Anda di halaman 1dari 17

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KONTEKSTUAL

PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII MTs.


RIYADLUS SHOLIHIN DENGAN MATERI POKOK HIMPUNAN

Untuk memenuhi matakuliah Seminar Pendidikan


Dosen Pengampu : 1. Nok Izatul Yazidah, S.Pd., M.Pd.
2. Yunis Sulistyorini, S.Si., M.Pd.

Disusun Oleh :

Laily Rahmawati (2191000210028)

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU EKSAKTA DAN KEOLAHRAGAAN


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BUDI UTOMO MALANG
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA
2022
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi, dan menjadi bagian
yang penting dalam menjalani kehidupan. Melalui pendidikan seseorang dapat
mengembangkan potensi dirinya. Realisasi peran pendidikan secara nyata adalah
pelaksanaan berbagai program pendidikan yang memanfaatkan berbagai disiplin ilmu.
Salah satu disiplin ilmu yang ada pada setiap program pendidikan adalah matematika. Hal
ini ini didukung oleh pendapat dari ahli matematika Susilo yang mengatakan bahwa
matematika bukan hanya kumpulan angka, simbol dan formula yang tidak ada
hubungannya dengan dunia nyata, sebaliknya, matematika tumbuh dan berakar di dunia
nyata (Kurniawan, 2019).
Guru mengharapkan agar setiap materi yang diberikan kepada siswa dapat dipahami
dengan maksud agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Tujuan ini dapat tercapai apabila
guru menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembelajaran agar dapat
mendukung tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. baik itu pembawaan diri sebagai
tenaga pendidik, strategi dalam pembelajaran, media pembelajaran, dan masih banyak
faktor pendukung lainnya. Berbicara tentang faktor pendukung, bahan ajar merupakan
salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Bahan ajar adalah seperangkat sarana
atau alat pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain
secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan yaitu
mencapai kompetensi dengan segala kompleksitasnya (Nugraha dkk, 2013).
Untuk mendukung bahan ajar tersebut, pendekatan kontekstual merupakan salah
satu konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, melalui
pendekatan kontekstual, proses belajar yang berlangsung lebih alamiah, dimana siswa tidak
menghafal melainkan siswa pernah mengamati ataupun siswa mempunyai pengalaman
tersendiri sesuai dengan konteks. Filosofi pembelajaran kontekstual adalah konstruktivistik,
yaitu belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Menurut
Yamin (2013), peserta didik mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta. Fakta atau proposisi yang
terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Berbasis kontekstual
diartikan sebagai suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata
kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Adapun kelebihan pembelajaran berbasis kontekstual, menurut Anisah (dalam
Rosita & Suripto, 2014) antara lain: (1) pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil,
karena peserta didik dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan kehidupan nyata, (2) pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan
penguatan konsep kepada siswa, (3) guru lebih intensif dalam membimbing siswa, karena
guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi melainkan pengelola kelas sebagai sebuah
tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi
siswa, (4) guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan
sendiri ide-ide dan mengajak siswa menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Berbeda dengan situasi yang terjadi dilingkungan pendidikan, dalam proses
pembelajaran guru cenderung menggunakan buku siap pakai dimana konteks atau ilustrasi
yang terdapat dalam buku tersebut terkadang menjadi hal baru atau siswa tidak mempunyai
pengalaman terkait dengan konteks tersebut. Selain itu konteks yang dipaparkan tidak ada
keterkaitan dalam kehidupan seharai hari siswa. Hal ini membuat siswa kurang
memahami makna dari pembelajaran tersebut. Menurut pengalaman dan pengamatan
peneliti, di sekolah guru jarang menggunakan bahan ajar dalam kegiatan pembelajaran.
Guru biasanya lebih sering menggunakan buku yang dijual di toko-toko buku, yang tidak
sesuai dengan latar belakang dan lingkungan belajar siswa. Oleh sebab itu, peneliti ingin
mengembangkan bahan ajar yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pengembangan yang dilakukan dilihat dari konteks nyata yakni, latar belakang siswa
(kehidupan sehari-hari siswa), kondisi lingkungan sekolah maupun tempat tinggal siswa,
serta karakteristik siswa. Oleh karena itu, peneliti ingin mengembangkan salah satu materi
matematika kelas VII SMP/MTs. tentang himpunan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah ada pengaruh pada hasil belajar siswa Kelas VII MTs. Riyadlus Sholihin setelah
menggunakan bahan ajar yang dikembangkan dengan pendekatan kontekstual materi
himpunan?
2. Bagaimana kualitas (kevalidan, kepraktisan, keefektifan) pengembangan bahan ajar
himpunan dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VII MTs. Riyadlus Sholihin?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh pada hasil belajar siswa Kelas VII MTs. Riyadlus Sholihin
setelah menggunakan bahan ajar yang dikembangkan dengan pendekatan kontekstual
materi himpunan.
2. Untuk dapat mengetahui kualitas (kevalidan, kepraktisan, keefektifan) pengembangan
bahan ajar himpunan dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VII MTs.
Riyadlus Sholihin.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa dapat menggunakan bahan ajar matematika berbasis kontekstual khususnya
materi himpunan ini sebagai alternatif dalam proses pembelajaran matematika.
2. Bagi guru dapat memanfaatkan bahan ajar matematika berbasis kontekstual dengan
materi himpunan ini dalam proses pembelajaran, agar siswa lebih memahami materi dan
tidak merasa jenuh.
3. Bagi peneliti dapat dijadikan sebagai pengembangan bahan ajar yang lebih baik lagi serta
mengasah kreativitas agar lebih menarik minat siswa dalam pembelajaran.
E. Definisi Operasional
1. Bahan ajar
Bahan ajar didefinikan sebagai materi belajar yang mempunyai sifat fisik yang dapat
diobervasi yang digunakan untuk memudahkan proses belajar. Menurut Belawati (2003),
bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang
digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
2. Pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa yang mendorong siswa membuat hubungn antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan
tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism),
bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning community),
permodelan (Modeling) dan penilaian sebenarnya (Authentic assesment) (Kadir, 2013).
3. Himpunan
Himpunan adalah kumpulan objek yang memiliki sifat yang dapat didefinisikan dengan
jelas, atau lebih jelasnya adalah segala koleksi benda-benda tertentu yang dianggap sebagai
satu kesatuan.
BAB II
KAJIAN TEORI

1. Pengembangan Bahan Ajar

Pengembangan bahan ajar merupakan wujud pengembangan strategi pembelajaran yang


sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu yang diadaptasi dari teori-teori pembelajaran (Syahid,
2003). Lebih lanjut, Syahid menjelaskan bahwa pengembangan bahan ajar ini bukan hanya
didasarkan atas kepentingan pengembang, melainkan merupakan altematif pemecahan
masalah pembelajaran. Mahasiswa bukan hanya berinteraksi dengan dosen, melainkan juga
dapat berinteraksi dengan sumber belajar yang digunakan untuk mencapai hasil yang
diinginkan.

Mbulu (2004) menyatakan ada empat tujuan dari pengembangan bahan ajar, yaitu (1)
diperolehnya bahan ajar yang sesuai dengan tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan
pembelajaran, (2) tersusunnya bahan ajar sesuai struktur isi mata pelajaran dengan
karakteristiknya masing-masing, (3) tersintesiskan dan terurutkannya topik-topik mata
pelajaran secara sistematis dan logis, dan (4) terbukanya peluang pengembangan bahan ajar
secara kontinu mengacu pada perkembangan IPTEK. Sedangkan menurut Kemendiknas
(2007) merumuskan tiga tujuan, yaitu (1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan
agar tidak terlalu bersifat verbal, (2) mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera,
baik peserta didik maupun pengajar, dan (3) dapat digunakan secara tepat dan bervariasi.

Pengembangan bahan ajar harus didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu agar tujuan di
atas dapat diwujudkan. Dengan merujuk UNESCO, Kemendiknas (2007) merumuskan
syarat bahan ajar yang baik. Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas
diuraikan melalui kutipan berikut. Syarat-syarat bahan ajar atau buku teks yang berkualitas
adalah (1) bahan ajar memiliki peran penting untuk mewujudkan pendidikan yang merata
dan berkualitas tinggi, (2) bahan ajar merupakan produk dari proses yang lebih besar dari
pengembangan kurikulum, (3) isi bahan ajar memasukkan prinsip-prinsip hak asasi manusia,
mengintegrasikan proses pedagogik yang mengajarkan secara damai terhadap penyelesaian
konflik, kesetaraan gender, nondiskriminasi, praktik-praktik dan sikap-sikap lain yang
selaras dengan kebutuhan untuk belajar hidup bersama, (4) bahan ajar memfasilitasi
pembelajaran untuk mendapatkan hasil-hasil spesifik yang dapat diukur dengan
memperhatikan berbagai perspektif, gaya pembelajaran, dan modalitas berbeda
(pengetahuan, keterampilan, dan sikap), (5) memperhitungkan level konseptual, lingkungan
linguistik, latar belakang dan kebutuhan pebelajar di dalam membentuk isi dan mendesain
model pembelajaran, (6) bahan ajar memfasilitasi pembelajaran yang dapat mendorong
partisipasi dan pengalaman secara merata dan setara oleh semua pebelajar yang terlibat
dalam proses pembelajaran, dan (7) bahan ajar dapat dijangkau dari sisi biaya, memiliki
daya tahan lama, dan dapat diakses oleh semua pelajar.

Syarat penyusunan bahan ajar juga disampaikan Tjipto Utomo dan Kees Ruijter (dalam
Mbulu, 2004). Syarat-syarat tersebut adalah (1) memberikan orientasi terhadap teori,
penalaran teori, dan cara-cara penerapan teori dalam praktik, (2) memberikan latihan
terhadap pemakaian teori dan aplikasinya, (3) memberikan umpan balik tentang kebenaran
latihan itu, (4) menyesuaikan informasi dan tugas sesuai tingkat awal masing-masing peserta
didik, (5) membangkitkan minat peserta didik, (6) menjelaskan sasaran belajar kepada
peserta didik, (7) meningkatkan motivasi peserta didik, dan (8) menunjukkan sumber
informasi yang lain.

Pannen (2001) juga menambahkan bahwa “bahan ajar yang baik harus dapat memenuhi
tuntutan kurikulum yang berisi kompetensi-kompetensi yang ditentukan”. Materi-materi ajar
terarah sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kompetensi-kompetensi yang diberikan sesuai
dengan kurikulum. Sedangkan bahan ajar berbasis web, Purnomo (2009) memberikan syarat
terkait konten web yang baik. Syarat konten web yang baik berisi material pembelajaran
yang akan disampaikan melalui berbagai jenis format. Format tersebut seperti teks, gambar,
foto, grafik, slide presentasi, animasi, HTML, audio (narasi, audio streaming, audio
recorded), video (video recorded, video streaming).

Untuk mengembangkan bahan ajar, Mbulu (2004) menawarkan sebuah prosedur


pengembangan bahan ajar melalui tiga tahap. Ketiga tahap tersebut adalah (1) tahap
merancang, yaitu menerjemahkan pengetahuan/teori yang bersifat umum ke dalam bentuk
yang terinci, meliputi mengkaji kompetensi, analisis pembelajaran, analisis isi, seleksi isi,
penataan urutan isi, dan struktur isi, (2) tahap menilai, dilakukan untuk uji kelayakan draft
awal, mencakup penilaian formatif, revisi, dan sumatif, dan (3) tahap pemanfaatan,
mencakup kegiatan pengembangan pembaca dan pengembangan bahan pembelajaran.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pengembangan bahan


ajar sering dikemas menjadi pembelajaran elektronik (e-Learning). Dalam pengembangan
pembelajaran elektronik (e-Learning), Wahono (2006) memberikan tiga aspek yang harus
diperhatikan, yaitu (1) aspek rekayasa perangkat lunak, (2) aspek desain pembelajaran, dan
(3) aspek komunikasi visual.

2. Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran kontekstual merupakan salah satu pembelajaran yang menekankan bahwa


siswa harus mengetahui implementasi dari pengetahuan yang diperolehnya sehingga
pengetahuan tersebut akan bermakna bagi siswa. Pengetahuan yang dimiliki siswa harus
memiliki kaitan dengan dunia nyata atau keseharian siswa. Apabila siswa menemukan
banyak keterkaitan dalam pembelajaran, maka pengetahuan yang dimilikinya akan semakin
bermakna.
Menurut Johnson (2002) Pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses pendidikan
yang menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari
dengan cara menghubungi subjek-subjek akademik yang mereka pelajari dengan konteks
kehidupan sehari-hari mereka, yakni konteks pribadi, sosial, dan budaya. Hal ini juga
diungkapkan oleh Masnur Muslich (2008) mendefinisikan pembelajaran kontekstual sebagai
suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pembelajaran dengan mengkaitkannya pada kehidupan sehari-hari (konteks pribadi,
sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang secara fleksibel
dapat diterapkan dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan lain.Berdasarkan
beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan suatu pembelajaran yang mengkaitkan kontekstual sehari-hari pada materi
pembelajaran sehingga siswa mampu memaknai pengetahuan/ ketrampilan yang
dipelajarinya serta secara fleksibel dapat menerapkan pengetahuan/ketrampilan yang
dimilikinya dari suatu permasalahan/konteks ke permasalahan yang lainnya.
a. Prinsip dan karakteristik pembelajaran kontekstual
Prinsip dan karakteristik pembelajaran kontekstual wajib dikuasai oleh pendidik agar
dapat menerapkan pembelajaran kontekstual dengan tepat dan benar. Berbagai
pengamatan ilmiah yang teliti dan akurat menunjukan keseluruhan alam semesta ditopang
dan diatur oleh tiga prinsip yaitu saling ketergantungan, diferensiasi, dan pengaturan diri
sendiri (Johnson, 2002).
Menurut (Johnson, 2002) Prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran kontekstual yakni:
1. Prinsip Saling Ketergantungan
Prinsip saling ketergantungan menuntun pada penciptaan hubungan bukan isolasi.
Para pendidik yang bertindak menurut prinsip ini akan mengadopsi praktik CTL
dalam menolong siswa membuat hubungan-hubungan untuk menemukan makna.
Prinsip saling ketergantungan menekankan pada kerjasama. Dengan bekerjasama
siswa akan terbantu untuk menemukan persoalan, memasang rencana, dan mencari
pemecahan masalah,
2. Prinsip Diferensiasi
Prinsip diferensiasi mengilhami pembelajaran kontekstual yang menghargai
keunikan, keragaman, dan kreativitas siswa, proses pembelajaran yang bervariasi,
menyenangkan, dan memotivasi siswa untuk belajar sesuai dengan perkembangan
intelektualnya,
3. Prinsip Pengaturan Diri
Prinsip pengaturan diri meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa
untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk menyesuaikan dengan prinsip ini,
CTL memiliki sasaran menolong para siswa mencapai keunggulan akademik,
memperoleh ketrampilan karier, dan mengembangkan karakter dengan cara
menghubungkan tugas sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.
Berdasarkan uraian diatas, diambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran
kontekstual sesuai dengan prinsip yang mengatur alam yaitu prinsip saling ketergantungan,
diferensiasi, dan pengaturan diri. Ketiga prinsip diatas melandasi pemikiran bahwa seluruh
komponen pendidikan saling bekerjasama dalam proses pembelajaran. Dengan demikian,
siswa dapat belajar sesuai dengan kontek kehidupan siswa sehingga siswa dapat memaknai
pengetahuan tersebut.
Menurut Wina Sanjaya (2011) karakteristik pembelajaran kontekstual adalah:
1) pembelajaran diarahkan pada ketercapaian ketrampilan dalam konteks kehidupan nyata,
2) pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna bagi siswa,
3) pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, dalam situasi yang
menyenangkan dan saling bekerjasama,
4) pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini,
5) melakukan refleksi proses pembelajaran secara kontinu

b. Komponen Pendekatan Kontekstual


Selain mengetahui karakteristik pembelajaran kontekstual, guru juga perlu
mengetahui komponen-komponen dalam pembelajaran kontekstual. Komponen-
komponen pembelajaran kontekstual memberikan ciri khas dalam pelaksanaan
pembelajaran di kelas.
Menurut Masnur Muslich (2008) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
melibatkan tujuh komponen utama yaitu: (1) constructivism (konstrutivisme, membangun,
membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menyelidiki, menemukan), (4)
learning community (masyarakat belajar), (5) modelling (permodelan), (6) reflection
(refleksi), (7) authentic assesment (penilaian yang sebenarnya).
Setiap komponen utama dalam pendekatan kontekstual memiliki prinsip-prinsip
dasar yang harus diperhatikan ketika akan menerapkannya dalam pembelajaran. Prinsip-
prinsip dasar tersebut adalah
(1) konstruktivisme, komponen ini merupakan landasan filosofis (berfikir)
pendekatan kontekstual. Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan
terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan
pengetahuan dan pengalaman belajar yang bermakna (Masnur muslich, 2008),
(2) menemukan (inquiry). Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil dari mengingat seperangkat fakta fakta, akan
tetapi hasil dari menemukan sendiri,
(3) bertanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang slelau dimulai dari bertanya.
Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk
mendorong , membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa.
3. Himpunan

Dalam materi pokok himpunan banyak kita temui permasalahan yang disajikan dalam
bentuk soal cerita. Indikator-indikator pemecahan masalah yang ada dalam permaslaahn
tersebut harus dipahami oleh peserta didik untuk dapat menyelesaikan soal cerita materi
pokok himpunan. Dalam menyelesaikan soal cerita, peserta didik harus mampu
memahami permasalahan yang ada terlebih dahulu. Setelah peserta didik paham dengan
apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal cerita, maka peserta didik
baru bisa menyelesaikan soal cerita dengan menyajikan permasalahan tersebut dalam
berbagai bentuk dan memilih metode yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan
(Asyono, 2005). Dari hasil yang telah diperoleh harus dikembalikan kepertanyaan soal
untuk dapat ditafsirkan jawabannya. Dalam salah satu kompetensi dasar materi pokok
himpunan juga disebutkan bahwa pemecahan masalah dengan menggunakan konsep
himpunan, sedangkan pemecahan masalah dalam materi pokok himpunan tersebut dapat
disajikan dalam bentuk soal cerita (Cunayah, 2008).
A. Pengertian Himpunan
Himpunan adalah kumpulan benda/objek yang dapat didefinisikan dengan jelas
(Asyono, 2005).
Contoh:
1) Kumpulan bunga-bunga indah.
Tidak dapat kita sebut himpunan karena bunga indah itu relatif (bunga indah
menurut seseorang belum tentu indah menurut orang lain). Dengan kata lain,
kumpulan bunga indah tidak dapat didefinisikan dengan jelas.
2) Rombongan siswa SMP MUHI yang berwisata ke pulau dewata adalah himpunan.
Mengapa? Sebabnya ialah siswa-siswi yang berwisata kepulau dewata dapat
diketahui dengan jelas.
a. Menyatakan Suatu Himpunan
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan :
1) Suatu kalimat
2) Notasi pembentuk himpunan
3) Mendaftar anggota-anggotanya

Untuk memberi nama pada suatu himpunan pada umumnya digunakan lambang
huruf kapital.
Contoh:
H adalah tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009.
nyatakan himpunan tersebut dengan ketiga cara di atas:
1) Dengan suatu kalimat
H = {tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009}
2) Dengan notasi pembentuk himpunan :
H = {x|x = tokoh-tokoh yang pernah menjadi presiden RI sebelum pemilu 2009}
3) Dengan mendaftar anggota-anggotanya
H = {Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahaman Wahid, Megawati, Susilo
Bambang Yudoyono}
4) Himpunan Semesta
Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua objek yang sedang
dibicarakan, dituliskan dengan lambang “S”.
Contoh: A= {Senin, Selasa, Sabtu}
S= {nama-nama hari dalam seminggu}
5) Himpunan Kosong
Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota.
Himpunan kosong dinyatakan dengan lambing “{ }” atau “Ø”.
Contoh: A = {bilangan cacah antara 2 dan 3}. Himpunan ini tidak
memiliki anggota, sehingga himpunan ini disebut himpunan kosong.
Ditulis A= { } atau A= Ø
6) Operasi pada Himpunan
a. Irisan (Intersection)
Irisan dua himpunan P dan Q adalah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota P sekaligus anggota Q. Ditulis dengan notasi pembentuk
himpunan sebagai berikut: P  Q = {x | x P dan x Q}
Contoh: A = {bilangan asli yang kurang dari 6} B = {2,4,6}
i. Tentukan A  B
ii. Lukiskan dengan diagram Venn Jawab :
a. A = {1,2,3,4,5}
b. B = {2,4,6} maka A  B = {2,4}

S A B

.1 .2
.3 .6
 4

.5
AB

Gambar 2.1. Irisan A B

b. Gabungan (Union)
Gabungan dari dua buah himpunan akan menghasilkan suatu
himpunan baru yang anggotanya terdiri dari anggota kedua himpunan
tersebut. Operasi gabungan pada himpunan disimbolkan dengan “".
Misalkan P = {2,3,4,5} dan Q = {1,2,4,6} maka P  Q =
{1,2,3,4,5,6}

S P Q

.3 .2 .1

.5 .4 .6

PQ

Gambar 2.2. Gabungan (Union) P  Q


Gabungan dari P dan Q adalah himpunan yang semua anggotanya terdapat
pada P atau Q. ditulis dengan notasi pembentuk himpunan: P  Q = {x| x
P atau x  Q }
c. Selisih
Selisih himpunan P dan Q adalah himpunan semua anggota
yang termasuk di Pdan tidak termasuk di Q, dan ditulis P– Q.
P– Q= { x x ∈ Patau x ∉ Q }
Perhatikan gambar diagram Venn dibawah ini!

Contoh: S = {1, 2, 3, … ,10}


K= {1, 2, 3, 4, 5, 6}
L= {4, 5, 6, 7, 8}
Maka K – L= {1, 2, 3}
L – K= {7, 8}
d. Komplemen
Komplemen diartikan sebagai A suatu himpunan dengan S
sebagai semesta pembicaraannya maka komplemennya adalah S-A
dituliskan dengan Ac.
Ac = S - A
Contoh: S= {1, 2, 3, 4, 5} dan A= {1, 2, 3, 4}
Maka, Ac = 5

Digambarkan pada diagram Venn seperti pada gambar di


bawah ini.
7) Sifat-Sifat Operasi Himpunan (Cunayah, 2008)
DAFTAR RUJUKAN

Asyono. 2005. Matematika Kelas VII SMP. Jakarta: Bumi Aksara.

Belawati, Tian. 2003. Materi Pokok Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Cunayah, Cucun. 2008. Ringkasan dan Bank Soal Matematika SMP/MTs NU. Bandung:
Yrama Widya.
Johnson, E.B. 2002. Contextual Teaching and Learning: Whati is it and why is it here to stay.
Thousands Oaks, California: Corwin Press, Inc.

Kadir, Abdul. 2012. Konsep Pembelajaran Kontekstual di Sekolah. Dinamika Ilmu. 13(3).

Kemdiknas. 2008. Sosialisasi KTSP: Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Kemdiknas.

Kurniawan, Aris. 2019. Pengertian Matematika Menurut Para Ahli Beserta Bidangnya.
(Online), (https://www.gurupendidik.co.id). Diakses tanggal 5 April 2022.

Masnur Muslich. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta:
Bumi Aksara.
Mbulu, J. dan Suhartono. 2004. Pengembangan Bahan Ajar. Malang: Elang Mas.

Nugraha, D., Binadja, A. dan Supartono. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks
Bervisi Sets Berorientasi Konstruktivistik. Journal of Innivative Science education.

Pannen, P., Purwanto. 2001. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas

Purnomo, W. 2009. Presentasi, (Online), (http://wahyupur.wordpress.com/ presentasi/, diakses


10 April 2022).

Rosita, Ida & Suripto, Ngatman. 2014. Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam Peningkatan
Pembelajaran IPA Pada Siswa Kelas VI SDN 2 Kalirejo Kecamatan Karanggayam
Tahun Ajaran 2014/2015. Jurnal Kalam Cendekia. k3, Nomor 5.1, hlm. 545 – 550

Syahid, A. 2003. Pengembangan Bahan Ajar Matakuliah Rancangan Pembelajaran Dengan


Menerapkan Model Elaborasi. Tesis, Tidak Diterbitkan. UM: PPS.
Wahono, R. S. 2008. Meluruskan Salah Kaprah tentang e-Learning, (Online),
(http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-e-Learning/,
diakses 10 April 2022).

Wina Sanjaya. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
PT Kencana.
Yamin, Martinis. 2003. Strategi & Metode Dalam Pembelajaran . Jakarta : Referensi GP Press
Group.