Anda di halaman 1dari 13

AL ISLAM III

GERAKAN TAJDID OLEH SAYYID AMIR ALI

DOSEN

Dr. TUTI ANDRIANI, S.Ag, M. Pd

DISUSUN OLEH

Tekad Agung Nugroho

M Maliki Wahyu

Naia Salsa Billah

Aldhi Riantino

M. Joanda Darmawan

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU

PEKANBARU

2021/2022
BAB I

PENDAHULUAN

Dunia Islam dalam melakukan perkembangan tidaklah mudah, banyak sekali


kendala yang dapat menyebabkan dunia Islam mengalami pasang surut. Sebagaimana
tercantum dalam firman Allah dalam surah Ali ‗Imran [3] ayat 1401 sangat tepat
menggambarkan dunia Islam pada saat itu. Secara tegas dinyatakan bahwa kehidupan
manusia, baik secara perorangan maupun kelompok pasti akan mengalami pasang surut.

Setelah mengalami kejayaan yang cukup panjang, Kerajaan Mughal India pada
permulaan abad ke-18 mengalami kemunduran. Perang saudara untuk memperebutkan
kekuasaaan selalu terjadi. Dalam keadaan ini, tidak mengherankan kalau golongan-
golongan Hindu yang menjadi mayoritas di India ingin melepaskan diri dari kekuasaan
Kerajaan Mughal. daerah kekuasaan Kerajaan Mughal kian lama kian kecil dan
kemajuan peradaban Barat telah mulai dirasakan rakyat India, baik yang beragama
Islam maupun yang beragama Hindu. Tetapi di antara kedua umat tersebut orang-orang
Hindulah yang banyak dipengaruhi oleh peradaban baru itu, sehingga orang Hindu lebih
maju dari orang Islam dan lebih dapat bekerja di kantor-kantor Inggris.

Suasana seperti yang digambarkan di atas menyadarkan pemimpin pemimpin


Islam India akan kelemahan umat Islam. Salah satu dari pemimpin Islam itu adalah
Sayyid Amir Ali. Dia berkeyakinan bahwa Islam bukanlah agama yang membawa
kepada kemunduran. Sebaliknya, Islam adalah agama yang membawa kepada
kemajuan. Dan pemimpin pembaharuan ini juga yang menegaskan bahwa Islam bukan
dijiwai oleh paham kada dan kadar atau jabariah, 3 tetapi oleh paham qadariah, yaitu
paham kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan (free will and free act).

Pembaharuan di India Pakistan sebagaimana yang dilakukan oleh Sayyid Amir


Ali dkk. Telah memberikan kontribusi yang berpengaruh bagi perkembangan di India
Pakistan . Pemikiran pertama yang kembali kesejarah lama untuk membawa bukti
bahwa agama islam adalah agama rasional dan agama kemajuan ialah Sayyid Amir Ali.
Bukannya The Sfirit Of Islam di cetak pertama kali di tahun 1891, dalam bukunya itu ia
kupas ajaran-ajaran islam mengenai tauhid, ibadat, hari akhirat, kedudukan wanita
perbudakan, sistem politik, dan sebagainya. Dan sebagaimana pembaharuan Iqbal,
Jinnah, Abu Kalam Azat dan Abu A’la Al-maududi juga memberikan kontribusi yang
sangat penting bagi di India Pakistan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Siapa itu Sayyid Amir Ali?

2. Apa saja kiprah/karir Sayyid Amir Ali dalam membawa umat Islam kepada
kemajuan?

3. Apa saja karya-karya pemikiran Sayyid Amir Ali?

4. Mengapa Sayyid Amir Ali berpaham qadariah?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui biografi Sayyid Amir Ali.

2. Untuk mengetahui kiprah/karir Sayyid Amir Ali dalam membawa umat Islam
kepada kemajuan.

3. Untuk mengetahui karya-karya pemikiran Sayyid Amir Ali.

4. Untuk mengetahui mengapa Sayyid Amir Ali berpaham qadariah.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Biografi Sayyid Amir Ali.


Seorang pemuka agama Islam lain yang besar pengaruhnya dalam mencurahkan
ide-ide pembaharuan Islam setelah Sir Sayyid Ahmad Khan di India adalah Sayyid
Amir Ali. Sayyid Amir Ali berasal dari keluarga syiah yang di zaman Nadir syah (1736-
1747) pindah dari khurusan di persia di india . Keluarga itu kemudian bekerja di di
istana Raja mughal. Sayyid Amir Ali lahir pada tahun 1849, dan meninggal pada usia
tujuh puluh sembilan pada tahun 1928. pendidikanya diperoleh di perguruan tinggi
muhsiniyya yang berada di dekat kalkulta. (Nasution,1996:181) Di tahun 1869 ia pergi
keinggris untuk meneruskan studi dan selesai pada tahun 1873 dengan memproleh
keserjanaan dalam bidang hukum. Selesai dari studi ia kembali ke india dan pernah
bekerja sebagai pemerintah inggris, pengcara, hakim dan guru besar dalam hukum
islam. Di tahun 1877 ia membentuk National muhammedan association. Sebagai
persatuan umat islam India , dan tujuannya ialah untuk membela kepentingan umat
islam dan untuk melatih mereka dalam dunia politik. Dan pada tahun 1883 ia di angkat
menjadi salah satu dari ke tiga anggota Majlis Wakil Raja Ingris di india.. Ia adalah
satu-satunya anggota islam pada majelis itu. Di tahun 1904, ia meninggalkan india dan
menetap untuk selama-lamanya di inggris.

Setelah berdiri liga muslim india di tahun 1906 ia membentuk perkumpulan itu
di london. Tetapi dalam gerakan khalifah yang di lancarkan Muhammad Ali di india
untuk mempertahankan wujud khalifah di istambul yang hendak di hapuskan kemal
attaturk, ia turut mengambil bahagian yang aktif dari london. Sayyid Amir Ali
berpendapat dan berkenyakinan bahwa islam bukanlah agama yang membawa kepada
kemunduran. Sebaliknya islam adalah agama yang membawa kepada kemajuan dan
untuk membuktikan hal itu ia kembali kesejarah islam kelasik. Karena ia banyak
menonjolkan kejayaan islam di masa lampau ia di cap penulis-penulis Orientalis,
seorang apologis, seorang yang memuja dan rindu kepada masa lampau dan mengatakan
kepada lawan : kalau kamu sedang maju sekarang, kami juga pernah mempunyai
kemajuan di masa lampau. Pemikiran pertama yang kembali kesejarah lama untuk
membawa bukti bahwa agama islam adalah agama rasional dan agama kemajuan ialah
Sayyid Amir Ali. Bukannya The Sfirit Of Islam di cetak pertama kali di tahun 1891,
dalam bukunya itu ia kupas ajaran-ajaran islam mengenai tauhid, ibadat, hari akhirat,
kedudukan wanitaperbudakan, sistem politik, dan sebagainya. (Nasution, 1996 : 183.)

2.2 Kiprah/Karir Sayyid Amir Ali

Berbicara tentang kiprah/karir Sayyid Amir Ali yang begitu banyak, tak heran
jika ia dikenal dan dikenang sebagai salah satu pembaharu Islam India. Berikut ini
uraian tentang kiprah/karir Sayyid Amir Ali dalam membawa umat Islam kepada
kemajuan:

1. Mendirikan National Muhammedan Association Guna mempertegas


eksistensi kaum muslim di tengah mayoritas Hindu di India, tahun 1877
Sayyid Amir Ali membentuk organisasi Islam yang bernama National
Muhammedan Association. Organisasi Islam ini bertujuan untuk mewadahi
kesatuan umat Islam India dan untuk melatih mereka dalam bidang politik.
Organisasi kesatuan tersebut sangatlah penting untuk muslim India yang
menjadi minoritas, agar mereka dapat memperjuangkan kepentingannya baik
dibidang ekonomi maupun politik. Organisasi tersebut mempunyai 34
cabang di berbagai tempat di India.

2. Menjadi anggota Majelis Wakil Raja Inggris Kiprahnya dalam bidang hukum
dan perjuangannya untuk kepentingan minoritas muslim di India dengan cara
damai dan toleran kepada pemerintah Inggris, kerajaan Inggris kemudian
mengangkatnya sebagai anggota Majelis Wakil Raja Inggris untuk India. Di
tahun 1883 ia dianggkat menjadi salah satu dari ketiga anggota Majelis Wakil
Raja Inggris di India, dan ia satu-satunya anggota dalam majelis itu yang
beragama Islam.

3. Menjadi anggota Judical Committee of Privacy Council. Pada tahun 1904 ia


meninggalkan India untuk selama-lamanya dan menetap di Inggris. Dalam hal
ini, banyak yang menyebut kalau ia beristrikan wanita Inggris. Selain itu, ia
menetap di sana karena ia menjadi anggota India pertama yang menduduki
jabatan Judical Committee of Privacy Council. Amir ali diangkat menjadi
anggota Judical Committee of Privacy Council (dewan kehormatan komite
pengadilan) di Inggris pada tahun 1909. 6Ketaatannya terhadap Inggris, ia
buktikan ketika Liga Muslimin India mengadakan kerja sama dengan Kongres
Nasional India dalam tuntutan “pemerintahan sendiri untuk India”, ia langsung
mengundurkan diri dari Liga Muslimin. Hal ini sama dengan yang dilakukan
pembaharu sebelum dia yaitu Sir Sayyid Ahmad Khan, ia dan Sir Sayyid Ahmad
adalah orang yang patuh dan setia kepada pemerintah Inggris.

Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa: “Peningkatan kedudukan umat Islam


India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Inggris merupakan
penguasa yang terkuat di India, dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa
kebaikan bagi umat Islam India. Hal inin akan membuat mereka tetap mundur dan
akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindu India.”

2.3 Karya-karya Pemikiran Sayyid Amir Ali

Berbicara tentang karya pemikiran, Sayyid Amir Ali telah menulis karya karya
pemikirannya dalam dua bukunya yang terkenal yaitu; The Spirit of Islam dan A Short
History of the Saracens.8 Dalam bukunya tersebut, ia banyak melontarkan gagasan-
gagasan pemikiran tentang apologi kehidupan Nabi Muhammad SAW, peribadatan,
konsep alam akhirat, dan sebagainya. Berikut ini beberapa pendapat dan keyakinan
Sayyid Amir Ali yang menjadi karya pemikirannya:

1. Pemikiran Sayyid Amir Ali tentang konsep keagamaan.

Keagamaan yang dimaksud di sini adalah agama Islam. Kata “Islam” menurut
Sayyid Amir Ali barasal dari kata Salām atau Salāmah yang mempunyai dua pengertian:

(1) tenang, diam, telah melaksanakan kewajiban, dan telah membayar lunas,
serta berada dalam kedamaian yang sempurna.

(2) ikhlas yang berarti menyerahkan diri kepada Tuhan yang denganNya orang
melakukan perdamaian. Sehingga kata benda “Islam” tersebut berarti damai,
selamat, aman, dan keselamatan.
Dalam pemikiran keagamaannya, ia tergolong rasional. Meskipun sering kali, ia
memuji Islam dalam masa-masa yang indah. Namun, ia tidak memungkiri bahwa
adanya masa-masa kelabu yang ada pada sejarah Islam. Sayid Ameer Ali menjelaskan
bahwa hal tersebut merupakan konsekuen alamiah dari setiap kebudayaan. Untuk lebih
jelasnya dalam memahami bagaimana konsep ketauhidan atau ke-Esaan Allah dan
Teologi Islam, dalam bukunya yang berjudul “The Spirit Of Islam” Sayid Ameer Ali
mengatakan:

“Let us now take a brief retro spect of the religious conception of the peoples of
the world when the proph et of Islam commenced his preachings. Among the
heathen Arabs the idea of godhead varied a ccording to the culture of the indiv
idual or of the clan. With some it rose, comparati vely speaking, to the
“devinisation” or devication of nature; among others it fell to simple fetishism,
the adoration of a piece of dough, a stick , or a stone”.

Artinya :

“Mari kita sekarang melihat tinjauan kembali gambaran agama-agama lain di


dunia. Di antaranya, penyembahan berhala pada masyarakat Arab jahiliyah yang
mana Tuhan pada saat itu banyak sekali variasi di antara mereka dalam
memahami Tuhan. Pemahaman mereka tentang Tuhan disesuaikan menurut
masing-masing individu atau suku. Oleh karena itu pemujaan mereka berbeda
antarsuku yang satu dengan suku yang lain. Di antaranya ada yang memuja
terhadap segumpal roti, sebuah tongkat, ataupun batu”.

Jadi, jelaslah bahwa dalam konsep ketuhanan ini, Sayyid Amir Ali lebih menekankan
pada ke-Esa-an Tuhan “Allah” dalam agama Islam melalui metode komparatif dengan
agama-agama sebelumnya. Ke-Esaan Tuhan dalam agama Islam merupakan Tauhid
yang murni. Dengan demikian, Ia menunjukkan bahwa agama Islam adalah satu-satunya
agama yang paling benar dan rasional.

2. Pemikiran Sayyid Amir Ali tentang konsep social.


Sayyid Amir Ali dalam menguraikan argumen-argumennya menggunakan
metode perbandingan, dimana dalam hal tersebut disertai dengan uraian-uraian yang
rasional. Sama seperti saat menjelaskan masalah kedudukan perempuan dan masalah
perbudakan. Dimana dalam hal tersebut, ia terlebih dahulu membawa ajaran-ajaran
serupa dalam agama lain dan kemudian menjelaskan dan menyatakan bahwa Islam
membawa perbaikan terhadap ajaran-ajaran agama sebelumnya serta menjelaskan
bahwasannya ajaran agama Islam tidak bertentangan dengan akal.

Menyangkut masalah kedudukan perempuan, dalam bukunya The Spirit Of


Islam pada bab lima tersebut dijelaskan kedudukan perempuan dalam Islam dari status
wanita dalam Islam, perkawinan poligami dan monogami, serta poligami yang
dilakukan Rasulullah. Sayyid Amir Ali menjelaskan bahwa sepanjang sejarah sebelum
Islam datang, kedudukan wanita sangat rendah bahkan lebih jauh lagi, mereka hanya
dijadikan obyek seksual kaum laki-laki. Begitulah pandangan dan perlakuan terhadap
kaum perempuan yang dilakukan bangsa-bangsa sebelum Islam datang. Kemudian,
Islam memberikan hak-hak yang sebelumnya tidak wanita punyai, dan diberinya hak-
hak yang tidak beda sama sekali dengan kaum laki laki dalam menjalankan segala
kekuasaan hukum dan jabatan.

Selanjutnya, masalah perkawinan poligami dan monogami. Dalam masalah


tersebut Sayyid Amir Ali memandang bahwasannya perkawinan poligami itu seperti
suatu yang sudah melembaga. Kaum penguasa (Raja dan Bangsawan) melakukan hal
tersebut sebagai suatu yang sakral atau benar. Pandangan tersebut juga telah diikuti oleh
beberapa agama dibeberapa negara seperti India, Babilonia, Assyria, Persia, dan Israel.
Amir Ali menyebutkan bahwa dalam pandangan Mu‟tazilah yang rasional sangat
menentang sistem perkawinan poligami, dan mereka termasuk kalangan menganut
monogami yang taat. Menurut Mu‟tazilah, perkawinan dimaknai sebagai persatuan
untuk hidup antara laki-laki dan perempuan dengan menjauhkan yang lainnya. Sama
seperti dijelaskan diatas, Islam juga membenarkan praktik perkawinan poligami jika
melihat keadaan tertentu, seperti halnya praktik poligami yang dilakukan Rasulullah.
Nabi Muhammad SAW melakukan poligami setelah Siti Khadijah meninggal dunia,
karena cinta dan kesetian Rasulullah hanya pada Siti Khadijah. Perkawinan Rasulullah
dengan sejumlah perempuan, bukanlah perkawinan yang wajar atau biasa. Namun, lebih
kepada kepentingan dakwah (Syiar) bagi agama yang dibawanya. Misalnya, perkawinan
dengan Zaynab janda yang dicerai zaid, Juwariyah seorang tawanan yang dimerdekakan
Nabi, Safiah seorang wanita Yahudi yang menjadi tawanan dan dimerdekakan Nabi,
dan Maimunah seorang wanita tua yang miskin yang dikawini Nabi untuk memberikan
nafkah serta kesemuanya tersebut adalah permintaan mereka sendiri untuk dikawini
Rasulullah SAW. Sekalipun praktik pernikahan poligami benar-benar dilakukan
Rasulullah, namun sesunggunya Rasul menyuruh untuk berhati-hati dalam melakukan
poligami karena pada hakikatnya mengandung unsur yang dapat menyakiti hati seorang
perempuan.

3. Pemikiran Sayyid Amir Ali tentang alam akhirat

Sayyid Ali merupakan pelopor pemikir pertama yang mengajak kembali kepada
sejarah lama dengan mengajukan berbagai argument yang membolehkan bahwa agam
Islam adalah agam rasionla dan agama kemajuan. Dalam salah satu buku karyanya The
Spirit of Islam, ia mengupas ajaran-ajaran Islam dalam berbagai hal kehidupan. Metode
yang ia pakai adalah metode perbandingan serta dengan uraian yang rasional. Oleh
karena itu ia terlebih dahulu membawa ajaran-ajaran serupa dalam agama lain dan
kemudian menjelaskan dan meyatakan bahwa Islam membawa perbaikan dalam ajaran-
ajaran yang bersangkutan.

Misalnya ajaran Islam tentang Akhirat, ia menjelaskan bahwa setiap manusia


selalu menginginkan bersatu kembali dengan orang-orang yang dikasihi dan disayangi,
sesudah dipisahkan oleh kematian. Baik orang yang telah mencapai kemajuan maupun
yang masih primitive mempunyai hasrat besar untuk bertemu kemali. Dari situ timbulah
ide adanya kelanjutan hidup sesudah selesainya kehidupan di dunia. Selanjutnya,
dijelaskan bahwa bangsa yang pertama kali menimbulkan kepercayaan adanya
kehidupan sesudah mati adalah bangsa Mesir. Kemudian muncullah agama-agama
sebelum Islam yang pada umumnya menggambarkan adanya hidup kedua. Dalam hidup
kedua ini, manusia akan memperoleh upah dan balasan dalam bentuk jasmani dan
bukan dalam bentuk rohani.
Setelah itu, Sayyid Amir Ali menjelaskan tentang kehidupan akhirat dalam
islam. Di akhirat nanti tiap orang akan mempertanggung jawabkan segala perbuatnnya
di dunia. Kesenangan dan kesengsaraan seseorang hidup di akhirat bergantung pada
perbuatannya pada hidup pertama. Inilah keyakinan pokok yang harus diterima dalam
Islam mengenai akhirat. Selain itu, adalah tambahan yang mendatang. Soal bentuk
kesenangan dan kesengsaraan yang diperoleh di akhirat nanti, umpamanya, bukanlah
menjadi soal pokok. Perbedaan paham dalam soal ini boleh saja. Untuk memperkuat
pendapat bahwa balasan yang akan diterima di akhirat tidak harus berbentuk material,
sungguhpun ada ayat-ayat Al-Quran yang memberikan gambaran demikian, ia
menjelaskan bahwa orang yang dikasihi Tuhan akan melihat wajah Tuhan siang dan
malam, suatu kebahagiaan yang jauh melebihi kesenangan jasmani yang pernah
diperoleh manusia. Hadis ini menggambarkan bahwa upah yang akan diterima di akhirat
adalah kebahagiaan spiritual. Ia juga menjelaskan ayat yang mengatakan, “ Hai roh
yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan perasaan senang dan diridai
Tuhan. Yang disuruh kembali adalah roh bukan badan manusia.

Para filosof dan kaum sufi berpendapat bahwa balasan yang akan diterima di
akhirat memang balasan spiritual dan bukan balasan jasmani. Ayat-ayat yang
menggambarkan surga dan neraka dalam bentuk jasmani tidak mereka pahami menurut
arti harfi atau letter leknya, tetapi menurut artu majazi atau metaforsisnya. Yang
dimaksud dengan ayat-ayat itu iakah kesenangan dan kesengsaraan jasmani yang
dialami orang dalam surga dan neraka. Apa sebabnya Al-Quran mengandung ayat-ayat
yang memberikan gambaran jasmani itu, kalau yang dimaksud adalah kesenangan dan
kesengsaraan rohani? Sayyid Amir Ali memberikan penjelasan seperti berikut. Nabi
Muhammad datang bukanlah hanya untuk golongan kecil masyarakat yang sudah maju
dalam tingkat pemikirannya, tetapi juga untuk golongan masyarakat awam yang masih
terikat pada hal-hal yang bersifat materi dan tidak sanggup menangkap hal-hal yang
bersifat abstrak. Kepada golongan masyarakat awam, balasan di akhirat harus
digambarkan dalam bentuk jasmani.

Menurutnya, ajaran Islam mengenai akhirat mempunyai arti dan pengaruh yang
besar dalam mendorong manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat.
Adanya gambaran upah dan balasan secara material membawa peningkatan moral bagi
golongan awam karena dapat ditangkap secara inderawi.

4. Sayyid Amir Ali dan Qadariah.

Telah kita ketahui bersama bahwasanya Sayyid Amir Ali adalah seorang
pembaharu Islam India yang berpaham qadariah, yaitu paham kebebasan manusia dalam
kemauan dan perbuatan (free will and free act). Ia berpaham qadariah disebabkan
karena beberapa hal:

1. Karena muslim India mengalami ketertinggalan Ketika tiga kerajaan besar


Islam, Usmani di Turki, Safawi di Persia dan Mughal di India sedang
mengalami kemunduran pada abad ke-18 M, Eropa Barat mengalami kemajuan
dengan pesat. Hal ini membuat Inggris yang dimana pada saat itu telah mulai
memperbesar usahanya untuk memperoleh daerah-daerah kekuasaan di India
semakin dirasakan kaum muslim di sana. Kaum muslim India mengalami
ketertinggalan. Karena keadaan demikian, Sayyid Amir Ali mengajak umat
Islam India untuk mengikuti paham qadariah yang selanjutnya menimbulkan
rasionalisme kebebasan berpikir dalam Islam dan menutup pintu-pintu ijtihad
para ulama terdahulu. Dengan menerapkan kebebasaan berpikir, ia yakin bahwa
umat Islam India akan membawa kemajuan.

2. Karena ia mengikuti pendahulunya karena pemikirannya banyak condong


kepada pendahulunya, ia dianggap sebagai penerus pendahulunya itu yaitu
penerus Sir Sayyid Ahmad Khan. Hal tersebut tidaklah salah, sebagaimana
tertulis di atas setelah ia memperoleh pendidikan di perguruan tinggi
Muhsiniyya Hooghl Calcutta Ia melanjutkan ke Universitas Aligarh dengan
mempelajari bahasa Arab, sastra dan hukum Inggris. Universitas Aligarh ini
adalah sebuah lembaga pendidikan yang disebar oleh murid dan pengikut Sir
Sayyid Ahmad Khan di Aligarh. Dari keterangan tersebut, bisa dikatakan bahwa
Sayyid Amir Ali adalah penerus Sir Sayyid Ahmad Khan yang mana Sir Sayyid
Ahmad Khan sendiri sebagai seorang yang berpaham qadariyah. Walaupun ia
tidak pernah bertemu dengan Sayyid Ahmad Khan secara langsung, di
Universitas Aligarh ia belajar dengan murid dan pengikut Sayyid Ahmad Khan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Sayyid Amir Ali adalah seorang pembaharu Islam India penerus Sir Sayyid Ahmad
Khan. Ia dilahirkan di India pada tanggal 6 April 1849. Dia berasal dari keluarga Syi‟ah
yang hidup di zaman Nadir Syah (1736-1747) pindah dari Khurasan Persia ke India.

2. Beberapa kiprah/karir Sayyid Amir Ali: Mendirikan National Muhammedan


Association, Menjadi anggota Majelis Wakil Raja Inggris, Menjadi anggota Judical
Committee of Privacy Council.

3. Karya-karya pemikiran Sayyid Amir Ali: Islam adalah satu-satunya agama yang
paling benar dan rasional, Islam mendudukan perempuan pada tempat terhormat, Islam
satu-satunya agama yang menghapus sistem perbudakan, adanya kehidupan setelah
alam dunia yaitu alam akhirat.

4. Sayyid Amir Ali adalah seorang pembaharu Islam yang berpaham qadariyah (free
will and free act) karena ia ingin mengembalikan kejayaan Islam yang pernah maju
dengan paham rasionalitas pemeluknya, dan karena ia murid dari Sir Sayyid Ahmad
Khan.
DAFTAR PUSTAKA

Hardiyanti, Siti. 2016. “jurusan pemikiran islam”.Medan.

Rahmadani, Agus. 2012. “Sayyid Amir Ali makalah 2”.

Ghufran, Nailul. 2017. “Sayyid amir ali sang pembaharu islam india”. IAN Salatiga.

Salikun, Nisa. 2019. “Sayyid amir ali dan pemikirannya”.

Anda mungkin juga menyukai