Anda di halaman 1dari 9

‘

 ‘‘

 ‘


‘

‘

‘

Tidak semua hadits itu adalah benar, ada beberapa hadits terbukti karangan orang dan

bukan dari Nabi sendiri. Maka diperlukan suatu informasi bahwa hadits tersebut termasuk

Shahih, Hasan, atau bahkan Dhaif. Maka dari itu, perlu sebuah penelusuran hadits (Takhrij

Hadits).

 ‘ ½  
‘



c.‘ Apa Pengertian Takhrij al-Hadits

2.‘ Bagaimana Cara menelusuri Hadits (Takhrij al-Hadits)

3.‘ Apa saja Kitab-Kitab yang Diperlukan untuk Mentakhrij Hadits

4.‘ Bagaimana Uraian Al-Mu¶jam Al-Mufahrus li Alfadhil Hadis Nabawi.

 ‘  

c.‘ Pengertian Takhrij al-Hadits.

2.‘ Cara menelusuri Hadits (Takhrij al-Hadits).

3.‘ Kitab-Kitab yang Diperlukan untuk Mentakhrij Hadits.

4.‘ Uraian Al-Mu¶jam Al-Mufahrus li Alfadhil Hadis Nabawi.‘

c
‘

 ‘‘

 ‘

‘ 
‘
 ‘

 

Takhrij berasal dari kata Ν˷ή˶ Χ (kharraja) yang berarti g   g   . Sedangkan

menurut Mahmud al-Thahhan, secara etimologis, takhrij berarti


        

  
      g . Selanjutnya ia menjelaskan bahwa ada tiga pengertian

takhrij, yaitu  g


g yang berarti    , gg  
yang berarti  g atau


  , dan gg  yang berarti    . Sedangkan menurut terminologi, takhrij

adalah penunjukkan terhadap tempat hadits di dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanad dan

martabatnya.c

Menurut ulama ahli ilmu hadits atau muhaditsin, kata takhrij mempunyai beberapa arti,

yaitu2:

c. Suatu usaha mencari sanad hadits yang terdapat dalam sebuah kitab hadits karya orang

lain yang tidak sama dengan sanad hadits yang terdapat dalam kitab hadits karya orang lain

tersebut. Usaha ini juga dinamakan  g . Umpamanya seorang mengambil sebuah hadits dari

kitab shahih Bukhari, kemudian ia berusaha mencari sanad hadits tersebut yang tidak sama

dengan sanad yang ditetapkan oleh Bukhari dalam Shahihnya. Namun sanad yang berbeda itu

akhirnya dapat bertemu dengan sanad Bukari yang akhir. Usaha mukharrij tersebut akhrinya

dihimpun dalam sebuh kitab, dan kitab yang demikian inilah yang disebut kitab Mustakhraj.

Misalnya :

c

„           2009
 c9
2

 
 „  
        2009
 cc

2
a.  g   
  . Karya abu Nu¶aim adalah salah satu kitab takhrij hadits Sahih

Bukhari.

b.  g   
   . adalah salah satu dari kitab takhrij hadits Sahih Muslim.

2. Suatu penjelasan dari penyusun hadits bahwa hadits yang dinukilnya terdapat dalam

kitab hadits yang telah disebut nama penyusunnya. Misalnya kalau penyusun hadits mengakhiri

pada nukilan haditsnya dengan istilah     , artinya ialah bahwa hadits yang

dinukil oleh penyusun terdapat dalam kitab Sahih Bukhari.

3. Suatu usaha penyusun hadits untuk mencari derajat, sanad, dan rawi hadits yang

diterangkan oleh pengarang suatu kitab. Misalnya :

a.     g   , karya Jamaluddin al-Hanafi, adalah suatu kitab yang

mengusahakan dan menerangkan derajat hadits yang terdapat dalam kitab tafsir  

yang oleh pengarang tafsir tersebut tidak dijelaskan tentang sahih, hasan, atau lainnya.

b.        , karya Abdur-Rahman al-Iraqi adalah kitab yang menjelaskan

derajat-derajat hadits yang terdapat dalam kitab  n karya Imam Al-Ghazali.

 ‘

‘  ‘
 ‘
 ‘

 

Mengenai cara-cara mentakhrij hadits, Al-Mahdi dan At-Thahhan mengemukakan lima metode

takhrij sebagai berikut :

c. Takhrij melalui periwayat pertama.

Takhrij dengan metode ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui secara

pasti perawi pertamanya, baik dari kalangan Sahabat ataupun Tabi'in. Langkah pertama dari

metode ini adalah mengenal nama perawi pertama dari hadits yang akan ditakhrij. Langkah

berikutnya adalah mencari nama perawi yang diinginkan dari kitab-kitab g  atau  .


Bila nama perawi pertama yang dicari telah ditemukan, kemudian dicari hadits yang diinginkan

di antara hadits-hadits yang tertera di bawah nama perawi tersebut. Bila sudah ditemukan, maka

akan diketahui ulama hadits yang meriwayatkannya. Kitab yang membantu untuk kegiatan

takhrij berdasarkan metode ini adalah kitab g  dan  .

g  adalah himpunan hadits yang berasal dari kitab induknya di mana yang

dicantumkan hanyalah bagian atau potongan hadits dari setiap hadits yang diriwayatkan oleh

Sahabat atau tabi'in. Sedangkan   adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan nama-

nama Sahabat yang meriwayatkannya.

2. Takhrij melalui lafadz pertama Matan Hadits.

Penggunaan metode didasarkan atas lafadz pertama matan hadits. Melalui metode ini,

pentakhrij terlebih dahulu menghimpun lafadz pertama hadits berdasarkan huruf-huruf hijaiyah.

Setelah pentakhrij mengetahui lafadz pertama yang terletak dalam hadits tersebut, selanjutnya ia

mencari lafadz itu dalam kitab-kitab takhrij yang disusun sesuai dengan metode ini berdasarkan

huruf pertama, huruf kedua dan seterusnya.

Kitab-kitab yang dapat digunakan untuk mentakhrij dengan metode ini di antaranya

adalah    


 karya Imam Suyuthi,    ! karya al-Manawi, dan   

"    g      ! karya Jalaluddin al-Suyuthi.

3. Takhrij melalui penggalan kata-kata yang tidak banyak diungkap dalam lisan.

Menurut Mahmud At-Thahhan, mentakhrij hadits dengan metode ini dapat menggunakan

kitab         !  g  


 karya A.J. Wensinck yang

diterjemahkan oleh Muhammd Fuad 'Abdul Baqi. Kitab ini merujuk kepada kitab-kitab yang

menjadi sumber pokok hadits, yaitu g


 "gg ,  gg ,    , dan

  # $

u
4. Takhrij berdasarkan topik hadits.

Seorang pentakhrij boleh saja tidak terikat dengan bunyi atau lafadz matan hadits yang

ditakhrijnya, tetapi berupaya memahami melalu topiknya. Upaya penelusurannya memerlukan

kitab atau kamus yang dapat memberikan penjelasan riwayat hadits melalui topik yang telah

ditentukan.

Di antara kitab yang dapat membantu kegiatan takhrij dengan metode ini adalah g 

 ! " %     " %  g    "   %atau    &   

        '  $

5. Takhrij berdasarkan status hadits.

Melalui kitab-kitab tertentu, para ulama berupaya menyusun hadits-hadits berdasarkan

statusnya, seperti hadits qudsi, masyhur, mursal, dan lain-lain.

Kelebihan metode ini dapat memudahkan proses takhrij, karena hadits-hadits yang diperlihatkan

berdasarkan statusnya jumlahnya sangat sedikit dan tidak rumit. Meskipun demikian,

kekurangannya tetap ada yaitu terbatasnya kitab-kitab yang memuat hadits menurut statusnya.

Di antara kitab yang disusun menurut metode ini adalah !  g g   


 g  g  karya Suyuthi, yang memuat hadits-hadits mutawatir, gg  g 

"     g  (   karya al-Madani yang memuat hadits-hadits qudsi, 

 )    "   yang memuat hadits-hadits popular, dan lain-lainnya.

 ‘

‘
‘   
‘  ‘
 ‘
 

Ada beberapa kitab yang diperlukan untuk melakukan Takhrij al-Hadits, antara lain3 :

c.  g   g


   $



 
 „  
        2009
 c2

X
Penyusun kitab ini ialah Abdur Rahman Ambar Al-Misri At-Tahtawi. Kitab ini disusun

khusus untuk mencari hadits-hadits yang termuat dalam Shahih Bukhari.

2.   &     "   * 


    atau &   +g g
   

"  $

Kitab ini merupakan juz ke-5 dari Shahih muslim yang disunting oleh Muhammad

Abdul Baqi. Juz ke-5 ini merupakan kamus terhadap juz pertama sampai keempat, berisi antara

lain :

a. Daftar urutan judul kitab serta nomor hadits dan juz yang memuatnya.

b. Daftar nama para Sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits, yang termuat dalam Shahih

Muslim.

c. Daftar awal matan hadits dalam bentuk sabda yang tersusun menurut abjad serta diterangkan

nomor-nomor hadits yang diriwayatkan Bukhari, bila hadits tersebut juga diriwayatkan olehnya.

3. g  "   .

Kitab ini disusun oleh Muhammad Syarif bin Mustafa Al-Tauqiah. Kitab ini dapat

digunakan untuk mencari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Namun

hadits-hadits yang dimuat dalam kitab ini hanyalah Hadits yang berupa sabda atau hadits

Qauliyah saja.

4.  g g
   $

Kitab ini disusun oleh Sayyid Abdul Aziz bin Al-Sayyid Muhammad bin Sayyid Siddiq

Al-Qamari. Kitab ini memuat dan menerangkan hadits-hadits yang tercantum dalam kitab yang

disusun oleh Abu Nuaim Al-Asabuni yang berjudul  g  
) g  $

5.   "  $


Kitab ini disusun oleh Imam Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti. Kitab ini merupakan

kamus yang memuat hadits-hadits yang terhimpun dalam kitab himpunan kutipan hadits susunan

As-Suyuti sendiri yakni    $

Kitab ini menerangkan nama-nama Sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits yang

bersangkutan dengan nama-nama mukharijnya. Selain itu, hamper setiap hadits yang dikutip

dijelaskan kualitasnya menurut penilaian yang dilakukan atau disetujui oleh As-Suyuti.

6.        


$

Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Dan diantara angggota

yang paling aktif dalam penyusunannya ialah Dr. Arnold John Wensick, seorang professor

bahasa-bahasa Semit, termasuk Bahasa Arab di Universitas Laiden Belanda.

Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadits berdasarkan petunjuk lafal matan hadits.

Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada ditengah dan bagian-

bagian lain dari matan hadits. Dengan begitu, kitab ini mampu memberikan informasi kepada

pencari matan dan sanad hadits, asalkan sebagian dari lafal matan yang dicarinya telah diketahui.

 ‘

‘ 
‘ 
 ‘‘
‘
‘

! ‘

Penyusun kitab ini adalah sebuah tim dari kalangan orientalis. Di antara anggota tim yang

paling aktif dalam kegiatan proses penyusunan ialah Dr. Arnold John Wensinck, seorang

profesor bahasa-bahasa Semit, termasuk bahasa Arab di Universitas Leiden, negeri Belanda.

Kitab ini dimaksudkan untuk mencari hadis berdasarkan petunjuk lafal matan hadis.

Berbagai lafal yang disajikan tidak dibatasi hanya lafal-lafal yang berada di tengah dan bagian-

bagian lain dari matan hadis. Dengan demikian, kitab Mu'jam mampu memberikan informasi

´
kepada pencari matan dan sanad hadis, asal saja sebagian dari lafal matan yang dicarinya itu

telah di ketahuinya.

Kitab Mu'jam ini terdiri dari tujuh Juz dan dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis

yang terdapat dalam sembilan kitab hadis, yakni: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu

Dawud, Sunan Turmuzi, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majjah, Sunan Daromi, Muwatta Malik, dan

Musnad Ahmad.4

u

 
 „  
        2009
 cX


 ‘‘

‘


‘  

Takhrij adalah penunjukkan terhadap tempat hadits di dalam sumber aslinya yang

dijelaskan sanad dan martabatnya. Lima cara mentakhrij hadits :

c. Takhrij melalui periwayat pertama.

2. Takhrij melalui lafadz pertama Matan Hadits.

3. Takhrij melalui penggalan kata-kata yang tidak banyak diungkap dalam lisan.

4. Takhrij berdasarkan topik hadits.

5. Takhrij berdasarkan status hadits.

 ‘ 

Selalu terbuka untuk mencari kebenaran adalah hal yang wajib bagi kita seorang pelajar

saat ini. Belajar untuk bekal hidup masa depan kita. Hadits adalah peninggalan Rasullulah yang

harus kita refleksikan dengan keadaan kita saat ini untuk menghadapi arus globalisasi agar kita

tidak salah jalan.

Kritik dan saran adalah hal yang penting bagi kami saat ini. Wawasan kami sangatlah

kurang, sehingga pasti terdapat kesalahan dan kekurangan pada makalah ini. Kami ucapkan

terimakasih bagi siapapun yang turut membantu terselesaikannya makalah ini dan juga bagi

siapapun yang memberikan saran yang baik bagi kami, agar besok kami benar-benar menjadi

orang yang bermanfaat.