Anda di halaman 1dari 117

Prof ..Dr. H.M.

Rasjidi
EMH\TKUUAH
AG\MA
,

. .
.,
.

".
;.a.w ..
; ~'
.. .
EMPAT KULIAH
AGAMAISLAM
pada Perguruan Tinggi
PROF. DR. H.M. RASjIDI

EMPAT KULIAH
AGAMAISLAM
pada Perguruan Tinggi

~w
wjP'~
Pcnerbit dan Penyebar Buku-buku
Jakarta, Indonesia
1974
EMPAT KULIAH AGAMA ISLAM
Pada Perguruan Tinggi
Oleh : Prof. Dr. RM. Rasjidi
Cetakan ke-4, P.T. Bulan Bintang, Jakarta, 1985
Diterbitkan pertama kali oleh N.V. Bulan Bintang, Jakarta, 1974

P.T. Bulan Bintang,


Pcnerbit dan Penyebar Buku-buku
J alan Kramat Kwitang 1(8, Jakarta 10420, Indonesia
A IIf\flO ta Ikatan Penerbit Indonesia
I Ililt ('Ipla dilindungi Undang-undang
'/1\ H2 H3 85 04037 H5.000
1111111111\ IIltlll P('rcctakan P.T. Magenta Bhakti Guna, Jakarta
KATA PENGANTAR

Pendidikan agama dari Sekolah Dasar sampai Universitas


telah menjadi keputusan MPRS No. 11 tahun 1960 tertanggal
3 Desember 1960 dan diumumkan pada tanggal 13 Desember
1960. Semenjak itu Pendi.dikan agama telah berjalan di pergu-
ruan Pemerintah, walaupun dengan perbedaan-perbedaan baik
mengenai kualitas maupun kuantitasnya berhubung dengan
keadaan-keadaan setempat. Say a sendiri mendapat tugas sebagai
Ketua Badan Pendidikan Agama di Universitas Indonesia se-
menjak saya menggabungkan diri dalam Universitas tersebut
sebagai Guru Besar Hukum dan Lembaga-lembaga Islam di Fa-
Iwltas Hukum (dahulu dan ilmu-ilmu sosialJ pada tanggal 1
Sl'ptember 1966.
Pengalaman saya sebagai pengajar mata kuliah Pendidikan
If.i(lllta di Fakultas Psychologi dan Kedokteran menunjukkan
hll/I \\1(1 para mahasiswa pada umumnya sangat kritis dan mereka
(/,111/,lJIenerima sesuatu approach yang bersifat tradisional. Maka
,,,/III" lJIinggu pertama saya sajikan bagi mereka itu pandangan-
1IIIIItllI/lj:(11l filosofis serta aspek-aspek keagamaan yang kita rasakan
If" ,1/ Indonesia.
SIII'II berusaha untuk menyajikan uraian yang obyektif
,I"/'II( 111 1/lIf.:kin, akan tetapi karena tiap orang beragama ber-
i~/( (1'111/1 at (involedJ atau engage, maka diharap dari semua
Ii/I. l'III/f: !il'rkepentingan untuk melapangkan dada.
1/,1111/1(1// saya mudah-mudahan buku keell yang saya beri
Jut 'Jllillil( Kllliah Agama Islam" dapat dipergunakan oleh
II/I/III/I/I'\\'(1 sebagai pengantar kepada pengetahuan Agama

hII/,I'tI/S 1<)74.
DAFTARISI

Kata Pengantar 5

Fasal Pertama : Apakah Agama Masih Diperlukan? 7


- Tingkatan Teo1ogi 10
- Tingkatan Metafisik 11
- Tingkatan Positif 13
Fasal Kedua Apakah Semua Agama ltu Sarna? 24
Fasal Ketiga Pengelompokan Agama-agama di Dunia 48
- Ke1ompok-ke1ompok Agama 50
Agama-agama Alamiyah 53
- Agama Hindu 53
- Agama Hindu sesudah Budha 57
- Agama Budha 68
- Perbedaan antara Agama Budha dan Hindu 70
- Mahayana dan Hinayana. 72
- Agama Kong Hu eu 72
Fasal Keempat: Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir 75
. - Agama Nasrani 81
- Sejarah Agama Nasrani 87
- Sejarah Trinitas 89
- Perjanjian Baru 97
- Agama Islam 98
Lampiran Pedoman Untuk Hidup Beragama Dalam
Masyarakat 105

Kepustakaan 111
Daftar Nama-nama dan Istilah 112
FASAL PERTAMA
APAKAH AGAMA MASIH DIPERLUKAN?

Dari sejarah f11safat Yunani kita dapat mengetahui bahwa


semenjak 2300 tahun yang lalu sudah ada orang-orang yang
tidak percaya akan adanya Tuhan. Mereka itu mengatakan bahwa
alam initerdiri dari atom-atom yang berlainan susunannya
serta masing-masing mempunyai daya gerak membelok; maka
dari bentrokan atom-atom tersebut terjadilah segala macam
kejadian di alam ini.
Tetapi pada zaman modem ini telah terjadi hal-hal yang
menjauhkan manusia dari agama secara lebih jauh lagi, lebih
menonjol, dalam segi-segi penghidupan yang sem.ua orang dapat
melihatnya dengan nyata, baik dalam lingkungan kelompok
maupun dalam lingkungan bangsa.
Kemajuan pengetahuan dalam abad 16 dan 17 telah men-
dorong beberapa ahli ilmu pengetahuan untuk menafsirkan ke,.
adaan alam dan kejadian-kejadiandi dalamnya secara mekanis,
dengan daya alam itu sendiri dan tidak memerlukan adanya
Tuhan. Karena kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi ma-
nusia dapat menguasai alam secara lebih menyeluroh dan le-
bih efektip, sehingga segala perhatian manusia itu hanya diarah-
kan kepada alam tempat mereka hidup.
Di Inggeris semenjak abad 16 ada aliran "empiricism" yang
mengatakim bahwa segala sesuatu pengetahuan harus didasarkan
kepada panca indra. Thomas Hobbes (1588-1679) mengatakan

7
bahwa dasar pemikiran ilmu pengetahuan adalah "mechanistic
materialism", yakni bahwa yang ada dalam alam ini adalah
materi dan eara bergabung dan berpisahnya adalah secara me-
kanis, tidak memerlukan adanya Zat yang Maha Kuasa, yang
bukannya alam ini.
Perlu juga kita menyebut John Lock (1632-1704). Ia me-
ngatakan bahwa fikiran manusia itu merupakan Tabula Rasa
(papan tulls kosong). Dan segala pengetahuan yang mengisinya
ada1ah berasa1 dari kesan-kesan yang diperoleh melalui panca
indra (sense perception).
Abli pikir Inggris yang ketiga yang perlu kita sebut
adalah David Hume (1711-1776) yang fikirannya dianggap
sebagai puncak penjelmaan "empiricism" masa sebelumnya serta
mengandung dasar-dasar untuk aliran "positivistic naturalism"
yang nanti akan kita bicarakan.
Pokok pemikiran David Hume adalah bahwa kita tidak
berhak mengatakan sesuatu hal, jika hal terse but tidak dapat
dibuktikan dengan panea indra. Ia mengatakan bahwa sesungguh-
nya tidak ada yang kita namakan sebab. Timbulnya kata sebab
adalah karena kita - secara berulang-ulang - menyaksikan
berlangsungnya sesllatu kejadian yang disusul oleh sllatu kejadian
lain. Jika umpamanya kita selalu menyaksikan bahwa peristiwa
A terjadi setelah terjadinya peristiwa B, maka kita mengambil
kesimpulan bahwa peristiwa B adalah sebab dati peristiwa A.
Filsafat Perancis pada abad 18 banyak dipengaruhi oleh
filsafat Inggris seperti tersebut di atas. Para ahli fikir Perancis
cenderung untuk menganggap bahwa hasil ilmu pengetahuan itu
mut1ak, oleh karena sebelum ada ilmu pengetahuan modem
manusia banyak berkecirnpung dalam ilmu metafisika atau
pemikiran-pemikiran abstrak yang be.rsifat dogmatis.

Perlu diakui bahwa banyak pemikir Perancis pada abad 18,


seperti Fontenelle (1657 - 1757), Montesquieu (1689 - 1757),
Voltaire (1694-1778), Condillac (1715-1780) 1ebih cenderung
8
kepada "deism" dan bukannya "atheism". "Deism"
.~T---""'-'- berarti
percaya kepada Zat yang Maha Agung, tetapi yang tidak mem-
punyai kekuasaan terhadap alam dan manusia. sedang "atheism"
berarti mengingkari adanya Tuhan sarna sekali.
Tetapi di antal'a filos'Of-filosof Perancisabad 18 terdapat
nama-nama yang masyhur dengan pendirian atheis seperti La
Mettrie (1709-1751), d'Holbach (1723-1789) dan Cabanis
(1757 -1804). Pendirian mereka pada umumnya adalah me-
nentang ~dual~eJ. yakni kepercayaan akan adanya badan dan
nyawa begitu juga adanya alam di satu pihak dan Tuhan di
lain pihak.
Gambaran ringkas di atas melukiskan keadaan-keadaan di
Inggris dan Perancis sekitar abad-abad 17 dan 18, yang menjadi
latar belakang pandangan sekuler Barat tentang manusia dan
alam. Kcadaan-keadaan itu dapat disimpulkan dalam 3 unsur,
yaitu:
a) kepercayaan penuh kcpada metodc ilmu pcngctahuan,
b) kehilangan kepercayaan Kepada agama (yang dimaks'ud ada-
lah agama yang dikcnal di Barat. yakni agama Kristen).
c) serta makin bertambah mcrcsapnya paham matcrialisrnc.yak-
ni pendapat yang mengatakan bahwa yang ada hanyalah
benda (materie), karena dapat disadari (kngan panca-indra.
sedangkan jiwa tidak demikian.
Ketiga unsu.r ini yang pada abad 18 tclah tersiar luas di
Bara t, mendorong timbulnya aliran positiyismc di abad 19.
Penganjur dan pemimpin terbesar aliran positivisme pada
abad 19 adalah ahli pikir Perancis yang bernama August Comte
(1795-1857) yang patung marmarnya didirikan di salah satu.
pin tu Universitas Paris. Perlu diinga t bah wa karangannya yang
berjudul "Cours de la Philosophie Positive" (Kuliah Filsafat
Positip) yang ditulis dalam enam jilid .telah diselesaikan pada
tahun 1842, setahun sesudah buku "The Essence of Christianity"
(Sari Agama Kristen), karangan Feuerbach, disiarkan. Kedua bu..
ku tersebut, ditambah dengan filsafat Karl Marx mengenai
9
"Historical Materialism'.', filsafat Darwin (1809-1882) tentang
evolusi, serta filsafat Huxley (1825-1895) dan Spencer (1820-
1903), semua itu telah mempengaruhi perkembangan "positive
naturalism" yang menjadi ciri khas bagi pertengahan kedua
abad 19.
Yang pokok dalam filsafat August Comte adalah teorinya
mengenai perkembangan cara berpikir manusia melalui 3 tingkat-
an yang ia namakan '1a loi des trois etats", yang dapat kita
jelaskan sebagai berikut:
Manusia telah mengalami 3 tingkatan perkembangan dalam
cara berfikimya :
a) Pada permulaan ia selalu berfikir secara ketuhanan. Ke-
adaan itu dinamakan '~etat theologique", atau tingkatan
teologi.
b) Kemudian ia meningkat kepada tingkatan kedua, yaitu
"etat metaphisique" atau tingkatan metafisik.
c) Akhirnya manusia sampai kepada tingkatan tertinggi, yakni
"etat positive" atau tingkatan positip.

Tingkatan Teologi
Dalam tingkatan yang terendah ini, yaitu tingkatan teologi,
manusia belum mempl.l;nyai fikiran tentang sebab musabab
kejadian-kejadian dalam alam ini. Manusia khawatir kalau terjadi
wabah penyakit menular, khawatir kalau ada gempa bumi,
khawatir kalau terjadi banjir, takut kalau tanamannya habis
diserang hama dari sebagainya. Ia selalu hidup dalam ketakutan
dan kekhawatiran. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena tidak
tahu apa yang harus diperbuat. Satu-satunya tindakan yang
ia lakukan adalah mohon kepada Tuhan agar Tuhan menjauh-
kannya dari penyakit, menghindarkannya dari banjir dan gem-
pa, dan melindungi tanamannya. Pendeknya ia menyerahkan
segala sesuatu kepada Tuhan yang Maha Kuasa, entah Tuhan. itu
merupakan arca, atau pohon besar atau kekuatan yang tak
dapat dilihat, entah arwah nenek moyangnya, atau lain-lain benda.

10
Tingkatan Metafisik
Setelah lama, berabad-abad, dalam tingkatan teologi seperti
terse but di atas, a}shirnya manusia menemukan keberanian dalam
dirinya. Ia merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan penyakit
atau banjir atau gempa bumi atau hama tanaman, semua itu
dapat dieegah agar tidak berbuat jahat atau mengganggu; ada-
pun earanya ialah dengan memberikan sajian-sajian.
Untuk mengambil eontoh tentang hal-hal yang terjadi di
negeri kita Indonesia, kiranya dapat saya sebu tkan sebagai
berikut :
l) Sampai sekarang terutama di kampung-kampung dan di
desa-desa untuk seorang wanita hamil tujuh bulan biasa
diadakan upaeara "tingkeb", yakni mandi dengan air dari tu-
juh sumur. Maksudnya agar kandungannya selamat, jika nanti
sudah tiba waktunya, akan lahir sebagai bayi yang sehat.
2) Setelah bayi lahir, maka di bawah (di kolong) ambeIi (tempat
tidurnya) ditaruh bermaeam-maeam sajian : ada lampu keeil
dengan minyak kelapa dan seutas tali untuk sumbu, di-
nyalakan siang malam. Minyak kelapa itu ditaruh dalam
mangkok kedl dari tanah. Oi samping itu ditaruh sebilah
pedang atau pisau mainan yang kedl dari bambu. Ada pula
sebuah payung mini dari kertas dalam keadaan terbuka,
karena memang tak dapat ditutup. Ada lagi. hasil bumi
yang merupakan obat-obatan seperti dlingo dan bengle,
ada pula sebutir ubi yang digambat dengan arang dan
kapur sirih seperti kepala orang dengan mata yang terbuka
lebar. Semua diletakkan di kolong tempat tidur si anak dan
ibu selama 5 minggu. Adapun maksudnya ialah untuk inen-
jauhkan segala penyakit dan gangguan arwah jahat. Jika
ada penyakit hendak menyerang anak itu, si penyakit akan
mundur kembali, karena sudah ada obat-obat berupa dlingo
dan bengle yang menjaganya. Jika ada ruh jahat yang hen-
dak mengganggu iapun terpaksa membatalkan maksudnya,
ketakutan melihat pedang (dari bambu) dan kepala penjaga'

11
yang seram yang menatapnya dengan mata melotot. Anak
itu selalu tcrlindung dengan payung kecil dari hujan dan
panas.
3) Setelah umur 35 hari maka diadakan selamatan "selapanan",
bcrupa nasi tumpeng yang dibagi-bagikan kcpada para
tetangga.
Contoh lain tcntang cara manllsia bcrfikir pada tingkatan
metaflsik, ialah kcbiasaan yang dilakukan Ji Indonesia pada
. saat dimulai pembangunan sebuah gedllng b~sar. Scbelum pc-
kerjaan dimulai. lebih dahulll diadakan selamatan dan upacara
penanaman kepala kerbau Tujllannya ialah agar gedung yang
akan dibangun itu akan senantiasa berdiri dengan kokoh dan
sen talls3.
Contoh lainnya lagi ialah yang kita lihat di desa-desa pada
saat-saat scbclum penanaman padi. Agar tanaman padinya dapat
terhindar dari bahaya hama dan pada musim panen nanti
sawah-sawahnya memberikan hasil yang scbesar-besamya, maka
para petani mengadakan sclamatan nasi tumpeng untuk di-
pcrscmbahkan kepada Dewi Sri, Ratu Padi, kadang-kadang disertai
dengan pertunjukan wayang kulit. Maksudnya· semua itu adalah
untllk memuaskan Dewi Sri sehingga bcrkenan melindungi dan
mcmbiarkan padi mereka itu tumbuh dengan segar dan subur
sampai berbuah dan diambil hasilnya.

Tiga contoh tersebut di atas adalah contoh cara manusia


berfikir dalam tingkatan metafisik, dengan tujuan mempengaruhi
kekuatan gaib agar bersikap baik terhadap manusia.
Pengalaman menunjukkan bahwa kadang-kadang tanaman
padi tersebut dapat hidup subur dan hasH panen yang memuas-
kan. Tetapi sering terjadi pula bahwa tanaman padi itu rusak kare-
na banjir atau diserang hama tikus atau belalang, sehingga petani
menderita kerugian besar dan menghadapi bahaya kelaparan.
Kadang-kadang, meskipun sebuah gedung sudah diselamati dan
diberi landasan kepala kerbau, .1 a 2 tahun setelah selesai
pembangunannya gedung itu mulai menunjukkan keretakan di:
12
sana sini, di dinding-dindingnya atau di lantainya hingga perlu
diselidiki, siapakah yang suka makan semen, pemborong atau
kepala kerbau yang telah ditanam.
Adapun bayi yang semenjak masih dalam kandungan ibu-
nya telah dijaga dengan perhatian sebesar-besamya sampai lahir
dan mencapai umur 35 hari, tidak jarang bayi tersebut gagaI
menikma ti umur panjang, karena terserang bermacam-macam
penyakit anak kecil.

Tmgkatan Positip
Sekarang marilah kita beralih ke tingkatan ketiga dan
tertinggi, yaitu tingkatan positip.
Dalam tingkatan positip, manusia telah mendapatkan penge-
tahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tingkatan
pertama, manusia selalu takut dan khawatir, dan dalam tingkatan
kedua manusia berusaha mempengaruhi kekuatan-kekuatan alam,
tetapi kadang-kadang berhasil dan kadang-kadang tidak, maka
dalam tingkatan positip manusia telah banyak sekali memahami
alam,tentang peraturan-peraturan atau hukum-hukumnya,sehingga
akhimya kekuatan-kekuatan alam - meskipun belum seluruhnya-
dapat ditundukkan dan dimanfaatkan untuk keperluan manusia.
Kita ambit contoh-contoh yang kita sebutkan dalam tingkatan
metafisik. Pertama ten tang ibu yang mengandung da.n bayi yang
dalam kandungan. Dalam tingkatan positip manusia tidak me-
merlukan selamata.n, tingkeban untuk si ibu, manusia tidak pula
memerlukan sajian-sajian, lampu minyak kelapa, pisau bambu
dan sebagainya. Sekarang, seorang perempuan hamil pergi
ke dokter ahli kandungan yang akan memeriksanya setiap bulan
atau setiap dua minggu sekati dan memberi resep obat yang
menjadikan ia dan kandungannya sehat. Dokter dapat pula
memberi ancer-ancer, kapan kira-kira ia akan ~elahirkan, sehingga
ia dapat lebih dahulu memesan tempat di bagian bersalin dari
rumah sakit kota itu.
Jika saat melahirkan sudah tiba, maka si ibu dijaga oleh
dokter dan bidan-bidan dengan alat-alat yangserba cukup. Biasa-
13
nya tidak ada kesukaran, dan si ibu dan si bayi diberi perawatan
yang cukup, oOOt dan mak<1l1an yang sesuai. Kita melihat bayi-
bayi itu dibiarkan tidllr scndiri dibiarkan menangis; bayi diberi
susu ibunya pada waktu tertentu. Kita tidak melihat lampu
minyak kelapa, tidak melihat payung-payungan, pisau-pisauan
atau pedang-pedatlgan, atau kepala manusia yang dibuat dari ubi
yang digambar. Semua itu tidak terdapat di rumah bersalin.
Namun demikian si ibu, si bapa dan keluarga mereka merasa
tcnlram, tidak takitt dan tidak khawatir. Setelah beberapa hari,
lbll clan bayi pulang ke rumah dengan gembira. Pada waktu-waktu
Imll'nlll ia pcrgi ke dokter anak untuk memeriksakan keadaan
ki11'\'hllI1l11L1l1lum si bayi.
AllIlIgkllh bcdanya gambaran manusia di tingkat metafisik
dllll lIHllIlISili di lingkat positip.
K\'dllll 1I1~'I1J',Clwi
pcmbangunan gedung yang harus didahului
dcngan PCll<II1UJllUIl kcpala kcrbau. Biarpun kepala kerbau yang
ditanam itu dua liga alau bcrapa saja. gedung itu akan lekas
rusak, jika semennya tidak cukup, jika fondasinya tidak kuat.
Oi negeri-negeri yang maju, di Eropa dan Amerika gedung-
gedung pencakar langit sampai puluhan tingkat sudah merupakan
pandangan biasa. Oalam pembangunan gedung-gedung itu tidak
ditanam kepala kerbau lebih dahulu, tetapi gedung-gedung itu
kuat dan tahan berpuluh-puluh tahun, bahkan beberapa generasi
manusia.
Sekarang di Jakarta. khususnya di jalan Jendral Sudirman,
sudah mulai didirikan gedung-gedung dari belasan tingkat dengan
alat-alat dan bahan-bahan serba modem, tetapi kepala kerbau
tak kunjung ketinggalan. Mudah-mudahan· syarat kekuatan dan
keamanan tidak dikendorkan sedikitpun.
Ketiga tentang tan~man padi: Oi Amerika Utara orang
menanam padi atau gandum dengan menggunakan areal yang
luasnya beribu-ribu hektar. Mereka tidak mempunyal tenaga
manusia banyak, sehingga mereka harus memakai alat-alat mekanis
modern. Sebagai ganti cangkul mereka mempergunakan traktor.

14
Mereka memakai kapal terbang kecil untuk menyebar benih,
begitu juga untuk menyemprot anti hama yang sering mengancam
tanaman mereka. Pada waktu panen, agar hasil ladang yang
beribu-ribuhektar luasnya itu dapat dipetik selekas mungkin,
maka digunakan mesin-mesin khusus, yang sambil berjalan dapat
sekaligus memetik dan menggiling.

Dengan teknik yang modern itu, maka hasil gandum dan


padinya itu melimpah-limpah, jauh melebihi apa yang dibu-
tuhkan oleh penduduk Amerika Utara sendiri. Sisanya diekspor,
bahkan kadang-kadang diberikan kepada negara-negara yang
ditimpa bencana kelaparan.
Orang-orang Amerika Utara itu tidak mengadakan selamatan
untuk Dewi Sri. Tetapi karena pengetahuan mereka yang luas
ten tang pertanian dan meteorologi, maka mereka. mempunyai
kekayaan yang melimpah dati hasil pertanian.
Contoh-contoh tersebut kita tambah dengan sebuah contoh
ten tang penaklukan alam di Negara Bagian California, Amerika
Serikat. Sesungguhnya bagian Selatan dari daerah, yang sekarang
dinamakan California itu dengan kota-kotanya yang masyhur
seperti San Francisco dan Los Angeles dahulunya adalah suatu
daerah yang kering dan tandus. Sepanjang perba tasannya dengan
Nevada di sebelah tenggara ada sungai Colorado yang letaknya
lebih rendah daripada dataran kering itu. Maka dibangunlah
pompa besar yang menyedot air sungai itu dan kemudian di-
·salurkan ke seluruh daerah tandus tersebut.
Akibat dari pemompaan air sungai Colorado itu, maka
California menjadi gudang buah-buahan seperti apel, jeruk, ang-
gur, buah arbei, buah per, semangka dah lain-lain yang jumlah-
nya melebihi keperluan dalam negeri Amerika Serikat, sehingga
dapat diekspor kemana-mana.
Pengikut-pengikut Marxismeakan mengatakan, bahwa hal
itu membuktikan bahwa yang perlu bukan memberi inter-
pretasi tentang alam, tetapi merobah alam itu sehingga dapat
dimanfaatkan manusia. Orang California juga tidak melakukan
15
selamatan, yang dilakukan adalah penyelidikan ilmiah serta
aplikasi penemuan-penemuan ilmiah itu dalam bidang kehidupan
yang riil.
Dengan contoh-contoh tersebut di atas, sepintas lalu teori
August Comte ten tang tiga tingkatan itu terasa benar. Bukankah
orang-orang sekarang telah sangat berbeda pendirian dengan orang
yang dulu-dulu? Orang sekarang tidak lagi berfikir memohon
kepada Zat Yang Maha Kuasa, akan tetapi memanfaatkan ilmu
pengetahuan yang didapatnya dan percaya kepada diri sendiri.
Bukankah dalam dunia modem sekarang segala lapangan
kehidupan telah berobah lebih maju, lebih produktip dan lebih
tedamin?
Dengan perkataan lain: Bukankah August Comte itu memang
benar dalam membentuk teori tiga tingkatan itu ? Dan jika ia
benar, maka ini berarti bahwa manusia memerlukan Tuhan hanva
pada tingkatan pertama, yaitu tingkatan teologi. Dalam tingkatan
positip manusia tidak lagi memerlukan Tuhan, yakni sekarang ini
pada zaman teknologi manusia cukup hidup dengan akalnya dan
teknologinya, dan tidak memerlukan kepada Tuhan.
Marllah kita selidiki soal ini lebih lanjut!

Pada masa ini memang betul kita melihat rumah-rumah


sakit penuh dengan penderita yang berkunjung agar mendapat
pemeriksaan dokter serta obat. Akan tetapi masih banyak sekali
penduduk kampung-kampung di kota Jakarta yang masih belum
mau minta tolong kepada dokter. Saya pemah mempunyai
seorang pembantu rumah tangga wanita yang sering sakit gigi.
Tetapi ia tidak mau pergi ke dokter gigi, malahan ia pergi ke
dukun di kampuJlg yang katanya mengobati giginya dengan
mengusap pipinya dan mengeluarkan ulat-ulat kecil sebesar
rambut. Ia pulang merasa sudah sembuh. Tetapi beberapa hari
sesudah itu penyakitnya kambuh lagi. Akhirnya ia mau minum
aspirin dan karena sakitnya tidak seberapa, maka sembuhlah
giginya.

16
Orang yang melahirkan anak dengan pertolongan dukun-
dukun, pada saat ini masih banyak sekali lebih banyak ,daripada
mereka yang ditolong oleh bidan atau dokter.
Bahkan akhir-akhir ini terasa adanya gejala untuk meng-
hidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan yang aneh-aneh se-
perti apa yang belum lama ini terjadi di lembaga-lembaga negara
seperti DPR kita.
Pada tanggal I Muharam, yang oleh suku Jawa dinamakan
bulan Suro, di DPR telah diadakan sedekah bumi, yakni mem-
persembahkan buah-buahan seperti pisang dan kelapa, serta ayam
hidup dan lain-lain hasil bumi. kepada Ibu Pertiwi, dengan
permohonan agar kita sekalian dibiarkan hidup tentram di atas
bumi ini. Perayaan itu disertai dengan iring-iringan yang membawa
sebilah keris dengan segal a hotma t dan khidmat.
Bukankah keadaan-kcadaan yang saya sebutkan di-ata~ mem-
beri gambaran bahwa pada tingkat positip sekarang ini masih
banyak orang Ylng hidup dalam tingkatan teologi (menurut
istilah August Comte) dan tingkatan metafisik ..
Dalam zaman yang tidak menentu seperti sekarang ini,
banyak orang bingung. Yang saya maksudkan derigan zaman yang
tidak menentu itu adalah zaman dimana pelaksanaan hukum
masih dapat dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar hukum, dimana
persamaan perorangan terhadap hukum tidak dilaksanakan se-
mestinya. Ada orang-orang yang terang-terang salah menurU t
hukum, tetapi berdasarkan pertimbangan-pcrtimbangan tcrtentu
mereka dibebaskan dari segala tuntutan. Sebaliknya ada orang
yang jujut, bekerja sebagai seorang warga negara yang taat dan
cinta kepada negara. akan tetapi karena kejujurannya itu
menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi oknum-oknum tertentu,
maka ia dipersulit dan dimusuhi oleh oknum-uknum yang ber-
kepentingan itu.
Akibatnya bagi orang awam, mereka tidak tahu apa yang
harus mereka kerjakan. Dalam keadaan semacam itu banyak
orang yang pergi ke dukun, ke kuburan-kuburan orang-orang

17
besar dalam sejarah. Ada pula yang meneari jimat, penolak
bahaya. Jimat-jimat itu ada yang berupa kertas dengan tulisan
huruf Arab atau huruf Cina, ada pula yang berupa sepotong
kulit "maean" dan sebagainya .
.oi antara orang-orang yang melakukan hal-hal serna earn itu,
banyak yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat, dart ini
berarti bahwa itu terpelajar.
Bukankah tingkah-Iaku seperti tersebut diatas ini menunjuk-
kan bahwa walaupun kita ini sudah sampai kepada tingkatan
positip dan zaman teknologi, tetapi masih banyak orang-orang
atasan yang hidup dalam tingkatan teologi dan metafisik?

Dengan begitu maka dapatlah kita mengambil kesimpulan.


A. Bahwa teori August Comte ten tang tiga tingkatan itu tidak
benar. Manusia tidak meningkat dari tingka tan teologi ke-
mudian ke tingkatan metafisik dan sekarang dalam tingkatan
tertinggi, tingkatan positip. Ketiga tingkatan itu tidak rne-
rupakan tingkatan evolusi. Dari bawah ke atas, akan tetapi
rnerupakan maeam-maeam jenis mental manusia, sehingga
kita sekarang di zaman modem dan di ibukota Negara
Republik Indonesia ini dapat menyaksikan tingkatan teo-
logi di samping tingkatan metafisik dan tingkatan positip.
Ketiga-tiganya terdapat bersama sarna di beberapa tempat
di Jakarta ini.
B. Bahwa di samping teori tiga tingkatan itu rnenunjukkan
adanya 3 maearn cara manusia berfikir sehingga tiga
macam itu kita dapatkan sekarang b~rsama-sama, kita Juga
rnendapatkan kasus-kasus perorangan yang hidup dalarn
dua atau tiga tingkatan sekaligus. Ada seorimg profess.or di
Universitas Indonesia atau pejabat tinggi di Departernen
P & K, yang seharusnya ia hidup dalam tingkatan positip.
Tetapi kita rnelihatnya pergi. ke dukun, rnengikuti suatu
aliran kebatinan. Kasus serna earn ini tidak sedikit jurnlahnya.
Kasus itu menunjukkan faham di sam ping fakta bahwa

18
ketiga tingkatan itu sekarang ada secara berdampingan, maka
tcrdapat pula orang-orang tertentu yang dapat hidup dal~
,3 tingkatan itu sekaligus.
Dengan begitu maka teoTi August Comte tentang tiga
tingka tan itu temya ta tidak benar.
Satu hal yang dapat kita terima dari August Corote yaitu
bahwa pada waktu ini teknologi merupakan satu aspek yang
penting sekali. Pembangunan Negara tidak dapat diselenggarakan
tanpa teknologi. Bidang Kesehatan, bidang Pertanian, bidang
industri pcmbangun jalan lapangan terbang, Kereta api, per-
minyakan, pertambangan dan lain-lain sebagainya, semua itu tidak
dapat ditingkatkan jika kita tidak mempergunakan teknologi.
Universitas Indonesia mempunyai bagian Teknik, Kedokteran,
Pertanian, Kedokteran Gigi, Psikologi dan semuanya itu me-
nunjukkan aspek kehidupan modern. Akan tetapi apakah dengan
kemajuan teknologi manusia tidak lagi memerlukan agama ?
Inilah yang dikcsankan olch ketiga tingkatan yang diciptak~m
oleh August Comte. Tetapi apakah begitu halnya ?
Contoh yang paling menonjol adalah Negara Russia. Com-
munismc a tau Marxisme Leninisme sangat mengagung-agungkat;l
teknologi; sikap ini biasanya dinamakan scienticism. Dari se-
menjak masih kecil, anak-anak di Russia dididik untuk menghar-
gai teknologi se-tinggi-tingginya. Sikap resmi dari Pemerintah
Russia adalah memberi kebebasan propaganda anti agama dan
tidak memberihbebasan propaganda untuk agama, selain
beribadat di gereja-gereja dan satu dua masjid kuno.
Regime Communist sudah 60 tahun lamanya memerintah
dan Pemerintah Russia selalu mengatakan dillam siaran-siaran
tulisan dan Radio bahwa di Russia sudah tidak ada agama lagi
dan dengan hilangnya agama maka hilanglah segal a hambatan
untuk kemajuan.
Kita sekarang berada daiam tahun 1974. Di Russia; agama,
meskipun telah menjadi sasaran anti agama yang kuat dan terus
menerus selama lebih dari 60 tahun, masih tetap mempunyai

19
banyak pengikut, bahkan di beberapa tempat jumlah mereka
mengalami pertambahan. Oi Uzbekisten yang dahulu merupakan
daerah Islam yang penting dan dimana terdapat kuburan Imam
Bukhari, yang mengumpulkan hadis Nabi dan kumpulan itu
sekarang dinamakan Sahih ul Bukhari: (hadith-hadith sahih
kumpulan Bukhari), di daerah tersebut sekarang Islam mulai
lagi berkembang. Anak-anak muda bertanya-tanya: aku ini dari
keturunan Islam, apakah Islam itu? Kepada pengajar-pengajar
yang datang dari negara-negara Islam, mereka menyampaikan
hasrat hatinya untuk mempelajari agam'a Islam
Oi Moskow sendiri, gereja-gereja masih juga didatangi orang
banyak yang tua-tua tetapi yang muda-muda juga ada., Jika di
Russia, di mana Pemcrintahnya memerangi agama dengan segala
cara, masih juga tetap ada agama, maka di tempat-tempat lain
di negara-negaradi Eropa, di mana tidak ada usaha untuk mem-
persulit perkembangan agama, agama masih merupakan aspek
yang penting bagi penghidupan manusia.
Tetapi di samping gejala bahwa agama tetap ada dalam
tingkatan positip, ada gejala lain yang sepintas lalu kelihatan
meragukan. Oi Eropa, khususnya di Eropa Utara seperti Swedia,
Norwegia, pada waktu ini terdapat gejala: Oechristianisasi,
artinya proses meninggalkan agama Kristen. Agama Kristen
di Eropa Utara begi tu lemah pengaruhnya terhadap masyaraka t,
sehingga walaupun Pemerintah mem biayai .gereja,gereja dan
menggaji pendeta-pendeta, tetapi gereja itu kosong.
Banyak pcndeta-pendeta yang ingin mempopulerkan ke-
hadiran ke gereja, dengan mengadakan daya penarik seperti
dansa, minum-minum dan sebagainya. Usaha tersebut pada
permulaannya agak menunjukkan sukses tetapi kemudian ter-
nyata mengandung bahaya yang lebih besar, yaitu profanisasi atau
menghilangkan rasa keagamaan dalam upacara-upacara di gereja.
Gejala tersebut sepintas lalu kelihatan se-akan-akan menguat-
kan teori August Comte, bahwa agama tidak diperlukan lagi pada
tingkatan positip dimana orang cukup berpedomankepada ilmu

20
pengetahuan. Tetapi gejala-gejala di Eropa tersebut sesungguhnya
mempunyai latar belakang lain. Adapun keterangannya adaJah
sebagai berikut :
Semenjak permulaan abad 18 orang di Barat, di f:ropa sudah
mulai mencemoohkan agama Kristen, Voltaire (1694-1778)
seorang penulis Perancis adalah di antara orang-orang yang ter-
masyhur dalam halini. Tulisan-tulisannya menentang bermacam-
macam hal yang ada hubungannya dengan agama Kristen.Sebagai-
mana kita semua mengetahui agama Kristen dibawa oleh Jesus
Kristus atau dalam kata arabnya lsa al Masih artinya Isa yang
diusap dengan minyak kasturi. Orang yang diu sap dengan minyak
kasturi oleh pengikut-pengikutnya adalah orang yang dianggap
Pemimpin atau Raja. Agama Kristen sesungguhnya merupakan
reformasi dari agama Yahudi. Oleh karena itu yang dinamakan
Kitab sucinya orang Kristen yakni Bibel terdiri dari Perjanjian
Lama (Old Testament) yakni kitabnya orang Yahudi, dan
Perjanjian Baru, yakni yang khusus kitab sucinya orang :Kristen.
Perba'ldingan antara tebal kedua buku terse but kira-kira 3 : I.
ladi kalau sese orang ingin mempelajari agama Kristen ia harus
mempelajari agama Yahudi dahulu, yakni ia harus membaca
Perjanjian Lama. PeIjanjian Baru tidak dapat berdiri sendiri.

Dalam Perjanjian Lama disebutkan bahwa orang Yahudi


adalah orang yang terpilih oleh Tuhan. Dalam Al Qur'an juga
dikatakan begitu, tetapi yang dimaksud adalah orang-orang Jahudi
pada zaman Nabi Ishak, Yakub dan anak-anaknya. Kemudian
mereka selalu lupa kepada ajaran-ajaran Tuhan.
Voltaire mengira bahwa disebutnya umat Jahudi sebagai
umat yang terpilih itu adalah constatasi yang masih berlaku
sampai sekarang. Maka ia mengatakan anggapan itu bohong
belaka. Orang Yahudi adalah orang-orang biasa jika berkuasa,
bersikap kejam dan jika sedang hina meringik-ringik minta bela's
kasihan.
Voltaire mengatakan bahwa isi dari Bibel banyak yang
saling bertentangan 8atu dengan lainnya. Ia membuktikan dengan

21
contoh: Nabi Musa menceritakan ten tang dirinya dengan kata-
kata Dia. Kalau betul ia yang berceritera mustinya ia mema-
kai kata-kata Aku.
Contoh lain: Nabi Musa mengatakan ia menulis dari seberang
sungai Jordan. Padahal dalam sejarah tidak pemah Nabi, Musa
menyeberangi sungai Jordan.
Contoh ketiga: Nabi Musa menceriterakan riwayat me-
o ninggalnya. Ini adalah satu hal yang sangat ajaib, karena orang
yang mati tidak sadar akan peristiwa kematiannya.
Mengenai Perjanjian Baru, diantaranya Voltaire menyebutkan
masalah-masalah Trinitas. Soal Trinitas tidak pemah diterangkan
dalam Perjanjian Lama dan disebutkan dalam Perjanjian Baru
yang diterjemahkan dari bahasa Greek kepada bahasa Latin oleh
Jerome (342-420) ya'ni berabad-abad sesudah Nabi lsa wafat.
Sesungguhnya sebelum nienyerang akidah agama Nasrani,
Voltaire sebagai seorang Perancis menyerang Gereja Katolik. Ja
mengatakan: Tidak benar bahwa Geraja Katolik itu penjelmaan
dat:i ajaran Bibel. Bibel mengajarkan orang supaya hidup dengan
tidak memikirkan hari besok, dengan memberikan segala ke-
kayaannya, akan tetapi Gereja menimbun kekayaan.
Pengaruh dari tulisan Voltaire itu makin lama makin terasa,
sehingga akhirnya orang tidak suka kepada agama Kristen,
ban yak gereja yang kosong.
Dengan mengesampingkan agama, serta menempatkan akal
fikiran manusia sebagai suatu ukuran yang mutlak, maka ter-
jadilah krisis bermacam-macam di benua barat.
Tentang sex, tidak ada lagi pedoman, segala sesuatu berobah,
yang dahulu dilarangdan dirasakan bertentangan dengan moral,
sekarang dianggap wajar dan semua orang melakukan. Begitu juga
mh:lm minuman keras, judi dengan segal a macamnya, dianggap
oleh mereka sebagai suatu hal yang wajar. Keadaan yang semacam
itu menyebabkan orang berfikir bahwa tujuan hidup manusia
ini mencari uang dan kesenangan dengan segala jalan.

22
Akibatnya masyarakat menjadi suatu masyarakat yang pClIllh
dengan pertentangan antara golongan dan golongan, dan allIum
perorangan.
Orang di Barat mulai mencari kembali suatu pegangall
untuk hidup mereka. Ada yang menjadi biku Buddha, ada yang
memuja-muja seorang muda dari Indfa yang mereka anggap
keramat dan sebagainya. Segala macam gejala-gejala itu menunjuk·
kan bahwa manusia, sesudah mencapai segala kebutuhannya
dalam hidup, masih merasakan suatu hajat yang penting yang
harus dipenuhi, yaitu tujuan hidup dan pegangan untuk hidup
Tujuan dan pegangan hidup yang dicari itu sesungguhnya
adalah agama, yang akan memberi petunjuk kepada manusia,
apakah yang hams ia usahakan untuk memperolehnya dan bagai-
mana cara untuk memperolehnya.
Fikiran manusia dapat memberikan pemecahan soal-soal
hidup yang bersifat materiil. Tetapi manusia tidak hanya me-
merlukan segi materiil, segi spirituil tidak kurang pentingnya,
dari segi materiil, malahan bagi orang yang sampai tingkat yang
lebih sempurna, segi spirituil malah lebih penting daTi segi materiil.
Keringkasan dari kuliah ini : Terhadap soal "Apakah agama
masih diperlukan", kita memberi jawaban "bahwa agama tetap
diperlukan". Bahkan lebih jauh manusia mencapai kemajuan,
lebih terasa perlunya agama. Dengan tanpa agama, segala ke-
majuan manusia baik dari segi fikiran atau segi teknologi,
bukannya akan tnemberi kebahagiaan kepada manusia, akan
tetapi malah akan membinasakan manusia.
FASAL KEDVA

APAKAH SEMVA AGA.1\1A ITV SAMA ?

Pada fasal p~rtama telah kita bicarakan apakah agarna


itu perlu? Hasil dari pembahasan tersebut adalah bahwa agarna
itu perlu dan tetap akan diperlukan, walaupun manusia telah
rnencapai kemajuan teknologi bagaimanapun tingginya.

Tibalah waktunya sekarang untuk membicarakan soal


berikut: Oleh karena agarna itu tetap diperlukan dan kita
rnelihat di hadapan kita bennacam-macam agarna, rnaka timbullah
soal: Apakah semua agama itu sarna?

Di tanah air kita Indonesia ini terdapat sesuatu pendapat


yang tersebar luas meskipun tidak merata. Pendapat itu rne-
nyatakan, bahwa sernua agama itu sarna; tujuan agarna-agarna
itu sarna, yaitu rnendorong kita untuk rnelakukan yang baik dan
menghindari kejahatan, serta berhubungan denga:n Tuhan Yang
Maha Kuasa. Hanya caranya berlainan. Orang Islam pada hari
Jum'at pergi ke Mesjid, orang Kristen pada hari Ahad ke Gereja,
sedangkan ordng Hindu mernuja di suatu candi, atau di ternpat
yang sunyi jauh dari ternpat-tempat yang rarnai, rnelakukan
rneditasi.

Bukanhanya orang awam yang berpendapat sedemikian.


Saya rnasih ingat kira-kira pada tahun 1955 rnendiang bekas
Presiden Sukamo pemah rnernberi kuliah umum di Universitas
Indonesia mengenai agama.

24
Berkata mendiang Sukarno: Saya akan mcnceriterakan
kepada saudara-sa\ldara sekalian hikayat seekor gajah dan empat
orang buta. Pada suatu han Sri Baginda sesuatu negara menyuruh
mendatangkan gajah beliau di halaman Istana dan memerintahkan
agar pada waktu yang sama mendatangkan pula ell1pat orang
buta. Setelah gajah dan ke empat orang tunanetra itu tiba, maka
Sri Baginda meminta supaya orang-orang tunanetra itu masing-
nasing menjawab pertanyaan: Apakah gajah itu? Untuk mcnjawab
pertanyaan itu. mereka diperintahkan untuk sccara bergilir
mendekati gajah itu dan meraba-meraba badannya. Orang but a
pertama majll kemuka dan terpeganglah olehnya ekor si gajah
yang dirabanya dan ujung sampai ke pangkalnya. Kemudian'
ia berkata: Gajah menyerupai penghalau lalat, akan tetapi agak
lunak dan panjang.
Giliran orang buta kedua tiba. la majll ke de pan dan
kebetulan yang dapat dipegangnya adalah kaki si gajah. Berkatalah
ia: Gajah itu seperti bambu besar, meskipun agak lunak.
Kemudian datanglah giliran orang buta ketiga. Setelah
maju kemuka ia diperintahkan naik tangga, maka terpeganglah
olehnya telinga gajah. Setelah dirabanya ia berkata: gajah itu
seperti daun bcsar dan tebal.
Akhirnya orang buta ke-empat mendapat giliran maju
kedepan. Tangannya yang bergerak dengan agak ragu-ragu me-
nyentuh belalai gajah, yang kcmudian dipegang dan diraba-raba-
nya. Kemudian ia berkata: Gajah itu seperti pipa karet yang besar.
Berkata mendiang Sukarno: Nah, saudara-saudara. Siapakah
yang benar diantara ke-empat orang buta itu? Jawabannya mudah:
mereka semua benar, walaupun jawaban mereka berlainan.
Begitulah, saudara-saudara, keadaan agama. Di Indonesia ada
bermacam-macam agama, semuanya benar seperti jawaban-
jawaban orang-orang buta tentang gajah itu juga benar. Karena
manusia itu kecil, ia tak dapat mengetahui segala sesuatu. Yang
dapat dilihat atau difahami hanya sebagian atau satu dan
beberapa segi alam wujud ini.

25
Begitulah kira-kira inti daripada kuliah umum mendiang
Sukarno. Saya pernah membaca hikayat semacam ini dalam
buku Prof. Glassenah yang berjudul: "Les Cinq Grandes
Religions du Monde" (Lima Agama Besar di Dunia).
Ada cara lain untuk memberikan gambaran bahwa agama-
agama itu sarna. Karena pentingnya persoalan "Apakah semua
agama itu sarna", dan mengenai soal ini pernah ditulis sebuah
buku oleh seorang missionaris Dr. J. Verkuyl, maka di bawah ini
saya kutipkan uraian beliau dalam bukunya, dari halaman 12
sampai 18, sebagai berikut :
Dengan sangat indah Lessing menuliskannya dalam sandi-
waranya yang termasyhur, yang berjudul: "Nathan der Weise"
{Nathan, orang bijaksana).
SaIl lakon itu terdapatdahm hikayat "Tri Kalpika"
(tiga buah cincin) pada akhir babak kedua.Di sana Sultan Saladin,
peran utama dalam sandiwara itu, bertanya kepada seorang
Yahudi, yaitu Nathan yang bijaksana, agama manakah yang
terbaik menurut pikiranp.ya, Agama Yahudi, Islam atau Kristen?
Sebagai jawabnya kepada Sri Sultan maka Nathan pun
menceriterakan. hikayat berikut :
Di masa dahulu kala dalam sebuah negeri Timur adalah
seorang yang mempunyai sebentuk cincin yang sangat berharga,
bertatahkan permata mutu manikam. Khasiat cincin itu ialah
membuat sipemakai beroleh kasih sayang dari Allah maupun
dari manusia. Karena itu tidaklah heran, bahwa orang itu ber-
pesan kepada anak-cucunya, supaya jangan memberikan cincin
itu kepada orang lain. Pada waktu matinya, cincin itu diserahkan
kepada anaknya yang paling dikasihinya.

"Maka kemudian adalah seorang bapa yang beranak tiga


orang, dan kasihnya terhadap ketiga anaknya itu sarna, tidaklah
di beda--bedakan sf"orang dari pada yang lain. Takkala ia maslh
hidup, maka cincin itu dijanjikannya kepada fiap-tiap anaknya
itu, dengan tidak setahu masing-masing.

26
Ketika dirasanya ball wa ajalnya sudah dekat, disuruh
panggillah s~orang pandai emas, laJu dikatakannya supaya mem-
buat dua bentuk cincin lagi yang tidak ada bedanya sedikit pun
dari cincin yang asli itu. SeteJah selesai, maka diperlihatkanlah
ketiga cincin itu kepada si ayah itu, dan ia sendiripun .tidak
lagi dapat mengatakan. yang mana cincin yang asH, dernikianlah
samanya rupa dan bentuk cincin-cincin itu. Dengan demikian
ayah itu pun Juput daIi kesulitan yang dihadapinya.
Maka dengan rahasia diberikannyalah ketiga anaknyaitu
masing-masing sebentuk cincin. Sepeninggal ayah itu ketiga anak-
nya itu masing-masing mengatakan, bahwa dialah yang rpem-
punyai cincin yang asli. Dan seorangpun tak dapat mengatakan,
siapa yang benar.
"Demikian pulalah tidak dapat ditentukan, agama mana
yang benar", kata Nathan itu pula.
Saladin: "Bagaimana? Hendaklah jangan mempennainkan
aku. Pada sangkaku, ketiga agama yang kusebut tadi dapat
dibeda-bedakan yang satu dari pada yang lain, misalnya dalam
hal pakaian, makanan atau minuman."
Nathan: "Memang dapat di beda-bedakan, tetapi itu lahimya
saja. Intisarinya tidaklah dapat di beda-bedakan, demikian pula
dasar-dasamya. Bukankah semuanya berdasarkan sej~rah? Baik
sejarah yang tertulis, maupun adat istiadat? Dan kita masing-
masing percaya ak~n hal-hal yang diceriterakan oleh orang tua dan
orang-orang lain kepada kita, yaitu orang-orang yang dengan
perbuatannya telah menunjukkan kepada kita kasih dan setianya.
Mungkinkah saya tidak percaya kepada ayahku, atau tuanku
kepada ayah tuanku sendiri? Demikian pulalah halnya dengan
orang-orang Kristen. Bukankah begitu? Bagaimana pendapat
tuanku sen diri?" .
Saladin.: "Tuan benar. Aku tidak tahu, apa yang hams a.ku
katakan."
Nathan: "Marl kita kembali kepada hikayat tadi."
Lalu Nathan meneeriterakan, bahwa ketiga anak itu ke-
mudian pergi menghadap kepada seorang hakim minta per-
timbangannya. Masing-masing bersumpah rnenerima cinein yang
asli dari ayah almarhum, dan yang seorang lebih menyangsikan
kejujuran kedua saudaranya yang lain, daripada sangsi akan
perkataan ayah mendiang.
Saladin: "Dan bagaimana Hakim itu? Karena aku ingin
sekali mengetahui, apa yang tuan suruh katakan oleh hakim itu.
Silahkan!"
Nathan: "Kata hakim itu: Hanya ayahmu almarhum sajalah
yang dapat mcngatakan siapa diantara tuan-tuan yang benar.
Atau cinein itulah yang harus membuktikannya sendiri ...
tunggu dulu. Kata tuan-tuan, cincin itu mengandung suatu khasiat.
bahwa orang yang memakClinya akan dikasihi oleh Allah maupun
oleh manusia dan ia akan mengasihi sesama manusia pula?
Nah, dari cine in itulah kita nantikan jawab yang benar. Cincin
yang tidak berkhasiat demikian, itulah yang palsu. Karena itu
keputusan yang aku bClikan ialah, bialkanlah dulu pelkala ini
seperti sekarang. Kalau tuan-tuan menerirna eincin itu masing-
masing dari ayah almarhum, se.perti tuan-tuan katakan, anggaplah
cincinmu itu sebagai cincin yang asH. Dan hendaklah masing-
masing memperjoangkan kesejatian cincinnya dengan menyatakan
kasih sayang terhadap segala manusia, dengan berbuat kebajikan
terhddap sesama manusia dan berhati sabar, lagi pula berbakti
kepada Allah. Kalau khasiat eincin tuan terbukti dengan jalan
demikian, juga pad a anak-eueu tuan, aku persilahkan menghadap
lagi kepada kursi pengadilan ini seribu tahun lagi. Maka kelak
seorang hakim yang lebih bijaksana daripada aku ini akan meng-
adili tuan-tuan. Aku persilahkan tuan-tuan berangkat sekarang."
Lalu. kata Nathan: "Wahai tuanku, Saladin, apa titah tuanku
sekiranya hakim yang dimaksudkan itu tak lain dari tuanku
sendiri jua .. ?"
Saladin: "Aku? Aku yang tak lain dari debu saja? Seorang
sehampa aku ini?"
28
Nathan: "Daulat tuanku Sultan apa sebabnyu IUIIII
menghiba demikian ?'.
Saladin: "Oh, Nathan! Nathan! Seribu tahun dalam hikuyat
mu itu belurnlah berakhir. Bukanlah aku hakim yang dimaksud
itu. Kursi pcngadilannya bukan untukku. Pergilah, pergilah
sekarang! Tetapi aku harap, tuan tetap menjadi kawan sahabat
bagiku !"
Demikianlah kisah "Tri Kalpika" itu.
Apakah maksud Lessing?
Lessing (1729 - 1781) hidup dalam masa, dalam mana
orang-mang di Eropa tidak lagi begitu sadar akan intisari Kabar
Kesalamatan dalam Yesus Kristus. Mereka hendak membuang-
nya atau menggantinya dengan yang lain.
Injil Yesus Kristus mengatakan kepada kita, bahwa dengan
dara mana pun juga kita tak kunjung dapat melepaskan diri kita
sendiri melilinkan bahwa kita membutuhkan seorang Pelepas.
Tetapi Lessing menganut suatu aliran, yang menyangka bahwa
manusia itu dapat menjadi pelepasnya sendiri, asal saja ia ber-
laku kebaikan dan bahwa Tuhan akan menyerahkan mahkota
kehidupan kekal kepada manusia yang bajik itu pada akhir hidup-
nya.
"Sarna seperti ternan-ternan semasanya, misalnya Goethe dan
Kant, Lessing berpendapat bahwa intisari agama Kristen terkan-
dung dalam ketiga pekataan: Tuhan, kebajikan dan kehidupan ke-
kal. Inti yang menurut dia sarna terdapat dalam Islam dan dalam
agama Yahudi serta dalam semua agama-agama yang lain.
Jadi maksud drama Lessing itu ialah: Hentikan sajalah
segaia persoal-jawaban tentang agama mana yang mengandung
kebenaran sesungguh-sesungguhnya. Karena tiap agama ada inti-
baiknya. Tiap-tiap agama adalah seruan kcpada manusia: pakailah
cincinmu, usahakanlah supaya Tuhan dan orang-orang senang
kepadamu dengan jalan berbuat yang baik. Biarkan orang Yahudi
memeluk agama Yahudinya, orang Islam agama Islamnya, orang
Hindu agama Hindunya, orang Kristen agama Kristennya.

29
Dan hendaklah mcreka itu masing-masing berbuat ke-
bajikan, sehingga dia dikasihi oleh Allah maupun man usia.
Hingga kepada dewasa ini masih terdapat banyak orang
yang mengabdi kepada pandangan Lessing itu.
Terutama yang lazim disebut "Vrijmetselaars" teramat
terpengaruh oleh pendapat-pendapat ini. Sayang sekali, bahwa
gambaran yang diberi Lessing dari kekristenan dalam dramanya
itu seratus persen salah. Intisari agama Kristen bukan terletak
dalam perkataan-perkataan: Tuhan, kebajikan, kehidupan kekal,
melainkan dalam perkataan-perkataan dosa dan pengampunan,
dan oleh karena itu dalam: Jesus Kristus Yang Tersalib dan
Yang Bangkit.
Di lapangan sejarah agama yang bersifat ilmiah, maka
Max Muller (1823-1900) seorang sarjana bahasa dan sejarah,
dalam bukunya "Vorlesungen uber Religionswissenschaft" me-
ngemukakan pendapat tentang persamaan hakiki daripada agama-
agama itu. Menurut dia, tiap-tiap agama adalah benar, bahkan
juga a~ama-agama suku. Katanya pula umat manusia sepanjang
sejarahnya juga pernah mengalami suatu "masa kanak-kanak"
Pada masa itu, umat manusia berbicara seperti kanak-kanak, cara
berfikirnya pun secara kanak-kanak, akan tetapi sekalipun
demikian, maka segala ucapannya pada masa itu benar juga.
Bahkan sekarang pun dapat dikatakan,bahwa di sana-sini umat
manusia itu belum melampaui "masa kanak-kanak" itu.
Tanda-tanda dari cara berbicara secara kanak-kanak itu
ialah kekejaman-kekejaman dan tindakan-tindakan yang mengeri-
kan dalam agama-agama itu, demikian Max Muller. Tetapi,
katanya pula, wujud dan hakekatnya adalah sarna, sebagaimana
diucapkan oleh Hillel, rabbi Yahudi itu, yang berbunyi :
"Hendaklah engkau menjadi manusia yang baik, hai anakku,
hendaklah menjadi manusia yang baik, scbab kehendak Tuhan,
itulah intisari segenap Taurat dan kitab segala nabi".
Sejak Max Muller banyak sekali sarjana yang mengikuti
jejaknya itu, dan mempelajari soal agama secara demikian.

30
Mengenai asal-usulnya agama-agama di dunia ada juga diantara
mereka itu yang lain pendapatnya, akan tetapi dalam hal ini
mereka setuju dengan dia, yaitu bahwa tiap-tiap agama di dunili
ini berdasarkan beberapa ciri-ciri pokok, dan ciri-ciri itu sarna
saja dalam semua agama.
Kalau orang bertanya kepadanya: "Jadi apakah intisari
agama-agama dunia ini?", maka mereka menjawab: "Intisarinya
ialah, bahwa bilaseorang manusia hidup baik, maka pada akhir
hidupnya Allah akan memberikan suatu pahala kepadanya,
yaitu kehidupan yang kekal .
Tiap-tiap agama menafsirkan intisari itu dengan caranya
sendiri, tetapi dalam pada itu intisari itu tetap sarna.
Hal menyamaratakan semua agama itu dengan carn yang
menyoJok mata nampak pada "Parlemen agama-agama" yang
diadakan dikota Chicago pada tahun J893. Ketika itu utpsan-
utusan dari berbagai-bagai agama berkumpul, dan di sanalah
terdengar pendapat, bahwa "tembok pemi!lah antara berbagai-
bagai agama di dunia ini sebenamya sudah rnntuh". Hal-hal yang
dubJ menjadi halangan untuk mempertemukan agama yang satu
dengan yang lain, sekarang sudah lenyap, demikian kata mereka
itu. Pada konperensi itu, maka Kon Fu Tse disamaratakan dengan
Gautama Buddha dan Jesus Kristus dengan Nabi Muhammad,
lalu mereka katakart, bahwa sebenamya berita yang disampaikan
oleh nabi-nabi itu sarna saja.
Pikiran, oahwa kesaksian tentang Jesus Kristus harns
diakui sebagai suatu hal yang mutlak dan tak ada taranya, di-
sebutnya pikiran seorang anak, dan kurang beradab. Kata mereka
pula, orang--orang Kristen adalah seperti katak di bawah tern·
purung. Sungguh picik pemandangan orang-orang Kristen, kalau
mereka mengatakan, bahwa diluar Injil tidak ada kebenaran.
Pengetahuan mereka tentang agama-agama lain di dunia ini sangat
kurang, kata yang lain pula. Hendaklah mereka memperluas
pandangannya dulu, tentukelak akan nyata pada mereka,
bahwa Jesus bukanlah jalan keselamatan yang satu-satunya.

31
Seorang pembicara mengatakan: "Tiap-tiap agama-agama
saya pandang sebagai mazhab dari agama yang satu itu. Saya
sendiri tidak mau menganut sesuatu agama, melamkan hanya
agama yang satu itu, yaitu agama yang setiap waktu dan dimana-
dimana tempat dipercaya oleh segala manusia. agama yang abadi,
agama yang timbul dalam hati sanubari manusia".
Dan seandainya kita tanyakan kepada orang itu, apakah
yang dimaksudkannya dengan agama sedemikian itu, maka ia akan
menjawab: Allah, kebajikan dan kehidupan kekal.
Pada awal abad ini banyak orang fang berpendapat,
bahwa masa sinkretisme telah lampau.
Tetapi keanehan zaman dalam mana kita hidup sekarang
ialah, bahwa sinkretisme itu timbul kembali dalam berbagai-bagai
bentuk. Sebab-musababnya timbul berlainan dari dahulu. Dalain
bentuk yang lama dan baru Baik rli Timur maupun di Barat.
Salah sl:OIang jurubicara sinkretisme yang besar di Asia
sekarang ini ialah Radhakrisnan, bekas presiden India. Radhakris-
nan ini adalah seorang yang mempunyai pengetahuan yang dalam
tentang agama Hindu, sedang di samping itu ia faham benar
tentang humanisme Barat. Ia mencoba menyatukan agama Hindu
dengan humanisme. Dalam hubungan ini ia antara' lain teIah
menulis "The Hindu view of life" dan "Eastern Religions and
Western Thought", "An Idealist view of Life".
Pokok yang paling disukainya ialah: "Sarvaagama praama-
nya", artinya "kebenaran dan kewibawaan dari sef:aia agama".
Dan yang dimaksurlkan ialah bahwa semua agama adalah
pada hakekatnya sarna saja. Sebagai usaha l.1ntuk menyebarkan
ajaran itu maka ia menganjurkan kepentingan suatu parlemen
agama-agarna yang baru baik di Timur maupun di Barat. Ia
menginginkan diadakannya suatu pariemen agama-agama dalam
rangka PBB yang bertolak dari persarnaan dalam hakekat dari
segala agama-agarna. Baik di Timur maupun di Barat gagasan yang
dilancarkannya ini memperoleh sokongan yang besar. lni gampang
dimengerti, karena gagasan ini memang serupa seperti suatu
unpian yang indah.
32
Dialah yang di India dalam lapangan pendidikan mem-
punyai pengar\,lh yang besar sekali dengan sinkretismenya ini dan
yang mencoba meruntuhkan iman orang-orang akan mutlaknya
pcrnyataan Allah dalam Jesus Kristus.

Dialah yang mempropagandakan pikiran supaya segala


agama hendaknya mengadakan saling pengcrtian dan saling
pcrtukaran pengalaman. J anganlah ada sua tll agama. yang
Illcngajarkan bahwa hanya padanya sajalah terdapat kebenaran.
Mcnurut dia meninggalkan sllatu agama lalu mcnganut agama lain
lidak perlu dan tidak logis pula. Apakah sebcnarnya dasar atau
latar bclakang ajaran sedemikian itu ?
Radhakrisnan adalah seorang universalis. yan~ Tuhannya
ialah Universllm (alam semesta). Dan siapa pllsat daripada
univcrsum itll? Plisatnya ialah .... manusia.Menllrllt dia
hakckat manllsia yang paling dalam ialah Tlihan. Itulah kebl'naran
dan kcbl'naran ini. kata Radhakrisnan. ialah : T u h a n.
Menurut dia semua agama itu adalah khusus alat, jalan,
untuk mem bawa manusia kepada perwujudan sendiri. "Creeds
and dogmas, words and symbols have only an instrumental va-
lue ".

Jadi yang dimaksudnya ialah bahwa perkataan-perkataan,


lambang-laqlbang. dogma-dogma dan sebagainya adalah khuslls
perkakas untllk meneapai rcalisasi daripada yang ilahi dalam diri
kilO. karena rcalisasi Tuhan ialah rcalisasi daripada yang paling
dalam diri kita. menurut dia.
Berkenaan dengan itu diplljinya agama Hindu sebagai slla-
tll mozaik atau taman sari dari scgala macam 'instrumen' itu.
Agama yang berbeda-beda itu, menurut dia. hanya bcrbeda
dalam faktor-faktor historis dan geografis, bukan dalam hakekat.
Tak ada agJma yang mengandung sesuatu yang mutlak.
Semua agama rclatif dan instrumentalis dan maknanya ialah
sebagai alat lIntuk mencapai tujuan.

33
Sebenarnya sinkretisme Radhakrisnan ini sangat berbahaya.
la adalah suatu pengiaan terhadap bisikan iblis : "Kamu akan
menjadi seperti Allah". (Kitab Kejadian 3: 5).
Sinkretisme ini antroposentris secara radikal dan bukan
teosentris. "Dalam rumah untuk agama-agama yang dibangun
Radhakrisnan dalam mimpinya ini, banyak tempat untuk tern.,.
pat-tinggal", demikianlah dikemukakan Kraemerl) dengan tepat,
tetapi tidak untuk Tuhan, yang benar-benar Tuhan.
Dalam pantheon agama-agama Radhakrisnan ini Jesus benar
dipersilahkan masuk, tetapi sebagai salah satu dari antara sekian
banyak ungkapan-ungkapan dan bukan sebagaimana adanya Dia,
Pengantara satu-satunya antara Tuhan dan manusia.
Beberapa tahun yang lalu saya mendengar Prof. Moses,
seorang guru besar Kristen dari India, bercerita, bahwa atas
inisiatif Radhakrisnan telah diedarkan di India poster-poster.
Pada poster-poster itu nampak globe bumi ini. Di muka globe
itu nampak salib Kristus, muka Buddha dan Krisna !.
Maksudnya poster jelas! Dengan poster itu hendak di-
tcrangkan, bahwa Tuhan ialah Universum dan tiap agama adalah
suatu instrumen untuk menangkap rahasia dari Universum itu
dan rahasia itu ialah, bahwa inti sari dari Universum (makro-
kosmos) adalah manusia : Atman-Brahma. Barang siapa kehilang-
an ego-nya akan menemukan Tuhan dalam dirinya. ltulah seruan
poster ini.
Hikayat seekor gajah dan 4 orang ou~, serta hikayat
Lessing tentang Tiga Buah Cincin secara ringkas tapi jelas mem-
berikan gambaran tentang aliran yang ada di India, dimana ter-
dapat bennacam-macam agama dan kepercayaan. Maka untuk
mengurangi kemungkinan bentrokan antara satu agama dengan
agama lain, ide-ide yang menggambarkan "semua agama itu

I) Kraemer atau Dr. Hendrik Kraemer adalah seorang missionaris besar. Ia mendapat
g.e1ar Dr. dengan dissertasinya tentang mistik Jawa yang berjuduI : "Een Java-
anlChe Primbon un de Zestiencte Eeuw" pada tabun 1921.

34
bertujuan sarna, hanya caranya yang berbeda-beda" disebar-
luaskan.
Faham semacam di atas timbul pula di Eropa di zaman
modern. Dalam periode renaissance sebagai periode yang me-
nyambung abad pertengahan dan zaman modern, orang Masehi
atau Nasrani telah berpaling daripada Injil ke arah peradaban
pada zaman Romawi dan Yunani ..
Faham terse but kemudian bertambah tersiar dengan ke-
datangan orang-orang Barat di negara-negara lain yang belum
pernah mereka kunjungi sebelumnya, baik di Asia, Amerika atau
Australia dan Afrika. Di negara-negara baru tersebut orang-orang
Barat menemukan bangsa-bangsa yang sudah mempunyai agama
mereka sendiri seperti agama Hindu, agama Buddha, serta agama-
agama lain yang dipeluk oleh suku-suku primitif. Berdasarkan
hasil penemuan-penemuan tersebut orang-orang Barat mengata-
kan bahwa setiap bangsa memeluk agamanya sendiri, dan dalam
setiap agama terdapat hal-hal yang baik.
Apakah begitu keadaan yang sesungguhnya, yakni bahwa
semua agama itu sarna, hanya cara beribadatnya saja yang
berlainan.
Pada tahun 1967 saya menghadiri konferensi agama di
Tokyo yang diadakan oleh Frederich Erbert Stiftung. Konperensi
itu dihadiri oleh wakil-wakil berri1acam-macam kelompok ke-
agamaan dari Asia.Di antara para peserta saya ingat ada seorang
sosialis dari India.
Dalam gilirannya berpidato antara lain ia mengatakan:
"Saya ini tidak suka agama, oleh karena saya lihat di India
bermacam-macam agama, yang ajaran-ajarannya tidak masuk akal
dan bertentangan dengan maslahat bangsa India.
Sebagai contoh, orang-orang India menganggap lembu itu
suci, tidak boleh dipekerjakan di ladang dan dagingnya tidak
boleh dimakan. Akibatnya kami hams menyediakan makanan bagi
lembu-lembu tersebut, beratus-ratus hektar tanah ditanami
rumput, pada waktu kami sendiri selalu kekurangan makanan
dan sering bersandar kepada bantuaI1 negara-negara lain.

35
Padahal salah satu negara tetangga India yang terdekat
ya 'ni Pakistan, kekurangan daging, dan seyogyanya kami mengirim
temak ke Pakistan, karena dengan mengirim temak itu kami akan
mendapat devisa asing yang sangat kami perlukan.
Dengan begitu agama orang India telah merugikan ma-
syarakat dua kali, yakni dengan hilangnya tanah-tanah luas yang
hanya dipakai untuk lembu suci. dan dengan hilangny<! devisa
karena tidak dapat mengekspor lembu. Oleh karena itu maka
saya tidak beragama".
Ketika saya mendengar pidato wakil India terse but, saya
berfikir memang betul apa yang dirasakan oleh orang India
tersebut, akan tetapi konklusinya terlalu jauh. Seyogyanya ia
menyelidiki agama-agama lainnya di dunia dan mempelajarinya
secara mendalam, kemudian mcmilih satu di antaranya dengan
keyakinan yang mendalam.
Berhubung karena hikayat gajah dan 4 orang buta. serta
hikayat seorang bapak yang meninggalkan cincin pusaka kepada
tiga orang anaknya itu mcrupakan hikayat India, saya akan
menycbut satu contoh lagi dari India yang mcmberi gambaran
kapada kita bahwa agama-agama itu tidak sarna.
Dalam agama Hindu ada sistim Kasta;· ini berarti bahwa
masyarakat Hindu dibagi dalam klas-klas: yang tcrtinggi adalah
Kasta Brahman, yakni golongannya orang-orang ahli agama, yang
kedua: Kasta Ksatria. yaitu kclompok tcntara atau orang-orcing
yang berperang dan mcngangkat scnjata. yang ketiga: Kasta
Waesya atau kclompoknya kaum pekcrja. yang kcempat: Kasta
Sudra yang mcliputi rcikyat jelata dan hamba-hamba.
Anggauta dari sesuatu kasta tidak boleh bergaul. apalagi
kawin dcngan anggauta kasta lain.
Yang sangat mcnyolok di India ialah kcadaan kasta Sudra,
karcna kasta ini dipandang sangat rendah, schingga makan-minum
pun harus diantara mercka scndiri.
Ada lagi golongan yang dinamakan "untouc"able" (pantang
scntuh?), yang sentuhannya dianggap mcnodai yang mcnycntuh.
36
Mereka itu diserahi pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah
seperti membersihkan selokan-selokan,menyapu jalan. dan sebagai-
nya. Majalah Time pemah memuat foto yang menggamb;ukan
beberapa Ordng "untouchable" sedang menerima upah keda
mereka. Oleh karena orang yang membayar tidak dibolehkan
sampai menyentuh badan atau sebagian badan si untouchable.
maka pembayaran dilakukan dengan cara mcnjatuhkan upah itu
dari ketinggian 2 a 3 dm di tangan si "najis" itu yang dibuka
siap untuk mencrimanya.
Sistem kasta dalam agama Hindu mempakan pokok dasar.
Tentu saja sistem kasta tersebut merupakan suatu anakronisme
dalam abad 20 ini. Oleh karena itu maka Republik India dalam
Konstitusinya yang demokratis itu tidak mcngakui adanya sistem
kasta tcrsebut.
Meskipun demikian, selama agama ·Hindu masih merupakan
agama terbesar di India. sistem kasta itu akan tetap dipertahankan
oleh para pengikut agama tersebut, sehingga penetapan penghapus-
annya di Konstitusi hanya akan merupakan tinta di atas kertas,
dan menurut tanda-tandanya, untuk waktu yang masih lama.
Orang-orang India yang ingin mCllibebaskan diri mereka
dari belenggu sistem kasta. meninggalkan agama Hindu dan masuk
agama Islam at au agama Katolik, yang tidak mengenal sistem
kasta. Mereka itu hanya sedikit jumlahnya dan dengan keluar dari
agama Hindu mereka dapat kesempatan untuk memperbaiki
nasib mereka.
Untuk mendapatkan gambaran bahwa agama-agama itu tidak
sarna, marilah kita meninjau agama Katolik dalam soal perceraian.
Adalah satu prinsip yang sangat penting bagi umat Katalik
bahwa perkawinan antara seorang laki-Iaki dan seorang wanita
itu dianggap ikatan untuk selama-lamanya yang tak mungkin
dilepas kecuali oleh kematian. Hal semacam itu tidak terdapat
dalam agama Islam, juga tidak dalam agama Protestan.
Dengan pintu perceraian tertutup sama sckali bagi umat
Katolik, maka bagi sepasang suami/isteri yang oleh karena
37
sesuatu sebab tidak lagi dapat hidup bersama, hanya terbuka satu
jalan, yaitu apa yang dinamakan "berpisah badan" yang mem-
bolehkan mereka hidup sendiri-sendiri sedangkan status mereka
sebagai suami/isteri akan tetap berdiri selama mereka masih hidup.
Perpisahan badan sedemikian yang kebanyakannya disebab-
kan oleh adanya pertentangan watak antara suami/isteri, banyak
menimbulkan bermacam-macam komplikasi dalam masyarakat.
Bayangkan saja seorang wanita muda yang terpaksa memisahkan
diri dari suaminya yang juga masih muda. Mereka tidak boleh
bercerai dan ini berarti bahwa mereka itu tidak boleh kawin lagi.
Karena hajat seks dari kedua pihak masih besar, maka terjadilah
hubungan-hubungan di Juar perkawinan.
Belum lama berselang, yaitu dalam majalah Time tanggal
27 Mei 1974, saya telahbaca sebuah berita yang menggambar-
kan betapa pentingnya soal perceraian itu bagi suami/isteri dan
bagi masyarakat dimana mereka itu hidup dan yang oleh karena-
nya merupakan salah satu perbedaan prinsipiil an tara agama
Katolik dan Islam. Secara ringkas, Time mengabarkan bahwa
dalam minggu itu di jalan-jalan dan lapangan-Iapangan kota-kota
Milan, Florence dan Roma telah terjadi demonstrasi oleh
beribu-ribu orang yang memba wa bermacam - macam spanduk.
Oi suatu tempat minum (bar) di jalan Veneto botol-botol minum-
an dan gelas-gelas dipecahkan dengan sotak ramai gembira.
Penglepasan emosi seperti itu tidak diakibatkan oleh selesainya
peperangan atau kemenangan gemilang kesebelasan kesayangan
mereka, sebagaimana biasa terjadi. Tetapi pada hari itu yang
menyebabkan meluapnya emosi mereka ialah dimenangkannya
suatu referendum, yang dengan demikianmenetapkan terus
berlakunya Undang-undang Perceraian Itali yang dalam bulan
Oesember 1970 telah disahkan oleh Parlemen, tetapi yang oleh
Gercja Katolik ditentang keras. Sebanyak 190.000 pastor dan
biarawan dikerahkan untuk berkampanye mendukung pencabutan
undang-undang tersebut,tetapi yang diperolehnya hanyalah 13.
188.184 suara, sedangkan pihak yang menginginkan agar undang- '
undang itu tetap dipertahankan berhasil mengumpulkan sebanyak

38
19.048.929 suara, suatu kemenangan besar dengan ke1ebihan
kira-kira 6 juta suara. Paus Paul VI menyatakan rasa heran dan
kesa1nya atas hasH referendum tersebut. Banyak orang mengata-
kan bahwa hasiI referendum tersebut menimbulkan suatu soa1
baru, yaitu soal ten tang kegunaan Konkordat (Perjanjian)antara
Pemerintah Itali dan Vatikan pada tahun 1929, yang menyata-
kan bahwa agama Katolik adalah agama resmi lta1i.
Gereja Katolik tetap me1arang perceraian, sedangkan agama
Islam memperbo1ehkan perceraian dengan syarat-syarat tertentu.
Agama Protestan yang muncu1 pada tahun 1517 juga mengizin-
kan perceraian. Da1am soa1 perceraian ini sungguh perbedaan
an tara hukum Islam dan Katolik sangat menonjol sekali.
Jika kita alihkan perhatian kita dari soal-soal kemasyara-
katan kepada soal-soal ketuhanan atau teologi, maka kita akan
menemukan perbedaan yang sangat besar.
Dalam agama Islam, rukun Islam yang pertama adalah
membaca syahadat yang berbunyi : "Asyhadu an la ilaha ilIa
Allah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah" yang berarti
"Aku percaya menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah
dan Muhammad adalah utusan Allah':
Dalam Al-Qur-an ada suatu surat pendek yang sangat ter-
kenaI dan dihafal oleh setiap orang Islam, yaitu surat Ikhlas yang
artinya kira-kira : "Katakanlah, hai Muhammad, bahwa Tuhan
itu ialah Allah yang Maha Esa. fa adalah Zat yang kepadaNya
kita semua menwhon, fa tidak melahirkan dan fa tidak dilahirkan
dan tiada sesuatupun yang dapat menyamaiNya".
Dengan kalimat syahadat dan surat Ikhlas tadi, rasa Tauhid
atau mengesakan Tuhan mendapat penegasan yang terang dalam
Islam.
Sebaliknya dalam agama Kristen, sebagaimana yang di-
ujarkan oleh Gereja, Allah merupakan Trinitas yaitu Allah
Bapak, Allah Anak dan Ruhul Kudus. Walaupun pengikut
Ilgama Kristen <Ian Katolik selalu mengatakan agamanya adalah
lI1onoteis (agama Tauhid yang hanya menyembah satu TufJ.an),

39
tetapi soal Trinitas ini tetap merupakan akidah ahiu keyakman
orang Maseru. Mereka tidak memberikan keterangan yang mudah
dimengerti dan selalu mengatakan bahwa hal tersebut adalah
misteri atau rahasia yang manusia tidak akan dapat memahami-
nya. Dalam hal ini perlu dikatakan bahwa dalam agama Masehi
ada suatu sekte yang terang-terang mengatakan bahwa Tuhan itu
satu dan menolak keyakinan tentang Trinitas. Mereka itu disebut
"unitarian" .
Dari contoh-contoh tersebut di atas kita dapat menarik
kesimpulan, bahwa agama-agama itu tidak sarna, bahkan ada
yang bertentangan satu dengan lainnya.

Jika kita menengok kepada sejarah, akan kita dapatkan


peperangan-peperangan yang terus-menerus antara agama-agama.
Di antal'a peperangan agama, yang sangat masyhur, sangat
besar dan sangat lama adalah Perang Salib. Dalam bahasa Inggris
disebut "The Crusades". Perang SaJib merupakan rangkaian
peperangan yang berlangsung dari abad II sampai abad 13,
dalam 8 gelombang. Perang tersebut dilancarkan oleh orang-
orang Eropa beragama Kristen terhadap orang Islam di Timur
Tengah, ketika Palestina, yang di dalamnya tel'letak tempat-
tempat suci Kristen, dikuasai oleh bangsa Turki Seljouk.
Gelombang 1 : 1096-1099, atas anjuran Paus Urbain II.
Gelombang 2 : 1147-1149, atas anjuran dan pimpinan St.
Bernard, Conrad III dan Louis
VII (Raja Perancis)"
Gelombang 3 1189-1192, atas anjuran Guillaume (uskup
Tyr)
Gelombang 4 1202-1204, dipimpin oleh Paus Boniface II
Gelombang 5 1209-1221, dipimpin oleh Raja Jerusalem
dan Raja Hongaria
Gelombang 6 1228-1229, dipimpin oleh Frederick II, Raja
Muda Jerusalem

40
Celornbang 7 1248-1254, dipimpin olch Louis tx Raja
Perancis yang kena tawan di
Mesir.
;clorn bang 8 1270 dipimpin oleh Louis IX juga.
la meninggal di Tunis pada wak-
tu kota-kota Palestiria direbut
oleh kaum Muslimin.
Jika kita membaca buku sejarah Eropa, kita akan men-
t1apatkan juga peperangan agama yang sengit danberlangsung
hcrtahun-tahun.
Dengan timbulnya agama Protcstan pada tahun l517,yakni
dengan pemberontakan yang dipimpin oleh seorang pendeta
Jerman, Martin Luther (1483- 1546). maka Eropa menjadi dua
kclompok, kelompok negara-negara Protcstan seperti Belanda,
Inggris, Swedia dan kelompok negara-negara yang tetap beragama
Katolik seperti Spanyol, Portugal dan Perancis. Perlu diterang-
kan di sini, bahwa di samping faktor-faktor kclainan agama ada
pula faktor-faktor politik.
Belanda berontak terhadap Spanyol dalam perjoangan me-
lawan kelaliman ekonomi dan kemerdekaan beragama, selama
perang 80 tahun (15-68-1648). Kemenangan Belanda adalah
hasil keunggulan taktik William of Orange yang menghindarkan
pertempuran secara besar-besaran dengan tentara Spanyol dan
menitik beratkaI! pada gerak dan serbuan-serbuan kecil-kecilan
tetapi cepat dan tepat. Pada waktu posisi tentara Belanda
menjadi gawat dan mereka terancam kekalahan, tanggul-tanggul
sungai dan kanal-kanal dije bol oJeh rakya t Belanda sendiri,
sehingga airnya dengan deras membanjiri tanah-tanah yang
diduduki oleh ten tara Spanyol dan memaksa mereka mundur
kacau-balau.
Di Perancis terjadi perang saudara karena agama. Raja
Perancis pada waktu itu, Francois I (1515 -1547) berpendirian
bahwa dalam negaranya harus hanya terdapat seorang Raja,
satu agama dan satu hukum ("un Roi, une foi, une loi"). Oleh

41
karena itu orang Perancis Protestan yang dalam sejarah disebut
"Huguenots" diperlakukan dengan tidak adil. Meskipun begitu
jumlah mereka senantiasa bertambah, sampai menjadi 400.000
pada tahun 1560.
Pengganti Raja Francois I yang bernama Henry II meninggal
dalam suatu lomba tombak berkuda. Anak-anaknya tidak adayang
cakap. Mahkota kerajaan Perancis menjadi rebutan antara dua
keluarga ningrat, yaitu di satu pihak, keluarga Bourbons yang
beragama Protestan dan keturunan St. Louis, seorang Raja
Perancis pada abad 13, dan di lain pihak, golongan Guises yang
beragama Katolik dan keturunan Duke of Lo.-raine yang kuat.
Peperangan meletus pada tahun 1562 dan berlangsung dalam
8 pertempuran.
Oi tengah-tengah suasana perang agama itu ada suatu pe-
peristiwa' yang patut dicatat. Catherine de Medici, Ratu Wali
Perancis selama Masa remajanya Raja Charles IV adalah seorang
politikus yang pandai, tetapi sangat impulsif (sans scrupules). la
menghendaki politik jalan tengah antara Katolik dan Protestan.
la terlibat dalam pembantaian 10.000 orang Protestan Perancis
pada hari peringatan St. Bartholomew pada tanggal 24 Agustus
1572. Orang-orang terse but dipanggil untuk berpesta merayakan
hari itu, tetapi kemudian mereka dikepung dan dibunuh.
Kejadian yang mengerikan itu tak juga dapat menghancur-
kan kaum "Huguenots". Pada tahun 1589 seorang pangeran dari
kalangan Bourbons, Henry de Navarre yang beragama Protestan,
menjadi Raja Perancis dengan nama Henry IV. Raja Spanyol,
Philip II, membantu kelompok Katolik dati keluarga Guise.
Ratu Inggris, Elizabeth I, yang sedang berperang lawan Spanyol,
mengirim 5.000 orang Inggris dan Scotland untuk membantu
Raja Perancis, Henry IV. Oengan bantuan Inggris itu maka
menanglah Raja Henry IV yang beragama Protestan. Perang
saudara selesai pada tahun 1595. Perancis menanda tangani
perjanjian perdamaian dengan Spanyol pada tahun 1598, yaitu
perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Vervins.

42
Raja Henry IV kemudian mengakui fakta bahwa kebanyakan
rakyatnya beragama Katolik, maka ia pun berpindah agama dari
Protestan menjadi Katolik. Tetapi pada waktu bersamaan ia
mengeluarkan dekrit yang masyhur, yaitu "The Edict of Nantes".
Dekrit terse but merupakan dokumen penting, karena me.njamin
kebebasan beragama bagi kaum "Huguenots" atau Protestan
Perancis. Dengan dokumen terse but maka diakuilah kemungkin-
an adanya lebih dari satu agama dalam suatu ncgara.
Karena pentingnya sejarah dan peradaban Eropa pada abad
20 ini, marilah kita meneruskan membaca sejarah perang agama
di Eropa, yaitu apa yang disebut perang 30 tahun.
Sebagai akibat daripada timbulnya agama Protestan yang
dipimpin oleh Martin Luther, banyak pangeran-pangeran yang
mengikuti Luther yaitu di Jerman Utara dan Tengah. Tetapi
banyak juga yang tetap beragama Katolik Romawi, yaitu di
Jerman Selatan.
Majlis Kerajaan (Diet of the Empire) yang biasanya berkuasa
sehingga Kaisar Jerman tidak dapat memutuskan sesuatu hal
umum bagi Federasi Jerman, pada tahun 1529 diberitahu oleh
Kaisar bahwa kemurtadan (heresy) harus dibrantas, dan misa
harus dipelihara di seluruh Jerman. Hal itu berarti bahwa agama
Luther dibatasi, sedang agama Katolik dibiarkan berkembang
subur, walaupun di kerajaan-kerajaan kecil terdapat lebih banyak
orang yang menganut agama Luther. Oleh karena perlakuan yang
tidak adil itu, pemimpin-pemimpin agama Luther mengajukan
protes(t). (Akibat peristiwa protes inilah maka agama yang
mereka anut itu dinamakan Protestan).
Kaisar kemudian mengumumkan bahwa ia akan membrantas
kemurtadan. Para pangeran yang mengikuti Luther bersatu dalam
League of Schmalkalden pada tahun 1531, dan akhirnya pecah-
lah perang saudara dari tahun 1546 sampai 1556. Perang saudara
di akhiri dengan Perjanjian Perdamaian di Augsburg, yang ber-
isikan hal-hal berikut:

43
I) Setiap Pangeran berhak memilih antara Katolik atau agama
Luther bagi rakyatnya.
2) Memberi hak kepada orang Protestan untuk tetap menguasai
bckas milik gereja yang telah mercka ambil alih sebelum
tahun 1552.
3) Tidak mcmbenarkan timbulnya sekte barn selain Lutherian.
4) Mcwajibkan kepada semua uskup-uskup Katolik untuk
mcnyerahkan hak milik (gereja) mereka, jika mereka meng-
ikuti agama Luther.
Akan tctapi Perjanjian Augsburg mengandung kelemahan-
kclemahan :
I) Maksud perjanjian tersebut adalah untuk membendung
hilangnya milik-milik Gereja Katolik yang dikuasai oleh
uskup-uskup yang menyeberang kepada agama Luther. Yang
terjadi adalah sangat bertentangan dengan maksud tersebut:
Uskup-uskup yang beralih agama dari Katolik menjadi
Protestan tidak mau melepaskan tanah-tanah mereka ke-
pada Gereja Katolik. Pangeran-pangeran yang memeluk
agama Luther mengambil alih tanah-tanah kepunyaan Gereja
Katolik yang berada di daerah mereka, padahal Perjanjian
Augsburg tidak mengakui pengambil-alihan milik Gereja
sesudah tahun 1552.
2) Perjanjian Augsburg hanya mengakui agama Katolik dan
agama Luther. Perjanjian tersebut tidak mengakui agama
yang diba wa oleh Calvin, padahal agama Calvin ini telah
banyak menjalar di Jerman.
Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa sehab pertama
peperangan 30 tahun itu adalah soal agama. Akan tetapi di-
sam ping faktor agama nampak faktor lain yang penting, yaitu
soal harta benda gereja dan soal kekuasaan politik. Persaingan
antara Pengeran-pangeran yang berkuasa di daerah-daerah keeil
menjadi hangat karena ditambah dengpn perselisihan ke agamaan.

44
Sebagai prolog perang 30 tahun dapat disebut terbe'ntuknya
Liga pard Pangcran Protestan (Protestant League) pada tahun
1608, yang disusul oleh pembcntukan Catholic League pada tahun
hcrikutnya (1609).
Perang sesungguhnya mulai berkobar di Eropa Tirnur,.
Bohemia yang sekardng disebtlt Checoslovakia. Orang-ordng
Bohemia beragama Protcstan, walaupun Rajanya beragama
Katolik. Tetapi ketika Ferdinand dari keluarga Habsburg, seorang
Katolik fanatik, menjadi Pangeran, ia mengganggu kemerdekaan
bcragama orang-orang Protestan, dan hal ini mengakibatkan
pernberontakan tahun 1618. P ernberontakan berkernbang rnenjadi
pcperangan saudara, yang kemudian menjalar di Jerman, Belanda,
Denmark, Swedia dan Perancis. Kafdinal Richelieux, penasehat
Raja Perancis, memainkan peranan penting. Walaupun ia seorang
Kardinal Katolik, ia memberi bantuan secara rahasia kepada
ordng-orang Protestan di Jerman, Denmark dan Swedia sampai
tahun 1635 dan kemudian sccara terbuka. Semua itu karena
Kardinal RicheJieux menjalankan politik untuk melemahkan
keluarga Habsburg, musuh Raja Perancis.
Akhirnya Peperangan 30 tahun itu berakhir dengan
Perjanjian Westphalia yang ditanda-tangani pada bulan Oktober
1648. Perjanjian tersebu t antara lain mengakui Swiss dan Belanda
sebagai negara merdeka.
Yang penting bagi kita dalam fasal ini ialah bahwa Per-
janjian Westphalia mengakui agama Kalvinis, serta menetapkan
bahwa tanah-tanah bekas milik Gereja tetap berada di bawah
kekuasaan orang yang menguasainya pada tahun 1624, baik ia
pengikut agarna Katolik ataupun pengikut agarna Protestan.
Segala uraian diatas membawa kita pada satu kesimpulan,
yaitu bahwa sernua agama itu tidale sarna, bahwa agama-agama itu
berbeda-beda satu dengan yang lain, rnalahan bahwa perbedaan-
perbedaannya itu kadang-kadang sedernikian prinsipilnya sehingga
dapat mernbawa umat sesuatu agarna memusuhi bahkan rne-
merangi urnat agama yang lain. Di samping itu, tinjauan 'iejarah
45
tersebut menyakinkan kita bahwa perbedaan-perbedaan dalam
agama itu tidak dapat kita elakkan. Ini adalah realitas dunia yang
telah kita lihat bersama di masa lampau dan yang kini sedang pula
kita hadapi. Kita tak dapat menutup mata kita dan pura-pura
bersikap bahwa perbedaan itu tak ada, karena sikap yang demikian
itu pada suatu ketika dapat me~jernmuskan kita kembali dalam
malapetaka yang mungkin lebih dahsyat daripada yang pernah di-
alami oleh umat manusia.
Sebaik-baik sikap yang harns kita ambil ialah agar masing-
masing agama menyadari benar-benar adanya perbedaan-perbeda-
an antara setiap agama di dunia ini. Konsekwensinya ialah, bahwa
yang pokok dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu umat
sesuatu agama harns bersikap toleran terhadap umat agama yang
lain secara sungguh-sungguh, baik dalam kata maupun tindakan.
Demikian, setelah hidup lama dalam permusuhan dan
peperangan agama, manusia telah belajar bertoleransi, khususnya
semenjak Deklit Nantes dan Peljanjian Westphalia.
Bagi pemeluk agama Islam, soal toleransi ini terdapat dalam
Al-Qur-an, surat Haj, ayat 39 dan 40 yang kira-kira artinya :
"Tentu izin perang diberikan kepada orang yang telah diperangi,
karena sesungguhnya mereka itu telah dirugikan. Sungguh, Allah
Maha Kuasa untuk menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang
diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan, kecuali kare-
na mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. Sekiranya Al-
lah tidak menahan sekelompok manusia dengan kelompok yang
lain, tentulah biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah
ibadat Yahudi dan mesjid-mesjid yang didalamnya banyak disebut
nama Allah, sudah dihancurkan. Sudah pasti, Allah akan me-
nolong mereka yang menolong agamaNya. Sungguh Allah itv
Maha Kuasa dan Perkasa':
Dalam rangka toleransi antara lain telah ditentukan bahwa
orang yang menyiarkan sesuatu agama, tidak diperbolehkan
memakai paksaan, baik paksaan kasar maupun halus, ya'ni dengan
mempergunakan daya penarik materiil. Dalam hal ini "Docu-

46
ments of Vatican II" dibawah judul "Religious Freedom"
memuat sebagai berikut : "However, in spreading religious faith
and in introducing religious practices, every one ought at all times
to refrain from any manner of action which might seem to carry a
hint of coercion or of a kind of persuasion that would be
dishonourable or unworthy, especially when dealing with poor
or uneducated people. Such a manner of action would have to be
considered an abuse of one's own right and a violation of the
right of others."
Footnote:
It is customary to distinguish between "Christian witness"
Hod "proselytism" and to condemn the latter. This distinction is
made in the text here. Proselytism is a corruption of Christian
witness by appeal to hidden forms of coercion or by a style of
propaganda unworthy of the Gospel. It is not the use but the
ubuse of religious freedom".
Artinya: "Meskipun begitu, dalam menyebarkan keyakinan
ugama dan memperkenalkan praktek agama, semua orangharus
menghindarkan tindakan yang memberi kesan sebagai paksaan
ltau cara pembujukan yang tak layak dan hina, khususnya dalam
menghadapi golongan orang fakir dan tak terpelajar. Tindakan
scmacam itu dianggap sebagai penyalah gunaan hak si-pelaku dan
pclanggaran hak orang-orang lain".
Arti "Footnote" : "Biasanya kit a membedakan antara
kcsaksian Kristen" dan 'proselytism', serta mengutuk yang akhir
ioi. Proselytism adalah penyelewengan Kesaksian Kristen dengan
memakai cara-cara paksaan yang tersembunyi atau dengan suatu
cara propaganda yang tak layak bagi Injil. Proselytism bukan
pcmakaian hak kemerdekaan beragama, akan tetapi penyalah-
gunaan hak tersebut".

47
F ASAL KETIGA

PENGELOMPOKAN AGAMA-AGAMA DI DUNIA.

Dalam fasal pertama IOta telah membicarakan soal: Apakah


agama itu masih perlu sekarang? dan fasal II kita telah mengupas
soal: Apakah semua agama itu sarna? Kesimpulan dalam fasal
pertama adalah bahwa agama itu tetap perlu dan akan tetap per-
lu dimasa yang akan datang. Sedangkan fasal kedua membawa IOta
pada kesimpulan bahwa agama-agama itu tidak sarna, bahkan ada
yang bertentangan yang satu dengan yang lain, apalagi jika
faktor-faktor politik clan ekonomi ikut memainkan peranan.
Tetapi sesungguhnya sampai sekarang ini kita belum
membicarakan, apakah sebenarnya agama itu. Memang sengaja
pembicaraan soal tcrsebut kami tunda sampai fasal III ini, karena
untuk menemukan suatu definisi agama yang baik, untuk
menemukan suatu judul umum, di bawah mana dapat dimasukkan
semua fenomena-fenomena yang kita namakan agama itu sangat
sulit dan memerlukan suatu kupasan khusus.
Karena kesukaran memberi definisi agama. maka para
sarjana mengalihkan persoalan dari definisi agama kepada definisi
orang yang beragama. Mircea EIiade dalam bukunya "The Sacred
and the Profane" mengatakan: "A Religious man is one who
recognises the essential differences between the sacred and the
profane and prefers the sacred". Artinya: "Seorang beragama
ialah orang yang menyadari pcrbedaan-perbedaan pokok antara
yang suci dan yang biasa (profane), serta mengutamakan yang

48
"revealed religions". "Natural religions" atau agama alamiyah,
.dalah agama-agama yang timbul diantara manusia-manusia itu
.odiri dan lingkungan dimana mereka hidup. Sedangkan "revealed
ll'ligions" adalah agama-agama yang diwahyukan atau agama-
.gama sarna wi, yakni agama-agama yang diturunkan Allah agar
lI1cnjadi petunjuk bagi manusia. Seeara konkrit, agama sarna wi
Ida tiga, yaitu agama Yahudi, agama Nasrani dan agama Islam.
Adapun agama-agama selain tiga itu dapat dinamakan agatna
Ilamiyah.

AGAMA - AGAMA ALAMIY AH

Agnma Hindu
Tersebut dalam bukunya Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor
,)ckolah Tinggi Theologia "Duta Watjana" di Yogyakarta, sebagai
hi)rikut :
"Scbenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang
hlnsa. Agama Hindu sebenarnya adalah suatu bidang keagamaan
dan kebudayaan, yang meliputi zaman sejak kira-kira 1500 S.M.
hlngga zaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-
,had itu, agamaHindu berkembang sambi! berobah dan terbagi-
hagi, sehingga agama ini memiliki eiri-eiri yang bermaeam-macam,
.ng oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-
klldang tidak diindahkan sarna sekali. Berhubung dengan itu,
llIaka Gorinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguh-
oya adalah suatu proses antropologis, yang hanya karena nasib
yang ironis saja diberi nama agama.
"Dengan berpangkal kepada weda-weda yang mengandung
Idat istiadat dan gagasan-gagasan salah satu atau beberapa suku
bangsa, agama Hindu sudah berguling-guling terus sepanjang abad
hlngga kini, sebagai suatu bola salju makin lama makin besar,
karena menyerap semua adat-istiadat dan gaga san-gaga san bangsa-
hangs a, yang dijumpainya di dalam dirinya. Tak ada satupun yang
ditolak. Ia meliputi segala sesuatu dan menyesuaikan diri dengan
ogala sesuatu. Tiap-tiap gagasan dapat mendapatkan makna

53
daripadanya. la memiliki aspek-aspek rohanidan jasmani, yang
berlaku bagi umum dan berlaku bagi beberapa orang saja, yang
subyektif dan obyektif, yang akali (rasionil) dan yang tak-akali
(irrasionil), yang murni dan yang tak murni. Agama ini dapat
diumpamakan sebagai tubuh yang sangat besar, yang memiliki
segi banyak sekali dan tak teratur. Satu segi bagi hal-hal yang
praktis, yang lain bagi benar-benar bersifat morll, sedang yang
lain lagi bagi kebaktian yang tak dapat dikhayalkan, dan yang
lain lagi bagi hal-hal yang melulu bersifat pertapaan, dan yang
lain lagi yang nafsani, dan yang lain lagi bagi yang bersifat
falsafah dan yang spekulatip".

Karena pentingnya agama Hindu di Indonesia, yaitu dari


segi pengaruhnya dalam kebudayaan Jawa, maka agama ini
akan kita bicarakan secara terperinci.
Menurut para sarjana yang mempelajari sejarah agama Hindu,
sejarah tersebut dapat dibagi sebagai berikut:
I. Zaman Weda (Kitab Weda, ajaran). Periode ini dimulai
sejak masuknya agama Aria di Punjab sampai waktu muncul-
nya agama Buddha pada kira-kira tahun 50~ S.M.
Zaman Weda ini dibagi dalam 3 periode:
a) Zaman Weda Purba dari 1500 S.M. sampai 1000 S.M.
Pada waktu itu bangsa Aria yang datang dari Utara
masih berada di Punjab didaerah sungai Indus (Sindu)
dan belum bertemu dengan peradaban India.
b) Zaman Brahman, mulai ± tahun 1000 S.M. sampai
± 750 S.M. Pada zaman tersebut para kepala agama
at au Brahman sangat berkuasa. Timbullah kitab-kitab
baru dan pertemuan dengan peradaban India asH.
e) Zaman Upanishad dari 750 S.M. sampai 500 S.M.
Pada zaman ini falsafat Hindu mulai berkembang dan
pusat peradaban berpindah dari lembah sungai Indus
ke lembah sungai Gangga.

54
11. Zaman agama Buddha, ya 'ni mulai 500 S.M. sampai 300 S.M.
Pada zaman ini timbullah agama Buddha dan akibatnya
agama Hindu mengalami perobahan.
111. Zaman agama Hindu, seperti yang dikenal sekarang, dimulai
pada 300 S.M. sampai sekarang.
Pada zaman Weda Purba, manusia percaya akan adanya
:lllIm lain di samping Dunia ini, di mana "Para Dewa (yang baik)
h~'rada di samping Para Rokh jahat". Kitab Rig Weda (Weda puji-
plIjian) menyebutkan adanya 3 dewa, dewa langit, dewa bumi
(1.1n dewa angkasa. Diantara dewa langit kita dapatkan Waruna,
SlIrya, Wisnu, dan diantara dewa angkasa kita dapatkan Indra
llilll Dewa Perang, Maruta (Dewa Taufan) dan Wayu (Dewa
1\ngin).
Diantara dewa-dewa bumi kita dapatkan dewi Pertiwi (Ibu
l'l'rliwi), dewa Agni atau dewa api. Dan diantara rokh jahat kita
dllpatkan Raksa.
Adapun praktek keagamaan pada zaman Weda Purba ialah
\'sHjen; ada sesajen yang tetap dan dilakukan pada waktu ter-
fi'ntu dan ada sajian yang diberikan pada waktu yang dianggap
Ill'rtU. Ada pula upacara waktu istri mengandung, waktu istri
IIwlahirkan, waktu bayi dicukur untuk pertama kali, waktu ia
lIHdai belajar dan waktu ia menjadi dewasa, kawin dan akhirnya
wllktu mati.
Sesungguhnya dewa-dewa agama Hindu pada zaman Weda
I'lIrba itu tak lain hanya personifikasi kekuatan-kekuatan alam.
J)uwa Surya kemudian menjadi Matahari, lndra menjadi hujan.
Selain sajian-sajian kepada kekuatan-kekuatan alam tersebut
dl atas, agama Hindu cenderung kepada magi atau sihir, ya'ni
110nimbulkan kekuatan-kekuatan dengan daya mantera.
Pada zaman Brahman (1000-750 S.M.), sajian-sajian atau
k<>rban menjadi kbih penting. Sajian atau korban bukan sekedar
Illltuk memohon kepada ,para dewa, akan tetapi sebagai alat
IIlltuk memaksa dewa-dewa itu memberikan kekuasaan kepada
Ipa yang melakukan sajian.

55
Para ahli agama atau Brahmana yang mengetahui seluk-beluknya
sajian, menjadi orang yang penting dan berkuasa.
Pada zaman Brahman inilah timbul sistem kasta: Brahman
ahli agama, Ksatria ahli perang, Waisya pekerja,Sudra rakyat ren-
dah dan hamba yang masing-masing tetap ada sampai sekarang.
Para dewa~ewa sudah turun martabatnya. Kesaktian dapat
diperoleh dengan sihir yang diketahui tehniknya oleh para Brah-
man. Ada dewa~ewa baru seperti Brahman dan Siwa, akan tetapi
dewa~ewa tersebut merupakan ide yang abstrak.
Dengan bertambah tingginya martabat sihir, maka sajian dan
korban tidak lagi bersifat keagamaan. Kekuasaan sudah beralih
kepada manusia, dan manusia tidak lagimerasakan ''berdosa''.
Pada zaman Weda, periode terakhir, yakni periode Upanishad
(750-500 SM.). Upanishad berarti duduk di bawah kaki guru un-
tuk mendengarkan ajarannya.
Pada zaman Upanishad ini, timbullah konsep-konsep Brah-
man, Atman, Karma, Samsara dan Moksa.
Brahman berarti : sebab bagi adanya Dunia, atau lebih jelas
lagi, sebab materiil bagi Dunia, sebagaimana emas merupakan se-
bab materiil bagi perhiasan emas.
Brahman adalah sebagai garam yang sudah bercampur dengan
air, air dicampur dengan garam terasa asin, karena di dalamnya
sudah terdapat garam, sehingga garam itu terdapat di atas, di te-
ngah dan di lapisan terbawah air itu. Demikian juga dalam Dunia
ini Brahman ada di dalam segala sesuatu, meskipun tak nampak.
Konsep Atman adalah pusat segala fungsi jasmani dan rohani.
Dalam Upanishad terdapat suatu cerita, bahwa nafas hidup, mata,
telinga, lisan, akal dan mani bertengkar, karena masing-masing
merasa dirinya yang terpenting. Mereka minta wasit kepada dewa
Brahman yang menasehati mereka supaya mereka satu demi satu
secara bergilir meninggalkan badan merekaselama setahun. Me-
reka melakukan hal tersebut, sehingga manusia pada satu waktu
hidup tanpa telinga, tanpa mata, tanpa akal dan seterusnya.
Tetapi mereka tetap hidup. Ketika giliran nafas tiba untuk

56
III j". Darangkali contoh yang relevant untuk defrnisi ini pada
IIli sckarang adalah soal seks. Manusia beragama memandang
h\lhllngan seks sebagai suatu hubungan yang penuh dengan arti
dllll Illotivasi yang tinggi. Orang yang beragama menjauhi hubung-
III st.:ks sampai ia dapat menikah at au mendapat jodoh. Dalam
lll'lIlikahan dilakukan upacara-upacara yang sangat mengesankan,
dl'lll'.an disaksikan oleh sebanyak ~mungkin keluarga, ternan dan
kl'lIalan. Dengan pernikahan semacam itu, bukan hanya si laki-laki
Il'l.dl diikat dengan si wanita dalam ikatan keluarga, tetapi juga
kl'lllurga masing-masing telah terikat satu dengan yang lain,
Scbaliknya orang yang tidak beragama menganggap hubung-
III scks sebagai suatu fungsi biologis semata-mata, tanpa
IIlcngandung unsur-unsur rohani,
Emile Durkheim, sarjana Perancis yang mengarang buku
"lies Formes Elementaires de la Vie Religieuese" (Bentuk-bentuk
llIcrnenter dalam kehidupan beragama) mencoba memberi definisi
11',ama sebagai berikut :
"Religion is an interdependent whole composed of beliefs
wd rites (faiths and practices) rela ted to sacred things, unites
ldherents in a single community known as a Church." Artinya:
Agama itu adalah suatu keseluruhan yang bagian-bagiannya saling
bcrsandar yang satu pada yang lain. terdiri dari akidah-akidah
kcpercayaan) dan ibadat-ibadat, semuanya dihubungkan dengan
hal-hal yang suci, dan mengikat pengikutnya dalam suatu
masyarakat yang disebut Gereja.
Definisi Durkheim ini mengandung kebenaran akan tetapi
lidak seluruhnya. Karena ia hidup dikalangan orang Eropa yang
bcragama Kristen, maka gambarannya tentang agama sangat
dipengaruhi oleh agama Kristen, Perkataan Gereja (church) dalam
definisinya mcnunjukkan bahwa ia hanya melihat kepada
lingkungannya sendiri, yaitu masyarakat Kristen.
Oalam buku sosiologi karangan Ogburn dan Nimhoff dari
The Florida State University terdapat suatu usul deflOisi yang

49
lebih dapat ditcrima, yang bunyinya sebagai berikut: "Religion is
a system of beliefs, emotional attitudes and practices by means
of which a group of people attempt to cope with ultimate
problems of human life". Artinya: Agama itu adalah suatu pola
akidah-akidah (kepercayaan-kepercayaan), sikap-sikap emosionil
dan praktek-praktek yang dipakai oleh sekelompok manusia un-
tuk mencoba memecahkan soal-soal "ultimate" dalam kehidupan
manusia usul definisi tersebut diatas mengandung :
I) unsur kepercayaan
2) unsur emosi
3) unsur sosial
4) unsur yang terkandung dalam perkataan "ultimate" yang
berarti, "yang sangat penting", "yang tak ada yang lebih
penting daripadanya", atau "yang mutlak".
Tetapi, wal;lUpun definisi diatas,mengandung hal-hal yang tak
terdapat dalam definisi-definisi lainnya, namun definisi tersebut
belum terasa cocok dengan agama Islam. Definisi tersebut diatas
memberi kesan seakan-akan agama itu hanya merupakan feno-
mena atau gejala-gejala sosial, sedangkan dalam agama Islam ada-
lah pemberian Tuhan Yang Maha Esa sebagai petunjuk untuk
manusia.
Bagaimana pun kekurangan-kekurangan yang ada dalam
definisi tersebut diatas, sedikitnya definisi tersebut telah me-
nolong kita mendapatkan gambaran tentang apa yang dimaksud
dengan agama.
Arti agama selanjutnya, khususnya yang mengenai Islam,
akan dapat dilihat dalam fasal IV.

Kelompok-Kelompok Agama
Seorang ahli teologi Kristen, yaitu Paul Tillich, mengatakan,
bahwa agama adalah "the problem of ultimate concern" yang
artinya: persoalan yang mutlak penting bagi diri seseorang. Oleh
karena itu jika seorang sarjana membicarakan soal agama, ia

50
lldllk tlapat bersikap obyektif; ia sudah terikat dengan kepercaya
1I111ya,dengan kata lain, ia sudah terlibat (involved).
Stephen Neil dalam bukunya "History of Christian Missions"
·.l'lnlu mengatakan bahwa agama Kristen adalah agama yang
Il'l tinggi. Ini tentu saja tidak dapat diterima baik oleh pengikut
Igllll1a Hindu atau Buddha. Islam ataupun Yahudi.
Pcrkataan "Iower and higher religion" (agama rendah dan
1I',lIlna tinggi) selalu kita dapatkan daJam buku-buku tentang
pl'l bandingan agama. Pada dasamya pengelompokan agallla dalam
.lIpma rendah dan agarna tinggi, memang masuk akal. Kalau kita
Illdillat sebagaian bangsa Indonesia yang hidup di pedalaman atau
dlll'rah-daerah terpencil, kita dapatkan mereka menyembah pahon
hl~sar, mereka menyimpan tulang-tulang nenek moyang mereka
yang telah lama meninggal dunia Agama serupa itu memang
It'hill rendah dari agama yang dianut oleh orang-orang terpeIajar,
"l'perti agama Islam, agama Kristen atau agama Buddha. Akan
il'tapi kata-kata '1ower" dan higher", lebih rendah dan lebih
Illlggi, mungkin sekali dipakai orang secara tidak tepat, sehingga
ill'l'tll'ti 'agama yang rendah dalam pandangan saya', atau 'agama
ynng tinggi menurut penilaian saya'. Dengan begitu maka
ptlndangan tersebut merupakan pand.mgan subyektif.
Dalam fasal I telah saya muatkan kutipan dari buku
Dr. J. Verkuyl yang berjudul: "Samakah Semua Agama?",
yaitu tentang hikayat seseorang yang meninggalkan cincin kepada
lil!a orang anakny.a, suatu hikayat yang ditulis oleh Lessing.
Dalam membicarakan pengelompokan agama dalam Fasal III
ini, say a juga akan mengutip lagi dari buku Dr. Verkuyl tersebut,
sebagai berikut :
Ki ta sebut sebagai contoh seorang sarjana yang terkenal, yaitu
Ernst Troeltsch, yang bertahun-tahun lamanya menyelidiki hal
itu.
Menurut dia, maka alas piramide itu terdiri dari "agama-
agarna suku" atau "agama-agama primitif'. Lapisan kedua ter-
diri dari "agama Taurat", misalnya agama Yahudi dan Islam.

51
Lapisan betikut adalah agama kelepasan.
Lapisan paling bawah dari agama kelepasan itu terdiri
dari agama Hindu dan Buddha; dan puncak piramide itu ialah
agama Kristen.
Agama-agama Taurat itu, demikian katanya, memberita-
kan juga adanya satu Allah yang berkehendak suci, tetapi dalam
pada itu manusia itu disuruhnya mengatasi dan menaklukkan
sendiri segala sesuatu di dunia ini yang mela wan kehendak
Allah.

Agama kelepasan yang bukan-Kristen menghapuskan batas-


batas antara Allah dan dunia. Tetapi, katanya pula, agama Kristen
memberitakan adanya Allah, yang menyatakan Perbuatan dan
lradatnya dalam dunia ini, dan membuat manusia yang telah
dibersihkan daripada dosanya itu bekerja di dunia ini untuk
Kerajaan Allah.
Dengan demikian agama Kristen dianggapnya sebagai
puncak dan pertemuan segala agama yang lain. (buku "Samakah
Semua Agama" halaman 28-29).
Ada pula orang yang mengelompokkan agama menurut
daerah-daerah. E.O. James yang menuHs buku "History of
Religions" (Sejarah Agama-agama), membuat fasal-fasal tentang
'Agama di Timur Tengah Zaman Purba', 'Agama di Cina dan
Jepang', 'Agama-agaml di India, Zoroastrisme dan Yudaisme',
'Agama-agama di Yunani dan Roma', 'Agama-agama Kristen dan
Islam'.

Dengan membaca judul fasal-fasal tersebut, kita mendapat


kesan, bahwa E.O. James tidak selalu berpegangan kepada dasar
geografis; disamping agama-agama di Timur Tengah, India, Yunani,
Roma, Cina dan Jepang, ia membicarakan Zoroastrisme dan
agama Yahudi dalam satu judul, dan agama Kristen dan Islam
dalam satu judul lain.
Selain cara-cara tersebut diatas ada lagi pengelompokan
agama dalam dua kelompok, yaitu : "natural religions", dan

52
11llllll1g~alkan tubuh, maka mata. telinga, akal dan lain-Iainnya
Illi'lI10hon kepada nafas dengan sangat supaya jangan meninggalkan
111111111, karena mereka itu tak akan dapat hidup tanpa nafas.
PI 1I,~1l1l bcgitu maka nafas mcndapat pengakuan bahwa dia-
IIV,tI,11i yang paling penting dalam kehidupan manusia.
Brahman bagi alam semesta adalah seperti Atman bagi
llhllllisia. Akhirnya keduanya menjadi satu: dalam Atmah ada
III,tlllllan.
Konsep ketiga ialah Karma. Karma berarti perbuatan,
t"lIl11dian berarti balasan. Artinya, sebagai tersebut dalam Upanis-
lwd Sesuai dengan apa yang diperbuat seseorang, sesuai dengan
1t,"~11irnana tindakannya, demikianlah ia menjadi. Yang berbuat
b,lIk nlcnjadi baik dan yang berbuat jahat menjadi jahat.
Konsep keempat adalah samsara, yakni tentang bernlangnya
~l·l.dliran manusia. Seseorang lahir, menjadi dewasa, kemudian
II lid i, kemudian lahir lagi, menjadi dewasa dan akhrrnya mati,
hllllya untuk kembali dilahirkan lagi.
Konsep kelima adalah Moksa (kelepasan). Manusia selalu
dlkungkung oleh Samsara (kelahiran kembali), oleh karena ia
llli:mpunyai bermacam-macam keinginan. Jalan kelepasan adalah·
Illcnghilangkan kei~ginan tersebut. Orang yang bebas dari ke-
11I!?nan, ia akan tetap hidup dan menjadi Bralunan.
Dari apa yang tersebut di atas, kita dapat mengikuti bahwa
(Ialam agama Hindu periode Upanishad, manusia percaya kepada
pantheisme. Tuhan adalah kehidupan daripada segala yang hidup.
Selain daripada itu, agama Hindu Upanishad menjadikan hidup ini
tak berarti. Kita hams melepaskan diri dati· segalaperbuatan,
supaya kita mencapai tingkat Moksa atau kelepas;Jn.

Agama Hindu sesudah Buddha

Pada zaman timbulnya agama Buddha (500-300 S.M.) ini,


timbullah apa yang dinamakan Yoga. Yoga adalah. suatu cara
untuk sampai kepada pengalaman mistik. Buku pegangan Yoga
adalah Yoga Sutra yang dikarang oleh Patanjali pad a abad 5.
57
Karena keinginan-keinginannya, manusia tidak mengerti hakekat
yang sebenamya. Keadaan semacam itu, yaitu tidak tahu hakekat,
disebut "awidya". Orang dapat mencapai kelepasan jika ia
mengganti awidya dengan widya (pengetahuan), yakni ia harus
menang atas keinginannya. Siapa yang dapat melepaskan diri dari
kehausan kepada benda-benda, ia menjadi tak bemafas (wairagya)
dan tak akan memperdulikan kesenangan.

Adapun agama Hindu setelah agama Buddha, yakni se-


menjak abad 3 S.M. sampai sekarang, dapat diuraikan secara
ringkas sebagai berikut :

A Dalam periode ini terbentuklah Trimurti (Tiga Serangkai),


yakni Tiga Dewa: Brahma, Wisnu dan Siwa. Brahma sebagai
Dewa yang menciptakan alam ini, Wisnu sebagai Dewayang
memelihara dan Siwa yang merusak. Dewa Brahma di-
gambarkan sebagai patung yang memiliki empat kepala.
Wisnu digambarkan seperti memelihara empat tangan. Ia
selalu menitis, artinya selalu menjelma menjadi binatang atau
orang menu rut keadaan. Pernah ia menitis sebagai seekor
ikan, seekor kura-kura, dan pernah pula menitis seperti
Rama, Rajaputra dari Ayodya untuk mengalahkan musuh-
nya, Rawana; pernah menitis sebagai Kresna untuk mengalah-
kan musuhnya Pandawa, dan juga pernah menitis sebagai
Buddha. Adapun Dewa Siwa, perusak itu, juga disembah
sebagai Batara Guru, dan juga disembah sebagai Ungga
(simbol kelamin lelaki).
B. Dalam masa setelah agama Buddha ini, timbullah dua epik
(syair kepahlawanan) Ramayana dan Mahabarata yang
sampai sekarang disajikan kepada orang ramai dalam cerita
wayang. Epik Ramayana ditulis oleh Walmiki, sedang
Mahabarata ditulis oleh Wyasa. Untuk mengetahui isi cerita
Ramayana dan Mahabarata, dibawah ini saya kutipkan dari
karangan Dr. Harun Hadiwiyono sebagai belikut :

58
II) Ramayana
Kitab 1m ditulis oleh Walrniki. Agaknya kitab ini sudah
Illvngalami sejarah yang berabad-abad sebelum mendapatkan
1ll'lItuknya yang terakhir. Barangkali cerita yang pokok ditulis
lIit'h satu orang, sedang kemudian ditambah oleh banyak orang.
I'lld•• akhir abad kedua M., kitab iIii sudah mempunyai bentuk
YIIlIg tetap.
Kitab ini menceritakan ten tang Rama. Bagian yang pokok
till' i kitab ini dipandang sebagai adi-kawya, artinya: syair ke-
Jlodllawanan yang pertam·a. Dari bagian ini orang dapat mem-
IH'lajari bagaimana orang harus bersikap terhadap orang-tuanya,
.l's••manya dan orang bawahannya, juga bagaimana raja harus
1l11'lllcrintah atas kerajaannya, dan bagaimana suatu masyarakat
dolp~1t hidup dalam kesejahteraan dan kerukunan.
Isi kitab ini, yang dibagi menjadi tujuh bagian (kanda),
tlilpat diringkas sebagai berikut :
Dasaratha. raja Ayodya, memutuskan untuk mempersembah-
hllil kurban, agar dianugerahi seorang putera. Pada waktu itu
Ih'wa-dewa sedang mendapat banyak gangguan dari raja Rawana
dud Langka. Oleh karena itu dewa Wisnu menitis sebagai anak
Dasaratha, untuk membinasakan Rawana. Permaisuri Dasaratha
YlllIg bernama Kausalya melahirkan anak, yang diberi nama Ramo.
Dari isteri lainnya, Kaikey~ Dasaratha mendapatkan anak: Bharata
lldang isteri ketiga, Sumitra, melahirkan Laksmana dan
,,",,'fll rughna.

Sesudah Rama di dalam suatu sayembara dapat mematahkan


hliSUT raja Janaka dari Wedeha, ia kawin dengan Sima, puteri
Janaka.

Ketika Dasaratha sudah tua, ia ingin mengundurkan diri


dad pemerintahan, Rama akan dinobatkan menjadi penggantinya.
Pada waktu persiapan-persiapan sedang diadakan, Kaikeyi me-
lIuntut daripada raja Dasaratha supaya anaknya, Bharatalah
yang dinobatkan menJadi raja, sesuai dengan janji raja dahulu,
keUka Kaikeyi menyembuhkan raja daripada luka yang diderita-

59
nya dalam perang. Bagi Dasaratha tak ada jalan lain kecuali
memenuhi tuntutan itu. Rama dibuang dari kerajaan untuk
hidup di dalam hutan selama 14 tahun.
Dengan disertai isterinya dan adiknya Laksmana, Rama
meninggalkan Ayodya. Tetapi Bharata, karena tidak mengingin-
kan menjadi raja, mencoba membujuk Rama untuk kembali
memcgang pemerintahan. Namun usaha ini gagal. Rama memberi-
kan terumpahnya kepada Bharata sebagai wakilnya untuk
memerintah. Bharata terpaksa menyerah. Ia kembali ke Ayodya
dan memerintah sebagai wakil Rama, hingga pada waktunya
Rama kembali.
Rama dengan isterinya dan adiknya mengem bara di hutan
Dandaka (Dekhan). Beberapa waktu, datanglah para pertapa ke-
padanya mohon perlindungan tcrhadap raksasa-raksasa yang
mengganggu hutan dan mengacaukan para pertapa itu. Rama
membersihkan hutan itu dari gangguan-gangguan itu.
Seorang raksasa perempuan, Surpanakka. sesudah cintanya
ditolak oleh Laksmana dan dipotong hidungnya, minta per-
tolongan kepada kakaknya, Rawana.
Dengan tipu musJihat, Sinta dapat dicuri oleh Rahwana.
(Raksasa Marica berubah menjadi seekor kijang, untuk me-
misahkan Sinta daripada Rama dan Laksmana). Garuda Ja ta.Yu
mencoba menolong Sinta dati tangan Rahwana tetapi gaga!. Rama
dan Laksmana lalu mengembara mencaJi Sinta.
Dalam pengembaraannya itu Rama dapat bersekutu dengan
raja kera dari Kiskindya yaitu Sugriwa, sesudah Rama menolong
Sugriwa merebut Kiskindya dari Walin, kakak Sugriwa. Atas
petunjuk garuda Sampati, Rama dapat mengetahui bahwa Sinta di-
bawa lari ke Langka. Hanuman. kera putih yang sakti, diutuske-
Langka. Ia mendaki gunung Mahendra dan meloncat ke Langka.
Sampai di Langka, Hanuman. segera menemukan Sinta.
Tetapi akhirnya Hanuman ditangkap dan dibakar. Namur.. api
tak dapat memakan tubuhnya, bahkan kota Langka terbakar
karenanya.
60
Rama dengan bantuan Sugriwa dan balatentara kera ber-
kl'mas-kemas hendak menggempur Langka. Atas jasa Wibhisana .
.l\llk Rahwana, yang menyeberang menolong Rama, kemenangan
lhpcroleh Rama. Rahwana dapat dibunuh. Wibhisana dinobatkan
/IIl'njadi Raja di Langka.
Oleh karena Rama meragukan apakah Sinta selama itu
1Il1lsih setia kepadanya, maka Sinta dibakar, untuk mehguji
ki'sctiaannya. Oleh karena Sinta dapat keluar clan api tanpa
l'IlClai rambutpun terbakar, maka ia diterima kembali oleh
l{lIma. Demikianlah Rama kembali ke Ayodya sebab waktu
l'0mbuangannya sudah berakhir.
Rama memerintah atas Ayodya. Rakyat Ayodya sebenar-
IIYu curiga atas kesucian Sinta selama di Langka itu. Hal itu
',tlll3ntiasa menjadi buah mulut rakyat. Oleh karena itu Rama
ll'lpaksa membuang Sinta di hutan. Selama dalam pembuangan
Il\l Sinta melahirkan dua orang anak, Kusi dan Lawa Mereka
IIIl'njadi murid Walmiki.
Pacla waktu Rama mengadakan kurban aswamedha. kedua
1I1l1kSinta telpilih untuk membacakan kitab "Ramayana" yang
dltulis oleh Walmiki. Karena itu akhirnya kedua anak itu
chkcnal Rama, bapanya. Sinta dipanggil kembali ke Istana. Untuk
Illcmbuktikan kepada rakya t bah wa ia suci, Sinta meminta supay a
ch:wi Parthiwi menelannya. Hal itu terjadi, dan matilah Sinta
(\ltelan bumi.
Sesudah Rama menyerahkan kerajaannya kepada kedua
Illnknya, ia kembaIi sebagai Wisnu ke surganya.
Bagian pertama dan terakhir dari kitab Ramayana 1m
aknya adalah tambahan yang diberikan orang kepada inti
:rita itu. Bahasa dan gaya bahasanya berlainan sekali daripada
bagian yang pokok. Selain daripada itu di bagian pertama kitab
ni disebutkan tentang bangsa Yunani, Parti dan Skiti, sedang
Iii bagian akhir kitab ini. Rama dipandang sebagai titisan Wisnu.
Keyakinan keagamaan yang terclapat di dalam bagian Rama-
yana yang pokok ialah pantheisme.
61
b) Mahabharata
Bagian tertua dari kitab Mahabharata ini disusun oleh
Wyasa. Bilamana hal itu terjadi, tak seorangpun yang menge-
tahuinya. Yang terang ialah, bahwa kitab ini sudah dikenal
pada waktu agama Buddha timbul. Bentuk yang sekarang ini
mungkin teljadi di antara abad kedua SM. dan abad kedua M.
Kitab ini terdiri dari 18 bagian (parwa). Isi kitab ini men-
ceritakan peperangan antara Kurawa dan Pandawa. Ceritanya
dapat diringkaskan sebagai berikut:
Ada dua saudara, anak Wyasa, yaitu Dhrtarastra. yang tua
dan Pandu adiknya. Dhrtarastra ini buta, oleh karenanya adiknya
yaitu Pandu, yang menjabat raja atas Hastinapura. Dhrtarastra
ka win dengan Gandhari, yang mem berikan kepadanya lOO orang
anak. Yang sulung bernama Duryodhana. Keturunan Dhrtarastra
ini disebutKaurawa. Pandu kawin dengan dua orang puteri,
yaitu Prtha atau Kunti dan Madri. Dengan perantaraan dewa
Dharma, Bayu dan Indra, Kunti melahirkan tiga orang anak,
yaitu Yudhisthira, Bhima dan Arjuna. Dengan perantaraan dewa
Aswin, Madri melahirkan dua orang anak kembar, yaitu :
Nakula dan Sahadewa. Kelima orang anak ini disebut Pandawa.
Ketika Pandu wafat, anak-anaknya masih terlalu muda
untuk menggantikannya sebagai raja Hastinapura. Oleh karena
itu Duryodhana dinobatkan menjadi raja dengan perjanjian,
bahwa kelak jika Pandawa sudah dewasa, kerajaan Hastinapura
dikembalikan kepada Pandawa. Tetapi dari pihak Kaurawa tak
ada maksud untuk mengembalikan kerajaan itu.
Pada suatu ketika diadakan rapat antara Pandawa clan
Kaurawa untuk membicarakan pengembalian kerajaan itu. Pada
kesempatan ini diadakan perjudian antara Yudhistira dan
Duryodhana, di bawahpimpinan patih Sakuni. Yudhisthira men-
derita kekalahan total. Ia memperjudikan segala miliknya, juga
saudara-saudaranya dan dirinya sendiri serta isteri kelima saudara
itu, Draupadi. 01eh karena itil Pandawa menjadi budak Kaurawa.
Karena penganiayaan Kaurawa atas Pandawa, akhirnya atas

62
11'1111I)hrlardstra, Pandawa dibuang selama 12 tahun lamanya
I. d/ll:lln hutan.
l)cmikianlah selama 12 tahun Pandawa mengembara di-
111111111. Pada akhir pembuangan itu mereka dengan menyamar
1111'111'.lIbdikepada raja Wirata, yaitu; Draupadi menjadi tukang
1I11l1l1lk, Yudhisthira sebagai seorang Brahman, Arjuna sebagai pe-
IIIYlIlIwanita, dan sebagainya. Sekalipun demikian penyamaran itu
ddll1llya terbongkar juga. Raja Wirata bermaksud mcmbantu
l'lllldnwa untuk mendapatkan kerajaannya kembali. Oleh karena
II1I \II.:ngan bantuan banyak raja-raja, diantaranya Krsna, Pandawa
1I1111lglljukanpermintaan kepada Duryodhana supaya diperkenan-
I· 1111 ll1embangun negaranya yang semula sudah dimilikinya yaitu
Iluiraprastha. Tetapi permintaan ini ditolak oleh Duryodhana.
t"'HllIa pihak lalu bersiap-siap untuk berperang. Sebelum perang
dl.lIl1lai, Krsna bertind1k sebagai duta Pandawa untuk meng -
11'.ll\kan pembagian negara menjadi dua, tetapi usul ini juga di-
Iltlll k. Demikianlah perang tidak da pat dielakkan lagi. Perang
111'r1angsung 18 hari, dengan kekalahan total dipihak Kaurawa"
.~lIl1c1ara100 itu semuanya gugur dalam perang, demikian juga
)\ama, anak Kunti, yang memihak Kaurawa.
Pada malam harinya, sesudah semua Kaurawa gugur, Aswa-
(llama, anak Drona, membalaskan dendam atas kematian ayah-
Ilya. Ia masukke dalam kemah Pandawa dan membunuh Dhrsta-
dyumna, pembunuh ayahnya, dan Srikandi, isteri Arjuna.
Tctapi akhirnya 1a dapat ditangkap dan dibunuh oleh Pandawa.
Sesudah diadakan ratapan oleh para istri pahlawan-pahlawan
yang gugur, mayat-mayat dibakar, disusul dengan "selamatan"
hagi yang mati.
Yudhisthira dinobatkan sebagai raja atas Hastinapura. Ia
IIlcngorbankan kurban aswamedha (kurban kuda), untuk me-
nunjukkan bahwa ia adalah raja yang besar, yarig pemerintahan-
nya sudah menjadi kokoh benar.
Ketika Pandawa sudah tua, Pariksit, cucu Arjuna, dinobat-
kan menjadi raja atas Hastinapura. Pandawa mengasingkan diri

63
dari dunia ramai dan pergi menllju ke Himalaya. Dalam per-
jalanan itll secara berturllt-turut telal1 menmggal Drallpadi,
karena dosanya "sanga t mencintai ArJuna' , kcmud1i1n rneninggaJ-
_ lah Sahadcwa disebabkan karena dosanya "merasa dirinya
paling tampan dari saudara-saudaranya", lalll Nakub, disebab-
kan karena dosanya "menganggap dinnya sangat pandai", lalu
Arjuna, discbabkan dosanya "mengJnggap dirinya pencmbak
terulung", dan akhirnya Bhima, disi?babkan karcna ia senantiasa
kurang sopan-santun dan gernar rnakan. Demikianlah ting.~pl
Yudhisthira sendiri dengan anjingnya yang kcmudian mcnjelma
sebagai dewa Dharma. Yudhisthira diperkenankan naik ke surga
dengan tubuhnya. Di Surga ia mcliha t Duryodhana dlldllk di-
takhta dengan dihadap oleh para Kaurawa, sedang para' Pandawa
didapatinya di neraka. Karena jasa Yudhisthira maka akhirnya
Pandawa dilepaskan dari neraka; dan Kaurawa dimasukkan ke-
neraka.
Kitab Mahabharata ini scbcnarnya mcmuat suatu sistim
ajaran yang pantheistis dicampur dengan Jjaran dualistis dari
Yoga, artinya ajaran dualisme yang me ngdkui adanya Tuhan.
Di dalam Mahabharata ini terdapat bermacam-macam aliran, yang
semuanya diakui kebenarannya, scbagai lImpamanya aliran agama
Wisnu dan agama Siwa.

c) flha.gawadgita

Kitab ini berarti : Nyanyian Tuhan. Agaknya kitab ini


semula menjadi suatu kitab-pcgangan bagi pJra Bhagawata,
yaitu penyembah Bhagawat. Bentuk yang- sekarang ini agaknya
sudah mengaJami perubahan-pcrubahan.
Bilamana kitab ini ditulis, tak dapat dikatakan dengan
pasti. Mungkin pada abad kclima SM., tetapi mungkin juga
pada abad ketiga SM., atau abad kedua SM.
Kitab ini adalah bagia'n dari kitab Mahabharata, yaitu bagian
parwa yang keenam, Bismaparwa.

64
IMi pokok kitab ini membicarakan pembicaraan Kresna de-
1'/.11111 Arjuna pada permulaan perang Bharatayudha. Pada waktu
pi IIII1H akan dimulai. Arjuna ragu,agu, Kresna yang menjadi
liNItYlI, memanggil Arjuna kembali kepada tugasnya sebagai
IlllI11 Y1I, dengan menguraikan ajarannya, yang pokoknya mem-
1III1Iokan tentangBhakti, penyerahari diri.

~ucara singkat ajaran Bhagilwadgita adalah sebagai berikut:

'I'lihan adalah dzat yang tidak dilahirkan, tanpa awal, dan


Iltg rnaha kuasa. Ia berlainan sekali daripada dunia yang fana
III, Mubab ia adalah Paramatma (jiwa yang tertinggi). fa memiliki
dllll Inbiat, yaitu tabiat yang lebih tinggi (para), yaitu jiwa yang
1I11'l1dllkung alam semesta ini, dan tabiat yang lebih rendah
(IIPllrll), yang bersifat jasmani, yang terdiri dari segala sesuatu
1111-\ tcrmasuk praktri : bumi, air, api, angin budi, pengertian dan
Ida ran diri.

Pada dirinya
sendiri benda tidak bebas, tidak merdeka,
1l'(llpi perkembangannya ada di bawah pengawasan Tuhan. Tuhan
IHlkt;rja pada benda dan berbuat dengan melalui benda. Pada
1I\IIIda itu ditempatkan benih, yang melahirkan segala sesuatu.
I hlpat dikatakan, bahwa Tuhan adalah Bapa segala makhluk,
"dang benda atau prakrti adalah ibu yang mengandungnya.
Di sepanjang abad Tuhan ini, jika keadilan merosot dan
Pl·rbuatan tak adil meraja-lela, menitis untuk melindungi yang
Ill'l1ar membinasakan yang jahat, serta meneguhkan keadilan.
Segala yang tampak ini dilahirkan dari prakrti, yaitu pada
plIgi hari Brahma, dan akan dilebur pada malam hari Brahma.
'I'dapi penciptaan dan peleburan yang terus menerus itu tak
Ilwmpengaruhi Tuhan.
Baik benda(prakrti) maupun jiwa adalah l<ekal, tak ber-
IIbah. Jiwa yang berdiam di dalam tubuh juga tak dipengaruhi
olch segala macam pengaruh dan perbuatan benda. Jiwa per-
orang an itu adalah bagian daripada Tuhan. Ia berasal daripada
'I'uhan dan masuk ke dalam persekutuan dengan benda.

65
Tugas manusia ialah berbuat sedemikian rupa. hingga jiwa
nya dapat kembal1 kepada asalnya. yaitu Tuhan.
Tuhan bersikap kasih terhadap mereka yang mengenal akan
Dia dan menyembahNya dengan seluruh hatinya. Tuhan me-
lepaskan mereka yang lari kepadaNya' daripada segal a dosa.

Jalan kelepasan ada tiga macam, yaitu : (1) Jnana-marga


atau jalan kelepasan dengan melalui pengetahuan akan kebenar-
an yang tertinggi. (2) Bhaktimarga. yaitu jalan kelepasan dengan
melalui kasih dan pemujaan akan Jiwa atau Purusa yang ter-
tinggi. (3) Karma-marga atau jalan kclcpasan dengan penaklukan
kehendak sendiri kepada tuiuan Tuhan.

Kctiga jalan itu menuju kepada sa tu tujuan, yaitu kelepasan.


Orang dapat mempcrolch kelepasan dengan melalui segala segi
kcsadaran hidup. Tak ada perbedaan yang mutlak antara jalan-
jalan itu. Hal ini disebabkan oleh karena hidup itu tak ter-
pisah-pisah. Tuhan adalah sat, cit dan ananda,. kenyataan, ke-
bcnaran dan kebahagian. Dan Tuhan yang deniikian itu menya-
takan dirinya scbagai : terang yang kekal, sebagai ma tahari pada
tcngah hari, bagi orang-orang yang mencari pengetahuan, dan
scbagai : keadilan yang keka/, kepada mereka yang bergumul
bagi kebajikan dan akhimya sebagai : kasih dan keindaha,!,
scrta kesucian yang kekal, kepada mereka yang mencari Tuhan
dcngan kasih dari pemujaan.

Sebagaimana Tuhan itu mempersatukan di dalam ditinya


scndiri hikmat, kebaikan dan kesucian, qemikian jug<ilah manusia
harus mcnuju kepada hidup rohani yang tak terpisah.
Kelepasan terdiri dari persekutuan jiwa dengan Jiwa yang
tcrtinggi, yaitu mcnyaksikan, mengalami dan menghayati hidup
illahi. Persekutuan ini discbut : berada di dalam Brahman, tak
bcraksi, dan lain-lain.

66
Dari uraian mengenai agama Hindu sebagai tersebut di-
at as, kita dapat mengambil kesimpulan scbagai berikut :
I) Mengenai Ketuhanan
Agama Hindu mula-mula mengajarkan tentang adanya
dewa yang banyak, dewa langit, dewa angkasa, dewa
bumi dan lain-lain dan ini berarti politheisme. Tetapi
dalam pada itu agama Hindu memberi ajaran akan
adanya Dewa tertinggi. yaitu Brahman. (henotheisme)
Karena agama Hindu itu, sebagai yang dikatakan oleh
Gorinda Das, adalah suatu proses, maka Dewa tcrtinggi
tersebut kemudian digambarkan sebagai asal segala
kejadian, danberada dalam scmua yang ada. Dengan
begitu agama Hindu mcnjadi panthcisme. Trimurti
atau Tiga Serangkai : Brahman, Wisnu dan Siwa di-
gambarkan sebagai aspek dari Brahman, atau Wisnu
dan Siwa menjadi identik dengan Brahman.
2) Mengenai Terjadinya Alam.
Pada zaman Upanishad (750-500 S.M.) timbullah
anggapan bahwa dunia ini terjadi karena emanasi atau
faidh dati Brahman.
3) Mengenai Manusia.
Sebagai salah satu dari yang ada, manusia juga berasal
dati emanasi Tuhan. Bahwa dalam manusia itu ter·
dapat Tuhan, hidupnya, nafasnya, segala anggauta
oodannya merupakan tempat kekuatan ilahi. Manusia
dan Tuhan adalah sarna.
4) Mengenai Sikap Manusia Terhadap Tuhan.
Dewa-dewa dapat dikerahkan untuk kcperluan manusia
dengan jalan sajian-sajian dan mantra-mantra. Pada
zaman Brahman (l 000- 750 S.M.) kasta Brahman-lah
yang melakukan tehnik mempengaruhi Dewa-dewa
tersebut dengan sajian-sajian <Ian mantra-mantra mereka.

67
Agama Buddha

Berhubung karena agama Hindu dan Buddha dalam sejarah


tanah air kita Indonesia merupakan suatu campuran yang tak
dapat dipisahkan, maka di bawah ini kita membicarakan tentang
agama Buddha. Agama Buddha dinisbahkan kepada Buddha,
yaitu julukan bagi Pangeran Sidarta, pendiri agama terse but.
Sidarta dilahirkan pada pertengahan abad 6 S.M. dari kalangan
ningrat, Gautama, dari kasta Ksatria. Bapaknya adalah seorang
raja, kepala suku Sakya di India Utara, 100 mil dari Benares,
di kaki gunung Himalaya. Sidarta kawin sebelum umur 20 tahun
dengan putri seorang raja yang berdekatan daerahnya, kemudian
dapat anak seorang putra. Tetapi kemudian Sidarta meninggalkan
istana untuk mencari jalan mengatasi penderitaan dan kejahatan
yang ia lihat di sekelilingnya dan untuk mengungkap arti ke-
hidupan manusia fa memakai jubah kuning sebagai yang dipakai
para biksu dan menuju ke pegunungan Rajagaha dimana ia
menemui dua orang Brahman yang hidup dalam gua. la belajar
dari mereka, tetapi yang didapatkan hanya rasa mistik yang
subyektif alam sunyi (realm of nothingness) sebagai puncak dan
hasil hidup bermeditasi. Karena tidak puas dengan hasil tersebut,
maka ia menuju ke hutan-hutan di Uruvela. Oi sana selama enam
tahun ia mempraktekkan hidup yang sederhana sckali, sehingga ia
bersama dengan lima orang pengikutnya sudah menjadi tulang dan
kulit semaJa-mata. Tetapi walaupun begitu ia tid,ak dapat men-
jumpai jalan "enlightment" . Akhirnya karena ia yakin bah-
wa jalan yang ia tempuh itu keliru, maka ia meninggalkan
pengikut-pengikutnya dan kemudian menempuh jalan tengah,
yakni kehidupan antara kesederhanaan dalam disiplin yang amat
keras dan hidup secara mewah.
Buddha berangkat sebagai seorang biksu pengemis menuju
Magadha dan berhenti di suatu hutan, yang indah yang sekarang
dinamakan Budhgaya dimana didirikan orang Candi Mahabodhi.
Oi tempat terse but Sidarta duduk secara yoga di bawah
sebuah pohon bodhi dekat saatu sungai yang mengalir jernih.Oi-

68
sana ia merenungkan kegagalan-kegagalannya yang lalu dan akhir-
nya mendapatkan maksudnya, yaitu pengalaman emansipasi se-
lama 7 hari.
Sidarta mt?ndapat keyakinan bahwa sebab segala penderitaan
adalah keinginan (tanha) dan keinginan itu timbul karena ke-
hendak untuk hidup dan untuk memiliki. Seorang tidak akan
mencapai ketentraman Nirvana sebelum ia insaf akan bahaya ke-
IngIl1an.
Dengan latar belakang ftIsafat Sankhya, yaitu filsafat yang
men~atal<an adanya dua hakekat. materi at~u prakriti dan jiwa
atau purusha, ia mendapatkan segala penderitaall atau Dukha
dalam: kelahiran, usia lanjut. penyakit, mati dan kelahiran baru
(yang kedua dan setemsnya). Dukha inilah yang dinamakan ke-
benaran pertama. Kebenaran kectu3 adalal1 sebab penderitaan.
yaitu keinginan yang sangat atau Tanha. Kebenaran ketiga adalah
untuk menekan, bahkan menghiJangkan keinginan itu sama
sekali. Sebagai hasil penghapusan segala kemauan itu manusia
dapat mencapai keten traman yang dinamakan dalam bahasa
Sanskrit "Nirvana''',
Untuk mencapai Nirvana, sese orang harus menempuh
delapan jalan, yaitu: sikap mental yang benar, atau memahami
secara benar, aspirasi yang benar, cara berbicara yang benar, cara
hidup yang benar, etika yang ben"T. usaha yang benar, ber-
fikiran yang benar dan konternplasi (renungan).
Setelah Buddha mendapatkan ilham (enlightment) ter-
sebut. ia tidak memasuki Nirvana, karena selalu ingat kepada
penderitaan manusia. la tetap hidup di Dunia ini untuk mengajar-
kan "Jalan Tengah" sebagai cara menyelamatkan diri. la kembali
mencari lima orang pengikutnya yang ditinggalkan dahulu dan
mencmukan mereka di Benares dan memberikan ajarannya ke-
pada mereka.
Demikian, karena selalu merasa terpanggil un tuk me-
ringankan penderitaan manusia di dunia ini, sampai saat-saat
terakhir hidupnya Buddha tak berhenti menyiarkan ajaran-ajaran-
69
nya Dharma atau Hllkum yang sampai sekarang ini dianut oleh
para pengikutnya,
Jalan Tengah yang berlandaskan "Empat Kebenaran'; yang
mulia dengan "Delapan Jalur ' nya yang murni merupakan jalan
tengah antara-disatll fihak-agamaHindli yang mencari kelepasan
(emansipasi)dcngan jalan pen~dahuan dan pekcrjaan dan di lain
fihak, Jainism yang ingin mcncapai cmansipasi dengan jalan
"ascetism" (hidup zuhud atall sedcrhana) yang amat berat.
Dalam agama Buddha sistem kasta, cara-cara ibadat yang
ditetapkan oleh golongan Brahman, kesatuan alam dan manusia
seperti diajarkan oleh Upanishad, konsep Ketuhanan dan konsep
Atman sebagaijiwaperorangan, scmua itu ditiadakan. Sebaliknya,
ajaran tentang Karma, reinkarnasi dan transmigrasi nyawa seperti
yang diajarkan agama Hindu tetap dianut.
Bagi orang awam, mcrcka cukup mengikuti empat- hal:
menjauhi pembunuhan, pencurian. dusta dan pelanggaran sex.
Pelanggaran sex berarti mengkhianati hubungan suami-isteri;
pembunuhan (menyembclih binatang untuk .tujuan dimakan
dibolehkan), sedangkan minuman keras, judi, mengganggu orang
dijalan, menganggur dan bergaul dengan orang tak baik, semua itu
menjadi larangan. Dcngan mcmpcrhatikan larangan-Iarangan ter-
sebut, seorang awam akan mcn-dapatkan suatu keutamaan, se-
hingga-meskipun dalam keh.idupan sekarang ia tidak akan men-
capai emansipasi, setclah Inati ia akan sampai pada suatu
tingkatan sorga untuk dilahirkan kembali di sana leb.ih dekat
pada Nirvana.

Perbedaan antara agama Buddha dan Hindu


Perbedaan antara kedua agama tersebut di atas terletak dalam
intf>rpretasi ten tang ak.u (seIO. Buddha setuju dengan Mahavira
bahwa untuk memberhentikan roda kelahiran, "Pengetahuan yang
benar" tidak cukup. Buddha berpendapat lebih daripada itu.
Baginya yang tetap ada sesudah sese orang mati, bukannya nyawa
(soul), akan tetapi Karmanya. Untuk jelasnya, Buddha ber-

70
pendapat bahwa manusia itu terdiri dari 5 unsur atau skandha
(kekuatan hidup), yaitu: I) Badan dan rasa (Body and senses),
2) perasaan (feeling and sensations), 3) faham ten tang rasa
(sense perceptions). 4) kemauan dan daya mental (volition and
mental faculties) dan 5) akal (reason or consciousness).
Lima hal tersebut bersama-sama membentuk individu, tetapi
mereka itu selalu berobah setiap saat. dan pada waktu manusia
mati, ikatan 5 hal tersebut menjadi pudar. Yang dinamakan jiwa
(soul) atau Aku (Ego) tidak mempunyai wujud yang hakiki atau
permanen, oleh karena kepribadian manusia hanya terdiri dati
skandha, sebagaimana kereta itu terdiri dari 'spare-parts'. Badan
bukannya ia (self). kal'ena dapatsaja kena penyakit meskipun
bertentangan dengan kemauannya untuk seh~t.

Bagi agama Buddha,ide tentang reinkarnasi atau transmigrasi


jiwa dati satu kelahiran kepada kelahiran selanjutnya. tidak
sesuai dengan konsepsi 'anotta' yang artinya tidak ada aJ..;u.Oleh
karena itu menurut Buddha apa yang dalam agama Hindu
dinamakan kelahiran ulangan (rebirth) bukannya jiwa yang dahulu
menjelma dalam badan baru, akan tetapi adalah Karma yang
telah terkumpul selama suatu kehidupan, yakni sebagai rangkaian
skandha yang mempunyai semu sebagai jiwa (self), ibaratnya
seperti api yang menyala dati sumbu lampu dan dipiIJdahJcan ke-
pada sumbu lain. Dalam Alam ini yang ada ialah perobahan tems-
menerus. Apa yang kit! lihat sebagai alam yang tetap ,adalah
suatu illusi yang harus kita buang, jika kit a menghendaki ke-
iepasan dari kelahiran barn terus-menerus. Ki ta harus menghilang-
kan kemauan untuk hidup, untuk mempunyai. Dalam istilah
agama Buddha, minyak dalam lampu itu harus dituangkan, jika
nyala (keinginan) harus ditiadakan.
Jalan Tengah ini telah mengenai sasarannya, yaitl1 manusia
yang menderita (dukha), dan tujuan Jalan Tengah ini ada-
lah kelepasan manusia daripada Karma, hilangnya penderitaan
dalam damai yang transcendental di Nirvana.

71
Mahayana dan Hinayana
Sebagai diterangkan di atas Buddhisme menganggap hidup ini
sebagai rangkaian "ada" dan "musna " di bawah naungan hukum
perobahan yang terus-meneru~ dan menjadikan duni.a ini tak
berharga dan bersifat illusi. Anggapan demikian ditentang oleh
para Brahmin dari agama Hindu pada waktu jatuhnya dinasti
Maurya (±- 185 S,M.), yakni dengan matinya Asoka, Kaisar negara
Magadha yang beragama Buddha,
Agama Hindu sebagai yang kita uraikan diatas, mengajarkan
empat jaJan untuk melepaskan diri dari penderitaan, yaitu: jalan
pengetahuan (Jnana Yoga), jalan pekerjaan menurut Hukum
(Dharma Yoga), jalan penyerahan diri (Bhakti Yoga) dan jalan
guna-gunG (Shakti Yoga). Para Brahmin menganggap bahwa
empat jala'n itu sarna dengan Jalan Tengah yang diajarkan oleh
Buddha. Mereka memusatkan perhatian kepada penjelmaan
Buddha sebagai avatar (penitisan) dalam Wisnu dan Siwa. Di India
Utara Buddha menjadi Juru Selamat seperti Kristus di Roma.
Gautama dianggap sebagai inkarnasi yang terakhir dari Buddha
yang abadi.
Pergantian gambaran Buddha sebagai .penggali "Jalan
Tengah" atau "Em pat kebenaran Mulia" menjadi Budhisatwa me-
rupakan proses yang kemudian berakhir dengan munculnya
Mahayana atau Mazhab utara. Mahayana atau kendaraan besar,
berarti suatu jalan yang cukup besar untuk menyelamatkan
manusia. Lawan Mahayana adalah Hinayana atau kendaraan kecil,
yakni mazhab yang tersiar di selatan yaitu Seilon, Burma dan
Thailan. Hinayana ini memberi ajaran-ajaran yang tidak menye-
luruh dan hanya menitik-beratkan kepada praktek clan ke-
hidupan asrama.
Agama Kong Hu Cu
Selain agama Hindu dan Buddha yang dianut oleh bangsa
IndoneSia sebelum datangnya Islam, saya rasa perlu memberi
sedikit penjelasan ten tang agama yang dianut oleh bangsa Cina,
yang banyak diantara mereka sudah beberapa generasi hidup
di atas bumi Indonesia.
72
Dibawah judul "Religion in China" dalam bukunya t>HistOl
of Religions" tel'scbut di atas, E.O. James telah mcnguraik,lll
sejarah agama-agama yang terdapat di benua Cina, yalll'
di bawah ini saya kutip secara ringkas :
Pada millcnium ke 3 S.M.,yakni sekitar tahun 3000 S.M. dl
sepanjang sungai Kuning tcrdapat semacam pemujaan terhadap
tumbuh-tumbuhan, kemudian menjelma menjadi pemujaan kc-
pada Raja dan akhimya dititik beratkan kepada pemujaan
nenek moyang.
Disebutkan bahwa pahlawan Tang telah menjatuhkan dinasti
Hsia kemudian diganti oleh dinasti Chou (1122-221 S.M.).
Dalam periode dinasti inilah ke budayaan Cina yang seperti
sekarang ini mulai berkembang. Dari tulisan-tulisan kuno kita
dapat mengetahui tentang dewa-dewa yang mereka sembah,
begitu juga jiwa nenek moyang mcrcka. bersama-sama dengan
bumi, sungai dan kekuatan-kekuatan alamo
Sebagai bangsa yang hidup dari bercocok-tanam, mereka
mencurahkan perhatian mereka kepada proses alam yang mem-
beri mereka makanan. Tanah dianggap sebagai pemberi hidup,
sebagai ibu. Pergantian musim, gerak bintang-bintang, gerhana
dan. petir menunjukkan suatu peraturan alam yang diterangkan
dengan kata "Yang" dan "Yin", dua kata yang menjadi penting
dalam falsafat Cina pada abad 2 S.M. "Yang" artinya kekuatan
yang aktif, hangat, terang. dan lelaki, "Yin" yang passif, dingin
dan gelap tetapi subur (ya'ni perempuan): Kedua kekuatan itu
digambarkan sebagai langit atau Tien. Langit ba wah dinamakan
Yang. dijelmakan sebagai Shang-ti atau nenek moyang pertama,
Tanah dinamakan Yin dan merupakan sumbcr hidup.
Disamping Tien, Yang dan Yin ada lagi konsep Tao. Tao
berarti jalan; bangsa Cina dahulu seperti juga bangsa-bangsa lain,
mengira bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang berputar
sckeliling bumi. Putaran inilah yang dinamakan Tao. Tetapi
kemudian Tao berarti akal atau jiwa yang menyebabkan putaran
tersebut.
7
Dalam sejarah negeri Cina pemujaan alam dan pemujaan
nenek moyang merupakan aspek pokok. Dibclakang pemujaan
alam dan nenek moyang terdapat Tao yang berarti hukum alam
dan hukum akhlak (Ii) terhadap orang tua. saudara dan kerabat.
Dalam membicarakan agama Cina kita harus menyebutkan
nama Kung Fu-tsu (Guru) yang oleh kaum misionaris Yesuit
(Katolik) dibaca Confucius dan di Indonesia dibaca Kong Hu Cu.
la lahir pada tahun 551 S.M. Ajarannya krdapat dalam sebuah
bunga rampai yang berisikan prinsip-prinsip akhlak utama, pe-
merintahan yang baik dan horllla t kepada masyaraka t. Buku
tersebut mungkin sekali merupakan karangan-karanga'n para
pengikutnya. Dalam ajaran Kong FlI-tsu ditekankan .apa yang
dinamakan "filial piety" (horma t seorang anak kepada orang tua)
baik selama mereka itu masih hidup atall sesudah mati mereka.

74
FASAL KEEMPAT

AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA SAMAWI TERAKHIR

Dalam pasal III saya telah menjelaskan pengelompokan


agama-agam~: ada yang mengkelompokkannya dalam agama
rendah dan tinggi. ada yang membaginya menurut negara atau
benua asalnya, seperti agama dilndia, agama di Cina, dan lain-lain,
ada pula yailg mengelompokkannya menjadi agama alamiyah dan
samawiyah. Yang disebut agama samawi ialah agama Yahudi,
Nasrani dan Islam. Perlu saya jelaskan bahwa Prof. Archie J. Bahm
dalam bukunya menamakan ketiga agama tersebut sebagai "Reli-
gions of Western Civijisation", yaitu agama-agama kebudayaan
Barat. Prof. Glassenap, dalam bukunya "Les CinqGrandes Religi-
ons du Monde", menamakan tiga agama ini "Les religions de la
revelation historique de Dieu" (agama-agama tentang.pemunculan
Tuhan dalam sejarah) atau "religions occidentales" (agama-agama
Barat).
W.Jlaupun pengelompokan itu memerlukan diskusi, namun
setidak-tidaknya Prof. ,Bahm melihat tiga agama itu sebagai satu
kelompok juga, berbeda dengan orang-orang missionari~ yang
menggolongkan agama Kristen dalam kelompok agama kelepasan
bersama dengan agama-agama Hindu dan Buddha, dan meng-
golongkan agama Islam dan Yahudi sebagai agama Taurat (lihat
pasal HI).
Dengan dasar Yahudi, Kristen dan Islam merupakan satu
kelompok, maka saya ingin menjelaskan sebagai berikut:
Pada zaman kita ini (tahun 1974), ilmu pengetahuan secara
pasti menyatakan bahwa umur dunia ini sudah jutaan tahun. Yang
75
dinamakan "Zaman batll kllno",yakni ketika manusia hanya dapat
memakai alat-alat dari batu, zaman yang dalam bahasa ilmiahnya
disebut "paleolithic pepod", diperkirakan antara tahun 1.750.000
SM sampai tahun 5.000 SM. Adapun yang dinamakan "'zaman
batu baru" atau "neolithic period" diperkirakan mulai tahun .5000
SM di Mesir dan tahun 3000 SM di Eropa sampai tahun 2500 SM,
ini karena peradaban di Mesir lebih dahulu dari peradaban Eropa,
Dengan begitu nampak sekali bahwa kita tidak banyak mengetahui
ten tang sejarah kita atau sejarah rnanusia sendiri.
Secara ilmiah sejarah keagamaan samawi sampai sekarang ini
baru dapat diungkapkandari Zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam,
yang hidup pada sekitar tahun 1900 SM. Pada permulaannya ia
hidup di Ur dekat muara sungai Efrat, kemudianpindah ke Haran
di sebelah udik, dan akhirnya mengembara mengikuti pantai Laut
Tengah sampai Mesir, menggembala kambing, mencari tempat
yang ada air dan rumputnya. Ketika kembali ke Kan'an (sekarang
Pa1estina), ia membawa seorang sahaya dari Mesir. Oleh karena
isttinya, Sar~h, mandul, maka sahayanya, Hajar, dikawininya, dan
dari perkawinan ini lahirlah Ismail, yang kemudian menurunkan
suku yang melahirkan Nabi Muhammad s.a.w. Baru ketika Sarah
berusia 100 tahun, ia mengandung danlahirlah putra Ibrahim yang
kedua, yaitu Ishak. Ishak ini kemudian melahirkan Ya'kub yang
disebut juga Israil. Ya'kub mempunyai 12 orang anak, diantaranya
Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya dan kemudian di Mesir
dibeli oleh Raja Mesir dan lama-kelamaan menjadi Menteri dalam
pemerintahan Fir'aun (Raja) Mesir yang bernama Ramses II.
Makin lam~ keturunan Israil di Mesir makin banyak, dan
karena Fir'aun ingin mendirikan piramida-pirainida besar, maka
orang-orang Israil itu diperbudak dan disuruh kerja-paksa ..
Dalam penderitaan Bani ,Israil ini, Fir'aun diberi nasehat oleh
dukun-dukunnya untuk membunuh setiap bayi Yahudi lelaki,
karena dikhawatirkan akan menjatuhkan kerajaan Fir'aun. Tetapi
seorang ibu Ya:hudi telah berhasil menyelamatkan bayi laki-laki
yang dilahirkannya dengan membuangnya dalam peti di sungai Nil.
Bayi tersebut kemudian diketemukan oleh istri Fir'aun dan
76
dipelihara sampai besar. Anak laki-Iaki tersebut kemudi<tn mcnjadi
seorang muda yang berjiwa pernimpin. la membcla orang-orang
[srail di Mesir, sehingga menjadi sebab kematian seorang Mesir
yang berkelahi dengan seorang Yahudi, .dan kemudian lari ke
Madyan, mengabdi kepada Syu'aib (Jethro) sehingga menjalli
menantunya. Kemudian ia menerirna panggilan Tuhan. dan perin-
tah untuk rnembebaskan Bani Israil dari kekuasaan Fir'aun. la
kembali ke Mesir, memimpin Bani Israil keluar dari Mesir ke arah
Tursina (sebelah Timur terusan Suez sekarang) dalam tujuan
kembali ke Kan'an (Palestina), dimana nenek mereka Nabi Ibrahim
pernah hidup.
Untuk percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak mullah.
Selama di Tursina banyak yang tergoda menyembah dewa-dcwa
dan menyembah anak lembu yang mereka bikin sendiri dari cmas.
Nabi Musa tidak sampai umur untuk rnemirnpin bangsa
Yahudi memasuki Palestina, merebut tanah-tanah dari bangsa
Kan'an. Setelah mereka merebut daerah Kan'an (Palestina).
mereka bercocok-tanam di sana dan mengikuti orang-orang yang
menyernbah dewa-dewa bernarna Ba'a!.
Kemudian timbullah dari lingkungan mereka Nabi I1yas
(dalam Injil disebut Eliyah) yang mernbawa orang Yahudi kembali
kepada Tuhan, yaitu dengan membuktikan bahwa dewa-dewa
orang Kan'an serta pemimpin-pemimpin agama mereka itu tidak
benar.
Bangsa Yahudi di Palestina berkembang dan pemimpin
mereka mendirikan kerajaan. Nabi Solcma n dan Nabi Daud adalah
Raja-Raja Bani Israil pada zaman keemasan rnereka. Hikay~t kedua
nabi ini ban yak tcrrnuat dalam Qur-an.
Tetapi setelah Nabi Soleman wafat, sebagai Raja ia diganti
oleh anaknya, Rehoboam. la memungut pajak sangat berat, sehing-
ga rakyat berontak dan membunuhnya. Akibat kekacauan tersebut
Kerajaan Israil pecah menjadi dua: Bagian utaradinamakan Israil
dan terdiri dari 10 suku, sedangkan bagian Selatan dinamabn
Judah dan terdiri dari :2 suku. Kedua bagian itu dapat.memper-
tahankan eksistensinya selama dua abad. Akan tetapi pad a tahun
722 SM, Ker<ijaan Israil dijajah oleh Assiria, sebuah kerajaan yang
77
lebih besar di utara. Orang-orangnya uipisah-scbarkan diseluruh
Kerajaan Assiria, sehingga dalam sl?jar;Jh Kcrajaan Israil itu
dinamakan: 'sepuluh suku Israil yang hilang'. Adapun Kerajaan
Judah masih dapat bertaharl seratus tahun !agio sampai akhirnya
dihancurkan oleh Kerajaan Babilon (Chaldea).
Di atas kita telah menyebut nama lIyas (IJiyah) pad a zaman
sebelum Nabi Daud dan Nabi Soleman. P3ua zaman perpccahan
bangsa Yahudi ada lagi pemimpin-pemimpin timbul, yang mcnurut
agama Yahudi dinamakan nabi. Mereka itu banyak dan tak
tersebut dalam Qur-an.Diantara pemimpin-pemimpin itu kita scbut
nama Amos, Hasea, Isaiah, Micah dan kCllludian Jercmiyah.
Antara Micah dan Jeremiyah kira-kirJ 70 tahlln. Selama masa itu.
Raja Manassah menghidupkan kembali penyembahan tt'rhadap
dewa-dewa, khususnya yang dipuji-puji olch AS:iiria dan Babiloll.
Tetapi kemudian muncullah Raja Josiah yang berbakti kcpada
Tuhan yang Maha Esa dan menghilangkan tcmpat-tempat pcmuja-
an dewa-dewa tersebut.
. Akhirnya Jeremiyah memperingatkan Bani Israilllntlik kcm-
bali kepada Tuhan. Bahkan Jeremiah menggambarkan bahwa Bani
Israil akan jatuh dalam tawanan mllsuh. b:lI1yak yang akan
terbunuh, sedang tempat-tempat pcmlljaan mcrcka akan dihancur-
kan oleh musuh.
Gambaran Jeremiyah itu ternyata betll! tl'rjadi. Negara Juuah
yang telah jatuh di bawah kekuasaan Babilon tidak mau mcngirim
upet. kepada Raja ijabilon yang bernama Ncbukhadnczar. Hal ini
menyebabkan Raja Babilon tersebut memutuskan untuk l11eng-
hancurkan Israil. Pada tahun 586 SM tentara Babilon I11cnyerbu ke
Jerusalem, menghancurkan benteng kota tcrsebllt serta tempat
pemujaannya; orang-orang Yahudi lapisan atas sl'l11uanya diangkut
ke Babilon. Dengan demikian maka Kerajaan Yahudi tdah musnah
dan penyembahan Tuhan Illcnurut upacara Yahudi juga musnah
dengan hancurnya satu-satunya tempat ihadah di Jerusalem.
Akibat pengasingan orang-orang Yahudi di Babilon (Babylon
exile) timbullah apa yang dinamakan "synagogue". yaitu temp at
ibadat bagi pengikut agama Yahudi. Dahulu tempat ibadat itu
satu, yaitu di Jerusalem, dimana mercka mcmuji Tuhan dan
78
menyembelih dan membakar korban binatang. Kan:na tClIIpllt
tersebut telah dihancurkan oleh Babilon, maka orang-orull
Yahudi membawa tenda kemana saja mereka pergi, dan dimullll
Jnereka berdiam, disitulah mereka membina tempat penbadatan
-nereka.
Diantara para Nabi Bani Israil (prophet) adalah Ezekiel. Ia
memimpikan kembalinya orang Yahudi dari Babilon dan di-
bangunnya kembali candi (temple) tempat ibadat mereka.
Nabi yang terakhir dalam periode ini adalah Deutero Isaiah
(Isaiah Kedua). Ia menegaskan tauhid, bahwa Tuhan itu satu. Ia
adalah Tuhan segala ma nusia, bukan hanya Tuhannya orang
Yahudi. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang ditugaskan untuk
menyampaikan akidah tauhid ini, dan nanti Tuhan akan I.llengirim
seorang utusan untuk memimpin manusia.
Pada tahun 535-332 SM, Palestina menjadi daerah yang
berada dibawah pengaruh Persia. Pada tahun 535 SM. Babi-
Ion dihancurkan oleh negara tetangganya yang besar yaitu
Persia. Pada tahun 537 Raja Persia yang bernama Cyrus memberi
kebebasan kepada suku Yahudi untuk kembali ke Palestina, akan
tetapi sebagian besar tidak mau kembali, karena sudah tidak kenai
lagi dengan negara itu.
Mereka yang kembali merupakan bangsa Yahudi baru, denJl:an
seorang Raia yang memerintah menurut kehendak bangsa yang
berpengaruh. Pada tahun 332 SM bangsa Yahudi jatuh dalam
kekuasaan Yunani,yaitu setelah Persia dikalahkan oleh Iskandar
dari Masedonia .•
Pada tahun 175SM Antiochus IV yang setia kepada negara
Yunani melakukan politik yunanisasi. la mendirikan sebuah
gimnasium di Jerusalem dan memaksa pemuda-pemuda Yahudi
hidup secara Yunani, memakai pakaian Yunani dan adat kebiasaan
Yunani. Tetapi Raja Antiochus terlibat dalam peperangan dengan
Mesir pada tahun 170 SM, kesempatan mana dipakai oleh seorang
Yahudi bernama Judas Maccabaeus untuk memimpin pemberontak-
an terhadap Raja Antiochus. Ia berhasil merebut Jerusalem pada
tahun 164 SM dan melancarkan serangan-serangan di Samaria,
Judas Maccabaeus berunding dengan Roma dan berhasil mendapat-
79
kan otonomi. Keluarganya menjadi pembesar-pembesar, agama
(high priests) yang tersohor dengan nama Hasmonean dynasty.
Sesudah keturunan Yudas Maeebaeus, maka mulailah periode
kekuasaan Romawi pada tahun 63 SM. Pada tahun 39 SM, Kaisar
Markus Antonius mengangkat temannya, Herod, menjadi Raja
Yudea.

Pada tahun 4 SM. Raja Herod meninggal, dan kerajaan


Romawi menghapuskan Kerajaan Yahudi serta menempatkannya
dibawah seorang Gubernur (proeuarator). Pontius Pilate adalah
prokurator yang memutuskan hukuman salib bagi terdakwa
Isa Al Masih. Ia diangkat pada tahun 26 M. dan hukuman salib di-
laksanakan pada tanggal 3 April tahun 33 M. Kitab suej AI Qur-an
membantah sekeras-kerasnya bahwa yang disalib itu Nabi Isa.
Pada tahun 66 M. orang-orang Yahudi memberontak terha-
dap kerajaan Romawi. Mer~ka digempur oleh ten tara Romawi
yang pada tahun 70 M berhasil menguasai kota Yerusalem. Tempat
ibadat (temple) Yahudi dihaneurkan. Kebanyakan orang Yahudi
meninggalkan Yudea, hanya sedikit sekali yang tetap tinggal di sana.
Dalam keadaan yang selalu berubah menurut kekuasaan yang
riil, meskipun ada Raja sebagai boneka kekmisaan asing, orang
Yahudi hidup di bawah kekuasaan langsung daripada para ahli
agama mereka. AWi-ahli agama itulah yang mengarahkan segala
sesuatu dalam kehidupan masyarakat. Dalam sejarah, periode itu
dinamakan_ "Rebbinic Yudaism", yakni agama Yahudi menurut
interpretasi para ahli agama mereka. Segal a soaJ-soal keagamaan
seperti tidak beketja pada hari Sabtu, pajak agama, puasa, ma-
kanan yang terlarang dan bermaeam-maeam adat kebiasaan yang
dijadikan peraturan harus ditaati. AL. Saehar, pengarang buku "A
History of Yews", menulis l>The early Hebrews had created the
Bible out of their lives; their descendants created their lives
out of the Bible", yang artinya : Orang-orang Yahudi dahulu
meneiptakan Injil berdasarkan eara hidup mereka; tetapi ketu-
runan mereka menciptakan kehidupan mereka berdasarkan Injil
(yang telah dibuat).

80
Pad a akhir sejarahnya, umat. Yahudi terpecah mClv"di 11~11
golongan, yaitu Pharisees, Sadducees dan Esseness. GOIOll)/,l1ll
pertama, yakni Pharisees, merupakan mayoritas; mereka rrwrup"
kan golongan tengah (middle class) dan kaum yang lebih 1('(
pelajar. Mereka percaya kepada hari kiyamat, kepada pahala dall
siksa dan kepada akan datangnya Al Masih yang akan memimpill
mereka. Mereka sangat berpegangan kepada hukum yang c1i-
bentangkan oleh golongan aga-ma. Golongan kedua, yaitu Sad-
ducees, merupakan golongan orang kaya. Sebagaimana biasa,
kebanyakan anggota golongan kaya meninggalkan agama dan
mengingkari hari kemudian. Anehnya, dalam golongan Sadducecs
ini termasuk pula para ahli agama, karena mereka itu telah menjadi
kaya dan tetap memeras rakyat dengan interpretasi hukum-hukum
yang memberatkan kehidupan rakyat. Mereka lebih berpegangan
kepada hukum-hukum agama daripada kaum Pharisees, karena
justru mereka mendapat keuntungan dari kedudukan mereka
sebagai pelaksana hukum-hukum agama. Golongan ketiga dan yang
terkecil, ialah golongan fusenes. Mereka itu terdiri dari
orang-orang yang berasal dari lapisan rendah, Me-
reka mempraktekkari hidup zuhud sebagai prates terhadap golong-
an ahli agama dan orang-orang kaya (sadducees). Mereka hidup
secara kolektif, di gua-gua dekat Laut Mati di Palestina, menulis
manuskrip-manuskrip keagamaan. Mereka melakukan pemandian
(baptism), merenungkan hidup sesudah mati, hari kiyamat dan
datangnya AI Masih. Diantara kaum Essenes ini kita dapatkan Nabi
Yahya (John the Baptist), anak Zakaria,

Agama Nasrani
Dalam suasana meraja-Ielanya kaum Sadducess, khususnya
para ahli agama yang memaksakan hukum kepada orang lain,
tetapi mereka sendiri kurang iman kepada agama, muncullah Nabi
Isa, anak Siti ~aryam, Ia adalah seorang Yahudi dari Nasirah
(Nasareth), oleh karena itu agama yang dibawa oleh Nabi Isa
dinamakan agama Nasrani.
Dalam Al Qut-an disebutkan bahwa Nabi Zakaria yang sudah
lanjut usianya memohon kepada Tuhan agar dikaruniai anak;

81
permohonan itu dikabulkan dan akhirnya lahirlah Y:ahya. Z~aria.
ini adalah paman Siti Maryam ibu N<\bi Isa, dan yang memehhara-
nya. Ia selalu melihat makanan di tempat Malyam, padahal ia tahu
tak ada orang yang memberinya; ia bertanya kepada Maryam;
darimana ia memperoleh makanan tersebut. Maryam menjawab:
Itu datang dari Tuhan. Hikayat ini menunjukkan betapa dekat
hubungan antara keluarga Nabi Isa dan keluarga Nabi Yahya.
Sebagai dikatakan di atas, Nabi Yahya termasuk golongan
Essenes yang hidup zuhud. Ia ITlengembara di tempat-tempat yang
sunyi. Sementara itu Siti Maryam telah melahirkan Nabi Isa,
walaupun ia perawan. Hikayat kelahiran Nabi Isa ini sangat
masyhur, banyak disebut dalam Al Qur-an antara lain 'dalam Surat
Maryam.
Ketika Nabi Isa sudahberumur ±30 tahun, ia berjumpa
dengan Yahya, yang kemudian membaptiskannya secara kaum
Essenes. Ia mengatakan bahwa Isa jauh lebih utama daripadanya.
Yahya merasa dirinya tidak senilai dengan sepatu Nabi Isa.
Kehidupan Nabi Isa dari lahirnya sampai umur 30 tahun
tidak banyak diketahui orang, sebab ke-empat Injil hanya mem-
beritakan kejadian-kejadian selama kira-kira t~ga tahun, yaitu
ketika Nabi Isa melakukan tugasnya sebagai Nabi sampai peristiwa
penyaliban. Tetapi ada dugaan keras, bahwa ia mengikuti peker-
jaan suami ibunya, Yusuf, yang disebut sebagai tukang kayu atau
tukang batu (bhs. Yunani: "tekton").
Sejarah lahirnya tidak diketahui dengan pasti. Menurut
Marcello Craveri! dalam bukunya "The Life of Jesus", halaman 37,
maka sampai abad 4 hari lahir Nabi Isa diperingati pada tanggal
Maret 28, April 18 atau Mei 29, menurut kepercayaan masing-
masing. Kemudian diperbarui menjadi 6 lanuari, dengan dihitung
30 tahun kebelakang dari tanggal penyaliban. Akan tetapi di Eropa
Barat orang menyesuaikan hari lahir Nabi Isa dengan suasana
keagamaan disana. sehingga hari lahir Nabi Isa jatuh pada tanggal
25 Desember, yang semula merupakan Dies Natalis Solis Invicti
(hari lahir matahari yang jaya).
Nabi Isa melakukan tugasnya sebagai Nabi disekitar Danau
Tobaria dan desa-desa sekelilingnya, khususnya diantara rakyat

82
jelata dan kaum nelayan. Beliausangat suka bergaul dengan faKl1
miskin, sehingga didalam Injil iatelah disebutkan berkata: 'Cilaka
bagi orang-orang yang kaya dan orang-orang yang tertawa' (Lukas
6.24). Diriwayatkan pula, bahwa seorang anak muda kaya ingin
mengikuti beliau, maka sebagai syarat pemuda itu diminta agar
lebih dahulu menjual segala harta-bendanya dan membagikan hasil
penjualannya itu kepada fakir miskin (Lucas 16.19).
Nabi Isa mengecam para ahli agama dengan katanya, sebagai-
mana tersebut dalam Matheus 23 sid 28:
23. Cilaka bagi kamu, hai ahli Taurat dan orang-orang Pharisi,
orang-orang munafik! Karena kamu membayar 1I 10 daripada
selisih, adas manis dan jintan, tetapi hal ihwal yang terlebih
wajib didalam Taurat seperti keadilan dan belas kasihan dan
setiawan kamu tinggalkan. Inilah yang patut diperbuat dan
yang lain itupun jangan ditinggalkan.
25. Cilaka bagi kamu, hai ahli Taurat dan orang Pharisi, orang
munafik! Karena kamu membersihkan luar cawandan ping-
gan, tetapi didalamnya penuh dengan rampasan dan lobamu.
26. Hai orang Pharisi yang buta! Bersihkanlah dahulusebelah
dalam cawandan pinggan, supaya luarnyapun menjadi bersih.
27. Cilaka bagi kamu, hai ahli Taurat dan orang Pharisi, orang
munafik! karena kamu seumpama kubur yang bersapu kapur;
sungguhpun dari luar kelihatan elok, tetapi didalamnya berisi
tulang orang mati dan berbagai-bagai najis.

28. Sedemikian juga kamu inipun dari luar kelihatan besar


kepada orang, tetapi didalam penuh kamu dengan munafik
dan dosa.

Di samping menumpahkan caciannya kepada para pembesar


agama dan golongan Pharisi, Nabi Isa selalu bergaul dengan rakyat
jelata yang Oliskin dan sakit.
Dalam Injil Lukas 6.24 kita dapatkan: Cilaka bagi kamu, hai
orang yang kenyang sekarang ini, karena kamu akan lapa.
kelak. Cilaka bagi kamu yang tertawa sekarang ini, karcnll kalllll
akan berdukacita dan menangis.
Dalam Injil Matheus 19.24 kita dapatkan: Dan lagi pula aku
berkata kepadamu: 'Lebih mudahlah seek or unta masuk ·ke lobang
jarum daripada seorang kaya masuk kedalam kerajaan Allah'.
Sikap Nabi Isa terhadap kaum aga!l1;l yang mempunyai
kekuasaan dan kekayaan, ditambah dengan kesukaannya bergaul
dengan orang-orang miskin dan menderita, telah membangkitkan
amarah dan dengki di hati orang-orang Pharisi dan Saddusi. Oleh
karena itu ketika Nabi Isa datang ke Jerusalem pada hari
Pq,skah1) orang-orang Pharisi dan Saddusi mengambil kesempatan
untuk mengenyahkan Nabi Isa, maka dilaporkanlah kunjungan-
nya itu ke Jerusalem dan akhirnya menurut riwayat Injil Nabi
Isa ditangkap, diadili dan disalib.
Hukuman penyaliban Nabi Isa sampai mati menjadi pokok
teologi agama Nasrani dan Al Qur-an membantah sekeras-kerasnya
dalam Surat An-Nisaa, ayat 155 - 158:
"Dan oleh karena mereka menyalahi janji mereka dan t(dok percaya
kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang
benar, begitu pula karena mereka berkata: "Hati kami tertutup'; se-
sungguhnya Tuhan menutup hati mereka karena kekufuran mereka, se-
hingga mereka tidok percaya kecuali hanya sedikit. Demikian pula karena
merelca berkata : "Kami telah membunuh Al Masih Isa, anak Maryam,
utusan Tuhan ", padahal mereka itu tidok membunuhnya don tidak men-
salibnya, tetapi OTungyang disalib itu telah dibuat serupa dengan Al Masih.
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih pendapat tentang Nabi lsa ini,
mereka itu juga dolam kesangsian ten fang hat tersebut; mereka tidak
mempunyai pengetahuan selain mengikuti dugaan. Mereka tidak membunuh
Nabi Isa secara yakin. Akan tetapi Allah telah mengangkatnya kepadaNya,
dan Allah itu Maha Mulia don Maha Bijaksana':

Sebelum meneruskan pembicaraan tentarig sejarah agama


Nasrani, kami merasa perlu memberi keterangan ten tang Nabi Isa
sebagai berikut:

1) Hari Paskah juga disebut passover artinya hari bangsa Yahudi menyeberangi laut,
menyelamatkan diri dengan Nabi Musa dari perbudakan ,Fir'aun.

84
a. Nabi Isa tidak meninggalkan sistim-sistim seperti sistim
ibadat, sistim keluarga, sistim sosial, dan sebagainya. Beliau
hanya meninggalkan 'paraboles', yaitu kata-kata perum-
pamaan, sebagai contoh apa yang disebut dalam Lukas 15:
4-7: "Siapakah diantara kamu yang mempuT1yai domba
seratus ekor, lalu kehilangan seekor ctaripadanya, yang tidak
akan meninggalkan yang 99 ekor di padang belantara, lalu
pergi mencari yang. hilang itu sampai dapat? Dan jikalau
didapatnya, maka diangkatnya di atas bahunya dengan su-
ka-cita. Setelah sampai di lUmah maka dipanggilnya sahabat-
-sahabat dan orang-orang tetangganya, serta berkata kepada
mereka itu: Bersuka-citalah kamu dengan aku, karena aku
telah menemukan dombaku yang hilang. Maka aku berkata
kepadamu: Demikian juga di surga kelak akan ada kesukaan,
karena seorang berdosa yang bert0bat, lebih daripada 99
orang yang benar yang tak usah bertobat".
b. Isa tidak memikirkan kecuali nasib Bani Israil. Matheus 15:
24 berbunyi: "Tiadalah aku disuruhkan kepada yang lain,
hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani
Israil". Nabi Isa bahkan memerintahkan kepada murid-
muridnya supaya tidak pergi kepada orang kafir. Matheus 10:
5-6: berbunyi: "Maka kedua belas murid inilah disuruhkan
oleh Jesus dengan pesannya demikian: Janganlah kamu pergi
ke negeri orang kafir dan jangan kamu masuk -negeri orang
Samaria, melainkan pergilah kamu kepada segal a domba
kaum Israil yang sesat itu"
Ada sebuah ayat yang bertentangan dengan uraian di atas,
yaitu Matheus 28: 19 yang berbunyi: "Sebab itu pergilah
kamu, jadikanlah sekalian bangsa itu muridku, serta baptis-
kanlah dia dengan nama Bapa dan Anak dan Ruhulkudus".
Menurut beberapa sarjana, diantaranya juga Prof. Glassenap,
sudah pasti kata-kata terse but baru dimasukkan dalam Injil
pada waktu kemudian.
c. Pad a dasarnya ajaran Nabi Isa sarna dengan ajaran Nabi Musa,
dengan catatan-catatan sebagai berikut:

85
I. Nabi Isa tidak menganggap mutIak penghonnatan terha-
dap hari Sabtu dengan tidak melakukan sesuatu pekerja-
an. Dalam. Markus 2: 2-7 kita dapatkan: "Dan lagi
~atanya kepada mereka itu: 'Hari Sabat itu diadakan
karena manusia, bukannya manusia diadakan karena
hari Sabat"'.
2. Nabi Isa tidak menghormati peraturan yang dibuat oleh
manusia. Dalam Matheus 15: 9 kita baca: "Sia-sialah
mereka itu menyembah Aku, karena mereka itu meng-
ajarkan hukum-hukum akal manusia".
3. Nabi Isa mengajarkan sikap lunak dan damai. Kita
dapatkan dalam Matheus 5: 39-40 sebagai berikut:
"Kamu sudah mendengar perkataan demikian: Mata
ganti mat a, gigi ganti gigi. Tetapi aku ini berkata
kepadamu; 'J angan melawan orang yang jahat, me-
lainkan barang siapa menamPar pipi kananmu, berilah
kepadanya pipi yang sebelah lagi.
Dan jika seorang hendak mendakwa engkau lalu meng-
ambil bajumu, biarlah ia mengambil jubahmu juga".

4. Akan tetapi di bagian lain dalam Injil kita dapatkan


sikap yang sangat keras. Sebagai contoh kita ambil
Matheus 10: 34-36 yang berbunyi: "Janganlah kamu
sangka Aku datang membawa perdamaian diatas bumi
ini. Bukannya Aku datang membawa perdamaian, me-
lainkan pedanglah yang kubawa. Karena Aku datang
untuk memeCah an tara orang dan bapanya, antara anak
perempuan dan ibunya, antara menantu perempuan dan
ibu-mertuanya, dan orang-orang serumah akan menjadi
setelU yang satu terhadap yang lain."
Contoh lain dapat kit a baca dalam Matheus I 2: 30:
"Siapa yang tiada masuk pihakKu ialah lawanKu, jan
siapa yang tiada mengumpulkan serta denganKu ialah
mencerai beraikan.
5. Sebagai akibat dari hal-hal yang tersebut dalam c 4,
maka terdapat rasa fanatik dikalangan pengikut Nabi

86
Isa. Prof. Glassenap dari Universitas Tubingcll It II
menulis dalam bukunya "Les Cinq Grandes Religiollfl till
Monde", halaman 30 I, sebagai berikut:
"Satu sifat istimewa agama Nasrani pada segala waktu adalllh
sebagai berikut : perasaan damai dan belas kasihan, scrtll
rasa cinta kasih terhadap sesama orang yang dekat (tetangga),
selalu disusul dengan sifat fanatik dan agresip terhadap orang-
orang yang beragama lain, yaitu orang-orang yang - menurut
kepercayaanmereka - akan mendapat siksa neraka abadi oleh
karena mereka tidak mau mengakui kepercayaan Nasrani."
"Dengan demikian maka dalam Injil kita dapat menemukan
dua jalan sejajar dalam pikiran Nasrani untuk menghadapi hari
kemudian, yaitu pertama: jalan damai yang dianut oleh mereka
yang mengingkari diri mereka, mereka yang cinta kepada orang
lain seperti cinta· mereka kepada diri sendiri, mereka yang
hidup seorang diri untuk mengurus orang sakit dan orang
miskin dan kedua : jalan kekerasan daripada para JUru pe-
nyelidik (pelaku inquisisi), hakim yang menjatuhkan hukuman
kepada orang-orang yang tidak percaya kepada dogma gereja,
serta para peserta perang salib yang mengancam memusnahkan
dari dunia ini semua orang yang tidak mengikuti mcreka dalam
kepercayaan mereka, serta memasukkan mereka dalam api ne-
raka yang abadi di hari kemudian"_
Sejarah Agama Nasrani
Setelah Nabi Isa tak ada lagi (menur\lt Injil mati disalib dan
hidup lagi di langlt, menurut Islam tidak disalib dan telah wafat)
para pengikutnya di pimp in oleh dua belas sahabat Nabi Isa, yang
dalam AI Qur-an dinamakan Hawari. Sahabat-sahabat Nabi lsa
tersebut mempropagandakan agama Kristen ke seluruh Kerajaan
Romawi, khususnya ibukotanya, Roma. Petrus menemui ajalnya
di Roma akibat pembunuhan. Kuburan Petrus sekarang menjadi
Katedral St. Peter, yang merupakan pusat Vatikan.
Orang yang besar jasanya kepada agama Kristen adalah
Paulus. Ia seorang Yahudi dari Tarsus (daerah Turki) dan
sebelumnya bemama Saul la aktif dalam menganiaya uma!
Kristen, tetapi dalam perjalanannya an tara Damaskus dan )".
WI
rusalem ia merasa melihat Nabi Isa yang memarahinya; mulai saat
itu ia menjadi pemimpin Kristen yang besar, mempropagandakan
agama Kristen kepada orang-orang Yahudi di perantauan, dan
suratnya kepada mereka itu merupakan bagian penting dalam Injil
(Perjanjian Baru).
Di sampingjasanya menyiarkan agama Kristen diantara umat
Yahudi perantauan, ia menarik orang-orang yang bukan Yahudi,
karena mereka itu ban yak dan diharapkan. la tidak lagi meng-
anggap bahwa khitan itu perlu bagi umat Kristen. Paulus yang
mengetahui filsafat, memberikan tafsiran tentang Trinitas sebagai
berikut: Oleh karena manusia pertama (Adam) itu berdosa, maka
seluruh manusia itu membawa dosa asH dan akan masuk neraka.
Untuk menyelamatkan manusia,Tuhan telah menjelma menjadi
manusia (lsa) yang kemudian mengorbankan dirinya menebus dosa
manusia.
Selama 3 abad setelah Nabi Isa tak ada lagi, umat Kristen
sangat berpegangan kepada kenang-kenangan tentang Nabi Isa, dan
oleh karena itu dalam sejarah mereka dinamakan Masehi, artinya
penganut setia kepada Al Masih (Kristus), yang diusap dengan
minyak kasturi; mereka itu dianggap sebagai orang yang tidak setia
kepada Kerajaan Romawi, dicari-cari, jika terdapat disiksa dan
dibunuh. Bahkan ada kaisar-kaisar Romawi yang suka menjadikan
orang-orang Kristen sebagai makanan singa di Coliseum (arena
pertarungan antara gladiator di Roma dahulu). Tetapi pada tahun
311 Kaisar Constantin mengeluarkan dekrit toleransi, yang berarti
bahwa agama Kristen diberi hak hidup di Kerajaan Romawi.
Dalam masa toleransi orang-orang Masehi mengatur diri
mereka dalam kelompok-kelompok yang disebut gereja. Mereka
itu dipimpin oleh seorang ketua (presbyter) dan penilik (episco-
pal). Para penilik berada di bawah pembesar (Patriach) yang
berkedudukan di Konstantinopel (ibukota Kerajaan Romawi
Timur), Antioch (kota di Ttirki Tenggara), Alexandria (Mesir),
dan Roma Obukota Kerajaan Romawi bagian Barat).

Kaisar Constantin sendiri akhirnya memeluk agama Maseru

88
pada tahun 323 dan menjadikan agama Masehi menjadi agulllll
resmi Kerajaan Romawi.
Kemudian agama Masehi tersiar diantara suku-suku di Jur-
man. Clovis, Raja Perancis, memeluk agama Masehi pada tahun
496. Selanjutnya agama Masehi tersiar di kepulauan Inggris pacta
tahun 597, diantara bangsa Slave pada tahun 863, di Russia pacla
tahun 987lewat propagandis-propagandis dari Konstantinopel, dan
di Hongaria, Polandia dan Cekoslovakia pada tahun 1000 sebagai
hasil pekerjaan propagandis-propagandis dari Roma.

Sejarah Trinitas
Agama Masehi berpusat kepada pribadi pendirinya, yaitu Al
Masih (Kristus), sehingga pemikiran-pemikiran banyak diarahkan
kepadanya: Apakah ia Anak Tuhan, apakah manusia, apakah
di dalamnya terdapat unsur ketuhanan dan kemanusiaan .. Jika Ia
adalah Anak Tuhan, apakah diciptakan oleh Tuhan atau bagai-
mana?
Oleh karena persoalan itu makin lama makin mengganggu
kestabilan Negara, maka Kaisar Constantin mengambil inisiatip
untuk mengadakan kongres di Nicaea (daerah Turki sekarang)
pada tahun 325. Dalam Kongres tersebut ada dua aliran yang
bertentangan: 1) aliran Arius, uskup Alexandria, yang mengatakan
bahwa Tuhan Anak itu diciptakan oleh Tuhan Bapak, sedangkan
2) aliran Athanasius (Patriark Alexandria) mengatakan bahwa
Tuhan Bapak dan Yuhan Anak itu sarna, dari zat yang sarna.
Keputusan Kongres Nicaea tahun 325 itu menurut buku "History
of Christianity" sebagai berikut:
"We believe in one God, Father almighty, maker of all things,
visible and invisible; and in one Lord, Jesus Christ, the son 'Of God,
begotten of his father, only begotten, that is of the oasia of the
father, God of God, Light of Light, true God of True God;
begotten not made, of one substance with the father, by whom all
things were made, both things in heaven and things on earth, who
for us men and for our salvation, came down from heaven and Will
made (became) flesh and was made (became) man, suffered and
rose again on the third day, ascended into the heavens and comes
to judge living and dead".
Dalam bahasa Indonesia keputusan tersebut diatas dapat
disalin kurang lebih sebagai berikut: "Kita percaya kepada satu
Tuhan, Bapa Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu, yang
nyata dan yang gaib; dan kita percaya kepada satu Raja (Lord),
Jesus Kristus, putra Tuhan, diwujudkan dari bapanya, hanya
diwujudkan, yaitu dari "oasia" bapanya, Tuhan dari pada Tuhan,
Cahaya d(!.ri,pada Cahaya, Tuhan sejati dari Tuhan sejati; diwujud-
kan tidak dibuat, dari satu zat yang sarna dengan bapanya, yang
telah menciptakan segala sesuatu, yang di langit dan yang di bumi.
Yang demi umat manusia dan demi keselamatan kita, tUfUn dari
sorga dan dijadikan (menjadi) jasad dan dijadik4n (menjadi)
manusia, menderita dan bangkit kembali pada hari ketiga, manjat
ke sorga dan datang mengadili yang hidup dan yang mati".
Kemudian timbul perselisihan mengenai inkarnasi, yakni
penjelmaan Tuhan dalam Isa. Kali ini dua pihak yang bertentangan
ialah Cyril (Patriark Alexandria 412-444) dan Nestorius (Patriark
Konstantinopel 428-431). Cyril berpendapat bahwa dalam Jesus
hanya ada satu kepribadian, yaitu Ketuhanan, sedang Nestorius
berpendapat bahwa dalam Jesus itu ada dua kepribadian, yaitL
pribadi manusia dan pribadi Tuhan. Nestorius lebih jauh mengata-
kan, bahwa adalah salah untuk mengatakan Maryam itu ibu
Tuhan. Maryam adalah ibu Isa (Jesus) dalam kepribadiannya
sebagai manusia. Jesus sebagai Tuhan tidak ber-ibu.
Dalam hal ini Gereja Masehi terpecah menjadi dua: uskup-
uskup di sebelah Timur Suez berpihak kepada Nestorius dan
uskup-uskup di sebelah Barat Suez berpihak kepada Cyril. Untuk
memecahkan soal tersebut, suatu Kongres (council) telah diadakan
di Ephesus (Turki sebelah Barat-daya) pada tahun 431. Tetapi
yang terjadi, pengikut Cyril, telah datang lebih dahulu dan
menutup pintu tempat sidang. Cyril sendiri mengetuai sidang,
sehingga keputusan sidang sarna dengan pendapat Cyril,yaitu
dalam Isa (Jesus) hanya ada satu pribadi, yaitu pribadi Tuhan.
Sidang tersebut juga memutuskan bahwa Nestor itu murtad

90
(heretic). Mcskipun demikian Nestor tetap mempunyai ha/lyuk
pcngikut di Syria. Ketika pemerintah Kerajaan Romawi d
Konstantinople menganiaya pengikut Nestor, orang-orang SYllH
menjadi benci kepada Pemerintah Konstantinopel dan hal iJli,
lllenurut Bertrand Russel,memudahkan masuknya tentara Islam k"
Syria pada zaman Vmar bin Khattab.
Sesudah Cyril meninggal pada tahun 444, diadakan sinode di
Ephesus pada tahun 449. Sinode atau konperensi Ephesus tersebut
menelorkan apa yang dinamakan "monophysite heresy" (kemur-
tadan yang didasarkan atas kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan
karena hanya mempunyai pribadi Tuhan).
Kaisar Kerajaan Romawi menguatkan keputusan Konperensi
Ephesus 449 tersebut. Tetapi Paus Leo kemudian mengadakan
Kongres (Council) di Chalcedon (di Turki Barat) pada tahun 451,
yang membatalkan keputusan-keputusan konsili Ephesus 431 dan
449. Konsili Chalcedon 451 ini mengambil sebuah keputusan yang
karena pentingnya saya kutip secara hart1yah sebagai berikut:
"Following the holy fathers we teach with one voice that the Son
(of God) and our Lord Jesus Christ is to be confessed as one and
the same (person), that he is perfect in Godhead and perfect in
manhood, very God and very man, of a reasonable soul and
(human) body consisting, consubstantial with the Father as
touching his Godhead and consubstantial with us as touching his
manhood; made in all things like unto us, sin only excepted;
begotten of his father before the worlds according to his Godhead;
but in these last days, for us men and for our salvation born (into
the world) of the Virgin Mary, the mother of God according to his
manhood. This one and the same Jesus Christ the only begotten
son (of God) must be confessed to be in two natures, un-
confusedly, immutably, indivisibly, inseparably (united) and that
withount the distinction of natures being taken away by such
union, but rather peculiar property of each nature being preserved
and being united in one person and subsistence, not sparated or
divided into two persons, but one' and the same son imd only
begotten, God the word, our Lord Jesus Christ, as the prophets of

91
old times have spoken concerning him, and as the Lord Jesus
Christ has taught us :mdas the creedof the Fathershas delivered to
us".
Artinya kurang lebih:
Mengikuti jejak pemimpin-pemimpin kudus kami, dengan suara
bulat kami ajarkan bahwa Putera (Tuhan) dan Raja kita Jesus
Kristus itu harus disaksikan sebagai satu (pribadi) yang sarna,
bahwa beliau itu sempurna dalam Ketuhanannya dan sempurna
dalam kemanusiaannya, sangat bersifat Tuhan dan sangat manu-
siawi, mempunyai jiwa adil dan badan manusiawi, terdiri dari
substansi yang sarna dengan si Bapa dalam aspek Ketuhannya dan
terdiri dari substansi yang sama dengan kita dalam aspek ,kemanu-
siaannya; dalam segala hal dibuat sama dengan kita, kecuali dosa;
diwujudkan dari si Bapa sesuai dengan Ketuhanannya sebelum ada
alam semesta; tetapi dalam hari-hari terakhir ini, demi umat
manusia dan keselamatan kita, dilahirkan (di dunia ini) dari
Perawan Maryam, ibu Tuhan, sesuai dengan sifat-sifat kemanu-
siaannya. Jesus Kristus yang satu dan sarna ini, satu-satunya Putera
(Tuhan) yang diwujudkan, harus disaksikan mempunyai dua sifat,
tak dapat dicampur, tak dapat diubah, tak dapat dibagi, tak dapat
dipisah-pisah (bersatu) dan demikian itu tanpa menghilangkan
perbedaan-perbedaan sifat, bahkan ciri-ciri perbedaan itu tetap
terpelihara dan tetap bersatu dalam satu pribadi dan hidup, tidak
terpisah atau terbagi dalam dua pribadi, akan tetapi satu Putera
yang sam a dan satu-satunya yang diwujudkan, atas Sabda Tuhan,
yaitu Raja kita Jesus Christ, sebagaimana Nabi-Nabi dari zaman
dahulu pernah berbicara tentang beliau, dan sebagai mana Raja
Jesus Kristus mengajarkannya kepada kita, dan sebagaimana ke-
percayaan bapa-bapa kita telah meneruskannya kepada kita."
Untuk meringkaskan, akidah agama Masehi tentang Tuhan
adalah sebagai berikut:
Mula-mula ada perselisihan antara Athanasius dan Arius.
Athanasius berpendapat bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak itu
sarna dan dari zat yang sarna, tetapi mereka merupakan dua
pribadi. Sedangkan Arius mengatakan Tuhan Bapa menciptakan

92
Tuhan Anak. Perselisihan ini diselesaikan .di Nicaea tahUl1 '\')1.
dengan sebuah keputusan agak condong kepada Athtlll:lshlN
Terhadap keputusan Majelis Nicaea tersebut Sabellius menen tu Ill'.
dengan mengatakan bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak hJIIYlI
merupakan dua aspek yang berbeda dari satu Tuhan (two different
aspects of one being).
Betrand Russell berkata, bahwa dengan demikian, seorang
Masehi Ortodoks berada ditengah dua bahaya: Jika ia menekankan
perbedaan antara Tuhan Bapa dan Tuhan Anak ia akan terjerumus
dalam bahaya arianism yang dikutuk oleh Konsili Nicaea tahun
325. Dan jika ia menekankan kesatuan an tara Tuhan Bapa dan
Tuhan Anak, ia akan terjerumus dalam bahaya Sabellianism.
Athanasius diikuti oleh penduduk Mesir,sedangkan Konstan-
tinopel dan Syria mengiku ti Arius.
Kemudian setelah perselisihan antara Arius dan Athanasius
selesai, timbul perselisihan baru yang hampir sarna, yaitu perseli-
sihan antara Cyril yang mengatakan, bahwa dalam Jesus hanya ada
satu pribadi, yaitu pribadi Tuhan, dengan Nestorius yang berpen-
dapat bahwa Isa mempunyai dua pribadi, Ya'ni pribadi Tuhan dan
pribadi Manusia.
Dalam persoalan terse but di atas, orang Mesir dan Abyssinia
mengikuti Cyril yang memilih aliran monophysite, yakni bahwa
dalam Jesus itu hanya ada pribadi Tuhan. Karena mereka dianiaya
oleh Pemerintah Romawi yang mengikuti Nestor, yakni aliran yang
mengatakan bahwa Isa mempunyai pribadi Tuhan dan pribadi
manusia, maka Mesir benci kepada Pemerintah Pusat Kerajaan
Romawi dan hal ini menurut Bertrand Russell memudahkan
jatuhnya Mesir ketika diserbu oleh 'Amr bin As, panglima yang
dikirim olehKhalifah Umar bin Khattab.
Walaupun beberapa kepercayaan dalam agama Masehi dikata-
kan sebagai 'heresy' (keluar dari agama Masehi), namun selama
permulaan Abad Pertengahan doktrin-doktrin agama Masehi
belum ditetapkan secara pasti. Tentu saja semua orang Masehi
percaya adanya suatu Tuhan pencipta dan penguasa alam, serta
percaya kepada hukuman dan pahala sesudah mati. Akan tetapi
lain-lain akidah masih kabur. Perbedaan tentang Trinitas adalah

93
suatu contoh yang sangat penting. Tetapi di samping itu, soal-soal
berapakah sakramen itu, apakah kekuasaan pendet-a, semua itu
juga belum ada ketentuan. (Burns and Ralph: "World Civilisation
I, ha1. 356).
Dalam garis besarnya ada dua aliran tentang soal-soal terse but
di atas :
I) aliran yang menginginkan terlaksananya agama Masehi yang
ideal seperti pada zamannya sahabat-sahabat Nabi lsa (apostles),
yaitu ketika Gereja merupakan perkumpulan orang-orang mis-
tik, yang masing-masing mendapat petunjuk dari hati sanubari-
nya sendiri dalam soal kepercayaan dan tindakan-tindakan;
2) orang-orang yang menghendaki agar Gereja Masehi merupakan
suatu organisasi yang membuat aturan-aturan dan hukum-
hukum bagi para pengikutnya sesuai dengan situasi dan keperlu-
an masa.
Perkembangan organisasi Kristen adalah satu hal yang sangat
penting selama Abad Pertengahan. Pada permulaan abad itu
organisasi tersebut sudah rnerupakan struktur yang akhirnya
menjadi kerangka masyarakat Ketika Kerajaan Rornawi di
Barat mulai berceceran, Gereja mengambil alih fungsi Kerajaan.
Mula-mula organisasi Gereja itu sangat sederhana. Orang-
orang Masehi berkumpul di rurnah salah seorang anggota jernaah
dan mendengarkan nasehat-nasehat dari ternan-ternan rnereka yang
dianggap menerima hubungan langsung dengan Ruh Kudus. Waktu
itu belum ada perbedaan antara orang awam dan para pendeta.
Tiap-tiap Gereja mempunyai pengurus yang rnenyelenggarakan
ibadat bersama, memberi nasehat kepada para anggota dan
membagi sedekah.
Lama-kelamaan di bawah pengaruh agarna rahasia (mystery
religions) ibadat Masehi menjadi sangat rumit, sehingga perlu
diadakan seorang pendeta khusus untuk rnernpelajari agarna. Hajat
untuk membela diri terhadap penganiayaan Kerajaan serta keingin-
an untuk mendapatkan kepercayaan yang hornogen', telah
mendorong perkembangan organisasi kegerejaan. Maka ditiap-tiap
kota penting timbullah seorang uskup. Pada al'lad 4 diatas

94
uskup-uskup tersebut ada empat orang patriark, masing-masing di
Alexandria, Antioch, Konstantinopel dan Roma.
Diantara 4 patriark tersebut, patriark di Roma mempunyai
kedudukan paling unggul. Uskup Roma dianggap lebih penting
karena beberapa sebab:
l) Roma merupakan bekas ibukota Kerajaan Romawi dan
disanalah Rasul Petrus dan Paulus menyiarkan agama Kristen
sampai mereka menemui ajal mereka sebagai pahlawan.
2) Disamping itu, dalam Injil Matheus 16:-18-19 disebut
bah~a Nabi Isa telah memilih Petrus sebagai penggantinya.
Pada mulanya Petrus itu seorang pencari ikan bernama
Simon. Nama ini kemudian diganti dengan Cepha dan
diibaratkan sebagai batu landasan untuk agama Masehi.
Cepha berarti batu dalam bahasa Aramaic. Dalam bahasa
Yunani batu itu petros. Ayat dalam Injil Met~ustersebut
dijadikan doktrin, yaitu "doctrine of the Petrine succession".
(doktrin penggantian Petrus).
3) Ketika ibukota Kerajaan Romawi dipindahkan ke Konstan-
tinope\ untuk menjauhkannya dari serangan-serangan musuh
dari utara, Roma dan sekitamya tidak dapat dikatakan
berada dibawah kekuasaan Kaisar di Konstantinopel.
4) Pada tahun 455 Kaisar Valentinian III mengeluarkan dekrit
agar semua uskup-uskup di bagian Barat tunduk kepada
uskup Roma. Tetapi pada hakekutnya dekrit itu tidak
diindahkan oleh uskup-uskup di Barat.
Suatu hal yang secara pash telah ikut menegakkan kedu-
dukan uskup Roma adalah bahwa daerah Roma telah dikuasai oleh
suku-suku Jerman dan Gothik. Uskup Roma selalu melindungi
penduduk daerah Roma dari kekejian-kekejian orang-orang Jerman
dan dari exploitasi Kaisar Justinian di Konstantinopel. Prof.
Glassenap dalam bukunya "Les Cinq Grandes Religions du
Monde", menyebutkan tahun 502 sebagai permulaan ke-pausan,
ya'ni secara resmi uskup Roma memakai gelar Paus.
Paus memiliki kekuasaan duniawi, baru ketika Raja Perancis,
Pepin mengusir orang-orang Lombard dari Italia, membentuk

95
daerah-daerah Pemerintahan Paus (Papal States)dan memerdeka-
kan Paus dari kaisar-kaisar di Konstantinopel serta menjadikan
mereka itu ternan dan sekutu Raja-raja Perancis pada bulan Juni
tahun 736.
Perlu diterangkan disini, bahwa dari semula Patriark: Konstan-
tinopel tidak menganggap Patriark Roma lebih tinggi daripadanya.
Dan ketika Patriark Roma telah diberi daerah luas oleh Raja
Perancis, Pepin dan Paus menjadi sekutu Kerajaan dinasti Charle-
magne, maka terputuslah hubungan antara Gereja Romawi dan
Gereja Bizantium. Gereja Romawi dinamakan Gereja Katolik dan
Gereja Konstantinopel dinamakan Gereja Ortodox.
Sebelum mengakhiri pembicaraan tentang agama Yahudi dan
Kristen, karena kitab suci mereka dipakai sebagai kitab suci agama
Kristen yaitu Bible, Perjanjian Lama khusus untuk orang Yahudi,
dan keduanya bersama untuk umat Kristen, maka baiklah kita
membicarakan tentang kitab suci tersebut sebagai berikut:
I. Perjanjian Lama: asalnya dal&m bahasa Ibrani dan telah ada
sejak ±1000 SM. Pada abad 3 SM, Raja Ptolemy Philadelphus
di Alexandria memerlukan salinan daripada hukum Yahudi.
Kemudian oleh kepala agama Yahudi di Jerusalem dikirim 70
ulama dan 70 ulama tersebut mensahkan terjemahan 5 fasal
Nabi Musa dalam bahasa Yunani. Oleh karenanya Perjanjian
Lama dalam bahasa Yunani ini disebut Septuagint (tujuh-
puluh). Kemudian muncullah terjemahan fasal-fasal lain,
sehingga Perjanjian Lama telah selesai disalin dalam bahasa
Yunani sebelum lahirnya Nabi Isa.
2. Perjanjian Lama dapat dikatakan sebagai kumpulan tulisan-
tulisan yang ditulis oleh beberapa orang, dalam beberapa
masa sejarah, dan diambil dari sumber-sumber yang berma-
cam-macam pula.
3. Sumber-sumber Perjanjian Lama ada tiga:
i. sumber yang disebutkan (specified).
Sebagai contoh: Dalam kitab Keluaran XXIV:4,7) dise-
butkan: Kitab Perjanjian (Book of the Convenant) yang
diterima oleh Nabi Musa dari Tuhan di gunung Sinai.

96
Buku itu merupakan sepotong batu yang ditulis pada
dua wajahnya, kemudian diletakkan dalam suatu tempat
khusus.
ii. yang diketemukan jejaknya sampaiasalnya (traced),
ya'ni dengan dibandingkan dengan tulisan-tulisan kuno
dari Babylon, Mesir, Assyria, dan lain-lain.
iii. yang didapatkan lewat penyimpulan (inferred). lnfe-.
rence dilakukan berhubung dengan adanya bermacam-
macam anakronisme (kesalahan-kesiilahan dalarn meng-
hit'ung dan menetapkan tanggal), kejadian yang disebut
berulang-ulang dalam bentuk berlainan, atau kontra-
diksi, perbedaan dalam satu fasal, mengenai susunan
kata (style), atau sifat (quality) atau tabi'at, dan bukti
bahwa ada suatu pengarahan untuk rnernilih bahan buku
terse but.
4. Susunan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani tidak sarna
dengan susunan PeIjanjian Lama dalam Injil yang dinyatakan
sebagai 'authorised version' (versi yang disahkan). Susunan
PeIjanjian Lama dalam bahasa lbrani sudah terkenal semenjak
abad 3 SM, sedangkan PeIjanjian Baru dalam lnjil bahasa lng~
gris sekarang adalah berdasarkan dekrit Raj a lnggris tahun
1611 M.
Perjanjian Barn
1. Diperlukan beberapa abad sebelum terdapat kepastian: Apa-
kah yang dianggap bagian PeIjanjian Baru, karena pada
permulaan propaganda dilakukan secara lisan dan berbeda-
beda menurut temp at. Dan oleh karena tak ada kekuasaan
tertentu yang menangani, rnaka ban yak sekali manuskrip-
manuskrip muncul dalam bentuk yang berbcda-beda.
2. Bahasa PeIjanjian Barn adarah Yunani, tetapi bahasa Yunani
sendiri mengenal tiga macam: bahasa Yunani Tinggi, bahasa
Yunani Pasar (koine) dan Yunaninya orang asing.
3. PenteIjemahan Perjanjian Baru secara sungguh-sungguh bam
dimulai pada permulaan abad 20 oleh seorang saIjana Jerman,
Adolf Deissmann.

97
4. Sejarah menunjukkan bahwa mula-mula yang ada hanyalah
bahan-ballan karya perorangan, seperti Injil Mateus, Mar-
kus dan lain-lain. Periode kedua merupakan periode dalam
mana 4 Injil dan surat-surat Paulus dikumpulkan menjadi
satu. Periode ketiga adalah periode dimana lain-lain isi
Perjanjian Baru dimasukkan. Peri ode ke-3 ini diperkirakan
pacta permulaan abad ke-3, oleh karena itu, naskah-naskah
yang ada berasa! dari akhir abad ke-3, dan kebanyakan dari
abad 4 at au 5.
5. Tak ada bagian Perjanjian Baru yang. ditulis di Palestina;
semuanya, kecuali surat-surat Paulus, ditulis sesudah tahun
70 M, ya'ni setelah jatuhnya Jerusalem digempur oleh
Kerajaan Romawi.
6. lnjil Markus adalah yang tertua, menjadi sumber bagi Matells
dan Lukas. Injil Yahya merupakan lnjil terakhir dan memuat
teologia. Sebett;lnya, disamping empat lnjil tersebut masih
ada InjiI-Injil lain, seperti Injil Ibrani, Injil Petrus (yang
mengingkari pensaliban), Injil orang-orang Mesir, dan lain-lain
lagi.
Perkembangan agama Masehi menjadi Katolik dan Protestan
terjadi pada tahun 1517 dengan gerakan seorang pendeta Jerman
yang bernama Martin Luther. Akan tetapi kejadian terse but dan
lain-Iainnya tidak dapat dibicarakan dalam pelajaran ini, karena
maksud pelajaran ini han'ya untuk menggambarkan kelangsungan
agama-agama Yahudi, Masehi dan Islam. Oleh karena·itu saya akan
meneruskan dengan membicarakan agama Islam.

Agama Islam
Dahulu orang Barat memakai istilah "Mohammedanism"
untuk menunjukkan agama Islam. Kata terse but salah, sebab Islam
bukan ciptaan Mohammad. Sekarang, kebanyakan pengarang Barat
memakai perkataan Islam.
Memang menurut Al Quran, Islam adalah nama agama yang
diwahyukan oleh Tuhan untuk manusia. Dalam Al Qur-1n Surat 3
ayat 67 disebutkan bahwa Ibrahim bukan orang Yahudi, bukan

98
Jrang Nasrani, akan tetapi orang yang mengikuti jalan lurus(ha
nifan) dan orang Muslim (musliman), dan ia bukan orang musynk.
Islam dibawa oleh Nabi Mohammad (sallallahu alai hi wasal-
lam). la lahir pada talmn 571 M di Mekkah darikeluarga Abdul
Mutalib, kepala suku Quraisy yang berkuasa di Mekkah. Bapaknya
bernama Abdullah dan ibunya bernama Aminah. Ketika Moham-
mad m3sih dalam kandungan, ayahnya bepergian berdagang ke
Syria, dan meninggal dalam perjaJanan. Ketika masih umur 6
tahun ia dibawa ibunya berziarah kuburan ayahnya. Ibunya
meninggal dalam perjalanan. Makiumiah di padang pasir 14 abad
yang lalu perjalanan sangat sukar. Kemudian ia dipelihara
neneknya selama 2 tahun dan ketika Abdul Mutalib meninggal,
Mohammad diasuh oleh pamannya, Abu Talib.
Walaupun Abu Talib itu keturunan keluarga berpengaruh, ia
tern1asuk orang tidak berada. Ketika Mohammad berumur 24
tahun, Abu Talib minta kepadanya supaya ikut berdagang untuk
meringankan be ban hidup Abu Talib sekeluarga Ia diperkenalkan
kepada seorang janda kaya, yaitu Khadijah binti Khuwailid.
Khadijah mempercayakan kepada Mohammad sejumlah barang
dagangan serta mengirim seorang pelayannya (Maisarah) untuk
men em ani Mohammad. Dalam perjalanan perdagangan itu Moham-
mad mendapat keuntungan besar dan Maisarah melaporkan kepada
Khadijah tentang perangai Mohammad yang baik. Khadijah akhir-
nya meminta Mohammad agar mengawininya, Mohammad pun
rela. Perkawinan terjadi pada waktu Mohammad umur 25 tahun
dan Khadijah 40 tahun.
Kedua insah, :;uami istri itu hidup bahagia selama 15 tahun,
dikurniai beberapa anak. Mohammad dalam kehidupan materiil
yang cukup terjamin condong untuk pergi ke tempat-tempat sunyi
diluar kota Mekkah. Berhari-hari ia selalu di gua Hirak diatas Jabal
Nurdengan membawa bekal secukupnya. Pada suatu waktu ia
didatangi Malaikat Jebril yang membawakan wahyu Allah. Mo-
hammad sangat takut, segera ia tUfUn dari gunung, pulang dan
berkata kepada istrinya sambil menggigil: "SeJimutilah aku,
selimutilah aku!". Khadijah yang selalu sangat memperhatikan

99
kesehatan suaminya, bertanya kepada saudarasepupunya, Wara-
kah bin Naufal yang beragama Masehi. Warakah menerangkan
bahwa yang datang kepada Muhammad ialah Malaikat yang
mendatangi para rasul sebelumnya; ia juga mengatakan bahwa
kaum Quraisy akan mengusir Nabi Muhammad dari Mekkah dan
seandainya ia masih hidup dalam waktu itu, ia akan membantu
Muhammad
Setelah itu Nabi Muhammad melakukan tugasnya di Mekkah,
mengajak menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha
Tunggal. Selama 13 tahun ia mendapat rintangan-rintangan,
khususnya setelah Khadijah, kemudian pamannya, kembali ke
rahma tullah.
Akhirnya Nabi Muhammad mendapat dukungan dari orang-
orang Yathrib yang menunaikan ibadah haji, mereka berjanji
dalam bai'at Al Aqabah (satu tempat di kota Mekkah) yang terjadi
pada tengah malam, bahwa mereka akan membela beliau.
Kemudian pad a tahun 622 M Muhammad Hijrah ke Yathrib,
dan tempat itu kemudian dinamakan Madinah (kota Nabi). Disitu
Nabi Muhammad menjadi Nabi dan Kepala Negara. Ia melakukan
peperangan dengan suku Quraisy di Badr, di Uhud serta perang
parit. Pada perang Uhud ia hampir menderita kekalahan, karena
para pengikutnya tak mentaati strateginya dan tergoda oleh
jarahan materiil.
Akhirnya kota Mekkah dhebutnya pada tahun 630 M dan ia
meninggal pada tahun 632 M.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kita mengetahui
sejarah Muhammad dari hari lahirnya sampai saat meninggalnya.
Wahyu yang diterimanya diberitakan kepada para sahabat dan
pengikutnya yang kemudian menghafalnya. Disamping itu bebe-
rapa sahabatnya menjadi sekretaris menulis ayat-ayat itu dalam
bahan,.bahan yang ada.
Al Qur1in dibukukan pacta zaman Khalifah Abu Bakar,
setahun setelah Rasulullah meninggal, dan selesai pada zaman
Khalifah Uthman ± 15 tahun setelah Nabi Muhammad wafat.
Quran yang ditulis pada zaman Uthman itu menjadi Quran standar

100
(induk) dan semenjak itu sampai saat ini bentuknya tak pernah
mengalami perobahan, baik redaksi maupun urutan-urutan su-
rat-suratnya yang berjumlah 114 dan ayat-ayatnya sebanyak 6243.
Disamping Al Qur-an Nabi Muhammad meninggalkan petun-
juk-petunjuk cara sembahyang, puasa, haji, dan lain-lain begitu
juga muamalat (perdata) dan jinayat (pidana), dan ini untuk
sementara waktu menjadi tradisi oral (Iisan), sampai dibukukan
oleh Bukhari (±'256), Muslim (±261), Nasai (303), Tarmuji (279),
Abu Daud (275) dan Ibn Maja (273).
Jika Nabi Ibrahim menurunkan suku yang kemudian disebut
Bani Israil, di satu pihak, dan bangsa Arab di pihak lain, yaitu dari
anaknya yang bersama Ismail, maka agama Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad s.a.w. sejak permulaannya merupakan agama
universil. Dalam Surat 21 ayat 107 disebutkan:
"Aku tidak mengutus kamu, hai Muhammad,' Jcecwzlisebagai mhmat ba-
gi segala numusia':
Al Quran, kitab suci yang merupakan wahyu harfiah dari
Allah mengandung isi riwayat para Nabi dahlilu, daTi yang sampai
sekarang belum dapat disajikan secara iImiah, sampai yang sudah
dapat diterangkan secara ilmiah dan berdasarkan sejarah, yaitu
Nabi Ibrahim, Ishak, Ya'kub (lsrail), Yusuf, Musa, Harun, kemu-
dian NabiIsa dan akhirnya Rasul terakhir, ya'ni Nabi Muhammad
s.a.w. Hikayat Nabi Isa dan Siti Maryam merupakan bagian
penting dalam AI Quriin (Surat Maryam).
Pokok ajaran Nabi Muhammad ialah Tauhid. Sebagaimana
sudah kita ketahui, kepercayaan menurut Majlis Nicaea tahun
325 mengatakan bahwa Tuhan Bapa dan Tuhan Anak adalah dari
satu substansi. Kemudian Majlis Ephesus 431 mengatakan bahwa
dalam Nabi Isa hanya ada Pribadi Tuhan. Dan akhirnya pada Majlis
Chalcedon 451 diputuskan bahwa dalam Isa itu ada dua unsur,
unsur Ketuhanan dan unsur kemanusiaan. Begitu pula Ruhul
Kudus dijadikan salah satu daTi tiga unsur Ketuhanan, sebagai
akibat pengaruh f1lsafat neoplatonism, yang mengajarkan adanya
the First (yang pertama); kemudian the Divine Mind) (akal Tuhan)
dan the Soul (Jiwa). The One dan the First disamakan dengan

101
Allah, the Divine Mind disamakan dengan Isa yang mengandung
segala 'forms' (bentuk), dan kemudian the Soul yang merupakan
penghubung antara Divine Mind (akal Tuhan) dan material
universe (alam semesta). Ketiga hal itu telah menjadi satu, yaitu
Tritunggal dan tidak merupakan "hierarchy" (tahap derajat).
Dalam Surat 112 disebutkan:
"Katakanlilh, hai Muhammad, Tuhan itu satu, daripadaNya kita memohon.
fa tidok beranak. don tidak diperanakkan dan tidak ada yang menyamai-
Nya':
Biasanya, sebagai pelajaran permulaan tentang agama Islam
guru akan menyebut Hadits yang mengatakan bahwa rukun Islam
itu lima, yaitu Syahadat, Salat, Zakat, Puasa dan Haji, dan juga
Hadits yang menerangkan bahwa rukun iman itu enam, yaitu
percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitabnya, Rasul-rasulnya,
Hari Akhir (Hari Kiyamat) dan Kadar, baik atau buruk. Tetapi
disamping menyebut dua had its tersebut, sebaiknya riwayat Nabi
Muhammad dan isi Al Qur:ln harus dipelajari.
Adapun isi AI Qurlin menurut Imam Rasyid Ridla dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Islam adalah agama Fitrah ya'ni yang sesuai dengan watak
manUSla.
2. " " " akal, dan kalimat akal atau fikir disebut
dalam Al Qur"an lebih dari 50 kali.
3. ., " " ilmu pengetahuan, kata ilmu dalam segala
bentuknya terdapat berpuluh-puluh kali
dalam Al Qur'im
4. " " argumentasi.
5. " " " hati, rasa dan hati-nurani (conscience).
6. " " " Yang melarang, hanya mengikuti jejak ne-
nek-moyang.
7. " " " kemerdekaan, sehingga ia melarang paksaan
dan penganiayaan, karena agama Islam te-
gas memerintahkan sikap toleransi terhadap
agama lain, akan tetapi juga tegas memerin-
tahkan untuk mempertahankan dirL

102
Dalam soal ketatanegaraan, Islam mengajarkan Syura atau
Musyawarah, ya'ni antara rakyat dan Pemerintah. Syura memberi
gambaran ajaran Islam yang sesungguhnya, bukan demokrasi
secara Barat atau demokrasi lainnya, yang kebanyakan hanya
melihat bentuknya, tetapi melupakan isinya. Sekali kita melupa-
kan isi demokrasi atau Syura, maka Pemerintah menjadi apa yang
dikatakan oleh Marx alat bagi yang berkuasa untuk mempertahan-
kan kekuasaannya. Dalam Encyclopedia of Science dikatakan
bahwa Pemerintah yang baik ialah yang bermusyawarat, walaupun
bentuknya mungkin tidak sarna dengan demokrasi.
Islam mengatur masyarakat sehingga keadilan sosial dapat
terlaksana, khususnya dengan sistim zakat yang berat itu. Islam
memerintahkan bersiap siaga untuk mempertahankan diri terhadap .
serangan dari luar, tetapi melarang agresi.
Mengenai akhlak, dalam seluruh riwayat Nabi, serta di
sela-sela bermacam-macam Surat yang mengajak manusia agar
jangan menjauhkan diri dari alam dan Tuhan, terdapat ajaran-
ajaran akhlak yang riil dan tinggi mutunya. Sebagai contoh Surat
26, ayat 67 menerangkan 1:>ahwadiantara sifat-sifat orang Islam
ialah sifat mereka yang jika berbelanja tidak boros dan tidak kikir,
akan tetapi ditengah-tengah antara kedua itu'.
Mengenai hukum telah disebutkan sumber-sumbernya, yaitu
yang pertama ialah Al Quran. Dari 6243 ayat, ayat-ayat hukum
hanya sebanyak ± 200 ayat, artinya 3 % dari seluruh isi Al Quran.
Sunnah atau Hadits adalah sumber kedua, dan sumber ketiga ialah
Ijtihad. Pujangga Pakistan, Iqbal, menamakan ljtihad sebagai "the
principle of movement", prinsip gerak. Ijtihad merupakan sumber
yang terbesar, yaitu dalam arti karena masyarakat selalu berkem-
bang, maka terjadilah hal-hal baru yang secara khusus tak ada
hukumnya dalam Al Quran atau Hadits, sehingga perIu dicarikan
hukum yang khusus tetapi yang senada dan seirama dengan Al
Quean dan Hadits.
Bentuk Ijtihad adalah Qiyas (analogi), Ijma' (dalam arti
keputusan musyawarah para ahli sedunia) serta masalah atau
maslahat yang berfaedah. Dengan dasar Ijtihad ini dan dengan

103
bercermin kepada Al Quran dan Hadits serta kehidupan Ra-
sulullah. Bangsa-bangsa yang beragama Islam pasti dapat meng-
hadapi soal-soal yang timbul dari ideologi-ideologi yang ber-
macam-macam.
Islam telah berumur 14 abad. Al Quran tetap seperti yang
ada sekarang dan seperti yang diwahyukan kepada Nabi Mu-
hammad s.a. w. Pada akhir abad 20 ini, banyak. gejala yang
dinamakan 'alienation' atau 'estrangement', artinya rasa kete~
rasingan dari Tuhan, dari alam dan dari sesama manusia.
Dengan kembali kepada Al Quran, manusia kembali kepada
Allah dan kepada alam, serta mempererat hubungan antara sesama
manusia.

104
Lampiran

PEDOMAN UNTUK HIDUP BERAGAMA DALAM MASY ARAKA T

I. DUD RI TAHUN 1945, PASAL 29.


A. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
B. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya
dan kepercayaannya itu.

II. AYAT-AYAT AL QUR-AN TEN TANG KEMERDEKAAN BER"


AGAMA.

A. Surat 10 ayat 991: "Wa Iau syaa-a rabbuk41 la aamana man fiI ardli
kullihim jamii'an a fa anta tukrihun naasa
hatta yakuunu mukminiina. "
Artinya: KaIau Tuhan menghendaki, tentu
seluruh manusia di bumi ini percaya semuanya.
Apak41h engk41umemaksa orang supaya mereka
percaya?
B. Surat 1 ayat 100: "Wa maa k41ana li nafsin an tukmina illaa bi
idznillahi wa Yaj'alur rijsa 'alal/adzina la
yo 'qiluna ".
Artinya: Sesuatu jiwa tidak akan percaya,
kecuali dengan izin Tuhan, dan Tuhan akan
membuat derita bagi orang-orang yang tidak
berfikir.
C. Surat 10 ayat 101: "Qui Iindhuruu ma dzaa fis sammawaati wal
ardli wa ma tughnil aayaatu wan nudzuru 'an
Qaumin layukminun ':
Artinya : Katakan/ah, hai Mohammad: Li-
hatlah segala sesuatu yang ada di langit don
bumi. Tetapi tanda-tanda don peringatan tidak
ak41nberfaedah bag; orang tidak percaya.
D. Surat 2 ayat 256: ''Laa ikraha fiddiini qod tabayyanar rusydu
mina/ ghayyi':
Artinya : Tak ado paksaan dolam agama. Ke-
benaran nampak jelas berbeda dori kesesatan.

105
E. SUrat 2 ayat 191 "Wa qootiluuhum hotto loa tokuuna fitnatun Mtl
yakuunad diinu lillahi"
Artinya: Dan jika mereka memfitnllh. per a-
ngilah mereka itu, sampai fitnah itu hilang don
agama menjadi mumi untuk Tuhan.
F. Surat 88 ayat 21-22 :"Fadzakkhir innamaa onto mudzakkir lasto
'alaihim bi musaitirin"
Artinya: Peringatkanlah-mereka itu!. Sesung-
guhnya Engkau itu juru peringat, dan engkau
tidak berhak menguasai (memaksa) mereka.

III. VATlCAN II DOCUMENTS

A. Page 682: Religious bodies also have the right not to be hindered in
their public teaching and witness to their faith, wether by the
spoken or by the written word. However, in spreading religious faith
and in introducing religious practices, everyone ought at all times to
refrain from any manner of action which might seen to carry a hint
of coercion or of a kind of persuasion, that would be dishonorable
or unworthy, especially when dealing with poor and uneducated
people. Such a manner of action would have to be considered an
abuse of one's own right and a violation of the right of others.
Artinya: Badan-badan keagamaan juga berhak untuk tidak dirin-
tangi dalam memberi pelajaran dan dalam melakukan ibadat mereka,
baik secara lisan maupun secara tertulis. Akan tetapi, dalam
menyiarkan sesuatu kepercayaan keagamaan dan dalam mengadakan
praktek-praktek keagamaan, setiap orang harus senantiasa menghin-
darkan diri dari perbuatan-perbuatan apapun juga yang dapat
dianggap sebagai berbagai paksaan atau semacam bujukan bagai-
mana pun sedikitnya. Perbuatan seperti itu tidak patut dan hina,
lebih·lebih bila berurusan dengan orang-orang rriiskin dan tak
terpelajar. Cara-cara semacam itu harus dianggap sebagai penyalah-
gunaan hak seseorang sendiri dan pelanggaran hak orang-orang lain.
B. Footnote halaman 682.
It is customary to distinguish between "Christian witness" and
"Proselytism" and to condemn the latter. This distinction is made in
the text here. Proselytism is a corruption of Christian, witness by
appeal to hidden forms of coercion or by a style of propaganda

106
unworthy of the Gospel. It is not the use but the abuse of the right
to religious freedom.
Artinya: Adalah lazim untuk membedakan antara "Christian wit-
ness" dan "proselytism" (pengkristenan) dan mengutuk yang terse-
but belakangan itu. Perbedaan itu diadakan dalam teks disini.
Proselytism adalah pengrusakan (corruption) Christian witness de-
ngan menggunakan cara-cara paksaan yang tersembunyi atau gaya
propaganda yang tidak patut bagi InjiI. Hal itu bukan penggunaan
tetapi penyalah-gunaan hak kemerdekaan beragama.
C. Halamah 686.
Society has the right to defend itself against possible abuses
comitted on pretext of freedom of religion. It is the special duty of
the Government to provide this protection.
Artinya: Masyarakat berhak mempertahankan diri terhadap perbu-
atan-perbuatan penyalah-gunaan yang mungkin timbul dengan dalih
kemerdekaan beragama. Adalah kewajiban khusus bagi Pemerintah
untuk memberikan perlindungan ini.
IV. KODE ETIKA BAGI ORANG-ORANG YANG HIDUP DALAM
LING KUNG AN BERBAGAI AGAMA.
dikutip dari Buku: Ways of Sharing with other faiths, karangan
Daniel Johnson Fleming, Professor of missions de Union Theological
Semenary, New York tahun 1929.
A. Kriteria
Kreterium etis yang mempengaruhi tujuan kontak sesuatu
agama dengan agama lain ialah bahwa hubungan itu harus memung-
kinkan pertumbuhan sebaik-baiknya di segala bidang bagi para
pemeluk kectua agama itu. Oleh karena itu tujuannya harus
meliputi:

1) mengusahakan hubungan-hubungan dan pengertian-pengertian yang


lebih baik antara para pemeluk berbagai agama, sehingga semua
agama dapat memperoleh kebebasan sepenuh-penuhnya untuk mem-
perkembangkan apa yang terbaik dalam agama masing-masing,
berdasarkan saling pengertian dan hormat.
2) kecakapan dan kemampuan pada pihak pengikut untuk mengambil
keputusan bagi diri mereka sendiri yang ke-effisienannya dan
ketegasannya selalu meningkat.

107
3) pembinaan manusia, laki-laki dan wanita, yang waspada dan kreatif,
pengembangan pikiran yang diskriminatif (dapat mem-
beda-bedakan), yang dapat menghargai dengan cerdas apa yang
terbaik dan terhalus dalam seluruh kehidupan, walaupun mereka itu
mungkin tidak sampai setuju dengan agama guru-guru mereka.
1) Kriterium etis yang mempengaruhi prinsip timbal - balik, ialah
bahwa bila sesuatu agama mengadakan pendekatan agresip terhadap
sesuatu agama lain - pengikut agama pertama harus berusaha
mengambil suatu sikap yang mereka harapkan para pengikut agama
kedua akan mengambilnya, sekiranya mereka ini berada dalam
situasi kebalikannya.
2) Dengan lain kata, kita harus berhati-hati jangan sampai memper-
tentangkan cita-cita (idee) sesuatu agama dengan keadaan sementara
(actualities) agama-agam~ hin.
3) Sesuatu agama tidak boleh dinilai berdasarkan tingkah-laku orang-
orang yang tidak berusaha hidup sesuai dengan cita-cita agamanya
yang telah dinyatakan.
4) Dalam menafsirkan agama orang lain, kita harus mempergunakan
sebanyak mungkin rasa simpati dan day a khayal kita, sebagaimana
kita mengharapkan dari orang lain akan berbuat sedemikian dalam
keadaan sebaliknya.
B. Pilihan Perorangan
Setiap orang harus berhak memilih secara sukarela agama yang
akan dianutnya.

C. Penyiaran Agama

Sesuai dengan kriteria yang telah diberikan, maka setiap usaha


sistimatis untuk menyiarkan dengan cara-cara sehat sesuatu penda-
pat, kepercayaan atau praktek yang orang percaya sungguh-sungguh
akan dapat memperkaya kehidupan, atau untuk bersama-sama
menerirna nilai-nilai berasal dari agama seseorang, harus diakui
sebagai wajar. Beberapa petunjuk ten tang apa yang dimaksud dengan
cara-cara sehat akan diberikan dibawah ini :
1) Memandang rendah agama orang lain, menyalah-gunakan dan
memberi gambaran salah tentang agama tersebut, at au dengan
~engaja meremehkan prestasinya, adalah salah.

108
2) Tak seorangpun dibolehkan menyiarkan doktrinnya, kecuali jika
ia sendiri bersedia balk untuk menerima dan belajar maupun
untuk memberi, yaitu, kecuali ia berusaha- bersikap rendah diri
dan sanggup belajar.
3) Dengan cara-cara yang tak mendidik, atau dengan cara-cara yang
tak menghargai perseorangan mencoba merongrong atau men-
jatuhkan kepercayaan orang-orang tak terpelajar atau orang-
orang yang tak mahir berdebat diantara pengikut-pengikut
sesuatu agama lain, adalah curang.
4) Merientukan keputusan keagamaan seorang pemeluk keperca-
yaan lain, tanpa membantu atau merangsang orang itu membuat
pilihannya sendiri, dan dengan demikian menghalanginya mem-
buat pilihan secara bebas waktu orang itu telah tambah tua dan
tambah berpengalaman, merupakan contoh menonjol buat
kegagalan menghorma ti perseorangan.
5) Sedangkan kerahasiaan tidak selamanya dapat dicela, dan dalam
beberapa keadaan tertentu mungkin justru diinginkan, namun
pada umumnya kcrahasiaan itu harus dijauhi, karena segala
sesuatu yang berbau kerahasiaan akan menambah ketegangan,
memberatkan perasaan, dan menyebabkan kesalahfahaman yang
merugikan. Para orang tua khusunya harus sadat akan pengaruh-
pengaruh yang sedang menekan anak-anak mereka yang belum
dewasa.
6) Penggunaan alat-alat materiil, medis, pendidikan dan ekonomis,
tidak untuk mendapatkan pemeluk-pemeluk baru, tetapi sebagai
keuntungan-keuntungan yang hanya diperoleh dengan syarat
orang-or.ang yang bersangkutan harus mendengarkan amanat
pemberi fasilitas-fasilitas tersebut, diragukan sifatnya.
7) Penggunan alat-alat materiil, medis, pendidikan dan ekonomis
dalam hubungan dengan amanat keagamaah untuk menarik
perhatian, tetapi, menyerahkan soal mendengarkan amanat atau
tidak itu kepada pilihan masing-masing, dapat diizinkan.
8) Ketergantungan dari contoh dan buah yang timbul dari agama
seseorang (seperti usaha tanpa pamrih untuk meringankan
kesusahan, penderitaan dan kekuarangan, dan semua kehitupan
mulia, gembira dan tidak mementingkan diri sendiri) dengan

109
selalu ingat bahwa orang-orang lain yang melihat hal ini sebagai
manifestasi kehidupan keagamaan seseorang, mungkin dapat
tertarik kepada sumber hidup dan kekuatan seseorang, at au
karena tiada sebab lain kecuali bahwa kehidupan semacam itu
dianggapnya sebagai kehidupan paling tinggi, dianggap wajar.
9) Hak-hak istimewa at-as nama pemeluk-pemeluk sesuatu agama
yang agresif hanya dapat diberikan berupa konsesi-konsesi yang
dengan rela diberikan oleh orang-orang yang didekati, dan tidak
di-rampas dari mereka dengan kekuatan fisik pemerintah-
pemerintah yang unggul.
10) Ganti rugi untuk kerugian jiwa dan harta yang diderita oleh
pemeluk-pemeluk agama yang agresif dapat diterima jika di-
tawarkan secara be bas sebagai pernyataan spontan dari rasa
keadilan kemanusiaan, dan tak dapat dituntut atau dipungtit
dengan paksa.

D. Penggantian Agama

Hak ·konversi, jika dilaksanakan secara wajar, dari sesuatu agama ke


agama lain harus diakui. Akan tetapi,
I) Penggunaan kekuatan phisik, pengejaran, ancaman-ancaman akan rugi,
paksaan terselubung, tekanan-tekanan tak pantas untuk menghasilkan
konversi, bersifat tidak etis.
2) Penggunaan soal-soal politis, sosial, pendidikan dan ekonomis sebagai
pendorong untuk konversi sedemikian rupa sehingga dalam praktek hal
itu dapa! dikatakan sebagai penyuapan, harus dicela.
3) Memisahkan orang dad satu atau lebih dari satu anggota grup dimana ia
tergolong (keluarga, kasta, warga, suku, desa, badan keagamaan) de-
ngan motivasi hanya untuk menambah jumlah pengikut agama seseorang
adalah tidak pa tut (yaitu konversi dalam arti seburuk-buruknya):
4) Konversi seorang belum dewasa tanpa persetujuan orang tuanya adalah
tidak patut. Orang harus memperhatikan tuntutan-tuntutan cinta manu-
sia dengan saksama.
5) Dalam hal orang dewasa orang harus berusaha sekeras-kerasnya jangan
sampai merusak jika memang tidak perlu.

110
KEPUST AKAAN

1. Al Qur - an.
2. Al Wahyul Muhammady, Imam Rasyid Ridla.
3. Manuel de philosoph ie, par A. Cuviller.
4. History of Philosophy, by Bertrand Russel.
5. Ovilization past and present, by T. Walter Wallbank and Alastair
M. Taylor.
6. By bel.
7. Les Onq grandes religions du monde, par H. de Glassenap.
8. The World's Living Religions, by Archie J. Bahrn.
9. A History of Christianity, by Oyde L. Manschreck.
10. A History of biblical literature, by Hugh J. Schonfield.
11. Samakah Semua Agama ? Dr. J. Verkuyl.
12. Agama Hindu clan Buddha, Dr. Harun Hadiwijono.
13. Theology of Culture, by Paul Tillich.
14. Les formes elementaire de fa vie riligieuse, par Emile Durkheim.
15. World Civilization, by Burns and Ralph.
16. The Sacred and the profane, Mircia Eliade.
17. Sociology, Ogburn and Nimhoff.
18. History of Religions, E.O. James.
19. History of Christian Missions, -Stephen Neil
20. Documents of Vatican II, General editor Walter M. ABBOT S.l.
21. The Life of Jesus, Ma;cello Craveri.
22. Reconstruction of Religious thought, .Mohamad Iqbal.

111
DAFTAR NAMA-NAMA DAN ISTILAH

A atheism, 9
Abdullah, 99 Athanasius, 89, 92, 93
Abdul Mutalib, 99 Atrrutn - Brahma, 34
Abu Bakar, 100 Atman, 57, 56
Abu Daud, 101 atom, 7
Abu Talib, 99 awam, 70
Adam, 88 avatur, 72
adi - kawya, 59
B
Adolf Deissmann, 97
agama samawi, 53 Ba'al, 77
Agni, 55 Batara Guru, 58
alienation, 104 Bayu, 62
Aminah, 99 Bertrand Russel, 91,93
Amos, 78 Bhaktimarga, 66
,Amr bin As, 93 Bharata, 59
analogi, 103 Bhima, 62, 64
antroposentris, 34 biologis, 49
antropologis, 53 Bohemia, 45
Antioch, 88 Bourbons, 43
Antiochus IV, 79 Brahma, 58
anotta, 71 Brahman, 56, 57
approach, 5 Bukhari, 20, 101
Arjuna, 62, 63, 64
Archie J. Bahm, Prof., 75 c
Arius, 89, 92, 93 Calvin, 44
Arianism, 93 Cabanis, 9
argumentasi, 102 Cardinal Richelieux, 45
Aswatama, 63 Catherine de Medici, 42
aswamedha, 63 Olarles IV, 42
ascetism, 70 Charlemagne, 96
aspect, 5 Chou, 73
Aswin, 62 Dovis, 89

112
Communisme, 19 etat theologique, 10
Condi1lac, 8 evolusi, 18
Confucius, 74 Ezekiel, 79
Conrad III, 40
constatasi, 21 F
corruption, 107 fen omena, 48
Cyril, 90, 93 Ferdinand, 45
Feurbach, 9
D
filial piety, 74
Daniel Johnson fleming, Prof., 107 Fir'aun, 76, 77, 84
Daud, 77, 78 Fontenelle, 8
Darwin, 10 Francois I, 41, 42
Dasaratha, 59, 60 Frederich II, 40
David Hume, 8 Frederich Erbert Stiftung, 35
Dechristianisasi, 20
deism, 9 G
Deutero Isaiah, 79
Gandhari, 63
Dewi Sri, 12, 15 Gautama Buddha, 31, 72
d' Holbach, 9
geografis, 33
Dharma, 63, 64 gladiator, 88
Dhrstadyumna, 63 Glassenap, Prof., 26, 75, 85, 87, 95
Dhrtarastra, 62 gin\nasium, 79
dogma, 33 Gorinda Das, 53, 67
dogmatis, 8 Goethe, 29
doktrin, 109 Guillaume, 40
Draupadi, 62, 64 Guises. 42
Drona, 63
dua.UJme, 9 H
Duke of Lonaine, 42 Habsburg, 45
E Hajar, 76
Hanuman, 60
efektif, 7 Harun Hadiwijono, Dr., 53, 58
Ego, 71 Hasea, 78
Eliyah, 77, 78 Hasmonean, 80
eksistensi, 77 Hawari, 87
flizaberth, 42 Henry II, 42
emansipasi, 69, 70 Henry IV, 42, 4:j
Emile Durkheim, 49 Henry de Navarre, 42
emosionil, 50 henotheisme, 67
empiricism, 7, 8 Herod, 80
engage, 5 Hillel, 30
episcopal, 79 Hinayana, 72
Ernst Trodtsch, 51 historis, 33
estrangement, 104 homogen, 94
etat rnetaphisique, 10 Hsia, 73
eta t positive, 10

113
Huguenots, 42, 43 Karl Marx, 9
Huxley, 10 Karma - nurga, 66
karma, 56, 57
Kama, 63
Ibn Maja, 101 kasta,36, 37
Ibrahim, 76, 77, 98, 101 kasta Brahman, 36
identik, 67 kista' Ksatria, 36
ijtihad, 103 kasta Sudra, 36
Blusi, 72 kasta Waesya, 36
Dyas, 77, 78 Kausalya, 59
impulsip, 42 komplikui, 38
Indra, 55, 62 konklusi, 36
Indraprastha, 63 konkordat, 39
inkarnasi, 90 kontemplasi, 69
instrumentalis, 33 konversi, 110
interpretasi, 70 Kong HI! Cu, 72, 74
involveld, 5, 51 Kon Fu - Tse, 31, 74
Iqbal, Mohamad, 103, 111 Khadijah binti Khuwailid, 99
Isa a1 Masih, 21, 80, 83, 84, 90, 9~ Kraemer, 34
ISaiah, 78 Kresna, 58
Ishak, 21, 76 KIsna, 65
Iskandar, 79 kreterium etis, 107, 108
ironis, 53 ksatda, fiS
J Kunti, 62, fi3
Kusi, 61
Jakub, 21
Jainism, 70
L
Jaines, E.O., 52, 73 Laksrnana, 59, 60, 61
Janaka, 59 La Mettrle, 9
Jatayu, 60 Lawa.61
Jerome, 22 Leninisme," 19
Jeremiyah, 78 LessiJlg, 26, 29, 30; 34, 51
Jesus Kristus, 21, 29, 30, 31, 33, 34,
92 Louis, IX, 41
Jethro, 77 Lukas" 83, 98
jinaya t, 101 tutherian,44
Joana - marga, 66
John Lock, 8 M
John the Baptist, 81
Josiah, 78 Madri, 62
Judas Maccabaeus, 79, 80 Mahayana, 72
Maisarah, 99
K makro - kosmos, 34
kadar, 102 Manassah, 78
Kant, .29 Manschreck, ayde L, III
Kaikeyi, 59 manuskrip, 81

114
mantra, 67 oknum,17
Marcello Craveri, 82, 111 oml, 101
Markus, 98 otonomi, 80
Markus Antonius, 80
Ma.rtin Luther, 41, 43, 44, 98 P.
Mari;:a, 60 paleolithic period, 76
M:ar•.•ta, 55 Pandu, 62
Marx, 103 pantheisme, 57, 61
Marxisme, 19 Paramatma, 65
Maryam, 81, 82, 84, 90, 92 parahb1es, 85
Max Muller, 30 Pariksit, 63
mechanistic - materialism, 8 paskah, 84
merlitasi, 68 pASSover, Il4
mekanis, 8 patriach, 88
Micah, 78 Patanjali, 57
mi4dle Qass, 81 Paulus, 87, 95
missionaris, 34, 75 Paul Tillich, 50, 111
Mircea Eliade, 48, 111 Paus Boniface, 40
Mohamad s.a.w., 98, 99, 100, 101, Paus Leo, 91
104 Paus Uroom 11, 40
moksa, 56, 57 perroniiOOls.i, 55
monoteis, 39 PerJanjian Vetvin.s, 42
Moses, Prof., 34 Perjanjian Westphalia, 45, 46
Montequieu, 8 Petrus, 87, 95
mozaik, 33 Philip. II, 42
muamala t, 101 Pontius Pilate, 80
Musa, 22, 77, 84, 85, 96 poaitivistic naturalism, 8 10
Muslim, 101 prakrti, 65
Presbyter, 88
N.
prafane, 48
Nakula, 62, 64 proselytism, 20
Nasai, 101 purusa, 66
Nathan, 26, 27, 28, 29
R
natural religions, 52
neolithic period, 76 Radhakrisnan, 32, 33. 34
Nestor, 91 Rajagaha, 68
Nestorius, 90, 93 Raksa, 55
Nimhoff,49 Ralph, 11
Nirvana, 69, 71 Rama. 58. 5~, 60, 61
Rawana, 58, 59, 60, 61
o. Rasyid Ridla, J mam, 102, 111
Ogburn, 49, 111 Rebbinic Judaism, 80

115
referendum, 38 Tang, 73
Rehoboam, 77 tanha, 69
rei.llkl1rr!asi, 70, 71 Tao, 73,.14
renaissance, 35 Tarmuji, 101
revealed rl"Jigions, 5 3 teknologi, 7
Ruhul Kudus, 39 teosentris, 34
the Edict of Nantes, 43
s the Divine Mind, 102
Sabellianism, 93 Thomas Hoboos, 7
"
Sachar, A.L., 80 Tien, 73
Sahadewa, 62, 64 tradisionil, 5
Sakuni, 62 Tri Kalpika, 26, 29
Saladin, Sultan, 26, 27, 28 Trimurti, 22, 39, 40, 93
Sampati, 60 Tritunggal, 102
samsara, 56, 57 tUll anetra, 25
Sankhya,69
u
SImS scrupules, 42
Sarah •. 76 ultimate, 50
Sarvaagama praamanya, 32 Umar bin lOIatab, 91, 93
Satrugbna, 59 universum, 34
sekte, 40 untouchable, 36, 37
sense perception, 8 Uthman, Khalifah, 100
Shang - ti, 73 W
Schonfie.ld, Hugh J., 111
Sikhandin, 63 Wairagya, 58
sinkretisme, 32, 33, 34 Walin, 60
Sidllrta, 68 Walmi.ld, 58, 59, 60
Simon, 95 Walter Wallbank, T., 111
Sita, 59, 60, 61 Wlilter M. ABBOT SJ., 111
Siwa, 58 Warakah bin Naufal, 100
soul, 70, 71, 102 WrJuna, S5
Soleman, 77, 78 W~y'.l, 55
skandha, 71 Wibhisana, 61
Spekulatip, 54 y
Spencer, 10
Sugriwa, 60, 61 Yahya, 81, 82, 98
~ukarno, 24, 25, 26 Ya'kub, 76
Sumitra, 59 Yang, 73
Surpakanakka. 60 Yin, 73
Yoga, 57
T
Yudhisthi:ra, 62, 63, 64
tabula rasa, 8 Yusuf, 76, 82

116
"'" ..

:"
Buku El1'Jpat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi yang
sedang anda hadapi ini, berasal dari kuliah-kuliah penulis di Fa-
kultas-fakultas Hukum, Psikologi dan Kedokteran, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Menyajikan uraian-uraian yang bersifat objektif dan pandangan-
pandangan filosofis ten tang aspek-aspek keagamaan yang dirasakan
riil di Indonesia.

Buku ini diperuntukkan bagi para mahasiswa sebagai pengantar


kepada pengetahuan Agama Islam.
ISinya antara lain : Apakah Agama masih diperlukan - Apakah
Semua Agama Itu Sarna - Pengelompokan Agama-agama di
Dunia - Agama Islam Adalah Agama Samawi Terakhir.

P.T.BULAN BINTANG
Penerbit dan Penyebar Buku-buku
Jalan Kramat Kwitang 1/8, Jakarta 10420, Indonesia

342883 Q) 346247