Anda di halaman 1dari 39

Laporan Makalah Keperawatan Keluarga

“Asuhan Keperawatan Keluarga Terhadap Lansia dengan Resiko Jatuh”

Nama Kelompok : 5

1. Fauzan Risyadi (17031044)


2. Yuyun Bella Ria Batubara (17031047)
3. Nabila Rizky (17031061)
4. Angel Novelyeni Cahyaningtyas (17031062)
5. Herlina Malinda (17031067)
6. Dwi Astuti (17031068)
7. Rahmatul Laili (17031075)
8. Vivi Andriani (17031077)
9. M. Ashari Halilintar (17031078)

Program Studi Sarjana Keperawatan


STIKes Hang Tuah Pekanbaru
2020

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, kami
ucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-
Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat menyelesaikan laporan makalah tentang Asuhan
Keperawatan Keluarga Terhadap Lansia dengan Resiko Jatuh ini dalam memenuhi tugas di mata
kuliah Keperawatan Keluarga.

Laporan makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami,
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki laporan makalah
ini.

Akhir kata kami berharap semoga laporan makalah tentang Asuhan Keperawatan
Keluarga Terhadap Lansia dengan Resiko Jatuh ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi
terhadap pembaca.

Pekanbaru, 14 Juni 2020

Kelompok 5,

2
DAFTAR ISI

COVER…………………………………………………………………………………………... 1

KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI .................................................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 4

1.1 Latar belakang........................................................................................................................... 4


1.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................................................... 5
1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................................................... 5

BAB 2 TINJAUAN TEORI ........................................................................................................... 6

2.1 Konsep Lansia .......................................................................................................................... 6


2.2 Konsep Keluarga Lansia .......................................................................................................... 9
2.3 Konsep Rentan/Resiko ............................................................................................................ 12
2.4 Konsep Resiko Jatuh ............................................................................................................... 13
2.5 Asuhan Keperawatan Keluarga ............................................................................................... 16

BAB 3 TINJAUAN KASUS ........................................................................................................ 27

3.1 Kasus ....................................................................................................................................... 27


3.2 Proses Asuhan Keperawatan Keluarga ................................................................................... 27

BAB 4 PEMBAHASAN ...............................................................................................................36

4.1 Kesenjangan antara teori dengan kasus .................................................................................. 36

BAB 5 PENUTUP .........................................................................................................................38

5.1 Kesimpulan ..............................................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................39

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia secara alamiah akan mengalami proses penuaan atau menjadi tua. Menua
(menjadi tua) adalah proses kehilangan perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri. Manusia yang sudah menjadi tua akan mengalami kemunduran fisik,
mental, dan sosial. Seseorang dikatakan sudah menjadi tua apabila sudah berusia lebih dari
60 tahun. Lanjut usia (lansia) adalah salah satu bagian dari proses tumbuh kembang manusia.
Lansia didefinisikan berdasarkan karakteristik sosial masyarakat, dimana orang yang sudah
lanjut usia memiliki ciri-ciri rambut beruban, kerutan kulit, dan hilangnya gigi.Perubahan
yang terjadi pada lansia tidak hanya pada kondisi fisik, tetapi juga terdapat perubahan
psikologis. Perubahan psikologis pada lansia terjadi karena adanya perubahan peran dan
kemampuan fisik orang tua dalam melakukan kegiatan, baik kegiatan untuk diri sendiri
maupun di kegiatan sosial masyarakat. (Azizah,2011).

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah
memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah
memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini
akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Proses penuaan
adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi
organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan
penyakit yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan
pembuluh darah, pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut
disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi
sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada
kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi
dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of daily living
(Fatmah, 2010).

4
Dampak dari bertambahnya usia yaitu berkurangnya fungsi-fungsi organ, yaitu
penurunan sistem neurologis, kardiovaskuler, muskuloskeletal dan sistem lainnya. Hampir
80% lanjut usia memiliki setidaknya satu masalah kronis. Penyakit kronis tersebut dapat
mengganggu aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup tubuh mereka sehari-hari. Dampak
dari penurunan fungsi ini dapat menyebabkan efek negatif pada lanjut usia sebagai contoh
dampak dari penurunan fungsi pada Lanjut Usia yaitu terjatuh (Ulfa, 2018)
Jatuh adalah sebuah keadaan yang tidak bisa  diperkirakan, dimana kondisi lansia
berada di bawah atau lantai tanpa sengaja dengan ada atau tanpa saksi.  Jatuh merupakan
salah satu penyebab utama dari kematian dan cedera pada populasi lanjut usia 20 sampai
30% dari lansia yang memiliki derajat kecacatan tinggi terkait jatuh akan mengalami
kehilangan kebebasan akan aktivitas hidup sehari-hari (Ulfa,2018)
Sekitar 30-50% dari populasi lansia yang berusia 65 tahun keatas mengalami jatuh setiap
tahunnya. Separuh dari angka tersebut akan mengalami jatuh berulang. Di Indonesia, survey
yang dilakukan oleh riset kesehatan dasar (RISKESDAS) menyatakan bahwa jumlah
kejadian jatuh pada lansia berusia 60 tahun atau lebih sekitar 70,2% (Ulfa,2018).

1.2 Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan keluarga terhadap lansia dengan


resiko jatuh.

2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang konsep lansia
2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang konsep keluarga lansia
3. Mahasiswa dapat memahami tentang konsep rentan/resiko
4. Mahasiswa dapat mengetahui tentang konsep resiko jatuh
5. Mahasiswa dapat mengetahui tentang Asuhan keperawatan keluarga

1.3 Manfaat Penulisan


1. Mahasiswa dapat mengetahui dan menerapkan asuhan keperawatan keluarga terhadap
lansia dengan reisko jatuh.

5
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Lansia

2.1.1 Definisi Lanjut Usia

Lanjut usia adalah tahap akhir perkembangan pada kehidupan manusia yang dimulai
dari usia 60 tahun hingga hampir mencapai 120 atau 125 tahun.  Adapun lanjut usia dapat
diklasifikasi: lansia awal (65 hingga 74 tahun), lansia menengah (75 tahun atau lebih),
lansia akhir (85 tahun atau lebih).  (Dunkle 2009 dalam Santrock, 2012)
Menurut UU Nomor 13/1998 tentang kesejahteraan lanjut usia ada tiga definisi Lanjut Usia:
1. Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas
2. Lanjut usia potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan
atau kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa.
3. Lanjut usia tidak potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

Lanjut Usia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahap akhir
dari fase kehidupannya. Secara alamiah semua orang akan mengalami proses menjadi tua
dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir dari fase kehidupannya.  proses
penuaan merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dicegah dan merupakan hal yang
wajar dialami oleh orang yang diberi karunia umur panjang, di mana semua orang berharap
akan menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak
dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang (Hamid,2006).
Organisasi kesehatan dunia atau (WHO),  menggolongkan lansia menjadi empat
kelompok yaitu:
1.  usia pertengahan atau middle age Yaitu seseorang yang berusia 45 -  59 tahun
2.  Lanjut Usia atau elderly Berusia antara 60 - 74
3.  lanjut usia tua atau old Berusia 74 - 90 tahun
4. usia sangat tua atau very old Yaitu seseorang dengan usia lebih dari 90 tahun

6
Sedangkan Depkes RI (1999 dalam Maryam 2008)  menetapkan bahwa lanjut usia
digolongkan menjadi 5 kelompok yaitu: 
1. Pra lansia,  orang yang usianya 45- 59 tahun
2. Lansia,  orang yang usianya 60 tahun atau lebih
3. Lansia resiko tinggi,  yaitu lansia dengan masalah kesehatan
4. Lansia potensial,  yaitu lansia yang masih mampu bekerja atau melakukan kegiatan
yang dapat menghasilkan barang atau jasa
5. Lansia tidak potensial,  yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah dan tergantung
pada orang lain.

Menurut Nugroho 2008,  faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya proses menua


adalah herediter genetik nutrisi atau makanan,  kesehatan fisik dan mental, pengalaman
hidup, lingkungan, , tipe kepribadian, dan filosofi hidup seseorang. 

2.1.2 Sikap Masyarakat Terhadap Lansia

Kepribadian pada lanjut usia merupakan sifat yang dimiliki yang juga mengalami
perkembangan dalam kehidupannya. hal ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan lansia
dan masyarakat. Kepribadian ada masa ini penuh kehati-hatian dan ramah meningkat di
masa dewasa akhir.  tingkat kehati-hatian, extraversion, dan keterbukaan terhadap
pengalaman, semakin tinggi neurotisme,  afeksi negatif, pesimisme, dan pandangan
negatif terhadap kehidupan terkait dengan kematian dini di masa dewasa akhir.

Diri dan masyarakat pada masa ini lanjut usia juga memiliki perubahan pada
keadaan diri dan masyarakat.  possible selves adalah apa yang mungkin terjadi pada
seseorang. kondisi apa yang terjadi, apa yang diinginkan seseorang, dan apa yang mereka
takutkan nantinya. possible selves berupa selama masa akhir dan terkait dengan
keterlibatan aktivitas hidup dan harapan hidup yang lebih lama. Perubahan penerimaan
diri sejalan meningkat sesuai dengan peningkatan usia titik Dalam hal ini regulasi diri
orang lanjut usia mengalami regulasi diri lebih rendah dalam bidang fisik. meskipun
regulasi diri didapatkan perbedaan pada setiap individu. 

7
Masyarakat kita menekankan pencapaian lansia di masa mudanya dan
memuliakan periode muda. Oleh karena itu, orang dewasa, melalui riasan, pakaian, dan
gaya mencoba mempertahankan penampilan muda mereka selama mungkin. Penuaan
telah dipandang sebagai penurunan yang mengganggu, dan perburukan penyakit yang
hanya memengaruhi lansia dalam persentasi kecil sering kali dipandang sebagai sebuah
norma bukan pengecualian. Penuaan normal sering dianggap sebagai suatu periode sakit,
keadaan tua yang lemah, dan bergantung. Bagi komunitas luas dan keluarga individu,
beradaptasi dengan lansia memiliki konotasi negative, salah satunya merasa terbebani
dengan masalah yang dihadapi. Selain itu, masyarakat tidak membarkan sebagian lansia
untuk tetap produktif. Oleh karena itu, penilaian masyarakat yang negative terhdap lansia
telah memengaruhi citra diri mereka secara negatif .

Sampai saat ini, banyak asosiasi dan lebih banyak literature yang membela dan
mengilustrasikan kekuatan, sumber dan aspek positif lain dari penuaan. Hal ini mulain
menghilangkan negtaivisme dan pemikiran stereotipo mengenai lansia dan membantu
kita mengenali asset-aset lansia dan keanekaragaman gaya hidup diantara anggota
kelompok usia ini. Sikap kita mengenai penuaan dan lansia, walaupun tetap negative,
tampak telah berubah. Penelitian terbaru yang meneliti sikap masyarakat terhadap lansia
telah divalidasi bahwa lansia dipandang lebih positif (Austin, 1985). McCubbin dan Dahl
(1985) melaporkan, “Banyak pengamat percaya bahwa lansia mendapatkan penghargaan
kembali di Amerika Serikat. Suatu generasi baru lansia memiliki pendidikan yang lebih
baik, lebih berpengaruh, leih sehat dan lebih aktif.
Kehilangan yang biasa terjadi pada lansia dan keluarga :
Pada saat penuaan berlangsung dan pension telah menjadi kenyataan, terdapat
berbagai stressor atau kehilangan yang dialami oleh beberapa lansia dan pasangannya
yang akan mengganggu transisi peran mereka.
Stressor ini dapat berupa :
1. Ekonomi, menyesuaikan terhadap peurunan pendapatan pokok; selanjutnya
mungkin menyesuaikan terhadap ketergantungan ekonomi (bergantung pada
keluarga atau pemerintah untuk mendapat subsidi)

8
2. Perumahan, sering berpindah ke tempat tinggal yang lebih kecil, fasilitas hidup
dibantu, dan kemudian dipaksa untuk pindah ke panti werda
3. Sosial, kehilangan (kematian) saudara kandung, teman, dan pasangan
4. Pekerjaan, berhenti bekerja dengan mengundurkan diri atau pension dan
kehilangan peran kerja serta rasa produktivitas
5. Kesehatan, penurunan fungsi fisik, mental dan kognitif; merawat pasanan yang
kurang sehat.

2.1.3 Tugas Perkembangan Lanjut Usia


Menurut Erikson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri
dengan tugas perkembangan usia lanjut  dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada
tahap sebelumnya. Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya
melakukan kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang
serasi dengan orang disekitarnya, maka pada orang usia lanjut akan tetap melakukan
kegiatan yang bisa dilakukan pada tahap perkembangan  orang-orang.
Seorang perawat yang berkecimpung dalam pengelolaan atau memberikan asuhan
keperawatan lansia tidaknya harus memiliki kemampuan:
1. Mampu membina hubungan yang terapetik pada lansia
2. Menghargai keunikan kelompok Lanjut Usia
3. Mempunyai kompetensi klinis sebagai dasar dalam melakukan tindakan keperawatan
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Memahami perubahan degeneratif secara fisik dan psikososial pada lansia
6. Mampu bekerjasama dengan tim kesehatan lain.

2.2 Konsep Keluarga Lansia


1. Definisi Lansia

Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu
periode di mana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih
menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Secara biologis
lansia adalah proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya

9
daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian (Wulansari, 2011).

2. Batasan Lansia

Batasan usia lansia menurut WHO meliputi (Santi, 2009):

a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) : antara 60 dan 74 tahun.

c. Lanjut usia tua (old) : antara 75 dan 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun

Batasan lansia menurut Depkes RI (2009) meliputi:

a. Menjelang usia lanjut (45-54 tahun) : masavibrilitas

b. Kelompok usia lanjut (55–64 thn) : masapresenium

c. Kelompok usia lanjut (> 64 thn) : masasenium

3. Keluarga lanjut usia


Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Penyesuaian tahap pensiun dengan merubah cara hidup
b. Menerima kematian pasangan, kawan, dan mempersiapkan kematian.
c. Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat
d. Melakukan live review masa lalu

4. Proses Menua Proses menua menurut (Santi, 2009)

Adalah keadaan alami selalu berjalan dengan disertai adanya penurunan kondisi
fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi. Hal tersebut berpotensi
menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa. Secara individu,
pada usia di atas 55 tahun terjadi proses menua secara alamiah. Menua didefinisikan
sebagai perubahan progresif pada organisme yang telah mencapai kematangan intrinsik
dan bersifat irreversibel serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu.

10
Proses alami yang disertai dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun
sosial akan saling berinteraksi satu sama lain.

Proses menua yang terjadi pada lansia secara linier dapat digambarkan melalui
tiga tahap yaitu, kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional
limitations), ketidakmampuan (disability) dan keterhambatan (handicap) yang akan

dialami bersamaan dengan proses kemunduran. Proses menua dapat terjadi secara
fisiologis maupun patologis. Apabila seseorang mengalami proses menua secara
fisiologis maka proses menua terjadi secara alamiah atau sesuai dengan kronologis
usianya (penuaan primer). Proses menua seseorang yang lebih banyak dipengaruhi faktor
eksogen, misalnya lingkungan, sosial budaya dan gaya hidup disebut mengalami proses
menua secara patologis (penuaan sekunder).

5. Kebutuhan Hidup Lansia

Secara lebih detail, kebutuhan lansia terbagi atas (Subijanto et al, 2011):

a. Kebutuhan fisik meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan.

b. Kebutuhan psikis yaitu kebutuhan untuk dihargai, dihormati dan mendapatkan


perhatian lebih dari sekelilingnya.

c. Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar

d. Kebutuhan ekonomi, meskipun tidak potensial lansia juga mempunyai kebutuhan


secara ekonomi sehingga harus terdapat sumber pendanaan dari luar, sementara
untuk lansia yang potensial membutuhkan adanya tambahan keterampilan,
bantuan modal dan penguatan kelembagaan.

e. Kebutuhan spiritual, spiritual adalah kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi


seorang manusia dalam kehidupannya tanpa memandang suku atau asal-usul.
Kebutuhan spiritual diidentifikasi sebagai kebutuhan dasar segala usia. Fish dan
Shelly mengidentifikasi kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan akan makna dan
tujuan, akan cinta dan keterikatan dan akan pengampunan (Stanley, 2008).

6. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Lansia

11
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut (Stanley,
2008):

a. Perubahan Fisik

1. Perubahan penampilan Saat seseorang memasuki usia lanjut, penampilan secara


fisik akan berubah. Misalnya sudah mulai terlihat kulit keriput, bentuk tubuh
berubah, rambut mulai menipis.

2. Perubahan fungsi fisiologis Perubahan pada fungsi organ juga terjadi pada lansia.
Perubahan fungsi organ ini yang menyebabkan lansia tidak tahan, terhadap
temperatur yang terlalu panas atau terlalu dingin, tekanan darah meningkat,
berkurangnya jumlah waktu tidur.

3. Perubahan panca indera Perubahan pada indera berlangsung secara lambat dan
bertahap, sehingga setiap individu mempunyai kesempatan untuk melakukan
penyesuain dengan perubahan tersebut. Misalnya, kacamata dan alat bantu dengar
hampir sempurna untuk mengatasi penurunan kemampuan melihat atau kerusakan
pendengaran.

4. Perubahan seksual Pada lansia, terjadi penurunan kemampuan seksual karena


pada fase ini klimakterik pada lansia laki – laki dan menopause pada wanita. Tapi,
hal itu juga tidak membuat potensi seksual benar–benar menurun. Ini disebabkan
penurunan atau peningkatan potensi seksual juga dipengaruhi oleh kebudayaan,
kesehatan dan penyesuain seksual yang dilakukan di awal.

2.3 Konsep Rentan/Risiko

Resiko dalam KBBI adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan,


membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko adalah suatu kejadian yang
dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang
mendadak terbaring atau terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran atau luka (Reuben, (1996) dalam Darmojo & Martono, 2005). Rentan
dalam KBBI mencakup dua hal, mudah terkena penyakit dan peka atau mudah merasa.

12
Rentan adalah suatu kelompok yang idealnya diperhatikan oleh pemerintah dan
berbagai pihak. Hal ini tercantum dalam UU No. 39 tahun 1999tentang kelompok rentan.
Penerapan undang-undang tersebut sangat pentingdilakukan oleh semua pihak termasuk
akademisi. Lansia dikategorikan sebagai kelompok rentan karena biasanya kelompok lansia
lebih mudah terserang beberapa jenis penyakit. Penuaan sel dalam tubuh lansia menyebabkan
penurunan daya tahan tubuh sehinggamudah diserang virus dan bakteri penyakit. Merujuk
peningkatan status kesehatankelompok rentan, rentan didefinisikan sebagai kelompok sosial
yang memiliki risiko atau kelemahan yang relatif tinggi sehingga merugikan kesehatan
(Flakerud dan Winslow, 1998; Stanhope dan Lancaster, 2004). Pada dasarnya populasi rentan
merupakan suatu kelompok dari populasi yang cenderung memiliki masalah perkembangan
kesehatan sebagai akibat dari paparan beberapa fakor resiko atau memiliki kemungkinan
kesehatan lebih buruk daripada kelompok yang lain (Stanhope dan Lancaster, 2004).
Kelompok rentan sering kali memiliki akmulassi dari beberapa atau kombinasi dari faktor
resiko (Nichols, Wright, dan Murphy, 1986; Stanhope dan Lancaster, 2004)

2.4 Konsep Risiko Jatuh


2.4.1 Definisi Jatuh
Jatuh merupakan suatu yang umum yang terjadi pada lansia, orang sakit, atau orang
cedera yang sedang lemah. Untuk mencegah klien jatuh dan mengalami cedera karenanya,
perawat harus mempertimbangkan pedoman pencegahan jatuh di tempat pelayanan
kesehatan. Walaupun sepertinya menaikkan pagar tempat tidur merupakan cara yang
efektif untuk mencegah jatuh, namun tidak perlu dilakukan secara rutin untuk tujuan
tersebut. (Bawelle, 2013)

2.4.2 Risiko Jatuh

Risiko jatuh pada pasien yang berisiko untuk jatuh umumnya disebabkan oleh faktor
lingkungan dan faktor fisiologis yang dapat berakibat cidera. Risiko jatuh dapat terjadi
karena beberapa hal, diantaranya salah memperkirakan jarak dari tempat tidur ke lantai,
merasa lemah atau pusing pada saat mencoba untuk bangun, merubah posisi terlalu cepat
dan kehilangan keseimbangan ketika mencoba untuk bangun dari kursi. Hal ini umum
terjadi khususnya pada pasien usia lanjut, penyebab lain meliputi:
1. Tidak mengenal lingkungan sekelilingnya,

13
2. Meminum obat yang membuat kesadaran mereka terhadap lingkungan berkurang,
Berada di tempat gelap,
3. Gangguan status mental (misalnya: bingung atau disorientasi),
4. Gangguan mobilitas (misalnya: gangguan berjalan, kelemahan fisik, menurunnya
mobilitas tungkai bawah, gangguan keseimbangan),
5. Riwayat jatuh sebelumnya,
6. Obat-obatan (sedatif dan penenang, obat-obatan yang berlebihan),
7. Berkebutuhan khusus dalam hal toileting (memerlukan bantuan untuk buang air,
mengalami inkontinensia, diare, tidak dapat menahan keinginan buang air)
8. Usia lanjut. (Elizabeth, 2012)

2.4.2 Manajemen Risiko Jatuh

Pelaksanaan program kegiatan manajemen risiko pasien jatuh merupakan upaya yang
dilakukan untuk mencegah maupun menangani pasien dengan risiko jatuh maupun pasien
yang mengalami insiden jatuh sehingga mengantisipasi terjadinya cedera fisik pada pasien
serta untuk meningkatkan mutu rumah sakit. Ada beberapa langkah-langkah yang dapat
dilakukan perawat untuk menurunkan resiko terjadinya cedera pada klien akibat gerakan
yang berbahaya baik ketika berada atau tidak berada di tempat tidur atau kursi.
1. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan pengkajian keamanan.
Ada beberapa yang dapat dikaji dari klien dengan menentukan hal-hal berikut ini :
a. Tingkat Kesadaran, terutama orientasi waktu, tempat, dan orang, kemampuan
berkonsentrasi dan mengambil keputusan, kemampuan untuk memahami beragam
informasi pada satu waktu, kemampuan untuk mempresepsikan realitas secara akurat dan
bertindak atas persepsi tersebut. Pertimbangkan juga klien yang keputusannya terganggu
karena obat, seperti narkotik, penenang, hipnotis, dan sedative.
b. Faktor gaya hidup, seperti perilaku yang membahayakan dan penggunaan peralatan
keselamatan.
c. Perubahan sensori, seperti gangguan penglihatan, pendengaran, penciuman persepsi taktil
dan cita rasa.

14
d. Status mobilitas. Perhatikan orang tertentu yang mengalami kelemahan otot,
keseimbangan atau koordinasi yang buruk, atau paralisis, orang yang lemah karena
penyakit atau pembedahan, dan orang yang mempergunakan alat bantu ambulasi.
e. Keadaan emosional, yang dapat mengubah kemampuan merasakan adanya bahaya
lingkungan. Orang yang sedang merasa cemas, marah atau depresi mungkin mengalami
penurunan kesadaran persepsi atau dapat berpikir dan bereaksi lebih lambat terhadap
stimulus di lingkungannya.
f. Kemampuan berkomunikasi. Orang dengan kemampuan yang kurang untuk menerima
dan meneruskan informasi serta klien yang mempunyai hambatan bahasa tentunya tidak
akan dapat membaca ramburambu keamanan seperti “lantai licin” atau “rusak”.
g. Kecelakaan sebelumnya dan frekuensi atau factor predisposisi terjadinya kecelakaan.
h. Pengetahuan mengenai keamanan dalam menggunakan peralatan yang berpotensi
menimbulkan bahaya dan langkah kewaspadaan untuk mencegah cedera.

Selain pengkajian keamanan hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mencegah
jatuh di tempat pelayanan kesehatan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan,antara lain :

a. Pada saat klien pertama kali masuk, orientasikan klien terhadap lingkungan sekitarnya
dan jelaskan tentang system panggil yang berlaku.
b. Kaji secara teliti kemampuan klien untuk ambulasi dan berpindah. Berikan alat bantu
jalan dan bantuan sesuai kebutuhan.
c. Awasi klien secara ketat yang beresiko jatuh, terutama pada malam hari.
d. Dorong klien untuk menggunakan bel panggil jika perlu bantuan. Pastikan bel tersebut
berada dalam jangkauan klien.
e. Letakkan dan overbed table di dekat tempat tidur atau kursi sehingga klien tidak sulit
menjangkaunya yang bisa mengakibatkan klien kehilangan keseimbangan.
f. Atur agar tempat tidur selalu dalam posisi rendah dan rodanya terkunci ketika tidak
sedang melakukan tindakan sehingga klien dapat ke tempat tidur atau meninggalkan
tempat tidur dengan mudah.
g. Dorong klien untuk menggunakan palang genggam yang terdapat di dinding bagian atas
kamar mandi dan toilet serta palang genggam di sepanjang koridor.

15
h. Pastikan terdapat keset yang antislip di bak mandi dan pancuran
i. Anjurkan agar klien menggunakan alas kaki yang antislip.
j. Jaga kebersihan lingkungan agar tetap rapi, terutama singkirkan kabel yang ringan dari
tempat yang sering dilalui dan dari perabot yang digunakan
k. Pasang pagar tempat tidur klien yang sedang dalam kondisi konfusi, sedasi, gelisah, dan
tidak sadar, serta biarkan pagar tetap naik bila klien ditinggal sendiri. Pertimbangkan
hanya menaikkan setengah pagar tempat tidur jika menaikkan pagar tempat tidur
seluruhnya membuat klien lebih gelisah. (Elizabeth, 2012)

2.5 Asuhan Keperawatan Keluarga


Pelayanan keperawatan merupakan salah satu area pelayanan keperawatan yang dapat
dilaksanakan di masyarakat.  Pelayanan keperawatan keluarga yang saat ini dikembangkan
merupakan bagian dari pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat  ( Perkesmas).
Keperawatan Keluarga adalah proses pemberian pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
keluarga dalam lingkup Praktek Keperawatan.  pelayanan keperawatan keluarga merupakan
pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan
dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap pengkajian,  perencanaan,  pelaksanaan,  dan
evaluasi tindakan Keperawatan dengan memobilisasi sumber-sumber pelayanan kesehatan
yang tersedia di keluarga dan sumber-sumber dari profesi lain termasuk  pemberi  an-naziat
and dan sektor lain di komunitas.
Pelayanan keperawatan keluarga di rumah merupakan integrasi pelayanan keperawatan
keluarga dengan pelayanan kesehatan lain di rumah untuk mendukung kebijakan pelayanan
kesehatan di masyarakat sehingga dapat mengatasi masalah kesehatan pasien dan
keluarganya di rumah.  pelayanan keperawatan keluarga di rumah ini didukung kerjasama
antara petugas kesehatan dengan pasien dan anggota keluarganya.  pelayanan keperawatan
ini diberikan di rumah maupun di tempat dimana perawat melaksanakan praktik keperawatan
dan dapat diberikan oleh berbagai jenis tenaga baik tenaga-tenaga profesional,  tenaga
pembantu pelayanan kesehatan maupun tenaga pendamping (Caregiver).  dalam praktik
keperawatan keluarga perawat berperan melakukan tindakan Mandiri secara profesional atau
melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif dengan klien dan tim kesehatan lain. upaya

16
pelayanan kesehatan yang diberikan mencakup upaya pelayanan pencegahan primer, 
pencegahan sekunder dan pencegahan tersier (Riasmini, 2017) 
Keluarga Sebagai unit terkecil atau unit dasar dari suatu masyarakat sangat
mempengaruhi terhadap derajat kesehatan masyarakat itu sendiri (Friedmen , Bowden &
Jones, 2003). Keluarga bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dan tuntutan
anggota keluarganya, antara lain adalah kebutuhan kesehatan keluarga.  lanjut Friedmen,
Bowden, Jones Tahun 2003  menjelaskan beberapa alasan penting keluarga menjadi fokus
sentral dalam interaksi antara keluarga dengan masyarakat yaitu a) keluarga sebagai unit
terkecil dari masyarakat mempunyai kekuatan yang akan mempengaruhi kekuatan eksternal
atau yang lebih besar. b)  norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat akan berpengaruh
kepada norma-norma yang berlaku di keluarga dan Demikian pula sebaliknya. c)  berbagai
upaya kesehatan yang dilakukan keluarga dapat mengurangi risiko permasalahan kesehatan
di masyarakat. 
Praktik keperawatan kesehatan keluarga terdiri dari pelayanan holistik yang
menempatkan keluarga sebagai fokus pelayanan atau individu sebagai pencari dukungan dan
pelayanan.  perawat keluarga dalam prakteknya menunjang keterlibatan anggota keluarga
Dalam pengkajian, pengambilan keputusan perencanaan dan perawatan. Dan bantuan serta
menyampaikan sumber-sumber dari profesi lain termasuk pemberi pelayanan sektor
kesehatan dan komunitas.
Praktik keperawatan keluarga memiliki beberapa tingkat. Friedmen, Bowden, Jones 
(2003) Menjelaskan lima level tingkatan keperawatan keluarga yang meliputi:  a) level 1, 
keluarga menjadi latar belakang individu dan fokus pelayanan adalah individu yang akan
dikaji dan diintervensi. b) level 2, keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya
dan masalah kesehatan yang sama dari masing-masing anggota akan diintervensi bersamaan
masing-masing anggota dilihat sebagai unit yang terpisah. c)  level 3 fokus pengkajian dan
intervensi keperawatan adalah subsistem dalam keluarga, anggota anggota keluarga
dipandang sebagai unit yang berinteraksi, fokus intervensi adalah hubungan ibu dan anak
hubungan perkawinan, dll. d)  level 4 pada level ini keluarga dipandang sebagai client dan
menjadi Fokus utama dari pengkajian dan perawatan keluarga menjadi fokus dan individu
Sebagai latar belakang. e)  level 5 pada level ini keluarga dipandang sebagai bagian dari
masyarakat titik keluarga menjadi subsistem dalam masyarakat.

17
Dalam  buku ini akan dibahas dua level yaitu asuhan keperawatan individu dalam
keluarga dan asuhan keperawatan Keluarga.  Asuhan keperawatan kasus yang memerlukan
tindak lanjut di rumah ( individu Dalam konteks keluarga).  Asuhan keperawatan diberikan
pada individu dirumah dengan melibatkan peran serta aktif keluarga. Kegiatan yang
dilakukan antara lain: 
a. Penemuan suspek/kasus kontak serumah
b. Penyuluhan/pendidikan kesehatan pada individu dan keluarganya
c. Pemantauan keteraturan berobat sesuai program pengobatan
d. Kunjungan rumah sesuai rencana
e. Pelayanan keperawatan dasar langsung maupun tidak langsung

Asuhan Keperawatan Keluarga ditujukan pada keluarga rawan kesehatan/keluarga yang


memiliki masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat dan dilakukan di rumah keluarga.
kegiatan yang dilakukan meliputi: 
Identifikasi keluarga  rawan kesehatan/keluarga dengan masalah kesehatan di masyarakat.
a. Penemuan Dini suspek/kasus kontak serumah
b. Pendidikan/penyuluhan  kesehatan terhadap keluarga ( lingkup keluarga) ga
c. Kunjungan rumah (Home visit/ home health nursing) Sesuai rencana
d. Pelayanan keperawatan dasar langsung maupun tidak langsung 
e. Pelayanan kesehatan sesuai rencana, misalnya memantau keteraturan berobat pasien
dengan pengobatan jangka panjang
f. Pemberian nasehat ( konseling)  kesehatan/keperawatan di rumah

2.5.1 Pengkajian Keperawatan Keluarga


Pengkajian merupakan suatu tahap saat seorang perawat  mengambil informasi secara
terus-menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya. pengkajian merupakan syarat
utama untuk mengidentifikasi masalah titik pengkajian keperawatan bersifat dinamis
interaktif dan fleksibel. data dikumpulkan secara sistematis dan terus-menerus dengan
menggunakan alat pengkajian titik pengkajian Keperawatan Keluarga dapat menggunakan
metode observasi wawancara dan pemeriksaan fisik (Riasmini, 2017) 

18
Pengkajian keperawatan dalam keluarga memiliki dua tahapan titik pengkajian tahap 1
berfokus pada masalah kesehatan keluarga. pengkajian tahap 2 menyajikan kemampuan
keluarga dalam melakukan lima tugas kesehatan keluarga. namun dalam pelaksanaannya,
kedua tahapan ini dilakukan secara bersamaan titik berikut ini penjelasan mengenai
masing-masing tahap pengkajian. 
 Variabel data dalam pengkajian Keperawatan Keluarga mencakup: 
data umum/identitas keluarga mencakup nama kepala keluarga, komposisi anggota keluarga,
alamat, agama Suku, bahasa sehari-hari, jarak pelayanan kesehatan terdekat dan alat
transportasi.
a. Kondisi kesehatan semua anggota keluarga terdiri dari nama, hubungan dengan
keluarga, umur, jenis kelamin, Pendidikan terakhir, pekerjaan saat ini, status gizi
tanda-tanda vital, status imunisasi dasar, dan penggunaan alat bantu atau protesa serta
status kesehatan anggota keluarga saat ini meliputi keadaan umum, riwayat
penyakit/alergi.
b. Data pengkajian individu yang mengalami masalah kesehatan ( saat ini sedang sakit) 
meliputi nama individu yang sakit, diagnosis medis, rujukan dokter atau Rumah
Sakit, keadaan umum, sirkulasi cairan, perkemihan, pernafasan, muskuloskeletal,
neuronsensorik, kulit, istirahat dan tidur, status mental, Komunikasi dan budaya,
kebersihan diri, perawatan diri sehari-hari, dan data penunjang medis individu yang
sakit ( lab, radiologi, EKG, USG) 
c. Data kesehatan lingkungan mencakup sanitasi lingkungan pemukiman antara lain
ventilasi penerangan, kondisi lantai sampah dan lain-lain.
d. Struktur keluarga: Struktur keluarga mencakup struktur peran, nilai, komunikasi,
kekuatan. Komponen struktur keluarga ini akan menjawab pertanyaan tentang Siapa
anggota keluarga, bagaimana hubungan di antara anggota keluarga 
e. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga. variabel perkembangan keluarga ini akan
menjawab tahap perkembangan keluarga, tugas perkembangan keluarga
f. Fungsi keluarga. Fungsi keluarga  terdiri dari aspek instrumental dan ekspresif. Aspek
instrumental fungsi keluarga adalah aktivitas hidup sehari-hari seperti makan tidur,
pemeliharaan kesehatan. Aspek ekspresif fungsi keluarga adalah fungsi emosi,
komunikasi, pemecahan masalah, keyakinan dan lain-lain. Pengkajian variabel fungsi

19
keluarga mencakup kemampuan keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga
meliputi kemampuan mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan mengenai
tindakan keperawatan yang tepat merawat anggota keluarga yang sakit, memelihara
lingkungan rumah yang sehat dan menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan di
masyarakat.

Sumber data dalam pengkajian Keperawatan Keluarga meliputi:


a. Sumber data dalam pengkajian Keperawatan Keluarga dapat diperoleh dari wawancara
dengan klien berkaitan dengan kejadian sebelumnya dan kejadian sekarang, penilaian
subjektif misalnya pengalaman setiap anggota keluarga maupun temuan yang objektif
misalnya hasil observasi berbagai fasilitas yang ada di rumah keluarga. 
b. Sumber data Keluarga dapat juga diperoleh dari informasi yang tertulis atau lisan dari
berbagai agensi yang berhubungan atau bekerjasama dengan keluarga atau informasi dari
anggota tim kesehatan lain.

2.5.2 Diagnosis Keperawatan Keluarga


Diagnosis keperawatan adalah keputusan klinis mengenai individu, keluarga atau
masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan data dan analisis cermat dan
sistematis, memberikan dasar untuk menetapkan tindakan-tindakan dimana perawat
bertanggung jawab melaksanakan nya. Diagnosis keperawatan Keluarga dianalisis dari
hasil pengkajian terhadap adanya masalah dalam tahap perkembangan keluarga,
lingkungan keluarga, struktur keluarga, fungsi-fungsi keluarga dan koping keluarga,  baik
yang bersifat aktual resiko maupun Sejahtera di mana perawat memiliki kewenangan dan
tanggung jawab untuk melakukan tindakan Keperawatan bersama-sama dengan keluarga
dan berdasarkan kemampuan dan sumberdaya keluarga. Daftar  diagnosis Keperawatan
Keluarga bisa dilihat pada buku NANDA.  

Daftar Diagnosis Keperawatan Keluarga

20
Domain Kelas Rumusan Diagnosa Keperawatan

Domain 1 : Kelas 2 : - Ketidakefektifan dan manajemen regiment terapeutik


keluarga.
Promosi Manajemen
- Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan
kesehatan kesehatan
- Perilaku kesehatan cenderung beresiko

Domain 2 : Kelas 1 : Kesiapan untuk meningkatkan ASI


Nutrisi Ingesti
Domain 4 : Kelas 5 : Gangguan pemeliharaan rumah
Aktivitas/istirahat Perawatan Diri
Domain 5 : Kelas 4 : - Ketidakefektifan kontrol implus
Persepsi/Kognisi Kognisi

Kelas 5 : Kesiapan meningkatkan komunikasi

Komunikasi

Domain 7 :
Hubungan Peran Kelas 1 : Ketegangan peran pemberi asuhan resiko ketegangan
Peran peran pemberi asuhan
Caregiver Ketidakmampuan menjadi orang tua
Kesiapan meningkatkan peran menjadi orang tua
Resiko ketidakmampuan menjadi orang tua

Kelas 2 : Resiko gangguan perlekatan

Hubungan
Keluarga Disfungsi proses keluarga

Gangguan proses keluarga

21
Kesiapan meningkatkan proses keluarga

Kelas 3 :
Performan
Ketidakefektifan hubungan
Peran
Kesiapan meningkatkan hubungan
Resiko ketidakefektifan hubungan
Konflik peran orang tua
Ketidakefektifan performa peran
Hambatan interaksi sosial

Domain 9 : Kelas 2 :
Penurunan koping keluarga
Koping/Toleransi Respon
Ketidakmampuan koping keluarga
Stres Kopling
Kesiapan meningkatkan koping  keluarga
Ketidakefektifan perencanaan aktivitas
Resiko ketidakefektifan perencanaan aktivitas

2.5.3 Perencanaan Keperawatan Keluarga 


Perencanaan merupakan proses penyusunan strategi atau intervensi keperawatan yang
dibutuhkan untuk mencegah mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan klien yang
telah diidentifikasi dan divalidasi pada tahap perumusan diagnosis keperawatan.
perencanaan disusun dengan penekanan pada partisipasi klien keluarga dan koordinasi
dengan tim kesehatan lain. perencanaan mencakup penentuan prioritas masalah, tujuan
dan rencana tindakan titik tahapan penyusunan perencanaan Keperawatan Keluarga adalah
sebagai berikut:

a) Menetapkan prioritas masalah 


Menetapkan prioritas masalah atau diagnosis Keperawatan Keluarga adalah
dengan menggunakan skala menyusun prioritas dari Maglaya (2009)
Skala menentukan prioritas (Riasmini,2017)

22
No Kriteria Skor Bobot
1. Sifat Masalah
Skala : Wellness 3
Aktual 3
Resiko 2 1
Potensial 1
2. Kemungkinan masalah dapat
diubah
Skala : Mudah 2
Sebagian 1 2
Tidak Dapat 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
Skala : Tinggi 3
Cukup 2 1
Rendah 1
4. Menonjolnya masalah
Skala : Segera 2
Tidak Perlu 1 1
Tidak Dirasakan 0
Cara skoring:
1.  Tentukan skor untuk setiap kriteria
2.  Skor dibagi dengan makna tertinggi dan kalikanlah dengan bobot
Skor Bobot
Angka tertinggi
3.  Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria

b.  Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas:


Penentuan prioritas masalah didasarkan dari 4 kriteria yaitu sifat masalah, kemungkinan
Masalah dapat diubah, potensi masalah untuk dicegah dan menonjolnya masalah.

23
1) Kriteria yang pertama yaitu sifat masalah, bobot yang lebih berat diberikan pada masalah
aktual karena yang pertama memerlukan tindakan segera dan biasanya disadari dan
dirasakan oleh keluarga.
2) Kriteria kedua, yaitu untuk kemungkinan Masalah dapat diubah perawat perlu
memperhatikan terjangkaunya faktor-faktor sebagai berikut: 
a) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani masalah
b) Sumber daya keuangan dan tenaga
c) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan keterampilan dan waktu
d) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas Organisasi dalam masyarakat dan
sokongan masyarakat
3) Kriteria ketiga, yaitu potensi Masalah dapat dicegah.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah:
a) Kebalikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah
b) Lamanya masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah
c) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat dalam
memperbaiki masalah
d) Adanya kelompok high risk  atau kelompok yang sangat peka menambah potensi
untuk mencegah masalah
4) Kriteria keempat yaitu menonjolnya masalah perawat perlu lu atau bagaimana keluarga
melihat masalah kesehatan tersebut. nilai skor yang tertinggi terlebih dahulu diberikan
intervensi keluarga.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan tujuan keperawatan keluarga
yaitu:
a) Tujuan harus berorientasi pada keluarga di mana keluarga diarahkan untuk mencapai
suatu hasil atau standar pencapaian tujuan harus benar-benar bisa diukur dan dapat
dicapai oleh keluarga
b) Tujuan menggambarkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dapat dipilih
oleh keluarga
c) Tujuan harus menggambarkan kemampuan dan tanggung jawab keluarga dalam
pemecahan masalah.  Penyusun  tujuan Harus bersama-sama dengan keluarga

24
2.5.4 Implementasi  Keperawatan Keluarga
Implementasi pada Asuhan Keperawatan Keluarga dapat dilakukan pada individu dalam
keluarga dan pada anggota keluarga lainnya.  implementasi yang ditujukan pada individu
meliputi:
a. Tindakan keperawatan langsung
b. Tindakan kolaboratif dan pengobatan dasar
c. Tindakan observasi
d. Tindakan pendidikan kesehatan

Implementasi keperawatan yang ditujukan pada keluarga meliputi:


a. Meningkatkan kesadaran and1 penerimaan keluarga mengenai masalah dan
kebutuhan kesehatan dengan cara memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan
dan harapan tentang kesehatan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
b. Membantu keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat untuk individu 
dengan cara mengidentifikasi konsekuensi jika tidak melakukan tindakan,
mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga mendiskusikan tentang
konsekuensi setiap tindakan.
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan
cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di
rumah mengawasi keluarga melakukan perawatan
d. Warga menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat, dengan cara
menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga melakukan perubahan
lingkungan keluarga seoptiman mungkin
e. Motivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dengan cara
mengenalkan fasilitas yang ada di lingkungan keluarga, membantu keluarga
menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.

2.5.5 Evaluasi Keperawatan Keluarga


Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan penilaian dan evaluasi diperlukan
untuk melihat keberhasilan titik Bila tidak atau belum berhasil, perlu disusun rencana baru
yang sesuai titik semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam

25
satu kali kunjungan keluarga, untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan
waktu dan kesediaan kelainan atau keluarga. tahapan evaluasi dapat dilakukan selama
proses asuhan keperawatan atau pada akhir pemberian asuhan. perawat bertanggung jawab
untuk mengevaluasi status dan kemajuan klien dan keluarga terhadap pencapaian hasil dari
tujuan keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya. kegiatan evaluasi meliputi
kemajuan status kesehatan individu Dalam konteks keluarga, membandingkan respon
individu dan  dengan kriteria hasil dan menyimpulkan Hasil kemajuan masalah serta
kemajuan pencapaian tujuan keperawatan.

26
BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus
Perawat keluarga melakukan kunjungan keluarga untuk melakukan pengkajian keluarga
pada keluarga bapak P dan Ny A dan anak laki-laki nya An D yang berumur 14 tahun duduk
di bangku Sekolah menengah Pertama, serta seorang Lansia yang merupakan ibu dari Ny A
dengan diagnosa medis Alzheimer dan memiliki gangguan penglihatan serta mempunyai
riwayat penyakit dahulu Hipertensi serta pernah mengalami Stroke ringan. suami istri
tersebut mengatakan mengeluh karna harus memikirkan antara mencari nafkah dan
mengasuh ibu dari Ny A yang dikhawatirkan mengalami cedera atau risiko jatuh sebab selalu
lupa akan hal yang masih baru terjadi, sehingga komunikasi menjadi terbatas antara Bapak P
dengan ibu dari Ny A, dan merawat lansia dianggap sebagai beban demi memenuhi
kebutuhan sehari-hari klien, keluarga bapak P menganggap penyakit pelupa yang dialami
oleh ibu dari Ny A merupakan penyakit yang memang sering terjadi pada lansia sehingga
tidak ada pengobatan khusus yang diterima oleh lansia tersebut. Ekonomi yang rendah juga
mengharuskan bapak P dan keluarga merawat lansia tersebut seadanya. Kondisi kamar lansia
tersebut kurang mendukung kriteria rumah sehat ditandai jendela yang jarang dibuka, ada
tumpukan pakaian disudut kamar serta ada lubang khusus dikamar agar lansia mudah untuk
membuang ludah. Perawat membuat jadwal kunjungan lanjutan bersama keluarga untuk
mengatasi masalah kesehatan keluarga.

3.2 Asuhan Keperawatan Keluarga

FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA

Hari/Tanggal : Minggu, 14 Juni 2020

1. Data Dasar Keluarga


1. Identitas Keluarga
Inisial Kepala Keluarga : Tn. P
Umur : Tidak terkaji

27
Pendidikan : Tidak terkaji
Alamat :
Jarak Kepelayanan Kesehatan : Tidak terkaji
Sumber Informasi : Kepala Keluarga

2. Komposisi Keluarga

Nama Jenis Hub. Umu Pendidikan Status Imunisasi


Kelamin Kel. r
KK

BCG Polio DPT Hepatitis Cam Ket.


pak

1 2 3 4 1 2 3 1 2 3

Tn. P L Suami Tidak


terkaji

Ny. A P Istri Tidak


terkaji

An. D L Anak Tidak


terkaji

Keterangan
S : Sudah diberikan
T : Tidak Imunisasi
3. Genogram Tidak terkaji

4. Tipe Keluarga

Tipe keluarga ini adalah tipe keluarga yaitu extend Family yaitu keluarga dengan
pasangan yang berbagi pengaturan rumah tangga dan pengeluaran keuangan dengan
orangtua, kakak/adik dan keluarga dekat lainnya.

28
5. Suku Bangsa Tidak terkaji
6. Agama Tidak terkaji

7. Status Sosial Ekonomi Tidak terkaji

8. Aktivitas Rekreasi Keluarga Tidak terkaji

2). Riwayat dan Tahap perkembangan keluarga

a. Tahap Perkembangan Keluarga Saat ini

Tahap perkembangan keluarga saat ini yaitu keluarga berada pada tahap perkembangan
keluarga dengan lansia.

b. Tahap Perembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi Tidak terkaji.

c. Riwayat Keluarga Inti Tidak terkaji

3. Pola Kesehatan Keluarga

a. Riwayat Keluarga inti

Anggota Penyakit Saat ini Riwayat Penyakit Riwayat Penyakit


keluarga Dahulu Keturunan

Tn. P Tidak ditemukan penyakit saat Tidak ditemukan Tidak ditemukan


ini penyakit dahulu penyakit keturunan

Ny. A Tidak ditemukan penyakit saat Tidak ditemukan Tidak ditemukan


ini penyakit saat ini penyakit saat ini

An. D Tidak ditemukan penyakit saat Tidak ditemukan Tidak ditemukan


ini penyakit saat ini penyakit saat ini

b. Riwayat Keluarga sebelumnya Tidak terkaji

4. Data Lingkungan

a. Karakteristik Rumah

1). Denah Rumah Tidak terkaji

2). Pencahayaan : Pencahayaan dari rumah keluarga ini kurang cukup .

3) Kelembapan : Kelembapan dirumah ini kurang ditandai pencahayaan yang tidak cukup

29
4). Pembuangan air kotor Tidak terkaji

5). Pembuangan sampah Tidak terkaji


6). Sanitasi Tidak terkaji
7). Sumber Pencemaran : Lubang dikamar ibu Ny A tempat meludah dikhawatirkan bisa
menjadi tempat sarang bakteri dan kuman

8) Sumber Air minum Tidak terkaji

9). Jamban Tidak terkaji

10) Observasi secara umum yang dapat di lihat dari rumah ini belum memenuhi kategori
rumah bersih dan sehat, ditandai dengan pencahayaan yang tidak cukup dan jendela yang
jarang dibuka
b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW tidak terkaji
c. Mobilitas Geografi Keluarga tidak terkaji
d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi Keluarga dengan Komunitas tidak terkaji
e. system pendukung keluarga tidak terkaji
5. Struktur Keluarga
a. Pola Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga ini kurang terjalin dengan baik bahkan terbatas
dikarenakan ibu dari Ny A yang menderita Alzheimer selalu lupa dengan kejadian yang
baru saja terjadi membuat keluarga mengalami keterbatasan dalam berkomunikasi.
b. Struktur Kekuatan Keluarga tidak terkaji
c. Struktur Peran tidak terkaji
d. Strukrur nilai Keluarga tidak terkaji
6. Nilai dan Norma Keluarga
Tidak terkaji
a. Fungsi Afektif
b. Fungsi Sosialisasi
c. Fungsi Reproduksi
d. Fungsi Ekonomi
e. Fungsi Perawatan Kesehatan
1). Mengenal Masalah Kesehatan

30
Dalam kelurga ini kurang mengenal masalah kesehatan yang di derita dan faktor risiko apa
yang bisa menimbulkan bahaya bagi anggota keluarganya.
2). Mengambil Keputusan tentang Tindakan yang Tepat
Ibu dari Ny A mengalami Alzheimer sehingga mudah lupa dengan hal-hal yang baru terjadi
tetapi belum mendapatkan penanganan tindakan yang tepat
3). Merawat anggota keluarga yang sakit
Belum terdapat perawatan khusus bagi ibu Ny A yang mengalami Alzheimer
4). Memodifikasi Lingkungan Rumah
Rumah belum di modifikasi oleh keluarga jendela jarang dibuka, kelembapan menjadi tinggi,
kamar lansia yang kurang bersih dengan tumpukan pakaian, serta lubang kecil dikamar yang
menjadi tempat meludah
5). Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan
Belum terdapat pemanfaatan fasilitas kesehatan dari keluarga bapak P dan Ny A
9. Stres, Koping dan Adaptasi Keluarga
Tidak terkaji
1). Stresor jangka panjang dan jangka pendek
2). Kemampuan Keluarga berespon terhadap situasi/stressor
3). Strategi Adaptasi Disfungsional
8. Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga Tidak terkaji
10. Harapan Keluarga Tidak terkaji

2. Diagnosa Keperawatan Keluarga


1. Diagnosa Keperawatan

Analisa Data Masalah Keperawatan

Ds Kurang Efektif nya Koping


- suami istri tersebut mengatakan mengeluh Keluarga
karna harus memikirkan antara mencari
nafkah dan mengasuh ibu dari Ny A yang
dikhawatirkan mengalami cedera atau
risiko jatuh sebab selalu lupa akan hal

31
yang baru terjadi dan mempunyai
gangguan penglihatan
Do
- Komunikasi Keluarga menjadi terbatas
- Keluarga menjadi terbebani dengan
memenuhi kebutuhan klien sehari-hari
- Kurangnya pemahaman keluarga akan
informasi terkait kebutuhan kesehatan
klien
Ds =
- bapak P menganggap penyakit pelupa
yang dialami oleh ibu dari Ny A
merupakan penyakit yang memang sering Ketidak efektifan manajemen
terjadi pada lansia kesehatan dalam keluarga
Do =
- tidak ada pemeliharaan dan pengobatan
khusus bagi penyakit klien
- Rumah kurang bersih ditandai
penumpukan pakaian disudut kamar klien
serta adanya lubang tempat meludah yang
bisa memicu timbulnya penyakit akibat
bakteri dan kuman yang bersarang
- Rumah tidak memenuhi kriteria rumah
sehat ditandai pencahayaan yang tidak ade
kuat ditandai jendela yang jarang dibuka
- Sehingga kelembapan tinggi di rumah
keluarga tersebut
- Hambatan ekonomi yang rendah juga
mengakibatkan kurang efektifnya
pengobatan dalam keluarga tersebut

32
3. Perencanaan dan Implementasi
Perawat keluarga belum melakukan kerjasama dengan keluarga bapak P tentang
penentuan prioritas masalah, tujuan, dan rencana tindakan.
2. Perencanaan dan Implementasi Asuhan Keperawatan Keluarga dengan NANDA, NOC
DAN NIC

Data Penunjang Diagnosis Noc Nic

1. Komunikasi klien Kurang Efektif Keluarga mampu Setelah dilakukan


dengan keluarga nya Koping mengenal masalah intervensi
terbatas Keluarga kesehatan keperawatan,
2. Keluarga mengatakan - Pengelolaan stress keluarga mampu
menjadi terbebani - Regimen mengenal masalah :
oleh kebutuhan klien pengobatan - Pendidikan
Keluarga mampu kesehatan :
memutuskan untuk pengajaran proses
meningkatkan atau penyakit yang
memperbaiki dialami
kesehatan : - Pengajaran :
- Berpartisipasi pengobatan yang
dalam ditentukan atau di
memutuskan resepkan
perawatan Keluarga mampu
kesehatan memtuskan :
- Kesiapan care dukungan membuat
giver dalam harapan
perawatan - Dukungan
dirumah keluarga/caregiver
Keluarga mampu Keluarga mampu
merawat : merawat :
- Koping keluarga - Peningkatan koping

33
- Fungsi keluarga - Krisis intervensi
- Status kesehatan - Keluarga mampu
keluarga memodifikasi
- Keluarga mampu lingkungan
memodifikasi - Mampu
lingkungan memanfaatkan
- Memanfaatkan fasilitas pelayanan
fasilitas kesehatan
kesehatan - Berkonsultasi
1. rujukan
- Mengunjungi
fasilitas kesehatan

1. Pola pemeliharaan Ketidakefektifan Keluarga mampu Setelah dilakukan


kesehatan dalam Pemeliharaan mengenal masalah : intervensi
keluarga tidak efektif Kesehatan di - Pengetahuan keperawatan,
2. kurangnya keluarga proses penyakit, keluarga mampu
pengetahuan terkait pengobatan mengenal masalah :
pengobatan - Keluarga mampu - Pendidikan
memutuskan kesehatan :
berpartisipasi pengajaran proses
dalam perawatan penyakit yang
klien dialami
- Keluarga mampu Pengajaran :
memodifikasi pengobatan yang di
lingkungan : tentukan /diresepkan
komunikasi, Keluarga mampu
pengambilan memodifikasi
keputusan lingkungan rumah
- Keluarga mampu Manajemen
memanfaatkan lingkungan rumah
fasilitas

34
kesehatan : yang aman
pengetahuan Bantuan
sumber-sumber pemeliharaan rumah
kesehatan Manajamen
lingkungan

4. Evaluasi Asuhan Keperawatan Keluarga


Penilaian dan evaluasi diperlukan untuk melihat keberhasilan tindakan yang sudah
diberikan. Tindakan keperawatan tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali kunjungan.

35
BAB 4

PEMBAHASAN

4.1 Kesenjangan Antara Teori dan Kasus

Berdasarkan teori pada point kehilangan yang biasa terjadi pada lansia dan keluarga yaitu
salah satunya adalah keesehatan, penurunan fungsi fisik, mental dan kognitif, merawat pasangan
yang kurang sehat. Terdapat kesesuaian pada kasus yang mengatakan bahwa keluarga atau
pasangan suami istri ini merawat orang tuany dari Ny A yang mengalami masalah kesehatan
pada ibu Ny A karena memiliki riwayat penyakit terdahulu.

Diantara teori yang telah dijelaskan kelompok beserta kasus yang diberikan kelompok,
ada beberapa kesenjangan antara teori dan kasus, yang pertama dari kesesuaian antara konsep
risiko/rentan jatuh pada kasus dikatakan bahwa ibu dari Ny A mempunyai diagnose medis
Alzheimer dan mempunyai riwayat stroke ringan. Seperti yang dikatakan pada teori , lansia
dikategorikan sebagai kelompok rentan karena dasarnya populasi yang cenderung memiliki
masalah perkembangan kesehatan sebagai akibat dari paparan beberapa faktor resiko atau
memiliki kemungkinan kesehatan lebih buruk dari pada kelompok lainnya. Penuaan sel dalam
tubuh lansia menyebabkan penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah diserang virus dan
bakteri penyakit yang dapat menyebabkan lansia mengalami kelemahan (Stanhope dan
Lancaster, 2004).

Pada teori terdapat point yang mengatakan memepertahankan keakraban keluarga dan
saling merawat kesehatan maupun ekonomi serta kebutuhan fisik, kebutuhan psikis, serta
kebutuhan social untuk berinterksi dengan masyarakat sekitar atau dengan orang yang ada di
rumah.. Bedasarkan kasus Komunikasi yang terjadi mengatakan bahwa Tn P sedikit mengalami
misskomunikasi atau sedikit terbatasnya komunikasi antara Tn P dengan ibu dari Ny A
dikarenakan Tn P yang harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga serta ini menjadi beban
fikiran atau stressor untuk Tn P dikarena iya harus mencari nafkah dan merawat mertuanya.
Pasien pun mengalami kesulitan untuk beriteraksi dengan orang sekitar dikarenakan lansia

36
tersebut rentan untuk jatuh sehingga lansia kesulitan untuk keluar rumah dan berinteraksi dengan
masyarakat yang ada di sekitar.

Pada kesenjangan pengkajian berdasarkan kasus dan teori banyak data yang tidak terkaji
yang seharusnya dapat menjadi data penunjang untuk melakukan pengkajian pada keluarga pada
kasus. Pada kasus pola kesehatan keluarga pada riwayat keluarga inti dikatakan tidak terkaji,
seharusnya data tersebut dapat digunakan untuk mendiagnosis riwayat penyakit dari yang
terdahulu agar dapat ditangani dan di buat perencanaan keperawatannya.

Pada kasus dikatakan pencahayaan dari rumah ini kurang yang ditandai dengan pencahayaan
yang tidak cukup, dan kelembapan dirumah ini kurang yang ditandai dengan pencahayaan yang
tidak cukup dan tunpukan kain di sudut kamar, serta kebersihan yang tidak sesuai dengan
tempatnya seperti lubang kecil yang terdapat dikamar kansia tersebut untuk membuang ludah.
Pada teori dikatanya data kesehatan lingkungan mencakup sanitasi lingkungan pemukimamn
anatara lain ventilasi penerangan, kondisi lantai sampah dan lain-lain.

Untuk kesesuaian diagnose pada kasus dan teori terdapat diagnose yaitu, kurang efktifnya koping
keluarga dan ketidak efektifkan manejemen kesehatan dalam keluarga. Dan seharusnya dikasus
ditambahkan diagnose tentang gangguan pemeliharaan rumah. Untuk perencanaan keperawataan,

37
BAB 5

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Manusia secara alamiah akan mengalami proses penuaan atau menjadi tua. Menua
(menjadi tua) adalah proses kehilangan perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri. Manusia yang sudah menjadi tua akan mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial.
Lansia didefinisikan berdasarkan karakteristik sosial masyarakat, dimana orang yang sudah
lanjut usia memiliki ciri-ciri rambut beruban, kerutan kulit, dan hilangnya gigi.Perubahan yang
terjadi pada lansia tidak hanya pada kondisi fisik, tetapi juga terdapat perubahan psikologis.

Dampak dari bertambahnya usia yaitu berkurangnya fungsi-fungsi organ, yaitu


penurunan sistem neurologis, kardiovaskuler, muskuloskeletal dan sistem lainnya. Hampir 80%
lanjut usia memiliki setidaknya satu masalah kronis. Penyakit kronis tersebut dapat mengganggu
aktivitas dalam pemenuhan kebutuhan hidup tubuh mereka sehari-hari. Dampak dari penurunan
fungsi ini dapat menyebabkan efek negatif pada lanjut usia sebagai contoh dampak dari
penurunan fungsi pada Lanjut Usia yaitu terjatuh

38
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, L. M 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ali, Zainidin. 2010.”Pengantar Keperawatan Keluarga”. Jakarta: EGC

Bawelle, S., Sinolungan, & Hamel, R. 2013. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan
Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Pasien Safety) di Ruang Rawat Inap RSUD Liun Kandage
Tahuna.E-Jurnal Keperawatan, Vol. 1 No 1, Februari 2017

Elizabeth, Setyarini, A., Lusiana. &Herlina L. (2012). Kepatuhan Perawat Melaksanakan Standar
Prosedur Operasional: Pencegahan Resiko Jatuh di Gedung Yosef 3 Dago dan Surya
Kencana RS Borromeus. Journal Kesehatan Stikes Santo Borromeus

Friedman, M. (2010). Buku ajar keperawatan keluarga : riset, teori, dan praktek. Edisi ke 5,
Jakarta: EGC

Harmoko. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Kurniawan, Ade. 2013. “Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kemandirian Lansia dalam
Pemenuhan Aktifitas Sehari-Hari di Posyandu Cempaka Putih Timur-Jakarta Pusat”.
(Skripi)Universitas Muhamadiyah Jakarta

Riasmini, Made Ni. Panduan Asuhan Keperawatan individu, keluarga, kelompok, dan
Komunitas dengan Modifikasi NANDA, ICNP, NOC, dan NIC Di Puskesmas dan
Masyarakat. 2017. Jakarta ; Universitas Indonesia

Ulfa Suryani.2018.Hubungan Tingkat Kemandirian Dalam Aktivitas Sehari-hari Dengan Resiko


Jatuh Pada Lansia Di PSTW Sabal Nan Aluh Sicincin Kabupaten Padang Pariaman. Jurnal
Kepemimpinan & Pengurus Sekolah. 3(1): 89-98

39