Anda di halaman 1dari 8

ROPAGASI SUARA DALAM AIR

Laut memiliki batas atas laut (permukaan laut) dan batas bawah laut (dasar laut) yang
merupakan medium untuk propagasi suara yang kompleks. Batas-batas laut tersebut memberikan
banyak pengaruh bagi suara yang diemisikan dari proyektor bawah air. Permukaan laut
merupakan reflektor yang bervariasi dari sangat halus sampai sangat kasar (permukaan turbulen)
dimana dapat memantulkan suara secara acak. Beragamnya karakteristik tersebut,
memungkinkan untuk memperkirakan pola yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan
lokasi geografi. Data acoustic loss untuk batas-batas laut ditentukan berdasarkan pengalaman dan
teori, dan dinyatakan oleh kecepatan angin, grazing angle, karakteristik dasar laut dan frekuensi.
Oleh karena itu dalam perjalanannya melewati laut, sebuah sinyal suara bawah air akan menjadi
lambat dan lemah. Pengurangan energi transmisi (transmission loss) merupakan salah satu
fenomena yang menyertai propagasi suara di laut.

Bagaimana kecepatan suara dapat berbeda dalam lautan?


- Kecepatan suara bervariasi berdasarkan suhu, tekanan dan kadar garam. Terdapat
perbedaan kecepatan suara secara geografi (perbedaan kedalaman) maupun secara musim /
harian.
- Variasi kecepatan suara secara horizaontal sangat kecil kemungkinan terjadi disebabkan
kecilnya perubahan / perbedaan suhu, kadar garam dan tekanan. Pengecualian dapat terjadi
di daerah estuari atau di sekitar tepi-tepi sistem laut.
- Semakin besar perbedaan suhu, kadar garam dan tekanan yang terjadi maka akan semakin
besar perbedaan kecepatan suara yang terjadi.
Gbr 1. Contoh sederhana skema diatas menunjukan kondisi ideal profil suhu dan kecepatan suara secara vertikal.
Contoh tersebut dapat kita bagi dalam tiga zona.

Dekat dengan permukaan, kita sebut sebagai zona 1, terdapat lapisan isothermal (lapisan
dengan sebaran suhu yang hampir seragam). Lapisan ini terjadi karena pengadukan yang
dilakukan oleh angin dan gelombang. Lapisan ini dapat mencapai kedalaman 200m, kecepatan
suara akan bertambah secara perlahan seiring dengan bertambahnya tekanan.

Lapisan kedua, tertulis zona 2, adalah lapisan thermocline (lapisan dengan gradient
penurunan suhu yang sangat besar). Pada lapisan ini kecepatan suara akan berkurang secara
cepat sesuai dengan kedalaman dan turunnya suhu. Lapisan permanent thermocline pada
dasarnya dapat ditemukan pada kedalaman yang bervariasi tergantung pada lintang, tetapi
seringkali dijumpai pada kedalaman 1000m.

Daerah paling dalam, zona 3, dibawah permanent thermocline ini perubahan / penurunan
suhu tidak terlalu besar sehingga kecepatan suara akan meningkat sesuai dengan bertambahnya
tekanan seperti halnya pada lapisan zona1 di dekat permukaan.

Gbr 2. Sound Fixing And Ranging (SOFAR) Channels

Bentuk profile vertikal kecepatan suara sangat penting dalam propagasi suara di laut. Seperti
yang kita lihat pada pembelokan energi suara akan tertekan memfokus kepada kecepatan suara
yang rendah. Dua kecepatan suara yang lebih rendah tampak pada gambar diatas, satu
dipermukaan dan yang lainnya berada diantara zona 1 dan zona 2. Area ini digambarkan pada
diagram dibawah ini. Area ini secara efektif akan menjebak gelombang suara dan disebut
dengan sound channels. Suara dapat bergerak sangat efisien dalam sound channel dan karena
alasan ini maka seringkali di gunakan untuk kepentingan komunikasi. Sound channel yang dalam
seringkali disebut dengan Sound Fixing And Ranging (SOFAR) channel. Kedalamansofar
channel bervariasi tergantung pada kondisi geografisnya. Seringkali dijumpai pada kedalaman
1500m di lintang-lintang menengah, pada kedalaman 500m pada 50° s.d. 60° utara (dekat
Inggris). Dan mencapai permukaan di daerah kutub. Rata-rata kedalaman sofar channeladalah
1000m. Kedalaman sofar channel juga dipengaruhi oleh bentuk topografi, karena dapat terjadi
pencampuran air antara air pada kedalaman dengan yang terdapat di permukaan, yang akan
merubah profil suhu dan kecepatan suara di daerah tersebut. Untuk informasi lebih lanjut tentang
variasi geografi dan pengaruhnya terhadap sound channel.

2.5 TRANSMISSION LOSS


Ketika gelombang bunyi yang merambat di udara mengenai atau menumbuk permukaan
dinding, maka sebagian energi yang ada pada gelombang bunyi tersebut akan diteruskan dan
sebagian lagi akan hilang karena energy gelombang bunyi tersebut dapat mengalami refleksi,
difraksi, difusi maupun absorbsi (dapat dilihat diskripsinya pada gambar 2.19). Energi
gelombang bunyi yang diserap oleh penghalang sebagian akan diubah menjadi energi panas
maupunbentuk energi lainnya. Bila sebagian energi gelombang bunyi diubah menjadienergi
kinetik, maka akan terjadi getaran pada penghalang yang bersangkutan, danhal ini akan menjadi
sumber bunyi baru.

Gambar 3. Diskripsi Reflection, Sound Absorbtion, dan Transmission Loss


Sehingga dari gambar 2.19 tersebut dapat disimpulkan bahwa :
Energi bunyi datang (Ed) = Energi bunyi keluar (Et)
= R + A + TL
dimana : R = Energi bunyi dipantulkan (dB)
A = Energi bunyi diserap (dB)
TL = Transmission Loss (dB)
Selain nilai koefisien absorbsi bunyi, faktor yang dinilai pada karakteristik suatu bahan
akustik adalah nilai Transmission Loss (TL) material akustik, yaitu kemampuan bahan untuk
tidak meneruskan bunyi atau menginsulasi bunyi dari suatu ruang sumber bunyi ke ruang
penerima di sebelahnya. Transmission Loss (TL) atau rugi transmisi bunyi menyatakan besarnya
sebagian energi yang hilang karena gelombang bunyi melewati suatu penghalang (Hemond,
1983) seperti ditunjukkan pada gambar 2.20 berikut.
Gambar 4. Proses terjadinya Transmission Loss pada material akustik
Pada gambar 2.20 terjadi pengurangan intensitas bunyi, pengurangan ini terjadi karena
karakter material akustik merubah energi bunyi menjadi bentuk energy lainnya, apakah melalui
proses konduksi, konveksi atau transmitansi. Dengan adanya proses perubahan tersebut, maka
yang tersaring dan keluar menjadi energy bunyi lagi hanya sebagian saja. Proses inilah yang
dimaksud dengan rugi tranmisi bunyi atau transmission loss (TL). Untuk mengetahui berapa
besar intensitas bunyi sebelum dan sesudah melalui partisi atau penghalang dapat dilakukan
pengukuran dengan alat Sound Level Meter (SLM), satuannya dalam decibel (dB). Di dalam
bangunan atau ruang mesin, kemungkinan TL dapat terjadi pada semua bahan pada elemen
bangunan, misalnya bahan lantai bertingkat, dinding ruang eksterior maupun interior, bahan
bukaan (pintu dan jendela), maupun plafond. Untuk menghindari penyimpangan yang sangat
menyesatkan dalam pengujian atau pengukuran untuk mengetahui harga rata-rata dari sound
transmission loss tersebut, maka sebaiknya mengacu pada pengukuran standar yang telah
ditetapkan. Pengukuran standar untuk mengetahui transmission loss sangat banyak, diantaranya
adalah ASTM E-90, ASTM E-1050, ISO DIS 140-1, ISO 354 dan lainnya. Pengukuran dengan
ASTM E-1050 adalah metode pengukuran dengan tabung impedansi untuk mendapatkan nilai
transmission loss sebagaimana seperti gambar 2.21 berikut.

Gambar 5. Sound Transmission Loss Measurement System

Rugi transmisi ini berhubungan erat dengan reduksi bising (noise reduction) yang terjadi
antara ruang sumber bunyi dengan ruang penerima bunyi. Reduksi bising merupakan selisih
tingkat tekanan bunyi rata-rata dalam ruang sumber bunyi dengan tingkat tekanan bunyi rata-rata
dalam ruang penerima. Secara matematis reduksi bising dinyatakan dalam persamaan berikut:
NR = L1 – L2 (2.27)
dimana : NR = Reduksi bising (dB)
L1 = Tingkat tekanan bunyi dalam ruang sumber bunyi (dB)
L2 = Tingkat tekanan bunyi dalam ruang penerima (dB)
Sedangkan hubungan antara rugi transmisi (TL) dengan reduksi bising (NR) dinyatakan dalam
persamaan 2.28 berikut:
TL = NR + 10 log (2.28)
dimana : TL = Transmission Loss (dB)
NR = Noise Reduction ( dB)
S = Luas permukaan antara ruang sumber bunyi dengan ruang
penerima (m2)
A2 = Penyerapan total ruang penerima (sabin.m2)
= S1.α1 + S2.α2 . . . + Sn.αn
Ada suatu pengklasifikasian nilai transmission loss ke dalam standar tertentu, yaitu STC
(Sound Transmission Class). Semakin tinggi nilai STC suatu material maka semakin baik
kemampuan kontruksi material tersebut dalam mereduksi kebisingan. Sound Transmission Class
(STC) adalah bilangan tunggal yang digunakan untuk menilai suatu sistem akustik yaitu dengan
menyatakan kemampuan mereduksi bising dari suatu kontruksi struktur material pada nilai
frekuensi yang berbeda-beda. Penentuan nilai STC ini telah ditetapkan dalam suatu harga standar
yang mengacu pada standar ASTM E-413 “ Classification for Rating Sound Insulation“. Nilai
STC suatu material ditentukan dengan membandingkan grafik TL pengukuran dengan kontur
acuan standar STC yaitu dengan menggeser kontur STC secara vertikal relatif terhadap kurva TL
hingga didapat posisi kontur STC paling tinggi yang dapat dicapai terhadap kurva TL dengan
mengikuti ketentuan berikut:
1. Jumlah penyimpangan dibawah kontur STC tidak melebihi atau sama
dengan 32 dB.
2. Penyimpangan maksimum pada tiap frekuensi percobaan tunggal tidak
melebihi 8 dB.
3. Nilai STC dibaca pada frekuensi kontur STC 500 Hz.
Penentuan nilai STC tersebut sebagaimana pada gambar grafik 2.22 standar
kontur STC yang mengacu pada standar ASTM E-413 berikut ini.

Gambar 6. Penentuan nilai sound transmission class dengan kurva TL tertentu

Pada gambar grafik 2.22, kontur yang menunjukkan standar kontur STC adalah kurva yang
berwarna hitam. Sedangkan kurva berwarna biru adalah plot dari STL (sound transmission loss)
tertentu. Dari grafik tersebut maka diperoleh nilai STC-nya adalah 50. Kontur STC ini terbagi
menjadi tiga bagian yaitu bagian frekuensi rendah (125 Hz – 400 Hz) dengan kenaikan TL
sebesar 15 dB, bagian frekuensi menengah (400 Hz – 1250 Hz) dengan kenaikan TL sebesar 5
dB dan bagian frekuensi tinggi ( > 1250 Hz ) tanpa kenaikan dan penurunan TL. Nilai sound
transmission class sangat tergantung kepada keseluruhan sistem kontruksi yang dipakai oleh
suatu bahan. Kemampuan penghalangan bunyi pada suatu dinding sangat dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu massa dinding, kekakuan bahan dinding, redaman internal serta cara
pemasangan dinding atau kontruksi dinding.
TUGAS AKUSTIK KELAUTAN
” PENYERAPAN SUARA DI LAUT ( PENGURANGAN ENERGI TRANSMISI ) ”

DISUSUN OLEH :

BENNY T. SIAGIAN DIDA PRATAMA


K2E 008 009 K2E 008
CHIQUITA T. R DINDA MAZEDA
K2E 008 010 K2E 008

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011