Anda di halaman 1dari 24

0

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI KREDIT

SEMBAKO

(Studi Kasus di Desa Mataram Udik, Kec. Bandar Mataram, Lampung Tengah)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Disusun oleh:

NUR KHOLIS

NIM : 1 0 2 2 1 1 0 2 8

JURUSAN JINAYAH SIYASAH


FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
1

2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perdebatan mengenai relasi Islam dan negara, merupakan sesuatu

yang telah muncul semenjak runtuhnya imperialisme dimasyarakat muslim.

Meskipun dalam al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit bagaimana

sistem politik tentang relasi islam dan agama, namun ia menegaskan bahwa

kekuasaan politik dijanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal

shaleh.1

Diseluruh penjuru wilayah, perdebatan tersebut mejadi polemik

yang berkembang pada level aksi perjuangan politik. Terutama dengan

munculnya tiga paradigma tentang relasi Islam dan negara. Yakni, (1)

paradigma bersatunya agama dan negara (integrated paradigm), (2)

paradigma yang memandang agama dan negara berhubungan secara

simbiotik (simbiotic paradigm) dan (3) paradigma sekularistik (secularistik

paradigm).2

Pertama, integrated paradigm. Merupkan paradigma yang melihat

hubungan antara Islam dan negara sebagai sesuatu yang harus terintegrasi

secara total. Bersatunya Islam dan negara secara jelas dapat ditemukan pada

pemikiran kelompok Syiah yang memiliki teori imamah dengan konsep


1
Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah: Konsepsi kekuasaan Politik dan Al-qur’an, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, Cet.2, 1995, hlm. 294.
2
Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada, Ffiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik
Islam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008, hlm. 76.
2

ismah-nya. Dalam hal ini, syiah memandang negara adalah lembaga yang

memiliki fungsi keagamaan. Karena itu, kedaulatan ada ditangan Tuhan dan

konstitusi negara berdasarkan wahyu (syariat Islam). Inilah pandangan negara

teokrasi yang berdasarkan pada teori kedaulatan Tuhan dan syariat Islam

sebagai konstitusi negara.3

Paradigma ini juga dapat ditemukan pada pemikiran Ibn Taimiyah.

Konseptualisasi pemikiran Ibn Taimiyah berisi penegasan kembali tentang

syariah dan sebuah pembelaan terhadap nilai-nilai agama. Baginya syariah

adalah sebuah prinsip agama yang lengkap, meliputi kebenaran spiritual

kaum sufi, kebenaran rasioanl filsuf, teolog dan ahli hukum. Sehingga dapat

dimaklumi jika syariah dijadikan sebagai konstitusi negara.4

Menurut Abu A’la al-Maududi, karakteristik integrated paradigm

adalah (1) Tuhan merupakan pemberi hukum sejati dan wewenang mutlak

peraturan ada padanya. Kaum mukmin tidak dapat berlindung pada peraturan

yang sepenuhnya mandiri, tidak juga dapat mengubah hukum yang

sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan. Sekalipun tuntutan untuk mewujudkan

peraturan atau perubahan hukum Tuhan diambil secara mufakat bulat. (2)

Suatu negara yang menyatukan Islam dan negara, dalam segala hal haruslah

didirikan berlandaskan hukum yang telah diturunkan Allah kepada manusia

melalui rasulullah Saw. Pemerintah yang akan menyelenggarakan sistem

semacam ini akan diberi hak untuk ditaati dalam kemampuannya sebagai

3
Abu Zahra (ed), Politik Demi Tuhan, Nasionalisme Religius di Indonesia, Bandung :
Pustaka Hidayah, 1999, hlm. 45.
4
Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada, Ffiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik
Islam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008, hlm 78
3

agen politik yang diciptakan untuk menegakkan hukum-hukum Allah,

sepanjang dia bertindak sesuai kemampuannya. Jika dia mengabaikan hukum

yang telah diturunkan Allah, perintah-perintahnya tidak akan mengikat kaum

mukmin.5

Paradigma kedua memandang agama dan negara berhubungan

secara simbiotik. Yakni hubungan timbal balik dan saling memerlukan.

Dalam hal ini, agama dan negara sama-sama saling memerlukan. Disatu sisi

agama memerlukan negara agar dapat berkembang. Sebaliknya, negara

memerlukan agama untuk mendapatkan bimbingan moral dan etika.6

Paradigma ini dapat ditemukan dalam pemikiran al-Mawardi,

seorang teoritikus politik Islam dan al-Ghozali, sufi sejati yang juga filsuf.

Dalam kitabnya al-Ahkam Al-Sulthoniyah, al-Mawardi menegaskan bahwa

kepemimpinan negara (imamah) merupkan instrumen untuk meneruskan misi

kenabian guna memelihara agama dan mengatur dunia. Pemeliharaan agama

dan pengaturan merupakan dua jenis aktifitas yang berbeda, tapi berhubungan

secara simbiotik. Keduanya merupakan dua dimensi dari misi kenabian.7

Paradigma ketiga bersifat sekularistik, paradigma ini menolak baik

hubungan integralistik maupun hubungan simbiotik antara agama dan negara.

Paradigma sekularistik memiliki pandangan untuk melakukan pemisahan

antara agama dan negara. Dalam konteks Islam, paradigma sekularistik

5
Abu A’la al-Maududi, Hukum dan Konstitusi: Sistem Politik Islam, terj. Asep Hikmat,
Bandung : Penerbit Mizan, Cet. IV, 1995, hlm. 158.
6
Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada, Ffiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik
Islam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008, hlm. 86.
7
M. Din Syamsudin, Usaha Mencari Konsep Negara dalam Sejarah Pemikiran Islam,
dalam Abu Zahra (ed), Politik demi Tuhan, Nasionlisme Religius diIndonesia, Bandung: Pustaka
Hidayah, 1999, hlm. 45.
4

menolak pendasaran negara pada Islam atau menolak determinasi Islam dan

negara.8

Paradigma ini dapat ditemukan pada pemikiran politik Islam

modern yang dielaborasi secara baik oleh Ali Abd al-Raziq dan Ibnu Khaldun

yang terkenal dengan karya monumentalnya muqaddimah yang menegaskan

ketertiban dan keserasian hubungan antar warga negara tidak mesti

berhubungan dengan kelembagaan dan kebijakan pemerintah yang

berdasarkan atas ajaran dan hukum agama yang diturunkan Tuhan.

Kemampuan mengendalikan ketertiban negara dapat pula tercipta sebagai

hasil dari besarnya wibawa, kekuatan fisik yang memadai serta ketegasan

penguasa sebagaimana negara yang tidak memiliki kitab suci.9

Dalam perspektif inilah pencarian formulasi hubungan antara

agama dan negara dalam konteks negara modern (modern state) mengalami

polarisasi yang amat tajam. Ketiga paradigma tampil dalam bentuknya yang

khas dan menjadi gerakan pemikiran yang mempengaruhi corak diskursus

pemikiran politik Islam.10

Gerakan-gerakan politik Islam dalam berbagai negara muslim

menunjukan tarik-menariknya yang terkadang mengalami konflik akibat

perbedaan paradigma politiknya. Inilah sebabnya banyak negara muslim

dalam relasi Islam dan negara selalu menjadi persoalan yang tidak akan

8
Ibid, hlm. 46.
9
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI
Press, 1993, hlm 103.
10
Mujar Ibnu Syarif dan Khamami Zada, Ffiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik
Islam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008, hlm. 90
5

pernah habis-habisnya diperdebatkan oleh sejumlah intelektual atau elit

politik.

Terlepas dari paradigma-paradigma diatas, kenyataannya umat

Islam selalu membutuhkan sebuah sistem negara yang Islami. Karena

bagaimanpun, untuk mengamankan suatu kebijakan diperlukan suatu

kekuasaan (institusi politik). Sekedar contoh, untuk menegakkan keadilan,

memelihara perdamaian dan ketertiban mutlak diperlukan suatu kekuasaan.

Apakah itu organisasi atau negara.11 Andai kata kebijaksanaan-kebijaksanaan

itu mengacu kepada tegaknya ajaran Islam maka perangkat-perangkat

peraturannya seharusnya yang Islami pula. Adalah suatu hal yang kurang

tepat apabila hendak menegakkan prinsip-prinsip Islam tetapi menggunakan

sistem yeng non-Islam.12

Realitas sejarah menunjukan bahwa negara dibutuhkan untuk

mengembangkan dakwah Islam. Nabi Muhammad sendiri, ketika masih

berada di Makkah tidak bisa berbuat banyak dibidang politik, karena

kekuatan politik didominasi oleh kaum aristokrat Quraisy yang memusuhi

Nabi. Baru setelah hijrah ke Madinah dan mempunyai dukungan politik dari

komunitasnya, dalam waktu beberapa tahun saja berhasil merubah kondisi

masyarakat Madinah dari kemusyrikan menuju atmosfer Islam. Kehidupan

Nabi dan komunitasnya pada periode Madinah inilah yang dijadikan argumen

oleh beberapa pemikir politik Islam bahwa ketika itu telah terwujud sebuah

11
Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 1993. Hlm.
8-9.
12
M. Yusuf al-Qardlawi, Fiqh Negara, Terj. Safril Halil, Jakarta: Rabbani Press, 1997,
hlm. 16-17
6

negara (pemerintahan) baik itu wilayah, masyarakat maupun penguasa.

Penilaian ini tentunya tidak berlebihan karena ketika itu Nabi bertindak tidak

hanya sebagai pemimpin spiritual saja, tapi juga sebagai kepala Negara,

seperti memutuskan hukum, mengirim dan menerima utusan serta memimpin

peperangan.13

Persoalannya Nabi tidaak meninggalkan suatu pesan yang pasti

terkait bagaimana sistem penyelenggaraan negara itu, misalnya bagaimana

bentuk negaranya, bagaimana sistem pengangkatan kepala negara, siapa yang

berhak menetapkan undang-undang. Karena ketidakjelaan ini dapat dilihat

praktek sistem negara Islam dalam sejarahnya selalu berubah-ubah. Masa

empat khulafa’ al-Rasyidin saja masing-masing memiliki cara yang bervariasi

untuk menjadi khalifah. Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui

pemilihan di Saqifah Bani Sa’idah dua hari setelah Nabi wafat melalui

majelis musyawarah. Umar bin Khattab mendapat kepercayaan sebagai

khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam forum musyawarah terbuka,

tetapi melalui wasiyat pendahulunya, Abuu Bakar. Utsman bin Affan menjadi

khalifah yang ketiga melalui pemilihan oleh sekelompok orang-orang yang

telah ditetapkan oleh Umar sebelum wafat. Sementara Ali bin Abi Thalib

diangkat menjadi khalifah yang keempat melalui pemilihan yang

penyelenggaranyajauh dari sempurna.14

13
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Asppeknya, Jilid 1, Jakarta: UI Press,
1986, hlm 92.
14
Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: UI
Press, 1993, Hlm. 21-35
7

Dalam konteks masyarakat muslim dunia, keterlibatan agama

dalam merespon berbagai masalah kehidupan sosial semakin jelas dan

signifikan. Termasuk di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah

muslim, harus jeli dalam menempatkan hubungan antara Islam dan negara.

Karena masalah ini seringkali menjadi problem yang bersifat mendasar. Oleh

karenanya tidaklah heran jika pemikiran tentang Islam dan negara menjadi

diskusi dan kajian bagi tokoh-tokoh pemikir Islam. 15 Termasuk didalamnya

tokoh dan cendekiawan muslim Indonesia yang turut serta mendiskusikan

format hubungan Islam dan Negara. Diantarnya adalah Mohammad Natsir,

Abdurrahman Wahid, Munawir Sadzali, Bahtiar Effendi, Azyumardi Azra

dan Nurcholish Madjid.

Dalam perjalanan politik periode awal kemerdekaan Indonesia,

yakni pada dekade pertama abad ke-20, cendekiawan muslim bermunculan

untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang relasi Islam dan negara.

Salah satunya adalah Mohammad natsir yang memiliki pemikiran untuk

menempatkan hubungan yang tepat antara Islam dan negara di Indonesia.16

Natsir percaya bahwa Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama

saja, akan tetapi suatu kebudayaan yang lengkap. Bagi Natsir, Islam tidak

hanya terdiri dari praktik-praktik ritual, melainkan juga meliputi prinsip-

prinsip umum yang relevan untuk mengatur hubungan antara individu dan

15
Azyumardi Azra, Reposisi Hubungan Agama dan Negara, Jakarta: Penerbit Kompas,
2002, hlm. Vi.
16
Nugroho Dewanto (ed), Natsir: Politik Santun Diantara Dua Rezim, Jakarta :
Gramedia, 2011, hlm. 80
8

masyarakat.17 Karena itu, tidak diragukan lagi bahwa Islam memerlukan alat

yang cocok untuk menjamin agar aturan-aturannya terlaksana. Dalam konteks

inilah ia melihat negara sebagai alat yang cocok untuk menjamin agar

perintah-perintah dan hukum Islam dijalankan. Berdasarkan perspektif

tesebut, Natsir tegas berpendapat bahwa Islam dan negara adalah dua entitas

religio-politik yang menyatu. Dalam segala upaya ini, Islam hanya

memberikan garis-garis umum, aturan yang lebih terperinci mengenai

bagaimana sebuah negara harus diorganisasikan atau distrukturkan tergantung

kepada kemampuan para pemimpinnya untuk melaksanakan ijtihad sendiri,

dengan syarat semuanya harus dilakukan dengan cara-cara demokratis. 18

Dalam perjalanan awal orde baru banyak persoalan yang dihadapi,

persoalan utama yang dihadapi ialah warisan krisis dari rezim sebelumnya,

ada dua macam krisis yang diwariskan. Pertama, krisis ekonomi yang berupa

kemerosotan dan stagnasi ekonomi. Kedua, krisis politik, yakni instabilitas

politik dan pertarungan antar kekuatan politik yang mengakibatkan

fragmentasi kepentingan yang cukup tajam.19

Sedangkan hubungan Islam dan negara mengalami pasang surut

yang dapat dikategorisasikan menjadi tiga tahap. Yakni: pertama, hubungan

antagonistik. Dimana pada awal kemunculan orde baru terdapat harapan

dikalangan pemikir politik Islam untuk membangkitkan kembali kekuatan

17
Lukman Hakiem(ed), M. Natsir di Panggung Sejarah Republik, Jakarta: Penerbit
Republika, 2008, hlm. 132
18
Mohammad Natsir “Persatuan Agama dengan Negara”, Capita Selecta, Jakarta: Bulan
Bintang, 1973, hlm. 447.
19
Abdul Aziz, Islam Politik: Pergulatan Ideologis PPP Menjadi Partai Islam,
Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006, hlm. 70.
9

Islam dengan melalui kekuatan partai politik Islam. Kedua, hubungan bersifat

Resiprokal-Kritis. Dimana hubungan antara Islam dan negara ditandai oleh

proses saling mempelajari dan memahami satu sama lain. Ketiga, hubungan

bersifat akomodatif, dimana setelah melalui political test, umat Islam dinilai

lulus ujian. Umat Islampun semakin memahami bahwa kebijakan negara

tidak akan menjauhkan mereka dari ajaran Islam (sekularisasi).20

Dalam pandangan Abdurrahman wahid, di dalam Islam tidak

mempunyai konsep negara. Istilah negara Islam tidak pernah disebut dalam

al-qur’an. Al-qur’an memang menggunakan istilah baldah, tetapi bermakna

dalam konteks sosiologis, yaitu negara yang baik, penuh pengampunan tuhan.

Atas dasar ini, Islam memiliki fungsi sebagai etika kemasyarakatan (social

etics), sebab yang paling penting adalah pengaturan (al-hukm), bukan al-

daulah (negara).21 Hal ini menjadi sangat penting, karena mengemukakan

gagasan negara Islam tanpa ada kejelasan konseptualnya, berarti membiarkan

gagasan tersebut tercabik-cabik karena perbedaan pandangan para pemimpin

Islam itu sendiri.22

Senada dengan Abdurrahman Wahid, Bachtiar Effendi

menegaskan bahwa di dalam al-qur’an terdapat berbagai ungkapan yang

mengandung nilai-nilai dan ajaran yang bersifat etis, mengenai aktifitas

manusia. Dengan demikian spanjang negara berpegang pada mekanisme yang

berlaku maka dapat dikatakan negara tersebut sesuai dengan ajaran Islam.

20
Munawir Sadzali, Islam dan Ketatanegaraan. Jakarta: UI Press, 1998. Hlm.1-2.
21
Abdurrahman Wahid, Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Jakarta: Grasindo,
1999, hlm. 86.
22
Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat Negara
Demokrasi, Jakarta: The Wahid Institute, cet.II, hlm. 84.
10

Sesuai alur pemikiran semacam ini, maka pembentukan negara Islam dalam

pengertian formal dan ideologis tidak begitu penting. Tidaklah beralasan

menolak gagasan politik bagi penerapan prinsip-prinsip umum teori politik

negara-negara modern. Sebab penekanannya pada substansi nilai Islami,

bukan bentuk negara secara formal. Sehingga dengan pendekatan ini dapat

menghubungkan antara Islam dan negara.23

Sedangkan Azyumardi Azra menegaskan bahwa mendirikan

negara Islam tidak mungkin terwujud, karena tidak ada negara Islam dan

konsep Islam. Piagam madinah yang sering digunakan titik tolak kelompok

pemikir seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutud, Syekh Muhammad Rasyid

Ridha dan al-Maududi, menurut pendapat Azyumardi Azra hanyalah

eksperimen yang menunjukan pengalaman kenegaraan dalam Islam. Dalam

al-qur’an hanya ada prinsip-prinsip dasar bahwa sebuah negara dalam Islam

harus bertitik tolak dari syura. Akan tetapi, bagaimana menerjemahkan syura

apakah dengan demokrasi langsung itu masih interpreteable. Jadi konsep

relasi Islam dan negara yang baku tidak ada dalam Islam.24

Namun demikian, ada seorang pemikir yang dalam hemat penulis

sangat menarik untuk dikaji pemikirannya mengenai relasi Islam dan negara,

yakni Nurcholish Madjid. Terlahir dari keluarga masyumi dan mengawali

reformasi konseptual dengan jargon “Islam Yes, Partai Islam, No”. 25 Pendiri

23
Bahtiar Effendi, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik di
Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1998. Hlm.13.
24
Azyumardi Azra, Islam Substantif: Agar umat tidak jadi buih, Bandung: Mizan, 2000,
hlm. 140-141
25
Bachtiar Efendi, Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara dan
Demokrasi, Yogyakarta: Galang Press, 2001, hlm. Xii.
11

lembaga pendidikan sosial dan politik Indonesia paramadina ini sedang

menawarkan kontruksi paradigmatik tentang bagaimana selayaknya umat

Islam memandang negara dan Islam dalam kerangka politik Indonesia.

Pemikiran tentang Islam dan negara memperoleh elaborasi yang

lebih mendalam ketika Nurcholish Madjid menjadi ketua umum PB HMI

(1966-1971). Dia menjelaskan bahwa gagasan negara Islam yang pernah

muncul dimasa lalu hanyalah apologi terhadap ideologi-ideologi barat, seperti

demokrasi, sosialisme dan sebagainya. Ideologi-ideologi ini sering bersifat

totaliter, artinya bersifat menyeluruh dan secara rinci meliputi setiap bidang

kehidupan. Seperti sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Apologi

kepada ideologi-ideologi modern ini menimbulkan apresiasi yang bersifat

ideologis-politis pada Islam dan dengan demikian membawa kepada cita-cita

negara Islam.26 Apologi negara Islam juga muncul karena didorong oleh

pemikiran legalistik kaum muslimin yang menggambarkan bahwa Islam

mempunyai aturan-aturan hukum yang menyeluruh tentang kehidupan

manusia. Padahal legalisme adalah kelanjutan dari fiqhisme yang sekarang

konsepnya banyak yang tidak relevan lagi.27

Disamping itu, bagi Nurcholish Madjid konsep negara Islam

adalah suatu distorsi proporsional antara negara dan agama. Negara adalah

satu segi kehidupan duniawi, yang dimensinya bersifat rasional dan kolektif.

26
Sudirman Tebba, Islam Menuju Era Reformasi, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,
2001, hlm. 30.
27
Nurcholish Madjid, Isu Modernisasi Dikalangan Muslim Indonesia: Pandangan
Seorang Partisipan, Ciputat: Lapmi HMI Cabang Ciputat, 1988, hlm. 255.
12

Sedangkan agama adalah aspek kehidupan lain yang berdimensi spiritual dan

pibadi.

B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang

dicoba untuk ditemukan jawabannya.28 Berdasarkan latar belakang diatas

maka dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang relasi Islam dan

Negara?

2. Bagaimana relevansi pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang relasi

Islam dan Negara di Indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam sebuah penelitian pasti ada suatu tujuan yang hendak

dicapai. Dengan membaca latar belakang penelitian serta rumusan masalah

diatas, penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui tipologi atau karakteristik pemikiran politik Nurcholish

Madjid tentang relasi Islam dan Negara.

2. Mengetahui relevansi pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang Islam

dan Negara di Indonesia.

Penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat sebagai berikut :


28
Burhan Ashhofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996, hlm. 118.
13

1. Untuk memperkaya perbendaharaan khazanah kepustakaan ilmu politik

pada umumnya dan berguna untuk pengembangan ilmu politik islam

dalam bidang siyasah khususnya.

2. Sebagai salah satu acuan bagi umat muslim dalam menjalankan kehidupan

berbangsa dan bernegara.

D. Telaah Pustaka

Nurcholish Madjid adalah tokoh pemikir yang dikenal oleh masyarakat

luas, meskipun pemikirannya sempat mendapatkan banyak pertentangan,

namun gagasannya selalu aktual bahkan sering dijadikan rujukan dalam

diskusi dan aksi politik.

Kajian tentang politik Islam baik di dalam negeri ataupun diluar negeri

tidak sedikit jumlahnya. Penulis tidak mungkin menyebutkan satu persatu

semua karya tentang politik islam secara detail, dalam hal ini tentang relasi

Islam dan Negara. Disini, penulis hanya menggunakan beberapa sumber yang

sangat memiliki kedekatan dan signifikansi dalam penelitian skripsi ini

sebagai kajian pustaka. Selain itu, penulis juga mengungkap penelitian-

penelitian terdahulu yang berkaitan dengan relasi Islam dan negara, serta hal-

hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian

sebelumnya. Diantara karya-karya yang berbicara tentang relasi Islam dan

negara adalah sebagai berikut:


14

(1) Azyumardi Azra, Islam Substantif: Agar umat tidak jadi buih.

Buku kumpulan dialog ini mengupas bahwa politik Islam di Indonesia dalam

arti formalisme sudah tidak berlaku,masyarakat lebih memilih Islam yang

substantif. Juga mengulas lika-liku politik pasca tumbangnya rezim Soeharto,

serta hubungan yang eratantara ulama dan umara (pemerintah).

Azyumardi memilah ulama menjadi dua bagian, 1) Ulama

Tradisional; mereka adalah yang mampu membaca kitab kuning, akan tetapi

kurang menguasai wacana kontemporer. Dalam sejarahnya, mereka lebih

cenderung mendukung penuh dan berkolaborasi pada kekuasaan, tanpa

melihat sisi buruknya. 2) Ulama Kontemporer; ulama ini juga mampu

membaca kitab kuning juga menguasai perkembangan pemikiran

kontemporer. Dalam hal politik, mereka mempunyai sikap yang kritis dan

mampu mewarnai perubahan politik yang sedang terjadi. Akan tetapi,

kesemuanya hanya memiliki kekuatan moral atau sebatas mempengaruhi

proses politik. Dengan kata lain, hanya mampu menjadi kekuatan penekan

(pressure force), bukan kekuatan yang menentukan (decisive force). 29

(2) Bahtiar Effendy, Teologi Baru Politik Islam; Pertautan Agama,

Negara dan Demokrasi. Buku ini menerangkan dinamika politik Islam

Indonesia sejak zaman Soekarno yang bercorak formalistik-legalistik hingga

terjadi pergeseran menuju substansialistik. Selanjutnya Bahtiar Effendy

menunjukan bahwa di negeri ini terjadi upaya untuk mengembangkan sintesis

yang memungkinkan antara praktik pemikiran politik Islam dan negara.

29
Azyumardi Azra, Op.cit, hlm. 12.
15

Bahwa Islam politik telah menemukan sebuah format baru yang mencakup

landasan teologis.

Dari format baru tersebut, dibutuhkan pendekatan Islam politik yang

dipandang sebangun dengan konstruk negara kesatuan republik Indonesia.

Legalistik Islam dan negara bagi umat Islam sendiri sudah tidak lagi

dibutuhkan, selama negara baik secara ideologis ataupun politis berjalan

diatas sebuah sistem nilai yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu

sendiri. Dari model Islam pemikiran Islam yang substansialistik ini dapat

mendorong berkembangnya kehidupan politik yang lebih demokratis.30

(3) Anas Urbaningrum, Islamo-Demokrasi; Pemikiran Nurcholish

Madjid. Kajian pemikiran politik Islam yang berhubungan dengan relasi

Islam, demokrasi dan Negara dikupas dengan serius dalam buku ini, begitu

juga pemikiran demokrasi ala Cak Nur menjadi prioritas utama dalam

menghadapi realitas kebangsaan. Bukan hanya itu, buku ini menegaskan

kontribusi Islam untuk memberikan kerangka keyakinan, ruh dan nafas bagi

demokrasi.

Adapun karya tulis atau skripsi yang mengupas pemikiran politik

tentang relasi Islam dan Negara adalah skripsi Muhammad Ulil Amri yang

berjudul “Hubungan Islam dan Negara (Studi Analisis terhadap Pemikiran

Polotik Mohammad Natsir)”. Skripsi ini lebih menitikberatkan pada

pemikiran politik Islam yang berusaha mencari posisi ideal antara negara dan

agama diera kemerdekaan Indonesia. Agama, terlebih adalah Islam tidak

30
Bachtiar Effendi, Op.cit, hlm. 121
16

hanya berkutat pada wilayah teologis, Islam dengan segala konsekuensinya

akan selalu dihadapkan dengan berbagai bentuk nilai yang berkembang.

Begitu juga dengan skripsi karya Handy Setiyo Nugroho yang berjudul

“Hubungan Agama dan Negara dalam Islam (Studi Terhadap Pemikiran M.

Din Syamsudin)”. Skripsi ini menunjukan bahwa relasi agama –negara

hendaknya saling menguntungkan dan mendukung, seperti di Indonesia.

Program dan kebijakan negara memerlukan keterlibatan agama, dan

sebaliknya dengan adanya negara maka agama akan mudah berkembang.

Dari skripsi-skripsi tersebut, jelas banyak perbedaan dengan skripsi

yang penyusun bahas. Karena penyusun lebih menitik beratkan pada

pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang posisi yang ideal bagi Islam dan

negara, sehingga mampu berjalan dengan beriringan. Serta relevansinya

terhadap perkembangan pemikiran politik indonesia dewasa ini.

E. Metode Penelitian

Untuk memperoleh hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan

dan memudahkan penulis dalam membahas setiap permasalahan dalam

penulisan ini, maka diperlukan seperangkat metodologi yang memadai.

Karenanya, dalam penelitian ini juga akan menggunakan seperangkat

metodologi penelitian dengan langkah-langkah berikut :

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian

kualitatif yaitu sebuah metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang

mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun


17

tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta peneliti tidak berusaha

menghitung atau mengkuantifikasikan data kualitatif yang telah diperoleh

dan dengan demikian tidak menganalisis angka-angka.31

Penelitian ini menggunakan pendekatan library research

(penelitian kepustakaan). Dimana penelitian akan penulis laksanakan

berdasarkan pada buku-buku kepustakaan dan karya-karya dalam bentuk

lainnya yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dikaji sehingga

dapat menjawab setiap rumusan masalah.

2. Sumber dan Jenis Data

Guna memudahkan penelitian dengan pendekatan library research

ini, maka secara garis besar ada dua macam sumber data yang

dipergunakan dalam penelitian ini, yakni data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah data penelitian yang berasal langsung dari

subyek sebagai sumber informasi yang diteliti. Dalam hal ini yang

dimaksud adalah karya-karya dari Nurcholish Madjid antara lain Islam

Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah

Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan dan buku Islam

Kemodernan dan Keindonesiaan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data-data yang berasal dari orang kedua atau

bukan data yang yang datang langsung dari Nurcholish Madjid. Artinya

31
Afrizal, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014, hlm.
13
18

data ini merupakan interprestasi dari seorang penulis terhadap karya

Nurcholish Madjid. Antara lain adalah buku Ensiklopedi Cak Nur

dengan editor Budhy Munawar Rachman, buku Cak Nur, sang Guru

Bangsa: Biografi Pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid oleh

Muhamad Wahyuni Nafis, buku Islam dan Tata Negara karangan

Munawir Sjadzali, Sistem Politik Islam karangan Abu ‘Ala al-Maududi,

Islam dan Negara (Transformasi Gagasan dan Praktik Politik di

Indonesia) karangan Bahtiar Effendy serta buku-buku lain yang

berkaitan dengan penelitian ini.

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data –data dalam penelitian kualitatif yang

bersifat library research penulis menggunakan teknik pengumpulan data

Dokumentasi, yakni teknik pengumpulan beberapa informasi

pengetahuan, fakta dan data. Dengan demikian maka dapat dikumpulkan

data-data dengan kategorisasi dan klasifikasi bahan-bahan tertulis yang

berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen,

buku-buku, jurnal ilmiah, koran, majalah, website dan lain-lain.

4. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data dan menginterprestasikan serta mengolah

data yang terkumpul, penulis melakukannya dengan cara deskriptif

analitis32, yaitu suatu teknik analisis data dengan mendeskripsikan dan

menggambarkan sifat atau keadaan yang dijadikan obyek dalam


32
Imam Munawir, Metode Penelitian Sosiologi, Surabaya : Usaha Nasional, tt., hlm. 133
19

penelitian. Upaya tersebut dilakukan melalui pelacakan dan menganalisa

terhadap pemikiran, biografi dan latar belakang pemikiran.

Sehubungan dalam menganalisis data, penulis menggunakan

metode analisis isi (content analysis)33 yaitu akan menganalisis makna

yang terkadung dalam keseluruhan gagasan Nurcholish Madjid mengenai

relasi Islam dan negara pada khususnya, serta politik Islam secara umum.

Upaya tersebut dilakukan melalui langkah-langkah; menginventarisasi

pokok-pokok pemikiran Nurcholish Madjid tentang relasi Islam dan

negara, mendeskripsikan dan menilai data terkait, kemudian

mengidentifikasi dan memadukan konsep-konsep yang digunakannya.

Setelah itu dihubungkan dan mendialogkannya dengan pendapat lain,

kemudian membuat kesimpulan sebagai refleksi penulis sendiri. Metode

content analisys ini juga bertumpu pada pola penyajian data secara

deskriptif-analitis-kritis. Kegunaan deskripsi untuk menjelaskan bahwa

suatu pemikiran itu benar atau salah.34 Sedangkan analitis-kritis

merupakan syarat dalam suatu penelitian. Metode ini digunakan untuk

mengembangkan analisis dengan melihat sisi kelebihan dan kelemahan

sebuah pemikiran. Penulis juga akan melakukan komparasi, yaitu

pemaknaan dengan membandingkan antara pendapat Nurcholish Madjid

dengan pendapat yang lain. Selanjutnya penulis akan menganalisa sejauh

33
Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi IV, Yogyakarta : Rake
Sarasin, 2002, hlm. 68-69
34
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998,
hlm. 18
20

mana relevansi pemikiran Nurcholish Madjid untuk diterapkan di

Indonesia.

F. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini akan disusun dalam lima bab yang dimaksudkan

agar mampumemberikan gambaran yang terpadu mengenai pemikiran politik

Nurcholish Madjid tentang relasi Islam dan negara.

Bab pertama, bagian pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,

perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan

sistematika penulisan

Bab kedua memaparkan tinjauan umum tentang Islam dan negara. Bab

ini memuat; definisi Islam dan negara, unsur-unsur Islam dan negara dan

pendapat ulama tentang relasi Islam dan negara.

Bab ketiga akan memaparkan pemikiran politik Nurcholish Madjid.

Bab ini memuat; biografi Nurcholish Madjid yang membahas riwayat hidup

dan pendidikan, latar belakang pemikiran dan karya-karya Nurcholish

Madjid serta pemikiran politik Nurcholish Madjid.

Bab keempat merupakan analisis. Point-point yang akan di analisis

adalah; pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang relasi Islam dan negara

dan relevansi pemikiran politik Nurcholish Madjid tentang Islam dan negara

dalam konteks Indonesia.


21

Bab kelima penutup, yang memuat kesimpulan sebagai penegasan dan

jawaban atas permasalahan yang diangkat, kemudian akan diberikan saran-

saran dan kata penutup.


22

DAFTAR PUSTAKA

Afrizal, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014.
al-Maududi, Abu A’la, Hukum dan Konstitusi: Sistem Politik Islam, terj. Asep
Hikmat, Bandung : Penerbit Mizan, Cet. IV, 1995.
al-Qardlawi, M. Yusuf, Fiqh Negara, Terj. Safril Halil, Jakarta: Rabbani Press,
1997
Ashhofa, Burhan, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996.
Aziz, Abdul, Islam Politik: Pergulatan Ideologis PPP Menjadi Partai Islam,
Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Azra, Azyumardi, Islam Substantif: Agar umat tidak jadi buih, Bandung: Mizan,
2000.
Azra, Azyumardi, Reposisi Hubungan Agama dan Negara, Jakarta: Penerbit
Kompas, 2002.
Budiarjo,Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 1993.
Dewanto, Nugroho (ed), Natsir: Politik Santun Diantara Dua Rezim, Jakarta :
Gramedia, 2011.
Effendi, Bachtiar, Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara dan
Demokrasi, Yogyakarta: Galang Press, 2001.
Effendi, Bahtiar, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik
di Indonesia, Jakarta: Paramadina, 1998.
Hakiem, Lukman (ed), M. Natsir di Panggung Sejarah Republik, Jakarta: Penerbit
Republika, 2008.
Madjid, Nurcholish, Isu Modernisasi Dikalangan Muslim Indonesia: Pandangan
Seorang Partisipan, Ciputat: Lapmi HMI Cabang Ciputat, 1988.
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi IV, Yogyakarta : Rake
Sarasin, 2002.
Munawir, Imam, Metode Penelitian Sosiologi, Surabaya : Usaha Nasional, tt.
Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Asppeknya, Jilid 1, Jakarta: UI
Press, 1986.
23

Natsir, Mohammad “Persatuan Agama dengan Negara”, Capita Selecta, Jakarta:


Bulan Bintang, 1973.
Sadzali, Munawir, Islam dan Ketatanegaraan. Jakarta: UI Press, 1998.
Sadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran,
Jakarta: UI Press, 1993.
Salim, Abd. Muin, Fiqh Siyasah: Konsepsi kekuasaan Politik dan Al-qur’an,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet.2, 1995.
Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
1998
Syamsudin, M. Din, Usaha Mencari Konsep Negara dalam Sejarah Pemikiran
Islam, dalam Abu Zahra (ed), Politik demi Tuhan, Nasionlisme Religius
diIndonesia, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999.
Syarif, Mujar Ibnu dan Khamami Zada, Ffiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran
Politik Islam, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2008.
Tebba, Sudirman ,Islam Menuju Era Reformasi, Yogyakarta: Tiara Wacana
Yogyakarta, 2001.
Wahid, Abdurrahman, Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama Masyarakat
Negara Demokrasi, Jakarta: The Wahid Institute, cet.II.
Wahid, Abdurrahman, Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Jakarta:
Grasindo, 1999.
Zahra, Abu (ed), Politik Demi Tuhan, Nasionalisme Religius di Indonesia,
Bandung : Pustaka Hidayah, 1999.

Anda mungkin juga menyukai