Anda di halaman 1dari 46

BAB II

STUDI PUSTAKA

II.1 Umum

Sebagai salah satu bahan konstruksi, kayu memegang peranan cukup penting

terutama untuk bangunan sederhana atau yang bersifat sementara dan kuda – kuda

untuk atap.

Kayu adalah bahan didapat dari tumbuh – tumbuhan di alam termasuk

vegetasi hutan. Tumbuhan yang dimaksud disini adalah pohon (tree). Pohon berbeda

dengan tanaman ( plant ). Dari tanaman tidak menghasilkan kayu. Kayu sebenarnya

adalah daging pohon. Kayu memiliki empat unsur yang esensiil yaitu :

1. Sellulosa. Unsur terbesar dari kayu meliputi ± 70 % dari berat kayu.

Bagian yang disebut Alpha selulosa adalah dasar pembuat kayu.

2. Lignin. Komponen pembentuk kayu sekitar 18% – 20% dari berat kayu

dan memberi sifat keteguhan pada kayu.

3. Bahan – bahan ekstraksi. Komponen ini yang memberikan kayu sifat –

sifat seperti warna, bau , rasa dan keawetan.

4. Mineral Pembentuk Abu. Komponen ini tertinggal setelah selulosa dan

lignin terbakar habis.

Studi mengenai kayu dimulai dari sebatang pohon hidup dan dengan meneliti

tahap – tahap penebangan, pengubahan, dan pengeringan. Kesemua ini

mempersiapkan kayu sehingga dapat digunakan seorang tukang.

Berikut akan di uraikan bagian – bagian kayu yang terlihat pada potongan

melintang kayu yaitu :

Universitas Sumatera Utara


C D C

A.Kulit luar
B.Kulit Dalam
C.Kayu Gubal
D.Kayu Teras
E.Kambium
F.Hati Kayu

G.Lingkaran Tahun
H.Jari - Jari
I.Kayu Awal
J.Kayu Akhir

Gambar II .1 Penampang Melintang Kayu

1. Kulit Kayu

Kulit Kayu terdapat pada bagian terluar, yang terdiri dari :

a. Kulit Dalam ( Phloem )

Kulit dalam berada tepat dibalik kulit luar sebatang pohon, diluar lapisan

kambium, yang berfungsi menyampaikan makanan dari daun ke seluruh bagian

kayu.

b. Kulit Luar ( Cortex )

Kulit luar merupakan pelindung bagi pohon yang sedang tumbuh, yang

berfungsi mencegah penguapan dari lapisan kambium dan kayu gubal. Kulit

kayu terdiri dari sel – sel berbentuk pembuluh – pembuluh dan mendapatkan

makanan dari kulit dalam.

Apabila pohon tumbuh keluar , kulit luar akan pecah dan digantikan oleh

lebih banyak kulit luar yang disalurkan oleh kulit dalam. Adakalanya, dengan

Universitas Sumatera Utara


terbentuknya kulit luar yang baru , kulit luar lama yang telah mati terlepas dari

pohon.

2. Kambium

Lapisan kambium merupakan jaringan yang lapisannya tipis dan bening,

mengelilingi kayu, ke arah luar membentuk kayu baru sebagai pengganti kayu lama

yang telah rusak dan ke arah dalam membentuk kayu baru. Kambium terletak

diantara kulit dalam dan kayu gubal. Dengan adanya kambium ini maka pohon

bertambah lama bertambah besar.

3. Kayu

a. Kayu Gubal ( Alburmum )

Kayu Gubal merupakan bagian dari pohon yang melingkari kayu inti .

Terdiri dari sel – sel yang masih hidup. Sel – sel kayu gubal membawakan air dan

garam – garam mineral ke dahan yang selanjutnya menuju daun, untuk diubah

sebagai sumber makanannya dan sekaligus berfungsi sebagi tempat menyimpan

makanan. Kayu gubal tidak begitu berharga sebagai kayu pertukanga. Hal ini

disebabkan karena adanya zat – zat tepung didalam sel – selnya yang dapat

menyebabkan kayu tersebut mudah diserang serangga dan mudah lapuk. Tebal

lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon antara 2 cm sampai 10 cm dan

relatif tetap sepanjang hidup pohon.

b. Kayu Teras

Terdiri dari sel – sel yang yang sudah tua atau mati. Kayu teras ini

awalnya adalah kayu gubal yang menua sehingga tidak bisa berfungsi sebagai

penyalur cairan atau zat hara dan sebagai penyimpanan hasil fotosintesis. Pada kayu

teras dapat mengandung berbagai zat – zat ekstraksi yang memberikan warna gelap.

Universitas Sumatera Utara


Hal ini berlaku untuk jenis – jenis kayu yang terasnya berisi tiloses . Pada beberapa

jenis tertentu kayu teras banyak mengandung bahan – bahan ekstraktif, yang

memberikan keawetan pada kayu tersebut. Untuk keperluan konstruksi yang

dimanfaatkan adalah kayu teras.

4. Hati Kayu ( Medulla )

Hati kayu terletak dipusat lingkaran tahun. Pada mulanya, hati kayu merupakan

pohon muda yang pertama kali dibentuk oleh kambium yang kemudian menjadi

pusat dari pohon yang tumbuh selanjutnya, yang merupakan komposisi lunak dari sel

– sel yang sudah mati. Hati kayu bersifat rapuh atau lunak, sehingga tidak berguna

sebagai kayu pertukangan .

5. Lingkaran Tahun ( Annual Ring )

Kondisi pertumbuhan suatu pohon ditentukan oleh lingkunan tumbuh yaitu

iklim. Pada daerah yang mempunyai perbedaan musim yang jelas pengaruh iklim

terhadap pertumbuhan dapat terlihat adanya perbedaan antara kayu yang terbentuk

pada permulaan dan pada akhir musim. Perbedaan ini menunjukkan zona – zona

berupa lingkaran yang mengelilingi sumbu batang, bagian yang renggang berwarna

terang dan yang lebih rapat berwarna gelap secara bergiliran yang kedua – duanya

terjadi pada periode satu tahun. Zona – zona yang berbentuk lingkaran ini yang

disebut dengan lingkaran tahun. Pada musim kering, pertumbuhan diameter

(membesar) terganggu disebabkan adanya pengguguran daun . Sehingga lingkaran

tahun dapat terdiri lebih dari satu lingkaran tahun dalam satu musim yang sama . Hal

ini disebut lingkaran semu . Lingkaran tahun ini dapat menunjukkan umur suatu

pohon pada tempat tertentu.

Universitas Sumatera Utara


6. Jari – Jari Kayu

Jari – jari kayu adalah jaringan kayu yang dibentuk dengan susunan sel secara

radial yang berfungsi menyampaikan makanan dari kulit dalam kebagian dalam

pohon . Jari – jari teras mempunyai ukuran yang berbeda – beda pada pohon yang

berlebihan. Sementara pada pohon oak , jari – jari pohon menampakkan sebuah pola

yang indah pada potongan kayu.

II.2 Sifat – sifat Kayu

Kayu berasal dari beberapa jenis pohon memiliki sifat yang berbeda – beda.

Bahkan, kayu dari satu jenis pohon yang sama memiliki sifat agak berbeda jika

dibandingkan ujung dengan pangkalnya. Maka dari itu, kita sebagai pengguna kayu

sedikit banyak harus mengetahui ciri – ciri dan sifat – sifat kayu. Beberapa sifat kayu

yang dimaksud meliputi sifat kayu secara umum, sifat fisis, sifat mekanis dan sifat

kimia kayu.

A. Sifat Umum

Meskipun sifat kayu antara satu pohon dengan pohon lain bahkan untuk satu

jenis pohon berbeda namun ada beberapa sifat umum yang sama dimiliki hampir

setiap jenis kayu. Sifat umum tersebut antara lain adalah :

a. Semua batang pohon mempunyai pengaturan vertikal dan sifat simetri

radial.

b. Semua kayu bersifat anisotropik yaitu sifat – sifatnya elastis tergantung

dari arah gaya terhadap serat – serat dan lingkaran tahun . Tetapi untuk

keperluan – keperluan praktis kayu dapat dianggap Ortotropis , yang

Universitas Sumatera Utara


artinya mempunyai tiga bidang simetri elastis yang saling tegak lurus ,

yaitu Longitudinal ( aksial ), Tangensial , dan Radial. Dimana sumbu

Longitudinal ( aksial ) adalah sejajar serat – serat, sumbu Tangensial

adalah garis singgung cincin – cincin pertumbuhan, dan sumbu Radial

adalah tegak lurus pada cincin – cincin pertumbuhan. Perubahan dimensi

kayu akibat pengeringan dari perubahan suhu, kelembaban, pembebanan

mekanis juga menunjukkan sifat kayu anisotropis

Gambar II.2 Bentuk Gambar Arah Tangensial, Radial dan Longitudinal


( Sumber : Awaluddin, ali. 2005. Konstruksi Kayu.. KTSM UGM : Yogyakarta )

c. Kayu bersifat higroskopis yaitu dapat kehilangann atau bertambah

kelembabannya akibat perubahan kelembaban dan suhu udara\ di

sekitarnya.

d. Kayu dapat terserang makhluk perusak kayu dan dapat terbakar apalagi

dalam keadaan kering.

Universitas Sumatera Utara


B. Sifat Fisis

Sifat fisis dari kayu meliputi :

1. Berat jenis kayu

Berat jenis kayu biasanya berbanding lurus dengan kekuatan daripada kayu

atau sifat – sifat mekanisnya . Makin tinggi berat jenis suatu kayu maka makin tinggi

pula kekuatannya.

Mengingat kayu terbentuk dari sel – sel yang memiliki bermacam – macam

tipe, memungkinkan terjadinya suatu penyimpangan tertentu . Pada perhitungan berat

jenis kayu semestinya berpangkal pada keadaan kering udara, yaitu sekering –

keringnya tanpa pengeringan buatan .

Berat jenis didefenisikan sebagai angka berat dari satuan volume suatu

material. Berat jenis diperoleh dengan membagikan berat kepada volume benda

tersebut. Berat jenis diperoleh dengan cara menimbang suatu benda pada suatu

timbangan dengan tingkat keakuratan yang diperlukan. Untuk praktisnya , digunakan

timbangan dengan ketelitian 20 % , yaitu sebesar 20 gr / kg . Sedangkan untuk

menentukan volume , ada beberapa cara untuk memperoleh besarnya volume suatu

benda . Cara yang umum dan mudah dilakukan adalah dengan mengukur panjang ,

lebar dan tebal suatu benda dan mengalikan ketiganya .

Untuk kayu , sebaiknya ukuran sampel tidak kurang dari ukuran dari 7.5 cm x

5 cm x 2.5 cm, tetapi bila ukuran sampel kurang dari tersebut, maka cara yang

digunakan untuk mendapatkan volume adalah dengan metode pencelupan. Pada

metode ini penggunaan pan berisi air yang diletakkan pada timbangan ayun.

Kemudian timbangan diseimbangkan dengan meletakkan pemberat pada sisi lainnya.

Sampel lalu dimasukkan kedalam pan dan dibenamkan kedalam air . Diatur agar air

Universitas Sumatera Utara


tidak keluar dari dalam pan , dan diatur juga agar sampel tidak menyentuh sisi – sisi

samping dan bawah pan dengan memasang jarum sebagai kaki – kaki sampel .

Seimbangkan timbangan dengan menambah pemberat pada sisi lain . Berat pemberat

yang ditambahkan untuk mencapai keseimbangan ( dalam Gr ) adalah sama dengan


3
nilai volume sampel ( dalam cm ) .

Karena kayu sebagai material dengan daya serap yang tinggi, maka

diperlukan bahan lain untuk melapisi sampel sehingga air tidak ada yang masuk ke

dalam kayu. Bahan tersebut haruslah bahan yang tipis, kedap air, serta memiliki berat

yang sangat kecil. Parafin merupakan bahan yang sesuai. Sebelum sampel

dimasukkan kedalam air, terlebih dahulu sampel dimasukkan kedalam cairan parafin

yang mendidih sampai keseluruhan permukaan sampel ditutupi parafin . Kelebihan

parafin pada permukaan yang dihaluskan dan diratakan sehingga permukaan parafin

tidak terlalu tebal .

Berat jenis juga didefenisikan berat jenis relatif benda tersebut terhadap berat
3
jenis standard , dalam hal ini berat jenis air dalam gr / cm . Air dipakai sebagai

3
bahan standard karena berat 1 cm adalah 1 gr. Dapatlah dikatakan bahwa berat

jenis suatu benda adalah berat benda tersebut relatif terhadap berat jenis standard

yaitu air .

2. Kadar air ( kadar lengas ) kayu

Kayu sebagai bahan bangunan dapat mengikat air dan juga dapat melepaskan

air yang dikandungnya. Keadaan seperti ini tergantung pada kelembaban suhu udara

disekelilingnya dimana kayu itu berada .

Universitas Sumatera Utara


Kayu mempunyai sifat peka terhadap kelembaban. Karena pengaruh kadar

airnya menyebabkan mengembang dan menyusutnya kayu serta mempengaruhi pula

sifat – sifat fisik dan mekanis kayu. Kadar air sangat besar pengaruhnya terhadap

kekuatan kayu, terutama daya pikulnya terhadap tegangan desak sejajar arah serat

dan juga tegak lurus arah serat kayu .

Sel – sel kayu mengandung air , yang sebagian merupakan bebas yang

mengisi dinding sel . Apabila kayu mengering , air bebas keluar dahulu dan saat air

bebas itu habis keadaannya disebut titik jenuh serat ( Fiber Saturation Point ) .

Kadar air pada saat itu kira – kira 25 % - 30 % . Apabila kayu mengering dibawah

titik jenuh serat , dinding sel menjadi semakin padat sehingga mengakibatkan serat –

seratnya menjadi kokoh dan kuat . Maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa

turunnya kadar air mengakibatkan bertambahnya kekuatan kayu .

Pada umumnya kayu – kayu di Indonesia yang kering udara mempunyai

kadar air ( kadar lengas ) antara 12 % - 18 % , atau rata – rata adalah 15 % .

3. Cacat kayu

Cacat Kayu dapat mempengaruhi kekuatan kayu, bahkan kayu yang cacat

tersebut tidak dapat dipegunakan ubtuk bahan konstruksi. Cacat kayu yang sering

kali terjadi adalah retak ( Cracks ), mata kayu ( Knots ), dan kemiringan serat ( slope

of grain ). Retak disebabkan karena terjadi proses penyusutan pada kayu. Pada kayu

yang tipis retak terjadi lebih besar yang dinamakan dengan belah ( Split ).

Mata kayu terbentuk dari bekas patahan cabang kayu. Pada mata kayu terjadi

pembelokan arah serat sehingga menurunkan kekuatan kayu. Sedangkan kemiringan

serat terjadi karena tidak sesuainya sumbu batang kayu dengan sumbu pohon pada

saat pemotongan atau penggergajian.

Universitas Sumatera Utara


4. Warna kayu

Warna kayu bermacam – macam seperti kuning, coklat muda, coklat tua,

kehitam – hitaman, kemerahan dan lain – lain. Kadang kala warna kayu dapat dengan

mudah mengidentifikasi jenis kayu tersebut. Pada pengenalan kayu, warna kayu yang

dipakai adalah warna kayu terasnya. Warna kayu dapat berbeda karena dipengaruhi

zat ekstraktif yang dikandung kayu dan dipengaruhi oleh fakor – factor seperti

tempat di dalam pohon, umur pohon dan kelembaban.

5. Serat, tekstur dan kesan raba

Arah serat dapat ditentukan oleh alur – alur yang tedapat pada permukaan

kayu. Jika alurnya sejajar sumbu batang maka kayu berserat lurus. Jika serat agak

menyimpang sumbu batang dikatakan serat mencong. Serat mencong dibagi lagi

menjadi serat berpadu, serat berombak, serat berpilin dan serat diagonal.

Serat dikatakan berpadu jika arah serat menyimpang berselang seling kekiri dan

kekanan secara bergantian terhadap sumbu batang. Serat berombak, arah seratnya

menggambarkan permukaan yang berbentuk ombak. Serat berpilin jika arah seratnya

membuat gambaran terpilin seolah – olah batang kayu mengelilingi sumbu. Serat

diagonal yaitu serat yamg dapat pada potongan kayu atau papan yang digergaji

sedmikian rupa sehingga tepinya tidak sejajar arah sumbu tetapi memebentuk sudut

dengan sumbu.

Tekstur ialah ukuan relatif serat – serat kayu. Berdasarkan teksturnya, jenis

kayu digolongkan ke dalam : kayu bertekstur halus, kayu bertekstur sedang dan

bertekstur kasar.

Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat kita meraba permukaan

kayu. Ada yang terasa kasar, licin atau halus. Kesan raba yang berbeda – beda untuk

Universitas Sumatera Utara


tiap – tiap kayu bergantung pada tekstur kayunya, besar kecilnya kadar air yang

dikandung dan kadar zat ekstraktif di dalam kayu.

6. Kekerasan

Terdapat hubungan langsung antara kekerasan kayu dengan berat kayu.

Kayu– kayu yang keras termasuk kayu – kayu yang berat dan kayu yang lunak

termasuk kayu yang ringan. Cara menetapkan kekerasan kayu dengan memotog kayu

arah melintang. Kayu yang keras akan sulit dipotong dengan pisau dan hasilnya akan

memberikan kilauan pada kayu sedangkan kayu yang lunak akan mudah rusak jika

dipotong melintang.

7. Bau dan rasa

Bau dan rasa ini sifatnya mudah hilang. Untuk mengetahui bau dan rasa harus

dilakukan sayatan kayu yang baru. Sifat bau dari kayu dapat digambarkan sesuai

dengan bau yang umum dikenal. Seperti kayu Ulim bau bawang putih.

8. Nilai dekoratif

Nilai dekoratif tergantung dari warna kayunya, pola dan arah serat kayu kilap

kayunya serta sifat kayunya terhadap zat pemutih, pengisi, politur dan sebagainya.

Kayu yang memiliki dekoratif tinggi biasanya di utamakan untuk membuat perabot

rumah tangga daripada untuk keperluan arsitektur. Kayu yang memiliki nilai

dekoratif antara lain Oak, Jati, Rengas dan Ebony.

9. Pengerutan dan pengembangan kayu

Pengerutan dan pengembangan kayu dimaksudkan adalah suatu keadaan

perubahan bentuk pada kayu yang disebabkan oleh tegangan-tegangan dalam,

sebagai akibat dari berkurangnya atau bertambahnya kadar air kayu. Pengerutan

terjadi karena dinding-dinding maupun isi sel kehilangan sebagian besar kadar

Universitas Sumatera Utara


airnya, ini juga terjadi pada serat-seratnya. Begitu pula sebaliknya. Besarnya

pengerutan maupun pengembangan pada berbagai jenis kayu dan arah kayu adalah

tidak sama.

T = Pengerutan kayu arah tangensial ± 7 % - 10 %

R = Pengerutan kayu arah radial ± 5 %

A = Pengerutan kayu arah aksial (longitudinal) ± 0.1 % (sangat kecil,

dapat diabaikan)

Pengerutan kayu dalam arah lingkaran-lingkaran pertumbuhan (tangensial)

lebih besar daripada arah radial, karena dapat ditemui bahwa di sebelah luar batang,

sel-selnya masih muda dan banyak mengandung kadar air.

Pada pengeringan batang kayu glondong, keliling mengerut hampir dua kali

jari-jari yaitu sebanyak garis tengah, sehingga terjadi rengat-rengat pengeringan. Jika

pada batang yang belum dikeringkan (basah) digergaji menjadi papan atau balok

akan melipat atau melentur.

Secara teoritis, besarnya pengerutan berbanding lurus dengan banyaknya air

yang keluar setelah dikeringkan. Contohnya, bila suatu batang kayu mempunyai

lebar asal pada arah tangensial, pada kadar air 20 % adalah 26 cm. Setelah

dikeringkan lebarnya menjadi 24 cm, maka pengerutan kayu arah tangensial dalam

26 − 24
persen (%) adalah = x 100 % = 8.33 %
26

C. Sifat Mekanis Kayu

Sifat mekanis kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan muatan luar,

yaitu gaya – gaya luar yang cenderung untuk mengubah bentuk dan besarnya kayu.

Sifat – sifat mekanis kayu meliputi :

Universitas Sumatera Utara


1. Keteguhan Tarik

Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya – gaya yang

berusaha menarik kayu tersebut. Kekuatan tarik pada kayu adalah pada sejajar serat.

Gaya tarik ini berusaha melepas ikatan antara serat – serat kayu tersebut. Sebagai

akibat dari gaya tarik (P), maka timbullah didalam kayu tegangan – tegangan tarik,

yang harus berjumlah sama dengan gaya – gaya luar P. Bila gaya tarik ini membesar

sedemikian rupa, serat – serat kayu terlepas dan terjadilah patahan. Dalam suatu

konstruksi bangunan, hal ini tidak boleh terjadi untuk menjaga keamanan . Tegangan

tarik yang masih diizinkan dimana tidak timbul suatu perubahan atau bahaya pada

_
kayu, disebut tegangan tarik yang diizinkan dengan notasi : σ tr // ( kg / cm 2) .

Misalnya , untuk kayu dengan mutu E24 tegangan tarik yang diizinkan dalam arah


serat adalah 560 kg / cm
2
( σ 2
tr // = ± 560 kg / cm ) .

Serat Kayu

P P

Gambar II.3 Batang Kayu Menerima Gaya Tarik Sejajar Serat

2. Keteguhan Tekan

Keteguhan tekan / kompresi adalah kekuatan atau daya tahan kayu terhadap

gaya – gaya tekan yang bekerja sejajar atau tegak lurus serat kayu. Gaya tekan yang

bekerja sejajar serat kayu akan menimbulkan bahaya tekuk pada kayu tersebut .

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan gaya tekan yang bekerja tegak lurus arah serat akan menimbulkan retak

pada kayu .

Bahaya Tekuk
P P

Gambar II.4 Batang kayu menerima gaya tekan sejajar serat

Batang – batang yang panjang dan tipis seperti papan, bahaya kerusakan

karena menerima gaya tekan sejajar serat adalah lebih besar, jika dibandingkan

dengan gaya tekan tegak lurus serat kayu. Sebagai akibat adanya gaya tekan ini akan

menimbulkan tegangan tekan pada kayu. Tegangan tekan yang terbesar dimana tidak

menimbulkan adanya bahaya disebut tegangan tekan yang diizinkan, dengan notasi


σ tr ┴ ( kg / cm 2 )..

P Serat Kayu

Gambar II.5 Batang kayu yang menerima gaya tekan tegak lurus serat

Universitas Sumatera Utara


3. Keteguhan Geser

Keteguhan geser adalah kekuatan atau daya tahan kayu terhadap dua gaya –

gaya tekan yang bekerja padanya, kemampuan kayu untuk menahan gaya – gaya

yang menyebabkan bagian kayu tersebut bergeser atau tergelincir dari bagian lain di

dekatnya. Akibat gaya geser ini, maka akan timbul tegangan geser pada kayu. Dalam

hal ini dibedakan 3 macam keteguhan geser, yaitu keteguhan geser sejajar serat,

keteguhan geser tegak lurus serat dan keteguhan geser miring. Tegangan geser

terbesar yang tidak akan menimbulkan bahaya pada pergeseran serat kayu disebut

tegangan geser yang diizinkan , dengan notasi τ− ( kg / cm 2


).

Gaya Geser

Gambar II .6 Batang kayu yang menerima gaya geser tegak lurus arah serat

τ− // ( kg /cm2 )
4. Keteguhan Lengkung ( Lentur )

Keteguhan lengkung ( lentur ) adalah kekuatan atau daya tahan kayu terhadap

gaya – gaya yang berusaha melengkungkan kayu tersebut. Dalam hal ini dibedakan

atas keteguhan lengkung statik dan keteguhan lengkung pukul. Keteguhan lengkung

statik menunjukkan kekuatan kayu dalam menahan gaya yang mengenainya

perlahan–lahan, sedangkan keteguhan lengkung pukul adalah kekuatan kayu dalam

Universitas Sumatera Utara


menahan gaya yang mengenainya secara mendadak. Balok kayu yang terletak pada

dua tumpuan atau lebih , bila menerima beban berlebihan akan melengkung /

melentur .

Tertekan

Tertarik
garis netral

Gambar II .7 Batang kayu yang menerima beban lengkung

Pada bagian sisi atas balok akan terjadi tegangan tekan dan pada sisi bawah

akan terjadi tegangan tarik yang besar . Akibat tegangan tarik yang melampaui batas

kemampuan kayu maka akan terjadi regangan yang cukup berbahaya

. 5. Keteguhan Belah

Keteguhan belah adalah kemampuan kekuatan kayu dalam menahan gaya –

gaya yang berusaha membelah kayu . Kayu lebih mudah membelah menurut arah

sejajar serat kayu . Keadaan kayu juga mempengaruhi sifat pembelahan , misalnya

kayu yang basah lebih mudah dibelah daripada kayu yang telah kering .

6. Kekuatan, keuletan dan kekakuan

Kekuatan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk.

Keuletan artinya kemampuan kayu menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau

tahan terhadap kejutan – kejutan atau tegangan – tegnagan yang berulang – ulang

yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang

permanen. Sedangkan kekerasan adalah ukuran kekuatan kayu dalam menahan gaya

yang membuat takik atau lekukan.

Universitas Sumatera Utara


II. 3 Kayu Meranti

Kayu meranti dikenal dengan banyak nama. Berbeda negara berbeda pula

penyebutannya. Namun untuk kemudahan diberikan nama botani meranti yang

dikenal dengan Shorea spp. Meranti termasuk dalam famili Dipteropaceae.

Penyebaran wilayah tumbuh meranti di Indonesia adalah di Sumatera, Kalimantan

dan Maluku. Meranti yang ada di pasaran ada tiga jenis. Ia dibedakan menurut

warnanya yaitu meranti merah, meranti kuning dan meranti putih yang masing –

masingnya terdiri atas beberapa spesies lagi.

Ciri – ciri umum dari meranti adalah tinggi pohon mencapai 40 m, panjang

batang bebas cabang mencapai 10 – 30 m, diameter bisa mencapai 200 cm, bentuk

batang lurus dan silindris.

Ciri – ciri fisik serta mekanik dari kayu meanti ini bergantung dengan

jenisnya termasuk kedalam jenis meranti putih, merah dan kuning.

1. Meranti Merah

a. Wana kayu teras bervariasi dari hampir putih, coklat pucat, merah

jambu, merah muda, merah kelabu Merah-coklat muda dan merah

sampai merah tua atau coklat tua. Kayu gubal berwarna lebih muda

dan dapat dibedakan denga jelas dari kayu teras, berwarna putih, putih

kotor, kekuning-kuningan atau kecoklat-coklatan sangat muda,

biasanya kelabu, tebal 2-8 cm

b. Tekstur kayu agak kasar sampai kasar dan merata lebih kasar dari

meranti kuning dan meranti putih.

c. Arah serat umumnya agak berpadu, kadang-kadang hampir lurus,

bergelombang atau sangat berpadu

Universitas Sumatera Utara


d. Kesan raba pada permukaan kayu licin atau agak licin

e. Berat jenisnya tergantung klasifikasinya. Meranti merah rinagan berat

jenis kurang dari 6 dan meranti merah berat memiliki berat jenis lebih

dari 6.

f. Kelas kuat II- IV dan kelas awet III – V.

g. Kembang susut dan daya retak sedang dan kekerasannnya sedang

sampai kuat.

h. Pengerjaan dan pengeringan mudah untuk dilakukan.

2. Meranti Kuning

a. Warna kayu : Kayu teras berwarna coklat-kuning muda pada S.

accuminatissima, S. gibbosa dan S. multiflora, kadang-kadang semu-

semu hijau pada S. hopeifolia atau coklat muda semu-semu kuning

pada S. faguetiana. Kayu gubal yang masih segar berwarna lebih

muda (dan seringkali) lebih kuning dari kayu teras, nampak jelas pada

ujung dolok karena pewarnaan oleh jamur dan damar. Warna kuning

cerah pada kayu gubal yang masih segar menjadi coklat-kuning muda,

lebih muda dari kayu teras. Kayu gubal yang telah kering biasanya

berwarna kelabu karena pewarnaan oleh jamur, tebalnya antara 5 –

7,5 cm.

b. Tekstur kayu agak kasar dan merata, lebih halus dari meranti merah

dan meranti putih.

c. Arah serat berpadu, tetapi tidak begitu menyolok.

d. Kelas kuat terletak pada III – II dan kelas awet pada kelas III – IV.

e. Daya retak dan kekerasan sedang.

Universitas Sumatera Utara


f. Berat jenis pada keaadaan kering udara berkisar antara 0.51 – 0.66.

g. Kayu Meranti kuning mudah dikerjakan sampai halus dan dapat

diserut sampai mengkilap serta dapat digergaji melintang dengan baik.

3. Meranti Putih

a. Warna kayu terasnya kayu teras berwarna hampir putih jika masih

segar, lambat laun menjadi coklat kuning atau kuning muda,

permukaan kayu menjadi berwarna lebih gelap semu-semu coklat jika

lama berhubungan dengan udara atau cahaya. Kayu gubal berwarna

putih, lambat laun menjadi coklat-kuning muda, agak jelas sampai

jelas berbeda dengan kayu teras, tebal 4 – 7 cm, biasanya 5 – 6 cm.

b. Tekstur kayu agak kasar dan merata, tatapi lebih halus dari meranti

merah.

c. Arah serat jarang lurus, biasanya berpadu sampai sangat berpadu,

kadang-kadang bergelombang.

d. Kesan raba pada permukaan kayu agak licin.

e. Kelas awet berada pada kelas II – IV dan kelas kut berada pada kelas

II –III.

f. Kayu meranti putih agak keras dan sukar dikerjakan serta cepat

menumpulkan alat, karena mengandung silika.

g. Berat jenis meranti putih pada keadaan kering udara adalah rata – rata

0,50 – 0,76.

h. Modulus elastisitasnya berkisar antara 127 – 129 ( x 1000 kg/cm²)

i. Keteguhan tekan sejajar arah serat 256 – 451 ( kg/cm²)

Universitas Sumatera Utara


Kegunaan kayu meranti secara umum baik untuk meranti merah, meranti

kuning dan meranti putih pada konstruksi ringan, perkakas rumah tangga, kayu lapis

dan digunakan pada industri perkapalan digunakan pada kulit dan dudukan mesin.

Untuk keperluan Tugas Akhir ini jenis meranti yang digunakan adalah meranti putih.

II. 4 Tegangan Bahan Kayu

Istilah kekuatan atau tegangan pada bahan seperti kayu adalah kemampuan

bahan untuk mendukung beban luar atau beban yang berusaha merubah bentuk dan

ukuran bahan tersebut. Akibat beban luar yang bekerja ini menyebabkan timbulnya

gaya – gaya dalam pada bahan yang berusaha menahan perubahan ukuran dan bentuk
2
bahan. Gaya dalam ini disebut dengan tegangan yang dinyatakan dalam Pound / ft .

Dibeberapa negara satuan tegangan ini mengacu ke sistem Internasional ( SI ) yaitu


2
N / mm .

Perubahan ukuran atau bentuk ini dikenal sebagai deformasi atau regangan.

Jika tegangan yang bekerja kecil maka regangan atau deformasi yang terjadi juga

kecil dan jika tegangan yang bekerja besar maka deformasi yang terjadi juga besar.

Jika kemudian tegangan dihilangkan maka bahan akan kembali kebentuk semula.

Kemampuan bahan untuk kembali kebentuk semula tergantung pada besar sifat

elastisitasnya. Jika tegangan yang diberikan melebihi daya dukung serat maka serat –

serat akan putus dan terjadi kegagalan atau keruntuhan.

Deformasi sebanding dengan besarnya beban yang bekerja sampai pada satu

titik . Titik ini adalah Limit Proporsional. Setelah melewati titik ini besarnya

deformasi akan bertambah lebih cepat dari besarnya beban yang diberikan .

Hubungan antara beban dan deformasi ditunjukkan pada gambar II.7 berikut .

Universitas Sumatera Utara


Tarikan

Limit Proporsional
Tekanan
Beban
Limit Proporsional

Deformasi

Gambar II.8 Hubungan antara beban tekan dengan deformasi untuk tarikan dan

tekanan

Kayu memiliki beberapa tegangan, pada satu jenis tegngan nilainya besar dan

untuk jenis tegangan yang lain nilainya kecil. Sebagai contoh tegangan tekan

cenderung memperpendek kayu sedangkan tegangan tarik akan memperpanjang

kayu. Biasanya kayu akan menderita kombinasi dari beberapa tegangan yang terjadi

secara bersamaan meski salah satu jenis tegangan lebih mendominasi. Kemampuan

untuk melentur bebas dan kembali kebentuk semula tergantung kepada elastisitas,

dan kemampuan untuk menahan terjadinya perubahan bentuk disebut dengan

kekakuan.

Modulus elastisitas adalah ukuran hubungan antara tegangan dan regangan

dalam limit proporsional yang memberikan angka umum untuk menyatakan

kekakuan atau elastis suatu bahan. Semakin besar modulus elastisitas kayu, maka

kayu tersebut semakin kaku.

Universitas Sumatera Utara


Istilah getas digunakan untuk mendeskripsikan deformasi yang terjadi

sebelum patah. Dapat diperhatikan bahwa sifat getas ini bukan menyatakan

kelemahan. Sebagai contoh, besi tuang dan kapas adalah bahan yang getas, walaupun

besarnya beban yang dibutuhkan untuk mengakibatkannya hancur sangat berbeda.

Dalam mencari karakteristik kekuatan kayu ada dua cara yang dapat

dilakukan. Pertama, dengan pengujian langsung di lapangan. Kedua, dengan

penelitian. Karena pelaksanaan pengujian di lapangan memerlukan biaya yang besar

maka pengujian dengan penelitian merupakan alternatif pemilihan.

Pada penelitian ada 2 (dua) jenis pengujian yang dapat dilakukan. Pengujian

dengan menggunakan sampel kecil dan pengujian kayu sebagai struktural. Pengujian

dengan menggunakan sampel penting untuk tujuan komparatif, yang memberikan

indikasi bahwa sifat-sifat kekuatan setiap jenis-jenis kayu berbeda. Karena pengujian

dirancang untuk menghindari pengaruh kerusakan lain, sehingga hasilnya tidak

menunjukkan beban aktual yang mampu diterima dan faktor yang harus digunakan

untuk mendapatkan tegangan kerja yang aman. Pengujian kayu dengan bentuk

struktural lebih mendekati kondisi penggunaan yang sebenarnya. Secara khusus

dianggap penting karena dapat mengamati kerusakan seperti pecah-pecah.

Kelemahan pada pengujian ini adalah memerlukan biaya yang besar dan

pekerjaannya sulit karena membutuhkan kayu dalam jumlah yang besar dan butuh

waktu yang lebih lama. Selain itu, faktor pemilihan bahan dalam ukuran yang besar

dengan kualitas yang seragam menjadi sangat penting dibandingkan dengan

pemilihan sampel dalam ukuran kecil.

Pengujian dengan menggunakan sampel kecil telah memiliki standar

pengujian. Karena sifat kekuatan kayu sangat dipengaruhi oleh kandungan air,

Universitas Sumatera Utara


pengujian dapat dilakukan dalam kondisi terpisah. Pengujian ini dilakukan dengan

menggunakan material kayu yang memiliki kandungan standar. Pengujian dilakukan

pada bahan kering udara dengan kadar air yang diketahui dan angka-angka kekuatan

tersebut dikoreksi terhadap kandungan air standar. Ketelitian dibutuhkan untuk

mengeliminasi faktor-faktor yang dapat membuat variasi sifat kekuatan.

Pengujian dengan sampel kecil dari jenis-jenis kayu yang berbeda-beda kini

telah dilakukan, dan banyak batasan data yang diperoleh. Angka-angka yang

diterbitkan untuk kayu yang berbeda-beda dapat dibandingkan dengan metode

pengujian yang telah distandarkan. Angka-angka ini sendiri dapat dipakai dalam

memperhitungkan tegangan kerja karena faktor koreksi telah diperhitungkan.

Umumnya secara empiris hanya sedikit karakteristik kekuatan kayu yang

diketahui. Sebagai contoh adalah kualitas kayu oak, kayu jati, dan kayu damar

sebagai bahan struktur. Hasil pengujian berdasarkan nilai tegangan dan regangan dari

kayu tersebut. Nilai tegangan diperoleh dari besarnya beban per luas penampang

yang dibebani, dinyatakan dalam N/mm², atau :

Beban
Tegangan(σ ) =
Luas Penampang

Dan regangan didefinisikan sebagai deformasi per ukuran semula yaitu :

Deformasi
Re gangan(ε ) =
Panjang Mula − Mula

Ada beberapa jenis tegangan yang dapat dialami oleh suatu material, yaitu

tegangan tekan (Compression Strength), tegangan tarik (Tensile Strength), dan

tegangan lentur (Bending Strength). Pada tegangan tekan, material mengalami

tekanan pada luasan tertentu yang menyebabkan timbulnya tegangan pada material

dalam menahan tekanan tersebut sampai batas keruntuhan dan diambil sebagai nilai

Universitas Sumatera Utara


tegangan tekan. Demikian pula dengan tarikan, tegangan tarik timbul akibat adanya

gaya dalam pada material yang berusaha menahan beban tarikan yang terjadi.

Kemampuan maksimum material menahan tarikan adalah sebagai sebagai tegangan

tarik (lihat Gambar II.9).

Tekanan Tarikan

Teg. Tekan Teg. Tarik

Gambar II.9 Tegangan tekan dan tegangan tarik

Tegangan yang bekerja :

P( tk / tr )
σ (tk / tr ) = ………………………….( 2.1 )
A

Dimana : σ (tk / tr ) = Tegangan tekan/tarik yang terjadi (kg/cm²)

P (tk / tr ) = Beban tekan / tarik yang terjadi (kg)

A = Luas penampang yang menerima beban (cm²)

Secara teoritis, semakin ringan kayu maka semakin kurang kekuatannya,

demikian juga sebaliknya. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kayu-kayu yang

berat sekali juga kuat sekali. Kekuatan, kekerasan dan sifat teknik lainnya adalah

berbanding lurus dengan berat jenisnya. Tentunya hal ini tidak terlalu sesuai, karena

susunan dari kayu tidak selalu sama.

Universitas Sumatera Utara


A. Kuat Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara Mekanis

Pemilahan secara mekanis untuk mendapatkan modulus elastisitas lentur

harus dilakukan dengan mengikuti standar pemilahan mekanis yang baku.

Berdasarkan modulus elastis lentur yang diperoleh secara mekanis, kuat acuan

lainnya dapat diambil mengikuti tabel II.1. Kuat acuan yang berbeda dengan Tabel

II.1 dapat digunakan apabila ada pembuktian secara eksperimental yang mengikuti

standar-standar eksperimen yang baku.

Tabel II.1 Nilai Kuat Acuan (MPa) Berdasarkan Atas Pemilahan Secara
Mekanis pada Kadar Air 15 %
( Berdasarkan PKKI NI - 5 2002 )
KODE Ew Fb F t // F c // Fv F c⊥
MUTU
E26 25000 66 60 46 6,6 24
E25 24000 62 58 45 6,5 23
E24 23000 59 56 45 6,4 22
E23 22000 56 53 43 6,2 21
E22 21000 54 50 41 6,1 20
E21 20000 56 47 40 5,9 19
E20 19000 47 44 39 5,8 18
E19 18000 44 42 37 5,6 17
E18 17000 42 39 35 5,4 16
E17 16000 38 36 34 5,4 15
E16 15000 35 33 33 5,2 14
E15 14000 32 31 31 5,1 13
E14 13000 30 28 30 4,9 12
E13 14000 27 25 28 4,8 11
E12 13000 23 22 27 4,6 11
E11 12000 20 19 25 4,5 10
E10 11000 18 17 24 4,3 9

Dimana : E w = Modulus elastis lentur F c // = Kuat tekan sejajar serat

F b = Kuat lentur F t // = Kuat tarik sejajar serat

Universitas Sumatera Utara


F v = Kuat geser

F c ⊥ = Kuat tekan tegak lurus serat

B. Kuat Acuan Berdasarkan Pemilahan Secara Visual

Pemilahan secara visual harus mengikuti standar pemilahan secara visual

yang baku. Apabila pemeriksaan visual dilakukan berdasarkan atas pengukuran berat

jenis, maka kuat acuan untuk kayu berserat lurus tanpa cacat dapat dihitung dengan

menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Kerapatan ρ pada kondisi basah (berat dan volume diukur pada kondisi basah,

tetapi kadar airnya lebih kecil dari 30 %) dihitung dengan mengikuti prosedur

baku. Gunakan satuan kg/m³ untuk ρ.

b. Kadar air, m % (m < 30), diukur dengan prosedur baku.

c. Hitung berat jenis pada m % ( G m ) dengan rumus :

Gm = ρ / [1000 (1 + m/100)] ………………………( 2.2 )

d. Hitung berat jenis dasar ( G b ) dengan rumus :

G b = G m / [1 + 0,265 a G m ] dengan a = (30 – m ) / 30……………( 2.3 )

e. Hitung berat jenis pada kadar air 15 % ( G15 ) dengan rumus :

G15 = G b / (1 – 0,133 G b ) ……………………....( 2.4 )

f. Hitung estimasi kuat acuan, dengan modulus elastisitas lentur (Ew) = 16500

G0.7, dimana G : Berat jenis kayu pada kadar air 15 % = G 15 .

Untuk kayu dengan serat tidak lurus dan/atau mempunyai cacat kayu,

estimasi nilai modulus elastis lentur acuan pada point f harus direduksi dengan

mengikuti ketentuan pada SNI (Standar Nasional Indonesia) 03-3527-1994 UDC

(Universal Decimal Classification) 691.11 tentang “Mutu Kayu Bangunan“ yaitu

Universitas Sumatera Utara


dengan mengalikan estimasi nilai modulus elastis lentur acuan dari Tabel II.1

tersebut dengan nilai rasio tahanan yang ada pada Tabel II.2 yang bergantung pada

kelas mutu kayu . Kelas mutu kayu ditetapkan dengan mengacu pada Tabel II.3.

Tabel II.2 Nilai Rasio Tahanan


KELAS MUTU NILAI RASIO
TAHANAN
A 0.80
B 0.63
C 0.50

Tabel II.3 : Cacat Maksimum Untuk Setiap Kelas Mutu Kayu


Macam Cacat Kelas Mutu A Kelas Mutu B Kelas Mutu C
Mata Kayu :
Terletak di muka lebar 1/6 lebar kayu 1/4 lebar kayu 1/2 lebar kayu
Terletak di muka sempit 1/8 lebar kayu 1/6 lebar kayu 1/4 lebar kayu

Retak 1/5 tebal kayu 1/6 tebal kayu 1/2 tebal kayu

Pingul 1/10 tebal atau 1/6 tebal atau 1/4 tebal atau
lebar kayu lebar kayu lebar kayu

Arah serat 1:13 1:9 1:6

Saluran Damar 1/5 tebal kayu 2/5 tebal kayu 1/2 tebal kayu
eksudasi tidak
diperkenankan

Gubal Diperkenankan Diperkenankan Diperkenankan

Lubang serangga Diperkenankan Diperkenankan asal Diperkenankan


asal terpencar dan terpencar dan asal terpencar dan
ukuran dibatasi ukuran dibatasi dan ukuran dibatasi
dan tidak ada tidak ada tanda- dan tidak ada
tanda-tanda tanda serangga tanda-tanda
serangga hidup hidup serangga hidup

Cacat lain (lapuk, hati Tidak Tidak Tidak


rapuh, retak melintang) diperkenankan diperkenankan diperkenankan

Universitas Sumatera Utara


II. 5 Sambungan Mekanis

Umum

Karena alasan geometrik, pada kayu sering diperlukan sambungan untuk

memperpanjang kayu atau menggabungkan beberapa batang kayu. Sambungan

merupakan bagian terlemah dari kayu. Kegagalan konstruksi kayu lebih sering

disebabkan karena kegagalan sambungan kayu bukan karena material kayu itu

sendiri. Kegagalan dapat berupa pecah kayu diantara dua sambungan, alat sambung

yang membengkok atau lendutan yang melampaui lendutan izin.

Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya kekuatan sambungan kayu

menurut Awaluddin ( Konstruksi kayu, 2000 ) adalah :

1. Pengurangan luas tampang.

Pemasangan alat sambung sepertu baut, pasak dan gigi menyebabkan luas efektif

tampang berkurang sehingga kekuatannya juga menjadi rendah jika dibanding

dengan kayu yang penampang utuh.

2. Penyimpangan arah serat

Pada buhul sering terdapat gaya yang sejajar serat pada satu batang tetapi tidak

dengan batang kayu yang lain. Karena kekuatan kayu yang tidak sejajar serat

lebih kecil maka kekuatan sambungan harus didasarkan pada kekuatan kayu

yang terkecil atau tidak sejajar serat.

3. Terbatasnya luas sambungan

Jika alat sambung ditempatkan saling berdekatan pada kayu memikul geser

sejajar serat maka kemungkinan pecah kayu sangat besar karena kayu memiliki

kuat geser sejajar serat yang kecil. Oleh karena itu penempatan alat sambung

harus mengikuti aturan jarak minimal antar alat sambung agar terhindar dari

Universitas Sumatera Utara


pecahnya kayu. Dengan adanya ketentuan jarak tersebut maka luas efektif

sambungan ( luas yang dapat digunakan untuk penempatan alat sambung ) akan

berkurang pula.

Dengan kata lain, sambungan yang baik adalah sambungan dengan ciri–ciri

sebagai berikut :

1. Pengurangan luas kayu yang digunakan untuk penempatan alat sambung

relatif kecil bahkan nol.

2. Memiliki nilai banding antara kuat dukung sambungan dengan kuat ultimit

batang yang disambung tinggi.

3. Menunujukkan perilaku pelelehan sebelum mencapai keruntuhan (daktail).

4. Memiliki angka penyebaran panas yang rendah.

5. Murah dan mudah di dalam pemasangannya.

Selain itu beberapa hal yang perlu diperhatikan pada perencanaan sambungan

berkaitan dengan rendahnya kekuatan sambungan yaitu :

1. Eksentrisitas sambungan yang menggunakan beberapa alat sambung, maka

titk berat kelompok alat sambung harus ditempatkan pada garis kerja gaya

agar tidak timbul momen yang dapat menurunkan kekuatan sambungan.

2. Sesaran / Slip

Sesaran yang terjadi pada sambungan kayu terbagi menjadi dua. Sesaran yang

pertama adalah sesaran awal yang terjadi akibat adanya lubang kelonggaran

yang dipergunakan untuk mempermudah penempatan alat sambung. Selama

sesaran awal, alat sambung belum memberikan perlawanan terhadap gaya

sambungan yang bekerja. Pada sambungan dengan beberapa alat sambung,

kehadiran sesaran awal yang tidak sama diantara alat sambung dapat

Universitas Sumatera Utara


menurunkan kekuatan sambungan secara keseluruhan. Setelah sesaran awal

terlampaui, maka sesaran berikutnya akan disertai oleh gaya perlawanan

(tahanan lateral) dari alat sambung.

3. Mata kayu

Adanya mata kayu dapat mengurangi luas tampang kayu sehingga

mempengaruhi kekuatan kayu terutama kuat tarik dan kuat tekan sejajar serat.

Jenis – Jenis Sambungan

Jenis – jenis sambungan dibedakan menjadi sambungan satu irisan

(menyambungkan dua batang kayu), dua irisan ( menyambungkan tiga irisan ) dan

seterusnya. Selain itu juga ada dikenal jenis sambungan takik. Menurut sifat gaya

yang bekerja pada sambungan, sambungan dibedakan atas sambungan desak,

sambungan tarik dan sambungan momen.

Alat Sambung Mekanik

Berdasarkan interaksi gaya – gaya yang terjadi pada sambungan, alat

sambung mekanik di bagi atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok

yang kekuatan sambungan berasal dari interaksi antar kuat lentur alat sambung

dengan kuat desak atau kuat geser kayu.. Kelompok kedua adalah kelompok alat

sambung yang kekuatan sambungannya ditentukan oleh luas bidang dukung kayu

yang disambungnya. Yang tergolong kelompok pertama adalah paku dan baut.

Sedangkan kelompok kedua adalah pasak kayu Koubler, cincin belah ( split ring ),

pelat geser, spike grid, single atau double sided toothed plate dan toothed ring.

Universitas Sumatera Utara


Pada tugas akhir ini yang digunakan adalah alat sambung jenis pertama yaitu

paku dan baut. Berikut akan diuraikan dengan jelas dari kedua alat sambung tersebut.

A. Paku

1. Umum

Alat ambung paku masih sering dijumpai pada struktur atap, lantai, dinding

atau struktur rangka rumah. Paku tersedia dalam dua jenis yaitu paku bulat dan paku

ulir. Paku bulat kekuatannya lebih rendah dari paku ulir, karena koefisien gesekan

paku ulir lebih besar sehingga tahanan cabutnya lebih besar. Diameter paku

dipasaran antara 2,75mm sampai 8mm dengan panjang 40mm sampai 200mm.

Ketebalan kayu yang yang disambung antara 20mm sampai 40mm.

Tabel II.4 Tebal Kayu yang diperkenanakan untuk beberapa ukuran Paku

TEBAL KAYU DIAMETER PANJANG


NO. NAMA PAKU
(MM) PAKU (MM) PAKU (MM)
1 20 2”BWG12 2.8 51
2 20 - 25 2.5”BWG11 3.1 63
3 20 - 30 3”BWG10 3.4 76
4 25 - 35 3.5”BWG9 3.8 89
5 30 - 40 4”BWG8 4.2 102
6 40 4.5”BWG6 5.2 114

Paku dipasang dengan cara dipukul. Agar terhindar dari pecahnya kayu, pemasangan

paku dapat didahului oleh lubang penuntun. Diameter lubang penuntun tidak boleh

melebihi : 0.9D untuk G > 0.6, dan 0.75D untuk G ≤ 0.6

Dimana G adalah berat jenis kayu dan D adalah diameter batang paku.

Universitas Sumatera Utara


Untuk perencanaan sambungan dengan menggunakan alat sambung paku

maka analisis terhadap sambungannya mengikuti aturan yang telah ditetapkan SNI-5

PKKI 2002.

2. Geometri Sambungan Paku

Spasi dalam satu baris ( a ) pada semua arah garis kerja beban lateral

terhadap arah serat kayu, spasi minimum antar alat pengencang :

 10 D bila digunakan pelat sisi dari kayu

 7 D bila di gunakan pelat sisi dari baja.

Spasi antar baris ( b ) pada semua arah garis kerja beban lateral terhadap

arah serat kayu, spasi inimum adalah 5 D.

Jarak ujung ( c ). Jarak minimum dari ujung komponen struktur kepusat alat

pengencang tedekat diambil :

a. Untuk beban tarik lateral

• 15 D untuk pelat sisi dari kayu

• 10 D untuk elat sisi dari baja

b. Untuk beban tekan lateral

• 10 D untuk pelat sisi dari kayu

• 5 D untuk pelat sisi dari baja

Jarak tepi ( jarak tepi dengan beban, d, dan jarak tepi tanpa beban, e ). Jarak

minimum dari tepi komponen struktur ke pusat alat pengencang terdekat diambil

sebesar :

 5 D untuk tepi yang dibebani

 10 D untuk tepi yang tidak di bebani.

Universitas Sumatera Utara


Gambar II.10 Geometri sambungan paku

3. Tahanan Terhadap Gaya Lateral

a. Tahanan Lateral Acuan Satu Irisan

Tahanan lateral acuan dari suatu sambungan yang menggunakan paku baja

satu irisan yang dibebani secara tegak lurus terhadap sumbu alat pengencang dan

dipasang tegak lurus sumbu komponen struktur, diambil sebagai nilai terkecil dari

nilai-nilai yang dihitung menggunakan semua persamaan pada Tabel II.5 dan

dikalikan dengan jumlah alat pengencang (n). Untuk sambungan yang terdiri atas

tiga komponen ( sambungan dengan dua irisan ), tahanan lateral acuan diambil

sebesar dua kali tahanan lateral acuan satu irisan yang terkecil.

Untuk sambungan dengan pelat sisi dari baja, persamaan untuk moda

kelelehan Is pada Tabel II.5 tidak berlaku, dan tahanan untuk moda tersebut dihitung

sebagai tahanan tumpu alat pengencang pada pelat-pelat baja sisi-sisi.

Universitas Sumatera Utara


Tabel II.5 Tahanan Lateral Acuan Satu Paku (Z) untuk Satu Alat
Pengencang dengan Satu Irisan yang Menyambung Dua Komponen

MODA KELELEHAN PERSAMAAN YANG BERLAKU

3.3 D t s Fes
Is Z =
KD

3.3 k1 D p Fem
Z = , dengan :
K D (1 + 2 Re )

IIIm
2 Fyb (1 + 2 Re ) D 2
k1 = (−1) + 2 (1 + Re ) +
3 Fem p 2

3.3 k 2 D t s Fem
Z = , dengan :
K D ( 2 + Re )

IIIs
2 (1 + Re ) 2 Fyb (1 + 2 Re ) D
2

k 2 = (−1) + + 2
Re 3 Fem t s

3.3 D 2 2 Fem Fyb


Z =
IV KD 3 (1 + Re )

Catatan : Re = Fem
Fes

Fe = Kuat tumpu kayu

= 114.45 G 1.84 (N/mm²) dimana G adalah berat jenis kayu kering oven

p = Kedalaman penetrasi efektif batang alat pengencang pada

komponen pemegang (lihat Gambar II.11)

K D = 2.2 untuk D ≤ 4.3 mm,

= 0.38 D + 0.56 untuk 4.3 mm < D < 6.4 mm

= 3.0 untuk D ≥ 6.4 mm

Universitas Sumatera Utara


Fyb = kuat lentur paku (lihat Tabel II.6)

Nilai kuat tumpu kayu untuk beberapa nilai berat jenis dapat dilihat pada

Tabel II.6. Semakin besar nilai berat jenis suatu kayu, maka semakin besar pula nilai

kuat tumpunya. Umumnya alat sambung paku digunakan pada kayu dengan berat

jenis tidak tinggi mengingat mudahnya paku untuk tekuk (buckling). Tekuk pada

paku juga disebabkan oleh tingginya nilai banding antara panjang dan diameter paku

(angka kelangsingan) sebagai ciri khas alat sambung paku.

Tabel II.6 Kuat Tumpu Paku ( Fe ) untuk Berbagai Nilai Berat Jenis Kayu

BERAT JENIS KAYU (G)


0.40 0.45 0.50 0.55 0.60 0.65 0.70
Nilai Fe (N/mm²) 21.21 26.35 31.98 38.11 44.73 51.83 59.40

Nilai kuat lentur paku dapat diperoleh dari supplier atau distributor paku.

Pengujian kuat lentur paku dilakukan dengan metode three-point bending test seperti

pada ASTM (American Standard of Testing Materials) F1575-03. Untuk jenis paku

bulat pada umumnya, kuat lentur paku dapat dilihat pada Tabel II.7 (ASCE

(American Society of Civil Engineers), 1997). Kuat lentur paku menurun dengan

semakin meningkatnya diameter paku. Jenis paku lainnya seperti paku baja

(hardened steel nails) memiliki kuat lentur yang lebih tinggi daripada nilai di Tabel

II.8. Dimensi paku yang meliputi diameter, panjang, dan angka kelangsingan dapat

dilihat pada Tabel II. 9.

Universitas Sumatera Utara


Tabel II.7 Kuat Lentur Paku untuk Berbagai Diameter Paku Bulat

DIAMETER PAKU KUAT LENTUR


PAKU, Fyb
≤ 3.6 mm 689 N/mm²
3.6 mm < D ≤ 4.7 mm 620 N/mm²
4.7 mm < D ≤ 5.9 mm 552 N/mm²
5.9 mm < D ≤ 7.1 mm 483 N/mm²
7.1 mm < D ≤ 8.3 mm 414 N/mm²
D > 8.3 mm 310 N/mm²

Tabel II.8 Berbagai Ukuran Diameter dan Panjang Paku

DIAMETER PANJANG PAKU


NAMA PAKU Λ*
PAKU (MM) (MM)
2”BWG12 2.8 51 18
2.5”BWG11 3.1 63 20
3”BWG10 3.4 76 22
3.5”BWG9 3.8 89 23
4”BWG8 4.2 102 24
4.5”BWG6 5.2 114 22
* Angka kelangsingan : panjang paku dibagi diameter paku

b. Tahanan Lateral Dua Irisan

Untuk sambungan yang terdiri atas tiga komponen ( sambungan dengan dua

irisan ), tahanan lateral acuan diambil sebesar dua kali tahanan lateral acuan satu

irisan yang terkecil.

c. Tahanan Lateral Terkoreksi

Tahanan lateral terkoreksi ( Z’), dihitung dengan mengalikan tahanan lateral

acuan dengan faktor – faktor koreksi untuk sambungan paku. Faktor – faktor koreksi

sambungan paku tersebut adalah :

Universitas Sumatera Utara


1. Faktor kedalaman penetrasi, C d

Gambar II.11 Sambungan paku dengan variasi penetrasi

Tahanan lateral acuan dikalikan dengan faktor kedalaman penetrasi, C d ,

sebagaimana dinyatakan berikut ini :

Untuk paku, penetrasi efektif batang ke dalam komponen pemegang, p, harus

lebih besar daripada atau sama dengan 6D.

Untuk 6D ≤ p < 12D, maka C d = p


12 D

Untuk p ≥ 12D, C d = 1.00

Apabila penetrasi alat penyambung paku tembus maka faktor kedalaman

penetrasi diabaikan.

2. Faktor serat ujung, C eg

Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor serat ujung, C eg = 0.67,

untuk alat pengencang yang ditanamkan kedalam serat ujung kayu.

Universitas Sumatera Utara


3. Sambungan paku miring, C tn

Untuk kondisi tertentu, penempatan paku pada kayu harus dilakukan secara

miring (tidak tegak lurus). Pada sambungan seperti ini, tahanan lateral acuan

harus dikalikan dengan faktor paku miring, C tn = 0.83.

4. Sambungan diafragma, C di

Faktor koreksi ini hanya berlaku untuk sambungan rangka kayu dengan plywood

seperti pada struktur diafragma atau shear wall (dinding geser). Nilai faktor

koreksi ini umumnya lebih besar daripada 1.00.

4. Tahanan Terhadap Gaya Aksial

a . Umum

Tahanan acuan sambungan yang menggunakan paku yang dibebani paralel

terhadap sumbu alat pengencang diambil sebagai nilai minimum dari :

a. Tahanan tarik alat pengencang,

b. Tahanan cabut batang.

b. Tahanan Tarik Alat Pengencang

Tahanan tarik paku ditentukan sesuai dengan ketentuan perencanaan yang

berlaku untuk bahan baja, yang didasarkan atas kuat leleh alat pengencang pada

penampang intinya. Faktor waktu, λ, harus diambil sama dengan 1.0 untuk tahanan

tarik alat pengencang.

Universitas Sumatera Utara


c. Tahanan Cabut Acuan Batang

Tahanan cabut tidak boleh diperhitungkan untuk paku yang ditanam ke

dalam serat ujung kayu. Tahanan cabut acuan batang pada sambungan dengan paku

dengan batang polos yang ditanam pada sisi kayu adalah :

Z w = 31.6 DG 2.5 p n f

dimana Z w dalam Newtons (N); G adalah berat jenis komponen pemegang; D adalah

diameter paku dalam mm; n f adalah jumlah alat pengencang; dan p adalah panjang

penetrasi efektif batang paku, mm.

Tahanan cabut batang paku yang berulir spiral atau yang berulir cincin

ditentukan melalui pengujian atau dihitung menggunakan persamaan di atas dengan

nilai D diambil sebagai diameter batang terkecil.

d. Tahanan Cabut Terkoreksi Batang

Tahanan cabut terkoreksi, Zw’, dihitung dengan mengalikan tahanan acuan

dengan faktor koreksi yang berlaku pada tahanan lateral terkoreksi namun faktor

koreksi pada sambungan paku miring, C tn , besarnya 0.67.

B. Baut

1. Umum

Alat sambung baut umumnya terbuat dari baja lunak ( mild steel ) dengan

kepala berbentuk hexagonal, square, dome atau flat. Diameter baut dipasaran antara

1/4" – 1,25". Pemasangan baut dilakukan dengan cara diputar dengan bantuan

sekrup. Untuk kemudahan sebelum pemasangan, terlebih dahulu dibuat lubang

Universitas Sumatera Utara


penuntun. Lubang penuntuntidak boleh lebih besar dari D+0,8 mm bila D<12,7mm

dan D+16 mm bila D≥12,7 mm.

Alat sambung baut digunakan pada sambungan dua irisan dengan tebal

minimum kayu samping adalah 30 mm dan kayu tengah adalah 40 mm dan

dilengkapi cincin penutup. Alat sambung baut difungsikan untuk menahan beban

tegak lurus sumbu panjangnya. Kekuatan sambungan baut bergantung pada kuat

tumpu kayu, tegangan lentur baut dan angka kelangsingan. Ketika kelangsingan

kecil, baut menjadi sangat kaku dan distribusi tegangan terjadi secara merata.

2. Geometri Sambungan Baut

Untuk baut jarak tepi, jarak ujung dan spasi alat pengencang yang diperlukan

dalam perhitungan tahanan acuan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel II.9 Jarak tepi, jarak ujung dan persyaratan spasi sambungan baut

BEBAN SEJAJAR KETENTUAN DIMENSIN MINIMUM


ARAH SERAT
1. Jarak Tepi ( bopt )
Lm/D < 6 1,5D
Lm/D > 6 Yang terbesar dai 1,5D atau ½ jarak antar baris alat
pengencang tegak lurus
2. Jarak ujung ( aopt)
Komponen tarik 7D
Komponen Tekan 4D
3. Spasi ( Sopt )
Spasi dalam baris alat 4D
pengencang
4.Jarak antar bnaris alat 1,5D <127 mm ( lihat catatan 2 dan 3 )
pengencang
Beban Tegak Lurus Serat Ketentuan Dimensi Minimum

1. Jarak Tepi ( b opt )


Tepi yang dibebani 4D
Tepi yang tidak dibebani 1,5D
2. Jarak Ujung 4D
3. Spasi Lihat catatan 3

Universitas Sumatera Utara


4. Jarak antar baris alat
pengencang :
Lm/D > 2 2,5 D ( Lihat catatan 3 )
2 < lm < 6 ( 5 lm + 10 D )/8 ( lihat catatan 3 )
Lm/D > 6 5D ( Lihat catatan 3 )
Catatan :

1. lm adalah panjang baut pada komponen utama pada suatu sambungan atau panjang

total baut pada komponen sekunder ( 2 ls ) pada suatu sambungan.

2. Diperlukan spasi yang lebih besar untuk sambungan yang menggunakan ring.

3. Spasi tegak lurus arah serat antar alat – alat pengencang terluar pada suatu

sambungan tidak boleh melebihi 127 mm, kecuali bila digunakan alat penyambung

khusus atau biala ada ketentuan mengenai perubahan dimensi kayu.

Untuk lebih jelasnya mengenai jarak tepi, jarak ujung, spasi dsalam baris alat

pengencang dan jarak baris antar alat pengencang dapat dilihat pada gambar berikut.

(A)

jarak antar baris


alat pengencang

jarak tepi jarak ujung


spesi dalam baris
alat pengencang

Universitas Sumatera Utara


(B)

spesi dalam baris


alat pengencang
jarak tepi
beban
jarak antar baris jarak tepi tanpa
alat pengencang beban

Gambar II.12 Geometri sambungan : (A) Sambungan Horizontal dan (B)

SambunganVertikal

3. Tahanan Terhadap Gaya Lateral

a. Tahan Lateral Acuan Satu Irisan

Berdasarkan PKKI NI-5 2002 tahanan acuan dari suatu sambungan yang

menggunakan alat pengencang baut satu irisan atau menyambung dua komponen

diambil sebagai nilai terkecil dari nilai-nilai yang dihitung menggunakan semua

persamaan di bawah ini:

Tabel II .10 Tahanan lateral acuan untuk satu baut untuk dengan satu irisan

yang menyambung dua komponen.

MODA
TAHANAN LATERAL ( Z )
KELELEHAN
Im 0,83Dt m Fem
Z=

Is 0,83Dt s Fe s
Z=

Universitas Sumatera Utara


II 0,93k1 Dt s Fe s
Z=

IIIm 1,04k 2 Dt m Fe s
Z=
(1 + 2 Re ) K θ

IIIs 1,04k 3 Dt s Fe m
Z=
( 2 + Re ) K θ

IV  1,04 D 2  2 Fem Fyb


Z=  
 Kθ  3(1 + Re )

Catatan :

Re + 2 Re (1 + Rt + Rt ) + Rt Re − Re (1 + Rt )
2 2 2 3

k1 = …………………..( 2.5 )
(1 + Re )

2 Fby (1 + 2 Re ) D 2
k 2 = (- 1 ) + 2(1 + Re ) + 2
…………………..( 2.6 )
3Fem t s

2(1 + Re ) 2 Fby (2 + Re ) D
2

k 3 = (- 1 ) + + 2
…………………..( 2.7 )
Re 3Fem t s

b. Tahanan Lateral Acuan Dua Irisan

Tahanan lateral dua irisan pada sambungan baut berbeda dengan tahanan

lateral acuan dua irisan pada sambungan paku yang hanya mengalikan dengan dua

nilai tahanan lateral acuan satu irisan yang terkecilnya. Pada sambungan baut

tahanan lateral acuan dua irisan dihitung sesuai dengan rumus – rumus yang telah

ditentukan pada PKKI NI – 5 2002 yaitu sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Tabel II.11 Tahanan lateral acuan satu baut pada sambungan dua irisan yang

menyambung tiga komponen

MODA
TAHANAN LATERAL ( Z )
KELELEHAN
Im 0,83Dt m Fem
Z=

Is 1,66 Dt s Fe s
Z=

IIIs 2,08k 4 Dt s Fe m
Z=
( 2 + Re ) K θ
IV  2,08 D 2  2 Fem Fyb
Z =  
 Kθ  3(1 + Re )

Catatan :

2(1 + Re ) Fby (2 + Re ) D
2

k 4 = (- 1 ) + + 2
……………..( 2.8 )
Re 3Fem t s

t
Rt = m .....................( 2.9 )
ts

F
Re = em .....................( 2.10 )
F es

K θ = 1 + (θ /360º) .....................( 2.11 )

Dimana Fem dan Fes adalah kuat tumpu kayu utama dan kuat tumpu kayu samping.

Untuk sudut sejajar serat dan tegak lurus serat, nilai kuat tumpu kayu adalah Fe// =

77,25G dan Fe.

Universitas Sumatera Utara


c. Tahan Lateral Terkoreksi

Tahanan lateral terkoreksi Z’ dihitung dengan mengalikan tahanan lateral

acuan yang terkecil dengan faktor – faktor koreksi. Beberapa faktor koreksi pada

sambungan baut adalah :

1. Faktor geometri

Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor geometri sambungan ( CΔ ),

dimana (CΔ) dalah nilai terkecil dari faktor – faktor geometri yang dipersyaratkan

untuk jarak ujung atau spasi dalam baris alat pengencang.

Jarak ujung. bBila jarak ujung yang diukur dari pusat alat pengencang ( a ) lebih

besar atau sama dengan ( aopt) pada tabel 14 maka CΔ = 10. Bila aopt / 2 ≤ a < aopt,

maka CΔ = a / aopt.

Spasi dalam baris alat pengencang. Bila Spasi dalam baris alat pengencang ( s )

lebih besar atau sama dengan sopt maka CΔ = 1,. Jika 3D ≤ s < sopt, maka

CΔ = s / sopt .

2. Faktor aksi kelompok.

Faktor – faktor yang mempengaruhi faktor aksi kelompok Cg adalah kemiringan

kurva beban dan sesaran baut, jumlah baut, spasi alat sambung dalam satu baris.

Nilai faktor aksi kelompok dapat dihitung dengan persamaan berikut.

nr
1
Cg =
nf
∑a
i =1
i

Dimana :

 (
m 1 − m 2 ni )  1 + R EA 
( )
ai =  2 ni    ......................( 2.12 )
 1 + REA m (1 + m ) − 1 + m   1 − m 
ni

m = u- u 2 − 1 ......................( 2.13 )

Universitas Sumatera Utara


s 1 1 
u = 1+ γ  +  ..........................( 2.14 )
2  (EA)m (EA)s 

• a i adalah jumlah alat pengencang efektif pada baris alat pengencang i yang

bervadiasi dari 1 hingga n i .

• n i adalah jumlah alat pengencang dengan spasi yang seragam pada baris

ke – i .

• γ adalah modulus bebab atau modulus gelincir untuk satu alat pengencang.

Nilai γ diambil sebesar 0,246 D 1,5 KN/mm.

• S adalah spasi dalam baris alat pengencang jarak pusat kepusat antar alat

pengencang dalam satu baris.

• n f adalah jumlah total alat pengencang.

• n r adalah jumlah baris alat pengencang dalam sambungan.

• (EA)m dan (EA)S adala kekakuan aksial kayu utama dan kayu samping.

• R EA =
(EA)min .
(EA)max
(EA)min adalah nilai yang terkecil antara (EA)m dan (EA)S

(EA)max adalah nilai yang terbesar antara (EA)m dan (EA)S

BAB III

Universitas Sumatera Utara