Anda di halaman 1dari 13

BAB I Pendahuluan I-1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Berdirinya Pabrik Gas Hidrogen.


Perkebunan kelapa sawit pada beberapa dasawarsa terakhir berkembang dengan
pesatnya di seluruh Indonesia. Total areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada
tahun 2007 mencapai 6.318.000,20 hektar. Perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia
terdapat di provinsi Riau mencapai 1.611.381,60 hektar (Badan Pusat Statistik, 2008).
Perkebunan kelapa sawit umumnya mendirikan pabrik kelapa sawit (PKS) di
lokasi mereka sendiri untuk mengolah tandan kelapa segar menjadi minyak kelapa sawit.
Di provinsi Riau terdapat 116 PKS dengan kapasitas olah tandan kelapa segar mencapai
30 ton/jam (Disbun, 2006).
Perkembangan pesat industri minyak kelapa sawit memberikan dampak lain
berupa hasil limbah yang diperoleh dari hasil produksi minyak kelapa sawit seperti
tandan kelapa kosong, cangkang kelapa sawit, serabut dan Palm Oil Mill Effluent
(POME). Hal ini juga harus dipertimbangkan karena akan berakibat buruk bagi
lingkungan jika limbah tersebut tidak diolah dengan baik. Limbah dari PKS yang diolah
menjadi Crude Palm Oil (CPO) berupa residu biomassa yang dapat dibagi menjadi dua,
yakni residu padat antara lain tandan buah kosong, mesocarp fibres (serat daging buah),
shells (batok), fronds (daun pelepah), trunk (batang pohon), dan residu cair atau biasa
disebut Palm Oil Mill Effluent. Hasil limbah berupa tandan kosong dan cangkang kelapa
sawit pada umumnya digunakan sebagai penambah bahan bakar untuk boiler di PKS, dan
untuk limbah POME biasanya hanya digunakan sebagai biogas karena pengolahannya
menggunakan proses sederhana yaitu dengan membuat kolam terbuka yang berfungsi
untuk mendegradasi limbah POME dengan menggunakan bakteri aerob.
Dalam pengolahan bak terbuka ini memerlukan lahan yang sangat luas dan gas
metana yang terbentuk menjadi salah satu penyebab global warming sehingga perlu
adanya pengoptimalan dari proses pengolahan limbah POME. Dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan rekayasa sistem produksi bioenergi (biogas), POME dapat
dijadikan sumber baku alternatif bioenergi melalui proses fermentasi atau perombakan

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-2

oleh bakteri anaerob menjadi biogas sangat potensial, yaitu dengan cara mengoptimalkan
gas metana yang terbentuk pada proses fermentasi POME untuk dikonversi menjadi gas
hidrogen, dan lumpur pekat sebagai hasil sampingnya dapat digunakan sebagai pupuk
organik.
Gas hidrogen yang dihasilkan dari pabrik ini digunakan sebagai bahan baku pada
proses hidrogenasi minyak kelapa sawit untuk dijadikan margarin. Pada industri olahan
minyak kelapa sawit, gas hidrogen di peroleh dari pabrik-pabrik yang memproduksi gas
hidrogen (industri lain). Mengolah limbah POME yang merupakan limbah hasil produksi
minyak kelapa sawit sehingga menghasilkan produk lain yang digunakan sebagai bahan
baku untuk produksi di pabrik sendiri akan menghemat dan mengoptimalkan produksi
dari pabrik kelapa sawit.

1.2. Analisis Pasar


Dengan melakukan analisa pasar dapat diketahui keadaan pasar sehubungan
dengan pemasaran dari produk yang dihasilkan. Keadaan ini berpengaruh terhadap
penjualan produk dan tentu saja keuntungan yang akan diperoleh.

1.2.1. Produsen Gas Hidrogen Dalam Negeri

Kebutuhan gas hidrogen di Indonesia terus mengalami peningkatan,


terutama dengan adanya rencana penggunaan gas hidrogen sebagai bahan bakar
terbarukan. Berikut adalah penggunaan hidrogen untuk industri.

Tabel 1.1. Penggunaan Gas Hidrogen Industri

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-3

Penggunaan Kebutuhan H2 per Unit Product (m3)*


Sintesis Amonia 1.950 - 2.230/ton NH3
Sintesis Metanol 2,25/kg metanol
Petroleum refining 109/m3 crude oil
Hydrotreating:
- nafta 12/m3
- coking destillates 180/m3
Hydrocracking 475 - 595/m3
Konversi Batubara menjadi:
- Bahan Bakar Cair 1.070 – 1.250/m3
- Bahan Bakar Gas s.d. 1560/(103 SCM syngas)
Konversi Oil Shale menjadi:
- Bahan Bakar Cair 230/m3 oil sintetik
- Bahan Bakar Gas 1.200/(103 SCM syngas)
Produksi Bijih Besi 560/ton bijih besi
Panas Proses 82,4/GJ atau 160/103 kg steam proses

Sumber : departemen peridustrian RI 2010

1.2.2 Perkembangan Impor


Di indonesia penggunaan gas hidrogen pada saat ini sebagian besar
dipakai untuk pendingin. Dari berbagai sektor industri tersebut yang cukup
banyak menggunakan bahan kimia ini. Karena hingga saat ini hidrogen belum
mencukupi kebutuhan di Indonesia maka seluruh kebutuhan tersebut masih harus
dipenuhi melalui impor. Perkembangan impor hidrogen setiap tahunnya tidak

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-4

tetap tergantung dari kebutuhan konsumsi hidrogen setiap tahunnya. Dibawah ini
perkembangan impor hidrogen di Indonesia.
Tabel 1.2. Kebutuhan impor hidrogen di Indonesia

1.2.3 Perkembangan Ekspor

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-5

Perkembangan ekspor saat ini di Indonesia tidak ada karena kebutuhan


hidrogen di Indonesia sendiri masih impor. Oleh karena itu pabrik ini didirikan
untuk memenuhi kebutuhan PT. SMART Tbk, dimana untuk memenuhi gas
hidrogen PT SMART Tbk masih dipasok dari luar negri.
1.2.4 Perkembangan Konsumsi
Prospek permintaan hidrogen di Indonesia dalam tahun-tahun mendatang
diperkirakan masih akan terus meningkat. Dengan melihat perbandingan antara
impor dengan ekspor dapat diketahui bahwa perkembangan konsumsi hidrogen di
Indonesia sama seperti halnya perkembangan impor, konsumsi hidrogen di
Indonesia dalam lima tahun terakhir ini cenderung meningkat.
1.2.5 Prospek Perkembangan Industri Bio-Hidrogen

Dari beberapa data kebutuhan gas hidrogen untuk industri di Indonesia


yang meliputi industri refineri dan industri pupuk, terlihat begitu besar kebutuhan
akan gas hidrogen industri. Apalagi di masa depan penggunaan gas hidrogen tidak
saja untuk industri-industri seperti di atas namun juga meliputi sektor sarana
transportasi, fuel cell, dan industri rumah tangga (memasak, penerangan, pemanas
air, referigerasi, dan lainnya). Dengan demikian potensi kebutuhan gas hidrogen
sangat besar di masa yang akan datang.
Peranan aspek pasar adalah untuk mengetahui keadaan pasar sampai
sejauh mana hasil produksi itu dibutuhkan dipasaran. Besar kecilnya pasar yang
dikuasai oleh perusahaan akan berpengaruh terhadap penjualan produksinya,
berarti pula akan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh. Dari data
perkembangan produksi, konsumsi, ekspor, dan impor yang telah dijabarkan di
atas, maka dapat diproyeksikan suplai dan demand dari tahun 2010 sampai tahun
2015 sebagai berikut:

Tabel. 1.3 Proyeksi Analisis Suplai dan Demand Hidrogen*


Suplai Demand
Ekspo
Tahun Import Produksi Konsumsi
r
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton)

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-6

2010 6010484.707 0 0 6010484.707


2011 33975066.86 0 0 33975066.86
2012 192048599.1 0 0 192048599.1
2013 1085580334 0 0 1085580334
2014 6136387700 0 0 6136387700
2015 34686750327 0 0 34686750327
*dengan asumsi tidak terjadi re-ekspor
Dengan melihat table 1.3 bahwa kebutuhan Hidrogen mengalami peningkatan
tiap tahunnya dan masih dipenuhi dengan impor, maka pabrik yang akan didirikan
mempunyai prospek pasar. Karena pendirian pabrik Hidrogen salah satunya bertujuan
untuk mengurangi ketergantungan impor, maka besarnya peluang pasar berdasarkan
tabel 1.3 pada tahun 2012 adalah 19.204 ton.

1.3 Pemilihan Lokasi


Lokasi pabrik dapat mempengaruhi kedudukan pabrik maupun penentuan
kelangsungan hidupnya. Sebaiknya lokasi yang dipilih harus dapat memberikan
kemungkinan perluasan atau memperbesar pabrik dan memberikan keuntungan jangka
panjang. Penentuan lokasi pabrik yang tepat, ekonomis dan menguntungkan dipengaruhi
oleh beberapa faktor.
Banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi pabrik.
Faktor ini dapat dibagi menjadi faktor primer dan faktor sekunder. Faktor primer terdiri
dari sumber bahan baku, transportasi dan daerah pemasaran. Faktor sekunder terdiri dari
unit pendukung, tenaga kerja, komunitas masyarakat, lahan dan sarana dan prasarana.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka pabrik yang akan didirikan berlokasi di kawasan
PT Smart Tbk yang berada di Dumai Industril Park Riau.

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-7

Gambar 1.1. Dumai Industrial Park

Faktor primer yang menyebabkan Dumai Industrial Park dipilih menjadi lokasi pabrik
gas hidrogen karena :
a) Dekat dengan sumber bahan baku
Pabrik memerlukan bahan baku untuk diolah menjadi suatu produk dan tidak
perlu diangkut dari sumbernya ke lokasi pabrik karena masih dalam 1 lokasi pabrik yaitu
PT.Smart Tbk. Pabrik memperoleh jumlah bahan baku yang dibutuhkan dengan mudah,
harga yang tidak terlalu tinggi serta tidak ada biaya pengangkutan, sehingga apabila
diolah biaya produksinya dapat ditekan dan kualitas produk yang dihasilkan dapat
optimum.

Pembangunan proyek gas hidrogen ini telah terjamin akan kecukupan bahan
bakunya. Bahan baku POME di peroleh dari PT SMATR Tbk yang merupakan industri
kelapa sawit yang berada di Riau. PT SMART memproduksi Crude Palm Oil (CPO)
sebesar 533.000 ton CPO/tahun dan menghasilkan limbah sebanyak 1850.694 m3 POME
/jam (infosawit.com, 2010)

b) Transportasi

Transportasi biasanya meliputi pengangkutan dan pemindahan sampai di tempat


tujuan baik untuk bahan baku maupun produk, dan diusahakan dengan biaya seminim
mungkin. Bahan baku diambil dari PT.SMART Tbk sehingga tidak memerlukan
transportasi khusus untuk pemindahan dan pengangkutan. Transportasi produk
menggunakan jalur pipa gas yang akan langsung dialirkan ke alat yang menggunakan gas
hidrogen. Pabrik ini direncanakan mengambil lokasi di kawasan PT.SMART Tbk
didaerah Kota Dumai Riau jika dilihat dari tata letak Dumai Industrial Park terletak di
pinggir lautan yang memiliki pelabuhan pribadi dan akses jalan raya yang baik menuju
Kota Pekanbaru. Hal ini yang menguntungkan pada saat perancangan awal pabrik (start
up) serta dalam hal pemasarannya.

c) Letak pasar

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-8

Semua pabrik atau industri yang didirikan didasarkan atas adanya permintaan
akan barang yang dihasilkan atau diharapkan dapat diciptakan permintaan (demand) akan
barang yang dihasilkan, sehingga apabila pabrik tersebut sudah didirikan dekat dengan
pemasaran hasil produksinya maka akan dengan cepat melayani konsumen, atau barang
hasilnya dapat cepat sampai ke pasar. Gas hidrogen yang diproduksi akan ditujukan
untuk PT.SMART Tbk sendiri dan sebagian akan dijual sebagai bahan bakar terbarukan
dimana industri yang bergerak dalam bahan bakar berbahan baku gas hidrogen masih
sangat jarang ditemui hal ini perlu di perhitungkan dimana Dumai Industrial Park
mempunyai posisi yang cukup strategis karena di kota ini merupakan kawasan industri
yang terintegrasi yaitu dengan adanya industri-industri yang mengolah bahan baku kelapa
sawit dan menjadikannya produk yang bernilai jual tinggi, sehingga proses pemasarannya
akan lebih mudah dan menjanjikan.
Sedangkan, faktor sekunder yang menyebabkan terpilihnya Dumai Industrial
Park menjadi lokasi pendirian pabrik gas hidrogen adalah :

a) Unit Pendukung (Utilitas)


Perlu diperhatikan prasarana pendukung seperti ketersediaan air, listrik, dan
sarana-sarana lain untuk menunjang proses produksi agar berjalan dengan baik. Dumai
Industrial Park sendiri terletak di pinggir lautan, maka kebutuhan air untuk operasional
pabrik terjamin dengan baik.
Suatu pabrik membutuhkan tenaga listrik untuk keperluan menjalankan alat-alat
produksi dan alat-alat yang mendukung produksi secara keseluruhan. Kebutuhan tenaga
listrik bagi pabrik biasanya cukup besar, sehingga lokasi pabrik dipilih dekat dengan
sumber tenaga listrik. Karena memang diperuntukkan untuk menjadi sebuah kawasan
industri yang dikelola pemerintah, maka di wilayah sekitar Dumai Industrial Park
terdapat sumber tenaga listrik yang dapat digunakan. Sedangkan dalam pabrik ini
direncanakan sebagian kebutuhan listrik akan menggunakan sumber tenaga listrik dari
PLN.

b) Lahan

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-9

Berdasarkan Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1996 tentang kawasan industri,


dimana disebutkan pembangunan di kawasan industri merupakan syarat untuk melakukan
pembangunan dan kegiatan produksi (pasal 15 ayat 2). Oleh karena itu, pendirian pabrik
dilakukan di wilayah sekitar kota Dumai yaitu Dumai Industrial Park memang
dipersiapkan untuk pendirian atau pengembangan pabrik lebih lanjut. Dimana pabrik
biohidrogen ini akan didirikan di areal atau kawasan PT Smart Tbk dengan
memanfaatkan lahan kosong yang tersedia di PT.Smart Tbk.

c) Penanganan Limbah
Limbah yang dihasilkan pada pabrik ini merupakan sludge atau lumpur dimana
limbah tersebut akan langsung digunakan sebagai pupuk organik yang akan di gunakan
untuk pupuk di perkebunan kelapa sawit di Riau.

d) Komunitas Masyarakat
Suatu pabrik dapat berjalan tidak lepas dari faktor penerimaan lingkungan
masyarakat terhadap pendirian dan pengembangan pabrik. Karena masyarakat Provinsi
Riau sudah modern, penduduk sekitar sudah terbiasa dengan lingkungan industri dan
pendirian pabrik baru sudah bisa diterima. Masyarakat Provinsi Riau dan sekitarnya akan
menyambut industri gas hidrogen dengan antusias pasalnya industri tersebut dapat
menciptakan lapangan kerja baru.

e) Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang terampil mutlak dibutuhkan dalam proses suatu pabrik. Untuk
kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi karena terdapat sumber daya manusia yang
berkualitas.

f) Sarana dan Prasarana


Pendirian pabrik juga perlu mempertimbangkan sarana dan prasarana seperti
jaringan telekomunikasi dan fasilitas lainnya. Fasilitas-fasilitas penunjang sudah tersedia
di kawasan Dumai Industril Park Riau. Fasilitas tersebut dapat meningkatkan kinerja
karyawan, diantaranya adalah rumah sakit/poliklinik, rumah ibadah, sekolah, sarana olah
raga, mess pegawai dll.

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-10

I.4 Proses-Proses Komersial Produksi Biohidrogen dari POME


Proses produksi Biohidrogen dari POME dapat dibuat melalui beberapa cara,
antara lain :
I.4.1 Proses Pembuatan Biohidrogen dengan teknologi HPWS
Gas metan dalam biogas adalah hidrokarbon alkana dan memiliki potensi
untuk menggantikan bahan baku hidrokarbon atau fossil fuel. Dengan menggunakan
gas metan dari biogas ini dapat diproduksi gas hidrogen dengan menggunakan cara
yang sama apabila memproduksi gas hidrogen dari LPG. Malahan gas metan yang
diproduksi merupakan gas bertekanan tinggi sehingga proses penguapan tidak lagi
diperlukan. Hanya saja gas metan yang akan digunakan harus tidak mengandung
impuritis (CO2 dan H2S) atau setidaknya sangat sedikit mengandung impuritis.
Proses pemurnian biogas dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi
High Pressure Water Scrubbing (HPWS). Sehingga kualitas gas metan yang
diharapkan dapat diperoleh untuk proses produksi gas bio-hidrogen selanjutnya.
Gas metan yang dihasilkan mencapai 99%. Konversi gas metan menjadi gas
hidrogen melalui dua tahapan reaksi katalitik.
• Tahap pertama adalah Steam Reforming Reaction. Hidrokarbon alkana (CH4)
dikontakkan dengan steam dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan gas CO dan
hidrogen (H2) dengan reaksi sebagai berikut:
����+���� ↔���+ (�/�+�) ��
Reaksi di atas terjadi di dalam unit steam reformer dengan tekanan tinggi (16
barg) dan dengan temperatur > 800oC dengan menggunakan katalis. Untuk
mendapatkan temperatur yang tinggi ini, sebagian gas metan digunakan sebagai
bahan bakar dalam reformer fire box yang juga menghasilkan CO2 tambahan.

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-11

• Tahap kedua adalah Shift-Conversion Reaction. Gas karbon monoksida (CO)


yang terbentuk pada tahap pertama kemudian dikontakkan lagi dengan steam
untuk menghasilkan hidrogen dan CO2 sebagai produk. Reaksi ini terjadi dengan
temperatur yang lebih rendah dalam shift reactor. Reaksi sebagai berikut :
���+����↔����+ ���

Dibawah ini adalah alat teknologi High Pressure Water Scrubbing (HPWS).

Gambar 1.2 Teknologi High Pressure Water Scrubbing (HPWS).

Keuntungan proses dengan teknologi HPWS adalah :


• Sangat selektif untuk metana (CH4)
• Terus menerus menghasilkan kualitas CH4 dengan konstan
• Menghapus CO2 dan H2S dalam satu langkah
• Dry gas dengan menggunakan adsorben silika
• Tidak ada karbon aktif
• Rendah energi yang hilang
• Investasi relatif rendah

1.4.2 Proses Pembuatan Biohidrogen dengan teknologi Pressure Swing Adsorption

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-12

Pressure Swing Adsorption (PSA) merupakan teknik yang terdiri dari empat
buah adsorber, kompresor dan penghilangan H2S. Empat adsorber berisi materi
adsorben (karbon molecular sieve) yang adsorbsi N2, O2, H2O, CO2 dan H2S. Dibawah
ini gambar adalah teknologi PSA.

Gambar 1.3 Teknologi Pressure Swing Adsorption (PSA)

Empat buah adsorber masing-masing beroperasi dalam suatu siklus bolak


adsorpsi, regenerasi dan tekanan build-up. Selama fase adsorpsi, biogas memasuki
di bagian bawah salah satu kolom adsorpsi. CO2 kemudian diserap oleh bahan
adsorpsi. Gas yang meninggalkan di bagian atas berisi lebih dari 97% CH4.

Tepat sebelum bahan adsorpsi jenuh dengan CO2 dan kotoran lainnya,
kolom adsorpsi dihentikan untuk menumbuhkan bahan adsorpsi. Lain kolom
adsorpsi ini kemudian beralih ke adsorpsi lain untuk mendapatkan operasi terus-
menerus. Regenerasi dari bahan adsorpsi dicapai oleh depressurization bertahap
dari kolom untuk tekanan atmosfer dan akhirnya dengan kondisi vakum. Selama
regenerasi juga CH4 dapat dipulihkan yang terjebak dalam rongga bahan adsorpsi.
Aliran yang terdiri dari N2, O2, H2O, CO2 dan CH4. Aliran tersebut dapat didaur
ulang untuk memulihkan metana lebih banyak. Keuntungan dari teknologi PSA
adalah tingginya kadar CH4 (lebih dari 97%) dan rendahnya tingkat emisi dan

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009
BAB I Pendahuluan I-13

limbah.. Disamping itu, molekul karbon juga menyerap N2 dan O2. Kerugiannya
adalah kenyataan bahwa H2S perlu dihilangkan karena masih terbawa di proses
selanjutnya.

Keuntungan proses dengan teknologi PSA adalah :

• Proses kering, tidak ada kimia atau air yang dibutuhkan


• Menghapus CO2 dan H2S dalam satu langkah
• 3 atau 4 buah kolom adsorber yang dibutuhkan
• Konsentrasi CH4 tidak konstan
• Membutuhkan karbon aktif untuk digunakan kembali menyerap CO2
• Kompleks
• Relatif tinggi investasi

I.5 Perbandingan dan Pemilihan Proses


Dari proses yang telah diuraikan sebelumnya dapat dibandingkan sebagai berikut :
Tabel. 1.4 Perbandingan Proses Pembuatan Biohidrogen
No Kondisi Proses Satuan HPWS PSA
1 Chemical - Tidak perlu Perlu (Karbon aktif)
2 Tekanan operasi barg 16 20
o
3 Suhu reaktor C 800 ambient
4 Investasi - murah mahal
5 Kemurnian (%) 99 97

Berdasarkan uraian diatas maka rancangan proses pembuatan biohidrogen yang dipilih
yaitu berdasarkan Proses Pembuatan Biohidrogen dengan teknologi HPWS dengan
mempertimbangkan beberapa hal :
1. Tekanan lebih rendah
2. Tidak memerlukan karbon aktif
3. Kemurnian produk sesuai dengan kebutuhan pasar yaitu min 99%.

Pra Rancangan Pabrik Bio-Hidrogen dari POME M.Nurul Karim


Roy Tondra 114060003
Institut Teknologi Indonesia Intan Rahayu Putri
114070009