Anda di halaman 1dari 4

M.

Ekaditya Albar / 0806331683 Paper Praktikum Metalografi


Pengaruh Perlakuan Panas T6 dan T4 terhadap Kekerasan Aluminium

Aluminium merupakan logam non ferrous dan merupakan logam kedua terbesar yang dipergunakan
oleh industri komponen setalah baja. Kelebihan dari logam aluminium antara lain: memiliki berat ⅓ dari
berat baja (ρ: 2.7 Kg / dm3), memiliki konduktifitas panas dan listrik yang baik, ratio kekuatan dan berat
yang tinggi, tahan terhadap korosi, memiliki sifat formability yang baik serta mudah dicetak.

Adapun menurut kemampuannya terhadap perlakuan panas, logam ini dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu paduan Al yang tidak dapat dilaku panas dan paduan Al yang dapat dilaku panas. Paduan Al
yang tidak dapat dilaku panas (non heat-treatable) tidak dapat ditingkatkan kekerasannya melalui proses
perlakuan panas. Kekuatannya hanya dapat ditingkatkan dengan pengerjaan dingin (cold work). Sedangkan
paduan Al yang hot-treatable dapat ditingkatkan kekerasannnya dengan proses perlakuan panas.

Perlakuan panas yang umum dilakukan pada paduan aluminium adalah annealing dan pengerasan
pengendapan (Precipitation Hardening). Proses annealing sendiri pada logam Al dapat dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu: anneal proses, anneal homogenisasi dan anneal stress relief.
 Anneal Proses
Prosedur dan fungsi anneal sama seperti yang dilakukan pada baja, hanya rentang temperatur
prosesnya lebih rendah, yaitu sekitar 150-250oC, dan laju pendinginannya adalah 28oC/jam.
 Anneal Homogenisasi
Proses anneal ini akan menghomogenisasi struktur yang tidak seragam akibat proses pengecoran,
sehingga sifat mekanik paduan akan seragam pada setiap bagian. Temperatur anneal yang
digunakan bervariasi tergantung pada paduannya, biasanya lebih tinggi dibandingkan temperatur
pada anneal proses.
 Anneal Stress Relief
Proses anneal ini penting untuk mendapatkan kontrol dimensi yang teliti pada part aluminium.
Temperatur perlakuan rendah dan waktu tahan pendek sekitar 15 menit, dilakukan setelah
machining untuk menghilangkan tegangan sisa. Yang harus diwaspadai adalah anneal stress relief
akan menurunkan sifat mekanis paduan Al yang di-age hardening, sehingga harus dilakukan hanya
sebatas tercapai nilai optimalnya. Contoh aplikasinya adalah part panjang, part datar dan luas,
melingkar, serta bentuk kompleks.

Proses perlakuan panas Al yang paling umum dilakukan adalah proses pengerasan pengendapan
(Precipitation Hardening). Prinsip pengerasan ini adalah terbentuknya inklusi dari fasa kedua yang
menguatkan logam. Proses ini disebut juga Age Hardening, yaitu proses dimana endapan dari unsur
paduan non ferrous yang berasal dari larutan padat lewat jenuh (Super Saturated Solid Solution / SSSS),
menghalangi pergerakan butir pada paduan, sehingga akan meningkatkan kekuatan dan kekerasan paduan
non ferrous, termasuk di dalamnya logam aluminium.
1
M.Ekaditya Albar / 0806331683 Paper Praktikum Metalografi
Syarat terbentuknya penguatan dengan Precipitation Hardening adalah unsur pemadu dalam logam
dasar memiliki perbedaan kelarutan dengan naiknya temperatur. Pada logam Aluminium, salah satu
contohnya adalah paduan Al–Cu, dimana kelarutan Cu rendah pada temperatur rendah dan meninggi
seiring dengan meningkatnya temperatur.

Gambar 1. Proses Precipitation Hardening

Proses-proses yang terdapat pada Precipitation Hardening beserta penjelasannya adalah sebagai
berikut:
 Solution Treatment
Pemanasan sampai temperatur T0 dimana semua atom paduan dalam Aluminium akan larut.
Contoh pada paduan Al-Cu. Cu larut dalam Al membentuk fasa tunggal (α).
 Quenching
Proses quenching / pendinginan cepat tidak memungkinkan adanya difusi. Proses ini
menghasilkan larutan padat lewat jenuh (SSSS) pada temperatur T1. Pada T1 , fasa yang setimbang
adalah α+β, namun fasa β sendiri tak sempat terbentuk.
 Ageing
Benda kerja dipanaskan sampai T2 , dimana larutan padat lewat jenuh mulai membentuk fasa β.
Fasa ini muncul dalam bentuk endapan halus yang terdispersi dan meningkatkan kekuatan logam.
Lamanya pemanasan tergantung pada tahapan terbentuknya endapan yang menguatkan secara
optimum.

Proses heat treatment pada paduan aluminium dengan metode precipitation hardening beserta
hubungannya dengan struktur kristal atom-atom penyusunnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

2
M.Ekaditya Albar / 0806331683 Paper Praktikum Metalografi

Gambar 2. Kurva Ageing pada Precipitation Hardening

Gambar 3. Mekanisme Terbentuknya Presipitat pada Proses Ageing

 Pada awal proses ageing, endapan memiliki susunan yang masih mengikuti bentuk kisi logam
induk (koheren), sehingga menimbulkan tegangan di sekitar kisi logam induk.
 Endapan semakin besar dan sebagian masih mengikuti bentuk kisi logam dasar (semi koheren).
Tegangan di daerah sekitar endapan semakin besar dan kekerasan paduan semakin besar hingga
mencapai maksimum.
 Endapan kemudian membentuk struktur sendiri yang berbeda dari struktur susunan logam induk
(inkoheren), sehingga tegangan di sekitar endapan berkurang dan menurunkan kekerasan. Jika
pada kondisi ini ageing tetap dilanjutkan, maka kekerasan akan terus menurun dan disebut
kondisi over-ageing.

Paduan Aluminium yang dilaku panas Precipitation Hardening, diberikan beberapa notasi untuk
menyatakan kondisi perlakuan panas dari paduan tersebut, contohnya T6 dan T4. Proses yang dilakukan
pada Al T6 yaitu solution treatment, quench dan ageing pada temperatur antara 160-250oC. Sedangkan
proses pada Al T4 yaitu solution treatment, quench dan ageing temperatur ruang (natural ageing).

3
M.Ekaditya Albar / 0806331683 Paper Praktikum Metalografi
Jika dilihat dari suhu ageing-nya, Al T6 dilakukan pada suhu cukup tinggi, yaitu 160-250oC, sedangkan
Al T4 dilakukan ageing pada suhu ruang (Natural Ageing). Sesuai dengan teori precipitation hardening pada
mata kuliah Metalurgi Fisik 1, perlakuan ageing yang dilakukan pada suhu tinggi akan menghasilkan
kekerasan dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan ageing yang dilakukan pada suhu ruang.
Hal ini dikarenakan ageing suhu tinggi memiliki driving force tinggi yang berasal dari temperatur proses
sehingga proses berlangsung lebih cepat. Heat input ini digunakan untuk membentuk presipitat atau fasa
kedua. Hal ini berbeda dengan natural ageing yang tidak mendapat suplai energi panas sehingga waktu
untuk mencapai kekerasan maksimumnya lebih lama.

Jika dilihat dari nilai kekerasan


yang dihasilkan, proses natural ageing
pada paduan Al T4 akan menghasilkan
kekerasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan paduan Al T6
pada proses artificial ageing (160-
250oC). Hal ini dikarenakan pada proses
ageing suhu tinggi, presipitat yang
terbentuk tidak koheren (membentuk
struktur sendiri yang berbeda dengan
susunan logam matriksnya) sehingga Gambar 4. Hubungan Temperatur Ageing dengan Nilai
tidak efektif dalam menghambat Yield Strength

dislokasi. Selain itu, ageing suhu tinggi juga akan menyebabkan pembesaran ukuran presipitat sehingga
kurang optimal dan kekerasannya menurun (over-ageing). Sedangkan pada natural ageing, presipitat yang
terbentuk akan meliputi fasa koheren, semi koheren dan inkoheren dimana pada fasa semi koheren
endapan semakin besar dan sebagian masih mengikuti bentuk kisi logam dasar (semi koheren). Tegangan di
daerah sekitar endapan semakin besar dan kekerasan paduan semakin besar hingga mencapai nilai
maksimum.

Referensi:
Slide Kuliah Heat and Surface Treatment (HST), Dr. Ir. Myrna Ariati Mochtar M.S. Depok, 2010
Slide Kuliah Metalurgi Fisik 1, Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si. Depok, 2009