Anda di halaman 1dari 20

KEARIFAN BUDAYA LOKAL 

CIREBON

Makalah

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dariIbu Ima Halimah, S.Pd.,
selaku Guru Mata Pelajaran Sosiologi

Disusun Oleh:
Pupu Puadah
Rangga Edwar
Reni Julianti
Resti Nur Maedah

KELAS XII B
MA AL-FAJAR KALAPADUA
2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Rabbil Alamin, kata terindah sebagai ungkapan rasa syukur


penulis atas petunjuk dan rahmat Allah SWT, sehingga penulis mampu
menyelesaikan makalah yang berjudul “Kearipan Budaya Lokal Cirebon” ini.
Makalah tidak terlepas dari dukungan, bimbingan dan bantuan dari semua pihak.
Oleh karena itu, kami ucapkan terimak kasih kepada semua yang tidak bisa kami
sebutkan satu persatu yang dimana telah membantu kami dalam penyelesaian makalah
ini tepat pada waktunya.
Kesempurnaan hanyalah milik yang Maha Sempurna, Allah SWT. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun sangatlah
penulis perlukan demi kesempurnaan penulisan Makalah ini. Penulis menyadari pula
bahwa dalam penyusunan.
Dan akhirnya kepada Allah jualah penulis memohon balasan yang berlipat
ganda, semoga makalah ini dapat berguna dalam perkembangangan kreativitas dan
peningkatan aktivitas bagi kita semua.

Bantarujeg, Februari 2020

Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.........................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan penulisan....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................3
A. Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan......................................................................3
B. Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa......................4
C. Prosesi Panjang Jimat.............................................................................................7
D. Perubahan Panjang Jimat Dilihat dari Aspek Sosial dan Ekonomi......................11
BAB III PENUTUP.......................................................................................................16
A. Kesimpulan...........................................................................................................16
B. Saran.....................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................17

ii
BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara multikultural yang terdiri dari berbagai
macam ras, suku, agama, bahasa, dan etnis. Dalam keberagaman tersebut terdapat
sebuah identitas Nasional yang menjadi kebanggaan Negara Indonesia.
Keberagaman tersebut merupakan bukti kekayaan bangsa Indonesia yang
menghasilkan kebudayaan Nasional. Kebudayaan Nasional itu sendiri terdiri dari
kebudayaan-kebudayaan Lokal yang dihasilkan di berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu bentuk kebudayaan Nasional adalah sistem ritual upacara
keagamaan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Upacara Panjang
Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu bentuk kebudayaan
lokal yang ikut memperkaya kebudayaan Nasional Indonesia. Upacara Panjang
Jimat sudah dilaksanakan sejak Keraton Kasepuhan didirikan dan terus berlangsung
sampai sekarang.
Pelaksanaan Upacara ini memang terus berlangsung sampai sekarang,
namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi
nilai-nilai lama dalam upacara tersebut yang semula menjadi acuan masyarakat
menjadi goyah akibat masuknya nilai-nilai baru dari luar. Upacara tradisional
sebagai nilai-nilai lama masyarakat pendukungnya lambat laun akan terkikis oleh
pengaruh modern dan nilai-nilai baru tersebut. Dengan kata lain mungkin upacara
tradisional mengalami perubahan atau pergeseran akibat pengaruh modern tersebut.
Untuk mengkaji permasalahan tersebut sangat pening diadakan penelitian
tentang perubahan atau pergeseran upacara tradisional yang terjadi masa sekarang.
Sebelum kita mengkaji lebih dalam penyebab permasalahan tersebut, maka kita
harus melihat seberapa jauh perubahan itu terjadi dengan menggunakan kajian
historis. Setelah itu maka kita bisa mencari akar penyebab terjadinya perubahan
tersebut dan menemukan kesimpulan akhir apakah benar perubahan tersebut
menuju ke arah positif atau ke arah negatif dan kita bisa menemukan jalan keluar
permasalahan tersebut. Dengan memperhatikan pertimbangan tersebut maka kami
mengangkat makalah ini dengan judul “Upacara Panjang Jimat Sebagai Entitas

1
Lokal Keraton Kasepuhan Cirebon dan Perubahannya (Sebuah Kajian Historis,
Sosial, dan Ekonomi)”.

B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini kami membuat beberapa rumusan masalah
yang menjadi pokok pembahasan. Rumusan masalah dapat membatasi pembahasan
agar tidak melebar. Adapun Rumusan masalah yang kami tetapkan adalah:
1. Bagaimana awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari panjang Jimat,
proses penyebarannya ke Jawa, serta perkembangannya sehingga menjadi
sebuah Upacara Panjang Jimat?
2. Latar belakang apa saja yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang Jimat?
3. Seberapa besar perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini
dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya?
4. Bagaimana dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat
sekitar keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi?

C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin di capai dari penulisan karya ilmiah ini adalah
untuk menjawab rumusan masalah diatas, yakni:
1. Menjelaskan awal mula munculnya Maulid Nabi sebagai akar dari Panjang
Jimat, proses penyebarannya ke Jawa, serta perkembangannya sehingga
menjadi sebuah Upacara Panjang Jimat;
2. Mengetahui latar belakang yang menyebabkan perubahan Upacara Panjang
Jimat;
3. Menjelaskan perubahan yang terjadi dalam Upacara Panjang Jimat saat ini
dibandingkan dengan keberadaannya di awal kemunculannya;
4. Menjelaskan dampak Upacara Panjang Jimat terhadap kehidupan masyarakat
sekitar keraton kasepuhan di bidang sosial dan ekonomi.
 

2
BAB II
PEMBAHASAN
 
A. Sejarah Singkat Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon
dengan luas 16 hektar yang dibatasi oleh tembok Keraton, tidak termasuk Alun-
alun dan Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Untuk sampai ke sana dari Jalan Lemah
Wungkuk kita dapat berjalan lurus ke arah Selatan sampai tiba di Alun-alun
Keraton Kasepuhan. Dari Alun-alun Keraton inilah kita dapat melihat kompleks
Keraton Kasepuhan yang terletak persis di sebelah Selatan Alun-alun.
Dilihat dari sudut historisnya Keraton kasepuhan merupakan pembagian
dari keraton kasunanan kerajaan Cirebon. Kerajaan Cirebon awalnya merupakan
sebuah perkampungan yang bernama Tegal Alang-alang dan kemudian dibentuk
menjadi perkampungan Cirebon oleh Pangeran Walangsungsang pada tahun 1445
M. Pembentukan dilakukan awalnya ketika Pangeran Walangsungsang mencari
ilmu agama Islam di daerah Tegal Alang-Alang ini, kemudian beliau melihat
potensi daerah pesisir ini kaya akan udang dan bisa dijadikan pelabuhan dagang
sehingga secara resmi Pangeran Walangsungsang mendirikan kampung Cirebon
(PRA. Arif Natadiningrat, 2009).
Selain Pangeran Walangsungsang, Sri Baduga Maharaja juga mempunyai
seorang Putri yang bernama Rara Santang yang telah kembali dari Mekkah dan
beragama Islam. Rara Santang membawa serta putranya yang bernama Syarif
Hidayatullah, Syarif Hidayatullah inilah yang mengukuhkan Cirebon bentukan
Pangeran Walangsungsang sebagai daerah kekuatan agama Islam yang merdeka
dari kerajaan Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran dan menjadi raja Cirebon
bergelar Susuhunan Jati 1479 M. Dalam versi sejarah Keraton Cirebon, Susuhunan
Jati wafat pada tahun 1568 M dan dikuburkan di Gunung Jati (Cirebon) sehingga
dikenal pula sebagai Sunan Gunung Jati.
Pusat pengaturan pemerintahan Kerajaan Cirebon terdapat di Keraton
Pakungwati. Keraton Pakungwati sudah dipakai oleh Raja-raja Cirebon sejak masa-
masa awal perkembangan Islam. Nama Pakungwati tetap dipertahankan hingga
masa pemerintahan Panembahan Ratu I, dan Panembahan Ratu II (Panembahan

3
Girilaya). Setelah itu pada tahun 1679 M masa kepemimpinan Sultan Anam
Badridin I terjadi perebutan kekuasaan intern kerajaan sehingga beliau membagi
kerajaan Cirebon yang pusat pemerintahannya di Keraton Pakungwati ini menjadi
tiga pusat kerajaan di tiga keraton. Keraton tersebut yaitu Keraton Kasunanan,
Keraton Kasepuhan, dan Keraton Kanoman. Keraton Kasepuhan mengambil tempat
di kompleks bekas Keraton Pakungwati, dan sejak itu berkembang terus sampai ke
selatan.

B. Awal Mula Kemunculan Maulid Nabi dan Penyebarannya di Jawa


Maulid sebagai bagian dari tradisi keagamaan dapat dilihat dari segi historis
maupun dari segi sosial budaya. Dari segi historis terdapapat dalam catatan Al-
Sandubi dalam karyanya ”Tarikh Al-Ikhtilaf Fi Al-Maulid Al-Nabawi, Al-Mu’izzli-
Dinillah. Diungkapkan olehnya bahwa dalam sejarah Islam penguasa bani Fatimah
yang pertama menetap di Mesir adalah orang pertama yang menyelenggarakan
perayaan kelahiran Nabi. Kemudian kurun waktu berikutnya tradisi yang semula
dirayakan hanya oleh golongan Syi’ah ini juga dilaksanakan oleh golongan Sunni
dimana Khalifah Nur Al-Din penguasa Syiria (511-569 H / 1118-474 M) adalah
penguasa Suni pertama yang tercatat merayakan maulid Nabi. Perayaan Maulid
secara besar-besaran dilaksanakan pertama kali oleh Raja Al-Mudhaffar Abu Sa’id
Kokburi bin Zain al-Din Ali bin Baktatin penguasa Irbil, 80 KM tenggara Mossul.
Kemudian mengkaji penyebaran Maulid Nabi sampai ke Indonesia sangat
berkaitan dengan jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah dari dinasti Abbasiah
penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah). Salahuddin
memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub,
setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo),
Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan
Semenanjung Arabia.
Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada musim Haji
579 H (1183 Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci saat itu atas persetujuan
Khalifah Bani Abbas di Baghdad juga, Sultan menghimbau agar seluruh jamaah
haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera
mensosialisasikan kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan

4
Salahuddin merayakan tradisi ini selain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai
cara membangkitkan semangat juang umat Islam yang kala itu kehilangan semangat
juang dan persaudaraan ukhuwah ketika terjadi perang salib.
Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan
seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma
ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian
menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan
syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang.
Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad
SAW merupakan sebagai salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Di
tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisi
Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan
menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini
tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat
kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.
Sebagian masyarakat Jawa merayakan maulid dengan membaca Barzanji,
Diba’i atau al-Burdah atau dalam istilah orang Jakarta dikenal dengan rawi.
Barzanji dan Diba’i adalah karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang
kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak,
remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-
sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan
teladan umat manusia. Sedangkan Al-Burdah adalah kumpulan syair-syair pujian
kepada Rasulullah SAW yang dikarang oleh Al-Bushiri.
Berbagai macam acara dibuat untuk meramaikan acara ini, lambat laun
menjadi bagian dari adat dan tradisi turun temurun kebudayaan setempat. Di
Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah sekaten,. Istilah
ini berasal dari stilasi lidah orang Jawa atas kata syahadatain, yaitu dua kalimat
syahadat. Perayaan umumnya bersifat ritual penghormatan (bukan penyembahan)
terhadap jasa para wali penyebar Islam, misalnya upacara Panjang Jimat yaitu
upacara pencucian senjata pusaka peninggalan para wali.
Di Cirebon upacara Maulid Nabi (selanjutnya disebut dengan Panjang
Jimat) dilaksanakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief

5
Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton
Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah. Di
Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton dengan acaranya Grebeg
Mulud. Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabi disebut Grebeg
Mulud. Kata “Grebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar
keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi lengkap
dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.
Di Garut terdapat upacara Ngalungsur yaitu proses upacara ritual dimana
barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang)
setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok
dengan minyak wangi supaya tidak berkarat, di fokuskan di desa Lebak Agung,
Karangpawitan. Di Banten kegiatan di fokuskan di Masjid Agung Banten. ditempat
lain diantaranya tempat-tempat ziarah makam para wali.
Di Keraton kasepuhan sendiri perayaan Panjang Jimat secara besar-besaran
selalu diadakan, terutama sesudah Syarief Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai
Sang Susuhunan Jati memegang tampuk pemerintahan Nagri Carbon (Kerajaan
Cirebon) 1479 M. Susuhunan Jati mengadakan berbagai perayaan secara besar-
besaran ini bukan semata karena menghormati Nabi Muhammad SAW sebagai
penyebar agama saja tetapi juga karena menghormati nenek-moyang.
Menurut garis ayah, Syarief Hidayatullah adalah keturunan ke-22 Nabi
Muhammad SAW. Ayahnya adalah Syarief Abdullah yang datang ke Pulau Jawa
dari Mesir melalui Gujarat, menikah dengan Nyimas Rara Santang putri Sri Baduga
Maharaja penguasa Pajajaran. Sebagai keturunan langsung dari penyebar agama
Islam, Syarief Hidayatullah begitu menghormatinya secara khusus pula sebagai
seorang keturunan kepada nenek-moyangnya. Sejak saat itu muludan di Kerajaan
Cirebon selalu meriah hingga kini.
Dapat dipahami juga bahwa tradisi keagamaan maulid merupakan salah satu
sarana penyebaran Islam di Indonesia. Islam tidak mungkin dapat segera tersebar
dan diterima masyarakat luas Indonesia, jika saja proses penyebarannya tidak
melibatkan tradisi keagamaan. Penyebaran agama Islam sejak abad ke-13 M
semakin meluas di Nusantara terutama atas kegiatan kaum sufi yang mampu

6
menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menerangkan
kontinuitas kebudayaan masyarakat dalam konteks Islam.
Menurut Ahmad Anas jelas terdapat fakta yang kuat bahwa tradisi maulid
merupakan salah satu ciri kaum muslimin tradisional di Indonesia dan umumnya
dilakukan oleh kalangan sufi. Maka dari segi ini dapat diperoleh kesimpulan
sementara bahwa masuknya perayaan maulid bersamaan dengan prosesnya Islam
ke Indonesia yang dibawa oleh pendakwah atau dalam hal ini kaum sufi.
Corak dengan kaum tradisional itu tidak lepas pula dari strategi dakwah
yang diterapkan oleh penyebar Islam awal di Indonesia saat itu yang sebagian besar
petani yang tinggal di daerah pedesaan dan tingkat pendidikannya yang sangat
rendah, maka pola penyebarannya pun disesuaikan dnegan kemampuan
pemahamaan masyarakat. Sehingga materi dakwah pada waktu itu lebih diarahkan
pada peningkatan keyakinan serta ajaran ibadah yang bersifat pemujaan secara
ritual. Selain itu ditopang oleh perilaku ibadah dan upacara ritual keagamaan yang
dianggap akan makin memperkokoh keimanan dan keislaman mereka sangat
dianjurkan seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur, kenduri, haul, upacara yang
terikat dengan kematian, termasuk muludan, dan lain sebagainya.
Kondisi lainnya yang berpengaruh dalam penyebaran Maulid Nabi ini
adalah kondisi sosial politik pada abad ke-14 hingga ke-16 M. Di berbagi belahan
dunia Islam sedang marak dan berada pada puncak penyebaran tradisi maulid yang
perintisannya sejak awal abad ke-12. Kegiatan maulid mencapai puncak
popularitasnya di kalangan masyarakat sehingga penguasa-penguasa pun kemudian
mengakomodasinya sebagai kegiatan resmi negara yang salah satu motifnya adalah
kepentingan politik. Acara Maulid Nabi ini menjadi sebuah penglegitimasian
keberadaan sultan di kerajaan. Di Keraton Kasepuhan sendiri Sultan memegang
peranan penting dalam upacara Panjang Jimat sebagai orang yang diutamakan. Hal
tersebut dilakukan untuk memperlihatkan kewibawaan sultan dimata masyarakat.

C. Prosesi Panjang Jimat


Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah refleksi dari proses kelahiran Nabi
Muhammad SAW dan merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan Maulud
Nabi Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Panjang” berarti sederetan iring-

7
iringan berbagai benda pusaka dalam prosesi itu dan “Jimat” berarti “siji kang
dirumat” atau satu yang dihormati yaitu kalimat sahadat “La Illa ha Illahah”
sehingga arti gabungan dua kata itu adalah sederetan persiapan menyongsong
kelahiran nabi yang teguh mengumandangkan kalimat sahadat kepada umat di
dunia. Pada umumnya masing-masing upacara terdiri atas kombinasi berbagai
macam unsur upacara seperti berkorban, berdo’a, bersaji makan bersama,
berprosesi, semadi, dan sebagainya. Urutannya telah tertentu sebagai hasil ciptaan
para pendahulunya yang telah menjadi tradisi.
Pengaruh Khalifah Sholahuddin Al Ayubi seperti telah dijelaskan kemudian
menyebar ke seluruh dunia termasuk ke Kerajaan Cirebon dan Sultan Cirebon
Syarif Hidayatullah kemudian mengadopsikan acara maulud nabi itu dengan
budaya Jawa sehingga menjadi prosesi Panjang Jimat. Secara serentak, upacara
pelal Panjang Jimat di Cirebon diselenggarakan di empat tempat yang menjadi
peninggalan dari Syarief Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan,
Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh
Syarief Hidayatullah pendiri Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan Sunan
Gunung Djati.
Rirual-ritual Panjang Jimat hampir sama dengan upacara yang lainnya, yang
semuanya mengukuhkan homogenitas model Jawa yang orisil Maka pada saat itu
tampaklah raja melakukan miyos dalem (penampilan raja kehadapan rakyatnya).
Kemampuan raja mencapai kesatuan dimanfaatkan untuk mendengarkan keabsahan
keraton. Pada kegiatan itu raja menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan
rakyatnya.
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan secara langsung pada tanggal 7-9
Maret 2009 dengan melakukan wawancara, pengamatan langsung, dan juga
bantuan dari sumber buku yang telah kami baca, maka kami mendapatkan beberapa
fakta tentang perubahan Panjang Jimat berupa prosesi dan keadaan masyarakatnya.
Pada hasil pertama kami akan mengungkapkan tentang prosesi panjang jimat
terlebih dahulu.
Di Keraton Kasepuhan Panjang Jimat diturunkan oleh petugas dan ahli
agama di lingkungan kerabat kesultanan Keraton kasepuhan, yang terdiri atas:
1. Diadakan Susrana

8
Tahap ini diadakan di gedung/bangsal dalem. Disinilah disajikan Nasi
Rosul sebanyak 7 golongan, untuk tiap-tiap golongan
ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar. Petugas-petugasnya
adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di
belakang Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah, “serbad
boreh” (panem) dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang
berisi kue-kue dan tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah
Nyi Kotif Agung, Nyi Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family
kasultanan.
2. Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu sebelah utara bangsal dalem dan di
bangsal Pringgadani (sebelah utara bangsal Prabayaksa), diperuntukan bagi para
undangan di tengah ruangan dilowongkan untuk deretan upacara, terus dari
Jinem ke Sri Manganti.
Di Keraton Kasepuhan, upacara puncak Pelal Panjang Jimat dimulai
tepat pukul 19.50 WIB dipimpin langsung oleh Sultan Sepuh XIII Maulana
Pakuningrat, sementara prosesi iring-iringan jimat keraton dibawa dari Bangsal
Prabayaksa Keraton menuju Langgar Agung dipimpin Putra Mahkota
Kesultanan Kasepuhan Pangeran Raja Adipati PRA. Arief Natadiningrat.
Selanjutnya Sultan menyerahkan payung pusaka kepada Putra Mahkota
PRA Arief Natadiningrat sebagai wakil dirinya dalam iring-iringan Panjang
Jimat.
Urut-urutan panjang jimat di Kesultanan Kasepuhan yaitu pertama
barisan lilin yang melambangkan kelahiran nabi pada malam hari, barisan
kedua berupa Manggaran, Nagan, dan Jantungan yang lambangkan kebesaran
dan keagungan.
Barisan ketiga, berupa air mawar, pasatan, dan kembang goyang sebagai
perlambang air ketuban dan usus atau ari-ari bayi, barisan keempat berupa air
serbat dalam empat baki dan dua guci sebagai perlambang kelahiran. Barisan
kelima berupa tumpeng jeneng, 10 nasi uduk, 10 nasi putih sebagai perlambang
seorang bayi harus diberi nama yang baik agar menjadi orang yang berguna,
dan barisan keenam adalah tujuh nasi jimat.

9
Nasi Jimat itu diarak dengan pengawalan 200 barisan abdi dalem yang
masing-masing membawa simbil-simbol sebagai perlambang. Barisan pertama
ialah pembawa lilin, bertujuan sebagai penerang, diikuti iring-iringan pembawa
perangkat upacara seperti “manggaran”, “nadan” dan “jantungan” (perlambang
kebesaran dan keagungan).
Setelah sepasukan pengawal (iring-iringan) lengkap berkumpul di
Bangsal Purbayaksa, putra mahkota PRA. Arief atas izin Sultan Kasepuhan,
memimpin arak-arakan menuju Langgar Agung, sekira 100 meter, masih di
lingkungan keraton. Arak-arakan yang keluar dari Bangsal Purbayaksa
disambut di luar keraton oleh pengawal pembawa obor (perlambang Abu
Tholib, paman nabi menyambut kelahiran bayi Muhammad pada malam hari
yang kemudian menjadi manusia agung) sebelum akhirnya dibawa ke mushala.
Di mushala itu Nasi Jimat Tujuh Rupa itu dibuka bersama dengan sajian
makanan lain termasuk makanan yang disimpan di 38 buah piring pusaka
peninggalan Sunan Gunung Djati berusia 600 tahun.
Di mushala (Langgar Agung), dilakukan shalawatan serta pembacaan
(mengaji) kitab Barjanzi sampai pukul 24.00 WIB. Setelah shalawatan dan
pembacaan kitab yang dipimpin imam Masjid Agung “Sang Cipta Rasa”
Keraton Kasepuhan, makanan lalu disantap bersama. PRA Arief yang
mengenakan pakaian khas tradisi Cirebonan berupa kemeja hitam dan
blangkon, pulang kembali ke keraton dengan pengawalan ketat, sebab ribuan
warga yang rela menunggu berlama-lama, pada berebut untuk memegang atau
sekadar menyentuh calon Sultan Kasepuhan Cirebon itu karena diyakini bisa
membawa berkah “Ngalap berkah”.
Sebelum arak-arakan membawa Nasi Jimat Tujuh Rupa dimulai, Sultan
Kasepuhan, Maulana Pakuningrat memberi wejangan kepada para abdi dalem
dan tamu undangan. Sultan menyampaikan makna dari perayaan Panjang Jimat
yang sudah berusia ratusan tahun. Sebagaimana sebutan “pelal”, Panjang Jimat
merupakan puncak dari serangkaian ritual yang ditujukan untuk mengenang dan
merayakan kelahiran (maulud) Nabi Muhammad saw. Acara ini merupakan
penutup rangkaian acara tradisi yang setiap tahun selalu berjalan meriah dan

10
menjadi magnet tersendiri bagi ratusan ribu warga untuk datang ke Kota
Cirebon.
Pelal Panjang Jimat, atau rangkaian panjang acara adat mengenang dan
merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan telah menjadi agenda
tersendiri. Tidak hanya bagi abdi dalem keraton atau warga Kota Cirebon, tetapi
juga warga dari daerah lain seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan,
termasuk juga Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, bahkan wilayah
Jateng seperti Tegal, Brebes, Batang, Pekalongan, Semarang sampai Jakarta dan
Banten. Banyak masyarakat yang percaya menyaksikan Muludan yang digelar
tiga keraton di Cirebon memberikan semangat spiritual dalam menempuh
kehidupan, bahkan tidak jarang beberapa orang berusaha menggapai benda
pusaka dengan tujuan mendapatkan berkah pada malam Panjang Jimat itu.

D. Perubahan Panjang Jimat Dilihat dari Aspek Sosial dan Ekonomi.


1. Perubahan Panjang Jimat dilihat dari aspek sosial
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, terdapat fakta-fakta baru
tentang Panjang Jimat. Kami bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa
pelaksanaan upacara Panjang Jimat sekarang mengalami perubahan atau
pergeseran. Secara umum perubahan pelaksanaan Panjang Jimat tersebut bukan
terletak pada struktur upacaranya tapi dalam bentuk permukaannya. Perubahan
penyelenggaraan dalam bentuk permukaannya banyak berubah dilakukan untuk
mendukung program pemerintah yakni pariwisata dan pembangunan (Seputar
Indonesia, 10 Maret 2009). Sedangkan mengenai tujuan, kesakralan, struktur
secara intern masih tetap terjaga. Prosesi upaca masih lengkap meskipun sedikit
ada penyederhanaan.
Seperti yang telah diketahui bahwa upacara Panjang Jimat di Keraton
Kasepuhan sudah ada sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan
oleh masyarakat Cirebon. Hal ini khususnya dikarenakan masyarakat masih
memegang teguh adat istiadat ataupun kebiasaan akan tradisi yang diwariskan
turun temurun. Secara prinsip, upacara Panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun
ke tahun, namun dalam pelaksanaannya lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan
dengan lebih besar, meriah, diisi dengan program pembangunan dan dikaitkan

11
dengan pariwisata. Terdapat suatu indikasi bahwa hal ini disebabkan karena
sudah memasuki jaman globalisasi yang serba modern.
Akibat dari globalisasi tersebut menyebabkan upacara Panjang Jimat yang
merupakan salah satu adat atau kultur Keraton kasepuhan juga mengalami
perubahan. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah karena meskipun
mengalami perubahan tapi tetap mempunyai struktur, tujuan, esensi yang sama
dengan pelaksanaan grebeg maulud dahulu. Nilai kesakralan dan getaran emosi
masyarakat masih tetap ada.
Pernyataan ini sependapat dengan peryataan Poespoprojo bahwa dalam
masyarakat dinamik upacara adat yang mengalami perubahan biasanya dalam
bentuk permukaannya saja bukan pada strukturnya (non empiris). Sebab
struktur selalu tetap dimiliki manusia, meski manusia tersebut telah terjerat oleh
kemajuan jaman. Rangkaian upacara Panjang Jimat ini tidak mengalami
peruban, begitu juga makna yang terdapat dalam setiap rangkaian yang
dilaksanakan tetap tidak berubah dan masih sama seperti dulu.
Pemahaman upacara tradisional yang penting, khususnya Panjang Jimat ini
bukan pada level empirisnya (luarnya) tapi pada level non empirisnya yakni
struktur pada upacara tersebut. Selama strukturnya sama, maka prinsip dari
upacara Panjang Jimat tetap sama, inilah yang paling esensial dalam
pelaksanaan upacara Panjang Jimat agar tetap terjaga keaslian, kesakralan,
struktur, nilai, dan tujuannya.
Selanjutnya jika dilihat perubahan dalam pelaksanaan upacara Panjang
Jimat saat ini terletak pada bentuk luarnya (empiris) yaitu untuk mendukung
program pariwisata dan pembangunan seperti diketahui bahwa sebelum upacara
dimulai dengan pesta rakyat menyongsong perayaan Panjang jimat, yakni
berupa keramaian untuk hiburan masyarakat. Apabila jaman dahulu dalam
Panjang Jimat ini tidak ada keramaian berupa pasar malam dan para pedagang,
maka sekarang mereka ada dan sangat ramai sekali. Pekan raya atau pasar
malam yang dipergunakan untuk kepentingan pariwisata dan pembangunan,
antara lain:
a. Sebagai arena rekreasi bagi masyarakat misalnya; sirkus, arena permainan
anak-anak, panggung kesenian (musik) dan lain-lain

12
b. Sebagai forum informasi dan komunikasi tentang kebijaksanaan yang dapat
diperoleh dari eksposisi atau pameran dari instansi pemerintah
c. Sebagai sarana melestarikan kesenian kebudayaan daerah. Untuk itu
disediakan panggung kesenian daerah, pentas kesenian daerah dan lainnya.
Pasar malam tersebut dipakai sebagai ajang berjualan bagi para pedagaang
seperti penjual makanan, minuman, mainan ank-anak, pakaian, sepatu, bunga
dan lainya. Akibat adanya pasar malam dalam perayaan sekaten membuat
susana menjadi meriah dan ramai. Disamping itu dalam kegiatan pasar malam
tersebut juga diadakan kegiatan keagamaan khususnya agama islam. Kegiatan
keagamaan itu antara lain santapan rohani melalui menara siaran, pengajian
umum, pameran keagamaan. Pentas seni keagamaan, tabligh di masjid besar
dan lainnya.
Hal utama yang paling terlihat adalah maksud dan tujuan masyarakat
khususnya generasi muda yang akan datang ke acara Panjang Jimat ini. Pada
masa Syarif Hidayatullah ketika Panjang Jimat ini diadakan masyarakat
memang benar-benar khusyuk mengikuti ritual Panjang Jimat ini dan
mendengarkan ilmu agama dari tabligh yang diadakan oleh ulama. Sekarang
keadaannya bergeser, mereka malah lebih bertujuan untuk mengunjungi pasar
malam khususnya anak-anak remaj. Memang masih banyak golongan tua yang
benar-benar berniat untuk mengikuti Panjang Jimat ini secara keseluruhan,
namun kebanyakan dari generasi mudanya hanya ingin datang ke pasar
malamnya saja.
Dari 35 orang yang kami wawancara, 25 Orang tua berumur diatas 30
tahun, dan 10 anak muda dibawah 25 tahun kami mendapatkan sebuah
kesimpulan. Orang tua yang berada diatas 30 tahun memang benar-benar
berniat untuk mengikuti Panjang Jimat dan para anak mudanya hanya berniat
untuk melihat-lihat saja pasar malam dan pekan raya tersebut. Dari fakta
tersebut didapatkan kesimpulan bahwa saat ini upacara Panjang Jimat dalam
bentuk luarnya telah mengalami pergeseran khususnya dari kalangan anak
muda yang kurang memperhatikan kesakralan dari makna Panjang Jimat itu
sendiri.

13
Demikian adalah beberapa perubahan yang terjadi pada pelaksanaan
upacara Panjang Jimat saat ini. Tampak dalam perubahannya bukan yang
menyangkut strukur tapi yang mendukung pariwisata dan pembangunan secara
prinsipil kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak
mengalami perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan
hal tersebut disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis,
ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila
dibandingkan dengan dahulu.
2. Penyelenggaraan Upacara Panjang Jimat Terhadap Kehidupan Ekonomi
Masyarakat Sekitar
Sebagaimana yang kita tahu bahwa upacara Panjang Jimat yang
merupakan rentetan dari acara maulidan di Keraton Kasepuhan awalnya
hanyalah sebuah upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang
di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani
kerasulannya.
Diselenggarakannya Upacara Panjang Jimat (Muludan) ini ternyata
memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar keraton.
Penyelenggaraan acara ini seakan-akan dimanfaatkan oleh para pedagang
setempat untuk mengais rejeki. Apalagi dua minggu sebelum acara, pihak
keraton mengizinkan ribuan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan selama
rentetan kegiatan menyambut Maulud Nabi Muhammad Saw. Sehingga tidak
mengherankan bila halaman depan atau jalan menuju Keraton Kasepuhan ini
disesaki oleh berbagai pedagang, mulai dari pedagang makanan, pakaian,
barang antik, mainan anak, peralatan rumah tangga, dan sebagainya.
Keadaan tersebut lebih populer dengan istilah pasar kaget. Pedagangnya
pun tidak hanya berasal dari Cirebon saja bahkan adapula yang berasal dari
daerah lain seperti Kuningan, Majalengka, Indramayu atau daerah lainnya yang
sengaja mencoba mencari peruntungan dalam acara Mauludan di Keraton
Kasepuhan ini. Pedagang-pedagang tersebut terdiri dari pedagang yang
memang setiap tahunnya berjualan dalam acara Mauludan di Keraton
Kasepuhan dan ada pula diantara pedagang tersebut yang baru sekali mencoba
berjualan dalam acara tersebut.

14
Dari kondisi tersebut kami mengkaji penghasilan para pedagang.
Beberapa narasumber yang kami wawancarai mengaku bahwa ketika mereka
berjualan dalam acara Mauludan tersebut penghasilan mereka meningkat dari
hari-hari biasanya. Misalkan saja Haryanto yang seorang penjual kaligrafi,
mengaku omzetnya meningkat dari yang tiap harinya mampu menjual sekitar
15-25 buah lukisan, pada acara Muludan tersebut dia bisa menjual 30-50 buah
lukisan.
Selain pedagang, pihak lain yang mendapatkan keuntungan dari adanya
pasar kaget tersebut tentu saja adalah pihak Keraton sendiri. Tentu saja karena
dengan adanya pasar kaget ini, pedagang yang berjualan di sekitar keraton harus
memebayar sejumlah retribusi kepada pihak Keraton. Menurut keraton sendiri
retribusi semacam ini akan digunakan untuk kepentingan amal.
Dampak yang sama juga dirasakan oleh sopir-sopir angkot yang
melintasi wilayah keraton Kasepuha. Umumnya selama acara ini berlangsung
sopir angkot pun mendapat keuntungan dari banyaknya masyarakat yang
menggunakan jasa angkot untuk berkunjung ke Keraton Kasepuhan dengan
tujuan untuk ziarah atau sekedar belanja saja.
Dari data tersebut bisa dianalisis bahwa penyelenggaraan acara Muludan
di Keraton Kasepuhan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat
sekitar, khususnya terhadap pedagang dan sopir angkot yaitu meningkatnya
penghasilan mereka jika dibandingkan hari-hari biasanya.

15
BAB III
KESIMPULAN
 
A. Kesimpulan
Upacara Maulid Nabi adalah suatu bentuk kebudayaan tradisional. Maulid
Nabi merupakan suatu salah satu bentuk rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Awal
mula dari Maulid Nabi ini, pertama kali oleh penguasa bani Fatimah yang pertama
menetap di Mesir kemudian sampai ke Indonesia atas jasa Sultan Salahuddin Al
Ayyubi Khalifah dari dinasti Abbasiah, di Jawa tradisi Maulid Nabi telah ada sejak
zaman walisongo sedangkan di Cirebon sendiri Maulid Nabi setelah Sultan Syarief
Hidayatullah berkuasa.
Proses dari Maulid Nabi ini sama seperti upacara lainnya. Dalam proses
Maulid Nabi ini terdapat beberapa lilin yang dipasang di atas standar, manggara,
nagam, jantungan Tumpeng yang mendukung upacara Maulid Nabi.
Dengan berkembangnya jaman yang semakin modern dan mengarah ke
globalisasi, maka Maulid Nabi juga mengalami perubahan. Di aspek sosial Maulid
Nabi sekarang lebih mendukung kepada pariwisata dan pembangunan namun
secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai serta struktur dalam upacara grebeg tidak
mengalami perubahan. Meskipun dalam prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal
tersebut disebabkan karena perubahan jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis,
sehingga dalam pelaksanaan upacara ada sedikit perkembangan bila dibandingkan
dengan dahulu. Di aspek ekonomi Maulud Nabi yang dahulu merupakan sebuah
upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad Saw saja yang di dalamnya terdapat
ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk meneladani kerasulannya kini dijadikan
oleh masyarakat sebagai tempat mencari rezeki.

B. Saran
Melestarikan budaya itu sangatlah penting, karena kebudayaan adalah ciri
khas suatu bangsa.
 
 
 

16
DAFTAR PUSTAKA

http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=551.0;wap2
http://www.keajaibandunia.net/info/peninggalan-sosial-budaya-cirebon.html
http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/05/haji-krupuk-sebuah-kearifan-budaya-
cirebon-475638.html
http://nasional.kompas.com/read/2010/06/10/10263210/

17