Anda di halaman 1dari 23

PANDUAN

TATA LAKSANA OBAT-OBAT HIGH ALERT MEDICATION


(Obat yang Perlu Diwaspadai) dan NORUM / LASA

PUSKESMAS WIDOROPAYUNG
2022
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................. i


Daftar Isi........................................................................................................................ ii
BAB I DEFINISI 1
..............................................................................................................................
A. Pengertian .................................................................................................... 1
BAB II RUANG LINGKUP 3
.............................................................................................................
A. Jenis Obat Yang Perlu Diwaspadai............................................................... 4
B. Tempat Pelayanan yang Perlu Mewaspadai Penggunaan Obat ................... 5
BAB III TATA 11
LAKSANA................................................................................................................
A. Prosedur Kewaspadaan Obat di Instalasi Farmasi........................................ 11
B. Prosedur Kewaspadaan Obat di IGD dan Ruang Perawatan ....................... 16
C. Tata Laksana Obat – obat High Alert dan Elektrolit Pekat............................ 17
BAB IV DOKUMENTASI........................................................................................................22
Lampiran
BAB I
DEFINIS
I

A. Pengertian

1. High alert medication adalah petunjuk tentang identifikasi, pengelolaan, pelaporan


serta dokumentasi obat – obat yang mempunyai risiko tinggi menyebabkan cedera
pada pasien bila digunakan secara salah. Panduan ini diharapkan sebagai acuan dalam
pengelolaan obat – obat yang perlu diwaspadai di Puskesmas Widoropayung.

2. Obat – obat yang perlu diwaspadai (High Alert Medications) adalah obat
– obat yang mempunyai risiko tinggi menyebabkan cedera pada pasien bila digunakan
secara salah yang daftarnya diperoleh dari hasil inventarisasi unit pelayanan
Puskesmas Widoropayung.

3. Double Check adalah pengecekan ketepatan pasien, nama obat, dosis/kekuatan obat,
cara pemberian obat, waktu pemberian obat, dan dokumentasi yang dilakukan oleh
dua orang petugas, yang kemudian didokumentasikan dengan membubuhkan
tandatangan/paraf. Pada ruang perawatan double check meliputi ketepatan pasien,
nama obat, dosis/kekuatan obat, cara pemberian obat, waktu pemberian obat, dan
dokumentasi; untuk farmasi double check meliputi ketepatan pasien, nama obat,
dosis/kekuatan obat, cara pemberian obat, waktu pemberian obat, dan dokumentasi;
sedangkan untuk unit lain selain ruang perawatan dan farmasi meliputi ketepatan
pasien, nama obat, dosis/kekuatan obat, dan dokumentasi (Institut for safe Medication
Practices).

4. NORUM / LASA ( Look Alike – Sound Alike ) adalah obat – obat yang memiliki
nama, rupa dan ucapan mirip yang perlu diwaspadai khusus agar tidak terjadi
kesalahan pengobatan (dispensing error) yang bisa menimbulkan cedera pada pasien
yang daftarnya diperoleh dari unit pelayanan Puskesmas Widoropayung.
5. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang Narkotika.

6. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika,
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

7. Cairan Elektrolit Pekat adalah elektrolit yang dalam penggunaannya harus dilakukan
pengenceran terlebih dahulu
BAB II
RUANG
LINGKUP

Hampir semua obat-obatan memiliki jangkauan pengamanan yang luas, beberapa obat
memiliki resiko tinggi yang berbahaya ketika kesalahan terjadi. Obat- obat inilah yang
termasuk dalam “HIGH ALERT MEDICINES” . Meskipun kesalahan tidak sering terjadi pada
obat ini dibandingkan obat lain, namun akibat yang mungkin terjadi lebih membahayakan.
Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi karena penggunaan obat dengan resiko tinggi
sebaiknya dihindari dan dikurangi seminimal mungkin.
Dua prinsip yang digunakan untuk mengamankan penggunaan obat berisiko :
1. Mengurangi atau menghilangkan kemungkinan error (contohnya mengurangi
jumlah obat beresiko tinggi yang disimpan puskesmas; mengurangi ketersediaan
konsentrat dan volume dan menghilangkan obat beresiko tinggi dari area klinik).
2. Meminimalkan konsekuensi error (contohnya error fatal yang terjadi ketika
melakukan pemberian ceftriaxone dan Cefotaxime yang tertukar karena kemiripan
Nama dan Bentuk).
Langkah – langkah di dalam penggunaan pengobatan yang ideal :
1. Dokter menuliskan obat ke dalam Resep .
2. Apoteker memverifikasi atau menskrining resep,
3. Apoteker mengecek kerja Asisten Apoteker.
4. Perawat menerima obat dan mengecek kembali laporan perawat terhadap
pengambilan obat.
5. Perawat memberikan obat ke pasien setelah mengecek nama pasien terhadap
pesanan obat, memberitahu pasien nama obat, dosis, dan tujuan dengan
melakukan double check.
6. Obat yang tidak digunakan dikembalikan ( obat retur ) ke bagian farmasi, dimana
apoteker mengecek kembali sesuai dengan pencatatan pemakaian obat pasien.
Kunci perubahan konsep untuk menjaga obat beresiko tinggi :
1. Digunakan sistem Double Check.
2. Menggunakan differensiasi (contohnya mengidentifikasi produk mirip nama dan
bunyi/LASA, menggunakan nama generik yang tidak mirip seperti yang terjadi
pada nama merek).
3. Gudang obat yang baik (contohnya memisahkan obat-obat berpotensi bahaya
dengan produk yang bernama dan kemasan sama).
4. Tampilan produk baru (contohnya apoteker dan terapis sebaiknya menginspeksi
semua obat baru dan peralatan-peralatannya terhadap adanya kemasan dan label
yang buruk).
5. Standarisasi untuk memudahkan komunikasi pesanan (contohnya meminimalkan
pemesanan verbal dan penggunaan isyarat).
6. Akses terbatas (contohnya obat beresiko tinggi sebaiknya hanya disimpan di
tempat dimana apoteker yang hanya boleh mengakses).

A. Jenis Obat yang Perlu Diwaspadai


Obat-obat yang perlu diwaspadai (high alert medications) merupakan obat- obat
yang sering menyebabkan cedera pada pasien secara signifikan bila salah digunakan.
Obat-obat yang termasuk perlu diwaspadai antara lain obat yang mempunyai indeks
terapi sempit atau dari laporan insiden tinggi kesalahan serius obat . Obat yang perlu
diwaspadai dapat dibedakan menjadi :
1. Kelompok High Alert
Obat-obat yang perlu diwaspadai (high alert medications) merupakan obat-
obat yang sering menyebabkan cedera pada pasien secara signifikan bila salah
digunakan.Obat-obat yang termasuk perlu diwaspadai antara lain obat yang
mempunyai indeks terapi sempit atau dari laporan insiden tinggi kesalahan serius
obat . Daftar obat-obat tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.
2. Kelompok obat LASA
Kelompok obat yang memiliki rupa mirip (Look-Alike) dan kelompok obat
yang memiliki nama mirip (Sound-Alike). Daftar obat-obat yang memiliki LASA
dapat dilihat pada lampiran 2. Proses identifikasi obat-obat yang perlu diwaspadai
dan obat – obat yang memiliki LASA , diawali dari pengkajian / analisis resep dan
atau permintaan rutin dari unit – unit layanan Puskesmas Widoropayung. Analisis
resep dilakukan oleh apoteker yang meliputi persyaratan administrasi (tanggal resep,
nama penulis resep, nama pasien, umur / BB),
persyaratan farmasetika (bentuk sediaan, dosis), persyaratan farmasi klinik (ESO
potensial, interaksi potensial). Bila terdapat problema terkait obat (PTO), maka
apoteker akan mengklarifikasi kepada penulis resep. Tahap selanjutnya dilakukan
proses dispensing/peracikan obat yang meliputi pengambilan obat, penulisan etiket
dan penyerahan obat. Sebelum diserahkan kepada pasien, dilakukan pengecekan
ulang oleh checker. Saat penyerahan obat, dilakukan KIE oleh apoteker atau petugas
teknis kefarmasian (asisten apoteker).

3. Elektrolit konsentrasi tinggi

4. Narkotika
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis
maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang Narkotika.

5. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf
pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

B. Tempat Pelayanan yang Perlu Mewaspadai Penggunaan Obat


1. Apotek
a. Pengelola / Pelaksana
Apoteker Pengelola Apotek, tenaga teknis kefarmasian dan tenaga administrasi
harus mengetahui dan mampu melakukan talaksana obat – obat yang perlu diwaspadai
(high alert medication) dan obat yang memiliki nama, rupa dan ucapan mirip (LASA).
Tata laksana obat selalu mengacu kaidah penataan obat yaitu alfabetis, FIFO, FEFO
dan bentuk sediaan. Untuk mengatasi dispensing error pada obat – obat yang masuk
kategori tersebut, pengelola harus mampu melakukan analisis resep meliputi
persyaratan adimistrasi, persyaratan farmasetika, persyaratan famasi klinik sebelum
resep tersebut diracik oleh tenaga teknis farmasi. Pada tahap akhir peracikan, tenaga
teknis kefarmasian yang bertugas sebagai checker selalu memeriksa kembali
kesesuaian antara resep dengan obat yang dikehendaki sebelum diberikan kepada
pasien. Kemudian saat penyerahan obat kepada pasien, dilakukan pemberian KIE oleh
apoteker/tenaga teknis kefarmasian.
b. Penyimpanan obat
Obat-obat yang perlu diwaspadai (high alert) harus diletakkan pada tempat yang
aksesnya minimal ditempatkan pada tempat khusus yang diberi label jelas dan
terpisah dengan obat lain. Untuk obat yang memiliki LASA, tidak boleh diletakkan
berdekatan. Obat berkategori LASA yang terletak pada kelompok abjad yang sama,
harus diselingi dengan minimal dua obat non ketegori LASA di antara atau di
tengahnya. Selain itu obat kategori LASA diberi stiker khusus yang membedakan
dengan obat yang lain (lihat pada bab dokumentasi). Obat Narkotika dan psikotropika
disimpan di dalam lemari khusus terbuat dari bahan kayu yang kuat dan diberi tanda
“HIGH ALERT”; pintu terdiri dari dua bagian atas dan bawah. Serta berkunci ganda,
bagian atas dipergunakan untuk menyimpan persediaan narkotika, bagian bawah
dipergunakan untuk menyimpan psikotropika.

c. Dispensing obat
Kegiatan dispensing (peracikan) obat diawali dengan pengambilan obat sesuai
yang dikehendaki setelah dilakukan analisis resep. Nama, dosis, frekuensi pemberian,
waktu pemakaian,tanggal kadaluarsa, kondisi fisik obat yang memiliki LASA atau
high alert, Narkotika dan Psikotropika harus diperiksa dengan teliti sebelum diberikan
kepada checker.

d. Penyerahan obat
Penyerahan obat kepada pasien dilakukan dengan mengkonfimasi nama, umur,
tanggal lahir pasien disertai pemberian KIE berupa indikasi obat, aturan pakai, efek
samping obat secara umum, perhatian khusus.

2. IGD
Terdapat obat-obat floor stock dan emergeny kit pada lemari obat. Pengelolaaan
obat dan pengendaliannya meliputi permintaan obat ke Apotek, penyimpanan sesuai
sifat dan jenis obat, pencatatan pemasukan/pengeluaran obat menggunakan kartu stok,
pemeriksaan berkala oleh petugas bagian Farmasi.

a. Penanggung jawab / pelaksana


Dokter/perawat yang berdinas hendaknya memahami obat-obat yang perlu
diwaspadai dan memiliki LASA. Pengambilan dan penggunaan obat yang akan
diberikan ke pasien harus diperiksa kembali (recheck) nama, kekuatan dosis, bentuk
sediaan dan jumlah obat terkait dengan permintaan.
b. Penyimpanan obat
Tempat penyimpanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high alert) diletakkan di
tempat terpisah, diberi stiker berupa label high alert dengan warna yang jelas. Untuk
obat yang memiliki LASA, tidak boleh diletakkan berdekatan. Obat berkategori
LASA yang terletak pada kelompok abjad yang sama, harus diselingi dengan minimal
dua obat non ketegori LASA di antara atau di tengahnya. Selain itu obat kategori
LASA diberi stiker khusus berupa label LASA yang membedakan dengan obat yang
lain (lihat pada bab dokumentasi). Penataan obat high alert dan LASA hendaknya
sesuai kaidah stabilitas obat, FIFO, FEFO dan bentuk sediaan.
c. Pemberian obat
Pemberian obat kepada pasien diawali dengan pemeriksaan bentuk sediaan,
tanggal kadaluarsa, kondisi fisik, nama obat, dosis obat, aturan pakai, waktu
pemberian, tanda LASA, melakukan konfirmasi nama, umur, dan tanggal lahir pasien.

3. Pustu/Ponkesdes
Obat-obat floor stock dan emergeny kit yang jenisnya tergantung dari sifat dan
jenisnya. Pengelolaaan obat dan pengendaliannya sama dengan yang berada di
UGD..
a. Penanggung jawab / Pelaksana
Koordinator wilayah dan perawat atau bidan pelaksana harus mengetahui dan
memahami obat – obat yang diwaspadai dan memiliki LASA, ditandai dengan label
high alert dan LASA yang disesuaikan dengan jenis obat. Hendaknya selalu dilakukan
pemeriksaan ulang kebenaran obat sebelum memberikannya kepada pasien.
b. Penyimpanan obat
Obat di simpan dalam lemari khusus obat dengan penandaan khusus berupa label
high alert dan LASA yang disesuaikan dengan jenis obat (lihat pada bab
dokumentasi). Tempat penyimpanan hendaknya jarang dilalui oleh personel. Obat-
obat tersebut harus dipisahkan dengan obat/alkes lain, memiliki kartu stok yang harus
selalu diisi pada saat penerimaan atau pengambilan barang. Khusus obat high alert
golongan elekrolit konsentrat seperti KCl 7,46%, Mg Sulfat 20% dan 40%, Meylon
boleh disimpan di ruang emergency kit. Untuk obat yang memiliki LASA, tidak boleh
diletakkan berdekatan. Obat berkategori LASA yang terletak pada kelompok abjad
yang sama, harus diselingi dengan minimal dua obat non ketegori LASA di antara
atau di tengahnya. Selain itu obat kategori LASA diberi stiker khusus yang
membedakan dengan obat yang lain.
c. Pemberian obat
Pemberian obat kepada pasien diawali dengan pemeriksaan bentuk sediaan,
tanggal kadaluarsa, kondisi fisik, nama obat, dosis obat, aturan pakai, waktu
pemberian, tanda LASA, melakukan konfirmasi nama, umur, dan tanggal lahir pasien.

Daftar obat High Alert yang dikendalikan di Puskesmas Widoropayung

Kategori obat Nama Obat Alasan masuk Hight Alert


Elektrolit  MgSO4
TIDAK DIREKOMENDASIKAN untuk
konsentrat injeksi diberikan secara IV BOLUS

Narkotika Injeksi 
Daftar Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM) / Look Alike Sound Alike
(LASA)

No NAMA OBAT MIRIP - SOUND


ALIKE
1. AmoxICILLIN 500 MG AmpICILLIN 500 MG
2. ASAM mefenAMAT 500 MG ASAM traneksAMAT 500 MG
3. CiproFLOXACIN 500 MG LevoFLOXACIN 500 MG
4. METILprednisolon tab METILergometrin
5. ANTalgin 250 mg/ml ANTrain injeksi
6. EpHEDRIN injeksi EphiNEFRIN injeksi
7. AmiTRIPTILINE aminoPHYLIN
8. AziTHROMYCIN EriTROMYCIN
9. METHYLprednisolon injeksi METHYLergometrin injeksi
10. OKSITETRASIKLIN SALEP mata OKSITETRASIKLIN SALEP kulit
11. GENTAMISIN SALEP kulit GENTAMISIN SALEP mata

No. RUPA OBAT MIRIP - LOOK ALIKE


1. Amlodipine 5 mg Amlodipine 10 mg
2. Allopurinol 100 mg Allopurinol 300 mg
3. Atropin ampul Diphenhidramin ampul
4. Captopril 12,5 mg tablet Captopril 25 mg tablet
5. Ceftriaxone vial Cefotaxime vial
6. Ciprofloxacin infuse Metronidazole infuse
7. Clindamycin 100 mg kapsul Clindamycin 300 mg kapsul
8. Farbion injeksi Fendex injeksi
9. Furosemide 40 mg tablet Isosorbid Dinitrat 5 mg tablet
10. Ibuprofen 200 mg Ibuprofen 400 mg
11. Meloxicam 7,5 mg tablet Meloxicam 15 mg tablet
12. Metilergometrin injeksi Oksitoksin injeksi
13. Ondansetron injeksi Ranitidine injeksi
14. Ringer laktat 500 ml Natrium klorida 0,9% 500 ml
BAB III
TATA LAKSANA

A. Prosedur Kewaspadaan Obat di Instalasi Farmasi


Lakukan prosedur dengan aman dan hati-hati selama memberikan instruksi,
mempersiapkan, memberikan obat, dan menyimpan dan Distribusi high alert
medications
1. Seleksi High Alert Medications
a. Proses seleksi High Alert Medications dilakukan sesuai dengan proses
seleksi sediaan farmasi yang telah berjalan di rumah sakit, sebagaimana
tertulis dalam SPO seleksi obat
b. Pemilihan / seleksi obat dilakukan dan menjadi tanggung jawab Panitia
Farmasi dan Terapi
c. Pemilihan obat-obat harus mempertimbangkan adanya NORUM / LASA
supaya mengurangi resiko terjadinya medication errors
d. Membatasi daftar obat dengan macam-macam merk dalam formularium
2. Pengadaan High Alert Medications
Menginfromasikan kepada semua petugas yang terlibat, mengenai adanya
daftar High Alert Medications di Puskesmas Widoropayung Sorong. Pengadaan
High Alert Medications di Rumkital dr. dr. R Oetojo Sorong yaitu :
a. Pengadaan High Alert Medicationsdari unit pelayanan ke Seksi Obat dan
Perbekalan
b. Pengadaan High Alert Medicationsdari unit pelayanan ke Gudang harus
disertai dengan resep untuk mencegah terjadinya medication errors.
Catatan :
a. Proses pengadaan High Alert Medications dilakukan sesuai dengan proses
pengadaan sediaan farmasi yang telah berjalan di Rumah Sakit
b. Segera menginformasikan kepada unit terkait apabila terjadi perubahan
kemasan produk dan kekosongan obat serta penggantinya sepengetahuan
dokter yang memberikan terapi
c. Menghindari pemesanan High Alert Medications melalui verbal untuk
mencegah terjadinya kesalahan kecuali dalam kondisi emergency.
3. Penyimpanan dan Pelabelan
Dilakukan penyimpanan obat yang sudah aman dengan memperhatikan :
a. Obat — obat yang perlu diwaspadai harus diletakkan pada tempat yang
aksesnya minimal. Membatasi akses masuk ke dalam tempat penyimpanan
obat — obat kategori high alert.
b. Harus dipastikan stabilitas obat terkontrol sehingga kualitas obat tetap terjaga
c. Harus dipastikan ketersediaan obat, cukup untuk kebutuhan pasien
d. Penyimpanan High Alert Medications dilakukan oleh semua staf Apotek dan
Gudang Farmasi, dan menjadi tanggung jawab Apoteker.
e. Semua High Alert Medications yang akan disimpan di Gudang harus ditandai
dengan label HIGH ALERT warna merah pada kardus / kemasan obat
dibagian yang bertuliskan nama obat, namun tidak menutupi nama obat itu
sendiri dan keterangan tambahan pada kemasan obat. Memberi label High
Alert pada obat yang disesuaikan dengan jenisnya.
f. Semua petugas harus membaca label High Alert Medications (HAM) sebelum
menyimpan dan memastikan obat tersebut tersimpan pada tempat yang tepat.
g. Obat – obat yang memiliki LASA / NORUM tidak diletakkan dalam 1 rak
/ disandingkan.
h. Petugas farmasi harus mencatat pemasukan dan pengeluaran obat ke kartu
stok.
i. Sesuai dengan PERMENKES RI No.28/MENKES/PER/I/1978 tentang
Narkotik, narkotika disimpan pada tempat khusus dan tidak dipergunakan
untuk menyimpan obat selain narkotika. Harus disimpan dalam lemari terkunci
yang terbagi dua, masing-masing untuk persediaan (gudang) dan untuk
keperluan sehari-hari.
j. Obat memiliki kategori LASA secara umum
1) Look Alike : Orange kecoklatan
2) Sound Alike : Biru terang

k. Obat memiliki kategori High Alert warna merah bertuliskan narkotika dan
psikotropika.

l. Elektrolit konsentrat dengan label obat High Alert dan penyimpanan hanya
berada di instalasi farmasi.

m. Suhu penyimpanan High Alert Medication disesuaikan dengan keterangan


yang tertera pada kemasan masing-masing kemasan obat..
n. Penataan obat harus mengacu pada prinsip First In First Out (FIFO) dan/atau
First Expired First Out (FEFO).
4. Peresepan
a. Jangan berikan instruksi hanya secara verbal mengenai high alert medications.
b. Instruksi ini harus mencakup minimal :
1) Persyaratan adimistrasi meliputi kelengkapan resep berupa tanggal resep,
nama penulis resep, nama pasien, umur / BB, Nomor RM, tanggal dan
waktu instruksi dibuat..
2) Persyaratan farmasetika meliputi Nama obat (generik), bentuk sediaan,
dosis dan khasiat obat, rute pemberian, dan tanggal pemberian setiap
obat.
3) Persyaratan famasi klinik meliputi farmakoterapi, efek samping obat
potensial, interaksi obat potensial, Kecepatan dan atau durasi pemberian
obat.
c. Dokter harus mempunyai diagnosis, kondisi, dan indikasi penggunaan setiap
High Alert Medications secara tertulis.
5. Peracikan obat
a. Apoteker / asisten apoteker menandai obat High Alert pada lembar resep
dengan centang merah (√ MERAH), obat narkotika garis merah (MERAH),
obat psikotropika garis bawah biru (BIRU).
b. Dilakukan pengambilan obat, penulisan etiket dan penyerahan obat dengan
memperhatikan kesesuaian permintaan resep dengan mengisi kartu stok.
c. Petugas selalu melakukan pemeriksaan ulang (Double Check) kebenaran obat
pada saat pengambilan, penyiapan dan penggunaan obat yang akan diberikan
kepada pasien dengan prinsip 7 benar obat (benar pasien, benar obat, dosis,
rute, benar waktu dan benar dokumentasi).
d. Mengecek tanggal kadaluarsa obat.
e. Bila terdapat problema terkait obat, apoteker akan mengklarifikasi kepada
penulis resep.
6. Persiapan Pemberian
Yang dimaksud dengan persiapan pemberian obat High Alert adalah
mengambil obat injeksi High Alert dari ampul / vial dan dimasukan dalam spuit.
Jika obat berupa serbuk, campur dahulu dengan cairan pelarut sampai seluruh
obat larut. Pada pemberian elektrolit konsentrat KCL,074
%, NaCl 3%, dan MgSO4 harus diencerkan terlebih dahulu dengan cairan infuse
yang sesuai.
Proses persiapan pemberian High Alert Medications harus
mempertimbangkan beberapa hal, yaitu :
a. Identifikasi dengan prinsip 6 benar pemberian obat (benar pasien, benar
obat, benar dosis, benar cara pemberian obat, benar waktu, benar
dokumentasi)
b. Identifikasi dilakukan oleh dua orang (Administrasi dan Petugas dispensing
/ TTK yang berbeda / double check)
7. Penyerahan obat
a. Memastikan ketepatan High alert Medications dengan melakukan double
check dengan teman sejawat meliputi identitas pasien (nama, tanggal lahir /
No. Rekam Medis), nama obat, indikasi, kekuatan dosis, bentuk sediaan, cara
pemberian, dan waktu pemberian. Tujuan pelaksanaan double check terhadap
High Alert Medications adalah identifikasi obat-obatan yang memerlukan
verifikasi atau double check oleh petugas kesehatan lainnya (sebagai orang
kedua) sebelum memberikan obat dengan tujuan meningkatkan keselamatan
dan akurasi. Double check diperlukan sebelum memberikan High Alert
Medications dan saat pelaporan pergantian jaga atau saat melakukan transfer
pasien. Pengecekan pertama dilakukan oleh petugas yang menyiapkan obat,
sedangkan pengecekan yang kedua dilakukan oleh petugas yang akan
memberikan obat kepada pasien (petugas pengecekan yang pertama tidak
boleh sama dengan petugas pengecekan yang kedua) .
b. Sebelum memberikan obat, perawat mengecek identitas pasien dengan
menanyakan nama, tanggal lahir dan nomor rekam medik dan
memberitahukan kepada pasien mengenai nama obat yang dberikan, dosis, dan
indikasinya.
c. Kegiatan double check tersebut didokumentasikan dalam berkas rekam medis
(RM Pemberian Obat Injeksi) dengan tanda tangan kedua perawat (perawat
yang melakukan pengecekan dan yang memberikan obat ke pasien).
d. Pada situasi emergency, dimana pelabelan dan prosedur double check dapat
menghambat / menunda penatalaksanaan dan berdampak negatif pada pasien,
perawat atau dokter pertama-tama harus menentukan dan memastikan bahwa
kondisi klinis pasien benar-benar bersifat emergency dan perlu ditatalaksana
segera sedemikian rupa sehingga double check dapat ditunda.
8. Pemantauan Penggunaan obat High Alert
a. Kegiatan pemantauan penggunaan High Alert Medications dilakukan oleh
Apoteker.
b. Kegiatan pemantauan penggunaan High Alert Medications bertujuan mengkaji
efektifitas serta keamanan penggunaan obat pada pasien rawat inap. Kegiatan
tersebut juga termasuk pemantauan kejadian potensial efek samping obat serta
penatalaksanaan kejadian efek samping obat..
c. Penatalaksanaan efek samping obat High Alert dilakukan dengan melibatkan
tenaga medis, farmasis, dan juga pihak terkait.
9. Pembuangan Ampul / Vial
Limbah ampul / vial High Alert Medications dibuang di wadah khusus
limbah ampul / vial.

B. Prosedur Kewaspadaan Obat di IGD


1. Persiapan dan Penyimpanan
a. Petugas selalu melakukan pemeriksaan ulang (Double Check) kebenaran obat
pada saat pengambilan, penyiapan dan penggunaan obat yang akan diberikan
kepada pasien dengan prinsip 7 benar obat (benar pasien, benar obat, benar
dosis,benar rute, benar waktu dan benar dokumentasi)
b. High Alert Medications yang terdapat di IGD Hanya tersimpan di dalam troli
atau Emergency kit.
c. Semua tempat penyimpanan harus diberikan label yang jelas dan dipisahkan
dengan obat-obatan rutin lainnya. Jika High Alert Medications harus disimpan
di area perawatan pasien, kuncilah tempat penyimpanan dengan diberikan
label 'Peringatan: high alert medications' pada tutup luar tempat penyimpanan.
d. Jika menggunakan dispensing cabinet untuk menyimpan High Alert
Medications, berikanlah pesan pengingat di tutup cabinet agar
pengasuh/perawat pasien menjadi waspada dan berhati-hati dengan high alert
medications. Setiap kotak/tempat yang berisi High Alert Medications harus
diberi label.
e. Infus intravena High Alert Medications harus diberikan label yang jelas
dengan menggunakan huruf/tulisan yang berbeda dengan sekitarnya..
2. Pemberian obat
a. Perawat harus selalu melakukan pengecekan ganda (double-check)
terhadap semua high alert medications sebelum diberikan kepada pasien.
b. Pengecekan Ganda TerhadapHigh Alert Medications
1) Tujuan: identifikasi obat-obatan yang memerlukan verifikasi atau
pengecekan ganda oleh petugas kesehatan lainnya (sebagai orang kedua)
sebelum memberikan obat dengan tujuan meningkatkan keselamatan dan
akurasi.
2) Kebijakan:
a) Pengecekan ganda diperlukan sebelum memberikan High Alert
Medications tertentu / spesifik dan disaat pelaporan pergantian
jaga atau saat melakukan transfer pasien.
b) Pengecekan ganda ini akan dicatat pada rekam medis pasien atau
pada catatan pemberian medikasi pasien..
c) Pengecekan pertama harus dilakukan oleh petugas yang
berwenang untuk menginstruksikan, meresepkan, atau
memberikan obat-obatan, antara lain : perawat, ahli farmasi, dan
dokter.
d) Pengecekan kedua akan dilakukan oleh petugas yang berwenang,
teknisi, atau perawat lainnya .
e) Kebutuhan minimal untuk melakukan pengecekan ganda/verifikasi
oleh orang kedua dilakukan pada kondisi- kondisi seperti berikut :
(1) Setiap akan memberikan injeksi obat
(2) Untuk infus:
(a) Saat terdapat perubahan konsentrasi obat
(b) Saat pemberian bolus
(c) Saat pergantian jaga perawat atau transfer pasien
(d) Setiap terjadi perubahan dosis obat
f) Pengecekan tambahan dapat dilakukan sesuai dengan instruksi
dari dokter.

C. Tata Laksana Obat – obat High Alert dan Elektrolit Pekat


Elektrolit pekat meliputi sediaan
1. NaCl 3% 500 ml,
2. KCl 25 ML
3. Meylon 8,4 %
4. MgSO4
5. D 40%
Penyimpanan elektrolit pekat hanya di instalasi farmasi dan ruang perawatan
tidak diperbolehkan adanya stok elektrolit pekat kecuali Instalasi Farmasi. Pelaksanaan
kegiatan pelarutan obat elektrolit pekat oleh perawat yang telah disosialisasikan cara
persiapan dan pengenceran yang baik oleh petugas Instalasi Farmasi yang dilakukan
dengan tahapan sebagai berikut:
1. Persiapan :
a. Periksa kelengkapan formulir permintaan pencampuran sediaan steril
meliputi : nama, nomor rekam medis, umur, berat badan pasien, diagnosis,
resep, tanda tangan dokter
b. Periksa identitas injeksi elektrolit pekat yang akan diencerkan meliputi :
nama obat, jumlah dan tanggal kadaluarsa.
c. Lakukan konfirmasi ulang.
d. Hitung dosis pencampuran injeksi elektrolit pekat yang akan dibuat
e. Pilih pelarut yang tepat dan hitung volume pelarut yang dibutuhkan
f. Siapkan penanda (label) untuk produk hasil pengenceran yang meliputi :
nama pasien, nomor rekam medis, identitas obat, tanggal pengenceran dan
tanggal kadaluarsa

2. Pengenceran :
a. Lakukan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan benar.
b. Kenakan alat pelindung diri, masker dan sarung tangan.
c. Lakukan disinfeksi pada sarung tangan dengan menyemprotkan alkohol
70% dan tunggu hingga kering.
d. Lakukan disinfeksi pada area kerja dengan menggunakan
desinfektan alat
e. Usap bagian leher botol injeksi elektrolit pekat dengan alkohol 70%,
tunggu sampai kering.
f. Pegang Flas injeksi elektrolit pekat pada posisi kemiringan 450, buka bagian
atas botol dengan arah menjauhi petugas.
g. Pertahankan posisi tersebut selama 5 detik.
h. Pegang botol injeksi elektrolit pekat dengan kemiringan 450, ambil isinya
sesuai dengan volume yang diinginkan menggunakan spuit steril dan segera
tutup jarum spuit.
i. Untuk infus inravena, suntikkan larutan obat ke dalam botol infus pada
posisi 450 perlahan melalui dinding agar tidak berbuih dan tercampur
sempurna.
j. Kocok hasil pencampuran sampai obat tercampur sempurna.
k. Beri label identitas obat, identitas pasien, tanggal pengenceran dan tanggal
kadaluarsa pada infus atau spuit yang berisi elektrolit hasil pengenceran
l. Setelah selesai letakkan sisa proses yang tidak terpakai ke kantong sampah
tertutup.
m. Berikan logo high alert pada botol infus.

3. Cara Pemberian Elektrolit Pekat

No. Jenis elektrolit Pelarut Cara pemberian


1. KCl 7,46% Nacl 0,9% - campur KCl konsentrat dalam infus dgn
Ringer benar sampai tercampur seluruhnya .
Laktat Setidaknya dibutuhkan 10 ml kali membolak-
balik infus untuk memastikan pencampuran
sudah merata. Pencampuran
yang kurang baik menyebabkan
potassium (K) terkonsentrasi di
dasar infus sehingga seperti pemberian bolus.
- Infus KCl harus diberikan melalui infusion
pump sehingga kecepatannya terkontrol.
Tempat penyuntikan harus terlihat jelas,
untuk memudahkan pemantauan adanya
phelibitis/ekstravasasi
- Meminta pasien melaporkan adanya
nyeri, stinging (sensasi
menyengat/pedas) atau kebocoran kanula IV
perifer. Jika salah satu dari hal ini terjadi,
maka infus harus dihentikan dan dilakukan
pengkajian terhadap adanya kebocoran
kanula, dan bila perlu dilakukan penggantian
kanula
- Tidak ada obat-obatan, termasuk
potassium, yang boleh ditambahkan pada
infus KCl yang sedang diberikan
2. NaCl 3% Nacl 0,9% - Pemberian Nacl 3% bersamaan dengan Nacl
0,9%, dengan, dengan cara di cabang dengan
menggunakan triway conector.
- Tempat penyuntikan harus terlihat jelas,
untuk memudahkan pemantauan adanya
phelibitis/ekstravasasi
- Meminta pasien melaporkan adanya nyeri,
stinging (sensasi menyengat/pedas)
atau kebocoran kanula IV perifer. Jika salah
satu dari hal ini terjadi, maka infus harus
dihentikan dan dilakukan pengkajian
terhadap adanya kebocoran kanula, dan bila
perlu
dilakukan penggantian kanula

3. MgSO4 Dextrose 5 - MgSo4 dilarutkan dalam larutan infuse


% Dextrose 5% atau Nacl 0,9% benar sampai
Nacl 0,9 % tercampur seluruhnya .
- Pada pemberian bolus tetap dilarutkan dalam
cairan Dextrose 5% atau Nacl 0,9%
- Tempat penyuntikan harus terlihat jelas,
untuk memudahkan pemantauan adanya
phelibitis/ekstravasasi
- Meminta pasien melaporkan adanya nyeri,
stinging (sensasi
menyengat/pedas) atau kebocoran kanula IV
perifer. Jika salah satu dari hal ini terjadi,
maka infus harus dihentikan dan dilakukan
pengkajian terhadap adanya kebocoran
kanula, dan bila perlu
dilakukan penggantian kanula
BAB IV
DOKUMENTAS
I

1. Formulir Observasi Pemberian High Alert Medications dan Elektrolit Pekat


2. Formulir Pemantauan Pelabelan High Alert Medications
3. Formulir Monitoring Penggunaan High Alert Medications
4. Efek samping yang terjadi didokumentasikan pada lembar MESO (Monitoring Efek
Samping Obat)
5. Puskesmas wajib melakukan pencatatan dan pelaporan insiden yang diakibatkan oleh
penggunaan High Alert Medications, baik kejadian yang tidak diharapkan (KTD)
kejadian nyaris cedera (KNC) dan kejadian sentinel.

Widoropayung, Februari 2022

Kepala
UPT Puskesmas Widoropayung

Mochammad Maqfur, S.Kep., Ners


NIP.19720515 199803 1 012