Anda di halaman 1dari 12

TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

TINJAUAN KRITIS TERORISME DI INDONESIA

DOSEN : Jeannie Annissa, S.IP, M.SI

ILMU HUKUM

Disusun Oleh :

Ahmad Nur Fuady 0542500426

Gina Pratiwi 1042500015

Devi Andriyani 1042500197

Rizka Ainul Safitri 1042500254

Dewi Febriani 1042500858

HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS BUDI LUHUR

2011
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, terorisme muncul pada akhir abad IX
dan menjelang terjadinya Perang Dunia I dan terjadi hampir diseluruh permukaan bumi. Sekitar
tahun 1890-an, terjadi aksi terorisme armenia melawan pemerintahan Turkey yang berakhir
dengan bencana pembunuhan massal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I.

Terorisme telah berkembang dalam sengketa ideologi fanatisme agama, perjuangan


kemerdekaan, pemberontakan, geriliya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana
menegakkan kekuasaannya1.
Aksi-aksi terorisme yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia tidak hanya menimbulkan
korban jiwa dan kerusakan sarana fisik, tetapi juga rusaknya citra bangsa dan umat Islam
Indonesia. Mereka yang tidak menyukai Islam semakin keras menyuarakan kebencian dan
stigmatisasi bahwa Islam adalah agama teroris. Lebih dari itu, mereka yang tidak memahami
Islam di Indonesia dengan mudah menuduh lembaga-lembaga pendidikan Islam, khususnya
pesantren dan madrasah sebagai sarang teroris.
Para pengamat barat menuding bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia digerakkan oleh
jaringan terorisme al Qaeda dan Jamaah Islamiyah (JI) yang basisnya berada di pesantren
tertentu di Indonesia. Beberapa pelaku yang terbukti terlibat baik langsung maupun tidak
langsung dalam aksi-aksi terorisme memang pernah belajar di pesantren tertentu. Dengan dalih
itulah, muncul kesimpulan yang bias, bahwa pesantren adalah sarang teroris. Pernyataan bahwa
pesantren adalah sarang teroris jelas menunjukkan kurangnya pemahaman tentang Islam
Indonesia dan lebih jauh lagi melukai perasaan seluruh umat Islam terutama kalangan pesantren.
Saat ini, motif terorisme sering dikaitkan dengan berbagai dimensi yag luas seperti
ideologi, nilai, agama, ketidakadilan tatanan dan struktur sosial maupun konstelasi dunia. Lebih
mengejutkan lagi, terorisme tersebut sering diidentifikasikan dengan islam yang dicap sebagai
agama yang mengusung terorisme.

1
Skripsi, Ricky Fransiscus FISIP 04 hal. 29

1
Stigma islam yang melahirkan kekerasan terus dimunculkan setiap hari di berbagai
belahan dunia, hingga umat perlahan mulai percaya bahwa islam adalah agama yang
menciptakan terorisme, padahal tak sedikitpun agama islam ini mengajarkan kekerasan bahkan
tindak teror yang terkeji seperti ini. Dalam berperang misalnya, islam telah mengajarkan syarat
dan ketentuan untuk tidak bertindak yang berlebihan atau merusak maupun membunuh kaum
seagama.
Kemunculan islam radikal di Indonesia mulanya berasal dari banyaknya gerakan-gerakan
agama di masa reformasi. Kemunculan kelompok ini tertopang oleh situasi kebebasan yang
diberikan saat reformasi. Di sisi lain, harapan mereka yang tidak terpenuhi secara proporsional
disamping adanya hal yang mengecam islam sebagai agama.

B. RUMUSAN MASALAH

Tindakan terorisme yang terjadi di Indonesia bahkan didunia telah dikaitkan oleh islam.
Mereka yang kurang pemahaman akan islam menuding bahwa islam adalah sarang teroris dan
sebagai kelompok yang menciptakan kerusakan di dunia. Lalu bagaimana terorisme itu sendiri
dalam perspektif hukum islam?

C. KERANGKA TEORI

T.P.Thornton dalam Terror as a Weapon of Political Agitation (1964) mendefinisikan


terorisme sebagai penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk
mempengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstra normal, khususnya
dengan penggunaan kekerasan dan ancaman kekerasan.

Teror adalah perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis yang menciptakan ketakutan


oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk
menimbulkan rasa takut.

Terorisme adalah penggunaan kekerasan biasanya untuk menimbulkan ketakutan dalam


usaha mencapai satu tujuan (terutama tujuan-tujuan poltik); praktek-praktek tindakan terror.

2
Tujuannya untuk mempromosikan kepentingan politiknya, sehingga dunia internasional tahu apa
yang mereka perjuangkan.2

Terorisme dalam bahasa Arab, identik dengan kata al-ihrab, mashdar yang merupakan
musytaq (pecahan kata) dari fi’l (kata kerja) arhaba. Maknanya adalah “menciptakan ketakutan”
(akhafa) atau “membuat kengerian atau kegentaran” (fazza’a).3

Jihad merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat penting. Jihad dalam berbagai
bentuknya merupakan bagian tak terpisahkan dari iman. Kuat atau lemahnya iman seseorang
salah satunya diukur dari keberanian dan kesabarannya berjihad di jalan Allah. Iman yang kuat
akan senantiasa menggelorakan semangat seorang mukmin untuk berjihad. Sebaliknya, iman
yang lemah membuat seorang mukmin takut berjihad karena kesulitan dan tantangan yang sangat
berat. Bagi mukmin yang beriman dan berjihad dijanjikan oleh Allah pahala surga, kehidupan
yang mulia dan kedudukan yang terhormat di sisi-Nya.

Adapun dalam pengertian syar’i (syariat), para ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad
sebagai upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah secara langsung
maupun memberikan bantuan keuangan, pendapat, atau perbanyakan logistik, dan lain-lain
(untuk memenangkan pertempuran). Karena itu, perang dalam rangka meninggikan kalimat
Allah itulah yang disebut dengan jihad.
Agama islam merupakan rahmatan lil-alamin, agama yang diridhai Allah SWT sebagai
petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan baik didunia maupun diakhirat. Allah SWT
mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam didalam kehidupan manusia
sebagai rahmat dan kenikmatan yang besar bagi manusia bukan suatu musibah yang membawa
malapetaka.

2
B.N. Marbun S.H.,kamus politik (Pustaka Sinar Harapan,Jakarta,2005) hal.530
3
Terdapat dalam firman Allah QS Al-Anfal [8] : 60

3
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya, sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
[QS. Saba' : 28]
Jihad radikal adalah jihad yang tidak terkontrol dan lebih cenderung kepada tindakan
teror.4 Terbangun dari elemen keyakinan agama dan asupan-asupan lain yang disengaja atau
tidak ikut serta didalamnya. Namun jihad radikal ini sungguhlah tidak bermanfaat dan tidak
disebut sebagai jihad. Dalam islam sendiri jelas menetapkan waktu dan kondisi dalam
menggunakan senjata melawan musuh. Karena itu, tidak wajar jika melakukan jihad diluar
syari’at islam.

4
Jamal, M.A, Fauzan. Intelijen nabi: melacak jaringan intelijen militer dan sipil pada masa
Rasulullah. 2008. Jakarta: pustaka OASIS

4
BAB II

PEMBAHASAN
A. Terorisme dalam pandangan Islam
Dari berbagai macam aksi teror yang terjadi di Indonesia yang sering menuding atau
dikaitkan dengan syari’at islam dan juga menimbulkan kebingungan di kalangan muslimin.
Ditambah lagi munculnya orang-orang jahil dan bodoh yang menjadikan dirinya sebagai ahli
fatwa yang mengidentikkan islam dengan terorisme.
Berbagai larangan dalam bentuk hukum perundang-undangan telah ditetapkan dalam
memerangi tindak terorisme ini. Namun undang-undang tersebut sepertinya kurang efektif untuk
memerangi kasus ini.
Terorisme dalam pandangan islam merupakan hal yang melenceng dari agama islam itu
sendiri. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa agama Islam didalam
kehidupan manusia sebagai rahmat dan kenikmatan yang besar bagi manusia bukan suatu
musibah yang membawa malapetaka.
Didukung oleh berdirinya gerakan-gerakan islam khususnya di Indonesia sendiri yang
bersifat radikal yang ingin mendirikan suatu negara islam dengan cara-cara yang tidak sesuai
dengan syari’at islam sehingga mereka biasanya bertindak kasar dan melakukan aksi teror dalam
mencapai tujuannya tersebut.
Para teroris tersebut melakukan aksi terornya mengatas namakan islam sebagai jihad.
Namun pengertian jihad sendiri dalam islam bukanlah memerangi umatnya sendiri yang justru
menghancurkan dan merusak tetapi jihad dalam islam adalah upaya mengerahkan segala jiwa
raga atas nama Allah sesuai ketentuan-ketentuan yang diajarkan dalam syari’at islam.
Praktik jihad yang diajarkan nabi dalam peperangan bukan hanya untuk mendapatkan
kemenangan dan mengalahkan musuh. Tetapi untuk sesuatu yang mulia dan juga mendatangkan
manfaat bagi manusia.
Dalam islam, peperangan hanya diizinkan dalam kondisi seperti: sebagai langkah
bertahan (defensif) untuk melindungi kaum muslim.

5
“dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu
melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas”. (Al-Baqarah : 190)

Kedua, diusir dari rumah dan tanah air.


“Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari maan mereka
telah mengusir kamu”. (Al-Baqarah : 191)

Ketiga, ketika umat islam dianiaya karena menganut agama islam.


“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka
telah dianiaya”. (Al-Hajj : 39)

Keempat, jika kaum musyrik mengingkari perjanjian (perang atau damai) yang telah mereka buat
lalu mengejek agama Allah.
“Dan jika mereka melanggar sumpah setelah ada perjanjian, dan mencerca agamamu, maka
pergilah pemimpin-pemimpin kafir itu”. (At-Taubah: 12)

Pengakuan mantan anggota JI, Nasir Abbas mengakui bahwa kekerasan bukanlah ajaran
Rasullullah SAW dan tindak teror di Bali itu bukanlah jihad karena dilakukan di tempat yang
damai dan bukan orang yang bersalah yang menjadi korban.
Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. Kewajiban
jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya.
(Lihat, misalnya: QS an-Nisa’ 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4).
Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan
meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisaa’ [4]: 95; QS
an-Nisa’ [4]: 95; QS at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS al-
Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam
orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]:
38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24).
Lalu apakah terorisme dibenarkan dalam islam? Di zaman Rasullullah SAW merupakan
zaman keemasan. Di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin terbaik

6
sepanjang zaman, berjayalah islam pada waktu itu. Kejayaan islam bukanlah hal yang mustahil,
bisa terwujud dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman dan
pengamalan yang benar. Bagaimana mungkin kejayaan islam saat itu terwujud dengan cara yang
tidak sesuai dengan ajaran islam itu sendiri. Rasulullah sebelum mencapai kejayaan islam juga
pernah merasakan masa pahit memerangi kaum musyrik. Namun Rasulullah SAW tetap bersabar
dalam menghadapi situasi tersebut bahkan tidak sampai melakukan bom bunuh diri atau hal-hal
lain yang menggangu keamanan masyarakat seperti aksi terorisme yang sedang merajalela dan
menyudutkan islam sebagai pembawa ajarannya. Islam sangat menghargai kehidupan dan
memiliki aturan dan hukum yang tegas dalam menjalani kehidupan.

B. Terorisme dalam pandangan fiqh


Persoalan utama dalam aksi terorisme dalam pandangan islam adalah pemaknaan kata
jihad. Para aktifis muslim dituding sebagai penyebar ajaran teror memahami jihad sebagai
bentuk perlawanan terhadap para penolak islam. Mereka memahami jihad sebagai balas dendam
karena kafir telah memerangi islam secara tidak terbatas, maka wajib pula muslim memerangi
kafir secara tidak terbatas.
Dalam memahami konsep jihad dalam hukum islam dibagi menjadi empat tahapan.
Pertama, kaum muslimin diperintahkan menahan diri untuk bersabar dan tidak melakukan
pembalasan terhadap penindasan, kekejaman dan celaan kafir Quraisy. Kedua, tahapan sebatas
diizinkan berperang tetapi belum diperintahkan berperang, sehingga belum ada kewajiban
berperang. Ketiga, tahapan diwajibkan memerangi kaum kafir secara terbatas, hanya kaum kafir
yang memerangi kaum muslimin sedangkan kaum kafir yang tidak memerangi kaum muslimin
tetap tidak diperangi. Keempat, tahapan yang mewajibkan kaum muslimin untuk memerangi
seluruh kaum kafir dan musyrik.
Larangan melakukan tindakan kekerasan atas nama agama (jihad) atau terorisme telah
diputuskan oleh majelis ulama indonesia (MUI) 2003 dengan mengeluarkan fatwa yang
mengharamkan atas tindakan tersebut. Ketua dewan fatwa MUI, Kiai Ma’ruf Amin
menyampaikan fatwa tersebut karena Indonesia bukan wilayah perang dan terorisme adalah
perbuatan haram.

7
Dalam hukum pidana islam, terorisme dimasukkan kedalam golongan jarimah hirabah.
Golongan ini merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh orang yaitu pengambilan hak orang
secara terang-terangan disertai tindak kekerasan.
Dalam kaidah hukum islam disebutkan bahwa hukum islam dapat diberlakukan kepada
siapa saja dalam dar as-salam. Dalam kaidah lain disebutkan bahwa suatu perbuatan tidak akan
dikenai hukuman kecuali berdasarkan nash. Nash disini mengikat dan berlaku terhadap pelaku
dan tempat melakukan perbuatan tersebut.
Imam malik asy-Syafi’i dan imam Ahmad berpendapat bahwa hukum islam dapat
diterapkan atas segala kejahatan atau terorisme yang dilakukan di mana saja selama tempat
tersebut termasuk daerah dar as-salam baik pelakunya seorang muslim, zimmiy maupun
musta’min.
Hukum islam tentang terorisme diperlakukan tegas dan keras terinci dalam keputusan
Majelis Hai’ah Kibar Ulama (Lembaga Ulama Besar) N0. 148 tanggal 12/1/1409 H (9/5/1998
M) dengan persetujuan dan tanda tangan anggota majelis.
Hal-hal yang diputuskan oleh majelis, diantaranya sebagai berikut:
1. Yang terbukti secara syar’i melukan perbuatan terorisme dan membuat kerusakan di
muka bumi yang menyebabkan kerusakan dan keamanan, hukumannya adalah dibunuh
berdasarkan kandungan yang tertera dalam ayat suci Al-Qur’an.
2. Sebelum dibunuh seperti poin yang diatas, pelaku harus menyelesaikan administrasi si
pengadilan syari’at, Hai’ah At-Tamyiz dan Mahkamah Agung dalam rangka
pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah SWT menjaga manusia, agama, badan, jiwa, kehormatan, akal, dan harta bendanya
dengan disyari’atkan hudud (hukum-hukum ganjaran) dan uqubah (hukuman balasan) yang akan
menciptakan keamanan yang umum dan khusus.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul Nya dan
membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan
dan kaki mereka dengan bertimbal balik (secara bersilangan), atau dibuang dari negeri (tempat
kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan
bagi mereka di akhirat siksaan yang besar”. (QS. Al-Mâ`idah : 33).

8
C. Solusi terorisme menurut pandangan Islam
Tindakan preventif terhadap penyembuhan aksi terorisme awalnya disikapi dengan
menghiasi jiwa kita akan pemikiran islam yang lurus, penguatan aqidah, selalu dalam naungan
wahyu illahi dan mau memahami maknanya.
Adapun solusi terorisme di negeri-negeri kafir, harus di imbangi dengan undang-undang
negeri tersebut. Sangat disayangkan dalam mayoritas negeri islam mengikuti jejak negeri-negeri
kafir dalam penegakkan hukum undang-undang dasarnya yaitu dalam menyelesaikan masalah
suatu negeri misalnya. Biasanya mereka menyelesaikan dengan undang-undang yang mereka
buat sendiri bukan dengan syari’at islam yang maha suci ini.5

5
Disalin dari kitab Al-Ihrab Wa Atsaruhu Alal Afrad Wal Umam, Edisi Indonesia Terorisme
Dalam Tinjauan Islam, oleh Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly, penerjemah
Hannan Bahanan, Maktabah Salafy Press.

9
BAB III
KESIMPULAN

Dasar dari terorisme adalah tindak kesewenang-wenangan terhadap manusia yang


bertentangan dengan prinsip serta syari’at islam. Jadi, mana mungkin terorisme diperbolehkan
dalam islam sementara nash-nash dalam Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa islam sangat
menegakkan kedamaian dan melarang kerusakan di muka bumi. Sungguh disayangkan karena
sebagian muslimin masih awam atas agamanya sehingga kurang keyakinan apa-apa yang
diperintahkan dan apa-apa yang benar dan apa yang salah.

Bisa saja tindak terorisme ini merupakan permainan dari musuh islam sehingga
mengaitkan tindak teror secara langsung maupun tidak langsung dengan menyudutkan islam
sebagai penyebar ajaran teror karena dapat kita lihat pula dalam buku clash of civilization karya
Samuel P Huntington bahwa ada 3 kekuatan besar, yaitu AS, US, dan Islam dan setelah US
runtuh, Islam lah yang menjadi musuh besar bagi AS.

Dalam pandangan islam sendiri, terorisme bukanlah ajaran islam. Islam sebagai agama
rahmatan lil-alamin yang membawa rahmat bagi seluruh umat sebagai pembawa kedamaian
bukanlah malapetaka. Dalam islam diajarkan Jihad, jihad ini yang kemudian disalah artikan oleh
musuh islam sebagai tindak teror. Padahal islam mengajarkan jihad sebagai upaya mengerahkan
seluruh jiwa raga atas nama Allah yang dijalankan sesuai dengan syari’at islam. Sedangkan
terorisme merupakan tindakan kekerasan yang tidak sama sekali diajarkan dalam islam.

Terorisme dalam pandangan fiqh sudah diputuskan oleh para anggota majelis bahwa
terorisme adalah tindakan yang dilarang dan termasuk perbuatan Haram. Tindak pidana pelaku
terorisme juga telah diputuskan sebagai upaya memerangi dan membersihkan terorisme yang
terjadi khususnya di Indonesia sendiri.

Lalu tindakan preventif sebagai solusi dari tindakan ini adalah bagaimana kita dapat
membentengi jiwa kita dengan pemahaman agama yang benar dan lurus serta berpedoman
kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta mengamalkannya secara benar.

10
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul karim dan terjemahannya

B.N. Marbun S.H.,kamus politik. 2005. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

Fealy, Greg, Antony Bubalo. Jejak kafilah: pengaruh radikalisme timur tengah di Indonesia.
2005. Bandung : Mizan

Jamal, M.A, Fauzan. Intelijen nabi: melacak jaringan intelijen militer dan sipil pada masa
Rasulullah. 2008. Jakarta: pustaka OASIS

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhaly. kitab Al-Ihrab Wa Atsaruhu Alal Afrad Wal
Umam, Edisi Indonesia Terorisme Dalam Tinjauan Islam, penerjemah Hannan Bahanan,
Maktabah Salafy Press.

INTERNET

http://www.scribd.com/doc/37972323/Terorisme-Dalam-Tinjauan-Hukum-Islam

http://student-research.umm.ac.id/index.php/department_of_syariah/article/view/7199

11