Anda di halaman 1dari 27

1

DERET FOURIER

1. PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan dibahas pernyataan deret dari suatu fungsi periodik.
Jenis fungsi ini menarik karena sering muncul dalam berbagai persoalan
fisika, seperti getaran mekanik, arus listrik bolak-balik (AC), gelombang
bunyi, gelombang Elektromagnet, hantaran panas, dsb.
Sama halnya seperti pada uraian deret Taylor, fungsi-fungsi periodik yang
rumit dapat dianalisis secara sederhana dengan cara menguraikannya ke
dalam suatu deret fungsi periodik sederhana yang dibangun oleh fungsi
ix
sin x dan cos x atau fungsi eksponensial e . Uraian deret fungsi periodik
ini disebut uraian deret Fourier. Penamaan ini untuk menghargai jasa
matematikawan Perancis Joseph Fourier, yang pertama kali merumuskan
deret ini dalam sebuah makalah mengenai hantaran panas, yang
dilaporkannya kepada akademi ilmu pengetahuan Perancis pada tahun
1807.

2. FUNGSI PERIODIK
Definisi 1:
Sebuah fungsi f(x) dikatakan periodic dengan periode T > 0, jika berlaku:
f(x + T) = f(x)
untuk samua x.
catatan:
(a) Jika T adalah periode terkecil, maka T disebut periode dasar, dan
selang a < x < a + T , dimana a sebuah konstanta, disebut selang
dasar fungsi periodik f(x). Untuk selanjutnya sebutan periode
dimaksudkan bagi periode dasar ini.
(b) Konstanta a pada selang dasar dapat dipilih sembarang, berharga nol
atau negatif. Pilihan a = - T/2 sering digunakan untuk memberikan
selang dasar yang simetris terhadap x = 0, yakni selang – T/2 < x <
T/2.
2

Contoh fungsi periodik yang paling sederhana adalah fungsi sin x dan
cos x, karena:
sin (x ±2π) = sin x dan cos (x ±2π) = cos x
Yang menunjukkan bahwa keduanya memiliki periode T = 2π. Dalam hal
ini x adalah variabel sudut dengan satuan radian atau derajad. Bila x
bukan merupakan variabel sudut, maka x harus dikalikan dengan suatu
faktor alih p, sehingga px = α berdimensi sudut. Jadi satuan p adalah:
[radian]
[ satuan p ] =
[ Satuan x]
Misalkan x berdimensi panjang, dengan satuan meter (m), maka satuan
p = rad/m. Dengan demikian pernyataan fungsi Sin dan Cos yang
bersangkutan menjadi:
sin x  sin px ; cos x  cos px
Jadi translasi sudut α = px sebesar satu periode T = 2π dapat dialihkan
ke translasi variabel x sejauh + T, dengan syarat:
px ± 2π = p ( x ± T )
Hubungan ini mengaitkan p dengan T melalui hubungan:

p=
T
Dengan pernyataan faktor alih ini, sifat periodik fungsi sin px dan cos px
diberikan oleh hubungan:
sin px = sin p ( x ± T ); cos px = cos p ( x ± T )
Yang memperlihatkan bahwa sin px dan cos px adalah periodik dengan
periode T. Khusus dalam hal T = 2π, maka p = 1.
Salah satu contoh sederhana benda bermassa m yang digantungkan
pada ujung sebuah pegas dengan tetapan pegas k.

titik kesetimbangan
3

Jika benda ditarik sejauh A dari kedudukan setimbangnya, kemudian


dilepaskan, benda tersebut akan bergerak secara harmonik sederhana
akibat adanya gaya pemulih yang arahnya selalu berlawanan dengan arah
simpangan benda. Simpangan vertikal benda y(t) setiap saat t berubah-
ubah dari kedudukan setimbangnya, menurut persamaan:
y (t ) = A cos(ωt + Φ 0 )

Besaran A dan ω berturut-turut adalah amplitudo dan frekuensi sudut


getaran, sedangkan Φ = (ωt + Φ 0 ) adalah fase getaran, dengan Φ0 sebagai

fase awalnya, yang berdimensi sudut.


Jika T adalah periode atau waktu getar (waktu yang diperlukan benda
untuk melakukan satu kali getaran) yang diukur dalam satuan detik, maka
ω = 2π / T , bersatuan (rad/s). Dengan demikian ω merupakan faktor alih
(p) yang membuat ωt berdimensi sudut.

3. DERET FOURIER
Andaikan f(x) adalah sebuah fungsi periodik dengan periode T yang
terdefinisikan dalam selang dasar a < x < a + T, yakni f(x) = f (x + T), maka
fungsi f(x) dapat diuraikan dalam deret Fourier sebagai berikut:
a0 ∞ nπx nπx
f ( x) = + ∑ (a n cos + bn sin )
2 n =1 L L
Dengan koefisien-koefisien a0, an, dan bn yang disebut sebagai koefisien-
koefisien Fourier, ditentukan oleh fungsi f(x) melalui hubungan integaral:
a +T
1
a0 =
L ∫ f ( x)dx
a
a +T
1 nπx
an =
L ∫
a
f ( x) cos
L
dx

a +T
1 nπx
bn =
L ∫
a
f ( x) sin
L
dx

dengan T = periode dan L = ½ periode.


4

Contoh 1.
Diketahui fungsi f(x) sebagai berikut:
1, − π < x < 0
f ( x) = 
0, 0 < x < π
Periodik dengan periode 2π sehingga f(x + 2π) = f(x)
Uraikan fungsi ini dalam uraian deret Fourier.
Pemecahan:
Menurut definisi fungsi periodik, periode fungsi f(x) di atas adalah T = 2π,
dengan demikian L = ½ T = π, selang dasarnya –π < x < π, jadi a = - π. Di
luar selang ini, f(x) didefinisikan sebagai perluasan selang dasar ke arah
kiri dan kanan sumbu x, seperti terlihat pada Gambar 1.
f(x)

1
x
-5π -4π -3π -2π -π π 2π 3π 4π 5π

Gambar 1

Koefisien-koefisien Fourier dapat dicari sebagai berikut:


a +T π π
1 
0
1 1
a0 =
L ∫ a
f ( x)dx =
π ∫
−π
f ( x)dx =  ∫ (1)dx + ∫ (0)dx 
π −π 0 
π
0 0
1 1
a0 =
π ∫π dx = π ( x)
− −π
=
π
=1

a +T π
1 nπx 1 nπx
an =
L ∫ a
f ( x) cos
L
dx =
π −
∫π f ( x) cos L
dx

π
1  1
0 0
a n =  ∫ (1). cos nx.dx + ∫ (0) cos nxdx  = ∫ cos nx.dx
π  −π 0  π −π
0
1 1 
a n =  sin nx  =
1
(sin 0 + sin nπ ) = 0
π n  −π n π
5

a +T π
1 nπx 1 nπx
bn =
L ∫
a
f ( x) sin
L
dx = ∫ f ( x) sin
π −π L
dx

π
1  1 0
0

π −∫π ∫0
bn =  (1). sin nx.dx + ( 0 ) sin nxdx  = ∫ sin nx.dx
 π −π
0
1 1 
bn =  − cos nx  = −
1
(cos 0 − cos(nπ ) ) = − 1 (1 − (−1)n )
π n  −π nπ nπ
− 2 / nπ , n ganjil
bn = 
 0, n genap

Dengan demikian, uraian Fourier untuk fungsi f(x) pada contoh ini adalah:
a0 ∞  nπx nπx 
f ( x) = + ∑  a n cos + bn sin , a n = 0
2 n =1  L L 
1 ∞ 2 nπx
f ( x) = + ∑− sin
2 n =1 nπ π
ganjil

1 2 1 1 
f ( x) = +  − sin x − sin 3 x − sin 5 x − L
2 π 3 5 
1 2 1 1 
f ( x) = −  sin x + sin 3 x + sin 5 x + L
2 π 3 5 

Contoh 2.
Diketahui fungsi f(x) sebagai berikut:
1, 0 < x < 1
f ( x) = 
0, 1 < x < 2
Periodik dengn periode 2 sehingga f (x + 2) = f(x)
Uraikan fungsi ini dalam uraian deret Fourier.
Pemecahan:
Periode T = 2, sehingga L = ½ T = 1. selang dasarnya 0 < x < 2, jadi a = 0.
Perluasan f(x) dalam daerah kiri dan kanan sumbu x dapat dilihat dalam
Gambar 2.
f(x)

1
x
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

Gambar 2
6

Koefisien-koefisien Fouriernya dapat dicari sebagai berikut:


a +T
1 1
2
1 2

a0 =
L ∫
a
f ( x)dx = ∫ f ( x)dx =1∫ (1)dx + ∫ (0)dx 
10 0 1 
1
a 0 = ∫ dx = ( x) 0 = 1
1

a +T
nπx nπx
2
1 1
an =
L ∫
a
f ( x) cos
L
dx = ∫ f ( x) cos
10 1
dx

 1 2
 1
a n = ∫ (1). cos nπx.dx + ∫ (0) cos nπxdx  = ∫ cos nπx.dx
0 1  0
1

an =
1
(sin nx ) = 1 (sin nπ − sin 0 ) = 0
nπ 0 nπ
a +T
nπx nπx
2
1 1
bn =
L ∫
a
f ( x) sin
L
dx = ∫ f ( x) sin
10 1
dx

 1 2
 1
bn = ∫ (1). sin nx.dx + ∫ (0) sin nxdx  = ∫ sin nπx.dx
0 1  0
1

bn = −
1
(cos nπx ) = − 1 (cos nπ − cos 0) = − 1 ((−1)n − 1)
nπ 0 nπ nπ
 2 / nπ , n ganjil
bn = 
 0 , n genap

Dengan demikian, uraian Fourier untuk fungsi f(x) pada contoh ini adalah:

a0 2
f ( x) = +∑ sin nπx
2 n =1 nπ
ganjil

1 2 2 2 
f ( x) = +  sin πx + sin 3π x + sin 5πx + L
2 π 3π 5π 
1 2 1 1 
f ( x) = +  sin πx + sin 3π x + sin 5πx + L
2 π 3 5 

SYARAT DIRICHLET
Persyaratan sebuah fungsi f(x) agar dapat dinyatakan dalam deret Forier
ditentukan oleh syarat Dirichlet berikut:
7

Jika:
(a) f(x) periodik dengan periode T
(b) Bernilai tunggal serta kontinu bagian demi bagian dalam selang
dasarnya; a < x < a + T, dan
a +T
(c) ∫
a
f ( x) dx nilainya berhingga.

Maka deret Fourier di ruas kanan konvergen ke nilai :


(1) f(x) di semua titik kekontinuan f(x) dan

(2)
1
{lim f ( x0− ) + lim f ( x0+ )} di setiap titik ketakkontinuan x0
2
(pada daerah lompatan).

Contoh 3.
Pada contoh 2 di atas (Perhatikan Gambar 2!); Tentukanlah konvergen ke
1 3 3 −5
nilai berapa deret fourier tersebut di titik-titik kekontinuan x = , , , ,
2 2 4 2
dan di titik-titik ketakkontinuan x = 0, 1, 2, 3.
Pemecahan
Menurut syarat dirichlet, maka
• di titik-titik kekontinuan:
x = 1/2 konvergen ke 1 x = 3/4 konvergen ke 1
x = 3/2 konvergen ke 0 x = -5/2 konvergen ke 0
• di titik-titik ketakkontinuan:
x=0 konvergen ke ½ (0 + 1) = ½
x=1 konvergen ke ½ (1 + 0) = ½
x=2 konvergen ke ½ (0 + 1) = ½
x = -3 konvergen ke ½ (1 + 0) = ½ .
8

4. FUNGSI GANJIL DAN FUNGSI GENAP


Perhitungan koefisien-koefisien Fourier sering kali dipermudah, jika fungsi
f(x) yang diuraikan memiliki sifat istimewa tertentu, yakni genap atau ganjil
terhadap sumbu x = 0 (sumbu f(x)). Keduanya didefinisikan sebagai
berikut:
Definisi 2.
Sebuah fungsi f(x) adalah:
(a) genap, jika berlaku f(-x) = f(x)
(b) ganjil, jika berlaku f(-x) = - f(x)
untuk semua x dalam daerah definisi f(x).
Sebagai contoh, fungsi x2 dan cos x adalah fungsi genap, karena (-x)2 = x2
dan cos (-x) = cos x. Sedangkan fungsi x dan sin x adalah fungsi ganjil,
karena (-x) = -(x) dan sin (-x) = - sin (x). Pada umumnya fungsi pangkat
genap dari x seperti (x2, x4, x6 , . . .) merupakan fungsi genap dan fungsi
pangkat ganjil dari x seperti (x, x3, x5, . . .) merupakan fungsi ganjil.
Dengan definisi di atas dapat dicari contoh-contoh lain dari kedua fungsi
ini.
Untuk menentukan koefisien-koefisien Fourier a0, an, dan bn dari fungsi
periodik genap dan ganjil ini dipergunakan perumusan berikut:
 a 0 = 2 f ( x ) dx
L

 L ∫0


Jika f ( x) genap  2 L nπx
 a n = L ∫ f ( x ) cos L dx
 0

 bn = 0

Dalam hal ini dikatakan f(x) teruraikan dalam deret cosinus (bn = 0).
 a0 = 0



Jika f ( x) ganjil  an =0


 bn = 2 ∫ f ( x ) sin nπx dx
L

 L0 L
9

Dalam hal ini, f(x) dikatakan teruraikan dalam deret sinus (an = 0).
Seperti biasa L = ½ T = ½ periode.

Contoh 4.
Diketahi fungsi:
1 1
f ( x) = x 2 , − <x<
2 2
Periodik dengan periode 1, sehingga f(x + 1) = f(x).
Nyatakan fungsi tersebut dalam deret Fourier.
Pemecahan :
Fungsi f(x) = x2 adalah suatu fungsi genap T = 1, sehingga L = ½ T = 1/2 ,
akan teruraikan dalam deret cosinus. bn = 0, a0 dan an dapat ditentukan
sebagai berikut:
L 1/ 2 1/ 2
2 2 1  41 1
a 0 = ∫ f ( x)dx = ∫ x dx = 4 x 3  =   =
2

L0 1 3 0 38 6
  0

2
nπx nπx
L 1/ 2
2 2
an = ∫ dx = ∫x
2
f ( x) cos cos dx
L0 L 1 L
  0

2
1/ 2
a n = 4 ∫ x 2 cos 2nπxdx
0
1/ 2
 1 1 2 
a n = 4 x 2 cos 2nπx + 2 x cos 2nπx − sin 2nπx 
 2 nπ ( 2 nπ ) ( 2 nπ )
2 2
0
 1 
a n = 4 cos nπ 
 ( 2 nπ )
2

1  (−1) n 
an =  
π 2  n2 
Dengan demikian uraian deret Fourier untuk f(x) = x2 dengan selang dasar
-½ < x < ½ adalah:
10

a0 ∞ nπx
f ( x) = + ∑ a n cos , bn = 0
2 n =1 1/ 2
1 1 (−1) n

f ( x) = + 2
12 π

n =1 n
2
cos 2nπx

1 1  2πx 4πx 6πx 


f ( x) = + 2 − cos 2 − cos 2 − cos 2 − L
12 π  1 2 3 
1 1  2πx 4πx 6πx 
f ( x) = − 2 cos 2 + cos 2 + cos 2 + L
12 π  1 2 3 

Contoh 5
Diketahui fungsi:
π π
f ( x) = x ; − <x<
2 2
Periodik dengan periode π, sehingga f (x + π) = f(x).
Nyatakan fungsi tersebut dalam deret Fourier.
Pemecahan:
π
Fungsi f(x) = x adalah fungsi ganjil dengan T = π, sehingga L = , akan
2
teruraikan dalam deret sinus. a0 = 0, an = 0, bn dapat dicari sebagai berikut:
π /2
nπx nπx
L
2 2
bn =
L0∫ f ( x) sin
L
dx =
π /2 ∫
0
x sin
π /2
dx

π /2 π /2
4 4 1 1 
π ∫0
bn = x sin 2 nxdx =  − x cos 2 nx + sin 2 nx 
π  2n ( 2n ) 2 0
4 π  (−1) n
bn =  − cos nx  = −
π  4n  n

Dengan demikian uraian deret Fourier untuk f(x) = x dengan selang dasar
π π
− <x< adalah:
2 2
11


nπx
f ( x) = ∑ bn sin
n =1 L

(−1) n nπx ∞
(−1) n
f ( x) = ∑ − sin = ∑− sin 2nx
n =1 n π / 2 n =1 n
 sin 2 x sin 4 x sin 6 x 
f ( x) =  − + − L
 1 2 3 

5. DERET FOURIER JANGKAUAN SETENGAH


Dalam suatu persoalan fisika, fungsi f(x) mungkin hanya terdefinisikan
dalam suatu selang positif; 0 < x < L. Oleh karena itu seringkali perlu untuk
memperluasnya ke seluruh sumbu x, baik ke arah sumbu x positif maupun
ke arah sumbu x negatif. Dalam hal ini ada 3 pilihan yang dapat dilakukan
sebagai berikut:
(1) Fungsi f(x) diperluas menjadi fungsi periodik tidak ganjil – tidak genap
(seperti pada contoh 1) dengan periode T = L; dan selang dasarnya 0
< x < L, dengan L sembarang positif.
(2) Selang dasar 0 < x < L diperluas ke selang negatif secara simetris
terhadap sumbu x = 0 menjadi – L < x < L, dan fungsi f(x) diperluas
menjadi fungsi periodik dengan periode T = 2L.
Dalam hal ini kita mempunyai dua pilihan yakni memperluas fungsi f(x)
sebagai fungsi genap fc(x) atau fungsi ganjil fs(x).

Contoh 6
Diketahui sebuah fungsi yang terdefinisi pada setengah daerah:

f(x)
 x, 0 < x < 1
f ( x) =  Sket: 1
1, 1 < x < 2
x
0 1 2
12

Nyatakan fungsi ini dalam:


(a) deret Fourier fungsi cosinus (fungsi genap)
(b) deret Fourier fungsi sinus (fungsi ganjil)
(c) deret Fourier fungsi cosinus – sinus (fungsi tidak genap – tidak ganjil).
Pemecahan:
(a) Pernyataan fungsi dalam deret Fourier cosinus (fungsi genap)
Untuk membentuk fungsi genap, maka selang dasar (0 < x < 2) di atas
diperluas ke selang negatif menjadi (-2 < x < 2), dan fungsi f(x)
diperluas menjadi fungsi periodik genap {f(-x) = f(x)} dengan periode
T = 2L = 4 (karena L = 2) seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

fc(x)

x
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

Untuk fungsi genap ini bn = 0, a0 = dan an ditentukan sebagai berikut:

2
L
2
1 2
  1 2 1 2 3
a0 = ∫ f ( x)dx = ∫ xdx + ∫ (1)dx  =  x + x 1  =
L0 2 0 1   2 0  2
nπx 2 nπx nπx nπx 
L 1 2 2
2
an =
L0∫ f ( x ) cos
L
dx = 
2 0∫ x cos
2
dx + ∫
1
(1) cos
2
dx + ∫
1
(1) cos
2
dx 

1 2
 2 nπx 4 nπx   2 nπx 
an =  x sin + cos  +  sin 
 nπ ( nπ ) 2  0  nπ
2
2 2 1
4  nπx 
an =  cos − 1
( nπ ) 2
2 
4 2 4
a1 = − 2 , a2 = − 2 , a3 = − 2 , a1 = 0, dst
π π 9π

Maka diperoleh pernyataan deret Forier cosinus untuk f(x), sebagai


berikut:
13

a0 ∞ nπx
f ( x) = + ∑ a n cos , bn = 0
2 n =1 L
3 4 1 πx 1 2πx 1 3πx 
f ( x) = − 2  cos + cos + cos + L
4 π 1 2 2 2 9 2 
(b) Pernyataan fungsi dalam deret Fourier sinus (fungsi ganjil)
Untuk membentuk fungsi ganjil, maka selang dasar (0 < x < 2) di atas
diperluas ke selang negatif menjadi (-2 < x < 2), dan fungsi f(x)
diperluas menjadi fungsi periodik ganjil {f(-x) = -f(x)} dengan periode T
= 4 ( L = 2) seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

f(x)

x
-6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6

Untuk fungsi ganjil ini a0 = 0, an = 0, dan bn ditentukan sebagai berikut:

nπx 2 nπx nπx 


L 1 2
2
bn =
L0∫ f ( x ) sin
L
dx = ∫
2 0
x sin
2
dx + ∫
1
(1) sin
2
dx 

1 2
 2 nπx 4 nπx   2 nπx 
bn = − x cos + cos  + − cos 
 nπ ( nπ ) 2  0  nπ
2
2 2 1
 4 nπx 2 
bn =  sin − cos nπ 
 ( nπ ) nπ
2
2 
 4 + 2π  1  4 + 6π  1
b1 =  , b2 = − , b3 = −  2 
, b4 = − , dst
 π π  9π  2π
2

Maka diperoleh pernyataan deret Fourier sinus untuk f(x), sebagai
berikut:

nπx
f ( x) = ∑ bn sin , a 0 = 0, a n = 0
n −1 L
 4 + 2π  πx 1 2πx  4 + 6π  3πx 
f ( x) =   sin − sin − 2 
sin + L
 π
2
 2 π 2  9π  2 
14

(c) Pernyataan deret Fourier sinus-cosinus (fungsi tidak ganjil-tidak genap)


untuk membentuk fungsi periodik ini, tinggal memperluas f(x) ke kiri
dan ke kanan sumbu x dengan periode T=2 (L=1) seperti pada gambar
berikut :

Koefisien-koefisien Fourier ao, an, dan bn dapat ditentukan sebagai


berikut :

1  1
T 1 2
1 3
ao = ∫ = ∫ + ∫ (1) dx  = x 2 +x =
1 2
f ( x ) dx x dx 0 1
L0 10 1  2 2
nπx 1 
T 1 2
1
an = ∫ f ( x ) cos dx = ∫ x cos n πx dx + ∫ (1) cos nπxdx 
L0 L 10 1 
1 2
 1 1   1 
= x sin nπx + cos nπx  +  sin nπx 
 nπ (nπ )2
 0  nπ 1
1  (− 1) − 1
n
=
1
(cos nπ − 1) = 2  2 
(nπ )2 π  n 
 2
− 2 2 , n ganjil
= nπ
 0 , n genap

1 
T 1 2
1
bn = ∫ f ( x ) sin n πx dx = ∫ x sin n πx dx + ∫ (1) sin nπxdx 
L0 10 1 
1 2
 1 1   1 
= − x cos nπx + sin nπx  + − cos nπx 
 nπ (nπ )2
 0  nπ 1
1
=− cos 2nπ

1
=−

Sehingga pernyataan deretnya adalah :
15

∞ ∞
3 2  1 
f ( x) = + ∑ (− 2 2 cos nπx) + ∑  − sin nπx 
4 n =1 nπ n =1  nπ 
ganjil

6. DERET FOURIER EKSPONENSIAL


Pernyataan deret Fourier suatu fungsi periodik dapat pula dibangun
dari fungsi eksponensial, dengan menggunakan hubungan Euler sbb :
nπx
±i nπx nπx
e L
= cos ± i sin , i2 = − 1
L L
dengan menyisipkan :
nπx nπx nπx nπx
i −i i −i
nπx e L
+e L
nπx e L
−e L
cos = dan sin =
L 2 L 2i
ke dalam pernyataan deret Fourier dari suatu fungsi periodik, sbb :
a0 ∞ nπx nπx
f ( x) = + ∑ (a n cos + bn sin )
2 n =1 L L
didapat :
 i nLπx −i
nπx
 ∞  i nLπx −i
nπx

a  e ∞
+e L  e −e L 
f ( x ) = 0 + ∑ an   + ∑ bn  
2 n =1  2  n =1  2i 
   

f (x ) = 0 + ∑ n
a (a − ibn ) ei nπx
L
+∑

(an + ibn ) e− i nLπx
2 n =1 2 n =1 2

a0 ∞ (an − ibn ) i (a−n + ib−n ) ei nLπx


nπx −1
f (x ) = +∑ e L
+ ∑
2 n=1 2 n =−∞ 2
Indeks jumlah n pada deret ke dua telah dinamakan ulang dengan –n. Jika
didefinisikan :
(a− n + ib− n ) / 2, n < 0

Cn =  a0 / 2 , n=0
 (a − ib ) / 2 , n > 0
 n n

maka didapat pernyataan fungsi periodik dalam deret Fourier


eksponensial sbb :
16

∞ nπx
f (x ) =
i
∑ Cn e
n = −∞
L

Koefisien Cn dapat dicari dengan persamaan integral berikut :


a +T

∫ f (x ) dx
1
C0 =
T a

dan
a +T nπx
−i
∫ f ( x )e
1
Cn = L
dx
T a

Contoh 7
Tentukan pernyataan Fourier Eksponensial dari fungsi periodik pada
contoh 1 !
Pemecahan :
Fungsi periodik pada contoh 1 adalah :
1, − π < x < 0
f ( x) = 
0, 0 < x < π
Berarti T = 2π dan a = π.
Koefisien-koefisien Fourier eksponensial ditentukan sebagai berikut :
a +T π π
1  
0
1 1
Co =
T ∫
a
f ( x)dx =
2π ∫
−π
f ( x)dx = ∫
2π −π
(1) dx + ∫0 ( 0 ) dx 

1
0
1 π 1
= ∫π dx = 2π x = =
0

2π −
−π
2π 2
a +T − inπx − inπx π − inπx
1  
0
1
Cn =
T ∫
a
f ( x )e L
dx = ∫
2π −π
(1) e π
dx + ∫
0
( 0 ) e π
dx 

0 0
1  1 − inx 
=
1
∫π e
− inx
dx =  e  =
1
(1 − cos nπ )
2π −
2π  − in  −π − 2inπ
 i
, n ganjil
=  nπ
 0 , n genap

Maka diperoleh uraian deret Fourier eksponensial sebagai berikut :


17


f ( x) = ∑C e
n = −∞
n
inx

1 i 1 1 1 1 
= +  ........ − e − 5ix − e − 3ix − e − ix + eix + e3ix + e5ix + .......... 
2 π 5 3 3 5 
Untuk membandingkan hasil ini dengan hasil yang diperoleh pada
Contoh 1, maka kita gunakan kembali hubungan Euler diatas :

f ( x) =
1 i  ix
( 1
) ( 1
) ( )
+  e − e −ix + e 3ix − e −3ix + e 5ix − e −5ix + .......... 
2 π

3 5 

= − 
(
+ 
)
1 1  e ix − e −ix 1  e 3ix − e −3ix  1  e 5ix − e −5ix 
 + 

 + .......... 
2 π 3 
i i  5 i  
1 1  2 sin x 2 sin 3 x 2 sin 5 x 
= −  + + + .......... 
2 π 1 3 5 
1 2  sin x sin 3 x sin 5 x 
= −  + + + .......... 
2 π 1 3 5 
Persis sama seperti hasil pada contoh 1.

7. IDENTITAS PARSEVAL
Sekarang akan dicari bagaimana hubungan antara harga rata-rata kuadrat
fungsi f(x) dalam selang dasarnya dengan koefisien-koefisien Fourier.
Hasilnya dikenal sebagai identitas Parseval atau hubungan kelengkapan
(Completeness Relation) yang bentuknya bergantung pada rumusan
pernyataan deret Fourier yang digunakan.
Untuk deret Fourier yang diuraikan dalam bentuk :
ao ∞ nπx ∞ nπx
f ( x) = + ∑ an cos + ∑ bn sin
2 n =1 L n =1 L
Jika fungsi pada ruas kiri dan ruas kanan dikuadratkan, maka akan
diperoleh :
2
nπx ∞ nπx 
2
 ao   ∞
f ( x) =   +  ∑ an cos + ∑ bn sin
2

 2   n =1 L n =1 L 

nπx mπx nπx mπx nπx mπx 


2 ∞ ∞
a  
f ( x) =  o  + ∑ ∑  an am cos
2
cos + 2an bm cos sin + bn bm sin sin 
 2 n =1 m =1  L L L L L L 
18

Kemudian jika dicari rata-rata kuadrat pada selang dasarnya, dengan cara
mengintegrasi ruas kiri dan kanan, maka didapat :
a +T a +T a +T
nπx mπx 
2
1 1  ao  1 ∞ ∞ 
∫ f ( x) dx = ∫   dx + ∑∑ ∫  a a +
2
n m cos cos
T a
T a 2 T n =1 m =1 a
L L 
∞ a +T
1 ∞  nπx mπx 
∑∑
T n =1 m =1 ∫  2a bn m cos
L
sin
L 
+
a
∞ a +T
1 ∞
 nπx mπx 
∑∑
T n =1 m =1 ∫  b bn m sin
L
sin
L 

a

atau
a +T 2
1  a0  1 ∞ ∞   1 ∞ ∞
  (T ) + ∑∑  an am δ mn  + ∑∑ (0 ) +
1 2 T
∫ f ( x) dx =
2

T a
T 2 T n=1 m=1  2  T n=1 m=1
1 ∞ ∞  2 T 
∑∑  bnbm
T n=1 m=1  2
δ mn 

maka bentuk hubungannya adalah sebagai berikut :

1
a +T
 ao  2 1 ∞ 2

∫ f ( x) dx =   + ∑ an + bn 
2 2

T a  2  2 n =1 

Ruas kiri adalah harga rata-rata kuadrat fungsi f(x) dalam selang dasarnya
a < x < a + T, sedangkan ruas kanan adalah jumlah kuadrat semua
koefisien Fourier.
Untuk uraian deret Fourier dalam bentuk eksponensial,
∞ inπx
f ( x) = ∑ Cn e
n =−∞
L

maka bentuk hubungannya adalah sebagai berikut :


a +T ∞
1
∫ f ( x) dx = ∑C
2 2
n
T a n = −∞

Secara fisis, jika f(x) merupakan fungsi periodik dari suatu besaran fisika,
misalnya simpangan getaran mekanik (system pegas), maka untuk x = t
adalah variabel waktu, maka pernyataan :
19

T
1 2
p = ∫
2
f (t ) dt
T −T
2

Menyatakan daya rata-rata (Joule/s) dari getaran tersebut dalam suatu


periode T. Dengan demikian identitas Paseval, mengaitkan daya rata-rata
dengan separuh jumlah kuadrat amplitudo setiap harmonik penyusun
periodik.
Secara matematik, ruas kiri dari identitas Parseval memberikan jumlah
deret bilangan diruas kanannya, seperti pada contoh berikut :

Contoh 8
Gunakan identitas Paseval untuk mencari jumlah deret bilangan yang
bersangkutan dengan uraian deret Fourier dari fungsi f(x) pada contoh.4.
Pemecahan
Pada contoh 4, f(x) = x2 dengan periode 1 dan selang dasarnya adalah
1 1
− <x< , memiliki uraian deret Fourier dengan koefisien-koefisien
2 2
sebagai berikut :

1  (− 1) 
n
1
ao = , an = 2  2  n = 1, 2, 3........, bn = 0
6 π  n 

Harga rata-rata kuadrat dari f(x) = x2 ditentukan sebagai berikut :


1
1 1 2
1 2
2
2
1 1 1 1  1

1 1
x 2 dx = ∫ x 4 dx = x 5
1 5
=  + =
5  32 32  80
− − 1
2 2 −
2

Menurut identitas Paseval, nilai rata-rata kuadrat ini sama dengan


 ao  2 1 ∞ 2 

  + ∑ ( an + bn ) , sehingga :
2

 2  2 n =1 
20

1  1  1  ∞  1   (− 1)  
2 2 4 2
=   + ∑     
80  12  2  n =1  π 2   n 2  
  

1 1 1 1 1
4 ∑ 4
= + , atau
80 144 2 π n =1 n

1 1 1 1 1
2π 4 ∑n
n =1
4
= − =
80 144 180
Sehingga :

1 2π 4 π 4

n =1 n
4
= =
180 90
atau
1 1 1 π4
1+ + + + ..... =
2 4 34 4 4 90

Contoh 9
Gunakan identias Parseval untuk mencari jumlah deret bilangan yang
bersangkutan dengan uraian Fourier dari fungsi f (x) pada contoh.7.
Pemecahan :
Pada contoh 7, f (x) diuraikan dalam deret Fourier eksponensial dengan
periode T = 2 π dan selang dasar - π < x< π . Koefisien Fourier dari uraian
tersebut adalah :
1 i
Co = dan C n = untuk n ganjil (1, 3, 5, ….)
2 nπ
Harga rata-rata kuadrat dari f (x) dalam selang (- π < x< π ) ditentukan
sebagai berikut :
π
0 2 
1
 ∫ 1 dx + ∫ 0 2 dx  =
  2π
1
(π ) =
1
2π  −π 0  2

Menurut identitas Paseval, harga rata-rata kuadrat ini sama dengan


∑C
2
n , sehingga :
n = −∞
21


1
= (Co ) 2 + ∑ Cn
2

2 n = −∞
∞ 2
1 1 i
= ( )2 + ∑ , n ganjil
2 2 n = −∞ nπ
2
1 1 1 ∞ i
= + ∑ , n
2 4 π 2 n = −∞ n
ganjil
2
1 1 1 ∞ i
= + 2∑ 2 , n ganjil
2 4 π n =1 n
1 1 2 ∞ 1
= + ∑ , n
2 4 π 2 n =1 n 2
ganjil

atau

2 1 1 1 1
π 2 ∑n
n =1
2
= − =
2 4 4
ganjil

1 π2

n =1 n2
=
8
ganjil

1 1 1 π2
1 + 2 + 2 + 2 + .......... =
3 5 7 8

8. SPEKTRUM FOURIER
Uraian Fourier suatu fungsi periodik f(x), pada dasarnya adalah uraian
fungsi f(x) dalam komponen-komponen harmoniknya, yakni berbagai
komponen frekuensinya. Jika P merupakan frekuensi harmonik dasarnya,
maka frekuensi harmonik ke-n, Pn, diberikan oleh hubungan :
Pn = n.P , n = 1, 3, 5,……

Dengan P = , dimana T merupakan periode dasarnya.
T
Himpunan semua komponen frekuensi Pn = n.P yang membentuk fungsi
periodik f(x) ini disebut spektrum frekuensi atau spektrum fungsi f(x) dan
dikenal sebagai spektrum Fourier.
AMPLITUDO HARMONIK
Spektrum frekuensi seringkali divisualkan secara grafis, dengan
menggambarkan Amplitudo masing-masing harmoniknya. Untuk uraian
22

deret Fourier cosinus, sinus, amplitudo harmonik ke-n ditentukan sebagai


berikut :
Suku ke-n dari uraian deret Fourier cosinus-sinus dapat dituliskan :
nπx nπx
S n ( x) = a n cos + bn sin
L L
yang juga dapat dituliskan dalam fungsi tunggal cosinus sebagai berikut :
nπx
S n ( x) = An cos( + δn)
L
(−bn )
dengan An = an + bn dan δ n = arc tg
2 2

an

Koefisien An dan δ n berturut-turut disebut amplitudo dan fase awal

ao
harmonik ke-n, dengan Ao = dan δ o = 0
2
Grafik barisan amplitudo setiap harmonik An terhadap n (n = 0,1,2,3,
4,……),
berbentuk pancang bejarak sama, yang dikenal sebagai spektrum garis.

Contoh 10
Gambarkan spektrum garis untuk pernyataan deret Fourier fungsi periodik
f(x) pada contoh 1.
Pemecahan
Dari hasil perhitungan contoh 1, didapatkan koefisien-koefisien Fourier
sebagai berikut :
 2 
a o = 1, a n = 0, dan bn = − , n = 1, 3, 5......
 nπ 
Jadi amplitudo masing-masing harmoniknya adalah :
23

ao 1
Ao = =
2 2
−2
2 2
 2  2
An = an + bn = 0 + =   = , n = 1, 3, 5....
2 2 2

nπ  nπ  nπ
δo = 0
2
− bn − 3π
δ n = arc tg ( ) = arc tan ( nπ ) = , tetap
an 1 2
Sketsa spektrum Fourier (spektrum garis) fungsi periodik ini digambarkan
sebagai berikut :
1 2 2 2
Ao = , A1 = , A2 = 0, A3 = , A4 = 0, A5 = , A6 = 0,..........
2 π 3π 5π

2/π
1/2
An 2/3π
2/5π
2/7π

0 1 2 3 4 5 6 7 n

Untuk pernyataan deret Fourier eksponensial, karena Cn bernilai


kompleks, maka dengan menuliskannya dalam bentuk eksponensial,
C n = C n e iθ n

fungsi f(x) dapat dituliskan dalam bentuk uraian :


n nπ x
i( +θ n )
f ( x) = ∑
n = −10
Cn e L

dengan :
C n = C n , dan θ n = argument (Cn)

berturut-turut adalah amplitudo dan fase awal harmonik ke-n, yang


berlaku untuk semua nilai bulat n dari -∞ sampai ∞.
24

Contoh 11
Gambar spektrum garis uraian Fourier eksponensial fungsi periodik f(x)
pada contoh 7.
Pemecahan :
Dari hasil perhitungan contoh 7 diperoleh koefisien-koefisien Fourier
sebagai berikut :
1 i
Co = , Cn = , n = .... − 5, − 3, − 1, 1, 3, 5,........
2 nπ
Jadi amplitude masing-masing harmonik adalah :
1 i  i 
Co = , Cn = Cn = =  n = ± 1, ± 3, ± 5,........
2 nπ  nπ 
i π
Sedangkan fase awalnya ; θ o = 0, θ n = arg (C n ) = arg ( )= .
nπ 2
Sketsa spectrum garis fungsi periodic ini digambarkan sebagai berikut :
1 1 1 1 1 1 1
Co = , C1 = , C −1 = , C 3 = , C −3 = , C5 = , C −5 = ,
2 π π 3π 3π 5π 5π
dst

Cn
1/2
1/π 1/π

1/3π 1/3π

n
-4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4

9. PENERAPAN PADA GELOMBANG BUNYI


Jika sebuah gelombang bunyi yang merambat melalui udara
sampai ketelinga kita dan kita mendengarnya, maka tekanan udara
ditempat kita berada akan berubah-ubah terhadap waktu (akibat terjadi
rapatan dan renggangan udara disebabkan rambatan gelombang bunyi
25

yang merupakan gelombang longitudinal). Andaikan perubahan tekanan


udara diatas dan dibawah tekanan atmosfir dilukiskan oleh suatu grafik
pada gambar berikut ini :

Maka untuk menentukan harga frekuensi yang kita dengar, dapat


dilakukan dengan cara menguaraikan fungsi p(t) kedalam deret Fourier.
1
Periode (T) dari fungsi p(t) diatas adalah , yang berarti gelombang
262
1 1
bunyi berulang 262 kali tiap detik. Sehingga L = T = .
2 524
Dari gambar diatas jelas terlihat bahwa fungsi p(t) merupakan fungsi
ganjil, maka koefisien-koefisien Fourier yang ada hanya bn saja (ao = 0,
an = 0). bn ditentukan sebagai berikut :

nπt
L
2
bn =
L0∫ p (t ) sin
L
dt

 11048 1

 
524
= 2 (524)  ∫ (1) sin 524πt dt + ∫ (− 7 ) sin 524πt dt 
8
 0 1
1048

2  − 15 nπ 7 
=  cos + 1 + cos nπ 
nπ  8 2 8 

dari sini dapat ditentukan harga-harga bn untuk beberapa harga n sebagai


berikut :
26

2  7 1
n = 1 → b1 = 1 −  =
π  8  4π
2  15 7  15
n = 2 → b2 =  +1+  =
2π  8 8  4π
2  7 1
n = 3 → b3 = 1 −  =
3π  8  12π
2  15 7
n = 4 → b4 = − +1+  = 0
4π  8 8
 72 1
n = 5 → b5 = 1 −  =

 8  20π
2  15 7  15
n = 6 → b6 =  +1+  =
6π  8 8  12π
2  7 1
n = 7 → b7 = 1 −  =
7π  8  28π
dan seterusnya .

dengan demikian kita dapatkan :


10
p(t ) = ∑ bn sin 524πt
n =1

1 15 1 1
= sin(524πt ) + sin(524.2πt ) + sin(524.3πt ) + 0. sin(524.4πt ) + sin(524.5πt )
4π 4π 12π 20π
15
+ sin(524.6πt ) + .....
12π
1 sin(524πt ) 30 sin(524.2πt ) sin(524.3πt ) sin(524.5πt ) 30 sin(524.6πt )
= { + + + + + ..... }
4π 1 2 3 5 6

Ingat kembali bahwa dalam suatu gerak harmonik sederhana, energi rata-
rata sebanding dengan kuadrat amplitude kecepatan, hal yang sama
untuk gelombang bunyi, intensitas gelombang bunyi (energi rata-rata yang
menumbuk satuan luas pendengaran perdetik) akan sebanding dengan
rata-rata kuadrat dari selisih tekanan udara. Dengan demikian dalam
uraian deret Fourier untuk p(t), maka intensitas untuk setiap harmonik
27

akan sebanding dengan kuadrat koefisien Fourier yang terkait. Jadi


intensitas relative dari setiap harmonik untuk contoh diatas adalah :

n =1 2 3 4 5 6 7 8 ….

Intensitas = 1 225 1 0 1 25 1 0 …
9 25 49
Relatif