Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM FITOHORMON

Nama : Faradillah Komalasari


NPM : 21901061040
Kelas : A

“GIBERALIN”
Tujuan:Untuk mengetahui peranan giberelin terhadap perkecambahan biji
METODOLOGI
1.1 Alat
Botol kultur, Pinset, Petidish, Gelas ukur, Pipet
1.2 Bahan
Biji kedelai varietas Argomulyo, Kapas, Aquades, Zat pengatur tumbuh
giberelin dengan konsentrasi 0,1 ppm
1.3 Cara Kerja
1.3.1 Perendaman biji

- Disiapkan 3 buah botol kultur untuk peredaman


Botol I : diisi dengan 10 ml aquades, beri label K (kontrol)
Botol II : diisi dengan 10 ml larutan giberelin 0,1 ppm sebagai perlakuan, diberi
label G1 (ulangan 1)
Botol III : diisi dengan 10 ml larutan giberelin 0,1 ppm, beri label G2 (ulangan
2)
- Dipilih biji yang baik kemudian dicuci sampai bersih
- Dimasukkan biji kedalam botol kultur masing- masing berisi 5, keudian tutup
selama 24 jam

1.3.2 Perkecambahan biji

- Disiapkan 3 buah pertidish, diberi label yang sama dengan label perendaman
- Disiapkan kapas kemudian ditetesi dengan aquades hingga basah, dimasukkan
kapas kedalam masing-masing pertidish
- Diambil biji setelah 24 jam, dipindahkan kedalam pertidish sesuai labelnya
- Diletakkan pertidish ditempat yang sejuk, bahkan selama 1 minggu
- Diamati perubahan yang terjadi, meliputi : morfologi biji (warna dan ukuran
biji), dicatat pada hari keberapa biji mulai berkecambah, dihitung beberapa
prosentasi perkecambahan

HASIL DAN PEMBAHASAN


2.1 Hasil Pengamatan
Pengamatan Gambar Perlakuan Keterangan
• Setelah 6 hari masa tanam,
pada perlakuan kontrol
Pengamatan sudah ada beberapa biji
setelah 6 hari yang muncul tunas
masa tanam • Tampak tumbuh akar
• Beberapa biji lainnya

• sudah tumbuh, dengan


biji paling tinggi adalah
10 cm
Biji kedelai yang
• tumbuh tunas masih
terlihat segar, berwarna
hijau
Beberapa biji yang
tidak tumbuh tunas,
berwarna
kuningkecoklatan , dan
ada juga yang
(KONTROL) membusuk
• Setelah 6 hari masa
tanam, pada perlakuan
G1, beberapa biji
telah tumbuh tunas
• • Tampak tumbuh akar
beberapa biji tumbuh
tunas, dengan tunas
yang paling tinggi 11,6
• cm
biji kedelai yang
tumbuh terlihat kurang
segar, dan berwarna
• hijau beberapa biji
tidak tumbuh dan
berwarna kuning
kecokelatan 1 biji
(G1) •
tidak tumbuh dan
permukaan biji
berjamur
• Setelah 6 hari masa
tanam, pada perlakuan
G2, pada petridish 1
dan 2 biji tumbuh
semua
• • Tampak tumbuh akar
Beberapa biji tumbuh
tunas dengan tunas
yang paling tinggi 21,5
• cm
Biji kedelai yang
tumbuh masih tampak
segar, dan berwarna
(G2) hijau
• Terdapat 2 biji yang
tidak tumbuh, 3 biji
lainnya berukuran kecil
dan berwarna hijau

muda-kekuningan
• Setelah 7 hari masa tanam,
pada perlakuan kontrol
sudah ada beberapa biji
yang sudah berkecambah
dan tumbuh tunas. Ada
• beberapa akarnya juga
muncul pada biji. Pada
• perlakuan kontrol biji
paling tinggi adalah 14
cm.
• Beberapa biji yang tidak
tumbuh tunas, berwarna
Pengamatan kuning-kecoklatan , dan
setelah 7 hari (Kontrol) ada juga yang membusuk.
• Biji yang berkecambah
terdapat 3 biji dari 15 biji.
• Setelah 7 hari masa tanam,
pada perlakuan G1 sudah
ada beberapa biji yang
sudah berkecambah dan
tumbuh tunas. Ada
• beberapa akarnya juga
muncul pada biji. Pada
• perlakuan kontrol biji
paling tinggi adalah 28
cm.
• Beberapa biji yang tidak
tumbuh tunas, berwarna
kuning-kecoklatan , dan
(G1) ada juga yang membusuk.
• Biji yang berkecambah
terdapat 8 biji dari 15 biji.

• Setelah 7 hari masa tanam,


pada perlakuan G2 sudah
ada beberapa biji yang
sudah berkecambah dan
tumbuh tunas. Ada
• beberapa akarnya juga
muncul pada biji. Pada
• perlakuan kontrol biji
paling tinggi adalah 24
cm.
• Beberapa biji yang tidak
tumbuh tunas, berwarna
kuning-kecoklatan , dan
(G2) ada juga yang membusuk.

Biji yang berkecambah terdapat


4 biji dari 15 biji
1. KONTROL

2. G2

3. G1

4.
(Pengamatan hari ke-7 secara keseluruhan)

Pembahasan
Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas pangan
terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring
dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan,
akan tetapi produksi kedelai dalam negeri masih rendah. Rendahnya produksi tanaman
kedelai di Indonesia disebabkan oleh kondisi iklim Indonesia yang kurang optimal bagi
pertumbuhan tanaman kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis yang
membutuhkan panjang hari 14-16 jam sedangkan Indonesia dengan iklim tropis memiliki
panjang hari yang hampir konstan yaitu 12 jam. Kondisi tersebut menyebabkan produksi
kedelai di Indonesia masih rendah di bawah produksi kedelai wilayah subtropis (Irwan et al,
2019).
Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan aplikasi zat pengatur pertumbuhan (ZPT)
yang merupakan senyawa organik yang diaplikasikan pada bagian tanaman dan pada
konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respons fisiologis. Zat pengatur
pertumbuhan yang dapat diaplikasikan yaitu asam giberelin.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa giberelin mampu meningkatkan
pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Yennita (2002) dalam Pertiwi et al (2014)
menunjukkan bahwa pemberian giberelin mampu meningkatkan tinggi tanaman dan buku
subur pada seluruh bagian batang tanaman.Hal ini terjadi karena tanaman sangat respons
terhadap giberelin sehingga mengakibatkan pertumbuhan tinggi tanaman dapat terus
meningkat.
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui peranan giberalin terhadap
perjecambahan biji. Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu biji kedelai (Glycine
max L. Merril) yang diberi 3 perlakuan berbeda, yaitu: biji kedelai dengan aquades 10 ml
(kontrol), biji kedelai dengan giberalin 0,1 ppm 10 ml (ulangan 1) (G1), dan biji kedelai
dengan giberalin 0,1 ppm 10 ml (ulangan 2) (G2). Pengamatan dilakukan selama 1 minggu
dan dicatat setiap perubahan yang terjadi.
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan pada 6 hari masa tanam, pada perlakuan
kontrol sudah ada beberapa biji kedelai yang mengalami pertumbuhan tunas, akar, dan
beberapa biji kedelai sudah tumbuh dengan panjang batang 10 cm.
Pada perlakuan G1, beberapa biji telah tumbuh tunas, sudah tampak pertumbuhan
akar dan batang dengan batang yang paling tinggi 11,6 cm. Sedangkan perlakuan G2, pada
petridish 1 dan 2 biji tumbuh semua, tampak tumbuh akar, beberapa biji tumbuh batang
dengan batang yang paling tinggi 21,5 cm.Biji kedelai yang tumbuh masih tampak segar, dan
berwarna hijau.
Setelah 7 hari masa tanam, pada perlakuan kontrol sudah ada beberapa biji yang
sudah berkecambah dan tumbuh tunas. Ada beberapa akarnya juga muncul pada biji. Pada
perlakuan kontrol biji paling tinggi adalah 14 cm. Beberapa biji yang tidak tumbuh tunas,
berwarna kuning-kecoklatan , dan ada juga yang membusuk.
Pada perlakuan G1 sudah ada beberapa biji yang sudah berkecambah dan tumbuh
tunas. Ada beberapa akarnya juga muncul pada biji. Pada perlakuan kontrol biji paling tinggi
adalah 28 cm. Sedangkan perlakuan G2 sudah ada beberapa biji yang sudah berkecambah
dan tumbuh tunas. Ada beberapa akarnya juga muncul pada biji. Pada perlakuan kontrol biji
paling tinggi adalah 24 cm.
Dari hasil pengamatan pada hari ke-6 dan ke-7, perlakuan biji kacang kedelai dengan
giberalin (G2) mengalami pertumbuhan tunas lebih cepat dan lebih panjang dibandingkan
perlakuan kontrol dan G1 pada hari ke-6, sedangkan pada perlakuan kacang kedelai dengan
G1, pada hari ke-7 menunjukkan perubahan yang signifikan dengan pertumbuhan tunas yang
lebih panjang.
Tinggi tanaman yang meningkat diduga disebabkan oleh adanya peningkatan
pembelahan dan pemanjangan sel sehingga tinggi tanaman yang disemprotkan giberelin
lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi tanaman yang tidak disemprotkan giberelin.
Peningkatan tinggi tanaman akibat perlakuan giberelin mendukung salah satu pernyataan
Salisbury dan Ross (1995) dalam Pertiwi et al (2014) yang menyatakan bahwa pemberian
giberelin dapat berakibat pada peningkatan pembelahan dan pertumbuhan sel yang akan
mengarah pada pemanjangan batang dan peningkatan jumlah ruas tanaman.
Hal ini dapat terjadi karena giberalin bekerja pada gen dengan menyebabkan aktivasi
gen-gen tertentu. Gen-gen yang diaktifkan akan membebtuk enzim-enzim baru yang
menyebabkan terjadinya perubahan marphogenetik (penampilan/kenampakan tanaman) salah
satunya penambahan tinggi tanaman (Nazaruddin dan Irmayanti, 2020).
Pada praktikum ini ada beberapa biji kacang kedelai yang tidak menunjukkan
pengaruh terhadap pemberian giberalin. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor yaitu
respons tanaman yang diberi zat pengatur pertumbuhan bergantung pada bagian tanaman
yang diaplikasikan zat pengatur pertumbuhan, konsentrasi zat pengatur pertumbuhan, dan
faktor lingkungan.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat
diambil dari praktikum ini yaitu hasil pengamatan pada hari ke-6 dan ke-7, perlakuan biji
kacang kedelai dengan giberalin (G2) mengalami pertumbuhan tunas lebih cepat dan lebih
panjang dibandingkan perlakuan kontrol dan G1 pada hari ke-6, sedangkan pada perlakuan
kacang kedelai dengan G1, pada hari ke-7 menunjukkan perubahan yang signifikan dengan
pertumbuhan tunas yang lebih panjang.
Tinggi tanaman yang meningkat diduga disebabkan oleh adanya peningkatan
pembelahan dan pemanjangan sel sehingga tinggi tanaman yang disemprotkan giberelin
lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi tanaman yang tidak disemprotkan giberelin.
Pemberian giberelin dapat berakibat pada peningkatan pembelahan dan pertumbuhan sel
yang akan mengarah pada pemanjangan batang dan peningkatan jumlah ruas tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Irwan, A. W, Wahyudin, A & Sunarto, A. 2019. Respon Kedelai Akibat Jarak Tanam dan
Konsentrasi Giberalin Pada Tanah Inceptisol Jatinagor. Jurnal Kultivasi, Vol. 18,
No. 2.
Nazaruddin, M & Irmayanti. 2020. Tingkat Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai
Pada Berbagai Jarak Tanam dan Konsentrasi Giberalin. Aceh: Jurnal Agrium, Vol.
17, No. 1.
Pertiwi, P. D, Agustiansyah, & Nurmiaty, A. 2014. Pengaruh Giberalin (GA3) Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine max (L). Merril.). Lampung:
Jurnal Argoteknologi, Vol. 2, No. 2