Anda di halaman 1dari 14

Jan 15, '08 9:21 AM

Pinangan (khitbah) dan KHI Pasal 12


for everyone

à 

(1). Peminangan dapat dilakukan terhadap seorang wanita yang masih perawan atau terhadap
janda yang telah habis masa iddahnya.

(2). Wanita yang di talak suami yang masih berada dalam masa iddah raji¶ah, haram dan dilarang
untuk dipinang.

(3). Dilarang juga meminang seorang wanita yang sedang dipinang orang lain, selama pinangan
pria tersebut belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita.

(4). Putus pinangan pihak pria, karena adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan
atau secara diam-diam pria yang meminang telah menjauhi dan meninggalkan wanita yang
dipinang.







Dalam UU Perkawinan sama sekali tidak membicarakan peminangan. Hal ini mungkin
disebabkan peminangan itu tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan perkawinan. KHI
mengatur peminangan itu dalam pasal 1, 11, 12, dan 13. keseluruhan pasal yang mengatur
peminangan ini keseluruhannya berasal dari fqh madzhab, terutama madzhab Syafi¶ie. Namun
hal-hal yang dibicarakan dalam kitab-kitab O  tentang peminangan seperti hukum perkawinan
yang di lakukan setelah berlangsungnya peminangan yang tidak menurut ketentuan, tidak diatur
dalam KHI.

 Dalam makalah ini dijelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pinangan atau
dalam bahasa lain (baca: Arab) adalah p  (merujuk pada KHI 1991 Pasal 12, tentang aturan
pinangan). Selain itu, permasalahan khitbah ini - sering - dianggap   oleh masyarakat
Indonesia tanpa mengacu kepada hukum-hukum Islam yang ada. Oleh karena itu, dalam makalah
ini diulas beberapa hal yang berhubungan dengan khitbah, mohon maaf atas segala kekurangan.

 


Pinangan (meminang/melamar) atau p  dalam bahasa Arab, merupakan pintu
gerbang menuju pernikahan.
  menurut bahasa, adat dan syara, bukanlah perkawinan. Ia
hanya merupakan mukaddimah (pendahuluan) bagi perkawinan dan pengantar kesana.
 
merupakan proses meminta persetujuan pihak wanita untuk menjadi istri kepada pihak lelaki atau
permohonan laki-laki terhadap wanita untuk dijadikan bakal/calon istri.

Seluruh kitab/kamus membedakan antara kata-kata p  (melamar) dan  


(kawin/menikah), adat/kebiasaan juga membedakan antara lelaki yang sudah meminang
(bertunangan) dengan yang sudah menikah; dan syari'at pun membedakan secara jelas antara
kedua istilah tersebut. Karena itu, khitbah tidak lebih dari sekedar mengumumkan keinginan
untuk menikah dengan wanita tertentu, sedangkan   (pernikahan) merupakan aqad yang
mengikat dan perjanjian yang kuat yang mempunyai batas-batas, syarat-syarat, hak-hak, dan
akibat-akibat tertentu.c

Pinangan yang kemudian berlanjut dangan ³pertunangan´ yang kita temukan dalam
masyarakat saat ini hanyalah merupakan budaya atau tradisi saja yang intinya adalah p  itu
sendiri, walaupun disertai dengan ritual-ritual seperti tukar cincin, selamatan dll. Ada satu hal
penting yang perlu kita catat, anggapan masyarakat bahwa pertunangan itu adalah tanda pasti
menuju pernikahan, hingga mereka mengira dengan melaksanakan ritual itu, mereka sudah
menjadi , adalah keliru. Pertunangan (p ) belum tentu berakhir dengan pernikahan.
Oleh karenanya baik pihak laki-laki maupun wanita harus tetap menjaga batasan-batasan yang
telah ditentukan oleh syariat.

Namun Masa p  bukan lagi saat untuk memilih. Mengp  sudah jadi komitmen
untuk meneruskannya ke jenjang pernikahan. Jadi shalat istiharah sebaiknya dilakukan sebelum
p .
  dilaksanakan saat keyakinan sudah bulat, masing-masing keluarga juga sudah
saling mengenal dan dekat, sehingga peluang untuk dibatalkan akan sangat kecil, kecuali ada
takdir Allah yang menghendaki lain.


 , meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara, hal itu tak lebih hanya
untuk menguatkan dan memantapkannya saja. Dan p  bagaimanapun keadaannya tidak
akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi
lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:c
c

Γ˴ ή˴ ˸ϳή˴ ϫ˵ ϲ˶Α΃˴ ˸Ϧϋ ˴ ΐ ˶ ϴ͉δ˴ Ϥ˵ ˸ϟ΍ Ϧ


˶ ˸Α Ϊ˶ ϴ˶όγ
˴ ˸Ϧϋ ˴ ϱ͊ ή˶ ˸ϫΰ͊ ϟ΍ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ˴ ϥ ˵ Ύ˴ϴ˸ϔγ
˵ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ Ϊ˶ ˸Βϋ
˴ Ϧ
˵ ˸Α ϲ
͊ Ϡ˶ϋ
˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴
Ύ˴ϟϭ˴ ΍Ϯ˵θΟ ˴ Ύ˴ϨΗ˴ Ύ˴ϟϭ˴ Ω˳ Ύ˴Βϟ˶ ˲ήο ˶ Ύ˴Σ ϊ˴ ϴ˶Βϳ˴ ˸ϥ΃˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ ˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ ˵ Ϯ˵γέ˴ ϰ˴Ϭϧ˴ ϝ ˴ Ύ˴ϗ Ϫ˵ ˸Ϩϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϲ˴ο ˶ έ˴
ϲ˶ϓ Ύ˴ϣ ΄˴ϔ˴ ˸ϜΘ˴ ϟ˶ Ύ˴ϬΘ˶ ˸Χ΃˵ ϕ
˴ Ύ˴Ϡσ˴ Γ˵ ΃˴˸ήϤ˴ ˸ϟ΍ ϝ
˵ ΄˴˸δΗ˴ Ύ˴ϟϭ˴ Ϫ˶ ϴ˶Χ΃˴ Δ˶ Β˴ ˸τΧ˶ ϰ˴Ϡϋ ˴ ΐ˵ τ ˵ ˸Ψϳ˴ Ύ˴ϟϭ˴ Ϫ˶ ϴ˶Χ΃˴ ϊ˶ ˸ϴΑ˴ ϰ˴Ϡϋ ˴ Ϟ˵Ο ˵ ή͉ ϟ΍ ϊ˵ ϴ˶Βϳ˴
Ύ˴Ϭ΋˶ Ύ˴ϧ·˶
ccccccccccccccc Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rosulullah saw bersabda  pcc  cc  c
c cpc c c c Oc  c
cc
Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah
dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar
sehingga terselenggara perkawinan (akad nikah) dengannya. Tidak boleh si wanita diajak
hidup serumah (rumah tangga) kecuali setelah dilaksanakan akad nikah yang benar menurut
syara', dan rukun asasi dalam akad ini ialah ijab dan kabul. Selama akad nikah - dengan ijab
dan kabul - ini belum terlaksana, maka perkawinan itu belum terwujud dan belum terjadi,
baik menurut adat, syara', maupun undang-undang. Wanita tunangannya tetap sebagai orang
asing bagi si peminang (pelamar) yang tidak halal bagi mereka untuk berduaan.c
c

 à  „

Memang terdapat dalam Alqur¶an dan banyak hadis Nabi yang membicarakan tentang
peminangan. Namun tidak ditemukan secara jelas dan terarah adanya perintah atau larangan
melakukan peminangan sebagaimana perintah untuk mengadakan perkawinan dengan kalimat
yang jelas, baik dalam Alqur¶an maupun dalam hadis Nabi. Oleh karena itu, dalam menetapkan
hukumnya tidak terdapat pendapat ulama¶ yang mewajibkannya.

Mayoritas ulama' mengatakan bahwa tunangan hukumnya , sebab tunangan ibarat
janji dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama dalam ikatan keluarga yang harmonis.
Tunangan bukan hakekat dari perkawinan melainkan langkah awal menuju tali perkawinan.
Namun sebagian ulama' cenderung bahwa tunangan itu hukumnya  dengan alasan akad
nikah adalah akad luar biasa bukan seperti akad-akad yang lain sehingga sebelumnya disunahkan
khitbah sebagai periode penyesuaian kedua mempelai dan masa persiapan untuk menuju
mahligai rumah tanggapun akan lebih mantap.

Ä à  „


 Setiap hukum yang disyariatkan, meskipun hukumnya tidak sampai pada tingkat
wajib,selalu mempunyai tujuan dan hikmah. Adapun hikmah dari adanya syariat peminangan
adalah untuk lebih menguatkan ikatan perkawinan yang diadakan sesudah itu, karena dengan
peminangan itu kedua belah pihak dapat saling mengenal.hal ini sebagaimana dalam hadis Nabi :

˸Ϧϋ ˴ ϝ ˵ Ϯ˴ ˸Σ΄˴˸ϟ΍ Ϯ˴ ϫ˵ ϥ
˴ Ύ˴Ϥ˸ϴϠ˴γ
˵ Ϧ ˵ ˸Α Ϣ˵ λ
˶ Ύ˴ϋ ϲ˶ϨΛ˴Ϊ͉ Σ ˴ ϝ˴ Ύ˴ϗ Γ˴ Ϊ˴ ΋˶ ΍˴ί ϲ˶Α΃˴ Ϧ
˵ ˸Α΍ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ˴ ϊ˳ ϴ˶Ϩϣ˴ Ϧ ˵ ˸Α Ϊ˵ Ϥ˴ ˸Σ΃˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ ˴
Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ
˴ ϲ ͊ Β˶ Ϩ͉ϟ΍ ϝ
˴ Ύ˴Ϙϓ˴ Γ˱ ΃˴ή˴ ˸ϣ΍ ΐ
˴ τ
˴Χ
˴ Ϫ˵ ϧ͉΃˴ Δ˴ Β˴ ˸όη ˵ Ϧ˶ ˸Α Γ˶ ή˴ ϴ˶ϐϤ˵ ˸ϟ΍ ˸Ϧϋ ˴ ϲ ͋ ϧ˶ ΰ˴ Ϥ˵ ˸ϟ΍ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ Ϊ˶ ˸Βϋ
˴ Ϧ˶ ˸Α ή˶ ˸ϜΑ˴
Ύ˴ϤϜ˵ Ϩ˴ ˸ϴΑ˴ ϡ˴ Ω˴ ˸Άϳ˵ ˸ϥ΃˴ ϯ˴ή˸Σ΃˴ Ϫ˵ ϧ͉Έ˶ϓ˴ Ύ˴Ϭ˸ϴϟ˴·˶ ˸ήψ ˵ ˸ϧ΍
Dari Al Mughiroh bin Syu¶bah`c c c  cpcpc  c c c
 c  c c c c   c  c pc c  p c pc  c
pc pcp 

Dalam khitbah dianjurkan bagi lelaki untuk melihat perempuan (dalam batas yang
diperbolehkan agama), bahkan sebelum menyatakan khitbah secara resmi. Dalam riwayat
Mughirah bin Syu'bah ketika hendak melakukan khitbah kepada seorang perempuan, Rasulullah
menasehatinya   c `c c  c pccpc cpcc c cc
p  

K à 

Pertunangan diperbolehkan oleh agama apabila terpenuhi syarat-syarat di bawah ini

a) Tidak adanya penghalang antara kedua mempelai, yaitu tidak ada hubungan keluarga
(mahram), tunggal susuan (rodhoah), mushoharoh, atau penghalang yang lain, sebab
tunangan adalah langkah awal dari perkawinan maka disamakan hukumnya dengan
akad perkawinan.

b) Tidak berstatus tunangan orang lain, seperti dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari
dan Imam An-Nasai mengatakan :" Tidak boleh bagi seorang lelaki melamar tunangan
orang lain sehingga ia menikahinya atau meninggalkannya "Hadits yang senada juga
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim. Keharaman ini jika tidak mendapat
izin dari pelamar pertama atau ada unsur penolakan dari pihak mempelai wanita, itu
tadi adalah pendapat mayoritas ulama' (Hanafiah, Malikiah dan Hanabilah), namun
sebagian ulama' lain memperbolehkan khitbah tersebut apabila tidak ada jawaban yang
jelas dari mempelai wanita.

Adapun cara menyampaikan ucapan peminangan terdapat dua cara :

 Menggunakan ucapan yang jelas dan terus terang dalam arti langsung dipahami atau
tidak mungkin dipahami dari ucapan itu kecuali untuk peminangan seperti ucapan : c
p  cpc p 

b) Menggunakan ucapan yang kurang jelas dan tidak terus terang (p ) yang berarti
ucapan itu dapat mengandung arti bukan untuk peminangan, seperti ucapan :  pcc
cc pccp
Perempuan yang belum menikah atau sudah menikah dan telah habis masa iddahnya
boleh dipinang dengan ucapan terus terang dan boleh pula dengan ucapan sindiran. Tidak boleh
meminang seorang perempuan yang masih punya suami, meskipun dengan janji akan
dinikahinya pada waktu dia telah boleh dinikahi; baik dengan menggunakan bahasa terus terang
seperti :  cpc  c ccpc p cp atau dengan bahasa sindiran,
seperti : ³cp  c  c `cccpc  .

Perempuan yang telah dicerai suaminya dan sedang menjalani iddah raj¶i, sama
keadaannya dengan perempuan yang punya suami dalam hal ketidakbolehannya untuk dipinang
bak dengan bahasa terus terang atau bahasa sindiran. Alasannya, ialah bahwa perempuan dalam
iddah talak raj¶i statusnya sama dengan perempuan yang sedang terikat dalam perkawinan.
Sedangkan perempuan yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya, tidak boleh
dipinang dengan menggunakan bahasa terus terang, namun boleh meminangnya dengan bahasa
sindiran. Kebolehan meminangnya (dengan sindiran) dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat :
235

c˸ϢΘ˵˸ϨϨ˴ ˸ϛ΃˴c˸ϭ΃˴c˯˶ Ύ˴δϨ͋ϟ΍cΔ˶ Β˴ ˸τΧ


˶ c˸Ϧϣ˶ cϪ˶ Α˶ c˸ϢΘ˵˸οή͉ ϋ ˴ cΎ˴Ϥϴ˶ϓc˸ϢϜ˵ ˸ϴϠ˴ϋ ˴ cΡ ˴ Ύ˴ϨΟ
˵ cΎ˴ϟϭ˴ cccccccccccc
c Ύ˱ϟ˸Ϯϗ˴ c ΍Ϯ˵ϟϮ˵ϘΗ˴ c˸ϥ΃˴cΎ͉ϟ·˶c ΍̒ήγ ˶ cϦ͉ ϫ˵ ϭ˵Ϊϋ ˶ ΍˴ϮΗ˵ c Ύ˴ϟc˸ϦϜ˶ ϟ˴ϭ˴ cϦ ͉ Ϭ˵ ϧ˴ ϭ˵ήϛ˵ ˸άΘ˴ γ
˴ c˸ϢϜ˵ ϧ͉΃˴cϪ˵ Ϡ͉ϟ΍cϢ˴ Ϡ˶ϋ
˴ c ˸ϢϜ˵ δ
˶ ϔ˵ ˸ϧ΃˴cϲ˶ϓ
c Ύ˴ϣc Ϣ˵ Ϡ˴˸όϳ˴ c Ϫ˴ Ϡ͉ϟ΍c ϥ
͉ ΃˴c ΍Ϯ˵ϤϠ˴˸ϋ΍˴ϭcϪ˵ Ϡ˴Ο
˴ ΃˴c Ώ˵ Ύ˴ΘϜ˶ ˸ϟ΍c ώ˴ Ϡ˵˸Βϳ˴ c ϰ͉ΘΣ˴ cΡ ˶ Ύ˴ϜϨ͋ϟ΍c Γ˴ Ϊ˴ ˸Ϙϋ
˵ c΍Ϯ˵ϣΰ˶ ˸όΗ˴ c Ύ˴ϟϭ˴ c Ύ˱ϓϭ˵ή˸όϣ˴
cc-  : ΓήϘΒϟ΍ - c˲Ϣϴ˶ϠΣ ˴ c˲έϮ˵ϔϏ ˴ cϪ˴ Ϡ͉ϟ΍cϥ ͉ ΃˴c΍Ϯ˵ϤϠ˴˸ϋ΍˴ϭcϩ˵ ϭ˵έά˴ ˸ΣΎ˴ϓc˸ϢϜ˵ δ ˶ ϔ˵ ˸ϧ΃˴cϲ˶ϓ
ccccccccccccccc cc  pcc c c  c pc  c    c c  c  c
  c c  c  c  c cc c   ccc cc pcc  pcc
p  cc   c pc  cc  cc  cc  cc  cc pcc pc
cccp`cc cccc cc ccpcpc cp cc
pcc `cp cpccpcc pccpcpccOc
  c c  pc c  c pc  cc c  cc pcc cc  pcc
 cc c  c  cc
c

Perempuan yang sedang menjalani iddah dari talak ba¶in dalam bentuk fasakh atau talak
tiga tidak boleh dipinang secara terus terang, namun dapat dilakukan dengan cara sindiran,
sebagaimana yang berlaku pada perempuan yang kematian suami. Kebolehan ini karena
perempuan tersebut telah putus hubungannya dengan bekas suaminya.

!"#$


 Waktu berlangsungnya peminangan, laki-laki yang melakukan peminangan
diperbolehkan melihat perempuan yang dipinangnya. Meskipun menurut asalnya seorang laki-
laki haram melihat kepada seorang perempuan. Kebolehan melihat ini didasarkan kepada hadis
Nabi saw dari jabir:

Ϧ˶ ˸Α Ω˴ ϭ˵ ΍˴Ω ˸Ϧϋ ˴ ϕ ˴ Ύ˴Τ˸γ·˶ Ϧ˵ ˸Α Ϊ˵ Ϥ͉ Τ


˴ ϣ˵ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴ Ω˳ Ύ˴ϳί˶ Ϧ ˵ ˸Α Ϊ˶ Σ
˶ ΍˴Ϯ˸ϟ΍ Ϊ˵ ˸Βϋ˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴ Ϊ˳ Ϥ͉ Τ ˴ ϣ˵ Ϧ˵ ˸Α β˵ ϧ˵Ϯ˵ϳ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ˴
Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ˵ Ϯ˵γέ˴ ϝ ˴ Ύ˴ϗ ϝ
˴ Ύ˴ϗ ή˳ Α˶ Ύ˴Ο ˸Ϧϋ ˴ Ϋ˳ Ύ˴όϣ˵ Ϧ ˶ ˸Α Ϊ˶ ˸όγ
˴ Ϧ ˶ ˸Α Ϧ
˶ Ϥ˴ ˸Σ͉ήϟ΍ Ϊ˶ ˸Βϋ ˴ Ϧ ˶ ˸Α Ϊ˶ ϗ˶ ΍˴ϭ ˸Ϧϋ˴ Ϧ ˶ ˸ϴμ˴ Τ ˵ ˸ϟ΍
ϝ˴ Ύ˴ϗ ˸Ϟό˴ ˸ϔϴ˴ ˸Ϡϓ˴ Ύ˴ϬΣ
˶ Ύ˴Ϝϧ˶ ϰ˴ϟ·˶ ϩ˵ Ϯ˵ϋ˸Ϊϳ˴ Ύ˴ϣ ϰ˴ϟ·˶ Ύ˴Ϭ˸Ϩϣ˶ ή˴ ψ ˵ ˸Ϩϳ˴ ˸ϥ΃˴ ω˴ Ύ˴τΘ˴ ˸γ΍ ˸ϥΈ˶ϓ˴ Γ˴ ΃˴˸ήϤ˴ ˸ϟ΍ ˸Ϣϛ˵ Ϊ˵ Σ ˴ ΃˴ ΐ ˴ τ˴Χ ˴ ΍˴Ϋ·˶ Ϣ˴ Ϡ͉γ˴ ϭ˴
ϰ˴ϟ·˶ ϲϧ˶ Ύ˴ϋΩ˴ Ύ˴ϣ ξ ˴ ˸όΑ˴ Ύ˴Ϭ˸Ϩϣ˶ Ζ ˵ ˸ϳ΃˴έ˴ ϰ͉ΘΣ ˴ Ώ˶ ή˴ Ϝ˴ ˸ϟ΍ Ζ
˴ ˸ΤΗ˴ Ύ˴Ϭϟ˴ Ί ˵ Β˶ Θ˴ ˸Χ΃˴ Ζ˵ ˸ϨϜ˵ ϓ˴ Δ˴ Ϥ˴ Ϡ˶γ
˴ ϲ˶ϨΑ˴ ˸Ϧϣ˶ Δ˱ ϳ˴ έ˶ Ύ˴Ο Ζ ˵ ˸Βτ
˴Ψ ˴ ϓ˴
Ύ˴ϬΘ˵˸Οϭ͉ ΰ˴ Θ˴ ϓ˴ Ύ˴ϬΣ
˶ Ύ˴Ϝϧ˶
cccccccccccc Dari Mu¶adz bin Jabir, Rosulullah saw bersabda:  c c  c pc
 ccc cc ccpccpc p`cpc
pp 

Dalam hadis lain,

Ύ˴ϤϜ˵ Ϩ˴ ˸ϴΑ˴ ϡ˴ Ω˴ ˸Άϳ˵ ˸ϥ΃˴ ϯ˴ή˸Σ΃˴ Ϫ˵ ϧ͉Έ˶ϓ˴ Ύ˴Ϭ˸ϴϟ˴·˶ ˸ήψ


˵ ˸ϧ΍
cccccccccccc  c p`c pc c  p c c pc  c  pc
p cp

Dalam hadis Nabi yang lain,

˸Ϧϋ
˴ ϥ ˴ Ύ˴Ϥ˸ϴϠ˴γ
˵ Ϧ ˶ ˸Α Ϊ˶ Ϥ͉ Τ
˴ ϣ˵ ˸Ϧϋ ˴ Ν ˳ Ύ͉ΠΣ ˴ ˸Ϧϋ ˴ Ι ˳ Ύ˴ϴϏ
˶ Ϧ˵ ˸Α κ ˵ ˸ϔΣ ˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴ Δ˴ Β˴ ˸ϴη
˴ ϲ˶Α΃˴ Ϧ ˵ ˸Α ή˶ ˸ϜΑ˴ Ϯ˵Α΃˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ
˴
Ε˵ ˸ήψ˴ ϧ˴ ϰ͉ΘΣ ˴ Ύ˴Ϭϟ˴ ΄˵Β͉Ψ ˴ Η˴΃˴ Ζ
˵ ˸Ϡό˴ Π ˴ ϓ˴ Γ˱ ΃˴ή˴ ˸ϣ΍ Ζ˵ ˸Βτ˴Χ˴ ϝ˴ Ύ˴ϗ Δ˴ Ϥ˴ Ϡ˴˸δϣ˴ Ϧ ˶ ˸Α Ϊ˶ Ϥ͉ Τ
˴ ϣ˵ ˸Ϧϋ ˴ Δ˴ Ϥ˴ ˸ΜΣ ˴ ϲ˶Α΃˴ Ϧ ˶ ˸Α ˶Ϟ˸Ϭγ ˴ Ϫ˶ Ϥ͋ ϋ
˴
Ζ˵ ˸όϤ˶ γ˴ ϝ ˴ Ύ˴Ϙϓ˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ ˶ Ϯ˵γέ˴ ΐ ˵ Σ ˶ Ύ˴λ Ζ ˴ ˸ϧ΃˴ϭ˴ ΍˴άϫ˴ Ϟ ˵ ό˴ ˸ϔΗ˴ ΃˴ Ϫ˵ ϟ˴ Ϟ
˴ ϴ˶Ϙϓ˴ Ύ˴Ϭϟ˴ Ϟ˳ ˸Ψϧ˴ ϲ˶ϓ Ύ˴Ϭ˸ϴϟ˴·˶
ή˴ ψ
˵ ˸Ϩϳ˴ ˸ϥ΃˴ α ˴ ˸΄Α˴ Ύ˴Ϡϓ˴ Γ˳ ΃˴ή˴ ˸ϣ΍ Δ˴ Β˴ ˸τΧ˶ Ή ˳ ή˶ ˸ϣ΍ ΐ ˶ ˸Ϡϗ˴ ϲ˶ϓ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ˴Ϙ˸ϟ΃˴ ΍˴Ϋ·˶ ϝ ˵ Ϯ˵Ϙϳ˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ ˴ Ϯ˵γέ˴
Ύ˴Ϭ˸ϴϟ˴·˶
Dari Muhammad bin Salamah, c c   c  c c c  c
 c  c ppc  c c pc  `c  pc c  pc c  c
p
Banyak hadis Nabi yang berkenaan dengan melihat perempuan yang dipinang, baik
menggunakan kalimat suruhan, maupun dengan menggunakan ungkapan ³ pc ´.
Namun tidak ditemukan secara langsung ulama¶ mewajibkannya. Bahkan juga tidak dalam
literature ulama¶ Dzahiri yang biasanya memahami perintah itu sebagai suatu kewajiban. Ulama¶
jumhur menetapkan hukumnya adalah boleh, tidak sunnah apalagi menetapkan hokum wajib.
Ditetapkannya hokum mubah ini meskipun terdapat dalam hadis kata suruhan disebabkan oleh
dua hal, yaitu:

a.c Pertama, ditemukan dalam beberapa versi hadis Nabi menggunakan kata ³la junaha´ atau
kata ³la ba¶sa´ yang keduanya tidak mengandung arti selain dari mubah.
b.c Kedua, meskipun terdapat lafadz  dalam beberapa versi hadis Nabi, namun perintah
tersebut dating sesudah sebelum berlakunya larangan secara umum untuk memandang
perempuan. Suruhan setelah datangnya larangan menunjukkan yang disuruh itu
hukumnya hanyalah mubah.

Batas yang boleh dilihat

 Meskipun hadis Nabi menetapkan boleh melihat perempuan yang dipinang, namun ada
batas-batas yang boleh dilihat. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama¶.

Jumhur ulama¶ menetapkan bahwa yang boleh dilihat hanyalah muka dan telapak tangan. Ini
adalah batas yang umum aurat seorang perempuan. Yang menjadi dasar bolehnya melihat dua
bagian badan itu adalah hadis Nabi :

Ϧ˶ ˸Α Ϊ˶ ϴ˶όγ˴ ˸Ϧϋ ˴ Ϊ˵ ϴ˶ϟϮ˴ ˸ϟ΍ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ


˴ Ύ˴ϟΎ˴ϗ ϲ
͊ ϧ˶ ΍͉ήΤ˴ ˸ϟ΍ Ϟ ˶ ˸πϔ˴ ˸ϟ΍ Ϧ
˵ ˸Α Ϟ˵ ϣ͉ ˴Άϣ˵ ϭ˴ ϲ ͊ ϛ˶ Ύ˴τ˸ϧ΄˴˸ϟ΍ ΐ
˳ ˸όϛ˴ Ϧ ˵ ˸Α Ώ ˵ Ϯ˵Ϙ˸όϳ˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ ˴Σ
ϲ˶Α΃˴ Ζ ˴ ˸ϨΑ˶ ˯˴ Ύ˴Ϥ˸γ΃˴ ϥ ͉ ΃˴ Ύ˴Ϭ˸Ϩϋ ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϲ˴ο ˶ έ˴ Δ˴ θ ˴ ΋˶ Ύ˴ϋ ˸Ϧϋ ˴ Ϛ ˳ ˸ϳέ˴ Ω˵ Ϧ ˵ ˸Α΍ Ώ˵ Ϯ˵Ϙ˸όϳ˴ ϝ ˴ Ύ˴ϗ Ϊ˳ ϟ˶Ύ˴Χ ˸Ϧϋ ˴ Γ˴ Ω˴ Ύ˴Θϗ˴ ˸Ϧϋ˴ ή˳ ϴ˶θ˴Α
Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ˵ Ϯ˵γέ˴ Ύ˴Ϭ˸Ϩϋ ˴ ν ˴ ή˴ ˸ϋ΄˴ϓ˴ ˲ϕΎ˴ϗέ˶ ˲ΏΎ˴ϴΛ˶ Ύ˴Ϭ˸ϴϠ˴ϋ ˴ ϭ˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ
˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ ˶ Ϯ˵γέ˴ ϰ˴Ϡϋ ˴ ˸ΖϠ˴Χ ˴ Ω˴ ή˳ ˸ϜΑ˴
΍˴άϫ˴ Ύ͉ϟ·˶ Ύ˴Ϭ˸Ϩϣ˶ ϯ˴ήϳ˵ ˸ϥ΃˴ ˸΢Ϡ˵˸μΗ˴ ˸Ϣϟ˴ ξ ˴ ϴ˶ΤϤ˴ ˸ϟ΍ ˸Ζϐ˴ Ϡ˴Α˴ ΍˴Ϋ·˶ Γ˴ ΃˴˸ήϤ˴ ˸ϟ΍ ϥ ͉ ·˶ ˯˵ Ύ˴Ϥ˸γ˴΃ Ύ˴ϳ ϝ ˴ Ύ˴ϗϭ˴ Ϣ˴ Ϡ͉γ˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴
Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϲ˴ο ˶ έ˴ Δ˴ θ ˴ ΋˶ Ύ˴ϋ ˸ϙέ˶ ˸Ϊϳ˵ ˸Ϣϟ˴ Ϛ ˳ ˸ϳέ˴ Ω˵ Ϧ
˵ ˸Α Ϊ˵ ϟ˶Ύ˴Χ ˲Ϟγ ˴ ˸ήϣ˵ ΍˴άϫ˴ Ω˵ϭ΍˴Ω Ϯ˵Α΃˴ ϝ ˴ Ύ˴ϗ Ϫ˶ ˸ϴϔ͉ ϛ˴ ϭ˴ Ϫ˶ Ϭ˶ ˸Οϭ˴ ϰ˴ϟ·˶ έ˴ Ύ˴η΃˴ϭ˴ ΍˴άϫ˴ ϭ˴
Ύ˴Ϭ˸Ϩϋ
˴
Dari Aisyah ra, c   c  c pc pc pc c  c  c pc c
p c p c c  `c  c  c  c c pc c ! c  c  c
c c  c  c  pc  c  c p c  c c  c  c  pc
pcpcc pc

 Alasan disamakan dengan muka dan telapak tangan saja, karena dengan melihat muka
dapat diketahui kecantikannya dan dengan melihat telapak tangannya dapat diketahui kesuburan
tangannya.
Ulama¶ lain seperti Al awza¶iy berpendapat boleh melihat bagian-bagian yang berdaging.
Daud Dzahiri berpendapat boleh melihat semua badan, karena hadis Nabi yang membolehkan
melihat waktu meminang itu tidak menyebutkan batas-batasnya. Hal tersebut mengandung arti
³boleh´ melihat bagian manapun tubuh seorang perempuan. Walaupun yang demikian adalah
aurat. Namun telah dikecualikan oleh Nabi untuk kepentingan peminangan.

Adapun untuk melihat kepada perempuan itu adalah saat menjelang menyapaikan
pinangan bukan setelahnya, karena bila ia tidak suka setelah melihat ia akan dapat
meninggalkannya tanpa menyakitinya.

Larangan Menyendiri dengan Tunangan

 Haram menyendiri dengan tunangan, karena bukan mahramnya. Agama tidak
memperbolehkan melakukan sesuatu terhadap pinangannya, kecuali melihat saja, sedangkan
perbuatan-perbuatan yang lainnya tetap haram. Akan tetapi apabila ditemani oleh salah seorang
mahramnya guna mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan maksiat, dibolehkan.

Dari Jabir, Rosulullah saw bersabda :

ϝ
˴ Ύ˴ϗ ϝ ˴ Ύ˴ϗ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ Ϊ˶ ˸Βϋ
˴ Ϧ ˶ ˸Α ή˶ Α˶ Ύ˴Ο ˸Ϧϋ ˴ ή˶ ˸ϴΑ˴ ΰ͊ ϟ΍ ϲ˶Α΃˴ ˸Ϧϋ ˴ Δ˴ ό˴ ϴ˶Ϭϟ˴ Ϧ ˵ ˸Α΍ Ύ˴ϧή˴ Β˴˸Χ΃˴ ϕ
˴ Ύ˴Τ˸γ·˶ Ϧ ˵ ˸Α ϰ˴ϴ˸Τϳ˴ Ύ˴ϨΛ˴ Ϊ͉ Σ ˴
˸Ϧϣ˴ ϭ˴ έ˳ ΰ˴ ˸ΌϤ˶ Α˶ Ύ͉ϟ·˶ ϡ˴ Ύ͉ϤΤ˴ ˸ϟ΍ ˸ϞΧ ˵ ˸Ϊϳ˴ Ύ˴Ϡϓ˴ ή˶ Χ
˶ ΂˸ϟ΍ ϡ˶ ˸Ϯϴ˴ ˸ϟ΍˴ϭ Ϫ˶ Ϡ͉ϟΎ˶Α Ϧ
˵ ϣ˶ ˸Άϳ˵ ϥ ˴ Ύ˴ϛ ˸Ϧϣ˴ ˴ϢϠ͉γ ˴ ϭ˴ Ϫ˶ ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ϫ˵ Ϡ͉ϟ΍ ϰ͉Ϡλ ˴ Ϫ˶ Ϡ͉ϟ΍ ϝ ˵ Ϯ˵γέ˴
˸Ϊό˵ ˸Ϙϳ˴ Ύ˴Ϡϓ˴ ή˶ Χ
˶ ΂˸ϟ΍ ϡ˶ ˸Ϯϴ˴ ˸ϟ΍˴ϭ Ϫ˶ Ϡ͉ϟΎ˶Α Ϧ˵ ϣ˶ ˸Άϳ˵ ϥ
˴ Ύ˴ϛ ˸Ϧϣ˴ ϭ˴ ϡ˴ Ύ͉ϤΤ ˴ ˸ϟ΍ Ϫ˵ Θ˴ Ϡ˴ϴ˶ϠΣ
˴ ˸ϞΧ ˶ ˸Ϊϳ˵ Ύ˴Ϡϓ˴ ή˶ Χ˶ ΂˸ϟ΍ ϡ˶ ˸Ϯϴ˴ ˸ϟ΍˴ϭ Ϫ˶ Ϡ͉ϟΎ˶Α Ϧ
˵ ϣ˶ ˸Άϳ˵ ϥ ˴ Ύ˴ϛ
%&'(& )& &*+,-& ./0&1& +)%23456& 87+9:& %&8;& 21< 2 =+->2?+6,& +->&@2A84-%237B)2 +C:7 &5%&D+B)& @& ή˵ ˸ϤΨ ˴ ˸ϟ΍ Ύ˴Ϭ˸ϴϠ˴ϋ
˴ Ώ ˵ ή˴ ˸θϳ˵ Γ˳ Ϊ˴ ΋˶ Ύ˴ϣ ϰ˴Ϡϋ
˴
5
7 %&E+,F4 ->%&G'7 H& -2 %&I45J2 ;& %&'+K)2 .?1& +L)& @7M
 c  c c  c pc  c c  c p c pc  c p 
p c   c c c c c  pc   c  c `c c c
p c c

cccccccccccc

Q # 

 Secara dalil nash, kami belum menemukan dalil yang sharih dan shahih tentang
keharusan adanya jarak waktu tertentu antara khitbah dan akad. Apakah harus sebulan, dua
bulan, tiga bulan atau berapa lama waktu. Kalau pun jarak waktu itu dibutuhkan, barangkali
sekedar untuk memberikan beberapa persiapan yang bersifat teknis. Sebab biasanya, setiap akad
nikah yang akan digelar memang membutuhkan persiapan-persiapan teknis yang mutlak.
Sebagian orang ada yang butuh waktu untuk mengumpulkan dana, atau untuk mencari tempat
yang akan disewa, atau keperluan-keperluan lain yang manusiawi. Sehingga, jarak waktu ini
dikembalikan kepada al-'urf (kebiasaan dan kepantasan) serta tuntutan hal-hal yang bersifat
teknis semata.

Dengan demikian, seandainya kedua belah pihak telah siap segala sesuatunya, atau
mungkin juga tidak terlalu merepotkan urusan teknis, akad nikah bisa digelar saat itu juga
berbarengan dengan khitbah. Maksudnya, sesaat setelah khitbah diterima, langsung saja digelar
akad nikah. Sehingga tidak lagi memboroskan waktu, biaya, dan kebutuhan lain. Apalagi taaruf
antara kedua mempelai sudah menghasilkan kesaling-cocokan. Metode seperti ini kalau memang
ingin dilakukan, tentu tidak ada larangan, lantaran memang tidak ada nash yang melarangnya.
Secara umum, semakin cepat akad nikah dilakukan akan semakin baik. Karena niat baik itu
memang biasanya harus dipercepat. Selain juga untuk memberikan kesempatan kepada kedua
calon pengantin untuk dapat segera menunaikan hajat mereka. Sebab dalam beberapa kasus,
terkadang karena terlalu lama jarak antara khitbah dengan akad nikah, terjadilah hal-hal yang
tidak diinginkan. Misalnya, seringnya terjadi khalwat, pacaran -naudzubillah- sampai ke tingkat
perzinaan. Oleh sebab itu, untuk menghindarinya, maka sebaiknya jarak waktu antara khitbah
dan akad tidak terlalu lama. Cukup sekedar bisa mempertimbangkan masalah teknis saja.

"NO 

Di atas tertera bahwa melamar wanita tunangan orang lain dilarang oleh agama, hal itu
demi untuk menjaga hak si lelaki pelamar pertama dan juga upaya menghindari timbulnya
sengketa umat manusia. Akan tetapi sering terjadi pula seorang lelaki yang nekat melangsungkan
akad pernikahan dengan wanita tunangan orang lain, sebab kondisinya yang kuat atau karena
faktor lain yang mendukung.

Keadaan keadaan perempuan yang dipinang dapat dibagi dalam tiga hal :

a) Perempuan tersebut menyukai laki-laki yang meminangnya dan menyetujui pinangan itu
secara jelas memberi izin kepada walinya untuk menerima pinangan itu.

b) Perempuan tersebut tidak senang dengan laki-laki yang meminang dan secara terus
terang menyatakan ketidaksetujuannya baik dengan ucapan atau dengan tindakan atau
isyarat.

c) Perempuan itu tidak memberikan jawaban yang jelas, namun ada isyarat dia menyenangi
peminangan itu.

Perempuan dalam keadaan yang pertama tersebut tidak boleh dipinang oleh seseorang.
Sedangkan dalam keadaan kedua boleh dipinang karena pinangan pertama jelas ditolak. Adapun
perempuan dalam keadaan yang ketiga menurut sebagian ulama¶ diantaranya Ahmad bin Hanbal
juga tidak boleh dipinang sama keadaannya dengan perempuan dalam keadaan pertama. Namun,
sebagian ulama¶ berpendapat bahwa tidak haram meminang perempuan yang tidak secara jelas
menerima pinangan pertama.
Tentang hukum pernikahan yang telah (terlanjur) dilaksanakan (melangsungkan akad
pernikahan dengan wanita tunangan orang lain ± dalam perbedaan pendapat ulama¶-). Menurut
Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy Syafi¶ie serta Imam Abu Hanifah pernikahan tersebut adalah
sah dan tidak dapat dibatalkan. Menurut ulama¶ Dzahiry pernikahan tersebut tidak sah dengan
arti harus dibatalkan. Sedangkan pendapat ketiga dikalangan Malikiyah berpendapat, bila telah
berlangsung hubungan kelamin dalam pernikahan tersebut, maka pernikahan tersebut tidak
dibatalkan sedangkan bila belum terjadi hubungan kelamin dalam pernikahannya maka
pernikahan tersebut harus dibatalkan.

R O

Memang sering kali tali pertunangan putus di tengah jalan tanpa membuahkan hasil
sampai ke jenjang perkawinan, mungkin sebab terlalu lama menunggu, kondisi yang kurang
mendukung atau karena kemelut badai yang mengguncang eratnya tali pertunangan hingga
pudar.
Ulama' berpendapat, boleh saja membatalkan tali pertunangan, namun itu adalah makruh,
sebab pertunangan ibarat ikatan janji setia dari kedua mempelai untuk menjalin hidup bersama
membina rumah tangga bahagia, sedangkan pembatalan pertunangan ini adalah sebuah
pengkhianatan ikatan janji setia.Belum juga imbas dari pembatalan tali pertunangan ini, sudah
tidak asing lagi, tunangan yang batal adalah ajang percorengan muka, kebahagiaan yang indah,
kenangan manis dan canda ria pun ikut hangus terbakar, kemelut mengguncang. Lalu bagaimana
sikap ulama' menanggapi masalah ini?

Meskipun Islam mengajarkan bahwa memenuhi janji adalah suatu kewajiban, dalam
masalah janji akan menikah ini kadang-kadang terjadi hal-hal yang dapat menjadi alasan yang
sah menurut Islam untuk memutuskan hubungan petunangan. Misalnya, diketahui adanya cacat
fisik atau mental pada salah satu pihak beberapa waktu setelah pertunangan, yang dirasakan akan
mengganggu tercapainya tujuan itu tidak dipandang melanggar kewajiban termasuk hak p 

Berbeda halnya pemutusan pertunangan tanpa alasan yang sah menurut ajaran Islam.
Misalnya, karena ingin mendapatkan yang lebih baik dari segi keduniaan. Ditinjau dari segi nilai
moral Islam, pemutusan pertunangan seperti itu sama sekali tidak dapat dibenarkan.

Masalah yang sering muncul adalah pada masa peminangan, pihak laki-laki memberikan
hadiah-hadiah pertunangan atau ± mungkin ± mahar telah dibayarkan kepada pihak perempuan
sebelum akad nikah dilaksanakan, bagaimana nasib hadiah-hadiah atau mahar tersebut apabila
akhirnya pertunangan terputus? Apakah dikembalikan pada pihak laki-laki atau tetap menjadi
hak sepenuhnya calon istri yang urung tersebut? Mahar yang dibayarkan sebelum akad nikah
(dalam masa tunangan) menjadi hak laki-laki, kecuali apabila direlakan, sebab kewajiban suami
membayar maskawin adalah setelah terjadi ikatan pernikahan.

Sedangkan mengenai hadiah-hadiah pertunangan, seperti tanda pengokoh (peningset atau


pikukuh di jawa) para ulama¶ berbeda pendapat :
a. Sebagian ulama' (Syafi¶iyah) mengatakan bahwa kedua belah pihak boleh menuntut kembali
atas pemberiannya, baik pembatalan tunangan tersebut bersumber dari pihak mempelai
pria maupun dari mempelai wanita, dan jika barang pemberian tersebut telah rusak atau
berubah menjadi barang lain maka wajib mengembalikan  nya.

b. Madzhab Hanafiah mengatakan jika hadiah itu masih utuh dan tidak ada perubahan, maka
kedua belah pihak boleh menuntutnya kembali, namun bila terjadi perubahan atau rusak, maka
kedua belah pihak tidak boleh saling menuntut kembali atas pemberiannya itu.

c. Berbeda lagi dengan pendapat Malikiah, menurutnya pihak yang menghendaki pembatalan tali
tunangan tidak berhak apa-apa atas pemberiannya, dan harus mengembalikan hadiah-hadiah
yang pernah diterima dari pihak lain baik barangnya masih utuh ataupun telah rusak, atau
berubah menjadi barang lain. Penyimpangan dari ketentuan tersebut hanya dibanarkan apabila
ada syarat lain antara keduabelah pihak, atau apabila "O (adat kebiasaan) tempat piha-pihak
bersangkutan mengatakan lain.

$" 

Biasanya prialah yang menentukan pilihanya pada seorang wanita, inilah adat di Negara
kita dan budaya ketimuran pada umumnya, sebab mayoritas wanita dihiasi perasaan malu yang
tinggi dan enggan mengutarakan isi hatinya, justru karena tabiat inilah yang membuat kaum
lelaki tertarik dan ingin segera mempersuntingnya. Namun juga sering terjadi pihak keluarga
mempelai wanita yang memulai jalinan tali pertunangan dan bahkan banyak wanita yang berani
mengungkapkan cintanya pada sang pria.

Memang ini bukan hal yang baru atau imbas dari era modern, namun budaya ini adalah
warisan nenek moyang kita, karena masalah ini sudah berjalan di zaman Nabiyullah Suaib a.s.
tertera dalam Al Qur'an surat al-Qishos ayat 27 bahwa Nabiyullah Suaib a.s. pernah menawarkan
puterinya pada Nabi Musa as. Begitu juga di zaman Rasulullah saw. ketika Ummul mukminin
Khodijah ra. Mengungkapkan cintanya terhadap Rasulullah dan memohon agar Rasulullah
berkenan menikahinya.

P  

Peminangan itu adalah suatu usaha yang dilakukan mendahului pernikahan. Namun
peminangan itu bukan suatu perjanjian yang mengikat untuk dipatuhi. Laki-laki yang meminang
atau pihak yang dipinang dalam masa menjelang pernikahan dapat saja membatalkan pinangan
tersebut, meskipun dulunya ia menerima. Meskipun demikian, pemutusan peminangan tersebut
sebaiknya dilakukan secara baik dan tdak menyakiti pihak manapun. Pemberian yang dilakukan
dalam acara pinangan tersebut tidak mempunyai kaitan apapun dengan mahar yang diberikan
kemudian dalam pernikahan. Dengan demikian, pemberian tersebut dapat diambil kembali bila
peminangan itu tidak berlanjut denganpernikahan.

Hubungan antara laki-laki yang meminang dengan perempuan yang dipinang ±selama
masa antara peminangan dan perkawinan- adalah sebagaimana hubungan laki-laki dan
perempuan asing ( c c  ). Oleh karena itu, belum berlaku hak dan kewajiban
(suami-istri) diantara keduanya.

$

KHI kurang jelas/mendetail dalam mengatur peminangan, Dalam pasal 13 sendiri dibahas
tentang akibat hukum suatu peminangan. ³p´ yang dimaksud dalam pasal 13 ayat 1 adalah
hukum atau hubungan antara laki-laki yang meminang dengan perempuan yang dipinang adalah
³orang asing´ dan tidak menimbulkan akibat hukum yang mengikat. Namun, di dalamnya
terdapat hukum sebagaimana yang tertulis dalam pasal 12 (peraturan pinangan) ayat 3 yaitu tidak
boleh meminang wanita yang masih dalam pinangan orang lain, selama pinangan tersebut belum
putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita. Disisis lain, dalam pasal 12 poin 1 yang
berbunyi ³ c c  ppc c c c  c  c c c
c c  c  c c  Dalam pasal ini tidak disebutkan bahwa wanita yang
ditinggal mati oleh suaminya namun masih dalam masa iddah, boleh dilamar namun harus
dengan cara p  (sindiran) tidak boleh menggunakan cara yang  c (jelas). Begitu juga
dengan seorang wanita yang menjalani masa iddah dari talaq ba¶in dalam bentuk fasakh atau
talaq tiga boleh dipinang namun dengan cara sindiran.
$

Begitulah tunangan yang membudaya saat ini, ada yang membuahkan hasil positif sebagi
langkah awal membina rumah tangga, dan juga banyak yang kandas di tengah jalan, mungkin
karena belum ada kesiapan atau sebab beberapa pertimbangan yang wajib dibuat acuan malah
dilupakan.
Dengan demikian cenderung perlu adanya tali pertunangan sebagai langkah awal menuju
perkawinan, namun harus memperhatikan hal-hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya
sebagai berikut:

1) Punya rencana kapan penikahan akan diadakan, jangan sampai jarak antara
tunangan dan perkawinan terlalu lama.

2) Sudah yakin siap mengikatkan diri pada satu orang.

3) Menikah dengan motivasi yang positif.

4) Kesiapan kedua belah pihak menhadapi limpahan tanggung jawab.

5) Status pendidikan dan penghasilan pasangan.

Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa dibuat bahan acuan dan pertimbangan
bagi mereka yang akan menjalin rumah tangga bahagia dan semoga Allah SWT. Selalu
memberikan yang terbaik bagi kita semua Amin. þ c c  

êQ

Sabiq, Sayid. (1980). ò  c , Alih Bahasa: Muhammad Thalib. Cetakan Pertama. PT Al
Ma¶arif. Bandung
'cp c c  (Kompilasi Hukum Islam). Cetakan I, WIPRESS

Azhar Basyir, Ahmad. (1999). !pcp c . Cet. Ke-9. UII Press. Yogyakar