Anda di halaman 1dari 14

SARI PUSTAKA

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA ABSES HATI

Disusun oleh :
dr. Wulan Ervinna Simanjuntak
NIP. 198803242019032005

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK


REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2021
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN

SARI PUSTAKA

“Diagnosis dan Tatalaksana Abses Hati”

Sari Pustaka ini dibuat untuk memenuhi Daftar Usulan


Penetapan Angka Kredit Dokter Umum
Klinik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia

Telah disetujui
Pada:

Disusun Oleh :
dr. Wulan Ervinna Simanjuntak
NIP. 198803242019032005

Jakarta, Oktober 2021


Kepala Bagian Rumah Tangga dan
Layanan Pengadaan Barang dan Jasa,

Frangky Tilung, S.T.


NIP.197102262005021003
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan
penyertaan dan kelancaran sehingga penulis dapat menyelesaikan Sari Pustaka dengan judul
“Diagnosis dan Tatalaksana Abses Hati”. “. Sari Pustaka ini disusun untuk memenuhi
Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit Dokter Umum Klinik Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Dalam menyusun sari pustaka ini, saya mendapat banyak bimbingan dan motivasi dari
berbagai pihak sehingga saya dapat melewati hambatan-hambatan yang ada. Oleh karena itu,
saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami, anak, orang tua
dan rekan kerja yang selalu mendukung dalam pekerjaan, dan juga kepada Frangky Tilung,
S.T., selaku atasan saya yang selalu memberikan bimbingan dan arahan hingga Sari Pustaka
ini bisa terselesaikan.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak terdapat kesalahan dan jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran akan diterima demi perbaikan.
Akhir kata, saya berharap Tuhan berkenan membalas segala kebaikan semua pihak
yang telah membantu. Semoga sari pustaka ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca
terutama di bidang kedokteran Ilmu Penyakit Dalam.

Jakarta, Oktober 2021

dr. Wulan Ervinna Simanjuntak


BAB I
PENDAHULUAN

Abses hati merupakan masalah kesehatan pada banyak negara di dunia, terutama di
Asia dan Afrika. Angka kejadian abses hati amebik yang didapat dari berbagai rumah sakit di
Indonesia adalah 5-15% pasien pertahun, lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan
wanita dengan rasio 3-10 kali lipat dan seringkali dijumpai antara usia 30 hingga 40 tahun.
Prevalensi abses hati yang tinggi erat hubungannya dengan sanitasi yang buruk dan status
ekonomi yang rendah.
Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri,
parasit, maupun jamur yang bersumber dari sistem gastrointestinal, ditandai dengan adanya
proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati. Secara umum, abses hati
dibagi menjadi dua, yaitu abses hati amebik dan abses hati piogenik. Di negara yang sedang
berkembang, abses hati amebik lebih sering didapatkan secara endemik dibandingkan dengan
abses hati piogenik. Abses hati piogenik relatif lebih jarang dibandingkan abses hati amebik
tetapi jika penanganannya terlambat akan lebih berbahaya karena sering terjadi komplikasi
sepsis atau peritonitis sekunder akibat dari rupturnya abses ke rongga pleura maupun
peritoneum..
Penanganan abses hati sebaiknya dilakukan secara tepat dan dalam waktu secepatnya,
karena keterlambatan atau tidak tepatnya penanganan dapat berakibat terjadi komplikasi fatal.
Komplikasi abses hati mencakup sepsis, empiema dan rupturnya abses hati ke rongga
peritoneum, rongga pleura maupun rongga retroperitoneum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Abses Hati


Abses hati adalah bentuk infeksi pada hati yang disebabkan karena infeksi bakteri,
parasit, jamur maupun nekrosis steril yang bersumber dari sistem gastrointestinal yang
ditandai dengan adanya proses supurasi dengan pembentukan pus di dalam parenkim hati.1,2
Abses hati terbagi 2, yaitu abses hati amuba (AHA) dan abses hati piogenik (AHP).
AHA merupakan salah satu komplikasi amebiasis ekstraintestinal yang paling sering
dijumpai di daerah tropik/subtropik, termasuk Indonesia. Abses hati amuba disebabkan oleh
protozoa Entamoeba hystolitica, yang mana endemik di negara-negara tropis atau yang
sedang berkembang. Sedangkan AHP merupakan kasus yang relatif jarang.2,3

II.2 Etiologi Abses Hati


a. Abses Hepar Amebik (AHA)
Penyebab utama abses hepar amebik adalah Entamoeba histolytica dan
merupakan komplikasi ekstraintestinal dari Entamoeba histolytica yang dapat
menimbukan pus dalam hati.
Komplikasi ekstraintestinal yang paling sering terjadi akibat infeksi
Entamoeba histolytica adalah amebiasis intestinalis klinis. Entammoeba
histolytica adalah protozoa usus kelas Rhizopoda yang mengadakan pergerakan
menggunakan pseudopodi atau kaki semu. Terdapat 3 bentuk parasit yaitu: bentuk
tropozoit, bentuk kista, dan bentuk prakista. Tropozoit adalah bentuk yang aktif
bergerak dan bersifat invasif, dapat tumbuh dan berkembang biak, aktif mencari
makanan, dan mampu memasuki organ dan jaringan. Bentuk kista Entamoeba
histolytica bulat, dengan dinding kista dari hialin, tidak aktif bergerak. Terdapat
dua ukuran kista, yaitu minutaform yang berukuran < 10 mikron, dan magnaform
yang berukuran > 10 mikron. Kista yang berukuran < 10 mikron disebut
Entamoeba hartamani yang ditemukan dalam tinja, tidak patogen untuk manusia.
Kista yang sudah matang mempunyai empat inti dan merupakan bentuk infektif
yang dapat ditularkan pada manusia, dan tahan terhadap asam lambung.
b. Abses Hepar Piogenik (AHP)
Penyebab utama abses hepar piogenik adalah bakteri Escherichia coli. Selain
Escherichia coli, organisme lain yang didapatkan adalah Klebsiella,
Staphylococcus aureus, Proteus, Pseudomonas, dan bakteri anaerob.
Infeksi dari hati juga berasal dari:
1. Sistem biliaris langsung dari kandung empedu atau melalui saluran-saluran
empedu. Infeksi pada saluran empedu yang mengalami obstruksi naik ke
cabang saluran empedu intrahepatik yang menyebabkan kolangitis yang
menimbulkan kolangitis dengan akibat abses multipel. Abses hati piogenik
multipel terdapat pada 50% kasus, hati dapat membengkak dan daerah
yang mengandung abses menjadi pucat kekuningan, berbeda dengan hati
sehat disekitarnya yang berwarna merah tua. Kebanyakan terdapat pada
lobus kanan dengan perbandingan lima kali lobus kiri.
2. Infeksi melalui sistem porta. Sepsis intra-abdomen, terutama apendisitis,
divertikulitis, disentri basiler, infeksi daerah pelvik, hemoroid yang
terinfeksi dan abses perirektal merupakan penyebab utama abses hepar
piogenik. Pada umumnya berawal sebagai pileflebitis perifer disertai
pernanahan dan thrombosis yang kemudian meyebar melalui vena porta ke
dalam hati.
3. Hematogen melalui arteri hepatika. Trauma tajam atau tumpul dapat
mengakibatkan laserasi, perdarahan, dan nekrosis jaringan hati serta
ekstravasasi cairan empedu yang mudah terinfeksi. Hematoma subkapsuler
dapat juga mengundang infeksi dan menimbulkan abses yang soliter dan
terlokalisasi.
II.3 Patofisiolog Abses Hati
Jika terjadi infeksi di sepanjang saluran pencernaan, mikroorganisme penyebab
infeksi dapat sampai ke hati. Mikroorganisme tersebut masuk ke hati melalui sistem billier,
sistem vena porta, sistem arterial hepatik. Kuman yang masuk ke dalam tubuh akan
menyebabkan kerusakan jaringan dengan cara mengeluarkan toksin. Bakteri melepaskan
eksotoksin yang spesifik (sintesis), kimiawi yang secara spesifik mengawali proses
peradangan atau melepaskan endotoksin yang ada hubungannya dengan dinding sel. Reaksi
hipersensitivitas terjadi bila ada perubahan kondisi respon imunologi mengakibatkan
perubahan reaksi imun yang merusak jaringan.
Agent fisik dan bahan kimia oksidan dan korosif menyebabkan kerusakan jaringan,
kematian jaringan menstimulus untuk terjadi infeksi. Infeksi merupakan salah penyebab dari
peradangan, kemerahan merupakan tanda awal yang terlihat akibat dilatasi arteriol akan
meningkatkan aliran darah ke mikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan
bersifat lokal. Peningkatan suhu dapat terjadi secara sistemik. Akibat endogen pirogen yang
dihasilkan makrofaq mempengaruhi termoregulasi pada suhu lebih tinggi sehingga produksi
panas meningkat dan terjadi hipertermi. Peradangan terjadi perubahan diameter pembuluh
darah mengalir keseluruh kapiler, kemudian aliran darah kembali pelan.
Sel-sel darah mendekati dinding pembuluh darah di daerah zona plasmatik. Leukosit
menempel pada epitel sehingga langkah awal terjadi emigrasi ke dalam ruang hyperemia
meingkatkan permeabilitas vaskuler mengakibatkan keluarnya plasma ke dalam jaringan,
sedang sel darah teringgal dalam pembuluh darah akibat tekanan hidrostatik meningkat dan
tekanan osmotik menurun sehingga terjadi akumulasi carian di dalam rongga ekstravaskuler
yang merupakan bagian dari cairan eksudat yaitu edema. Regangan dan distorsi jaringan
akibat edema dan tekanan pus dalam rongga abses menyebabkan rasa nyeri.
Mediator kimiawi, termasuk bradikinin, prostaglandin, dan serotonin merusak ujung
saraf sehingga menurunkan ambang stimulus terhadap reseptor mekanosensitif dan
termosensitif yang menimbulkan nyeri dan muncul gangguan pola tidur. Adanya edema akan
mengganggu gerak jaringan sehingga mengalami penurunan fungsi tubuh yang menyebabkan
terganggunya mobilitas.

II.4 Diagnosis Abses Hati


Penegakan diagnosis dapat melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, serta
pemeriksaan penunjang. Gejala awal berupa nyeri abdomen kanan disertai panas. Nyeri
menjalar ke bahu kanan dan skapula kanan akibat iritasi diafragma dan bertambah batuk dan
napas dalam. Tanda lokal nyeri tekan di daerah lengkung iga dengan hati yang membesar,
hepatomegali. Bila lobus kiri yang terkena akan ditemukan massa di daerah epigastrium.
Gejala khas adalah suhu tubuh tidak melebihi dari 38,5⁰C.9
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium yang diperiksa adalah kadar Hb darah, jumlah
leukosit darah, laju endap darah, serum bilirubin, albumin dan kadar enzim transaminase.
Pada pasien abses hati seringkali dijumpai adanya leukositosis, anemia, peningkatan laju
endap darah, peningkatan alkalin fosfatase, peningkatan enzim transaminase, peningkatan
serum bilirubin, berkurangnya kadar albumin dan waktu protrombin yang memanjang.
Abnormalitas tes fungsi hati lebih ringan pada abses hati amebik dibandingkan dengan abses
hati piogenik.

2. Pemeriksaan Serologi
Kegunaan pemeriksaan serologis adalah untuk menentukan abses hati amebik atau
piogenik. Pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan meliputi IHA (indirect
hemagglutination), GDP (gel diffusion precipitin), ELISA (enzyme-linked immunosorbent
assay), counterimmunelectrophoresis, indirect immunofluorescence, dan complement
fixation.

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk abses hati meliputi:
a. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk evaluasi
awal dan memiliki sensitivitas sebesar 75-95%. Tampilan USG pada pasien dengan
abses hati sangat bervariasi, tergantung pada derajat evolusi dari abses tersebut. Pada
fase awal abses dapat ditemukan gambaran hiperekoik dan tidak jelas, tetapi ketika
nanah terbentuk dan matang, gambarannya menjadi hipoekoik. Ketika nanah sudah
sangat kental, maka gambaran USG dapat membingungkan antara lesi yang berisi
nanah atau lesi padat.
b. Computed Tomography (CT scan)
Gambaran abses hati bervariasi pada CT scan, pada umumnya adalah lesi sentral
hipodens dengan enhance di perifer. Dibandingkan dengan USG, CT scan lebih
akurat dalam membedakan abses hati dengan lesi hati lainnya dan memiliki
sensitivitas sebesar 95%.
c. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Magnetic Resonance Imaging tidak memiliki kelebihan yang menguntungkan
dibandingkan dengan CT scan.

II.6 Tatalaksana Abses Hati


Penatalaksanaan abses hati meliputi terapi konservatif dan terapi agresif. Terapi
konservatif pada abses hati adalah dengan pemberian terapi medikamentosa, sedangkan yang
termasuk terapi agresif adalah tindakan drainase pus (nanah) maupun operasi.
II.6.1 Terapi Medikamentosa
Pada abses hati piogenik dapat diberikan antibiotik dengan spektrum luas meskipun
sebelum hasil kultur ada. Terapi awal dengan sefalosporin golongan ketiga, misalnya
cefepime dan ceftriaxone umumnya dapat digunakan untuk organisme yang paling sering
ditemukan pada abses hati piogenik, walaupun regimen pengobatan dapat bervariasi
tergantung dari geografis dan kebijakan antimikroba. Awalnya, antibiotik harus diberikan
secara parenteral, dan setelah dua minggu terapi sistemik, pengobatan secara oral dapat
digunakan selama empat minggu.
Pada abses hati amebik, metronidazol masih menjadi obat pilihan dengan dosis 750
mg diberikan tiga kali sehari selama 10 hari, dikatakan tingkat keberhasilan metronidazol
mencapai 90% pada abses hati amebik yang tidak komplikasi. Metronidazol juga dapat
diberikan secara parenteral jika pasien tidak dapat diberikan melalui oral.
II.6.3 Drainase Pus (nanah)
Secara umum, prosedur drainase terbagi menjadi dua yaitu percutaneous needle
aspiration (PNA) dan percutaneous catheter drainage (PCD).
Pada abses hati piogenik, PNA memiliki angka keberhasilan yang tinggi dan
mempersingkat masa perawatan pasien, tetapi sebagian besar membutuhkan aspirasi kedua
atau ketiga kali untuk mencapai keberhasilan. Pengobatan primer yang memerlukan PCD
adalah pus yang terlalu kental untuk diaspirasi, abses yang ukuran diameternya melebihi 5cm,
dinding abses yang tebal dan abses hati piogenik yang multi-lokasi. Meskipun tingkat
keberhasilannya sangat tinggi, PNA atau PCD pernah gagal pada 10% kasus.
Ketidakberhasilan drainase dapat diakibatkan oleh kateter terlalu kecil untuk mengalirkan pus
yang kental, posisi kateter tidak kondusif untuk drainase yang memadai, kateter dilepas lebih
awal dari waktu yang seharusnya dan dinding abses hati piogenik terlalu tebal.
Pada abses hati amebik dilakukan aspirasi pada keadaan yang mencakup kurangnya
perbaikan klinis setelah pemberian antibiotik 48-72 jam, abses hati yang terletak pada lobus
kiri dan abses besar yang memiliki risiko untuk ruptur atau tanda-tanda kompresi.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Baek et al. menunjukkan bahwa 4% dari pasien yang
diterapi dengan PNA dan 12% dari pasien yang diterapi dengan PCD mengalami komplikasi.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan, efusi pleura/empiema, drainase kandung
empedu persisten, kateter bergeser saat pasien bergerak, dan sepsis. Namun, studi yang
dilakukan oleh Rajak et al. dan Giorgio et al. menggambarkan angka kejadian komplikasi
yang lebih rendah pada PNA dibandingkan PCD tetapi kedua prosedur tersebut tetap
dikatakan lebih aman dengan komplikasi yang minimal dan tidak ada pasien yang mengalami
kematian.
Selain untuk meringankan gejala klinis pasien, aspirasi abses hati juga bermanfaat
untuk menentukan diagnosis pasti dengan pengambilan pus untuk kultur.
II.6.3.1 Pembedahan
Indikasi untuk dilakukannya operasi pada abses hati piogenik adalah adanya ruptur
intraperitoneum, abses lebih dari satu yang tidak dapat diterapi dengan pengobatan non-
invasif, kegagalan pada pengobatan non-invasif dan pada kasus yang mengalami komplikasi
dari drainase perkutan (seperti perdarahan atau kebocoran pus intraperitoneum).
Indikasi untuk dilakukannya operasi pada abses hati amebik adalah abses besar
dengan hasil buruk pada aspirasi dengan jarum atau drainase perkutan, perburukan klinis
meskipun telah dilakukan aspirasi dengan jarum dan abses hati amebik yang komplikasi
(seperti rupturnya abses di rongga peritoneum dengan adanya gambaran peritonitis atau
adanya ruptur di rongga pleura, perikardium, maupun pada jaringan yang berdekatan).
Mengingat invasifnya dan komplikasi yang tinggi, dalam prakteknya operasi lebih sering
dikerjakan pada abses yang telah ruptur.

II.7 Komplikasi Abses Hati


Komplikasi abses hati amoeba umumnya berupa perforasi abses ke berbagai rongga
tubuh dan ke kulit. Perforasi ke kranial dapat terjadi ke pleura dan perikard. Insidens
perforasi ke rongga pleura adalah 10-20%. Akan terjadi efusi pleura yang besar dan luas yang
memperlihatkan cairan coklat pada aspirasi. Perforasi dapat berlanjut ke paru sampai ke
bronkus sehindda didapat sputum yang berwarna khas coklat. Perforasi ke perikard
menyebabkan efusi perikard dan temponade jantung.
Komplikasi ke kaudal terjadi ke rongga peritoneum. Perforasi akut menyebabkan
peritonitis umum. Abses kronis, artinya sebelum perforasi, omentum dan usus mempunyai
kesempatan untuk mengurung proses inflamasi, menyebabkan peritonitis lokal. Perforasi ke
depan atau ke sisi terjadi ke arah kulit sehingga menimbulkann fistel yang dapat
menyebabkan timbulnya infeksi sekunder.

II.8 Prognosis
Prognosa abses hati tergantung dari investasi parasit, daya tahan host, derajat dari
infeksi, ada tidaknya infeksi sekunder, komplikasi yang terjadi, dan terapi yang diberikan.
Prognosis yang burukm apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan, jika
hasil kultur darah yang memperlihatkan penyebab bakterial organisme multipel, tidak
dilakukan drainase terhadap abses, adanya ikterus, hipoalbuminemia, efusi pleura atau
adanya penyakit lain.

II.9 Pencegahan
Pencegahan terutama di tujukan pada kebersihan perorangan (personal hygiene) dan
kebersihan lingkungan (environmental sanitation). Kebersihann perorangan antara lain
mencuci tangan dengan bersih sesudah buang air besar dan sebelum makan. Kebersihan
lingkungan meliputi: masak air minum sampai mendidih sebelum diminum, mencuci sayuran
sampai bersih atau memasaknya sebelum dimakan, buang air besar di jamban, tidak
menggunakan tinja manusia untuk pupuk, menutup dengan baik makanan yang dihidangkan
untuk menghindari kontaminasi oleh lalat atau lipas, membuang sampah di tempat sampah
yang tertutup untuk menghindari lalat.
BAB III
KESIMPULAN

Abses hati merupakan infeksi pada hati yang disebabkan bakteri, jamur, maupun
nekrosis steril yang dapat masuk melalui kandung kemih yang terinfeksi dan infeksi dalam
perut lainnya. Abses hati dibedakan menjadi 2 yaitu abses hati amebik dan abses hati
piogenik. Adapun gejala-gejala yang sering timbul diantaranya demam tinggi, nyeri pada
kuadran kanan atas abdomen, hepatomegali, ikterus. Diagnosis yang dipakai sama seperti
penyakit lain yaitu pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan laboratorium. Terapi yang
diberikan adalah antibiotika spektrum luas, aspirasi cairan abses, drainase, laparatomi dan
hepatektomi. Abses hepar dapat disembuhkan bila ditangani dengan cara yang tepat dalm
wantu yang secepatnya, oleh karenanya sangatlah penting untuk dapat mendiagnosanya
sedini mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Italiya H, Shah P, Rajyaguru A, Bhatt J. A prospective study of USG guided
pigtail catheter drainage in management of liver abscess. Int J Res Med Sci.
2015;3(3):574
2. Sudoyo AW, Setiati S, Alwi I, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF,
editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing; 2009.
3. Moorre LJ, Turner KL, Todd SR. Common problems in acute care surgery.
2015.
4. Zafar A, Ahmed S. Amoebic liver abscess: a comparative study of needle
aspiration versus conservative treatment. J Ayub Med Coll Abbottabad. 2002;
14(1): 10-12.
5. Giorgio A, Esposito V, Farella N, Sarno ADI, Liorre G, Stefano M. Amebic
Liver Abscess: A New Epidemiological Trend in a Non-endemic Area?. J In
Vivo. 2009; 23(6): 1027-1030.
6. Wallace MJ, Chin KW, Fletcher TB, Bakal CW, Cardella JF,et al. Quality
Improvement Guidelines for Percutaneous Drainage/ Aspiration of Abscess
and Fluid Collections. J Vasc Interv Radiol. 2010; 21:431-435.
7. Sharma MP, Ahuja V. Management of amebic and pyogenic liver abscess.
Indian J Gastroenterol. 2001; 20 suppl 1:C33-36.
8. Singh S, Chaudhary P, Saxena N, Khandelwal S, Poddar DD, Biswal UC.
Treatment of liver abscess: prospective randomized comparison of catheter
drainage and needle aspiration. Annals of Gastroenterology. 2013; 26(3): 1-8.
9. Sjamsuhidajat R.dkk.2020. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: Penerbit
EGC.