Anda di halaman 1dari 11

Kegiatan Bank

Sebagai lembaga keuangan yang berorientasi bisnis, bank juga melakukan berbagai
kegiatan, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank
sehari-hari tidak akan terlepas dari bidang keuangan. Kegiatan perbankan yang paling pokok
adalah membeli uang dengan cara menghimpun dana dari masyarakat luas. Kemudian menjual
uang yang berhasil dihimpun dengan cara menyalurkan kembali kepada masyarakat melalui
pemberian pinjaman atau kredit.

Dari kegiatan jual beli uang inilah bank akan memperoleh keuntungan yaitu dari selisih
harga beli (bunga simpanan) dengan harga jual (bunga pinjaman). Disamping itu kegiatan bank
lainnya dalam rangka mendukung kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana adalah
memberikan jasa-jasa lainnya. Kegiatan ini ditujukan untuk memperlancar kegiatan
menghimpun dan menyalurkan dana.

Dalam praktiknya kegiatan bank dibedakan sesuai dengan jenis bank tersebut. Setiap jenis
bank memiliki ciri dan tugas tersendiri dalam melakukan kegiatannya, misalnya dilihat dari segi
fungsi bank yaitu antara kegiatan bank umum dengan kegiatan bank perkreditan rakyat, jelas
memiliki tugas atau kegiatan yang berbeda.

Kegiatan bank umum lebih luas dari bank perkreditan rakyat. Artinya produk yang
ditawarkan oleh bank umum lebih beragam, hal ini disebabkan bank umum mempunyai
kebebasan untuk menentukan produk dan jasanya. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat
mempunyai keterbatasan tertentu, sehingga kegiatannya lebih sempit. Untuk lebih jelasnya
berikut ini akan dijelaskan kegiatan masing-masing jenis bank dilihat dari segi fungsinya.

A. KEGIATAN BANK UMUM

Bank umum atau yang lebih dikenal dengan nama bank komersil merupakan bank yang
paling banyak beredar di Indonesia. Bank umum juga memiliki berbagai keunggulan jika
dibandingkan dengan BPR, baik dalam bidang ragam pelayanan maupun jangkauan wilayah
operasinya. Artinya bank umum memiliki kegiatan pemberian jasa yang paling lengkap dan
dapat beroperasi diseluruh wilayah Indonesia.

Dalam praktiknya ragam produk tergantung dari status bank yang bersangkutan. Menurut
status bank umum dibagi kedalam dua jenis, yaitu bank umum devisa dan bank umum non
devisa. Masing-masing status memberikan pelayanan yang berbeda. Bank umum devisa
misalnya memiliki jumlah layanan jasa yang paling lengkap seperti dapat melakukan kegiatan
yang berhubungan dengan jasa luar negeri. Sedangkan bank umum non devisa sebaliknya
tidak dapat melayani jasa yang berhubungan dengan luar negeri.

Kegiatan bank umum secara lengkap meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Menghimpun Dana (Funding)

Kegiatan menghimpun dana merupakan kegiatan membeli dana dari masyarakat. Kegiatan
ini dikenal juga dengan kegiatan funding. Kegiatan membeli dana dapat dilakukan dengan cara
menawarkan berbagai jenis simpanan. Simpanan sering disebut dengan nama rekening atau
account. Jenis-jenis simpanan yang ada dewasa ini adalah:

a. Simpanan Giro (Demand Deposit),


Simpanan giro merupakan simpanan pada bank yang penarikannya dapat dilakukan
dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Kepada setiap pemegang rekening giro
akan diberikan bunga yang dikenal dengan nama jasa giro. Besarnya jasa giro
tergantung dari bank yang bersangkutan. Rekening giro biasa digunakan oleh para
usahawan, baik untuk perorangan maupun perusahaannya. Bagi bank jasa giro
merupakan dana murah karena bunga yang diberikan kepada nasabah relatif lebih
rendah dari bunga simpanan lainnya.

b. Simpanan Tabungan (Saving Deposit),


Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan oleh bank. Penarikan tabungan dilakukan menggunakan buku tabungan,
slip penarikan, kuitansi atau kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang
rekening tabungan akan diberikan bunga tabungan yang merupakan jasa atas
tabungannya. Sama seperti halnya dengan rekening giro, besarnya bunga tabungan
tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga tabungan lebih
besar dari jasa giro.

c. Simpanan Deposito (Time Deposit),


Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu (jatuh tempo).
Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut. Namun saat ini sudah ada
bank yang memberikan fasilitas deposito yang penarikannya dapat dilakukan setiap
saat. jenis depositopun beragam sesuai dengan keinginan nasabah. Dalam praktiknya
jenis deposito terdiri dari deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call.

2. Menyalurkan Dana (Lending)

Menyalurkan dana merupakan kegiatan menjual dana yang berhasil dihimpun dari
masyarakat. Kegiatan ini dikenal dengan nama kegiatan Lending. Penyaluran dana yang
dilakukan oleh bank dilakukan melalui pemberian pinjaman yang dalam masyarakat lebih
dikenal dengan nama kredit. Kredit yang diberikan oleh bank terdiri dari beragam jenis,
tergantung dari kemampuan bank yang menyalurkannya. Demikian pula dengan jumlah serta
tingkat suku bunga yang ditawarkan.

Sebelum kredit dikucurkan bank terlebih dulu menilai kelayakan kredit yang diajukan oleh
nasabah. Kelayakan ini meliputi berbagai aspek penilaian. Penerima kredit akan dikenakan
bunga kredit yang besarnya tergantung dari bank yang menyalurkannya. Besar kecilnya bunga
kredit sangat mempengaruhi keuntungan bank, mengingat keuntungan utama bank adalah dari
selisih bunga kredit dengan bunga simpanan. Secara umum jenis-jenis kredit yang ditawarkan
meliputi :

a. Kredit Investasi,
Yaitu merupakan kredit yang diberikan kepada pengusaha yang melakukan investasi
atau penanaman modal. Biasanya kredit jenis ini memiliki jangka waktu yang relatif
panjang yaitu di atas 1(satu) tahun. Contoh jenis kredit ini adalah kredit untuk mem-
bangun pabrik atau membeh peralatan pabrik seperti mesin-mesin.

b. Kedit Modal Kerja,


Merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit jenis ini
berjangka waktu pendek yaitu tidak.lebih dari 1 (satu) tahun. Contoh kredit ini adalah
untuk membeli bahan baku, membayar gaji karyawan dan modal kerja lainnya.

c. Kredit Perdagangan,
Merupakan kredit yang diberikan kepada para pedagang dalam rangka memperlancar
atau memperluas atau memperbesar kegiatan perdagangannya. Contoh jenis-kredit ini
adalah kredit untuk membeli barang dagangan yang diberikan kepada para suplier
atau agen.

d. Kredit Produktif,
Merupakan kredit yang dapat berupa investasi, modal keda atau perdagangan. Dalam
arti kredit ini diberikan untuk diusahakan kembali sehingga pengembalian kredit
diharapkan dari hasil usaha yang dibiayai.
e. Kredit Konsumtif,
Merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan pribadi misainya keperluan
konsumsi, baik pangan, sandang maupun papan. Contoh jenis kredit ini adalah kredit
perumahan, kredit kendaraan bermotor yang kesemuanya untuk dipakai sendiri.

f. Kredit Profesi,
Merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan profesional seperti dosen,
dokter atau pengacara.

3. Memberikan jasa- jasa Bank Lainnya (Services)

Jasa-jasa bank lainnya merupakan kegiatan penunjang untuk mendukung kelancaran


kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana. Sekalipun sebagai kegiatan penunjang, kegiatan
ini sangat banyak memberikan keuntungan bagi bank dan nasabah, bahkan dewasa ini
kegiatan ini memberikan kontribusi keuntungan yang tidak sedikit bagi keuntungan bank,
apalagi keuntungan dari spread based semakin mengecil, bahkan cenderung negatif spread
(bunga simpanan lebih besar dari bunga kredit).

Semakin lengkap jasa-jasa bank yang dapat dilayani oleh suatu bank maka akan semakin
baik. Kelengkapan ini ditentukan dari permodalan bank serta kesiapan bank dalam
menyediakan SDM yang handal. Disamping itu ,juga perlu didukung oleh kecanggihan teknologi
yang dimilikinya. Dalam praktiknya jasa-jasa bank yang ditawarkan meliputi :

a. Kiriman Uang (Transfer)

Merupakan jasa pengiriman uang lewat bank. Pengiriman uang dapat dilakukan pada
bank yang sama atau bank yang berlainan. Pengiriman uang juga dapat dilakukan
derigan tujuan dalam kota, luar kota atau luar negeri. Khusus untuk pengiriman uang
keluar negeri harus melalui bank devisa. Kepada nasabah pengirim dikenakan biaya
kirim yang besarnya tergantung dari bank yang bersangkutan. Pertimbangannya
adalah nasabah bank yang bersangkutan (memiliki rekening di bank yang
bersangkutan) atau bukan. Kemudian juga jarak pengiriman antar bank tersebut.

b. Kliring (Clearing)

Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet giro) yang
berasal dari dalam kota. Proses penagihan lewat kliring hanya memakan waktu 1
(satu) hari. Besarnya biaya penagihan tergantung dari bank yang bersangkutan.

c. Inkaso (Collection)

Merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet giro) yang
berasal dari luar kota atau luar negeri. Proses penagihan lewat inkaso tergantung dari
jarak lokasi penagihan dan biasanya memakan waktu 1 (satu) minggu sampai 1 (satu)
bulan. Besarnya biaya penagihan tergantung dari bank yang bersangkutan dengan
pertimbangan jarak serta pertimbangan lainnya.

d. Safe Deposit Box

Safe Deposit Box atau dikenal dengan istilah safe loket jasa pelayanan ini memberikan
layanan penyewaan box atau kotak pengaman tempat menyimpan surat-surat
berharga atau barang-barang berharga milik nasabah. Biasanya surat-surat atau
barang-barang berharga yang disimpan di dalam box tersebut aman dari pencurian
dan kebakaran. Kepada nasabah penyewa box dikenakan biaya sewa yang besarnya
tergantung dari ukuran box serta jangka waktu penyewaan.
e. Bank Card (Kartu kredit)

Bank card atau lebih populer dengan sebutan kartu kredit atau juga uang plastik. Kartu
ini dapat dibelanjakan di berbagaf tempat perbelanjaan atau tempat-tempat hiburan.
Kartu ini juga dapat digunakan untuk mengambil uang tunai di ATM-ATM yang tersebar
diberbagai, tempat yang strategis. Kepada pemegang kartu kredit dikenakan biaya
iuran tahunan yang besarnya tergantung dari bank yang mengeluarkan. Setiap
pembelanjaan memiliki tenggang waktu pembayaran dan akan dikenakan bunga dari
jumlah uang yang telah dibelanjakan jika melewati tenggang waktu yang telah
ditetapkan.

f. Bank Notes

Merupakan jasa penukaran valuta asing. Dalam jual beli bank notes bank
menggunakan kurs (nilai tukar rupiah dengan mata uang asing).

g. Bank Garansi

Merupakan jaminan bank yang diberikan kepada nasabah dalam rangka membiayai
suatu usaha. Dengan jaminan bank ini si pengusaha memperoleh fasilitas untuk
melaksanakan kegiatannya dengan pihak lain. Tentu sebelum jaminan bank
dikeluarkan bank terlebih dulu mempelajari kredibilitas nasabahnya.

h. Bank Draft

Merupakan wesel yang dikeluarkan oleh bank kepada para nasabahnya. Wesel ini
dapat diperjualbelikan apabila nasabah membutuhkannya.

i. Letter of Credit (L/C)

Merupakan surat kredit yang diberikan kepada para eksportir dan importir yang
digunakan untuk melakukan pembayaran atas transaksi ekspor-impor yang mereka
lakukan. Dalam transaksi ini terdapat berbagai macam jenis L/C, sehingga nasabah
dapat meminta sesuai dengan kondisi yang diinginkannya.

j. Cek Wisata (Travellers Cheque)

Merupakan cek perjalanan yang biasa digunakan oleh turis atau wisatawan. Cek
Wisata dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran diberbagai tempat pembelanjaan
atau hiburan seperti hotel, supermarket. Cek Wisata juga bisa digunakan sebagai
hadiah kepada para relasinya.

k. Menerima setoran-setoran.

Dalam hal ini bank membantu nasabahnya dalam rangka menampung setoran dari
berbagai tempat antara lain :

- Pembayaran pajak
- Pembayaran telepon
- Pembayaran air
- Pembayaran listrik
- Pembayaran uang kuliah

l. Melayani pembayaran-pembayaran.

Sama halnya seperti dalam hal menerima setoran, bank juga melakukan pembayaran
seperti yang diperintahkan oleh nasabahnya antara lain :
- Membayar Gaji/Pensiun/honorarium
- Pembayaran deviden Pembayaran kupon
- Pembayaran bonus/hadiah

m. Bermain di dalam pasar modal.

Kegiatan bank dapat memberikan atau bermain surat-surat berharga di pasar modal.
Bank dapat berperan dalam berbagai kegiatan seperti menjadi :

- Penjamin emisi (underwriter)


- Penjamin (guarantor)
- Wali amanat (trustee)
- Perantara perdagangan efek (pialang/broker)
- Pedagang efek (dealer)
- Perusahaan pengelola dana (invesment company)

B. KEGIATAN BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR)

Kegiatan BPR pada dasarnya sama dengan kegiatan Bank umum, hanya yang menjadi
perbedaan adalah jumlah jasa bank yang dilakukan BPR jauh lebih sempit. BPR dibatasi oleh
berbagai persyaratan, sehingga tidak dapat berbuat seleluasa bank umum. Keterbatasan
kegiatan BPR juga dikaitkan dengan misi pendirian BPR itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan
BPR adalah sebagai berikut :

1. Menghimpun dana hanya dalam bentuk :

- Simpanan Tabungan
- Simpanan Deposito

2. Menyalurkan dana dalam bentuk :

- Kredit Investasi
- Kredit Modal Kerja
- Kredit Perdagangan

Karena keterbatasan yang dimiliki oleh BPR, maka ada beberapa larangan yang tidak
boleh dilakukan BPR. Larangan ini meliputi hal-hal sebagai berikut :

- Menerima Simpanan Giro


- Mengikuti Miring
- Melakukan Kegiatan Valbta Asing
- Melakukan kegiatan Perasuransian

C. KEGIATAN BANK CAMPURAN DAN BANK ASING

Bank-bank asing dan bank campuran yang bergerak di Indonesia adalah jelas bank umum.
Kegiatan bank asing dan bank campuran, memiliki tugasnya sama dengan bank umum lainnya.
Yang membedakan kegiatannya dengan bank umum milik Indonesia adalah mereka lebih
dikhususkan dalam bidang-bidang tertentu dan ada larangan tertentu pula dalam melakukan
kegiatannya.
Adapun kegiatan bank asing dan bank campuran di Indonesia dewasa ini adalah :

1. Dalam mencari dana bank asing dan bank campuran juga membuka simpanan.giro dan
simpanan deposito namun dilarang menerima simpanan dalam bentuk tabungan.

2. Dalam hal pemberian kredit yang diberikan lebih diarahkan ke bidang-bidang tertentu saja
seperti dalam bidang :

- Perdagangan Internasional
- Bidang Industri dan Produksi
- Penanaman Modal Asing/Campuran
- Kredit yang tidak dapat dipenuhi oleh bank swasta nasional.

3. Sedangkan khusus untuk jasa-jasa bank lainnya juga dapat dilakukan oleh bank umum
campuran dan asing sebagaimana layaknya bank umum yang ada di Indonesia seperti
berikut ini :

- Jasa TransferJasa Miring


- Jasa Inkaso
- Jasa Jual Beli Valuta Asing
- Jasa Bank Card (kartu kredit)
- Jasa Bank Draft
- Jasa Safe Deposit Box
- Jasa Pembukaan dan Pembayaran L/C
- Jasa Bank Garansi
- Jasa Bank Notes
- Jasa Jual Beli Travellers Cheque
- dan jasa bank umum lainnya
Penilaian Kesehatan Bank dan Penggabungan Usaha Bank

Kesehatan merupakan hal yang paling penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik
bagi manusia maupun perusahaan. Kondisi yang sehat akan meningkatkan gairah kerja dan
kemampuan kerja serta kemampuan lainnya. Sama seperti hanya manusia yang harus selalu
menjaga kesehatannya, perbankan juga harus selalu dinilai kesehatannya agar tetap prima
dalam melayani para nasabahnya. Bank yang tidak sehat, bukan hanya membahayakan dirinya
sendiri, akan tetapi pihak lain. Penilaian kesehatan bank amat penting disebabkan karena bank
mengelola dana masyarakat yang dipercayakan kepada bank. Masyarakat pemilik dana dapat
saja menarik dana yang dimilikinya setiap saat clan bank harus sanggup mengembalikan dana
yang dipakainya jika ingin tetap dipercaya oleh nasabahnya.

Untuk menilai suatu kesehatan bank dapat dilihat dari berbagai segi. Penilaian ini bertujuan
untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat
atau tidak sehat. Bagi bank yang sehat agar tetap mempertahankan kesehatannya, sedangkan
bank yang sakit untuk segera mengobati penyakitnya. Bank Indonesia sebagai pengawas dan
pembina bank-bank dapat memberikan arahan atau petunjuk bagaimana bank tersebut harus
dijalankan atau bahkan kalau perlu dihentikan kegiatan operasinya.

Standar untuk melakukan penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh pemerintah
melalui Bank Indonesia. Kepada bank-bank diharuskan membuat laporan baik yang bersifat
rutin ataupun secara berkala mengenai seluruh aktivitasnya dalam suatu periode tertentu. Dari
laporan ini dipelajari dan dianalisis, sehingga dapat diketahui kondisi suatu bank. Dengan
diketahui kondisi kesehatannya akan memudahkan bank itu sendiri untuk memperbaiki
kesehatannya

Penilaian kesehatan bank dilakukan setiap periode. Dalam setiap penilaian ditentukan
kondisi suatu bank. Bagi bank yang sudah dinilai sebelumnya dapat pula dinilai apakah ada
peningkatan atau penurunan kesehatannya. Bagi bank yang menurut penilaian sehat atau
kesehatannya terus meningkat tidak jadi masalah, karena itulah yang diharapkan dan supaya
tetap dipertahankan terus. Akan tetapi bagi bank yang terus-menerus tidak sehat, maka harus
mendapat pengarahan atau bahkan sangsi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina perbankan dapat saja menyarankan untuk
melakukan berbagai perbaikan. Perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan meliputi perubahan
manajemen, melakukan penggabungan seperti merger, konsolidasi, akuisisi atau malah
dilikuidasi (dibubarkan) keberadaannya jika memang sudah parah kondisi bank tersebut.
Pertimbangan untuk hal ini sangat tergantung dari kondisi yang dialami bank yang
bersangkutan. Jika kondisi bank sudah sedemikian parah, namun masih memiliki beberapa
potensi, maka sebaiknya dicarikan jalan keluarnya dengan model penggabungan usaha dengan
bank lainnya. Sedangkan langkah likuidasi merupakan jalan keluar terakhir dalam rangka
menyelamatkan uang masyarakat.

A. ASPEK-ASPEK PENILAIAN

Penilaian untuk menentukan kondisi suatu bank; biasanya menggunakan berbagai alat
ukur. Salah satu alat ukur yang utama yang digunakan untuk menentukan kondisi suatu bank
dikenal dengan nama analisis CAMEL. Analisis ini terdiri dari aspek capital, assets,
management, earning dan liquidity. Hasil dari masing-masing aspek ini kemudian akan
menghasilkan kondisi suatu bank.

1. Aspek Permodalan (Capital)

Penilaian pertama adalah aspek permodalan (capital) suatu hank. Dalam aspek ini yang
dinilai adalah permodalan yang dimiliki oleh bank yang didasarkan kepada kewajiban
penyediaan modal minimum bank. Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital
Adequacy Ratio) yang telah ditetapkan BI. Perbandingan rasio CAR adalah rasio modal
terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (AMTR). Sesuai ketentuan yang telah
ditetapkan pemerintah, maka CAR perbankan untuk tahun 2002 minimal harus 8%. Bagi
bank yang memiliki CAR di bawah 8% harus segera memperoleh perhatian dan penanganan
yang serius untuk segera diperbaiki. Penambahan CAR untuk mencapai seperti yang
ditetapkan memerlukan waktu, seliingga pemerintahpun memberikan waktu sesuai dengan
ketentuan. Apabila sampai waktu yang telah ditentukan target CAR tidak tercapai, maka
bank yang bersangkutan akan dikenakan sangsi.

2. Aspek Kualitas Aset (Asets)

Aspek yang kedua adalah mengukur kualitas aset bank. Dalam hal ini upaya yang dilakukan
adalah untuk menilai jenis-jenis aset y;ing dimiliki oleh bank. Penilaian aset harus sesuai
dengan Peraturan Bank Indonesia dengan memperbandingkan antara aktiva produktif yang
diklasifikasikan terhadap aktiva produktif. Kemudian rasio penyisihan penghapusan aktiva
produktif terhadap aktiva produktif diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat dari neraca yang
telah dilaporkan secara berkala kepada Bank Indonesia.

3. Aspek Kualitas Manajemen (Management)

Penilaian yang ketiga meliputi penilaian kualitas manajemen bank. Untuk menilai kualitas
manajemen dapat dilihat hari kualitas manusianya dalam mengelola bank. Kualitas manusia
juga dilihat dari segi pendidikan serta pengalaman para karyawannya dalam menangani
berbagai kasus yang terjadi. Dalam aspek ini yang dinilai adalah manajemen permodalan,
manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen
likuiditas. Penilaian didasarkan kepada jawaban dari 250 pertanyaan yang diajukan
mengenai manajemen bank yang bersangkutan.

4. Aspek Earning

Merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan
keuntungan. Kemampuan ini dilapokan dalam suatu periode. Kegunaan aspek ini juga untuk
mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank bersangkutan. Bank
yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas terus meningkat di atas standar yang
telah ditetapkan. Penilaian ini meliputi juga hal-hal seperti :
a. Rasio laba terhadap Total Aset (ROA).
b. dan Perbandingan biaya operasi dengan pendapatan operasi (BOPO).

5. Aspek Likuiditas (Liquidity)

Aspek kelima adalah penilaian terhadap aspek likuiditas bank. Suatu bank dapat diikatakan
likuid, apabila bank yang bersangkutan mampu membayar semua hutangnya terutama
hutang-hutang jangka pendek. Dalam hal ini yang dimaksud dengan hutang-hutang jangka
pendek yang ada di bank antara lain adalah simpanan masyarakat seperti simpanan
tabungan, giro dan deposito. Dikatakan likuid jika pada saat ditagih bank mampu membayar.
Kemudian bank juga harus dapat pula memenuhi semua permohonan kredit yang layak
dibiayai. Penilaian aspek ini meliputi :
a. Rasio kewajiban bersih Call Money terhadap Aktiva Lancar
b. Rasio kredit terhadao dana yang diterima bank seperti KLBI, giro, tabungan, deposito
dan lain-lain.

Disamping dengan penilaian analisis CAMEL, Kesehatan bank juga dipengaruhi hasil
penilaian lainnya yaitu penilaian terhadap :
1. Ketentuan pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Kecil (KUK) dan Pelaksanaan Kredit
Ekspor.
2. Pelanggaran terhadap ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) atau
sering disebut Legal Lending Limit.
3. Pelanggaran Posisi Devisa Netto.

Penentuan bobot didasarkan kepada masing-masing aspek diatas diberikan nilai,


kemudian dijumlahkan secara keseluruhan dari komponen yang dinilai. Secara garis besar hasil
dari penilaian ini ditetapkan ke dalam 4 golongan predikat kesehatan bank.

Hasil penilaian terhadap analisis CAMEL, kemudian dituangkan dalam bentuk angka yang
diberikan bobot sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Bobot nilai ini diberkan sebagai nilai
kredit. Dari bobot nilai ini clapat dipastikan kondisi suatu bank. Batas minimal clan maksimal
untuk menentukan predikat suatu bank dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Nilai Kredit Predikat

81 - 100 Sehat
66 - <81 Cukup Sehat
51 - < 66 Kurang Sehat
0 - < 51 Tidak Sehat

B. PENGGABUNGAN USAHA BANK

Hasil penilaian yang diumumkan pemerintah sangat menentukan masa depan perbankan
yang bersangkutan, mengingat dunia perbankan yang mengelola bisnis kepercayaan. Masalah
kepercayaan adalah masalah sensitif, oleh karena itu harus tetap dijaga dari hal-hal yang
bersifat negatif. Artinya kalau masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada salah satu bank,
karena penilaian yang jelek terhadap kondisinya, maka dampaknya akan merugikan bank
tersebut. Kepercayaan ini disebabkan karena kegiatannya menyangkut uang masyarakat. Bagi
bank yang dinyatakan sehat justru sangat menguntungkan karena dapat menaikkan pamornya
dimata para nasabahnya atau calon nasabahnya. Namun bagi bank yang tidak sehat untuk
beberapa periode maka disarankan untuk melaksanakan penggabungan usaha dengan bank
lainnya.

Dalam praktiknya penggabungan dalam dunia perbankan tidak hanya bagi bank yang
dinilai tidak sehat saja, akan tetapi bank yang sehatpun dapat pula bergabung dengan bank
lainnya sesuai dengan tujuan bank tersebut. Sebagai contoh bank dapat bergabung dengan
tujuan untuk menguasai pasar. Namun biasanya penggabungan antar bank yang tidak sehat
lebih diutamakan.

Terdapat beberapa bentuk penggabungan yang dapat dipilih suatu bank. Pertimbangannya
adalah tergantung dari kondisi bank dan keinginan pemilik bank lama. Masing-masing bentuk
mempunyai keunggulan dan kerugian sendiri. Tentu saja pemilihan bentuk penggabungan ini
didasarkan kepada tujuan perbankan tersebut. Jenis-jenis penggabungan yang dapat dipilih
dan yang biasa dilakukan di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Merger
Merger adalah penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara tetap mempertahankan
berdirinya salah sate dari bank yang ikut merger dan membubarkan bank-bank lainnya tanpa
melikuidasi terlebih dulu.
Penggabungan tersebut dapat dilakukan dengan cara menggabungkan seluruh saham bank
lainnya yang ikut bergabung menjadi satu dengan bank yang dipilih untuk dijadikan bank yang
akan dipertahankan. Biasanya bank hasil merger memakai salah satu nama yang dipilih secara
bersama. Sebagai contoh: Bank Maras melakukan merger dengan Bank Menumbing dan
disepakati memakai nama Bank Maras, maka nama Bank Menumbing diganti menjadi bank
Maras.

2. Konsolidasi
Yaitu penggabungan dari dua bank atau lebih dengan cara mendirikan bank baru dan
membubarkan hank-bank yang ikut konsolidasi tersebut tanpa melikuidasi terlebih dulu.
Contoh konsolidasi, misalnya Bank Maras melakukan konsolidasi dengan Bank Menumbing,
maka nama kedua bank tersebut dibubarkan dan menamakan bank yang baru, misalnya
Bank Mangkol.

3. Akuisisi
Merupakan pengambil-alihan kepemilikan suatu bank yang berakibat beralihnya
pengendalian terhadap bank. Dalam penggabungan dengan bentuk akuisisi biasanya nama
bank yang diakuisisi tidak berubah dan yang berubah hanyalah kepemilikannya. Contoh di
atas misalnya Bank Maras diakuisisi oleh Bank Menumbing maka nama Bank Maras tidak
berubah dan yang berubah adalah kepemilikannya saja yaitu menjadi milik Bank
Menumbing.

Usaha penggabungan model di atas sering disebut dengan penggabungan model


horizontal. Jenis penggabungan lainnya yang sering dilakukan penggabungan secara vertikal
yaitu dengan cara menggabungkan beberapa usaha mulai dari usaha yang bergerak dalam
industri hilir ke usaha yang bergerak dalam usaha industri hulu. Dengan kata lain mulai dari
perusahaan penyedia bahan baku sampai dengan perusahaan yang menjual barang jadi dari
bahan baku tersebut.

C. ALASAN PENGGABUNGAN

Untuk memutuskan bergabung dengan perusahaan lain bukanlah perkara yang mudah.
Keputusan bergabung diambil karena suatu alasan yang sangat kuat. Jadi sebelum melakukan
penggabungan badan usahanya, setiap perusahaan tentu mempunyai maksud tertentu yang
ingin dicapainva. Demikian pula jenis penggabungan yang akan dipilih juga dilakukan dengan
berbagai macam pertimbangan.

Terdapat beberapa alasan suatu bank atau suatu perusahaan untuk melakukan
penggabungan baik penggabungan secara Merger, Konsolidasi maupun Akuisisi. Alasan yang
biasa dipakai yaitu antara lain :

1. Masalah Kesehatan
Apabila bank sudah dinyatakan tidak sehat oleh Bank Indonesia setelah melalui beberapa
perbaikan sebelumnya, maka sebaiknya bank tersebut melakukan penggabungan. Pilihan
penggabungan tentunya dengan bank yang sehat. Jika bank yang digabungkan sama-sama
dalam kondisi tidak sehat maka sebaiknya pilihan penggabungan adalah konsolidasi atau
dapat pula diakuisisi oleh bank lain yang sehat.

2. Masalah Permodalan
Apabila modal suatu bank dirasakan kecil sehingga sulit untuk melakukan perluasan usaha,
maka bank dapat bergabung dengan satu atau beberapa bank sehingga modal dimiliki
menjadi besar. Sebagai contoh Bank Maras hanva memiliki modal 5 milyar dengan 12 buah
cabang bergabung dengan Bank Mangkol yang memiliki modal 10 milyar clan memiliki 20
cabang. Gabungan kedua bank tersebut sekarang memiliki modal 15 milyar dan 32 cabang.
Dengan adanya penggabungan atau usaha peleburan otomatis lebih mudah untuk
mengembangkan usahanya. Yang jelas setelah melakukan penggabungan modal dan
cabang dari beberapa bank yang ikut bergabung akan bertambah besar.
3. Masalah Manajemen
Manajemen bank yang sembrawut atau kurang profesional sehingga, perusahaan terus
merugi dan sulit untuk berkembang. Jenis bank inipun sebaiknya melakukan penggabungan
usaha atau peleburan usaha dengan bank yang lebih profesional yang terkenal dengan
kualitas manajemennya.

4. Teknologi dan Administrasi.


Bank yang menggunakan teknologi yang masih tradisional sangat menjadi masalah. Dalam
perkembangan yang sedemikian cepat diperlukan teknologi yang canggih. Untuk
memperoleh teknologi yang canggih diperlukan modal yang tidak sedikit. JaIan keluar yang
dipilih adalah melakukan penggabungan dengan bank yang sudah memiliki teknologi yang
canggih. Demikian pula bagi bank yang kurang teratur dan masih tradisional dalam hal
administrasinya, sebaiknya bank melakukan penggabungan atau peleburan sehingga
diharapkan administrasinya menjadi lebih baik.

5. Ingin Menguasai Pasar.


Tujuan ingin menguasai pasar tidak diumumkan secara jelas kepada pihak luar dan
biasanya hanya diketahui oleh mereka yang hendak ikut bergabung. Dengan adanya
penggabungan dari beberapa bank, maka jumlah cabang dan jumlah nasabah yang dimiliki
bertambah. Tujuan ini juga dilakukan untuk menghilangkan atau melawan pesaing yang ada.

Keinginan untuk mengadakan penggabungan bank, baik penggabungan secara merger,


konsolidasi atau akuisisi dapat dilakukan atas :

1) Inisiatif bank yang bersangkutan atau


2) Permintaan Bank Indonesia atau
3) Inisiatif badan khusus Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Dalam melakukan penggabungan, maka pihak perbankan hendaknya memenuhi beberapa


peraturan dan persyaratan yang telah ditetapkan. Izin untuk melakukan Merger, Konsolidasi
atau Akuisisi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1) Telah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) bagi bank
yang berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas atau rapat sejenis bagi bank yang
berbentuk lainnya.
2) Memenuhi rasio kecukupan modal yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
3) Calon anggota Direksi dan Dewan Komisaris tidak termasuk daftar orang yang tercela
dibidang perbankan.
4) Dalam hal akuisisi, maka bank wajib memenuhi ketentuan mengenai pengertian modal
oleh bank yang diatur oleh Bank Indonesia.