Anda di halaman 1dari 7

Nama : Fairuz Salsabila K Mata Kuliah : Literasi Media PR

NIM : 19107030100 Dosen : Yanti Dwi Astuti, S.Sos.I, M.A.

ANALISIS DAMPAK MEDIA TERHADAP OPINI PUBLIK

Pada era digital, banyak kegiatan dalam masyarakat yang terpengaruh oleh
kepraktisan teknologi yang menjadikan dampak tersendiri bagi masyarakat. Seiring
berkembangnya zaman, dampak atau pengaruh yang lahir dari teknologi khususnya
media telah melahirkan ketergantungan akan pemanfaatan media. Pemanfaatan media
yang sering digunakan oleh masyarakat salah satunya adalah berkomunikasi.
Komunikasi bermula melalui pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan kemudian muncul adanya feedback sebagai bentuk timbal balik dari pesan
yang dimaksud. Komunikasi bisa dikatakan efektif dan berhasil apabila maksud dari
pesan dapat dimengerti sesuai dengan keinginan komunikator.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, pengertian media adalah suatu alat bantu yang
dapat digunakan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan. Sama halnya dengan
Leslie J. Briggs, yang mengartikan media sebagai suatu alat yang secara fisik
digunakan untuk menyampaikan isi materi. Media dapat berupa video, gambar, buku,
televisi, dan lain sebagainya. Apabila kita spesifikkan media sosial juga menjadi
sebuah media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan fasilitas yang lebih
terjangkau dan praktis.

Menurut Tracy L. Tuten dan Michael R. Solomon menyatakan bahwa, media


sosial adalah sarana untuk komunikasi, kolaborasi, serta penanaman secara daring
diantara jaringan orang-orang, masyarakat, dan organisasi yang saling terkait dan
saling tergantung dan diperkuat oleh kemampuan dan mobilitas teknologi. Maksudnya,
media sosial merupakan jalan pintas yang memperluas jaringan sosial di dalamnya.
Media sosial mampu membentuk opini publik dengan memberikan pelayanan terbaik
bagi para penggunanya yang haus akan popularitas, informasi, dan pengetahuan
sekalipun dengan sasaran yang terjamin pula.

Dalam jurnal Journalism Practice (Vol. 6, 2012) yang berjudul “Twitter Links
Between Politics and Journalists” Peter Vermeij menyebut bahwa ada dua perspektif
dalam bermedia sosial. Pertama sebagai penyebar informasi dan kedua sebagai
pembentuk suatu hubungan. Jika Facebook ialah media sosial dengan perspektif
kedua, lain halnya dengan Twitter yang merupakan media sosial dengan perspektif
pertama. Salah satu alasan mengapa Twitter dianggap sebagai penyebar informasi
karena adanya kenyataan bahwa setengah dari trending topics Twitter menjadi
headline CNN
(https://tirto.id/bagaimana-twitter-memengaruhi-opini-publik-dan-preferensi-politik-c
Gre , diakses 25 Oktober 2021). Karena Twitter punya kekuatan menjadi corong
berita media konvensional, banyak pihak lalu memanfaatkannya, terutama dunia
politik yang memanfaatkannya sebagai upaya pembentukan opini publik di dalamnya.

Opini publik terjadi karena adanya pesan dari komunikator kemudian terjadilah
interaksi komunikasi berupa diskusi diantara para komunikan yang akan mengambil
alih terhadap isi pesan yang tersampaikan. Sama halnya dengan @jokowi pada media
sosial Twitter yang menjadi alasan mengapa pengaruh media khususnya media sosial
bisa membentuk suatu opini publik. Dalam tweet @jokowi mengenai penanganan
terhadap kritik setelah sebelumnya banyak isu-isu tentang beliau yang berjulukan
“The King of Lip of Service”, dapat kita lihat bahwa pembawaan tema ini sangat
berpengaruh dan menarik publik untuk mengkritiknya, memberi dukungan, ataupun
ketidakpedulian. Dari sekian banyaknya feedback publik terhadap tweet ini, maka
komunikasi secara kontekstual telah berlangsung dan akan menghasilkan sebuah opini
publik yang berbeda antar kubu.

Untuk itu, dengan adanya kemajuan teknologi yang menembus ruang dan waktu
maka masyarakat Indonesia yang memiliki akun twitter akan dengan mudah
memfollow akun twitter Jokowi yaitu @jokowi. Lalu dengan memfollow twitter
@jokowi maka masyarakat akan tahu bagaimana sifat yang dimiliki Jokowi dan
peristiwa apa yang sedang terjadi dan dialami oleh Presiden Joko Widodo sehingga
pengaruh media sosial terhadap opini publik akan terbentuk.

Sumber :

https://tirto.id/bagaimana-twitter-memengaruhi-opini-publik-dan-preferensi-politik-c
Gre , (diakses 25 Oktober 2021)

Syarief, Fauzi. “Pemanfaatan Media Sosial Dalam Proses Pembentukan Opini Publik
(Analisa Wacana Twitter SBY).” Program Studi Penyiaran Akademi Komunikasi BSI
Jakarta VIII (September 2017).
https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/jkom/article/view/3092.
ANALISIS EKONOMI POLITIK MEDIA

Sebuah negara yang menganut sistem demokrasi akan memberikan kebebasan


pers. Pemerintah tidak melakukan intervensi terhadap pemberitaan yang dilakukan
media massa. Pemerintah pun menjadikan media massa sebagai ruang publik (public
sphere) (Sucahya, 2013). Menurut Nurudin (2005:201) rakyat harus diberikan ruang
publik yang memadai agar mampu mengekspresikan dirinya. Adanya ruang publik
tidak semata dari pemerintah, tapi juga bagaimana kebijakan pemberitaan media
massa tersebut.

Media massa berfungsi sebagai kekuatan keempat, lembaga ekonomi, juga harus
menyediakan ruang publik, sebagai bentuk menyalurkan partisipasi masyarakat dalam
menegakkan sistem pemerintahan yang demokrasi (Sucahya, 2013). Meski media
massa tumbuh sebagai respons terhadap kebutuhan sosial, budaya, individu dan
masyarakat, namun pengelolaan media massa dikelola sebagai perusahaan bisnis
Tekanan persaingan media massa serta kebutuhan informasi yang semakin tinggi,
mendorong pemilik media fokus untuk terus mengembangkan media, mencari
sumber-sumber keuangan, serta mengefisienkan dan mengefektifkan proses produksi
isi media.

Dilain sisi, melandanya bencana wabah yang mengakibatkan sektor


perekonomian mengalami angka minus membuat para investor, ataupun pihak media
massa memutar otaknya agar pengeluaran tidak sampai dibawah rata-rata. Ekonomi
politik media terkait dengan masalah kapital atau modal dari para investor yang
bergerak dalam industri media. Para pemilik modal menjadikan media sebagai usaha
untuk meraih untung, dimana keuntungan tersebut diinvestasikan kembali untuk
pengembangan medianya.

Menurut McQuail (2011:245) media semakin menjadi industri tanpa


meninggalkan bentuknya sebagai institusi masyarakat; dan pemahaman tentang
prinsip- prinsip utama struktur dan dinamika media menuntut analisis ekonomi, selain
politik dan budaya. Menurut Vivian (2008:20), mendirikan dan mengoperasikan
media massa butuh biaya mahal. Peralatan dan fasilitas membutuhkan investasi besar.
Media massa beroperasi dalam lingkungan kapitalistis. Dengan sedikit pengecualian,
mereka berusaha mendapatkan banyak uang.

Bisa dilihat melalui industri media saat ini yang mengeluarkan konten penyiaran
yang kurang bermakna dan bahkan jauh dari edukasi masyarakat karena modalnya
kurang bisa berkembang dikarenakan perekonomian dunia yang melemah. Salah satu
yang bisa dilirik adalah konten penyiaran yang banyak memilih atau mencomot dari
media sosial lainnya seperti tiktok, ataupun youtube. Youtube atau lebih tepatnya
konten vlogger artis Indonesia sekarang mengalami revolusi menjadi bahan penyiaran
di media televisi. Mereka para artis membeli tayangan televisi sebagai bahan branding
dirinya demi mencapai kepuasaan baik dalam sektor ekonomi atau bahkan politik.

Media yang sekarang lebih menyajikan menyiarkan program-program sensasional


dan informasi gosip. Dengan tujuan biaya produksi yang lebih murah, menghasilkan
penonton yang banyak, dan meraih iklan besar. Seperti pemberitaan tabloid, skandal
seksual para politisi, membuat program reality yang menampilkan kecelakaan dan
penangkapan, menjadi cepat kaya melalui permainan, seks, dan kekerasan. Media
tidak membuat program yang melayani kepentingan yang lebih besar yaitu
kepentingan umum, sehingga merugikan setiap misi pelayanan publik.

Kebijakan pemberitaan suatu media tidak terlepas dari kepentingan pemilik dan
ekonomi politik media yang ditempuhnya. Media menempatkan audience
semata-mata hanya dilihat sebagai pasar, bukan warga negara (citizens) (Sucahya,
2013). Tujuan utama dari dibentuknya media adalah meraih keuntungan untuk
pemilik dan para pemangku kepentingan lainnnya. Dengan demikian, media yang
berawal sebagai ruang publik malah semakin bergeser kepada kepentingan ekonomi
politik saja.

Sumber :

Sucahya, Media. “RUANG PUBLIK DAN EKONOMI POLITIK MEDIA.” Fakultas


Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Serang Raya 2 (2013): 15–22.
ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MEDIA

Perubahan industri media ke arah digital sekarang ini membawa pergeseran pada
jenis pekerjaan atau jenis industri yang relatif baru. Mereka para pemilik industri
memanfaatkan media sebagai pekerjaan utama beberapa orang. Seperti Youtuber,
influencer, vlogger dan semacamnya. Ketika teknologi sosial memungkinkan
penggunanya menjangkau audiens yang begitu luas dengan penetrasi pasar yang kian
membesar memungkinkan munculnya pelaku start up baru dalam bentuk
kewirausahaan (entrepreneurship).

Media massa sebagai tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat berdasarkan atas


hukum permintaan dan persediaan (supply and demand). Media layaknya barang dan
jasa dan bisnis media beroperasi sebagai “dual product” market / pasar dengan dua
produk artinya produk yang sama sekali berbeda untuk dua jenis pembeli yang sama
sekali berbeda. Dalam kenyataan, konsumen yang direspon oleh perusahaan media
adalah pengiklan, bukan orang yang membaca, menonton, atau mendengarkan media.
Ini tentu saja dapat menjelaskan bagaimana acara-acara di televisi misalnya, tampil
hampir seragam.

Industri media yang sekarang merasa hanya memiliki tanggung jawab terhadap
orang-orang yang ada dibawah naungannya dan menguntungkannya. Mereka
menyajikan konten konten penyiaran yang hanya trending saja tanpa adanya edukasi
didalamnya. Seperti film “Squid Game” yang menjadi kiblat kepopuleran saat ini. fim
tersebut berhasil memberikan bahan kualitas industri yang ada didunia. Mulai dari
games, gaya perpakaian, gaya media sosial ataupun bahan konten lainnya banyak
yang merujuk pada film tersebut.

Sama halnya dengan tokoh pemeran Ikatan Cinta yakni Arya Saloka dan Amanda
Manopo yang menyabet perhatian para ibu-ibu di Indonesia sehingga mendukung
perindustrian media. Mulai dari media perbelanjaan Shopee, media pembelajaran
Ruang Guru, media periklanan produk dan lain sebagainya. Semua itu terpengaruh
oleh eksistensi dua tokoh dalam lingkungan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu,
perubahan industri ke media digital sangat merubah perekonomian bahkan mata
pencaharian masyarakat yang lebih mengandalkan kepopuleran dari pada
ketrampilannya.

Sumber :

http://morrowpacific.com/perkembangan-industri-media-di-indonesia/ (diakses pada


26 Oktober 2021)

Isfari, Nurul. “Analisis Peran Industri Media Digital Menjadikan Influencer Sebagai
Enterpreneurs dalam Perspektif Ekonomi Islam.” Universitas Islam Negri Raden Intan,
2018, 7–8.