Anda di halaman 1dari 1

Kepiting Soka dikenal pula dengan nama lain kepiting lunak (soft shell crab) atau kepiting

bakau lunak atau kepiting kulit lemburi.


Pembudidayaan Kepiting Soka selain memberikan pendapatan bagi masyarakat
pembudidaya sekaligus pantai dari bahaya abrasi sehingga kelestarian bisa dijaga. Hal ini
dimungkinkan karena pembudidayaan Kepiting Soka umumnya dilakukan di lingkungan atau
di sekitar hutan bakau (mangrove) yang merupakan sumber utama bahan baku Kepiting Soka.
(Kusmana, 1996) menyatakan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai :
1. Penghalang terhadap erosi pantai dan gempurang ombak yang kuat;
2. Pengolah limbah organic
3. Tempat mencari makan, memijah, dan bertelur berbagai biota laut;
4. Habitat berbagai jenis margasatwa;
5. Penghasil kayu dan non kayu; dan
6. Potensi ekoturisme

Budidaya Kepiting Soka saat ini telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia,
terutama di daerah-daerah pantai yang merupakan habitat hutan bakau (mangrove). Menurut
data Kementrian Negara Lingkungan Hidup (KLH) RI (2008) berdasarkan Direktoral Jendral
Rehabilitasi lahan dan Perhutanan Sosial (Dritjen RLPS), Departemen Kehutanan (2000),
luas potensial mangrove Indonesia adalah 9.204.840.32 Ha dengan luasan yang berkondisi
baik 2.548.209.42 Ha, kondisi rusak sedang 4.510.456.61 Ha dan kondisi rusak 2.146.174.29
Ha. Berdasarkan data tahun 2006 pada 15 provinsi yang bersumber