Anda di halaman 1dari 15

PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)

1.1 Pengertian Peninderaan Jauh


Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah
ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang
berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan
menurut Lillesand and Kiefer (1993), Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk
memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang
diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang
dikaji.
Banyak pakar memberi batasan, penginderaan jauh hanya mencakup pemanfaatan
gelombang elektromaknetik saja, sedangkan penginderaan yang memanfaatkan sifat fisik
bumi seperti kemaknitan, gaya berat dan seismik tidak termasuk dalam klasifikasi ini. Namun
sebagian pakar memasukkan pengukuran sifat fisik bumi ke dalam lingkup penginderaan
jauh. Pada dasarnya teknologi pemotretan udara dan penginderaan jauh adalah suatu
teknologi yang merekam interaksi sinar/berkas cahaya yang berasal dari sinar matahari dan
benda/obyek di permukaan bumi. Pantulan sinar mataharidari benda/obyek di permukaan
bumi ditangkap oleh kamera/sensor, tiap benda/obyek memberikan nilai pantul yang berbeda
sesuai dengan sifatnya. Pada pemotretan udara rekaman dilakukan dengan media
seluloid/film, sedangkan penginderaan jauh melalui media pita magnetik dalam bentuk
sinyal-sinyal digital. Dalam perkembangannya batasan tersebut menjadi tidak jelas karena
rekaman potret udarapun seringkali dilakukan dalam bentuk digital pula.

1.2 Gelombang elektromaknit


Di dalam pemotretan udara dan penginderaan jauh sinar matahari dijadikan sumber
energi yang dimanfaatkan dalam “pemotretan” muka bumi. Sinar matahari yang dipancarkan
ke permukaan bumi sebagian dipantulkan kembali ke angkasa, besarnya nilai pantul
ditangkap/direkam oleh kamera/scanner/alat perekam lain dalam bentuk sinyal energi. Benda
– benda di permukaan bumi yang berbeda sifatnya akan memantulkan nilai (prosentase)
pantulan yang berbeda dan direkam dalam bentuk sinyal analog (potret) dan sinyal digital
(angka) yang selanjutnya divisualisasikan dalam bentuk gambar (citra). Perbedaan nilai
pantul ini yang antara lain digunakan untuk membedakan satu benda dengan benda lain pada
potret/citra (Gambar 1).

Gambar 1. Skema umum sistim penginderaan jauh


Sinar matahari disusun oleh berbagai berkas cahaya (gelombang elektromaknit) mulai
dari berkas cahaya gamma yang mempunyai panjang gelombang pendek sampai gelombang
radio yang mempunyai panjang gelombang panjang seperti dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Selang panjang gelombang electromagnet


Hanya sebagian kecil dari berkas cahaya dapat dilihat oleh mata manusia, yaitu yang
dikenal sebagai gelombang tampak (visible spectrum) yang dapat dilihat pada warna pelangi.
Berkas cahaya lain tidak kasat mata tapi dapat direkam dalam bentuk citra.

1.3 Teknologi penginderaan jauh


Sistim penginderaan jauh mencakup beberapa komponen utama yaitu (1). Cahaya sebagai
sumber energi, (2). Sensor sebagai alat perekam data, (3). Stasiun bumi sebagai pengendali
dan penyimpan data, (4). Fasilitas pemrosesan data, (5). Pengguna data. Secara diagramatik
diperlihatkan pada gambar 3.

Gambar 3. Diagram sistim penginderaan jauh pada umumnya


Di dalam teknologi penginderaan jauh dikenal dua sistim yaitu penginderaan jauh dengan
sistim pasif (passive sensing) dan sistim aktif (active sensing). Penginderaan dengan sistim
pasif adalah suatu sistim yang memanfaatkan energi almiah, khususnya energi (baca cahaya)
matahari, sedangkan sistim aktif menggunakan energi buatan yang dibangkitkan untuk
berinteraksi dengan benda/obyek. Sebagian besar data penginderaan jauh didasarkan pada
energy matahari. Alat perekam adalah sistim multispectral scanner yang bekerja dalam
selang cahaya tampak sampai inframerah termal. Sistim ini sebagian besar adalah
menggunakan sistim optik. Jumlah saluran (channel atau band) berbeda dari satu sistim ke
sistim yang lain. Landsat 7 misalnya mempunyai 7 bands, SPOT 4 bands, ASTER 14 bands.
Pada sistim hiperspektral jumlah saluran bahkan dapat mencapai lebih dari 100. Selain sistim
pasif penginderaan dengan sistim aktif menggunakan sumber energi buatan yang dipancarkan
ke permukaan bumi dan direkam nilai pantulnya oleh sensor. Sistim aktif ini biasanya
menggunakan gelombang mikro (micro wave) yang mempunyai panjang gelombang lebih
panjang dan dikenal dengan pencitraan radar (radar imaging). Sistim aktif pada umumnya
berupa saluran tunggal (single channel). Ia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan
sistim optik dalam hal mampu menembus awan dan dapat dioperasikan pada malam hari
karena tidak tergantung pada sinar matahari. Sistim aktif antara lain diterapkan pada Radarsat
(Kanada), ERS-1 (Eropa) dan JERS (JepangDi dalam teknologi penginderaan jauh dikenal
dua sistim yaitu penginderaan jauh dengan sistim pasif (passive sensing) dan sistim aktif
(active sensing). Penginderaan dengan sistim pasif adalah suatu sistim yang memanfaatkan
energi almiah, khususnya energi (baca cahaya) matahari, sedangkan sistim aktif
menggunakan energi buatan yang dibangkitkan untuk berinteraksi dengan benda/obyek.
Sebagian besar data penginderaan jauh didasarkan pada energy matahari. Alat perekam
adalah sistim multispectral scanner yang bekerja dalam selang cahaya tampak sampai
inframerah termal. Sistim ini sebagian besar adalah menggunakan sistim optik. Jumlah
saluran (channel atau band) berbeda dari satu sistim ke sistim yang lain. Landsat 7 misalnya
mempunyai 7 bands, SPOT 4 bands, ASTER 14 bands. Pada sistim hiperspektral jumlah
saluran bahkan dapat mencapai lebih dari 100. Selain sistim pasif penginderaan dengan
sistim aktif menggunakan sumber energi buatan yang dipancarkan ke permukaan bumi dan
direkam nilai pantulnya oleh sensor. Sistim aktif ini biasanya menggunakan gelombang
mikro (micro wave) yang mempunyai panjang gelombang lebih panjang dan dikenal dengan
pencitraan radar (radar imaging). Sistim aktif pada umumnya berupa saluran tunggal (single
channel). Ia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan sistim optik dalam hal mampu
menembus awan dan dapat dioperasikan pada malam hari karena tidak tergantung pada sinar
matahari. Sistim aktif antara lain diterapkan pada Radarsat (Kanada), ERS-1 (Eropa) dan
JERS (Jepang).
1.4 Perekaman data
Sensor yang dapat digunakan untuk perekam data dapat berupa multispectral scanner,
vidicon atau multispectral camera. Rekaman data pada umumnya disimpan sementara di
dalam alat perekam yang ditempatkan di satelit kemudian dikirimkan secara telemetri ke
stasiun penerima bumi sebagai data mentah (raw data). Di stasiun bumi data mengalami
pemrosesan awal (preprocessing) seperti proses kalibrasi radiometri, koreksi geometri
sebelum dikemas dalam bentuk format baku yang siap untuk dipakai pengguna (users).
Pengguna data pada umumnya adalah masyarakat umum dengan tidak ada pengecualian
apakah militer, sipil, instansi pemerintah atau swasta. Pemesanan dapat dilakukan langsung
kepada stasiun penerima (user service) atau melalui agen/distributor lain.
1.4.1 Data penginderaan jauh
Data penginderaan jauh pada umumnya berbentuk data digital yang merekam unit
terkecil dari permukaan bumi dalam sistim perekam data. Unit terkecil ini dikenal dangan
nama pixel (picture element) yang berupa koordinat 3 dimensi (x,y,z). Koordinat x,y
menunjukkan lokasi unit tersebut dalam koordinat geografi x, y dan z menunjukkan nilai
intensitas pantul dari tiap pixel dalam tiap selang panjang gelombang yang dipakai. Nilai
intensitas pantul dibagi menjadi 256 tingkat berkisar antara 0 – 255 dimana 0 merupakan
intensitas terrendah (hitam) dan 255 intensitas tertinggi (putih). Dengan data citra asli (raw
data) tidak lain adalah kumpulan dari sejumlah pixel yang bernilai antara 0 -255. Ukuran
pixel berbeda tergantung pada sistim yang dipakai, menunjukkan ketajaman/ketelitian dari
data penginderaan jauh, atau yang dikenal dengan resolusi spasial. Makin besar nilai resolusi
spasial suatu data makin kurang detail data tersebut dihasilkan, sebaliknya makin kecil nilai
resolusi spasial makin detail data tersebut dihasilkan seperti dapat dilihat pada gambar 9.

Gambar 4. Gambaran perbedaan nilai resolusi spasial data


penginderaan jauh. Contoh dari besarnya resolusi spasial pada citra
diperlihatkan pada gambar 10.

Gambar 5. Perbedaan nilai resolusi spasial pada tampilan citra


Selain resolusi spasial data penginderaan jauh mengenal suatu istilah lain yaitu resolusi
spektral. Data penginderaan jauh yang menggunakan satu “band” pada sensornya hanya akan
memberikan satu data intensitas pantul pada tiap pixel. Apabila sensor menggunakan 5 band
maka data pada tiap pixel akan menghasilkan 5 nilai intensitas yang berbeda. Dengan
menggunakan banyak band (multiband) maka pemisahan suatu obyek dapat dilakukan lebih
akurat berdasarkan nilai intensitas yang khas dari masingmasing band yang dipakai. Sebagai
ilustrasi resolusi spektral diperlihatkan pada gambar 11.

Gambar 6. Diagram yang menunjukkan resolusi spektral dari data


penginderaan jauh multispectral
1.4.2. Pemrosesan dan analisis data
Karena data penginderaan jauh berupa data digital maka penggunaan data memerlukan
suatu perangkat keras dan lunak khusus untuk pemrosesannya. Komputer PC dan berbagai
software seperti ERMapper, ILWIS, IDRISI, ERDAS, PCI, ENVI dsb dapat dipergunakan
sebagai pilihan. Untuk keperluan analisis dan interpretasi dapat dilakukan dengan dua cara :
(1). Pemrosesan dan analisis digital dan (2). Analisis dan interpretasi visual. Kedua metoda
ini mempunyai keunggulan dan kekurangan, seyogyanya kedua metoda dipergunakan
bersama-sama untuk saling melengkapi. Pemrosesan digital berfungsi untuk membaca data,
menampilkan data, memodifikasi dan memproses, ekstraksi data secara otomatik,
menyimpan, mendesain format peta dan mencetak. Sedangkan analisis dan interpretasi visual
dipergunakan apabila pemrosesan data secara digital tidak dapat dilakukan dan kurang
berfungsi baik.
1.4.3 Pemrosesan data digital
Pemrosesan data secara digital dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
(software) yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut. Berbagai algoritma tersedia di dalam
perangkat lunak tersebut yang memungkinkan data penginderaan jauh diproses secara
otomatik. Salah satu contoh misalnya adalah menggabungkan data (3 -4 band) dalam citra
gabungan dengan menggunakan filter merah, hijau dan biru (RGB) yang menghasilkan citra
komposit (color composite image). Masing-masing band diberi filter yang berbeda dan
menghasilkan berbagai tampilan seperti terlihat pada gambar 12.

Gambar 7. Beberapa color composite data Landsat

Selain untuk mengubah tampilan citra pemrosesan digital dapat pula dipakai untuk
memperoleh data secara otomatik (ekstraksi data). Ekstraksi ini antara lain dapat dipakai
untuk memetakan tanaman hijau (NDVI), klasifikasi (supervise dan unsupervise) seperti
dalam memetakan tutupan lahan (land cover), memetakan badan air dan sebagainya seperti
dapat dilihat pada gambar 14.

Gambar 8. Ekstraksi otomatik peta tutupan lahan


1.5 Analisis visual
Berbeda dengan pemrosesan digital dimana hampir seluruh pekerjaan dilakukan oleh
komputer, analisis visual sebagian besar dilakukan oleh manusia. Dengan analisis digital
komputer hanya dapat mengenal dan mengolah nilai spektralnya saja, sedangkan analisis
visual manusia dapat memperkirakan dan menentukan suatu obyek berdasarkan sifat fisiknya
seperti membedakan antara gajah dan kucing disamping berdasarkan nilai spektralnya. Ciri
pengenal yang biasa dipakai dalam penafsiran potret udara secara utuh dapat diterapkan pada
data citra penginderaan jauh. Pada data potret udara, yang berupa data analog, penafsiran
dalam bentuk penarikan garis dan penandaan dilakukan pada lembar potretnya (hard copy),
sedangkan pada data digital selain dilakukan pada hard copy dapat juga dilakukan langsung
dari layar monitor dan hasilnya langsung disimpan dalam bentuk data digital. Analisis visual
hanya dapat dilakukan oleh manusia yang terlatih dalam bidang pekerjaannya. Dalam
prakteknya tidak semua informasi di permukaan bumi dapat diperoleh melalui pemrosesan
digital maupun analisis visual. Untuk mendapatkan hasil maksimak kedua cara harus
digabungkan yang akan saling melengkapi.
2. Satelit Peninderaan Jauh
Khayalan akan adanya bentuk satelit oleh Jules Verne pada tahun 1865, Arthur Clark
tahun 1951 diwujudkan oleh satelit Sputnik yang diorbitkan Rusia pada tahun 1957. Amerika
Serikat tidak mau kalah dengan meluncurkan satelit cuaca TIROS-1 pada tahun 1960. Sejak
itu kedua negara adidaya saling berlomba dalam ruang angkasa dengan berbagai jenis
satelitnya. Dari gambar gambar yang diperoleh satelit Apollo, Gemini di sekitar 1970 an,
Amerika membuat kejutan dengan meluncurkan satelit pemetaan sumberdaya alam ERTS-1
(sekarang dikenal dengan LANDSAT). Sukses yang peroleh Amerika dengan Landsatnya
membuat negara-negara maju seperti Perancis, Kanada, Jepang, India, Masyarakat Ekonomi
Eropa (MEE) menyusul ikut meluncurkan satelit sumberalam sejenis. Sampai saat ini dan
2007 an akan ada 25 satelit komersial mengorbit di ruang angkasa yang datanya dapat
diakses di seluruh dunia. Kita lacak salah satu satelit yang paling lama umurnya, Landsat
yang sampai sekarang berkembang pada generasi ke 7. Satelit penginderaan jauh pada
umumnya mempunyai berbagai keunggulan, antara lain : (1). Cakupannya sangat luas
memberikan gambaran sinoptik yang baik. (2). Memberikan liputan ulang pendek (repetitive
coverage). (3). Memeberikan sensitifitas spektral yang besar dibanding potret udara. (4).
Format digital. (5). Kompatibel dengan GIS. (6). Data berbentuk elektronik yang mudah
disebar luaskan. Profil dari satelit yang spektakuler munculnya diuraikan di bawah ini
2.1. Satelit Landsat
Landsat adalah satelit Amerika Serikat yang pertama kali diorbitkan pada tahun 1972
sebagai satelit sumberdaya alam. Sampai sekarang telah diorbitkan generasi ke 7 dari satelit
sejenis. Satelit lain seperti SPOT, JERS, IRS, ADEOS tidak akan diuraikan dalam uraian ini.
Salah satu generasi satelit Landsat adalah seperti pada gambar 15 dengan karakteristik seperti
terlihat pada gambar 16.

Gambar 10. Satelit penginderaan jauh dalam orbit mengelilingi bumi.


Orbit Landsat adalah dari kutub ke kutub (orbit polar) pada ketinggian sekitar 700 Km
dengan inklinasi 98.2 derajat dengan waktu orbit ulang untuk daerah tertentu (revisit time) 16
hari, artinya setiap 16 hari sekali satelit itu melewati daerah yang sama (gambar 17).

Gambar 11. Spesifikasi generasi Landsat


Gambar 12. Orbit polar satelit Landsat.
Data Landsat merupakan salah satu yang paling banyak dipakai dalam pemetaan pada
umumnya karena mempunyai cakupan yang sangat luas, 180 x 180 km2 dengan resolusi
spasial cukup baik (30 meter) Landsat 7 ETM+ mempunyai 8 band, 6 band pada selang
cahaya tampak dan inframerah dekat dengan resolusi spasial 30 meter, 1 band pada selang
cahaya inframerah termal dengan resolusi spasial 120 meter dan 1 band pada selang
pankromatik dengan resolusi spasial 15 meter.
3. APLIKASI DATA PENGINDERAAN JAUH
3.1. Umum
Program pemetaan geologi sistimatik wilayah Indonesia yang begitu luas belum selesai
dilakukan. Untuk daerah di luar Pulau Jawa Peta geologi masih berskala kecil (1:250.000 dan
1:500.000), beberapa wilayah bahkan belum selesai dipetakan. Peta skala tersebut untuk
penggunaan lebih detail (skala operasional) masih belum dapat dipakai karena kurang detail
informasi yang diperoleh. Peta-peta geologi skala menengah (1:50.000 dan 1:100.000) baru
meliputi pulau besar tertentu, dalam beberapa hal masih memerlukan revisi dan updating.
Peta-peta berbasis geologi untuk keperluan lain seperti perencanaan tata ruang, pemetaan
geologi daerah pantai dan pesisir, pemetaan rawan bencana dan lingkungan bahkan secara
sistimatis belum dikembangkan. Demikian pula untuk menunjang kegiatan eksplorasi
mineral dan energi peta geologi detail belum ada sehingga untuk keperluan tersebut perlu
dibuat secara khusus. Pemetaan geologi secara konvensional untuk mengisi keperluan di atas
akan memerlukan waktu dan biaya sangat besar. Sebagai jalan pintas citra penginderaan
terbukti dapat memberikan kontribusi yang signifikan yang perlu dipertimbangkan
penggunaannya dan disosialisasikan secara luas. Uraian di bawah ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran bagaimana data penginderaan jauh bermanfaat untuk mengisi
kekurangan data di atas.
3.2. Penggunaan dalam bidang kebumian
Penggunaan dalam bidang kebumian pada dasarnya adalah mengenal dan memetakan
obyek dan parameter kebumian yang spesifik, menafsirkan proses pembentukannya dan
menafsirkan kaitannya dengan aspek lain. Untuk melakukan hal di atas dua metoda yang
umum dilakukan melalui metoda visual/manual yaitu mengenal obyek dan gejala geologi
spesifik yang dapat dilihat pada citra seperti perbedaan jenis batuan, bidang perlapisan,
struktur sesar. Cara kedua dilakukan melalui ekstraksi otomatis dari obyek dengan memakai
cara dan formula tertentu dengan menggunakan software yang ada (digital processings).
Kedua cara di atas mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga gabungan keduanya akan
lebih efektif dan optimal. Berikut akan diperlihatkan bagaimana informasi kebumian dapat
diidentifikasi dari citra penginderaan jauh.
3.2.1. Geologi derah pantai dan pesisir
Wilayah dan garis pantai Indonesia sangat panjang dan luas, hanya sedikit sekali
diketahui dari padanya baik dalam hal sumberdaya alam yang dimiliki (mineral dan bahan
galian, sumberdaya air, lahan) maupun kondisi lingkungannya. Pemetaan pada daerah pantai
sulit dilakukan karena sukarnya diperoleh singkapan batuan, asesibilitas sukar (rawa pantai)
dan mahal karena sebagian besar harus dilakukan melalui survei bawah permukaan
(geofisika dan pemboran). Sebaliknya daerah pantai dan pesisir merupakan wilayah ekonomi
yang potensial sebagai lahan pemukiman, prasarana perhubungan, jasa industri dan
sebagainya. Kepincangan dari kedua masalah tersebut perlu dipecahkan secara cermat.
Secara umum wilayah pantai dan pesisir dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok
dalam kaitannya dengan proses pembentukannya,
Pengelompokan secara garis besar dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Proses endogenik : pantai gunungapi, pantai terangkat (uplifted dan
tilted.
b. Proses eksogenik : aktivitas laut (oseanografi), proses sedimentasi dari
darat dan laut dan gabungan keduanya.
Proses biogenik : pembentukan terumbu karang dan hutan bakau Kenampakan pada citra
Landsat seperti terlihat pada gambar - gambar berikut :

Gambar 13. Beach ridges dan swales di daerah


Blanakan, pantai utara Jawa Barat

Gambar 14. Terumbu karang di Pulau Marshall,

Gambar 15. Citra Landsat multitemporal Segara Anakan, Cilacap


5. PENUTUP DAN KESIMPULAN
Berdasarkan berbagai studi dan implemantasi yang masih sangat sedikit dilakukan di
Indonesia beberapa hal dapat dikemukakan :
1. Kemampuan data penginderaan jauh untuk keperluan pemetaan geologi pada umumnya
dan implementasi dalam kegiatan eksplorasi sumberdaya mineral dan energi cukup
menjanjikan, Berbagai informasi mengenai batuan, struktur geologi dan bentuk-bentuk
morfoogi yang berkaitan dengan kerawanan bencana geologi terrekam dengan baik.
2. Data penginderaan jauh dapat memberikan informasi awal kondisi geologi pada daerah
yang belum dipetakan, dapat dipakai untuk map updating dan diintergasikan dengan data
lain misalnya data geofisika.
3. Data penginderaan jauh dengan prasarana pemrosesan data makin kian terjangkau
harganya sehingga dapat dikembangkan oleh instansi pemerintah maupun swasta yang
berkecimpung dalam bidang pemetaan.
4. Masalah kesiapan sumberdaya manusia sangat penting untuk digalakkan, khususnya
tenaga interpreter.
Daftar Pustaka

Barus, Baba., dan U.S. Wiradisastra. 2000. Sistem Informasi Geografi; Sarana Manajemen
Sumberdaya. Laboraturium Pengindraan Jauh dan Kartografi Jurusan Tanah Fakultas
Pertanian IPB. Bogor

DKP. 2008. Urgensi RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Artikel on-line
Dinas Kelautan dan Perikanan

NOAA. 2002. Environmental Sensitivity Index Guidelines, Version 3.0. NOAA Technical
Memorandum NOS OR&R 11. Office of Response and Restoration, National Oceanic
and Atmospheric Administration.

Lillesand, Thomas M., Ralph W Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gajah
Mada University Press. Jogyakarta

Purwadhi, Sri Hardiyanti. 2001. Interpretasi Citra Digital. Grasindo. Jakarta


Sutanto. 1992. Penginderaan Jauh; Jilid 1. Gajah Mada University Press. Jogyakarta
CPLO. 1996. Penginderaan Jauh Terapan. UI Press. Jakarta
TUGAS GEOSPASIAL DATABASE
” PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)”

DISUSUN OLEH :

BENNY T. SIAGIAN
K2E 008 009

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011