Anda di halaman 1dari 3

Brazil – dari konsesi ke PSC?

1,2

Benny Lubiantara
(May 24, 2011)

Suksesnya penemuan cadangan minyak yang termasuk ukuran raksasa di lapangan Tupi, sekitar
250 km lepas pantai Rio de Janeiro pada tahun 2007, memulai era baru migas di Brazil. Setelah
penemuan lapangan Tupi, beberapa lapangan di Subsalt basin tersebut juga ditemukan, seperti:
lapangan Lara, Jupiter, Carioca, Bem-Te-Vi dan Guara. Petrobras memperkirakan produksi dari
Subsalt basin akan mencapai 1.3 juta barel per hari pada tahun 2017 dan 1.8 juta barel per hari
pada tahun 2020. Namun demikian, pengembangan lapangan lapangan ini diperkirakan tidaklah
mudah, disamping lokasinya di laut dalam (kedalaman > 2,000 meter), permasalahan bawah
permukaan/ reservoir juga merupakan tantangan tersendiri.

Gambar x.x Lokasi Subsalt basin, Brazil3

1
De Oliveira, The Overhaul of the Brazilian Oil and Gas Regime: Does the Adoption of a Production
Sharing AgreementB ring Any Advantage Over the Current Modern Concession System, OGEL, Vol 8,
Issue 4, November 2010
2
Cunha, A,L, The Tupi Discovery and Possible Impacts on the Brazilian Legal Framework, OGEL, Vol.
6 – issue 3, November 2008
3
Randy Wood, Tupi: Just the Start of Brazil’s Sub-salt Story, 13 Februari 2008,
http://www.energytribune.com/articles.cfm/791/Tupi-Just-the-Start-of-Brazils-Sub-salt-Story

1
Suksesnya temuan cadangan raksasa di Subsalt basin ini, membawa angin baru bagi kebijakan
tender untuk blok baru di wilayah tersebut. Desember 2007, pemerintah membatalkan rencana
lelang 41 blok, 2 minggu sebelum acara lelang dimulai. Keputusan ini cukup mengejutkan
perusahaan migas (IOC).
Alasan utama pembatalan itu adalah bahwa pemerintah akan membuat peraturan baru dalam
rangka menjamin agar negara memperoleh bagian yang lebih proporsional. Sub-salt basin dapat
diibaratkan “big fish”; karena banyak ditemukan ikan besar, maka berbondonglah orang orang
ingin memancing disana. Perdebatan kemudian terjadi mengenai model kontrak migas yang
bagaimana yang dapat memberikan keuntungan maksimal bagi negara dalam konteks blok migas
di Sub-salt basin ini?

Terkait pengaturan kerjama dengan investor dalam rangka aktivitas eksplorasi dan eksploitasi di
Brazil, UU Perminyakan (Petroleum Law) tahun 1997, hanya menyebut model konsesi
(royalty/tax). UU tersebut sama sekali tidak menyebut kemungkinan penggunaan model lain
selain kosensi. Makanya model PSC belum pernah ada disana.

Maka mulailah pihak berwenang di Brazil sibuk memeriksa model kontrak yang dipakai negara
lain. Perdebatan mengenai dua pilihan: tetap model konsesi dengan modifikasi atau pindah ke
model PSC, juga ramai di kalangan akademisi. Tentu ada yang pro dan kontra, yang tetap
menginginkan model konsesi mempunyai argumen bahwa model in telah terbukti berjalan baik
selama puluhan tahun, apabila pemerintah merasa perlu memperoleh porsi yang lebih besar, hal
itu dapat dilakukan dengan melakukan sedikit modifikasi tanpa harus pindah ke sistem PSC.
Sementara pendukung model PSC, beranggapan bahwa model konsesi hanya cocok untuk yang
mempunyai resiko geologi besar, sementara sub-salt basin, karena sudah banyak temuan
(discovery), resiko relatif mengecil. Disamping itu walaupun kedua model dapat memberikan
bagian share yang sama besar buat pemerintah, namun pengaturan pembagiannya akan lebih
mudah dengan model kerangka PSC, karena ada elemen “profit oil share”.

Bulan Juli 2009, pihak berwenang mengumumkan bahwa pemerintah akan pindah ke model PSC
dengan membentuk perusahaan nasional baru yang secara khusus dibentuk pengembangan
subsalt basin. Walaupun tidak dijelaskan alasan diperlukan pembentukan perusahaan nasional

2
yang baru ini, namun ini diperkirakan karena status Petrobras. Walaupun dikenal sebagai
perusahaan nasional, Petrobras bukanlah 100% sahamnya milik negara. Porsi pemeritah hanya
31.1%4 dari modal (capital stock), sisanya dimiliki oleh swasta. Pembentukan perusahaan baru
yang 100% milik negara mungkin dimaksudkan untuk memaksimalkan total bagian pemerintah
dari kegiatan hulu di subsalt basin ini.

Kelihatannya apa yang terjadi di Brazil, bertolak belakang dengan situasi di tanah air. Pertama
eksplorasi migas di Brazil sukses, namun situasi sebaliknya terjadi di tanah air. Kedua, Brazil
mempertimbangkan PSC, sementara di tanah air, pemerintah sibuk mencari model lain yang
bukan PSC karena alasan cost recovery. Penulis berpendapat, langkah Brazil ini benar, karena
tahap pertama mereka adalah bagaimana mengundang investor untuk eksplorasi migas dengan
term dan kondisi yang menarik. Setelah “ikan besar” berhasil ditemukan, otomatis posisi tawar
menawar pemerintah meningkat, mau menawarkan model kontrak jenis apapun, investor
cenderung akan ikut saja. Sebaliknya ditanah air, kita terlalu sibuk mencari model yang
menguntungkan negara, sementara pada saat yang sama kinerja eksplorasi tidaklah
menggembirakan. Akhirnya yang terjadi adalah: “Ikan besar” belum berhasil ditemukan juga,
begitu pula model kontrak selain PSC tersebut.

4
Source: Petrobras website (2010 data, updated: February 2011)
3