Anda di halaman 1dari 2

Kebijakan LP2B Sebagai Manifestasi Ketahanan Pangan Nasional : Idealisme

dan Realita

1. Pendahuluan

Ketahanan Pangan merupakan suatu konsep dimana terjaminnya ketersediaan


pangan yang cukup dan terjaminnya setiap individu untuk memperoleh
kebutuhan pangan. Cita-cita ketahanan pangan Nasional dapat diwujudkan
apabila 4 aspek ketahan pangan dapat dipenuhi yaitu : 1) ketersediaan pangan, 2)
stabilitas pasokan, 3) akses terhadap pasokan dan 4) pemanfaatan pangan. 1
Artinya suatu Negara agar berhasil dalam mewujudkan ketahanan pangan
nasionalnya yaitu harus memperhatikan keempat aspek tersebut.

Aspek ketersediaan pangan tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan lahan yang
cukup. Dimana ketersediaan pangan berjalan beriringan dengan ketersediaan
lahan artinya ketika lahan pertanian berkurang maka akan mengakibatkan jumlah
produksi pangan hasil pertanian menurun. Di Indonesia sektor pertanian menjadi
hal yang penting sebab sektor tersebut menjadi penyelamat perekonomian
nasional dimana pertumbuhannya terhadap PDB Kuartal II 2020 sangat tinggi,
ditengah PDB nasional dan sektor lainnya turun 2. Hal tersebut menunjukan
bahwasanya ketersediaan lahan pertanian merupakan hal yang sangat signifikan
untuk diperhatikan agar selalu terjaga dan tidak dialihfungsikan menjadi lahan
non-pertaian.

Kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) merupakan suatu upaya


Pemerintah dalam mendukung terciptanya ketahanan pangan Nasional, dengan
mekanisme penetapan bidang lahan pertanian untuk dilindungi dan
dikembangkan serta tidak boleh dialihfungsikan selain untuk pertanian. Kebijakan
ini dituangkan dalam UU No. 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan demi mewujudkan kondisi terpenuhinya pangan
yang cukup bagi Negara, baik secara jumlah maupun mutunya.

Dalam UU LP2B idealnya tiap-tiap Kabupaten memiliki luasan lahan yang


ditetapkan sebagai lahan pertanian yang dilindungi agar tidak dialihfungsikan, hal
tersebut dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota. Dari jumlah 514 Kabupaten/Kota di
Indonesia baru 221 Kabupaten/Kota yang menetapkan LP2B dalam perda RTRW. 3
Dengan adanya fakta tersebut menyebabkan masih banyaknya alih fungsi lahan.

Berdasarkan Data BPS tercatat pada tahun 2018 Luas baku bahan sawah
mengalami penurunan yakni luas lahan tinggal 7,1 juta hektare apabila
dibandingkan pada tahun 2017 yakni luas lahannya sebesar 7,75 juta hektare. 4
1
Fitrinela Patonani, dkk., “Goverment Policis for Food Sovereignty : Disjuncition between Ideality and
Reality”, (Hasanuddin Law Review : Vol. 4, December 2018), Hlm. 378.
2
Peran Pertanian dalam Perekonomian di Indonesia, diakses pada laman :
https://pusdatin.setjen.pertanian.go.id/berita/read/peran-sektor-pertanian-dalam-perekonomian-indonesia
pada tanggal 16 maret 2022, Pukul 19:00 WIB.
3
Baru 221 Kabupaten/Kota tetapkan LP2B dalam Perda RTRW, diakses pada laman :
https://tabloidsinartani.com pada tanggal 14 Maret 2022, Pukul 16. 25 WIB.
4
Adapun pada tahun 2021 mengenai potensi luas lahan panen padi mencapai 10,52
juta hektare, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang luas lahannya mencapai
10,66 juta hektare.5

Menyusutnya lahan akibat banyaknya alih fungsi lahan tersebut akan


mengakibatkan beberapa dampak baik dalam skala besar maupun skala kecil.
Dalam skala besar akibat dari alih fungsi lahan tersebut akan memberikan
dampak terjadinya krisis produktivitas pertanian pangan dan ketersediaan pangan
berkurang sehingga dapat memberikan dampak terhadap rentannya ketahanan
pangan nasional. Dalam skala kecil mengakibatkan petani kehilangan mata
pencaharian serta hilangnya kesempatan kerja dibidang usaha tani, petani yang
semula dapat memenuhi kebutuhan pangannya (beras) sendiri dengan usaha
tanamnya menjadi harus membeli untuk kebutuhan pangannya.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian


Pangan Berkelanjutan mengindikasikan bahwa kebijakan tersebut masih belum
dapat mengakomodir mengenai ketersediaan pangan untuk ketahanan pangan
nasional, sehingga penting dilakukan penelitian bagaimana seharusnya kebijakan
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan tersebut dapat memberikan
dampak kepada ketahanan pangan nasional. Pertanyaan yang muncul dari
peristiwa tersebut ialah apakah kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan sudah tidak efektif dalam menanggulangi alih fungsi lahan dan
bagaimana model kebijakan yang tepat untuk melindungi lahan pertanian untuk
menjaga ketahanan pangan nasional?

2. Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah penelitian sosio-legal,
mengkaji Kebijakan LP2B sebagai manifestasi Ketahanan Pangan Nasional dengan
dikaji antara idealisme kebijakan tersebut terhadap fakta dilapangan. Data yang
digunakan meliputi data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer yakni
berupa perundang-undangan, bahan hukum tersier seperti buku-buku referensi,
pendapat para ahli, dan hasil penelitian terdahulu, serta fakta hukum mengenai
implementasi kebijakan LP2B dalam mempertahankan ketersediaan pangan
nasional.