Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI

SEDIAAN CAIR DAN SEMIPADAT NON STERIL

PERCOBAAN IV

SALEP, GEL DAN KRIM

Dosen Pengampu : Apt. Malinda Prihatini, M.SI.

Apt. Ayu Shabrina, M.Farm.

Asisten Dosen : Fatimatus Solekhah

Hari / Tanggal Praktikum : Senin, 28 Maret 2022

Golongan II, Kelompok 1 Kelas A

DISUSUN OLEH :

1. Sindy Agustia Dwita Putri 19105011044


2. Riana Andryanti 19105011045
3. Rahmawati Sumaya 19105011046
4. Muhammad Farih Arsyada 19105011047
5. Tarisha Ama Melia Hana 19105011048

LABOLATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
SEMARANG
2022/2023
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI
SEDIAAN CAIR DAN SEMIPADAT NON STERIL
PERCOBAAN IV
Salap, Gel, Dan Krim
I. Tujuan
1. Mahasiswa Mampu Menerapkan Prinsip Dasar Dalam Pembuatan Sediaan Salap,
Gel, dan Krim
2. Mahasiswa Mampu Membuat Dan Mengevaluasi Sediaan Salap, Gel, dan Krim

II. Dasar Teori


Bentuk sediaan setengah padat yang umum digunakan pada kulit adalah salep,
pasta, emulsi, krim, gel, emulgel dan lain-lain. Sediaan setengah padat ini selain
digunakan untuk sediaan obat banyak sekali digunakan untuk sediaan kosmetik.
Sediaan setengah padat kosmetik pada prinsipnya sama dengan sediaan setengah
padat untuk pengobatan, hanya saja sebagian besar sediaan kosmetik biasanya tidak
mengandung obat. (Indrawati, 2011).
Salep merupakan sediaan setengah padat yang ditujukan untuk pemakaian topikal
pada kulit atau selaput lendir. Formulasi salep dibutuhkan adanya suatu basis
salep,basis salep sendiri merupakan zat pembawa yang bersifat inaktif dari sediaan
topikal dapat berupa bentuk cair atau padat yang membawa bahan aktif untuk
berkontak dengan kulit. Pemilihan basis salep merupakan salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam pembuatan salep. Basis salep yang digunakan dalam sebuah
formulasi obat harus bersifat inert dengan kata lain tidak merusak ataupun
mengurangi efek terapi dari obat yang dikandungnya. Salep tidak boleh berbau
tengik. Kecuali dinyatakanlain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat
keras atau narkotik adalah 10 % (Anief, 2005).
Komposisi salep terdiri dari bahan obat atau zat aktif dan basis salep atau biasa
dikenal dengan sebutan zat pembawa bahan aktif (Ansel, 1989). Salep memiliki
fungsi sebagai bahan pembawa zat aktif untuk mengobati penyakit pada kulit, sebagai
pelumas pada kulit dan sebagai pelindung kulit (Anief, 2007).
Adapun beberapa fungsi salep:
1. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk kulit.
2. Sebagai bahan pelumas pada kulit.
3. Sebagai pelindung untuk kulit yang mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit (Anief, 2005)
Gel merupakan sediaan yang sering digunakan dalam berbagai macam sistem
penghantaran sediaan farmasi dengan berbagai jalur pemberian serta dapat
mengakomodasi zat aktif yang digunakan. Hal tersebut terjadi karena struktur gel
yang semirigid yang membentuk struktur yang sedemikian rupa membentuk ruang-
ruang yang dapat ditempati oleh zat aktif. Sediaan gel cocok digunakan dalam
pengobatan untuk inflamasi karena memiliki daya penetrasi yang tinggi kedalam
kulit, selain itu sediaan gel juga cukup mudah untuk dibuat dengan efikasi yang baik
(Allen, 2002).
Bahan pembentuk gel yang biasa digunakan adalah carbopol 940, na-cmc dan
hpmc. Gelling agent dan humektan merupakan komponen utama suatu sediaan gel,
komponen ini dapat mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas sediaan. Peningkatan
konsentrasi gelling agent dapat menyebabkan terjadinya peningkatan viskositas serta
menyebabkan struktur sediaan gel menjadi semakin kaku (Pamuji,2009), dengan
semakin tingginya viskositas maka daya sebar akan semakin berkurang, begitu pula
sebaliknya (Garg, Aggarwal, Garg, and Singla, 2002). Humektan berfungsi untuk
menjaga stabilitas sediaan gel dengan cara mengabsorbsi lembab dari lingkungan
serta mencegah penguapan air dari sediaan, semakin tinggi konsentrasi gliserol dapat
mempengaruhi mengurangi viskositas sediaan gel. Komposisi gelling agent dan
humektan harus diperhatikan untuk dapat menciptakan sediaan gel yang memiliki
sifat fisik dan stabilitas yang baik.
Menurut Farmakope Indonesia III, Krim adalah sediaan setengah padat berupa
emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian
luar.
Menurut farmakope IV, Krim adalah bntuk sediaan setengah padat mngandung satu
atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim
memiliki dua tipe yaitu krim minyak dalam air (M/A) dan air dalam minyak (A/M),
ditujukan untuk penggunaan kosmetik dan estetika (Juwita et al, 2013).
Menurut Ansel (1987), Krim digolongkan menjadi dua tipe, yaitu :
1. Tipe minyak dalam air (M/A)
Krim tipe M/A yang digunakan di kulit akan hilang tidak meninggalkan
bekas. Krim M/A biasanya dibuat menggunakan zat pengemulsi campuran
dari surfaktan (jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai
panjang alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam
lemak lebih popular
2. Tipe air dalam minyak (A/M)
Krim tipe A/M merupakan krim minyak yang tedispersi ke dalam air. Krim
tipe A/M mengandung zat pengmulsi seperti adeps lanae, wool alcohol atau
ester asam lemak dengan atau garam dari asam lemak dengan logam
bervalensi 2, misalnya Kalsium (Ca). Krim M/A dan A/M memerlukan
emulgator yang tepat. Jika emulgator tidak tepat, dapat terjadi pembalikan
fase.

III. Alat dan Bahan


Alat :
a. 1 Cawan porselen ukuran 50 ml
b. 1 Cawan porselen ukuran 75 ml
c. 1 Cawan porselen ukuran 100 ml
d. 1 Cawan porselen ukuran 125 ml
e. 1 Gelas ukur ukuran 50 ml
f. 1 Gelas ukur ukuran 100 ml
g. 1 Beaker glass ukuran 50 ml
h. 1 Beaker glass ukuran 250 ml
i. 1 Beaker glass ukuran 500 ml
j. 1 Beaker glass ukuran 1000 ml
k. 2 Batang pengaduk
l. 1 Sudip
m. 1 Sendok penyu
n. Mortir dan stamper

Bahan :

a. Asam salisilat sebanyak 4 gram


b. Propilenglikol sebanyak 30 gram
c. Asam stearate sebanyak 20 gram
d. NaOH sebanyak 2 gram
e. Stearyl alcohol sebanyak 2 gram
f. Setil alcohol sebanyak 6 gram
g. Metil paraben sebanyak 0,36 gram
h. Propil paraben sebanyak 0,04 gram
i. Etanol secukupnya
j. Aquadest sebanyak 133,6 ml
IV. Preformulasi bahan
A. Formulasi
Krim Asan Salisilat MODIFIKASI FORMULASI
R/ Asam salisilat 2% R/ asam salisilat 2%
Propilenglikol 15% Propilenglikol 15%
Asam stearate 10% Asam stearate 10%
NaOH 1% NaOH 1%
Stearyl alcohol 1% Stearyl alcohol 1%
Setil alcohol 1% Setil alcohol 1%
Metil paraben 0,18% Metil paraben 0,18%
Propil paraben 0,02% Propil paraben 0,02%
Aquadest add to 100% Etanol qs
Aquadest add to 200 ml

B. Preformulasi zat aktif


Nama bahan Asam salisilat
Pemerian Serbuk halus berbentuk jarum halus atau serbuk halus, putih, rasa agak
manis, tajam dan stabil di udara (Depkes RI, 2014)
Kelarutan Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%), mudah
larut dalam kloroform, dan dalam eter. Larut dalam larutan ammonium
asetat, dinatrium hydrogen fosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat
Stabilitas
Panas Stabil jika tidak melebihi ISO
pH stabil 1,84
Inkompatibilitas Bereaksi dengan oksidator dan bereaksi degan baja berkorbar
Kesimpulan Zat aktif yang digunakan adalah asam salisilat yang berkhasiat sebagai
keratolikum, anti jamur
C. Preformulasi eksipient
Nama bahan Propilenglikol
Pemerian Bening tidak berwarna, kental, praktis, tidak berbau, rasa manis, sedikit
tajam seperti gliserin (Rowe, 2009)
Kelarutan Larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air, larut 1-6
bagian eter, tidak larut dengan minyak mineral ringan atau minyak tetap,
tetapi larut dengan minyak essense (Rowe, 2009)
Stabilitas
Hidrolisis Bersifat higroskopis dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat
Inkompatibilitas Propilenglikol tidak compatible dengan reagen pengoksidasi seperti
kalium permanganate
Kesimpulan Propilenglikol digunakan sebagai pembasah (Rowe, 2009)

Nama bahan Asam asetat


Pemerian Berbentuk keras, berwarna putih atau agak kuning mengkilap, padatan
Kristal atau serbuk putih atau putih kekuningan, memiliki sedikit bau
(ambang batas bau 20 ppm) mirip lemak lilin (Rowe, 2009)
Kelarutan Dapat bercampur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol
(Depkes RI, 1979)
Stabilitas
Panas Suhu lebur tidak kurang dari 54°C
Inkompatibilitas Tidak cocok dengan sebagian besar hidroksida logam dan tidak cocok
dengan basa, reduktor, dan oksidator
Kesimpulan Asam asetat digunakan sebagai emulsifying agent, agen pelarut, pelumas
tablet atau kapsul

Nama bahan NaOH


Pemerian Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras,rapuh
dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah meleleh basah, sangat
korosif, segera menyerap karbon dioksida
Kelarutan Larut dalam etanol, larut dalam methanol, larut dalam eter
Stabilitas
Panas Meleleh pada suhu 348°C
Hidrolisis Cepat menyerap kelembapan dan mencair padat karena menyerap
karbon dioksida dan pembuatan natrium karbonat
Inkompatibilitas Basa kuat dan tidak cocok dengan senyawa yang mudah mengalami
hidrolisis atau oksidasi, bereaksi dengan asam, ester dan eter, terutama
larutan berair
pH stabil Keasaman/alkalinitas
pH 12 (0,05%b/b larutan berair)
pH 13 (0,05%b/b larutan berair)
pH 14 (5%b/b larutan berair)
Kesimpulan NaOH digunakan sebagai agen alkali,buffering agen

Nama bahan Stearyl alcohol


Pemerian Keras, putih, potongan lilin, serpihan atau butiran dengan sedikit baud
an rasa hambar (Rowe, 2009)
Kelarutan Larut dalam kloroform, etanol (95%), eter, heksana, propilenglikol,
benzene, aseton,dan minyak nabati, praktis tidak larut dalam air
Stabilitas
Inkompatibilitas Tidak kompatibel dengan oksidator kuat dan asam kuat
Kesimpulan Stearyl alkoholdigunakan sebagai agen pengeras

Nama bahan Cetil alcohol


Pemerian Cetil alcohol seperti lilin, serpihan putih, butiran kubus atau cair,
memiliki bau yang khas yang samat dan rasa yang hambar
Kelarutan Larut dalam etanol (95%) dan eter, kelarutan meningkatnya suhu,
praktis tidak larut dalam air, larut saat dilebur dengan lemak, paraffin
cair dan padat dan isoprilmiristat
Stabilitas
Panas Titik nyala 165°C
Titik lebur 45-52°C : 49°C (bahan murni)
Cahaya Tidak cocok dengan oksidator kuat, setil alcohol untuk menurunkan titik
leleh ibuprofen, hasil kecenderungan lengket selama proses pelapisan
film konstal
Kesimpulan Cetil alcohol digunakan sebagai agen pelapis, agen pengemulsi dan agen
pengeras

Nama bahan Metil paraben


Pemerian Kristal tidak berwarna atau Kristal putih bulat, tidak berbau atau hampir
tidak berbau dan memiliki sedikit rasa terbakar (Rowe, 2009)
Kelarutan Larut dalam etanol, etanol (95%), etanol (50%), eter, gliserin, mineral
oil, minyak kacang,propilenglikol dan air
Stabilitas -
Inkompatibilitas Inkom dengan adanya surfaktan nonionic seperti polisorbat 80, tidak
kompatibel dengan zat lain seperti bentonit, mg trisilat, tragacan,
natrium alginate, minyak essense, sorbitol, atropine, gula
Kesimpulan Metil paraben digunakan sebagai pengawet antimikroba

Nama bahan Propil parabene


Pemerian Kristal tidak berwarna atau Kristal putih bulat, tidak berbau atau hampir
tidak berbau dan memiliki sedikit rasa terbakar (Rowe, 2009)
Kelarutan Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol (95%), dalam
3 bagian aseton, dalam 140 bagian gliserol, dan dalam 40 bagian minyak
lemak, mudah larut dalamlarutan alkali hidroksida
Stabilitas -
Panas Suhu kamar
Hidrolisis Terhidrolisis cepat
pH stabil pH 3-6
Inkompatibilitas Mg alumunium silikat, mg trisiklik, oksidasi besi kuning dan biru laut
dapat menyerap propil paraben sehingga mengurangi khasiat pengawet
Kesimpulan Metil paraben digunakan sebagai pengawet antimikroba

Nama bahan Aquadest


Pemerian Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna (Depkes RI, 1979)
Stabilitas -
Inkompatibilitas -
Kesimpulan Aquadest digunakan sebagai pelarut

Permasalahan dan pengatasan

 Asan salisilat sukar larut dalam air, jadi dilarutkan terlebih dahulu menggunkaan
etanol
 Pada formulasi setil alcohol pada sediaan sebanyak 1%, sedangkan pada range
penggunaan setil alcohol pada sediaan topical yaitu 2-5%, sehingga kadar
penggunaan pada formulasi harus dinaikkan.

D. Pendekatan formulasi

Nama bahan Jumlah Fungsi


Asam salisilat 2% Zat aktif
Propilenglikol 15% Pembasah
Asam stearate 10% Emulsifying agent
NaOH 1% Buffering agent
Steryl alcohol 1% Agen pengeras
Setil alcohol 3% Agem pelapis / pengemulsi
Metil paraben 0,18% Pengawet
Propil paraben 0,02% Pengawet
Etanol Qs Pelarut
Aquadest Ad 200ml Pelarut

E. Perhitungan bahan

Nama bahan Jumlah Perhitungan Penimbangan


Asam salisilat 2% 2% x 200 4 gram
Propilenglikol 15% 15% x 200 30 gram
Asam stearate 10% 10% x 200 20 gram
NaOH 1% 1% x 200 2 gram
Steryl alcohol 1% 1% x 200 2 gram
Setil alcohol 3% 3% x 300 6 gram
Metil paraben 0,18% 0,18 x 200 0,36 gram
Propil paraben 0,02% 0,02 x 200 0,04 gram
Etanol Qs Qs Qs
Aquadest Ad 200ml 200 – (2+15+10+1 67,8 ml
+1+ 3+0,18+0,02)
V. Cara Kerja

Ditimbang semua bahan

Fase minyak Fase air

Asam Setil Setil Setil Setil Setil Setil


stearat alkohol alkohol alkohol alkohol alkohol alkohol

Dilebur

Dilebur

Campuran Campuran
homogen homogen

Mortir panas

Asam salisilat
+
etanol

Aquades (panas)
sedikit demi sedikit

Dimasukkan wadah

Evaluasi
bahan

Organoleptis Isi minimum Daya lekat Viskositas

Homogenitas Daya sebar pH sediaan


VI. Data Pengamatan

No. Evaluasi Hasil


1. Uji Organoleptis Bentuk : Krim
Warna : putih susu
Rasa : dingin
Bau : mint
Kesimpulan : Hasil uji krim asam salisilat memenuhi
kriteria baik dari segi bentuk, warna, rasa dan bau.
2. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan pada kaca arloji didapatkan
hasil bahwa sediaan krim tidak homogeny.
3. Uji Daya Sebar Beban Perhitungan Hasil Rata-rata
0 4,2+4,5+4,4+4,5 4,4
= 17,6/4
1 4,4+4,2+4,4+4,5 4,4
= 17,6/4
2 4,4+4,5+4,3+4,5 4,425
= 17,7/4 26,625/6
3 4,4+4,5+4,3+4,5 4,375 = 4,4375
= 17,5/4
4 4,6+4,4+4,5+4,7 4,55
= 18,2/4
5 4,6+4,4+4,5+4,4 4,475
= 17,9/4
Kesimpulan : berdasarkan hasil diatas uji daya sebar
krim asam salisilat tidak memenuhi persyaratan daya
sebat untuk sediaan topical antara 5-7 vm (Wibowo dkk,
2017)
4. Uji Daya Lekat Didapatkan hasil sebesar 1 detik. Pada hasil tersebut
tidak memenuhi persyaratan daya lekat sediaan topical
yaitu tidak kurang dari 4 detik (Wibowo dkk, 2017)
5. pH Sediaan Didapatkan hasil uji pH sebesar 5,68. Maka uji pH krim
asam salisilat memenuhi syarat dari uji pH normal pada
kulit yaitu 4,5-7 (Wibowo dkk, 2017)
6. Uji Viskositas Tidak didapatkan hasil untuk uji viskositas dengan Rion
VT karena sediaan tidak mencukupi hasil pada tabung
viskositas Rion VT
No. Nama bahan Jumlah Perhitungan Penimbangan
1. Asam salisilat 2% 2% x 200 4 gram
2. Propilenglikol 15% 15% x 200 30 gram
3. Asam stearate 10% 10% x 200 20 gram
4. NaOH 1% 1% x 200 2 gram
5. Steryl alcohol 1% 1% x 200 2 gram
6. Setil alcohol 3% 3% x 300 6 gram
7. Metil paraben 0,18% 0,18 x 200 0,36 gram
8. Propil paraben 0,02% 0,02 x 200 0,04 gram
9. Etanol Qs Qs Qs
10. Aquadest Ad 200ml 200 – (2+15+10+ 67,8 ml
1+1+3+0,18+0,02)

Data penimbangan

 Asam salisilat
Kertas kosong : 0,350 gram
Kertas kosong + isi : 4,35 gram
Kertas kosong + sisa : 0,350 gram
Bobot bahan : 4 gram
 Asam stearat
Kertas kosong : 0,349 gram
Kertas kosong + isi : 20,349 gram
Kertas kosong + sisa : 0,349 gram
Bobot bahan : 20 gram
 NaOH
Cawan kosong : 29,5 gram
Cawan kosong + isi : 31,5 gram
Cawan kosong + sisa : 29,5gram
Bobot bahan : 2 gram
 Metil paraben
Kertas kosong : 0,345 gram
Kertas kosong + isi : 0,705 gram
Kertas kosong + sisa : 0,345 gram
Bobot bahan : 0,36 gram
 Setil alkohol
Kertas kosong : 0,350 gram
Kertas kosong + isi : 6,350 gram
Kertas kosong + sisa : 0,350 gram
Bobot bahan : 6 gram
 Steril alkohol
Kertas kosong : 0,349 gram
Kertas kosong + isi : 2,349 gram
Kertas kosong + sisa : 0,349 gram
Bobot bahan : 2 gram
 Propil paraben
Kertas kosong : 0,343 gram
Kertas kosong + isi : 0,383 gram
Kertas kosong + sisa : 0,343 gram
Bobot bahan : 0,04 gram
 Propilenglikol
Cawan kosong : 69,510 gram
Cawan kosong + isi : 99,51 gram
Cawan kosong + sisa : 69,510 gram
Bobot bahan : 30 gram
VII. Pembahasan
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal
pada kulit atau selaput lendir (Depkes RI, 1995:18). Menurut pemikiran modern,
salep adalah sediaan semi padat untuk pemakaian pada kulit dengan atau tanpa
penggosokan. Fungsi salep sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan
kulit, bahan pelumas pada kulit dan pelindung kulit yaitu mencegah kontak
permukaan kulit dengan larutan berair (Anief 1993: 110)
Gel adalah suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang
tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan
saling diresapi cairan (Ansel, 1989).
Krim merupakan sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung
bahan dasar yang sesuai dan mengandung air tidak kurang dari 60%. Krim ada dua
tipe, yaitu krim tipe minyak dalam air (M/A) dan tipe air dalam minyak (A/M). Krim
yang mudah dicuci dengan air adalah tipe krim (M/A) yang ditujukan untuk
penggunaan kosmetik (Syamsuni, 2006).
Praktikum kali ini kami mendapatkan sediaan semisolid dalam bentuk krim.
Krim merupakan suatu sediaan setengah padat, yang berupa emulsi kental
mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar
(Depkes RI, 1995). Praktikum ini bertujuan untuk menerapkan prinsip dasar sediaan
dalam pembuatan sediaan salep, gel, dan krim. Serta dapat membuat dan
mengevaluasi sediaan salep, gel, dan krim.
Pembuatan krim pada praktikum ini, menggunakan bahan aktif yaitu asam
salisilat. Krim biasanya dipakai sebagai emulien atau pemakaian obat pada kulit.
Asam salisilat adalah salah satu obat golongan keratolitik, yaitu obat-obatan yang
bertindak sebagai agen pengelupas kulit. Sediaan yang dipilih adalah sediaan krim
dengan basis O/W karena untuk tujuan keratolitik lebih efekif jika terapi dilakukan
pada bagian yang diinginkan saja, sehingga tidak diperlukan efek sistemik.
Keratolitik bekerja pada bagian stratum korneum pada lapisan epidermis kulit,
dengan menghilangkan glukolipid yang melekatkan keratin-keratin pada sel tanduk.
Asam salisilat dipilih sebagai bahan aktif yang digunakan karena ditinjau dari
efektifitas, stabilitas dan toksisitasnya asam salisilat yang mana bahan aktif ini lebih
baik dibandingkan dengan bahan aktif lain. Kadar asam salisilat yang biasa digunakan
untuk keratolitik adalah 2-6% b/v ( Martindale I, 1072). Kadar yang digunakan pada
sediaan krim asam salisilat ini adalah sebesar 2% b/v dengan hasil penimbangan
sebesar 4 gram, dari keseluruhan jumlah sediaan.
Asam salisilat digunakan untuk pengobatan topical keratolitik, pengobatan
hiperkeratotik, pengobatan ketombe, ichtiosis, psoriasis, dan anti acne, pada hal ini
krim yang kami buat lebih ditujukan sebagai antifungi dan anti bakteri dengan
mekanisme kerja keratolitikum ( mengelupas lapisan kulit epidermis, straum corneum
yang terinfeksi bakteri atau jamur). Pada praktikum kali ini selain digunakannya
bahan aktif asam salisilat, ada juga zat tambahan lainnya yaitu propilen glikol 15%
dengan hasil penimbangan 30 gram, asam stearat 10% dengan hasil penimbangan 20
gram, NaOH 1% dengan hasil penimbangan 2 gram, stearyl alkohol 1% dengan hasil
penimbangan 2 gram, cetyl alkohol 3% dengan hasil penimbangan 6 gram, methyl
paraben 0,18 % dengan hasil penimbangan 0,36 gram, propil paraben 0,02% dengan
hasil penimbangan 0,04 gram, aquadest add 200 ml, dengan total hasil keseluruhan
penimbangan yaitu (135,6 ml). Pada formula yang kami buat untuk cetyl alkohol pada
formula asli sebanyak 1%, sedangkan range penggunaan cetyl alkohol pada sediaan
topical yaitu 2-5%. Sehingga kami mengusulkan pada kadar penggunaan formula
untuk dinaikkan yaitu menjadi 3%, pengusulan ini dilakukan agar sesuai dengan
persyaratan penetapan range pada cetyl akohol pada sediaan topical.
Pembuatan ini diawali dengan penimbangan bahan-bahan yang diperlukan.
Asam salisilat dilarutkan dengan etanol terlebih dahulu, hal ini dikarenakan asam
salisilat sukar larut dalam air, maka sebagai pengatasaanya harus di larutkan dahulu
dengan etanol, selanjutkan masukan kedalam mortir stamper. Kemudian fase minyak
yaitu ( asam stearat dan cetyl alkohol ) di panaskan di atas penangas air menggunakan
cawan porselen dengan suhu 700C hingga melebur dengan sempurna. Disaat yang
bersamaan fase air ( propilen glikol, NaOH, stearyl alkohol, metil paraben ) juga
dilebur dengan suhu yang sama sembari di aduk pelan-pelan pada kedua fase agar
mendapatkan campuran yang homogen.
Fase air dimasukan kedalam mortir stamper ditambahkan sedikit demi
sedikit kedalam fase minyak. Penambahan fase air tersebut disertai dengan
pengadukan yang spontan agar terbentuk basis krim yan baik. Aquadest ditambahkan
paling akhir agar diperoleh basis krim, sehingga basis krim yang terbentuk lebih baik.
Selanjutnya jika sudah terbentuk basis krim asam salisilat dimasukan kedalam wadah
pot. Krim harus disimpan pada tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari
karena tingginya suhu akan mempengaruhi sifat fisikokimia zat yang terkandung
dalam krim dan menyebabkan krim menjadi tidak stabil. Sediaan krim dapat menjadi
rusak bila sistem campurannya terganggu (Anief, 1997).
Pembuatan sediaan krim selesai, dilanjutkan dengan melakukan evaluasi
sediaan krim. Evaluasi yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji homogenitas, uji isi
minimum, uji daya sebar, uji daya lekat, uji Ph sediaan dan uji viskositas. Pada
praktikum kali ini, untuk uji isi minimum tidak dilakukan. Untuk uji organoleptis
yaitu berwarna putih susu, berbentuk krim, dan berbau mint dan memiliki rasa agak
dingin di permukaan kulit. Kemudian, uji homogenitas dilakukan pada kaca arloji
yang didapatkan hasil bahwa sediaan tidak homogen, karena masih terlihat
gelembung-gelembung air dan zat aktifnya tidak tercampur atau belum dihaluskan
dengan merata. Ketidakhomogenan ini dapat terjadi akibat proses pengadukan yang
kurang konstan.
Pengujian yang selanjutnya adalah uji daya sebar. Uji daya sebar dilakukan
dengan meletakkan basis krim diatas kertas grafik yang dilapisi oleh kaca bulat
bening. Pada hal ini kertas grafik berfungsi untuk mempermudah dalam pengukuran
diameter krim yang tersebar. Pada uji daya sebar ini, dilakukan 6 kali agar dapat
dilihat presisi dari hasil yang diperoleh. Dari hasil uji pada penambahan beban
diameter penyebarannya pada beban 0 memperoleh hasil 4,4 cm lalu penambahan
beban 1 gram memperoleh hasil 4,375 cm, penambahan beban 2 gram memperoleh
hasil 4,425 cm, penambahan beban 3 gram memperoleh hasil 4,375 cm, penambahan
beban 4 gram diperoleh hasil 4,55 cm, dan penambahan beban 5 gram diperoleh hasil
4,475 cm dan rata-rata hasil perolehan beban didapatkan 4,4375 cm. Pada umumnya
semakin bertambahnya beban, maka diameter sebarnya akan semakin besar.
Berdasarkan hasil tersebut uji daya sebar krim asam salisilat tidak memenuhi
persyaratan daya sebar untuk sediaan topical yang mempunyai rentang antara 5-7 cm
( Wibowo dkk, 2017).
Pengujian selanjutnya adalah uji daya lekat. Pada uji daya lekat didapatkan
hasil sebesar 1 detik. Pada hasil tersebut tidak memenuhi persyaratan daya lekat
sediaan topical yaitu tidak kurang dari 4 detik (Wibowo dkk, 2017). Selanjutnya
adalah pengujian pH sediaan, pada hal ini didapatkan hasil ph sebesar 5,68. Maka
pengujian ph memenuhi persyaratan dari uji Ph normal pada kulit, yaitu 4,5-7
(Wibowo dkk, 2017). Selanjutnya yang terakhir adalah uji viskositas dengan
menggunakan alat Rion Vt, pada pengujian ini tidak didapatkan hasil viskositasnya
karena sediaan yang dibuat tidak mencukupi batas pada tabung viskositas Rion Vt.
VIII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Krim merupakan suatu sediaan setengah padat, yang berupa emulsi kental yang
mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
2. Hasil uji organoleptis sediaan memiliki bentuk krim, warna putih susu, bau khas
mint, dan rasa agak dingin di permukaan kulit
3. Hasil uji homogenitas pada kaca arkoji, sediaan tidak homogeny
4. Hasil uji daya sebar didapat rata-rata sebesar 4,4375, sehingga uji daya sebar tidak
memenuhi persyaratan daya sebar untuk sediaan topical antara 5-7 cm
5. Hasil uji daya lekat didapatkan hasil sebesar 1 detik, sehingga dapat disimpulkan
tidak memenuhi persyaratan daya lekat sediaan topical yaitu kurang dari 4 detik
6. Hasil uji Ph sediaan didapatkan hasil sebesar 5,68, sehingga dapat memenuhi
syarat uji pH norml pada kulit yaitu 4,5-7
7. Tidak didapatkan hasil uji viskositas karena sediaan tidak mencukupi
IX. Daftar pustaka :
Anief, M., 1993, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Anief, M., 1997, Ilmu Meracik Obat, 10-17, Jogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Anief, 2005, Farmasetika, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Anief, 2007, Farmasetika, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Allen L.V, 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical
Compounding, 2nd Ed., United State of America: American
Pharmaceutical Association, pp. 13-16, 34, 35.
Ansel H C, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi 4, Jakarta: UI Press.
Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Departemen Kesehatan RI, 1979, Farmakope Indonesia (Edisi III). Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Garg A, Aggarwal D, Garg S, and Singla A.K, 2002, Spreading of Semisolid
Formulation : An Update, Pharmaceutical Technology, September 2002,
84-102, www.pharmtech.com , diakses tanggal 28 Oktober 2012.
Indrawati Teti, 2011, Formulasi Sediaan Setengah Padat, Jakarta: Penerbit ISTN,
Cetakan 2.
Pamuji O, 2009, Optimasi Formula Gel Antiagne Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa bilimbi, L.) Menggunakan Gelling Agent Carbopol 940® dan
Humektan Gliserol- Aplikasi Metode Desain Faktorial, Skripsi,
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Syamsuni, (2006), Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Wibowo S. Aji, Budiman A, Hartanti D, 2017, Formulasi dan Aktivitas Anti
Jamur Sediaan Krim M/A Ekstrak Etanol Buah Takokak (Solanum torvum
Swartz) terhadap Candida albicans, Jurnal Riset Sains dan Teknologi, Vol.
1(1): 15-21
LAMPIRAN

Gambar Keterangan
Penimbangan Bahan Asam Salisilat 4 gram,
Propilengikol 30 gram, Asam Stearat 20
gram, NaOH 2 gram, Steryl Alkohol 2 gram,
Cetyl Alkohol 6 gram, Metil Paraben 0,36
gram, Propil Paraben 0,04 gram.

Proses penimbangan bahan


Fase air dan Fase minyak, Fase air yang berisi
( Propilen glikol, NaOH, Stearat alkohol,
Metil paraben, Propil paraben dan Aquadest ),
Sedangkan fase minyak berisi ( Asam
stearat, Cetyl alkohol )

Proses peleburan pada suhu 70°C


Di campur asam salisilat dan etanol di dalam
mortir, Kemudian di campurkan Fase air
dan fase minyak yang telah meleleh di campur
menjadi satu di dalam mortir yang sudah
berisi asam salisilat dan etanol dan diaduk
sampai homogen

Proses pencampuran
Evaluasi sediaan uji homogenitas
Evaluasi sediaan uji daya sebar ( Setiap
pengujian orde di beri waktu 1 menit )
Beban 1 (50gram)

Evaluasi sediaan uji daya sebar ( Setiap


pengujian orde di beri waktu 1 menit )
Beban 2 (100gram)

Evaluasi sediaan uji daya sebar ( Setiap


pengujian orde di beri waktu 1 menit )
Beban 3 (150gram)

Evaluasi sediaan uji daya sebar ( Setiap


pengujian orde di beri waktu 1 menit )
Beban 4 (200gram)
Evaluasi sediaan uji daya sebar ( Setiap
pengujian orde di beri waktu 1 menit )
Beban 5 (250gram)

Evaluasi sediaan uji daya lekat


Waktu pelepasan uji daya lekat

Evaluasi sediaan uji pH