Anda di halaman 1dari 4

Uji In Vitro Aktivitas Antimalaria Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3 No.

3, Desember 2003 99

Uji In Vitro Aktivitas Antimalaria Isolat Dari Androgrphis paniculata Terhadap Plasmodium Falciparum Pada
Stadium Gametosit.

Rr.Retno Widyowati a), IGP Santa a), Abdul Rahman a), Indah Tantular b), Aty Widyawaruyanti a)
a) b)
Bagian Ilmu Bahan Alam Fakultas Farm asi Universitas Airlangga; Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga

Research of antimalarial activity toward eradication of Plasmodium falciparum in shizontocyte stage has
been done. This article intended to describe the activity of isolate of Andrographis paniculata herbs toward
eradication of Plasmodium falciparum in gametocyte stage. Inhibition activity of 5 g/mL isolate against the
parasite as the same as Primaquin in 5 g/mL.

Keywords : Andrographis paniculata, Plasmodium fa lciparum, Gametocyte, Inhibition activity

PENDAHULUAN kemudian dikeringkan terlebih dahulu baru dilakukan


Salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai ektraksi. Determinasi herba dilakukan d an hasilnya
obat tradisional di Indonesia adalah sambiloto disimpan di Laboratorium Botani -Farmakognosi
(Andrographis paniculata) yang mempunyai banyak Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.
sekali khasiat, diantaranya untuk penyakit kurap, sakit Parasit Penelitian. Parasit yang digunakan adalah
perut, demam karena gigitan serangga/ular berbisa, tifus isolat Plasmodium falciparum 228 yang diperoleh dari
dan penyakit malaria (Heyne, 1987). Dr. Fumihiko Kawamoto (Oita University, Jepang) dan
Beberapa penelitian pendahuluan terhadap aktivitas dikembangbiakan di Tropical Disease Center (TDC)
antimalaria dari tanaman ini telah dilakukan. Suyanto Universitas Airlangga Surabaya dengan tehnik
(1995) yang melaporkan bahwa isolat dari ekstrak penggantian medium setiap hari tanpa penambahan
metanol Andropraphis paniculata mempunyai daya eritrosit baru sehingga terbentuk stadium gametosit dan
hambat terhadap pertumbuhan Plasmodium falciparum kultivasi dilakukan berdasarkan metode Trager -Jensen
in vitro pada stadium shizontosida. Kemudian dari (1976).
penelitian Widyawaruyanti (1999), dilaporkan bahwa Bahan Pembanding. Kontrol negatif yang digunakan
ekstrak non polar (kloroform dan petroleum eter) dari pada penelitian ini adalah parasit malaria bentuk
herba tanaman ini juga mempunyai daya hambat gametosit yang tidak diberi bahan uji dan sebagai
terhadap pertumbuhan Plasmodium falciparum in vitro kontrol positif digunakan primakuin (Sigma,USA).
pada stadium shizontosida dengan membandingkan Bahan. Metanol teknis (Brataco, Sby, Ind.), etil asetat
pada kontrol positifnya (kloroquin), tanpa melakukan teknis (Brataco, Sby, Ind.), aquabidest, khloroform
penghitungan IC 50. Misra (1992) melaporkan ekstrak teknis (Brataco, Sby, Ind.), plate silika gel F 254
dari Andrographis paniculata dapat menghambat (E.merk, Darmstadt, Germany), media RPMI 1640
pertumbuhan Plasmodium berghei. Dua (1999) (Rosewell Parla Memorial Institute), Buffer phosphat
melaporkan bahwa Andrographis paniculata salin, gentamisin, ACD (asam sitrat, tri sodium sitrat,
mempunyai efek sebagai antimalaria pada fase dekstrosa), eritrosit manusia (PMI, Sby, Ind.), pewarna
shizontosida dengan harga IC 50 4 μg/mL. Menurut giemsa dan serum manusia (PMI, Sby, Ind.).
Rahman (1999), ekstrak kloroform dari tanaman ini Alat. Dalam penelitian ini dibutuhkan beberapa alat
mempunyai efek antimalaria in vivo. yaitu maserator, rotary-evaporator, TLC-scanner,
Berdasarkan hal tersebut maka dilanjutkan penelitian Laminar Air Flow, inkubator CO 2 dan otoklaf.
aktivitas antimalaria isolat dari Andrographis Preparasi Isolat dari Andrographis paniculata.
paniculata sebagai bahan uji yang diduga mempunyai Serbuk kering Andrographis paniculata 2 kg diekstraksi
aktivitas antimalaria terhadap Plasmodium falciparum berulang dengan metanol 95 % pada suhu 60 0C dengan
pada stadium gametosit in vitro karena gametosit yang menggunakan maserator 4x@24 jam. Ekstrak
berada dalam tubuh manusia merupakan faktor yang dipekatkan dengan rotavapor. Ekstrak pekat ini dikocok
menentukan terjadinya transmisi penyakit malaria. 4 kali dengan pelarut campuran etil asetat-air (200:150)
Gametosit yang terhisap oleh nyamuk Anopheles akan ml selama 5 menit, fraksi etil asetat yang diperoleh
menjadi gamet jantan dan gamet betina dalam rongga dipekatkan dengan rotavapor dan dilakukan
tubuh nyamuk dan memulai fase sporogoni. Selain itu rekristalisasi. Dari hasil fraksinasi serbuk kering
penderita yang di dalam tubuhnya mengandung Andrographis paniculata sebanyak 2 kg diperoleh
gametosit bersifat carrier yang dapat menularkan kristal 14,408 g dan dengan KLT diperoleh noda dengan
penyakit malaria. Rf 0,125 (merah ungu), titik lebur 220 ± 100C (Fisher
John’s Point Apparatus). Konsentrasi yang digunakan
BAHAN DAN METODE dalam bahan uji adalah 1, 3 dan 5 g/ml dengan
Tanaman untuk Penelitian . Tanaman yang melarutkan dalam DMSO dan etanol 95 % (1:9) ml.
digunakan untuk penelitian adalah herba Andrographis Untuk pengencerannya ditambahkan RPMI 1640.
paniculata yang diperoleh dari Kediri (± 700 m dpl) Penyiapan Plasmodium falciparum untuk
pada bulan Juli tahun 2000 dalam keadaan segar, Pembiakan. Biakan Plasmodium falciparum 228 dari
100 Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3 No.3, Desember 2003 Widyowati et.al.

penyimpanan beku dihangatkan pada suhu 37 0C sambil sama dengan awal. Selanjutnya diinkubasi dalam candle
dikocok-kocok terus sampai cair, lalu dimasukkan jar pada suhu 37 0C. Setelah 48 jam dilakukan
dalam tabung sentrifus steril dan disuspensik an dengan penggantian medium tanpa bahan uji. Pembuatan
2,0 ml larutan NaCl 12 % tetes demi tetes, didiamkan 3 hapusan darah tipis dilakukan pada 72 dan 96 jam.
menit kemudian ditambah 8,0 ml NaCl 1,6 % kemudian Kemudian dibuat sediaan tetes darah tipis dan dihitung
disentrifuse dengan kecepatan 1500 rpm selama 5 jumlah eritrosit yang terinfeksi gametosit pada sumur
menit. Setelah itu ditambahkan NaCl 1,6 % sebanyak uji dan kontrol negatif. Jumlah gametosit yang mati
3,0 ml dan dilakukan sentrifuse 1500 rpm selama 5 adalah jumlah eritrosit yang terinfeksi gametosit pada
menit. Lalu ditambahkan dengan RPMI lengkap 3,0 ml sumur kontrol negatif dikurangi dengan jumlah eritrosit
dan disentrifuse 1500 rpm selama 5 menit. Supernatan yang terinfeksi pada sumur uji. Untuk melihat jumlah
selalu dibuang. Packed cell ( 0,2 ml) disuspensikan eritrosit yang terinfeksi gametosit digunakan mikroskop
dengan RP-HS (RPMI dengan serum manusia) dengan perbesaran 10x100, data yang diperoleh
sebanyak 4,5 ml dan ditambah dengan 0,25 ml laruta n dianalisa dengan program SPSS Window 10.0
RBC 50 % hematokrit dan dimasukkan ke dalam botol menggunakan analisa probit untuk memperoleh harga IC 50.
kultur. Biakan dimasukkan dalam candle jar dan
diinkubasi pada suhu 37 0C. Setiap 24 jam medium HASIL DAN PEMBAHASAN
diganti dengan medium yang baru. Kadar hematokrit Pengujian antimalaria ini dilakukan pada sumur mikro
awal kultur dibuat 5 %. Penggantian medium dilakukan dan dibuat hapusan darah tipis kemudian dihitung
setiap hari dan dicek kadar parasitemianya dengan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit fase aseksual dan
hapusan darah. Bila kadar parasitemia tinggi dilakukan seksual, maka diperoleh hasil seperti pada tabel 1 dan 2.
sub kultur dengan penambahan RBC kemudian Besarnya aktivitas dari tiap konsentrasi diketahui
diinkubasi di candle jar selama 24 jam. Tapi bila kadar dengan menghitung prosen penghambatan yang
parasitemia rendah, medium hanya diganti secara biasa diberikan oleh bahan uji terhadap pertumbuhan
dan dibiakan terus tanpa penambahan sel darah merah Plasmodium falciparum pada stadium gametosit yaitu
hingga terbentuk parasit pada stadium gametosit. dengan menghitung jumlah eritrosit yang terinfeksi
Uji Aktivitas Antimalaria. Pengujian isolat dari gametosit pada fase I-V (Tabel 3 dan 4). Pada hari ke-3
Andrographis paniculata dilakukan dalam lempeng isolat dengan konsentrasi yang tertinggi mempunyai
sumur mikro steril yang terdiri dari 24 sumur. Bahan uji rata-rata daya hambat lebih kecil dari primakuin.
sebanyak 20 l dimasukkan tanpa diuapkan langsung Sedangkan hari ke-4 tidak ada perbedaan rata -rata %
ditambah suspensi parasit sebanyak 480 l dan penghambatan antara primakuin dan isolat pada
diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24, 48, 72 dan 96 konsentrasi tertinggi (α=0.05). Maka isolat dari
jam. Setelah 24 jam medium pada masing -masing Andrographis paniculata mempunyai daya hambat dan
sumur diambil kira-kira 250 l, kemudian ditambahkan aktivitas yang sama dengan primakuin.
medium yang berisi bahan uji dengan konsentrasi yang

Tabel 1. Hasil Penghitungan Eritrosit yang Terinfeksi Parasit Fase Aseksual dan Seksual terhadap Plasmodium
falciparum pada 72 jam tiap 5000 eritrosit.

Bahan uji Konsentrasi . Eritrosit yang . Eritrosit yang


(g/ml) terinfeksi parasit terinfeksi parasit fase
fase aseksual seksual
. Gamet . Gamet fase Total
fase I-III IV-V
Kontrol Negatif - 19 40 1 41
14 42 1 43
Isolat A. panicu lata 1 26 39 - 39
- 20 35 2 37
3 18 28 3 31
18 27 1 28
5 17 22 - 22
8 18 2 20
Primakuin 1 31 28 2 30
21 28 2 30
3 11 24 - 24
21 27 1 28
5 13 16 2 18
22 18 1 19
Uji In Vitro Aktivitas Antimalaria Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3 No.3, Desember 2003 101

Tabel 2. Hasil Penghitungan Eritrosit yang Terinfeksi Parasit Fase Aseksual dan Seksual terhadap Plasmodium
falciparum pada 96 jam tiap 5000 eritrosit.
Bahan uji Konsentrasi . Eritrosit yang . Eritrosit yang
(g/ml) terinfeksi parasit terinfeksi parasit fase
fase aseksual seksual
. Gamet . Gamet fase Total
fase I-III IV-V
Kontrol Negatif - 21 27 3 30
21 28 4 32
Isolat A. paniculata 1 23 22 1 23
19 20 1 21
3 22 18 1 19
9 19 2 21
5 8 13 1 14
5 10 2 12
Primakuin 1 9 19 2 21
11 18 1 19
3 6 16 - 16
4 18 2 20
5 6 11 3 14
5 12 - 12

Tabel 3. Hasil Penghitungan % Penghambatan Pertumbuhan Plasmodium falciparum pada 72 jam tiap 5000 eritrosit
Bahan uji Konsentrasi Total eritrosit % Penghambatan Rata-rata %
(g/ml) yang terinfeksi gametosit Penghambatan
(Var.)
Kontrol Negatif - 41 0 0
43 0
Isolat A. paniculata 1 39 7,14 9.52 (2,38)
37 11,91
3 31 26,19 29,76 (3,57)
28 33,33
5 22 47,62 50,0 (2,38)
20 52,38
Primakuin 1 30 28,57 28,57
30 28,57
3 24 42,86 38,09 (4,76)
28 33,33
5 18 57,14 55,95 (1,19)
19 54,76

Tabel 4. Hasil Penghitungan % Penghambatan Pertumbuhan Plasmodium falciparum pada 96 jam tiap 5000 eritrosit
Bahan uji Konsentrasi Total eritrosit % Penghambatan Rata-rata %
(g/ml) yang terinfeksi Penghambatan
gametosit (Var.)
Kontrol Negatif - 30 0 0
32 0
Isolat A. paniculata 1 23 25,81 29,03 (3,23)
- 21 32,26
3 19 38,71 35,48 (3,23)
21 32,26
5 14 54,84 58,07 (3,23)
12 61,29
Primakuin 1 21 32,26 35,48 (3,23)
19 38,71
3 16 48,39 41,94 (6,45)
20 35,48
5 14 54,84 58,07 (3,23)
12 61,29
102 Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3 No.3, Desember 2003 Widyowati et.al.

Untuk mengetahui hubungan antara peningkatan paniculata 4,28 g/ml tidak berbeda secara bermakna
konsentrasi dengan besarnya aktivitas dibuat grafik dengan IC 50 primakuin yaitu 4,05 g/ml (α = 0.05).
antara konsentrasi dengan % penghambatan kemudian Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut
dianalisa menggunakan probit dari program SPSS dapat disimpulkan isolat dari Andrographis paniculata
window 10.0 sehingga akan dik etahui harga IC 50 mampu menghambat pertumbuhan Plasmodium
(Gambar 1 dan 2). falciparum pada stadium gametosit in vitro.
Ucapan Teimakasih. Ucapan terima kasih
disampaikan kepada drh. Suhintam Pusarawati, MKes,
Dra. Wiwied Ekasari, MSi, Apt, Drs. Herra Studiawan,
MS, Direktur beserta staf TDC Unair, Kepala lab dan
karyawan fitokimia dan Laboratorium Dasar Bersama
yang telah banyak membantu dalam penyelesaian
penelitian ini, serta Fakultas Farmasi yang telah
mendanai penelitian ini melalui Project Grand QUE 2000 .

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan (1979), Materia Medika
Indonesia III, Jakarta, hal.20
Departemen Kesehatan (1983), Pemanfaatan Tanaman
Obat-obatan, Jakarta, hal.95-119
Gambar 1. Grafik Analisis Probit dari Daya Hambat Dua (1999), Screening of Natural/Synthetic Compounds
Isolat dari Andrographis paniculata terhadap P. for Antimalarial Activity, p.77-81
falciparum Stadium Gametosit pada 72 jam Heyne K, 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3,
Terjemahan Badan Litbang Kehutanan, Jakarta, hal
926-927
Misra P, Pal N, Guru P, Katiyar V, Srivastava, Tando n,
(1992), Antimalarial activity of Andrographis
paniculata against Plasmodium berghei in Mastomys
natalensis, International Journal of Pharmacognocy
30 (4), p. 263-274
Mubin A, Pain S, (1992), Malaria Tropika dengan
Beberapa Komplikasi, Cermin Dunia Kedokteran no.
74, Jakarta, hl. 48-51
Rahman A, Futura T, Kajima S (1999), Antimalaria
Activity of Malaysian Medicinal Plants, Journal of
Ethnopharmacology 64, p. 249-254
Suyanto (1995), Uji Aktivitas Antimalaria Secara In
Vitro Isolat Andrographis paniculata Nees, Skripsi,
Gambar 2. Grafik Analisis Probit dari Daya Hambat Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Isolat dari Andrographis paniculata terhadap P. Trager W, Jensen S B (1976), Human Malaria Parasites
falciparum Stadium Gametosit pada 96 jam in Continuous Culture, Science, p. 673-675
Widyawaruyanti A (1999), Aktivitas Imunomodulator
Pada hari ke-3 didapatkan IC 50 isolat dari Senyawa-senyawa Diterpenoid dari Andrographis
Andrographis paniculata 4,92 g/ml tidak berbeda paniculata Nees Terhadap Fungsi Sitotoksisitas
secara bermakna dengan IC 50 primakuin yaitu 4,54 Limfosit T-Sitotoksik (CD 8+) Mencit, Tesis,
g/ml. Pada hari ke-4 IC50 isolat dari Andrographis Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga,
Surabaya