Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAN KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN DENGAN


GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM

Disusun Oleh:

1. Afri Yani, S.Kep 22221020


2. Aldi Firmansyah, S.Kep 22221005
3. Amirul Hajj, S.Kep 22221007

PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN


INSTITUT ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN 2022
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

Topik : Peran Keluarga Dalam Merawat Pasien Dengan


Gangguan Proses Pikir: Waham
Sasaran : Pengunjung Poliklinik Rumah Sakit Ernaldi Bahar
Hari / tanggal : Jum’at, 22 April 2022, Pukul 08:00 WIB
Waktu : 45 menit
Tempat : Poliklinik Rumah Sakit Ernaldi Bahar

I. Tujuan instruksional umum


Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan pasien dan keluarga dapat
memahami dan mengerti tentang gangguan jiwa dengan Gangguan Proses
Pikir: Waham.

II. Tujuan instruksional khusus


Setelah dilaksanakan penyuluhan kesehatan maka pasien dan keluarga
dapat:
1. Keluarga mampu mengenal masalah Gangguan Proses Pikir: Waham
2. Keluarga mampu mengambil keputusan
3. Keluarga mampu merawat klien dengan Gangguan Proses Pikir:
Waham
4. Keluarga mampu memodifikasi lingkuangan
5. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan

III. Materi (Terlampir)

IV. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi / tanya jawab
V. Pengorganisasian
1. Moderator dan Notulen : Aldi Firmansyah
2. Penyaji : Afri Yani
3. Fasilitator dan Dokumentasi : Amirul Hajj

VI. Setting Tempat

Keterangan:
Penyaji
Moderator
Notulen
Dokumentasi
Peserta

VII. Media
Leafleat
Lembar Balik
VIII. Kegiatan Pembelajaran
No
Kegiatan Penyuluh Waktu Kegiatan peserta

1. Pembukaan : 10 Menit
1. Membuka kegiatan dengan 1. Menjawab salam
mengucapkan salam.
2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan
3. Menjelaskan tujuan dari 3. Memperhatikan
penyuluhan
4. Menyebutkan materi yang akan 4. Memperhatikan
diberikan
2. Pelaksanaan : 25 menit Mendengarkan penjelasan
1. Pengertian Waham dan berdiskusi
2. Penyebab Waham
3. Tanda dan gejala Waham
4. Akibat Waham
5. Cara Keluarga Mengambil
Keputusan Untuk Perawatan
Pasien Waham
6. Penatalaksanaan Waham
7. Modifikasi Lingkungan Untuk
Pasien Waham
8. Cara Memanfaakan Fasilitas
Kesehatan
4. Penutup : 15 menit
1. Evaluasi: mengkaji pemahaman 1. Menjawab pertanyaan
masyarakat dengan memberikan
beberapa pertanyaan secara lisan.
2. Mengucapkan terimakasih atas 2. Mengucapkan
peran serta peserta. terimakasih
3. Mengucapkan salam penutup 3. Membalas salam
IX. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Tenaga pelaksanaan kegiatan ini adalah mahasiswa.
b. Kesiapan pemateri dari mahasiswa Profesi Ners IkesT
Muhammadiyah Palembang
c. Membuat SAP
d. Kontrak waktu
e. Setting

2. Evaluasi Proses
a. Peserta
1) Diharapkan selama proses berlangsung peserta mengikuti
kegiatan hingga akhir
2) Diharapkan selama kegiatan berlangsung peserta aktif
bertanya.
3) Kegiatan terlaksana secara sistematis dan sesuai dengan
rencana kegiatan.
4) Media yang digunakan membuat peserta lebih mudah paham
mengenai peran keluarga dalam merawat pasien dengan
gangguan jiwa
b. Pemateri
1) Mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan sesuai perannya
2) Mahasiswa bisa memfasilitasi jalannya kegiatan

3. Evaluasi Hasil
a. Mengetahui pengertian Waham
b. Mengetahui penyebab Waham
c. Mengetahui Waham
d. Mengetahui akibat Waham
e. Mengetahui penatalaksanaan Defisit perawatan diri
f. Mengetahui Peran Keluarga Pada Proses Kesembuhan Penderita
Gangguan Proses Pikir: Waham
Lampiran Materi:
Peran Keluarga Pada Proses Kesembuhan Penderita Gangguan Jiwa Dengan
Gangguan Proses Pikir: Waham

A. Konsep Gangguan Proses Pikir: Waham


1. Definisi Waham
Waham adalah keyakinan yang salah yang didasarkan oleh
kesimpulan yang salah tentang realita eksternal dan dipertahankan
dengan kuat. Waham merupakan gangguan dimana penderitanya
memiliki rasa realita yang berkurang atau terdistorsi dan tidak dapat
membedakan yang nyata dan yang tidak nyata (Victoryna, 2020).
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan
secara kuat/terus menerus, tetapi tidak sesuai dengan keyakinan.
Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran dan kenyataan
yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari
mengenal impuls yang tidak dapat diterima dari dirinya sendiri (Nurarif
& Kusuma, 2015).
Waham adalah keyakinan yang keliru tentang isi pikir yang
dipertahankan secara kuat atau terus menerus namun tidak sesaui dengan
kenyataan (SDKI,2017)

2. Etiologi
Menurut (World Health Organization, 2016) secara medis ada
banyak kemungkinan penyebab waham, termasuk gangguan
neurodegeneratif, gangguan sistem saraf pusat, penyakit pembuluh darah,
penyakit menular, penyakit metabolisme, gangguan endokrin, defisiensi
vitamin, pengaruh obat-obatan, racun, dan zat psikoaktif.
a. Faktor Predisposisi
1) Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem
saraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
2) Neurobiologis : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan
korteks limbic
3) Neurotransmitter : abnormalitas pada dopamine, serotonin dan
glutamat.
4) Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.
b. Faktor Presipitasi
1) Proses pengolahan informasi yang berlebihan
2) Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
3) Adanya gejala pemicu Pemicu merupakan prekursor dan
stimulus yang yang sering menunjukkan episode baru suatu
penyakit. Pemicu yang biasa terdapat pada respon
neurobiologik yang maladaptif berhubungan dengan
kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku individu (Direja,
2011).

3. Jenis Waham
Menurut (Prakasa, 2020) jenis waham yaitu :
a. Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya ini pejabat di separtemen kesehatan
lho!” atau, “Saya punya tambang emas.”
b. Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau
kelompok yang berusaha merugikan/mencederai dirinya dan
siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Saya
tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya
karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
c. Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu
agama secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai kenyataan. Contoh, “Kalau saya mau masuk surga, saya harus
menggunakan pakaian putih setiap hari.”
d. Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian
tubuhnya terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang
kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, “Saya sakit
kanker.” (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa
ia sakit kanker).
e. Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Misalnya, ”Ini kan alam kubur ya, semua yang ada disini
adalah roh-roh”.
f. Waham sisip pikir : keyakinan pasien bahwa ada pikiran orang lain
yang disisipkan ke dalam pikirannya.
g. Waham siar pikir : keyakinan pasien bahwa orang lain mengetahui apa
yang dia pikirkan walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya
kepada orang tersebut.
h. Waham kontrol pikir : keyakinan pasien bahwa pikirannya dikontrol
oleh kekuatan di luar dirinya.

4. Tanda Dan Gejala


Menurut (Prakasa, 2020) bahwa tanda dan gejala gangguan proses
pikir waham terbagi menjadi 8 gejala yaitu, menolak makan, perawatan
diri, emosi, gerakan tidak terkontrol, pembicaraan tidak sesuai,
menghindar, mendominasi pembicaraan, berbicara kasar.
a. Waham Kebesaran
1) DS : Pasien mengatakan bahwa ia adalah presiden, Nabi, Wali,
artisdan lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya, inkoheren
(gagasan satu dengan yang lain tidak logis), tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengertim pasien mudah marah
dan pasien mudah tersinggung
b. Waham Curiga
1) DS : Pasien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu,Pasien
mengatakan merasa diintai dan akan membahayakan dirinya.
2) DO : Pasien tampak waspada,Pasien tampak menarik diri,Perilaku
pasien tampak seperti isi wahamnya ,Inkoheren (gagasan satu
dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara
keseluruhan tidak dapat dimengerti).
c. Waham Agama
1) DS : Pasien yakin terhadap suatu agama secara berlebihan,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Pasien tampak
bingung karena harus melakukan isi wahamnya,Inkoheren (gagasan
satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara
keseluruhan tidak dapat dimengerti)
d. Waham Somatik
1) DS : Pasien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik
Pasien mengatakan merasa khawatir sampai panic
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Inkoheren
( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )Pasien tampak
bingung ,Pasien mengalami perubahan pola tidur , Pasien
kehilangan selera makan
e. Waham Nihilistik
1) DS : Pasien mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal dunia,
diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Inkoheren
(gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti ) , Pasien tampak
bingung, Pasien mengalami perubahan pola tidur , Pasien
kehilangan selera makan
f. Waham Bizzare
1) Sisip Pikir :
a) DS : Pasien mengatakan ada ide pikir orang lain yang
disisipkan dalam pikirannya yang disampaikan secara berulang
dan tidak sesuai dengan kenyataan,Pasien mengatakan tidak
dapat mengambil keputusan
b) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Pasien
tampak bingung , Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain
tidak logis, tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat
dimengerti) , Pasien mengalami perubahan pola tidur
2) Siar Pikir
a) DS :Pasien mengatakan bahwa orang lain mengetahui apa yang
dia pikirkan yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai
dengan kenyataan,Pasien mengatakan merasa khawatir sampai
panik ,Pasien tidak mampu mengambil keputusan
b) DO : Pasien tampak bingung , Perilaku pasien tampak seperti
isi wahamnya , Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak
logis, tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat
dimengerti) ,Pasien tampak waspada ,Pasien kehilangan selera
makan
3) Kontrol Pikir
a) DS : -Pasien mengatakan pikirannya dikontrol dari luar ,
Pasien tidak mampu mengambil keputusan
b) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya,Pasien
tampak bingung , Pasien tampak menarik diri ,Pasien mudah
tersinggung ,Pasien mudah marah ,Pasien tampak tidak bisa
mengontrol diri sendiri ,Pasien mengalami perubahan pola
tidur ,Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis,
tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti).

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dengan defisit perawatan diri menurut adalah
sebagai berikut (Sutejo, 2017):
a. Meningkatan kesadaran dan kepercayaan diri
b. Ciptakan lingkungan yang mendukung
c. BHSP (bina hubungan saling percaya)
B. Peran Keluarga Pada Proses Kesembuhan Penderita Gangguan Jiwa
Dengan Gangguan Proses Pikir: Waham
1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah sebuah sistem, maka gangguan yang terjadi pada
salah satu anggota dapat mempengaruhi seluruh sistem. Sebaliknya,
disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebeb terjadinya
gangguan pada anggotanya (Andarmoyo, 2018).
Keluarga merupakan tempat individu memulai hubungan
interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi”
pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai,
keyakinan, sikap, dan perilaku. Keluarga merupakan sistem pendukung
utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat
sakit penderita (Effendy, 2017).
Keluarga merupakan unit paling dekat dengan penderita, dan
merupakan “perawat utama” bagi penderita. Umumnya, keluarga meminta
bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawatnya.
Oleh karena itu, perawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya
memulihkan keadaan penderita, tetapi bertujuan untuk mengembangkan
dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi kesehatan dalam
keluarga tersebut (Setiadi, 2016).

2. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut, antara lain (Andarmoyo, 2018) :
a. Fungsi pendidikan, dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan
menyekolahkan anak unuk mempersiapkan kedewasaan dan masa
depan anak bila kelak dewasa nanti.
b. Fungsi sosialisasi anak, tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini
adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota
masyarakat yang baik.
c. Fungsi perlindungan, keluarga melindungi anak dan anggota keluarga
dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga
merasa terlindungi dan merasa aman.
d. Fungsi perasaan, keluarga menjaga secara instuitif, merasakan
perasaan dan suasana anak dan anggota lainya dalam berkomunikasi
dan berinteraksi satu dengan lainya sehingga ada saling pengertian satu
sama lain.
e. Fungsi religius, keluarga memperkenalkan dan mengajak anggota
keluarga dalam kehidupan beragama untuk menenamkan keyakinan
bahwa ada kekuatan lainya yang mengatur kehidupan ini dan akan ada
kehidupan lain setelah dunia ini.
f. Fungsi ekonomis, keluarga dalam hal ini mencari sumber-sumber
kehidupan dalam memenuhi fungsi-fungsi keluarga lainnya.
g. Fungsi biologis, keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi
penerus.

3. Tugas Keluarga
(Friedman 2008) membagi tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang
harus dilakukan, yaitu:
a. Mengenal Masalah Gangguan Proses Pikir: Waham
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara
tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka
apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan
terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar
perubahannya.
b. Mengambil Keputusan
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat dan sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan
memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera
melakukan tindakan yang tepat agar masalah kesehatan dapat
dikurangi atau bahkan teratasi, terutama dalam mengatasi defisit
perawatan diri anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
keluarga harus mengambil tindakan dengan segera agar tidak
memperburuk keadaan klien. Jika keluarga mempunyai keterbatasan
sebaiknya meminta bantuan orang lain dilingkungan sekitar keluarga.
c. Merawat Klien Dengan Gangguan Proses Pikir: Waham
Memberikan perawatan diri kepada anggota keluarga yang sakit
terutama anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa atau yang
tidak dapat membantu dirinya sendiri karena gangguan proses pikir,
cacat atau usianya yang terlalu muda/ tua. Perawatan ini dapat
dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan
tindakan untuk pertolongan pertama atau pergi ke pelayanan kesehatan
untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah
tidak terjadi.
Menurut (Marsh et al 2012) cara yang dapat dilakukan keluarga
sebagai berikut :
1) Keluarga mampu mengembangkan harapa yang realistis yaitu
mampu menumbuhkan rasa keyakinan yang positif sehingga
penderita mampu berpikir secara realistis.
2) Menciptakan lingkungan yang mendukung yaitu keluarga mampu
memberikan lingkungan yang nyaman bagi penderita, seperti
memberi perhatian dan pendampingan sehingga penderita tidak
akan merasa kesepian.
3) Pendampingan pengobatan bagi penderita yaitu keluarga mampu
mengontrol kepatuhan meminum obat dan keluarga dapat
mengetahui tanda-tanda kekambuhan penderita sehingga mengerti
kapan harus di rujuk ke rumah sakit.
4) Memberikan support dengan cara membantu memulihkan perasaan
sedih dan kehilangan, seperti memanfaatkan waktu luang penderita
dengan memberikan pekerjaan yang positif bisa dari kelebihan atau
hobi penderita.
d. Memodifikasi Lingkungan
Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan keperibadian anggota keluarga. Dengan
cara keluarga tidak mengucilkan anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa, keluarga mau mengikut sertakan anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa dalam berbagai kegiatan yang ada di
dalam keluarga tersebut.
e. Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan
Dalam hal ini keluarga harus mampu merawat klien baik
dirumah maupun membawa klien berobat jalan ke rumah sakit jiwa
yang ada, atau tempat pelayana kesehatan jiwa yang terdekat. Apabila
keluarga tidak sanggup lagi merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa, maka sebaiknya keluarga membawa
anggota keluarga tersebut ke rumah sakit jiwa untuk dirawat inap.
Selama anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dirawat inap
sebaiknya keluarga tetap mengunjunginya serta memberikan dukungan
berupa semangat dan lain-lain.

4. Jenis Dukungan Keluarga


Keluarga mempunyai fungsi pendukung yang bisa dilakukan dalam
keluarga tersebut (Andarmoyo, 2018), meliputi :
a . Dukungan social
Dalam beberapa literature biasa disebut dukungan informasional,
dimana keluarga berfungsi memberikan, mencari dan menyebarkan
informasi kepada seluruh anggota keluarga.
b . Dukungan penilaian
Keluarga bertindak sebagai sistem pembimbing umpan balik,
membimbing dan menjadi perantara dalam memecahkan suatu
permasalahan, dan merupakan sumber serta validator identitas anggota
keluarga menjadi tempat untuk berbagi. Tempat untuk menceritakan
semua permasalahan dan menjadi tempat memecahkan permasalahan
itu bersama-sama.
c . Dukungan instrumental
Keluarga adalah sumber bantuan praktis dan konkrit.
d . Dukungan emosional Keluarga berfungsi sebagai pelabuhan istirahat
dan pemulihan serta membantu penguasaan emosional serta
meningkatkan moral keluarga.
5. Peran Dukungan Keluarga Pada Pasien Gangguan Proses Pikir:
Waham
Sistem dukungan adalah segala fasilitas berupa dukungan yang
diberikan kepada klien yang bersumber dari keluarga, teman dan
masyarakat disekitarnya. Pada keluarga yang mempunyai anggota
keluarga dengan penyakit kejiwaan, mempunyai tuntutan pengorbanan
ekonomi, sosial, psikologis yang lebih besar dari pada keluarga yang
normal. Dukungan keluarga dalam mencegah terjadinya kekambuhan
pada penderita gangguan jiwa antara lain (Dermawan, 2018) :
a. Menciptakan lingkungan yang sehat jiwa bagi penderita
b. Mencintai dan menghargai penderita
c. Menunjukkan empati serta memberi bantuan kepada penderita
d. Menghargai dan mempercayai pada penderita
e. Mau mengajak berekreasi bersama penderita dengan anggota keluarga
lainnya
f. Mengikutkan penderita untuk kegiatan kebersamaan dengan sesama
anggota keluarga.

6. Tindakan yang dilakukan untuk merawat keluarga dengan


Gangguan Proses Pikir: Waham
a. Menjelaskan masalah penyakit, meliputi : pengertian, penyebab, tanda
gejala, akibat, tindakan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan,
pengobatan yang bekerlanjutan, tempat rujukan bertanya dan fasilitas
kesehatan yang tersedia.
b. Memperagakan cara berkomunikasi dengan pasien
c. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mempraktiekan
berkomunikasi dengan pasien secara langsung.
d. Menjelaskan Strategi pelaksanaan keluarga pasien Gangguan Proses
Pikir: Waham antara lain:
1) SP 1 Keluarga
a) Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
b) Jelaskan pengertian. Tanda gejala, dan proses terjadinya
waham (gunakan booklet)
c) Jelaskan cara merawat: tidak disangkal, tidak diikuti/diterima
(netral)
d) Latih cara mengetahui kebutuhan pasien dan mengetahui
kemampuan pasien
e) Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian.

2) SP 2 Keluarga
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing pasien
memenuhi kebutuhannya. Beri pujian
b) Latih cara memenuhi kebutuhan pasien
c) Latih cara melatih kemampuan yang dimiliki pasien
d) Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberi pujian

3) SP 3 Keluarga
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing memenuhi
kebutuhan pasien dan membimbing pasien melaksanakan
kegiatan yang telah dilatih. Beri pujian
b) Jelaskan obat yang diminum oleh pasien dan cara
membimbingnya
c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan
pujian

4) SP 4 Keluarga
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing memenuhi
kebutuhan pasien, membimbing pasien melaksanakan kegiatan
yang telah dilatih dan minum obat. Berikan pujian.
b) Jelaskan follow up ke RSJ/PKM, tanda kambuh, rujukan
c) Anjurkan membantu pasien sesuai jadual dan memberikan
pujian
5) SP 5-12
a) Evaluasi kegiatan keluarga dalam membimbing memenuhi
kebutuhan pasien, membimbing pasien melaksanakan kegiatan
yang telah dilatih, minum obat. Berikan pujian
b) Nilai kemampuan keluarga merawat pasien
c) Nilai kemampuan keluarga melakukan kontrol ke RSJ/PKM
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, S. 2018. Keperawatan Keluarga Konsep Teori, Proses, dan Praktik.


Yogyakarta: Graha Ilmu.
Dermawan R. 2018. Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja Asuhan
Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Efenddy, 2017. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktek dalam
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Direja. 2019. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Ed. I. Yogyakarta: Nuha
Medika
Mukripah. 2019. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika. Aditama.
Nurarif, A., dkk (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Diagnosa Medis NANDA
NIC – NOC. Yogyakarta : Media Ection.
Prakasa, A., & Milkhatun, M. (2020). Analisis Rekam Medis Pasien Gangguan
Proses Pikir Waham dengan Menggunakan Algoritma C4. 5 di Rumah
Sakit Atma Husada Mahakam Samarinda. Borneo Student Research
(BSR),2(1)8-15.
Setiadi. 2016. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Sutejo. 2017. Konsep dan Praktis Asuhan Keperawatan Kesehatan Gangguan Jiwa
dan Psikososial. Yogyakarta: PT Pusaka Baru.
Victoryna, F., Wardani, I. Y., & Fauziah, F. (2020). Penerapan Standar Asuhan
Keperawatan Jiwa Ners untuk Menurunkan Intensitas Waham Pasien
Skizofrenia. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(1), 45-52.
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/5352/pd
Yusuf. 2019. Kesehatan Jiwa Pendekatan Holistik Dalam Asuhan Keperawatan.
Jakarta: Mitra Wacana Medika.