Anda di halaman 1dari 31

KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Jawaban Nomor 1:

SURAT KUASA

No. 03/SKK.TUN/I/2020

Yang bertanda tangan di bawah ini:

1. Nama : Eka Suryadinata, S.E., M.M.


Kewarganegaraan : Indonesia
Tempat Tinggal : Jalan Margonda Raya No. 23, Kec. Pancoran Mas, Kota
Depok, Jawa Barat
Pekerjaan : Wiraswasta
2. Nama : Yudha Hanianta, S.T.
Kewarganegaraan : Indonesia
Tempat Tinggal : Jalan Raya Cinangka Kav. Pertamina No. 3, Cinangka,
Kedaung, Kec. Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat
Pekerjaan : Wiraswasta

Bersama-sama untuk selanjutnya disebut sebagai -------------------------------- PEMBERI KUASA

Dalam perkara ini memilih domisili di Kantor kuasanya sebagaimana akan disebut di bawah ini,
dengan ini memberikan kuasa kepada:

1. Bagus Aliansyah, S.H.


2. Rina Sejati, S.H.
3. Bagas Syahri, S.H.

Kesemuanya merupakan Advokat berkewarganegaraan Indonesia pada Kantor Hukum Kutawa &
Rekan yang beralamat di Jl. Diponegoro No. 40, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Bandung,
Jawa Barat 40115, yang bertindak baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama disebut
sebagai ------------------------------------------------------------------------------- PENERIMA KUASA

-------------------------------------------------KHUSUS-------------------------------------------------------
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Untuk dan atas nama Pemberi Kuasa, sebagai Penggugat, untuk mendampingi dan mewakili
kepentingan Pemberi Kuasa untuk mengajukan gugatan Tata Usaha Negara sehubungan dengan
telah diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-
OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun
2015-2020, serta diterbitkannya Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor:
28/HK.03.1-Kpts/2341/KPU-Kota/III/2020, tentang Penetapan perubahan Ke-Empat atas
Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 56/HK.03.1-Kpts/2341/KPU-
Kota/IX/2020, tentang Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum
2021 Periode 2021-2026, tertanggal 4 Juli 2020, melawan:

1. Nama : Ridwana Kamilail, S.T.


Jabatan : Gubernur Jawa Barat
Tempat Kedudukan : Jalan Diponegoro No. 22, Citarum, Kecamatan Bandung
Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat

Untuk selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------------------------- TERGUGAT I

2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok, bertempat kedudukan di Jl. Kartini No.19,
Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat.

Untuk selanjutnya disebut sebagai ------------------------------------------------------- TERGUGAT II

Selanjutnya dalam menjalankan kuasa ini, kepada Penerima Kuasa diberikan wewenang untuk
membuat, menandatangani dan mengajukan gugatan, menghadiri sidang-sidang di Pengadilan
Tata Usaha Negara Bandung, menerima jawaban, membuat dan mengajukan replik, menerima
duplik, mengajukan bukti surat, saksi, maupun ahli, menolak dan membantah bukti surat dan saksi
maupun ahli yang diajukan Tergugat dan Turut Tergugat, mengajukan konklusi (kesimpulan),
menerima salinan putusan, mengajukan permohonan-permohonan, menerima dan menolak upaya
hukum, serta mengajukan permohonan memori banding atau kontra memori banding maupun
memori kasasi atau kontra memori kasasi.
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Kuasa ini diberikan dengan dengan hak subtitusi, hak honorarium, dan hak retensi, baik sebagian
maupun seluruhnya yang dikuasakan ini.

Bandung, 10 Juli 2020

Pemberi Kuasa Penerima Kuasa

Eka Suryadinata, S.E., M.M. Bagus Aliansyah, S.H.

Yudha Hanianta, S.T. Rina Sejati, S.H.

Bagas Syahri, S.H.


KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

SURAT GUGATAN
Bandung, 20 Juli 2020

Kepada Yth.

Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung

Jl. Diponegoro No. 34, Citarum, Kec. Bandung Wetan

Kota Bandung, Jawa Barat 40115

Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara

Dengan hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini:

4. Bagus Aliansyah, S.H.


5. Rina Sejati, S.H.
6. Bagas Syahri, S.H.

Kesemuanya berkewarganegaraan Indonesia, pekerjaan Advokat pada Kantor Hukum Kutawa &
Rekan yang beralamat di Jl. Diponegoro No. 40, Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Bandung,
Jawa Barat 40115, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama berdasarkan Surat Kuasa
Khusus Nomor 05/SKK/10/2020 tertanggal 5 Juli 2020 (vide Bukti P-1), hendak mengajukan
gugatan untuk dan atas nama:

3. Nama : Eka Suryadinata, S.E., M.M.


Kewarganegaraan : Indonesia
Tempat Tinggal : Jalan Margonda Raya No. 23, Kec. Pancoran Mas, Kota
Depok, Jawa Barat
Pekerjaan : Wiraswasta

Untuk selanjutnya disebut sebagai ----------------------------------------------------- PENGGUGAT I

4. Nama : Yudha Hanianta, S.T.


Kewarganegaraan : Indonesia
Tempat Tinggal : Jalan Raya Cinangka Kav. Pertamina No. 3, Cinangka,
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Kedaung, Kec. Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat


Pekerjaan : Wiraswasta

Untuk selanjutnya disebut sebagai ----------------------------------------------------- PENGGUGAT II

Selanjutnya secara bersama-sama disebut sebagai ---------------------------- PARA PENGGUGAT

Dengan ini, Para Penggugat mengajukan gugatan terhadap:

1) Nama : Ridwana Kamilail, S.T.


Jabatan : Gubernur Jawa Barat
Tempat Kedudukan : Jalan Diponegoro No. 22, Citarum, Kecamatan Bandung
Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat

Untuk selanjutnya disebut sebagai -------------------------------------------------------- TERGUGAT I

2) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok, bertempat kedudukan di Jl. Kartini No.19,
Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat.

Untuk selanjutnya disebut sebagai ------------------------------------------------------ TERGUGAT II

Selanjutnya secara bersama-sama disebut sebagai ------------------------------- PARA TERGUGAT

I. OBJEK SENGKETA
- Yang menjadi Objek Sengketa dalam gugatan ini adalah sebagai berikut
i. Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-
OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa
Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020, yang dikeluarkan oleh Tergugat I (vide
Bukti P-2)
Untuk selanjutnya disebut sebagai --------------------------------- OBJEK SENGKETA I

ii. Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 28/HK.03.1-
Kpts/2341/KPU-Kota/III/2020, tentang Penetapan perubahan Ke-Empat atas Surat
Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 56/HK.03.1-
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Kpts/2341/KPU-Kota/IX/2020, tentang Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota


Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026, tertanggal 4 Juli 2020,
yang dikeluarkan oleh Tergugat II (vide Bukti P-3)
Untuk selanjutnya disebut sebagai ------------------------------- OBJEK SENGKETA II
Secara bersama-sama disebut sebagai --------------------- OBJEK SENGKETA A QUO

- Bahwa yang dapat menjadi objek sengketa dalam sengketa Tata Usaha Negara adalah
Keputusan Tata Usaha Negara;
- Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
Pengadilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
9 Tahun 2004 tentang Perubahan Pertama atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan terakhir kali diubah dengan Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (“UU PTUN”) menyatakan bahwa
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret,
individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
perdata.”;
- Bahwa objek sengketa a quo merupakan objek yang dapat diselesaikan permasalahannya
di Pengadilan Tata Usaha Negara. Hal ini karena Para Tergugat selaku Badan dan Pejabat
Tata Usaha Negara telah mengeluarkan keputusan yang bersifat penetapan tertulis,
dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara, konkret, individual, dan final dengan uraian
sebagai berikut
a. Penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara,
yaitu objek sengketa a quo merupakan suatu penetapan yang berbentuk tertulis
yang ditandatangani oleh Pejabat Tata Usaha Negara, yang sudah jelas siapa
Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkannya, maksud atau hal dari isi
keputusan, dan kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan di
dalamnya.
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Dalam hal ini, objek sengketa I telah dikeluarkan oleh Tergugat I yakni Ridwana
Kamilail selaku Gubernur Jawa Barat. Kemudian, objek sengketa II telah
dikeluarkan oleh Tergugat II yakni KPU Kota Depok. Isi dari masing-masing
objek sengketa a quo juga telah jelas, yakni objek sengketa I mengenai pencabutan
keputusan tentang peresmian pemberhentian Anggota DPRD periode 2015-2020
yang ditujukan kepada Anggota DPRD 2015-2020 yang diberhentikan maupun
yang tidak jadi diberhentikan, serta objek sengketa II mengenai perubahan dalam
daftar calon tetap anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026 yang
keputusannya ditujukan kepada calon tetap anggota DPR Kota Depok 2021-2026
serta kepada pihak-pihak yang Namanya dicoret dari calon tetap anggota DPR
Kota Depok 2021-2026;
b. Bersifat konkret, yaitu objek yang diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha
Negara (KTUN) itu tidak abstrak, tetapi berwujud dan nyata, tertentu atau dapat
ditentukan sebagaimana dinyatakan dalam Penjelasan Pasal 1 angka 9 UU PTUN.
Objek Sengketa a quo bersifat konkret yang tercermin dari wujudnya yang tidak
abstrak dan nyata melalui penerbitan objek sengketa I, yang mana di dalamnya
secara nyata dan tegas menyatakan tentang Pencabutan Keputusan Gubernur Jawa
Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian
Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok,
Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020. Kemudian, sifat konkret ini
juga tercermin dari penerbitan objek sengketa II, yang mana di dalamnya secara
nyata dan tegas menyatakan tentang Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota
Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026;
c. Bersifat individual, yaitu bahwa KTUN tidak ditujukkan untuk umum, tetapi
ditujukan kepada suatu pihak tertentu baik alamat maupun hal yang dituju. Dalam
hal ini, telah terang bahwa Objek Sengketa a quo bersifat individual karena KTUN
telah dibuat secara spesifik untuk ditujukan pihak tertentu. Objek sengketa I
ditujukan kepada Anggota DPRD Kota Depok Periode 2015-2020 yang
diberhentikan, serta objek sengketa II yang ditujukan kepada Calon Tetap Anggota
DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

d. Bersifat final, yaitu KTUN sudah definitif dan menimbulkan suatu akibat hukum.
Lalu, KTUN tersebut tidak lagi memerlukan persetujuan dari instansi tertentu baik
secara horizontal maupun vertikal untuk dapat menimbulkan akibat hukum. Objek
Sengketa a quo telah memenuhi sifat final, karena telah berlaku dan menimbulkan
akibat hukum bagi Para Penggugat, yakni Objek Sengketa I telah mengakibatkan
Para Penggugat, yaitu Para Penggugat tidak lagi memenuhi ketentuan untuk
mencalonkan diri sebagai Calon Anggota DPRD pada Pemilihan Umum Tahun
2021-2026 sebagaimana diatur dalam Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018.
Lalu, Objek Sengketa II juga telah menimbulkan akibat hukum bagi Para
Penggugat, yaitu Para Penggugat dihapus Namanya dari Calon Tetap Anggota
DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026;
- Bahwa dengan demikian, Objek Sengketa A Quo telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka
9 UU PTUN;
- Bahwa selanjutnya, suatu KTUN dapat dijadikan objek sengketa dalam gugatan Tata
Usaha Negara apabila telah memenuhi ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf a dan b UU
PTUN yang menyatakan bahwa: “Alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. Keputusan Tata Usaha Negara yang
digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; b.
Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum
pemerintahan yang baik.”;
- Bahwa suatu KTUN dapat dijadikan objek sengketa dalam gugatan Tata Usaha Negara
apabila melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
tentang Administrasi Pemerintahan (“UU AP”) yang menyatakan bahwa: “Setiap
Keputusan dan/atau Tindakan wajib berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan AUPB.”;
- Bahwa objek sengketa a quo telah memenuhi ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf a dan b
UU PTUN dan telah melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (1) UU AP sehingga dapat
dijadikan objek sengketa dalam gugatan a quo (detail mengenai peraturan dan AUPB yang
bertentangan dengan KTUN objek sengketa a quo akan dijelaskan dalam bagian posita);
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa dengan demikian, Objek Sengketa a quo merupakan suatu Keputusan Tata Usaha
Negara yang dapat dijadikan objek sengketa dalam gugatan a quo.

II. TENGGANG WAKTU GUGATAN


- Bahwa Objek Sengketa I diterbitkan oleh Tergugat I pada tanggal 27 Juni 2020 dan Objek
Sengketa II diterbitkan oleh Tergugat II pada tanggal 4 Juli 2020;
- Bahwa Pasal 48 ayat (2) UU PTUN mengatur bahwa “Pengadilan baru berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang bersangkutan telah
digunakan.”;
- Bahwa Pasal 75 ayat (1) UU AP mengatur bahwa: “Warga Masyarakat yang dirugikan
terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan Upaya Administratif kepada
Pejabat Pemerintahan atau Atasan Pejabat yang menetapkan dan/atau melakukan
Keputusan dan/atau Tindakan.”;
- Bahwa Para Penggugat telah melakukan upaya administratif kepada Tergugat I selaku
Pejabat Tata Usaha Negara yang menetapkan Objek Sengketa I, yakni dengan
melayangkan surat tertanggal 30 Juni 2020 (vide bukti P-4) yang ditujukan kepada
Gubernur Jawa Barat perihal Keberatan atas Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat
Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan Keputusan
Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang
Peresmian Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020 (Objek Sengketa I);
- Bahwa Para Penggugat tidak pernah mendapatkan balasan ataupun penjelasan dan
keterangan apapun dari Tergugat I selaku Gubernur Jawa Barat sampai gugatan ini
didaftarkan di Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung;
- Bahwa Pasal 467 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang
Pemilihan Umum (“UU Pemilu”) mengatur bahwa:
“(1) Bawaslu, Bawaslu Provinsi, dan Bawaslu Kabupaten/ Kota menerima permohonan
penyelesaian sengketa proses Pemilu sebagai akibat dikeluarkannya keputusan KPU,
kepuhrsan KPU Provinsi, dan keputusan KPU Kabupaten/Kota;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

(2) Permohonan penyelesaian sengketa prroses Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) disampaikan oleh calon Peserta Pemilu dan/atau Peserta Pemilu.”
- Bahwa Pasal 467 ayat (4) UU Pemilu mengatur bahwa “Permohonan penyelesaian
sengketa proses Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan paling lama
3 (figa) hari kerja sejak tanggal penetapan keputusan KPU, keputusan KPU Provinsi,
dan/atau keputusan KPU Ikbupaten/Kota yang menjadi sebab sengketa.”
- Bahwa Para Penggugat merasa kepentingannya dirugikan dengan diterbitkannya Objek
Sengketa II sehingga Para Penggugat mengajukan upaya administratif yakni dengan
mengajukan permohonan penyelesaian sengketa proses pemilu sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 467 UU Pemilu;
- Bahwa Para Penggugat juga telah melakukan seluruh upaya administartif di Badan
Pengawas Pemilihan Umum (“Bawaslu”) Kota Depok atas Objek Sengketa II, yaitu
berupa Permohonan Penyelesaian Sengketa Proses Pemilu yang telah diregister dengan
nomor: 04/PS/BWSL.DPK.28.00/XI/2020 tanggal 6 Juli 2020 (vide bukti P-5), dan atas
permohonan tersebut, Majelis Sidang Bawaslu Kota Depok telah memutuskan yang pada
pokoknya menolak Permohonan Pemohon sebagaimana tertuang dalam Putusan Bawaslu
Kota Depok Nomor: 04/PS/BWSL.DPK.28.01/XI/2020 tanggal 16 Juli 2020 (vide bukti
P-6);
- Bahwa atas putusan Bawaslu Kota Depok tersebut, Para Penggugat merasa tidak puas
sehingga tidak menerima putusan tersebut dan kemudian mengajukan permohonan
koreksi putusan kepada Bawaslu Republik Indonesia sebagaimana ketentuan Pasal 42
Peraturan Bawaslu Nomor 18 Tahun 2017 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa
Proses Pemilihan Umum;
- Bahwa pada tanggal 17 Juli 2020, Para Penggugat selanjutnya mengajukan upaya
administratif berupa Permohonan Koreksi terhadap Putusan Bawaslu Kota Depok Nomor
04/PS/BWSL.DPK.28.01/XI/2020 (vide bukti P-7). Atas permohonan koreksi tersebut,
Bawaslu mengeluarkan putusan Nomor: 028/PS.REG.KOREKSI/BAWASLU/XI/2020
(vide bukti P-8) pada tanggal 19 Juli 2020 yang pada pokoknya menolak Permohonan
Koreksi terhadap Putusan Bawaslu Kota Depok;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa putusan Bawaslu tersebut tidak bersifat final dan mengikat sebagaimana ketentuan
Pasal 469 ayat (1) UU Pemilu;
- Bahwa berdasarkan Pasal 469 ayat (2) UU Pemilu, disebutkan bahwa “Dalam hal
penyelesaian sengketa proses Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf
b, dan huruf c yang dilakukan oleh Bawaslu tidak diterima oleh para pihak, para pihak
dapat mengajukan upaya hukum kepada pengadilan tata usaha negara.”;
- Bahwa dengan demikian, Para Penggugat memutuskan untuk melakukan upaya hukum
kepada Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung berupa pengajuan gugatan;
- Bahwa Pasal 471 UU Pemilu menyebutkan bahwa “Pengajuan gugatan atas sengketa tata
usaha negara Pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5
(lima) hari kerja setelah dibacakan putusan Bawaslu”;
- Bahwa dengan demikian, pada tanggal 20 Juli 2020, Para Penggugat mengajukan gugatan
atas Objek Sengketa I dan Objek Sengketa II kepada Pengadilan Tata Usaha Negara
Bandung;
- Bahwa Pasal 55 UU PTUN menyatakan bahwa “Gugatan dapat diajukan hanya dalam
tenggang waktu sembilan puluh hari terhitung sejak saat diterimanya atau
diumumkannya Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.”;
- Bahwa jarak waktu antara diumumkannya Objek Sengketa I dengan gugatan a quo yang
diajukan oleh Para Penggugat adalah 23 (dua puluh tiga) hari;
- Bahwa jarak waktu antara diumumkannya Objek Sengketa II dengan gugatan a quo yang
diajukan oleh Para Penggugat adalah 16 (enam belas) hari;
- Bahwa berdasarkan fakta yang telah diuraikan di atas, maka gugatan yang diajukan
Penggugat atas dikeluarkannya Objek Sengketa A Quo oleh Para Tergugat masih dalam
tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari sebagaimana yang diatur dalam Pasal 55 UU
PTUN;
- Bahwa dengan demikian, gugatan yang diajukan oleh Para Penggugat dalam perkara ini
sudah selayaknya diterima.
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

III. KEWENANGAN PENGADILAN TATA USAHA NEGARA


- Bahwa Pasal 1 angka 10 UU PTUN menyatakan bahwa “Sengketa Tata Usaha Negara
adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan
hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di pusat maupun di
daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”;
A. KEDUDUKAN HUKUM PARA PIHAK
1. Kedudukan Hukum Para Penggugat
- Bahwa Pasal 1 angka 10 UU PTUN menyebutkan bahwa “Sengketa Tata Usaha
Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang
atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di
pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha
negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.”;
- Bahwa Pasal 1 angka 11 UU PTUN menyebutkan bahwa “Gugatan adalah
permohonan yang berisi tuntutan terhadap badan atau pejabat tata usaha negara
dan diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan putusan.”;
- Bahwa Pasal 53 UU PTUN menyatakan bahwa “Orang atau badan hukum perdata
yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara
dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang berisi
tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan
batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan gati rugi dan/atau
rehabilitasi”;
- Bahwa dalam hal ini, Para Penggugat dalam gugatan a quo merupakan subjek hukum
berupa orang;
- Bahwa Para Penggugat merupakan orang-orang yang merasa kepentingannya
dirugikan dengan dikeluarkannya Objek Sengketa A Quo, yakni:
a. Objek Sengketa I membuat Para Penggugat merasa kepentingannya dirugikan
karena berisi mengenai batalnya peresmian pemberhentian Para Penggugat
dari jabatan sebagai Anggota Calon DPRD Kota Depok Masa Jabatan 2015-
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

2020. Padahal, Para Penggugat telah mengeluarkan Surat Pernyataan


Pengunduran Diri masing-masing tertanggal 3 Maret 2020 (vide bukti P-9)
sebagai Anggota DPRD Kota Depok Masa Jabatan 2015-2021 dan
sebelumnya telah menerima Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian
Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok (vide
bukti P-10), Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020. Dengan
adanya pencabutan terhadap Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 melalui terbitnya Objek
Sengketa II, maka Para Penggugat dirugikan karena menjadi tidak memenuhi
ketentuan syarat Calon Anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026
sebagaimana ketentuan Pasal 8 Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018,
padahal Para Penggugat telah memenuhi seluruh syarat administratif
sebagaimana ketentuan Peraturan KPU No. 20 Tahun 2018. Selain itu,
penerbitan Objek Sengketa I ini menjadi dasar terbitnya Objek Sengketa II
yang selanjutnya juga merugikan Para Penggugat (akan dijelaskan di bawah);
b. Objek Sengketa II membuat Para Penggugat merasa kepentingannya
dirugikan karena isinya mencoret nama Para penggugat sebagai Calon
Anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026. Padahal, Para Penggugat
telah melakukan tugas dan kewajibannya sebagai Anggota DPRD Kota
Depok 2015-2020 dengan sangat baik, aktif, dan aspiratif serta sangat
diterima oleh konstituennya serta dengan organ-organ kedewanan. Para
Penggugat juga telah memenuhi seluruh syarat administratif sebagaimana
ketentuan Peraturan KPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa Pasal 48 ayat (2) UU PTUN menyatakan bahwa “Pengadilan baru berwenang
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang bersangkutan telah
digunakan.”;
- Bahwa Pasal 75 ayat (1) UU AP menyatakan bahwa “Warga Masyarakat yang
dirugikan terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan Upaya
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Administratif kepada Pejabat Pemerintahan atau Atasan Pejabat yang menetapkan


dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan”;
- Bahwa Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2017 tentang Tata Cara
Penyelesaian Sengketa Proses Pemilihan Umum di Pengadilan Tata Usaha Negara
(“Perma No. 5 Tahun 2017”) menyatakan bahwa “Pengadilan berwenang
mengadili Sengketa Proses Pemilihan Umum setelah seluruh upaya administratif di
Bawaslu telah digunakan.”;
- Bahwa Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 2018 tentang pedoman
Penyelesaian Sengketa Administrasi Pemerintahan Setelah Menempuh Upaya
Administratif (“Perma No. 6 Tahun 2018”) menyatakan bahwa “Pengadilan
berwenang menerima, memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa
administrasi pemerintahan setelah menempuh upaya administratif.”;
- Bahwa Para Penggugat telah melakukan upaya administratif kepada Tergugat I yakni
dengan melayangkan surat tertanggal 30 Juni 2020 yang ditujukan kepada Tergugat
I, yakni Gubernur Jawa Barat perihal Keberatan atas Surat Keputusan Gubernur Jawa
Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan
Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-
2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020
(Objek Sengketa I);
- Bahwa Para Penggugat tidak pernah mendapatkan balasan ataupun penjelasan dan
keterangan apapun dari Tergugat I selaku Gubernur Jawa Barat sampai gugatan ini
didaftarkan di Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung;
- Bahwa Para Penggugat juga telah melakukan seluruh upaya administartif di Bawaslu
Kota Depok (untuk Objek Sengketa II), yaitu berupa Permohonan Penyelesaian
Sengketa Proses Pemilu yang telah diregister dengan nomor:
04/PS/BWSL.DPK.28.00/XI/2020 tanggal 6 Juli 2020, dan atas permohonan
tersebut, Majelis Sidang Bawaslu Kota Depok telah memutuskan yang pada
pokoknya menolak Permohonan Pemohon sebagaimana tertuang dalam Putusan
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Bawaslu Kota Depok Nomor: 04/PS/BWSL.DPK.28.01/XI/2020 tanggal 16 Juli


2020;
- Bahwa atas putusan Bawaslu Kota Depok tersebut, pada tanggal 17 Juli 2020, Para
Penggugat selanjutnya mengajukan upaya administratif berupa Permohonan Koreksi
terhadap Putusan Bawaslu Kota Depok Nomor 04/PS/BWSL.DPK.28.01/XI/2020.
Atas permohonan koreksi tersebut, Bawaslu mengeluarkan putusan Nomor:
028/PS.REG.KOREKSI/BAWASLU/XI/2020 pada tanggal 19 Juli 2020 yang pada
pokoknya menolak Permohonan Koreksi terhadap Putusan Bawaslu Kota Depok;
- Bahwa oleh karena Para Penggugat telah melakukan seluruh upaya administratif
terhadap objek sengketa a quo, maka Para Penggugat berhak mengajukan gugatan ke
Pengadilan Tata Usaha Negara sebagaimana ketentuan UU PTUN, UU AP, Perma
No. 6 Tahun 2018, dan Perma No. 5 Tahun 2017;
- Bahwa berdasarkan penjelasan di atas, maka Para Penggugat memiliki kedudukan
hukum sebagai Penggugat dalam gugatan ini sehingga Pengadilan Tata Usaha Negara
berhak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara a quo;
2. Kedudukan Hukum Para Tergugat
- Bahwa Pasal 1 angka 12 UU PTUN menyebutkan bahwa “Tergugat adalah badan
atau pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan keputusan berdasarkan
wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya yang digugat oleh
orang atau badan hukum perdata.”;
- Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 8 UU PTUN, yang disebut dengan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara adalah “badan atau pejabat yang melaksanakan urusan
pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”;
- Bahwa Pasal 59 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (“UU Pemerintahan Daerah”) mengatur bahwa setiap daerah provinsi
dipimpin oleh kepala daerah yang disebut dengan Gubernur;
- Bahwa oleh karena Tergugat I merupakan pihak yang melakukan salah satu fungsi
pemerintahan di tingkat daerah selaku kepala daerah provinsi, yaitu dalam hal ini
Gubernur Provinsi Jawa Barat, maka Tergugat I merupakan pihak yang dapat menjadi
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

tergugat dalam perkara a quo sebagaimana ketentuan Pasal 1 angka 8 dan 12 UU


PTUN;
- Bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 10 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun
2017 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Proses Pemilihan Umum di
Pengadilan Tata Usaha Negara (“Perma No. 5 Tahun 2017”), diatur bahwa
“Tergugat adalah KPU/KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.”;
- Bahwa perkara a quo ini juga termasuk perkara mengenai sengketa proses pemilihan
umum karena terdapat sengketa antara calon anggota DPRD Kota Depok dengan
KPU Kota Depok sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan KPU Kota Depok yakni
dalam hal ini adalah Objek Sengketa II sebagaimana ketentuan Peraturan Mahkamah
Agung Nomor 5 Tahun 2017;
- Bahwa oleh karena perkara a quo merupakan sengketa proses pemilihan umum
berdasarkan Perma No. 5 Tahun 2017, maka berlaku ketentuan Pasal 1 angka 10
Perma No. 5 Tahun 2017 yang mengatur bahwa “Tergugat adalah KPU/KPU
Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota.” Dalam perkara a quo, maka dapat diketahui
bahwa Tergugat II telah sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 10 Perma No. 5
Tahun 2017;
- Bahwa lebih lanjut, KPU Kota Depok merupakan salah satu KPU Daerah, yakni
lembaga yang diberi wewenang khusus oleh UU Pemerintahan Daerah untuk
menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah di setiap
kabupaten/kota. Oleh sebab itu, KPU Kota Depok merupakan pihak yang termasuk
ke dalam Badan Tata Usaha Negara karena menjalankan urusan pemilihan kepala
daerah pada pemerintahan di tangkat daerah;
- Bahwa dengan demikian, Tergugat II yang merupakan KPU Kota Depok merupakan
pihak yang dapat menjadi tergugat dalam perkara a quo;
- Bahwa dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa Para Tergugat merupakan
pihak yang dapat menjadi tergugat dalam perkara a quo sebagaimana ketentuan UU
PTUN dan Perma No. 5 Tahun 2017;
- Bahwa dengan demikian, Para Penggugat dan Para Tergugat merupakan pihak yang
dapat bersengketa dalam sengketa Tata Usaha Negara sehingga merupakan
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

kewenangan dari Pengadilan Tata Usaha Negara untuk memeriksa, mengadili, dan
memutus perkara ini;
B. OBJEK SENGKETA
- Bahwa objek sengketa a quo merupakan objek yang dapat diselesaikan
permasalahannya di Pengadilan Tata Usaha Negara. Hal ini karena Para Tergugat
selaku Badan dan Pejabat Tata Usaha Negara telah mengeluarkan keputusan yang
bersifat penetapan tertulis, dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara, konkret,
individual, dan final sebagaimana ketentuan Pasal 1 angka 9 UU PTUN (penjelasan
detail telah dibahas pada bagian “II. Objek Sengketa” sebelumnya);
- Bahwa objek sengketa a quo juga telah memenuhi ketentuan Pasal 53 ayat (2) huruf
a dan b UU PTUN dan melanggar ketentuan ketentuan Pasal 9 ayat (1) UU AP;
- Bahwa adapun penjelasan detail mengenai objek sengketa ini telah dibahas pada
bagian objek sengketa sebelumnya sehingga penjelasan dalam bagian ini juga
mengikuti penjelasan pada bagian “ II. Objek Sengketa” tersebut;
- Bahwa objek sengketa a quo telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 9 UU PTUN
dan Pasal 53 ayat (2) huruf a dan b UU PTUN, serta telah melanggar ketentuan Pasal
9 ayat (1) UU AP sehingga dapat dijadikan objek sengketa dalam gugatan a quo
(detail mengenai peraturan dan AUPB yang bertentangan dengan KTUN objek
sengketa a quo akan dijelaskan dalam bagian posita);
- Bahwa dengan demikian, Objek Sengketa a quo merupakan suatu Keputusan Tata
Usaha Negara yang dapat dijadikan objek sengketa dalam gugatan a quo sehingga
merupakan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara untuk memeriksa, mengadili,
dan memutus perkara ini dengan objek sengketa a quo tersebut.
- Bahwa berdasarkan penjelasan di atas, maka kedudukan hukum Para Penggugat dan Para
Tergugat serta objek sengketa telah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan sehingga merupakan kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara untuk
memeriksa, mengadili, dan memutus perkara a quo;
- Bahwa Pasal 1 angka 1 UU PTUN menyatakan bahwa “Pengadilan adalah pengadilan
tata usaha negara dan pengadilan tinggi tata usaha negara di lingkungan peradilan tata
usaha negara”;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa Pasal 47 UU PTUN menyatakan bahwa “Pengadilan bertugas dan berwenang


memeriksa, memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara”;
- Bahwa Pasal 54 ayat (1) UU PTUN menyatakan bahwa “Gugatan sengketa Tata Usaha
Negara diajukan kepada Pengadilan yang berwenang yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan tergugat.”;
- Bahwa Tergugat I dalam perkara a quo berkedudukan di Jalan Diponegoro No. 22,
Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, sedangkan Tergugat II
berkedudukan di Jl. Kartini No.19, Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat;
- Bahwa tempat kedudukan Para Tergugat termasuk ke dalam wilayah hukum Pengadilan
Tata Usaha Negara Bandung;
- Bahwa dengan demikian, Para Penggugat telah tepat dalam mengajukan gugatan a quo ke
Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung yang merupakan pengadilan yang berwenang
dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan Sengketa Tata Usaha Negara ini.

IV. KEPENTINGAN PENGGUGAT YANG DIRUGIKAN


- Bahwa berdasarkan Pasal 53 ayat (1) UU PTUN, dinyatakan bahwa “orang atau Badan
Hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha
Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang berisi
tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal
atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan/atau rehabilitasi”;
- Bahwa Para Penggugat dalam hal ini adalah orang-orang yang merasa kepentingannya
dirugikan dengan diterbitkannya objek sengketa a quo;
- Bahwa Para Penggugat merasa dirugikan dengan diterbitkannya Objek Sengketa I oleh
Tergugat I karena Para Penggugat menjadi tidak memenuhi ketentuan syarat Calon
Anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026 sebagaimana ketentuan Pasal 8 Peraturan
KPU Nomor 20 Tahun 2018, padahal Para Penggugat telah memenuhi syarat
pemberhentian sebagai Anggota DPR Kota Depok 2015-2020 sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
- Bahwa Objek Penggugat I membuat Para Penggugat merasa kepentingannya dirugikan
karena berisi mengenai batalnya peresmian pemberhentian Para Penggugat dari jabatan
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

sebagai Anggota Calon DPRD Kota Depok Masa Jabatan 2015-2020. Padahal, Para
Penggugat telah mengeluarkan Surat Pernyataan Pengunduran Diri masing-masing
tertanggal 3 Maret 2020 sebagai Anggota DPRD Kota Depok Masa Jabatan 2015-2021
dan sebelumnya telah menerima Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa
Jabatan Tahun 2015-2020. Dengan adanya pencabutan terhadap Surat Keputusan
Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 melalui
terbitnya Objek Sengketa II, maka Para Penggugat dirugikan karena kemudian dianggap
tidak memenuhi ketentuan syarat Calon Anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026
sebagaimana ketentuan Pasal 8 Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018 sehingga Objek
Sengketa I ini menjadi dasar terbitnya Objek Sengketa II yang selanjutnya juga merugikan
Para Penggugat (akan dijelaskan di bawah);
- Bahwa Objek Sengketa II membuat Para Penggugat merasa kepentingannya dirugikan
karena isinya mencoret nama Para penggugat sebagai Calon Anggota DPRD Kota Depok
Periode 2021-2026. Padahal, Para Penggugat telah melakukan tugas dan kewajibannya
sebagai Anggota DPRD Kota Depok 2015-2020 dengan sangat baik, aktif, dan aspiratif
serta sangat diterima oleh konstituennya serta dengan organ-organ kedewanan dan telah
memenuhi syarat administratif sebagai Calon Anggota DPRD sebagaimana ketentuan
Peraturan KPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa dengan demikian, terdapat kepentingan Para Penggugat yang dirugikan karena
terbitnya Objek Sengketa A Quo sehingga Para Penggugat berhak untuk mengajukan
gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

V. POSITA/ALASAN GUGATAN
A. OBJEK SENGKETA A QUO BERTENTANGAN DENGAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
i. Objek Sengketa I
- Bahwa Para Penggugat sebelumnya merupakan Anggota DPRD Kota Depok
Periode 2015-2021;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa Para Penggugat sebagai Anggota DPRD Kota Depok Periode 2015-2021
dalam mengemban amanatnya sebagai wakil rakyat telah melakukan tugas dan
kewajibannya dengan sangat baik, aktif, aspiratif dan sangat diterima oleh
konstituennya. Para Penggugat juga dalam melakukan pekerjaannya tersebut tidak
ada masalah, baik masalah dengan tugas dan fungsi anggota dewan, tidak ada
masalah yang berhubungan organ-organ kedewanan;
- Bahwa Para Penggugat telah melakukan tugas dengan baik sebagai Anggota DPRD
Kota Depok Periode 2015-2021 sehingga Para Penggugat hendak Kembali
mencalonkan diri sebagai Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum
Tahun 2021;
- Bahwa Para Penggugat merasa tidak ada kococokan dan keserasian lagi dengan
Partai masing-masing sebagai partai yang telah mencalonkan Para Penggugat
menjadi Anggota DPRD Kota Depok Periode 2015-2021 sebelumnya;
- Bahwa kemudian dikarenakan para Penggugat hendak kembali mencalonkan diri
menjadi Anggota DPRD Kota Depok Periode 2021-2026, maka para Penggugat
bergabung dengan Partai Komunalitas Sejahtera (“PKS”);
- Bahwa karena sebelumnya Para Penggugat terakhir menjadi calon legislatif dari
Partai Persatuan Putra Bangsa (“P3B”), maka Para Penggugat harus mengikuti
peraturan yang berlaku, yaitu Para Penggugat harus harus mundur dari keanggotaan
P3B sebagai partai yang telah mencalonkan Para Penggugat menjadi Anggota
DPRD Kota Depok Periode 2015-2020;
- Bahwa peraturan yang harus diikuti oleh Para Penggugat dalam hal ini adalah
Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pencalonan
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi,
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota (“PKPU No. 20 Tahun
2018”);
- Bahwa Pasal 7 ayat (1) huruf t PKPU No. 20 Tahun 2018 menyebutkan bahwa
“Bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah
Warga Negara Indonesia dan harus memenuhi persyaratan: t. mengundurkan diri
sebagai anggota DPR, DPRD Provinsi, atau DPRD Kabupaten/Kota bagi calon
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

anggota DPR, DPRD Provinsi, atau DPRD Kabupaten/Kota yang dicalonkan oleh
Partai Politik yang berbeda dengan Partai Politik yang diwakili pada Pemilu
Terakhir”;
- Bahwa Pasal 8 ayat (1) huruf b angka 8 menyebutkan bahwa “Kelengkapan
administratif bakal calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dibuktikan
dengan:
b. surat pernyataan menggunakan formulir Model BB.1 yang menyatakan bahwa:
8. bakal calon mengundurkan diri dan tidak dapat ditarik kembali bagi calon yang
berstatus sebagai anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang
dicalonkan oleh Partai”
- Bahwa sebagaimana diatur dalam PKPU No. 20 Tahun 2018, maka Para Penggugat
harus mengundurkan diri sebagai Anggota DPRD Kota Depok Periode 2015-2020;
- Bahwa kemudian Para Penggugat masing-masing telah membuat Surat Pernyataan
Pengunduran Diri tertanggal 3 Maret 2020 sebagai Anggota DPRD Kota Depok
Periode 2015-2020;
- Bahwa selain membuat Surat Pernyataan Pengunduran Diri tersebut, Para
Penggugat juga telah memenuhi syarat dan kelengkapan untuk kembali menjadi
menjadi Calon Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021
sebagaimana ketentuan Pasal 8 PKPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa kemudian Para Penggugat menyerahkan Surat Pernyataan Pengunduran
Diri tertanggal 3 Maret 2020 tersebut kepada Kesekretariatan KPU Kota Depok
untuk selanjutnya dapat diproses;
- Bahwa berdasarkan Pasal 405 ayat (1) dan Pasal 406 Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (“UU MD3”),
Pasal 99 ayat (1) dan Pasal 100 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2018
tentang Pedoman Penyusunan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Provinsi, Kabupaten, dan Kota (“PP No. 12 Tahun 2018”), Pasal 193 ayat (1) dan
Pasal 194 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

(“UU Pemerintahan Daerah”), serta Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun
2020 tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (“Peraturan DPRD
Depok No. 1 Tahun 2020”), intinya menyatakan bahwa anggota DPRD
Kabupaten/Kota berhenti antar waktu karena: a. meninggal dunia; b.
mengundurkan diri; atau c. diberhentikan. Lalu, dalam peraturan-peraturan
tersebut, diatur juga bahwa pemberhentian anggota DPRD Kabupaten/Kota karena
meninggal dan mengundurkan diri diusulkan oleh pimpinan partai politik kepada
pimpinan DPRD kabupaten/kota dengan tembusan kepada gubernur;
- Bahwa Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun 2020 juga mengatur secara detail
tentang pemberhentian anggota DPRD, yakni dengan adanya usulan dari pimpinan
partai politik kepada pimpinan DPRD dengan tembusan kepada gubernur. Setelah
ada usulan dari pimpinan parpol, maka Pimpinan DPRD menyampaikan usul
pemberhentian anggota DPRD kepada gubernur melalui walikota untuk
memperoleh peresmian pemberhentian. Setelah adanya unsul pemberhentian, maka
walikota menyampaikan usul tersebut kepada Gubernur. Kemudian, Gubernur
meresmikan pemberhentian anggota DPRD kota tersebut;
- Bahwa Para Penggugat mengetahui bahwa telah dilakukannya usulan dari
pimpinan PKS untuk memberhentikan Para Penggugat dari Anggota DPRD Kota
Depok 2015-2020 sehubungan dengan adanya Surat Pernyataan Pengunduran Diri,
yang telah diusulkan kepada Pimpinan DPRD Kota Depok, kemudian Pimpinan
DPRD Depok menyampaikan usul tersebut kepada Walikota Depok, yang
kemudian Walikota Depok menyampaikan usulan tersebut kepada Tergugat I
selaku Gubernur Jawa Barat;
- Bahwa Para Penggugat telah mengundurkan diri dari jabatannya dengan mengikuti
ketentuan PKPU No. 20 Tahun 2018, UU MD3, PP No. 12 Tahun 2018, UU
Pemerintahan Daerah, dan Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun 2020;
- Bahwa dengan demikian, kemudian pada tanggal 29 April 2020, Para Penggugat
menerima Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok, Propinsi Jawa Barat,
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Masa Jabatan Tahun 2015-2020 yang isinya pada intinya memberhentikan Para
Penggugat sebagai Anggota DPRD Kota Depok 2015-2020;
- Bahwa kemudian pada tanggal 27 Juni 2020, Tergugat I selaku Gubernur Jawa
Barat mengeluarkan Objek Sengketa I, yakni Surat Keputusan Gubernur Jawa
Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan
Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-
2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-
2020;
- Bahwa isi Objek Sengketa I tersebut menimbulkan akibat hukum, yaitu tidak
jadinya pemberhentian Para Penggugat sebagai Anggota DPRD Kota Depok 2015-
2020. Padahal, sebelumnya telah ada prosedur pemberhentian Para Penggugat yang
telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
- Bahwa dengan demikian, terbitnya Objek Sengketa I tersebut bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan karena Para Penggugat telah mengikuti proses
pemberhentian sebagaimana diatur dalam UU MD3, PP No. 12 Tahun 2018, UU
Pemerintahan Daerah, dan Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun 2020,
sehingga seharusnya Tergugat I tidak mengeluarkan Objek Sengketa I yang telah
membuat Para Penggugat tidak jadi untuk diberhentikan sebagai Anggota DPRD
Kota Depok 2015-2020;
ii. Objek Sengketa II
- Bahwa pada tanggal 4 Juli 2020, Para Penggugat menerima dan mengetahui bahwa
Tergugat II menerbitkan Objek Sengketa II, yakni Keputusan Komisi Pemilihan
Umum Kota Depok Nomor: 56/HK.03.1-Kpts/2341/KPU-Kota/IX/2020, tentang
Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021
Periode 2021-2026;
- Bahwa isi dari Objek Sengketa II pada intinya mencoret nama Para Penggugat,
yakni Eka Suryadinata, S.E., M.M. dan Yudha Hadianta, S.T., sebagai Calon
Anggota (DPRD) Kota Depok untuk periode tahun 2021-2026;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa diketahui penerbitan Objek Sengketa II didasari oleh terbitnya Objek


Sengketa I;
- Bahwa sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, penerbitan Objek Sengketa
I bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan asas-asas umum
pemerintahan yang baik sehingga Tergugat II tidak seharusnya menerbitkan Objek
Sengketa II yang mencoret nama Para Penggugat II berdasarkan suatu Objek
Sengketa I yang bertenangan dengan peraturan perundang-undangan;
- Bahwa Para Penggugat telah memenuhi syarat dan kelengkapan untuk menjadi
Calon Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok pada Pemilihan
Umum 2021, dan telah didaftarkan pada Daftar Calon Tetap sesuai ketentuan Pasal
8 ayat (1) samapai (10) PKPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa lebih lanjut, Para Penggugat telah melakukan pemenuhan syarat
melampirkan surat pengajuan pengunduran dirinya, tanda terima dari pejabat yang
berwenang terkait dengan penyerahan surat pengunduran dirinya tersebut, dan juga
melampirkan surat keterangan mengenai pengajuan pengunduran dirinya sedang
diproses kepada KPU Kota Depok sebagaimana ketentuan Pasal 7 ayat (1) huruf t,
dan Pasal 8 ayat (1) huruf b angka 8 dan ayat (4) PKPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa berdasarkan Pasal 27 ayat (5) PKPU No. 20 Tahun 2018, Para Penggugat
juga wajib menyerahkan/menyampaikan surat keputusan dari pejabat yang
berwenang tentang pemberhentian sebagai anggota DPRD Kabupaten/Kota kepada
KPU/KIP Kabupaten/Kota paling lambat 1 (satu) Hari sebelum penetapan Daftar
Calon Tetap (DCT). Dalam hal ini, Para Penggugat sebelumnya telah menyerahkan
Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-
OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020.
Namun, kemudian SK tersebut dicabut oleh Objek Sengketa I secara bertentangan
dengan peraturan-perundang-undangan dan AUPB;
- Bahwa oleh sebab itu, Para penggugat telah mengajukan keberatan kepada
Tergugat I sebagai Gubernur Jawa Barat tetapi tidak diberikan tanggapan apapun,
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

sehingga dalam hal ini berlaku ketentuan Pasal 27 ayat (6) PKPU No. 20 Tahun
2018;
- Bahwa berdasarkan Pasal 27 ayat (6) PKPU No. 20 Tahun 2018, diatur yakni dalam
hal calon anggota DPRD Kabupaten/Kota tidak bisa menyampaikan surat
keputusan pemberhentian tersebut karena belum selesai diproses, maka calon
anggota DPRD tersebut wajib melampirkan surat pernyataan yang menyatakan
bahwa pengunduran dirinya telah disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan
sudah mendapatkan tanda terima, serta melampirkan surat pernyataan yang
menyatakan bahwa surat keputusan pemberhentian belum selesai diproses karena
diluar kemampuan calon DPRD;
- Bahwa Para Penggugat telah menyerahkan surat pernyataan sebagaimana dimaksud
Pasal 27 ayat (6) PKPU No. 20 Tahun 2018;
- Bahwa dengan demikian, Para penggugat sudah memenuhi persyaratan sebagai
calon anggota DPRD Kota Depok pada Pemilu 2021, dan oleh karenanya haruslah
ditetapkan/dimasukkandalam daftar calon tetap (DCT) anggota DPRD Kota Depok
pada Pemilu Tahun 2021 sebagaimana ketentuan Pasal 255 Undang-Undang
Pemilu dan Pasal 28 PKPU No. 20/Tahun 2018;
- Bahwa oleh sebab itu, tindakan Tergugat II yang menerbitkan objek sengketa a quo
dengan menyatakan berkas Para Penggugat tidak memenuhi syarat adalah telah
mengandung cacat yuridis karena bertentangan dengan ketentuan Pasal 255
Undang-Undang Pemilu, Pasal 27 ayat (8) dan Pasal 28 PKPU No. 20/Tahun 2018;
- Bahwa ditegaskan kembali Penggugat telah memenuhi syarat dan kelengkapan
untuk menjadi Calon Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021,
dan telah didaftarkan pada Daftar Calon Tetap sesuai ketentuan PKPU Nomor : 20
Tahun 2018 Pasal (8) ayat 1 sampai dengan ayat 10, dan berdasarkan ketentuan
PKPU Nomor : 20 Tahun 2018 Pasal (8) tersebut Para Penggugat sedang
memproses pemberhentiannya tersebut sesuai ketentuan procedural dan benar
sehingga terbitnya Objek Sengketa II yang dilakukan oleh Tergugat II adalah
tindakan keliru yang melanggar peraturan perundang-undangan dan AUPB;
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Bahwa Para Penggugat sangat keberatan dengan Putusan Bawaslu Kota Depok
Nomor: 04/PS/BWSL.DPK.28.01/XI/2020, yang dalam Kesimpulannya pada point
8, Halaman 56, menyatakan: “Bahwa tindakan Termohon (Tergugat II a quo) yang
mencoret atau mengeluarkan Para Pemohon (Para Penggugat a quo) sebagai
calon anggota DPRD Kota Depok, ….., dengan alasan karena Para Pemohon
masih menjabat sebagai anggota DPRD dan tidak menyerahkan Surat Keputusan
Pemberhentian sebagai anggota DPRD Kota Depok kepada Termohon (KPU)
Kota Depok telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku”,
adalah kesimpulan yang tidak berdasar, tidak benar dan menyalahi ketentuan
perundang-undangan yang berlaku karena Para Penggugat secara administratif
telah melengkapi persyaratan yang ditentukan peraturan perundang-undangan;
- Bahwa Objek Sengketa II yang mencoret nama Para Penggugat a quo adalah tidak
ada alasan pembenar baik dalam bagian konsideran, menimbang, mengingat,
maupun memperhatikan, tidak ada keterangan yang menjadi alasan dicoretnya
nama Para Penggugat, serta tidak ada catatan atau rekomendasi Badan Pengawas
Pemilihan Umum Kota Depok atas ketentuan apa yang telah dilanggar oleh Para
Penggugat a quo, sehingga Objek Sengketa II telah merugikan Para Penggugat
dengan kehilangan haknya untuk dipilih/terpilih sebagai Calon Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021;
B. OBJEK SENGKETA A QUO BERTENTANGAN DENGAN ASAS-ASAS
UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK (AUPB)
1) Asas Kepastian Hukum

a. Bahwa asas ini diatur dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 30
Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan;
b. Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan yang dimaksud dengan Asas
Kepastian Hukum adalah “asas dalam negara hukum yang mengutamakan
landasan ketentuan peraturan perundang-undangan”;
c. Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, yang dimaksud dengan Asas Kepastian Hukum adalah
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

“asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan ketentuan peraturan


perundang-undangan dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara
negara”;
d. Bahwa objek sengketa a quo ditetapkan tidak dengan memperhatikan dan
memenuhi ketentuan perundang-undangan, yakni Objek Sengketa I
bertentangan dengan UU MD3, PP No. 12 Tahun 2018, UU Pemerintahan
Daerah, dan Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun 2020, serta Objek
Sengketa II bertetangan dengan PKPU No. 20 Tahun 2018, sehingga tidak sesuai
dengan asas kepastian hukum.
2) Asas Tertib Penyelenggara Negara

a. Bahwa dalam mengeluarkan Objek Sengketa, Tergugat juga melanggar Asas


Tertib Penyelenggara Negara sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Pasal
53 ayat (2) UU PTUN sebagaimana berbunyi: “Yang dimaksud dengan “asas-
asas umum pemerintahan yang baik” adalah meliputi asas: a. kepastian
hukum; b. Tertib Penyelenggaraan Negara; c. Keterbukaan; d.
Proporsionalitas; e. Profesionalitas; f. Akuntabilitas;”
b. Bahwa asas tertib penyelenggara negara adalah asas yang menjadi landasan
keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian
penyelenggaraan negara;
c. Bahwa objek sengketa a quo bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan sehingga menimbulkan ketidakteraturan, ketidakserasian, dan
ketidakseimbangan penyelenggaraan negara;
d. Bahwa objek sengketa a quo tidak memenuhi peraturan perundang-undangan
yakni, Objek Sengketa I bertentangan dengan UU MD3, PP No. 12 Tahun 2018,
UU Pemerintahan Daerah, dan Peraturan DPRD Kota Depok No. 1 Tahun 2020,
serta Objek Sengketa II bertetangan dengan PKPU No. 20 Tahun 2018,
sehingga menimbulkan ketidakteraturan dan ketidakseimbangan dalam
pengendalian penyelenggaraan negara. Dengan demikian, maka objek sengketa
a qui bertentangan dengan asas tertib penyelenggaraan negara.
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

3) Asas Kecermatan

a. Bahwa penerbitan Objek Sengketa a quo dalam perkara ini telah melanggar
Asas Kecermatan dalam Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik yang
diatur di dalam Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang No. 30 Tahun 2014
tentang Administrasi Pemerintahan;
b. Bahwa Asas Kecermatan mengandung makna suatu Keputusan dan/atau
Tindakan harus didasarkan pada informasi dan dokumen yang lengkap untuk
mendukung legalitas penetapan dan/atau pelaksanaan Keputusan dan/atau
Tindakan sehingga Keputusan dan/atau Tindakan yang bersangkutan
dipersiapkan dengan cermat sebelum Keputusan dan/atau Tindakan tersebut
ditetapkan dan/atau dilakukan;
c. Bahwa Tergugat tidak menerapkan asas kecermatan dalam menerbitkan Objek
Sengketa, sebab penerbitan tersebut tidak didasarkan pada informasi dan
dokumen yang lengkap dari Para Penggugat. Hal ini dapat terlihat dari
tindakan penerbitan Objek Sengketa a quo yang sewenang-wenang oleh Para
Tergugat walaupun Para Penggugat telah melaksanakan prosedur
pemberhentian sebagai Anggota DPRD Kota Depok 2015-2020 dan telah
melengkapi syarat administratif sebagai Calon Anggota DPRD Kota Depok
2021-2026 sesuai ketentuan peraturan-perundang-undangan. Dengan
demikian, penerbitan objek sengketa a quo bertentangan dengan asas
kecermatan.
4) Asas Profesionalitas

a. Bahwa dalam mengeluarkan Objek Sengketa, Tergugat juga melanggar Asas


Profesionalitas sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Pasal 53 ayat (2)
UU PTUN;
b. Bahwa asas profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian yang
berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
c. Bahwa dalam hal ini, Tergugat telah bertidak secara tidak profesional dalam
menerbitkan objek sengketa a quo karena objek sengketa a quo melanggar
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

peraturan perundang-undangan sehingga terdapat cacat hukum serta


kekeliruan dalam pemrosesan data, dokumentasi, dan/atau informasi. Dengan
demikian, objek sengketa a quo bertentangan dengan asas profesionalitas.
- Bahwa oleh karena objek sengketa a quo telah bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta bertentangan dengan AUPB, maka patut dan
beralasan kiranya apabila objek sengketa a quo dinyatakan batal atau tidak sah;
- Bahwa oleh karena objek sengketa a quo dimohonkan dinyatakan batal atau tidak sah,
maka patut dan beralasan kiranya menurut hukum apabila Para Tergugat dihukum
untuk mencabut atau membatalkan objek sengketa a quo, yakni:
a. Tergugat I dihukum untuk mencabut Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat
Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan
Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-
2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-
2020; serta
b. Tergugat II dihukum untuk mencabut Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum
Kota Depok Nomor: 28/HK.03.1-Kpts/2341/KPU-Kota/III/2020, tentang
Penetapan perubahan Ke-Empat atas Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota
Depok Nomor: 56/HK.03.1-Kpts/2341/KPU-Kota/IX/2020, tentang Daftar Calon
Tetap Anggota DPRD Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-
2026;

VI. PETITUM

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, Para Penggugat memohon

kepada Yang Mulia Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung untuk menindak lanjuti

gugatan ini, dan yang Mulia Majelis Hakim kiranya berkenan untuk memeriksa dan

memutus perkara ini dengan amar putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;


2. Menyatakan batal atau tidak sah objek sengketa a quo, yaitu
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

- Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-


OTDA-2.2/2020 tentang Pencabutan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian
Pemberhentian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
Depok, Propinsi Jawa Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020; serta
- Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 28/HK.03.1-
Kpts/2341/KPU-Kota/III/2020, tentang Penetapan perubahan Ke-Empat atas
Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 56/HK.03.1-
Kpts/2341/KPU-Kota/IX/2020, tentang Daftar Calon Tetap Anggota DPRD
Kota Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026;
3. Meenghukum kepada Tergugat I untuk mencabut objek sengketa I, yaitu Surat
Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 181/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-
2.2/2020 tentang Pencabutan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
1202/KEP.GUB/SETDA.PEM-OTDA-2.2/2020 tentang Peresmian Pemberhentian
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok, Propinsi Jawa
Barat, Masa Jabatan Tahun 2015-2020;
4. Menghukum kepada Tergugat II untuk mencabut objek sengketa II, yaitu Surat
Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 28/HK.03.1-
Kpts/2341/KPU-Kota/III/2020, tentang Penetapan perubahan Ke-Empat atas
Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Depok Nomor: 56/HK.03.1-
Kpts/2341/KPU-Kota/IX/2020, tentang Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kota
Depok pada Pemilihan Umum 2021 Periode 2021-2026;
5. Menghukum Para Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul dalam
perkara.

Atau apabila Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung
berpendapat lain, mohon untuk diberikan putusan yang seadil-adilnya (ex quo et bono).
KANTOR HUKUM KUTAWA & REKAN

Hormat kami,

Kuasa Hukum Penggugat

Bagus Aliansyah, S.H.

Rina Sejati, S.H.

Bagas Syahri, S.H.

Anda mungkin juga menyukai