Anda di halaman 1dari 8

PEMANFAATAN URINE SAPI YANG DIFERMENTASI

SEBAGAI NUTRISI TANAMAN

PENDAHULUAN

Kebutuhan akan bahan pangan terus juga meningkat seiring dengan


pertambahan penduduk. Dengan kemajuan teknologi beberapa produksi pertanian
masih dapat ditingkatkan melalui upaya intensifikasi pertanian. Upaya
intensifikasi ini juga akhir-akhir mengalami hambatan seperti semakin kecilnya
subsidi pemerintah terhadap sarana produksi pertanian (pupuk, pestisida dll).
Dengan adanya krisis ekonomi yang dialami oleh negara kita sampai
sekarang, dampak ini juga dirasakan oleh para petani. Dimana daya beli
masyarakat tani menjadi berkurang dan ditambahkan lagi harga pupuk dan sarana
produksi lain yang semakin tinggi. Masalah ini menyebabkan petani tidak banyak
menerapkan budidaya yang baik untuk meningkatkan produksinya.
Tetapi sekarang dengan telah berkembangnya teknologi fermentasi
masalah nutrisi pada sistem budidaya hidroponik telah memberikan harapan baru.
Apalagi bahan baku yang digunakan untuk membuat nutrisi juga merupakan
limbah dari peternakan, yang selama ini juga sebagai bahan buangan.
ISI

Sistem budidaya secara organik kini telah menampakan hasil yang cukup
signifikan pada tingkat peneliti tetapi ditingkat petani masih terbatas yang
menerapkannya. Begitu juga penerapan budidaya secara hidroponik. Hidroponik
adalah teknik budidaya tanaman tampa menggunakan media tanah sebagai media
tumbuhnya. Sistem hidroponikpun mempunyai kelemahan dalam pembiayaan
awal dan operasinya. Sehingga hidroponikpun kurang berkembang di masyarakat
tani.
Menurut hasil laporan Trubus (2002) sistem hidroponik sangat mahal,
terutama untuk pemberian nutrisi tanamanannya (70 % biaya produksi digunakan
untuk hal ini). Dilain pihak produksi yang rendah disebabkan beberapa hal, yaitu
banyak petani yang belum menerapkan cara budidaya yang baik, seperti
penggunaan pupuk yang kurang berimbang, perawatan yang kurang intensif dan
salah perhitungan waktu tanam.

A. Fungsi dari bahan organik


Bahan organik tanah meliputi semua jenis lapisan tanaman dan sisa
hewan. Bahan organik ini akan berganti menjadi humus apabila telah
dipisahkan menjadi komponen yang aktif di tanah. Di dalam tanah bahan
organik secara garis besarnya berfungsi sebagai fisik, kimia dan biologi tanah.
(S.C. Hsieh dan C.F. Hsieh,1987).
Senyawa organik karbon adalah sumber energi yang dibutuhkan
organisme untuk melakukan aktivitasnya. Senyawa organik dengan
perbandingan C/N yang ada dalam tanah dapat digunakan untuk merangsang
penyebaran nutrisi yang sulit masuk ke dalam tubuh mikroorganisme karena
kekurangan nitrogen dalam tanah. Dengan perbandingan seimbang banyak
mikroorganisme yang mati dan terurai kembali menjadi unsur-unsur nutrisi
untuk kesuburan tanah (Sc Hsieh, 1990).
B. Nutrisi ( larutan pupuk)
Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap urine sapi, diantaranya
adalah Anty (1987) melaporkan bahwa urine sapi mengandung zat perangsang
tumbuh yang dapat digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya adalah
IAA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa urine sapi juga memberikan pengaruh
positif terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung.
Karena baunya yang khas urine ternak juga dapat mencegah datangnya
berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi sebagai
pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro, 1995).
Lingga, (1991) melaporkan bahwa jenis dan kandungan hara yang
terdapat pada beberapa kotoran ternak padat dan cair dapat dilihat pada tabel
berikut.
Table 1. Jenis dan kandungan zat hara pada beberapa kotoran ternak padat dan
cair.

Nama ternak dan


Nitrogen (%) Fosfor (%) Kalium (%) Air (%)
bentuk kotorannya

Kuda –padat 0.55 0.30 0.40 75


Kuda –cair 1.40 0.02 1.60 90
Kerbau –padat 0.60 0.30 0.34 85
Kerbau –cair 1.00 0.15 1.50 92
Sapi –padat 0.40 0.20 0.10 85
Sapi –cair 1.00 0.50 1.50 92
Kambing –padat 0.60 0.30 0.17 60
Kambing –cair 1.50 0.13 1.80 85
Domba –padat 0.75 0.50 0.45 60
Domba –cair 1.35 0.05 2.10 85
Babi – padat 0.95 0.35 0.40 80
Babi –cair 0.40 0.10 0.45 87
Ayam –padat dan cair 1.00 0.80 0.40 55
Sumber : Lingga, 1991
Nutrisi organik dari hasil fermentasi sudah seimbang dalam jumlah dan
komposisi unsur-unsur yang dikandung nutrisi tersebut Harahap (2003). Pada
Pupuk buatan yang mengandung satu nutrisi saja bertolak belakang dengan
pupuk organik yang beragam dan seimbang seperti yang dijelaskan dari hasil
penelitian S.C. Hsieh dan C.F. Hsieh.(1987) pada tabel berikut:
Tabel 2. Jumlah unsur hara pada kotoran ternak.
Jenis N P K Ca Hg Na Fe Mn Zn Cu Ni Cr
Sapi 1,1 0,5 0,9 1,1 0,8 0,2 5726 344 122 20 - 6
Babi 1,7 1,4 0,8 3,8 0,5 0,2 1692 507 624 510 19 25
Ayam 2,6 3,1 2,4 12,7 0,9 0,7 1758 572 724 80 48 17
Sumber : Hsieh S.C dan C.F. Hsieh.(1987)
Nutrisi alami belum banyak dimanfaatkan atau digunakan oleh
masyarakat secara luas, sedangkan untuk pupuk telah lama digunakan petani.
Pupuk atau nutrisi ini berasal dari kotoran hewan, seperti ayam, kambing,
kerbau, kuda, babi, dan sapi. Kotoran tersebut dapat berupa padat dan cair
(urine ternak) dengan kandungan zat hara yang berlainan. Pupuk kandang cair
jarang digunakan, padahal kandungan haranya lebih banyak. Hal ini
disebabkan untuk menampung urine ternak lebih susah repot dan secara
estetika kurang baik - bau (Phrimantoro, 1995).
C. Teknologi fermentasi
Fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme baik aerob maupun
anaerob yang mampu mengubah atau mentranspormasikan senyawa kimia ke
subtrat organik (Rahman,1989). Selanjutnya Winarno (1990) mengemukan
bahwa fermentasi dapat terjadi karena ada aktivitas mikroorganisme penyebab
fermentasi pada subtrat organik yang sesuai, proses ini dapat menyebabkan
perubahan sifat bahan tersebut.
Joo. Y.H (1990). Melaporkan bahwa teknologi fermentasi anaerob
untuk skala petani telah banyak dikembangkan, dimana hasilnya pupuk
kandang dikonversikan tidak hanya dalam bentuk pupuk organik cair yang
bagus tetapi juga dalam bentuk biogas yang berenergi tinggi.
Prinsip dari fermentasi anaerob ini adalah bahan limbah organik
dihancurkan oleh mikroba dalam kisaran temperatur dan kondisi tertentu yaitu
fermentasi anaerob.
Studi tentang jenis bakteri yang respon untuk fermentasi anaerob telah
dimulai sejak tahun 1892 sampai sekarang. Ada dua tipe bakteri yang terlibat
yaitu bakteri fakultatif yang mengkonversi sellulola menjadi glukosa selama
proses dekomposisi awal dan bakteri obligate yang respon dalam proses
dekomposisi akhir dari bahan organik yang menghasilkan bahan yang sangat
berguna dan alternatif energi pedesaaan ( Joo, 1990).
D. Fertigasi
Selain langsung dicampurkan pada larutan pekatan nutrisi, pemberian
nutrisi pada hidroponik bisa dilakukan dengan fertigasi. Fertigasi yang
merupakan cara pemberian air irigasi bersamaan dengan pemupukan melalui
emiter yang diletakkan dekat dengan perakaran tanaman. Fertigasi banyak
dikembangkan melalui sistem irigasi curah, irigasi pancaran dan irigasi tetes
dengan hasil yang memuaskan, yakni dapat menghemat pupuk, tenaga, dan
jumlah serta waktu pemberian dapat disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi.
Drip atau trickle irigasi adalah tipe mikro-irigasi dimana air dan hara diberikan
melalui pipa plastic dengan drip-emiter yang diletakkan di dekat barisan
tanaman.
Irigasi tetes mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya merupakan
hal yang sangat penting dalam budidaya tanaman bila dikaitkan dengan isu
lingkungan. Keuntungan utama irigasi tetes adalah kemampuannya menghemat
penggunaan air dan pupuk dibandingkan dengan overhead sprinkler dan sub
irigasi. Data penelitian menunjukkan bahwa penghematan air dengan irigasi
tetes sebesar 80% disbanding subirigasi, dan 50% dibanding irigasi overhead
sprinkler (Locascio et al., 1981; Elmstormet al., 1981; Locascio et al., 1985).
Irigasi tetes juga dapat menekan serangan penyakit pada daun
dibandingkan dengan overhead sprinkler irigasi. Air tidak diaplikasikan lewat
daun sehingga dapat mempertahankan daun dalam kondisi kering yang
mengakibatakan dapat menekan kerentanan tanaman terhadap serangan
penyakit. Hal ini juga dapat mengakibatkan menekan penggunaan fungisida.
Kualitas buah tomat dapat ditingkatkan ketika N dan K diaplikasikan lewat
irigasi tetes dibanding dengan aplikasi secara preplant (di tebar saat tanam)
(Dangler dan Locascio, 1990b).
Irigasi tetes dapat meningkatkan presisi saat dan cara aplikasi pupuk
pada produksi sayuran. Pupuk dapat diformulasikan sesuai dengan kebutuhan
tanaman dan diaplikasikan pada saat tanaman memerlukan. Kemampuan
irigasi tetes untuk meningkatkan efisiensi aplikasi pupuk dapat menekan
kebutuhan pupuk untuk produksi sayuran. Efisiensi ini dapat dicapai dengan
pemberian pupuk dalam jumlah kecil merata sepanjang musim dibanding
dengan pemberian sekaligus pada saat tanam (Locascio dan Smajstrla, 1989;
Locascio et al., 1989; Dangler dan Locascio, 1990a). Aplikasi yang terkontrol
tidak hanya dapat menghemat pupuk akan tetapi dapat pula menekan potensi
polusi air tanah oleh pencucian pupuk pada saat hujan besar atau irigasi yang
berlebihan. Irigasi tetes lebih baik daripada sub irigasi dalam sistem produksi
tanaman yang memanfaatkan air yang berkualitas rendah dengan salinitas yang
tinggi untuk irigasi. Hal ini disebabkan karena dengan irigasi tetes dapat
melarutkan garam-garam menjauh dari dripper, daripada menumpuk garam-
garam dekat dengan perakaran tanaman (Hochmuth dan Smajstrla, 1997).
Walaupun irigasi tetes memiliki banyak keuntungan yang sangat
penting dalam produksi sayuran secara modern, namun banyak tantangan
yang dihadapi dalam pelaksanaan teknologi ini. Irigasi tetes harus didisain
dan di install secara tepat supaya dapat dioperasikan dengan efisiensi yang
awal yang mahal karena harus di install oleh tenaga ahli yang berpengalaman
dan memerlukan ketersediaan energi listrik untuk mengoperasikan. Untuk
mengoperasikan teknologi ini juga diperlukan tenaga kerja yang terlatih
sehingga dapat dicapai efisiensi yang diharapkan (Hochmuth dan Smajstrla,
1997). tinggi. Irigasi tetes memerlukan biaya investasi
Cara pemupukan yang umum dilakukan adalah disebar dipermukaan tanah,
dibenam di dalam tanah, disemprot pada daun, atau melalui air irigasi yang
biasa disebut fertigasi. Ini biasa dilakukan pada sistem hidroponik substrat.
PENUTUP

Senyawa organik karbon adalah sumber energi yang dibutuhkan


organisme untuk melakukan aktivitasnya. Fermentasi merupakan aktivitas
mikroorganisme baik aerob maupun anaerob yang mampu mengubah atau
mentranspormasikan senyawa kimia ke subtrat organik (Rahman,1989).
Dari beberapa sifat urine sapi yang difermentasi terlihat bahwa adanya
peningkatan komposisi jumlah dari unsur yang dikandung dibandingkan dengan
yang tidak difermentasi. Urine sapi yang telah difermentasi dapat dijadikan
sebagai nutrisi tanaman yang sebelumnya perlu dilakukan pengenceran. Terhadap
pertumbuhan dan produksi tanaman tomat setelah diberikan urine sapi terlihat
adanya nilai positif.
Cara pemupukan yang umum dilakukan adalah disebar dipermukaan
tanah, dibenam di dalam tanah, disemprot pada daun, atau melalui air irigasi yang
biasa disebut fertigasi ( Plaster, 1992).
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, 2008. Pemanfaatan Urine Sapi yang Difermentasi Sebagai Nutrisi


Tanaman. http://affandi21.xanga.com/644038359/pemanfaatan-urine-
sapi-yang-difermentasi-sebagai-nutrisi-tanaman. Diakses 19 Desember
2010.
Dangler, J.M. and S.J. Locascio. 1990b. External and internal blotchy ripening
and fruit elemental content of trickle-irrigated tomatoes as affected by N
and K application time. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 115:547-549.
Elmstorm, G.W., S.J. Locascio, and J.M. Myers. 1981. Watermelon response to
drip and sprikler irrigation. Proc. Fla. State Hort. Soc. 94:161-163.
Hochmuth, G.J. and A.G. Smajstrla. 1997. Fertilizer application and
management for micro (drip)-irrigated vegetable in Florida. Fla.Coop.
Ext. Circ, 1181.
Hsieh, S.C. dan S H Hsieh. 1990. International seminal on the use of organic
fertilizers production. Rural Development administration (RDA).
Lingga, P. 1991. Hidroponik: Bertanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta

Locascio, S.J, and A.G. Smajstrla. 1989. Drip irrigated tomato as affected by
water quantity and N and K application timing. Proc. Fla. State. Hort.
Soc. 102:307-309.
S.C. Hsieh, and C.F. Hsieh. 1987. Internal and external lacer-induced avalanche
breakdown of single droplets in anargon atmosphere, J. Opt. Soc. Am B
4, p. 1816-1820.