Anda di halaman 1dari 3

Nama : Shelly Puspita Wardani

NIM : 041797294
Smt/Kelas : 3/C
No. Absen : 26

TUGAS TUTORIAL KE-3


KODE/NAMA/SKS MATA KULIAH: EKMA 4157/Organisasi/3
PROGRAM STUDI: S1 MANAJEMEN

1. Berbicara mengenai sentralisasi, jelaskan mengenai bagaimana otoritas dan rantai komando
dalam salah satu organisasi di sekitar anda yang anda ketahui (Boleh organisasi tempat
kerja)!
Jawaban:
Otoritas adalah hak atau kewenangan untuk bertindak atau memerintahkan pihak lain.
Organisasi yang saya ikuti saat ini (organisasi karang taruna) menggunakan otoritas lini,
karena setiap pemegang jabatan bertanggung jawab langsung kepada Ketua Karang Taruna.
Ketua Karang Taruna memiliki otoritas terhadap seluruh kegiatan dari bawahannya.
Otoritas tersebut bisa digambarkan dalam skema organisasi seperti beikut.

Untuk rantai komando dalam organisi karang taruna yang saya ikuti, tampak dari garis-
garis yang menghubungkan kotak-kotak dalam skema organisasi tersebut.
Rantai komando yang terjadi yaitu, pimpinan puncak organisasi (Ketua Karang Taruna)
memiliki tiga bawahan langsung, yaitu Sekretaris, Wakil Ketua, dan Bendahara.
Sekretaris memiliki satu bawahan langsung, yaitu Wakil Sekretaris. Bendahara juga
memiliki satu bawahan langsung, yaitu wakil bendahara. Sedangkan wakil ketua memiliki
empat bawahan langsung, yaitu para pimpinan bidang (yang dinamakan Kepala
Bidang/Kabid), antara lain (1) Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan, (2) Kepala Bidang
Keagamaan dan Kerohanian, (3) Kepala Bidang Sosial, dan (4) Kepala Bidang Olahraga.
Meskipun keempat kepala bidang tersebut dibawahi langgsung oleh wakil ketua, tetapi
mereka tetap bertanggung jawab penuh kepada Ketua Karang Taruna.
Posisi saya saat ini menjadi Sekretaris. Proposal, undangan, atau dokumen apapun yang
saya buat itu berdasarkan perintah ketua, yang nantiya akan diajukan kepada Kepala Desa
untuk dimintakan persetujuannya.

2. Dijelaskan dalam modul bahwa pembahasan mengenai sentralisasi lebih rumit dibandingkan
dengan pembahasan mengenai kompleksitas dan formalisasi, hal ini karena dalam
pembahasan mengenai sentralisasi juga terdapat pembahasan mengenai kompleksitas dan
formalisasi di dalamnya. Jelaskan bagaimana hubungan antara sentralisasi, kompleksitas, dan
formalisasi!
Jawaban:
Hubungan antara sentralisasi, kompleksitas, dan formalisasi
 Sentralisasi dengan Kompleksitas
Kompleksitas perusahaan menunjukkan banyaknya tenaga spesialis/profesional
yang ada dalam perusahaan tersebut, sehingga pengambilan keputusan bisa dipercayakan
pada tingkat manajemen yang lebih rendah (menggunakan desentralisasi). Dengan begitu
kemampuan dan peran tenaga profesional tersebut bisa ditingkatkan dalam perusahaan
meskipun mereka menemppati jabatan yang rendah. Sementara jika makin kompleks
perushaan, sentralisasinya juga semakin tinggi, maka semakin kecil kemungkinan para
pegawai menjalani pelatihan profesional dan semakin kecil pula peluang bagi jabatan yang
ada dalam orgnisasi untuk diisi oleh tenaga profesinal.
Jadi, Kompleksitas dan Sentralisi memiliki hubungan yang berbanding terbalik
antara keduanya. Semakin kompleks organisasi/perusahaan maka akan digunakan derajat
sentralisasi yang rendah. Derajat sentralissi yang rendah tersebut dinamakan desentralisasi.
Di mana manajemen tingkat bawah bisa mengambil keputusan sendiri, tanpa harus
menunggu perintah dari manajemen puncak. Sedangkan, semakin rendah kompleksitas
organisasi/perusahaan maka akan semakin tinggi derajat sentralisasi.

 Sentralisasi dengan Formalisasi


Sentralisasi dan formalisasi tidak demikian jelas hubungannya dibandingkan dengan
hubungan sentralisasi dengan kompleksitas. Namun, untuk menilai apakah organsasi/
perusahaan harus menggunakan sentralisasi yang tinggi atau rendah, kita bisa melihat dari
tipe karyawan perusahaan tersebut (termasuk tipe X atau tipe Y).
Teori X menunjukkan jenis karyawan yang malas, kurang memiliki tanggung jawab,
dan tidak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan. Untuk itu manajemen
cendrung akan membuat otoritas menjadi tersentralisasi. Karena dalam teori X diterapkan
derajat formalisasi yang tinggi, dengan mengonsentrasikan pengambilan keputusan pada
pimpinan puncak organisasi.
Sedangkan Teori Y menunjukkan jenis tenaga kerja yang profesional, sehingga
derajat formalisasi yang digunakan cenderung rendah, maka pperusahaan bisa
menggunakan derajat sentralisasi yang rendah (desentralisasi). Karena tenaga kerja
profesional diyakini bisa bertanggung jawab dan mengambil keputusan sendiri, sehingga
pengambilan keputusan bisa dipercayakan kepada manajemen tingkat bawah. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penumpukan informasi yang
berlebihan pada manajemen puncak, yang bisa menyebabkkan lambatnya pengambilan
keputusan.
Jadi menurut saya, berdasarkan teori X dan Y, semakin tinggi derajat formalisasi
yang ditetapkan organisasi/perusahaan semakin tinggi pula derajat sentralisasi.
Sedangkan, semakin rendah derajat formalisasi yang ditetapkan organisasi/perusahaan
semakin rendah pula derajat sentralisasi (menjadi desentralisasi). Hal tersebut
menunjukkan bahwa hubungan Formalisasi dengan Sentralisasi ini berbanding lurus.

3. Ada 3 tipologi Teknologi Organisasi, yakni Teknologi Organisasi untuk Perusahaan


Manufaktur menurut Woodward, Teknologi Organisasi untuk Perusahaan Non-manufaktur
menurut Thomson, dan Teknologi organisasi untuk perusahaan Manufaktur dan Non
manufaktur menurut Perrow dengan berbagai jenis dan cirinya masing-masing.
Identifikasikan organisasi yang ada di sekitar anda (boleh organisasi tempat bekerja), jelaskan
termasuk tipologi yang mana organisasi yang anda identifikasi tersebut!
Jawaban:
Organisasi yang saya identifikasi adalah tempat kerja saya dulu, yaitu PT. BMI Lamongan.
Berdasarkan hasil identifikasi saya, perusahaan tersebut termasuk tipologi yang
dikembangkan oleh Thomson, yaitu teknologi organisasi untuk perusahaan manufaktur dan
non-manufaktur (yang dalam modul disebut iperatif teknologi). Meskipun PT. BMI
Lamongan termasuk jenis perusahaan manufaktur, namun menurut saya adanya saling
ketergantungan antar bagian dalam proses produksinya menunjukkan karakteristik teknologi
menurut James D. Thomson.
Jenis saling ketergantungan dalam PT. BMI Lamongan (pabrik udang) termasuk jenis
yang ke-2, yaitu Saling-ketergantungan berurutan (sequentiel interdependence), di mana
output dari suatu bagian akan menjadi input untuk bagian berikutnya.
Departemen produksi perusahan tersebut terdiri dari beberapa bagian, mulai dari bagian
penerimaan bahan, bagian potong kepala, bagian kupas, bagian rendaman, bagian pembekuan
(raw/cook), bagian packing, bagian penyimpanan (penggudangan produk jadi), dan bagian
ekspedisi (ekspor). Di mana otput dari bagian pertama menjadi input bagian kedua, output
bagian kedua menjadi input bagian ketiga, dan begitu seterusnya.
Dari bagian penerima bahan memberikan input ke bagian potong kepala berupa udang
yang masih utuh, untuk diambil/dipotong kepalanya. Kemudian output dari bagian potong
kepala diserahkan ke bagian kupas, untuk diambil kulitnya dan dibersihkan kotorannya (atau
untuk dipotong sesuai permintaan buyer). Lalu, output dari bagian kupas berupa udang yang
sudah bersih tadi diserahkan ke bagian rendaman untuk diberi bumbu dan direndam sesuai
ketentuan waktu tertentu atau sampai memenuhi rendemen. Selanjutnya, output dari bagian
rendaman berupa udang yang telah memenuhi rendemen diserahkan ke bagian pembekuan
untuk disortir dan dibekukan. Pada pembekuan raw udang langsung dibekukan dalam
kondisi mentah, sedangkan pada bagian cook ada tambahan proses pengopenan, sebelum
akhirnya udang yang matang tersebut dibekukan. Tujuan pembekuan ini adalah untuk
menjaga agar kondisi udang tetap segar hingga saat sampai ke negara tujuan ekspor.
Selanjutnya, output dari bagian pembekuan tersebut menjadi input bagi bagian packing,
untuk dikemas dan diberi label. Kemudian, udang yang sudah di-packing tersebut dikirimkan
ke bagian penyimpanan, untuk disimpan terlebih dahulu smpai waktu ekspor yang ditentukan
tiba.
Demikian, hubungan saling ketergantungan dalam pabrik udang tersebut. Jika bagian
bagian pembekuan telah menyelesaikan tugasnya, namun udang dari bagian rendaman belum
memenuhi rendemen, maka bagian pembekuan tidak bisa beroperasi. Begitu juga saat bahan
untuk bagian kupas habis atau belum selesai dikerjakan oleh bagian potong kepala, maka
kegiatan produksi di bagian kupas pun akan terhenti, begitu juga bagian-bagian lainnya.
Karena bahan dari bagian penerimaan bahan dan bagian potong kepala merupakan input
untuk bagian-bagian berikutnya sesuai urutannya.