Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

CARSINOMA PARU
DI RUANG KEMOTERAPI RSUD ULIN

Untuk Menyelesaikan Tugas Profesi Keperawatan Medikal Bedah


Program Profesi Ners

Disusun Oleh:
MELLYSA, S.Kep
11194692010075

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2020

LEMBAR PERSETUJUAN
LAPORAN PENDAHULUAN CARSINOMA PARU

Tanggal 30 Desember 2021

Disusun oleh :
MELLYSA, S.Kep
NIM 11194692010075

Banjarmasin, 30 Desember 2021

Mengetahui,

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN CARSINOMA PARU

Tanggal Januari 2021

Disusun oleh :
MELLYSA, S.Kep
NIM 11194692010075

Banjarmasin, Januari 2021

Mengetahui,

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Anatomi dan Fisiologi Sistem
1. Anatomi Sistem

a. Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh epitelium gergaris. Terdapat sejumlah
kelenjar sebaseus yang ditutupi oleh bulu kasar. Partikel-partikel debu yang
kasar dapat disaring oleh rambutrambut yang terdapat dalam lubang
hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus
yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Gerakan silia
mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke
superior di dalam sistem pernafasan di bagian bawah menuju ke faring.
Dari sini lapisan mukus akan tertekan atau dibatukkan keluar. Air untuk
kelembaban diberikan oleh lapisan mukus, sedangkan panas yang disuplai
ke udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya akan
pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupa
sehingga bila udara mencapai faring hampir bekas debu, bersuhu
mendekati suhu tubuh, dan kelembabannya mencapai 100% (Pearce,
Evelyn C. 2011).
b. Faring
Terdapat di bawah dasar tengkorak di belakang rongga hidung dan
rongga mulut, dan di depan ruas tulang leher. Merupakan pipa yang
menghubungkan rongga mulut dengan esofagus. Faring terbagi atas 3
bagian : nasofaring di belakang hidung, orofaring di belakang mulut, dan
faring laringeal di belakang laring. Rongga ini dilapisi oleh selaput lendir
yang bersilia. Di bawa selaput lendir terdapat jaringan kulit dan beberapa
folikel getah bening. Kumpulan folikel getah bening ini disebut adenoid.
Adenoid akan membesar bila terjadi infeksi pada faring (Pearce, Evelyn C.
2011).
c. Laring
Terletak di depan bagian terendah faring. Laring merupakan
rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan di sana
terdapat pita suara. Di antara pita suara terdapat ruang berbentuk segitiga
yang bermuara ke dalam trakea dan dinamakan glotis. Pada waktu
menelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis, dan fungsi seperti pintu
pada aditus laring dari epiglotis yang berbentuk daun, berperanan untuk
mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Namun jika
benda asing masih mampu untuk melampaui glotis, maka laring yang
mempunyai fungsi batuk akan membantu menghalau benda dan sekret
keluar dari saluran pernafasan (Pearce, Evelyn C. 2011).
d. Trakea
Panjangnya kurang lebih 9 cm. Trakea berawal dari laring sampai
kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima, trakea bercabang menjadi dua
bronkus. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh lingkaran tak
lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan
fibrosa. Letaknya tepat di depan esofagus. Trakea dilapisi oleh selaput
lendir yang terdiri atas epitelium bersilia. Tempat percabangan bronkus
disebut karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan
spasme dan batuk yang kuat jika dirangsang. Struktur bronkus sama
dengan trakea. Bronkusbronkus tersebut tidak simetris. Bronkus kanan
lebih pendek dan lebih lebar dan merupakan kelanjutan dari trakea yang
arahnya hampir vertikal, sebaliknya bronkus kiri lebih panjang dan lebih
sempit dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih
tajam. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi
bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini
berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai
akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang
tidak mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis memiliki garis tengah
kurang lebih 1 mm. Bronkiolus dikelilingi oleh otot polos bukan tulang rawan
sehingga bentuknya dapat berubah. Setelah bronkiolus terminalis terdapat
asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu tempat pertukaran
gas. Asinus terdiri dari : a) bronkiolus respiratorius b) duktus alveolaris c)
sakus alveolaris terminalis Merupakan struktur akhir paru-paru. terdapat
sekitar 23 kali percabangan mulai dari trakea sampai sakus alveolaris
terminalis. Alveoli terdiri dari satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan di
sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara (Pearce, Evelyn
C. 2011).
e. Paru-paru
Merupakan alat pernafasan utama. Paru-paru merupakan organ
yang elastis, berbentuk kerucut, dan letaknya di dalam rongga dada.
Karena paru-paru saling terpisah oleh mediastinum sentral yang di
dalamnya terdapat jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap
paru-paru memiliki apeks (puncak paru-paru) dan basis. Paru-paru ada
dua. Paru-paru kanan lebih besar dari pada paru-paru kiri. Paru-paru kanan
dibagi menjadi tiga lobus oleh fisura interlobaris, paru-paru kiri dibagi
menjadi dua lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Paru-paru dilapisi
suatu lapisan tipis membran serosa rangkap dua yang mengandung
kolagen dan jaringan elastis yang disebut pleura, yang melapisi rongga
dada dan disebut pleura parietalis dan yang menyelubungi tiap paru-paru
disebut pleura viseralis. Di antara pleura parietalis dan pleura viseralis
terdapat suatu lapisan tipis cairan pleura yang memudahkan kedua
permukaan tersebut bergerak dan mencegah gesekan antara paru-paru
dan dinding dada yang pada saat bernapas bergerak (cairan surfaktan).
Dalam keadaan sehat, kedua lapisan tersebut satu dengan yang lain erat
bersentuhan. Tetapi dalam keadaan tidak normal, udara atau cairan
memisahkan kedua pleura tersebut dan ruang diantaranya menjadi jelas.
Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfer,
mencegah kolaps paru-paru. Secara umum saluran udara pernapasan
adalah sebagai berikut : dari nares anterior menuju ke cavitas nasalis,
choanae, nasopharynx, larynx, trachea, bronchus primarius, bronchus
secundus, bronchus tertius, bronchiolus, bronchiolus terminalis, bronchiolus
respiratorius, ductus alveolaris, atrium alveolaris, sacculus alveolaris,
kemudian berakhir pada alveolus tempat terjadinya pertukaran udara
(Pearce, Evelyn C. 2011).
2. Fisiologis Sistem
Proses fisiologi pernapasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke
dalam jaringan, dan karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat
dibagi menjadi 3.
a. Ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-
paru.
b. Transportasi, yang terdiri dari beberapa aspek : Difusi gas-gas antara
alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah
sistemik dan sel-sel jaringan, Distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan
Reaksi kimia dan fisik dari O2 dan CO2 dengan darah.
c. Respirasi sel atau respirasi internal, yaitu pada saat metabolik dioksidasi
untuk mendapatkan energi, dan CO2 terbentuk sebagai sampah proses
metabolisme sel dan dikeluarkan oleh paru-paru. Jumlah udara yang
diinspirasi atau diekspirasi pada setiap kali bernapas disebut volume tidal
yaitu sekitar 500 ml. Kapasitas vital paru-paru, yaitu jumlah udara maksimal
yang dapat diekspirasi sesudah inspirasi maksimal sekitar 4500 ml. Volume
residu, yaitu jumlah udara yang tertinggal dalam paru-paru sesudah
ekspirasi maksimal sekitar 1500 ml (Pearce, Evelyn C. 2011).
3. Kebutuhan Dasar Manusia
Menurut Maslow membagi hierarki kebutuhan manusia dalam lima
tingkat dasar kebutuhan yaitu:
a. Kebutuhan fisik (physiological needs)
Kebutuhan fisik adalah yang paling mendasar dan paling
mendominasi kebutuhan manusia. kebutuhan ini lebih bersifat biologis
seperti oksigen, makanan, air dan sebagainya. Pemikiran Maslow akan
kebutuhan fisik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pasca Perang Dunia II.
Saat itu, manusia berada dalam kondisi yang begitu memilukan. Salah
satunya adalah dilandanya kelaparan. Oleh karena itu, Maslow
menganggap kebutuhan fisik adalah yang utama melebihi apapun.
b. Kebutuhan akan rasa aman ( Safety needs)
Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, manusia akan cenderung
mencari rasa aman, bisa berupa kebutuhan akan perlindungan,
kebebasan dari rasa takut, kekacauan dan sebagainya. Kebutuhan ini
bertujuan untuk mengembangkan hidup manusia supaya menjadi lebih
baik.
c. Kebutuhan akan kepemilikan dan cinta (The belongingness and love
Needs)
Setelah kebutuhan fisik dan rasa aman terpenuhi, manusia akan
cenderung mencari cinta orang lain supaya bisa dimengerti dan dipahami
oleh orang lain. Jadi, Kebutuhan akan cinta tidak sama dengan kebutuhan
akan seks. Sebaliknya, Maslow menegaskan, kebutuhan akan seks justru
dikategorikan sebagai kebutuhan fisik. Kebutuhan akan cinta ini
menguatkan bahwa dalam hidup, manusia tidak bisa terlepas dari
sesama.
d. Kebutuhan untuk dihargai (The esteem Needs)
Setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, maka sudah menjadi
naluri manusia untuk bisa dihargai oleh sesama bahkan masyarakat.
Maslow mengklasifikasikan kebutuhan ini menjadi dua bagian yaitu,
Pertama lebih mengarah pada harga diri. Kebutuhan ini dianggap kuat,
mampu mencapai sesuatu yang memadai, memiliki keahlian tertentu
menghadapi dunia, bebas dan mandiri. Sedangkan kebutuhan yang
lainnya lebih pada sebuah penghargaan. Yaitu keinginan untuk memiliki
reputasi dan pretise tertentu (penghormatan atau penghargaan dari orang
lain). Kebutuhan ini akan memiliki dampak secara psikologis berupa rasa
percaya diri, bernilai, kuat dan sebagainya.
e. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)
Kebutuhan inilah yang menjadi puncak tertinggi pencapaian manusia
setalah kebutuhan-kebutuhan di atas terpenuhi. Pencapaian aktualisasi
diri ini berdampak pada kondisi psikologi yang meninggi pula seperti
perubahan persepsi, dan motivasi untuk selalu tumbuh dan berkembang.
B. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran
napas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel
yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal.
Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker.
Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker disebut metaplasia
skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya
silia (Sudoyo Aru, dkk. 2008).
Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali
dalam jaringan paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen,
lingkungan, terutama asap rokok (Suryo, 2010).
2. Etiologi
Penyebab dari kanker paru-paru adalah sebagai berikut:
a. Merokok
Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah
diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada
perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang
diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti
merokok (Stoppler,2010).
b. Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok
pasif, atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam
ruang tertutup, dengan risiko terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian
telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi
mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua
kali (Stoppler,2010).
c. Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi
pengaruhnya kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian
akibat kanker paru jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan
dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik juga menyatakan
bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas
tingkat sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka
dengan kelas yang lebih tinggi. Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari
kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung
hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara
kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang
ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4
benzpiren (Stoppler,2010).
d. Paparan zat karsinogen
Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen,
kromium, nikel, polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan
kanker paru (Stoppler, 2010). Risiko kanker paru di antara pekerja yang
menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada masyarakat
umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun
uranium meningkat kalau orang tersebut juga merokok.
e. Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap
betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko
terkena kanker paru (Stoppler, 2010).
f. Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko
lebih besar terkena penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler
memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan
tumor memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya kanker paru.
Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gen-gen K-
ras dan myc), dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen
rb, p53, dan CDKN2) (Stoppler, 2010).
g. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik
juga dapat menjadi risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru
obstruktif kronik berisiko empat sampai enam kali lebih besar terkena
kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan (Stoppler, 2010).
3. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen / sub bronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Perluasan dari lesi primer paru adalah carcinoma bronchogenic,
tumor pada epithelium jalan nafas. Tumor-tumor ini dibedakan berdasarkan
tipe selnya, yaitu : small cell, atau oat cell, carcinoma, dan non-small-cell
carcinoma. Small cell carcinoma kira-kira 25% dari kanker paru, tumbuh
dengan cepat dan menyebar secara dini. Tumor-tumor ini memiliki unsurunsur
paraneoplastik, ini berarti tumor ini menghasilkan lokasi metastasis yang
dipengaruhi oleh tumor secara tidak langsung. Small cell carcinoma bisa
mensintesis bahan bioaktif dan hormon yang berperan sebagai
adrenocorticotropin (ACTH), hormon antidiuretik (ADH), dan sebuah
parathormon seperti hormon dan gastrin releasing peptide. Angka Non small-
cell carcinoma mencapai 75% dari angka kanker paru. Tiap tipe sel berbeda
dari segi insiden, penampakan dan cara penyebaran.Kanker bronkogenik,
tanpa memperhatikan tipe sel, cenderung menjadi agresif, lokal invasif, dam
memiliki penyebaran / metastasis lesi yang luas / jauh. Tumor dimulai sebagai
lesi mukosa yang tumbuh menjadi bentuk massa yang melewati bronki atau
menyerang jaringan sekitar paru. Semua tipe sering menyebar melalui sistem
kelenjar getah bening yang membengkak dan organ lain. Kanker paru
cenderung bermetastasis ke kelenjar limpa, otak, tulang, hati dan organ
lainnya. Kebingungan (konfusi), gangguan berjalan dan keseimbangan, sakit
kepala, perubahan perilaku bisa saja merupakan manifestasi dari metastasis
pada otak. Tumor yang menyebar ke tulang akan menyebabkan nyeri pada
tulang tersebut, fraktur, dan bisa saja menekan spinal cord, seperti halnya
trombositopenia dan anemia jika sumsum tulang di invasi oleh tumor. Ketika
hati di serang, gejala dari kelainan fungsi hati dan obstruksi biliari meliputi
jaundice (penyakit kuning), anoreksia, nyeri pada kuadran kanan atas.
Sindrom vena cava superior, obstruksi sebagian atau seluruh vena cava
superior berpotensi menyebabkan komplikasi pada kanker paru, terutama
pada saat tumor menginvasi ke mediastinum superior atau kelenjar limpa
mediastinal. Baik akut maupun subakut gejalanya dapat dicatat. Terlihat
edema pada leher dan wajah klien, sakit kepala, pening, gangguan
penglihatan, dan sinkop. Vena bagian atas dada dan vena di leher akan
mengalami dilatasi ; terjadinya sianosis. Edema pada cerebral akan mengubah
tingkat kesadaran; edema pada laring dapat merusak sistem pernafasan
(Sylvia & Wilson, 2008).
PATHWAY KANKER PARU-PARU

Polusi Udara Pemajanan Okupasi Radon Diet Vitamin A Rendah


Merokok

Jenis bahan arsenik, asbestos, Gas yang ada dalam tanah Betakaroten
Mengandung TAR Udara banyak mengandung zat
benzpiren, sulfur krom, nikel dan minyak dan bebatuan
Jumlah betakaroten sbg
Hidrokarbon antioksidan rendah
Bahan karsinogenik Karsinogen industrial Karsinogenik
karsinogenik

Tidak ada pertahanan untuk


melawan radikal bebas

Pengendapan bahan karsinogen

Terjadinya proses karsinogenik

Timbul mutasi

Kerusakan transformasi protoonkogen (gen k-ras dan myc) Penonaktifan gen supresor (gen rb, p53 dan CDKN2)

Kurangnya
Defisiensi Pengetahuan KANKER
pajanan
PARU
informasi
Karsinoma sel skuamosa (Epidermoid) Karsinoma sel kecil Karsinoma sel besar Adenokarsinoma Karsinoma sel bronkial
alveolar
Sel kanker berasal dari Sel skuamosa terletak di Sel kanker timbul pada Timbul di bagian
permukaan epitel bronkus tengah sekitar percabangan jaringan paru perifer perifer segmen Berasal dari epitel
utama bronki bronkus alveolus/bronkiolus terminal

Epitel berubah dan menjadi Berdiferensiasi dengan


Mengalami pembelahan sitoplasma yg besar
metaplasia atau displasia Fibrasi interstitial Tampak alveolus
dengan cepat dibatasi sel jernih
Metastase cepat dan penghasil mukus
Timbul tumor yg dapat Lesi dan pelebaran
Metastasis dini ke penyebarannya ke
menyebar ke kelenjar getah pembuluh darah
mediastinum kelenjar limfe tempat yg jauh
bening hilus dan mediastinum

Timbul suara nafas Pasien merasa


Sel tumor mendesak Sel tumor/kanker Sel tumor membesar Produksi mukus meningkat tambahan (krekels dan sesak nafas
mediastinum pada bronkus dan menyumbat ronkhi)
sebagian bronkus
Kerja silia tidak efektif
Menimbulkan Mengganggu
Timbul stimulus
peradangan kronik Sesak nafas istirahat dan tidur
pada sel saraf bebas Sputum terakumulasi
pasien

Sel saraf bebas membawa Terjadinya Mengi Menghambat jalan nafas


informasi ke hipotalamus rangsangan mekanik Sputum putih dan Gangguan Pola Tidur
kental
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Terjadi pengeluaran Menimbulkan Mengeluarkan Menimbulkan bau
mediator kimia reflek batuk sputum berisi
(bradikinin, histamin) darah Menurunkan nafsu makan

Batuk terjadi terus


Timbul respon nyeri menerus Hemopstisis BB menurun ≥ 20%
pada dada

Gangguan Rasa Ansietas Ketidakseimbangan Nutrisi


Nyeri Kronis Nyaman Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

Sel kanker bermetastase Ketidakadekuatan Oksigen di Penatalaksanaan Ca Paru


ke nodus limfe regional dalam jaringan

Menyerang saraf Pemenuhan kebutuhan oksigen Pembedahan Kemoterapi


laringeus rekuren untuk metabolisme tidak cukup

Untuk pasien dengan tumor paru


Timbul suara yang serak Penurunan jumlah pembentukan energi Untuk sel kanker yang belum
sel kecil dan telah bermetastase
menyebar (NSCLC)

Kesulitan berkomunikasi Kelemahan dan mudah lelah


Efek samping
Pre operasi Post operasi
Hambatan Komunikasi Verbal Intoleransi Aktivitas
Menstimulasi zona pemicu kemotaksis Menghambat pembelahan sel normal
Timbul rasa cemas, takut Meninggalkan luka
dan khawatir pada pasien pasca pembedahan Timbul sensasi mual dan muntah Pembelahan pada sel-sel akar
rambut terhambat
Keluar keringat Bekas luka terpapar debu
dingin, gemetar, dan mikroorganisme
jantung berdebar Pasien mengalami Akar rambut menjadi rapuh
Nausea
Sel antibodi bekerja muntah-muntah
melawan mikroorganisme
Ansietas Rambut menjadi
mudah rontok
Terjadi peningkatan
Cairan banyak Elektrolit banyak
jumlah leukosit
keluar keluar Pasien menjadi
botak
Risiko Infeksi
Risiko Risiko
Kekurangan Ketidakseimbangan Timbul rasa malu
Volume Cairan Elektrolit

Menarik diri

Harga Diri
Rendah
4. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala kanker paru yaitu:
a. Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan
oleh obstruksi pada bronkus.
b. Gejala umum.
1) Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor.
Batuk   mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi
berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan
purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
2) Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui
permukaan tumor   yang mengalami ulserasi.
3) Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
1) Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi
adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi.
Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural,
atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2) Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
b. Pemeriksaan sitologi
1) Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2) Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan
ventilasi.
3) Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada
kanker paru).
c. Hispatologi
1) Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi
lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2) Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan
ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
3) Torakoskopi
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan
cara torakoskopi
4) Mediastinosopi.
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang
terlibat.
5) Torakotomi.
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam –
macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal
mendapatkan sel tumor.
6. Penatalaksanaan
a. Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain,
untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan
sebanyak mungkin fungsi paru –paru yang tidak terkena kanker.
b. Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks
khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
c. Pneumonektomi (pengangkatan paru).
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa
diangkat.
d. Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb
atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak
tuberkulois.
e. Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
f. Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit
peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan
paru – paru berbentuk baji (potongan es).
g. Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
h. Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif
dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan
komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap
pembuluh darah/ bronkus.
i. Kemoterapi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk
menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi
luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.
7. Pengkajian Fokus Keperawatan
a. Pengkajian
Nama, umur, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, golongan darah,
pendidikan terakhir, agama, suku, status perkawinan, pekerjaan, TB/BB,
alamat
b. Identitas penanggung jawab
Nama, umur, hubungan keluarga, pekerjaan
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Umumnya keluhan yang dialami meliputi batuk produktif, dahak bersifat
mukoid atau purulen, batuk berdahak, malaise, demam, anoreksia,
berat badan menurun, suara serak, sesak napas pada penyakit yang
lanjut dengan kerusakan paru yang makin luas, serta mengalami nyeri
dada yang dapat bersifat lokal atau pleuritik.

2) Riwayat Kesehatan dahulu


Biasanya memiliki riwayat terpapar asap rokok, industri asbes, uranium,
kromat, arsen (insektisida), besi dan oksida besi, serta mengkonsumsi
bahan pengawet
3) Riwayat Kesehatan keluarga
Biasanya ditemukan adanya riwayat keluarga yang pernah menderita
penyakit Kanker.
d. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum: biasanya ditemukan keadaan umum lemah, sesak
yang disertai dengan nyeri dada
2) Tingkat kesadaran: biasanya mengalami penurunan kesadaran
3) TTV
RR : biasanya mengalami takipnea
N : biasanya mengalami takhikardi
T : biasanya mengalami hipertermi jika ada infeksi
TD : biasanya bisa hipotensi dan hipertensi
4) Kepala dan leher: Peningkatan tekanan vena jugularis, devisiasi trakea
5) Mata: biasanya ditemukan adanya pucat pada konjungtiva sebagai
akibat anemia atau gangguan nutrisi.
6) Kulit: biasanya ditemukan adanya pucat atau sianosis sentral atau
perifer, yang dapat dilihat pada bibir atau ujung jari/ dasar kuku
menandakan penurunan perfusi perifer.
7) Jari dan kuku: biasanya ditemukan adanya sianosis, clubbing finger
8) Muka, hidung dan mulut: biasanya ditemukan adanya pucat atau
sianosis bibir/ mukosa menandakan penurunan perfusi,
ketidakmampuan menelan dan suara serak.
9) Leher: biasanya ditemukan adanya distensi atau bendungan pada vena
jugularis
10) Thorax
Paru: Biasanya ditemukan adanya pernapasan takipnea, napas
dangkal, penggunaan otot aksesori pernapasan, batuk kering/ nyaring/
non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan atau tanpa
sputum, terjadi peningkatan fremitus, krekels inspirasi atau ekspirasi.
Terdengar wheezing, stridor karena adanya obstruksi jalan nafas.
Jantung: Biasanya ditemukan adanya frekuensi jantung mungkin
meningkat/ takikardia, bunyi gerakan perikardial (pericardial effusion).
11) Abdomen: biasanya ditemukan adanya bising usus meningkat/
menurun.
12) System muskuluskeletal: Biasanya ditemukan adanya penurunan
kekuatan otot.
13) System persyarafan: biasanya ditemukan adanya perubahan status
mental.
8. Diagnosa Keperawatan
a. Defisit nutrisi b/d ketidakmampuan menelan makanan
b. Nyeri kronis b/d infiltrasi tumor
c. Ansietas b/d kurang terpapar informasi
d. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d hipersekresi jalan napas
e. Intoleransi aktifitas b/d kelemahan
f. Nausea b/d mual muntah efek kemoterapi
g. Risiko Infeksi
9. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Luaran Perencanaan Keperawatan


Keperawatan SLKI SIKI
Defisit Nutrisi Setelah dilakukan Tindakan Manajemen nutrisi (I.03119)
(D.0019) keperawatan selama 3x24 jam Observasi
diharapkan deficit nutrisi 1. Identifikasi status nutrisi
teratasi dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi alergi dan
Status nutrisi (L.03030) intoleransi makanan
1. Porsi makan yang 3. Identifikasi kebutuhan kalori
dihabiskan, meningkat dan jenis nutrisi

2. Verbalisasi keinginan Terapeutik


1. Fasilitasi menentukan program
untuk meningkatkan
diet
nutrisi, meningkat
2. Sajikan makanan secara
3. Sikap terhadap
menarik dan suhu yang sesuai
makanan/minuman sesuai
3. Berikan makanan tinggi protein
dengan tujuan Kesehatan,
dan tinggi kalori
meningkat
Edukasi
1. Ajarkan program diet yang
disarankan
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan jenis nutria yang
dibutuhkan, jika perlu
Nyeri kronis Setelah dilakukan Tindakan Manajemen nyeri (I.08238)
(D.0078) keperawatan selama 1x24 jam Observasi
diharapkan nyeri kronis 1. Identifikasi lokasi, karakteristik,
teratasi dengan kriteria hasil : durasi, frekuensi, kualitas,
Tingkat nyeri (L.08066) intensitas nyeri.
1. Keluhan nyeri, menurun 2. Identifikasi skala nyeri
2. Meringis, menurun 3. Identifikasi factor yang
3. Gelisah, menurun memperberat dan
4. Pola nafas, membaik memperingan nyeri
5. Nafsu makan, membaik Terapeutik
1. Control lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
2. Fasilitasi istirahat dan tidur
3. Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri
Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi mengatasi
nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgetic secara tepat
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
analgetic, jika perlu
Ansietas Setelah dilakukan Tindakan Terapi relaksasi (I. 09239)
(D.0080) keperawatan selama 1x24 jam Observasi
diharapkan ansietas teratasi 1. Identifikasi penurunan tingkat
dengan kriteria hasil : energi, ketidakmampuan
Tingkat ansietas (L.09093) berkonsentrasi, atau gejala lain
1. Verbalisali khawatiran yang mengganggu
akibat kondisi yang kemampuan kognitif
dihadapi, menurun 2. Identifikasi tektik relaksasi
2. Perilaku gelisah, menurun yang pernah efektif digunakan
3. Perilaku tegang, menurun 3. Periksa ketegangan otot,
4. Anoreksia, menurun frekuensi nadi, tekanan darah
5. Tremor, menurun dan suhu sebelum dan
6. Pucat, menurun sesudah Latihan
4. Monitor respon terhadap terapi
relaksasi
Terapeutik
1. Ciptakan lingkungan tenang
dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu yang
nyaman, jika memungkinkan
2. Berikan informasi tertulis
tentang persiapan dan teknik
relaksasi
3. Gunakan relaksasi sebagai
strategi penunjang dengan
analgetic atau tindakkan medis
lain, jika sesuai
Edukasi
1. Jelaskan tujuan, Batasan dan
teknik relaksasi yang tersedia
2. Jelaskan secara rinci
intervensi relaksasi yang dipilih
3. Anjurkan sering mengulangi
atau melatih Teknik relaksasi
yang dipilih
Bersihan jalan Setelah dilakukan Tindakan Manajemen jalan nafas (I.01011)
nafas tidak keperawatan selama 1x24 jam Observasi
efektif (D.0001) diharapkan bersihan jalan 1. Monitor pola napas
nafas tidak efektif teratasi 2. Monitor bunyi napas tambahan
dengan kriteria hasil : 3. Monitor sputum
Bersihan jalan nafas Terapeutik
(L.01001) 1. Pertahankan kepatenan jalan
1. Batuk efektif, meningkat napas dengan head-tilt dan
2. Produksi sputum, chin-lift
menurun 2. Posisikan semi-fowler atau
3. Frekuensi napas, fowler
membaik 3. Berikan minum hangat
4. Pola napas, membaik 4. Lakukan fisioterapi dada
5. Lakukan penghidapan lender
kurang dari 15 detik
6. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
1. Anjurkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
2. Ajarkan Teknik batuk efektif
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
Intoleransi Setelah dilakukan Tindakan Terapi aktifitas (I.05186)
Aktivitas keperawatan selama 2x24 jam Observasi
(D.0056) diharapkan intoleransi aktifitas 1. Identifikasi deficit tingkat
teratasi dengan kriteria hasil : aktifitas
Toleransi aktifitas (L.05047) 2. Identifikasi kemampuan
1. Kemudahan dalam berpartisipasi dalam aktifitas
melakukan aktifitas tertentu
sehari-hari, meningkat 3. Identifikasi strategi
2. Kecepatan berjalan, meningkatkan partisipasi
meningkat dalam aktifitas
3. Kekuatan tubuh bagian 4. Monitor respon emosional,
atas, meningkat fisik, social, spiritual terhadap
4. Kekuatan tubuh bagian aktifitas
bawah, meningkat Terapeutik
1. Fasilitasi focus pada
kebutuhan bukan deficit yang
dialami
2. Fasilitasi menentukan aktifitas
dan tetapkan tujuan aktifitas
yang konsisten sesuai
kemampuan fisik, psikologis
dan social
3. Fasilitasi pasien dan keluarga
dalam menyesuaikan
lingkungan untuk
mengakomodasikan aktifitas
yang dipilih
4. Fasilitasi aktifitas motoric untuk
merelaksasikan otot
Edukasi
1. Jelaskan metode aktifitas fisik
sehari-hari, jika perlu
2. Ajarkan cara melakukan
aktifitas yang dipilih
3. Ajarkan melakukan aktifitas
fisik, social, spiritual dan
kognitif dalam menjaga fungsi
dari Kesehatan
4. Ajarkan keluarga untuk
memberi penguatan positifatas
partisipasi dalam aktifitas
kolaborasi

Nausea Setelah dilakukan Tindakan Manajemen mual (I.03117)


(D.0076) keperawatan selama 1x30 Observasi
menit, diharapkan nausea - Identifikasi dampak mual
menurun dengan kriteria hasil: terhadap kualitas hidup
Kontrol Mual/Muntah - Identifikasi faktor penyebab
(L.10099) mual.
- Kemampuan melakukan - Monitor mual.
tindakan untuk mengontrol Terapeutik
mual/muntah, dari sedang - Kurangi keadaan penyebab
(3) ke meningkat (5) mual
- Melapor mual/muntah - Berikan makanan dalam jumlah
terkontrol, dari sedang (3) kecil dan menarik
ke meningkat (5) Edukasi
Nafsu makan (L.03024) - Anjurkan istirahat dan tidur
- Keinginan makan, dari yang cukup
cukup menurun (2) ke - Anjurkan sering membersihkan
meningkat (5) mulut
- Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengatasi mual
Manajemen muntah (I.03118)
Observasi
- Identifikasi karakteristik muntah
- Identifikasi faktor penyebab
muntah
- Periksa volume muntah
- Monitor keseimbangan cairan
dan erektrolit
Terapeutik
- Kurangi keadaan penyebab
mual
- Atur posisi untuk mencegah
aspirasi
- Berikan dukungan fisik saat
muntah.
Edukasi
- Anjurkan membawa kantong
plastik untuk menampung
muntah
- Anjurkan memperbanyak
istirahat
- Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengatasi mual.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
antiemetik
Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi (I.14539)
(D.0142) keperawatan selama 1x8 jam Observasi:
diharapkan infeksi tidak terjadi 1. Monitor tanda dan gejala
dengan kriteria hasil: infeksilokal dan sistemik
Tingkat Infeksi (L.14137) Terapeutik:
1. Tidak terjadi demam 1. Batasi jumlah pengunjung
2. Tidak terdapat 2. Cuci tangan sebelum dan
kemerahan sesudah kontak dengan
3. Nyeri berkurang pasien dan lingkungan
4. Ciaran berbau busuk pasien
yang keluar menurun 3. Pertahankan teknik aseptic
Kadar sel darah putih dalam pada pasien beresiko tinggi
batas normal Edukasi:
1. Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
2. Ajarkan cara mencuci tangan
yang benar
DAFTAR PUSTAKA

Maslow, A.H. 1945. Motivation and Personality, New York: Harper and Brothers Publisers.

Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta. Penerbit Salemba Medika

Pearce, Evelyn C. (2011). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama.

Suryo, J., 2010, Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan, B First, Yogyakarta

Sylvia A. & Wilson, Lorraine M. (2008) Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit.
Edisi 6. Jakarta : EGC.

PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

PPNI (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

Sudoyo Aru, dkk. 2008. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta

William C Shield dan Melissa Conrad Stoppler. 2010. Kamus Kedokteran. Jakarta : PT
Indeks