Anda di halaman 1dari 10

BAB II

KAJIAN TEORI

1. Pengembangan Bahan Ajar

Pengembangan bahan ajar merupakan wujud pengembangan strategi pembelajaran yang


sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu yang diadaptasi dari teori-teori pembelajaran (Syahid,
2003). Lebih lanjut, Syahid menjelaskan bahwa pengembangan bahan ajar ini bukan hanya
didasarkan atas kepentingan pengembang, melainkan merupakan altematif pemecahan
masalah pembelajaran. Mahasiswa bukan hanya berinteraksi dengan dosen, melainkan juga
dapat berinteraksi dengan sumber belajar yang digunakan untuk mencapai hasil yang
diinginkan.

Mbulu (2004) menyatakan ada empat tujuan dari pengembangan bahan ajar, yaitu (1)
diperolehnya bahan ajar yang sesuai dengan tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan
pembelajaran, (2) tersusunnya bahan ajar sesuai struktur isi mata pelajaran dengan
karakteristiknya masing-masing, (3) tersintesiskan dan terurutkannya topik-topik mata
pelajaran secara sistematis dan logis, dan (4) terbukanya peluang pengembangan bahan ajar
secara kontinu mengacu pada perkembangan IPTEK. Sedangkan menurut Kemendiknas
(2007) merumuskan tiga tujuan, yaitu (1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan
agar tidak terlalu bersifat verbal, (2) mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera,
baik peserta didik maupun pengajar, dan (3) dapat digunakan secara tepat dan bervariasi.

Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu agar tujuan di
atas dapat diwujudkan. Dengan merujuk UNESCO, Kemendiknas (2007) merumuskan
syarat bahan ajar yang baik. Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas
diuraikan melalui kutipan berikut. Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas
adalah (1) bahan ajar memiliki peran penting untuk mewujudkan pendidikan yang merata
dan berkualitas tinggi, (2) bahan ajar merupakan produk dari proses yang lebih besar dari
pengembangan kurikulum, (3) isi bahan ajar memasukkan prinsip-prinsip hak asasi manusia,
mengintegrasikan proses pedagogik yang mengajarkan secara damai terhadap penyelesaian
konflik, kesetaraan gender, nondiskriminasi, praktik-praktik dan sikap-sikap lain yang
selaras dengan kebutuhan untuk belajar hidup bersama, (4) bahan ajar memfasilitasi
pembelajaran untuk mendapatkan hasil-hasil spesifik yang dapat diukur dengan
memperhatikan berbagai perspektif, gaya pembelajaran, dan modalitas berbeda
(pengetahuan, keterampilan, dan sikap), (5) memperhitungkan level konseptual, lingkungan
linguistik, latar belakang dan kebutuhan pebelajar di dalam membentuk isi dan mendesain
model pembelajaran, (6) bahan ajar memfasilitasi pembelajaran yang dapat mendorong
partisipasi dan pengalaman secara merata dan setara oleh semua pebelajar yang terlibat
dalam proses pembelajaran, dan (7) bahan ajar dapat dijangkau dari sisi biaya, memiliki
daya tahan lama, dan dapat diakses oleh semua pelajar.

Syarat penyusunan bahan ajar juga disampaikan Tjipto Utomo dan Kees Ruijter (dalam
Mbulu, 2004). Syarat-syarat tersebut adalah (1) memberikan orientasi terhadap teori,
penalaran teori, dan cara-cara penerapan teori dalam praktik, (2) memberikan latihan
terhadap pemakaian teori dan aplikasinya, (3) memberikan umpan balik tentang kebenaran
latihan itu, (4) menyesuaikan informasi dan tugas sesuai tingkat awal masing-masing peserta
didik, (5) membangkitkan minat peserta didik, (6) menjelaskan sasaran belajar kepada
peserta didik, (7) meningkatkan motivasi peserta didik, dan (8) menunjukkan sumber
informasi yang lain.

Pannen (2001) juga menambahkan bahwa “bahan ajar yang baik harus dapat memenuhi
tuntutan kurikulum yang berisi kompetensi-kompetensi yang ditentukan”. Materi-materi ajar
terarah sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kompetensi-kompetensi yang diberikan sesuai
dengan kurikulum. Sedangkan bahan ajar berbasis web, Purnomo (2009) memberikan syarat
terkait konten web yang baik. Syarat konten web yang baik berisi material pembelajaran
yang akan disampaikan melalui berbagai jenis format. Format tersebut seperti teks, gambar,
foto, grafik, slide presentasi, animasi, HTML, audio (narasi, audio streaming, audio
recorded), video (video recorded, video streaming).

Untuk mengembangkan bahan ajar, Mbulu (2004) menawarkan sebuah prosedur


pengembangan bahan ajar melalui tiga tahap. Ketiga tahap tersebut adalah (1) tahap
merancang, yaitu menerjemahkan pengetahuan/teori yang bersifat umum ke dalam bentuk
yang terinci, meliputi mengkaji kompetensi, analisis pembelajaran, analisis isi, seleksi isi,
penataan urutan isi, dan struktur isi, (2) tahap menilai, dilakukan untuk uji kelayakan draft
awal, mencakup penilaian formatif, revisi, dan sumatif, dan (3) tahap pemanfaatan,
mencakup kegiatan pengembangan pembaca dan pengembangan bahan pembelajaran.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pengembangan bahan


ajar sering dikemas menjadi pembelajaran elektronik (e-Learning). Dalam pengembangan
pembelajaran elektronik (e-Learning), Wahono (2006) memberikan tiga aspek yang harus
diperhatikan, yaitu (1) aspek rekayasa perangkat lunak, (2) aspek desain pembelajaran, dan
(3) aspek komunikasi visual.

2. Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pembelajaran yang menekankan bahwa


siswa harus mengetahui implementasi dari pengetahuan yang diperolehnya sehingga
pengetahuan tersebut akan bermakna bagi siswa. Pengetahuan yang dimiliki siswa harus
memiliki kaitan dengan dunia nyata atau keseharian siswa. Apabila siswa menemukan
banyak keterkaitan dalam pembelajaran, maka pengetahuan yang dimilikinya akan semakin
bermakna.
Menurut Johnson (2002) Pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan
yang menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari
dengan cara menghubungi subjek-subjek akademik yang mereka pelajari dengan konteks
kehidupan sehari-hari mereka, yakni konteks pribadi, sosial, dan budaya. Hal ini juga
diungkapkan oleh Masnur Muslich (2008) mendefinisikan pembelajaran kontekstual sebagai
suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pembelajaran dengan mengkaitkannya pada kehidupan sehari-hari (konteks pribadi,
sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang secara fleksibel
dapat diterapkan dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan lain.Berdasarkan
beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan suatu pembelajaran yang mengkaitkan kontekstual sehari-hari pada materi
pembelajaran sehingga siswa mampu memaknai pengetahuan/ ketrampilan yang
dipelajarinya serta secara fleksibel dapat menerapkan pengetahuan/ketrampilan yang
dimilikinya dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan yang lainnya.
a. Prinsip dan karakteristik pembelajaran kontekstual
Prinsip dan karakteristik pembelajaran kontekstual wajib dikuasai oleh pendidik agar
dapat menerapkan pembelajaran kontekstual dengan tepat dan benar. Berbagai
pengamatan ilmiah yang teliti dan akurat menunjukan keseluruhan alam semesta ditopang
dan diatur oleh tiga prinsip yaitu saling ketergantungan, diferensiasi, dan pengaturan diri
sendiri (Johnson, 2002).
Menurut (Johnson, 2002) Prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran kontekstual yakni:
1. Prinsip Saling Ketergantungan
Prinsip saling ketergantungan menuntun pada penciptaan hubungan bukan isolasi.
Para pendidik yang bertindak menurut prinsip ini akan mengadopsi praktik CTL
dalam menolong siswa membuat hubungan-hubungan untuk menemukan makna.
Prinsip saling ketergantungan menekankan pada kerjasama. Dengan bekerjasama
siswa akan terbantu untuk menemukan persoalan, memasang rencana, dan mencari
pemecahan masalah,
2. Prinsip Diferensiasi
Prinsip diferensiasi mengilhami pembelajaran kontekstual yang menghargai
keunikan, keragaman, dan kreativitas siswa, proses pembelajaran yang bervariasi,
menyenangkan, dan memotivasi siswa untuk belajar sesuai dengan perkembangan
intelektualnya,
3. Prinsip Pengaturan Diri
Prinsip pengaturan diri meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa
untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk menyesuaikan dengan prinsip ini,
CTL memiliki sasaran menolong para siswa mencapai keunggulan akademik,
memperoleh ketrampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara
menghubungkan tugas sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.
Berdasarkan uraian diatas, diambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran
kontekstual sesuai dengan prinsip yang mengatur alam yaitu prinsip saling ketergantungan,
diferensiasi, dan pengaturan diri. Ketiga prinsip diatas melandasi pemikiran bahwa seluruh
komponen pendidikan saling bekerjasama dalam proses pembelajaran. Dengan demikian,
siswa dapat belajar sesuai dengan kontek kehidupan siswa sehingga siswa dapat memaknai
pengetahuan tersebut.
Menurut Wina Sanjaya (2011) karakteristik pembelajaran kontekstual adalah:
1) pembelajaran diarahkan pada ketercapaian ketrampilan dalam konteks kehidupan nyata,
2) pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna bagi siswa,
3) pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dalam situasi yang
menyenangkan dan saling bekerjasama,
4) pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini,
5) melakukan refleksi proses pembelajaran secara kontinu

b. Komponen Pendekatan Kontekstual


Selain mengetahui karakteristik pembelajaran kontekstual, guru juga perlu
mengetahui komponen-komponen dalam pembelajaran kontekstual. Komponen-
komponen pembelajaran kontekstual memberikan ciri khas dalam pelaksanaan
pembelajaran di kelas.
Menurut Masnur Muslich (2008) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
melibatkan tujuh komponen utama yaitu: (1) constructivism (konstrutivisme, membangun,
membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menyelidiki, menemukan), (4)
learning community (masyarakat belajar), (5) modelling (permodelan), (6) reflection
(refleksi), (7) authentic assesment (penilaian yang sebenarnya).
Setiap komponen utama dalam pendekatan kontekstual memiliki prinsip-prinsip
dasar yang harus diperhatikan ketika akan menerapkannya dalam pembelajaran. Prinsip-
prinsip dasar tersebut adalah
(1) konstruktivisme, komponen ini merupakan landasan filosofis (berfikir)
pendekatan kontekstual. Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan
terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman belajar yang bermakna (Masnur muslich, 2008),
(2) menemukan (inquiry). Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat seperangkat fakta fakta, akan
tetapi hasil dari menemukan sendiri,
(3) bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang slelau dimulai dari bertanya.
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong , membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa.
3. Himpunan

Dalam materi pokok himpunan banyak kita temui permasalahan yang disajikan dalam
bentuk soal cerita. Indikator-indikator pemecahan masalah yang ada dalam permaslaahn
tersebut harus dipahami oleh peserta didik untuk dapat menyelesaikan soal cerita materi
pokok himpunan. Dalam menyelesaikan soal cerita, peserta didik harus mampu
memahami permasalahan yang ada terlebih dahulu. Setelah peserta didik paham dengan
apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal cerita, maka peserta didik
baru bisa menyelesaikan soal cerita dengan menyajikan permasalahan tersebut dalam
berbagai bentuk dan memilih metode yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan
(Asyono, 2005). Dari hasil yang telah diperoleh harus dikembalikan kepertanyaan soal
untuk dapat ditafsirkan jawabannya. Dalam salah satu kompetensi dasar materi pokok
himpunan juga disebutkan bahwa pemecahan masalah dengan menggunakan konsep
himpunan, sedangkan pemecahan masalah dalam materi pokok himpunan tersebut dapat
disajikan dalam bentuk soal cerita (Cunayah, 2008).
A. Pengertian Himpunan
Himpunan adalah kumpulan benda/objek yang dapat didefinisikan dengan jelas
(Asyono, 2005).
Contoh:
1) Kumpulan bunga-bunga indah.
Tidak dapat kita sebut himpunan karena bunga indah itu relatif (bunga indah
menurut seseorang belum tentu indah menurut orang lain). Dengan kata lain,
kumpulan bunga indah tidak dapat didefinisikan dengan jelas.
2) Rombongan siswa SMP MUHI yang berwisata ke pulau dewata adalah
himpunan. Mengapa? Sebabnya ialah siswa-siswi yang berwisata kepulau dewata
dapat diketahui dengan jelas.
a. Menyatakan Suatu Himpunan
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan :
1) Suatu kalimat
2) Notasi pembentuk himpunan
3) Mendaftar anggota-anggotanya
Untuk memberi nama pada suatu himpunan pada umumnya digunakan lambang
huruf kapital.
Contoh:
H adalah tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009.
nyatakan himpunan tersebut dengan ketiga cara di atas:
1) Dengan suatu kalimat
H = {tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009}
2) Dengan notasi pembentuk himpunan :
H = {x|x = tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009}
3) Dengan mendaftar anggota-anggotanya
H = {Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahaman Wahid, Megawati, Susilo
Bambang Yudoyono}
4) Himpunan Semesta
Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua objek yang sedang
dibicarakan, dituliskan dengan lambang “S”.
Contoh: A= {Senin, Selasa, Sabtu}
S= {nama-nama hari dalam seminggu}
5) Himpunan Kosong
Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota.
Himpunan kosong dinyatakan dengan lambing “{ }” atau “Ø”.
Contoh: A = {bilangan cacah antara 2 dan 3}. Himpunan ini tidak
memiliki anggota, sehingga himpunan ini disebut himpunan kosong.
Ditulis A= { } atau A= Ø
6) Operasi pada Himpunan
a. Irisan (Intersection)
Irisan dua himpunan P dan Q adalah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota P sekaligus anggota Q. Ditulis dengan notasi pembentuk
himpunan sebagai berikut: P  Q = {x | x P dan x Q}
Contoh: A = {bilangan asli yang kurang dari 6} B = {2,4,6}
i. Tentukan A  B
ii. Lukiskan dengan diagram Venn Jawab :
a. A = {1,2,3,4,5}
b. B = {2,4,6} maka A  B = {2,4}

S A B

.1 .2
.3 .6
 4
.5
AB

Gambar 2.1. Irisan A B

b. Gabungan (Union)
Gabungan dari dua buah himpunan akan menghasilkan suatu
himpunan baru yang anggotanya terdiri dari anggota kedua himpunan
tersebut. Operasi gabungan pada himpunan disimbolkan dengan “".
Misalkan P = {2,3,4,5} dan Q = {1,2,4,6} maka P  Q =
{1,2,3,4,5,6}

S P Q

.3 .2 .1

.5 .4 .6

PQ

Gambar 2.2. Gabungan (Union) P  Q


Gabungan dari P dan Q adalah himpunan yang semua anggotanya terdapat
pada P atau Q. ditulis dengan notasi pembentuk himpunan: P  Q = {x| x
P atau x  Q }
c. Selisih
Selisih himpunan P dan Q adalah himpunan semua anggota
yang termasuk di Pdan tidak termasuk di Q, dan ditulis P– Q.
P– Q= { x x ∈ Patau x ∉ Q }
Perhatikan gambar diagram Venn dibawah ini!

Contoh: S = {1, 2, 3, … ,10}


K= {1, 2, 3, 4, 5, 6}
L= {4, 5, 6, 7, 8}
Maka K – L= {1, 2, 3}
L – K= {7, 8}
d. Komplemen
Komplemen diartikan sebagai A suatu himpunan dengan S
sebagai semesta pembicaraannya maka komplemennya adalah S-A
dituliskan dengan Ac.
Ac = S - A
Contoh: S= {1, 2, 3, 4, 5} dan A= {1, 2, 3, 4}
Maka, Ac = 5

Digambarkan pada diagram Venn seperti pada gambar di


bawah ini.

7) Sifat-Sifat Operasi Himpunan (Cunayah, 2008)


Asyono. 2005. Matematika Kelas VII SMP. Jakarta: Bumi Aksara.

Cunayah, Cucun. 2008. Ringkasan dan Bank Soal Matematika SMP/MTs NU. Bandung:
Yrama Widya.

Kemdiknas. 2008. Sosialisasi KTSP: Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Kemdiknas.

Mbulu, J. dan Suhartono. 2004. Pengembangan Bahan Ajar. Malang: Elang Mas.

Pannen, P., Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas

Purnomo, W. 2009. Presentasi, (Online), (http://wahyupur.wordpress.com/ presentasi/, diakses


10 April 2022).

Syahid, A. 2003. Pengembangan Bahan Ajar Matakuliah Rancangan Pembelajaran Dengan


Menerapkan Model Elaborasi. Tesis, Tidak Diterbitkan. UM: PPS.

Wahono, R. S. 2008. Meluruskan Salah Kaprah tentang e-Learning, (Online),


(http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-e-Learning/, diakses
10 April 2022).

Johnson, E.B. 2002. Contextual Teaching and Learning: Whati is it and why is it here to stay.
Thousands Oaks, California: Corwin Press, Inc.

Masnur Muslich. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta:
Bumi Aksara.

Wina Sanjaya. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
PT Kencana.