Anda di halaman 1dari 12

KISAH FIR’AUN

Makalah

Untuk memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits

Disusun Oleh:
Kelas VIII B
Rani Meliyani
Nazwa Rahmawati
Nida Lianti Maulani
Cinta Prilia Padilah

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 4 MAJALENGKA


2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah untuk memenuhi tugas Al-
Qur’an Hadits dengan judul "Kisah Tentang Fir’aun".
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya
kepada guru Bahasa Indonesia kami yang telah membimbing dalam menulis
makalah ini.

Bantarujeg, Januari 2020

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................1
C. Tujuan...........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................2
A. Kisah Fir'aun.................................................................................................2
B. Kesombongan dan Kebengisan Fir'aun.........................................................2
C. Fir'aun Mati dengan Mulut Disumpal Malaikat Jibril...................................4
D. Fir’aun Kafir Sejak Bayi...............................................................................5
BAB III PENUTUP................................................................................................8
A. Kesimpulan...................................................................................................8
B. Saran..............................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................9

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fir'aun (Arab: ‫ فرع????ون‬Firʻawn; bahasa Ibrani: ‫ַּפרע ֹה‬, paroh; bahasa
ְ
Inggris: Pharaoh) adalah gelar yang dalam diskusi dunia modern digunakan
untuk seluruh penguasa Mesir kuno dari semua periode.[1] Dahulu, gelar ini
mulai digunakan untuk penguasa yang merupakan pemimpin keagamaan dan
politik kesatuan Mesir kuno, hanya selama Kerajaan Baru, secara spesifik,
selama pertengahan dinasti kedelapanbelas. Untuk penyederhanaan, terdapat
kesepakatan umum di antara penulis modern untuk menggunakan istilah ini
untuk merujuk penguasa Mesir semua periode. Firaun juga mengaku sebagai
Tuhan.
Ketika wafat, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam
berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus,
minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang
diikat. Karena Firaun dianggap sebagai wakil bangsa Mesir dihadapan para
dewa, kedamaiannya di dalam kehidupan di alam baka merupakan harapan
semua anggota masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah baganimanakah
kisah tentang Raja Fir’aun?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalau untuk mengetahui tentang
kisah Raja Fira’aun.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kisah Fir'aun
Dalam sejarah yang diceritakan dalam Al-qur'an, pada waktu Nabi
Musa bersama kaumnya keluar dari negeri Mesir menuju Palestina dikejar
oleh Fir'aun dan balatentaranya, mereka harus melalui laut merah sebelah
utara, maka Allah merintahakan kepada Musa memukul laut itu, dengan
tongkatnya, perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga terbelahlah laut
merah tersebut dan terbentanglah jalan raya di tengah-tengahnya, dan Musa
melalui jalan itu sampai selamatlah Musa dan kaumnya ke seberang... Sedang
Fir'aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi diwaktu
mereka berada di tengah-tengah laut, kembali laut itu sebagaimana semula,
lalu tenggelamlah Fir'aun dan balatentaranya dilaut merah itu.

B. Kesombongan dan Kebengisan Fir'aun


Fir'aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir purbakala, menurut sejarah,
ini Fir'aun dimasa Nabi Musa tercantum dalam Surat Al- Qashash ayat 38
menyebutkan : Ketika Fir'aun tidak kuasa lagi mendebat Musa. Ia tetap
bersikap sewenag-wenang berkata: "Wahai masyarakat sekalian, aku tidak
mengetahui adanya Tuhan bagi kalian selain diriku" Kemudian ia
memerintahkan mentrinya, Haman, untuk memperkerjakan oran-orang agar
membuat bangunan dan istana yang tinggi agar Fir'aun dapat menaikinya
untuk melihat Tuhan yang diserukan Musa, Maka dengan begitu Fir'aun dapat
lebih yakin bahwa Musa termasuk dalam golongan para pendusta dalam
anggapannya. Fir'aun dan balatentaranya tetap angkuh dengan kebatilan di
muka bumi, Maka Allah menenggelamkan Fir'aun dan balatentaranya dilaut
merah utara, menurut sejarah setelah beberapa tahun, Allah menyelamatkan
tubuh kasarnya dan terdampar dipinggir laut ditemukan oleh orang Mesir
kemudian di balsem, masih utuh sampai sekarang ada di musium Tahrir yang
berada di tengah kota Cairo.

2
(Laut Merah Tempat Fir'aun digulung ombak)
Allah menyelamatkan tubuh kasar Fir'aun sebagai peringatan bagi
manusia-manusia di dunia setelah itu.

Foto Mummy Fir'aun

3
C. Fir'aun Mati dengan Mulut Disumpal Malaikat Jibril
Dari Sa’id bin Jubeir dari Ibnu ‘Abbas radhiya’l-lahu‘anhuma
meriwayatkan: “dua orang Sahabat menghadap Rasulullah (menanyakan
tentang Fir’aun). Sabda Nabi s.a.w: “Malaikat Jibril menyumpali mulut
Fir’aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan: La ilaha
illa’llah” (Shahih, HR. Turmudzi [3107]; Ahmad [2145], at-Thabari [11/163];
Ibnu Hibban [6215]; Nasa’i [6/363]. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam
as-Shahihah [2015] dan Shahih Sunan Turmudzi [2484]. Dishahihkan juga
oleh Syeikh Syu’aib Arnouth, Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [14/98])
Fir’aun mati dengan mulut menyon
Hadits di atas umumnya dapat kita temui pada bahasan ayat
tenggelamnya Fir’aun. Imam at-Thabari dan Imam Al-Qurthubi misalnya
meletakkan hadits tersebut pada surah Yunus ayat 90, di mana Allah
berfirman: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka
diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan
menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah
dia: Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai
oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada
Allah).” (Qs. 10:90).
Pada detik-detik naza‘nya, malaikat Jibril melihat gelagat Fir’aun
akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Allah Ta’ala
memerintahkan malaikat Jibril untuk mengeksekusi nyawa Fir’aun dengan
cara menyumpal mulutnya dengan pasir, supaya tidak sampai mengucapkan
keimanan dan pertaubatannya. Akhirnya Fir’aun mati dengan mulut menyon
dan jauh dari rahmat Allah s.w.t. (Tafsir Al-Kasyaf, 21 202).
Karena iman dan taubat pada saat ini, tiada guna sama sekali. Para
Ulama mengatakan: “anna’l-iman bi’l-qalbi ka’imani’l-akhras“, iman sebatas
bibir tak ubahnya seperti iman bisu. Iman dalam kondisi terpaksa atau
dipaksa oleh suatu keadaan tertentu, bukan iman khalis (murni). Iman seperti
ini, tidak direken oleh Allah. Mengutip Tafsir Syeikh Sa’di, ada dua keadaan
di mana iman tidak berguna pada saat itu yakni beriman di ujung sakarat dan

4
beriman menjelang hari Qiamat, sesuai firman Allah dalam surah Al-
Mu’min:85.
Termasuk keimanan yang terpaksa atau dipaksa adalah masuk Islam
karena mau nikah, mau terima warisan, karena tujuan politik atau duniawi
lainnya, seperti banyak menggejala akhir-akhir ini. Iman Nabi Yunus boleh
jadi contoh, beliau ingat Allah di semua keadaan, dalam senang maupun di
waktu susah. Sementara iman Fir’aun adalah iman kejepit. Allah melukiskan
iman Nabi Yunus melalui ayat: “Maka jika sekiranya dia (Nabi Yunus) tidak
termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap
tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Qs.As-Shaffatf 143-144)
Fir’aun wafat di Laut Merah atau laut Qalzum atau ebelumnya populer
dengan nama FAM AL-HAIRUTS, dekat terusan Suez, pada tanggal 10
Muharram dan karena itulah ada syari’at shaum ‘Asyura, setelah sebelumnya
menyatakan taubat dan yakin akan Tuhan Allah s.w.t. Dan inilah taubat
ghayru maqbui yakni taubat tertolak (Qs. 10:90)
Dalam hadits Bukhari-Muslim dan Abu Qatadah dapat kita simpulkan
bahwa, kematian Fir’aun disyukuri oleh ummat manusia, dan inilah kematian
orang yang diistirahatkan (mustarah). Bagi Bani Isra’il kematian Fir’aun
adalah hari kemerdekaan, di mana puasa Asyura adalah wujud peringatan
mensyukuri kematian Fir’aun, setiap tahun. Karena itu wahai para pemimpin,
jauhilah perilaku Fir’aun.

D. Fir’aun Kafir Sejak Bayi


Di antara perkara yang aneh dalam din Fir’aun adalah fithrah
kejadiannya. Umum-nya bayi diciptakan oleh Allah dalam keadaan fithrah,
kullu mawludin yuladu ‘alal-fithrah, tapi tampaknya hadits ini dikecualikan
terhadap bayi Fir’aun. Karena sejak orok sudah kafir di dalam perut ibunya.
Syeikh Albani dalam Shahihul Jami’ no.3237 menghasankan bunyi hadits
“wa khalaqa fir’aun fi bathni ummihi kafiran,” dan Fir’aun dijadikan (oleh
Allah) dalam perut ibunya dalam keadaan kafir. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-
Kamil dan Imam Thabarani dalam Al-Ausath).

5
Abu Sa’id Al-Khudri radhiya’l-lahu ‘anh menceritakan, saat
menyampaikan hadits ini Rasulullah s.a.w. sedang berkhutbah di hadapan
kami pada sore hari. Nabi s.a.w bersabda: “yuwladu’n-nass ata thabaqatin
syatta, manusia dilahirkan berdasarkan tingkatannya sendiri-sendiri.” Ada
yang ahir mu’min, hidup mu’min dan mati dalam keadaan mu’min. Ada yang
lahir kafir, hidup kafir dan mati pun kafir. Ada yang lahir mu’min, hidup
mu’min dan mati kafir, serta ada yang lahir kafir, hidup kafir, tapi matinya
dalam keadaan mu’min. Berkata Ibnu Mas’ud radhiya’l-lahu ‘anh, pada
kesempatan inilah hadits di atas disabdakan oleh Rasulullah s.a.w, “khalaqa’l-
lahu yahya bin zakariya fi bathni ummihi mu’minan wa khalaqa fir’aun fi
bathni ummihi kafiran.” Tafsir Qurthubi, surah at-Tagha-bun:2. As-Shahihah
Syeikh Albani [4/446] no.: 1831, dan sesuai dengan bunyi hadits ‘Aisyah
dalam Shahih Muslim [8/54-55] no.2662).
Bisa kita simpulkan, bahwa Fir’aun terlahir untuk menjadi dajjal.
Karena itu, Imam Ibnu ayyim Al-Jauziyah (w.751 H) memasukkan Fir’aun
dalam deretan tokoh dajjajilah sepanjang sejarah mewakili simbol penguasa
dzalim (kitab al-Fawa’id,hal:90). Ada dajjal sifat yang selalu ada di panggung
sejarah meramaikan jagad zaman, dan pada saatnya nanti -’ala qadarillah
akan muncul dajjal kubra yang menghiasi fenomena fitnah akhir zaman dan
menjadi tanda tibanya hari Qiamat. Sama dengan Fir’aun, Dajjal akhir zaman,
juga kafir. Tanda kekafiran itu, jelas terbaca oleh orang mu’min di jidatnya.
Apa mungkin dia anak cucu Fir’aun, sejarahlah yang akan menjawabnya,
yang jelas bapak-ibunya adalah orang Yahudi, dan watak aslinya adalah suka
melakukan penjungkir-balikan fakta atas nama banyak kepentingan. (Fathul
Bari’, 2/318).
Fir’aun, Gelar Raja Durhaka Ahli sejarah terpecah dua; ada yang
bilang Fir’aun itu nama orang ismul ‘ajam), yang lain dan terbanyak
mengatakan Fir’aun itu gelar bagi raja yang lupa daratan. Tapi yang jelas,
nama ini pertama kali dipakai oleh Walid bin Mush’ab bin Rayyan, keturunan
Lois bin Sam bin Nuh. (Fajrul ‘Urus [1/8131]).

6
Fir’aun zaman Musa adalah Ramses II atau Ramses Akbar, yaitu
dinasti yang ke-19 yang naik tahta pada 1311 SM. Ada yang mengatakan
bahwa, Fir’aun ini juga bernama Maneftah (1224-1214 SM) yang Allah
binasakan bersama 700.000 pasukannya di Laut Merah, mayatnya Allah
selamatkan, pada waktu syuruq (matahari terbit), menurut Tafsir Muqatil (Qs.
10:90). Mayatnya diawetkan dengan pembalseman dalam bentuk mumi yang
kini disimpan di museum Mesir di Kairo dengan berbagai macam hikmah
sejarah. Mumi ini ditemukan pertama kali oleh purba-kalawan Perancis,
Loret, di Wadi al-Muluk (lembah raja-raja) Thaba Luxor Mesir pada tahun
1896 M. Pembalutnya dibuka oleh Eliot Smith, seorang purbakalawan Inggris
pada tanggal 8 Juli 1907.
Demikianlah, setiap negara atau kepercayaan, punya gelar tersendiri.
Sejauh tidak melampaui koridor wahyu dan amanah kekuasaan, gelar ini sah-
sah saja untuk menun-jukan prestasi atau mendorong semangat juang. Sejarah
kekuasaan melaporkan, bahwa para penguasa memang doyan dengan gelar.
Terlebih lagi jika gelar ini disematkan langsung oleh rakyat, disebut-sebut
dalam forum terbuka, diperhelatan atau di balai-balai pertemuan. Bahkan ada
gelar pemimpin yang sampai pada taraf kultus atau ghuluw. Para pemimpin
dan tokoh ini merasa senang jika gelar kebesaran atau kehormatan itu disebut-
sebut dalam untaian do’a dengan penghormatan yang sangat berlebihan.
Tetapi mereka lupa, ketika gelar mengarah pada kultus pada saat
inilah gelar bisa makan tuan. Gelar menyeret pemiliknya pada kesombongan,
sehingga bisa lupa daratan. Fitnah ghuluw (kultus, fanatik) muncul dari
pemujaan gelar yang kelewat batas.
Perhatikanlah pesan indah dari Imam as-Syafi’i rahimahullah berikut
ini: Berkata Imam as-Syafi’i: “aku benci orang yang kelewat mengagungkan
makhluk, hingga menjadikan kuburannya (dijadikan sebagai) masjid. Aku
kuatir terjadi fitnah atasnya dan fitnah atas orang sesudahnya.” (Imam An-
Nawawi, AI-Majmu’ [5/269]; Al-Umm Imam As-Syafi’i [1/92-93])

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Fir‟aun menurut al-Qur'an adalah para penguasa yang dalam
menjalankan pemerintahanya memakai sistem yang menindas, penindasan ini
didukung oleh para pembesar-pembesarnya (Alu Fir‟aun). Ini terbukti ketika
sejarah memaparkan bahwa Fir‟aun yang pernah hidup pada zaman nabi
musa adalah dua orang, yang pertama bernama Ramses II, dan kedua
bernama Marneptah, tetapi al-Qur'an dengan sengaja menyembunyikan nama-
nama tersebut, sebaliknya Al-Qur'an secara jelas memaparkan karakter raja-
raja Mesir itu; antara lain, penyembelihan anak laki-laki, berbuat kezhaliman,
penganiayaan terhadap rakyat, kesombongan diri, pemborosan dengan
membangun piramida-piramida yang sangat menyengsarakan rakyat miskin,
pemerintahan sewenang-wenang, kebijakan memecah belah kelompak
masyarakat untuk melayani kepentingan serta perusakan, berbagai kesalahan
dan kriminal. Akibat dosa-dosanya kemudian dia dan para pengikutnya
ditenggelamkan oleh Allah dilaut merah. Dalam konteks kekinian, Allah akan
selalu mengutuk segala bentuk penindasan (tentu saja bentuk penindasan
sekarang ini tidak sama dengan yang pernah ada pada zaman Fir‟aun) tanpa
melihat ruang dan waktu.

B. Saran
Kalau jadi pemimpin janganlah menyalahgunakan jabatan untuk
kepentingan pribadi atau golongan, tapi harus mengutamakan kepentingan
umum atau rakyat agar rakyat dan pemimpin bisa hidup berdampingan.

8
DAFTAR PUSTAKA

http://blog-alislam.blogspot.com/2010/01/kisah-firaun.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Firaun
Buletin Dakwah No.02 Th. XXXV 11 Januari 2008