Anda di halaman 1dari 14

JURNAL BERAJA NITI

ISSN : 2337-4608
Volume 3 Nomor 1 (2014)
http://e-journal.fhunmul.ac.id/index.php/beraja
© Copyright 2014

UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN DENDA


KETERLAMBATAN ANGSURAN PADA PERJANJIAN KREDIT JUAL
BELI MOTOR STUDI PT. MEGA AUTO CENTRAL FINANCE DI
BALIKPAPAN
Toberi1
(Toberycihuy12@gmail.com)
Emilda Kuspraningrum2
(emilda@fhunmul.ac.id)
Erna Susanti3
(r_nas77@rocketmail.com)
Abstrak
Perkembangan perusahaan pembiayaan konsumen yang sangat pesat di ikut
pula, dengan cepatnya laju pertumbuhan penduduk dan tingginya perlunya
penambahan armada angkutan umum sehingga secara kumulatif, jumlah
kendaraan di Kota Balikpapan bertambah banyak, melalui perjanjian pembiayaan
yang merupakan perjanjian kredit jual beli, dalam sekejap konsumen dapat
segera dan dengan mudah mendapatkan sepeda motor baru maupun bekas yang
diinginkannya. Konsumen hanya perlu membubuhkan tanda tangannya pada
surat perjanjian kredit jual beli yang sudah dibuat dan dipersiapkan oleh pihak
dealer atau pelaku usaha sebelumnya. Dimata hukum, konsumen belumlah
menjadi pemilik kendaraan yang sah. Selama semua angsuran belum dilunasi,
konsumen hanyalah berstatus peminjam atau penyewa saja. Masalah akan
muncul apabila konsumen tertunda membayar angsuran, maka dikenanakan
denda-denda yang berkaitan dengan keterlambatan dalam melakukan
pembayaran angsuran, Untuk setiap keterlambatan 1 (satu) hari maka dikenakan
denda sebesar Rp”biaya angsuran x 5/1000.” (lima per seribu) atau 0,5% (nol
koma lima persen), maka kedudukan konsumen dalam perjanjian kredit jual beli
dalam hal ini menjadi sangat lemah jika dibandingkan dengan kedudukan dealer
atau pelaku usaha yang merupakan pemilik atau penjual. Undang-Undang yang
mengatur penyelesaian sengketa diluar pengadilan adalah Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Kata kunci : Penyelesaian Pembayaran Angsuran, Perjanjian Kredit

1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
2
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
3
Dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Mulawarman
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

Pendahuluan
Seperti pada umumnya kota besar, lalu lintas Kota Balikpapan

kepadatan mencapai puncaknya pada jam-jam sibuk, terutama pada saat orang

berangkat ke tempat kerja, pulang kerja, atau akhir minggu. Sebagai salah satu

tujuan pendatang sehingga laju pertumbuhan penduduk berjalan sangat cepat.

Dengan cepatnya laju pertumbuhan penduduk dan tingginya tingkat permintaan

konsumen tentu saja menyebabkan permintaan terhadap alat transportasi pun

meningkat, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Dalam konteks

angkutan umum, bertambahnya jumlah penduduk berarti ada tuntutan akan

perlunya penambahan armada angkutan umum sehingga secara kumulatif,

jumlah kendaraan di Kota Balikpapan bertambah banyak. Menggunakan

kendaraan roda empat seringkali terjebak kemacetan sehingga berakibat

terlambat tiba di tempat kerja, sejumlah warga pun lebih memilih menggunakan

kendaraan roda dua, khususnya sepeda motor. Jenis kendaraan roda dua bukan

saja lebih efisien dari segi biaya namun kelincahan, kegesitan dan fleksibilitasnya

dalam menyesuaikan diri dalam berbagai medan jalan juga membuat sepeda

motor banyak diminati berbagai kalangan masyarakat khususnya menengah

kebawah. Harganya yang relatif terjangkau oleh semua lapisan masyarakat

memungkinkan jenis kendaraan roda dua untuk menjadi sarana mobilitas yang

bersifat pribadi. Dengan bentuknya yang ramping, sepeda motor dapat dengan

lincah menerobos kemacetan, sehingga penggunanya lebih cepat sampai ke

tujuan.

2
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

Menggunakan transportasi umum membutuhkan biaya yang lumayan

besar jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Kenaikan harga Bahan Bakar

Minyak (BBM) sebanyak dua kali berturut-turut sepanjang tahun 2011 dan tahun

2013 baru-baru ini juga semakin menambah alasan meningkatnya permintaan

kendaraan sepeda motor untuk daerah Balikpapan. Masyarakat di Balikpapan

lebih memilih sepeda motor sebagai sarana transportasi, karena selain lebih

hemat biaya jika dibandingkan dengan naik kendaraan umum angkutan kota,

semakin banyaknya dealer sepeda motor yang menawarkan berbagai macam

fasilitas dan kemudahan semakin menambah minat warga di Balikpapan untuk

memiliki sepeda motor baik secara tunai maupun kredit.

Dengan menggunakan kejelian membaca kebutuhan masyarakat akan

alat transportasi yang efisien, maka dealer-dealer berusaha menawarkan berbagai

kemudahan memiliki sepeda motor.4 Mulai dengan penawaran berbagai macam

hadiah, uang muka yang sangat terjangkau sampai dengan garansi pemeliharaan

kendaraan. Bagi dealer-dealer atau penyalur kendaraan bermotor, situasi ini

sekaligus sebagai peluang untuk meningkatkan penjualan. Untuk pembelian

sepeda motor baru, fasilitas kredit bunga ringan serta uang muka di bawah Rp

5.000.000,- (lima juta rupiah) telah menjadi faktor pemikat yang mendorong

konsumen mendatangi dealer sepeda motor produksi terbaru. Persyaratan kredit

yang mudah serta uang muka kurang dari Rp 5.000.000,-, (lima juta rupiah)

menjadi kunci pendukung meningkatnya tingkat penjualan. Berdasarkan

4
Mariam Darus Badrul Zaman, Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Jakarta,
2001, Halaman 83-89

3
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

pengamatan yang dilakukan sepanjang tahun 2012, hanya dengan uang muka Rp

5.000.000,- (limajuta rupiah) konsumen sudah dapat memiliki sepeda motor baru

secara kredit dengan jangka waktu cicilan antara 1 (satu) sampai 3 (tiga) tahun

dengan biaya angsuran perbulannya 500.000,- (lima ratus ribu rupiah). Semakin

banyaknya peminat sepeda motor, membuat dealer terus berupaya memberikan

fasilitas kredit hingga ke motor bekas dengan fasilitas kredit murah.5 Melalui

perjanjian pembiayaan yang merupakan perjanjian kredit jual beli,konsumen

hanya perlu membubuhkan tanda tangannya pada surat perjanjian kredit jual beli

yang sudah dibuat dan dipersiapkan oleh pihak dealer atau pelaku usaha

sebelumnya.6Namun, tidak banyak konsumen yang menyadari adanya

konsekuensi dan berbagai kemungkinan negatif dibalik berbagai kemudahan yang

ditawarkan. dikenanakan denda-denda yang berkaitan dengan keterlambatan

dalam melakukan pembayaran angsuran. Untuk setiap keterlambatan 1 (satu)

hari maka dikenakan denda sebesar Rp”biaya angsuran x 5/1000.” (lima per

seribu) atau 0,5% (nol koma lima persen), maka kedudukan konsumen dalam

perjanjian kredit jual beli dalam hal ini menjadi sangat lemah jika dibandingkan

dengan kedudukan dealer atau pelaku usaha yang merupakan pemilik atau

penjual. Sengketa yang terjadi tentunya harus dapat diselesiakan oleh para

pihak.Penyelesaian sengketa tersebut dapat dilakukan melalui pengadilan ataupun

diluar pengadilan.Penyelesaian sengketa melalui pengadilan berpedoman pada

5
PT. Mega AutoCentral Finance, Sistempembayaran uang muka kreditSepada Motor di PT.
Mega AutoCentral Finance cabang Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan
6
PT. Mega AutoCentral Finance, perjanjian Kredit Sepada Motor di PT. Mega AutoCentral
Finance cabang Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan

4
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

hukum acara yang mengatur persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar

suatu sengketa dapat diajukan serta upaya-upaya yang dapat dipenuhi agar suatu

sengketa dapat diajukan serta upaya-upaya yang dapat dilakukan. Sedangkan,

penyelesaian sengketa diluar pengadilan adalah penyelesaian sengketa yang

dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak dan prosedur penyelesaian atas

suatu sengketa diserahkan sepenuhnya kepada para pihak yang bersengketa7

adapun Undang-Undang yang mengatur penyelesaian sengketa diluar pengadilan

adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif

Penyelesaian Sengketa. Berkaitan dengan uraian tersebut di atas maka penulis

tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengangkat hal tersebut sebagai

data untukmenyusun skripsi yang akan diberi judul tentang,“ Upaya Hukum

Penyelesaian Sengketa Pembayaran Denda Keterlambatan Angsuran Pada

Perjanjian Kredit Jual Beli Motor Studi PT. Mega Auto Central FinanceDi

Balikpapan”.

Pembahasan
1. Kedudukan konsumen terhadap perjanjian kredit jual beli motor
dengan PT. Mega Auto Central Finance.
a. Kedudukan konsumen Dalam Perjanjian Kredit

Dalam pasal 1 (ayat 4) menerangkan bahwa atas setiap keterlambatan

pembayaran angsuran diatas, pihak kedua sepakat membayar sanksi

(ta’zir) sebasar Rp. 5.000 (lima ribu rupiah) untuk dana sosial ditambah

dengan ganti kerugian (ta’widh). Didalam surat perjajian kredit jual beli

7
Lihat pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesian Sengketa

5
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

motor yang dibuat oleh pihak pembiayaan konsumen hanya disebutkan

denda sebesar Rp. 5.000 membayar sanksi (ta’zir) dan tidak adanya

penjelasan dalam pasal-pasal perjanjian kredit jual beli motor yang

merangkan bahwatidak adanya denda dalam keterlambatan pembayaran

angsuran, tetapi dalam sistem pembayaran jika konsumen melakukan

keterlambatan pembayaran angsuran maka pihak pembiayaan konsumen

yaitu Finance meminta kepada pihak konsumen diharuskan membayar

biaya keterlambatan yaitu biaya penagihan sebesar Rp. 12.500,-

ditambah dengan denda sebesar 0,5% per hari dari angsuran–angsuran

terhutangbiaya angsuran perbulannya yang ditanggung oleh pihak

konsumen sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) maka dalam hal

ini konsumen sangatlah dirugikan dalam pembayaran denda

keterlambatan angsuran tersebut.

Wanprestasi dapat berupa: pertama, tidak melaksanakan apa

yang disanggupi akan dilakukan. Kedua, melaksanakan apa yang

dijanjikannya, tetapi tidak sebagimana mestinya. Ketiga, melakukan apa

yang dijanjikan tetapi terlambat. Keempat, melakukan sesuatu yang

menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Namun dalam perjanjian

kreditur dan debitur pada PT Mega Auto Central Finance dikota

Balikpapan terjadi tidak terpenuhnya syarat dari wanprestasi seperti

unsure yang ketiga yaitu, melakukan apa yang dijanjikan tetapi

terlambat, seperti yang terjadi pada debitur di PT Mega Auto Central

Finance dikota Balikpapan. Sehingga dalam prosedur perjanjian dalam

6
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

pembayaran anggsuran, sebelum dinyatakan wanprestasi pihak kreditur

memberikan somasi sebanyak 3 kali kepada debitur, sehingga pihak

debitur diberikan peringatan untuk pembayaran keterlambatan anggsuran

secara tertulis. Sehingga kreditur berhak dan berwenang untuk menarik

kendaraan yang telah diperjanjiakn didalam perjanjian tersebut.

b. Judul Perjanjian

Judul perjanjian ini pelaku usaha atu disebut kreditur

menggunakan perjanjian syariah namum isi dari perjanjian tersebut

menggunakan perjanjian umum, sehingga konsumen kurangnya

mempelajari isi dari perjanjian kredit yang disediakan oleh pihak Finance

yaitu pihak pembiayaan konsumen. Bahasa dalam perjanjian akad

murabahah tersebut tidak semua menggunakan bahasa syariah sehingga

didalam perjanjian tersebut terdapat bahasa konvensional pada umumnya

sehingga konsumen mengalami keraguan dalam melaksanakan isi

perjanjian tersebut dan dapat batal demi hukum karena tidak sesuainya

dengan judul, isi perjanjian tersebut.

c. Asuransi

Dalam pasal 5 (ayat 2) menerangkan bahwa pihak kedua sepakat untuk

mengansuransikan barang ke perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh

pihak pertama dengan biaya-biaya ditanggung oleh pihak kedua yang

dibayarkannya melalui perantara pihak pertama. Lemahnya pasal 5 (ayat

1) dalam perjanjian ini adalah jika barang tersebut hilang bahkan rusak

maka pihak pertama tidak menjadi tanggung jawab, bahkan pihak pertama

7
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

tetep menuntut agar pihak kedua untuk melakukan pembayaran sisa

angsuran tersebut yang telah menjadi kesepakatan anatara kedua belah

pihak dalam perjanjian ini, semua biaya asuransi ditanggung oleh pihak

kedua dan perusahaan asuransi ditentukan oleh pihak pertama bahkan

pembayaran asurans harus melalui pihak pertama, dan jika barang

tersebut hilang maupun rusak maka pihak kedua dikenakan potongan

biaya ongkos mengajukan, mengurus maupun menyelesaikan perkara

tersebut adanya potongan biaya angsuran yang belum sepat dilunasi oleh

pihak kedua.

Jika kendaraan tersebut mengalami kerusakan kurang dari 75%

(tujuh puluh lima persen) maka pihak asuransi tidak akan menggantikan

kendaraan tersebut, maka konsumen dalam hal ini sangatlah dirugikan

oleh pihak auransi. Pada setiap bulannya konsumen selalu membayar

biaya asuransi kepada pihak pertama, sedangkan hak konsumen tersebut

tidak dijalankan dengan baik oleh pihak pertama. Dalam pasal 5 (ayat 2)

diterangkan sepakat untuk mengansuransikan pada perusahaan asuransi

yang ditunjuk oleh pihak pertama sehingga konsekuensi barang pada pasal

5 ayat 1 segala resiko hilang atau musnahnya barang karena sebab

apapun juga sepenuhnya menjadi pihak kedua, sehingga dengan hilangnya

atau musnahnya barang menjadi tanggung jawab pihak ke 2 (dua).

Sehingga pihak pertama tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana

jika terjadi kehilangan atau musnahnya barang tersebut dalam perjanjian.

8
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

d. Wanprestasi

Dalam pasal 6 (ayat 1) menerangkan bahwa pihak kedua sepakat dan

mengikatkan diri kepada pihak pertama telah terjadi wanprestasi yang

dengan lewatnya waktu yang telah cukup membuktikan dan tidak perlu

dibuktikan lagi akan tetapi cukup dengan terjadinya salah satu atau lebih

keadaan seperti sebagai berikut:

a. Pihak kedua lalai dan/atau gagal memenuhi salah satu atau lebih

kewajiban sebagaimana ditentukan dalam akad ini;

b. Pihak kedua lalai melakukan kewajiban pembayaran angsuran

pada tanggal jatuh tempo angsuran.

Pihak kedua melakukan wanprestasi dalam perjanjian yang telah

disepakati kedua belah pihak dengan lewatnya tanggal pembayaran yang

dilakukan oleh pihka kedua karena pihak kedua lalai melakukan

kewajibannya untuk pembayaran angsuran yang telah menjadi

tanggungan pihak kedua untuk melunasi seluruh biaya pinjaman dana

kepada pihak pertama yang disebut pelaku usaha.

a. Pihak kedua lalai melakukan kewajiban atas pembayaran angsuran

sepada motor yang telah dikedit dengan biaya angsuran yang telah

disepakati antara kedua belah pihak, segingga pihak pertama merasa

dirugikan dengan keterlambatan yang dilakukan konsumen tersebut;

9
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

b. Pihak kedua tidak menjalankan kewajibannya pada saat jatuh tempo

pembayaran angsuran tersebut, maka pihak kedua telah melakukan

wanprestasi dalam perjanjian yang telah disepakati antara kedua

belah pihak tersebut. Pihak kedua telah lalai melakukan tanggung

jawabnya untuk melakukan pembayaran angsuran yang telah

disepakati pada tanggal pembayaran yang telah disepakatui antara

kedua belah pihak pada saat melakukan tanda tangan perjanjian dan

pihak kedua tidak melaksanakan apa yang disanggupi pada saat

melakukan perjanjian tersebut.

2. Upaya penyelesian sengketa antara PT.Mega Auto Central


Financedengan konsumen dalam pembayaran denda keterlambatan
angsuran
Pada pasal 8 (ayat 1) ini dtiterangkan penyelesian senkgeta antara

kedua belah pihak telah dipakati dengan cara musyawarah untuk

mendapatkan titik temu permasalahan diantara kedua belah pihak yang

bersengketa tersebut, namun didalam lapangan yang saya temukan adalah

tidak adanya itikad baik yang dilakukan oleh pihak konsumen pada saat

melakukan penarikan sebuah sepeda motor dari tangan konsumen.

Sebaiknya sebelum melakukan penarikan sepeda motor pihak dailer

malekukan peringantan somasi kepada konsumen agar melakukan

pembayaran biaya angsuran kredit yang telah tertunda dan agar pihak

konsumen melakukan pembayaran tepat pada waktunya. Perlu dipahami

bahwa dalam suatu perjanjian kredit jual beli sepeda motor dalam bentuk

apapun, berarti kedua belah pihak saling mengikatkan dirinya untuk

10
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

melaksanakan sesuatu yang telah diperjanjikan (prestasi). Namun dalam

kenyataan yang ada tidak menutup kemungkinan dapat terjadi bahwa salah

satu pihak tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan. Dalam suatu

perjanjian apabila salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban atau yang

telah diperjanjikan, maka dapat dikaitkan telah malakukan

wanprestasi.Dapat pula dikatakan bahwa penyewa telah lalai atau alfha atau

ingkar janji atau bahkan telah melakukan sesuatu hal yang dilarang atau

tidak boleh dilakukan.

Dimuka telah dijelaskan, wanprestasi menurut pasal 1365 KUH

Perdata, adalah tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian

pada seorang lain, mewajibkan orang yang karena slahanya menerbitkan

kerugian itu, menggantikan kerugian tersebut. Mengenai wanprestasi yang

paling umum terjadi dalam praktek adalah masalah pembayaran angsuran

dari konsumen. Jika konsumen tidak mau membayar angsuran sepeda motor

selama tiga (3) bulan berturut-turut, maka sesuai pasal yang telah

ditentukan dalam perjanjian yang dibuat atas kesepakatan bersama yaitu

antara pihak debitur (konsumen) dan PT.Mega Auto CentralFinance, di jalan

MT. Haryono Nomor 161, kota Balikpapan. Dengan calon debitur

(konsumen), maka pihak yang menyewakan sepeda motor PT.Mega Auto

CentralFinance, di jalan MT. Haryono Nomor 161, kota Balikpapan, atau

kuasanya berhak datang untuk menagih pada penyewa. Selain masalah

pembayaran, seiring juga kita jumpai terjadinya wanprestasi dari konsumen

namun dengan kasus yang lain. Wanprestasi yang dimaksud adalah

11
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

dilakukannya pemindah tanganan objek perjanjian yaitu kendaraan bermotor

dengan cara dijual kepada pihak ketiga oleh konsumen sebelum debitur

(konsumen) membayar angsuran sampai lunas kepada pihak PT. Mega Auto

Central Finance kota Balikpapan. Untuk masalah penyelesian perselisihan

yang terjadi seperti kasus diatas, biasanya pihak PT. Mega Auto

CentralFinancekota Balikpapan menggunkan dua cara yaitu dengan

musyawarah mufakat, dan dengan gugutan pengadilan. Namun dalam

praktik yang biasa terjadi pihak dailer biasanya lebih memilih menggunakan

cara tersebut dirasa lebih efektif dan tidak terlalu rumit, serta biaya yang

dikeluarkan pun lebih murah dibandingkan dengan menggunakan cara

gugatan pengadilan. Namun tidak menutup kemungkinan untuk

menyelesiakan perselisihan yang timbul dalam perjanjian kredit jual beli ini

melalui gugatan pengadilan.Apabila debitur (konsumen) sudah benar-benar

tidak mau bertanggung jawab kesalahan yang sudah diperbuatnya, dengan

maksud memindahtangankan ke objek perjanjian.

Penutup
Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis sajikan pada bagian pembahasan

di bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dan saran-

saran sebagai berikut:

Masalah-masalah yang timbul didalam pelaksanaan perjanjian kredit jual beli

sepeda motor pada PT.Mega Auto CentralFinance di kota Balikpapan adalah

keterlambatan maupun terjadinya penunggakan pembayaran angsuran yang

12
UPAYA HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA PEMBAYARAN (Toberi)

dilakukan oleh pihak debitur (konsumen), terkadang pihak debitur

(konsumen) tidak cermat pada saat membaca isi perjanjian pada saat

melakukan kredit jual beli sepeda motor.

Untuk masalah penyelesian sengketa dalam perjanjian kredit jual beli motor

didalam prakteknya dapat ditempuh dengan dua cara yaitu melalui

musyawarah mufakat dan melalui gugutan di pengadilan. Penyelesian

perselisihan dengan cara melalui gugatan pengadilan adalah merupakan

jalan terakhir yang ditempuh oleh pihak dailer, apabila penyewa sudah

benar-benar tidak mau bertanggung jawab atas semua keslahannya, tapi

pada prinsipnya setiap permasalahan yang diakibatkan oleh debitur

(konsumen) diselesiakan secara kekeluargaan dan apa bila tidak bisa

diserahkan ke pengadilan atau pihak yang berwajib.

Saran

Berdasarkan pemaparan dan kesimpulan yang disampaikan di atas, maka

terdapat beberapa hal yang disarankan oleh penulis:

PT. Mega Auto Central Finance, di jalan MT. Haryono Nomor 161, kota

Balikpapan, sebaiknya lebih sering mengadakan pengawasan terhadap objek

yang diperjanjikan yaitu, kendaraan bermotor, agar pihak PT.Mega Auto

Central Finance, kota Balikpapan, lebih tahu apabila pihak debitur

(konsumen) bermaksud memindah tangankan objek perjanjian kredit jual

beli kepada pihak ketiga. Pihak debitur (konsumen) pada saat melakukan

perjanjian kredit sepeda motor di PT.Mega Auto Central Finance, di jalan

MT. Haryono Nomor 161, kota Balikpapan, harusnya sadar akan kewajiban

13
Jurnal Beraja Niti, Volume 3 Nomor 1

untuk membayar angsuran tepat pada waktunya agar tidak terjadi kredit

macet yang selama ini merugikan pihak PT.Mega Auto Central Finance.

Daftar Pustaka
A. Buku

Azwar MA, Saifuddin, 2001, MetodePenelitian, Pustaka Pelajaran, Yogyakarta.


Hadi Kusuma, Hilman, 1995, Metode Penelitian, Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu
Hukum, Mandar Maju, Bandung.
Manullang, Muhammad dan Manullang, Marihot AHM, Menejemen Personalia,
Gadjah Mada Universitas Press, Yogyakarta.
Margono, Suyud, 2004, ADR (Alternatif Dispute Resolution) dan Arbitrase :
Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor.
Mertokusumo, Sudikno, mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Liberty,
Yogyakarta.
Muhammad, Abdulkadir, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung.
Noone, Michael, 1996, Mediation : Essensial Legal Skill, Cavendish Publishing
: Great Britain.
Soekanto, Soerjono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum Cetakan Ketiga, UI-
PRESS, Jakarta.
Subekti, 1995, Aneka Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Sugiyono, 2009, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung.
Sunggono, Bambang, 1997, Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo,
Jakarta.
Usman, Rechmadi, 2003, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Penggadilan,
Citra Aditya Bakti, Bandung.

B. Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesian Sengketa.

14

Anda mungkin juga menyukai