin

108
A - - - - - - -
a. Ya
b. Tidak
5 Manfaat Kapsul
Vitamin A - - - - - - -
a. Ya
b. Tidak
6 Bayi lahir
ditimbang dan
diukur - - - - - - -
a. Ya
b. Tidak
7 Berat badan
waktu lahir - - - - - - -
a. BBLR
b. Tidak BBLR
8 Jumlah Bufas 100%

Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Ibu Nifas

10.3.3 Tabel Distribusi Umur Ibu Nifas Berdasarkan Ada Tidaknya Kesulitan
Persalinan, Kelahiran Bayi Cukup Bulan, Pemberian Kapsul Vitamin A,
Manfaat Kapsul Vitamin A, Penimbangan dan Pengukuran Berat Badan Bayi
di RT 03
N Karakteristik Umur (Tahun) Jlh Persent
o ase
< 20- 25- 30- ≥
(%)
20 24 29 34 35
1 Informasi Perawatan
pada Masa Nifas - - - - - - -
a. Ya
b. Tidak
2 Informasi yang
didapat
a. Kebersihan diri
b. Perawatan alat - - - - - - -
kelamin
c. Perawatan tali
pusat
d. Perawatan
payudara
e. Cara memandikan
bayi
Jumlah Bufas 100%
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Ibu Nifas Berdasarkan Ada
109
10.4 IBU MENYUSUI
10.4.1 Tabel Distribusi Umur Ibu Menyusui Berdasarkan Mendapatkan Informasi
tentang Cara Pemberian ASI, Jenis Informasi yang Didapatkan dan Pernah
Memberikan Kolostrom / Susu Pertama kali keluar pada bayi di RT 03
N Karakteristik Umur (Tahun) Jlh Persent
o ase
< 20- 25- 30- ≥
(%)
20 24 29 34 35
1 Informasi
Tentang Cara
Pemberian ASI
a. Ya - 1 - - - 1 1,0
b. Tidak - - - - - - -
2 Informasi yang
didapat
a. Perawatan - - - - -
Payudara
b. Manfaat ASI - 1 - - - 1 1,0
c. Teknik - - - - -
Menyusui
3 Pernah
memberikan
kolostrum saat
pertama kali
keluar pada bayi
segera
melahirkan
1 1 1,0
a. Ya
- -
b. Tidak
4 Sampai usia
berapa anak
diberika ASI
ekslusif
a. 1 bulan - - - -
b. 2 bulan - - - -
c. 3 bulan 1 - - - 1 1,0
d. 4 bulan - - - -
e. 5 bulan - - - -
f. 6 bulan - - - -

Jumlah Ibu 100%


Menyusui
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Ibu Menyusui

110
10.5 BAYI (< 1 TAHUN )
10.5.1Tabel Distribusi Umur Bayi Berdasarkan Pemberian Vitamin A,
Pengetahuan Tentang Manfaat Kapsul Vitamin A, Pemberian ASI Sejak Bayi
Lahir, Pemberian MP-ASI dan Umur Pemberian MP-ASI di RT 03
N Karakteristik Umur (Bulan) Jumla Persent
o h ase
0-3 4-5 6-7 8-9 10-
(%)
11
1 Pemberian Vitamin
A
1 4 100
a. Ya 1 1 1 -
b. Tidak ada - - - -
-
-

2 Manfaat Vitamin
A untuk Bayi - - -
1 1 4
a. Tahu 1 - 100
1
b. Tidak Tahu - - - -
-
- -

3 Pemberian ASI
Sejak Bayi Lahir
4
a. Ya 1 1 - 1 100
b. Tidak - 1 - - -

4 Lama Menyusui
Bayi
4
a. < 6 Bulan 1 1 - 100
b. ≥ 6 Bulan - - 1 - 1

- -

5 Pemberian MP-
ASI
4
a. Ya 1 - 100
b. Tidak - 1 1 - 1

- - -

6 Umur Pemberian
MP-ASI
4
a. < 4 Bulan 1 - 100
b. 4-6 Bulan - 1 1 - 1
c. > 6 Bulan - -
- - -

- - -

111
Jumlah Bayi 100%

Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Bayi Berdasarkan Pemberian Vitamin


A

10.5.2 Tabel Distribusi Umur Bayi Berdasarkan Pemberian Vitamin A, Pengetahuan


TentangManfaat Kapsul Vitamin A, Pemberian ASI Sejak Bayi Lahir,
Pemberian MP-ASI dan Umur Pemberian MP-ASI diRT ……………..
No Karakteristik Umur (Bulan) Jlh Persent
ase
0-3 4-5 6-7 8-9 10-
(%)
11
1 Pemberian
Imunisasi
a. Pernah - 1 3 100
b. Tidak pernah - 1 1 - -

- - -

2 Imunisasi yang
pernah didapat
a. Lengkap 1 4 100
b. Tidak 1 1 1 -
Lengkap

3 Tempat Imunisasi
Bayi
a. Rumah Sakit
b. Puskesmas 1 1 1 - 1 4 100
c. Polindes -
d. Pustu - - - - -
e. Posyandu - - - - -
f. Lainnya -
- - - -

- - - -

112
- - - -

Jumlah Bayi 100%


Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Bayi
10.5.3 Tabel Distribusi Umur Bayi Berdasarkan Penimbangan Bayi, Tempat
Penimbangan Bayi dan Status Gizi di RT 03
No Karakteristik Umur (Bulan) Jlh Persent
ase
0-3 4-5 6-7 8-9 10-
(%)
11
1 Penimbangan Bayi
a. Pernah 1 - 4 100
1 1 1
b. Tidak pernah
2 Tempat
Penimbangan Bayi
a. Rumah Sakit
b. Puskesmas
c. Polindes
d. Pustu 1 1 - 1 4 100
e. Posyandu 1 - 1 100
- - -
f. Lainnya
3 Status Gizi
a. Lebih - -
- - -
b. Baik 1 - 4 100
c. Kurang - 1 1 - 1
d. Buruk - -
- - -

- - -

Jumlah Bayi 100%


Berdasarkan tabel di atasDistribusi Umur Bayi

10.5.4Tabel Distribusi Umur Bayi Berdasarkan Tempat Pelayanan Kesehatan Jika


Bayi Sakit, dan Tenaga yang Memberikan Pelayanan Kesehatan di RT 03
No Karakteristik Umur (Bulan) Jlh Persent
ase
0-3 4-5 6-7 8-9 10-
(%)
11
1 Tempat Pelayanan
Jika Bayi Sakit
a. Rumah Sakit - - - -
b. Puskesmas 1 1 1 - 1 4 100
c. Polindes - - - -
d. Pustu -
- - - -

113
e. Posyandu - - - - -
f. Lainnya - - - -
-

2 Tenaga yang
Memberikan
Pelayanan
Kesehatan -
a. Dokter
1 1 1 1 1 5 100
b. Bidan
c. Perawat -
d. Dukun Bayi -
e. Lain-lain -
Jumlah Bayi 100%
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Bayi ………..

10.6 BALITA (12-59 BULAN)


10.6.1Tabel Distribusi Umur Balita Berdasarkan Kepemilikan Buku KIA/KMS,
Penimbangan yang Dilakukan, Tempat dan Frekwensi Penimbangan
serta Status Gizidi RT 03
No Karakteristik Umur Jumla Persentas
(Bulan) h e
(%)
12- 36-
35 59
1 Kepemilikan Buku
KIA/KMS 13 13 26 100
a. Ya
b. Tidak
2 Melakukan Penimbangan
a. Ya 13 13 26 100
b. Tidak
3 Tempat Balita ditimbang
a. Rumah Sakit
b. Puskesmas 13 13 26 100
c. Polindes
d. Pustu
e. Posyandu
4 Frekwensi Penimbangan
a. 12... Kali
b. 3-5.. Kali 13 13 26 100
c. 2... Kali
5 Status Gizi
a. Lebih

114
b. Baik 13 13 26 100
c. Kurang
d. Buruk
Jumlah Balita 100%
Berdasarkan tabel di atasDistribusi Umur Balita

Tabel Distribusi Umur Balita Berdasarkan Mendapat kapsul Vitamin A, Manfaat


Vitamin A, Pernah Tidaknya Imunisasi dan Lengkap Tidaknya Imunisasi di
RT 03/ RW 01 Kelurahan petuk katimpun Tahun 2022
No Karakteristik Umur Jumlah Persentase
(Bulan) (%)
12- 36-
35 60
1 Mendapat Kapsul Vitamin A
a. Ya 5 7 12
63,2
b. Tidak 7
5 2
36,8

2 Manfaat Kapsul Vitamin A


a. Ya 63,2
5 7 12
36,8
b. Tidak 5 2 7

3 Pernah Diimunisasi
a. Ya 5 7 12 63,2
b. Tidak 5 2 36,8
7

4 Lengkap Imunisasi dari yang


Pernah diimunisasi
a. Lengkap 5 7 63,2
b. Tidak Lengkap 5 2 12 36,8

7
Jumlah Balita 19 19 19 100%
Berdasarkan tabel Distribusi Umur Balita Berdasarkan Mendapat kapsul Vitamin
A (Ya) Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%), Manfaat
Vitamin A (Ya) Umur (bulan) 12-35 sebanyak 5 dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%),
Pernah Tidaknya Imunisasi (Ya) Umur (bulan) 12-3 sebanyak 5 dan 36-60
sebanyak 7 orang (63,2%), dan Lengkap Tidaknya Imunisasi (Ya) Umur (bulan) 12-35
sebanyak 5 dan 36-60 sebanyak 7 orang (63,2%).

10.7 ANAK PRA SEKOLAH DAN USIA SEKOLAH (5-12 Tahun)

115
10.7.1Tabel Distribusi Umur Anak Berdasarkan Frekwensi Anak Mandi,
Menggosok Gigi, Mencuci Rambut dan Ganti Baju di RT 03
No Karakteristik Umur (Tahun) Jumlah Persentase
(%)
5-8 9-12
1 Frekwensi Anak
Mandi 26 100
10 16
a. ≤ 2 Kali/hari
b. > 2 Kali/hari
2 Frekwensi Anak
Menggosok Gigi 26 100
10 16
a. ≤ 2 Kali/hari
b. > 2 Kali/hari
3 Frekwensi Mencuci
Rambut
10 16 26 100
a. ≤ 2 Kali/minggu
b. > 2 Kali/minggu
4 Frekwensi Ganti Baju
a. < 3 Kali/hari 26 100
10 10
b. ≥ 3 Kali/hari
Jumlah Anak 26 26 26 100%
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Anak Berdasarkan Frekwensi Anak Mandi ≤ 2
Kali/hari umur 5-8 tahun 10 dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%), > 2 Kali/hari umur
5-8 tahun 10 orang dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%). Frekwensi Anak Menggosok
Gigi ≤ 2 Kali/hari umur 5-8 tahun 10 dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%), > 2
Kali/hari umur 5-8 tahun 10 orang dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%). Frekwensi
Ganti Baju < 3 Kali/hari umur 5-8 tahun 10 dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%), ≥ 3
Kali/hari umur 5-8 tahun 10 dan umur 9-12 tahun 16 orang (100%),

10.7.2 Tabel Distribusi Umur Anak Prasekolah dan Usia Sekolah Berdasarkan BAK
dalam sehari, Kondisi Gigi Anak Saat Ini, Mencuci Tangan Sebelum dan
Sesudah Makan dan Mencuci Tangan Menggunakan Sabun di RT 03
No Karakteristik Umur Jumlah Persentase
(Tahun) (%)
5-8 9-12
1 BAK dalam Sehari
a. Selalu di kamar mandi 10 16 26
100
b. Disembarang tempat
c. Lain-lain
2 Kondisi Gigi Anak Saat ini
a. Bersih dan sehat 26 100
23 3
b. Berlubang dan hitam
c. Bengkak dan berdarah
3 Mencuci tangan sebelum dan

116
sesudah Makan 10 16 26 100
a. Pernah
b. Tidak Pernah
4 Mencuci tangan menggunakan
sabun 100
10 16 26
a. Ya
b. Tidak
5 Bermain menggunakan alas
kaki 100
10 16 26
a. Ya
b. Tidak
6 Kondisi anak saat 3 bulan
terakhir 100
10 16 26
a. Sehat
b. Sakit
Jumlah Anak 26 26 26 100%
Berdasarkan tabel di atas Distribusi Umur Anak Prasekolah dan Usia Sekolah Berdasarkan
BAK dalam sehari (selalu didalam kamar mandi) umur 5-8 tahun yaitu 10 orang (38,5%)
dan umur 9-12 tahun 16 orang (61,5%) , Kondisi Gigi Anak Saat Ini umur 5-8 tahun 23
orang (88,5%) dan 9-12 tahun 16 orang (11,5%) , Mencuci Tangan Sebelum dan Sesudah
Makan dan Mencuci Tangan Menggunakan Sabun umur 5-8 tahun 10 orang (38,5%) dan
umur 9-12 tahun 16 orang ( 61,5%), Bermain menggunakan alas kaki umur 5-8 tahun 10
orang ( 38,5%) dan 9-12 tahun 16 orang (61,5%). Umur Kondisi anak saat 3 bulan
terakhir umur 5-8 tahun 10 orang (38,5%) dan umur 9-12 tahun 16 orang ( 61,5%).

10.8 REMAJA (13-20 TAHUN)


10.8.1 Tabel distribusi Remaja Berdasarkan Kegiatan yang Aktif Diikuti,
Kebiasaan Merokok, Minum Alkohol, Narkoba di RT 03
Karakteristik Umur (Tahun) Jumlah Persentase
(%)
13- 15- 17- 19-
14 16 18 20
Mengikuti
Kegiatan di Luar
Sekolah
1. Aktif 4 4 15,4
2. Tidak Aktif 6
3 8 5 22 84,6

Kebiasaan
Merokok
1. Ya
2. Tidak 26 26 26 26 26 100

Kebiasaan Minum
Alkohol

117
1. Ya
2. Tidak 26 26 26 100

26 26

Menggunakan
Narkoba
1. Ya
2. Tidak 26 26 26 26 26 100
Jumlah Remaja 26 26 26 26 26 100%
Berdasarkan tabel di atas Remaja Berdasarkan Kegiatan yang Aktif Diikuti
diluar sekolah (Aktif) 4 orang (15,4%) dan (tidak aktif) 22 orang (84%), Kebiasaan
Merokok (tidak) 26 orang (100%) , Minum Alkohol (tidak) 26 orang (100%),
Narkoba (tidak) 26 orang (100%) terkumpul dari semua umur.

10.9 DEWASA
10.9.1 Tabel distribusi Remaja Berdasarkan Kegiatan yang diikuti, kondisi saat ini
di RT 03
Karakteristik Pria Wanita Jumlah Persentase
(%)
Kegiatan yang dilakukan
setelah lulus sekolah?
18
a. bekerja. 30
12 90
b. Tidak bekerja
c. Tidak bekerja (usia 31 121
bayi,balita dan anak
prasekolah

Kondisi saat ini?


- 100
a. Sehat - 356
-
b. Sakit - -

Bila sakit, apa yang


dikeluhkan/diagnosa

118
medisnya? - - -
a. .................................. -
b. ...............................
c. ................................
Jumlah Remaja 356 100%
Berdasarkan tabel di atas Kegiatan

10.1 LANSIA (≥ 60 TAHUN)


10.10.1 Tabel distribusi Lansia Berdasarkan Penyakit yang Diderita, Jenis Penyakit
dan Penanganan Penyakit di RT 03
Karakteristik Jumlah Persentase
(%)
Penyakit yang diderita
1. Ada
23 100
2. Tidak Ada - -

Jenis Penyakit
1. Hipertensi 12 52,2
2. Kolestrol 6 26,1
3. Maag 6 26,1
4. Jantung 2 8,7
5. DM 5 21,7
6. Asam Urat 5 21,7

Penggunaan Waktu Senggang Lansia di


Rumah
1. Berkebun -
2. Rekreasi -
3. Senam -
4. Lain-lain 23 100

Penanganan Penyakit
11 Sarana Medis 23 100
12 Non Medis -
13 Diobati sendiri -

Jumlah Lansia 23 100%


Berdasarkan tabel di atas diketahui Lansia Berdasarkan Penyakit yang Diderita Tidak ada
(sehat ) 23 orang (100%). Jenis Penyakit dan banyak diderita,yaitu Hipertensi 12
orang(52,2%) ,Kolestrol 6 orang( 26,1%), Maag 6 orang (26%), Jantung 2 orang(8,7%),
DM 5 orang(21,7%) , Asam Urat 5 orang (21,7%), jumlah totalnya 23 orang (100%).
Penggunaan Waktu Senggang Lansia di Rumah (lain-lain) sebanyak 23 orang dam
Penanganan Penyakit saranan medis sebanyak 23 orang (100%).

119
10.10.2 Tabel distribusi Lansia Berdasarkan Keberadaan Posyandu Lansia dan
Pemanfaatan Posyandu Lansia di RT 03
Karakteristik Jumlah Persentase(%)

Keberadaan Posyandu Lansia di


Sekitar Tempat Tinggal
- -
1. Ada
2. Tidak Ada - -

Pemanfaatan Posyandu Lansia


1. Rutin dikunjungi - -
2. Kadang-kadang - -
3. Tidak pernah -
Jumlah Lansia -
Berdasarkan tabel di atas distribusi Lansia Berdasarkan Keberadaan
Posyandu Lansia dan Pemanfaatan Posyandu Lansia Tidak Ada.

120