Anda di halaman 1dari 16

1

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PERSEPSI


DENGAN PERILAKU IBU RUMAH TANGGA
DALAM PEMELIHARAAN KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Yoni Hermawan
Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Siliwangi

Abstract
Circles Conception behaviour needed to public, create recontruction circles
conception that continuity (sustainable). Circles pollution in fact many in domination by
human with various causal factor. This research is to dig up that education level relation
ship and perception with housewife’s behavior inside circles cleanliness.
The research uses description method and corelational with taking housewife’s sampel
in cupids sub district of Tasikmalaya town. The crop research showed that is found
positive’s relation between education level and preception with housewife’s behavior inside
cleanliness environment.

Key words : waste, pollution, sustainable development

Abstrak

Perilaku berwawasan lingkungan perlu bagi masyarakat, untuk menciptakan


pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable). Pencemaran
lingkungan pada kenyataannya banyak didominasi oleh manusia dengan berbagai factor
penyebabnya. Penelitian ini mengungkapkan bagaimana hubungan tingkat pendidikan dan
persepsi dengan perilaku ibu rumah tangga dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan korelasional dengan mengambil
sampel ibu-ibu rumah tangga di Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Hasil peneitian
menunjukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara tingkat pendidikan dan persepsi
dengan perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara kebersihan lingkungan.

Kata kunci : limbah, pencemaran, pembangunan berkelanjutan


1

1. Pendahuluan terhadap lingkungan yang mengakibatkan


lingkungan menjadi kotor dan tercemar.
1.1 Latar belakang
Permasalahan lingkungan hidup
1.2 Pendidikan, Manusia dan Pencemaran
dewasa ini banyak dibicarakan orang, karena
Lingkungan
telah tampak adanya gejala dan
Pencemaran lingkungan umumnya
kecenderungan pencemaran lingkungan yang
disebabkan oleh masyarakat di
diakibatkan oleh perbuatan manusia.
lingkungannya itu sendiri. Sebagai salah satu
Misalnya penggundulan hutan yang
contoh,yaitu kurang baiknya persepsi ibu
mengakibatkan erosi, polusi udara,
rumah tangga, dapat mempengaruhi perilaku
pencemaran sumber daya air dan sungai
mereka dalam pemeliharaan kebersihan
sebagai akibat dari pembuangan limbah
lingkungan, sehingga tindakannya berakibat
industri dan limbah rumah tangga serta
negatif terhadap lingkungan. Misalnya
banyak kasus lain yang sekarang sudah
sampah ditumpuk begitu saja, dapat
menjadi fenomena umum.
mengakibatkan terjadinya tempat sarang
Pencemaran sumberdaya alam dan
nyamuk dan ini sebagai akibat dari
pencemaran lingkungan hidup sebenarnya
kurangnya pengetahuan terhadap pengaruh
bukan saja terjadi akibat pembangunan yang
bahaya limbah rumah tangga.
kurang bijaksana, melainkan juga disebabkan
Untuk meningkatkan mutu
karena pertumbuhan penduduk yang amat
lingkungan, pendidikan mempunyai peranan
pesat sehingga di beberapa tempat telah
penting karena melalui pendidikan, manusia
melampaui daya dukung lingkungan
makin mengetahui dan sadar akan bahaya
(Harjosumantri, 1983).
limbah rumah tangga terhadap lingkungan,
Banyak faktor yang menjadi
terutama bahaya pencemaran terhadap
penyebab menurunnya kualitas lingkungan.
kesehatan manusia. Melalui pendidikan
Diantaranya, yaitu rendahnya tingkat
lingkungan, seseorang diperkenankan
pendidikan dan pengetahuan masyarakat
dengan ide-ide baru dan praktek baru, dan
tentang lingkungan, sehingga mereka kurang
dengan pendidikan dapat ditanamkan berpikir
respon untuk dapat menerima informasi yang
kritis, kreatif dan rasional.
bermanfaat bagi dirinya. Di samping itu,
Pendidikan menurut Undang-undang
kebiasaan hidup masyarakat yang selalu
Repubilk Indonesia nomor 20 tahun 2003
membuang sampah di sembarangan tempat,
Bab VI pasal 13, menyatakan: “ pendidikan
sulit untuk diubah dan ketidakpedulian
2

adalah usaha sadar dan terencana untuk kemampuan dan keadaan diri yang
mewujudkan suasana belajar dan proses bersangkutan. Dalam kamus psikologi
pembelajaran agar peserta didik secara aktif persepsi diartikan sebagai proses pengamatan
mengembangkan potensi dirinya untuk seseorang terhadap segala sesuatu di
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, lingkungannya dengan menggunakan indera
pengendalian diri, kepribadian, kecedasan, yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar
akhlak mulia, serta keterampilan yang terhadap segala sesuatu yang ada di
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan lingkungan tersebut (Dali, 1982). Gibson,
negara. Ivancevich dan Donnelly (1996) mengatakan,
Dalam Undang-undang lingkungan persepsi adalah proses pemberian arti
hidup dijelaskan bahwa lingkungan hidup terhadap lingkungan.
adalah kesatuan ruang dengan semua Tinjauan terhadap konsep persepsi,
benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup khususnya untuk objek-objek lingkungan
termasuk di dalamnya manusia dan dapat dikaji melalui dua pendekatan, yaitu :
perilakunya yang mempengaruhi (1) melalui pendekatan konvensional, (2)
kelangsungan prikehidupan dan pendekatan ekologis terhadap lingkungan.
kesejahteraan manusia serta mahluk hidup Menurut Backler dalam Abdurahman (1987),
lain ( Harjosumantri, 1983). hubungan manusia dengan lingkungan
merupakan titik tolak dan merupakan sumber
1.3 Persepsi
informasi, sehingga terlihat individu menjadi
Persepsi pada dasarnya menyangkut
seorang pengambil keputusan. Hubungan
proses informasi pada diri seseorang dalam
antara tingkat pendidikan dan persepsi
hubungannya dengan objek stimulus. Dengan
dengan perilaku ibu rumah tangga dalam
demikian persepsi merupakan gambaran arti
pemeliharaan kebersihan lingkungan dapat
atau interprestasi yang bersifat subjektif,
dirangkai dalam satu model sebagai berikut.
artinya persepsi sangat tegantung pada
2

Lingkungan Alam

Informasi

Tindakan Persepsi Latar Belakang


- Pengalaman
- Pantangan
- Sikap terhadap
alam dsb.
Keputusan

Gambar 1: Skema Persepsi Menurut Backer


Sumber : Abdurahman, Maman (1988)

Berdasarkan pendapat para ahli di sampel, yaitu: penduduknya sangat padat,


atas, maka dalam hal ini yang dimaskud letak rumah yang satu dengan rumah yang
dengan persepsi adalah gambaran, lain sangat dekat (rapat) bahkan terlihat
pemahaman atau pandangan para ibu rumah kurang teratur. Sampah yang menumpuk, dan
tangga dalam memelihara kebersihan membuang limbah di sembarangan tempat,
lingkungan yang berkenaan dengan segenap selokan yang kurang lancar, memberi kesan
unsur yang terdapat dalam lingkungan, bahwa daerah ini kurang bersih dan tidak
khususnya yang menyangkut limbah rumah mencerminkan keindahan. Di samping itu
tangga. pada waktu hujan sering terjadi banjir akibat
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti selokan yang tersumbat, sehingga penyakit
ingin mengungkap kebenaran hubungan menular mudah terjadi.
variabel-variabel tersebut di atas dengan
mengambil populasi dan sampel di daerah 1.4 Perilaku
Mancaga, Kelurahan Panglayungan Perilaku berasal dari kata “peri” dan
Kecamatan Cipedes. Dasar pemilihan “laku”. Peri berarti cara berbuat kelakuan
2

perbuatan, dan laku berarti perbuatan, perilaku yang dikendalikan oleh pusat
kelakuan, cara menjalankan. kesadaran atau otak (kognitif).
(Poerwadarminta, 1976 : 553, 738). Menurut Achmad Ganjar (1997 : 34-41)
Gagne (dalam Ratna Wilis Dahar, 1989 : 11), mengemukakan, timbulnya perilaku (yang
belajar dapat didefinisikan sebagai satu dapat diamati) merupakan resultan dari tiga
proses dimana suatu organisasi berubah daya pada diri seseorang, yakni :
perilakunya sebagai akibat pengalaman. a) daya seseorang yang cenderung untuk
Skinner (dalam Bimo Walgito, 2000 : 17) mengulangi pengalaman yang enak
membedakan perilaku menjadi dua, yakni : dan cenderung untuk menghindari
a. perilaku yang alami (innate behaviour), pengalaman yang tidak enak (disebut
yaitu perilaku yang dibawa sejak conditioning dari Pavlov &
organisme dilahirkan yang berupa Fragmatisme dari James);
refleks-refleks dan insting-insting. b) daya rangsangan (stimulasi) terhadap
b. perilaku operan (operant behaviour) seseorang yang ditanggapi, dikenal
yaitu perilaku yang dibentuk melalui dengan “stimulus-respons theory”
proses belajar. dari Skinner;
Pada manusia, perilaku operan atau c) daa individual yang sudah ada dalam
psikologis inilah yang dominan. Sebagian diri seseorang atau kemandirian
terbesar perilaku ini merupakan perilaku (Gestalt Theory dari Kohler).
yang dibentuk, perilaku yang diperoleh,
2

Teori Teori
Pragmatis Stimulus-
(James) respon
(skinner)

Perilaku

Teori Gestalt
(Kohler)

Gambar 6 : Munculnya Perilaku

1.5Pemeliharaan Kebersihan Lingkungan. Demikian juga kata kebersihan


1). Pengertian Pemeliharaan Kebersihan berasal dari kata keadaan bersih yang berarti
tidak kotor, jernih, suci dan murni. Jadi
Pemeliharaan berasal dari kata kerja kebersihan berarti keadaan bersih, kesucian
“pelihara” yang berarti : hati, (Poerwadarminta, 1976 : 129 – 130).
a. menjaga (membela, merawat, 2). Konsep Pemeliharaan Kebersihan
menyelenggarakan, dsb) baik-baik; Lingkungan
misalnya kesehatan badan. Soekidjo Notoatmodjo (2000 : 147)
b.mengusahakan(mengolah,memiara,men mengemukakan bahwa kesehatan lingkungan
didik) baik-baik;misalnya tanam- di negara-negara yang sedang berkembang
tanaman. berkisar pada sanitasi (jamban), penyediaan
c.menyelamatkan, melindungi, air minum, perumahan, pembuangan sampah,
melepaskan atau meluputkan dari dan pembuangan air limbah (air kotor).
bahaya dsb.
2. Metodologi Penelitian
Jadi pemeliharaan berati perbuatan
2.1 Metode Penelitian
memelihara, penjagaan, perawatan,
Metode Penelitian yang digunakan
penyelamatan dan penghindaran dari bahaya
dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif.
(Poewadarminta, 1976 : 726 – 727).
2

Menurut Ruseffendi (1994, 30), metode rumah tangga dalam pemeliharaan


penelitian deskriptif adalah “ penelitian yang kebersihan lingkungan;
menggunakan observasi, wawancara atau 2) variabel terikat,yaitu perilaku ibu
angket mengenai keadaan sekarang ini, rumah tangga dalam pemeliharaan
mengenai subjek yang sedang kita teliti”. kebersihan lingkungan.
Metode deskriptif digunakan karena Penelitian ini berfungsi untuk
penelitian ini berusaha mendepskripsikan mencari besar hubungan ( r ). Dengan
atau menggambarkan permasalahan yang demikian yang dipelajari yaitu hubungan dan
terjadi pada saat sekarang. Variabel yang kontribusi variabel bebas dengan variabel
diteliti, yaitu : terikat, sehingga kajian penelitian ini lebih
1) variabel bebas masing-masing cenderung bersifat korelasi.
tingkat pendidikan dan persepsi ibu

Variabel Bebas Variabel Terikat

X1

X2

Gambar 7 : Desain penelitian

Keterangan :
X1 = Tingkat Pendidikan
X2 = Persepsi ibu rumah tangga
Y = Perilaku ibu Rumah Tangga dalam pemeliharaan kebersihan Lingkungan

2.2 Populasi dan Sampling populasi yang diteliti (Suharsimi Arikunto,


1993:104).
Populasi adalah jumlah keseluruhan
Populasi dalam penelitian ini, yaitu para
dari unit analisa yang ciri-cirinya akan di
ibu rumah tangga di Rukun Warga /RW 14 di
duga (Singaribun dan Effendi, 1982 : 108),
daerah Mancagar Kelurahan Panglayungan
sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil
Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya,
2

dengan jumlah 461 orang yang tersebar di 7 2). Persepsi ibu rumah tangga dalam
RT (Rukun Tetangga). Selanjutnya dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan
pengolahannya akan diambil secara dalam penelitian ini adalah pandangan
proposional pada setiap RT (lihat tabel para ibu rumah tangga tentang pengaruh
halaman berikut) Adapun sampel lingkungan atau bahaya lingkungan
penelitiannya sekitar 25% dari jumlah akibat limbah rumah tangga meliputi 3
populasi ( 25% x 461 = 116 ). Hal ini sub variable, yaitu persepsi dengan
didasarkan kepada pendapat Arikunto (2002: indikator :
112), bahwa “ untuk sekedar ancer-ancer, a. Persepsi: pengalaman, pengetahuan,
maka apabila subjeknya kurang dari seratus, penalaran, keputusan,
lebih baik diambil semua sehingga kepercayaan, fungsi, dan
penelitiannya merupakan penelitian populasi. sikap.
Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar b. Limbah rumah tangga
dapat diambil antara 10-15%, atau 20-25%, - air buangan
atau lebih”. - sampah rumah tangga
- air deterjen
2.3 Operasional Variabel
- plastik bekas
Untuk mempermudah pengukuran
- batu baterai bekas.
dalam penelitian maka variabelnya adalah
c. Pencemaran lingkungan : air, tanah,
sebagai berikut.
dan udara
1). Tingkat pendidikan dalam penelitian ini
Pengukuran dilakukan dengan
adalah lamanya seseorang menempuh
menggunakan skala ordinal.
pendidikan sekolah. Penskoran dilakukan
dengan mengklasifikasikan tingkat
3). Perilaku ibu rumah tangga dalam
pendidikan yang pernah ditempuh oleh
penelitian ini adalah perilaku ibu rumah
ibu rumah tangga dengan indikator
tangga yang terlibat secara aktif dalam
lulusan pendidikan formal. yaitu meliputi
melakukan hal-hal yang menunjang
tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP,
dalam pemeliharaan kebersihan
tamat SLTA, Tamat Akademi, Diploma
lingkungan, menghindari hal-hal yang
dan tamatan Perguruan Tinggi,
menghambat pemeliharaan kebersihan
Universitas, Institut. dan skala yang
lingkungan, memanfaatkan sarana-sarana
digunakan adalah skala ordinal.
kesehatan, dan mampu mencegah
3

berbagai penyakit serta mampu menjaga Data yang telah terkumpul kemudian
keselamatan diri. Adapun yang akan dianalisis sebagai berikut: pertama, dilakukan
dijadikan indicator dalam penelitian ini analisis deskriptif terhadap data, dan kedua,
adalah sebagai berikut : menguji hipotesis penelitian.
a. Penyimpanan dan membuang sampah. Analisis deskriptif dilakukan dengan
b. Pembuangan air limbah. menyajikan data penelitian yang berupa
c. Kondisi disekitar rumah dan deskripsi data tentang tingkat pendidikan,
d. Kondisi kebersihan rumah. data tentang persepsi ibu rumah tangga
Pengukuran dilakukan dengan mengenai kebersihan lingkungan, dan data
menggunakan skala ordinal. tentang perilaku ibu rumah tangga dalam
memelihara kebersihan lingkungan. Teknik
analisis yang digunakan untuk maksud
4). Teknik Pengumpulan Data
tersebut, yaitu teknik analisis regresi dan
Teknik pengumpulan data dilakukan
korelasi sederhana dan berganda.
dengan melalui instrument berbentuk
Di dalam menggunakan teknik
koesioner dan tes pengetahuan. Teknik ini
analisis tersebut diperlukan beberapa
dilakukan atas dasar pemikiran :
persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan
1. untuk mempermudah komunikasi dengan
tersebut adalah: data berdistribusi normal dan
responden.
hubungan antara variabel bebas dengan
2. relatif mudah, dan dapat menjangkau
variabel terikat bersifat linier. Uji normalitas
banyak responden.
dalam penelitian ini menggunakan uji
Untuk mengumpulkan data dari
Kolmogorov-Smirnov Goodness (KSZ) dan
ketiga variable digunakan teknik kuesioner
uji linieritas dalam penelitian ini
untuk variable pendidikan dan persepsi ibu
menggunakan uji F tuna cocok.
rumah tangga dalam pemeliharaan
Di dalam analisis korelasional untuk
kebersihan lingkungan, sedangkan tes
pengujian hipotesis dilakukan prosedur
digunakan untuk mengukur kemampuan
berikut ini. Pengujian hipotesis pertama yang
responden dalam pengetahuan tentang
berbunyi “terdapat hubungan positif antara
perilaku ibu rumah tangga dalam
tingkat pendidikan dengan perilaku ibu
pemeliharaan kebersihan lingkungan.
rumah tangga dalam memelihara kebersihan
5). Teknik Analisis Data lingkungan”, langkah yang dilakukan adalah:
1) mencari persamaan regresi Y atas X1, 2)
4

menguji kelinieran dan keberartian regresi melalui uji-t, dan 4) menjelaskan koefisien
dengan melalui Tabel ANAVA, 3) pengujian determinasi (r2).
signifikansi koefisien korelasi dengan Pengujian hipotesis ketiga yang
melalui uji-t, dan 4) menjelaskan koefisien berbunyi “terdapat hubungan positif antara
determinasi (r2). tingkat pendidikan dan persepsi ibu rumah
Kemudian, pengujian hipotesis kedua tangga mengenai kebersihan lingkungan
yang berbunyi “terdapat hubungan positif secara bersama-sama dengan perilaku ibu
antara persepsi ibu rumah tangga mengenai rumah tangga dalam memelihara kebersihan
kebersihan lingkungan dengan perilaku ibu lingkungan”, langkah yang dilakukan adalah:
rumah tangga dalam memelihara kebersihan 1) mencari persamaan regresi Y atas X1 dan
lingkungan”, langkah yang dilakukan adalah: X2, 2) pengujian keberartian regresi ganda, 3)
1) mencari persamaan regresi Y atas X2, 2) pengujian signifikansi koefisien korelasi
menguji kelinieran dan keberartian regresi dengan melalui uji-F, dan 4) menjelaskan
dengan melalui Tabel ANAVA, 3) pengujian koefisien determinasi (R2).
signifikansi koefisien korelasi dengan

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan tangga yang memiliki tingkat pendidikan


3.1 Deskripsi Data. menengah dan pendidikan dasar.
Ternyata pada umumnya para ibu rumah
1). Tingkat Pendidikan
tangga masih banyak yang hanya tamatan
Hasil pengolahan data dari
pendidikan dasar.
responden sebanyak 116 orang ibu rumah
tangga menunjukkan bahwa, tingkat 2). Persepsi Ibu Rumah Tangga Tentang
pendidikan terdiri atas tingkat pendidikan Kebersihan Lingkungan
dasar sebanyak 66 orang (56,90%), Hasil pengolahan data dari
tingkat pendidikan menengah sebanyak responden sebanyak 116 orang
30 orang (25,86%) sedangkan tingkat menunjukkan bahwa, rentangan skor
pendidikan tinggi sebanyak 20 orang berkisar antara 31 sampai dengan 93 dan
(17,24%). Berdasarkan data yang skor tengahnya adalah 62. Skor di atas
diperoleh ternyata ibu rumah tangga yang skor tengah dapat diartikan memiliki
memiliki tingkat pendidikan tinggi lebih persepsi yang positif. Skor yang dicapai
sedikit dibandingkan dengan ibu rumah
2

oleh responden adalah skor terendah 63 adalah 88, rata-rata sebesar 68,16 dan
dan skor tertinggi 88, rata-rata sebesar simpangan baku sebesar 9,27.
78,47 dan simpangan bakunya sebesar Berdasarkan data di atas menunjukkan,
5,86. Ternyata bahwa jumlah responden bahwa skor yang paling banyak terletak
terbanyak memiliki skor 41,33 sampai pada kisaran 42,67 sampai dengan 85,30
dengan 82,67 sebanyak 83 orang sebanyak 111 orang (95,69%) atau
(71,55%) atau termasuk kategori tidak termasuk kategori kadang-kadang. Skor
berpendapat. Sedangkan pada skor di di atas 85,30 dicapai sebanyak lima orang
bawah 41,33 tidak seorang pun yang (4,31%) termasuk kategori sering
mencapainya, dengan kata lain tidak ada melakukan. Skor responden yang berada
satu orang pun ibu rumah tangga yang di bawah skor tengah sebanyak 34 orang.
memiliki persepsi tidak setuju terhadap Ini berarti sebanyak 29,31% responden
kebersihan lingkungan. Skor terendah masih memiliki perilaku yang negatif
yang dicapai adalah 63 berada di atas dalam memelihara kebersihan
skor tengah sebesar 62, sehingga dapat lingkungan. Berdasarkan data di atas
disimpulkan bahwa semua ibu rumah ternyata pada umumnya perilaku
tangga memiliki persepsi yang positif responden termasuk kategori cukup, hal
terhadap kebersihan lingkungan. ini dapat dilihat dari skor rata-ratanya
sebesar 68,16 berada sedikit di atas skor
3). Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam tengah sebesar 64. Walaupun demikian,
Memelihara Kebersihan Lingkungan perilaku ibu rumah tangga dalam
Berdasarkan jumlah responden memelihara kebersihan lingkungan
sebanyak 116 orang ibu rumah tangga, rumah tangga termasuk kategori positif.
diperoleh hasil pengolahan data variable
perilaku ibu rumah tangga dalam
3. 2 Pembahasan
memelihara kebersihan lingkungan, yaitu
1). Hubungan antara Tingkat Pendidikan
rentangan skor antara 32 sampai dengan dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga
96 dan skor tengahnya adalah 64. Skor di dalam Memelihara Kebersihan
Lingkungan
atas skor tengah dapat diartikan memiliki Hipotesis pertama yang diajukan
perilaku yang positif (baik). Skor yang dalam penelitian ini adalah terdapat
dicapai oleh responden adalah skor hubungan positif antara tingkat pendidikan
terendah adalah 48 skor, skor tertinggi
3

(X1) dengan perilaku ibu rumah tangga 64,67 + 3,93 X12 + 14,33 X13 pada taraf
dalam memelihara kebersihan lingkungan signifikansi 5%.
(Y). Koefisien korelasi diperoleh sebesar
Pengolahan data untuk variabel 0,565 uji signifikansi terhadap koefisien
tingkat pendidikan seperti sudah korelasi menghasilkan F hitung sebesar
dikemukakan pada bab terdahulu, 26,557 dan F tabel dengan db(2,113) pada
menggunakan dummy variabel dengan alasan taraf signifikansi 5% sebesar 3,08. Ternyata
supaya keseluruhan jenis data menjadi F hitung lebih besar dari F tabel, ini berarti
sejenis. koefisien korelasi ganda tersebut signifikan
Berdasarkan hasil analisis regresi (berarti). Dengan demikian, hipotesis
linier sederhana terhadap data penelitian alternatif diterima, yaitu tingkat
dihasilkan konstanta a sebesar 64,67 dan pendidikan memiliki hubungan yang positif
koefisien arah regresi b1 sebesar 3,93 serta b2 dengan perilaku ibu rumah tangga dalam
sebesar 14,33. Bentuk hubungan antara memelihara kebersihan lingkungan. Semakin
kedua variabel dapat disajikan oleh tinggi tingkat pendidikan akan semakin baik
persamaan regresi Y = 64,67 + 3,93 X12 + perilaku ibu rumah tangga dalam memelihara
14,33 X13, di mana X12 adalah simbol untuk kebersihan lingkungan.
tingkat pendidikan menengah dan X13 untuk
2). Hubungan antara Persepsi Ibu Rumah
tingkat pendidikan tinggi, sedangkan untuk
Tangga tentang Kebersihan
tingkat pendidikan dasar dijadikan variabel
Lingkungan dengan Perilaku Ibu
kontrol atau tetap (Sudjana, 1992).
Rumah Tangga dalam Memelihara
Kekuatan hubungan tingkat
Kebersihan Lingkungan
pendidikan dengan perilaku ibu rumah
Berdasarkan hasil analisis regresi
tangga dalam memelihara kebersihan
linier sederhana terhadap data penelitian
lingkungan pada model persamaan Y = 64,67
dihasilkan konstanta a sebesar 29,97 dan
+ 3,93 X12 + 14,33 X13 dapat dilihat pada
koefisien arah regresi b sebesar 0,49. Bentuk
koefisien determinasi (r2) adalah 0,320. Ini
hubungan antara kedua variabel dapat
berarti tingkat pendidikan memberikan
disajikan oleh persamaan regresi Y = 29,97
sumbangan sebesar 32% terhadap perilaku
+ 0,49 X2.
ibu rumah tangga dalam memelihara
Kekuatan hubungan dapat dilihat dari
kebersihan lingkungan, sisanya dipengaruhi
koefisien determinasi (r2) diperoleh sebesar
oleh variabel lain melalui model regresi Y =
4

0,095, ini berarti bahwa 9,5% variansi taraf signifikansi 5% sebesar 2,67. Ternyata F
persepsi ibu rumah tangga tentang kebersihan hitung lebih besar dari F tabel, ini berarti
lingkungan memberikan konstribusi kepada koefisien korelasi ganda tersebut signifikan.
variansi perilaku ibu rumah tangga dalam Dengan demikian, hipotesis alternatif
memelihara kebersihan lingkungan melalui diterima, secara bersama-sama antara tingkat
model regresi Y = 29,97 + 0,49 X2. pendidikan dan persepsi ibu rumah tangga
Berdasarkan hasil analisis korelasi tentang kebersihan lingkungan mempunyai
terhadap pasangan data diperoleh koefisien hubungan yang positif dengan perilaku ibu
korelasi r sebesar 0,308. Uji signifikansi rumah tangga dalam memelihara kebersihan
koefisien korelasi menghasilkan t hitung lingkungan, koefisien determinasi (r2) adalah
sebesar 3,450, sedangkan t tabel dengan db = 0,342. Ini berarti tingkat pendidikan dan
114 pada taraf signifikansi 5% adalah 1,669. persepsi ibu rumah tangga tentang kebersihan
Ternyata t hitung lebih besar dari t tabel, lingkungan memberikan sumbangan sebesar
maka koefisien korelasi tersebut signifikan. 34,2% terhadap perilaku ibu rumah tangga
Hal ini berarti hipotesis alternatif diterima, dalam memelihara kebersihan lingkungan,
yaitu terdapat hubungan yang positif antara sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya
persepsi ibu rumah tangga tentang kebersihan melalui model regresi Y= 45,68 + 3,71 X12 +
lingkungan dengan perilaku ibu rumah 13,17 X13 + 0,25 X2 pada taraf signifikansi
tangga dalam memelihara kebersihan 5%.
lingkungan.
4.Simpulan dan Saran
3). Hubungan antara Tingkat Pendidikan
dan Persepsi Ibu Rumah Tangga 4.1 Simpulan

tentang Kebersihan Lingkungan Berdasarkan hasil penelitian yang

dengan Perilaku Ibu Rumah Tangga diperoleh dapat diambil kesimpulan

Dalam Memelihara Kebersihan sebagai

Lingkungan berikut:
1).Terdapat hubungan yang positif antara

Koefisien korelasi diperoleh sebesar tingkat pendidikan ibu rumah tangga

0,585 uji signifikansi terhadap koefisien dengan perilaku ibu rumah tangga dalam

korelasi menghasilkan F hitung sebesar memelihara kebersihan lingkungan.

19,377 dan F tabel dengan db(3,112) pada 2).Terdapat hubungan yang positif antara
persepsi ibu rumah tangga tentang
5

kebersihan lingkungan dengan perilaku diantaranya bahwa untuk meningkatkan dan


ibu rumah tangga dalam memelihara mempertebal rasa tanggung jawab dalam
kebersihan lingkungan. memelihara kebersihan di lingkungan
3).Terdapat hubungan yang positif antara sekitarnya, maka akan lebih baik apabila
tingkat pendidikan dan persepsi ibu disertai dengan usaha untuk meningkatkan
rumah tangga tentang kebersihan partisipasi dan keikutsertaan masyarakat
lingkungan dengan perilaku ibu rumah dalam membangun pendidikan. Dengan
tangga dalam memelihara kebersihan meningkatnya mutu pendidikan masyarakat,
lingkungan. terutama bagi generasi muda diharapkan akan
semakin menumbuhkan rasa tanggung jawab
4.2 Saran
dalam mengelola lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh, dapat diajukan beberapa saran

Daftar Pustaka

Abdurahman dan Maman.(1988). Geografi Perilaku : Suatu Pengantar Studi Tentang Persepsi
Lingkungan. Dirjen Dikti,Jakarta.
Bloom, B.S. Krathwohl, D.R., dan Masia, BB., (1973), Taxonomy of Educational Objectives :
Book 1 Cognitives Domain, London : Longman Group.
Camp, W.G., Daugherty, T.B., and Kirts, Carla, (1991), Managing Our Natural Resaurces,
USA : Delmar Publishers Inc.
Fremont E. kast, James E. Rosenzweig (2002), Organisasi dan Manajemen 1, Jakarta, Bumi
Aksara.
Gibson, James L; Ivancevich, J.M , Danelly, Jh.JR. (1988). Organisasi dan manajemen:
struktur, prilaku dan proses, Terjemahan Djoerban wahid. Jakarta: Aksara Baru
.
2

Harjosumantri, Koesnadi. (1983) Hukum tata lingkungan Yogyakarta: Universitas Gadjah


mada.
Peter Salim, (1985), The Contemporary Englihs-Indonesia Dictionary, Jakarta : Modern
English Press.
Robbins. StephenP. (2002), Perilaku Organisasi 1, Konsep, Kontroversi, Aplikasi, Jakarta,
PT.Prenhallindo,
Sidney, Siegel (1985) – Statistika Non Parametrik untuk ilmu-ilmu sosial, jakarta, Gramedia.
Soemarwoto, otto.(1987). Ekologi lingkungan dan pembangunan. Jakarta Jambatan
3