Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

STASE KULIT DAN KELAMIN


SELULITIS

Pembimbing:
dr. Lucky Handaryati, Sp.KK

Presentan:
Prima Ufiyantama Afta Sakria
1913020022

PENDIDIKAN DOKTER PROGRAM PROFESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2019
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................3
1.1 Definisi.........................................................................................................3
1.2 Etiologi.........................................................................................................4
1.3 Faktor Predisposisi.......................................................................................4
1.4 Manifestasi Klinis........................................................................................4
1.5 Patogenesis...................................................................................................7
1.6 Predileksi......................................................................................................8
1.7 Diagnosis......................................................................................................8
1.8 Diagnosis Banding.......................................................................................9
BAB II TATALAKSANA....................................................................................10
BAB III KOMPLIKASI DAN PROGNOSA.....................................................12
3.1 Komplikasi.................................................................................................12
3.2 Prognosis....................................................................................................12
BAB IV PENUTUP..............................................................................................13
4.1 Kesimpulan................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14
LAMPIRAN..........................................................................................................15
A. Data Pasien.................................................................................................15
B. Anamnesis..................................................................................................15
C. Pemeriksaan Fisik......................................................................................16
D. Diagnosis....................................................................................................16
E. Terapi.........................................................................................................16
F. Dokumentasi..............................................................................................16

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Definisi
Selulitis merupakan infeksi bakterial akut pada kulit. Infeksi yang
terjadi menyebar ke dalam hingga ke lapisan dermis dan sub kutis
(Djuanda, 2016). Infeksi ini biasanya didahului luka atau trauma dengan
penyebab tersering Streptococcus beta hemolitikus dan Staphylococcus
aureus. Pada anak usia di bawah 2 tahun dapat disebabkan oleh
Haemophilus influenza, keadaan anak akan tampak sakit berat, sering
disertai gangguan pernapasan bagian atas, dapat pula diikuti bakterimia
dan septikemia (Pandaleke, 1997). Terdapat tanda-tanda peradangan lokal
pada lokasi infeksi seperti eritema, teraba hangat, dan nyeri serta terjadi
limfangitis dan sering bergejala sistemik seperti demam dan peningkatan
hitungan sel darah putih (Herchline, 2011). Selulitis yang mengalami
supurasi disebut flegmon, sedangkan bentuk selulitis superfisial yang
mengenai pembuluh limfe yang disebabkan oleh Streptokokus beta
hemolitikus grup A disebut erisepelas. Tidak ada perbedaan yang bersifat
absolut antara selulitis dan erisepelas yang disebabkan oleh Streptokokus
(Djuanda, 2016).

1.2 Etiologi
Penyebab selulitis paling sering pada orang dewasa adalah
Staphylococcus aureus dan Streptokokus beta hemolitikus grup A
sedangkan penyebab selulitis pada anak adalah Haemophilus influenza tipe
b (Hib), Streptokokus beta hemolitikus grup A, dan Staphylococcus aureus.
Streptococcuss beta hemolitikus group B adalah penyebab yang jarang

3
pada selulitis. Selulitis pada orang dewasa imunokompeten banyak
disebabkan oleh Streptococcus pyogenes dan Staphylococcus aureus
sedangkan pada ulkus diabetikum dan ulkus dekubitus biasanya
disebabkan oleh organisme campuran antara kokus gram positif dan gram
negatif aerob maupun anaerob. Bakteri mencapai dermis melalui jalur
eksternal maupun hematogen. Pada imunokompeten perlu ada kerusakan
barrier kulit, sedangkan pada imunokopromais lebih sering melalui aliran
darah (Concheiro et al, 2009).
1.3 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi erisepelas dan selulitis adalah: kaheksia,
diabetes melitus, malnutrisi, disgamaglobulinemia, alkoholisme, dan
keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh terutama bila diseratai
higiene yang jelek. Selulitis umumnya terjadi akibat komplikasi suatu luka
atau ulkus atau lesi kulit yang lain, namun dapat terjadi secara mendadak
pada kulit yang normal terutama pada pasien dengan kondisi edema
limfatik, penyakit ginjal kronik atau hipostatik (Wolff & Johnson, 2008).
1.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis tergantung akut atau tidaknya infeksi. Umumnya
semua bentuk ditandai dengan kemerahan dengan batas jelas, nyeri tekan
dan bengkak. Penyebaran perluasan kemerahan dapat timbul secara cepat
di sekitar luka atau ulkus disertai dengan demam dan lesu. Pada keadaan
akut, kadang-kadang timbul bula. Dapat dijumpai limfadenopati
limfangitis. Tanpa pengobatan yang efektif dapat terjadi supurasi lokal
(flegmon, nekrosis atau gangren) (Concheiro et al, 2009).
Selulitis biasanya didahului oleh gejala sistemik seperti demam,
menggigil, dan malaise. Daerah yang terkena terdapat 4 kardinal
peradangan yaitu rubor (eritema), color (hangat), dolor (nyeri) dan tumor
(pembengkakan). Lesi tampak merah gelap, tidak berbatas tegas pada tepi
lesi tidak dapat diraba atau tidak meninggi. Pada infeksi yang berat dapat
ditemukan pula vesikel, bula, pustul, atau jaringan neurotik. Ditemukan
pembesaran kelenjar getah bening regional dan limfangitis ascenden. Pada

4
pemeriksaan darah tepi biasanya ditemukan leukositosis (Kertowigno,
2011).
Periode inkubasi sekitar beberapa hari, tidak terlalu lama. Gejala
prodormal berupa: malaise anoreksia; demam, menggigil dan berkembang
dengan cepat, sebelum menimbulkan gejala-gejala khasnya. Pasien
imunokompromais rentan mengalami infeksi walau dengan patogen yang
patogenisitas rendah. Terdapat gejala berupa nyeri yang terlokalisasi dan
nyeri tekan. Jika tidak diobati, gejala akan menjalar ke sekitar lesi
terutama ke proksimal. Kalau sering residif di tempat yang sama dapat
terjadi elefantiasis (Djuanda, 2016).
Lokasi selulitis pada anak biasanya di kepala dan leher, sedangkan
pada orang dewasa paling sering di ekstremitas karena berhubungan
dengan riwayat seringnya trauma di ekstremitas. Pada penggunaan salah
obat, sering berlokasi di lengan atas. Komplikasi jarang ditemukan, tetapi
termasuk glomerulonefritis akut (jika disebabkan oleh strain nefritogenik
streptococcus, limfadenitis, endokarditis bakterial subakut). Kerusakan
pembuluh limfe dapat menyebabkan selulitis rekurens (Kertowigno,
2011).

5
1.5 Patogenesis
Bakteri patogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi
pada permukaan kulit atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi
sering berjangkit pada orang gemuk, rendah gizi, kejemuan atau orang tua
pikun dan pada orang yang menderita diabetes mellitus yang
pengobatannya tidak adekuat. Setelah menembus lapisan luar kulit, infeksi
akan menyebar ke jaringan-jaringan dan menghancurkannya,
hyaluronidase memecah substansi polisakarida, fibrinolysin mencerna
barrier fibrin, dan lecithinase menghancurkan membran sel (Fitzpatrick,
2008).

Bakteri patogen (streptokokus piogenes, streptokokus grup A, stapilokokus


aureus)

6
Menyerang kulit dan jaringan subkutan

Meluas ke jaringan yang lebih dalam

Menyebar secara sistemik

Terjadi peradangan akut

Eritema lokal pada kulit Edema Kemerahan

Lesi Nyeri Tekan

Kerusakan Integritas Gangguan rasa nyaman


Kulit dan nyeri

1.6 Predileksi
- Tungkai bawah paling sering
- Lengan : Pada laki-laki muda, dengan pengguna narkoba suntik; pada
wanita, post mastektomi
- Badan : Bekas operasi
- Wajah : Rhinitis, konjungtivitis, faringitis; berhubungan dengan
kolonisasi S. Aureus (Herchline, 2011)
1.7 Diagnosis
Diagnosis selulitis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis. Pada pemeriksaan klinis selulitis ditemukan makula
eritematous, tepi tidak meninggi, batas tidak jelas, edema, infiltrat dan
teraba panas, dapat disertai limfangitis dan limfadenitis. Penderita
biasanya demam dan dapat menjadi septikemia (Wolff & Johnson, 2008).

7
Selulitis yang disebabkan oleh H. Influenza tampak sakit berat,
toksik dan sering disertai gejala infeksi traktus respiratorius bagian atas
bakteriemia dan septikemia. Lesi kulit berwarna merah keabu-abuan,
merah kebiru-biruan atau merah keunguan. Lesi kebiru-biruan dapat juga
ditemukan pada selulitis yang disebabkan oleh Streptokokus pneumonia
Pada pemeriksaan darah tepi selulitis terdapat leukositosis (15.000-
400.000) dengan hitung jenis bergeser ke kiri (Wolff & Johnson, 2008).

Gejala dan Selulitis


tanda
Gejala : Demam, malaise, nyeri sendi dan menggigil
prodormal
Daerah : Ekstremitas atas dan bawah, wajah, badan dan
predileksi genitalia
Makula : Eritema cerah
eritematous
Tepi : Batas tidak tegas
Penonjolan : Tidak terlalu menonjol
Vesikel atau : Biasanya disertai dengan vesikel atau bula
bula
Edema : Edema
Hangat : Tidak terlalu hangat
Fluktuasi : Fluktuasi

Pemeriksaan laboratorium sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan


pada sebagian besar pasien dengan selulitis. Seperti halnya pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan pencitraan juga tidak terlalu dibutuhkan. Pada
pemeriksaan darah lengkap, ditemukan leukositosis pada selulitis penyerta
penyakit berat, leukopenia juga bisa ditemukan pada toxin-mediated
cellulitis. ESR dan C-reactive protein (CRP) juga sering meningkat
terutama penyakit yang membutuhkan perawatan rumah sakit dalam waktu
lama. Pada banyak kasus, pemeriksaan Gram dan kultur darah tidak terlalu
penting dan efektif (Wolff & Johnson, 2008).
1.8 Diagnosis Banding
Deep thrombophlebitis, dermatitits statis, dermatitis kontak, giant
urticaria, insect bite (respons hipersensitifitas), erupsi obat, eritema

8
nodosum, eritema migran (Lyme borreliosis), perivascular herpes zooster,
acute Gout, Wells syndrome (selulitis eosinofilik), Familial Mediterranean
fever-associated cellulitis like erythema, cutaneous anthrax, pyoderma
gangrenosum, sweet syndrome (acute febrile neutrophilic dermatosis),
Kawasaki disease, carcinoma erysipeloides (Wolff & Johnson, 2008).

BAB II
TATALAKSANA

2.1 Pengobatan Umum


a) Istirahatkan tungkai bawah
b) Tinggikan kaki yang diserang
c) Jangan menggaruk lesi
2.2 Pengobatan Khusus
Terapi topikal yang dapat diberikan pada pasien selulitis berupa
kompres terbuka dengan larutan antiseptik seperti kompres NaCl
0,9% yang digunakan untuk kompres bersifat normal secara fisiologik

9
untuk melembabkan lesi dan lingkungan sekitar lesi untuk penyembuhan.
Selulitis karena streptokokus diberi penisilin prokain G 600.000-2.000.000
IU IM selama 6 hari atau dengan pengobatan secara oral dengan penisilin
V 500 mgsetiap 6 jam, selama 10-14 hari. Pada selulitis karena H.
Influenza diberikan Ampicilin untuk anak (3 bulan sampai 12 tahun) 100-
200 mg/kg/d (150-300 mg), >12tahun seperti dosis dewasa (Concheiro et
al, 2009).
Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan staphylococcus
aureus penghasil penisilinase (non SAPP) dapat diberi penisilin. Pada
yang alergi terhadap penisilin, sebagai alternatif digunakan eritromisin
(dewasa: 250-500 gram peroral;anak-anak: 30-50 mg/kgbb/hari) tiap 6 jam
selama 10 hari. Dapat juga digunakan klindamisin (dewasa 300-450
mg/hari PO; anak-anak 16-20 mg/kgbb/hari). Pada yang penyebabnya
SAPP selain eritromisin dan klindamisin, juga dapat diberikan
dikloksasilin 500 mg/hari secara oral selama 7-10 hari (Concheiro et al,
2009). Membedakan non SAPP dan SAPP adalah dengan melakukan uji
uji penisilinase menggunakan kertas cakram. Kertas cakram dioleskan satu
koloni bakteri kemudian diteteskan satu tetes akuades. Sebagai parameter
yang diukur pada uji penisilinase adalah adanya penisilinase dinyatakan
positif apabila dalam waktu kurang dari tiga menit cakram berubah warna
dari putih menjadi merah.
Pada pasien yang mengeluhkan gatal dapat diberikan anti histamin
untuk mencegah proses garukan pada lesi yang akan memperlama
penyembuhan, bila luka telah kering dapat diberikan krim natrium fusidat
sebagai antibiotik topikal yang bekerja menghambat sintesis protein
dengan aktifitas spesifik terhadap stafilokokus dan memiliki daya
penetrasi yang tinggi, sehingga dapat mencapai lapisan lebih dalam
(Concheiro et al, 2009).

10
BAB III
KOMPLIKASI DAN PROGNOSA
3.1 Komplikasi
Pada anak dan orang dewasa yang immunocompromised, penyulit
pada selulitis dapat berupa gangren, metastasis, abses dan sepsis yang
berat. Selulitis pada wajah merupakan indikator dini terjadinya
bakteriemia stafilokokus beta hemollitikus grup A, dapat berakibat fatal
karena mengakibatkan trombosis sinus cavernpsum yang septik. Selulitis
pada wajah dapat menyebabkan penyulit intrakranial berupa meningitis
(Concheiro et al, 2009).
3.2 Prognosis

11
Selulitis akut dengan atau tanpa abses, memiliki kecenderungan
untuk menyebar melalui aliran darah dan system limfe dan mungkin
menjadi penyakit serius, jika tidak diobati sedini mungkin. Pada pasien
dengan edema kronis, penyebaran akan sangat cepat dan penyembuhan
akan lebih lama meskipun drainase dan sterilisasi dari lesi oleh antibiotik.
Selulitis dan erysipelas cenderung kambuh di daerah yang sama,
mungkin sebagai akibat obstruksi kronik system limfatik dan edema
persisten (Concheiro et al, 2009).

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Selulitis adalah peradangan akut terutama menyerang jaringan
dermis dan subkutis. Faktor risiko untuk terjadinya infeksi ini adalah
trauma lokal (robekan kulit), luka terbuka di kulit atau gangguan
pembuluh vena maupun pembuluh getah bening. Lebih dari 40%
penderita selulitis memiliki penyakit sistemik. Penyakit ini biasanya
didahului trauma, karena itu tempat predileksinya di tungkai bawah.
Gejala prodormal selulitis adalah demam dan malaise, kemudian diikuti

12
tanda-tanda peradangan yaitu rubor (eritema), color (hangat), dolor
(nyeri) dan tumor (pembengkakan). Lesi tampak merah gelap, tidak
berbatas tegas pada tepi lesi tidak dapat diraba atau tidak meninggi.
Penatalaksanaan selulitis meliputi penatalaksanaan umum dan
khusus. Penatalaksanaan umum berupa mengistirahatkan tungkai bawah,
meninggikan kaki yang diserang, dan edukasi untuk tidak menggaruk
lesi. Penatalaksanaan khusus berupa kompres terbuka dengan NaCl 0,9%,
antibiotik sistemik, antibiotik topikal dan antihistamin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2008
2. Fitzpatrick, Thomas B. Dermatology in General Medicine, seventh edition.
New York: McGrawHill: 2008
3. Pandaleke, HEJ. Erisipelas dan selulitis. Fakultas kedokteran Universitas
Samratulangi; Manado. Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
4. Herchline TE. 2011. Cellulitis. Wright State University, Ohio, United
State of America.

13
5. Morris, AD. 2008. Cellulitis and erysipelas. University Hospital of Wales,
Cardiff, UK. 1708
6. Concheiro J, Loureiro M, González-Vilas D, et al. 2009. Erysipelas and
cellulitis: a retrospective study of 122 cases. 100(10): 888-94
7. Wolff K, Johnson RA, Fitspatricks: color atlas and synopsis of clinically
dermatology. New York: McGrawHill. 2008
8. Kertowigno S. 2011. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Unsri press,
Palembang, Indonesia, hal: 146-149.

LAMPIRAN

A. Data Pasien
 Nama : Ny. D
 Usia : 55 tahun
 Jenis kelamin : Perempuan
 Alamat : Ngentaksari, Pulutan Lor 3/2, Sidorejo
 Pekerjaan : Ibu Rumah tangga
 Status Pernikahan : Sudah Menikah

14
 Tanggal Pemeriksaan : Kamis, 14 November 2019

B. Anamnesis
o Keluhan Utama : Bengkak dan nyeri pada betis kanan sejak 2 hari
yang lalu
o Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien konsulan dokter spesialis penyakit dalam dengan
Congestive Heart Failure dan dyspnoe mengeluh bengkak dan nyeri
pada betis kanan yang muncul sejak 2 hari yang lalu. Diawali dengan
demam, pusing dan kulit betis kanan tampak memerah yang semakin
meluas. Menurut keluarga pasien, 3 bulan yang lalu pasien menjalani
operasi pada kakinya akibat komplikasi dari penyakit kencing manis
yang dideritanya.
o Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah memiliki keluhan yang serupa sebelumnya.
Pasien telah lama menderita penyakit Diabetes Melitus.
o Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluhan serupa pada keluarga, juga riwayat Diabetes
Melitus, Hipertensi, Asam urat, Kolesterol disangkal
o Riwayat Sosial dan Ekonomi
Pasien merupakan ibu rumah tangga, berobat ke rumah sakit
menggunakan BPJS.
C. Pemeriksaan Fisik
o Keadaan Umum : Baik
o Kesadaran : Compos mentis
o Tanda Vital
Tekanan Darah : 140/80 mmHg
Denyut Nadi : 112 x/menit
o Status Dermatologi
Lokasi : regio cruris

15
Inspeksi : edema, makula eritem dengan batas tidak
tegas, pustul
D. Diagnosis
o Diagnosis Banding
 Selulitis
 Erisipelas
o Diagnosis Kerja
 Selulitis
E. Terapi
o Ceftriaxone 2 x 1 gram
o Medikasi Luka :
- Cuci NaCl 0,9 %
- Mupirosin cream
o Zinc 1 x 10 mg
F. Dokumentasi

16