Anda di halaman 1dari 6

132 Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid...

( Sri Hastuti)

ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF FORMALDEHID


PADA IKAN ASIN DI MADURA

Sri hastuti
Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo
Korespondensi : Jl. Raya Telang PO BOX 2 Kamal-Bangkalan

ABSTRACT

The objective of the study is to know the content of formaldehid of salted fish which
taken from tradisional market in Bangkalan and Sampang. The experiment conducted at the
Laboratory of Agroindustry Technology, Faculty of Agriculture, Trunojoyo University Madura
on June 2010. This research uses reagent chromotophic acid (C10H6Na2O8S2.2H2O). The test is
positive indicated by the red through the purple color. The process continued by
spectrophotometer. The result of the research shows that all samples from Kamal, Socah,
Bangkalan and Sampang markets contain formaldehid i.e: 29,10 mg/kg, 30,65 mg/kg, 49,26
mg/kg, 44,14 mg/kg respectively.
Keyword : formaldehid, salted fish

PENDAHULUAN dan baik untuk dikonsumsi masih kurang.


Ikan merupakan salah satu sumber Buktinya ikan asin yang mengandung
protein hewani yang banyak dikonsumsi formalin masih banyak beredar dan
masyarakat, mudah didapat, dan harganya dikonsumsi, padahal dampaknya sangat
murah. Namun ikan cepat mengalami proses merugikan kesehatan. Formalin digunakan
pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan karena dapat memperpanjang keawetan ikan
perlu diketahui semua lapisan masyarakat. asin.
Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan Formaldehid yang lebih dikenal
untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, dengan nama formalin ini adalah salah satu
salah satu caranya adalah dengan pembuatan zat tambahan makanan yang dilarang.
ikan asin (Suhartini dan Hidayat, 2005). Meskipun sebagian banyak orang sudah
Cara pengawetan ini merupakan mengetahui terutama produsen bahwa zat ini
usaha yang paling mudah dalam berbahaya jika digunakan sebagai pengawet,
menyelamatkan hasil tangkapan nelayan. namun penggunaannya bukannya menurun
Dengan penggaraman proses pembusukan namun malah semakin meningkat dengan
dapat dihambat sehingga ikan dapat disimpan alasan harganya yang relatif murah dibanding
lebih lama. Penggunaan garam sebagai bahan pengawet yang tidak dilarang dan dengan
pengawet terutama diandalkan pada kelebihan.
kemampuannya menghambat pertumbuhan Formalin sebenarnya bukan
bakteri dan kegiatan enzim penyebab merupakan bahan tambahan makanan, bahkan
pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan
ikan (Afrianto dan Liviawaty, 1989). pada makanan. Memang orang yang
Pengolahan ikan asin adalah cara mengkonsumsi bahan pangan (makanan)
pengawetan ikan yang telah kuno, tetapi saat seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan
kini masih banyak dilakukan orang di bahkan permen, yang berformalin dalam
berbagai negara. Di Indonesia, bahkan ikan beberapa kali saja belum merasakan
asin masih menempati posisi penting sebagai akibatnya. Tapi efek dari bahan pangan
salah satu bahan pokok kebutuhan hidup (makanan) berformalin baru bisa terasa
rakyat banyak. Meskipun ikan asin sangat beberapa tahun kemudian. Formalin dapat
memasyarakat, ternyata pengetahuan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran
masyarakat mengenai ikan asin yang aman pencernaan dan saluran pernafasan. Di dalam
AGROINTEK Vol 4, No. 2 Agustus 2010 133

tubuh cepat teroksidasi membentuk asam kompor, rebus aquades yang baru, masukkan
format terutama di hati dan sel darah merah. gelas yang berisi campuran produk, aquades
Pemakaian pada makanan dapat lama dan asam kromatofat ke dalam panci.
mengakibatkan keracunan pada tubuh Waktu perebusan selama 20 menit dihitung
manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut sejak aquades yang baru mendidih.
disertai muntah-muntah, timbulnya depresi Pengujian secara kuantitatif :
susunan syaraf atau kegagalan peredaran Pembuatan larutan standar, Formalin 37%
darah (Effendi, 2009). diambil sebanyak 0,027 ml, tambahkan
Pada penelitian kali ini peneliti aquades sebanyak 500 ml atau 20 ppm, buat
mencurigai adanya zat formaldehid pada konsentrasi yang berbeda yaitu 0; 0,05; 0,1;
produk ikan asin melihat banyak keganjalan 0,5; 0,75; 1,0; 1,5; dan 2, kemudian
ketika melihat tekstur, warna dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang
keawetannya. Pengujian dilakukan pada 4 sudah diberi label (8 tabung reaksi),
sampel yaitu ikan asin dari pasar Kamal, pasar tambahkan asam kromatofat sebanyak 5 ml
Socah, pasar besar Bangkalan dan ikan asin pada tiap konsentrasi yang berbeda, panaskan
dari salah satu pasar di Sampang. tabung reaksi selama 30 menit dengan kompor
pada suhu 100oC, terbentuklah larutan standar.
METODE PENELITIAN Pembuatan Larutan Uji : Homogenkan sampel
sebanyak 20 ml dengan aquades, panaskan
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampel yang telah diuji dengan kompor
2010. Penelitian dilakukan di Laboratorium sampai mendidih, disaring lalu didinginkan.
Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Ambil filtrat sebanyak 2 ml ke dalam tabung
Pertanian, Universitas Trunojoyo. reaksi dengan 3 kali ulangan. Tambahkan
asam kromatofat sebanyak 5 ml pada masing-
Bahan dan Alat Penelitian masing tabung reaksi. Panaskan selama 20
Bahan yang dipakai pada penelitian menit lalu dinginkan. Ukur absorbansinya
ini adalah ikan asin yang diperoleh dari dengan spektrofotometer dengan panjang
beberapa pasar tradisional. Bahan kimia yang gelombang 520 nm. Perhitungan : Nilai
dipakai adalah asam kromatofat. Alat-alat absorbansi dari uji menggunakan
yang dipakai pada penelitian ini adalah beaker spektrofotometer akan dibandingkan dengan
glass, pengaduk, kompor, tabung reaksi, larutan standar pada tiap konsentrasi yang
erlenmeyer dan spektrofotometer. berbeda pada masing-masing tabung reaksi
Prosedur Penelitian dengan metode regresi linear.
Identifikasi keberadaan formaldehid
pada ikan asin dilakukan secara kualitatif dan HASIL DAN PEMBAHASAN
kuantitatif. Pengujian awal dilakukan secara Berdasarkan uji laboratorium yang
kualitatif. Jika hasil uji positif akan dilakukan di laboratorium Teknologi Industri
dilanjutkan dengan pengujian secara Pertanian terhadap sejumlah sampel ikan asin,
kuantitatif memakai spektrofotometer. seluruh sampel ternyata mengandung formalin
Pengujian secara kualitatif : dengan kadar beragam. Sampel ikan asin dari
Timbang bahan sebanyak 5 gram, masukkan pasar Kamal, Madura memiliki kandungan
aquades dalam beaker glass sebanyak 50 ml, formalin 29,10 miligram per kilogram.
kemudian didihkan. Masukkan bahan yang Sampel ikan asin dari pasar Socah, dipastikan
diuji ke dalam erlenmeyer, lalu direndam mengandung formalin 30,65 mg/kg. Sampel
dengan aquades yang mendidih, masukkan ikan asin dari pasar Bangkalan mengandung
asam kromatofat, lalu aduk. Produk yang formalin dengan kadar 49,26 mg/kg. Sampel
mengandung formalin akan ditunjukkan ikan asin yang diambil dari salah satu pasar di
dengan berubahnya warna air dari bening Sampang ternyata juga memiliki kadar
menjadi merah muda hingga ungu. Semakin formalin cukup tinggi yaitu 44,14 mg/kg.
ungu berarti kadar formalin semakin tinggi. Pada penelitian kali ini, peneliti
Jika perlakuan diatas belum menghasilkan uji menggunakan asam kromatofat untuk
yang positif, pasang kembali panci ke atas mengatahui keberadaan formalin dalam ikan
134 Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid...( Sri Hastuti)

asin secara kualitatif. Asam kromatofat berformalin ini juga masih banyak dibeli
digunakan untuk mengikat formalin agar lantaran ketidaktahuan konsumen. Sebagian
terlepas dari bahan. Formalin juga bereaksi pembeli juga ingin mendapatkan produk yang
dengan asam kromatopik menghasilkan awet dengan harga murah.
senyawa kompleks yang berwarna merah Penggunaan formalin oleh para
keunguan. Reaksinya dapat dipercepat dengan produsen ikan asin dikarenakan cara
cara menambahkan asam fosfat dan dan produksinya masih manual, pengeringan ikan
hydrogen peroksida. Caranya bahan yang masih sangat tergantung dari cuaca. Kalau
diduga mengandung formalin ditetesi dengan musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari.
campuran antara asam kromatopik, asam Begitu air hujan turun, para menutupi ikan-
fosfat, dan hydrogen peroksida. Jika ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik
dihasilkan warna merah keunguan maka dapat agar tidak basah. Jika proses penjemuran
disimpulkan bahwa bahan tersebut kurang sempurna, bahan makanan akan
mengandung formalin (Widyaningsih dan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan
Murtini., 2006). menjadi mudah penyok dan hancur, terutama
Pada penelitian uji kualitatif yang apabila cara pengemasannya tidak rapi dan
dilakukan oleh Suwahono,dkk. (2009), sampel harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan
ikan asin dari Kendal negatif sedangkan asin itu pun tidak laku di pasaran. Dengan
sampel ikan asin dari Jrakah, Jawa Tengah, membubuhkan formalin, bahan pengawet
memberikan reaksi positif yaitu terbentuk bukan untuk makanan maka ikan tidak
cincin ungu setelah sampel yang telah ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian
dilarutkan dalam FeCl3 0,5 % dialiri H2SO4 formalin juga dipercaya dapat mempercepat
pekat. Sedangkan berdasarkan uji proses pengeringan dan membuat tampilan
laboratorium yang dilakukan Sucofindo pada fisik tidak cepat rusak.
tahun 2009 di sejumlah pasar tradisional Selain itu, dengan proses
terhadap sejumlah sampel ikan asin, seluruh penggaraman dan penjemuran pada
sampel ternyata mengandung formalin dengan pembuatan ikan asin, rendemen yang tersisa
kadar beragam. Sampel ikan asin dari Pasar kurang dari separuh. Bila bahan bakunya
Jatinegara, Jakarta Timur, memiliki seratus kilogram saat masih basah, setelah jadi
kandungan formalin 2,36 mg/kg, dari Pasar ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg,
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena
mengandung formalin 29,22 mg/kg. Sampel harga jual menggunakan satuan kilogram. Jika
ikan asin dari Pasar Kramat Jati mengandung memakai formalin, rendemen bisa mencapai
formalin dengan kadar 48,47 mg/kg. Bahkan, 75 persen (Rachmawati, 2006). Selisih 35
sampel ikan asin yang diambil dari Pasar persen itu yang dikejar para pengolah.
Palmerah, Jakarta Barat, ternyata memiliki Penggunaan formalin oleh para
kadar formalin tinggi, 107,98 mg/kg. produsen ikan asin juga cukup mudah, cukup
Peredaran ikan asin di pasar modern, ditambahkan pada saat proses perendaman
termasuk hipermarket, ternyata juga ikan asin. Hal ini dikarenakan formalin sangat
menunjukkan kandungan formalin 51 mg/kg. mudah larut dalam air. Jika dicampurkan
Hasil uji laboratorium itu setidaknya dengan ikan misalnya, formalin dengan
mencerminkan masih tingginya tingkat mudah terserap oleh daging ikan. Formalin
peredaran ikan asin berformalin di pasaran. mempunyai sifat formaldehida mudah larut
Ikan asin yang mengandung formalin dapat dalam air sampai kadar 55%, sangat reaktif
diketahui lewat ciri-ciri antara lain tidak rusak dalam suasana alkalis serta bersifat sebagai
sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat zat pereduksi kuat, mudah menguap karena
celsius, bersih cerah dan tidak berbau khas titik didihnya yaitu -21°C. secara alami
ikan asin. Tidak dihinggapi lalat di area formaldehida juga dapat ditemui dalam asap
berlalat (Astuti, 2010). Selain itu dagingnya pada proses pembakaran makanan yang
kenyal,utuh, lebih putih dan bersih bercampur fenol, keton dan resin (Winarno
dibandingkan ikan asin tanpa formalin agak 2004).
berwarna coklat dan lebih tahan lama Penggunaan formalin dimaksudkan
(Widyaningsih dan Murtini, 2006). Ikan asin untuk memperpanjang umur penyimpanan,
AGROINTEK Vol 4, No. 2 Agustus 2010 135

karena formalin adalah senyawa antimikroba diduga, karena data hasil uji pada manusia
serbaguna yang dapat membunuh bakteri, masih kurang lengkap (Wispriyono, 2006).
jamur bahkan virus. Selain itu interaksi antara Lembaga perlindungan lingkungan
formaldehid dengan protein dalam pangan Amerika Serikat (EPA) dan lembaga
menghasilkan tekstur yang tidak rapuh dalam internasional untuk penelitian kanker (IARC)
waktu yang lama dan untuk beberapa produk menggolongkan formalin sebagai senyawa
pangan seperti tahu, mie basah, ikan segar, yang bersifat karsinogen. Formalin akan
memang dikehendaki oleh konsumen. mengacaukan susunan protein atau RNA
Formalin dapat masuk lewat mulut sebagai pembentuk DNA di dalam tubuh
karena mengkonsumsi makanan yang diberi manusia. Jika susunan DNA kacau maka akan
pengawet formalin. Jika akumulasi formalin memicu terjadinya sel-sel kanker dalam tubuh
kandungan dalam tubuh tinggi, maka bereaksi manusia. Tentu prosesnya memakan waktu
dengan hampir semua zat di dalam sel. Ini yang lama, tetapi cepat atau lambat jika tiap
akibat sifat oksidator formalin terhadap sel hari tubuh kita mengonsumsi makanan yang
hidup. Dampak yag dapat terjadi tergantung mengandung formalin maka kemungkinan
pada berapa banyak kadar formalin yang terjadinya kanker juga sangat besar
terakumulasi dalam tubuh. Semakin besar (Widyaningsih dan Murtini, 2006).
kadar yang terakumulasi, tentu semakin parah Dalam jumlah sedikit, formalin akan
akibatnya. Mulai dari terhambatnya fungsi sel larut dalam air, serta akan dibuang ke luar
hingga menyebabkan kematian sel yang bersama cairan tubuh. Itu sebabnya formalin
berakibat lanjut berupa kerusakan pada organ sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah.
tubuh. Di sisi lain dapat pula memicunya Tetapi, imunitas tubuh sangat berperan dalam
pertumbuhan sel-sel yang tak wajar berupa berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh.
sel-sel kanker. Beberapa penelitian terhadap Jika imunitas tubuh rendah, sangat mungkin
tikus dan anjing pemberian formalin dalam formalin dengan kadar rendah pun bisa
dosis tertentu jangka panjang secara bermakna berdampak buruk terhadap kesehatan (Farida,
mengakibatkan kanker saluran cerna seperti 2010).
adenocarcinoma pylorus, preneoplastic Usia anak khususnya bayi dan balita
hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma adalah salah satu yang rentan untuk
duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan mengalami gangguan akibat formalin. Secara
peningkatan resiko kanker faring mekanik integritas mukosa (permukaan) usus
(tenggorokan), sinus dan cavum nasal dan peristaltik (gerakan usus) merupakan
(hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan pelindung masuknya zat asing masuk ke
formalin melalui hirupan (Takahashi et al., dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung
1986). dan enzim pencernaan menyebabkan
Di dalam tubuh, jika terakumulasi denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara
dalam jumlah besar, formalin merupakan imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A)
bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan pada permukaan mukosa dan limfosit pada
manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, lamina propia dapat menangkal zat asing
akan bereaksi secara kimia dengan hampir masuk ke dalam tubuh. Sehingga pada orang
semua zat di dalam sel, sehingga menekan dewasa relatif dampaknya dapat ditekan oleh
fungsi sel dan menyebabkan kematian sel system tubuh. Namun pada usia anak, usus
yang menyebabkan keracunan pada tubuh. imatur (belum sempurna) atau sistem
Akumulasi formalin yang tinggi di dalam pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan
tubuh akan menyebabkan berbagai keluhan, gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan
misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah, berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk
diare, serta alergi. Bahkan bisa menyebabkan dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih
kanker, karena formalin bersifat karsinogenik. mengganggu pada penderita gangguan saluran
Formalin termasuk ke dalam karsinogenik cerna yang kronis seperti pada penderita
golongan IIA. Golongan I adalah yang sudah Autism, penderita alergi dan sebagainya (Blair
pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji et al., 1987).
lengkap, sedangkan golongan IIA baru taraf
136 Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Formaldehid...( Sri Hastuti)

Menurut IPCS (International makanan. Di Indonesia, Formalin dan


Programme on Chemical Safety), lembaga metahnyl yellow merupakan bahan tambahan
khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, pangan (BTP) yang dilarang menurut
UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi, 1168/Menkes/PER/X/1999. Begitu juga
secara umum ambang batas aman di dalam dengan boraks, kloramfenikol,
tubuh adalah 1 miligram per liter. Sementara dietilpilokarbonat, dulsin, dan nitrofurazon.
formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam Selain itu formalin yang bersifat racun ini
bentuk makanan untuk orang dewasa adalah tidak termasuk ke dalam daftar bahan
1,5 mg hingga 14 mg per hari. Bila formalin tambahan makanan pada Codex Alimentarius
masuk ke tubuh melebihi ambang batas maupun yang dikeluarkan oleh Depkes,
tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan sehingga penggunaan formalin pada makanan
pada organ dan sistem tubuh manusia. Akibat dilarang (Winarno, 2004).
yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam Sebenarnya penggunaan formalin
waktu singkat atau jangka pendek dan dalam bisa diganti dengan bahan yang aman untuk
jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak kesehatan manusia. Menurut Widyaningsih
langsung atau tertelan. dan Murtini (2006), adanya penambahan
Berdasarkan standar Eropa, bahan selain garam dalam pembuatan ikan
kandungan formalin yang masuk dalam tubuh asin dapat meningkatkan kualitas ikan asin
tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm yang dihasilkan. Penambahan bumbu-bumbu
setara 1 mg/liter). Sementara itu, berdasarkan seperti bawang putih, kunyit, lengkuas dan
hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia ketumbar. Dalam bumbu-bumbu tersebut
pada pemakaian secara terus-menerus terkandung senyawa bioaktif yang bersifat
(Recommended Dietary Daily antibakteri dan antioksidan. Selain memberi
Allowances/RDDA) untuk formalin sebesar rasa yang lebih enak, bumbu-bumbu tersebut
0,2 miligram per kilogram berat badan. juga akan berpengaruh terhadap warna, bau,
Misalnya berat badan seseorang 50 kilogram, tekstur dan daya awet yang dapat
maka tubuh orang tersebut masih bisa memperbaiki ikan asin yang dihasilkan.
mentoleransi sebesar 50 dikali 0,2 yaitu 10 Proses penggaraman basah (perendaman)
miligram formalin secara terus-menerus. dengan penambahan bumbu akan
Sedangkan standar United State menghasilkan ikan asin dengan rasa, aroma
Environmental Protection Agency/USEPA yang lebih menarik tetapi penampakannya
untuk batas toleransi formalin di udara, agak lebih gelap dan daya awetnya lebih
tercatat sebatas 0.016 ppm. Sedangkan untuk panjang dibandingkan dengan penggaraman
pasta gigi dan produk shampo menurut tanpa bumbu baik kering maupun basah.
peraturan pemerintah di negara-negara Uni Para ilmuwan dari Departemen
Eropa (EU Cosmetic Directive) dan ASEAN Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas
(ASEAN Cosmetic Directive) Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
memperbolehkan penggunaan formaldehida di Pertanian Bogor (FPIK-IPB), telah melakukan
dalam pasta gigi sebesar 0.1 % dan untuk riset dan menemukan bahan alami pengganti
produk shampoo dan sabun masing-masing formalin, khususnya pada produk-produk
sebesar 0.2 %. Peraturan ini sejalan dengan perikanan, seperti ikan asin.Salah satu produk
ketentuan yang ditetapkan oleh Badan tersebut adalah chitosan. Chitosan merupakan
Pengawas Obat dan makanan (BPOM) di produk turunan dari polimer chitin, yakni
Indonesia (Keputusan Kepala Badan produk samping (limbah) dari pengolahan
Pengawas Obat & Makanan RI No industri perikanan, khususnya udang dan
HK.00.05.4.1745, Lampiran III "Daftar zat rajungan yang selanjutnya melalui berbagai
pengawet yang diizinkan digunakan dalam macam proses. Karakteristik fisiko-kimia
Kosmetik dengan persyaratan..." no 38 : chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal,
Formaldehid dan paraformaldehid) dapat larut dalam larutan asam organik seperti
(Fahruddin, 2007). asam asetat, tetapi tidak larut dalam pelarut
Walaupun daya awetnya sangat luar organik lainnya. Beberapa indikator parameter
biasa, formalin dilarang digunakan pada daya awet hasil pengujian antara lain pertama,
AGROINTEK Vol 4, No. 2 Agustus 2010 137

pada keefektifan dalam mengurangi jumlah Astuti LDP. 2010. Ciri-ciri 4 Zat Berbahaya
lalat yang hinggap, dimana pada konsentrasi pada Makanan.
chitosan 1,5 persen, dapat mengurangi jumlah http://www.ahliwasir.com/news/1997/C
lalat secara signifikan. Kedua, pada iri-ciri-4-Zat-Berbahaya-pada-
keunggulan dalam uji mutu penampakan dan Makanan. [diakses tanggal 24 Juni
rasa, dimana hasil riset menunjukkan 2010]
penampakan ikan asin dengan coating Blair A, P. Stewart, PA Hoover. 1987.
chitosan lebih baik bila dibandingkan dengan Cancers of the nasopharynx and
ikan asin kontrol tanpa formalin dan dengan oropharynx and formaldehyde
formalin. exposure. J. Natl. Cancer Inst. 78(1):
Indikator ketiga, adalah pada 191-193.
keefektifan dalam menghambat pertumbuhan Fahrudin. 2007. Formalin dan Bahayanya
bakteri, dimana nilai TPC (bakteri) sampai bagi Kesehatan. http://www.tribun-
pada minggu kedelapan perlakuan, pelapisan timur.com. [27 Oktober 2008].
chitosan masih sesuai dengan SNI (Standar Farida I. 2010. Bahaya Paparan Formalin
Nasional Indonesia) ikan asin, yakni dibawah terhadap Tubuh.
1 x 10 pangkat lima (100 ribu koloni per http://cheminterconnected.spaces.live.c
gram). Hal itulah yang menyebabkan daya om [12 Juni 2010]
simpan ikan asin yang diberikan perlakuan Mudjajanto ES. 2010. Tahu, Makanan Favorit
chitosan bisa bertahan sampai tiga bulan yang Keamanannya Perlu Diwaspadai.
dibanding dengan ikan asin dengan Bogor : Laporan Departemen Gizi
penggaraman biasa yang hanya bisa bertahan Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga
sampai dua bulan. Sedangkan indikator Fakultas Pertanian IPB.
terakhir atau keempat, yakni pada kadar air, di Rachmawati E. 2006. Bahaya di Balik
mana perlakuan dengan pelapisan chitosan Gurihnya Ikan Asin. Kompas 17 Juni
sampai delapan minggu menunjukkan 2010.
kemampuan chitosan dalam mengikat air, Suhartini S dan N Hidayat. 2005. Olahan Ikan
karena sifat hidrofobik, sehingga dengan sifat Segar. Surabaya: Penerbit Trubus
ini akan menjadi daya tarik para pengolah Agrisarana.
ikan asin dalam aspek ekonomis. Suwahono, M. Taufik, N. Faizah. 2009.
Analisis Kualitatif adanya Formaldehid
KESIMPULAN pada ikan asin. [Makalah yang tidak
Dengan adanya penelitian ini yang dipublikasikan Jurusan Tadris kimia
bertujuan untuk mendeteksi adanya Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
kandungan formalin pada ikan asin, Semarang]
masyarakat bisa lebih tahu dan bisa lebih Takahashi M, R. Hasegawa, F. Furukawa, K.
waspada dalam memilih makanan untuk Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986.
dikonsumsi. Di dalam penelitian ini Effects of ethanol, potassium
didapatkan bahwa semua sampel yang berasal metabisulfite, formaldehyde and
dari pasar Kamal, Socah, Bangkalan dan dari hydrogen peroxide on gastric
salah satu pasar dari Sampang teridentifikasi carcinogenesis in rats after initiation
adanya formalin ditandai dengan adanya with N-methyl- N'nitro-
terbentuknya warna merah sampai keunguan N'nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res.
sewaktu dilakukan penelitian di Laboratorium 77: 118-124.
Teknologi Industri Pertanian, Universitas Widyaningsih DT dan SM Erni. 2006 .
Trunojoyo. Formalin. Surabaya : Penerbit Trubus
Agrisarana.
DAFTAR PUSTAKA Winarno FG . 2004. Keamanan Pangan Jilid
1. Bogor: M-Brio Press.
Afrianto E dan E. Liviawati. 1989.
Pengawetan dan Pengolahan Ikan.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.