Anda di halaman 1dari 35

pertumbuhan dan perkembangan anak

Pengertian
Anak memiliki ciri khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai
berakhirnya masa remaja. Hal inilah yang membedakan anak dengan orang dewasa.
Anak bukan orang dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan
perkembangan yang sesuai dengan usianya.

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler,
berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan,
sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks
dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan
kemandirian.

Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan


pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf
pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem
ANATOMI DAN FISIOLOGI BLOK 18

Perkembangan menimbulkan perubahan


tahap awal menentukan perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan pada
mempunyai kecepatan yang berbeda

tahap perkembangan sebelum melewati


berjalan sebelum dia bisa berdiri. Anak
perkembangan mempunyai kecepatan

bagian tubuh lain yang terkait dengan

Setiap anak tidak bisa melewati satu

Setiap pertumbuhan disertai dengan


perkembangan pada masing-masing

tahap perkembangan sebelumnya.


Pertumbuhan dan perkembangan

perubahan fungsi. Sebagai contoh,

bersamaan dengan pertumbuhan.


perkembangan fungsi organ, juga

menyertai pertumbuhan otak dan


hambatan pertumbuhan kaki dan

perkembangan intelegensia akan


tidak bisa berdiri jika mengalami

Sebagai contoh, anak tidak bisa

Ciri-Ciri Pertumbuhan dan


yang berbeda-beda, baik dalam

Perkembangan terjadi secara


Sebagaimana pertumbuhan,
pertumbuhan fisik maupun

serabut saraf.
fungsi berdiri.
anak.

Perkembangan
selanjutnya
perkembangan seorang anak dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung dari
Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai

Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui
belajar, anak memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan

Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Dengan demikian,

tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi secara berkesinambungan.


Ciri-Ciri Pertumbuhan dan
Perkembangan (lanjutan) PRINSIP-PRINSIP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar


Perkembangan berkorelasi dengan
pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung dengan
cepat, perkembangan juga demikian, terjadilah
peningkatan mental, memori, daya nalar,
asosiasi dan sebagainya. Anak yang sehat,
ketika bertambah umur, bertambah berat,
bertambah tinggi, serta bertambah pandai.

dengan potensi yang ada pada individu.

Pola perkembangan dapat diramalkan


Perkembangan mempunyai pola yang tetap

dan potensi yang dimiliki oleh anak.


Terdapat 2 hukum tetap mengenai
perkembangan fungsi organ tubuh yaitu:
Pola sefalokaudal (perkembangan dimulai dari daerah
kepala menuju ke arah ekor)
Pola proksimodistal (perkembangan dimulai dari
daerah proksimal berupa gerak kasar menuju ke arah
distal berupa gerak halus)
Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap perkembangan mengikuti pola yang
teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut
tidak terjadi secara terbalik, misalnya anak
mampu menggambar lingkaran terlebih
dahulu, barulah mampu menggambar persegi,
anak harus mampu berdiri terlebih dahulu,
barulah mampu berjalan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PERTUMBUHAN
DAN PERKEMBANGAN ANAK

Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang
merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak, baik faktor internal maupun eksternal.

FAKTOR INTERNAL:

• Ras/etnik atau bangsa


Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memilki faktor herediter
ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya
• Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau
kurus
• Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan
masa remaja.
• Jenis kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki..
Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.
• Genetik
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi
ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang
anak seperti kerdil.
• Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhanseperti pada
sindroma Down's dan sindroma Turner's.

FAKTOR EKSTERNAL:

Faktor prenatal

• Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trisemester akhir kehamilan akan mempengaruhi
pertumbuhan janin
• Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kongenital seperti club foot
• Toksi/zat kimia
Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital.
• Radiasi
Paparan radium dan sinar rontgen dapat kelainan pada janin seperti deformitas anggota
gerak
• Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh virus TORCH dapat menyebabkan
kalainan pada janin, katarak, bisu tuli, retasdasi mental dam kelainan jantung.
• Kelainan imunologi
Adanya perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi
terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran
darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan kerusakan
jaringan otak
• Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan
lain-lain
Faktor Intranatal

Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan
keruskaan jaringan otak.

Faktor Postnatal

• Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
• Penyakit kronis/kelainan kongenital
Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan
jasmani.
• Lingkukan fisis dan kimia
Lingkungan sebagai tempat anak hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar
anak. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnnya sinar matahari, paparan sinar
radioaktif, zat kimia tertentu mempunya dampak yang negatif terhadap pertumbuhan
anak.
• Endokrin
Gangguan hormon, misalnya hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan
pertumbuhan.
• Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh
orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertetkan, akan mengalami hambatan di
dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
• Sosio-ekonomi
Kemisikinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang
jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.
• Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang
anak.
• Stimulasi
Pertumbuhan memerlukan rangsang/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya
penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain
terhadap kegiatan anak.
• Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghamba pertumbuhan, demikian halnya
dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan
terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN YANG DIPANTAU:

Ada 4 aspek utama perkembangan yang perlu dipantau yaitu:

1. Gerak kasar (motorik kasar)


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap
tubuh yang melibatkan otot-otot besar, seperti duduk, berdiri, berjalan dan sebagainya.

2. Gerak halus (motorik halus)


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan
koordinasi yang cermat, seperti mengamati sesuatu, menjimpit, menulis, dan lain-lain.

3. Kemampuan bicara dan bahasa


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara,
bicara, berkomunikasi, mengikuti perintah dan sebagainya.

4. Sosialisasi dan kemandirian


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri,
membereskan mainan setelah selesai digunakan), berpisah dengan ibu/pengasuh,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan sebagainya.

PERIODE PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK


Tumbuh-kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan
yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa.Tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa
periode. Berdasarkan beberapa kepustakaan, periode tumbuh kembang anak adalah sebagai
berikut:

Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).

Masa ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu :


- Masa zigot, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.
- Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu. Ovum yang telah
dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang
berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam tubuh.
- Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan. Masa ini
terdiri dari 2 periode yaitu:
o Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke-2 kehidupan
intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad
manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi.
o Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan
berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi. Terjadi transfer Imunoglobin G
(Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esensial seri Omega 3
(Docosa Hexanic Acid) dan Omega 6 (Arachidonic Acid) pada otak dan retina.

Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan.
Pada periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan janin.
Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman beralkohol, obat-obat,
bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, faktor psikologis seperti kekerasan terhadap
ibu hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pertumbuhan janin dan kehamilan. Pada
setiap ibu hamil, dianjurkan untuk selalu memperhatikan gerakan janin setelah kehamilan 5
bulan.

Agar janin dalam kandungan tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, maka selama
masa intra uterin, seorang ibu diharapkan:
o Menjaga kesehatannya dengan baik.
o Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan.
o Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya.
o Memeriksa kesehatannya secara teratur ke sarana kesehatan.
o Memberi stimulasi dini terhadap janin.
o Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan keluarganya.
o Menghindari stres baik fisik maupun psikis.
o Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi kehamilannya.

Masa bayi (infancy) umur 0 sampai 11 bulan.

Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu:

- Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari.


Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah,
serta mulainya berfungsi organ-organ. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
o Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari.
o Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat
adalah:
o Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana kesehatan yang
memadai.
o Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan terlambat pergi ke
sarana kesehatan bila dirasakan sudah saatnya untuk melahirkan.
o Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat menenangkan
perasaan ibu.
o Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan penuh rasa syukur.
Lingkungan yang seperti ini sangat membantu jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya.
o Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap diperhatikan oleh karena
berhubungan dengan masalah pemberian ASI.

- Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.

Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan
berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi sistem saraf.
Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai unit pertama yang
dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan
memberikan yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan
kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan kepada
makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat
pola asuh yang sesuai.
Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak terjalin, sehingga dalam
masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak sangat besar.

Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).

Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam
perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan dasar
yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan
anak selanjutnya.
Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan
sel-sel otak masih berlangsung; dan terjadi pertumbuhan serabut serabut saraf dan cabang-
cabangnya, sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan
pengaturan hubungan-hubungan antar sel saraf ini akan sangat mempengaruhi segala
kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.
Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas,
kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan
landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini,
sehingga setiap
kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan
baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.

Masa anak prasekolah (anak umur 60-72 bulan).

Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi perkembangan


dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan meningkatnya ketrampilan dan proses
berfikir. Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangannya.
Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka lingkungan di luar rumah mulai
diperkenalkan. Anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan
banyak keluarga yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah
dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman kota, atau ke tempat-
tempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk anak.
Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan suasana bermain yang bersahabat
untuk anak (child friendly environment). Semakin banyak taman kota atau taman bermain
dibangun untuk anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak.
Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistim reseptor
penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak mampu belajar
dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan cara
bermain.
Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan
anaknya, agar dapat dilakukan intervensi dini bila anak mengalami kelainan atau gangguan.

TAHAPAN PERKEMBANGAN ANAK MENURUT UMUR

Umur 0-3 bulan


o Mengangkat kepala setinggi 45 0 .
o Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
o Melihat dan menatap wajah anda.
o Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
o Suka tertawa keras.
o Bereaksi terkejut terhadap suara keras.
o Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
o Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, kontak

Umur 3-6 bulan


o Berbalik dari telungkup ke telentang.
o Mengangkat kepala setinggi 90o.
o Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
o Menggenggam pensil.
o Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.
o Memegang tangannya sendiri.
o Berusaha memperluas pandangan.
o Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
o Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik.
o Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Umur 6-9 bulan


o Duduk (sikap tripoid – sendiri).
o Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
o Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.
o Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya.
o Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan.
o Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
o Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatatata.
o Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
o Bermain tepuk tangan/ciluk ba.
o Bergembira dengan melempar benda.
o Makan kue sendiri.

Umur 9-12 bulan


o Mengangkat badannya ke posisi berdiri.
o Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
o Dapat berjalan dengan dituntun.
O Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
o Mengenggam erat pensil.
O Memasukkan benda ke mulut.
o Mengulang menirukan bunyi yang didengar.
o Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
o Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja.
o Bereaksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
o Senang diajak bermain ”CILUK BA”
o Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.
Umur 12-18 bulan
o Berdiri sendiri tanpa berpegangan.
o Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali.
o Berjalan mundur 5 langkah.
o Memanggil ayah dengan kata papa & memanggil ibu dengan kata
o Menumpuk 2 kubus.
o Memasukkan kubus di kotak.
o Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa mengeluarkan suara
yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
o Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.

Umur 18-24 bulan


o Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik.
o Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
o Bertepuk tangan, melambai-lambai.
o Menumpuk 4 buah kubus.
o Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
o Menggelindingkan bola kearah sasaran.
o Menyebut 6 kata yang mempunyai arti.
o Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.
O Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri. Umur 24-36 bulan o Jalan naik
tangga sendiri.
o Dapat bermain dan menendang bola kecil.
o Mencoret-coret pensil pada kertas.
o Bicara dengan menggunakan 2 kata.
o Dapat menunjuk 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.
o Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda atau lebih.
o Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu mengangkat piring jika diminta.
o Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah.
o Melepas pakaiannya sendiri.

Umur 36-48 bulan


o Berdiri 1 kaki 2 detik
o Melompat kedua kaki diangkat
o Mengayuh sepeda roda tiga.
o Menggambar garis lurus
o Menumpuk 8 buah kubus.
o 2-4 warna.
o Menyebut nama, umur, tempat.
o Mengerti arti kata di atas, di bawah, di depan.
oMendengarkan cerita.
o Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
o Bermain bersama teman, mengikuti aturan permainan
o Mengenakan sepatu sendiri.
o Mengenakan celana panjang, kemeja, baju

Umur 60 bulan
o Berdiri 1 kaki 6 detik.
o Melompat-lompat 1 kaki.
o Menari.
o Menggambar silang.
o Menggambar lingkaran.
o Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
oMengancing baju atau pakaian boneka.
o Menyebut nama lengkap tanpa dibantu
o Senang menyebut baru.
o Senang bertanya tentang sesuatu
o Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
o Bicaranya mudah dimengerti
o Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya
o Menyebut angka, menghitung jari
o Menyebut nama-nama hari
o Berpakaian sendiri tanpa dibantu.
o Menggosok gigi tanpa dibantu.
o Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.

Umur 60-72 bulan


o Berjalan lurus.
o Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik.
o Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap
o Menangkap bola kecil dengan kedua tangan gambar
o Menggambar segi empat.
o Mengerti arti lawan kata
o Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih
oMenjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan kegunaannya.
o Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 -10 o Mengenal warna-warni o Mengungkapkan
simpati o Mengikuti aturan permainan
o Berpakaian sendiri tanpa dibantu

7. Beberapa Gangguan Tumbuh-Kembang Yang Sering Ditemukan.

- Gangguan bicara dan bahasa.


Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena
kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya,
sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak.
Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan
gangguan ini dapat menetap.

- Cerebral palsy.
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, yang disebabkan
oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang
sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.

- Sindrom Down.
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya dan
mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang
berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti
kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya
dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan keterampilan untuk menolong
diri sendiri.

- Perawakan Pendek.
Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi mengenai tinggi badan
yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang berlaku pada
populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena varisasi normal, gangguan gizi, kelainan
kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.

- Gangguan Autisme.
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul sebelum
anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan sehingga
gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara mendalam.
Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang ninteraksi sosial,
komunikasi dan perilaku.

- Retardasi Mental.
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ < 70) yang
menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan
masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.
- Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian yang
seringkali disertai dengan
hiperaktivitas.
Milestone” Perkembangan Balita dan Anak Sekolah
Ventilasi Tekanan Positif

1. Indikasi
Setelah dilakukan langkah awal resusitasi, ventilasi tekanan positif
harus dimulai bila bayi tetap apnea setelah stimulasi atau
pernafasan tidak adekuat, dan/atau frekuensi jantung kurang dari
100 tahun kali/menit. Bila bayi bernafas adekuat dan frekuensi
memadai tetapi sianosis sentral, bayi diberi oksigen aliran bebas.
Bila setelah ini bayi tetap sianosis, dapat dicoba melakukan ventilasi
tekanan positif.

2. Peralatan untuk melakukan ventilasi tekanan positif


Peralatan yang dilakukan untuk ventilasi tekanan positif adalah
salah satu dari 3 alat berikut:
a) Balon mengembang sendiri(self inflating bag)
b) Balon tifdak mengembang sendiri(flow inflating bag) atau T-
piece resucitation
Bila menggunakan balon tidak mengembang sendiri atau T-piece
resucitation, tetap harus disiapkan balon mengembang sendiri
sebagai cadangan bila aliran oksigen terhenti.

3. Cara melakuka ventilasi tekanan positif


a) Sebelum persalinan berlangsung, pada saat persiapan alat
resusitasi, alat yang akan dipakai untuk ventilasi tekanan
positif dipasang dan dirangkai serta dihubungkan dengan
oksigen sehingga dapat memberikan kadar sampai 90-100%.
Siapkan sungkup dengan ukuran yang sesuai berdasarkan
antisipasi ukuran/berat bayi. Ukuran sungkup yang tepat
adalah yang dapat menutupi hidung, mulut, dan dagu.
b) Setelah alat dipilih dan dipasang, pastikan bahwa alat dan
sungkup berfungsi baik. Peralatan harus disiapkan dan
diperiksa sebelum setiap persalinan berlangsung dan operatr
harus memeriksa kembali tepat sebelum penggunaan.
c) Operator berdiri di sisi kepada atau samping bayi. Sungkup
diletakkan di wajah bayi dengan lekatan yang baik.
d) Dilakukan pemompaan pada balon resusitasi dengan tekanan
awal >30 cmH2O dan selanjutnya 15-20 cmH2O dengan
frekuensi 40-60 kali/menit.
e) Ventilasi tekanan positif dilakukan selama 30 detik sebanyak
20-30 kali, dengan fase ekspirasi lebih lama dari fase inspirasi.
f) Setelah 30 detik ventilasi, dilakukan penilaian frekuensi
jantung.
g) Bila frekuensi jantung <60 kali/menit, resusitasi dilanjutkan
dengan kompresi dada dan ventilasi tekanan positif tetap
dilanjutkan secara terkoordinasi. Bila frekuensi jantung >60
kali/menit, hentikan kompresi dada dan ventilasi tekanan
positif dilanjutkan sampai frekuensi jantung mencapai 100
kali/menit atau lebih dan bayi bernafas spontan.
Bila ventilasi tidak adekuat yang ditandai dengan tidak terjadinya
perbaikan frekuensi jantung, periksa gerakan dada. Bila tidak atau
sedikit saja gerakan dada. Bila tidak atu sedikit saja gerakan dada
maka teknik ventilasi harus diperbaiki dengan cara berikut:
1) Memperbaiki lekatan sungkup wajah
2) Memperbaiki posisi kepala
3) Bila terdapat sekret dalam jalan nafas, isap sekretnya
4) Usahakan mulut sedikit terbuka
5) Bila tekanan kurang, naikkan tekanan saat meremas balon.

KORTEX SEREBRI
-Lesi area 4B
Terjadi kelumpuhan/paralise kontralateral, ditandai dengan :
• Hipertoni
• Hiperefleksi
• Klonus
• Refleks patologis
• Tidak ada atrofi

-Lesi area 4s : gerakan spastis kontralateral.


-Lesi area 6B : terjadi gerakan spastic (kehilangan gerakan keahlian) tanpa terjadi
paralise.
-Lesi daerah motorik suplementer : manusia menghitung dalam hati tanpa bersuara,
atau manusia menyebutkan angka dengan keras sewaktu menghitung.
-Lesi 44B : tidak dapat berbicara karena otot lidah lumpuh walaupun ia dapat
berbicara sendiri. Atau tidak dapat menyebutkan nama benda yang diperlihatkannya.
-Lesi area prefrontal :
• Pembicaraannya mudah berpindah dari satu judul kejudul yang lain tanpa ada
hubungannya.
• Sukar untuk menetapkan perhatiannya pada satu pokok pembicaraan
• Kehilangan memahami ingatan jangka pendek, karena ketidakmampuan otak
untuk mengklasifikasi informasi yang masuk dan membentuk kode
(perekaman) untuk penyimpanan dalam daerah ingatan.
• Selalu bertindak tergesa-gesa.
-Lesi area 3.2.1 B : terjadi penurunan kemampuan sensasi.
-Lesi 5 dan 7B : menyebabkan defek pada kinerja motorik yang ditandai tidak adanya
kemampuan melakukan rangkaian gerakan yang dipelajari, misalnya makan dengan
pisau dan garpu.
-Lesi area 41 dan 42 B : terjadi ketulian/tidak mendengar dan tidak memahami
suara/bunyi yang didengarnya.

-Lesi 20,21,22B : terjadi halusinasi suara/ilusi.


-Lesi area wernicke : mendengar dengan sempurna dan melihat/mengenal berbagai
kata, tetapi tidak mempu menyusun kata-kata.
-Lesi area planum temporale : tidak mampu memvisualisasikan kata-kata dan gambar
(alexia dan agraphia) dan hilang kemampuan mengutarakan maksud diri sendiri dan
apraxia ideomotor.
-Lesi area 17,18,19B : terjadi hemianopsia homonym pada kerusakan unilateral dan
kebutaan pada kerusakan bilateral, serta terjadi hilangnya kemampuan gerakan mata
untuk mengikuti benda yang bergerak ke sisi kontralateral dan kemampuan focus,
serta terjadi agnosia visualis.
-Lesi area gyrus angularis : tidak mampu memvisualisasikan kata-kata dan gambar
(alexia dan agraphia)
-Lesi area 40, 41 dan 42B : hilang kemampuan mengutarakan maksud diri sendiri dan
apraxia ideomotor serta terjadi ketulian/tidak mendengar dan tidak memahami
suara/bunyi yang didengarnya.

BATANG OTAK
Ganglia Basalis
Penyakit ganglia basalis :
- hiperkinetik  korea, atetosis, balismus
- hipokinesia  akinesia, bradikinesia
Korea : gerakan menari involunter dan cepat
Atetosis : gerakan menggeliat terus menerus yang lambat
Balismus : gerakan involunter yang menyentak, lambat, kasar
Akinesia : kesulitan dalam memulai gerakan dan pemurunan gerakan spontan
Bradikinesia : lambatnya gerakan
Ganglia basalis terdapat tiga jalur :
- sistem dopaminergik negostriatum
- sistem kolinergik intrastriatum
- sistem GABA ergik : stritum --- globus palidus dan substansia nigra
Penyakit Huntington : kehilangan GABA ergik dan kolinergik intrastriatum
Penyakit Parkinson : degenerasi sistem dopaminergik nigrostriatum
Pons
- Lesi fascialis (N.VII)
- Lesi traktus piramidalis
Medulla Oblongata
- Lesi hipoglossus (N.XII)
- Lesi traktus piramidalis
Diencephalon
● Lesi thalamus
Sindroma thalamik :
- emosi abnormal (berlebihan)
- sisi homolateral: stimuli ringan sudah sebabkan R/ sangat berlebihan
- sisi kontralateral: sensoris umum berkurang,ambang rangsang nyeri dan suhu
meninggi
Lesi hypothalamus
- Bisa hipothermia/hiperthermia
- Nucl supraopticus sangat sensitif thd tek osmotik darah. Bila tek >> ADH
akan dikeluarkan
- Bl nucl ini rusak akan terjadi Polyuria,polydipsia(Diabetes Insipidus)
- Pubertas precox & hipergonadisme
- Gangguan sistim otonom
- Sham rage (marah hebat)
- Gangguan ritme circadian (sleep-wake)
- Hyperphagia/hipophagiaobesitas/kurus
Lesi subthalamus
Gangguan motorik pd daerah kontralateral yang bersifat involunter, tiba-tiba,
sangat kuat, cepat seperti melempar lengan (hemiballismus)
2.1 Konsep Dasar Imunisasi

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan


memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang
mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang
berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan
kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari
penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.

Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan
tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan
penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus
dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat
membahayakan kesehatan dan hidup anak.

Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi
angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari
dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan,
gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.

Macam-macam imunisasi ada dua macam:

® Imunitas Aktif : Didapat secara alami : Tubuh anak akan membuat sendiri anti
bodi setelah diberi suntikan antigen, kekebalan yang didapat akan bertahan selama
bertahun- tahun.

® Imunitas Pasif :Tubuh tidak membuat sendiri anti boodi tetapi mendapatkannya
dengan cara penyuntikan serum yang telah mengandung anti bodi, kekebalan yang
diperoleh biasanya akan berlangsung selama 1-2 bulan

Efek samping

- Reaksi atopik : terjadi beberapa menit- beberapa jam (Shock, gatal diseluruh
tubuh, pucat, sianosis, kejang- kejang, kematian ).

- Serum Sicknes : terjadi + 6- 24 hari

Gejala anas, urtikaria pada daerah glotis

2.2 Jenis , Cara Pemberian Dan Tempat Imunisasi


1. Imunisasi BCG

Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa
100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, Berasal dari bakteri
hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2), Ditemukan oleh Calmette dan
Guerin.
Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. deltoid
dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan
Imunisasi ulang tidak perlu, keberhasilan diragukan

Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%.
Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang.
Penyimpanan pada suhu < 5°C terhindar dari sinar matahari (indoor day-light).

Cara penyuntikan BCG


 Bersihkan lengan dengan kapas air
 Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang
berlubang menghadap keatas.
 Suntikan 0,05 ml intra kutan
 merasakan tahan
 benjolan kulit yang pucat dengan pori- pori yang khas diameter 4-6 mm

2. Imunisasi Hepatitis B
 Vaksin berisi HBsAg murni
 Diberikan sedini mungkin setelah lahir
 Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid, dosis 0,5 ml.
 Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C
 Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam
setelah lahir + imunisasi Hepatitis B
 Dosis kedua 1 bulan berikutnya
 Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan)
 Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian
 Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml

3. Imunisasi Polio
 Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan
sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan
fenol merah
 Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.
 Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)
 Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu
 Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
 Anak diare akibat gangguan penyerapan vaksin.
 Ada 2 jenis vaksin
 IPV salk
 OPV sabin IgA lokal
 Penyimpanan pada suhu 2-8°C
 Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima
vaksin
 Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas
yang neurovirulen

4. Imunisasi DPT
Terdiri dari
 toxoid difteri yaitu racun yang dilemahkan
 Bordittela pertusis yaitu bakteri yang dilemahkan
 toxoid tetanus yaitu racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan
mertiolat
 Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih
didasarnya
 Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi
kecil.
 Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.
 Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.
 Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan
iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.

5. Imunisasi Campak
 Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang
dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering,
dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.
 Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang
diperoleh dari ibu.
 Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.
 Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat celsius
 Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C
 Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan
kemudian

6. Imunisasi HIB
 Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B
 Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali
 Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.
 Dosis 0,5 ml diberikan IM
 Disimpan pada suhu 2-8°C

7. Imunisasi MMR
 Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari:
 Measles strain moraten (campak)
 Mumps strain Jeryl lynn (parotitis)
 Rubela strain RA (campak jerman)
 Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun
 Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan
imunisasi lain.

8. Imunisasi Typhus

Tersedia 2 jenis vaksin:


suntikan (typhim) ® >2 tahun

ü Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml


secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.

ü Disimpan pada suhu 2-8°C


ü Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B

ü Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi oral
(vivotif) ® > 6 tahun, 3 dosis

9. Imunisasi Varicella

Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa
diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara sub
kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C.

10. Imunisasi Hepatitis A

Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur > 2 tahun.
Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-
inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid. Reaksi yag
terjadi minimal kadang demam, lesu, lelah, mual-muntah dan hialng nafsu makan.

11. Vaksin Combo

Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk
mencegah penyakit yang berbeda, misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan
beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama,
misal: OPV

Tujuan pemberian
 Jumlah suntikan kurang
 Jumlah kunjungan kurang
 Lebih praktis, compliance dan cakupan naik
 Penambahan program imunisasi baru mudah
 Imunisasi terlambat mudah dikejar
 Biaya lebih murah

2.3 Penyimpanan Vaksin

Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia telah terbukti efektif antara lain


dengan terbasminya penyakit cacar, dimana Indonesia dinyatakan bebas cacar sejak
tahun 1974. Dalam penyelenggaraan program imunisasi dibutuhkan dukungan vaksin,
alat suntik dan rantai dingin (cold chain) agar kualitas vaksinasi sesuai dengan
standar guna menumbuhkan imunitas yang optimal bagi sasaran imunisasi.

Penyelenggaraan program imunisasi di Indonesia telah terbukti efektif antara lain


dengan terbasminya penyakit cacar, dimana Indonesia dinyatakan bebas cacar sejak
tahun 1974. Dalam penyelenggaraan program imunisasi dibutuhkan dukungan vaksin,
alat suntik dan rantai dingin (cold chain) agar kualitas vaksinasi sesuai dengan
standar guna menumbuhkan imunitas yang optimal bagi sasaran imunisasi.
Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman, atau
racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan yang berguna untuk merangsang
timbulnya kekebalan tubuh seseorang. Bila vaksin diberikan kepada seseorang, akan
menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan


penanganan yang khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di unit pelayanan.
Suhu yang baik untuk semua jenis vaksin adalah + 2 ºC s/d + 8 ºC.

Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan kerusakan vaksin


sehingga menurunkan atau menghilangkan potensinya bahkan bila diberikan kepada
sasaran dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang tidak
diinginkan. Kerusakan vaksin dapat mengakibatkan kerugian sumber daya yang tidak
sedikit, baik dalam bentuk biaya vaksin, maupun biaya-biaya lain yang terpaksa
dikeluarkan guna menanggulangi masalah KIPI atau kejadian luar biasa.

Selama ini masih banyak petugas kesehatan yang beranggapan bahwa bila ada
pendingin maka vaksin sudah aman, malahan ada yang berfikir kalau makin dingin
maka vaksin makin baik. Pendapat itu perlu diluruskan! Semua vaksin akan rusak bila
terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Tetapi beberapa vaksin juga
tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak secara permanen dalam waktu
yang lebih singkat dibandingkan bila vaksin terpapar panas.

Berdasarkan sensitivitas terhadap suhu, penggolongan vaksin adalah sebagai berikut:


a. Vaksin sensitive beku (Freeze sensitive = FS), adalah golongan vaksin yang akan
rusak terhadap suhu dingin dibawah 0ºC (beku) yaitu: Hepatitis B, DPT, DPT-HB,
DT, TT
b. Vaksin sensitive panas (Heat Sensitive = HS), adalah golongan vaksin yang akan
rusak terhadap paparan panas yang berlebih yaitu: BCG, Polio, Campak.

Pemantauan suhu vaksin sangat penting dalam menetapkan secara cepat apakah
vaksin masih layak digunakan atau tidak. Untuk membantu petugas dalam memantau
suhu penyimpanan dan pengiriman vaksin ini, ada berbagai alat dengan indikator
yang sangat peka seperti Vaccine Vial Monitor (VVM), Freeze watch atau Freezetag
serta Time Temperatur Monitor (TTM).

Dengan menggunakan alat pantau ini, dalam berbagai studi diketahui bahwa telah
terjadi berbagai kasus paparan terhadap suhu beku pada vaksin yang peka terhadap
pembekuan seperti Hepatitis B, DPT dan TT. Dengan adanya temuan ini maka telah
dilakukan penyesuaian pengelolaan vaksin untuk mencegah pembekuan vaksin.

Kerusakan Vaksin Terhadap Suhu

Suhu tempat penyimpanan yang tidak tepat akan menimbulkan kerusakan vaksin. Hal
ini dapat dilihat dari keterangan seperti pada tabel di bawah ini:

Vaksin Sensitif Beku


a. Suhu terlalu dingin

Pada vaksin Hepatitis B, DPT-HB di suhu – 0,5 ºC dapat bertahan selama maksimum
½ jam dan DPT, DT, TT pada suhu – 5 ºC S/D -10 ºC dapat bertahan selama
maksimum 1,5 – 2 jam.

b. Suhu terlalu panas

Sedangkan vaksin DPT, DPT-HB, DT pada suhu beberapa ºC diatas suhu udara luar
(ambient temperature < 34 ºC) dapat bertahan 14 hari sedangkan Hepatitis B dan TT
dapat bertahan 30 hari.

Vaksin Sensitif Panas

Sementara Poliobeberapa ºC diatas suhu udara luar (ambient temperature < 34 ºC)
dapat bertahan selama 2 hari sedangkan Campak dan BCG beberapa ºC diatas suhu
udara luar dapat bertahan 7 hari.

Terlihat bahwa rusaknya vaksin sensitif beku akibat terpapar suhu terlalu dingin, jauh
lebih cepat daripada rusaknya vaksin sensitif panas akibat terpapar suhu terlalu panas.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila lebih banyak vaksin yang rusak akibat
terpapar suhu terlalu dingin dibandingkan terpapar suhu terlalu panas.

Beberapa Catatan Penting

Paparan panas secara kumulatif akan mengurangi umur dan potensi semua jenis
vaksin. Untuk memantau hal tersebut dipergunakan alat pemantau suhu panas
Vaccine Vial Monitor (VVM) dimana untuk vaksin dari Departeman Kesehatan RI
sudah ditempelkan pada semua kemasan vaksin kecuali BCG. Alat ini berupa gambar
lingkaran berwarna ungu dengan segi empat didalamnya yang berwarna putih pada
VVM A.

Dengan pengaruh panas akan berubah menjadi VVM B dimana segi empat sudah
berwarna ungu muda, VVM C dimana segi empat sudah berwarna ungu sama seperti
lingkaran diluarnya dan VVM D dimana segi empat sudah berwarna lebih ungu dari
pada lingkaran diluarnya. Vaksin dengan VVM C dan D pertanda sudah terpapar
panas dan tidak boleh digunakan lagi.

Vaksin DPT, TT, DT, HB dan DPT-HB akan rusak bila terpapar suhu beku. Masing-
masing vaksin tersebut memiliki titik beku tersediri, yaitu vaksin Hepatitis B beku
pada suhu -0,5 ºC, sedang vaksin DPT, DT Dan TT akan beku pada suhu -5 ºC.

Vaksin yang tidak rusak oleh paparan suhu beku adalah Polio, Campak dan BCG.
Untuk memantau suhu beku dapat dilakukan dengan menggunakan Freeze Watch dan
Freeze tag yaitu alat yang sensitif terhadap suhu beku dimana bila alat ini terpapar
suhu dibawah -0 ºC akan terlihat pada monitor berupa warna biru untuk Freeze Watch
atau tanda silang untuk Freeze tag.
Ditingkat puskesmas semua vaksin disimpan pada suhu +2 s/d +8 ºC sedang freezer
yang ada hanya diperuntukkan bagi pembuatan cold pack (es batu).Untuk
pendistribusian vaksin ke lapangan seperti posyandu sebaiknya menggunakan air
dingin (cool pack) dan bila situasinya mengharuskan menggunakan cold pack, karena
tempat yang panas atau jauh, sebaiknya vaksin diatur berdasarkan sensitifitasnya
terhadap suhu dan diberi pelapis untuk jenis vaksin yang berbeda.

Kini Vaksin Bisa Awet Tanpa Kulkas

Untuk menjaga kestabilan organisme yang hidup di dalam vaksin, temperatur tempat
penyimpanan vaksin perlu dijaga. Masalahnya, untuk negara sedang berkembang dan
miskin seperti di Afrika dan juga pelosok Indonesia, yang penyediaan listriknya
kurang memadai, kestabilan vaksin kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Para ilmuwan dari Universitas Oxford, Inggris, baru-baru ini memublikasikan cara
penyimpanan vaksin agar tetap hidup tanpa harus disimpan di lemari es. Hasil riset ini
diharapkan bisa meningkatkan luas cakupan imunisasi di daerah terpencil.

Para peneliti menggabungkan vaksin dengan dua tipe gula sebelum perlahan-lahan
dikeringkan dalam kertas filter. Hal ini akan mengawetkan vaksin sehingga bila
sewaktu-waktu dibutuhkan dapat langsung diaktifkan. Gula yang dipakai adalah jenis
sukrosa dan trehalose yang biasa digunakan dalam bahan pengawet.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Science Translational Medicine, para ilmuwan


tersebut mengatakan, dengan metode tersebut, mereka sanggup menjaga kestabilan
vaksin dalam suhu 45 derajat selama enam bulan.

Bila kita bisa mengubah standar penyimpanan vaksin menjadi cara ini, berarti kita
bisa menghemat biaya pengiriman karena vaksin bisa tahan dalam suhu ruangan.
Jumlah anak yang bisa mendapat imunisasi pun lebih banyak. Teknologinya
sederhana dan murah,” kata Profesor Adrian Hill, ketua peneliti.

Dia menambahkan, hasil riset yang dilakukan timnya cukup meyakinkan karena ia
menggunakan virus hidup. “Karena kami menggunakan vaksin yang butuh perhatian
ekstra, maka metode ini seharusnya juga bisa dipakai untuk vaksin yang mengandung
protein mati,” katanya.

Anggota penelitian lain, Dr Matt Cottingham, mengatakan, karena tidak diperlukan


lemari pendingin, bukan tidak mungkin nantinya vaksin bisa disimpan di tas ransel
dan dibawa ke pelosok desa.

“Kini tinggal mengembangkan teknik ini dan mencobanya di Afrika untuk


mengetahui apakah bisa diperbanyak oleh industri. Kami perkirakan dalam waktu 5
tahun akan ada perubahan besar dalam penyimpanan vaksin,” papar Hill.

2.4 Persiapan Sebelum Imunisasi

Sebulan sebelum waktu pelaksanaan perlu disampaikan pesan-pesan kepada


masyarakat antara lain:
 Pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita
 Mempersiapkan jadwal pelaksanaan dan tempat-tempat/pos kapsul vitamin
atau vaksin dan pelayanan imunisasi campak (pakai poster “Pos Vaksin X”
yang telah dikirim)
 Bawa anti anafilaktik untuk mengatasi bila terjadi anaphylactic shock karena
imunisasi

Pada hari H-1 semua sarana pelayanan telah mendistribusikan:


 Data sasaran balita (alamat, nama ayah, nama ibu, tanggal lahir, umur).
 “Undangan “ kepada sejumlah sasaran yang telah terdata.
 Kapsul vitamin/ vaksin sebanyak 125 % jumlah sasaran.
 Pakai kapsul vitamin/ ampul vaksin yang diterima lebih awal terlebih dahulu,
perhatikan tanggal kadaluwarsa.
 Alat suntik sesuai jumlah sasaran. Perhatian, Alat suntik ini bersifat sekali
pakai (autodestruct), maka torak tidak boleh ditarik sebelum jarum tersebut
ditusukkan kedalam vial vaksin. Torak yang sudah ditarik sebelum diisi vaksin
tidak akan dapat digunakan lagi
 Vaksin campak sesuai kebutuhan , dengan perhitungan jumlah vial sama
dengan jumlah sasaran dibagi 8 (untuk vial 10 dosis).
 Vaksin campak harus disimpan didalam termos berisi es dengan suhu berkisar
2-8 °C
 Insenerator/kotak karton untuk memusnahkan alat suntik bekas pakai.
 Format pelaporan yang akan digunakan

Cara Pencatatan dan Pelaporan

Khusus untuk kegiatan keterpaduan ini, menggunakan laporan seperti contoh format
terlampir. Hasil cakupan imunisasi dan vitamin A selanjutnya direkap di Puskesmas
dan dilaporkan melalui SP2TP.

Apa Yang Dilakukan terhadap Sisa Kapsul dan Vaksin?


 Sisa kapsul vitamin/vaksin, dapat disimpan sesuai dengan tanggal kadaluwarsa
yang tertulis di botol kapsul.
 Sisa kapsul dicatat dalam pencatatan logistik dalam laporan obat.
 Semua vaksin yang masih utuh dibawa kembali ke puskesmas dalam termos
berisi es batu.
 Semua botol vaksin kosong dan vaksin sisa dibawa kembali ke Puskesmas
untuk dimusnahkan setelah dihitung.

A. Pengertian
Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh yang secara
kuantitatif dapat diukur. Seangkan perkembangan adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh
yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan dan belajar.
Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma tertentu. Walaupun demikian
seorang anak dalam banyak hal tergantung kepada orang dewasa, misalnya mengkunsumsi makanan,
perawatan, bimbingan, perasaana aman, pencegahan penyakit dan sebaginya. Oleh karena itu semua
orang-orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti persoalan anak yang sedang
tumbuh dan berkembang.
Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, diantaranya adlah faktor
lingkungan. Bila lingkungan karena suatu hal menjadi buruk, maka keadaan tersebut hendaknya
diubah (dimodifikasi) sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan sebaik-
baiknya.
B. Mengapa Tumbuh Kembang Anak Harus Dipelajari?.
1. Sebagai alat ukur dalam asuhan keperawatan
2. diperlukan untuk mengetahui yang normal dalam rangka mendeteksi defiasi dari normal
3. memepelajari tumbuh krmbang memberikan guide line untuk menilai rata-rata atau perubahan fisik,
intelektual, soaial dan emosional yang normal
4. mengetuhi perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional merupakan penuntun bagi perawat
dalam mengkaji tingkat fungsional anak dan penyesuaiannya terhadap penyakit dan dirawat di rumah
sakit.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak, tidak selamanya berjalan sesuai yang diharapkan. Hal
ini disebabkan karena banyak faktor yang mempengaruhinya, baik faktor yang dapat
diubah/dimodifikasi yaitu faktor keturunan, maupun faktor yang tidak dapat diubah/dimodifikasi yaitu
faktor lingkungan. Apabila ada faktor lingkungan yang menyebabkan gangguan terhadap proses
tumbuh kembang anak, maka faktor tersebut perlu diubah (dimodifikasi).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut adalah
sebagai berikut:
faktor keturunan (herediter)
a. seks
kecepatan pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak wanita berbeda dengan anak laki-laki
b. ras
anak keturunan bangsa Eropa lebih tinggi dan besar dibandingkan dengan anak keturunan bangsa
Asia.
faktor lingkungan
a. lingkungan eksternal
1. kebudayaan
kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi kepercayaan adat kebiasaan dan tingkah laku dalam
merawat dan mendidik anak.
2. status sosial ekonomi keluarga
keadaan sosial ekonomi keluarga dapat mempengaruhi pola asuhan terhadap anak. Misalnya orang tua
yang mempunyai pendidikan cukup mudah menerima dan menerapkan ide-ide utuk pemberian asuhan
terhadap anak
3. nutrisi
untuk tumbuh kembang, anak memerlukan nutrisi yang adekuat yang didapat dari makan yang bergizi.
Kekurangan nutrisi dapat diakibatkan karena pemasukan nutrisi yang kurang baik kualitas maupun
kuantitas, aktivitas fisik yang terlalu aktif, penyakit-penyakit fisik yang menyebabkan nafsu makan
berkurang, gangguan absorpsi usus serata keadaan emosi yang menyebabkan berkurangnya nafsu
makan.
4. penyimpangan dari keadaan normal
disebabkan karena adanya penyakit atau kecelakaan yang dapat menggangu proses pertumbuhan dan
perkembangan anak.
5. olahraga
olahraga dapat meningkatkan sirkulasi, aktivitas fisiologi, dan menstimulasi terhadap perkembangan
otot-otot.
6. urutan anak dalam keluarganya
kelahiran anak pertama menjadi pusat perhatian keluarga, sehingga semua kebutuhan terpenuhi baik
fisik, ekonomi, maupun sosial.
b. lingkungan internal
1. intelegensi
pada umumnya anak yang mempunyai intelegensi tinggi, perkembangannya akan lebih baik jika
dibandingkan dengan yang mempunyai intelegensi kurang.
2. hormon
ada tiga hormon yang mempengaruhi pertumbuhan anak yaitu:
somatotropin, hormon yang mempengaruhi jumlah sel untuk merangsang sel otak pada masa
pertumbuhan, berkuragnya hormon ini dapat menyebabkan gigantisme; hormon tiroid, mempengaruhi
pertumbuhan, kurangnya hormon ini apat menyebabkan kreatinisme; hormon gonadotropin,
merangsang testosteron dan merangsang perkembangan seks laki-laki dan memproduksi spermatozoa.
Sedangkan estrogen merangsang perkembangan seks sekunder wanitadan produksi sel
telur.kekurangan hormon gonadotropin ini dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan seks.
3. emosi
hubungan yang hangat dengan ornag lain seperti ayah, ibu, saudara, teman sebaya serta guru akan
memberi pengaruh pada perkembangan emosi, sosial dan intelektual anak. Pada saat anakberinteraksi
dengan keluarga maka kan mempengaruhi interaksi anak di luar rumah. Apabila kebutuhan emosi anak
tidak dapat terpenuhi
3. Pelayanan Kesehatan Yang ada di sekitar Lingkungan
Dengan adanya pelayanan kesehatan disekitar lingkungan anak dapat mempengaruhi tunbuh kembang
anak, karena dengan anak diharapkan dapat terkontrol perkembangannya dan jika ada masalah dapat
segera diketahui sedini mungkin serta dapat dipecahkan / dicari jalan keluarnya dengan cepat.
D. Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Pola pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara terus menerus. Pola ini dapat merupakan dasar
bagi semua kehidupan manusia, petunjuk urutan dan langkah dalam perkembangan anak ini sudah
ditetapkan tetapi setiap orang mempunyai keunikan secara individu.
Pertumbuhan fisik dapat dilihat secara lebih nyata, namun sebenarnya disertai pula dengan
pertumbuhan psikososial anak dan diikuti dengan hal-hal dibawah ini:
1. directional trends
pertumbuhan dan perkembangan berjalan secara teratur, berhubungan dengan petunjuk atau gradien
atau reflek dari perkembangan fisik dan maturasi dari fungsi neuromuscular. Prinsip-prinsip ini meliputi:
a. cephalocandal atau Head to tail direction (dari arah kepala ke kaki)
misalnya: mengangkat kepala, duduk kemudian mengangkat dada dan menggerakkan ekstremitas
bagian bawah.
b. proximadistal atau near to far direction
(menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat dan pada anggota gerak yang lebih
jauh dari pusat
misalnya: bahu dulu baru jari-jari
c. mass to specific atau simple to complex
(menggerakkan daerah yang lebih sederhana dulu baru kemudian yang lebih komplex)
misalnya: mengangkat nahu dulu baru kemudian menggerakkan jari – jari yang lebih sulit atau
melambaikan tangan baru bisa memainkan jari.
2. sequential trends
semua dimensi tumbuh kembang dapat diketahui maka sequence dari tumbuh kembang tersebut dapat
diprediksi, dimana hal ini berjalan secara teratur dan kontinyu. Semua anak yang normal melalui setiap
tahap ini. Setiap fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya.
Misal: tengkurap – merangkak – berdiri – berjalan.
3. masa sensitif
pada waktu-waktu yang terbatas selama proses tumbuh kembang dimana anak berinteraksi terutama
dengan lingkungan yang ada, kejadian yang spesifik.
Masa-masa tersebut adalah sebagai berikut:
a. masa kritis
yaitu masa yang apabila tidak dirangsang/berkembang maka hal ini tidak akan dapat digantikan pada
masa berikutnya.
b. masa sensitif
mengarah pada perkembangan dan mikroorganisme. Misalnya pada saat perkembangan otak, ibunya
menderita flu maka kemungkinan anak tersebut akan hydrocepallus/encepalitis.
c. masa optimal
yaitu suatu masa diberikan rangsangan optimal maka akan mencapai puncaknya. Misalnya: anak usia 3
tahun/saat perkembangan otak dirangsang dengan bacaan-bacaan/gizi yang tinggi, maka anak tersebut
dapat mencapai tahap perkembangan yang optimal. Perkembangan ini berjalan secara pasti dan tepat,
tetapi tidak sama untuk setiap anak. Misalnya:
· ada yang lebih dulu bicar baru jalan atau sebaliknya
· ada yang badannya lebih dulu berkembang kemudian subsistemnya dan sebaliknya
· dan sebagainya.
Pengertian Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah bertambah besarnya ukuran sel, mereka membagi dan menyatu dengan protein,
bertambahnya ukuran dan berat badan secara keseluruhan atau sebagian ( Donna L. Wong, 1999)

Perkembangan fisik berpengaruh secara :


Langsung
Akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak
Tidak langsung
Akan berpengaruh terhadap cara pandang dirinya terhadap keadaan dirinya sendiri dan orang lain akan
berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak
Daur pertumbuhan utama
Ada empat periode :
Periode pra lahir s.d 6 bulan adalah periode cepat
Akhir tahun pertama pasca lahir : melambat s. d stabil yaitu antara usia 8 – 12 tahun
Usia 12 – 18 tahun : periode cepat kembali s. d usia dewasa (ledakan pubertas)
Tahap tenang : dewasa s.d lansia walau berat badan kadang berubah-ubah.
Proporsi tubuh
Masa bayi : ukuran kepala lebih besar dari badan
Masa kanak – remaja pertumbuhan kaki dan tangan lebih cepat daripada kepala
Masa dewasa : kepela lebih kecil dari badan, ukuran kepala 2 x lahir, badan 3 x ukuran lahir, lengan
dan kaki 5 kali lahir, otot, tulang, paru – paru dan alat kelamin ± 20 kali lahir
Otak sempurna 10 tahun pertama, bola mata sempurna 5 tahun pertama, jantung dan anggota tubuh
lainnya mencapai 20 tahun untuk mencapai kesempurnaan.
Bentuk bangun tubuh :
Endomorf : gemuk dan berat
Mesomorf : anak kekar, berat bentuk badan segitiga
Ektomorf : kurus dan bertulang panjang
Otot dan lemak
Ada tiga periode kritis pembentukan sel lemak :
3 bulan terakhir kehidupan pra lahir
2 – 3 tahun pasca lahir
antara usia 11 – 12 tahun (usia remaja)
Bila setiap periode ini terlalu banyak makan mengandung karbohidrat akan merangsang pertumbuhan
sel – sel lemak yang lebih padat dan jika lemak itu sudah terbentuk akan menetap seumur hidup.

Berat Tubuh
Usia 4 bulan : 2 x BBL
Usia 1 tahun : 3 x BBL
Usia 2 – 3 tahun bertambah 2,5 kg setiap tahunnya (Perkembangan Anak : Elizabeth Hurlock)
Usia 5 tahun : 5 x BBL
Usia remaja 40 – 45 kg
Antara usia 10 – 12 tahun mendekati tahap remaja periode lemak berlangsung selama 2 tahun tapi
tidak merata terutama wanita.
Gigi
Mulai erupsi usia 6 – 8 bulan
Usia 9 bulan baru 3 buah gigi
Usia 2 - 2,5 tahun : 20 gigi susu
Urutan Erupsi : gigi depan bawah
Usia 6 tahun : 1 – 2 gigi tetap
Usia 10 tahun : 14 – 16 gigi tetap
Usia 13 tahun 27 – 28 gigi tetap
Usia 17 – 25 tahun : bertambah 4 buah gigi bungsu
Makna gigi
Pengaruhnya terhadap emosi, usia 1 – 3 tahun secar emosional terganggu
Gangguan terhadap keseimbangan tubuh, akibat rasa nyeri dan tidak nyaman
Isyarat kedewasaan, munculnya gigi tetap pertanda masa kanak berganti menuju tahap dewasa
Penampilan : mencabut gigi susu yang goyang lebih cepat kan membuat gigi baru tonggos
Pengucapan kata- kata
Perkembangan susunan saraf
Masa kandungan – 4 tahun sangat pesat (jumlah dan ukuran), setelah itu pengembangan sel saraf
dalam fungsi.
Perubahan pada masa remaja
Periode pubertas : usia kedewasaan berlangsung 3 – 4 tahun
Gadis berusi 12 – 14 tahun
Laki-laki berusia 13 – 15 tahun
Ada perubahan hormonal (gonadotropin dan pertumbuhan) dan organ reproduksi
Perubahan tubuh masa pubertas
1. Ukuran tubuh, pertumbuhan cepat 2 tahun sebelum kematangan organ reproduksi, penambahan
tinggi 10 – 15 cm dan berat 5 – 10 kg , wanita mencapai tubuh dewasa usia 18 tahun sementara pria
usia 19 – 20 tahun
2. Perubahan proporsi tubuh.
Ada yang proporsional ada yang tidak
3. Ciri kelamin utama dan sekunder
Prilaku masa puber : cenderung sulit diduga dan agak melawan norma (tahap negatif), mudah
tersinggung, tidak dapat diikuti jalan fikirannya, sangat kritis, ingin mandiri, cenderung menyendiri.

Perasaan tidak nyaman, sangat memperhatikan pandangan orang lain sehingga berpengaruh terhadap
jangka panjangnya dalam sikap, prilaku sosial, minat dan kepribadian.

Bahaya perkembangan fisik :


Kematian, 2 mg pertama kehidupan : masa kritis, 1 tahun pertama kehidupan akibat penyakit, 2 tahun
pertama kehidupan akibat kecelakaan.
Sakit ; saluran pencernaan dan pernafasan pada bayi, usia 3 – 8 tahun rawan penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi.
Pengertian Perkembangan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dari kemajuan yang sederhana ke keterampilan yang lebih kompleks melalui proses belajar
Prinsip – prinsip pertumbuhan dan perkembangan :
1. Tumbang manusia akna berjalan sesuai dengan yang diprediksikan, berkelanjutan dan berurutan.
2. Tumbang neuromuskular mengikuti / sesuai dengan pola cephalo-caudal atau proximodistal
3. Setiap perkembangan terkini adalah diyakini sebagai tanda telah selesainya tugas perkembangan
yang sebelumnya, dan sebagai dasar untuk mengembangankan keahlian baru.
4. Tumbang mungkin untuk sementara akan gagal atau menurun selama periode kritis
5. Pola tumbang setiap individu berbeda tergantung genetik. Lingkungan yang mempengaruhi selama
masa kritis
TEORI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN :

A. SIGMEUN FREUD (PERKEMBANGAN PSYCHOSEXUAL)


1. Fase oral (0 – 1 tahun)
Pusat aktivitas yang menyenagka di dalam mulutnya, anak mendapat kepuasaan saat mendapat ASI,
kepuasan bertambah dengan aktifitas mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya.
2. Fase anal (2 – 3 tahun)
Meliputi retensi dan pengeluaran feces. Pusat kenikmatanya pada anus saat BAB, waktu yang tepat
untuk mengajarkan disiplin dan bertanggung jawab.
3. Fase Urogenital atau faliks (usia 3 – 4 tahun)
Tertarik pada perbedaan antomis laki dan perempuan, ibu menjadi tokoh sentral bila menghadapi
persoalan. Kedekatan ank laki – laki pada ibunya menimbulkan gairah sexual dan perasaan cinta yang
disebut oedipus compleks.
4. fase latent (4 – 5 tahun sampai masa pubertas )
Masa tenang tetapi anak mengalami perkembangan pesat aspek motorik dan kognitifnya. Disebut juga
fase homosexual alamiah karena anak – nak mencari teman sesuai jenis kelaminnya, serta mencari
figur (role model) sesuai jenis kelaminnya dari orang dewasa.
5. Fase Genitalia
Alat reproduksi sudah muali matang, heteroseksual dan mulai menjalin hubungan rasa cinta dengan
berbeda jenis kelamin.
B. PIAGET (PERKEMBANGAN KOGNITIF)
Meliputi kemampuan intelegensi, kemampuan
berpersepsi dan kemampuan mengakses
informasi, berfikir logika, memecahkan
masalah kompleks menjadi simple dan
memahami ide yang abstrak menjadi
konkrit, bagaimana menimbulkan prestasi
dengan kemampuan yang dimiliki anak.
a. Tahap sensori – motor ( 0 – 2 tahun)
Prilaku anak banyak melibatkan motorik, belum terjadi kegiatan mental yang bersifat simbolis (berfikir).
Sekitar usia 18 – 24 bulan anak mulai bisa melakukan operations, awal kemampuan berfikir.
b. Tahap pra operasional ( 2 – 7 tahun)
v Tahap pra konseptual (2 – 4 tahun) anak melihat dunia hanya dalam hubungan dengan dirinya, pola
pikir egosentris.
Pola berfikir ada dua yaitu : transduktif ; anak mendasarkan kesimpulannya pada suatu peristiwa
tertentu (ayam bertelur jadi semua binatang bertelur) atau karena ciri – ciri objek tertentu (truk dan mobil
sama karena punya roda empat). Pola penalaran sinkretik terjadi bila anak mulai selalu mengubah –
ubah kriteria klasifikasinya. Misal mula – mula ia mengelompokan truk, sedan dan bus sendiri – sendiri,
tapi kemudia mengelompokan mereka berdasarkan warnanya, lalu berdasarkan besar – kecilnya dst.
v Tahap intuitif ( 4 – 7 tahun)
Pola fikir berdasar intuitif, penalaran masih kaku, terpusat pada bagian bagian terentu dari objek dan
semata –mata didasarkan atas penampakan objek
c. Tahap operasional konkrit ( 7 – 12 tahun)
Konversi menunjukan anak mampu menawar satu objek yang diubah bagaimanapun bentuknya, bila
tidak ditambah atau dikurangi maka volumenya tetap.
Seriasi menunjukan anak mampu mengklasifikasikan objek menurut berbagai macam cirinya seperti :
tinggi, besar, kecil, warna, bentuk dst.
d. Tahap operasional – formal (mulai usia 12 tahun)
Anak dapat melakukan representasi simbolis tanpa menghadapi objek – objek yang ia fikirkan. Pola fikir
menjadi lebih fleksibel melihat persoalan dari berbagai sudut yang berbeda.
C. ERIKSON (PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL)
Proses perkembangan psikososial tergantung pada bagaimana individu menyelesaikan tugas
perkembangannya pada tahap itu, yang paling penting adalah bagaimana memfokuskan diri individu
pada penyelesaian konflik yang baik itu berlawanan atau tidak dengan tugas perkembangannya.
Perkembangan psikososial :
1. Trust vs. missstrust ( 0 – 1 tahun)
Kebutuhan rasa aman dan ketidakberdayaannya menyebabkan konflik basic trust dan mistrust, bila
anak mendapatkan rasa amannya maka anak akan mengembangkan kepercayaan diri terhadap
lingkungannya, ibu sangat berperan penting.
2. Autonomy vs shame and doubt ( 2 – 3 tahun)
Organ tubuh lebih matang dan terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi peningkatan keterampilan
motorik, anak perlu dukungan, pujian, pengakuan, perhatian serta dorongan sehingga menimbulkan
kepercayaan terhadap dirinya, sebaliknya celaan hanya akan membuat anak bertindak dan berfikir ragu
– ragu. Kedua orang tua objek sosial terdekat dengan anak.
3. Initiatif vs Guilty (3 – 6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan rasa percaya diri dan mandiri, anak akan
mengembnagkan kemampuan berinisiatif yaitu perasaan bebas untuk melalukan sesuatu atas
kehendak sendiri. Bila tahap sebelumnya yang dikembangkan adalah sikap ragu-ragu, maka ia kan
selalu merasa bersalah dan tidak berani mengambil tindakan atas kehendak sendiri.
4. Industry vs inferiority (6 – 11 tahun)
Logika anak sudah mulai tumbuh dan anak sudah mulai sekolah, tuntutan peran dirinya dan bagi orang
lain semakin luas sehingga konflik anak masa ini adalah rasa mampu dan rendah diri. Bila lingkungan
ekstern lebih banyak menghargainya maka akan muncul rasa percaya diri tetapi bila sebaliknya, anak
akan rendah diri.
5. Identity vs Role confusion ( mulai 12 tahun)
Anak mulai dihadapkan pada harapan – harapan kelompoknya dan dorongan yang makin kuat untuk
mengenal dirinya sendiri. Ia mulai berfikir bagaimana masa depannya, anak mulai mencari identitas
dirinya serta perannya, jiak ia berhasil melewati tahap ini maka ia tidak akan bingung menghadapi
perannya
6. Intimacy vs Isolation ( dewasa awal )
Individu sudah mulai mencari pasangan
hidup. Kesiapan membina hubungan dengan
orang lain, perasaan kasih sayang dan
keintiman, sedang yang tidak mampu
melakukannya akan mempunyai perasaan
terkucil atau tersaing.
7. Generativy vs self absorbtion (dewasa tengah)
Adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat dan manusia
pada umumnya. Pengalaman di masa lalu menyebabkan individu mampu berbuat banyak untuk
kemanusiaan, khususnya generasi mendatang tetapi bila tahap - tahap silam, ia memperoleh banyak
pengalaman negatif maka mungkin ia terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.
8. Ego integrity vs Despair (dewasa lanjut)
Memasuki masa ini, individu akan menengok masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakan
dimasa lalu akan menimbbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap atau gagal akan
timbul kekecewaan yang mendalam.
D. KOHLBERG (PERKEMBANGAN MORAL)
1. Pra-konvensional
Mulanya ditandai dengan besarnya pengaruh wawasan kepatuhan dan hukuman terhadap prilaku anak.
Penilaian terhadap prilaku didasarkan atas akibat sikap yang ditimbulkan oleh prilaku. Dalam tahap
selanjutnya anak mulai menyesuaikan diri dengan harapan – harapan lingkungan untuk memperoleh
hadiah, yaitu senyum, pujian atau benda.
2. Konvensional
Anak terpaksa menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan atau ketertiban sosial agar disebut anak
baik atau anak manis
3. Purna konvensional
Anak mulai mengambil keputusan baik dan buruk secara mandiri. Prinsip pribadi mempunyai peranan
penting. Penyesuaian diri terhadap segala aturan di sekitarnya lebih didasarkan atas penghargaannya
serta rasa hormatnya terhadap orang lain.
E. HUROLCK (PERKEMBANGAN EMOSI)

Menurut Hurlock, masa bayi mempunyai emosi


yang berupa kegairahan umum, sebelum bayi
bicara ia sudah mengembangkan emosi heran,
malu, gembira, marah dan takut.
Perkembangan emosi sangat dipengaruhi oleh
faktor kematangan dan belajar. Pengalaman emosional sangat tergantung dari seberapa jauh individu
dapat mengerti rangsangan yang diterimanya. Otak yang matang dan pengalaman belajar memberikan
sumbangan yang besar terhadap perkembangan emosi, selanjutnya perkembngan emosi dipengaruhi
oleh harapan orang tua dan lingkungan.
menangkap bahwa lingkungannya akan memenuhinya segera. Kemampuan intelektual lain yang ia
capai pada usia 1 tahun adalah bahwa ia dapat mengantisipasi kegiatan rutin dari lingkungannya.
Misalnya bunyi-bunyi yang ia tangkap sewaktu menyiapkan makanannya. Berarti dengan bunyi ini
sebentar lagi ia akan diberi makan, ia akan dengan sabar dan tidak menangis.
Menurut penelitian Pulaski (1971), selain faktor keturunan, lingkungan sangat mempengaruhi
perkembangan intelegensia. Perkembangan intelektual tidak dapat berkembang sebelum pola pikir
terbentuk, stimuli sensoris dan motoris diperlukan sebelum untuk memberikan “pengetahuan”.
Pengetahuan ini didapat dari pengalaman bergerak, meraba, suara, penglihatan dan rasa. Dari hal-hal
ini berkembang imajinasi. Imajinasi ini tidak akan terjadi apabila anak tidak dikenalkan dengan semua
hal baru, memperhatikan benda nyata. Lebih lanjut Pulaski menjelaskan teorinya dengan membagi
tahapan perkembangan intelektual menjadi :
Tahap I : Sensorimotorik (lahir – 2 tahun)
Pada tahap ini anak menggunakan sistem penginderaan, sistem motorik dan benda-benda untuk
mengenal lingkungannya. Bayi tidak hanya menerima rangsangan berupa pasif tetapi juga memberi
jawaban terhadap rangsangan . tersebut. Jawaban ini berupa refleks-refleks. Refleks ini diperlukan
unutk mempertahankan hidupnya. Misalnya refleks untuk makan, bersin. Dengan refleks dalam bentuk
gerak motorik memungkinkan bayi untuk berkomunikasi dengan lingkungannya.
Tahap II : Pre Operasional ( 2 – 7 tahun)
Perubahan fungsi kognitif pada tahap ini adalah dari sensori motorik menjadi pre operasional. Pada pre
operasional anak mampu menggunakan simbol-simbol, yaitu menggunakan kata-kata, mengingat masa
lalu, sekarang dan yang akan terjadi segera. Tingkah laku anak berubah menjadi egosentrik.
Tahap III : Konkrit Operasional (7 -11 tahun)
Pada tahap ini anak telah dapat berpikir secara logis dan terarah, mengelompokkan fakta-fakta serta
anak telah mampu berpikir dari sudut pandang orang lain. Ia dapat berpikir secara abstarak, dan
mengatasi persoalan secara nyata dan sistematis. Contoh : anak dapat menghitung walaupun susunan
benda diubah serta mengatahui jumlahnya tetap sama.
Tahap IV : Format Operation (11 – dewasa)
Masa dimana anak mengembangkan kemampuan kognitif untuk berpikir abstrak dan hipotesis. Pada
masa ini anak bias mamikirkan hal-hal apa yang akan atau mungkin terjadi. Perkembangan lain pada
masa remaja ialah kemampuan untuk berpikir sistematis dan memecahkan suatu persoalan.
Selain tahapan-tahapan yang telah dijelaskan terdahulu,perkembangan intelektual juga dapat diukur
dengan kemampuan anak menggunakan kata-kata. Interaksi orang tua, anak dan dengan
lingkungannya akan menentukan perkembangan bahasa anaka. Dengan kata lain apabila interaksi ini
maksimal akan menyebabkan anak dapat bicara lebih cepat sedangkan apabila interaksi kurang maka
akan memakan waktu untuk mulai bicara.

Perkembangan Emosi dan Sosial


Kepribadian seorang anak merupakan integrasi perasaan dan sikap yang dicerminkan dalam tingkah
laku. Seorang dewasa dikatakan mempunyai kepribadian yang sehat apabila ia mampu untuk memberi
kasih sayang, mencapai sesuatu yang ia inginkan dan menjadi interdependent pada fungsinya. Hal ini
dicapai melalui proses dalam kehidupan.
Sejak ia lahir, masing-masing tingkat usia mempunyai tugas yang mesti ia selesaikan sebelum ia
melangkah ke tugas pada tingkat usia berikutnya.
4. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL

Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Beliau mengemukakan bahwa :
Di dalam jiwa individu terdapat tiga komponen yaitu :
Id : nangis, minta minum,makan, dll.
Ego : lebih rasional, tetapi masa bodoh terhadap lingkungan.
Super Ego : lebih memikirkan lingkungan.
Perkembangan berhubungan dengan bagian-bagian fungsi tubuh dan dipandang sebagai aktifitas yang
menyenangkan.
Insting seksual memainkan peranan penting dalam perkemabngan kepribadian.
Menurut Freud perkembangan manusia terjadi dalam beberapa fase dimana setiap fasenya mempunyai
waktu dan ciri-ciri tertentu dan fase ini berjalan secara kontinyu.

TEORI PERKEMBANGAN OLEH SIGMUND FREUD


Fase Oral ( 0 – 8 ½ tahun)
(+) yang memberikan kepuasan / kebahagiaan → mulut→ menghisap
menelan
memainkan bibir
makan, kenyang, tidur
(-) menggigit, mengeluarkan air liur, marah / menangis → jika tidak terpenuhi.
Tugas Ibu → penuhi fase oral dengan sabar.
Fase Anal ( 1 – 3 tahun )
Fungsi tubuh yang memberi kepuasan berkisar sekitar anus.
(+) BAB / BAK → senang melakukannya sendiri.
( - ) Jika tidak dapat melalui dengan baik → akan menahan dan melakukannya dengan
mempermainkan.
→ Belajar mengontrol pengeluaran.
Konsep bersih / kebersihan, ketepatan waktu, kontrol diri, belajar sendiri.
Fase Phallic ( 3 – 6 tahun)
Memegang-megang genitalia
Dekat dengan orang tua lawan jenis
· Oedipus Complex → mencintai ibu
· Electra Complex → cemburu karena tidak punya penis
Bersaing dengan orang tua yang sama jenis seksnya
(+) egosentris, sosial interaksi
( - ) mempertahankan keinginan
Fase Laten
Orientasi sosial keluar rumah → senang bermain
Pertumbuhan intelektual dan sosial
Banyak teman → gang
Impuls agresivitas lebih terkontrol.
Fase Genital
Fase ini tinggal melengkapi fase sebelumnya
Pemusatan seksual pada genital
Penentuan identitas
Belajar tidak tergantung pada orang lain
Bertanggung jawab pada diri sendiri
Intim dengan lawan jenis
(-) konflik diri, ambivalen
(+) peer group

REFLEK PRIMITIF PADA BAYI BARU LAHIR

Reflek primitif adalah aksi reflek yang berasal dari dalam pusat sistem saraf yang ditunjukkan

oleh bayi baru lahir normal namun secara neurologis tidak lengkap seperti pada orang dewasa

dalam menanggapi rangsang tertentu. Reflek ini tidak menetap hingga dewasa, namun lama-

kelamaan akan menghilang karena dihambat oleh lobus frontal sesuai dengan tahap

perkembangan anak normal. Reflek primitif ini sering juga disebut infantile atau reflek bayi baru

lahir.

Anak-anak dan dewasa yang mengalami kelainan atau gangguan saraf (sebagai contoh,

penderita cerebral palsy) akan tetap mempunyai reflek primitif ini dan akan timbul kembali

hingga masa dewasa mengacu pada keadaan saraf tertentu termasuk demensia, lesi trauma

dan stroke. Seseorang dengan gangguan cerebral palsy dan keterbatasan mental kecerdasan

dapat belajar untuk lebih menekan reflek ini agar tidak muncul pada kondisi tertentu seperti

selama memulai reaksi yang ekstrim. Reflek dapat dibatasi pada area tubuh tertentu saja yang

dipengaruhi oleh gangguan saraf seperti reflek Babinsky pada kaki untuk penderita cerebral

palsy. Atau juga dapat terjadi pada orang normal dengan hemiplegia, reflek dapat dilihat pada

kaki di daerah yang terserang saja.

Reflek primitif juga diperiksa pada seseorang yang diduga mengalami luka di otaknya untuk

menguji fungsi dari lobus frontal. Jika tidak ada penekanan secara tepat maka terjadi tanda-

tanda penurunan fungsi tulang depan kepala (frontal). Selain itu gangguan reflek primitif juga

diperiksa sebagai tanda peringatan awal terjadinya gangguan autis.

Reflek pada bayi baru lahir beraneka ragam.


Sebuah contoh pasti adalah reflek rooting yang membantu proses inisiasi menyusui dini dan

proses menyusui nantinya. Bayi hanya akan menunjukkan reflek ini pada saat kelaparan dan

disentuh sekitar bibirnya oleh orang lain, tapi bukan termasuk bayi itu sendiri. Ada beberapa

reflek yang kemungkinan akan membantu bayi bertahan selama masa adaptasi lingkungan

kehidupan barunya seperi reflek moro. Reflek yang lain seperti reflek menelan dan

memegang sesuatu akan membantu menjalin interaksi positif antara orang tua dan bayi baru

lahir. Reflek tersebut dapat memacu orang tua untuk memberikan respon dengan penuh cinta

dan kasih sayang serta lebih memotivasi ibu untuk menyusui. Reflek primitif ini juga membantu

orang tua merasa nyaman dengan bayinya karena reflek primitif tersebut akan mendorong bayi

untuk mengontrol dirinya serta menerima dan menanggapi stimulasi atau rangsangan dari

orang tuanya. (Berk, Laura E.. Child Development. 8th. USA: Pearson, 2009.)

Macam-macam Reflek Primitif pada Bayi Baru Lahir

1. Reflek Ketuk Glabella : Reflek ini diperiksa dengan mengetuk secara berulang pada dahi.

Ketukan akan diterjemahkan sebagai sinyal yang diterima oleh saraf sensori aferen yang akan

dipindahkan oleh nervus trigeminal dan sinyal saraf eferen akan kembali ke otot orbicularis oculi

melalui saraf facial yang akan menggerakkan reflek pada mata yaitu berkedip. Kedipan mata

akan mucul sebagai reaksi terhadap ketukan tersebut namun hanya timbul sekali yaitu pada

ketukan pertama. Jika kedipan mata terus berlangsung pada ketukan-ketukan selanjutnya,

maka disebut tanda-tanda Myerson, yang merupakan gejala awal penyakit Parkinson, dan hal

tersebut tidak normal.

2. Reflek Mata Boneka : Reflek ini diperiksa sebagai salah satu cara untuk menentukan mati

batang otak. Jika kepala diputar-putar (ditolehkan ke samping kanan dan kiri) maka bola mata

akan bergerak. Namun jika pada pemeriksaan ini bola mata tetap berhenti atau tidak bergerak

sama sekali berarti dimungkinkan ada kematian batang otak.

3. Reflek Rooting : Reflek ini ditunjukkan pada saat kelahiran dan akan membantu proses

menyusui. Reflek ini akan mulai terhambat pada usia sekitar empat bulan dan berangsur-angsur

akan terbawa di bawah sadar. Seorang bayi baru lahir akan menggerakkan kepalanya menuju

sesuatu yang menyentuh pipi atau mulutnya, dan mencari obyek tersebut dengan

menggerakkan kepalanya terus-menerus hingga ia berhasil menemukan obyek tersebut.

Setelah merespon rangsang ini (jika menyusui, kira-kira selama tiga minggu setelah kelahiran)

bayi akan langsung menggerakkan kepalanya lebih cepat dan tepat untuk menemukan obyek

tanpa harus mencari-cari.

4. Reflek Sucking : Reflek ini secara umum ada pada semua jenis mamalia dan dimulai sejak

lahir. Reflek ini berhubungan dengan rreflek rooting dan menyusui, dan menyebabkan bayi
untuk secara langsung mengisap apapun yang disentuhkan di mulutnya. Ada dua tahapan dari

reflek ini, yaitu :

Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir bayi dan

disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara langsung menekan (mengenyot)

puting dengan menggunakan lidah dan langit-langitnya untuk mengeluarkan air susunya.

Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air susu dari

payudara ibu untuk ditelan oleh bayi.

5. Reflek tonick neck dan asymmetric tonick neck ini disebut juga posisi menengadah, muncul

pada usia satu bulan dan akan menghilang pada sekitar usia lima bulan. Saat kepala bayi

digerakkan ke samping, lengan pada sisi tersebut akan lurus dan lengan yang berlawanan akan

menekuk (kadang-kadang pergerakan akan sangat halus atau lemah). Jika bayi baru lahir tidak

mampu untuk melakukan posisi ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan,

bayi dimungkinkan mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian,

reflek tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang akan

menyiapkan bayi untuk mencapai gerak sadar.

6. Reflek Palmar Grasping : Reflek ini muncul pada saat kelahiran dan akan menetap hingga

usia 5 sampai 6 bulan. Saat sebuah benda diletakkan di tangan bayi dan menyentuh telapak

tangannya, maka jari-jari tangan akan menutup dan menggenggam benda tersebut.

Genggaman yang ditimbulkan sangat kuat namun tidak dapat diperkirakan, walaupun juga

dimungkinkan akan mendorong berat badan bayi, bayi mungkin juga akan menggenggam tiba-

tiba dan tanpa rangsangan. Genggaman bayi dapat dikurangi kekuatannya dengan menggosok

punggung atau bagian samping tangan bayi.

7. Reflek Plantar : Reflek ini juga disebut reflek plantar grasp, muncul sejak lahir dan

berlangsung hingga sekitar satu tahun kelahiran. Reflek plantar ini dapat diperiksa dengan

menggosokkan sesuatu di telapan kakinya, maka jari-jari kakinya akan melekuk secara erat.

8. Reflek Babinsky : Reflek babinsky muncul sejak lahir dan berlangsung hingga kira-kira satu

tahun. Reflek ini ditunjukkan pada saat bagian samping telapak kaki digosok, dan menyebabkan

jari-jari kaki menyebar dan jempol kaki ekstensi. Reflek disebabkan oleh kurangnya myelinasi

traktus corticospinal pada bayi. Reflek babinsky juga merupakan tanda abnormalitas saraf

seperti lesi neuromotorik atas pada orang dewasa.

9. Reflek Galant : Reflek ini juga dikenal sebagai reflek Galant’s infantile, ditemukan oleh

seorang neurolog dari Rusia, Johann Susman Galant. Reflek ini muncul sejak lahir dan

berlangsung sampai pada usia empat hingga enam bulan. Pada saat kulit di sepanjang sisi

punggung bayi diigosok, maka bayi akan berayun menuju sisi yang digosok. Jika reflek ini

menetap hingga lewat enam bulan, dimungkinkan ada patologis.


10. Reflek Swimming : Reflek ini ditunjukkan pada saat bayi diletakkan di kolam yang berisii air,

ia akan mulai mengayuh dan menendang seperti gerakan berenang. Reflek ini akan menghilang

pada usia empat sampai enam bulan. Reflek ini berfungsi untuk membantu bayi bertahan jika ia

tenggelam. Meskipun bayi akan mulai mengayuh dan menendang seperti berenang, namun

meletakkan bayi di air sangat berisiko. Bayi akan menelan banyak air pada saat itu. Disarankan

untuk menunda meletakkan bayi di air hingga usia tiga tahun.

11. Reflek Moro : Reflek ini ditemukan oleh seorang pediatri bernama Ernst Moro. Reflek ini

muncul sejak lahir, paling kuat pada usia satu bulan dan akan mulai mengjilang pada usia dua

bulan. Reflek ini terjadi jika kepala bayi tiba-tiba terangkat, suhu tubuh bayi berubah secara

drastis atau pada saat bayi dikagetkan oleh suara yang keras. Kaki dan tangan akan melakukan

gerakan ekstensi dan lengan akan tersentak ke atas dengan telapak tangan ke atas dan ibu

jarinya bergerak fleksi. Siingkatnya, kedua lengan akan terangkat dan tangan seperti ingin

mencengkeram atau memeluk tubuh dan bayi menangis sangat keras. Reflek ini normalnya

akan menghilang pada usia tiga sampai empat bulan, meskipun terkadang akan menetap

hingga usia enam bulan. Tidak adanya reflek ini pada kedua sisi tubuh atau bilateral (kanan dan

kiri) menandakan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat bayi, sementara tidak adanya

reflek moro unilateral (pada satu sisi saja) dapat menandakan adanya trauma persalinan seperti

fraktur klavikula atau perlukaan pada pleksus brakhialis. Erb’s palsy atau beberapa jenis

paralysis kadang juga timbul pada beberapa kasus. Sebuah cara untuk memeriksa keadaan

reflek adalah dengan melatakkan bayi secara horizontal dan meluruskan punggungnya dan

biarkan kepala bayi turun secara pelan-pelan atau kagetkan bayi dengan suara yang keras dan

tiba-tiba. Reflek moro ini akan membantu bayi untuk memeluk ibunya saat ibu menggendong

bayinya sepanjang hari. Jika bayi kehilangan keseimbangan, reflek ini akan menyebabkan bayi

memeluk ibunya dan bergantung pada tubuh ibunya.

12. Reflek Walking / Stepping : Reflek ini muncul sejak lahir, walaupun bayi tidak dapat

menahan berat tubuhnya, namun saat tumit kakinya disentuhkan pada suatu permukaan yang

rata, bayi akan terdorong untuk berjalan dengan menempatkan satu kakinya di depan kaki yang

lain. Reflek ini akan menghilang sebagai sebuah respon otomatis dan muncul kembali sebagai

kebiasaan secara sadar pada sekitar usia delapan bulan hingga satu tahun untuk persiapan

kemampuan berjalan.