Anda di halaman 1dari 3

BAGUS SATRIO

1006737705

LAPORAN KULIAH SISTEM PERADILAN PIDANA KULIAH IX

• Waktu : Selasa, 9 November 2010


• Topik : Kriteria Penentuan Berat Ringannya Perumusan Ancaman Pid
• Referensi : Andi Hamzah, 2010 Perlindungan HAM dalam Hukum Acara
Pidana, Penerbit: Trisakti

 Isu yang pertama adalah mengenai adanya terlalu banyak ketentuan pidana di
luar KUHP. Telah melanggar atau menyimpang dari asas – asas yang ada di
KUHP;

 Dari hal tersebut diatas, muncul isu kedua mengenai apakah kodifikasi
RKUHP yang akan datang memerlukan kodifikasi total? Dan jawabannya
adalah iya, memerlukan kodifikasi total, dikarenakan semua tindak pidana
masuk kedalam KUHP;

 Berbicara kodifikasi total bahwa di luar KUHP (WVS) terdiri dari dua
kelompok yaitu :
a. Terdiri dari aturan – aturan hukum pidana (Strafwat). Melarang perbuatan
bersifat ancaman terhadap kepentingan hukum yang sebenarnya. Contoh :
korupsi, narkoba, dan lain – lain;
b. Terdiri dari aturan-aturan administrasi yang diberi sanksi pidana (Adm.
Sanction Low).

 Aturan hukum pidana diluar KUHP disebabkan karena memang terlalu berat,
sehingga muncul suatu diskusi mengenai pidana minimum. Pidana minimum
ini ditawarkan kedalam sistem hukum Indonesia melalui RKUHP;

 Ada dua cara amandemen yaitu :


1. Amandemen yang di sisipkan ke Undang – Undang, yakni disusun
sedemikian rupa agar ada penafsiran baru terhadap pemahan yang lama;
2. Amandemen yang menjadi lampiran, yakni kritik aturan di luar KUHP
bukan hanya menyimpang tapi juga terlalu berat di antaranya pidana
minimum, menegakan salah satu asas yang berlaku di masyarakat.
Contoh : pornografi (perlu diperhatikan sanksi-sanksinya apakah efektif
atau tidak).

 Ada keinginan untuk menyeimbangkan berat ringannya delik terhadap suatu


hukuman. Banyaknya Undang-Undang menyebabkan terjadinya inflasi UU,
hal ini dapat menyebabkan masyarakat berpikir bahwa penegak hukum main-
main sehingga dapat terjadi perusakan citra penegak hukum;
 Merunjuk pada tulisan sarjana Belanda Dirk Merckx tentang politik
perumusan ancaman pidana, Development of a sanctioning policy schme with
a sanctioning spectre :
1. Gathering knowledge and information on crime phenomena and their
social impact and threat. (Informasi tentang perilaku yang bersangkutan
BAGUS SATRIO
1006737705

dan ancamannya pada masyarakat).


2. Determining legality and illegality as well as the social use of the
satandard (Menentukan sifat illegalitas-kerugian harus masuk-akal).
3. The definition process. ( deskripsi-alasan-standar yang dituju-perbuatan
seperti apa-kesalahan macam apa-lex certa et stricta).
4. Determination of the intensity of the sanctioning reaction. (menentukan
intensitas reaksi terhadap sanksi).
5. Determination of the necessity of sanctions. (menentukan tetap perlunya
sanksi-asas subsidaritas).
6. If sanctions are necessary, which ones ? (tujuan-alasan-akibat-dean sifat
sanksi).
7. Determination of the sanction . (asesmen absolut dan relatif-asas
proporsionalitas).
8. Assesment of the result of the sanction. (asesmen hasil daripada sanksi)

9. The task of informing , convincing and educating the addressees of the


rule. (memberi tahu target delik dengan sekaligus meyakinkan dan
mendidiknya)
10. Measuring of the impact / use of the regulation and the sanction linked to
it. (mengukur dampak / penggunaan aturan dan sanksi peraturan
tersebut).
11. Re-evaluation and adaptation of the sanctions if necessary. (melakukan
re-evaluasi dan perubahan terhadap sanksi , apabila diperlukan).
12. Re-evaluation and adaptation of the regulation if necessary. (re-evaluasi
dan perubahan terhadap peraturan, apabila diperlukan).

 Aturan – aturan diluar KUHP kebanyakan menyimpang karena sanksi denda


terlalu kecil untuk diberlakukan di Indonesia. Di indonesia hukum terlalu
mudah menjatuhkan pidana penjara, padahal konsep pemasyarakatan tidak
jalan. Konsep dari Penjara sekarang adalah pembalasan (Restitutif justice).
Pidana denda di usahakan untuk memungkinkan hakim mengurangi tindak
pidana. Pidana pengawasan, ada yang mengawasi atau mengawal si pelaku
agar dapat mengikuti nilai norma yang di inginkan.

 Ada 5 kategori keseriusan tindak pidana yaitu :


1. Sangat ringan.
2. Ringan.
3. Biasa.
4. Berat.
5. Sangat berat/sangat serius
BAGUS SATRIO
1006737705

 Perumusan ancaman pidana


- Pidana denda, berkisar antara maksimum Rp. 5000 (UU tahun 1960 tentang
larangan pemakaian tanah tanpa ijin) sampai maksimum Rp. 1 Triliun (UU
tahun 2002 tentang terorisme, kalau pelaku korporasi).
- Pidana kurungan, berkisar antara maksimum 7 (tujuh) hari (UU tahun 2004
tentang jalan) sampai dengan 1 (satu) tahun (UUtahun 2004 tentang
perlindungan TKI di luar negeri).
- Pidana penjara, berkisar antara maksimum 60 hari (UU 2004 tentang
pemerintah daerah) sampai dengan maksimum 15 tahun (UU 2004 tentang
jalan).
Selanjutnya berbeda dengan ketentuan KUHP-WVS, dimana terdapat:
a. Maksimum 18 tahun (UU tahun 1997 tentang narkotika);
b. Maksimum 20 tahun (UU tahun 2004 tentang KDRT);
c. Maksimum 25 tahun (UU tahun 2000 tentang Ham);
d. Maksimum “seumur hidup”(UU tahun 2006 tentang
perlindungan saksi dan korban).
Pidana minimum penjara, ada beberapa bentuk :
a. Minimum 15 hari (antara lain UU tahun 2004 tentang pemerintah daerah)
b. Minimum 1 bulan (antara lain UU tentang pemerintah daerah) ada
minimum 2, 3, 4, 6 bulan).
c. Minimum 1 tahun (antara lain tentang Badan Pemeriksa Keuangan) ada
minimum 2, 3, 4, 5, 7, 10. UU tahun 2002 tentang HAM dipidana dengan
pidana mati atau pidana penjara paling lama 25 tahun dan paling singkat 10
tahun
- Pidana mati (sebagai maksimum dan alternatif) :
a. Diluar KUHP dimulai di UU no.5 Tahun 1997 tentang
psikotripika, “dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
hidup atau pidana penjara selama 20 tahun dan pidana denda sebesar
750 juta;
b. Selanjutnya ada di UU tahun 1997 tentang narkotika, UU tahun
1999 tentang korupsi, UU tahun 2000 tentang HAM, UU tahun 2002
tentang terorisme dan perlindungan anak, dan di 6 UU antara tahun
1997-2006.