Anda di halaman 1dari 3

Awal sejarah tertulis

Nihon Shoki merupakan literatur klasik yang memuat sejarah tertulis paling tua tentang
masakan Jepang. Nihon Shoki mengisahkan tentang Iwakamutsukari-no-mikoto yang
merupakan nenek moyang klan Takahashi. Iwakamutsukari-no-mikoto
menghidangkan Namasu dari ikan cakalang dan kerang Hamaguri yang dipotong-potong dan
diacar dengan cuka. Hidangan ini dibuat untuk Kaisar Keiko yang sedang mengunjungi
provinsi Awa karena bersedih atas kematian Yamato Takeru. Iwakamutsukari-no-mikoto
bertugas sebagai juru masak istana dan kemudian dijadikan dewa masakan.

Asal-usul masakan
Nasi mulai dimakan orang Jepang sejak zaman Jomon dengan lauk dari bahan makanan yang
dibuat nimono, dipanggang, dan dikukus. Cara mengolah makanan dengan menggoreng
dikenal di zaman Asuka dan berasal dari semenanjung Korea dan Tiongkok. Teh dan
masakan khas pendeta diperkenalkan di Jepang bersamaan dengan masuknya
agama Buddha, tapi hanya berkembang di kalangan kuil. Makanan khas pendeta dikenal
sebagai makanan Buddhis (Shōjin ryōri) yang melarang keras hewan peliharaan dan
binatang buas seperti monyet dijadikan bahan makanan.
Menurut literatur klasik Engishiki, di berbagai tempat di Jepang barat terdapat upacara yang
menggunakan ikan hasil fermentasi yang disebut Narezushi sebagai persembahan.

Masakan zaman Nara


Pengaruh kebudayaan Tiongkok yang kuat di zaman Nara berpengaruh pada masakan di
zaman Nara. Makanan dimasak sebagai hidangan pada ritual dan perayaan yang berkaitan
dengan musim. Di sepanjang tahun selalu ada perayaan dan pesta makan-makan. Cara
memasak dari Tiongkok mulai digunakan untuk mengolah bahan makanan lokal.
Penyesuaian cara memasak dari Tiongkok dengan keadaan alam di Jepang akhirnya
melahirkan masakan yang khas Jepang.

Masakan zaman Heian


Di zaman Heian, masakan Jepang makin berkembang sambil terus menerima pengaruh dari
daratan Tiongkok. Pada masa itu mulai dikenal makanan seperti Karaage, Karani, kue-kue
asal Tiongkok (Tōgashi), dan Natto ala Tiongkok. Sementara itu, aliran masak-memasak dan
etiket makan juga berkembang di kalangan bangsawan. Fujiwara no Yamakage menyunting
buku memasak aliran Shijō berjudul Shijōryū Hōchōshiki atas perintah kaisar Kōkō. Sampai
saat ini, rumah makan tradisional Jepang sering memiliki altar pemujaan (kamidana) untuk
Fujiwara no Yamakage dan Iwakamutsukari-no-mikoto.

Masakan zaman Kamakura


Makanan olahan dari tahu yang disebut Ganmodoki mulai dikenal bersamaan dengan makin
populernya tradisi minum teh dan meluasnya ajaran Zen. Di zaman Kamakura, makanan
dalam porsi kecil untuk biksu yang menjalani latihan dikenal sebagai masakan Kaiseki.
Pendeta Buddha bernama Eisai kembali ke Jepang membawa teh dari Tiongkok yang
dinikmati dengan masakan Kaiseki. Masakan ini nantinya berkembang menjadi makanan
untuk resepsi atau jamuan makan yang juga disebut Kaiseki, tapi ditulis dengan
aksara kanji yang berbeda.

Masakan zaman Edo


Kebudayaan orang kota berkembang pesat di zaman Edo dan makanan penduduk kota
seperti Tempura dan minuman Mugicha mulai banyak dijual di kios-kios pasar kaget. Pada
masa itu mulai banyak dijumpai rumah makan yang khusus
menyediakan Nigirizushi dan Soba. Ōrusuichaya adalah sebutan untuk rumah makan
tradisional (ryōtei) yang digunakan kalangan samurai sewaktu menjamu tamu dengan pesta
makan. Makanan dinikmati secara santai sambil meminum sake, dan tidak mengikuti tata
cara makan formal seperti masakan gaya Kaiseki atau masakan gaya Honzen. Masakan yang
berkembang di Ōrusuichaya disebut Kaisekiryōri (会席料理 masakan jamuan makan?) yang
ditulis memakai aksara kanji yang berbeda dengan masakan Kaiseki untuk upacara minum
teh.
Sementara itu, teknik pembuatan kue-kue tradisional Jepang (Wagashi) menjadi
berkembang berkat tersedianya gula yang sudah menjadi barang yang lumrah di zaman Edo.
Daging ternak mulai dikonsumsi orang Jepang dan daging sapi dimakan sebagai obat. Di
pertengahan zaman Edo, makanan mulai dihias dengan Wachigai daikon (hiasan dari lobak)
sejalan dengan mulai dikenalnya teknik seni ukir sayur. Di zaman yang sama mulai dikenal
telur rebus aneh dengan kuning telur berada di luar dan putih telur di dalam (Kimigaeshi
tamago).

Masakan Kanto
Masakan Jepang yang dikenal sekarang merupakan hasil penyempurnaan masakan di zaman
Edo. Di masa itu dikenal kewajiban Sankin Kōtai bagi daimyo dari seluruh penjuru Jepang.
Ikan kakap merupakan lambang kemakmuran dan ikan kakap yang dipanggang utuh tanpa
dipotong-potong merupakan hidangan istimewa pada kesempatan khusus. Makanan yang
dihidangkan pada pesta makan terdiri dari dua jenis: makanan untuk dimakan di tempat
pesta, dan makanan yang berfungsi sebagai hiasan. Panggang ikan kakap termasuk dalam
makanan hiasan yang boleh saja dimakan di tempat pesta, tapi lebih merupakan hiasan yang
dinanti-nanti para tamu untuk dibawa pulang. Selain ikan kakap, tamu biasanya
dipersilakan membawa pulang kinton (biji berangan dan ubi jalar yang dihaluskan)
dan kamaboko.

Masakan Kansai
Masakan Kansai adalah sebutan untuk masakan Osaka dan masakan Kyoto. Berbeda dengan
budaya Edo yang gemerlap, masakan Kyoto mencerminkan budaya Kyoto yang elegan.
Masakan kuil agama Buddha banyak mempengaruhi masakan Kyoto yang banyak
menggunakan sayur-sayuran, tahu, kembang tahu, dan sedikit makanan laut karena letak
Kyoto yang jauh dari laut. Masakan Kyoto melahirkan cara memasak dengan bumbu
seminimal mungkin agar rasa asli tahu atau kembang tahu yang memang sudah “tipis” tidak
hilang. Kepandaian mengolah ikan hasil awetan seperti Bodara (ikan Cod kering)
dan Migakinishin (ikan Hering kering) hingga menjadi hidangan yang enak merupakan
keistimewaan masakan Kyoto.
Sebagai kota tepi laut dengan hasil laut yang melimpah, masakan Osaka mengenal berbagai
cara pengolahan hasil laut. Makanan laut diolah agar enak untuk langsung dimakan di
tempat dan tidak untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Masakan Osaka tidak
mementingkan rasa makanan kalau sudah dingin karena menganut prinsip “makanan yang
habis dimakan”. Prinsip ini bertolak belakang dengan masakan Kanto yang memikirkan rasa
makanan kalau sudah dingin. Seiring dengan perkembangan zaman, perbedaan antara
masakan Kansai dan masakan Kanto menjadi semakin kecil berkat saling belajar dari
kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Sumber:https://subpokbhsjepang.wordpress.com/2008/06/06/sejarah-masakan-jepang/

Anda mungkin juga menyukai