Anda di halaman 1dari 13

PROPOSAL TERAPI BERMAIN

MENYUSUN PUZZLE PADA ANAK PRA SEKOLAH

DISUSUN OLEH:

1. PUTRI RIZKI APRILIANI, S. Kep 2130023


2. IFTITA CHURROSIDA, S. Kep 2130024
3. INTAN AGUSTIN, S. Kep 2130025
4. ARIN DWI WIJAYANTI, S. Kep 2130026
5. AYU AMALIYAH, S. Kep 2130027
6. NANDA FITRIANA PARLIN. P, S. Kep 2130028

PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2021-2022
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal terapi bermain menyusun puzzle pada anak pra sekolah dibuat sebagai bukti
telah mengikuti keterampilan praktik Profesi Ners dengan kompetensi Keperawatan Anak pada
tanggal 28 Maret 2022 sampai dengan 27 April 2022 di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.

Surabaya, 28 Maret 2022

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Institusi

Dwi Ernawati, S. Kep., Ns., M. Kep


A. Latar Belakang
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan, baik
dengan tujuan maupun tanpa tujuan. Bermain juga merupakan kebutuhan anak-anak bisa
dilakukan kapan saja, dimana saja dengan siapa saja, menggunakan apa saja, anak bahkan
bisa menikmati kesenangan bermain hanya dengan menggunakan imaginasinya. Kebahagian
dan manfaat bermain untuk anak hanya didapat apabila anak senang melakukannya, dan agar
anak senang melakukannya, inisiatif untuk melakukan aktifitas bermain itu harus datang dari
anak. Suatu aktifitas hanya dapat dikatakan aktifitas bermain apabila anaklah yang
memutuskan apa yang akan dia mainkan dan bagaimana memainkanya (Adriana, 2018).
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara
optimal. Dalam kondisi dirumah saja karena dibatasinya aktivitas bermain anak diluar rumah,
aktivitas bermain ini tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Tujuan bermain di Rumah pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan
dan perkembangan secara optimal, mengembangkan kreatifitas anak dan anak dapat
beradaptasi lebih efektif terhadap stress. Oleh karena itu, pentingnya kegiatan bermain
terhadap tumbuh kembang anak dan mengurangi kebosanan anak saat dirumah, maka akan
dilaksanakan terapi bermain pada anak usia pra sekolah dengan cara bermain puzzle.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan
juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan
pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini
mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat
kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk
mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman,
kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya kurang mendapat
kesempatan bermain.
Terapi bermain yang akan dilaksanakan yaitu bermain menyusun puzzle. Alasan
memilih terapi bermain menyusun puzzle adalah untuk mengembangkan motorik halus,
keterampilan kognitif dan kemampuan berbahasa. Puzzle merupakan salah satu bentuk
permainan yang membutuhkan ketelitian, melatih untuk memusatkan pikiran, karena kita
harus berkonstrasi ketika meyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut hingga menjadi
sebuah gambar yang utuh dan lengkap. Sehingga puzzle merupakan jenis permainan yang
memiliki nilainilai edukatif

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi bermain pada anak 4-6 tahun selama 30 menit, anak
diharapkan bisa mengekspresikan perasaaannya dan bersemangat, merasa tenang dan
senang selama dirumah saja dan dapat melanjutkan tumbuh kembang anak yang
normal dan sehat.
2. Tujuan Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain diharapkan anak mampu :
1) Bisa merasa tenang selama dirumah.
2) Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi pada lingkungan sosialnya
3) Mau melaksanakan anjuran orang tua dan anggota keluarga.
4) Gerakan motorik halus pada anak lebih terarah.
5) Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya saat sudah
bersekolah
6) Ketakutan dan kejenuhan selama dirumah menjadi berkurang.
7) Mengembangkan nilai dan moral anak dengan berdoa sebelum dan sesudah
kegiatan.
8) Dapat melatih koordinasi mata dan tangan
9) Melatih sosial emosi anak

C. TINJAUAN TEORITIS
1. Konsep Bermain
1) Pengertian Bermain
Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak
akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa
yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara
2) Tujuan Bermain.
Tujuan bermain pada anak yaitu memberikan kesenangan maupun mengembangkan
imajinsi anak. Sebagai suatu aktifitas yang memberikan stimulus dalam
kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif sehingga anak akan selau mengenal
dunia, maupun mengembangkan kematangan fisik, emosional, dan mental sehingga
akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas dan penuh inovatif.
3) Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorismotorik,
perkembangan intelektual, perkembangan social, perkembangan kreativitas,
perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.
a. Perkembangan Sensoris – Motorik
Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting
untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan
untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensorismotorik dan alat
permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu
perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.
b. Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna,
bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain pula anak
akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak bermain mobil-
mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka ia
telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan
untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan
imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi
seperti ini akan semakin terlatih kemampuan intelektualnya.
c. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar
berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang
nilai sosial yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia
sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah
adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya
dilingkungan keluarga.
d. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan
mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk
merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu
alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.
e. Perkembangan Kesadaran Diri
Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur
mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan
mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap
orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya sehingga
temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa
perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk
menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya dengan
kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya
terhadap orang lain
f. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama dari
orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat
diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan
kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga
akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan
mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang
telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan
yang tidak baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah
membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang
yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia
toddler dan prasekolah, permainan adalah media yang efektif untuk
mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Oleh
karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak
melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti baik/buruk
atau benar/salah.
4) Kategori Bermain
Bermain harus seimbang, artinya harus ada keseimbangan antara bermain
aktif dan yang pasif yang biasanya disebut hiburan. Dalam bermain aktif
kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri, sedangkan
bermain pasif kesenangan didapatkan dari orang lain.
a. Bermain aktif
a) Bermain mengamati /menyelidiki (Exploratory play)
Perhatikan pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat
permainan tersebut. Anak memperhatikan alat permainan, mengocok-
ngocok apakah ada bunyi mencuim, meraba, menekan, dan kadangkadang
berusaha membongkar.
b) Bermain konstruksi (construction play)
Pada anak umur 3 tahun, misalnya dengan menyusun balok-balok menjadi
rumah-rumahan. Dll.
c) Bermain drama (dramatik play)
Misalnya main sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan saudara-
saudaranya atau dengan teman-temanny
d) Bermain bola, tali, dan sebagainya
b. Bermain pasif
Dalam hal ini anak berperan pasif, antara lain dengan melihat dan
mendengar. Bermain pasif ini adalah ideal, apabila anak sudah lelah bermain
aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contohnya:
a) Melihat gambar- gambar dibuku- buku/ majalah
b) Mendengarkan cerita atau musik
c) Menonton televisi, Dll
5) Hal-hal yang Harus Diperhatikan
a. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
b. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
c. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
d. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain. Jangan
memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.
2. Konsep Bermain Puzzle
1) Pengertian Bermain Puzzel
Puzzel berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang,
media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa
media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang
kemampuan matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang
kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.
2) Fungsi Bermain Puzzel
1. Melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran
2. Melatih koordinasi mata dan tangan. Anak belajar mencocokkan kepingkeping
puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar.
3. Memperkuat daya ingat
4. Mengenalkan anak pada konsep hubungan
5. Dengan memilih gambar/bentuk, dapat melatih anak untuk berfikir matematis
(menggunakan otak kiri).
3) Cara Bermain Puzzel
a. Sediakan kertas puzzel bergambar
b. Bongkar kertas pazzel tersebut
c. Pasang kembali kertas pazzel sesuai pasangannya masing
d. Di anjurkan lebih baik pada bagian ujung kertas terlebih dahulu
e. Setelah itu bagian samping dengan sesuai pasangannya
f. Kerjakan sampai selesai sesuai dengan gambar seperti semula saat kertas
puzzle belum di bongkar
D. SASARAN
Anak-anak yang berada di lingkungan rumah masing-masing mahasiswa. Peserta yang
mengikuti terapi bermain ini adalah anak usia pra sekolah (4-6 tahun) dengan Kriteria :
a. Anak dalam kondisi baik
b. Tidak memiliki keterbatasan fisik
c. Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
d. Anak kooperatif dan bersedia mengikuti terapi bermain

E. PENGORGANISASIAN
1. Waktu dan Tempat :
Hari / Tanggal : Rabu, 30 Maret 2022
Tempat : Lingkungan rumah masing-masing mahasiswa
Sasaran : Anak-anak usia prasekolah 4-6 tahun
Tema : Menyusun Puzzle
Jumlah anak : 6 orang
2. Tim Pelaksana :
a. Pembimbung Pendidikan : Dwi Ernawati, S. Kep., Ns, M.Kep
b. Leader : Intan Agustin
Tugas :
 Mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Memimpin jalannya terapi bermain dari awal hingga berakhirnya terapi
 Membuat suasana bermain agar lebih tenang dan kondusif.
c. Co Leader : Arin Dwi Wijayanti
Tugas :
 Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang
 Membantu memimpin jalannya kegiatan
 Menggantikan leader jika terhalang tugas
d. Fasilitator : Iftita Churrosida, Nanda Fitriaa Parlin. P
Tugas :
 Memotivasi anak agar dapat kooperatif dalam permainan yang akan dilakukan
 Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
 Fasilitator bertugas sebagai pemandu dan memotivasi anak agar dapat kooperatif
dalam permainan yang akan dilakukan.
 Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk melaksanakan kegiatan
 Membimbing kelompok selama permainan
e. Observer : Ayu Amaliyah, Putri Rizki
Tugas :
 Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan waktu, tempat dan
jalannya acara
 Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua angota kelompok dengan
evaluasi kelompok
3. Media (Alat dan Bahan)
Alat bermain :
 Puzzle bergambar
 Laptop / handphone
 Daftar hadir

F. PROSES PELAKSANAAN
No Waktu Terapis Anak
1 5 menit Pembukaan:
1. Leader membuka dan mengucapkan Menjawab salam
salam
2. Memperkenalkan diri Mendengarkan
3. Memperkenalkan pembimbing Mendengarkan
4. Memperkenalkan anak satu persatu Mendengarkan dan saling
dan anak saling berkenalan dengan berkenalan
temannya
5. Kontrak waktu dengan anak Mendengarkan
6. Mempersilahkan co leader Mendengarkan
2 20 menit Kegiatan bermain:
1. Co leader menjelaskan cara bermain Mendengarkan
2. Menanyakan pada anak, anak mau Menjawab pertanyaan
bermain atau tidak
3. Membagikan permainan Menerima permainan
4. Leader dan fasilitator memotivasi Bermain
anak
5. Observer mengobservasi anak Bermain
6. Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan perasaan
3 5 menit Penutup:
1. Leader menghentikan permainan Selesai bermain
2. Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan perasaan
3. Menyampaikan hasil permainan Mendengarkan
4. Memberikan hadiah pada anak yang Senang
cepat dalam menyusun puzzle
5. Membagikan hadiah pada semua Senang
anak yang bermain
6. Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan perasaan
7. Leader menutup acara Mendengarkan
8. Mengucapkan salam Menjawab salam

G. EVALUASI

1. Struktur
a. Pre planning sudah disiapkan dan dikonsulkan 2 hari sebelum kegiatan dilaksanakan
b. Alat/media lengkap dan siap digunakan
c. Tempat/waktu sesuai jadwal
d. Anak hadir di google meet minimal 3 orang
e. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan tugas masing-masing
2. Proses
a. Kegiatan Terapi Bermain yang akan dilaksanakan diharapkan berjalan lancar
b. Pada saat terapi bermain diharapkan terjadi interaksi antara mahasiswa dan sasaran
c. Sasaran yang hadir diharapkan 80% mengikuti terapi bermain dengan baik dan tidak
ada yang meninggalkan tempat sampai kegiatan akhir
3. Hasil
a. 80 % sasaran mampu mengikuti kegiatan terapi bermain dengan perasaan senang dan
bahagia, serta menghasilkan karya dari permainan

Setting tempat :

Keterangan :
2 1. Anak usia prasekolah
2. Orang tua / keluarga
1 3
3. Pemandu / perawat

Keterangan ;
Anak diajak bermain di rumah mereka masing-masing, dengan didampingi oleh
orang tua dan pemandu. Pemandu membagikan alat permainan berupa puzzle bergambar.
Masing-masing anak mendapat permainan yang sama. Anak diberikan kebebasan dalam
memilih gambar yang ada di puzzle bergambar sesuai dengan keingiinannya sendiri.
Observer berada di sekitar anak sambil mengamati jalannya proses bermain. Dengan adanya
proses bermain anak akan senang sehingga akan mengurangi stress. Dengan adanya proses
bermain juga akan membantu proses tumbuh kembang anak.
DAFTAR PUSTAKA

Adriana, Dian. 2018. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak. Jakarta : Salemba
Medika
Immanuel, R. (2019). Permainan Edukatif dalam Perkembangan Logic-Smart Anak.
Kaplan H.I, Sadock. B.J Grebb J.A. 2015. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku,
Psikiatri. Klinis, Alih Bahasa : Kusuma W,edisi Wiguna .
Veltman M,W Browne K.D. 2017. An Evaluation of Favorite Kind of Day Drawing from
Psychially Maltreated Children. Child Abuse and Neglect.
Whaley L.F, Wong D.L. 2018. Nursing Care of infants and children in-ed. St Louis : Mosby year
book

Anda mungkin juga menyukai