Anda di halaman 1dari 4

Nama : Khoiri Wahyudi

NIM : 1920201077
M.K : Metodologi Pembelajaran PAI MI
Dosen Pengampuh : Miftahul Husni, M.Pd.I

Teori-Teori belajar dan pembelajar dan ruang lingkupnya • Teori Belajar Kognitivisme • Teori Belajar
Konstruktivisme • Teori Belajar Humanisme • Teori Belajar Behavioristik
A. Teori Belajar Kognitivisme
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi
dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan
aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan
lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman,
tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
Ciri-ciri pembelajaran kongnitivisme :
1. Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
2. Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
3. Mementingkn peranan kognitif
4. Mementingkan kondisi waktu sekarang
5. Mementingkan pembentukan struktur kognitif
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-
bentuk reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam
diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang
bersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan
keluar negeri, setelah kembali kenegerinya sendiri. Tampat-tempat yang dikunjuginya selama
berada di lain negara tidak dapat diabawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-
tempat itu. Pada waktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan dan
tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan
ceritanya.
B. Teori Belajar Konstrusivisme
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan
merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan
himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai
pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling
memengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif
dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku
apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan
pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar
untuk menarik miknat pelajar.
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang
memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon,
kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan
pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya.
Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam
kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.
Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan
kepada siswa, namun siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam
memorinya. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan membri
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide mereka sendiri, dan
mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk
belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga yang membawasiswa ke tingkat pemahaman
yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata
mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan, bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah
aktivitas yang aktif, dimana pesrta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa
yang mereka pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-idea baru dengan
kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya.

C. Teori Belajar Humanisme


Dalam teori humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan
ini melihat kejadian yaitu bagaimana dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan
positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme
biasanya menfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan yang positif. Kemampuan
positif tersebuterat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain
afektif. Emosi merupakan karateristik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran
humanisme. Dalam teori pembelajaran humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan
ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Dimana memanusiakan manusia di sini
berarti mempunyai tujuan untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri
orang yang belajar secara optimal.
Ciri-ciri pembelajaran menggunakan teori humanisme adalah :
Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan
yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka
punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal
sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati
keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara
positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan
akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku
belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.Tujuan utama para
pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-
masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu
dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harusmampu untuk
mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa
yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa
dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka
siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran
humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi
bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan kata lain, pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan,
komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode
pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan
siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai
kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan
dalam proses pembelajaran sehingga menghasilkan suatu proses pembelajaran yang diharapkan
sesuai dengan tujuan dan hasil belajar yang dicapai siswa.
D. Teori Belajar Behavuoristik
Teori belajar behavioristik adalah perubahan tingkah laku siswa yang disebabkan adanya
komunikasi dari pengalaman. Teori ini dianut oleh Berliner dan Gage, yang mana menjadi sangat
populer dikalangan para filosof pendidik. Lebih lanjut, teori behavioristik merupakan bentuk
perubahan tingkah laku pada siswa dalam hal kebiasaan dan pola pikir baru sebagai akibat dari
adanya respon dan rangsangan. Bila disimpulkan tujuan dari teori ini adalah, siswa bisa
diasumsikan sudah belajar bila mereka telah memperlihatkan perubahan dalam tingkah lakunya.
Berlandaskan hal paling utama pada teori Behavioristik adalah input kepada siswa yang
berbentuk rangsangan (stimulus) dan output yang berbentuk respon. Maksud dari stimulus atau
rangsangan adalah segala bentuk apapun yang guru sampaikan kepada pembelajar, dan respon
adalah bentuk tanggapan pembelajar dari apa yang disampaikan oleh guru.
Dalam pelaksanaanya guru harus memperhatikan dengan teliti tentang stimulus dan respon
sebab apapun yang guru sampaikan (stimulus) dan apapun yang ditanggapi pembelajar (respon)
harus bisa diukur dengan baik. Teori behavioristik berfokus pada pengamatan yang terukur,
karena pengukuran adalah cara paling berguna untuk mengetahui perubahan kebiasaan dan
tingkah laku pada pembelajar (siswa).
Berikut merupakan model pembelajaran yang memiliki dasar teori behavioristik:
1. Grup Investigation
2. Problem-Based instruction
3. Inquiri
4. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
5. Model Pembelajaran Reasoning dan Problem Solving
Kelebihan dan Kekurangan
Behaviorisme ini merupakan salah satu teori belajar yang sudah cukup teruji karena sudah
cukup tua dan masih dipakai pada generasi ini. Namun begitu Teori behaviorisme ini juga tidak
luput dari kelebihan dan kekurangan berikut penjabaran lebih lanjut:
Kelebihan Teori Behavioristik
Berikut kelebihan teori behavioristik, diantaranya:
1. Sesuai dengan materi pembelajaran, Teori behavioristik mampu mengemban beban
pembelajar untuk bisa mencapai tujuan belajar. Teori ini mengakomodasi pembelajar agar
bisa termotivasi secara konsisten dalam meraih kompetensi yang dituju.
2. Materi Pembelajaran dirancang secara Khusus, Siswa yang memiliki motivasi lebih dalam
ilmu pengetahuan akan terakomodasi dengan baik, sebab teori behavioristik memiliki karakter
sangat mendetail dan runtut dalam menyampaikan sebuah ilmu atau materi.
3. Membangun Konsentrasi Individu, Behaviorisme ini menuntut setiap pembelajar untuk
melahirkan kebiasaan konsentrasi. Ini berlandaskan agar pembelajar selalu siap dalam
merespon segala hal yang diberikan pengajar.
4. Sesuai dengan Pemahaman Belajar pada Anak, Teori ini sangat cocok untuk kalangan anak-
anak karena dalam belajar masih membutuhkan dominasi orang tua. Apalagi mereka
cenderung belajar untuk meniru setiap apa yang dilakukan orang tuanya. Ini bisa bermanfaat
untuk membangung pola pikir dan respon cepat untuk menciptakan konsentrasi pada anak.
5. Perubahan Belajar Menjadi Tolak Ukur Keberhasilan, Perubahan pada individu merupakan
hasil dari teori behavioristik, karena perubahan tersebut bisa dilihat dengan jelas. Bisa
disimpulkan bahwa Individu dianggap telah belajar bila mereka membentuk perilaku dan
kebiasaan baru. Karena itu teori behavioristik sangat mudah untuk di identifikasi hasilnya.
Kekurangan Teori Behavioristik
Dari segi penerapan teori behavioristik terdapat beberapa kekurangan. Berikut unsur dan
penjelasannya.
1. Hanya Berpusat pada Tenaga Pendidik, Pembelajaran yang berlandaskan behaviorisme ini
dalam penerapannya berfokus pada guru yang menjelaskan suatu materi. Bila guru tidak
kreatif dalam penjelasan ilmu pengetahuan, maka pembelajar akan bosan dan mengurangi
daya kreatif dan aktif pembelajar.
2. Lebih Mengutamakan Hafalan dibandingkan Latihan, Penekanan lain pada behaviorisme
adalah penekanan pada hafalan. Karena umur teori ini sudah tua maka hasil dari penerapan
cenderung ketat dan pembelajar akan kekurangan referensi tentang cara berpikir.
3. Kaku dan Membosankan, Karena berfokus pada guru, pembelajaran ini akan berjalan kurang
menyenangkan dan yang pasti akan membosankan bilamana guru tidak kreatif dalam
menjelaskan materi.
4. Individu Dibentuk Menjadi Pasif dan Tidak Inovatif, Siswa dituntut untuk terus menerima
ilmu dari guru dan belajar menggapai tujuan seperti nilai akan membuat siswa menjadi pasif
dan kurang inovatif.

Anda mungkin juga menyukai