Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

Siklus Hidup Parasit Ascaris lumbricoides.


(Diajukan sebagai bentuk tugas Matakuliah Parasitologi)

Dosen Pengampu
Dr. Nour Athiroh Abdoes Sjako, S. Si, M. Kes

Disusun oleh:
Kelompok 3
Ichwan Akbar S. (21901061002)
Rizki Widhiana Lestari (21901061003)
Risa Shava Dwi Ramadhani (21901061007)
Faradillah Komalasari (21901061040)
Misbahuddin Febrian S. (21901061086)

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MALANG
2021/2022
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah...
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Infeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di


negara berkembang termasuk Indonesia. Dikatakan pula bahwa masyarakat
pedesaan atau daerah perkotaan yang sangat padat dan kumuh merupakan
sasaran yang mudah terkena infeksi cacing (Moersintowarti, 1992 dalam
Gulton dan Sihombing, 2018).
Salah satu penyebab infeksi cacing usus adalah Ascaris lumbricoides
atau lebih dikenal dengan cacing gelang yang penularannya dengan perantaraan
tanah (“Soil Transmited Helminths”). Ascaris lumbricoides adalah cacing yang
pertama kali diidentifikasi dan diklasifikasi oleh Linnaeus melalui observasi dan
studinya antara tahun 1730-1750an. Dari hasil observasinya, Linnaeus pergi ke
beberapa tempat di dunia untuk mengonfirmasi wilayah penyebaran parasit
tersebut. Linnaeus diberi kesempatan untuk menamai parasit tersebut (Gulton
dan Sihombing, 2018).
Ascaris lumbricoides merupakan nematoda kedua yang paling banyak
menginfeksi manusia. Ascaris telah dikenal pada masa Romawi sebagai
Lumbricus teres dan mungkin telah menginfeksi manusia selama ribuan tahun.
Jenis ini banyak terdapat di daerah yang beriklim panas dan lembab, tetapi juga
dapat hidup di daerah beriklim sedang. Askariasis adalah penyakit parasit yang
disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides (Ariwati, 2017).
Penyebab utama dari kebanyakan infeksi oleh parasit ini adalah
penggunaan kotoran manusia untuk menyuburkan tanah lahan pertanian atau
perkebunan dimana tanah tersebut digunakan untuk menumbuhkan tanaman
sebagai bahan makanan. Cacing dewasa hidup di dalam usus besar dan telur
yang dihasilkan betinanya terbawa oleh material feses. Pada material tersebut
larva cacing dalam telur berkembang mencapai stadium infektif di dalam tanah.
Makanan yang berasal dari areal agrikultur dimana tanahnya telah
terkontaminasi oleh feses yang berisi telur infektif, dapat mentransmisikan telur
secara langsung ke manusia. Makanan yang terkontaminasi dengan telur infektif
dimakan oleh manusia dan larva tersebut keluar dari telur di dalam usus (Gulton
dan Sihombing, 2018).

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang akan dibahas pada
makalah ini adalah:
1. Apa itu parasit Ascaris lumbricoides ?
2. Bagaimana morfologi parasit Ascaris lumbricoides?
3. Bagaimana siklus hidup dari parasit Ascaris lumbricoides?
4. Bagaimana patogenesis dan gelaja Askariasis?
5. Bagaimana cara pencegahan Parasit Ascaris lumbricoides?

I.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui apa itu parasit Ascaris lumbricoides
2. Mengetahui morfologi parasit Ascaris lumbricoides
3. Mengetahui bagaimana siklus hidup dari parasit Ascaris lumbricoides.
4. Mengetahui patogenesis dan gejala yang ditimbulkan dari Askaris
5. Mengetahui cara pencegahan parasit Ascaris lumbricoides.
BAB II
PEMBAHASAN

II. 1 Pengertian

Ascaris lumbricoides merupakan salah satu nematoda usus yang tergolong dalam
Filum Nematoda dengan Ordo Ascaridida. Nematoda berasal dari kata ni'matuz yang
berarti benang dan odos yang berarti bentuk, sehingga Cacing ini biasa disebut cacing
gelang, yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminth (STH) dan
manusia merupakan hospes satu-satunya bagi parasit satu ini. Gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh cacing ini disebut ascariasis. Ascariasis sendiri termasuk penyakit
cacing yang paling besar prevalensinya diantara penyakit cacing lainnya yang
menginfeksi tubuh manusia (Arafatullah, 2018).
Taksonomi Ascaris lumbricoides.
Phylum : Nematoda
Classis : Secernentea
Ordo : Ascaridida
Familia : Ascarididae
Genus : Ascaris
Spesies : Ascaris lumbricoides. (Arafatullah, 2018).

II. 2 Morfologi
Ascaris lumbricoides memiliki tiga bibir (prominent lips) yang masing- masing
memiliki dentigerous ridge (peninggian bergigi), tetapi tidak memiliki interlabia atau
alae. Ascaris lumbricoides jantan memiliki panjang 15-31 cm dan lebar 2-4 mm, dengan
ujung posterior yang melingkar ke arah ventral, dan ujung ekor yang tumpul. Ascaris
lumbricoides betina memiliki panjang 20-49 cm dan lebar 3-6 mm, dengan vulva pada
sepertiga panjang badan dari ujung anterior. Ascaris betina memiliki ovarium yang luas
dan dapat mengandung 27 juta telur pada satu waktu, dengan 200.000 telur dikeluarkan
setiap harinya (Ariwati, 2017).

Gambar 1. Ascaris lumbricoides, makroskopis


Sumber : Slide Kuliah Prof. Indah Tantular, 2016
Telur yang sudah dibuahi berbentuk oval sampai bulat, dengan panjang 45-75
μm dan lebar 35-50 μm. Dinding uterina cacing menghasilkan lapisan luar yang tebal
dan bergumpal pada telur, sehingga saat telur dikeluarkan melalui feses, lapisan ini
terwarnai oleh cairan empedu sehingga menjadi berwarna cokelat keemasan. Embrio
biasanya belum membelah ketika masih berada di feses.

Telur yang dibuahi Telur yang tidak dibuahi


(fertilised eggs) (unfertilised eggs )
Gambar 2. Telur Ascaris lumbricoides
Sumber : Slide Kuliah Prof. Indah Tantular, 2016

Cacing betina yang belum mengalami inseminasi biasanya mengeluarkan telur


yang belum dibuahi. Telur yang belum dibuahi ini memiliki bentuk yang lebih panjang
dan ramping daripada telur yang telah dibuahi, yaitu sepanjang 88- 94 μm dan lebarnya
44 μm. Lapisan vitelina, kitin, dan lipid pada telur baru terbentuk setelah penetrasi
sperma terhadap oosit, karena itu pada telur yang belum dibuahi, hanya dapat terlihat
lapisan proteinase (Ariwati, 2017).

II. 3 Siklus Hidup


Siklus hidup A. lumbricoides terjadi dalam 3 stadium yaitu stadium telur, larva,
dan dewasa. Siklus ini biasanya membutuhkan fase di luar tubuh manusia (hospes)
dengan atau tanpa tuan rumah perantara (Natadisastra, 2012). Telur cacing yang telah
dibuahi dan keluar bersama tinja penderita akan berkembang menjadi infektif jika
terdapat di tanah yang lembab dan suhu yang optimal dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Seseorang akan terinfeksi A.lumbricoides apabila masuknya telur A. lumbricoides yang
infektif ke dalam mulut bersamaan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi
tanah yang mengandung tinja penderita Ascariasis (Sutanto dkk, 2008 dalam
Arafatullah, 2018).
Gambar 2.3 Siklus hidup A. lumbricoides

Dikutip : Buku Medical Parasitology (Satoskar, 2009)

Telur infektif yang tertelan oleh manusia akan melewati lambung tanpa terjadi
kerusakan oleh asam lambung akibat proteksi yang tebal pada lapisan telur tersebut dan
akan menetas di dalam usus halus. Kemudian larvanya akan secara aktif menembus
dinding usus halus menuju vena porta hati dan pembuluh limfe. Bersama dengan aliran
vena, larva A. Lumbricoides akan beredar menuju jantung kanan dan berhenti di paru
(Soedarto, 2009). Saat di dalam paru-paru larva yang berdiameter 0,02 mm akan masuk
kedalam kapiler paru yang hanya berukuran 0,01 mm maka kapiler tersebut akan pecah
dan larva akan masuk ke alveolus kemudian larva berganti kulit. Larva tersebut akan ke
alveoli lalu naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus setelah dari kapiler paru.
Selanjutnya mengarah ke faring berpindah ke osepagus dan tertelan melalui saliva
atau merayap melalui epiglottis dan masuk kedalam traktus digestivus. Terakhir larva
sampai ke dalam usus halus. Masa migrasi ini berlangsung selama 10 – 15 hari. Cacing
akan berkembang menjadi dewasa, kawin, dan bertelur di usus halus dalam waktu 6 –
10 minggu (Brown dkk, 1994 dalam Arafullah, 2018).
Cara Penularan

Penularan Ascariasis dapat terjadi melalui bebrapa jalan yaitu


masuknya telur yang infektif ke dalam mulut bersama makanan atau
minuman yang tercemar, tertelan telur melalui tangan yang kotor dan
terhirupnya telur infektif bersama debu udara dimana telur infektif tersebut
akan menetas pada saluran pernapasan bagian atas, untuk kemudian
menembus pembuluh darah dan memasuki aliran darah (Soedarto, 1991
dalam Ariwati, 2017).

II. 4 Patogenesis dan gejala Ascaris lumbricoides


Gejala klinis yang timbul dari Ascariasis tergantung dari beratnya
infeksi, keadaan umum penderita, daya tahan, dan kerentanan penderita
terhadap infeksi cacing ini (Natadisastra, 2012). Penderita Ascariasis tidak
akan merasakan gejala dari infeksi ini (asimptomatik) apabila jumlah cacing
sekitar 10-20 ekor didalam tubuh manusia sehingga baru dapat diketahui jika
ada pemeriksaan tinja rutin ataupun keluarnya cacing dewasa bersama
dengan tinja. Gejala klinis yang timbul bervariasi, bisa dimulai dari gejala
yang ringan seperti batuk sampai dengan yang berat seperti sesak nafas dan
perdarahan. Gejala yang timbul pada penderita Ascariasis berdasarkan
migrasi larva dan perkembangbiakan cacing dewasa, yaitu:
1. Gejala akibat migrasi larva A. lumbricoides
Selama fase migrasi, larva A. lumbricoides di paru penderita akan
membuat perdarahan kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan batuk
dan demam. Pada foto thorak penderita Ascariasis akan tampak infiltrat yaitu
tanda terjadi pneumonia dan eosinophilia di daerah perifer yang disebut
sebagai sindrom Loeffler. Gambaran tersebut akan menghilang dalam waktu
3 minggu (Southwick dkk, 2007 Syahria, 2016).
2. Gejala akibat cacing dewasa
Selama fase di dalam saluran pencernaan, gejala utamanya berasal
dari dalam usus atau migrasi ke dalam lumen usus yang lain atau perforasi ke
dalam peritoneum (Rampengan, 2008). Cacing dewasa yang tinggal dilipatan
mukosa usus halus dapat menyebabkan iritasi dengan gejala mual, muntah,
dan sakit perut (Syahria, 2016).
Perforasi cacing dewasa A. lumbricoides ke dalam peritoneum
biasanya menuju ke umbilikus pada anak sedangkan pada dewasa mengarah
ke inguinal. Cacing dewasa A. lumbricoides juga dapat menyebabkan
obstruksi diberbagai tempat termasuk didaerah apendiks (terjadi apendisitis),
di ampula vateri (terjadi pancreatitis haemoragis), dan di duktus choleduchus
terjadi cholesistitis (Zapata dkk, 2007). Anak yang menderita Ascariasis
akan mengalami gangguan gizi akibat malabsorpsi yang disebabkan oleh
cacing dewasa. A. lumbricoides perhari dapat menyerap 2,8 gram karbohidrat
dan 0,7 gram protein, sehingga pada anak-anak dapat memperlihatkan gejala
berupa perut buncit, pucat, lesu, dan rambut yang jarang (Natadisastra, 2012
dalam Syahria, 2016).
Penderita Ascariasis juga dapat mengalami alergi yang berhubungan
dengan pelepasan antigen oleh A. lumbricoides dalam darah dan kemudian
merangsang sistem imunologis tubuh sebagai defence mechanism dengan
gejala berupa asma bronkial, urtikaria, hipereosinofilia, dan sindrom Loeffler
(Alcantara dkk, 2010 dalam Syahria, 2016).
Bila cacing masuk ke dalam saluran empedu, terjadi kolik yang
berat disusul kolangitis supuratif dan abses multiple. Peradangan terjadi
karena desintegrasi cacing yang terjebak dan infeksi sekunder. Desintegrasi
betina menyebabkan dilepaskannya telur dalam jumlah yang besar yang
dapat dikenali dalam pemeriksaan histologi. Untuk menegakkan diagnosis
pasti harus ditemukan cacing dewasa dalam tinja atau muntahan penderita
dan telur cacing dengan bentuk yang khas dapat dijumpai dalam tinja
atau di dalam cairan empedu penderita melalui pemeriksaan mikroskopik
(Soedarto, 1991 dalam Ariwati, 2016).

II. 5 Pencegahan
Pencegahan bisa dilakukan dengan Pembinaan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat ( PHBS), seperti :
1. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman
2. Membiasakan mencuci tangan sebelum makan
3. Membiasakan menggunting kuku secara teratur
4. Membiasakan diri buang air besar di jamban
5. Membiasakan diri membasuh tangan dengan sabun sehabis buang
air besar
6. Membiasakan diri mencuci semua makanan lalapan mentah dengan
air yang bersih
Dan dengan beberapa perilaku lainnya seperti berikut :
1. Drainase diperbaiki
2. Kampanye penggunaan jamban keluarga
3. Mencegah penggunaan tinja sebagai pupuk terutama tinja manusia
4. Pemberian obat cacing (obat pirantel pamoat dan albendazole)
secara rutin tiap 6 bulan sekali
5. Pengembangan sarana dan prasarana air bersih (Syafitri dan Sumiati,
2018).
BAB 3
PENUTUP

III. 1 Kesimpulan
Ascaris lumbricoides merupakan salah satu nematoda usus yang
tergolong dalam Filum Nematoda dengan Ordo Ascaridida. Nematoda
berasal dari kata ni'matuz yang berarti benang dan odos yang berarti
bentuk, sehingga Cacing ini biasa disebut cacing benang/cacing gelang,
yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminth (STH) dan
manusia merupakan hospes satu-satunya bagi parasit satu ini.
Ascaris lumbricoides jantan memiliki panjang 15-31 cm dan lebar
2-4 mm, dengan ujung posterior yang melingkar ke arah ventral, dan ujung
ekor yang tumpul. Ascaris lumbricoides betina memiliki panjang 20-49 cm
dan lebar 3-6 mm, dengan vulva pada sepertiga panjang badan dari ujung
anterior. Siklus hidup A. lumbricoides terjadi dalam 3 stadium yaitu
stadium telur, larva, dan dewasa. Siklus ini biasanya membutuhkan fase di
luar tubuh manusia (hospes) dengan atau tanpa tuan rumah perantara.
Gejala klinis yang timbul bervariasi, bisa dimulai dari gejala yang
ringan seperti batuk sampai dengan yang berat seperti sesak nafas dan
perdarahan. Cacing dewasa yang tinggal dilipatan mukosa usus halus
dapat menyebabkan iritasi dengan gejala mual, muntah, dan sakit perut.
Pencegahan bisa dilakukan dengan Pembinaan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat ( PHBS), seperti : Tidak menggunakan tinja sebagai
pupuk tanaman, membiasakan mencuci tangan sebelum makan,
membiasakan menggunting kuku secara teratur, membiasakan diri buang
air besar di jamba, membiasakan diri membasuh tangan dengan sabun
sehabis buang air besar.
III. 2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu perlu adanya referensi dan penelusuran lebih
mendalam terkait dengan penyebaran parasit Ascaris lumbricoides.
DAFTAR PUSTAKA

Arafatullah, H. 2018. Cacing Gelas (Ascaris lumbricoides). Semarang:


Universitas Muhammadiyah Semarang.
Ariwati, N.L. 2017. Infeksi Ascaris lumbricoides. Bali: Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana
Gulton, E dan Sihombinh, J. R. 2018. Analisis Telur Cacing Ascaris lumbricoides
Pada Feaces Anak Usia 4-6 Tahun di TK Nurul Hasanah Walbarokah
(NHW) Marean Tahun 2018. Medan: Universitas Sari Mutiara Indonesia.
Syahfitri, A dan Sumiati. 2018. Infeksi Kecacingan Pada Anak Usia 8-14 Tahun
di RW 007 Tanjung Lengkong Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, Jakarta
Timur. Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 10, No.1
Syahria, S. 2016. Ascariasis. Jakarta: Universitas Indraprasta.