Anda di halaman 1dari 11

DISASTER PLAN MANAGEMENT

PENANGGULANGAN BENCANA TANAH LONGSOR


DI KOTA PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT

Disusun oleh:
Siska Armaiti Futri
030.13.182

Pembimbing:
dr. Gita Handayani Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS / KESEHATAN MASYARAKAT
PERIODE 10 JUNI 2019 – 16 AGUSTUS 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
A. PENDAHULUAN
Berbeda dengan negara 4 musim seperti Amerika Serikat atau negara
di benua Eropa, Indonesia hanya memiliki 2 musim, antara lain musim
kemarau dan musim penghujan. Hal tersebut disebabkan karena letak negara
Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, dimana daerah yang terletak di
garis khatulistiwa tersebut merupakan daerah tropis yang hanya memiliki 2
musim.
Wilayah ekuatorial memungkinkan adanya penguapan dalam jumlah
besar. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika hujan tetap turun saat
musim kemarau berlangsung. Kejadian tersebut juga didukung oleh posisi
geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan dikelilingi oleh
luasnya lautan menyebabkan curah hujan negara Indonesia menjadi tinggi.
Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang kerap terjadi di
Indonesia terutama di daerah perbukitan dan pegunungan. Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa bencana
hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung akan
mendominasi bencana pada tahun 2019. Diperkirakan lebih dari 2.500
bencana akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dan 95 persennya
merupakan bencana hidrometeorologi. Berdasarkan data BNPB, setidaknya
sebanyak 274 kabupaten dan kota di Indonesia berada di daerah rawan
longsor dan terdapat 40,9 juta jiwa terancam bencana tanah longsor. Daerah
rawan longsor ini berada di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa
Tengah dan Selatan, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Papua, dan
juga sebagian besar Sulawesi.
Menurut kepala BNPB Kabupaten Padang, Kecamatan Sungai
Geringging, Kota Padang Pariaman merupakan daerah yang paling rawan
longsor di Sumatera Barat.

B. GEOGRAFI (Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat)

Padang Pariaman adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatra


Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.328,79 km² dan
populasi 391.056 jiwa .Ibu kota Kabupaten Padang Pariaman adalah Parit
Malintang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) no 79 tahun 2008
tanggal 30 Desember 2008 tentang pemindahan ibu kota kabupaten
Padang Pariaman dari Kota Pariaman ke Nagari Parit Malintang di
kecamatan Enam Lingkung. Padang Pariaman adalah kabupaten dengan
luas wilayah terkecil di Sumatra Barat, yakni 1.328,79 km². Posisi
astronomis Kabupaten Padang Pariaman yang terletak antara 0°11' – 0°49'
Lintang Selatan dan 98°36' – 100°28' Bujur Timur, dengan luas wilayah
sekitar 1.328,79 km² dan panjang garis pantai 60,50 km². Luas daratan
daerah ini setara dengan 3,15 persen dari luas daratan wilayah Provinsi
Sumatra Barat.Suhu udara berkisar antara 24,4 °C – 25,7 °C, jadi untuk
rata-rata suhu maksimum 31,08 °C dan rata-rata suhu minimum yaitu
21,34 °C, dengan kelembapan relatif 86,75 %. Rata-rata curah hujan
secara keseluruhan untuk Kabupaten Padang Pariaman pada tahun 2007
adalah sebesar 368,4 mm, dengan rata-rata hari hujan sebanyak 19 hari per
bulan dan kecepatan angin rata-rata yaitu 2.14 knot/jam.

Gambar 1. Peta wilayah Kabupaten Padang Pariaman

Kabupaten Padang Pariaman memiliki batas wilayah administratif


meliputi sebelah utara Kabupaten Aga, sebelah Timur Kabupaten Tanah
Datar dan Kab. Solok, sebelah Selatan Kota Padang, Sebelah Barat : Kota
Pariaman dan Samudera Indonesia.
luas wilayah 1.328,79 Km2 dengan panjang garis pantai 42,11 Km
yang membentang hingga wilayah gugusan Bukit Barisan. Luas daratan
daerah ini setara dengan 3,15 persen luas daratan wilayah Propinsi Sumatera
Barat
Secara administrasi Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17
kecamatan dimana kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam tercatat memiliki wilayah
paling luas, yakni 228,70 Km2, sedangkan Kecamatan Sintuk Toboh
Gadang memiliki luas terkecil, yakni 25,56 Km.

Kabupaten Padang Pariaman dilalui oleh 11 buah sungai. Sungai


terpanjang adalah Sungai Batang Mangau sepanjang 46 Km serta Sungai
Batang Anai dengan panjang 46 km. Sungai yang memiliki panjang terkecil
dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya di Kabupaten Padang Pariaman
yaitu Batang Kamumuan dan Batang Piaman dengan panjang sungai yaitu
12 km. Secara ekonomis sungai-sungai ini merupakan pendukung bagi
kegiatan irigasi dan untuk budidaya ikan yang diusahakan masyarakat
Kabupaten Padang Pariaman.

C. PENDUDUK
Jumlah penduduk Kabupaten Padang Pariaman tahun 2010 tercatat
sebanyak 391.056 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk terhitung sebanyak
294,29 jiwa/km². Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan
Batang Anai, yakni 43.890 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah
berada di Kecamatan Padang Sago yakni 8.247 jiwa.Sedangkan jumlah
orang yang bekerja sebanyak 142.222 orang dengan rincian 83.836 laki-
laki dan 58.386 perempuan. Dilihat dari tingkat pendidikan pekerja di
Kabupaten Padang Pariaman terbanyak pada tingkat pendidikan tidak
tamat SD sebanyak 45.173 orang, selanjutnya 36.760 orang pada tingkat
pendidikan SD dan sebanyak 6.749 orang berpendidikan di atas sekolah
menengah atas.

D. HAZARD
Daerah rawan longsor dijumpai di daerah-daerah yang memiliki
lereng lebih dari 45% dengan tekstur tanah berpasir, galir dan patahan,
seperti Kecamatan Sungai Geringging, 2 x 11 Enam Lingkung, Batang
Gasan, V Koto Kampung Dalam dan Kecamatan Sungai Limau serta Kec.
IV Koto Aur Malintang.. Potensi longsor dapat juga disebabkan oleh lapisan
kedap air yang dapat menjadi longsoran.
Gambar 2. Peta sebaran daerah kerawanan longsor Kota Padang, Sumatera

Bencana tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman


merupakan bencana alam yang rutin terjadi selama musim hujan, dan
menimbulkan kerugian baik berupa rusaknya lahan pertanian, sarana
bangunan, harta benda, maupun korban jiwa.
Penyebab terjadinya tanah longsor antara lain adalah kemiringan
lereng yang curam sehingga memudahkan terjadinya perpindahan massa
tanah karena dorongan gravitasi, curah hujan yang tinggi menyebabkan
kelebihan aliran permukaan dan terjadinya kejenuhan air tanah, faktor
litologi yang memiliki stabilitas tanah yang rendah, serta penggunaan lahan
terutama pemukiman yang berada pada zona tidak layak huni dapat
mempercepat terjadinya longsor.

E. VULNERABILITY
Vulnerability adalah keadaan/sifat dan perilaku manusia yang
mengurangi kemampuan seseorang untuk menghadapi ancaman bahaya
bencana.
1. Infrastruktur
Kabupaten Padang Pariaman seluas 132.879 Ha, yang terdiri dari
17 kecamatan. Luas keseluruhan ini meliputi daerah terbangun yang
digunakan untuk berbagai kegiatan perumahan/permukiman dan daerah
tidak terbangun seperti pertanian, perkebunan dan sebagainya.
Penggunaan lahan terbesar adalah hutan yaitu 28,49 % dari luas
Kabupaten Padang Pariaman, kemudian perkebunan sebanyak 26,40 %
dan sawah seluas 21,38 % dari luas Kabupaten Padang Pariaman.
Daerah rawan longsor dijumpai di daerah-daerah yang memiliki
lereng lebih dari 45% dengan tekstur tanah berpasir, galir dan patahan,
seperti Kecamatan Sungai Geringging, 2 x 11 Enam Lingkung, Batang
Gasan, V Koto Kampung Dalam dan Kecamatan Sungai Limau serta
Kec. IV Koto Aur Malintang.. Potensi longsor dapat juga disebabkan
oleh lapisan kedap air yang dapat menjadi longsoran
2. Sosial-ekonomi
Kemampuan ekonomi mempengaruhi kesigapan suatu daerah
dalam menghadapi bencana. Dengan kemampuan ekonomi yang cukup,
masyarakat mampu mengadakan pendidikan dan pengelolaan
lingkungan yang baik dalam rangka mengurangi risiko bencana.
Sedangkan semakin banyak rumah tangga yang miskin, makan semakin
rentan terhadap bencana banjir. Persentase penduduk yang miskin di
Kota Padang Pariaman sejak tahun 2012 – 2016 mengalami peningkatan
dari 4,76% menjadi 5,24%.

F. CAPACITY
1. Kuantitatif
 Jumlah tenaga kesehatan di Kecamatan Sungai Geringging terdiri
dari 23 dokter, 40 bidan/perawat, dan 39 mantri kesehatan.
 Jumlah kelompok rentan <50%. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik Kota Padang tahun 2016, didapatkan jumlah bayi dan
balita mencapai 34.669 (8.1%) dan jumlah lansia (> 60 tahun)
mencapai 35.318 (8.2%) dari total penduduk 427.906.
 Logistik yang terdiri dari obat-obatan, bahan habis pakai,
perlengkapan gawat darurat, air minum tersedia dalam jumlah
cukup.
2. Kualitatif
 Kerja sama antara pemerintah (BPBD) dan badan kesehatan di
beberapa daerah kecamatan dalam menghadapi bencana longsor
yang timbul akibat erosi.
 Tenaga kesehatan, institusi pemerintah, dan tokoh masyarakat
sudah memiliki pengetahuan dalam menghadapi bencana tanah
longsor.
 Sosialisasi pada masyarakat mengenai ancaman dan akibat yang
mungkin ditimbulkan dari bencana tanah longsor.
 Kualitas obat dan alat-alat medis dalam kondisi baik dan
terpelihara.

G. DISASTER MANAGEMENT
1. Tahap Pra Bencana
Upaya Pencegahan
Upaya untuk memperkecil bahaya longsor dapat dilakukan dengan
dua pendekatan, antara lain pendekatan hukum dan fisik.
a. Pendekatan Hukum
Menegakan peraturan yang berkaitan dengan tata ruang yang
berhubungan dengan penataan pemukiman dan penetapan daerah
kawasan lindung yang tidak dapat digunakan sebagai pemukiman.

b. Pendekatan Fisik
Pendekatan fisik termasuk pemberdayaan masyarakat dan
teknis berupa teknik sipil dan upaya vegetatif.
 Teknik Sipil: upaya pencegahan longsor dengan
pembangunan talud, pembuatan saluran drainase, dan
pengolahan tanah. Dalam melakukan teknik sipil perlu
dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut; karakteristik lahan
(kemiringan lereng, litologi, struktur pelapis batuan,
kedalaman tanah, dan tata air), tipe longsor, dan penggunaan
lahan in situ.
 Cara Vegetatif: salah satu upaya mencegah atau
mengendalikan penyebab terjadinya tanah longsor adalah
dengan program penghijauan pada lereng-lereng yang rawan.
Jenis tanaman yang dipilih harus memiliki perakaran yang
dalam, tumbuh cepat dan tahan terhadap pemangkasan, tahan
terhadap kekurangan air, selalu hijau dan sering berbunga,
mampu hidup pada berbagai kondisi tanah, tidak mudah
menggugurkan cabang, dan memiliki manfaat baik dalam
aspek ekologis maupun ekonomis.
 Pemberdayaan Masyarakat: upaya memberi peran aktif
kepada masyarakat sehingga diharapkan dikemudian hari
dengan kesadaran sendiri mampu mengatasi kejadian
ancaman bencana. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan
antara lain melalui kegiatan penyuluhan, sosialisasi, pelatihan
maupun kegiatan lain.
2. Tahap Saat Bencana/Tanggap Darurat
Tahap tanggap darurat merupakan tahap penindakan atau
pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa
bencana, guna menghindari bertambahnya jumlah korban jiwa.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap tanggap darurat
meiputi:
a. Bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan yang
telah disiapkan.
b. Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran,
sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, maka yang harus
dilakukan adalah segera pergi ketempat yang aman (lokasi
evakuasi) dan lakukan pemindahan korban dengan hati-hati.
c. Bila tidak memungkinkan untuk mencari tempat perlindungan,
maka lingkarkan tubuh anda seperti bola dengan kuat dan lindungi
kepala anda. Posisi ini akan memberikan perlindungan terbaik
untuk badan anda.
d. Pada saat terjadinya bencana penanggulangan kesehatan dapat
dilakukan di Puskesmas (puskesmas disaster plan)
3. Tahap Pasca Bencana
a. Fase Rehabilitasi
 Hindari daerah longsor, karena longsor susulan mungkin
akan terjadi.
 Periksa korban luka dan korban yang terjebak longsor tanpa
langsung memasuki daerah longsor.
 Bantu arahkan SAR ke lokasi longsor.
 Waspada adanya aliran reruntuhan setelah longsor.
 Laporkan kerusakan fasilitas umum yang terjadi kepada
pihak yang berwenang.
 Periksa keadaan pondasi rumah dan tanah di sekitar lokasi
longsor.
 Membuat tempat pengungsian sementara selama rumah
penduduk belum aman dari tanah longsor.
b. Fase Rekonstruksi
Pembangunan kembali bangunan atau infrastruktur yang
rusak akibat bencana tanah longsor, ataupun hanya memperbaiki
sarana dan prasarana yang rusak.

H. DISASTER PLAN
Puskesmas Kecamatan Geringging, Kota Padang Pariaman dalam hal
penanggulangan kesehatan saat terjadinya bencana yang dapat dilakukan
antara lain:
1. Memastikan puskesmas aman sebagai sentra pelayanan kesehatan pasca
bencana
2. Menentukan tempat yang aman untuk pengungsian, misalnya balai desa,
sekolah, atau tempat ibadah
3. Menunjuk command leader di puskesmas yaitu salah satu dokter
puskesmas
4. Membual jalur dan lokasi evakuasi bencana
5. Mengumpulkan obat-obatan dan alat-alat medis penunjang
6. Membuat daftar rumah sakit terdekat dengan lokasi bencana untuk
merujuk pasien yang tidak dapat ditangani di puskesmas
7. Melakukan kerjasama dengan organisasi pemerintah, tim medis, dan
mahasiswa kedokteran, contohnya membentuk Tim Medis Gerak Cepat,
Tim Rapid Health Assessment, Tim Bantuan Medis.