Anda di halaman 1dari 5

KABOHIDRAT

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan : a. isolasi amilum dari umbi/biji-bijian
b. hidrolisis amilum dengan menggunakan asam
c. identifikasi karbohidrat (monosakarida, disakarida,
dan polisakarida) dengan cara mengetahui sifat-
sifat reaksi dan perubahan warnanya
2. Waktu :
3. Tempat :Laboratorium Kimia Dasar FMIPA Universitas
Mataram

B. Landasan Teori
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen, dan oksigen yang
terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH 2O,
misalnya rumus molekul glukosa, C6H12O6( 6 kali CH2O). Senyawa ini pernah
disangka “hidrat dari karbon” sehingga disebut karbohidrat. Monosakarida adalah
satuan karboidrat yang sederhana, mereka tak dapat dihidrolisis menjadi molekul
karbohidrat yang lebih kecil. Monosakarida dapat diikat secara bersama-sama
untuk membentuk dimer, trimern dan sebagainya, dan akhirnya polimer. Dimer-
dimer disebut disakarida. Sukrosa adalah suatu disakarida yang dapat dihidrolisis
menjadi satu glukosa dan satu satuan fruktosa. Monosakarida dan disakarida larut
dalam air dan umumnya terasa manis. Glukosa, monosakarida yang terpenting
kadang-kadang disebut gula darah, gula anggur, atau dextrose. Binatang menyusui
yang dapat mengubah sukrosa, laktosa, maltose, dan pati menjadi glukosa, yang
kemudian dapat digunakan sebagai energy yang digunakan oleh organisme itu,
atau didimpan dalam glikogen (Fessenden dan Fessenden, 1986: 319-320).
Amilum merupakan polisakarida. Polisakarida ini terdapat banyak dialam.,
yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau bahasa sehari-harinya disebut
pati terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian. Batang pohon sagu
mengandung yang setelah dikeluarkan dapat dijadikan bahan makanan rakyat
didaerah Maluku. Umbi yang terdapat pada umbi jalar atau akar pada ketela
pohon atau singkong mengandung pati yang cukup banyak, sebab ketela pohon
tersebut selain dapat digunakan sebagai makanan sumber karbohidrat, juga
digunakan sebagai bahan baku dalam pabrik tapioca. Amilum terdiri atas dua
macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu
amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin (Poedjadi, 2007:36).
Salah satu tanaman yang kaya akan kandungan karbohidrat adalah tanaman
singkong (Manihot utilissima Pohl) termasuk family Euphorbaceae, berupa
tanaman menahun. Singkong berasal dari Amerika Selatan yang tumbuh subur
pada daerah tropis dan subtropis. Singkong merupakan tanaman pangan yang
sangat penting diantara tanaman pertanian lainnya karena dalam pemeliharaannya
mudah dan produktif. Bagian dari tanaman singkong yang dapat dimanfaatkan
adalah daun dan akar-akar yang menebak membentuk umbi. Bagian umbi iuni
banyak mengandung zat tepung atau pati (Ben, dkk, 2007, 1).

G. PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama, bertujuan untuk isolasi amilum dari umbi/biji-
bijian. Pengisolasian amilum yang digunakan pada percobaan ini adalah yang
berasal dari singkong. Singkong atau ubi kayu menghasilkan umbi yang
mengandung pati. Zat gizi yang terkandung dalam 100 gr singkong adalah 154
kalori, 36,8 gr karbohidrat, 1 gr protein, dan 0,3 gr lemak (DKBM, 2000:Dyah,
2000). Pati yang diperoleh dari cairan yang berasal dari singkongyang sudah
dihaluskan, disuspensi dengan etanol 95%. Sebelum disuspensi, campuran
singkong dan air, didekantasi terlebih dahulu. Air dan singkong membentuk suatu
koloid reversible, yaitu suatu koloid yang dapat berubah menjadi tak koloid, dan
kemudian menjadi koloid kembali, sehingga hanya dengan proses sederhana,
yaitu dekantasi, bisa mengendapkan pati pada singkong (Syukri, 1999: 455).
Proses dekantasi dilakukan sebanyak 2 kali untuk memaksimalkan pati yang
didapatkan. Pati setelah proses suspense dengan etanol dan disaring menggunakan
Buchner , didapatkan serbuk yang berwarna putih. Amilum merupakan
polisakarida. Umbi yang terdapat pada singkong mengandung pati yang cukup
banyak, sebab singkong selain digunakan sebagai makanan sumber karbohidrat,
juga digunakan sebagai bahan baku dalam pabrik tapioca. Alasan tersebut yang
mendasari praktikum ini menggunakan singkong, dikarenakan kandungan pati
yang banyak (Poedjadi, 2007: 35).
Percobaan selanjutnya yaitu uji kualitatif karbohidrat. Dari sekian banyak
uji kualitatif pada praktikum ini, yang dilakukan hanya reaksi peragian, reaksi
Molisch, dan reaksi Benedick
a. Reaksi Peragian
Percobaan peragian dilakukan untuk menentukan gula yang dapat
difermentasikan. Larutan karbohidrat ditambahkan dengan suspense ragi dan
didiamkan selama 20 menit-1 jam dalam tabung fermentasi, maka akan muncul
gelembung-gelembung CO2 dari larutan tersebut. Selain muncul gelembung-
gelembung CO2, dari larutan tersebut dapat dicium bau alcohol. Keadaan ini
menunjukkan bahwa karbohidrat dapat mengandung gugus gula yang dapat
difermentasikan (http://ajo-lapbiokimia.blogspot.com/). Pada percobaan reaksi
peragian ini, dilakukan pada dua larutan, yaitu larutan glukosa dan laktosa.
Pada larutan glukosa dan laktosa sama-sama menghasilkan gelembung-
gelembung CO2, hanya saja gelembung CO2 pada laktosa berlangsung lebih
lambat.
b. Reaksi Molisch
Dalam karbohidrat dikenal beberapa pengujian untuk menentukan kandungan
yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah satu test yang dilakukan untuk
menentukan ada tidaknya karbohidrat adalah tes Molisch. Ketika ada beberapa
larutan yang tidak dikenal secara pasti bahwa larutan tersebut mengandung
karbohidrat atau tidak, tes ini bisa dilakukan untuk menentukan adanya
kandungan karbohidrat.
Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin yang berwarna ungu
ketika direksikan dengan α-naftol dan asam sulfat pekat. Karbohidrat dengan
penambahan asam pekat mengalami dehidrasi menjadi furfural. Jika furfural
ditambahkan Molisch (α-naphto) akan mengalami kondensasi yang membentuk
cincin ungu. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka yang digunakan (Harper,
1980) yang menyatakan bahwa uji Molisch memberikan reaksi warna jika
direaksikan dengan protein yag mengandung gugus sakarida.
Reaksi Molisch dilakukan juga terhadap 2 larutan, yaitu untuk glukosa yang
memperlihatkan terbentuknya cincin ungu, begitu juga dengan larutan laktosa,
juga tabung reaksi yang panas karena bahan yang digunakan adalah asam sulfat
pekat yang akan menghasilkan reaksi eksoterm.
c. Reaksi Benedick
Uji benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam suatu
larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi
merah bata. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa
kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan.
Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan
menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga
berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka
semakin gelap warna endapan (http://ajo-lapbiokimia.blogspot.com/).
Pada larutan laktosa terbentuk 3 lapisan warna, yang dari atas secara berurutan
yaitu orange, hijau, dan biru. Laktosa adalah suatu disakarida. Molekul laktosa
masih mempunyai gugus –OH glikosidik . dengan demikian laktosa
mempunyai sifat mereduksi dan mutarotasi (Poedjadi, 2007: 32). Dibandingkan
terhadap glukosa, laktosa mempunyai rasa yang kurang manis. Sebenarnya
laktosa mengandung gula pereduksi, hanya saja sangat sedikit karena pada
tingkatan rasa manis beberapa jenis karbohidrat, laktosa berada pada tingkat
terbawah (Poedjadi, 2007: 33). Sedangkan pada glukosa terbentuk endapan
merah bata, dan glukosa merupakan urutan keempat dari 8 jenis karbohidrat
yang mengandung rasa manis ( Poedjadi, 2007: 33).

H. KESIMPULAN
a. Dalam pengisolasian amilum atau pati, dapat digunakan etanol untuk
mensuspensikan campurannya air dan singkong.
b. Air dan singkong membentuk suatu koloid reversible, yaitu suatu koloid yang
dapat berubah menjadi tak koloid, dan kemudian menjadi koloid kembali
c. Laktosa dan glukosa sama-sama mengandung gugus gula yang dapat
difermentasikan
d. Adanya gugus gula yang difermentasikan dapat diketahui dengan reaksi
peragian
e. Glukosa dan laktosa merupakan salah satu contoh karbohidrat yang dapat
dibuktikan dengan reaksi Mlisch, dengan ditandai adanya cincin ungu
f. Laktosa dan glukosa sama-sama mengandung gula pereduksi, hanya saja pada
laktosa lebih sedikit
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, Ralp J dan Joan S. Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid II. Jakarta:
Erlangga.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Suprayanti. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:
Erlangga.
Ben, Elfi Sahlan, dkk. 2007. Studi Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin
Pati
Singkong dengan Fraksinasi Butanol-Air. Jurnal Sains dan Teknologi
farmasi:
13(1): 1.
Harper, et al. 1980. Biokimia (Review of Physiological Chemistry). Edisi 17.
Jakarta: EGC
Syukri. 1999. Kimia Dasar 2.Bandung: ITB.