Anda di halaman 1dari 9

1.

Ekonomi Pancasila adalah ideologi, ilmu, dan sistem ekonomi berjatidiri Indonesia yang
mengacu pada sistem nilai dan sistem sosial-budaya bangsa Indonesia yang berlandaskan etika
dan falsafah Pancasila, yang digali berdasarkan kehidupan ekonomi riil (real-life economy) rakyat
Indonesia.

2. Ekonomi Pancasila sebagai ilmu dan sistem ekonomi telah memiliki latar belakang sejarah
perjuangan dan pengembangan yang cukup panjang, terutama dimulai sejak tahun 1980 oleh
Prof Mubyarto dkk, dan tetap eksis sampai sekarang melalui pendirian Pusat Studi Ekonomi
Pancasila di UGM, penerbitan buku-buku, seminar, kuliah, dan aktivitas terkait lainnya

3. Ilmu Ekonomi Pancasila berdasar asumsi manusia sebagai makhluk sosial (homo socius) dan
makhluk beretika (homo ethicus), bukan sekedar makhluk ekonomi (homo economicus) Oleh
kareanya, ilmu ekonomi tidaklah bebas nilai (value free), melainkan sarat nilai (value ladden),
sehingga ilmu ekonomi dikembangkan secara normatif, bukan sekedar secara positif. Dengan
demikian, ilmu ekonomi mempertimbangkan aspek non-ekonomi, yang harus dikaji secara
multidisiplin, bukan sekedar monodisiplin

4. Ekonomi Pancasila diperjuangkan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia dengan berdasar pada nilai ketuhanan (moral/etik) dan nilai kemanusiaan
(humanistik), melalui penerapan nasionalisme dan demokrasi ekonomi, sesuai amanat pasal 27
(ayat 1), 31, 33, dan 34 UUD 1945.

5. Ekonomi Pancasila merespon makin parahnya degradasi moral bangsa dalam wujud makin
banyaknya perilaku ekonomi (bisnis) yang mengabaikan nilai-nilai moral dan agama. Hal ini
diperpuruk dengan makin meluasnya paham individualisme dan liberalisme yang makin
menjauhkan ilmu dan sistem ekonomi dari dimensi moral dan sosialnya. Ekonomi Pancasila
berupaya mengembalikan hakekat ilmu ekonomi sebagai ilmu moral dan memperjuangkan
“revolusi moral ekonomi” sehingga roda ekonomi bangsa dapat digerakkan oleh rangsangan
ekonomi, moral, dan sosial.

6. Ekonomi Pancasila memprihatinkan banyak terjadinya bencana kemanusiaan sebagai ekses


masih lebarnya ketimpangan sosial-ekonomi antarpenduduk, antarpelaku ekonomi, dan
antarwilayah di Indonesia. Ekonomi Pancasila merefleksikan nasib rakyat kecil (kaum miskin)
yang masih terpinggirkan dan terabaikan hak-hak sosial-ekonominya (kelaparan, tidak mampu
berobat dan sekolah), di tengah makin merasuknya gaya hidup mewah (hedonisme) di antara
sebagian elit bangsa. Ekonomi Pancasila berupaya mengembangkan pola-pola redistribusi
kekayaan (pendapatan) dengan bertumpu pada kehendak kuat warga masyarakat untuk
mewujudkan kemerataan sosial, dan tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya
ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.

7. Ekonomi Pancasila mengupayakan tegaknya kedaulatan ekonomi-politik dan martabat (harga


diri) bangsa dan menyayangkan begitu mudahnya bangsa kita dibodohi, didikte, dan tergantung
oleh kepentingan pihak asing. Hal ini akibat terpukaunya (ketertundukan) bangsa kita pada
agenda globalisasi-pasar bebas yang dibaliknya bersemayam agenda neo-liberalisme, berupa
pemaksaan kepentingan korporat dan negara maju untuk menguasai sumber daya nasional dan
menegakkan imperium global (lewat politik utang) Tunduk pada liberalisme-pasar bebas hanya
membuat bangsa kita tidak pernah belajar dari kesalahan masa lampau, sehingga hanya tetap
akan menjadi kuli di negeri sendiri. Ekonomi Pancasila berfokus pada kepentingan ekonomi
nasional tanpa mengabaikan tanggung jawab globalnya, atas dasar nasionalisme ekonomi untuk
mewujudkan perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri.

8. Ekonomi Pancasila mendorong tegaknya kedaulatan rakyat di bidang ekonomi dengan


melakukan upaya-upaya demokratisasi ekonomi agar kemampuan rakyat untuk mengendalikan
jalannya perekonomian makin besar, khususnya melalui pemberdayaan koperasi dan ekonomi
rakyat. Oleh karenanya, Ekonomi Pancasila berusaha membendung dominasi korporat raksasa
yang makin mengukuhkan terjadinya korporatokrasi di Indonesia, khususnya melalui agenda-
agenda liberalisasi ekonomi dan privatisasi yang memindahkan penguasaan tampuk produksi ke
perorangan dan korporat, sehingga makin meminggirkan ekonomi rakyat dan koperasi. Sistem
Ekonomi Pancasila mengembangkan demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan, koperasi dan
usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. Ilmu Ekonomi
Pancasila-pun berpijak pada analisis ekonomi rakyat dan paradigma kooperasi, bukan sekedar
kompetisi.

9. Ekonomi Pancasila berupaya membangun keseimbangan antara perencanaan nasional


dengan desentralisasi ekonomi, yang merupakan dua pilar utama mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Kondisi ini hanya dapat tercapai apabila aliran hasil produk
domestik (PDRB), sumber keuangan (tabungan/modal), dan anggaran daerah (APBD) benar-
benar untuk pembangunan yang dapat diakses oleh masyarakat lokal, bukannya banyak
“disedot” untuk membiayai pembangunan di pusat-pusat kota besar (apalagi ibu kota, atau
bahkan di bawa ke luar negeri).

10. Ekonomi Pancasila memandang bahwa kemiskinan yang masih menjadi masalah utama
bangsa kita lebih disebabkan karena adanya masalah-masalah struktural ekonomi di antaranya
berupa tiadanya akses terhadap faktor-faktor produksi dan akibat kebijakan pemerintah yang
seringkali justru diskriminatif terhadap penduduk miskin. Ekonomi Pancasila mendorong
pengembangan keuangan mikro sebagai strategi alternatif untuk memberdayakan penduduk
miskin yang tidak memiliki akses terhadap sumber-sumber keuangan dari perbankan
konvensional.

11. Ekonomi Pancasila memandang bahwa kehadiran investasi asing melalui MNC/TNC tidak
selalu mendatangkan kesejahteraan yang memadai (setimpal) kepada masyarakat setempat.
Dalam banyak kasus, investor asing cenderung lebih berkepentingan untuk mengeruk kekayaan
alam sebanyak mungkin (hutan dan tambang) dengan kontraprestasi yang sangat minimal. Oleh
karenanya, investasi pemodal besar (asing) tidak perlu dipuja-puja karena dianggap satu-satunya
cara menciptakan pertumbuhan ekonomi yang mendatangkan lapangan kerja. Ekonomi
Pancasila memandang bahwa investasi yang dilakukan oleh pelaku ekonomi rakyat justru lebih
efisien, ramah lingkungan, dan banyak menyerap tenaga kerja lokal, sehingga investasi inilah
yang perlu dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah.

12. Ekonomi Pancasila memandang urgensi pembangunan pertanian yang berbasis perdesaan
dalam rangka mengokohkan ketahanan dan kedaulatan pangan di Indonesia, khususnya melalui
upaya transformasi kaum tani miskin-marjinal ke dunia pertanian yang lebih modern dan yang
memungkinkan mereka hidup lebih layak., tanpa meninggalkan akar sosial-budaya
masyarakatnya. Upaya reformasi agraria perlu dipertimbangkan sebagai cara untuk memperluas
partisipasi petani kecil dalam proses produksi pertanian.

13. Pendidikan Ekonomi Pancasila merupakan alternatif tergadap pendidikan ekonomi


konvensional di perguruan tinggi Indonesia yang mengacu pada ajaran ekonomi Neoklasik-Barat
yang lebih memfokuskan pehatian pada ekonomi modern (usaha besar) dalam kontek sosial-
ekonomi bangsa Barat, sehingga mengabaikan perhatian pada pemecahan masalah-masalah riil
yang dihadapi pelaku ekonomi rakyat. Pendidikan Ekonomi Pancasila tidak mengedepankan
pandangan individualisme, liberalisme, kompetitivisme, self-interest, dan orientasi
pertumbuhan ekonomi seperti halnya pendidikan ekonomi konvensional, melainkan
memperhatikan faktor-faktor kelembagaan sosial-budaya bangsa Indonesia yang
mengedepankan asas kebersamaan dan kekeluargaan.

14. Pendidikan Ekonomi Pancasila berfokus pada upaya untuk membedah dan mendobrak
ketimpangan (ketidakadilan) struktural, kemiskinan struktural, kerusakan alam (lingkungan),
meluasnya degradasi moral, dan merenggangnya kohesivitas sosial. Pendidikan ini diarahkan
untuk memerdekakan pikiran ekonomi kita yang sejauh ini makin tehegemoni oleh ajaran-ajaran
ekonomi Barat, yang pada akhirnya mampu memerdekakan ekonomi kita dari ketertundukan
dan subordinasi oleh korporatokrasi dan kekuatan imperium global.

Pernyataan Sikap dan Rekomendasi

Bertolak dari dasar pemikiran di atas, Program Kuliah Ekstrakurikuler Ekonomi Pancasila
menyampaikan pernyataan sikap dan rekomendasi sebagai berikut :

1. Menolak amandemen pasal 33 UUD 1945 yang menggusur agenda demokratisasi ekonomi
dan mendesak kepada pemerintah, DPR, dan elemen-elemen terkait untuk mengembalikan
pasal 33 UUD 1945 (asli) beserta penjelasannya.

2. Menolak agenda-agenda liberalisme-pasar bebas yang digagas negara-negara maju karena


terbukti merugikan petani dan pelaku ekonomi rakyat lainnya, dan mendesak pemerintah, DPR,
dan elemen terkait untuk memproteksi komoditas pertanian seperti yang dilakukan oleh negara
maju.

3. Menolak agenda privatisasi BUMN dan privatisasi sumber daya alam strategis yang makin
mengukuhkan korporatokrasi, dan mendesak pemerintah, DPR, dan elemen terkait untuk
melibatkan sebesar-besarnya partisipasi rakyat (khususnya koperasi) dalam penguasaan dan
pengelolaan sumber-sumber ekonomi tersebut.

4. Menolak dipakainya kembali paradigma ekonomi Orde Baru yang terlalu berorientasi
mengejar pertumbuhan ekonomi melalui investasi asing, menyerukan Revolusi Paradigmatik
(Revolusi Mindset), dan mendesak kepada pemerintah dan DPR untuk menggunakan paradigma
Ekonomi Pancasila yang berorientasi pada demokrasi ekonomi menuju terwujudnya keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Mendukung upaya-upaya negosiasi kembali utang luar negeri Indonesia dan mendesak
pemerintah dan DPR untuk tidak membuat utang-utang luar negeri baru yang makin
membebani perekonomian nasional dan mengekibatkan ketergantungan kepada negara dan
lembaga luar negeri.

6. Mendukung upaya-upaya penegakan hukum terhadap praktek-praktek ekonomi yang


mengabaikan nilai moral dan sosial seperti korupsi, illegal logging, penyelundupan, perjudian,
pornoaksi, dan mendesak pemerintah untuk melakukannya secara srius dan konsisten.

7. Mendukung upaya-upaya redistribusi pendapatan melalui optimalisasi penarikan dan


penyaluran zakat dan pajak, dan mendesak pemerintah untuk menjamin pendidikan dan
pengobatan gratis (terjangkau) oleh rakyat miskin.

8. Mendukung upaya-upaya untuk mengkampanyekan penggunaan produk-produk dalam negeri


yang berbasis sumber daya ekonomi lokal dan produksi ekonomi rakyat.

9. Mendukung upaya-upaya pembaruan pendidikan ekonomi di setiap tingkatan dan


memperjuangkan dikembangkannya pendidikan Ekonomi Pancasila, serta secara khusus
mengusulkan diajarkannya Mata Kuliah Ekonomi Pancasila di Fakultas Ekonomi dan di fakultas
terkait lainnya.

10. Mengukuhkan Prof. Mubyarto sebagai Bapak Ekonomi Pancasila dan mengusulkan kepada
Universitas Gadjah Mada untuk mengukuhkannya secara formal.

11. Mengajak segenap elemen bangsa untuk bersatu-padu dalam gerakan bersama
mempertahankan ideologi ekonomi Pancasila, mengembangkan ilmu ekonomi Pancasila, dan
memperjuangkan terwujudnya Sistem Ekonomi Pancasila di Indonesia.
2. KONOMI PANCASILA

3. A. Pengertian Ekonomi Pancasila


Ekonomi pancasila merupakan ilmu ekonomi kelembagaan (instructional economics)
yang menjungjung tinggi nilai-nilai kelembagaan Pancasila sebagai idiologi Negara yang
kelima silanya, secara utuh maupun sendiri-sendiri, menjadi rujukan setiap orang
Indonesia. Jika Pancasila mengandung 5 asas, maka semua substansi sila Pancasila (1)
etika, (2) kemanusiaan, (3) nasionalisme, (4) kerakyatan/demokrasi, dan (5) keadilan
social, harus di pertimbangkan dalam model ekonomi yang disusun. Kalau sila pertama
dan kedua adalah dasarnya, sedangkan sila ketiga dan keempat sebagai caranya, maka
sila kelima Pancasila adalah tujuan dari Ekonomi Pancasila.
Di era glabalisasi ini arus perubahan Negara-negara di dunia telah mengarah kepada
homogenisasi paradigma kehidupan, yaitu universalisasi liberalisme. Di bidang politik,
demokrasi liberal telah menjadi wacana utama, sedangkan di di bidang ekonomi,
ekonomi neoliberal yang bertumpu pada kapitalisme global menjadi arus utama.
Indonesia ebagai Negara yang sedang berkembang telah mulai berkenalan dengan
kapitalisme global seiring dengan perekonomian era Orde baru yang menjadikan
paradigma pertumguhan ekonomi (economic growth) menjadi panglima. Krisis devaluasi
rupiah yang lantas menjelma menjadi krisis moneter sepanjang 1997-1998 telah
membutakan mata bahwa pondasi perekomomian Indonesia yang dibangun atas dasar
hutang luar negeri tidaklah kokoh. Namun, di era reformasi ini, kesadran demikian tidak
malah membangkitkan semangat di kalangan pemerintahan untuk mencari alternative
system perekonomian yang manusiawi dan berkeadilan sosial, justru sebaliknya, saat ini
Indonesia mengalami berbagai dentumen arus neoliberalisme yang terwujud dalam trio
deregulasi, privatilasi, dan liberalisasi perdagangan.

4. Di sisi lain, muncul perkembangan menariok dengan wacanakannya system Ekonomi


Pancasila yang merupakan sistem ekonmi yang belandasan dan dijiwai spirit nilai-nilai
Pancasila. Pandangan sistem ini yang bisa dilacak dari ide-ide Bung Hatta, salah seorang
proklamator RI. Senada dengan pesan pasal 33 UUD 1945 dan berbasiskan nilai-nilai
sosio-religio-budaya masyarakat Indonesia.
Disinilah perlunya menengok ulang pemikiran Adam Smith yang 17 tahun sebelum
menulis karyanya Inquiry Into Nature and Causes Of The Wealth of Nations (1776) yang
kemudian menjadi “kitab suci” ideology kapitalisme, telah menulis The teory of Moral
Sentiments (1759). Di dalam karya terdahulunya, terdapatlah ajaran asli Bapak Ilmu
Ekonomi ini bahwa ekonomi sama sekali tidak lepas dari factor-faktor etika. Dalam buku
ini. Smith mencoba mengembangkan ilmu ekonomi yang tidak saja bermoral namun jga
mendesain aspek kelembagaannya. Dari sinilah keberadaan Ekonomi Pancasila parallel
dengan pemokiran Smith.
Menurut Boediono (mantan Menkeu RI), Sistem Ekonomi Pancasila dicarikan oleh lima
hal sebagai berikut :
1. Koperasi adalah sokogru perekonomian nasional
2. Manusia adalah “economic man” social and religions man”
3. Ada kehendak sosial yang kuat kearah egalitarianisme dan kemerataan sosial.
4. Prioritas utama kebijakan diletakan pada penyususnan perekonomian nasional yang
tangguh.
5. Pengandalan pada sistem desentralisasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan ekonomi,
diimbangi dengan perencanaan yang kuat sebagai pemberi arah bagi perkembangan
ekonomi seperti yang dicerminkan dalam cita-cita koperasi.
Meskipun dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, namun ironisnya sistem
perekonomian yang selama ini berlangsung tidaklah bersumber darinya. Setelah
dicengkrami sistem ekonomi komando di era Orde Lama yang bercorak sosialisme,
berikutnya perekonomian Indonesia menganut sistem ekonomi pasar yang bercorak
kapitalisme di era Orde Baru. Jeratan kapitalisme pun semakin menguat seiring derasnya
paham ekonomi neoliberal yang datang melalui agen-agen kapitalisme global seperti
World Bank dan IMF setelah Indonesia mengalami krisis moneter.
Dalam perjalanan republik ini, bisa dikatakan telah terjadi penelikungan sitem ekonomi
nasional sehingga Pancasila sebagai dasar Negara belum sepenuhnya menjiwai sistem
perekonomian Negara ini, baik oleh faktor eksternal yang dimotori oleh World Bank dan
IMF maupun oeh faktor internal yang bersifat neoliberal dan kalangan intelektual
ekonomi dengan pemikiran-pemikirannya.
Dalam prakteknya, menurut Mubyanto (Kepala PUSTEK UGM), fakultas ekonomi
sebagai gedung pemikiran ilmu ekonomi telah menyumbsng 3 dosa dalam pengajarannya
yang berperan memperparah marginalisasi Ekonomi Pancasila, yaitu :
1. Bersiat parsial dalam mengajarkan ajaran ekonomi kalsik Adam Smith. Konsep Smith
tentang Manusia Sosial (homococius, tahun 1759) dilupakan atau tidak diajarkan,
sedangkan ajaran berikutnya pada tahun 1776 (manusia sebagai homoeconomicus) dipuja
puji secara membabi buta.
2. Metode analisis deduktif dari teori ekonomi neoklasik di ajarkan secara penuh,
sedangkan metode analis induktif diabaikan. Hal demikian bertentangan dengan pesan
Alfred Marshall dan gustave Schmoler, dua tokoh ekonomi neoklasik, untuk memakai
dua metode secara serentak laksana dua kaki.
3. Ilmu ekonomi menjadi spesialistis dan lebih iarahkan untuk menjadi ilmu ekonomi
matematika. Menurut Kenneth Boulding dalam Economic as A Sciense. Ilmu ekonomi
dapat dikembangkan menjadi salah satu atau gabungan dari cabang-cabang ilmu berikut :
(a) ekonomi sebagai ilmu sosial (social science); (b) ekonomi sebagai ilmu ekologi
(ecological science); (c) ekonomi sebagai ilmu prilaku (behavioral science); (b) ekonomi
sebagai ilmu politik (political science); dan (f) ekonomi sebagai ilmu moral (moral
science).
Sebagai sebuah gagasan besar, Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi bukan-bukan,
bukan kapitalisme juga sosialime, menawarkan garapan berupa sistem perekonomian
alternative yang bersifat komprehensif integral bagi jutaan masyarakat Indonesia demi
mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana termaksud dalam alinea IV Pembukaan UUD
1945.
Sejak repormasi, terutama sejak SI-MPR 1998, menjadi populer istilah Ekonomi
Kerakyatan sebagai sistem ekonomi yang harus diterapkan di Indonesia, yaitu sistem
ekonomi yang demokrasi yang melibatkan seluruh kekuatan ekonomi rakyat. Mengapa
ekonomi rakyat bukan ekonomi rakyat atau ekonomi Pancasila? Sebabnya adalah karena
kata ekonomi rakyat dianggap berkonotasi komunis seperti di RRC (Republik Rakyat
Cina). Sedangkan ekonomi Pancasila dianggap telah dilaksanakan selama Orde Baru
yang terbukti gagal.
Pada bulan Agustus 2002 bertepatan dengan peringatan 100 tahun Bung Hatta, UGM
mengmumkan berdirinya Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) yang akan secara
serius mengadakan kajian-kajian tentang Ekonomi Pancasila dengan penerapan di
Indonesia baik di tingkat nasional maupun di daerah-daerah. Sitem Ekonomi Pancasila
yang bermoral, manusiawi, nasionalistik, demokratis dan berkeadilan, jika diterapkan
secara tepat pada setiap kebijakan dan program akan membantu terwujudnya keselarasan
dan keharmonisan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.
Sistem Ekonomi Pancasila berisi aturan main kehidupan ekonomi yang mengacu pada
ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dalam sitem Ekonomi Pancasila, pemerintah
dan masyarakat memihak pada (kepentingan) ekonomi rakyat sehingga terwujud
kemeralatan sosial dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Inilah sistem ekonomi
kerakyatan yang demokratais yang melibatkan semua orang dalam proses produksi dan
hasilnya dinikmati oleh semua warga orang dalam proses produksi dan hasilnya
dinikmati oleh semua warga masyarakat.
Aturan main sitem ekonomi Pancasila yang lebih ditekankan pada sila ke 4 (Kerakyatan
yang dipimpin olek hikmat kebuijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan) menjadi
selogan baru yang di perjuangakan sejak eformasi. Melalui gerakan reformasi banyak
kalangan terhadap hukum dan moral dapat dijadikan landasan pikir dan landasan kerja.
Sitem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada dan melindungi
kepentingan ekonomi rakyat. Sistem ekonomi kerakyatan adalah sub-sistem dari ekonomi
Pancasila, yang diharapkan mampu meredam akses kehidupan ekonomi yang liberal.

5. B. Undang-Undang Dasar 1945 dan Pembangunan di Bidang Ekonomi


UUD 1945 menegaskan di dalam pembukaanya bahwa salah satu tujuan negara Indonesia
adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Penegasab di atas tidak terlepas dari
pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan yaitu bahwa negara hendak
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Karena pembukaan UUD 1945 bserta seluruh pokok-pokok pikiran yang terkandung di
dalamnya menjiwai Batang Tubuh UUD, maka tujuan itupun dijabarkan lebih lanjut
dalam pasal-pasal seperti dalam pasal 23, pasal 27 serta pasal 33 dan 34. namun
demikian, diantara pasal-pasal yang paling pokok dan melandasi usaha-usaha
pembangunan di bidang ekonomi pasal 33.
Pasal 33 tersebut menyatakan sebagai berikut :
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekelurgaan.
2. Cabang-Cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.
3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terjkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara
dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Mengenai pasal ini penjelasan UUD mengatakan : “ Dalam pasal 33 tercantum dasar
demokrasi ekonomi, produksi di kerjakan oleh semua. Untuk semua di bawah pimpinan
atau pemikiran anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang di
utamakan, bukan kemakmuran orang-seorang, sebab itu perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan
itu adalah koperasi.
Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang. Sebab
itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang mengusai hidup orang
banyak dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tuympuk produksi jatuh ketangan orang-orang
yang banyak ditindasinya. Hanya perusaan yang tidak mengusasi hajat hidup orang
banyak boleh ada di tangan orang-orang.
Bumi dan air dan kekayaan alam terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok
kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 33 UUD 1945 merupakan pasal yang amat penting karena pasal ini menjadi
landasan dan pangkal tolak bagi pembangunan ekonomi. Bahwa masalah perekonomiandi
cantumkan dalam suatu pasal di bawah Bab mengenai Kesejahteraan Sosial, mempunyai
makna yang dalam dan menunjukan dengan jelas bahwa tujuan ekonomi nasional adalah
untuk kesejahteraan sosial dan kemakmuran bagi rakyat banyak dan bukan untuk orang
perorangan atau suatu golongan. Dalam pasal 33 UUD 1945 ini pula di tegaskan asas
demokrasi ekonomi dalam dalam perekonomian Indonesia.
Berdasarkan pasal 33 UUD 1945 tersebut, GBHN menggariskan bahwa pembangunan di
bidang ekonomi yang di dasarkan kepada Demokrasi Ekonomi menentukan bahwa
masyarakat harus memegang peranan aktif dalam kegiatan pembangunan. Sedangkan
Pemerintah berkewajiban memberikan pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan
ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Sebaliknya
dunia usaha perlu memberikan tangggapan terhadap pengarahan dan bimbingan serta
penciptaan iklim tersebut dengan sigiat-giatnya yang nyata.
Demokrasi ekonomi sebagai dasar pelaksanaan pembangunan memiliki ciri-ciri positif
yang perlu terus menerus dipupuk dan dan di kembangkan.
Ciri-ciri positif tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
2. Cabang-cabang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak di
kuasai oleh Negara.
3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh Negara
dan di pergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
4. Sumber-sumber Kekayaan dan keungan Negara digunakan dengan permufakatan
lembanga-lembaga Perwakilan Rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada
pada lembaga-lembaga Perwakilan Rakyat pula.
5. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilikh dalam memilih pekerjaan yang
dikehendaki serta mempunyai hak dan penghidupan yang layak.
6. Hak milik perorangan diakui dan dimanfaatjannya tidak boleh bertentangan dengan
kepentingan masyarakat.
7. Potensi, inisiatif dan daya kreasi warga Negara diperkembangkan sepenuhnya dalam
batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
8. fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.

6. Sebaliknya, dalam Domokrasi Ekonomi harus dihindari timbulnya ciri-ciri negatif


sebagai berikut :
1. Sistem free Fight Liberalime yang membutuhkan eksploitasi terhadap manusia dan
bangsa lain yang dalam sejarahnya di Indonesia telah menimbulkan dan mempertahankan
kelemahan stuctural posisi Indonesia dalam ekonomi dunia.
2. Sistem etatisna dalam nama Negara beserta aparatur ekonomi Negara bersifat
dominant serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi
sector Negara.
3. Pemusatan kekuatan ekonomi pada suatu kelompok dalam bentuk monopoli yang
merugikan masyarakat.
Dalam mengembangkan kopresi, Presiden mengatakan dalam pidato kenegaraan tanggal
16 Agustus 1983 : “Dalam rangka mendorong prakarsa dan partisipasi rakyat itu,
pengembangan koperasi merupakan usaha yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam
tanggung jawab kita bersama untuk melaksanakan semangat dan kehendak pasal 33
UUD. Dalam Repelita IV koperasi harus semakin l;uas dan berakar alam masyarakat,
sehinga koperasi secara bertahap dapat menjadi salah satu sokoguru perekonomian
nasional kita. Untuk itu peranan dan usaha koperasi perlu ditingkatkan dan diperluas
bebagai sector. Seperti sector pertaniaan, perindustrian, perdagangan, angkutan,
kelistrikan, dan lain-lain. Dalam rangka mempercepat pertumbuhan koperasi dibergaigai
bidang tadi, maka akan di dorong dan dikembangkan kerjasama anatara koperasi dengan
usaha swasta dan usaha Negara. Di samping itu juga kita akanlanjutkan penggunaan
koperasi fungsional seperti koperasi buruh dan kariawan perusahaan, koperasi pegawai
negeri, koperasi mahasiswa dan sebagainya sehingga koperasi makin memasyarakat dan
makin membudaya.
Dengan demikian terhadapt tiga unsur penting dalam tata perekonomian yang di susun
sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dalam Demokrasi Ekonomi yang
sector Negara, sector swasta dan koperasi. Ketiga sector ini harus dikembangkan secara
serasi dan mantap.