Anda di halaman 1dari 115

RANCANGAN DAN UJI KINERJA ALAT DISTILASI

ETANOL DENGAN METODE REKTIFIKASI

Oleh :
SIGIT SUSILO
F14104035

2009
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RANCANGAN DAN UJI KINERJA ALAT DISTILASI ETANOL DENGAN
METODE REKTIFIKASI

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
SIGIT SUSILO
F14104035

2009
DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

RANCANGAN DAN UJI KINERJA ALAT DISTILASI ETANOL DENGAN


METODE REKTIFIKASI

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN
Pada Departemen Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Institut Pertanian Bogor

Oleh :
SIGIT SUSILO
F14104035
Dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1985
di Purworejo
Tangggal lulus : .........................

Menyetujui,
Bogor, Januari 2009
Dosen Pembimbing Akademik

Dr. Ir. Leopold Oscar Nelwan, M.Si.


NIP. 132 240 430

Mengetahui,

Dr. Ir. Desrial, M.Eng


Ketua Departemen Teknik Pertanian
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Sigit Susilo dengan nama


panggilan sigit, dilahirkan di Purworejo pada tanggal 03
Desember 1985. Penulis dilahirkan dari pasangan
Sudiharjo (Ayah) dan Sumirah (ibu) dan merupakan anak
kesepuluh dari sepuluh bersaudara. Penulis menjalankan
pendidikan dasar di SD N Rowobayem kemudian pada
tahun 1998 melanjutkan pendidikan di SMP N1 Kutoarjo.
Pada tahun 2002-2004 penulis menempuh pendidikan pada SMU N1 Purworejo.
Selesai pendidikan SMU, penulis melanjutkan studi di departemen Teknik
Pertanian IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).
Selama kuliah penulis aktif di berbagai kegiatan akademis maupun non
akademis. Penulis aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fateta (BEM-F) periode
2006-2007 sebagai staf pengabdian masyarakat, di Himpunan Mahasiswa Teknik
Pertanian (Himateta) IPB periode 2007-2008 sebagai kepala departemen
kewirausahaan. Selain itu, penulis juga aktif dalam kegiatan sosial seperti pada
kegiatan Kakak Asuh BEM-F sebagi ketua kegiatan dan Taman Belajar PPSDMS-
Nurul Fikri sebagai koordinator kegiatan.
Dalam perjalanan kehidupan kampus penulis berhasil menorehkan beberapa
prestasi diantaranya adalah sebagai peserta Program Pembinaan Sumber Daya
Manusia Strategis Nurul Fikri (PPSDMS-NF) 2006-2007. Penulis juga berhasil
meraih juara 3 pada kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS)
2008 di Semarang. Dalam lingkup kewirausahaan, penulis mengembangkan bisnis
Food and Beverage dengan merek mr.BrownCo.
Sebagai syarat memperoleh gelar sarjana, penulis melakukan tugas akhir
penelitian. Hasil kegiatan tersebut telah disusun dalam bentuk skripsi yang diberi
judul “Rancangan dan Uji Kinerja Alat Distilasi Etanol dengan Metode
Rektifikasi” di bawah bimbingan Dr. Leopold O. Nelwan S.TP, M.Si.
Sigit Susilo. F14104035. Rancangan dan Uji Kinerja Alat Distilasi Etanol dengan
Metode Rektifikasi. Dibawah bimbingan: Leopold Oscar Nelwan. 2009

RINGKASAN

Pemanfaatan energi alternatif sedang digalakkan guna mengurangi


ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), dimana salah satunya
adalah pemanfaatan bioetanol. Bioetanol dapat digunakan untuk menggantikan
bahan bakar bensin. Dalam pengembangan industri bioetanol, 50% lebih biaya
produksi terdapat pada proses pemurnian sehingga bagian pemurnian sangat
penting dalam proses produksi bioetanol. Distilator merupakan alat pemurnian
campuran etanol-air menjadi komponen-komponennya. Metode dalam pemisahan
terdiri dari dua jenis yaitu distilasi sitem batch dan distilasi sistem kontinyu.
Perbedaan kedua metode ini adalah pada sistem pengumpanan bahan yang akan
didistilasi serta kapasitas produksi.
Penelitian ini bertujuan merancang alat distilasi etanol dengan metode
rektifikasi dan menguji kinerja alat pada beberapa metode pengoperasian dan
konsentrasi awal etanol. Penelitian dimulai pada bulan Maret sampai November
2008 di Laboratorium Metanium Leuwikopo dan laboratorium Energi dan
Elektrifikasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, IPB.
Tahap penelitian dibagi dalam dua yaitu rancang bangun dan pengujian
alat distilasi etanol. Prosedur perancangan meliputi : identifikasi masalah, analisis
perancangan, pembuatan alat, uji kinerja dan analisis data. Uji kinerja alat distilasi
dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi alat dengan menggunakan tiga
metode yaitu metode sistem batch tanpa refluks (BTR), metode batch dengan
refluks (BR) dan metode kontinyu dengan refluks (KR). Sampel etanol yang
digunakan yaitu etanol dengan konsentrasi 10% dan 30%.
Hasil perancangan alat distilasi terdiri dari enam bagian utama, yaitu
steam boiler, bottom column, kolom tray, feed tank, kondensor, dan pipa
penampung distilat yang dilengkapi dengan pembagi distilat.
Tabung steam boiler dirancang dengan ukuran diameter 15.24 cm dan
tinggi 22 cm. Bagian atas dibentuk merucut kemudian disambung dengan pipa
cabang tiga yang berfungsi sebagai tempat pemasukan air dan pipa penyaluran
uap panas ke pipa spiral di dalam kolom bawah. Bagian pipa penyalur uap panas
diberi katup untuk mengatur besar-kecilnya pengeluaran uap dari steam.
Kolom bawah dirancang dari bahan stainless steel dengan diameter 15.24
cm, tebal 0.5 cm dan tinggi 26 cm. Didalam kolom bawah terdapat pipa tembaga
yang berbentuk spiral dan plate berlubang. Pipa spiral terbuat dari bahan tembaga
dengan panjang 3 m, diameter luar 6.5 cm dan tebal 1 cm.
Kolom tray berfungsi sebagai unit pemisahan dengan sistem bertingkat.
Kolom yang berisi tumpukan tray terdiri dari seksi enriching atau rectifying dan
seksi stripping. Tray atau plate terbuat dari steinless steel dengan diameter 7.4 cm
dengan satu lubang besar dan beberapa lubang kecil. Tray dalam kolom ini
berjumlah 10 buah dengan jarak tiap tray adalah 10 cm. Bagian kolom sendiri
dirancang dari bahan steanless steel dengan diameter luar 7.62 cm, tebal 0.1 cm,
dan tinggi 100 cm.
Tangki pemasukan berfungsi untuk memasukkan bahan umpan yang akan
didistilasi. Bahan tangki pemasukan terbuat dari gelas ukur berskala dua liter.
Kondensor dirancang dari bahan stainless steel dengan ukuran diameter 5
cm, panjang 30 cm. Pipa didalam terdiri dari empat pipa kecil dengan ukuran
diameter 0.5 cm, panjang 30 cm. Pipa didalam kondensor terdiri dari 4 pipa
bertujuan untuk memperluas kontak uap etanol dengan air sehingga proses
kondensasi dapat berlangsung sempurna.
Hasil distilasi ditampung dalam pipa penampung distilat yang dirancang
dari pipa stainless steel dengan diameter 5 cm dan panjang 10 cm. Pada pipa
penampung ini dibuat dua percabangan yang berfungsi sebagai pembagi hasil.
Percabangan pertama berfungsi sebagai saluran refluks sedangkan percabangan
lainnya sebagai hasil atas distilasi.
Perubahan suhu steam (Ts) terhadap waktu pada ketiga metode adalah
konstan setelah katup dibuka, sedangkan perubahan suhu kondensat steam (Tsc)
cenderung fluktuatif tetapi pada akhir pengujian menjadi konstan ketika seluruh
uap steam yang keluar berupa uap panas. Perubahan suhu kolom bawah (T b)
cenderung meningkat pada metode batch dengan semakin menurunnya
konsentrasi dalam kolom bawah sedangkan metode kontinyu suhu T b konstan.
Perubahan suhu di menara kolom tray (Tm) pada metode bacth menurun pada
akhir pengujian karena etanol dalam sampel telah habis, sedangkan pada metode
kontinyu suhu Tm konstan. Suhu air yang keluar dari kondensor (T co) lebih besar
dari pada suhu air yang masuk ke dalam kondensor (Tci) karena adanya pindah
panas dari uap etanol ke air sehingga terjadi kondensasi.
Pengujian dengan metode refluks menghasilkan distilat dengan
konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dengan distilasi tanpa refluks yaitu pada
metode KR.10 sebesar 94.84% dan metode BR.30 sebesar 97.6%.
Kebutuhan energi untuk pemurnian etanol pada ketiga metode dengan
menggunakan sampel etanol 10% dan 30% berbeda-beda. Pemurnian etanol
dengan metode pertama yaitu BTR.10 dan BTR.30 membutuhkan energi sebesar
2043.509 kJ dan 2417.206 kJ untuk memurnikan satu liter etanol. Metode kedua
yaitu BR.10 dan BR.30 membutuhkan energi sebesar 2307.406 kJ dan 5186.549
kJ. Sedangkan metode KR.10 dan KR.30 membutuhkan energi sebesar 7532.46 kJ
dan 6956.37 kJ.
Metode BR membutuhkan energi yang besar dibandingkan dengan metode
BTR. Metode BR membutuhkan waktu 180 menit dan 450 menit, sedangkan
metode BTR membutuhkan waktu 135 menit dan 165 menit.
Energi yang terpakai per ml volume etanol setara etanol murni pada
metode BTR.10, BR.10, dan KR.10 masing-masing adalah 48.96 kJ/ml, 106.33
kJ/ml, dan 37.29 kJ/ml, sedangkan pengujian dengan metode BTR.30, BR.30, dan
KR.30 masing-masing adalah 16.91 kJ/ml, 23.21 kJ/ml, dan 21.18 kJ/ml.
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia serta
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi ini berjudul “Rancangan dan Uji Kenerja Alat Distilasi Etanol dengan
Metode Rektifikasi”.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak yang bersifat materiil, bimbingan maupun semangat. Oleh karena
itu, penulis mengucapkan rasa penghargaan dan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua, kakak-kakakku tercinta dan segenap keluarga yang telah
memberikan dukungan, doa dan semangat kepada penulis.
2. Dr. Leopold Oscar Nelwan, S.TP, M.Si selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan bimbingan dan arahan selama pelaksanaan kegiatan
penelitian dan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bagian Energi dan Elektrifikasi Pertanian atas biaya penelitian yang
digunakan dalam kegiatan penelitian ini.
4. Prof. Dr. Ir. Armansyah H. Tambunan, M.Agr Dan Dr. Ir. Rokhani
Hasbullah, M.Si yang telah bersedia meluangkan waktunya menjadi
penguji pada ujian akhir penulis.
5. Kepada seluruh staf Laboratorium Energi dan Elektrifikasi Pertanian yang
telah memberikan bantuan peminjaman alat untuk pengujian.
6. Bapak Parma selaku teknisi bengkel METANIUM yang telah membantu
dalam pembuatan alat pengering.
7. Mbak Rani, mbak Oni, mbak Meta selaku staf BRDST-BPPT Puspiptek,
Sepong yang talah membantu dalam pengujian konsentrasi etanol.
8. Budi Septiawan yang telah banyak membantu dalam penelitian ini dari
awal hingga akhir penyusunan skripsi.
9. Rekan–rekan di asrama PPSDMS-NF regional V Bogor atas dukungan dan
inspirasi selama penelitian.
10. Rekan-rekan di WAKASIBA warid, kani, abah atas semangat dan
kebersamaan selama penyusunan skripsi.

i
11. Rekan-rekan sejurusan atas kebersamaannya selama empat tahun di
Teknik Pertanian.
12. Louis (Swiss German University) yang telah membantu selama pengujian
yang penuh dengan semangat dan perjuangan.
13. Eni, dena, tuko, fadly, indra, irna, frima, heru, elvi, riska, cahya dkk atas
bantuan dan dukungannya.
14. Seluruh pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak
langsung, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, segala kritikan dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Bogor, Januari 2009

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... vi
I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Tujuan Penelitian...................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 3
A. Etanol....................................................................................... 3
B. Mutu Etanol…......………..........…………….......................... 4
C. Bioetanol................................................................................... 6
D. Azeotrop................................................................................... 8
E. Distilasi.................………................……………………........ 10
1. Teori Dasar Distilasi........................................................... 11
2. Proses Distilasi................................................................... 12
3. Distilasi Kontinyu dengan Refluks (Rektifikasi).............. 13
4. Rasio Refluks...................................................................... 14
F. Pindah Panas............................................................................ 15
G. Konduksi Panas Dalam Silinder.............................................. 16

III. METODE PENELITIAN ................................................................. 19


A. Waktu Dan Tempat Penelitian .............................................. 19
B. Bahan dan Alat....................................................................... 19
C. Prosedur Penelitian................................................................. 20
D. Rancangan Fungsional............................................................ 22
E. Rancangan Struktural............................................................. 22
F. Uji Kinerja........... .................................................................. 23
G. Metode Pengujian ................................................................. 24

iii
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 31
A. Perancangan alat distilasi etanol dengan metode rektifikasi...... 31
B. Pengujian Alat Distilasi Etanol.. ............................................... 37
1. Distilasi sistem batch tanpa refluks................................... 38
2. Distilasi sistem batch dengan refluks................................. 40
3. Distilasi sistem kontinyu dengan refluks........................... 48
C. Perbandingan Perubahan suhu dan volume distilat pada
tiga metode pengujian .............................................................. 53
1. Pengujian dengan sampel etanol 10%............................... 53
2. Pengujian dengan sampel etanol 30%............................... 57
D. Konsentrasi Hasil Pengujian. ................................................... 61
E. Kebutuhan Energi untuk proses distilasi.................................. 64
V. KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 66
A. Kesimpulan ............................................................................. 66
B. Saran ........................................................................................ 66
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….........…... 67
LAMPIRAN................ ........................................................................................ 69

iv
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Sifat fisika dan kimia etanol absolut dan etanol teknis……................... 3
Tabel 2. Syarat mutu etanol berdasarkan Standar Nasional Indonesia................ 6
Tabel 3. Rancangan fungsional alat distilasi etanol............................................. 22
Tabel 4. Prosedur pengujian alat distilasi etanol.................................................. 26
Tabel 5. Penggunaan energi selama proses distilasi............................................. 64

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Constant Boiling Mixture................................................................. 8
Gambar 2. Diagram kesetimbangan, sistem etanol-air...................................... 9
Gambar 3. Diagram titik didih etanol-air.......................................................... 10
Gambar 4. Hambatan panas pada tiga lapisan penyusun silinder ..................... 17
Gambar 5. Diagram alir prosedur penelitian..................................................... 20
Gambar 6. Rancangan alat distilasi etanol......................................................... 31
Gambar 7. Steam boiler...................................................................................... 32
Gambar 8. Kolom bawah................................................................................. 33
Gambar 9. Plate dalam kolom bawah............................................................. 33
Gambar 10. Pipa spiran tembaga......................................................................... 33
Gambar 11.Tray tampak samping........................................................................ 34
Gambar 12. Tangki penampung............................................................................. 35
Gambar 13. Kondensor........................................................................................ 36
Gambar 14. Pipa penampung .............................................................................. 36
Gambar 15. Selang refluks................................................................................... 37
Gambar 16. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BTR.10 ................. 39
Gambar 17. Penambahan volume distilat metode BTR.10 ............................. 41
Gambar 18. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BTR.30 ................. 42
Gambar 19. Penambahan volume distilat metode BTR.30 .............................. 43
Gambar 20. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BR.10 ..................... 44
Gambar 21. Penambahan volume distilat metode BR.10 ................................. 45
Gambar 22. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BR.30 .................... 46
Gambar 23. Penambahan volume distilat metode BR.30 .............................. 47
Gambar 24. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode KR.10 ..................... 48
Gambar 25. Penambahan volume distilat pada metode KR.10 ......................... 50
Gambar 26. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode KR.30 ................... 51
Gambar 27. Perubahan volume distilat pada metode KR.30 ............................. 52
Gambar 28. Perbandingan perubahan suhu Ts sampel etanol 10%..................... 53

vi
Gambar 29. Perbandingan perubahan suhu Tsc sampel etanol 10%.................... 54
Gambar 30. Perbandingan perubahan suhu Tb sampel etanol 10%..................... 55
Gambar 31. Perbandingan perubahan suhu Tm sampel etanol 10%.................... 55
Gambar 32. Perbandingan volume distilat pada sampel etanol 10%................... 56
Gambar 33. Perbandingan perubahan suhu Ts sampel etanol 30%...................... 57
Gambar 34. Perbandingan perubahan suhu Tsc sampel etanol 30%.................... 58
Gambar 35. Perbandingan perubahan suhu Tb sampel etanol 30%..................... 58
Gambar 36. Perbandingan perubahan suhu Tm sampel etanol 30%.................... 59
Gambar 37. Perbandingan volume distilat pada sampel etanol 30%................... 60
Gambar 38. Konsentrasi distilat (top product) pada distilasi etanol…………... 61
Gambar 39. Konsentrasi produk bawah (bottom product) pada distilasi etanol.. 63
Gambar 40. Energi yang terpakai untuk distilasi................................................ 66

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman.

Lampiran 1. Data pengujian metode BTR.10 ..................................................... 72


Lampiran 2. Data pengujian metode BTR.30 ..................................................... 73
Lampiran 3. Plot data pengujian BTR.10 dan BTR.30 ke diagram titik didih
etanol-air ........................................................................................ 74
Lampiran 4. Data pengujian metode BR.10 ....................................................... 75
Lampiran 5. Data pengujian metode BR.30 ....................................................... 76
Lampiran 6. Plot data pengujian BR.10 dan BR.30 ke diagram titik didih
etanol-air ........................................................................................ 78
Lampiran 7. Data pengujian metode KR.10 ....................................................... 79
Lampiran 8. Data pengujian metode KR.30 ....................................................... 80
Lampiran 9. Plot data pengujian KR.10 dan KR.30 ke diagram titik didih
etanol-air ........................................................................................ 81
Lampiran 10. Tabel densitas etanol pada suhu dan konsentrasi berbeda ........... 82
Lampiran 11. Contoh perhitungan konsentrasi etanol......................................... 86
Lampiran 12. Perhitungan pipa tembaga………………………………………. 87
Lampiran 13. Analisis rancangan distilator …………………………………... 88
Lampiran 14. Perhitungan rancangan kondensor ……………………………… 96
Lampiran 15. Komponen distilator etanol …………………………………….. 99
Lampiran 16. Gambar tampak samping ……………………………………….. 100
Lampiran 17. Gambar kolom bawah ………………………………………….. 101

viii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyediaan energi di masa depan merupakan permasalahan yang
senantiasa menjadi perhatian semua bangsa karena kesejahteraan manusia
dalam kehidupan modern sangat terkait dengan jumlah dan mutu energi yang
dimanfaatkan. Penyediaan energi merupakan faktor yang sangat penting dalam
mendorong pembangunan terutama bagi negara sedang berkembang seperti
Indonesia. Seiring dengan meningkatnya pembangunan, kebutuhan akan
energi terus meningkat, terutama pembangunan di sektor industri,
pertumbuhan ekonomi, dan pertumbuhan penduduk.
Sampai saat ini, minyak bumi merupakan sumber energi yang utama
dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Selain itu minyak bumi juga
berperan sebagai sumber devisa negara. Peranan minyak bumi yang besar
tersebut terus berlanjut, sedangkan cadangan semakin menipis. Selain itu,
produksi bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan melalui teknologi
transformasi di dalam negeri, tidak mencukupi kebutuhannya.
Pemanfaatan energi alternatif sedang digalakkan guna mengurangi
ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM), dimana salah satunya
adalah pemanfaatan bioetanol. Bioetanol merupakan anhydrous alkohol yang
berasal dari fermentasi jagung, sorgum, sagu, atau nira tebu, dan sejenisnya.
Bioetanol dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar bensin.
Kandungan dalam bioetanol adalah etanol (alkohol) yang sifatnya mudah
menguap. Alkohol berupa larutan jernih tak berwarna, beraroma khas yang
dapat diterima, berfasa cair pada temperatur kamar, dan mudah terbakar
(Prihandana et al, 2007). Etanol dikategorikan dalam dua kelompok yaitu
etanol berhidrat (etanol 95-96% v/v) dan etanol unhidrat (etanol > 99.6% v/v).
Etanol kelompok kedua adalah etanol yang digunakan sebagai bahan bakar
dan disebut fuel grade ethanol (FGE).
Untuk memperoleh bioetanol dengan konsentrasi lebih tinggi dari
99,5% atau yang umum disebut fuel grade ethanol, masalah yang timbul
adalah sulitnya memisahkan hidrogen yang terikat dalam struktur kimia

1
alkohol dengan cara distilasi biasa. Oleh karena itu, untuk mendapatkan fuel
grade ethanol dilaksanakan pemurnian lebih lanjut dengan cara azeotropic
distilation (Nurdyastuti, 2008).
Pengembangan alat distilasi etanol sangat penting dalam industri
bioetanol. Produk bioetanol hasil fermentasi mengandung alkohol yang rendah
yaitu 8-10% alkohol. Oleh karena itu, untuk mendapatkan mutu bioetanol
yang tinggi diperlukan proses pemurnian lebih lanjut dengan jalan distilasi
bertingkat. Metode distilasi kontinyu dengan refluks (rektifikasi) merupakan
salah satu metode distilasi yang cukup efisien diterapkan dalam skala industri.
Metode ini menggunakan sejumlah stage yang disusun secara cascade
sehingga akan meningkatkan proses pemisahan. Metode rektifikasi memiliki
beberapa keuntungan yaitu 1). kapasitas operasi lebih besar, 2) biaya lebih
murah, 3). laju distilasi konstan, dan 4). hasil distilasi memiliki tingkat
konsentrasi lebih tinggi.
Distilasi sistem batch umumnya digunakan dalam skala laboratorium
dimana kapasitas yang digunakan relatif kecil dibandingkan sistem kontinyu.
Laju distilasi dengan metode batch akan semakin menurun dengan semakin
lamanya proses distilasi. Selain itu, perubahan suhu etanol didalam kolom
distilasi akan semakin meningkat dengan semakin menurunnya konsentrasi
etanol didalam bahan sampel. Sedangkan distilasi sistem kontinyu umumnya
digunakan dalam skala industru dimana kapasitas relatif lebih besar. Prinsip
distilasi kontinyu yaitu dengan mengalirkan bahan masuk dan bahan keluar
secara kontinyu. Laju distilasi dan suhu pada kolom distilasi akan tetap karena
aliran bahan umpan, produk atas dan bawah dialirkan secara kontinyu.

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan merancang alat distilasi etanol dengan metode
rektifikasi dan menguji kinerja alat pada beberapa metode pengoperasian dan
konsentrasi awal etanol.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Etanol
Etanol adalah salah satu senyawa alkohol dengan rumus kimia
C2H5OH yang berupa cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap,
memiliki bau yang sangat halus, dan rasa yang pedas. Secara umum etanol
dibagi menjadi dua jenis yaitu etanol absolut dan etanol teknis (etanol 95
persen (v/v)). Sifat-sifat fisika dan kimia etanol absolut dan etanol teknis dapat
dilihat pada Tabel 1. Etanol juga memiliki sifat dapat bereaksi dengan logam
membentuk etoksida, dapat diesterifikasi dengan asam organik maupun
anorganik menjadi ester, dapat bereaksi dengan gugus karbonil aldehida dan
keton membentuk asetal serta dapat dioksidasi menjadi asetaldehida dan asam
asetat dengan bantuan katalis (Kirk dan Othmer, 1985).

Tabel 1. Sifat fisika dan kimia etanol absolut dan etanol teknis *)
Parameter Etanol absolut Etanol teknis
Titik beku (°C) -112,4 -
Titik didih (°C) 78,4 -
Spesific gravity 0,7851 -
Indeks bias ηD20 1,3633 1,3651
Viskositas pada 20°C (P) 0,0122 0,0141
Tegangan permukaan(dyne/cm) 22,3 22,8
Panas spesifik 0,581 0,618
Panas fusi (kal/gr) 24,9 -
Panas evaporasi (kal/gr) 204 -
Konduktivitas elektrik pada 25°C (ohm-1/cm) 1,35 x 10-9 -
*) Kirk dan Othmen (1985)

Etanol sebagai produk agroindustri dapat dihasilkan melalui proses


fermentasi dengan menggunakan bahan baku seperti : (a) bahan gula (nira
tebu, tetes atau molasses), (b) bahan pati-patian (ubi kayu, ubi jalar, jagung),
dan (c) bahan selulosa (kayu, jerami). Industri etanol di Indonesia pada
umumnya menggunakan bahan baku tetes tebu (Saraswati, 1985). Tetes tebu

3
adalah hasil samping industri gula yang terdiri dari 35-40 persen sukrosa dan
15-20 persen gula invert (Kent, 1992).
Proses pembuatan etanol dengan menggunakan tetes tebu lebih
sederhana karena hanya mencakup proses fermentasi dan distilasi. Selama
proses fermentasi, yeast (khamir) akan mengubah glukosa hasil hidrolisis
menjadi etanol dan CO2 serta senyawa ikatan lain seperti aldehida, amil
alkohol, butil alkohol, dan propil alkohol. Senyawa ikatan tersebut harus
dipisahkan dari etanol sampai pada batas-batas tertentu untuk mencapai
tingkat mutu yang baik (Saraswati, 1985). Senyawa ikatan tersebut dapat
berupa asam organik, aldehida, ester, dan alkohol tingkat tinggi (minyak fusel)
(Paturau, 1982).

B. Mutu Etanol
Etanol dikategorikan dalam dua kelompok utama. Pertama, etanol 95-
96% v/v, disebut ”etanol berhidrat”, yang dibagi dalam tiga grade : (1)
technical/raw sprit grade, digunakan untuk bahan bakar spiritus, minuman,
desinfektan, dan pelarut; (2) industrial grade, digunakan untuk bahan baku
industri dan pelarut; (3) potable grade, untuk minuman berkualitas tinggi.
Kedua, etanol > 99,5% v/v, digunakan untuk bahan bakar. Jika dimurnikan
lebih lanjut dapat digunakan untuk keperluan farmasi dan pelarut di
laboratorium analisis. Etanol ini disebut fuel grade ethanol (FGE) atau
anhydrous ethanol (etanol anhidrat) atau etanol kering, yaitu etanol yang
bebas air atau hanya mengandung air minimal (Prihandana et al, 2007).
Tjokroadikoesoemo (1986) menyatakan bahwa berdasarkan jenis dan
manfaatnya, etanol digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : (1) etanol
prima, (2) etanol teknis, dan (3) etanol absolut. Etanol prima adalah etanol
mutu tinggi dengan kadar 96-96,5% (v/v), disebut juga etanol murni dengan
kadar minyak fusel yang sangan rendah (di bawah 10 mg/l). Etanol ini
biasanya digunakan untuk minuman keras mutu tinggi, industri farmasi, dan
industri kosmetik. Etanol teknis adalah etanol dengan kadar 92 - 94% (v/v)
dan memiliki kadar minyak fusel antara 15-30 mg/l. Etanol teknis ini
digunakan dalam industri untuk bahan bakar, bahan pelarut organik, bahan

4
baku spiritus, dan bahan antara produk lain. Etanol absolut adalah etanol
dengan kadar yang sangat tinggi (lebih dari 96,5% (v/v)) dan digunakan untuk
pembuatan obat-obatan, bahan pelarut, dan bahan antara produksi senyawa
lain.
Paturau et al. (1982) menggolongkan mutu etanol menjadi 4 golongan
yaitu : (1) etanol industri, (2) spiritus, (3) etanol murni, dan (4) etanol absolut.
Etanol industri adalah etanol dengan kadar 96,5ºGL biasanya digunakan untuk
industri dan tujuan lain seperti sebagai pelarut, bahan bakar, serta untuk bahan
baku produksi senyawa kimia lain. Etanol industri biasanya didenaturasi oleh
0,5-1% piridin kasar dan biasanya diwarnai dengan metil violet supaya mudah
dikenali. Spiritus adalah etanol industri asli yang telah didenaturasi dan
diwarnai dengan kadar 88ºGL. Spiritus digunakan untuk bahan bakar
pemanasan dan penerangan. Etanol murni adalah suatu jenis etanol dengan
kadar 96,0-96,5ºGL yang digunakan terutama untuk industri farmasi dan
kosmetik serta untuk minuman beralkohol sedangkan etanol absolut adalah
etanol dengan kadar yang sangat tinggi yaitu 99,7-99,8ºGL.
Mutu etanol sangat dipengaruhi oleh tingkat konsentrasinya (kadar
etanol dan senyawa ikatan yang terlarut didalamnya). Parameter mutu yang
menentukan mutu etanol bedasarkan SNI diantaranya adalah kadar etanol,
kadar asam, kadar minyak fusel, kadar aldehida, uji barbet, warna, kejernihan,
dan bau (SNI, 1994).
Kadar etanol merupakan perbandingan antara jumlah etanol dengan
jumlah total larutan dan dinyatakan dalam (b/b) atau (v/v). Selain itu juga
kadar etanol dinyatakan dengan ukuran derajat Gay Lussac (ºGL) (Paturau,
1982).
Kadar asam larutan etanol didasarkan pada kadar asam asetat
(komponen utama asam) walaupun sebenarnya dalam proses fermentasi etanol
ini tidak hanya asam asetat yang dibentuk, tetapi juga asam organik lain
seperti asam sulfinat (Prave et al, 1987). Asam asetat disebut juga dengan
asam etanoat yang merupakan gugus dari asam karboksilat dengan rumus
kimia CH3COOH (Russel, 1992). Semakin rendah kadar asam asetat dalam
larutan etanol maka semakin baik mutu etanol yang dihasilkan karena

5
konsentrasi etanol semakin tinggi. SNI menetapkan bahwa kadar asam (asam
asetat) larutan etanol ”prima super” maksimal 15 mg/l.
Aldehida merupakan senyawa organik yang mengandung gugus
karbonil dengan satu gugus alkil dan satu hidrogen yang terikat pada karbon
karbonil serta memiliki rumus umum R-COH (Russel, 1992). SNI menetapkan
bahwa kadar aldehida (asetaldehida) untuk etanol ”prima super” maksimal 4
mg/l.
Uji kualitatif untuk mengetahui ada/tidaknya senyawa ikatan etanol
yang mudah dioksidasi oleh KMnO4 (diantaranya adalah asetaldehida) adalah
uji barbet. SNI menetapkan bahwa uji barbet untuk etanol bermutu ”prima
super” minimal 20 menit. Secara lengkap persyaratan mutu berdasarkan SNI
06-3565-1994 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Syarat mutu etanol berdasarkan Standar Nasional Indonesia *)


Kualitas
Spesifikasi
Prima Super Prima I Prima II
Kadar etanol maks 96.8% (v/v) min 96,1 % (v/v) min 95 % (v/v)
min 96,3 % (v/v)
Bahan yang dapat dioksidasi min 20 menit min 8 menit -
(uji barbet)
Minyak fusel maks 4 mg/l maks 15 mg/l -
Aldehida(sebagai asetaldehida) maks 4 mg/l maks 15 mg/l -
Logam berat - - -
Keasaman (sebagai asam maks 15 mg/l maks 30 mg/l maks 60 mg/l
asetat)
Sisa penguapan maks 50 mg/l maks 50 mg/l maks 50 mg/l
Metanol - - -
*) Standar Nasional Indonesia (1994)

C. Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi
gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme.
Bioetanol dibuat dengan bahan baku bahan bergula seperti tebu, nira aren,

6
bahan berpati seperti jagung, dan ubi-ubian, bahan berserat yang berupa
limbah pertanian masih dalam taraf pengembangan di negara maju
Hutrindo (2006) menyatakan bahwa bioetanol merupakan senyawa
pengganti bensin yang terbentuk melalui proses fermentasi. Gasohol yang
merupakan campuran 10 persen bioetanol dengan bensin menunjukkan
karakteristik yang hampir sama dengan bensin pertamax. Bahkan hasil uji
coba gasohol pada kendaraan bermesin bensin menunjukkan kualitas emisi gas
hasil pembakarannya menjadi 30-40 persen lebih baik. Namun bioetanol
hanya memiliki dua-pertiga energi bensin, karena itu penggunaan bioetanol
murni pada kendaraan bermesin bensin akan menimbulkan masalah. Hal ini
dapat diatasi dengan mengubah desain mesin dan reformulasi komposisi
bahan bakar.
Alkohol merupakan bahan bakar yang bersih, hasil pembakaran
menghasilkan CO2 dan H2O. Penambahan bahan yang mengandung oksigen
pada sistem bahan bakar akan mengurangi emisi gas CO yang sangat beracun
dari sisa pembakaran. Aditif MTBE pada mulanya dipergunakan untuk
meningkatkan nilai oktan, namun saat ini dilarang dipergunakan. MTBE dapat
dideteksi dan menyebabkan pencemaran pada air tanah sehingga alkohol
merupakan alternatif yang menarik untuk mengurangi emisi gas CO.
Penggunaan alkohol murni dibanding dengan bensin secara umum akan
mengurangi kadar CO2 hingga 13% karena merupakan hasil dari pertanian.
Seperti diketahui produk pertanian memerlukan gas CO2 untuk
metabolismenya. Penggunaan alkohol bukan tanpa masalah pada lingkungan
hidup, dimana VOC atau komponen bahan organik mudah menguap
meningkat, kebutuhan lahan pertanian dikhawatirkan akan mengurangi jumlah
hutan dan tentunya akan bersaing dengan kebutuhan makanan.
Pada umumnya alkohol ditambahkan dalam bensin sebanyak 10% atau
dikenal dengan E10. Maksud penambahan pada mulanya untuk mengurangi
emisi gas CO dan sedikit meningkatkan nilai oktan. Namun penambahan ini
menjadi bernilai ekonomis ketika harga minyak bumi mencapai 80 USD per
barel. Alkohol yang ditambahkan harus bebas dari kandungan air untuk
melindungi mesin mobil dari korosi dan kerusakan bahan packing dari

7
polimer. E10 dapat langsung dipergunakan pada mobil tanpa banyak
perubahan. Campuran E85 dengan etanol 85%, bensin 15%, dipergunakan
untuk mobil khusus untuk bahan bakar etanol. Jumlah bensin 15% diperlukan
karena etanol kurang mudah menguap sehingga pada suhu dingin kesulitan
untuk menyalakan mesin. Keluhan dari beberapa pengguna bensin-etanol
adalah harus sering menguras air dari tangki minyak, etanol cenderung
menyerap air dan air terpisah dalam tangki. Selain itu, energi menjadi
berkurang atau jumlah bahan bakar bertambah, karena etanol telah
mengandung oksigen.

D. Azeotrop

Hidayat (2007) menyatakan bahwa azeotrop merupakan campuran dua


atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak
dapat berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop
dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan
fasa cairnya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga constant boiling
mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut
dididihkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 1 berikut :

Gambar 1. Constant boiling mixture

8
Titik A pada pada kurva merupakan boiling point campuran pada
kondisi sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan
uapnya dipisahkan dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini
kemudian didinginkan dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian
dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada
titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan
selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai
pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid (ditandai dengan
garis vertikal putus-putus) (Hidayat, 2007).
Sebagai contoh kita dapat memperhitungkan sistem etanol-air. Bentuk
ini adalah azeotrop pada titik didih minimum yang homogen pada
konsentarasi 0.8943 mol fraksi etanol, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
2 dan 3 dibawah ini :

Gambar 2. Diagram kesetimbangan, sistem etanol-air

9
Gambar 3. Diagram titik didih etanol-air

Pemisahan komponen-komponen yang mempunyai titik didih hampir


sama sulit dicapai dengan distilasi sederhana, walaupun jika campuran itu
ideal, dan pemisahan yang sempurna kadang-kadang sama sekali tidak
mungkin karena pembentukan azeotrop. Pemisahan campuran asal dapat
dibantu dengan menambahkan pelarut yang membentuk azeotrop dengan salah
satu komponen kunci. Proses ini disebut distilasi azeotropik. Salah satu
contoh distilasi azeotropik ialah penggunaan benzene untuk memisahkan
etanol dan air secara sempurna, dimana air dan etanol membentuk azeotrop
bertitik didih rendah yang mengandung 95,6% bobot etanol. (McCabe et al,
1999)

E. Distilasi
Istilah distilasi sederhana umumnya berkaitan dengan pemisahan suatu
campuran yang terdiri dari dua atau lebih cairan melalui pemanasan.
Pemanasan dimaksudkan untuk menguapkan komponen-komponen yang lebih
mudah menguap (titik didih lebih rendah) dan kemudian uap yang diperoleh
dikondensasi kembali menjadi cair dan kemudian ditampung dalam suatu
bejana penerima (Cook dan Cullen, 1986).

10
Unit operasi distilasi merupakan metode yang digunakan untuk
memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu larutan atau
campuran dan tergantung pada distribusi komponen-komponen tersebut antara
fasa uap dan fasa cair. Semua komponen tersebut terdapat dalam fasa cairan
dan uap. Fasa uap terbentuk dari fasa cair melalui penguapan (evaporasi) pada
titik didihnya (Geankoplis, 1983).
Syarat utama dalam operasi pemisahan komponen-komponen dengan
cara distilasi adalah komposisi uap harus berbeda dari komposisi cairan
dengan terjadi keseimbangan larutan-larutan, dengan komponen-
komponennya cukup dapat menguap. Suhu cairan yang medidih merupakan
titik didih cairan tersebut pada tekanan atmosfer yang digunakan (Geankoplis,
1983).
Distilasi dilakukan melalui tiga tahap: evaporasi yaitu memindahkan
pelarut sebagai uap dari cairan; pemisahan uap-cairan di dalam kolom, untuk
memisahkan komponen dengan titik didih lebih rendah yang lebih volatil dari
komponen lain yang kurang volatil; dan kondensasi dari uap, untuk
mendapatkan fraksi pelarut yang lebih volatil.

1. Teori Dasar Distilasi


Titik didih dapat didefiniskan sebagai nilai suhu pada tekanan
atmosfir atau ada tekanan tertentu lainnya, dimana cairan akan berubah
menjadi uap atau suhu pada tekanan uap dari cairan tersebut sama dengan
tekanan gas atau uap yang berada di sekitarnya. Jika dilakukan proses
penyulingan pada tekanan atmosfir maka tekanan uap tersebut akan sama
dengan tekanan air raksa dalam kolom setinggi 760 cmHg. Berkurangnya
tekanan pada ruangan di atas cairan akan menurunkan titik didih.
Sebaliknya peningkatan tekanan di atas permukaan cairan akan menaikkan
titik didih cairan tersebut (Guenther, 1987).
Perbedaan sifat campuran suatu fase dengan campuran dua fase
dapat dibedakan secara jelas jika suatu cairan menguap, terutama dalam
keadaan mendidih. Pada suhu tertentu molekul-molekul cairan tersebut
memiliki energi tertentu dan bergerak bebas secara tetap dan dengan

11
kecepatan tertentu. Tetapi setiap molekul dalam cairan hanya bergerak
pada jarak pendek sebelum dipengaruhi oleh molekul-molekul lain,
sehingga arah geraknya diubah. Setiap molekul pada lapisan permukaan
yang bergerak ke arah atas akan meninggalkan permukaan cairan dan akan
menjadi molekul uap. Molekul-molekul uap tersebut akan tetap berada
dalam gerakan yang konstan, dan kecepatan molekul-molekul dipengaruhi
oleh suhu pada saat itu (Guenther, 1987).
Kondensasi atau proses pengembunan uap mejadi cairan, dan
penguapan suatu cairan menjadi uap melibatkan perubahan fase cairan
dengan koefisien pindah panas yang besar. Kondensasi terjadi apabila uap
jenuh seperti steam bersentuhan dengan padatan yang temperaturnya di
bawah temperatur jenuh sehingga membentuk cairan seperti air
(Geankoplis, 1983).

2. Proses Distilasi
Menurut Brown (1984) dalam prakteknya ada berbagai macam
proses distilasi. Hal ini disebabkan oleh keadaan-keadaan tertentu untuk
pemisahan komponen dalam suatu campuran seperti perbedaan titik didih
antar komponen yang cukup besar atau kecil dan tingkat kamurnian yang
diinginkan terhadap produk yang dihasilkan.
Proses-proses distilasi yaitu proses distilasi normal, proses distilasi
bertingkat dan proses distilasi vakum. Proses distilasi normal yaitu suatu
proses distilasi dengan menggunakan tekanan atmosfer. Pada proses ini
titik didih campuran cukup besar perbedaannya, sehingga proses
pemisahannya mudah dikerjakan. Sebagai contoh yaitu campuran benzen
dan toluen. Benzene pada tekanan 760 mmHg, titik didihnya 176.2ºC,
sedangkan toluen pada tekanan 760 mmHg, titik didihnya adalah 231.1ºC.
Proses penyulingan juga temasuk dalam kelompok proses distilasi normal.
Proses distilasi bertingkat yaitu suatu proses distilasi dengan letak
pengambilan hasil bertingkat-tingkat atau setelah didistilasi, hasilnya
didistilasi lebih lanjut untuk memperoleh konsentrasi yang lebih baik.
Proses ini banyak dipakai dalam bidang minyak bumi, juga pada proses

12
distilasi campuran azeotrop dengan menambahkan komponen ketiga yang
dapat larut dalam salah satu komponen pada campuran tersebut.
Proses distilasi vakum yaitu suatu proses distilasi dengan
menggunakan tekanan yang sangat rendah (vakum), pada proses ini titik
didih campuran yang akan dipisahkan mendekati sehingga pemisahannya
menjadi sulit. Kemudian dengan jalan mengubah tekanan operasi akan
memberikan perubahan tekanan uap masing-masing komponen, sehingga
pemisahan dapat dijalankan, sebagai contoh campuran air dengan air berat.

3. Distilasi Kontinyu dengan Refluks (Rektifikasi)


Perkayaan arus uap di dalam kolom, yang berada dalam kontak
dengan refluks disebut rektifikasi (rectification). Dalam hal ini tidak
menjadi soal dari mana asal refluks itu, yang penting konsentrasi
komponen bertitik didih rendahnya harus cukup besar untuk mnghasilkan
produk yang dikehendaki. Sumber refluks biasanya berasal dari kondensat
yang keluar dari kondensor (McCabe et al,1999). Kondensat dalam pipa
penampung dibagi menjadi dua produk yaitu produk atas (distilat) dan
refluks yang dikembalikan ke dalam kolom.
Metode rektifikasi adalah metode modern yang digunakan di
laboratorium maupun di pabrik. Metode ini sangat efisien untuk sekala
besar yang menghendaki hasil distilasi berupa komponen-komponen yang
hampir murni.
Kolom fraksionasi kontinyu terdiri dari beberapa piringan (tray)
yang meliputi piring umpan, seksi rektifikasi, dan seksi pelucutan. Piring
umpan adalah piringan dimana umpan dimasukkan. Istilah piring umpan
yaitu sebagai feed plate atau feed stage dan dilambangkan sebagai tray
”f”. Piringan-piringan diatas piring umpan disebut piringan-piringan pada
seksi rektifikasi (enriching) yang dilambangkan dengan ”n”, sedangkan
piringan-piringan dibawah piring umpan termasuk piring umpan itu sendiri
disebut piringan-piringan pada seksi pelucutan (stripping) yang
dilambangkan dengan ”m”.

13
4. Rasio Refluks
Rasio refluks didefinisikan sebagai rasio antara jumlah mol uap
yang diubah menjadi cairan yang dikembalikan ke dalam kolom
fraksionasi dengan jumlah mol cairan yang dikumpulkan sebagai distilat
dalam waktu tertentu. Rasio refluks seharusnya divariasikan sesuai dengan
tingkat kesulitan pemisahan fraksionasi. Operasi pemisahan berefisiensi
tinggi memerlukan rasio refluks yang tinggi (Furniss et al. 1984).
Menurut Earle (1969), kolom distilasi berfungsi sebagai tempat
cairan mendidih dan menguap dan dari tahap di atas terjadi pengembunan
di dalam keseimbangan kadua aliran cairan mendidih dan uap yang
diperoleh. Keseimbangan massa dapat dibuat untuk keseluruhan kolom.
Oleh karena itu, kolom distilasi yang umumnya dijumpai di dalam industri
pangan dan kondisi operasinya agak rumit, hal ini disebabkan
dimasukkannya umpan dan kembalinya cairan mendidih dan uap ke dalam
kolom.
Menurut Cook dan Cullen (1987), rasio refluks adalah jumlah liter
(kg) cairan yang ditampung dalam wadah penampung. Umumnya semakin
tinggi nilai rasio refluks maka semakin besar efisiensi proses pemisahan.
Ada dua macam rasio refluks yang biasa digunakan. Yang pertama adalah
rasio refluks terhadap hasil-atas, dan yang kedua adalah rasio refluks
terhadap uap (aliran uap komponen). Kedua rasio ini menunjukkan
kuantitas yang terdapat pada bagian rektifikasi. Persamaan-persamaan
rasio refluks adalah :

𝐿 𝑉−𝐷
𝑅𝐷 = = ............................................................... (1)
𝐷 𝐷

𝐿 𝐿
𝑅𝑉 = = 𝐿+𝐷 ................................................................ (2)
𝑉

dimana: RD : Rasio refluks distilate


RV : Rasio refluks vapor
L : Liquid
D : Distilate

14
F. Pindah Panas
Pindah panas adalah proses yang dinamis yaitu panas dipindahkan
secara spontan dari satu bahan ke bahan lain yang lebih dingin (Earle, 1969).
Kecepatan pindah panas tergantung pada perbedaan suhu antara kedua bahan,
semakin besar perbedaan suhu antara kedua bahan, maka semakin besar
kecepatan pindah panas antara kedua bahan tersebut. Perbedaan suhu antara
sumber panas dan penerima panas merupakan gaya tarik dalam pindah panas.
Peningkatan perbedan suhu akan meningkatkan gaya tarik sehingga
meningkatkan kecepatan pindah panas.
Perpindahan panas dapat melalui tiga cara yaitu konduksi, konveksi,
dan radiasi. Konduksi adalah transfer energi dari partikel yang memiliki energi
lebih besar ke partikel yang berenergi lebih kecil yang merupakan interaksi
antara partikel-partikel (Cengel, 2003). Konduksi dapat terjadi pada benda
padat, cair, dan gas. Contoh konduksi adalah pindah panas melalui dinding
padat pada ruangan pendinginan.
Konveksi adalah cara pindah panas dengan pergerakan sekelompok
molekul di dalam bahan cair (Earle, 1969). Kumpulan molekul tersebut
mungkin bergerak akibat perubahan kerapatan atau akibat pergerakan bahan
cair. Contoh pindah panas secara konveksi adalah proses pemanasan air
didalam kuali tertutup tanpa pengadukan, perubahan kerapatan menyebabkan
pindah panas dengan konveksi alamiah. Apabila dengan pengadukan, maka
pindah panas terjadi secara paksa.
Radiasi adalah perpindahan energi panas dengan gelombang
elektromagnit, yang memindahkan energi panas dari satu bahan ke bahan lain
dengan cara yang sama dengan dengan cara memindahkan energi cahaya
dengan gelombang cahaya elektromaknit (Earle, 1969). Perpindahan panas
secara radiasi merupakan gejala rambatan gelombang elektromagnetik. Karena
hal tersebut, maka perpindahan energi panas secara radiasi tidak memerlukan
zat perantara dan merambat secepat cahaya ( Kamil dan Pawito, 1983).

15
G. Konduksi Panas Dalam Silinder
Konduksi panas yang mantap melalui pipa berisi aliran air panas,
panas secara kontinyu akan hilang keluar melalui dinding pada pipa. Arah
pindah panas melalui pipa secara normal dari dalam pipa ke permukaan pipa
dan pindah panas di dalam pipa pada arah yang lain tidak terlalu penting.
Dinding pipa yang ketebalannya sedikit lebih kecil, terpisah pada dua larutan
yang berbeda suhu, maka gradien temperatur pada arah radial akan relatif
besar. Selanjutnya, jika suhu larutan di dalam dan di luar pipa konstan, maka
pindah panas yang melalui pipa adalah tetap (steady).
Pada operasi steady, tidak ada perubahan temperatur terhadap waktu
pada beberapa titik pada pipa. Oleh karena itu, nilai pindah panas didalam
pipa harus sama dengan nilai pindah panas di luar pipa. Dalam kata lain,
pindah panas yang melalui pipa harus konstan, Qcond,cyl = konstan.

𝑇1 − 𝑇2
𝑄𝑐𝑜𝑛𝑑 ,𝑐𝑦𝑙 = .................................................................................... (3)
𝑅𝑐𝑦𝑙

𝑟
( 2)
ln ⁡
𝑟1
𝑅𝑐𝑦𝑙 = ........................................................................................... (4)
2𝜋𝐿𝑘

dimana : Q cond,cyl : Pindah panas konduksi pada silinder (W)


T1 : Suhu dalam pipa (°C)
T2 : Suhu luar pipa (°C)
Rcyl : Jari-jari silinder (m)
r1 : Jari-jari dalam (m)
r2 : Jari-jari luar (m)
L : Panjang silinder (m)
k : Konduktifitas panas (W/m.°C)

Silinder dengan beberapa lapisan (tiga lapisan) memiliki total thermal


resistance seperti pada persamaan 6.

16
Sumber : Heat transfer a practical approach

Gambar 4. Hambatan panas pada tiga lapisan penyusun silinder

𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑅𝑐𝑜𝑛𝑣 ,1 + 𝑅𝑐𝑦𝑙 ,1 + 𝑅𝑐𝑦𝑙 ,2 + 𝑅𝑐𝑦𝑙 ,3 + 𝑅𝑐𝑜𝑛𝑣 ,2 ............................ (5)

1 ln ⁡
(𝑟2 /𝑟1 ) ln ⁡
(𝑟3 /𝑟2 ) ln ⁡
(𝑟4 /𝑟3 ) 1
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = + + + + ....................... (6)
𝑕 1 𝐴1 2𝜋𝐿𝑘 1 2𝜋𝐿𝑘 2 2𝜋𝐿𝑘 3 𝑕 2 𝐴4

dimana : h1 : Koefisien pindah panas di dalam pipa (W/m2.°C)


h2 : Koefisien pindah panas di luar pipa (W/m2.°C)
A1 : Luas permukaan pipa dalam (m2)
A4 : Luas permukaan pipa luar (m2)
r1, r2, r3, r4 : Jari-jari lapisan penyusun silinder (m)

Overall heat transfer coefficient dapat digunakan untuk menghitung


total perpindahan panas yang melalui dinding atau kontruksi heat exchanger.
Koefisien overall heat transfer tergantung pada larutan dan kandungan pada
kedua sisi dinding, serta kandungan pada dinding dan permukaan transmisi.

17
𝑄 = 𝑈𝐴𝛥𝑇 ..................................................................................... (7)

𝛥𝑇
𝑄= ...................................................................................... (8)
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

Dimana U adalah overall heat transfer coefficient (W/m2.°C).

18
III. METODE PENELITIAN

A Waktu Dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dimulai pada bulan Maret sampai November 2008 dan
bertempat di Laboratorium Metanim Leuwikopo dan laboratorium Energi dan
Elektrifikasi Pertanian, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, IPB.

B Bahan dan Alat


1. Bahan
Bahan Konstruksi : - Tabung stainless steel diameter 6 inchi
- Tabung stainless steel diameter 3 inchi
- Tabung stainless steel diameter 2 inchi
- Plat besi
- Pipa stainless steel beberapa ukuran
- Mur dan skrup
- Besi siku, double naple
- Elektroda stainless steel dan besi
- Gelas ukur 2 liter
- Termometer
- Isolator dan selang plastik
- Katup ukuran ¼ inch dan ¾ inch
- Pompa air
- Hot plate dan kompor gas
Bahan Pengujian : - Etanol 70%
- Aquades

2. Alat
Peralatan yang digunakan selama melakukan penelitian ini terdiri dari :
a Mesin las
b Peralatan bengkel
c Komputer

19
d Software autocad
e Alkoholmeter dan piknometer
f Termometer

C Prosedur Penelitian
Penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu rancang bangun alat
distilasi etanol dan pengujian alat distilasi yang telah dibuat. Diagram alir
prosedur penelitian ini meliputi : identifikasi masalah, analisis perancangan,
pembuatan alat, uji kinerja dan analisis data.

Mulai

Identifikasi Masalah

Analisis Perancangan

Pembuatan Alat

Pengujian Kinerja

Tidak
Modifikasi Alat Beroperasi

Ya

Laporan

Selesai

Gambar 5. Diagram alir prosedur penelitian

20
1. Identifikasi Masalah
Mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul pada penggunaan
alat distilasi etanol untuk dilakukan perbaikan atau perancangan desain
baru sesuai dengan permasalahan yang ditemui.
2. Analisis Perancangan
Analisis perancangan digunakan untuk menentukan kebutuhan
komponen-komponen yang digunakan untuk membuat alat distilasi etanol.
Analisis ini terdiri dari analisis fungsional dan analisis struktural yang
dilengkapi dengan analisis teknik. Dalam analisis fungsional dilakukan
penentuan komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat alat
distilasi etanol dengan metode rektifikasi. Sedangkan analisis struktural
menentukan bentuk dan komponen-komponen yang sesuai dengan
besarnya kebutuhan bahan yang digunakan.
3. Pembuatan Alat Distilasi Etanol
Pembuatan alat distilasi dilakukan di Bengkel Metanium,
Laboratorium Lapang Leuwikopo, Departemen Teknik Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
4. Uji Kinerja
Uji kinerja bertujuan untuk mengetahui kinerja alat distilasi yang
sudah dirancang apakah sudah berfungsi sebagaimana yang diharapkan
serta mengetahui tingkat efisiensi alat distilasi dengan metode rektifikasi.
5. Alat Beroperasi
Hasil pengujian kinerja adalah mengetahui kinerja alat yang sudah
dirancang apakah dapat beroperasi atau tidak dapat beroperasi. Apabila
tidak dapat beroperasi sesuai prinsip distilasi maka perlu dilakuan
perbaikan kembali atau modifikasi tetapi jika sudah dapat beroperasi maka
dilakukan pembuatan laporan penelitian.

21
D. Rancangan Fungsional

Tabel 3. Rancangan fungsional alat distilasi etanol


No Bagian Alat Fungsi
1 Steam Boiler Sumber panas pada alat distilasi yaitu dengan
mentransfer uap panas melalui koil pemanas
2 Koil Pemanas Memanaskan bahan etanol yang akan
didistilasi sehingga bahan etanol-air dapat
dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didih.
3 Kolom Bawah Tempat bahan etanol-air dipanaskan, bagian
ini dilengkapi termometer untuk mengecek
suhu etanol
4 Kolom Tray Menyalurkan aliran uap etanol yang cepat
untuk disalurkan ke dalam pipa pendingan
dan kondensor
5 Kondensor Penukar panas dimana sistem kerjanya
dengan menyerap panas dari bahan etanol
yang menguap sehingga akan mengembun
kembali.
6 Penampung distilat Menampung distilat etanol yang sudah
dimurnikan

E. Rancangan Struktural
Alat distilasi ini terdiri dari enam komponen penting yaitu : steam
boiler, kolom bawah, kolom tray, kondensor, pipa pendingin, dan tangki
penampung distilat. Kapasitas alat distilasi etanol yang di rancang adalah tiga
liter bahan etanol.
Struktur alat distilasi meliputi :
1. Steam Boiler
Steam boiler berfungsi untuk memanaskan air hingga menghasilkan
uap panas dan selanjutnya mengalirkannya ke dalam kolom bawah melalui
pipa spiral yang berfungsi sebagai koil pemanas. Sumber pemanas steam

22
boiler adalah kompor listrik atau kompor gas yang diletakkan dibawah
tangki steam.
2. Koil Pemanas
Koil pemanas berfungsi memanaskan bahan etanol yang akan didistilasi
sehingga bahan etanol-air dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan titik
didih. Koil pemanas terbuat dari pipa tembaga dengan panjang 300 cm,
diameter 6.5 cm dan tebal 1 cm.
3. Kolom Bawah
Kolom bawah terbuat dari pipa stainless steel dengan diameter luar
15.24 cm, tebal 0.5 cm, tinggi 20 cm. Kolom bawah berfungsi sebagai
tempat memanaskan etanol yang akan didistilasi.
4. Kolom Tray
Kolom tray terbuat dari pipa stainless steel dengan diameter luar 7.62
cm, tebal 0.2 cm serta panjang 100 cm. Kolom tray dilengkapi dengan
piringan yang terbuat dari bahan plat stainless steel dengan ketebalan 0.2
cm yang disertai lubang-lubang kecil. Kolom tray berfungsi sebagai
pemurni etanol dengan menggunakan sistem tray yang dipasang secara
bertingkat-tingkat.
5. Kondensor
Kondensor terbuat dari bahan pipa stainless steel dengan diameter luar
5 cm, tebal 0,2 cm dan panjang 30 cm. Kondensor berfungsi sebagai
penukar panas yaitu dengan menyerap panas dari uap etanol ke air yang
melewati kondensor sehinggi terjadi proses kondensasi.
6. Tangki Penampung Distilat
Tangki ini berfungsi untuk menampung bahan etanol hasil distilasi.
Pada tangki ini dibagi menjadi dua saluran yaitu saluran refluks dan
saluran hasil atas (top product). Pembagi aliran etanol dalam tangki
penampung distilat yaitu dengan menggunakan katup.

23
F. Uji Kinerja
Pengujian kinerja alat distilasi ini adalah untuk mengetahui tingkat
efisiensi alat berdasarkan tujuan penelitian. Parameter yang digunakan dalam
pengujian alat distilasi etanol dengan metode rektifikasi adalah :
1. Konsentrasi Etanol
Dalam pengujian alat digunakan bahan etanol 70% yang terdapat
dipasaran. Sebelum dilakukan distilasi, bahan etanol ini diencerken dengan
menambahkan aquades hingga diperoleh konsentrasi etanol 10% dan 30%.
Penentuan konsentrasi awal bertujuan untuk mengetahui besarnya tingkat
efisiensi dari alat ini untuk memurnikan bahan etanol.
2. Suhu
Suhu dalam proses distilasi sangat menentukan tingkat keberhasilan
dalam proses pemurnian bahan. Titik didih etanol adalah 78.5ºC
sedangkan titik didih air yaitu pada 100ºC. Dalam proses distilasi, suhu
kolom bawah harus dijaga agar tetap konstan yaitu pada titik didihnya
sehingga air dalam campuran etanol tidak ikut menguap.
3. Laju Distilasi
Laju distilasi digunakan untuk mengetahui kecepatan proses distilasi
yang terjadi. Cara perhitungannya adalah dengan membagi banyaknya
etanol hasil distilasi dibagi dengan lamanya proses distilasi.

G. Metode Pengujian
Pengujian data terdiri dari tiga metode yaitu metode sistem batch tanpa
refluks (BTR), metode batch dengan refluks (BR) dan metode kontinyu
dengan refluks (KR). Dari setiap metode pengujian menggunakan sampel
etanol yang berbeda yaitu etanol dengan konsentrasi 10% dan etanol 30%.

1. Distilasi sistem batch tanpa refluks (BTR)


Distilasi sistem batch adalah distilasi yang dilakukan dengan cara
memasukkan umpan ke dalam kolom pada permulaan operasi dan proses
pemanasan dilakukan terus menerus hingga etanol habis. Selama proses
distilasi, jumlah cairan dalam kolom bawah akan semakin menurun.

24
Komponen yang lebih volatil akan berkurang jumlahnya dalam residu
yang tertinggal dalam kolom, dan sebaliknya, komponen yang kurang
volatil akan meningkat konsentrasinya dalam residu. Metode ini
menggunakan sampel etanol 10% (BTR.10) dan etanol 30% (BTR.30).

2. Distilasi sistem batch dengan refluks (BR)


Distilasi sistem batch dengan refluks adalah proses distilasi dengan
memasukkan umpan ke dalam kolom bawah dan proses pemanasan secara
terus menerus. Sistem ini menambahkan pipa di atas menara kolom tray
dan mengirimkan sebagian dari kondensat kembali ke dalam kolom
sebagai refluks sehingga proses pemisahan berlangsung lebih baik.
Pengujian dengan metode ini terdiri dari dua metode yaitu batch dengan
refluks sampel etanol 10% (BR.10) dan batch dengan refluks sampel
etanol 30% (BR.30).

3. Distilasi sistem kontinyu dengan refluks (KR)


Distilasi kontinyu adalah proses distilasi yang dilakukan secara
kontinyu. Proses pengujiannya diawali dengan distilasi sistem batch
kemudian dilanjutnya dengan sistem kontinyu. Mula-mula umpan
dimasukkan ke kolom bawah melalui tangki pemasukan, kemudian proses
pemanasan dilakukan hingga menghasilkan distilat. Sistem kontinyu
dimulai ketika konsentrasi bahan umpan di dalam kolom bawah sangat
kecil yaitu mendekati nol. Distilasi kontinyu ditandai dengan adanya aliran
bahan umpan (F = Feed), produk atas (D = Distilate), dan produk bawah
(B = Bottom Product). Metode ini juga terdiri dari dua sampel yaitu
etanol 10% (KR.10) dan sampel etanol 30% (KR.30).

25
Tabel 4. Prosedur pengujian alat distilasi etanol.
NO BTR BR KR
Bahan etanol yang akan didistilasi disiapkan terlebih dahulu yaitu
1.
etanol dengan konsentrasi 10% dan 30%.
Etanol sebanyak 1 liter dimasukkan ke dalam tangki pemasukan (feed
2. tank) kemudian katup dibuka untuk mengalirkan etanol ke dalam kolom
bawah.
Air sebanyak 3 liter Air sebanyak 3 liter Air sebanyak 4 liter
dimasukkan kedalam dimasukkan kedalam dimasukkan kedalam
tabung steam boiler tabung steam boiler tabung steam boiler
kemudian steam kemudian steam kemudian steam
3. dipanaskan dengan dipanaskan dengan dipanaskan dengan
menggunakan menggunakan menggunakan kompor
pamanas listrik (hot pamanas listrik (hot gas hingga mencapai
plate) hingga plate) hingga 125°C.
mencapai 110°C mencapai 110°C
Setelah suhu steam Setelah suhu steam Setelah suhu steam
mencapai 110°C, mencapai 110°C, mencapai 125°C,
4.
katup steam dibuka katup steam dibuka katup steam dibuka
secara perlahan-lahan secara perlahan-lahan secara perlahan-lahan.
5. Pompa air dinyalakan untuk mengalirkan air ke kondensor
- Besarnya rasio refluks Besarnya rasio refluks
(R) diatur dengan (R) diatur dengan
6.
membuka katup pada membuka katup pada
pipa refluks. pipa refluks.
Perubahan suhu pada titik-titik alat distilasi etanol dicatat setiap 15
menit yaitu suhu pada steam boiler (Ts), suhu air kondensat steam
7.
boiler (Tsc), suhu kolom bawah (Tb), suhu menara kolom tray (Tm),
suhu air masuk kondensor (Tci), dan suhu air keluar kondensor (Tco).
Hasil distilasi/produk atas yaitu berupa etanol murni dicatat
8.
penambahan volumenya setiap 15 menit.
9. Jika distilat sudah Jika distilat sudah Jika proses distilasi

26
tidak mengalir maka tidak mengalir maka sudah menghasilkan
proses distilasi telah proses distilasi telah distilat dan suhu pada
selesai. selesai. kolom bawah (Tb)
telah mencapai suhu
95°C maka proses
distilasi kontinyu
dimulai.
Etanol sampel
sebanyak 2 liter
10. - -
dimasukkan ke dalam
tangki pemasukan.
Laju aliran pada feed
tank (F), refluks (R),
dan produk bawah (B)
11. - -
diatur dengan
membuka masing-
masing katup.
Ulangi prosedur no. 7
12. - -
sampai no. 8
Jika etanol sampel
dalam tangki
pemasukan sudah
13. - -
habis maka proses
distilasi kontinyu
telah selesai.
Produk atas (top product) dan produk bawah (bottom product) dicek
14.
kadar alkoholnya dengan menggunakan alkoholmeter dan piknometer.
Volume air dalam steam boiler yang terpakai dihitung yaitu dengan
15.
persamaan Vterpakai = Vawal – Vakhir.
Setelah diketahui volume air yang terpakai, selanjutnya menghitung
16.
jumlah energi yang digunakan selama proses distilasi.

27
4. Pengukuran konsentrasi etanol pada produk atas dan produk bawah
Pengujian alat distilasi etanol bertujuan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan dari alat yang sudah dirancang dengan mengetahui
konsentrasi produk atas dan produk bawah. Metode yang digunakan untuk
mengetahui konsentrasi etanol yaitu dengan menggunakan alkoholmeter
dan piknometer. Nilai akurasi alkoholmeter belum diketahui sehingga
perlu pengkalibrasian terlebih dahulu. Alkoholmeter digunakan untuk
mengetahu kadar etanol secara cepat (sebagai data awal) sedangkan
piknometer digunakan untuk mengecek kadar alkohol dengan nilai akurasi
lebih baik.
Prinsip pengukuran kedua alat ini yaitu berdasarkan densitas.
Alkoholmeter adalah alat pengukur konsentrasi alkohol paling sederhana
yaitu dengan mencelupkannya kedalam sampel kemudian membaca nilai
konsentrasi yang tertera pada alat. Pengukuran konsentrasi dengan
piknometer memiliki nilai akurasi yang lebih baik tetapi dengan prosedur
yang lebih rumit.

Prosedur pengukuran kadar alkohol dengan piknometer :


1) Alat dan bahan dipersiapkan terlebih dahulu yaitu etanol hasil
distilasi, aquades, timbangan digital, piknometer dan pipet.
2) Piknometer kosong ditimbang untuk mengetahui berat kosong pikno
3) Piknometer diisi dengan aquades kemudian ditimbang untuk
mengetahui berat pikno+aquades.
4) Berat aquades dalam pikno dapat dihitung dengan cara berat
pikno+aquades dikurangi berat pikno kosong sesuai persamaan 9.

maq = mpic,aq - mpic,0 .........................................................................(9)

5) Suhu lingkungan diukur untuk mengetahui densitas aquades pada


suhu tersebut.
6) Setelah diketahui berat dan densitas aquades maka dapat dihitung
volume piknometer dengan persamaan 10.

28
𝑚 𝑎𝑞
𝑉𝑝𝑖𝑐 = ...................................................................................(10)
ρ aq

dimana : Vpic : Volume piknometer (cm3)


maq : Massa aquades (gram)
ρaq : Massa jenis aquades (gram/cm3)

7) Piknometer diisi dengan sampel yang akan diuji kadar alkoholnya


(produk atas dan produk bawah) kemudian ditimbang untuk
mengetahui perat pikno+sampel.
8) Berat sampel dihitung dengan persamaan 11.

mspl = mpic,spl – mpic,0 .....................................................................(11)

dimana : mspl : Massa sampel (gram)


mpic,spl : Massa pikno + sampel (gram)
mpic,0 : Massa pikno awal (gram)

9) Densitas bahan sampel dihitung dengan perbandingan densitas


aquades yang sudah diketahui sebelumnya dengan persamaan 13.

𝑚 𝑎𝑞
𝜌 𝑎𝑞 𝑉 𝑎𝑞
= 𝑚 𝑠𝑝𝑙 ............................................................................... (12)
𝜌 𝑠𝑝𝑙
𝑉 𝑠𝑝𝑙

karena Vaq = Vspl maka

𝜌 𝑎𝑞 𝑚 𝑎𝑞
= .............................................................................. (13)
𝜌 𝑠𝑝𝑙 𝑚 𝑠𝑝𝑙

dimana : ρaq : Massa jenis aquades (gram/ cm3)


ρspl : Massa jenis sampel (gram/ cm3)
maq : Massa aquades (gram)
mspl : Massa sampel (gram)

29
Vaq : Volume aquades (cm3)
Vspl : Volume sample (cm3)

10) Setelah densitas bahan sampel diketahui, konsentrasi bahan sampel


dapat dicari dari tabel konsentrasi ethyl alcohol berdasarkan densitas
dan suhu lingkungan pada Lampiran 7.

5. Perhitungan energi yang terpakai per volume etanol murni


Proses pemurnian etanol dengan cara distilasi membutuhkan energi
sebagai sumber panasnya. Sumber energi yang digunakan dihitung dari
banyaknya air yang diuapkan untuk memanaskan etanol selama proses
distilasi berlangsung. Perhitungan jumlah energi yang digunakan adalah
dengan mengalikan banyaknya massa air yang hilang dikalikan dengan
nilai kalor seperti pada persamaan 13.

𝑄 = 𝑚𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝛥𝑕 ………………………………………………………… (14)

𝛥𝑕 = 𝑕𝑠𝑡𝑚 − 𝑕𝑘𝑜𝑛𝑑 ………………………………………………….. (15)

dimana Q : Energi yang terpakai (kJ)


mair : Massa air yang terpakai (kg)
Δh : Panas laten (kJ/m3)
hstm :

30
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perancangan Alat Distilasi Etanol Dengan Metode Rektifikasi


Pada penelitian ini dimulai dengan perancangan alat distilasi etanol
dengan metode rektifikasi. Bagian-bagian penting dari alat distilasi ini adalah
steam boiler, kolom bawah (bottom column), menara kolom tray, tangki
pemasukan (feed tank), kondensor, dan tabung penampung distilat. Berikut ini
adalah disain alat distilasi etanol metode rektifikasi.

6 4

3
3

2
1
7
Gambar 6. Rancangan alat distilasi etanol

Keterangan:
1. Kompor gas
2. Tabung steam
3. Kolom tray
4. Penampung distilat
5. Kondensor
6. Tangki pemasukan (feed tank)
7. Kolom bawah (bottom coloum)

31
Tabung steam boiler dirancang dengan ukuran diameter 15.24 cm dan
tinggi 22 cm. Bagian atas dibentuk merucut kemudian disambung dengan pipa
cabang tiga yang berfungsi sebagai tempat pemasukan air dan pipa penyaluran
uap panas ke pipa spiral di dalam kolom bawah. Bagian pipa penyalur uap
panas diberi katup untuk mengatur besar-kecilnya pengeluaran uap dari steam.
Sepanjang pipa penyalur uap diselubungi dengan bahan isolator, dengan tebal
1 cm. Pemberian isolator sehingga tidak ada panas yang keluar dari sistem.
Prinsip kerja dari steam boiler yaitu dengan memanaskan air yang
dimasukkan kedalam tabung steam dengan menggunakan kompor listrik atau
kompor gas hingga mendidih dan terbentuk uap. Uap panas yang terkumpul
kemudian disalurkan melalui pipa ke koil pemanas yang terdapat didalam
kolom bawah. Katub steam dibuka setelah suhu steam mencapai 110°C agar
proses pemanasan etanol berlangsung lebih cepat. Semakin besar beda suhu
antara kedua bahan maka kecepatan pindah panas semakin besar.

Gambar 7. Steam boiler

Kolom bawah adalah tempat menampung bahan etanol yang akan


didistilasi. Kolom bawah dirancang dari bahan stainless steel dengan diameter
15.24 cm, tebal 0.5 cm dan tinggi 26 cm. Didalam kolom bawah terdapat pipa
tembaga yang berbentuk spiral dan piringan yang berlubang-lubang. Pipa
spiral terbuat dari bahan tembaga dengan panjang 3 m, diameter luar 6.5 cm
dan tebal 1 cm. Pipa spiral berfungsi untuk memanaskan etanol didalam

32
kolom bawah dengan melewatkan uap panas dari steam sedangkan piringan
berlubang berfungsi sebagai tray seksi stripping.

Gambar 8. Kolom bawah

Gambar 9. Piringan dalam kolom bawah

Gambar 10. Pipa spiral tembaga

33
Kolom tray berfungsi sebagai unit pemisahan dengan sistem
bertingkat. Kolom tray dirancang dari bahan stainless steel dengan panjang
1000 cm, diameter luar 7.62 cm dan tebal 0.2 cm. Panjang kolom tray dibagi
menjadi dua bagian dan penggabungan kedua kolom menggunakan flange
yang terdiri dari 8 buah mur. Kolom yang berisi tumpukan tray terdiri dari
seksi enriching atau rectifying dan seksi stripping. Tray atau plate terbuat dari
stainless steel dengan diameter 7.4 cm dengan satu lubang besar dan beberapa
lubang kecil. Tray dalam kolom ini berjumlah 10 buah dengan jarak tiap tray
adalah 10 cm. Bagian kolom sendiri dirancang dari bahan stainless steel
dengan diameter luar 7.62 cm, tebal 0.1 cm, dan tinggi 100 cm.

Gambar 11.Tray tampak samping

Tangki pemasukan berfungsi untuk memasukkan bahan umpan yang


akan didistilasi. Pada metode batch, bahan umpan dimasukkan kedalam tangki
pemasukan kemudian katup dibuka dan umpan masuk ke kolom bawah
sedangkan pada metode kontinyu, tangki pemasukan berfungsi untuk
menampung bahan yang masuk dalam kolom dan secara kontinyu etanol
mengalir dengan mengatur katup. Bahan tangki pemasukan terbuat dari gelas
ukur berskala dua liter. Tujuan penggunan gelas ukur sebagai tangki
pemasukan adalah untuk mempermudah pengukuran laju bahan umpan yang
masuk ke dalam kolom pada pengujian sistem kontinyu. Selain itu,
penggunaan gelas ukur akan mempermudah dalam mengukur volume umpan
yang akan digunakan.

34
Gambar 12. Tangki pemasukan

Kondensor berfungsi sebagai penukar panas yang akan


mengkondensasi uap etanol. Jenis kondensor yang digunakan yaitu jenis
tabung dan pipa (shell and tube). Kondensor yang dirancang adalah untuk
mengkondensasi etanol secara total (kondensasi total) sehingga produk akhir
adalah etanol dalam bentuk cair seluruhnya. Kondensor ini terdiri dari dua
jenis pipa yaitu pipa saluran etanol (pipa dalam) dan pipa saluran air
pendingin (pipa luar). Pindah panas antara etanol dan air secara konduksi
yaitu melalui pipa-pipa stainless steel.
Kondensor yang dirancang memilik ukuran yaitu panjang 30 cm,
diameter luar 5 cm dan tebal 0.2 cm. Pipa bagian dalam terdiri dari empat pipa
kecil dengan ukuran yaitu panjang 30 cm, diameter luar 0.5 cm, dan tebal
0.15 cm. Pipa didalam kondensor terdiri dari empat pipa. Hal ini dimaksudkan
untuk memperluas kontak antara uap etanol dengan air sehingga mempercepat
pindah panas.
Prinsip kerja kondensor yaitu adanya pindah panas dari uap etanol ke
air yang mengalir didalam kondensor. Air dialirkan dengan menggunakan
pompa air dengan daya 32 Watt yaitu dari pipa bawah ke atas. Arah aliran dari
bawah ke atas agar seluruh ruang pipa kondensor terisi air tanpa adanya ruang
udara yang akan mempengaruhi pindah panas. Perhitungan disain kondensor
seperti pada lampiran 14.

35
Gambar 13. Kondensor

Hasil distilasi ditampung dalam pipa penampung distilat yang


dirancang dari pipa stainless steel dengan diameter 5 cm dan panjang 10 cm.
Pada pipa penampung ini dibuat dua percabangan yang berfungsi sebagai
pembagi distilat. Percabangan pertama berfungsi sebagai saluran refluks
sedangkan percabangan kedua sebagai saluran hasil atas (etanol murni). Pipa
saluran refluks didesain dengan menambahkan selang melengkung sehingga
hasil distilat dapat mengalir kembali ke kolom tray.
Prinsip pembagi distilat pada pipa penampung yaitu dengan
menggunakan sistem grafitasi dimana disain katub dan pipa saluran dibuat
miring agar distilat dapat mengalir. Rasio refluks dapat dtentukan dengan
menggunakan katub yaitu dengan mengatur laju aliran pada refluks dan
produk atas.

Gambar 14. Pipa penampung

36
Gambar 15. Selang refluks

B. Pengujian Alat Distilasi Etanol


Pengujian alat bertujuan untuk mengetahui kinerja alat distilasi etanol
yang telah dirancang. Setelah itu, data yang diperoleh dianalisis untuk
mengetahui tingkat keberhasilan kinerja alat tersebut. Pengujian alat dimulai
dengan pengujian pendahuluan yaitu dengan menguji distilator dengan sampel
etanol 30%. Hasil pengujian diperoleh bahwa alat distilasi etanol belum
mampu memisahkan campuran etanol berdasarkan komponen-komponennya.
Uap etanol tidak mampu naik ke puncak menara kolom tray. Hal ini
disebabkan uap etanol sudah mengalami kondensasi sebelum mencapai
puncak menara. Kehilangan panas pada kolom merupakan penyebab utama
terjadinya kondensasi uap etanol.
Faktor kehilangan panas disebabkan tidak adanya lapisan isolator yang
menghalangi terjadinya pindah panas dari dalam kolom ke lingkungan.
Semakin tinggi kolom maka suhu akan semakin menurun tetapi konsentrasi
uap semakin murni. Data yang diperoleh dari pengijian kemudian dianalisi
untuk melakukan pengujian tahap selanjutnya. Jika data sudah bagus atau alat
sudah berfungsi dengan baik maka tahap selanjutnya adalah pembuatan
laporan sedangkan jika data yang diperoleh tidak bagus atau alat tidak
berfungsi maka dilakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum dilakukan
pengujian kembali.
Pada kasus pengujian ini faktor yang menyebabkan alat tidak berfungsi
dengan baik adalah adanya kehilangan panas ke lingkungan. Langkah yang

37
dilakukan yaitu dengan memperbaiki alat dengan memberikan isolator pada
seluruh dinding alat distilasi sehingga menghalangi terjadinya kehilangan
panas. Isolator yang digunakan adalah almaflex dengan tebal 1cm.
Penggunaan isolator mampu mencegah terjadinya kehilangan panas dari
dalam kolom ke lingkungan sehingga uap etanol dapat menguap naik sampai
pada puncak menara dan masuk ke kondensor untuk dikondensasi.
Pengujian alat distilasi etanol menggunakan tiga metode dan dua
sampel dengan konsentrasi yang berbeda. Tiga metode yang digunakan yaitu
sistem batch tanpa refluks (BTR), sistem batch dengan refluks (BR), dan
sistem kontinyu dengan refluks (KR). Konsentrasi yang digunakan dalam
setiap metode yaitu dengan konsentrasi etanol 10% dan 30%.

1. Distilasi sistem batch tanpa refluks (BTR)


Pengujian dengan sistem ini yaitu dengan memasukkan etanol ke
dalam kolom bawah sebanyak satu liter. Setelah itu dipanaskan dengan
membuka katup steam. Pemanasan dilakukan secara terus menerus
sehingga etanol akan menguap dan habis.
Beberapa indikator yang menunjukkan bahwa proses distilasi
sistem batch telah selesai adalah :
a. Produk atas (etanol murni) tidak mengalir
b. Suhu di menara kolom tray menurun
c. Suhu di kolom bawah sangat tinggi (> 95°C) mendekati titik didih air
Setelah distilasi selesai, bahan didalam kolom bawah dikeluarkan
sebagai produk bawah (bottom product) sedangkan distilat yang keluar
dari pipa penampung sebagai produk atas (top product). Pemisahan yang
sempurna akan menghasilkan produk bawah dan produk atas dengan
konsentrasi tinggi. Produk bawah dari proses distilasi etanol-air adalah air
yang mendekati 100% sedangkan produk atas adalah etanol murni dengan
konsentrasi tinggi yaitu 95.6% (v/v) sesuai dengan batas azeotropnya.
Metode batch biasanya digunakan untuk distilasi dengan kapasitas
yang kecil seperti pada skala laboratorium dimana instalasinya lebih
sederhana dibandingkan dengan distilasi sistem kontinyu. Metode ini juga

38
sering digunakan untuk pemurnian bahan campuran dengan perbedaan
titik didih yang cukup besar karena pemisahannya relatif lebih mudah.
Pengujian pertama yaitu dengan metode distilasi sistem batch
tanpa refluks dengan sampel etanol 10% (BTR.10). Berikut ini grafik
perubahan suhu titik-titik yang diamati selama proses distilasi.

Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)


Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu air keluar kondensor (Tco)
120
100
80
Suhu (°C)

60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135
Waktu (menit)

Gambar 16. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BTR.10

Pada pengujian dengan metode BTR.10, steam dipanaskan hingga


mencapai suhu 110°C. Setelah itu, katup steam dibuka untuk mengalirkan
uap steam ke pipa tembaga. Penurunan suhu terjadi setelah katup steam
dibuka yaitu menjadi 100°C. Ketika katup steam dibuka maka uap panas
dari steam dialirkan melalui pipa spiral tembaga yang akan memanaskan
etanol dalam kolom bawah. Suhu Tb adalah suhu uap campuran etanol-air
didalam kolom bawah dimana terjadi kenaikan suhu ketika katup steam
mulai dibuka. Kenaikan suhu pada Tb menunjukkan kenaikan yang sangat
cepat pada 30 menit pertama hingga mencapai 90°C.
Titik didih pada campuran etanol-air berbeda-beda tergantung pada
konsentrasi alkohol yang terkandung dalam larutan tersebut. Sampel
etanol dengan konsentrasi 10% memiliki titik didih 93°C. Komposisi
distilat dan suhu distilasi akan berubah seiring dengan terdistilasinya
komponen yang lebih volatil. Suhu Tb akan semakin meningkat dengan

39
semakin kecilnya konsentrasi etanol dalam kolom bawah. Pada pengujian
ini, suhu Tb meningkat hingga mencapai 95°C yaitu setelah 135 menit. Hal
ini menunjukkan bahwa konsentrasi etanol dalam kolom bawah sudah
sangat kecil sekitar 6% (v/v).
Suhu Tsc adalah suhu uap steam yang keluar setelah melewati pipa
spiral tembaga. Dari grafik dapat diketahui bahwa perubahan suhu Tsc
terjadi perubahan yang fluktuatif dimana terjadi kenaikan suhu dan
penurunan suhu. Perubahan suhu yang fluktuatif disebabkan uap air yang
keluar dari pipa berupa tetesan air terkondensasi. Setelah pemanasan
selama 105 menit, suhu pada Tsc stabil pada 87°C dan uap yang keluar
sudah dalam bentuk uap panas.
Suhu Tm adalah suhu pada puncak menara kolom tray. Dari grafik
diketahui bahwa pada 45 menit pertama suhu Tm adalah 29°C dan belum
terjadi kenaikan. Kenaikan suhu terjadi setelah 60 menit menjadi 65°C.
Kenaikan suhu pada titik ini menunjukkan bahwa aliran uap etanol sudah
mencapai puncak menara. Selanjutnya aliran uap etanol akan
terkondensasi oleh kondensor dan akan menghasilkan distilat yang
ditampung dalam pipa penampung. Pada sistem batch kenaikan suhu
tertinggi pada Tm adalah mencapai 68°C pada menit ke-90. Setelah itu,
suhu mulai menurun mencapi suhu 47°C. Penurunan suhu ini
menunjukkan bahwa aliran uap etanol sudah berhenti dan proses distilasi
harus dihentikan.
Suhu Tci dan Tco adalah suhu air yang masuk dan keluar dari
kondensor. Dari grafik dapat diketahui bahwa antara suhu Tci dan Tco tidak
menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. Pada menit ke-60 dan 75, suhu
Tco lebih besar dari Tci. Perbedaannya adalah 0.5°C dan 0.3°C. Suhu Tco
lebih besar dari pada Tci dikarenakan terjadi perpindahan kalor dari uap
etanol ke air yang mengalir didalam kondensor. Ketika air mengalir
didalam kondensor, terjadi perpindahan panas dari etanol ke air sehingga
suhu air akan meningkat sedangkan suhu etanol menurun.
Produk atas dari proses distilasi adalah etanol murni dengan
konsentrasi tinggi. Hasil atas ditampung menggunakan gelas ukur agar

40
dapat diketahui jumlah volume yang dihasilkan setiap 15 menit.
Penambahan volume distilat pada metode sistem batch tanpa refluks
dengan sampel etanol 10% dapat dilihat seperti pada grafik dibawah ini.

Distilat

50
45
40
35
volume (ml)

30
25
20
15
10
5
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135
Waktu (menit)

Gambar 17. Penambahan volume distilat metode BTR.10

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa laju distilasi pada awal
pengujian sangat cepat yaitu 1.4 ml/menit kemudian terjadi penurunan
sampai akhirnya laju distilasi berhenti. Laju distilasi berhenti pada menit
ke-135. Pada menit ini proses distilasi juga dihentikan karena uap etanol
yang dipisahkan sudah habis dan tidak ada uap yang mengalir sampai
kolom kondensor. Volume distilat yang dihasilkan dari pemurnian ini
adalah 47 ml selama 135 menit.
Pada pengujian kedua dengan metode yang sama yaitu distilasi
sistem batch tanpa refluk tetapi dengan konsentrasi yang berbeda yaitu
etanol 30%. Berikut ini grafik perubahan suhu terhadap waktu pada titik-
titik alat distilasi yang diamati.

41
Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)
Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu keluar kondensor (Tco)
120
100
80
Suhu (°C)

60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165
Waktu (menit)

Gambar 18. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BTR.30.

Pada pengujian metode BTR.30 suhu Ts awal adalah 110°C,


setelah katup dibuka terjadi penurunan suhu menjadi 100°C dan stabil
pada suhu tersebut. Perubahan suhu Tsc sampai pada menit ke-90 terjadi
fluktuatif tetapi pada menit berikutnya terjadi kenaikan sampai pada suhu
87°C yaitu pada menit ke-150. Suhu Tsc mulai stabil pada suhu tersebut
karena uap yang keluar hampir seluruhnya berbentuk uap panas.
Suhu Tb sebelum katup steam dibuka adalah 29.5°C. Pada 15 menit
pertama suhu Tb naik menjadi 60°C dan terus naik sampai pada suhu
maksimal adalah 94.5°C yaitu pada menit ke-150. Kenaikan suhu Tb
menunjukkan bahwa konsentrasi etanol dalam sampel semakin menurun.
Semakin kecil konsentrasi alkohol pada campuran etanol-air maka titik
didih campuran tersebut semakin besar. Pada saat suhu T b mencapai 94°C,
konsentrasi etanol sampel yaitu sekitar 7%.
Kenaikan suhu Tm pada metode BTR.30 relaitf sama dengan
BTR.10. Pada menit ke-60, suhu Tm adalah 67°C dan terus naik sampai
suhu tertinggi adalah 70°C. Setelah itu, suhu mulai menurun sampai 53°C
dan proses distilasi dihentikan. Kenaikan suhu pada Tm dimulai ketika
aliran uap etanol mencapai menara kolom tray. Penurunan suhu Tm
menunjukkan bahwa uap etanol sudah tidak mengalir sampai menara
kolom tray. Pemurniaan etanol dengan metode ini akan didapatkan

42
produk atas (etanol) dan produk bawah (air) yang masing-masing memiliki
konsentrasi tinggi. Konsentrasi alkohol pada produk bawah semakin lama
akan semakin menurun karena terdistilasinya komponen yang lebih volatil.
Suhu Tci dan Tco adalah suhu air yang masuk dan keluar dari
kondensor dimana Tco lebih besar dari pada Tci. Perbedaan ini terjadi
karena adanya pindah panas dari uap etanol ke air yang melewati pipa
kondensor sehingga terjadi proses kondensasi.
Penambahan volume distilat pada metode sistem batch tanpa
refluks dengan sampel etanol 30% dapat dilihat seperti pada grafik
dibawah ini.

Distilat

300

250

200
Volume (ml)

150

100

50

0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165
Waktu (menit)

Gambar 19. Penambahan volume distilat metode BTR.30

Penambahan volume distilat pada metode BTR.30 membentuk


grafik yang sama dengan metode BTR.10. Kurva membentuk garis
melengkung kemudian lurus yang artinya adanya penambahan volume dan
kemudian berhenti. Pada awal pengujian laju distilasi sangat cepat
mencapai 3.8 ml/menit yaitu pada menit ke-90. Setelah itu terus terjadi
penurunan laju distilasi hingga laju distilasi berhenti yaitu pada menit
ke-165. Volume distilat adalah 255 ml selama 165 menit.

43
2. Distilasi Sistem Batch Dengan Refluks (BR)
Pengujian dengan metode ini secara umum prinsipnya sama
dengan metode batch tanpa refluks. Perbedaanya hanyalah pada sistem
refluks yaitu mengembalikan sebagian hasil atas kembali ke kolom tray.
Pengujian dengan metode ini menggunakan sampel etanol 10% dan 30%.
Berikut ini grafik Perubahan suhu terhadap waktu pada alat distilator.

Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)


Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu air keluar kondensor (Tco)
140
120
100
Suhu (°C)

80
60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
Waktu (menit)

Gambar 20. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BR.10

Suhu Ts adalah suhu steam dimana suhu awal sebelum katup


dibuka adalah 115°C. Setelah katup dibuka suhu Ts menurun dan tetap
pada suhu 100°C. Proses distilasi pada pengujian ini membutuhkan waktu
180 menit. Perubahan suhu Tsc mengalami fluktuatif. Pada menit ke-80,
suhu Tsc mencapai 80°C kemudian terus menurun sampai suhu 70°C.
Penurunan suhu pada Tsc setelah waktu tersebut dikarenakan penempatan
termometer kurang tepat sehingga suhu aliran uap steam yang keluar tidak
terukur dengan baik. Suhu awal Tb adalah 31°C, setelah proses pemanasan
selama 30 menit suhu Tb naik menjadi 90°C dan terus naik sampai pada
suhu 95°C. Suhu Tm awal adalah 29°C. Kenaikan suhu Tm sebesar 1°C
dimulai pada menit ke-45 menjadi 30°C. Kemudian pada menit ke 75,

44
suhu Tm menjadi 65°C dan tetap pada suhu tersebut sampai proses distilasi
dihentikan.
Metode batch dengan refluks mempengaruhi suhu pada Tm. Sistem
refluks menyebabkan suhu di menara kolom tray menjadi stabil yaitu pada
suhu 65°C. Etanol yang mengalir ke dalam kolom tray diperlukan untuk
berinterkasi dengan uap yang mengalir ke atas. Tanpa refluks tidak akan
ada rekifikasi yang berlangsung pada seksi rektifikasi dan konsentrasi
hasil atas tidak akan lebih besar dari konsentrasi uap yang mengalir naik
dari piring umpan. Campuran etanol-air adalah bahan azeotrop, sehingga
pemurnian dengan sistem ini hanya dapat memurnikan etanol sampai titik
azeotropnya.
Suhu Tci dan Tco adalah suhu air yang masuk dan keluar dari
kondensor. Didalam kondensor terjadi perpindahan panas dari uap etanol
ke air yang mengalir sehingga uap etanol terkondensasi. Suhu Tco lebih
besar dari pada suhu Tci. Ketika air mengalir keluar dari kondensor terjadi
perpindahan panas dari etanol ke air. Suhu air keluar lebih tinggi dari pada
suhu air masuk. Air dalam kondensor berfungsi untuk mendinginkan uap
etanol sehingga proses kondensasi dapat berlangsung sempurna.
Hasil distilasi dari penelitian ini adalah etanol murni. Grafik
penambahan volume distilat pada pengujian metode batch dengan refluks
pada sampel etanol 10% adalah sebagi berikut:

Distilat

30
25
Volume (ml)

20
15
10
5
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
Waktu (menit)

Gambar 21. Penambahan volume distilat metode BR.10

45
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa laju distilasi pada metode ini
mengalami penurunan hingga berhenti. Hal ini disebabkan sistem distilasi metode
batch bahan yang didistilasi dimasukkan dalam kolom dan dipanaskan terus
menerus sampai etanol hampir seluruhnya menguap. Volume distilat pada
pengujian ini adalah 24.5 ml dengan waktu operasi 180 menit. Distilat mulai
mengalir pada menit ke-90. Pada awal-awal pengujian, laju distilasi sangat cepat
kemudian laju distilasi turun sampai akhirnya berhenti pada menit ke-165.
Pengujian metode distilasi sistem batch dengan refluks pada sampel etanol
30% didapatkan grafik sebagai berikut:

Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)


Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu air keluar kondensor (Tco)

120
100
80
Suhu (°C)

60
40
20
0
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 22. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode BR.30

Steam dipanaskan sampai suhu 110°C kemudian katup dibuka


untuk mengalirkan uap panas ke kolom bawah. Setelah katup dibuka suhu
Ts turun dan konstan pada suhu 100°C. Proses distilasi dengan metode
BR.30 membutuhkan waktu 450 menit. Alat ukur yang digunakan untuk
mengukur suhu pada Tsc adalah termometer. Dari grafik dapat diketahui
bahwa perubahan suhu Tsc menunjukkan grafik yang fluktuatif tetapi
cenderung meningkat hingga mencapai suhu 83°C. Suhu Tsc ketika
mencapai suhu 83°C sudah berbentuk uap panas. Hal ini berarti bahwa

46
energi steam yang dialirkan melalui pipa spiral didalam kolom bawah
tidak dimanfaatkan untuk memanaskan etanol.
Kenaikan suhu Tb terjadi sangat cepat pada 45 menit pertama. Pada
menit berikutnya kenaikan mulai konstan dengan kenaikan rata-rata
0.63°C. Pada menit ke-405, suhu Tb mencapai 94°C dan tidak terjadi
kenaikan lagi sampai menit ke 450. Suhu awal Tm adalah 28°C kenaikan
suhu dimulai pada menit ke-75 yaitu 29°C dan pada menit ke 90 terjadi
kenaikan yang besar menjadi 64°C. Pada menit ke 105 dan seterusnya
suhu Tm stabil yaitu pada suhu 65°C. Pengujian dengan metode refluks
menyebabkan suhu Tm stabil.
Suhu Tci dan Tco memiliki kenaikan suhu yang hampir sama
dimana suhu Tco lebih besar dari pada suhu Tci. Pada menit ke-390 suhu
Tci lebih besar dari pada suhu Tco. Berdasarkan teori perpindahan panas,
suhu Tco lebih besar dari pada suhu Tci karena ketika air melewati
kondensor, air akan menyerap panas dari etanol sehingga terjadi
kondensasi. Tetapi pada pengujian ini didapatkan suhu T ci lebih besar dari
pada suhu Tco. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi adalah : (1)
Kesalahan membaca alat ukur/termometer, (2) Termometer kontak dengan
suhu lingkungan sehingga tingkat keakurasian berkurang.
Grafik penambahan volume distilat pada pengujian kedua dengan
sampel etanol 30% seperti pada gambar dibawah ini.

Distilat

250

200
Volume (ml)

150

100

50

0
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 23. Penambahan volume distilat metode BR.30

47
Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa distilat mulai mengalir
setelah menit ke-90. Laju distilasi pada awal pengujian cukup cepat
kemudian diakhir pengujian laju distilasi mulai menurun dan akhirnya
berhenti yaitu pada menit ke-405. Setelah laju distilasi berhenti maka
proses distilasi sistem batch juga dihentikan. Kurve penambahan volume
pada metode batch akan membentuk kurva melengkung dimana terjadi
kenaikan kemudian dilajutkan dengan penurunan dan akhirnya berhenti.
Ketika bentuk grafik mendatar artinya tidak ada penambahan
volume distilat meskipun proses dilanjutkan. Hal ini disebabkan
kandungan etanol dalam kolom bawah sangat kecil dan tidak cukup untuk
naik sampai pada distilator. Uap etanol yang naik ke atas menara kolom
tray mengalami kondensasi sebelum sampai puncak karena suhu kolom
semakin turun dengan semakin tingginya kolom tray.

3. Distilasi Sistem Kontinyu Dengan Refluks (KR)


Pengujian distilasi kontinyu dengan refluks menggunakan dua
sampel yang berbeda yaitu etanol 10% dan 30%. Pengujian pertama
dengan sampel etanol 10% dengan waktu proses 240 menit dan
menghasilkan etanol 213 ml. Berikut ini grafik perubahan suhu titik-titik
yang diamati selama proses distilasi.

Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)


Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu air keluar kondensor (Tco)
140
120
100
Suhu (°C)

80
60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 24. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode KR.10

48
Pemanasan steam menggunakan kompor gas bertujuan untuk
meningkatkan jumlah energi steam sebagai sumber pemanas. Steam
dipanaskan sampai suhu 123°C kemudian katup dibuka untuk mengalirkan
uap panas ke pipa spiral yang akan memanaskan etanol didalam kolom
bawah. Ketika katup dibuka, suhu steam menurun hingga mencapai suhu
101.5°C.
Penggunaan kompor gas sebagai sumber pemanas steam mampu
meningkatkan suhu steam diatas titik didih air meskipun katup dibuka. Hal
ini disebabkan energi panas kompor gas lebih besar dari pada
menggunakan hot plate. Kenaikan suhu Tsc terjadi 30 menit pertama
kemudian konstan pada suhu 88°C pada menit berikutnya. Sistem
kontinyu dimulai pada menit ke-30 dimana suhu Tb mencapai 88°C.
Pengujian ini menggunakan F = 15 ml/menit, B = 11 ml/menit dan R =
1.8. Dengan memasukkan umpan secara kontinyu menyebabkan suhu Tsc
menjadi konstan pada 88°C. Kondisi ini disebabkan konsentrasi di dalam
kolom bawah cenderung tetap. Suhu Tb mengalami kenaikan yang cukup
tinggi selama 30 menit pertama, selanjutnya suhu konstan pada suhu 96°C.
Adanya refluks menyebabkan suhu Ts cenderung stabil. Dari grafik
dapat diketahui bahwa suhu Tm konstan setelah mencapai suhu 67°C. Suhu
awal Tm adalah 28°C kemudian 15 menit berikutnya naik menjadi 67°C
dan suhu tertinggi 69°C. Setelah itu suhu turun menjadi 68°C dan
cenderung konstan pada suhu 67°C. Pada akhir pengujian suhu Tm turun
menjadi 66°C. Penurunan suhu pada Tm terjadi ketika aliran umpan sudah
habis. Dengan habisnya etanol dalam tangki pemasukan berarti berakhir
pula proses distilasi kontinyu.
Perubahan suhu Tci dan Tco karena adanya pindah panas antara uap
etanol dan air yang berfungsi sebagai bahan pendingin. Dari grafik dapat
dilihat bahwa suhu Tco lebih besar dari pada suhu Tci dalam beberapa menit
pengujian. Ketika air masuk dan mengalir melali pipa kondensor, maka air
akan menyerap kalor dari uap etanol murni. Terjadinya pindah panas
menyebabkan suhu air yang keluar naik dan suhu uap etanol menurun
sehingga terbentuk kondensasi.

49
Berikut ini grafik penambahan volume distilat pada metode
distilasi kontinyu dengan sampel etanol 10%.

Distilat

250

200
Volume (ml)

150

100

50

0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 25. Penambahan volume distilat pada metode KR.10

Penambahan volume distilat pada metode KR.10 menunjukkan


penambahan yang relatif tetap. Pada menit ke 15 sudah menghasilkan
distilat yaitu sebanyak 5 ml. Setelah itu, terjadi penambahan volume yang
sangat cepat sampai menit ke-30 yaitu menjadi 56 ml. Pada menit
berikutnya laju distilasi relatif sama yaitu laju distilasi rata-rata 0.75
ml/menit. Pengujian ini membutuhkan waktu 240 menit dengan jumlah
distilat 213 ml.
Pada awal pengujian laju distilasi sangat cepat karena metode yang
digunakan masih menggunakan metode batch. Setelah sistem kontinyu
berjalan maka penambahan volume menjadi tetap. Pada akhir pengujian
terjadi penurunan volume distilat. Hal ini disebabkan jumlah etanol di
dalam tangki pemasukan telah habis dan berlaku sistem distilasi batch.
Pengujian metode ketiga dengan konsentrasi etanol 30%. Sebelum
metode kontinyu dijalankan, proses distilasi diawali dengan metode batch
dengan bahan umpan etanol 10% sebanyak 1 liter kemudian dilanjutkan
sisem kontinyu dengan sampel etanol 30%. Berikut ini grafik perubahan
suhu terhadap waktu pada metode KR.30 pada titik-titik distilator yang
diamati.

50
Suhu steam (Ts) Suhu keluar steam (Tsc)
Suhu kolom bawah (Tb) Suhu menara (Tm)
Suhu air masuk kondensor (Tci) Suhu air keluar kondensor (Tco)
140
120
100
Suhu (°C)

80
60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 26. Perubahan suhu terhadap waktu pada metode KR.30

Suhu Ts awal adalah 125°C dan setelah katup dibuka untuk


mengalirkan uap melui pipa spiral maka suhu menurun hingga mencapai
101.5°C. Penurunan suhu pada Ts tidak terlalu berbeda. Rata-rata suhu Ts
setelah katup dibuka adalah 101.8°C. Sumber pemanas steam adalah
kompor gas sehingga mampu meningkatkan suhu steam diatas 100°C.
Suhu Tsc cukup stabil yaitu diatas 85°C. Pada 15 menit pertama proses
pemanasan etanol berlangsung cepat karena sebelum katup steam dibuka
suhu Ts sudah mencapai 125°C sehingga pada 15 menit pertama suhu T b
telah mencapai suhu 97°C. Bahan umpan mulai dimasukkan pada menit ke
30. Perubahan suhu Tb terjadi penurunan menjadi 96.5°C. Penurunan suhu
pada Tb dikarenakan adanya kontak dengan etanol yang masuk secara
kontinyu ke dalam kolom dengan besarnya F = 13 ml/menit, B = 10
ml/menit dan R = 1.8.
Pada menit ke-165 terjadi kerusakan pada bagian tangki
pemasukan sehingga proses distilasi kontinyu dihentikan sementara.
Selama terjadi kerusakan, proses distilasi tetap dijalankan dengan metode
batch. Perubahan suhu terjadi pada Tb dan Tm. Suhu Tb terjadi kenaikan

51
sedangkan Tm terjadi penurunan. Setelah dilakukan perbaikan dengan laju
umpan masuk (F) sebesar 15 ml/menit, suhu T m naik kembali menjadi
69°C dan konstan pada suhu 70°C. Setelah 240 menit suhu Tm menurun
kembali menjadi 69°C. Hal ini karena bahan umpan dalam tangki
pemasukan sudah habis dan proses distilasi sistem kontinyu selesai.
Suhu Tci dan Tco terjadi kenaikan yang hampir sama dengan
pengujian-pengujian sebelumnya. Suhu Tco relatif lebih besar dari pada
Tci. Hal ini disebabkan selama air melewati kondensor terjadi perpindahan
panas dari uap etanol ke air yang mengalir melewati kondensor. Proses ini
disebut kondensasi.
Grafik perubahan volume distilat pada metode KR.30 yaitu metode
kontinyu dengan sampel etanol 30%.

Distilat

400
350
300
Volume (ml)

250
200
150
100
50
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 27. Perubahan volume distilat pada metode KR.30

Dari grafik diatas diketahui bahwa hasil distilat dimulai pada menit
ke-45. Kemudian secara bertahap volume distilat meningkat hingga
akhirnya terjadi penurunan pada menit ke-165. Setelah itu, mulai terjadi
kenaikan volume distilat kembali dengan dengan laju distilasi yang cukup
besar yaitu mencapai 3.2 ml/menit. Setelah itu, laju distilasi masih
menurun hingga proses distilasi selesai. Seharusnya dengan metode
kontinyu laju distilasi relatif tetap, tetapi karena ada kerusakan pada tangki
pemasukan sehingga mempengaruhi proses distilasi. Kerusakan yang

52
terjadi adalah berhentinya aliran umpan masuk karena katup pada pipa
tangki pemasukan tersumbat. Karena tidak ada umpan etanol yang masuk
maka produk atas juga tidak bertambah. Setelah diperbaiki dengan F = 15
ml/menit, volume distilat kembali bertambah. Jumlah distilat yang
dihasilkan dari pengujian ini adalah sebanyak 355 ml.

C. Perbandingan Perubahan Suhu Dan Volume Distilat Pada Tiga Metode


Pengujian
1. Pengujian dengan sampel etanol 10%
Pengujian yang pertama adalah dengan sampel etanol 10%
didapatkan data perubahan suhu terhadap waktu pada titik-titik alat
distilator. Perbandingan data suhu T s pada pengujian dengan tiga metode
yang berbeda didapatkan grafik sebagai berikut:

Suhu steam (Ts) metode BTR 10


Suhu steam (Ts) metode BR.10

140
130
Suhu (°C)

120
110
100
90
80
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 28. Perbandingan perubahan suhu Ts sampel etanol 10%

Dari tiga metode yang digunakan metode BTR dan metode BR


memiliki data yang sama yaitu 100°C. Setelah katup dibuka, suhu Ts pada
kedua metode memiliki suhu yang konstan pada titik didih air. Berbeda
dengan metode pengujian yang ketiga yaitu KR. Metode KR
menggunakan sumber pemanas yaitu kompor gas dimana memiliki energi
yang lebih besar dibandingkan dengan sumber pemanas listrik. Setelah
katup dibuka suhu Ts turun menjadi 101.5°C.

53
Perbandingan suhu Tsc pada pengujian dengan tiga metode yang
berbeda didapatkan grafik sebagai berikut:

Suhu keluar steam (Tsc) metode BTR.10


Suhu keluar steam (Tsc) metode BR.10
Suhu keluar steam (Tsc) metode KR.10
100
80
Suhu (°C)

60
40
20
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 29. Perbandingan perubahan suhu Tsc sampel etanol 10%

Pengujian dengan metode BTR didapatkan data suhu yang


fluktuatif tetapi diakhir pengujian suhu cenderung meningkat. Pada
pengujian dengan metode BR didapatkan suhu Tsc yang masih fluktuatif.
Sedangkan pada pengujian dengan metode ketiga yaitu metode KR
didapatkan suhu yang relatif stabil setelah suhu Tsc mencapai suhu 88°C.
Perbandingan perubahan suhu Tb pada pengujian distilasi dengan
tiga metode didapatkan data sebagai berikut:

Suhu kolom bawah (Tb) metode BTR.10


Suhu kolom bawah (Tb) metode BR.10
Suhu kolom bawah (Tb) metode KR.10
120
100
Suhu (°C)

80
60
40
20
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 30. Perbandingan perubahan suhu Tb sampel etanol 10%

54
Metode BTR dan BR didapatkan data perubahan suhu Tb yang
relatif sama. Kedua metode tersebut menggunakan sumber energi yang
sama yaitu hot plate. Sedangkan pada metode KR didapatkan data suhu Tb
yang berbeda dari dua metode yang lain. Ketika katup steam dibuka, suhu
Tb naik dengan cepat. Suhu Ts sebelum dibuka mencapai 123°C dan ketika
katup dibuka, terjadi transfer energi yang cukup besar dari uap steam ke
etanol dalam kolom bawah.
Perbandingan perubahan suhu Tm pada pengujian distilasi etanol
dengan tiga metode yang berbeda didapatkan grafik sebagai berikut:

Suhu menara (Tm) metode BTR.10


Suhu menara (Tm) metode BR.10
Suhu menara (Tm) metode KR.10
80
70
Suhu (°C)

60
50
40
30
20
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 31. Perbandingan perubahan suhu Tm sampel etanol 10%

Metode BTR dan BR memiliki grafik yang hampir sama di awal-


awal pengujian. Grafik menunjukkan kenaikan yang cepat pada menit ke-
45 sampai menit ke-60. Sedangkan pada akhir pengujian, terdapat
perbedaan suhu dimana pada metode tanpa refluks suhu Tm menurun dan
pada metode dengan refluks suhu Tm tetap. Pemberian refluks
mempengaruhi suhu pada puncak menara kolom tray. Metode dengan
refluks memiliki suhu yang stabil dan konstan karena adanya kontak
dengan etanol murni yang diumpan balikkan kembali kedalam kolom.
Metode ketiga yaitu metode KR perubahan suhu T m sangat cepat pada
awal pengujian. Kenaikan suhu yang cepat dipengaruhi oleh sumber

55
pemanas dan suhu awal dari steam. Kompor gas sebagai sumber pemanas
mempengaruhi kecepatan kenaikan suhu pada Tm.
Perbandingan volume distilasi pada tiga metode pengujian dengan
sampel etanol 10% seperti dibawah ini.

Distilat metode BTR.10 Distilat metode BR.10


Distilat metode KR.10
250

200
Volume (ml)

150

100

50

0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180 195 210 225 240
Waktu (menit)

Gambar 32. Perbandingan volume distilat pada sampel etanol 10%

Grafik penambahan volume distilat dengan metode BTR dan BR


memiliki bentuk grafik yang sama. Volume distilat menunjukkan adanya
kenaikan volume hingga akhirnya tidak ada pertambahan volume distilat
(proses distilasi berhenti). Metode KR memiliki bentuk grafik yang
berbeda dengan dua metode lainnya. Bentuk grafik membentuk garis linier
yang artinya bahwa terjadi pertambahan volume distilat secara kontinyu
dengan laju yang hampir seragam.

2. Pengujian dengan sampel etanol 30%


Pengujian kedua yaitu dengan sampel etanol 30%. Perbandingan
perubahan suhu terhadap waktu pada pengujian ini meliputi suhu T s, Tsc,
Tb, Tm dan penambahan volume distilasi. Perbandingan perubahan suhu T s
pada pengujian dengan sampel etanol 10% didapatkan grafik sebagai
berikut:

56
Suhu steam (Ts) metode BTR.30 Suhu steam (Ts) metode BR.30
Suhu steam (Ts) metode KR.30

140
130
Suhu (°C) 120
110
100
90
80
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 33. Perbandingan perubahan suhu Ts sampel etanol 30%

Perubahan suhu dari ketiga metode didapatkan bentuk grafik yang


sama yaitu terjadi penurunan suhu ketika katup steam dibuka. Penurunan
ini disebabkan terjadi penurunan tekanan didalam tabung steam boiler.
Metode KR dengan sumber pemanas dari kompor gas dapat
menghasilkan jumlah panas yang lebih besar sehingga suhu Ts pada
metode KR.30 mapu mencapai suhu konstan pada suhu 101.5°C
sedangkan Ts pada metode BTR.30 dan BR.30 hanya mampu stabil pada
suhu 100°C.
Perbandingan perubahan suhu Tsc pada pengujian distilasi dengan
tiga metode berbeda didapatkan grafik seperti dibawah ini.

Suhu keluar steam (Tsc) metode BTR.30 Suhu keluar steam (Tsc) metode BR.30
Suhu keluar steam (Tsc) metode KR.30

100
80
Suhu (°C)

60
40
20
0
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 34. Perbandingan perubahan suhu Tsc sampel etanol 30%

57
Pengukuran suhu pada Tsc bertujuan untuk mengetahui besarnya
energi yang digunakan untuk proses pemanasan etanol di dalam kolom
bawah. Suhu Tsc pada pengujian dengan metode BTR dan BR mengalami
kenaikan secara perlahan-lahan. Berbeda dengan pengujian distilasi
metode KR yang mengalami kenaikan suhu Tsc sangat cepat hingga
mencapai suhu 88°C.
Perbandingan suhu Tb pada pengujian dengan metode yang
berbeda menghasilkan grafik sebagai berikut:

Suhu kolom bawah (Tb) metode BTR.30 Suhu kolom bawah (Tb) metode BR.30
Suhu kolom bawah (Tb) metode KR.30

120

100
Suhu (°C)

80

60

40

20
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 35. Perbandingan perubahan suhu Tb sampel etanol 30%

Steam sebagai sumber panas yang berfungsi mensupli energi panas


ke dalam etanol yang didistilasi. Ketika katup dibuka terjadi transfer
energi dari steam ke etanol bahan sampel. Transfer energi ini terjadi secara
konduksi melalui pipa spiral dari tembaga yang kemudian memanaskan
etanol sehingga etanol menguap dan terkondensasi. Suhu awal dari steam
akan mempengaruhi kecepatan proses pemanasan. Semakin tinggi suhu Ts
awal maka proses pemanasan pada etanol juga semakin cepat. Pada
metode yang pertama dan kedua yaitu dengan sistem BTR dan BR
didapatkan bentuk grafik perubahan suhu Tb naik perlahan-lahan.
Grafik perbandingan Tb pada tiga metode yang digunakan dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa distilasi sistem KR memiliki proses

58
pemanasan yang lebih cepat dibandingkan dengan metode BTR dan BR.
Hal ini disebabkan suhu Tb awal pada metode KR.30 lebih besar yaitu
57°C.
Perbandingan suhu Tm yaitu suhu pada menara kolom tray dengan
metode yang berbeda didapatkan grafik seperti dibawah ini.

Suhu menara (Tm) metode BTR.30 Suhu menara (Tm) metode BR.30
suhu menara (Tm) metode KR.30

80
70
60
Suhu (°C)

50
40
30
20
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 36. Perbandingan perubahan suhu Tm sampel etanol 30%

Dari grafik diatas, metode BTR memiliki bentuk yang berbeda


dengan grafik yang lainnya. Bentuk grafik metode ini terjadi penurunan
pada akhir proses. Penurunan ini disebabkan uap etanol dalam kolom
bawah sudah tidak mengalir naik keatas kolom. Etanol yang terkandung
dalam bahan sample semakin kecil. Penurunan ini juga menunjukkan
bahwa proses distilasi dengan sistem batch sudah selesai. Sedangkan
grafik kedua yaitu dengan metode BR didapakan grafik lurus yaitu setelah
suhu mencapai 65°C. Dengan membarikan umpan balik etanol kedalam
menara kolom menyebakan terjadinya kontak antara uap etanol dengan
etanol yang hampir murni sehingga etanol hasil atas akan lebih murni.
Grafik ketiga yaitu suhu Tm dengan metode KR didapatkan bentuk grafik
yang hampir sama dengan metode BR. Perbedaannya yaitu pada metode
KR kenaikan suhu Tm lebih cepat dibandingka dengan metode BR. Selain
itu, suhu Tm pada metode KR tidak konstan seperti pada metode BR.

59
Perbandingan pertambahan volume distilasi pada pengujian dengan
metode yang berbeda didapatkan grafik sebagai berikut:

Distilat metode BTR.30 Distilat metode BR.30 Distilat metode KR.30

400
350
300
250
Suhu (°C)

200
150
100
50
0
0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 390 420 450
Waktu (menit)

Gambar 37. Perbandingan volume distilat pada sampel etanol 30%

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pertambahan volume


distilat menunjukkan kenaikan dan kemudian penurunan sampai akhirnya
proses distilasi selesai. Pada metode KR seharusnya penambahan volume
distilat tetap, tetapi pada grafik diatas menunjukkan penurunan dan
kemudian terjadi kenaikan kembali. Hal ini disebabkan adanya kerusakan
ketika proses pengujian berlangsung yaitu laju aliran umpan masuk
berhenti. Hal ini menyebabkan tidak adanya umpan masuk ke dalam
kolom. Proses distilasi kontinyu dihentikan sementara sampai proses
perbaikan selesai. Ketika distilasi kontinyu dihentikan maka sistem
distilasi yang digunakan adalah distilasi BR.
Pertambahan volume distilat pada metode batch menunjukkan
kenaikan pada awal pengujian kemudian mulai menurun dan berhenti.
Proses distilasi dihentikan ketika sudah tidak ada penambahan volume
distilat karena etanol dalam kolom bawah telah habis menguap.

60
D. Konsentrasi Hasil Pengujian
Berikut ini data konsentrasi alkohol produk atas (etanol) pada pengujian
distilasi dengan tiga metode yang berbeda.

BTR BR KR

100
97.6
98
Kemurnian (% v/v)

96 94.84
94 92.5 92.5
92
90 88.58
88.77
88
86
84
10% 30%
Konsentrasi Etanol Sampel (% v/v)

Gambar 38. Konsentrasi distilat (top product) pada distilasi etanol

Dari grafik diatas diketahui bahwa setiap metode distilasi yang digunakan
menghasilkan distilat dengan konsentrasi yang berbeda. Konsentrasi distilat
mulai dari 88.58% sampai konsentrasi tertinggi 97.6% yaitu diatas batas
azeotrop. Distilasi biasa hanya mampu memurnikan campuran etanol-air
sampai batas azeotropnya. Distilat dengan konsentrasi melebihi batas azeotrop
kemungkinan terjadi kesalahan dalam pengukuran konsentrasinya. Kesalahan
ini dapat disebabkan oleh batas error pada piknometer. Untuk mendapatkan
hasil yang lebih akurat dapat menggunakan metode kromotografi gas.
Metode BTR.10 didapatkan distilat dengan konsentrasi 88.77% sedangkan
metode BR.10 didapatkan distilat dengan konsentrasi 88.58% artinya
konsentrasi distilat dengan metode batch dengan refluks dihasilkan etanol
dengan konsentrasi lebih rendah dibandingkan dengan metode batch tanpa
refluks meskipun perbedaannya tidak terlalu nyata. Secara teori konsentrasi
distilat pada distilasi dengan refluks memiliki tingkat konsentrasi lebih tinggi
dibandingkan dengan sistem distilasi tanpa refluks karena adanya pemurnian
pada seksi enriching.

61
Selang refluks yang digunakan memiliki ukuran diameter 0.8 cm dan
panjang 20 cm. Agar sistem refluks dapat beroperasi maka volume yang
dihasilkan harus mencukupi volume selang refluks yang berbentuk
melengkung. Volume selang adalah 40.192 ml dan agar sistem refluks terjadi
maka volume distilat harus melebihi volume selang. Sebelum pengujian,
selang refluks harus sudah terisi etanol agar proses refluks langsung berjalan
ketika dihasilkan distilat.
Prinsip neraca massa adalah F = D + B, jika konsentrasi bahan umpan
10% (v/v) dan produk bawah adalah 6.47% maka etanol sebagai produk atas
adalah 3.53% dari volume total artinya hanya 35.3 ml etanol murni. Pada
pengujian volume distilat yang dihasilkan adalah 24.5 ml dan sebagian masuk
ke selang refluks. Penggunaan refluks ternyata belum berpengaruh nyata
terhadap peningkatan konsentrasi distilat. Karena etanol yang
diumpanbalikkan ke kolom sangat sedikit, maka pengayaan etanol tidak
terlalu besar.
Berbeda dengan pengujian metode KR.10, hasil distilat yang diperoleh
memiliki konsentrasi lebih tinggi dari dua metode sebelumnya yaitu mencapai
94.84%. Adanya sistem refluks akan meningkatkan konsentrasi etanol hasil
distilasi. Rasio refluks yang digunakan adalah 1.8. Rasio refluks berbanding
terbalik dengan banyaknya tray artinya semakin banyak tray maka rasio
refluks semakin kecil dan sebaliknya jika jumlah tray yang digunakan sedikit
maka untuk meningkatkan konsentrasi distilat digunakan rasio refluks yang
besar.
Distilasi dengan sampel etanol 30% dihasilkan distilat dengan tingkat
konsentrasi yang bervariasi. Konsentrasi distilat pada metode BTR.30 dan
KR.30 adalah 92.5% sedangkan metode BR.30 adalah 97.65%. Metode BR.30
adalah metode batch dengan refluks dimana hasil distilatnya memiliki tingkat
konsentrasi paling tinggi dibandingkan dengan metode yang lain. Konsentrasi
distilat melebihi batas azeotropnya yaitu 95.6% (v/v).
Selain produk atas, produk bawah juga diukur konsentrasi alkohol dengan
menggunakan piknometer. Produk bawah adalah air dengan kandungan etanol
yang sangat kecil dan berupa air yang hampir murni. Tujuannya pengukuran

62
kadar alkohol pada produk atas dan produk bawah adalah untuk mengetahui
tingkat efisiensi pada alat distilasi yang telah dirancang.
Berikut ini data konsentrasi produk bawah pada metode batch tanpa
refluks dan dengan refluks.

BTR BR KR

9 8.09
8
6.47 6.47
Kemurnian (% v/v)

7
6
4.61
5
4
3 2 2
2
1
0
10% 30%
Konsentrasi Etanol Sampel (% v/v)

Gambar 39. Konsentrasi produk bawah (bottom product) pada distilasi etanol

Kadar alkohol produk bawah pada metode BTR dengan sampel etanol
10% dan 30% adalah 4.61% dan 6.47%, sedangkan metode BR didapatkan
produk bawah dengan konsentrasi 6.47% dan 8.09%. Pengukuran konsentrasi
produk bawah distilasi metode KR yaitu dengan menggunakan alkoholmeter
sehingga diperoleh data konsentrasi distilat yang kurang akurat. Konsentrasi
pada metode KR.10 dan KR.30 masing-masing adalah 2%. Meskipun
demikian, data tersebut mampu mewakili data konsentrasi produk bawah.
Hasil konsentrasi pada pengujian dengan metode KR menghasilkan
produk bawah dengan konsentrasi paling kecil. Hal ini disebabkan panas yang
tersedia paling besar sehingga mampu memisahkan etanol dan air dalam
etanol sampel hampir seluruhnya. Dua pengujian yang lain yaitu metode BTR
dan BR masih memiliki produk bawah dengan konsentrasi cukup besar.
Kebutuhan panas untuk memurnikan etanol-air sehingga diperoleh produk
bawah yang hampir murni tergantung pada titik didih produk bawah yaitu air.
Suhu kolom bawah seharusnya mendekati titik didih air yaitu 100°C agar

63
kandungan etanol seluruhnya menguap dan hanya air yang terkandung dalam
kolom bawah. Pada pengujian sistem batch suhu Tb hanya mampu mencapai
suhu 95°C sedangkan sistem kontinyu lebih tinggi yaitu mencapai 97°C
sehingga sistem kontiyu memiliki produk bawah dengan konsentrasi alkohol
paling rendah.
Diagram titik didih etanol-air adalah diagram yang menunjukkan suhu titik
didih campuran etanol-air pada tingkat konsentrasi yang berbeda. Diagram
titik didih etanol-air seperti ditunjukkan pada gambar 3. Data-data hasil
pengujian diplotkan pada diagram ini kemudian dibandingkan titik didih
etanol dengan konsentrasi produk atas dan produk bawah hasil pengujian.
Hasil data pengujian yaitu data suhu pada kolom bawah dan suhu pada
puncak menara kolom tray diplotkan ke diagram titik didih etanol-air seperti
pada lampiran 3, 6, dan 9. Metode batch memiliki komposisi dan suhu
distilasi yang selalu berubah seiring dengan terdistilasinya komponen yang
lebih volatil (mudah menguap). Berdasarkan diagram kesetimbangan titik
didih etanol-air, etanol 10% memiliki titik didih 93°C sedangkan titik didih
etanol 30% adalah 85.8°C. Suhu kolom bawah pada metode BTR dan BR
terjadi kenaikan dengan semakin kecilnya kadar etanol yang didistilasi.
Suhu Tb tertinggi pada setiap metode akan menggambarkan tingkat
konsentrasi etanol pada produk bawah. Sebagai contoh pada metode BTR.10
suhu Tb tertinggi adalah 96°C dengan konsentrasi produk bawah 4.61%.
Pengujian dengan metode batch baik tanpa refluks maupun dengan refluks
didapatkan produk bawah dengan konsentrasi etanol masih cukup besar tetapi
sedikit berbeda yaitu pada metode kontinyu didapatkan produk bawah dengan
konsentrasi etanol sangat kecil yaitu 2%. Pada lampiran 13 tentang analisis
rancangan distilator, suhu pada kolom bawah sesuai perhitungan berdasarkan
asumsi diperoleh suhu 100.13°C.
Suhu pada puncak menara kolom tray tidak dapat diplotkan ke dalam
diagram tersebut karena suhu hasil pengujian berada diluar suhu batas
azeotrop. Secara keseluruhan, suhu Tm berkisar antara 65°C - 71°C yaitu pada
saat uap etanol melewati puncak menara menuju kondensor. Berdasarkan
diagram titik didih etanol-air, suhu pada titik azeotrop adalah 78°C sehingga

64
suhu pada menara ketika konsentrasi etanol berada pada titik azeotropnya
adalah 78°C. Pada pengujian ini, suhu menara tidak dapat mencapai suhu
tersebut karena adanya kehilangan panas disepanjang kolom tray.
Kehilangan panas dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti isolator
dan panjang kolom. Isolator berfungsi untuk mencegah terjadinya pindah
panas dari dalam kolom ke lingkungan. Semakin tebal isolator maka heat loss
semakin kecil karena pindah panas dapat dicegah lebih optimal. Faktor kedua
adalah panjang kolom. Semakin panjang suatu kolom distilasi maka suhu akan
semakin rendah tetapi konsentrasi akan semakin tinggi. Hal ini disebabkan
adanya kontak uap etanol dengan air yang terkondensasi. Oleh karena arus zat
cair berada pada titik gelembungnya, sedangkan arus uap berada pada titik
embunnya, maka kalor yang diperlukan untuk menguapkan komponen etanol
harus didapatkan dari kalor yang dibebaskan pada waktu kondensasi
komponen air. Pada kolom tray, setiap piringan dalam kaskade berfungsi
sebagai peranti pertukaran dimana komponen etanol berpindah ke arus uap
dan komponen air ke arus zat cair. Karena konsentrasi etanol didalam zat cair
maupun dalam uap meningkat dengan bertambahnya tinggi kolom, suhu akan
berkurang dengan semakin tingginya kolom.

E. Kebutuhan Energi Untuk Proses Distilasi


Berdasarkan hasil pengujian, didapatkan data penggunaan air sebagai
bahan pemanas pada steam dan energi yang terpakai selama proses distilasi
sebagai berikut:

Tabel 5. Penggunaan energi selama proses distilasi


Metode
No Keterangan
Kontinyu dengan
Batch tanpa refluks Batch dengan refluks
refluks
10% 30% 10% 30% 10% 30%
Volume air awal
1
(ml) 3000 3000 3000 3000 4000 3000
Volume air akhir
2
(ml) 2151 2008 2037 840 750 0
Volume air yang
3
terpakai (ml) 849 992 963 2160 3250 3000

65
Massa air yang
4
terpakai (kg) 0.849 0.992 0.963 2.16 3.25 3
5 Ts (°C) 101 100.83 101.15 100.32 103.06 103.18
6 hg (kJ/m3) 2677.64 2677.38 2677.87 2676.59 2680.81 2681
7 Tsc (°C) 64.67 57.5 67.33 65.8 86.72 86.5
8 hf (kJ/m3) 270.68 240.68 281.81 275.41 363.13 362.21
9 hfg (kJ/m3) 2406.96 2436.7 2396.06 2401.18 2317.68 2318.79
Energi yang
10
terpakai (kJ) 2043.509 2417.206 2307.406 5186.549 7532.46 6956.37
Volume etanol
11
sampel (ml) 1000 1000 1000 1000 3000 2500
Volume distilat
12
(ml) 47 154.5 24.5 229 213 355
Konsentrasi distilat
13
(%) 88.77 92.5 88.58 97.6 94.84 92.5
Volume etanol
14
murni (ml) 41.72 142.92 21.7021 223.5 202.01 328.38
Energi per volume
15 etanol murni
(kJ/ml) 48.98 16.91 106.33 23.21 37.29 21.18

Grafik energi yang terpakai per volume setara etanol murni yang
dihasilkan selama proses distilasi.

BTR BR KR

120
106.33
Energi per volume etanol murni (kJ/ml)

100

80

60 48.98
37.29
40 23.21
16.91 21.18
20

0
10% 30%
Konsentrasi Etanol Sampel

Gambar 40. Energi yang terpakai untuk distilasi

66
Dari grafik diatas dapat diketahu bahwa penggunaan energi terbesar
yaitu pada pengujian distilasi dengan metode BR.10 yaitu sebesar 106.33
kJ/ml sedangkan energi terkecil yaitu sistem BTR.30 yaitu sebesar 16.91
kJ/ml. Secara umum, penggunaan energi dalam distilasi per ml volume etanol
murni pada sampel etanol 10% lebih besar dibandingkan dengan sampel
etanol 30%. Sampel etanol 30% membutuhkan energi lebih kecil karena
volume distilat yang dihasilkan lebih banyak sehingga jumlah energi tiap ml
etanol distilat yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan sampel etanol 10%.
Dari dua pengujian dengan sampel berbeda, metode BTR lebih efisien
dalam penggunaan energi dibandingkan dengan metode BR. Hal ini
disebabkan dengan pemberian aliran refluks proses distilasi berlangsung lebih
lama. Metode KR yaitu distilasi kontinyu membutuhkan energi yang relatif
lebih efisien dibandingkan dengan metode BR. Metode kontinyu akan lebih
efisien untuk kapasitas yang lebih besar karena setiap prosesnya tidak
dilakukan secara berulang-ulang. Tetapi pada pengujian dengan sampel etanol
30% metode KR membutuhkan energi lebih besar dibandingkan dengan
metode BTR. Hal ini disebabkan adanya penggunaan refluks untuk pengayaan
uap sebagai produk atas.

67
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Alat distilasi yang dirancang terdiri dari enam bagian utama, yaitu steam
boiler, kolom bawah, kolom tray, tangki pemasukan, kondensor, dan pipa
penampung distilat yang dilengkapi dengan pembagi distilat.
2. Pengujian dengan metode refluks menghasilkan distilat dengan
konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dengan distilasi tanpa refluks yaitu
pada metode KR.10 sebesar 94.84% dan metode BR.30 sebesar 97.6%.
3. Pemurnian etanol dengan metode pertama yaitu BTR.10 dan BTR.30
membutuhkan energi sebesar 2043.509 kJ dan 2417.206 kJ untuk
memurnikan satu liter etanol. Metode kedua yaitu BR.10 dan BR.30
membutuhkan energi sebesar 2307.406 kJ dan 5186.549 kJ. Sedangkan
metode ketiga yaitu KR.10 dan KR.30 membutuhkan energi sebesar
7532.46 kJ dan 6956.37 kJ.
4. Metode BR membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan dengan
metode BTR. Metode BR membutuhkan waktu 180 menit dan 450 menit
dengan konsentrasi produk atas 88.58% dan 97.6%, sedangkan metode
BTR membutuhkan waktu 135 menit dan 165 menit dengan konsentrasi
produk atas 88.77% dan 92.5%.
5. Energi yang terpakai per ml volume etanol setara etanol murni pada
metode BTR.10, BR.10, dan KR.10 masing-masing adalah 48.96 kJ/ml,
106.33 kJ/ml, dan 32.29 kJ/ml, sedangkan pengujian dengan metode
BTR.30, BR.30, dan KR.30 masing-masing adalah 16.91 kJ/ml, 23.21
kJ/ml, dan 21.18 kJ/ml.

B. Saran
Penggunaan isolator pada alat distilasi etanol ini perlu ditambah
ketebalannya dengan cara menambah lapisan kedua atau menggunakan
isolator yang memiliki ketebalan lebih besar dari sebelumnya, sehingga proses
kehilangan panas dapat dicegah.

68
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Terdapat pada www.ristek.go.id. Diakses pada 15 Desember


2008.

Cengel, Yunus A and Michael A. Boles. 2002. Thermodynamics An Engineering


Approach. 4th ed. McGraw-Hill, New York

Cengel, Yunus A. 2003. Heat Transfer : A Practical Approach. 2rd ed. McGraw-
Hill, New York

Cook, T.M dan D.J. Cullen. 1987. Industri Kimia Operasi Aspek-Aspek
Keamanan dan Kesehata.
Terjemahan. PT. Gramedia, Jakarta.

Coulsin, J.M and J.F. Richardson. Chemical Engineering. Pergamon Press, New
York

Doherty, M.F. dan M.F Malone. 2001. Conceptual Desain of Distilation System.
McGraw-Hill, New York.

Earle, R.L. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Ir. Zein Nasution,
Penerjemah. Sastra Hudaya.
Terjemahan dari : Unit operation in Food Processing.

Furniss, B.S et al. 1984. Vogel’s Textbook of Practical Organic Chemistry. ELBS,
Longman.

Geonkoplis, C.J. 1983. Transport Process and Unit Uperation, second ed. Allynd
Bacon, Inc., Boston.

Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri, Jilid I. Terjemahan: S. Keteren. UI – Press,


Jakarta.

Himmelblau, D.M. 1987. Basic Principles and Calculations in Chemical


Engineering. Prentice Hall, New York.

Hidayat, Wahyu. 2008. Terdapat pada http://majarimagazine.com. Diakses pada


27 Maret 2008.

Higgins, I.J., D.J. Best, dan J.Jones. 1985. Biotechnology Principle and
Applications. Blacwell Scienrific Publications, Oxford.

Kamil, sulaiman dan Pawito. 1983. Termodinamika dan Pindah Panas.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

69
Kent, J.A. 1992. Riefel’s Handbook of Industrial Chemistry. Ninth Edition. Van
nostrand Reinhold, New York.

Kirk, B.E dan D.F Othmer. 1985. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol 1
dan 2. The Interscience Encyclopedia Inc., New York.

Nurdyastuti, Indyah. 2008 Terdapat pada www.geocities.com/markal_bppt.


diakses pada 27 Maret 2008.

Paturau, J.M. 1982. By Product of Cane Sugar Industry. Elsevier Scientific


Publishing Co., Amsterdam.

Prave, P., U. Faust, W. Sittig, dan D.A Sukatsch. 1987. Fundamental of


Biotechnology. VCH Publisher, Wienheim, Germany.

Prihandana, Rama dkk. 2007. Bioetanol Ubi Kayu Bahan Bakar Masa Depan.
Gromedia, Jakarta.

Purwanto, A. 1995. Di dalam Yoder et al. 1980. Kajian Awal Pemisahan


Campuran Aseton-Butanol-Etanol Hasil Fermentasi dengan Distilasi
sederhana dan dengan Pendekatan Model Isotherm Flash. Skripsi. Fateta,
IPB, Bogor

Purwono, Suryo dkk. 2005. Pengantar Operasi Stage Seimbang. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.

Russell, J.B. 1992. General Chemistry. Mc Graw Hill, Inc., New York.

Saraswati. 1985. Mencari bentuk teknologi untuk produksi etanol sebagai energi
cair dari biomassa. Majalah Ilmu dan Teknologi Pertanian Agritech, 5 (1
dan 2) : 21-29.

Slabaugh, W.H. dan T.D. Parson. 1976. General Chemistry. John Wiley and Sons,
Inc., New York.

SNI. 1994. Standar Nasional Indonesia SNI 06-3565-994 Alkohol Teknis. Dewan
Standarisasi Nasional.

Tjokroadikoesoemo, P.S. 1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. Gramedia,
Jakarta.

Vogel, A.L. 1958. Elementary Practical Organic Chemistry. Interscience Publ.,


Inc., New York.

70
71
Lampiran 1. Data pengujian metode BTR.10

Data Steam
Volume air awal : 3000 ml
Volume air akhir : 2151 ml
Volume air kondensasi : 685 ml

Data Etanol
Volume awal : 1000 ml
Konsentrasi awal : 10%
Volume distilat : 47 ml
Konsentrasi distilat : 88.77%
Volume bottom : 920 ml
Konsentrasi bottom : 4.61%

Waktu Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) D (ml) R F B


0 110 - 29.5 28 27.5 27.5 -
15 100 55 76 28 28 28 -
30 100 43 90 29 28 28 -
45 100 45 91 29 28 28 -
60 100 53 92.5 65 28 28.5 3
75 100 46 94.5 67 28.2 28.5 24.5
90 100 79 95.5 68 29 29 41
105 100 87 96 65 29 29 46
120 100 87 95.5 56 29 29 47
135 100 87 95 47 29 29 47

72
Lampiran 2. Data pengujian metode BTR.30

Data Steam
Volume air awal : 3000 ml
Volume air akhir : 2008 ml
Volume air kondensasi : 870 ml

Data Etanol
Volume awal : 1000 ml
Konsentrasi awal : 30%
Volume distilat : 154.5 ml
Konsentrasi distilat : 92.5%
Volume bottom : 730 ml
Konsentrasi bottom : 6.47%

Waktu Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) D (ml) R F B


0 110 - 29.5 28 28 28 0
15 100 37 60 28 29 29 0
30 100 43 80 29 29.5 29.5 0
45 100 49 81.5 29.5 29.5 29.5 0
60 100 47 83 67 29.5 30 29
75 100 45.5 85 68 29.5 30 72
90 100 45 87.5 69 29.5 30.5 129
105 100 52 89.5 70 30 30.5 174
120 100 58 91 69.5 30 30.5 206
135 100 82 94 71 30.5 31 241.5
150 100 87 94.5 66 30.5 30.5 254.5
165 100 87 94 53 30 30 254.5

73
Lampiran 3. Plot data pengujian BTR.10 dan BTR.30 ke diagram titik didih
etanol-air

BTR.10

BTR.30

74
Lampiran 4. Data pengujian metode BR.10

Data Steam
Volume air awal : 3000 ml
Volume air akhir : 2037 ml
Volume air kondensasi : 900 ml

Data Etanol
Volume awal : 1000 ml
Konsentrasi awal : 10%
Volume distilat : 24.5 ml
Konsentrasi distilat : 88.58%
Volume bottom : 940 ml
Konsentrasi bottom : 6.47%

Waktu Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) D (ml) R F B


0 115 - 31 29 28 28 - 1.8
15 100 58 75.5 29 28 28 - 1.8
30 100 62 90 29 28.5 28.5 - 1.8
45 100 66 91.5 30 28.8 28.8 - 1.8
60 100 64 92 63 29 29 - 1.8
75 100 68 93.5 65 29.1 29.5 - 1.8
90 100 66 94 65 29.8 30 7 1.8
105 100 63 94.5 65 30 30.2 13 1.8
120 100 65 95 65 30.5 30.8 18 1.8
135 100 70 95 65 30.8 31 22 1.8
150 100 80 95 65 31 31 24 1.8
165 100 76 95 65 31.2 31.2 24.5 1.8
180 100 70 95 65 31.5 31.5 24.5 1.8

75
Lampiran 5. Data pengujian metode BR.30

Data Steam
Volume air awal : 3000 ml
Volume air akhir : 840 ml
Volume air kondensasi : 1935 ml

Data Etanol
Volume awal : 1000 ml
Konsentrasi awal : 30%
Volume distilat : 229 ml
Konsentrasi distilat : 97.6%
Volume bottom : 750 ml
Konsentrasi bottom : 8.09%

Waktu Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) D (ml) R F B


0 110 - 28 28 28 28 - 1.8
15 100 43 61 28 28 28 - 1.8
30 100 41 69.5 28 28 28 - 1.8
45 100 43 79 28 28 28 - 1.8
60 100 42 80 28 28 28 - 1.8
75 100 64 82 29 28.5 28.5 - 1.8
90 100 64 82.5 64 29 29 - 1.8
105 100 62 82.5 65 29.5 29.8 14.5 1.8
120 100 61.5 83 65 30 30.2 29 1.8
135 100 64 83.5 65 30.5 30.5 43 1.8
150 100 66 84 65 30 31 56 1.8
165 100 66 84.5 65 31.5 31.5 71 1.8
180 100 66 85 65 32 32 85 1.8
195 100 68 85.5 65 32.2 32.5 93 1.8
210 100 69 86 65 32 32.2 110 1.8
225 100 65 86.5 65 32.5 32.5 125 1.8
240 100 68 87.2 65 32.8 32.8 136 1.8
255 100 68 87.8 65 32.5 32.5 146 1.8
270 100 69 88.5 65 32.8 33 156 1.8
285 100 67 89.5 65 33 33 167 1.8
300 100 66 90 65 33.2 33.2 177 1.8
315 100 68 90.5 65 33.5 33.5 186 1.8

76
Lampiran 5. (lanjutan)

330 100 70 91.2 65 34 33.5 194.5 1.8


345 100 69 92 65 34 34 205 1.8
360 100 69 92.5 65 34 34 211 1.8
375 100 68 93 65 33.5 33.5 219 1.8
390 100 78 93.5 65 34 33.8 225 1.8
405 100 82 94 65 34 33.5 229 1.8
420 100 83 94 65 34 33.5 229 1.8
435 100 82.5 94 65 34 33 229 1.8
450 100 82 94 65 34 33 229 1.8

77
Lampiran 6. Plot data pengujian BR.10 dan BR.30 ke diagram titik didih
etanol-air

BR.10

BR.30

78
Lampiran 7. Data pengujian metode KR.10

Data Steam
Volume air awal : 4000 ml
Volume air akhir : 750 ml
Volume air kondensasi : 1840 ml

Data Etanol
Volume awal : 3000 ml
Konsentrasi awal : 10%
Volume distilat : 213 ml
Konsentrasi distilat : 94.84%
Volume bottom : 2710 ml
Konsentrasi bottom : 2%

F B
Time Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) D (ml) R (ml/15menit) (ml/15menit) Keterangan
0 123 - 30 28 27.5 27.5 - 1.8 - -
15 101.5 70 92.5 67 28 29 5 1.8 - -
30 101.5 88 96 69 29 29.2 56 1.8 - - Star continue
45 101.5 88 96 68 29.4 29.6 67 1.8 225 165
60 101.5 88 96 67 29.8 30 81 1.8 225 165
75 101.5 88 96 67 30.2 30.5 95 1.8 225 165
90 101 88 96 67 30.5 30.8 108 1.8 225 165
105 101 88 96 67 30.8 31 120 1.8 225 165
120 101 88 96 67 31.2 31.2 128 1.8 225 165
135 102 88 96 67 31.6 31.8 142 1.8 225 165
150 102 87 96 66.5 31.8 32 153 1.8 225 165
165 102 88 96 67 32 32.2 166 1.8 225 165
180 103 88 97 67 32.2 32.5 178 1.8 225 165
195 102 88 96 67 32.8 32.8 187 1.8 225 165
210 102.5 88 96 67 33 33 197 1.8 225 165
225 102.5 87.5 96 67 31.2 31.2 206 1.8 225 165
240 102.5 87 96.5 66 31.5 31.5 213 1.8 0 165 End of feed

79
Lampiran 8. Data pengujian metode KR.30

Data Steam
Volume air awal : 3000 ml
Volume air akhir : 0 ml
Volume air kondensasi : 1800 ml

Data Etanol
Volume awal : 1000 ml dan 1500 ml
Konsentrasi awal : 10% dan 30%
Volume distilat : 355 ml
Konsentrasi distilat : 92.5%
Volume bottom : - ml
Konsentrasi bottom : 2%

D F B
Time Ts (°C) Tsc(°C) Tb(°C) Tm(°C) Tci(°C) Tco(°C) (ml) R (ml/15menit) (ml/15menit) Keterangan
0 125 - 57 33 30.5 30.5 - 1.8
15 102.5 85 97 31 30.5 30.5 - 1.8
30 102.5 86 97.5 34 30.8 30.8 - 1.8 195 150 start continue
45 101.5 85 96.5 70 31 31.5 15 1.8 195 150
60 101.5 87 96.5 70 31.5 31.8 48 1.8 195 150
75 101.5 86 96.5 70 32 32.4 76 1.8 195 150
90 101.5 86 96.5 70 32.5 32.8 110 1.8 195 150
105 101.5 86 96.5 70 32.8 33 145 1.8 195 150
120 101.5 88 96.5 69 33.2 33.2 165 1.8 195 150
135 102 88 97 69 33.2 33.2 182 1.8 195 150
150 101.5 88 96.5 67 30.5 30.5 195 1.8 195 150 water exchange
165 101.5 88 97 67 30.5 30.5 200 1.8 195 150 reparation
180 102 86 96 69 30.8 31.2 207 1.8 225 150
195 102 86 96.5 70 31.8 32 255 1.8 225 150
210 102 86 96.5 70 32.2 32.8 300 1.8 225 150
225 102 86 96.5 70 32.8 33 340 1.8 0 150 end of feed
240 102 87 97 69 33.2 33.2 355 1.8 0 150

80
Lampiran 9. Plot data pengujian KR.10 dan KR.30 ke diagram titik didih
etanol-air

KR.1
0

KR.30

81
Lampiran 10. Tabel densitas etanol pada suhu dan konsentrasi yang berbeda

% 10°C 15°C 20°C 25°C 30°C 35°C 40°C


0 0.99973 0.99913 0.99823 0.99708 0.99568 0.99406 0.99225
1 785 725 636 520 379 217 34
2 602 542 453 336 194 31 0.98846
3 426 365 275 157 14 0.98849 663
4 258 195 103 0.98984 0.98839 672 485

5 98 32 0.98938 817 670 501 311


6 0.98946 0.98877 780 656 507 335 142
7 801 729 627 500 347 172 0.97975
8 660 584 478 346 189 9 808
9 524 442 331 193 31 0.97846 641

10 393 304 187 43 0.97875 685 475


11 267 171 47 0.97897 723 527 312
12 145 41 0.9791 753 573 371 150
13 26 0.97914 775 611 424 216 0.96989
14 0.97911 790 643 472 278 63 829

15 800 669 514 334 133 0.96911 670


16 692 552 387 199 0.9699 760 512
17 583 433 259 62 844 607 352
18 473 313 129 0.96923 697 452 189
19 363 191 0.96997 782 547 294 23

20 252 68 864 639 395 134 0.95856


21 139 0.96944 729 495 242 0.95973 687
22 24 818 592 348 87 809 516
23 0.96907 689 453 199 0.95929 643 343
24 787 558 312 48 769 476 168

25 665 424 168 0.95895 607 306 0.94991


26 539 287 20 738 442 133 810
27 406 144 0.95867 576 272 0.94955 625
28 268 0.95996 710 410 98 774 438
29 125 844 548 240 0.94922 590 248

30 0.95977 686 382 67 741 403 55


31 823 524 212 0.9489 557 214 0.9386

82
Lampiran 10. (lanjutan)

32 665 357 38 709 370 21 662


33 502 186 0.9486 525 180 0.93825 461
34 334 11 679 337 0.93986 626 257

35 162 0.94832 494 146 790 425 51


36 0.94986 650 306 0.93952 591 221 0.92843
37 805 464 114 756 390 16 634
38 620 273 0.93919 556 186 0.92808 422
39 431 79 720 353 0.92979 597 208

40 238 0.93882 518 148 770 385 0.91992


41 42 682 314 0.9294 558 170 774
42 0.93842 478 107 729 344 0.91952 554
43 639 271 0.92897 516 128 733 332
44 433 62 685 301 0.9191 513 108

45 226 0.92852 472 0.85 692 291 0.90884


46 17 640 257 0.91868 472 69 660
47 0.92806 426 41 649 250 0.90845 434
48 593 211 0.91823 429 28 621 207
49 379 0.91995 604 208 0.90805 396 0.89979

50 0.92126 0.91776 0.91384 0.90985 0.9058 0.90168 0.89738


51 0.91943 555 160 760 353 0.8994
52 723 333 0.90936 534 125 710
53 502 110 711 307 0.89896 479
54 279 0.90885 485 79 667 248 0.88

55 55 659 258 0.8985 437 16


56 0.90831 433 31 621 206 0.88784
57 607 207 0.89803 392 0.88975 552
58 381 0.8998 574 162 744 319 0.87888
59 154 752 344 0.88931 512 85 653

60 0.89927 523 113 699 278 0.87851 417


61 698 293 0.88882 446 44 615 180
62 468 62 650 233 0.87809 379 0.86943
63 237 0.8883 417 0.87998 574 142 795
64 6 597 183 763 337 0.86905 466

83
Lampiran 10. (lanjutan)

65 0.88774 364 0.87948 527 100 667 227


66 541 130 713 291 0.86863 429 0.85987
67 308 0.87895 477 54 625 190 747
68 74 660 241 0.86817 387 0.8595 407
69 0.87839 424 4 579 148 710 266

70 602 187 0.86766 340 0.85908 470 25


71 365 0.86949 527 100 667 228 0.84783
72 127 710 287 0.85859 426 0.84986 540
73 0.86888 470 47 618 184 743 297
74 648 229 0.85806 376 0.84941 500 53

75 408 0.85988 564 134 698 257 0.83809


76 168 747 322 0.84891 455 13 564
77 0.85927 505 79 647 211 0.83768 319
78 685 262 0.84835 403 0.83966 523 74
79 442 18 590 158 720 277 0.82827

80 197 0.84772 344 0.83911 473 29 578


81 0.8495 525 96 664 224 0.8278 329
82 702 277 0.83848 415 0.82974 530 79
83 453 28 599 164 724 279 0.81826
84 203 0.83777 348 0.82913 473 27 576

85 0.83951 525 95 660 220 0.81774 322


86 697 271 0.8284 405 0.81965 519 67
87 441 14 583 148 708 262 0.80811
88 181 0.82754 323 0.81888 448 3 552
89 0.82919 492 62 626 186 0.80742 294

90 654 227 0.81797 362 0.80922 478 28


91 386 0.81959 529 94 655 211 0.79781
92 114 688 257 0.80823 384 0.79941 491
93 0.81839 413 0.80983 549 111 669 220
94 561 134 705 272 0.79835 393 0.78947

84
Lampiran 10. (lanjutan)

95 278 0.80852 424 0.79991 555 114 620


96 0.80991 566 138 706 271 0.78831 388
97 698 274 0.79846 415 0.78981 542 100
98 399 0.79974 547 117 684 247 0.77806
99 94 670 243 0.78814 382 0.77946 507

100 0.79784 360 0.78934 506 75 641 203


Sumber : Perry’s Chemical Engineer’s Handbook

85
Lampiran 11. Contoh perhitungan konsentrasi etanol

Massa pikno kosong (mpic,0) : 15.73 gram


Massa pikno + aquades (mpic,aq) : 25.7 gram
Massa aquades (maq) : mpic,aq - mpic,0
: 25.7 – 15.73
: 9.97 gram
Suhu lingkungan pada saat pengujian adalah 25°C
Massa jenis (ρ) pada suhu tersebut adalah 0.99682 g/cm 3

𝑚 𝑎𝑞 9.97
Volume pikno = 𝑉𝑝𝑖𝑐 = = = 10.0018 𝑐𝑚3
ρ aq 0.99682

Massa pikno + sampel (mpic,spl) : 23.8 gram

Massa sampel (mspl) : mpic,spl – mpic,0

: 23.8 – 15.73

: 8.07 gram

Menghitung massa jenis sampel


𝑚 𝑎𝑞
𝜌 𝑎𝑞 𝑉 𝑎𝑞 𝜌 𝑎𝑞 𝑚 𝑎𝑞
= 𝑚 𝑠𝑝𝑙 karena Vaq = Vspl maka =
𝜌 𝑠𝑝𝑙 𝜌 𝑠𝑝𝑙 𝑚 𝑠𝑝𝑙
𝑉 𝑠𝑝𝑙

0.99682 9.97
= maka 𝜌𝑠𝑝𝑙 = 0.80685 g/cm3
𝜌 𝑠𝑝𝑙 8.07

Dari tabel densitas etanol pada lampiran 7 dapat diketahui konsentrasi sampel

𝜌𝑠𝑝𝑙 = 0.80685 g/cm3 pada suhu 25°C berkisar antara 92-93%

92−𝑥 0.80823−0.80685 92−𝑥 −0.00138


= = x = 92.5036 %
92−93 0.80823−0.80549 −1 −0.00274

Jadi konsentrasi sampel adalah 92.5036 %

86
Lampiran 12. Perhitungan pipa tembaga

Perancangan alat distilasi etanol dengan asumsi :


Etanol yang didistilasi : 8 liter/hari
Jumlah kerja : 8 jam/hari
Etanol yang didistilasi 8 liter /hari
Laju penguapan : = = 1 liter/jam
Jumlah kerja 8 jam /hari

Diketahui : Densitas (ρ) : 783 kg/m3


Titik didih : 78.2°C
Jawab :
𝜌𝑥𝑉 783 𝑥 0.001
Laju massa : = = 2.715 𝑥 10−4 𝑘𝑔/𝑠
𝑡 3600

𝑄 = 𝑚𝑣 𝑥 𝑕𝑓𝑔
𝑄 = 2.175𝑥10−4 𝑥 2257
𝑄 = 0.49 𝑘𝑊

𝑄 = 𝑈𝐴𝛥𝑇
𝛥𝑇 1 ln ⁡
(𝑟2 /𝑟1 ) 1
𝑄= dimana 𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = + +
𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑕 1 𝐴1 2𝜋𝐿𝑘 1 𝑕 2 𝐴2

Diketahui h1 = 150 W/(m2.K) dan h2 = 2181.295 W/(m2.K)

2𝜋𝐿𝛥𝑇
𝑄=
1 ln⁡(𝑟2 /𝑟1 ) 1
+ +
𝑕1 𝑟1 𝑘1 𝑕2 𝑟2

2𝜋𝐿(100 − 30)
490 =
1 ln⁡
(0.00325/0.00315) 1
150 𝑥 0.00315 + + 0.00325 𝑥 2181.295
386

𝐿 = 2.515 𝑚
Nilai toleransi 1.2
L = 2.515 x 1.2
L = 3.3.018 ≈ 3 m
Jadi panjang koil tembaga yang dibutuhkan adalah 3 m.

87
Lampiran 13. Analisis rancangan distilator

Alat distilasi etanol ini dirancang untuk memisahkan larutan etanol-air.


Dalam perancangan diasumsikan bahwa larutan mendekati ideal. Pemisahan
larutan etanol air untuk mendapatkan produk atas yaitu etanol dengan konsentrasi
95.5% (W/W) dan air dengan konsentrasi 4.5% (W/W). Umpan yang digunakan
adalah etanol 10% (V/V) dengan laju umpan 1 liter/jam.

Penentuan Sifat Fisis Komponen


Tekanan Uap
Tekanan uap tiap komponen diperlukan untuk perhitungan yang
melibatkan persamaan kesetimbangan. Tekanan uap tiap komponen dapat didekati
dengan persamaan Antoine, sebagai berikut:
B
log P = A - ………. ( 1 )
TC
dengan : Pº = tekanan uap, mmHg
T = suhu, oC
A,B,C = konstanta Antoine
Konstanta Antoine masing-masing komponen adalah sebagai berikut :

Komponen A B C
C2H5OH 18.9119 3803.9800 -41.6800
H2O 18.3036 3816.4400 -46.1300

Nilai tekanan uap dari persamaan (1) selanjutnya dapat digunakan untuk
menentukan nilai konstanta kesetimbangan (K) melalui persamaan yang
menyatakan hubungan kesetimbangan uap-cair sebagai berikut:
y i P  Pio x i

Pio
yi  xi ……………. ( 2 )
P
dengan : yi = fraksi mol uap komponen i
xi = fraksi mol cair komponen i

88
1. Penentuan Kondisi Umpan Masuk
Komposisi umpan masuk menara distilasi :
Komponen mol/jam xi (fraksi mol) g/jam

C2H5OH(LK) 1.7022 0.0329 78.3000


H2O(HK) 50.0000 0.9671 900.0000
Jumlah 51.7022 1.0000 978.3000

Tekanan uap dihitung dengan persamaan (1) dan kesetimbangan uap cair
dihitung dengan persamaan (2).Umpan berada dalam kondisi cair jenuh, maka 
yi = 1.
dengan cara trial T maka didapat hasil sebagai berikut :
P umpan = 1 atm
= 760mmHg
Trial T = 99.04 oC

Komponen F, mol/jam xf Pio, mmHg Ki yi=Ki xi

C2H5OH(LK) 1.7022 0.0329 1,631.4905 2.1467 0.0707


H2O(HK) 50.0000 0.9671 730.3296 0.9610 0.9293
Jumlah 51.7022 1.0000 1.0000

2. Spesifikasi Produk
Produk yang diinginkan yaitu hasil atas berupa etanol 95.5 % (w/w) dan air
4.5 % (w/w) dengan spesifikasi berdasarkan neraca massa sebagai berikut:

Produk atas Produk bawah


Komponen
g/jam mol/jam Xdi g/jam mol/jam Xbi

C2H5OH(LK) 76.7340 1.6681 0.8925 1.5660 0.0340 0.0007


H2O(HK) 3.6157 0.2009 0.1075 896.3843 49.7991 0.9993
Jumlah 80.3497 1.8690 1.0000 897.9503 49.8332 1.0000

3. Perhitungan Suhu Puncak Menara


Pada puncak menara, digunakan condenser total yang mengembunkan seluruh
uap yang dihasilkan. Uap yang terembunkan seluruhnya kemudian diambil

89
sebagian sebagai produk atas (top product) dan sisanya dikembalikan ke menara
(reflux)
Kondisi operasi atas menara terjadi pada keadaan dew point, sehingga
Σxi = 1, sedangkan kondisi distilat keluaran berada pada bubble point-nya, dimana
Σyi = 1. Komposisi top menara distilasi :
Komponen mol/jam xi (fraksi mol) g/jam

C2H5OH(LK) 1.6681 0.8925 76.7340

H2O(HK) 0.2009 0.1075 3.6157


Jumlah 1.8690 1.0000 80.3497

Hasil perhitungan trial suhu dew point campuran komponen bagian atas menara :
P top = 1 atm
= 760 mmHg
Trial T = 81.77 oC
Pio,
Komponen D, mol/jam yi Ki xi =yi/Ki
mmHg
C2H5OH 1.6681 0.8925 864.4581 1.1374 0.7847
H2O 0.2009 0.1075 379.2726 0.4990 0.2154
Jumlah 1.8690 1.0000 1.0000

4. Perhitungan Suhu Dasar Menara


Boiler yang digunakan adalah steam boiler dengan sumber panas dari kompor
gas. Diasumsikan bahwa cairan hasil bawah keluar pada bubble point, sedangkan
uap yang setimbang dengan cairan tersebut masuk kembali ke menara distilasi
sebagai refluks.Kondisi operasi bagian bawah menara distilasi dicari dengan cara
menghitung suhu bubble point cairan yang keluar sebagai hasil bawah.
yi
 xi    1 Komposisi bottom menara distilasi :
Ki
Komponen mol/jam xi (fraksi mol) g/jam

C2H5OH(LK) 0.0340 0.0007 1.5660


H2O(HK) 49.7991 0.9993 896.3843
Jumlah 49.8332 1.0000 897.9503

90
Hasil perhitungan trial suhu bubble point campuran komponen bagian bawah :
P bottom = 1 atm
= 760 mmHg
Trial T = 100.13 oC
B,
Komponen xi Pio, mmHg Ki yi =xi.Ki
mol/jam
C2H5OH(LK) 0.0340 0.0007 1,694.4546 2.2295 0.0015
H2O(HK) 49.7991 0.9993 759.4008 0.9992 0.9985
Jumlah 49.8332 1.0000 1.0001

5. Penentuan Komponen Kunci (Key Component)


Light Key Component yaitu komponen yang tidak dapat diabaikan jumlahnya
yang berada di produk bawah, Sedangkan Heavy Key Component adalah
komponen yang tidak dapat diabaikan jumlahnya yang berada di produk atas.
Diinginkan : 98 % dari etanol menjadi hasil atas
Dipilih : Etanol sebagai Light Key
Air sebagai Heavy Key

Pengambilan LK dan HK perlu dicek dengan menggunakan persamaan Shira’s


et. al (Treybal,1981) :
X j, D .D ( j  1).X LK, D .D ( LK   j ).X HK, D .D
  ……………. ( 7 )
Z j, F .F ( LK  1).Z LK, F .F ( LK  1).Z HK, F .F

A = B + C

dengan :
Kj
j  ;
K HK

Pjo
Kj  ;
Pt

 avg   top . bottom ;

91
batasan :
X j,D .D X j,D .D
 Jika 0.01 dan 1.01 maka komponen tidak terdistribusi
Z j,F .F Z j,F .F

X j,D .D
 Jika 0,99   0.01 maka komponen terdistribusi
Z j,F .F

 Komponen light key dan heavy key berada di antara :


-0,01 ≤ (xJ,D.D/zJ,F.F) ≤ 1,01

dengan : X j,D  fraksi mol komponen j di distilat

Z j,F  fraksi mol komponen j di umpan

 = relative volatility
D = jumlah distilat, kmol/j
F = jumlah umpan, kmol/j

Komponen B C A

C2H5OH(LK) 0.9453 0.0000 0.9453


H2O(HK) 0.0000 0.0040 0.0040

Sehingga dapat disimpulkan bahwa,

Komponen Keterangan
Terdistribusi
C2H5OH(LK)
Terdistribusi
H2O(HK)

Maka pemilihan light key dan heavy key component sudah benar.

6. Perhitungan Refluks Minimum


Refluk minimum dihitung dengan persamaan Underwood (Coulson, 1989) :
 i .X i ,D
  R m 1 ……………. ( 8 )
i  

92
pada persamaan tersebut terdapat konstanta θ yang merupakan akar persamaan :
 i .X i,F
  1 q ……………. ( 9 )
i 

dimana : Rm = refluk minimum


Xj,D = fraksi mol komponen i didistilat saat refluk minimum
 = konstanta Underwood
q = panas untuk menguapkan 1 mol umpan (panas laten dari
umpan, tergantung kondisi umpan)
Ingat : Jika umpan masuk cair jenuh, maka q = 1
Jika umpan masuk uap jenuh, maka q = 0
Jika umpan masuk campuran cair dan uap, maka 0 < q < 1

Nilai  harus terletak antar  light key dan  heavy key dan dicari dengan cara
trial and error, diperoleh :
 i .X i,F
  0 , karena umpan masuk dalam kondisi cair jenuh, maka q = 1.
i 

Trial θ = 2.1467
 i .xi , f
Komponen xi,f Αi
i 
C2H5OH(LK) 0.0329 2.2339 0.8433
H2O(HK) 0.9671 1.0000 -0.8434
Jumlah 1.0000 0.0000

Penentuan nilai Rm+1:

Komponen Xid Αi αi*Xid /( αi-θ)

C2H5OH(LK) 0.8925 2.2793 15.3470


H2O(HK) 0.1075 1.0000 -0.0937
Jumlah 1.0000 15.2533

93
Maka : Rmin + 1 = 15.2533
Rmin = 14.2533
Jika R = 1.5 Rmin, maka:
R = 21.37995

7. Perhitungan Jumlah Plate Minimum


Jumlah plate minimum dapat diperkirakan dari persamaan yang diajukan oleh
Fenske (1932), yaitu :

 X D  
 X B  LK 
ln  
XD X B  
 
   HK 
Nm  ……………. ( 10 )
 
ln  LK 
 HK 

Didapat :
Nm = 11.7012

Untuk dapat menghitung Nteoritis, maka digunakan rumus:

Nt 
Nm  1 exp K  .…..………..( 11 )
exp K

Dimana:

 1  54 .4      1
K   0 .5  ………………(12 )
 11  117 .2     

R  Rm
 ……………( 13 )
R 1

Didapat; Nt= 12.281 plate.

94
8. Penentuan Plate Umpan
Ditentukan dengan persamaan Kirkbride :

0 , 206
Nrec  X hk   X lk B  B
2

      ……………. ( 14 )
Nstr  X lk  F  X hk D  D

 

dengan : Nrec = jumlah plate diatas feed plate


Nstr = jumlah plate dibawah feed plate
B = Laju alir molar bottom, kmol/jam
D = Laju alir molar distilat, kmol/jam

Diperoleh :
Nrec
= 0.2496
Nstr

Ntot = Nstr + Nrec

Nrec = 2.4533
Nstr = 9.8288

Maka umpan masuk pada plate ke-3.

95
Lampiran 14. Perhitungan rancangan kondensor

Asumsi
Suhu air masuk kondensor : 27°C
Suhu air keluar kondensor : 30°C
Suhu uap masuk kondensor : 81°C
Suhu distilat yang dihasilkan : 30°C
Laju distilasi : 80.3497 gram/jam = 2.2319 x 10-5 kg/s

Perhitungan rancangan
Perhitungan kalor
Kalor yang harus dilepaskan adalah kalor penguapan yang besarnya sama dengan
kalor pengembunan atau berdasarkan asas black
Qair = Qetanol
Qetanol = (m x Cp x ΔT) + (m x L)
Dimana :
Q : kalor yang dihasilkan, J
m : massa etanol yang diuapkan, kg/s
Cp : kalor jenis etanol ,J/Kg K (2460 J/kg K)
ΔT : perbedaan suhu, K
L : kalor laten penguapan etanol J/kg ()
Sehingga
Q = (2.2319 x 10-5 kg/s x 2460 J/kg K x (81 – 30) K) + (2.2319 x 10-5
kg/s x 838300 J/kg)
Q = 21.51 J/s

Penentuan Laju air pendingin


Qair = Qetanol
Maka :
Q = m x Cp x ΔT
Q = 21.51 J/s
Cp = 4180 J/kg K

96
ΔT =3K
Maka :
𝑄
𝑚=
𝐶𝑝 𝑥 𝛥𝑇
21.51
𝑚=
4180 𝑥 3
𝑚 = 0.001715 kg/s

𝑚 = 1.715 𝑔/𝑠

𝑚 = 1.715 𝑐𝑚3 /𝑠

Jadi laju alir air pendingin yang dibutuhkan adalah 1.715 cm 3/s

Perubahan suhu pada kondensor :


Kondensor ini dirancang dengan aliran berlawanan

Uap 81°C KONDENSOR Distilat 30°C


Air keluar 30°C Air masuk 27°C

Perbedaan suhu logaritmik :


Perbedaan suhu logaritmik untuk aliran berlawanan (countercurrent flow) adalah
sebagai berikut :

T1’

T2”

T2’
S
u
h
u T1”

Panjang penukar panas

97
(𝑇1′ − 𝑇2")-(T2'-T1")
𝛥𝑡𝐿𝑀𝑇𝐷 =
ln⁡(𝑇1′ − 𝑇2")/(T2'-T1")

(81 − 30)-(30-27)
𝛥𝑡𝐿𝑀𝑇𝐷 =
ln⁡(81 − 30)/(30-27)

𝛥𝑡𝐿𝑀𝑇𝐷 = 36.624°𝐶

Perpindahan panas antara dua zat alir yang terpisah sekat penghantar dapat
dinyatakan dengan persamaan :
𝑄 = 𝑈𝐴𝛥𝑇

Dimana : Q = jumlah panas yang dipindahkan (W)


A = luas permukaan pindah panas (m2)
ΔT = beda suhu kedua zat alir tersebut
U = koefisien pindah panas menyeluruh (w/m2 K)

𝑄
𝐴=
𝑈 𝛥𝑇 𝑇𝐿𝑀𝑇𝐷

Dimana : Q = jumlah panas yang dipindahkan (W)


A = luas permukaan pindah panas (m2)
ΔTLMTD = beda suhu kedua zat alir tersebut
U = koefisien pindah panas menyeluruh (w/m2 K)

Nilai U yang digunakan adalah 50 w/m2 K.


Maka

21.51
𝐴= = 0.011745 m2
50 𝑥 36.627

Panjang pipa
0.011745 𝑚2
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 = = 0.187 𝑚
4 𝑡𝑎𝑏𝑢𝑛𝑔 0.005𝜋

Jadi panjang pipa adalah 18.7 cm, jika faktor koreksi adalah 1.6 maka panjang
pipa yang dibutuhkan adalah 18.7 x 1.6 = 30 cm.

98
Lampiran 15. Komponen distilator etanol

99
Lampiran 16. Gambar Tampak Samping

100
Lampiran 17. Gambar Kolom Bawah

101