Anda di halaman 1dari 20

KEDUDUKAN ANAK

ANGKAT DALAM
PERSPEKTIF HUKUM
WARIS ISLAM
Lilis Falihah 110110170212
Nawang Xalma 110110170217
Nadine Khansa 110110170330
Ichsan Dharmawan 110110170314
Namira Khalda 110110170119
Bima Mukti 110110170348
Muhamad Rafid 110110160050
Muhammad Syahrul 110110190343
LATAR BELAKANG
MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL YANG SALING MEMBUTUHKAN
DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUPNYA
KELUARGA SEBAGAI UNIT TERKECIL DARI MASYARAKAT
MERUPAKAN SUATU PERWUJUDAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK
SOSIAL.
SEBAGAI KEBUTUHAN DASAR MANUSIA, MEMBENTUK KELUARGA
MELALUI PERKAWINAN YANG SAH DIJAMIN SEBAGAI HAK ASASI
MANUSIA DALAM PASAL 28D AYAT (1) UNDANG-UNDANG DASAR
1945 DAN DIATUR LEBIH LANJUT DALAM UU NO. 1 TAHUN 1974
SALAH SATU TUJUAN DALAM PERKAWINAN DIANTARANYA IALAH
UNTUK MELANJUTKAN KETURUNAN, AKAN TETAPI ADA SEBAGIAN
PASANGAN YANG SUDAH MEMBINA RUMAH TANGGA TETAPI TIDAK
KUNJUNG DIBERIKAN KETURUNAN KARENA TERBENTUR OLEH
TAKDIR ALLAH S.W.T.
DALAM RANGKA MEMENUHI KEINGINAN MANUSIA UNTUK MEMILIKI
ANAK, BERBAGAI CARA DAPAT DILAKUKAN SALAH SATUNYA IALAH
DENGAN MELAKUKAN PERBUATAN HUKUM BERUPA PENGANGKATAN
ANAK ATAU ADOPSI.
PASAL 171 HURUF H KOMPILASI HUKUM ISLAM, MENYEBUTKAN
BAHWA: “ANAK ANGKAT MERUPAKAN ANAK YANG DALAM HAL
PEMELIHARAAN UNTUK HIDUPNYA SEHARI-HARI, BIAYA PENDIDIKAN
DAN SEBAGAINYA BERALIH TANGGUNG JAWABNYA DARI ORANG TUA
ASAL KEPADA ORANG TUA ANGKATNYA BERDASARKAN PUTUSAN
PENGADILAN”.
SAMPAI SAAT INI TIDAK ADA UNDANG-UNDANG LEX SPECIALIS YANG
MENGATUR ANAK ANGKAT. PENGATURAN ANAK ANGKAT SEBATAS
PERATURAN YANG DIBUAT OLEH PEJABAT NEGARA SAJ, SEHINGGA HAK
DAN KEWAJIBAN ANAK ANGKAT BELUM SECARA JELAS DIATUR..
PROSEDUR PENGANGKATAN ANAK YANG DIATUR DALAM PERSYARATAN
PENGANGKATAN ANAK PP NO. 54 TAHUN 2007 TENTANG PELAKSANAAN
PENGANGKATAN ANAK HARUS MENDAPATKAN PENETAPAN DARI
PENGADILAN.
PENGADILAN YANG DIMAKSUD ADALAH PENGADILAN NEGERI TEMPAT
ANAK YANG AKAN DIANGKAT ITU BERADA (BERDASARKAN SEMA NO.6
TAHUN 1983)
PENGADILAN AGAMA JUGA DAPAT MEMBERIKAN PENETAPAN ANAK
BERDASARKAN HUKUM ISLAM (BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 3
TAHUN 2006 TENTANG PERADILAN AGAMA)
DALAM MELAKUKAN PENGANGKATAN ANAK BAGI UMAT ISLAM
BERLAKU MENGIKAT KETENTUAN-KETENTUAN HUKUM ISLAM YANG
BERSUMBER KEPADA AL-QUR’AN, SUNNAH RASUL, DAN IJTIHAD.
ISLAM SANGAT MENGHARGAI DAN MEMELIHARA HUBUNGAN NASAB
ANTARA ANAK KANDUNG DAN ORANG TUA KANDUNG ATAU ORANG TUA
BIOLOGISNYA, SALAH SATUNYA ADALAH HAK MEWARIS DAN
MEWARISI.
WARISAN MENURUT HUKUM ISLAM ADALAH SEJUMLAH HARTA BENDA
SERTA SEGALA HAK DARI YANG MENINGGAL DUNIA DALAM KEADAAN
BERSIH, ARTINYA HARTA PENINGGALAN YANG AKAN DIWARISI OLEH
PARA AHLI WARIS ADALAH SEJUMLAH HARTA BENDA SERTA SEGALA
HAK SETELAH DIKURANGI DENGAN PEMBAYARAN HUTANG-HUTANG
PEWARIS DAN PEMBAYARAN-PEMBAYARAN LAIN YANG DIAKIBATKAN
OLEH WAFATNYA PEWARIS.
DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM, YANG BERHAK SEBAGAI AHLI
WARIS ADALAH ORANG YANG MEMILIKI HUBUNGAN DARAH DENGAN
PEWARIS, BERAGAMA ISLAM DAN TIDAK TERHALANG KARENA HUKUM
UNTUK MENJADI AHLI WARIS.
SEDANGKAN, PERISTIWA PENGANGKATAN ANAK YAG DILAKUKAN OLEH
ORANG TUA ANGKAT BERGMAA ISLAM TIDAK SERTA MERTA
MENJADIKAN ANAK ANGKAT SEBAGAI AHLI WARIS WARISNYA
PEMBAGIAN WARIS MENURUT
HUKUM ISLAM
PEMBAGIAN WARIS MENURUT
HUKUM ISLAM
RUMUSAN MASALAH

BAGAIMANA KEDUDUKAN ANAK


ANGKAT SEBAGAI AHLI WARIS
MENURUT HUKUM ISLAM?

BAGAIMANA PERKEMBANGAN
HUKUM WARIS ISLAM
MENGENAI HAK WARIS?
PEMBAHASAN
KEDUDUKAN ANAK ANGKAT SEBAGAI AHLI WARIS
MENURUT HUUM ISLAM
Didalam hukum Islam, pengangkatan anak dibolehkan tetapi
akibat hukum terhadap status dan keberadaan anak angkat
adalah : status anak angkat tidak dihubungkan dengan
orangtua angkatnya, tetapi seperti sedia kala, yaitu nasab tetap
dihubungkan dengan orangtua kandungnya.
Menurut agama Islam, anak angkat bukanlah anak kandung. Hal
ini dapat dilihat pada Surat Al-ahzab 33 ayat 4-5 yang secara
garis besarnya merumuskan sebagai berikut : (4) Allah tidak
pernah menjadikan dua hati dalam dada manusia; (5) Anak
angkatmu adalah bukan anak kandungmu;
Menurut hukum Islam, anak angkat tidak dapat diakui untuk
bisa dijadikan dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokok
dalam hukum kewarisan Islam adalah adanya hubungan darah
atau keturunan.
Kedudukan atau status anak angkat menurut KHI adalah tetap sebagai
anak yang sah berdasarkan putusan pengadilan dengan tidak
memutuskan hubungan nasab darah dengan orangtua kandungnya
Jika dilihat dari beberapa pasal dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI),
anak angkat diatur secara khusus dalam bagian waris yang berhak ia
dapatkan. Sesuai dengan Pasal 171 huruf h KHI, yaitu : “Anak angkat
adalah anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari –
hari, biaya Pendidikan, dan sebagainya beralih tanggung
jawabnya dari orangtua asal kepada orangtua angkatnya
berdasarkan putusan pengadilan.”
Namun demikian, walaupun anak angkat tidak mendapatkan warisan
dari orangtua angkatnya yang meninggal, Hukum Islam tidak serta
merta menelantarkan hak anak angkat atas harta yang ditinggalkan
orangtua angkatnya.
Didalam Hukum Islam sudah mengantisipasi keadaan tersebut dengan
ketentuan tentang wasiat, sesuai dengan Pasal 194 yang menyebutkan
bahwa :
(1) Orang yang telah berumur sekurang – kurangnya 21 tahun, berakal
sehat, dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta
bendanya kepada orang lain atau Lembaga
(2)Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat
(3)Pemilikan terhadap harta benda seperti dimaksud dalam ayat (1)
pasal ini baru dapat dilaksanakan sesudah pewasiat meninggal dunia
Wasiat ini sendiri dapat diberikan kepada anak angkat untuk menjamin
harta yang ia dapatkan setelah orangtua angkatnya meninggal. Namun,
apabila orangtua angkatnya belum mempersiapkan wasiat tersebut,
maka dapat berlakunya ketentuan Pasal 209 ayat (1) dan (2)
Pasal 209 ayat (1) dan (2) Kompilasi Hukum Islam, yaitu:
(1) "Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal-pasal
176 sampai dengan pasal 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap
orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah
sebanyak-banyaknya ⅓ dari harta warisan anak angkatnya."
(2)"Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat
wajibah sebanyak-banyaknya ⅓ dari harta warisan orangtua
angkatnya."
Berdasarkan peraturan tersebut di atas, pelaksanaan wasiat wajibah
tidaklah bersifat memaksa atau bukan bersifat imperatif, melainkan
pelaksanaannya dilakukan secara tentatif.
Konsep ⅓ dari harta peninggalan didasarkan pada hadits Sa’ad bin Abi
Waqash, seorang sahabat Nabi.
Wasiat merupakan pemberian seseorang kepada orang lain, baik
berupa benda, piutang, maupun manfaat untuk dimiliki oleh penerima
wasiat sebagai pemberian yang berlaku setelah wafatnya orang yang
berwasiat.
Menurut Kompilasi Hukum Islam, wasiat adalah pemberian suatu
benda dari pewaris kepada oranglain atau lembaga yang akan berlaku
setelah pewaris meninggal dunia
Didalam konsep hukum Islam kontemporer selain wasiat dikenal juga
dengan wasiat wajibah yaitu wasiat yang wajib untuk diberikan.
Secara teori, wasiat wajibah mempunyai arti sebagai tindakan
penguasa atau hakim sebagai aparat negara untuk memaksa atau
memberi putusan wasiat wajibah bagi orang yang telah meninggal
dunia yang diberikan pada orang tertentu didalam keadaan yang
tertentu pula.
Wasiat wajibah adalah suatu wasiat yang diperuntukan kepada ahli
waris atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari
orang yang wafat, karena adanya halangan syara.
Didalam syari’at Islam, hanya ditentukan bahwa hak anak jangan
sampai wasiat wajibah tersebut melebihi ⅓ dari harta atau jangan
sampai kurang dari ⅔ dari warisan ayah yang menjadi hak anak.
Oleh karena itu, wasiat selalu didahulukan dari pembagian waris, bila
disetarakan tingkat fasilitasnya sama dengan membayar zakat atau
hutang yang berkenaan dengan perbuatan hukum
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN HUKUM WARIS ISLAM
MENGENAI HAK WARIS
Dalam perkembangan hukum kewarisan islam, anak angkat dapat
mewarisi harta peninggalan orang tuanya melalui wasiat wajibah.
Kompilasi Hukum Islam menetapkan dalam pasal 209 pemberian
wasiat wajibah kepada anak angkat dan orang tua angkat.
Hal ini merupakan terobosan baru dalam hukum Islam yang tidak di
temukan dalam kitab-kitab klasik bahkan Undang-undang Mesir, Syiria,
Maroko dan Tunisiapun tidak menyatakan wasiat wajibah kepada anak
angkat dan orang tua angkat.
Untuk melindungi hak dari anak adopsi tersebut, maka orang tua
angkat dapat memberikan wasiat asalkan tidak melebihi 1/3 harta
peninggalannya
Wasiat wajibah didapatkan berdasarkan putusan Pengadilan Agama.
Besar bagian dari wasiat wajibah adalah tidak boleh lebih dari ⅓
bagian.
Sedangkan wasiat biasa harus ada 2 orang saksi laki-laki yang telah
memenuhi syarat untuk jadi saksi.
Atau dalam bentuk tertulis yang disimpan oleh Notaris sebagai pejabat
yang berwenang dan harus dibacakan kepada ahli waris jika pewaris
telah meninggal dunia
Waris ini dianggap tidak ada jika tidak ada saksi atau tidak tertulis
Pengangkatan anak menurut KHI adalah kewenangan absolut
Pengadilan Agama
CONTOH KASUS PERKARA NO.
287/PDT.G/2006/PA.PDG.
Majelis Hakim pada Pengadilan Agama Padang mengabulkan
gugatan Penggugat dengan menetapkan penggugat Rosmeily binti
Abdul Aziz sebagai Anak Angkat yang berhak mendapatkan
bagian dari harta peninggalan Ibu Angkatnya (Almarhumah Hj.
Syamsiar) melalui Wasiat Wajibah.
Keberadaan Abdul Aziz (yang merupakan ayah kandung dari
penggugat) telah terlebih dahulu meninggal dunia dari pada
pewaris (Hj. Syamsiar) yang juga merupakan ibu angkat dari penggugat
Hj. Syamsiar meninggalkan 5 orang ahli waris dan diantara lima ahli waris
tersebut salah satunya adalah anak angkatnya yaitu Rosmeily binti Abdul
Aziz
Rosmeily binti Abdul Aziz merupakan anak angkat dari Safaruddin dan Hj.
Syamsiar, serta berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan
Ibu Angkatnya Hj. Syamsiar melalui Wasiat Wajibah.
KESIMPULAN

DALAM ISLAM, ANAK ANGKAT BISA WASIAT WAJIBAH


ANAK ANGKAT MENDAPAT WARISAN BERSIFAT
BUKANLAH AHLI DENGAN WASIAT TENTATIF
WARIS WAJIBAH YANG
TIDAKLAH BERSIFAT
DITETAPKAN OLEH MEMAKSA
UNTUK
PENGADILAN AGAMA
MENDAPATKAN
WARISAN DALAM Pasal 209 KHI : SEBANYAK-
ISLAM HARUS ADA BANYAKNYA ⅓ BAGIAN DARI
HUBUNGAN SEMENDA HARTA ORANGTUA
ATAU HUBUNGAN ANGKATNYA
DARAH
TERIMAKASIH