Anda di halaman 1dari 2

Bolivia – dari mana asal muasal angka 82%

Benny Lubiantara
(May 2011)

Ketika Evo Morales melakukan gebrakan “nasionalisasi”, banyak media massa baik asing
maupun lokal menyoroti gebrakan ini, yang menarik adalah munculnya angka 82%, namun tidak
dijelaskan secara rinci dari mana asal usul angka tersebut. Sehingga wajar kalau kemudian
banyak yang membandingkan angka 82% dari total pendapatan untuk Bolivia ini dengan term
dan kondisi PSC di tanah air.

Bolivia, melalui UU migas mereka yang baru (UU hidrokarbon, 2005), menetapkan bahwa
royalti naik menjadi 18% dan Direct Tax on Hydrocarbon (DTH) sebesar 32%, dengan demikian
totalnya menjadi 50% dari value of production hydrocarbon. Untuk lapangan yang besar,
ditambah partisipasi pemerintah sebesar 32% sehingga total menjadi 82%. Dari sinilah angka
tersebut diperoleh.

Membandingkan dengan kondisi PSC Indonesia, yang pembagiannya 85% : 15%, tentu
tidak “apple to apple”. 85% PSC RI adalah Government Take (persentasi dari profit setelah
pembayaran pajak). Karena 85% tersebut adalah dari keuntungan bersih, apabila dihitung dari
pendapatan total (gross revenue), tentu persentasinya tidak sebesar itu, masih jauh dibawah
Bolivia yang sebesar 82%.

Pembagian model Bolivia ini memang luar biasa tingginya buat negara. Pertanyaannya: kenapa
perusahaan minyak disana terpaksa setuju juga dengan terms yang “luar biasa” tinggi ini?,
jawabnya sederhana: karena mereka sudah tahu persis struktur biayanya, sehingga mereka hanya
mengeluarkan untuk biaya produksi saja, tidak perlu melakukan investasi kapital lagi. Misalkan
biaya produksi sebesar 10% dari pendapatan total, maka perusahaan masih memperoleh

1
keuntungan sebesar 8.32%1*) dari pendapatan total. Kalau mereka tahu biaya produksi lebih
besar dari 18% pendapatan kotor, tanpa diusirpun, perusahaan minyak akan kabur sendiri, tidak
mau mereka kerja bakti.

Perlu dipahami disini, model 82% ala Morales ini berlaku untuk lapangan besar yang sedang
berproduksi, dengan demikian tidak ada sama sekali resiko eksplorasi, apabila Morales
menawarkan konsep ini utuk blok baru yang belum pernah di eksplorasi, tentu tidak akan ada
satupun investor yang berminat. Mana ada investor nekat, melakukan pemboran eksplorasi yang
belum ketahuan hasilnya, kalaupun nanti kelak ditemukan cadangan komersial, akses ke
pendapatan total dibatasi hanya maksimum 18% termasuk biaya. Investor akan berpikir ulang,
kapan biaya investasi meraka akan kembali.

Sementara model PSC RI dengan pembagian 8%:15% itu untuk aktivitas yang “full cycle”,
mulai dari eksplorasi sampai produksi, kalau membandingkan model full-cycle ini dengan negara
lain, menurut saya, bagian pemerintah dari keuntungan setelah pajak tersebut sudah cukup fair.
Untuk kondisi tertentu, pembagian “split” - nya turun menjadi (80:20, 75:25, 70:30, etc)
tergantung lokasi dan resikonya. Sebenarnya apa yang terjadi di Bolivia dan beberapa negara
Amerika Latin lainnya tidak terlepas dari adanya kontrak yang tidak berimbang (unfair contract)
yang dibuat pada masa lalu.

1
Ilustrasi: maksimum bagian perusahaan adalah 18%, dikurangi 10% biaya (dari total biaya tersebut
diasumsikan ada kontribusi pemeritah sebesar 32%, sebagai akibat partisipasi pemerintah sebesar 32%).